Revolusi Mental Arteta

Empat pertandingan pertama Arteta menghasilkan imbang (Bournemouth), kalah (Chelsea) dan menang 2x (MU, Leeds FA Cup). Awal yang rasanya lumayan untuk ukuran seorang manajer baru klub papan tengah. Namun buat kita, Gooners yang menonton keempat pertandingan tersebut, kita bisa merasakan perubahan yang drastis dalam segi upaya, taktik, energi semua pemain Arsenal yang menjadi sangat positif. Penampilan yang memberikan harapan bahwa musim ini belum usai. Bahwa Arsenal bisa terangkat dari posisi di papan tengah.

Apa yang dilakukan Arteta sehingga sepakbola Arsenal berubah dari reaktif menjadi proaktif? Tiba-tiba kita memainkan sepakbola protagonist, yang hanya bisa diimpikan oleh Emery namun tak pernah terwujud. Arteta, dalam waktu yang sangat singkat mentransformasi team Arsenal ini, bermain menyerang, counter pressing, defensive line yang tinggi, one-two pass yang kembali dan terakhir pemain yang tersenyum di lapangan. “The fun is back!” kata Sokratis.

Dalam tulisan saya sebelumnya, The Arteta Way, Arteta menyebutkan ada 4 hal penting yang ia inginkan sebagai pondasi dasar timnya: komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah untuk memainkan sepakbola dan mewakili klub ini. Di berbagai press conference sebelum dan sesudah pertandingan, Arsenal kembali mengulanginya. Komitmen, agresi, gairah dan akuntabilitas. Setiap pemain harus berkomitmen di lapangan hijau 100% upaya tanpa sedikitpun menyerah, agresif dalam pressing, bergairah dalam memainkan sepakbola menyerang dan terakhir sama-sama bertanggung jawab terhadap apapun yang terjadi di lapangan. Arteta tidak ingin pemainnya saling menyalahkan ketika kehilangan bola, setiap pemain wajib tracking back dan melindungi temannya. Satu untuk semua, semua untuk satu. Arteta tahu, agar para pemainnya bisa memainkan sepakbola dengan intensitas sangat tinggi yang saat ini dimainkan klub-klub papan atas Premier League, ia perlu merevolusi mental pemainnya dahulu.

Revolusi Mental

Revolusi Mental itu berjalan bertahap. Pertama melawan Bournemouth, bermain menyerang sejak menit pertama dengan high pressing, Arsenal ketinggalan 1-0 di babak pertama. Pemain tidak menyerah, dan terus memborbardir pertahanan Bournemouth. 17 shots untuk away game, yang sangat tinggi dibanding Arsenal era Emery. Akhirnya Aubameyang menyamakan kedudukan di menit ke-63. Perbedaan seri dan menang ada pada keputusan-keputusan yang kurang tepat dari Nelson, Saka, Lacazette dan Aubameyang saat berada di final third lawan. Arteta memakluminya, yang ia soroti justru kondisi mental pemain:

It will be a process. I was worried what would happen if we conceded a goal. We did and I was very pleased with the character they showed. They came in at half-time and their faces, their reactions [were spot on]. It was about how much they wanted it. Normally, when you are in this process and you concede a goal, the confidence goes down and a lot of things that have happened in the past can come back. It didn’t happen, it happened in the complete opposite sense and that’s a really positive thing to take on board.

Pertandingan kedua melawan Chelsea, serangan dan pressing tinggi Arsenal di babak pertama sangat baik sekali. Ombak serangan Arsenal datang bertubi-tubi dan ketika kehilangan bola dalam 5 detik bola sudah terebut kembali. Permainan praktis terjadi di paruh lapangan lawan. Aubameyang mencetak gol di menit ke-13. Chelsea tak punya jawaban dan harus mengganti pemain di menit ke-34, memasukkan Jorginho. Di babak kedua, permainan Arsenal drop. Arsenal bertahan dan Chelsea yang mendominasi pertandingan. Walaupun demikian, tidak banyak peluang besar tercipta untuk Chelsea. Namun kesalahan Leno dalam menangkis umpan dari corner kick berbuah gol bagi Chelsea dan tidak lama kemudian saat Arsenal menyerang, sebuah counter attack cepat Chelsea juga kembali berbuah gol karena kesalahan keputusan Mustafi yang memilih mundur daripada menahan Abraham. Bad habit comes back easily.

Walaupun kalah, supporter Arsenal memberikan standing ovation kepada para pemain Arsenal. Usaha keras mereka dan sepakbola menyerang yang dimainkan tak luput dari penghargaan para penonton. Kita seperti mulai mencium bau kemenangan.

Melawan Manchester United, babak pertama yang sama agresifnya kembali terjadi. Arsenal mencetak dua gol di babak pertama lewat Pepe dan Sokratis dan MU tidak bisa menjawabnya. Di babak kedua, Arsenal sedikit mundur dan mengendalikan pertandingan lewat pertahanan yang disiplin. Kali ini Arsenal bertahan dengan lebih cerdik dan MU tidak bisa mencetak gol sama sekali. Kemenangan pertama Arteta uniknya terjadi melawan MU, mantan musuh bebuyutan Arsenal.

Yang menarik adalah wawancara David Luiz setelah pertandingan yang mengakui bahwa secara fisik, pemain-pemain Arsenal belum siap memainkan sepakbola intens Arteta selama 90 menit. Namun ketika fisik tidak siap, maka hati harus mengambil alih.

Mikel Arteta is a great coach, he knows football, he was a great player. He brings things and I believe in his philosophy. I think he can improve every single player.

In life when you are happy the results can be totally different.
I always like to use the mantra, if you sleep happy you can sleep four hours, it’s better than sleeping sad for eight hours. If you work with happiness and believing what you are doing it is totally different, so I’m happy with everybody.

David Luiz after winning against Manchester United

Arteta menanamkan mental baru kepada para pemain Arsenal. Dari semua wawancaranya saya bisa mengira mantra Arteta sebelum setiap pertandingan sebagai berikut:

  • Mainkan sepakbola menyerang sesuai identitas klub, sepakbola reaktif tidak akan membuatmu happy
  • Berikan hatimu untuk pertandingan di lapangan, 100% upaya dalam memenangkan duel dalam merebut bola. Be aggressive and intense!
  • Saling back-up rekan setim. Tidak saling menyalahkan, bermain bersama, sukses bersama
  • Semua gestur tubuhmu di lapangan akan ditangkap penonton, dengan bersikap positif maka penonton akan memberikan reaksi positif juga. Demikian juga sebaliknya
  • Pemenang tidak pernah relax, konsistensi dalam upaya membedakan antara pemenang dan pecundang.

Saat melawan Leeds di third round FA Cup, pemain Arsenal melupakan semua hal di atas di babak pertama. Ini masalah mental. Setelah menang melawan MU, pressure turun dan pemain merasa lebih relax, ah cuma lawan tim Championship. Mereka mengabaikan peringatan Arteta bahwa Leeds di bawah Bielsa bukan tim biasa, setiap minggu mem-bully tim-tim di Championship dan itu juga sebabnya saat ini mereka di puncak klasemen. Bielsa adalah pelatih jenius, pionir sepakbola yang punya pengaruh paling besar terhadap sepakbola modern saat ini. Pep mengatakan ia adalah pelatih terbaik dunia saat ini. Arteta yang dekat dengan Poch (murid Bielsa) dan mantan asisten Pep tentunya tahu persis sepakbola ala Bielsa.

Karena mental tim belum benar-benar terbentuk, Arsenal menderita selama 35 menit pertama. Leeds pressing man to man dan memaksa Arsenal bertahan. Arsenal sangat beruntung tidak kebobolan. Di saat half time, Arteta mencak-mencak terhadap pemainnya. Ia menginstruksikan pemainnya untuk bermain seperti gerombolan serigala yang mengejar bola tanpa henti. Ia tidak mengubah line up atau mengganti pemain. Xhaka dan Guendouzi disuruh bermain lebih ke depan, pressing lawan begitu pemain depan kehilangan bola. Hasilnya luar biasa, Arsenal berbalik bermain di paruh lapangan Leeds dan akhirnya mencetak gol lewat Nelson.

Arteta mengatakan bahwa ia sekarang tahu apa yang timnya butuhkan ketika kalah dan apa yang mereka butuhkan ketika menang. Bak tim baru lahir, Arsenal masih rapuh dan perlu dipandu. Ketika menang, kesombongan merayap masuk dan pressure hilang, pemain mulai lebih relax dan jadinya tidak bisa mempertahankan konsistensi.

I am learning every day about them. How they react when they lose, what they need when they lose, what they need when they win as well. And as well, how can they react when they want to. Because before that, obviously everybody said it was a physical issue that we could not sustain a certain rhythm or intensity throughout the game. Look how they finished tonight. After 94 minutes they kept going and this is here and this is there. This is what they have to understand as a team.

Mengubah mental tim menjadi mental juara tidaklah mudah. Perlu upaya luar biasa dan tim yang menyatu. Semua orang setuju dan ikut dalam kereta ini. Arteta mengatakan masalah fisik tidak menjadi masalah (sebagaimana di pertandingan lawan Chelsea dan MU). Ketika para pemain niat, mereka terus berjuang sampai peluit akhir berbunyi. 94 menit melawan Leeds yang sangat physical dan pemain Arsenal tidak berhenti mengejar di babak kedua. Hal ini yang harus mereka pahami, dan alami bersama, sebagai satu tim.

Pada akhirnya, para pemain yang akan menikmati kemenangan. Mereka bisa memilih menderita di lapangan dan di akhir pertandingan, atau berjuang bersama, menderita fisik tapi happy di akhir pertandingan. Saat ini pemain Arsenal mulai memahami langsung (lewat pengalaman), perbedaan tim medioker dan tim juara. Setelah 18 bulan di-brainwash oleh pelatih medioker dan tahun-tahun belakangan era Wenger yang memang miskin konsistensi.

Dan kemudian, bermain seperti ini setiap minggu, setiap pertandingan, setiap sesi latihan. Hanya dengan demikian Arsenal bisa diubah menjadi tim dengan mental juara.

Perubahan Taktik

Tentunya hanya bermodal semangat saja tidak bisa mengubah sebuah tim serta merta menjadi tim juara. Ada perubahan taktik dan posisi pemain agar tim bisa merebut bola dengan waktu dekat, upaya minimal. Itu tugas pelatih. Tulisan Michael Cox di The Athletic mengupas perubahan ala Arteta ini dengan sangat baik. Saya rangkum sedikit di sini.

Formasi di atas kertas Arsenal adalah 4-2-3-1 tapi di atas lapangan formasi itu berubah menjadi 4-4-2 saat bertahan dengan Ozil dan Lacazette di depan dan 2-3-5 saat menyerang. Maitland-Niles berubah dari RB ke RCM dan Saka / Kolasinac maju dari LB ke LW. Lihat grafik di bawah ini. Dengan 5 pemain menyerang dan 5 pemain bertahan, Arsenal stretching lawan melebar sehingga memberikan banyak space khususnya untuk Ozil dan Xhaka dalam mengumpan.

