Preview Arsenal 2020-21 Season

LONDON, ENGLAND – AUGUST 29: Arsenal celebrate with the Community Shield Trophy following his team’s victory in during the FA Community Shield final between Arsenal and Liverpool at Wembley Stadium on August 29, 2020 in London, England. (Photo by Justin Tallis/ pool via Getty Images)

Arsenal mengawali musim 2020-21 ini dengan optimisme penuh setelah memenangi Community Shield 2020 dengan mengalahkan sang juara Premier League, Liverpool dengan meyakinkan, walaupun hasil akhir kemenangan didapatkan lewat adu penalti. Sepanjang pertandingan, setelah memimpin dahulu dengan gol Aubameyang, Arsenal tidak pernah terlihat sebagai tim yang inferior melawan tim juara. Saat bertahan, Arsenal terorganisir dengan baik dan setiap menyerang balik, barisan pertahanan Liverpool kelabakan. Serangan balik mungkin tetap akan menjadi senjata utama Arsenal musim ini, yang akan kita bahas sebagai bagian dari preview musim baru ini.

Meroketnya Bintang Arteta

Kejatuhan Raul Sanllehi akibat skandal transfer (walaupun tidak diungkap jelas oleh klub) diimbangi dengan naiknya bintang Vinai Venkatesham dan Mikel Arteta. Vinai sekarang resmi menjadi CEO Arsenal, dan Arteta dipromosikan menjadi 1st team Manager, tak lagi sekedar Head Coach. Hanya dalam 2 tahun lebih semenjak Wenger lengser, Arsenal balik badan untuk kembali memakai struktur yang mirip dengan eranya, daripada warisan Gazidis. Mantan CEO Arsenal ini mencoba mengadopsi struktur klub sepakbola yang lebih modern dengan mengurangi peran manager (Wenger) dengan menghadirkan posisi Technical Director dan Head of Football Relations. Intinya adalah fungsi rekrutmen, transfer dan kontrak pemain tidak lagi melibatkan manager yang hanya difungsikan untuk melatih tim. Manager boleh meminta dicarikan pemain di posisi tertentu namun keputusan final untuk membeli, menjual pemain tak lagi ada di tangan manager. Hal itu dilakukan karena dirasakan Wenger menjadi penghambat transformasi Arsenal menjadi klub sepakbola modern.

Era Raul membawa Arsenal ke kutub ekstrem yang berlawanan. Bila Wenger enggan berurusan dengan super agent, Raul sebaliknya. Pembelian pemain-pemain lewat super agent Kia Joorabchian (David Luiz, Cedric Soares, Willian) dan juga Arturo Canales (Pablo Mari) dipertanyakan prosesnya. Kemudian rumor pemain yang akan dibeli pun tak jauh dari pemainnya Kia (Coutinho, Felipe Anderson, Kurzawa). Kontrak David Luiz diperpanjang, loan Mari dan Soares dipermanenkan, Willian dikontrak selama 3 tahun. Aksi-aksi yang mengundang pertanyaan apakah ini adalah keputusan yang bijak, ditambah dengan harga transfer Pepe yang di atas harga pasar (Raul adalah teman dekat GM Lille, Marc Ingla) akhirnya membuat KSE mengirim pengacara kepercayaan mereka Tim Lewis untuk melakukan review internal. Singkat kata hasilnya adalah Raul terdepak dari puncak kekuasaan eksekutif Arsenal.

Raul jugalah yang membalikkan arah pencarian suksesor Wenger dari Arteta ke Emery, yang diperkenalkan oleh Arturo Canales (yang kemudian menjadi agent-nya Emery sebelum ia dikontrak Arsenal). Satu setengah tahun kemudian, dengan enggannya Raul terpaksa menerima kalau Emery mesti didepak dan Arteta dilobi untuk mengisi posisi head coach. Yang menarik adalah utusan Arsenal untuk lobi Arteta di tengah malam tersebut tidak lain adalah Vinai Venkatesham, sang Managing Director yang berbagi tugas dengan Raul di tingkat eksekutif.