David Luiz bersiap mengoper bola ke RW Arsenal, lihat space yang dimilikinya!
Xhaka punya beberapa opsi, lihat space yang terbuka lebar untuk Aubameyang dan Saka

Perubahan formasi ini memungkinkan Arsenal bermain operan pendek maupun panjang, dan cukup banyak space untuk winger berlari. Umpan satu-dua yang sudah lama hilang dari peredaran muncul kembali.

Dengan formasi seperti ini juga, saat kehilangan bola, Arsenal bisa dengan cepatnya mengerumuni pemain lawan yang memegang bola dan memutus jalur operan bola. Bila pressing awal gagal, maka Arsenal kembali ke formasi 4-4-2 blok bertahan yang rapat menutup lini tengah.

Mengagumkan apa yang bisa dicapai dengan perubahan sedikit formasi dan eksekusi yang konsisten.

Kita baru di chapter pertama revolusi mental Arteta, sangat menarik melihat apa yang akan dilakukannya di pertandingan malam ini, melawan Crystal Palace tandang.

Pertandingan ini akan sangat berarti untuk satu pemain. Ajang redemption untuk Granit Xhaka. Semoga kemenangan dan penampilan gemilang menjadi balasan yang pas untuk aib tahun lalu yang mengakibatkan ban kaptennya dicopot.

Kita ingin menyaksikan revolusi mental Xhaka malam ini. Semoga terjadi.



The Arteta Way

WBMikel_1600x900
Mikel Arteta, Arsenal New Head Coach (20 Dec 2019)

Momen bersejarah baru ini mendorong saya untuk kembali menulis blog setelah sekian lama non-aktif. Blog terakhir saya di bulan Februari 2018 tentang nonton langsung North London Derby yang ternyata juga menjadi musim terakhir Le Boss, orang yang paling saya hormati di muka bumi saat ini. Arsenal tanpa Arsene Wenger berubah. Bukan soal hasil pertandingan, tapi lebih soal bagaimana klub ini dijalankan. Wenger mungkin bisa merasakan itu, maka pesannya “Take care of the values of the club” selain ditujukan kepada fans, juga secara tidak langsung disampaikan kepada board Arsenal.

Berakhirnya Sebuah Era 

Lengsernya Wenger adalah hasil dari pertarungan kekuasaan. Gazidis yang tidak pernah bisa klop dengan Wenger, sudah lama menunggu momen untuk berkuasa. Ia memasang Raul Sanllehi dan Sven Mislintat untuk mengurangi absolute power Wenger di klub. Rekrutmen di musim terakhir itu juga rasanya dilakukan mereka tanpa banyak mendengarkan maunya Wenger.  Dengan performa musim itu yang menjadi musim terburuk Arsenal era Wenger, board Arsenal diyakinkan Gazidis bahwa inilah saatnya untuk perubahan. Karena respek board yang begitu tinggi terhadap Wenger, ia diberikan kesempatan untuk mengucapkan perpisahan sebelum musim berakhir dan mereka dapat memulai proses mencari penggantinya. Buku otobiografi Wenger yang akan terbit pertengahan tahun depan pasti akan mengupas banyak pertarungan kekuasaan di balik layar ini.

Gazidis, Raul dan Sven melakukan pencarian manajer baru sebelum akhir musim sebagaimana audisi bakat reality show. Mikel Arteta yang menjadi unggulan petaruh akhirnya disalip di babak final oleh salesman Unai Emery dengan power pointnya yang spektakuler. Kurang pengalaman, Arteta mungkin tidak menyiapkan diri sebaik itu. Unai datang lengkap dengan timnya yang terdiri dari 6-7 orang. Ia memutar video analisa semua pemain Arsenal dan mengatakan kalau ia tahu bagaimana mengeksploitasi pemain terbaik Arsenal, Aaron Ramsey. Metode homework untuk pemain lewat USB juga dipaparkan. Akhirnya ia berhasil meyakinkan trio kwek kwek bahwa ia manajer yang tepat untuk mengubah nasib Arsenal yang sudah lama tidak masuk Champions League. Saya yakin presentasi Emery dilakukan di siang hari. Kalau tidak, mereka mungkin saat itu akan was-was dengan kemampuan komunikasinya saat ia mengucapkan “Good Ebening”.

Satu setengah musim kemudian, di bawah kepemimpinan Emery, emosi kita diaduk-aduk dengan akhir musim lalu yang anti klimaks, kepergian Ramsey (ironisnya) dan beberapa pemain penting lainnya, sepakbola tanpa identitas, perang dingin manajer dan pemain bintang, manajer yang kehilangan respek pemain, kapten yang ribut dengan fans, dan tentunya yang paling miris 7 pertandingan beruntun tanpa kemenangan, dan itupun kebanyakan melawan klub semenjana.

Krisis Identitas dan Kepercayaan Diri

Saya tidak pernah terinspirasi untuk menulis blog tentang Arsenal di era Emery. Sulit rasanya mengidentifikasikan klub tersayang kita saat melihat timnya bermain di lapangan. Emery adalah tipe pelatih reaktif. Ia menyesuaikan taktik timnya dengan cara bermain lawan. Ia doyan ganti formasi dan ganti starting line-ups. Akibatnya para pemain kebingungan dan tidak terjalin chemistry yang baik antara pemain satu dan yang lain. Kita tidak punya duet striker, duet pemain tengah, ataupun duet pemain belakang yang menetap. Apalagi kombinasi antara pemain tengah dan depan. Bermain dengan Laca dan Auba sangat berbeda. Yang satu memilih lari di channel antara FB dan CB, yang lain memilih drop deep di tengah untuk menerima bola. Para pemain tengah terpaksa mengganti cara passing mereka dari satu pertandingan ke pertandingan lain karena perbedaan gaya ini. Kombinasikan itu dengan 11 varian pemain dan kebingunganlah yang didapatkan. Saat itulah sepakbola Arsenal kehilangan identitas, karena taktik yang terus berganti tergantung lawannya.

Emery juga terlalu tinggi menganggap lawan dan akibatnya merendahkan timnya sendiri. Alih-alih mengeksploitasi kekuatan timnya sendiri, ia memilih mengantisipasi kekuatan tim lawan. Di saat seperti ini, saya jadi ingat kata Wenger:

A football team is like a beautiful woman. When you do not tell her, she forgets she is beautiful.

Krisis kepercayaan diri menjadi tema umum semua pemain Arsenal saat ditanya soal kemerosotan performa di lapangan di musim ini. Ini kegagalan dari empowerment team. Banyak lagi kutipan serupa mengenai kepercayaan diri, fokus kepada kekuatan yang semua ini telah menjadi value Arsenal selama 2 dekade kepemimpinan Wenger.

None of us has all the qualities. But we make our life and our success with one quality that is very strong, and we can diminish our weaker sides a little bit. Once a player has a strong quality, my job is then to give him the confidence.

In my job, the main quality is to be an optimist. You should see what the club is about after big defeats, it’s like a lost war. Everybody is on the floor, so you have to be an optimist and say to people ‘Come on, we are good enough to pick up and win our next game’. Everyone forgets quickly in life how good he is or how good he can be when things go wrong.

Kutipan-kutipan di atas tidak hanya berlaku pada sepakbola, tapi untuk hidup secara umumnya. Inilah nilai-nilai kehidupan, kalau dapat kita hayati dan terapkan.

Atlet cepat melupakan bagaimana bagusnya dirinya ketika ia terus menerus menderita kekalahan. Pemain Arsenal seakan harus diingatkan mereka adalah pemain bagus yang setia menghuni 4 besar, yang berkompetisi untuk trofi. Mungkin Emery terus mengatakan kalau pemain lawan bagus dan lain-lain, jarang memuji pemainnya sendiri, membangku cadangkan pemain terbaiknya hanya untuk membuktikan kuasanya. Mungkin semua hal negatif tersebut diulang-ulang setiap hari di latihan dan akibatnya pemain-pemain Arsenal kehilangan kepercayaan diri.

Hal ini bisa dilihat dari jarak antar pemain yang demikian jauh di lapangan. Kurang compact. CB yang tidak berani pressing dan nempel ke pemain depan lawan karena takut tidak bisa mengejar mereka ketika lolos. Arsenal tidak bermain high pressing, namun tidak juga low block. Saat pemain depannya pressing, pemain tengah tidak ikut, dan pemain belakang jauh di areanya sendiri. Tidak satu komando. Saat lawan lolos pressing, hanya butuh satu dua umpan akurat dan pemain cepat untuk menembus pertahanan Arsenal dan berakhir dengan shot on target. Tidak heran kalau kita memberikan begitu banyak peluang tembakan kepada lawan dengan cara bermain seperti ini. Cara bermain yang kekurangan percaya diri.

Hal pertama yang diucapkan para pemain saat Emery diganti oleh Ljungberg sebagai head coach sementara adalah Ljungberg memahami pemain karena ia adalah mantan pemain. Secara tidak langsung mereka ingin mengatakan kalau Emery tidak memahami mereka. Mungkin Emery memainkan mereka bak main Football Manager. Memasang starting line up sesuai analisa videonya dari tim lawan, mengganti taktik dan formasi dari satu game ke game lain, pencet tombol simulasi dan tunggu hasilnya. Gagal, coba lagi dengan formasi lain. Sisi humanisnya, sisi personal touch dengan berdiskusi dengan pemain tidak ada. Ia jelas tidak mengatakan kepada Mesut Ozil kalau dirinya beautiful… Tidak ada fitur itu di Football Manager (entah kalau versi terbarunya). Emery lupa bahwa saat pertandingan berlangsung, yang menjalankannya adalah para pemain bola, bukan pelatih, sekeras apapun teriakannya di lapangan.

Akhirnya, tidak ada pemain Arsenal yang bersedia bermain untuknya. Bahkan kapten andalannya pun kecewa ketika “dikorbankan” oleh Emery dan akhirnya menjadi sasaran amuk massa. Lebih lagi ketika Emery tidak membelanya. Semua aksi seperti itu diperhatikan semua pemain dan mereka kehilangan respect dan kepercayaan pada pelatihnya. Singkat kata, Emery lost the dressing room and then he lost the job.

Revolusi Arteta

Sejak awal saya menginginkan Arteta sebagai head coach baru Arsenal. Sejak menjadi pemain Arsenal, ia sudah menunjukkan leadershipnya yang sangat kuat. Interview terakhirnya di majalah Arsenal juga menunjukkan keinginan kuatnya untuk menjadi manajer sepakbola. Alih-alih melanjutkan kariernya di klub-klub kaya di China atau MLS di USA, atau menjadi pundit sepakbola sebagaimana Thierry Henry dan beberapa mantan pemain Premier League, Arteta langsung memilih meniti karier sebagai asisten manajer Manchester City di bawah manajer terbaik dunia, Pep Guardiola. Ia tidak mau membuang waktu. Ia punya ambisi, kepercayaan diri, dan belief ia akan menjadi manajer Arsenal di masa depan. Saat itu ia mengatakan kepada staf-staf di Arsenal bahwa ia akan keluar dari klub untuk menuntut ilmu dulu, dan kembali saat ia siap. Karakter yang sangat kuat dan kepercayaan diri yang tinggi. Keyakinannya dan hasil kerja kerasnya akhirnya terbayar sekarang.