Arteta berhasil menstabilkan kapal yang sedang karam, dan membawa Arsenal ke pantai seberang terbaik yang bisa dicapai saat itu. Juara FA Cup berarti Arsenal bisa berkompetisi di Europa League dan mendapatkan suntikan dana 25-40 juta euro dari broadcast televisi, prize money dan ticket (tergantung Covid) yang amat penting untuk pembangunan skuad musim ini, terutama di tengah keterbatasan mendatangkan fans ke stadion akibat COVID-19. Di luar sisi finansial, prestasi Arteta ini membangkitkan suasana positif yang luar biasa di semua staff Arsenal dan pemain. Memberikan kepercayaan diri bahwa tim ini punya masa depan, terlebih dengan mengalahkan tim-tim besar di akhir musim (City, Chelsea, Liverpool). Ia pun diberikan pengakuan dan promosi menjadi Manager Arsenal, bukan lagi head coach. Arteta menjadi pewaris sejati manager Arsenal yang sebelumnya, Arsene Wenger.

Dengan peran sebagai manager, Arteta akan memiliki suara dalam hal perekrutan pemain, perpanjangan kontrak dan penjualan pemain. Ia akan bekerja sama dengan Edu yang secara teknis akan lebih sibuk dengan detail kontrak dan transfer dan pencarian bakat. Arteta bisa membangun tim yang diinginkannya, tentunya tergantung dengan kemampuan finansial Arsenal. Pendek kata, pengangkatan dirinya menjadi Manager Arsenal ini sebagai bukti dukungan penuh CEO dan board Arsenal, terutama keluarga Kroenke.

Transfer Pemain

Arsenal bergerak cukup cepat di jendela transfer ini. Tentunya tidak ada yang bisa mengimbangi Chelsea. Willian direkrut dengan free transfer, Gabriel bergabung tepat waktu sehingga sempat berlatih 2 minggu, dan Ceballos juga didatangkan kembali dengan status pinjam, juga tepat waktu. Di sisi penjualan pemain, Arsenal sedikit terseret, karena lesunya peminat dan bedanya nilai valuasi antara pembeli dan penjual. Hanya Mkhitaryan yang sudah dilepas secara free sampai sejauh ini. Daftar pemain yang digosipkan akan dilepas sebelum jendela transfer berakhir:

  1. Torreira (£20-25 juta)
  2. Sokratis (£5 juta / free)
  3. Kolasinac (£10 juta / loan)
  4. Elneny (£5 juta / loan)
  5. Chambers (£10 juta / loan)
  6. Holding (£10 juta / loan) atau Mustafi
  7. Emi Martinez (£20 juta)
  8. Bellerin (£30 juta)
  9. Maitland-Niles (£20 juta) bila Bellerin tak jadi dijual
  10. Guendouzi (ga ada peminatnya)

Menjual pemain dengan baik sangat penting untuk bisa membiayai pembelian baru. Di luar uang yang didapatkan dari hasil penjualan, penghematan gaji juga akan signifikan. Dari daftar penjualan di atas saja, Arsenal bisa menghemat gaji pemain sekitar £25-30 juta per tahun. Angka ini setara dengan budget pembelian seorang Aouar / Partey beserta gajinya (pembelian pemain biayanya masuk dalam amortisation yang dibebankan per tahun sampai kontraknya selesai). Ini belum menghitung nilai hasil penjualan pemain itu sendiri. Singkat kata bila Arsenal bisa meraup £60 juta nett saja (+penghematan gajinya) dari penjualan 7-8 pemain di atas, maka budget untuk pembelian Gabriel, Aouar dan Partey telah terpenuhi dengan sendirinya.