Tidak mudah untuk Arsenal menunjuk Arteta menjadi head coach yang baru tanpa pengalaman menjadi manajer. Namun Arteta memiliki banyak hal yang membuat ia lebih unggul dari kandidat lainnya. Ia menjadi kandidat yang paling cocok untuk Arsenal di saat value Arsenal yang dipertegas di era Wenger semakin terkikis. Arsenal tidak memiliki komunikator yang baik saat ditimpa krisis, sebagai PR dan sekaligus penegak nilai Arsenal. Acuan moral klub. Emery tidak bisa melakukan peran itu dan board juga tidak mau muncul ke depan untuk menahan peluru dari fans dan media. Saat Koscielny menjadi pemberontak, misalnya. Saat Ozil sering bolos dengan izin sakit. Saat Xhaka emosional di-boo supporter. Saat gosip seputar keterlibatan super agent dalam transfer pemain dan kemudian munculnya prospek Nuno Espirito Santo menjadi headh coach baru Arsenal karena pengaruh Jorge Mendes. Saat ada dugaan Raul menggunakan koneksi super agentnya untuk transfer pemain dan membayar di atas harga pasar. Semua rumor yang bertentangan dengan value Arsenal yang berawal dari Victoria Concordia Crescit. Victory grows out of harmony.

Arsenal website punya section The Arsenal Way, yang mendefinisikan nilai-nilai Arsenal dari sisi sejarah maupun korporasi. Bagi saya yang tidak tinggal di Islington, Jalan Arsenal adalah hal-hal yang dilakukan dengan benar, berintegritas, manusiawi dan harmonis. Semua kutipan dari Wenger mengenai sepakbola, indahnya manusia dan kepercayaan diri adalah bagian tak terpisahkan dari Jalan Arsenal.

Arteta mengerti itu.

Pada kesempatan pertamanya bicara pada pers, ia tampil sangat menawan. Komunikasinya lugas dan cerdas. Pertama ia berterima kasih kepada Arsene Wenger yang melihat kualitas dirinya, membawanya ke klub yang sudah lama diidolakannya, menjadikannya kapten, membuatnya jatuh cinta dan dengan demikian memberinya peluang untuk menjadi The Boss baru Arsenal.

Arteta mempelajari pentingnya sentuhan personal dan juga modernitas taktik dari dua manajer hebat. Ia juga belajar bagaimana menyampaikan pesannya dengan sederhana kepada pemain. Ia memulai dari dasar. Pertama, bermainlah dengan agresif, saling mendukung, dan bertanggung jawab. Akuntabilitas adalah isu di mana-mana tidak cuma di sepakbola. Semua manajer yang baik tahu bahwa untuk menciptakan tim yang mampu berperforma baik, perlu adanya komitmen bersama yang kemudian ditindaklanjuti dengan hasil dan akuntabilitas. Manajer perlu menjadi ruthless, pertama memberikan kesempatan, dukungan dan arahan namun kemudian juga menyingkirkan mereka yang tidak berkomitmen dan tidak perform. Arteta memulai hal itu dengan timnya. Siapapun pemain Arsenal yang tidak tampil 100% dan tidak mengikuti instruksinya akan disingkirkan. Harmoni artinya semua bagian dari tim memiliki satu tujuan yang sama dan berkomitmen untuk mencapainya bersama.

Untuk bisa mendapatkan komitmen itu, ia perlu meyakinkan semua pemain dahulu bahwa Jalan yang akan ia tempuh adalah jalan yang akan membawa pada kemenangan, dan kesuksesan.

Ia tidak bicara soal taktik dahulu. Di pertandingan lawan Everton terlihat bagaimana David Luiz dan Granit Xhaka yang biasanya tidak agresif dalam tackle atau interception melakukannya dengan baik. Saya sangat terkesan dengan Luiz yang menempel dekat pemain penyerang lawan dan berhasil dalam duel 1 on 1 dalam banyak kesempatan. Xhaka juga track back, intercept, tackle. Semua pemain bekerja keras untuk tidak memberikan peluang menyerang Everton. Hasilnya clean sheet pertama setelah sekian lama. Yang masih kurang adalah bagaimana menyerang dengan baik dan itu akan hadir seiring dengan waktu Arteta berlatih bersama tim. Kita mesti bersabar karena seperti kata Wenger lagi, kepercayaan diri itu seperti turun lift dan naik tangga. Hilang dengan cepat dan hanya bisa dibangun perlahan.

Banyak sudah beredar artikel mengenai bagaimana Arteta melatih pemain-pemain City untuk menjadi lebih baik lagi. Sterling, Sane adalah contoh apik. Kita menunggu polesan Arteta terhadap pemain-pemain muda Arsenal. Emile Smith Rowe dan Bukayo Saka adalah jebolan akademi Arsenal terbaik yang menunggu golden touch Arteta. Kita masih punya Martinelli, Tierney, Nelson, Willock, Guendouzi dan Saliba yang akan bergabung musim depan. Kemudian Ceballos dan Pepe yang juga belum menunjukkan performa terbaiknya di Premier League. Di tim U23, pemain muda berlimpah bakat juga siap menunggu giliran.

Bagi Arteta, ada 4 hal penting yang ia inginkan sebagai pondasi dasar timnya: komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah untuk memainkan sepakbola dan mewakili klub ini.

The priority, as I said before, is what we are going to transmit on the team, is a reflection of the demands we are going to put on them every day in training. That’s commitment, accountability, aggression and passion to play this sport and to represent this football club.

This is the basic I am going to demand from them, and from there we can start to build things and improve all the things, obviously, that have to be done as quickly as possible, but if we don’t have this in the right manner, I think it will be difficult.

Musim ini, empat besar mungkin bisa kita lupakan karena begitu jauhnya posisi Arsenal di klasemen. Mari hilangkan ekspektasi tinggi agar setiap proses lebih bisa kita nikmati secara natural. Sebagai Gooners, yang bisa kita lakukan adalah memberikan waktu untuk Arteta bekerja dan mendukungnya. Yang pasti minggu per minggu kita akan melihat perbaikan penampilan Arsenal. Saya yakin.

Setelah lebih dari 20 tahun mendukung Arsenal, saya sudah menyaksikan pemain bintang datang dan pergi. Hal ini juga akan terjadi sekarang. Mungkin kita akan kehilangan Ozil, Aubameyang atau bahkan Lacazette. Tidak masalah, karena kita sekarang mendapatkan talenta pelatih emas di Arteta, yang tidak muncul setiap tahun. Pelatih yang akan menghasilkan puluhan pemain bagus di klub ini, yang akan bermain sesuai identitas Arsenal. Saya percaya Arteta akan dapat menghadirkan kembali sepakbola menyerang yang merupakan perwujudan dari The Arsenal Way daripada sepakbola reaktif ala klub semenjana. Sepakbola protagonist yang gagal diwujudkan oleh Unai Emery.

The New Arsenal Way is The Arteta Way.

North London Derby yang tak terlupakan

Happiness is in the content of moment-to-moment experiences…

Kebahagiaan ada pada pengalaman saat ini, bukan pada benda yang dimiliki. Jadi bila Anda memiliki uang lebih (bonus, tabungan), memilih menghabiskannya untuk pengalaman daripada material menurut riset psikolog Matthew Killingsworth, akan lebih mendatangkan kebahagiaan. Artikel “Buy Experiences, Not Things” yang berdasarkan pada riset Killingsworth yang menegaskan kembali hasil riset-riset psikologi selama sepuluh tahun terakhir ini yang menyimpulkan bahwa pengalaman (experiences) lebih memberikan kita kebahagiaan daripada kepemilikan (possession). Silakan dibaca artikel yang sangat menarik tersebut.

Saya sudah membuktikannya sendiri. Menyaksikan langsung pertandingan Arsenal vs tetangga berisik di Emirates Stadium mendatangkan kebahagiaan yang tak akan terlupakan, dibandingkan membeli tas atau pakaian bermerk (jelas isteri saya akan berpendapat berbeda). Hampir 3 bulan telah berlalu sejak pengalaman tersebut, namun setiap saya mencoba mengingatnya, menonton rekaman video dan foto dari hari bersejarah tersebut bagi seorang Gooner, senyum lebar akan selalu hadir, untuk diri sendiri.

20171118_152947858_iOS
Pose Bersama Pemain Terbaik Arsenal Sepanjang Masa. 18 Nov 2017. Arsenal 2-0 Tottenham Hotspur.

Mendeklarasikan diri sebagai Gooner sejak 1998, mengunjungi dan menyaksikan langsung pertandingan Arsenal adalah impian terpendam. Impian itu terwujud sebagian ketika Arsenal melakukan tur ke Indonesia tahun 2013. Saat itu, saya menyempatkan diri bergabung dengan puluhan ribu supporter Arsenal Indonesia menonton langsung pertandingan Arsenal vs Indonesia All Star di Gelora Bung Karno, Jakarta. Pertandingan yang berakhir 7-0 untuk Arsenal itu dengan aksi pemain muda Gedion Zelalem tentunya sangat berkesan. Melihat langsung pemain-pemain Arsenal di lapangan rumput maupun di bus tim untuk pertama kalinya, terasa surreal. Saya tidak menyadari saat itu kalau pengalaman di Emirates Stadium akan berkali lipat lebih luar biasanya.

Kesempatan untuk ke London dan menonton langsung North London Derby itu datang tanpa rencana. Bisa juga dianggap kebetulan. Tahun lalu, 2017, saya mendapatkan undangan dari head office perusahaan tempat saya bekerja untuk ikut leadership training di Belanda selama tiga kali, yakni di bulan Juni, September dan November, masing-masing selama 3-4 hari. Tiket pesawat dan akomodasi ditanggung perusahaan tentunya. Ini merupakan kesempatan pertama kalinya saya ke Eropa. Saat itu yang terbayang di pikiran bukanlah keindahan kincir angin dan bunga tulip di Belanda, tapi North London, kandang Arsenal. Saya langsung merencanakan untuk berkunjung ke London dari Belanda di salah satu dari tiga kesempatan kunjungan itu. Tiket pesawat Amsterdam – London tidaklah mahal, banyak pilihan budget airlines.

Bulan Juni tidak termasuk pilihan karena Premier League sedang libur, tersisalah opsi bulan September atau November. Atas saran seorang rekan peserta training asal London yang juga seorang Gooner, September menjadi pilihan bagus karena cuaca yang bersahabat (musim dingin belum tiba). Tiket pertandingan pun bisa diatur olehnya, pertandingan Arsenal vs Brighton & Hove Albion, tanggal 1 Oktober. Rencananya saya langsung melanjutkan perjalanan ke London setelah selesai training tanggal 30 September.

Sebagai Project Manager, rencana yang tidak berjalan mulus sudah biasa saya temukan dalam pekerjaan. Eh, ternyata rencana kunjungan ini juga begitu. Visa UK yang saya ajukan belum disetujui hingga hari H-3 keberangkatan ke Amsterdam. Khawatir saya tidak dapatkan kembali paspor untuk berangkat ke Amsterdam, saya ajukan fasilitas Passport Passback (peminjaman passport yang visa-nya belum disetujui) ke Embassy UK. Saya lalu membatalkan penerbangan ke London dari Amsterdam, batalkan reservasi hotel dan tentunya juga tiket pertandingan. Rencana ke London diubah ke bulan November. Yang mengejutkan, H-1 keberangkatan saya menerima kembali paspor saya yang sudah distempel Visa UK, disetujui! Sial, semua rencana sudah terlanjur diubah. Apa boleh buat, manusia hanya bisa berusaha, kehendak Tuhan berkata lain!

Scrolling fixtures Home Arsenal, mata melotot pada North London Derby, 18 November 2017. Training di Amsterdam dimulai 20 November. Wah ini takdir, segera saya memesan tiket pesawat, reservasi akomodasi, dan kontak teman Gooner di London tersebut untuk tiket pertandingan. Singkat kata, ia gagal mendapatkan tiket pertandingan karena derby match tersebut masuk kategori A, ludes terjual. Tidak kehilangan akal, saya coba fasilitas ticketing online Stuthub. Harga tiket di sana kurang lebih 2 kali lipat harga general sale ditambah biaya pelayanan. Cari tiket termurah di upper tier, shortside (barisan bangku paling atas, sisi lapangan pendek belakang gawang), dapat tiket dengan harga £140 yang harga normalnya £76. Ditambah dengan biaya administrasi+servis, total biaya sekitar hampir 3 juta rupiah. Lumayan untuk pengalaman sekali seumur hidup (mudah-mudahan bisa berkali-kali, maunya). Pertandingan pertama yang sempurna, first match yang sekaligus first north london derby.

Tiket pesawat antar negara di Eropa tidak mahal, tiket easyJet hanya sekitar €80 pp tanpa bagasi. Namun hotel di London sangat mahal, maka saya memilih menggunakan Airbnb (homestay). Bisa dapat kamar privat di North London dengan harga €60 per malam, sepertiga dari harga hotel di tengah kota. Rencana perjalanan pun dibuat, tiba di London dari Amsterdam hari Kamis untuk menyaksikan pertandingan di hari Sabtu dan kembali ke Amsterdam hari Senin pagi untuk training. Empat malam di London tidak akan pernah cukup, namun karena ini adalah liburan tanpa keluarga, 4 hari ini sudah sangat lumayan, tahu dirilah sebagai seorang suami dan ayah dengan dua anak. Untung punya isteri yang juga seorang Gooner yang sangat pengertian. Lain kali saya berjanji akan datang lagi ke London bersama keluarga dalam wujud liburan beneran (2 minggu mungkin?).

Jurnal Perjalanan

Karena durasi perjalanan yang singkat, maka rencana jalan-jalan saya fokuskan ke Arsenal. Kamis siang menjelang sore tiba di London, naik Tube (London Underground – MRT) langsung menuju ke North London keluar di Arsenal Station. Berjalan melewati Highbury Stadium yang sudah disulap menjadi apartemen, saya sengaja tidak mampir dulu di kandang Arsenal karena cukup capek setelah terbang 14 jam dari Jakarta-Amsterdam direct flight yang dilanjutkan 1 jam penerbangan ke London. Sambil menunggu yang punya kunci rumah, sempatkan diri dinner di The Highbury Barn, pub di Highbury Park, dekat rumah tujuan.

IMG_20171116_151107
Highbury Square, apartement complex yang dulunya adalah Highbury Stadium. Nama Arsenal Stadium dan East Stand masih melekat, peninggalan budaya

Jumat pagi, saya berkunjung ke proyek teman di Kings Cross. Ia adalah rekan training (yang disebut di atas), Project Manager yang juga Londoner dan Gooner. Entah sengaja atau tidak, staf-staf proyek yang dikenalkannya pada saya juga hampir semuanya supporter Arsenal. Berceritalah kita mengenai prospek Arsenal vs Spurs. Walaupun di mulut pada yakin menang, namun saya bisa merasakan kekhawatiran di hati mereka, terlebih karena performa Spurs saat itu yang sedang bagus-bagusnya. Di meja salah seorang staf senior proyek tersebut, ada foto dirinya dengan Ian Wright dengan senyum lebarnya, supporter Arsenal seumur hidup sepertinya.

Saya dikenalkan sebagai seorang teman dari Jakarta, satu grup perusahaan, dan juga sebagai seorang Gooner yang akan nonton NLD. Pengantar perkenalan seperti ini ternyata sangat efektif. Arsenal, lebih daripada agama, menjadi jembatan komunikasi yang efektif. Langsung kita berbicara mengenai performa tim, mengenai Wenger in and out, mengenai Lacazette, Ozil dan pemain-pemain lainnya. Baru kemudian kita bercerita tentang asal dan kehidupan masing-masing. Hal ini juga saya rasakan ketika berkumpul dengan komunitas AIS di Jakarta, Pekalongan, Tuban dan Tangerang. Mudah sekali connect dengan supporter Arsenal di manapun karena selain kita memiliki hobi yang sama, kita juga melakukan perjalanan yang sama dalam mengikuti klub ini. Start-nya mungkin boleh berbeda, saya dari 1998, Anda dari 2000-an, atau ada yang dari 80-an, tapi saat kini yang kita alami sama. Kita seakan berada dalam satu kereta yang sama, berangkat dari stasiun yang berbeda-beda, waktu yang berbeda-beda, tetapi dengan satu tujuan, tujuan yang tak terhingga. Walaupun ada yang akan meninggalkan kereta ini duluan, sebelum sampai tujuan, entah karena kematian, ataupun karena penyakit (depresi, bosan), atau karena berkhianat (pindah kereta), yang tersisa akan terus melakukan perjalanan, bersama, mengalami hal yang sama. Kenangan yang sama dari gerbong kereta Arsenal ini tidak akan pernah dipahami oleh orang lain yang belum pernah masuk ke gerbong ini. Kenangan dan pengalaman saat ini menjadi alat komunikasi yang efektif untuk menghubungkan orang-orang yang tadinya asing satu sama lain.

Kita seakan berada dalam satu kereta yang sama, berangkat dari stasiun yang berbeda-beda, waktu yang berbeda-beda, tetapi dengan satu tujuan, tujuan yang tak terhingga.

Siangnya, saya memutuskan ke Emirates Stadium dengan tujuan melihat bagian luar stadion dan bagian dalam lewat Arsenal Tour. Setelah melewati Ken Friar Bridge, tampaklah pemandangan Emirates Stadium di sebelah kiri dan Arsenal Museum sebelah kanan. Megah sekali stadion Arsenal ini, dengan facade kaca dan cladding poster berbagai pemain legendaris yang berangkulan, simbol Victoria Concordia Crescit. Puas mengambil foto dari luar, segera saya masuk ke Arsenal Museum untuk membeli tiket Arsenal Stadium and Museum Tour. Karena tidak pernah membaca apa saja isi tour-nya selain masuk ke dalam stadion, saya cukup penasaran dengan isi museumnya.

Arsenal Stadium.jpg
Kiri atas (searah jarum jam): Monumen Ken Friar Bridge, Arsenal Museum, Emirates Stadium

The Tour

Setelah membayar £22, saya diberikan semacam walkman dan earphone yang bisa memainkan file audio tertentu ketika kita berada dekat dengan titik tertentu, sebagaimana tour guide yang menjelaskan histori benda tertentu di museum-museum di Eropa. Di kasir, saya berkenalan dengan Alpha, pria asal Sierra Leone yang juga ingin mengikuti tur. Ia fans West Ham United, namun istrinya dan kakak-adiknya adalah fans Arsenal. Karena sedang di London, ia penasaran dengan isi stadion Arsenal. Ia belum memiliki tiket untuk pertandingan besok. Lumayan, dapat teman baru yang bisa dimintakan bantuan motret, daripada foto selfie melulu. Jadilah kami saling memotret selama tour ini, kerjasama simbiosis mutualisme.

Arsenal Museum
Arsenal Museum

Dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang mencerminkan era yang berbeda, museum ini penuh dengan memorabilia dan kata-kata kutipan para legenda. Misalnya dari Herbert Chapman, manager sukses Arsenal yang pertama yang meletakkan batu pondasi kesuksesan untuk manager-manager berikutnya:

I’m going to make this the greatest club in the world.

Bob Wilson, kiper legendaris Arsenal saat ia mengunjungi Highbury pertama kalinya:

It took my breath away. How could I ever have the nerve to play in front of this?

Dan ini, dua kutipan dari Arsene Wenger:

In football there is a shared responsibility. Intelligent players always understand the real star is the team and what they give to the team, the team gives back to them.

It’s not impossible. I know it will be difficult for us to go through the season unbeaten. But if we keep the right attitude it’s possible we can do it.

Kutipan terakhir tersebut dilontarkan Wenger di awal musim 2002/2003 yang mana akhirnya timnya disalip oleh Manchester United dalam perebutan gelar juara Premier League. Wenger menjadi bahan tertawaan supporter United dan media karena dianggap pemimpi. Musim berikutnya ia yang tertawa terakhir karena keyakinannya pada timnya terbayar dengan gelar Premier League yang didapatkan tanpa menderita kekalahan. The Invincible mendapatkan tempat layak di museum tersebut. Rasanya waktu berjam-jam pun tidak cukup untuk menelusuri seluruh bagian dari museum ini. Kalau tidak mengingat matahari akan terbenam dan saya belum melihat isinya Emirates Stadium, enggan rasanya beranjak keluar dari tempat yang penuh sejarah Arsenal ini. Saya dan Alpha pun keluar dari museum, menyeberang ke arah stadion.

IMG_20171118_144301
19 Managers of Arsenal (1894 – present)

Masuk dari basement dan naik ke atas, ke Director’s Box lalu ke kursi penonton di Club Level, pemandangan luar biasa menyambut kami. Jantung saya seakan berhenti berdetak sesaat menyaksikan lapangan hijau yang rapi, atap yang berbentuk kurva tipis bergelombang dan deretan bangku merah yang mengikuti lengkungan indah atap stadion tersebut.

IMG_20171117_155103.jpg  IMG_20171117_155152IMG_20171117_155108.jpg

Dalam kondisi kosong pun stadion ini megah luar biasa. Sunyi sekali karena suara beberapa peserta tour teredam oleh kemampuan akustik bangunan yang sangat baik. Kata-kata,”Oh my God, it’s amazing!” berulang kali terucap dari bibir saya dan Alpha. Ia yang tidak berencana untuk menonton pertandingan esok kemudian berujar, “Benny, I have to see the match tomorrow.” Alpha merasa sayang melewatkan pertandingan di stadion yang sangat bagus ini. Ia sudah pernah menyaksikan pertandingan di kandang Chelsea dan Manchester City, namun baginya stadion kandang Arsenal ini masih jauh lebih keren. Ia pun menelepon saudaranya yang sudah lama tinggal di London untuk mencarikan tiket untuk pertandingan besok. Keesokan harinya saya tidak bertemu dengannya karena keramaian yang luar biasa tapi ia mengabarkan kalau ia mendapatkan tiket di area tandang, menonton bersama pendukung Spurs!