Mengingat Saliba dan Gabriel masih perlu adaptasi dengan Premier League dan kemampuan bahasa Inggris mereka yang masih terbatas, saya memprediksi Holding akan dipertahankan oleh Arteta. Bila Arsenal bisa menjual 6 pemain sebelum Bellerin dan Maitlan-Niles dengan total nilai £60-70 juta (best scenario) maka Bellerin ataupun Maitland-Niles tak perlu dijual. Sekarang kita mengerti mengapa Emi Martinez walaupun sangat bagus, perlu dijual untuk membiayai pembelian Aouar / Partey. Ia saat ini menjadi pemain Arsenal yang paling mudah dijual, gajinya pun tidak tinggi sehingga tidak memberatkan klub pembelinya.

Dari daftar di atas, saya pribadi tidak ingin melihat Bellerin dan Maitland-Niles pergi. Bellerin adalah role model yang sangat baik untuk klub ini dan ia mulai kembali ke penampilan terbaiknya setelah cedera. Maitland-Niles sendiri adalah atlet super yang menurut saya bisa menjadi the next Vieira bila Arteta bisa mengasah kemampuan passing dan visinya. Ia memiliki fisik dan kecepatan yang mumpuni untuk posisi tersebut.

Untuk pemain baru incaran, saya memilih Aouar daripada Partey. Ulasannya ada dalam taktik berikut ini.

Perkembangan Taktik Arteta

Arsenalnya Arteta masih mengandalkan serangan balik untuk memenangkan pertandingan. Tidak salah mengingat kelemahan dan kekuatan tim ini (lemah di lini tengah dan kuat di lini depan yang juga cepat). Namun variasi menuju serangan balik ini yang berbeda dengan Arsenal di bawah Emery. Arteta melatih tim ini sehingga mereka memiliki build-up play dari belakang yang percaya diri dan cukup efisien untuk mengundang high-pressing tim lawan dan kemudian menggunakan sektor sayap untuk melancarkan serangan balik cepat. Manchester City, Chelsea dan Liverpool menjadi makanan empuk taktik Arteta ini. Namun berhadapan dengan Aston Villa yang enggan melakukan pressing dan memilih bertahan dengan low block, Arsenal kehilangan cara. Untuk itu, datanglah peran Willian.

Dalam beberapa musim terakhir, Arsenal kehilangan pemain yang mampu dribble bola dan ball retention tinggi. Pemain seperti Hleb, Rosicky, Wilshere, Nasri, dan Cazorla menjadi kunci sepakbola menyerang Wenger yang sangat nyaman melakukan operan-operan dan take-on di depan kotak penalti lawan, karena kemampuan ball retention dan dribble-nya yang tinggi. Tanpa pemain seperti ini, Arteta terpaksa memilih jalur sayap untuk menyerang, yang tidak efektif bila kita tidak memiliki penyerang di kotak penalti yang jago menyambut bola atas. Willian akan memainkan peran ini. Bak Point Guard NBA, ia akan membawa bola dengan trick-nya, melewati satu dua pemain dan mengoper ke kotak penalti lawan dengan akurat. Dan kita tahu, kita memiliki tiga striker yang sangat tajam dalam soal finishing.

Willian juga bisa menjadi mentor yang baik untuk Saka dan Emile Smith Rowe. Namun kedua pemain ini masih sangat muda sehingga performanya akan naik turun sepanjang musim. Oleh karena itu, membeli Aouar menurut saya menjadi lebih penting daripada Partey musim ini. Terlebih dengan kesulitan tim ini meraih poin melawan tim-tim papan tengah dan bawah, daya kreativitas serangan Arsenal sangat perlu ditingkatkan musim ini. Kita tidak memiliki kesulitan untuk meraih poin melawan tim papan atas, sehingga jelas penampilan melawan tim yang memilih bertahanlah yang harus kita tingkatkan musim ini. Aouar bisa menjadi jawaban tambahan selain Willian.