Setelah puas menikmati sensasi dari tiga indera, mata, telinga dan kulit yang menyentuh bangku stadion, serta berfoto-foto ria, kami pindah ke bawah. Dressing room menjadi tujuan pertama. Ada terlihat kolam air untuk pemulihan, tempat massage, gym kecil sebelum kamar ganti pemain. Di dalam, tentunya tempat Ozil menjadi pilihan pertama. Blessing dari saya terhadapnya ternyata tidak sia-sia, Ozil tampil luar biasa keesokan harinya.

IMG_20171117_160713
Blessing untuk Ozil

Dari dressing room, kami melintasi ruang press conference Wenger, lalu ke tunnel menuju lapangan. Sekali lagi, kami terkesima dengan pemandangan depan mata. Lapangan rumput yang begitu rapi dan hijau. Saya melihat apa yang para pemain Arsenal lihat. Sungguh stadion yang luar biasa, walau saat ini dalam keadaan kosong. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya bermain di saat stadion penuh, seluruh pendukung menyanyikan lagumu, tak henti-henti seperti We’ve Got Mesut Ozil!

IMG_20171117_161718
Bersama Alpha di Bangku Cadangan

Keberuntungan di hari itu tiada habisnya. Alpha tiba-tiba menyenggol tanganku. Tebak, siapa yang datang ke stadion hari itu? He’s a very nice man.DSC00606

Pengalaman tur yang manis, dan tak akan terlupakan. Setelah itu saatnya belanja merchandise Arsenal di The Armoury untuk diri sendiri dan keluarga.

The Match Day

Gerimis di siang hari itu menemani perjalanan ke stadion. Keluar dari Arsenal Station, Gooners mulai bernyanyi bersama. Lagu wajib “What do you think of Tottenham?” berulang kali dikumandangkan supporter Arsenal. Gate masuk fans home dan away dipisah untuk menghindari keributan. Kebanyakan fans Spurs menyembunyikan jersey mereka di luar stadion (di balik jaket) agar tidak bentrok dengan fans Arsenal. Kaos putih tersebut baru terlihat ketika mereka berkumpul di gate masuk away fans. Mulailah banter chant diserukan satu sama lain. Masuk ke dalam, chant supporter Arsenal semakin kencang. Bak paduan suara gereja, suasana khidmat mengiringi masuknya fans ke tempat sakral ini.

Banyak pendukung Arsenal memilih ngumpul, ngobrol sambil minum bir atau buang air kecil dahulu sebelum ke bangku penonton. Sebagian mengerubungi layar televisi yang tergantung, menyiarkan hype north london derby dengan komentar-komentar pundit yang meramalkan kemenangan Spurs. Tentu mereka tidak tahu kalau saya sudah mengunjungi dan memberikan jampi-jampi spesial ke stadion ini kemarin. 🙂

IMG_20171118_122814.jpg
Inilah view dari tempat duduk saya, Upper Tier Shortside Clock End

Saya duduk di bangku barisan atas belakang gawang, area yang disebut Clock End yang berseberangan dengan North Bank, yang terkenal dengan chant-chant kencang dari anggota REDaction Gooners. Atmosfer pertandingan yang benar-benar luar biasa. Kalau kemarin saya menyaksikan kemegahan dalam sunyi, di match day yang terlihat adalah lautan manusia yang bergelora, bernyanyi bersama sambil menggerak-gerakkan tangan. Emirates Stadium terasa bergetar oleh resonansi suara yang berirama dari puluhan ribu supporter Arsenal. Hebatnya akustik stadion ini bekerja baik sehingga seruan keras puluhan ribu orang ini tidak memekakkan telinga. Begitu positifnya semangat para pendukung Arsenal, bahkan mereka yang datang dengan skeptisme pun akan tergugah, mulai timbul kepercayaan diri bahwa Arsenal akan menang.

Kepercayaan diri pendukung pun menular ke pemain Arsenal. Mereka bermain luar biasa yang mengakibatkan pemain Spurs bermain sangat buruk. Arsenal terus menyerang tanpa kuatir dengan counter attack Spurs. Ozil, Sanchez dan Lacazette berkombinasi dengan sangat baik. Bellerin terus melakukan overlapping di sayap kanan. Koscielny dan Mustafi terus memotong operan pemain tengah Spurs ke penyerangnya. Pressing tinggi dilakukan para pemain Arsenal dan kejutannya Spurs sama sekali tidak melakukan pressing tinggi. Mereka terlihat seperti kelelahan, atau patah semangat, ketika sundulan Mustafi menyambut umpan lambung Ozil dari free-kick membuahkan gol pertama Arsenal.

Pendukung Arsenal semakin semangat dengan gol pertama itu. Lagu wajib what do you think of Tottenham kembali dikumandangkan, sambil tangan menunjuk-nunjuk ke area penonton tandang. Tidak lama setelah gol pertama itu, Sanchez menjebol gawang Spurs setelah kombinasi Bellerin dan Lacazette. Meledaklah seisi stadion Arsenal. Orang asing saling berangkulan, high-five, dan tertawa bersama.

Ada sebuah hal unik yang saya alami saat menonton pertandingan Arsenal dari sisi shortside, belakang gawang daripada dari sisi longside, samping lapangan. Saya pikir saya tidak akan menikmatinya. Kejutannya, menonton dari sisi ini pergerakan dan jalur operan pemain terlihat dengan jelas. Larinya Bellerin dan Sanchez yang menunggu passing dari Ozil sangat kelihatan. Saat mereka mulai berlari sambil melihat Ozil, saat Ozil melihat lari mereka. View ini juga adalah view pandangan pemain. Pemain secara natural akan menghadap ke arah gawang lawan. Formasi dan gerakan pemain terlihat lebih jelas daripada dari layar televisi. Maklum, saya tidak mengikuti langsung kompetisi sepakbola lokal di stadion. Bagi yang sering menonton liga Indonesia, mungkin memahami apa yang saya maksud.

Selain Sanchez dan Bellerin, pemain yang terus bergerak tanpa bola adalah Aaron Ramsey. Di layar televisi pergerakan Ramsey ini tidak akan terpantau. Ramsey punya stamina yang luar biasa, bergerak tanpa henti, memberikan ruang untuk rekannya dengan memancing pemain lawan dan melakukan penetrasi ke kotak penalti sambil meminta bola. Banyak pemain tampil cemerlang hari itu namun tetap bintang yang paling bersinar adalah Mesut Ozil, pusat permainan Arsenal.

Mustafi mengenai atmosfer hari itu:

The atmosphere at the stadium was really on fire, so from the beginning it was really loud. Coming back from injury and playing in the derby, you’re a bit nervous, but obviously scoring takes all the pressure off your shoulders. It felt really good.

I remember that I made a quick turn to have a look at the linesman. I was not thinking about the celebration, I was just enjoying the moment and let myself go. Scoring in the north London derby, I know that it means a lot to a lot of people. Obviously that gives you that feeling that you give them something back. After the game I was more happy for the people than for my goal.

Ngobrol dengan pendukung Arsenal di sebelah saya, mengertilah saya bahwa atmosfer derby hari itu memang luar biasa, di atas normal pertandingan home Arsenal. Melawan prediksi pundit bola yang rata-rata meramalkan kemenangan Spurs, supporter Arsenal bersatu padu menyemangati para pemain dari detik pertama hingga terakhir. Inilah esensi dari mendukung sebuah tim sepakbola. Berbeda dengan teriakan di depan layar kaca yang tak akan pernah terdengar oleh pemain, di stadion pengaruh pendukung itu sangat nyata. Supporter menjadi pemain, dan pemain berbalik menjadi supporter. Pada akhirnya seperti kata Mustafi, para pemain Arsenal ini lebih merasa berbahagia untuk supporter Arsenal daripada untuk dirinya sendiri, karena telah memberikan kebahagiaan kepada mereka, kebahagiaan yang berasal dari pengalaman.

Berbeda dengan teriakan di depan layar kaca yang tak akan pernah terdengar oleh pemain, di stadion pengaruh pendukung itu sangat nyata. Supporter menjadi pemain, dan pemain berbalik menjadi supporter.

Pertandingan selesai dan senyum serta tawa menghiasi wajah pendukung Arsenal yang bergerak keluar dari stadion. Saat itu saya merasa iri dengan Londoners, dengan mereka yang bisa menyaksikan pertandingan langsung seperti ini setiap minggu. Terkadang mereka mungkin tidak merasakan privilege yang mereka punya, terlahir dan hidup di dekat klub tercinta ini. Sebagian dari mereka mengecap kita, fans Arsenal dari belahan dunia lain, sebagai plastic fans, atau tourist fans. Mereka tidak sadar betapa inginnya kita bertukar tempat dengan mereka, dalam kemenangan maupun kekalahan. Hanya segelintir dari kita yang bisa merasakan pengalaman seperti ini sekali seumur hidup. Sebagian besar dari jutaan fans Arsenal di seluruh dunia bahkan tidak akan pernah mencicipi pengalaman ini, sayangnya.

Gerimis menyambut Gooners yang beranjak pulang. Karena gerimis, gerombolan pendukung yang masih ingin merayakan kemenangan pun bubar. Saya berjalan dengan sangat pelan, enggan mengakhiri pengalaman ini, enggan meninggalkan stadion klub tercinta. Setelah mengambil beberapa foto selfie bersama Berhala God Bergkamp, kembali saya bertemu seorang fans Arsenal dari Barcelona. Barter jasa fotografi, ia pun mengabadikan foto-foto saya dengan patung Bergkamp dan Henry, duet paling maut dalam sejarah Arsenal. Suatu hari nanti, mungkin anak saya akan melakukan hal yang sama, dengan patung Ozil dan Aubameyang…

Catatan Pinggir (buat mereka yang menanyakan soal biaya):

Estimasi biaya perjalanan ini (tidak termasuk shopping, makan, dll):

  • Tiket penerbangan Jakarta – Amsterdam pp = Rp 12.500.000 (ditanggung perusahaan)
  • Tiket penerbangan Amsterdam – London pp = Rp 1.200.000
  • Penginapan Airbnb, 4 malam x €60 = Rp 3.800.000
  • Tiket nonton Arsenal = Rp 2.900.000 (via calo online)
  • MRT dari airport dan ke stadion pp = Rp 600.000

Total estimasi biaya = Rp 21.000.000 = harga sepeda motor Honda Vario 150 = harga iPhone X 256GB.

Bila fans Arsenal ditanya, mana yang lebih membahagiakan: nonton langsung match day di Emirates Stadium atau beli iPhone X 256GB?

Tentu kita semua tahu jawabannya…

 

Tukar Tambah Sukses Arsenal

Setelah menulis 2 artikel mengenai aktivitas transfer Arsenal musim panas kemarin, rasanya tidak elok jika saya tidak menyimpulkannya dengan artikel yang juga membahas transfer musim dingin ini. Kedatangan Aubameyang dan Mkhitaryan di luar prediksi kedua artikel tersebut, dan tentunya juga mengejutkan semua fans Arsenal. Hype fanbase Arsenal menyambut dibelinya Aubameyang sangat luar biasa dan akun Twitter Arsenal pun mengimbanginya dengan video yang tak kalah luar biasanya.

Diawali dengan kalimat “Yo Pi’erre, you wanna come out here?” (dari lagu Magnolia – Playboi Carti, yang terinspirasi dari adegan dengan kalimat yang sama di Jamie Foxx Show), dilanjutkan dengan musik tekno yang upbeat dan gemerlap lampu LED, video ini sesuai dengan karakter Aubameyang yang antusiastik, fun, dan penuh swagger. Selebrasi golnya dengan Mkhitaryan yang khas (skipping) tidak abai dimasukkan. Video ini membayar hype fans Arsenal yang sudah lama menunggu resminya transfer fenomenal ini. Bila Manchester United mencoba memperlihatkan sisi melankolis pemain barunya dengan video permainan piano Sanchez (yang terus terang tidak meyakinkan), Arsenal memilih dengan menampilkan video Aubameyang yang super fun, super hype, estatik, yang membuat debar jantung fans Arsenal jauh lebih cepat, otak merilis dopamine dalam jumlah banyak, sekaligus menetapkan harapan yang sangat tinggi terhadap pemain baru pemakai kostum legendaris No.14 ini.

Jujur, saya tidak mengira Arsenal akan mendapatkan Aubameyang musim ini. Setelah kecewa dengan aktivitas transfer Arsenal di musim panas, saya pikir lebih baik tidak berharap banyak agar tidak terlalu kecewa. Artikel saya sebelumnya memprediksi Arsenal akan menambahkan 1 atau 2 pemain di luar Lacazette dan Kolasinac. Mbappe dan Lemar dibicarakan. Kenyataannya nol. Keputusan mempertahankan Sanchez pun menjadi senjata makan tuan. Sanchez yang kecewa karena batal dijual di hari terakhir transfer window musim panas, ditambah dengan tidak lolosnya timnas Chili ke Piala Dunia, bermain tidak sebaik musim lalu dan mengacaukan suasana harmonis tim. Permainannya yang sangat individualis musim ini juga menyebabkan Arsenal bermain lebih buruk dari musim lalu. Alih-alih berkompetisi untuk juara liga, Arsenal terpuruk di posisi keenam musim ini.

Dengan kondisi demikian, siapa sangka Arsenal dapat membuat periode transfer Januari ini menjadi periode transfer terbaik Arsenal semenjak era Invincible? Artikel saya sebelumnya menyebutkan problem utama Arsenal adalah skuad yang gemuk, melebihi kuota 25 pemain yang dapat didaftarkan. Hal ini membatasi pergerakan transfer masuk. Pendek kata Arsenal mesti menjual pemain yang tidak dibutuhkan untuk dapat membeli yang baru. Tidak ada masalah dengan budget transfer. Namun saya tidak membahas aturan Premier League Short Term Cost Control (STCC) dalam artikel tersebut. Ternyata aturan STCC tersebut juga sangat berpengaruh terhadap kebijakan transfer Arsenal. Klub tidak boleh menaikkan pengeluaran untuk gaji pemain > 7% pengeluaran gaji tahun sebelumnya. Tujuannya agar pendapatan dari hak siar TV Premier League tidak digunakan untuk menaikkan gaji pemain seenaknya. Namun, klub boleh menaikkan pengeluaran gaji > 7% jika ekses di atas 7% tersebut dapat dijustifikasi dengan kenaikan pendapatan dari sisi komersial / sponsorship, tiket, profit jual pemain, dan bonus dari UEFA. Lihat flow chart di bawah ini.

pl20stcc202016-opt882x767o02c0s882x767

Nah Arsenal tidak menaikkan tiket musiman stadion, gagal menaikkan pendapatan komersial secara signifikan (hanya naik 10 juta pounds musim ini), dan juga tidak bermain di UCL musim ini. Arsenal menjadi klub top PL yang paling terkena dampak aturan STCC musim ini. Manchester City dan United bisa bermanuver dengan pendapatan komersial mereka. Yang satu sugar daddy club yang bisa di-inject dana dari Abu Dhabi kapan saja dan yang satu lagi memang super kaya karena pendapatan komersialnya. Liverpool dan Chelsea bermain di UCL musim ini, dapat extra pendapatan. Keempat klub punya fleksibilitas lebih dalam menaikkan budget untuk gaji pemain daripada Arsenal.

Karena skuad Arsenal juga gemuk, ditambah lagi keperluan memenuhi aturan STCC, maka satu-satunya cara Arsenal untuk bisa membeli pemain baru adalah dengan menjual pemainnya. Profit hasil jual pemain ini kemudian bisa digunakan untuk menaikkan pengeluaran gaji > 7% tanpa melanggar STCC.

Salah satu alasan Arsenal tak mampu memenuhi permintaan gaji Sanchez dan Ozil secara bersamaan di awal musim adalah aturan STCC ini. Kabarnya Sanchez minta gaji di atas 500K/week ke Arsenal, dan tentunya Ozil tidak akan menerima kurang dari itu. Arsenal memilih Ozil dan melepas Sanchez. Akhirnya Ozil bisa diperpanjang dengan gaji 350K/week. Timing perpanjangan kontraknya pun sangat tepat. Pertama Lacazette, Aubameyang dan Mkhitaryan diboyong dengan gaji di atas 150K/week, lebih tinggi daripada gaji Ozil saat itu. Setelah itu baru Ozil diberikan kontrak fantastis. Apabila hal ini terjadi sebelumnya, kemungkinan agent-nya Aubameyang dan Mkhitaryan akan lebih ngotot dalam negosiasi gaji pemain mereka. Hal lumrah sebagai manusia untuk melihat pendapatan orang lain sebagai alasan untuk dapat lebih. Kita pun begitu di lingkungan kerja. 🙂

Kenaikan pengeluaran gaji musim ini yang kemungkinan > 7% daripada pengeluaran gaji musim lalu hanya dimungkinkan karena profit dari jualan pemain Arsenal sangat tinggi. Profit = nilai penjualan – sisa nilai pemain setelah amortization nilai transfer. Contohnya begini: Coquelin dan Walcott adalah pemain Arsenal yang telah perpanjang kontrak mereka dari kontrak awal transfer pertama. Nilai transfernya sudah diamortisasi semua (misal transfer 10 juta, kontrak 4 tahun maka nilai amortisasi per tahun 2,5 juta). Maka hasil penjualan mereka otomatis dianggap profit semua. Melirik daftar pemain Arsenal yang dijual musim ini yang notabene adalah pemain lama kecuali Gabriel, bisa diperkirakan profit jual pemain Arsenal musim ini mencapai 100 juta pound. Laporan keuangan Arsenal musim ini akan membuat hijau mata para pemegang saham. Bisa dipahami kan sekarang kalau Stan Kroenke tidak akan melepas sahamnya yang sudah meningkat hampir 3 kali lipat sejak ia membelinya. Musim panen belum tiba tapi padi sudah terlihat menguning…

Tukar Tambah Sukses Arsenal

Tanpa bermaksud menghina, menukar Giroud ke Aubameyang itu bak upgrade dari mobil sedan ke mobil sport.

Setelah dua jendela transfer musim ini, Arsenal berhasil melakukan yang mereka inginkan, akhirnya. Tidak hanya membuang pemain yang sedang merajuk, Arsenal juga berhasil merampingkan skuad dengan membuang beberapa pemain cadangan (otomatis mengurangi pengeluaran gaji pemain klub) dan mendapatkan dua pemain top tipikal Arsenal, yang sudah menjadi idaman Wenger sejak lama. Aubameyang dan Mkhitaryan didapatkan lewat transaksi tukar tambah ribet yang melibatkan Sanchez dan Giroud. Kombo maut ini kemudian dilengkapi dengan perpanjangan kontrak Mesut Ozil dengan menaikkan gajinya lebih dari dua kali lipat. Semua itu dicapai dengan nett transfer spending minus (penjualan lebih besar daripada pembelian), dan tanpa melanggar STCC. Deal tukar tambah yang sempurna. Tanpa bermaksud menghina, menukar Giroud ke Aubameyang itu bak upgrade dari mobil sedan ke mobil sport.

Mari kita lihat komposisi skuad Arsenal setelah transfer Lacazette dan Kolasinac, sebelum dimulainya musim 2017/2018:

GK (4): Cech, Ospina, Martinez, Szczesny

DF (12): Mertesacker, Koscielny, Mustafi, Gabriel, Holding, Chambers, Monreal, Bellerin, Gibbs, Debuchy, Jenkinson, Kolasinac

MF (8+1): Ramsey, Wilshere, Ozil, Chamberlain, Cazorla, Xhaka, Coquelin, Elneny, Jeff (U21)

FW (8+1): Sanchez, Perez, Giroud, Walcott, Iwobi (U21), Welbeck, Campbell, AkpomLacazette

Skuad di atas awalnya berjumlah 32 pemain + 2 U21. Dengan bergabungnya Mkhitaryan, Aubameyang, Mavropanos (U21) dan dijual/dipinjamkannya pemain-pemain yang dicoret di atas, komposisi tim utama Arsenal mengutip Arsenal.com menjadi sebagai berikut:

GK (2): Cech, Ospina

DF (8+1): Mertesacker, Koscielny, Mustafi, Holding, Chambers, Monreal, Bellerin, Kolasinac, Mavropanos (U21)

MF (7+1): Ramsey, Wilshere, Ozil, Cazorla, Xhaka, Elneny, Ainsley Maitland-Niles (U21), Mkhitaryan

FW (3+1): Iwobi (U21), Welbeck, Lacazette, Aubameyang

Skuad menjadi jauh lebih ramping dengan 20 pemain + 3 pemain U21. Tidak tanggung-tanggung, 12 pemain senior “dibuang” Arsenal musim ini. Pemain Home Grown Arsenal memang berkurang, tinggal 6 pemain (Holding, Chambers, Bellerin, Ramsey, Wilshere, Welbeck) tanpa mengikutkan pemain U21. Namun jumlah pemain “asing” Arsenal juga berkurang menjadi tinggal 14 orang, menyisakan 3 slot untuk rekrutmen pemain “asing” senior musim depan. Clearance sale yang berhasil!