Soal pertahanan, bila Gabriel dan Saliba beradaptasi dengan baik, mereka bisa menjadi bek yang agresif melakukan pressing dan marking terhadap penyerang lawan yang lolos dari lini tengah. Di luar itu, untuk duet pivot, Xhaka dan Ceballos sudah melakukannya dengan sangat baik di akhir musim lalu. Pelapis mereka adalah Willock dan sayangnya Guendouzi yang menurut saya belum ada peminatnya untuk musim ini. Bila Thomas Partey bisa direkrut musim ini, tentunya transfer window Arsenal menjadi sempurna. Semuanya tergantung suksesnya penjualan Arsenal dalam 3 minggu mendatang.

Prediksi Final Skuad:

Depan (7): Aubameyang, Lacazette, Pepe, Nketiah, Nelson, Saka, Martinelli

Tengah (9): Willian, Ozil (mudah-mudahan bisa integrasi musim ini), Xhaka, Ceballos, Willock, Guendouzi, Emile-Smith Rowe, Aouar, Partey.

Belakang (10): Luiz, Saliba, Gabriel, Mustafi, Holding, Mari; Bellerin, Tierney, Maitland-Niles, Soares

Kiper (2): Leno, Raya

Total 28 pemain dengan komposisi 17 non-HG, sisanya HG dan U-21. Pas ya?

Next Rising Stars

Musim ini, pemain yang akan menjadi rising stars menurut saya adalah Saka dan Nketiah. Kedua pemain ini sangat dekat menjadi nomor satu di posisinya musim lalu. Keduanya punya karakteristik yang berbeda dan akan menjadi aset termahal Arsenal dalam beberapa musim ke depan. Kesamaan keduanya adalah ketenangannya dalam mengeksekusi operan ataupun tembakan ke gawang di final third lapangan. Saka dalam hal ini mungkin lebih baik daripada Nketiah dari segi jumlah assist dan gol-nya. Namun Eddie berkali-kali mendapatkan kepercayaan Arteta untuk memimpin lini depan daripada Lacazette dan saya yakin dengan perkembangan usianya yang makin matang, ia akan menjadi striker utama Arsenal di 2 musim ke depan, bila ia bisa mengembangkan dirinya dengan baik di musim ini.

Musim ini juga menjadi penentu untuk Reiss Nelson dan Emile Smith Rowe yang berusia 20 tahun. Di usia yang sama Jadon Sancho sudah demikian sukses di Bundesliga dan berpotensi menjadi pemain termahal PL musim ini. Kedua pemain ini tentunya ingin membuktikan dirinya di liga musim ini. Kesempatan terbuka lebar untuk mereka mengingat padatnya kompetisi musim ini, yang lebih ringkas sebulan. Arteta akan merotasi pemain lebih sering dan keduanya harus membuktikan diri setiap diberikan kesempatan.

Di lini belakang, potensi Gabriel dan Saliba tidak diragukan lagi. Pertanyaan yang tersisa hanyalah seberapa cepat mereka bisa beradaptasi dengan PL, tanpa mengalami cedera berat.

Target Akhir Musim

Kebanyakan pundit masih tidak menganggap Arsenal sebagai tim top four musim ini. Tentunya mereka tidak mengikuti Arsenal secara dekat dan hanya melihat dari fakta bahwa kita duduk di peringkat kedelapan musim lalu. Namun kita yang mengikuti Arsenal dengan giat tahu persis kalau tim ini sedang terbang tinggi, satu-satunya jalan ke depan hanyalah naik dan mereka belum merealisasikan potensinya secara penuh.