Berkurangnya jumlah pemain Home Grown juga menjelaskan mengapa Arsenal begitu ngotot mengejar Jonny Evans. Selain sebagai bek senior berpengalaman, ia juga pemain Home Grown. Dengan bergabungnya Evans, Arsenal bisa memburu lebih banyak pemain “asing” tambahan musim depan tanpa harus terganggu dengan aturan kuota Home Grown (syarat aturan Home Grown adalah max 17 pemain asing dari slot 25 pemain). Musim depan kesiapan Arsenal untuk belanja pemain akan jauh lebih baik daripada musim ini. Kok bisa? Ini alasannya:

  1. Dana untuk transfer akan tersedia banyak karena nett transfer surplus musim ini. Operasi tukar tambah yang sukses menyisakan banyak amunisi untuk musim depan.
  2. Kuota pemain tidak akan menjadi masalah. Pensiunnya Mertesacker dan dilepasnya Cazorla akhir musim ini akan menyisakan slot 5 pemain baru dari luar Liga Inggris.
  3. Aturan STCC juga tidak akan menjadi kendala Arsenal musim depan. Bila musim ini aturan itu bisa diatasi Arsenal dengan profit penjualan pemain, maka musim depan STCC tidak akan menjadi masalah karena faktor berikutnya ini.
  4. Kenaikan pendapatan komersial Arsenal musim 2018/2019. Kemungkinan besar musim depan sponsorship kostum Arsenal akan pindah dari Puma ke Adidas. Arsenal akan buyback sponsorship Puma sebesar 30 juta pound/musim yang tinggal setahun musim depan dan menggantikannya dengan sponsorship dari Adidas. Rumor mengatakan Adidas siap membayar 90 juta pound/musim, naik 3 kali lipat dari jumlah yang dibayar Puma sekarang. Sebagai info, Chelsea, City dan United memiliki nilai deal sponsorship kostum yang jauh lebih besar daripada Arsenal saat ini.

So musim depan beli Jan Oblak, Max Meyer, Malcom dan Kostas Manolas? Silakan bermimpi… Mungkin kali ini mimpi Gooners lebih dekat dengan kenyataan berkat bergabungnya transfer guru Raul Sanllehi dan Sven Mislintat. Keempat faktor di atas dan suksesnya pembelian Aubameyang + Mkhitaryan setidaknya meniupkan angin optimisme baru dalam hal rekrutmen pemain.

Mungkin kali ini mimpi Gooners lebih dekat dengan kenyataan berkat bergabungnya transfer guru Raul Sanllehi dan Sven Mislintat.

Auba dan Micki

Mari kembali ke masa kini. Kemenangan gemilang 5-1 atas Everton akhir pekan lalu menunjukkan langsung nyetelnya kedua pemain terbaru Arsenal. Mkhitaryan seperti kembali pada formnya saat bermain di Dortmund, setelah kebebasannya dibatasi Special One, sang supir bus yang jago parkir. Dua dari tiga assist-nya diberikan untuk Aaron Ramsey, pemain yang baru bermain bersamanya sekitar 30 menit pekan lalu. Kecerdikannya mengisi kantung di antara lini tengah dan belakang lawan sangat berbahaya bagi lawan. Ozil menemukan pemain yang dapat mengimbanginya dalam playmaking. Selain itu umpan silangnya juga sangat akurat, 2 kali dilepaskan dari sisi kanan dan 2 kali pula menemukan Ramsey. Ia juga memiliki skill dribble yang mumpuni, namun seperti Ozil ia adalah tim player yang mengutamakan kecepatan passing dan operan satu sentuhan daripada berlama-lama menggocek bola ala Sanchez.

Micki juga bertukar posisi dengan Iwobi dan Ozil dengan luwesnya. Di awal ia bermain di kiri, Iwobi di kanan. Setelah gol kedua Arsenal, Micki pindah ke kanan dan Iwobi ke kiri. Namun keduanya sering bertukar posisi dengan Ozil di tengah dan fleksibilitas ketiganya membingungkan taktik man-marking Everton.

Bila Micki dengan umpan akurat dan kostum nomor 7-nya mengingatkan kita pada Rosicky dan Pires, nomor 14 Arsenal yang baru memberikan kesan Thierry Henry yang bermain kembali. Kecepatannya dalam counter attack, lepas dari jebakan offside lawan dan kemudian mencetak gol dengan tenangnya sudah lama tak kita jumpai dalam striker-striker Arsenal pasca era Henry. Bahkan si Judas yang punya tembakan akurat tidaklah secepat Aubameyang. Auba juga memperlihatkan kemampuannya dalam link-up play dengan operan vitalnya ke Micki untuk gol pertama Arsenal. Mungkin ia tidak memiliki skill dribble ala Henry, namun saya rasa ia memiliki kelebihan lain sebagai goal poacher, fox in the box yang bisa mengendus bola akan berakhir di mana di kotak penalti lawan. Saat Koscielny menyundul masuk gol kedua, Aubameyang sudah siap menyambar di belakangnya. Di Dortmund, ia terkenal dengan spesialisasinya menyambar bola umpan silang di tiang gawang jauh, posisi yang sangat berbahaya untuk kiper dan bek lawan karena merupakan blind spot mereka. Bermain di depan dua pemain top kreatif yang sangat senang mengumpan bola akan membuatnya makin berbahaya. Bahkan Aaron Ramsey dapat memanfaatkan kelengahan lawan yang tersita perhatiannya oleh pergerakan Aubameyang di kotak penalti.

…nomor 14 Arsenal yang baru memberikan kesan Thierry Henry yang bermain kembali.

Loyal Servant

Kita tentu sedih dengan berpisahnya pemain-pemain setia Arsenal seperti Giroud, Walcott dan Coquelin (mungkin untuk yang satu ini banyak fans yang tidak sepakat), namun akal sehat harus mengalahkan perasaan dalam hal ini. Ketiga pemain tersebut sayangnya tidak dipercaya lagi oleh Wenger musim ini. Mereka hanya bermain sebagai tim B musim ini, di Europa League dan Carabao Cup. Bahkan Wenger lebih percaya kepada Welbeck, Iwobi dan Elneny untuk start di Premier League daripada ketiga pemain ini. Daripada membayar gajinya per-minggu (tidak murah, kurang lebih 100K/week per orang) tanpa jam bermain yang cukup dan semakin hari nilai jualnya semakin mengecil, menggantikan mereka dengan seorang Aubameyang sambil menyisakan slot pemain untuk masa depan adalah langkah yang rasional.

Bagaimana dengan Lacazette? Banyak fans Arsenal yang mempertanyakan di mana Lacazette akan bermain dengan bergabungnya Aubameyang? Hal seperti itu tak perlu kita khawatirkan mestinya. Paling tidak sekarang Arsenal punya opsi dua top striker. Saat melawan Swansea, Lacazette bermain amat buruk, terburuk dalam musim ini. Bila Aubameyang sudah bergabung saat itu, maka ia bisa digantikan dan mungkin gaya bermain Arsenal bisa berubah menjadi lebih efektif. Jangan lupa pula kalau Aubameyang tidak bisa bermain di Europa League.

Tidak pula menutup kemungkinan mereka bisa bermain bersama bila Arsenal mengubah formasi atau saat mengejar ketinggalan kedudukan. Mungkin hal ini tidak akan sering terjadi (mudah-mudahan kita tidak sering tertinggal). Namun, seperti kata Wenger, kompetisi hanya akan membuat pemain lebih baik lagi. Kita tak perlu peduli dengan perasaan Lacazette, Arsenal bukan sinetron. Semua pemain adalah profesional. Justru persaingan akan memberinya motivasi untuk menjadi lebih baik lagi. Tim secara keseluruhan akan menjadi lebih baik karena adanya tantangan internal. Yang justru perlu kita khawatirkan adalah bila kita tak punya pilihan striker, sebagaimana Arsenal di era Giroud, era nrimo apa adanya.

Menariknya, setelah jendela transfer musim dingin ditutup, kekhawatiran fans akan jatuhnya klub ke titik nadir akibat kehilangan serempak Sanchez dan Ozil tidak terjadi. Arsenal menjadi tim yang lebih ramping namun lebih harmonis. Applause harus diberikan kepada kerja keras tim manajemen Arsenal dalam hal ini Gazidis dan tim barunya (Sven Mislintat, Huss Fahmy). Ironisnya, Wenger yang tidak suka dengan winter transfer window, mungkin akan diselamatkan oleh hal yang sama. Rumor Gazidis mencari pengganti Wenger bukan asap tanpa api. Bila Arsenal tidak berakhir dengan trofi apapun musim ini, dan tidak lolos UCL, kemungkinan besar Wenger akan diganti. Keberhasilan Gazidis merekrut Mislintat dan Sanllehi bisa menjadi cerminan standar rekrutmen manager Arsenal pasca Wenger. Keduanya adalah orang-orang top yang berhasil di klub lamanya dan diincar banyak klub lain. Dampak Mislintat sudah mulai terlihat dengan direkrutnya Mavropanos yang mengesankan Wenger dan ditariknya dua pemain eks Dortmund yang juga ditemukannya sendiri 5 tahun silam. Sanllehi akan bergerak di musim panas nanti, kabarnya ia mengincar Malcom dan Oblak. Bila kedua orang ini menjadi standar perekrutan manager Arsenal berikutnya, kita sebagai fans boleh lega, lebih optimis dengan masa depan klub tercinta.

Sekarang kembali ke Wenger. Aubameyang dan Mkhitaryan direkrut Gazidis dan timnya untuk Wenger dan juga masa depan Arsenal. Ia telah diberikan pemain idamannya, dan kesempatan untuk membuktikan apakah ia masih pantas memimpin tim ini atau tidak. Final Carabao Cup di depan mata, posisi keempat semakin dekat dengan selisih 6 angka, dan Europa League memberikan jalur Plan B untuk masuk Liga Champions musim depan. Dengan skuad yang lebih ramping, prospek sponsorship kostum yang lebih atraktif (Adidas akan tawarkan kontrak yang lebih menarik jika Arsenal lolos UCL), Arsenal siap menyongsong masa depan yang lebih baik. Namun semuanya ditentukan terlebih dahulu oleh mampu/tidaknya Wenger membawa tim ini masuk ke Liga Champions kembali, lewat jalur top four trophy ataupun Europa League trophy.

Bila Wenger tidak mampu, sebagaimana loyal servant lainnya yang dilepas Arsenal musim ini, tampaknya Arsenal juga tidak akan ragu menyongsong masa depan tanpa manager terbaik sepanjang sejarahnya ini.

Bila Wenger mampu, untuk kesekian kalinya, kembali menjadi Houdini yang lepas dari cengkeraman maut di detik-detik terakhir, maka sudah seyogyanya kita memberinya kembali kesempatan. Kesempatan untuk memenangi trofi yang sudah lama menjauhinya, dengan pemain-pemain terbaik yang mampu diberikan klub kepadanya.

Membaca Aktivitas Transfer Arsenal – Part 2

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya mengenai aktivitas transfer Arsenal, saya ingin membahas update penjualan Szczesny dan aturan home-grown serta U21 Premier League yang abai saya perhitungkan dalam tulisan tersebut. Berdasarkan masukan dari pembaca yang mana strategi transfer klub di EPL juga memperhitungkan kuota home-grown (sangat masuk akal), maka mari kita memasukkan kedua aturan tersebut agar perkiraan skuad Arsenal untuk musim 2017/2018 lebih akurat.