Bila kita berhasil mendatangkan Aouar dan Partey, saya merasa peringkat ketiga dan bahkan kedua musim ini bukanlah impian. Arteta adalah manajer yang luar biasa dan saat ini ia mendapatkan kepercayaan penuh semua pemainnya. Bila mereka bisa memberikan 100% dalam setiap pertandingan, musim ini Arsenal bisa menjadi luar biasa. Semi-final dan Final FA Cup adalah teaser atas apa yang bisa dilakukan Arsenal musim ini. Ditambah dengan pemain baru yang direkrut musim ini yang jelas adalah perbaikan dari pemain yang sudah ada, Arteta memiliki semua bahan yang dibutuhkannya untuk mengangkat tim ini lebih tinggi lagi. Dan ia memiliki kepercayaan diri yang luar biasa tinggi (tanpa menjadi arogan). Saat meyakinkan Willian, ia berujar: “Saya butuh kamu untuk menempatkan kami di Champions League, dan mengakhiri karirmu dengan menjadi juara Champions League.” Dalam hanya 3 tahun dari sekarang, Arteta berambisi untuk membawa klub ini menjadi juara Champions League. Wow. Tidak ada satupun fans Arsenal saat ini yang berani berandai-andai seperti ini.

Untuk menjadi juara liga musim ini, mungkin masih terlalu dini. Namun peringkat dua (diiringi dengan kejatuhan Manchester City) atau tiga jelas bukan hal yang mustahil. Sebagai pembanding, di musim pertama Wenger (1996-97) yang tidak penuh, Arsenal finish di peringkat ketiga (dengan nilai yang sama dengan peringkat kedua, kalah selisih gol). Di musim keduanya yang juga menjadi musim penuh pertamanya, Wenger membawa Arsenal menjuarai Premier League dan FA Cup. Saat itu liga didominasi oleh Manchester United, Newcastle United dan Liverpool. Akan menjadi skrip yang sempurna bila Arteta bisa mengulangi prestasi mentornya ini di musim penuh pertamanya. Semoga.

Untuk sementara ini, mari kita jangan bermimpi dahulu dan kembali kita ikuti perjalanan Arsenal musim ini. Setiap pertandingan pasti akan menjadi sangat menarik karena sentuhan Arteta dan optimisme timnya. Mari kita memulai musim dengan kemenangan pertama melawan Fulham malam ini.

Come On You Gunners. Up The Arsenal!

Habis PHP, Terbitlah PEA

Fans Arsenal pastilah terbiasa mendengar kata PHP. Di sepuluh tahun terakhir era Wenger dan setelah Baku (final Europa League 2019), kita seringkali mendapatkan PHP bahwa inilah saatnya Arsenal kembali jaya. Bermula dengan Project Youth yang lahir pasca The Invincibles, Wenger melakukan regenerasi pemain dan perubahan gaya sepakbola Arsenal dari yang mengandalkan fisik dan kecepatan menjadi lebih teknikal. Pemain-pemain muda di antaranya Fabregas, Rosicky, Hleb, Flamini dan Van Persie tampil cemerlang di musim 2007-2008 dan sempat memberikan harapan kejayaan kembali Arsenal. Sempat memimpin klasemen di bulan Februari, penampilan Arsenal jatuh bebas di bulan Maret 2008 setelah cedera horor patah kaki yang dialami Eduardo.

Di musim 2010-2011 muncullah rising stars dalam sosok Wilshere, Ramsey, Nasri. Bersama Arshavin, Van Persie dan Fabregas, tim ini mengalahkan Barcelona 2-1 di leg pertama Champions League. Sampai akhir tahun 2010, Arsenal masih bercokol di peringkat kedua liga. Sama dengan 3 musim sebelumnya, mental tim muda mungkin lebih rapuh daripada tim yang berpengalaman. Semenjak kalah di final Piala Liga lawan Birmingham City tanggal di akhir February 2011 berkat blunder Koscielny dan Szczesny, posisi Arsenal di liga turun drastis. Hanya 2 kemenangan dalam 11 pertandingan terakhir membuat Arsenal harus puas di peringkat keempat, turun dari peringkat kedua. Wenger tak mampu mengangkat kembali moral tim mudanya saat itu. Kalau saja tim tersebut dapat bangkit dari kekalahan di final Piala Liga dan menang beruntun selama 10 pertandingan terakhir (di musim 97-98 mereka melakukannya), maka gelar juara liga sudah pasti di tangan. Fans kembali kena PHP.

Musim 2013-2014 menandai era PHP baru. Model Finansial Arsenal menjadi lebih kuat semenjak ada tambahan dana komersial dari sponsorship kit dan stadion yang baru. Mesut Ozil dibeli dari Real Madrid dengan rekor transfer 42 juta pounds. Satu musim berikutnya Alexis Sanchez didatangkan dari Barcelona. Kedatangan kedua pemain bintang ini membawa perubahan terhadap mental tim Arsenal. Trofi pertama pun diraih dalam bentuk FA Cup, mengakhiri musim kering selama 9 tahun tanpa trofi (sampai ada lagunya). Musim berikutnya kembali FA Cup diraih, dan setelah absen setahun, FA Cup kembali dimenangkan di tahun 2017. Tiga trofi dalam empat tahun. Namun di liga, Arsenal tak mampu bersaing dengan klub-klub besar lainnya yang lebih bermodal. Berturut-turut poin dan peringkat yang diraih sejak 2013-2014 s/d 2016-2017 adalah sebagai berikut: 79 (4th), 75 (3rd), 71 (2nd), 75 (5th). Arsenal pun harus puas hanya lolos ke Europa League di tahun 2017. Musim 2015-2016 adalah musim di mana Arsenal, jika sedikit lebih konsisten saja bisa menjadi juara liga dikarenakan semua tim besar lainnya saat itu juga sedang merosot penampilannya. Sayangnya, Leicester City-lah yang memanfaatkan peluang itu.

Musim 2017-2018 adalah musim terakhir Wenger. Ketidakpastian masa depannya dan dua pemain bintang (Ozil dan Sanchez) yang sisa kontraknya tinggal setahun bukan pertanda yang baik untuk memulai musim baru. Off the pitch, Ivan the Snake melakukan segala manuver untuk mengurangi kekuasaan Wenger dengan tujuan untuk kemudian mendepaknya. Bukan rahasia umum kalau Wenger menguasai segala hal di klub itu dan Ivan sebagai CEO hanya punya kuasa terbatas. Sven Mislintat bergabung di November 2017, disusul Raul Sanllehi di February 2018. Pergulatan kekuasaan di luar lapangan berdampak ke dalam lapangan. Sanchez dijual di tengah musim, kontrak Ozil diperpanjang. Wenger memutuskan untuk mundur dengan sisa kontrak setahun setelah penampilan timnya makin menurun. Arsenal pun finish di musim tersebut dengan hasil terburuk di era Wenger: 63 point dan peringkat ke-enam. Gazidis, Mislintat dan Sanllehi memilih Emery sebagai pengganti Wenger. Tidak lama kemudian Gazidis meninggalkan Arsenal untuk mengejar fulus yang lebih menggiurkan di AC Milan, sedangkan Mislintat kalah dalam pertarungan kekuasaan melawan Sanllehi dan akhirnya hengkang.

Era Emery, tidak usah dibahaslah ya. Lebih cepat dilupakan lebih baik. Mungkin rekan-rekan Gooners bisa memperhatikan kalau saya tidak menulis satu artikel pun tentang Arsenal di era Emery sedangkan sekarang sudah menulis lima artikel tentang Arsenal-nya Arteta. PHP era Emery sangat luar biasa mengecewakannya. Ditambah dengan sepakbola tanpa identitasnya yang seakan menjadi pengkhianatan terhadap legacy warisan Arsene Wenger. Hasil akhir musim pertamanya adalah dibantainya Arsenal oleh Chelsea 1-4 di Baku, memupus harapan untuk tampil di Champions League setelah dalam beberapa pertandingan terakhir di Premier League Arsenal juga gagal meraih poin yang diperlukan untuk tetap di peringkat ke-empat. Ending yang anti-klimaks.