Aturannya adalah sebagai berikut (saya persingkat):

  1. Setiap tim Premier League wajib mendaftarkan maksimum 25 pemain.
  2. Dari 25 pemain tersebut, minimum 8 home-grown yang artinya maksimum 17 non home-grown.
  3. Home-grown adalah pemain yang sudah didaftarkan di FA atau Welsh FA selama minimal 36 bulan atau 3 musim sebelum ia berusia 21 tahun. Arsenal punya 15 pemain HG sebelum menjual Szczesny. Saat ini kita punya 14 HG, artinya lebih dari cukup. Pemain HG Arsenal antara lain: Martinez, Jenkinson, Bellerin, Holding, Gibbs, Chambers, Coquelin, Ramsey, Wilshere, Chamberlain, Iwobi, Walcott, Welbeck, Akpom.
  4. Di luar daftar 25 pemain tersebut, klub boleh menggunakan pemain U21 tak terbatas. Pemain U21 adalah pemain yang usianya di bawah 21 tahun di tahun musim tersebut dimulai, dalam hal ini pemain yang usianya masih di bawah 21 tahun di tanggal 1 January 2017. Iwobi dan Jeff masuk dalam kategori pemain U21 Arsenal. Akpom dan Holding tidak masuk dalam daftar ini karena mereka kelahiran tahun 1995.
  5. Daftar 25 pemain tersebut hanya boleh diganti saat transfer window (summer ini dan winter nanti).
  6. Pemain yang tidak terdaftar dalam 25 pemain tersebut masih boleh bermain di FA Cup, League Cup, Champions League maupun Europa League.

Dengan konfirmasi dijualnya Szczesny ke Juventus, maka daftar pemain 1st team Arsenal saat ini menjadi 33 pemain termasuk 2 pemain U21 (Iwobi dan Jeff). Untuk memangkas dari 31 ke 25, Arsenal masih perlu menjual 6 pemain. Bila Arsenal tidak memasukkan Cazorla dalam daftar 25 pemain tersebut karena cedera panjangnya, maka Arsenal perlu menjual 5 pemain. Ini belum memperhitungkan pembelian baru Arsenal sebelum bursa transfer ditutup. Berikut adalah daftar pemain yang akan dijual (transfer list) Arsenal:

Debuchy, Gibbs, Jenkinson, Perez, Campbell, Akpom

Cedera Campbell yang baru saja terjadi jelas mempersulit strategi transfer Arsenal, kandidat pemain yang dijual turun jadi 5 pemain. Untuk menambah 1 atau 2 pemain baru, kita perlu menjual 6 atau 7 pemain, yang artinya tambah 1 atau 2 dari daftar di atas. Di sisi lain dari enam nama tersebut, 3 masuk kategori HG (Jenkinson, Gibbs, Akpom) yang artinya Arsenal akan mengurangi jumlah HG dari 14 ke 11. Dan karena Iwobi kita keluarkan dari list 25 pemain, jumlah HG kita akan menjadi 10 (sangat dekat dengan kuota 8 pemain). Maka bisa dimengerti Arsenal tidak mau kehilangan lagi pemain HG seperti Walcott, Chamberlain, Chambers dan Wilshere. Pendek kata, lebih baik menjual pemain non HG (isu diterimanya bid dari Leicester ke Elneny) daripada pemain HG (isu transfer Chambers ke Crystal Palace?) dengan komposisi skuad Arsenal saat ini. Problemnya, saat ini pemain HG lebih laku (dan mahal – re: Kyle Walker?) daripada pemain non HG karena masalah kuota HG yang dihadapi klub-klub EPL lainnya.

Daftar pemain Home Grown Arsenal jika target penjualan di atas tercapai: Martinez, Bellerin, Holding, Chambers, Coquelin, Ramsey, Wilshere, Chamberlain, Walcott, Welbeck.

Kembali ke tema tulisan saya sebelumnya, Arsenal perlu menjual pemain sebelum membeli lagi. Debuchy ditawarkan gratis ke Nice, gagal. Gibbs ditawar WBA 10 juta pounds tapi masih ditolak Arsenal (mungkin targetnya 15-20 juta) karena terdongkraknya harga pasaran belakangan ini. Jenkinson belum ada yang lirik dan Perez kabarnya akan kembali ke Deportivo dengan harga 10 juta pounds. Akpom mungkin akan dijual ke klub yang baru promosi mungkin sekitar 5 juta pounds? Bila Arsenal sukses mengeksekusi rencana jualan ini, maka ditambah dengan penjualan Szczesny, Arsenal bisa mendapatkan 35 – 40 juta pounds. Ditambahkan ke budget belanja Arsenal musim ini, mendapatkan Lemar + 1 pemain top lagi bukan hal yang tidak mungkin. Masalahnya bukan di dana, tapi di kuota pemain. Tanpa menjual kelima pemain transfer listed tersebut, sangat sulit bagi Arsenal untuk menambah pemain baru.

Ada satu solusi untuk hal ini. Arsenal bisa memilih tidak memasukkan nama Campbell dan Cazorla (serta pemain manapun dari 5 pemain transfer list tersebut yang tidak laku terjual) dalam daftar 25 pemain. Maka kita bisa menambahkan Lemar ke dalam skuad tanpa perlu menjual pemain lagi. Skuad Arsenal akan menjadi seperti ini (3-4-3):

3 GK: Cech, Ospina, Martinez

7 DF: Mertesacker, Koscielny, Mustafi, Gabriel, Holding, Chambers, Monreal

10 MF: Ramsey, Xhaka, Coquelin, Elneny, Chamberlain, Wilshere, Jeff, Kolasinac, Bellerin, Lemar?

7 FW: Sanchez, Ozil, Lacazette, Giroud, Welbeck, Walcott, Iwobi

Komposisi skuad yang seimbang untuk 3 lini depan-tengah-belakang yang juga memenuhi persyaratan HG: 10 pemain HG, 2 pemain U21, dan 15 pemain non HG.

Melihat komposisi pemain Arsenal di atas, dugaan saya Chambers (HG) akan dijual (nambah budget transfer 20 juta pounds), Wilshere dan Chamberlain dipertahankan, Ainsley Maitland-Niles dan Krystian Bielik (keduanya U21) akan dipromosikan, dan Arsenal akan membeli satu lagi pemain tengah (DM/CM) non HG. Siapakah pemain tersebut? Mari kita tunggu kejutan di bursa transfer.

Alexis Sanchez

Wenger mempertegas posisi Arsenal dalam hal transfer Alexis Sanchez: ia tidak akan dijual, bahkan tidak ke PSG sekalipun. Rumor PSG bid 70 juta pounds untuk Sanchez tampaknya hanya rumor belaka. Angka realistisnya lebih mendekati 35 – 40 juta pounds. Wenger dengan nada sinis mengatakan PSG beralih ke Neymar karena mereka tidak bisa mendapatkan Alexis Sanchez. Namun rasanya bila mereka gagal mendapatkan Neymar, mereka akan kembali ke Sanchez, dengan tawaran yang lebih tinggi tentunya. Apakah Arsenal akan tergoda menjual pemain dengan sisa kontrak setahun dan kemungkinan besar tidak berminat memperpanjangnya dengan harga transfer 70-80 juta pounds? Di atas kertas tawaran tersebut sangat menggiurkan. Namun kita perlu bertanya jujur kepada diri sendiri, di mana kita bisa mendapatkan pemain sekaliber Sanchez, yang akan langsung nyetel di PL dan memberikan 30 gol dan 13 assist per musim dengan harga 70-80 juta pounds saat ini? Jawabannya: tidak ada. Dua kandidat yang mendekati statistik tersebut musim lalu: Harry Kane dan Sergio Aguero. Apakah Spurs dan City akan menjual kedua pemain kunci tersebut ke Arsenal? Jelas tidak.

…di mana kita bisa mendapatkan pemain sekaliber Sanchez, yang akan langsung nyetel di PL dan memberikan 30 gol dan 13 assist per musim dengan harga 70-80 juta pounds saat ini?

Wenger berspekulasi dalam hal ini. Ia merasa ia tidak akan mendapatkan pemain sekaliber Sanchez di bursa transfer ini. Kedua pemain di bawah level Sanchez seperti Morata dan Lukaku terjual dengan harga mahal (70 dan 75 juta pounds). Ia berspekulasi dengan mendapatkan Lacazette untuk bermain sebagai CF, Sanchez dan Ozil dapat lebih menikmati sepakbola mereka karena adanya target yang mobile, cepat, dan clinical (ketiga hal yang tidak dimiliki seutuhnya oleh Giroud, Welbeck dan Walcott). Ia berspekulasi mempertahankan Sanchez akan memberikan peluang nyata untuk Arsenal dalam perebutan gelar EPL, meneruskan momentum 10 pertandingan terakhir Arsenal musim lalu dan kemenangan di final FA Cup. Melepas Sanchez akan mengubur peluang tersebut dan memulai semuanya kembali dari nol. Ia merasa Sanchez jujur soal keinginannya bermain di Champions League, dan bukan bermain semata-mata demi uang. Ia merasa Sanchez akan bermain mati-matian di musim terakhirnya demi kontrak barunya di klub manapun musim depan, dan demi Piala Dunia di akhir musim ini. Pendek kata, ia merasa Sanchez bukan Van Persie. Mudah-mudahan pertaruhannya kali ini benar.

Arsenal-v-Chelsea-Emirates-FA-Cup-Final-Wembley-Stadium
Wenger embraces Sanchez warmly, picture speaks a thousand words!

Saya sendiri sepakat dengan keputusan tersebut. Walaupun Arsenal kemudian melepas Sanchez dengan free transfer akhir musim ini, pengorbanan tersebut pantas jika Arsenal menjadi juara Premier League. Akan jauh lebih mudah bagi Arsenal menarik pemain top seperti Mbappe atau Griezmann musim depan dengan status sebagai juara Liga Inggris. Lacazette akan punya waktu satu tahun untuk adaptasi untuk mencapai permainan terbaiknya. Pemain seperti Iwobi dan Chamberlain juga akan punya waktu tambahan yang sama. Ozil dan Sanchez akan tetap menjadi dua pemain kunci Arsenal, dan pemain lainnya akan mengikuti standar tinggi mereka. Lemar, jika jadi bergabung, tidak akan mendapatkan beban sebesar bila Sanchez hengkang. Alih-alih mencari pengganti 30 gol dan 13 assist, pemain-pemain baru tersebut bertugas untuk menambah pundi-pundi gol Arsenal, menaikkannya dari sekitar 77 gol musim lalu menjadi 85-90 musim ini (benchmark juara liga).

Akan jauh lebih mudah bagi Arsenal menarik pemain top seperti Mbappe atau Griezmann musim depan dengan status sebagai juara liga Inggris.

Dalam hal ini Wenger juga sedikit egois karena ia tak punya lagi banyak waktu (2 tahun masa percobaan). Ia yang selama ini selalu memikirkan masa depan klub, sekarang harus memikirkan masa depannya sendiri. Ia harus menghadirkan prestasi sekarang, berapapun biayanya. Kehilangan 70-80 juta pounds yang ditukar dengan peluang nyata menjadi juara liga, sangat pantas bagi Le Boss. Dan kita, fans Arsenal yang selalu mempertanyakan mengapa Arsenal menjual pemain terbaiknya, tidak pantas mempertanyakan keputusan mempertahankan Sanchez ini. Mengutip alter-ego Bergkamp:

Do you really like Arsenal with money, or do you like Arsenal with trophies?

🙂