Lalu apakah era PHP ini sudah berakhir? Kita harap demikian setelah melihat kedahsyatan tim Arsenal di bawah asuhan Arteta yang baru bergabung Desember lalu. Ia bergabung saat kondisi moral tim sedang parah-parahnya dan sepakbola Arsenal sedang kehilangan jati diri. Granit Xhaka sang kapten dicopot bannya dan bersitegang dengan fans. Mesut Ozil dipinggirkan oleh Emery. Average point per game di musim ini yang didapatkan Emery bahkan lebih rendah daripada musim terburuk Wenger (1.38 vs 1.65). Arteta memperbaiki penampilan timnya dengan memulai dari dasar, dari komitmen, semangat juang tim dan gairah bermain sepakbola. Perlahan, hasil di lapangan membaik dan identitas sepakbola yang baru pun terlihat.

Grafik di atas ini menggambarkan performa Arsenal di Premier League musim ini di bawah 3 “head coach” yang berbeda. Average point per game di bawah Emery = 1.38, Ljungberg = 1.00 dan Arteta = 1.65. Sebagai perbandingan Liverpool, sang juara memiliki average ppg = 2.61. Masih banyak PR Arteta untuk Arsenal mencapai level penantang serius gelar juara EPL. Namun Arsenal bisa sedikit banyak terinspirasi oleh Liverpool-nya Klopp. Semenjak bergabung dengan Liverpool di Oktober 2015, berikut hasil setiap musimnya: 60 (8th), 76 (4th), 75 (4th), 97 (2nd) dan 99 (1st). Baru pada musim kelima Liverpool bisa meraih gelar juara namun setiap musim terlihat jelas peningkatan performa timnya dan terutama identitas sepakbolanya. Fans Arsenal mesti bersabar.

Habis PHP, Terbitlah PEA

PEA di sini bisa berarti Pierre-Emerick Aubameyang atau Percaya Era Arteta. Kedua figur ini berperan sangat penting musim ini terutama dalam mendapatkan gelar juara FA Cup yang ke-14. Mari kita bahas sedikit mengenai hasil pertandingan yang luar biasa ini.

Di tulisan saya sebelum pertandingan, saya menuliskan soal prediksi line up yang terbukti tepat. Baik Arsenal maupun Chelsea memainkan formasi 3-4-3 walaupun dengan aplikasi yang berbeda. Video di bawah ini menjelaskannya dengan sederhana dan sangat baik:

Arsenal vs Chelsea Final FA Cup 2020 post analysis

Chelsea mendominasi 10 menit babak pertama. Ketiga penyerangnya bermain sangat rapat dan dengan umpan-umpan pendek memanfaatkan kelincahan dan kemampuan dribble Pulisic dan Mount yang ditunjang dengan flick pass dan hold-up play Giroud. Arteta sudah mengantisipasi itu dengan meminta ketiga CB-nya bermain rapat pula. Chelsea hanya bisa menembus pertahanan lewat kontrol bola yang luar biasa dari Pulisic di kotak penalti lawan. 1-0 untuk Chelsea setelah Giroud one touch flick ke Pulisic hasil crossing Mount yang mengenai kaki Holding. Game plan Lampard berjalan dengan baik.

Para pemain Arsenal tidak panik dan sebaliknya menjalankan game plan yang disusun Arteta dengan sangat baik. Arteta sudah memprediksi kalau James, wing back kanan Chelsea akan bermain lebih maju daripada Alonso di sisi kiri Chelsea. Azpilicueta diminta Lampard bermain agak melebar ke kanan untuk mengantisipasi Aubameyang. Bertolak belakang dengan tiga striker Chelsea, Arteta memposisikan ketiga striker Arsenal berjauhan satu sama lain, karena kekuatan mereka memang di kecepatan, lebih direct daripada bermain dengan umpan-umpan pendek. Lacazette memainkan peran false nine untuk menarik Zouma maju ke depan, sementara Rudiger sibuk menjaga Pepe yang sering memposisikan diri di garis pinggir lapangan. Karena jarak antar CB Chelsea yang semakin jauh, selanjutnya tinggal lomba lari Aubameyang dan Azpilicueta. Arsenal memiliki senjata umpan panjang Luiz dan Tierney yang siap melakukan lob jauh setiap Aubameyang memberikan aba-aba. Bergantian dengan Maitland-Niles, sisi kanan pertahanan Chelsea diserang terus-menerus sampai Azpilicueta tertarik hamstringnya baru di menit ke-35 karena diajak lomba lari terus-menerus. 1-1 setelah Azpilicueta yang hopeless terpaksa menjatuhkan Auba di kotak penalti lawan dan Auba tidak menyia-nyiakan tendangan penalti tersebut.

Semenjak drink break di babak pertama, Arsenal mendominasi pertandingan. Pressing tinggi Arsenal lebih efektif daripada Chelsea yang terpaksa membuang bola jauh-jauh, dan Pepe hampir saja mencetak gol indah lainnya hasil pressing tinggi kalau saja Maitland-Niles tidak offside. Xhaka menempel ketat Jorginho, Ceballos selalu ada di mana-mana untuk recovery bola ataupun interception. David Luiz mematikan Giroud sepanjang pertandingan, tanpa ada satupun shot on goal. Giroud bahkan terpaksa berakting ditembak sniper saking putus asanya. Sayang sekali Arsenal tidak menambah jumlah gol di babak pertama.

Di awal babak kedua, Pulisic kembali mengancam. Untungnya pemain terbaik Chelsea ini juga ketarik hamstringnya. Kadang kita membutuhkan dewi fortuna di pertandingan penting seperti ini. Pedro yang menggantikannya tidak mampu memberikan kontribusi yang sama. Ceballos memenangkan duel udara lawan Pedro, Bellerin menjemput bola dan lari sepanjang 40 meter, melewati Rudiger dan ditackle oleh Christensen. Pepe yang membayangi lari Bellerin siap menyambut bola liar dan mengumpan ke Aubameyang dengan tenang. James tidak kelihatan di lapangan lawan meninggalkan Zouma yang bingung antara marking Lacazette atau Aubameyang. Ia melakukan fake untuk shoot dengan kaki kanan yang sudah diantisipasi Zouma, memindahkan bola ke kiri lalu melakukan lob shot ketika kiper Chelsea maju ke depan. 2-1 untuk Arsenal. Dua gol hasil counter attack cepat. Lampard tak punya jawaban.

Sekarang kita mengerti mengapa Arteta tidak memainkan PEA sebagai striker tengah dan sebaliknya Auba sangat mematikan dari sayap kiri. Arteta “mengorbankan” Lacazette yang bermain sebagai false nine sedangkan Auba dan Pepe bermain lebih mirip sebagai dua penyerang utama saat Arsenal melakukan counter attack. Laca bertugas melakukan pressing tinggi saat bertahan, dan menarik maju bek lawan saat Arsenal menyerang, menciptakan ruang yang cukup untuk kecepatan lari Aubameyang. Terutama saat melawan pertahanan 3 CB, Aubameyang akan sangat efektif karena umumnya CB tidak secepat full back, ketika ditarik ke kiri kanan lapangan akan meninggalkan ruang kosong yang amat lebar. 29 gol dicetak Aubameyang musim ini yang hampir tidak pernah dimainkan sebagai penyerang tengah.

Semua penyerang Arsenal juga lebih disiplin saat bertahan. Auba dan Pepe melakukan tracking back dengan rajinnya dan berlari dengan cepat ke depan saat counter (bandingkan dengan penyerang Chelsea). Arteta berhasil melatih mereka sebagai satu unit yang disiplin. Teringat dengan kata-katanya mengenai menderita bersama. Sebuah tim harus siap menderita di lapangan, dan kemenangan akan terasa lebih nikmat sesudahnya. Seluruh pemain Arsenal yang bermain saat itu menjiwai filosofi ini dan mereka sangat menikmati hasilnya di akhir pertandingan. Pengorbanan yang pantas untuk diberikan.

Malam itu, semua pemain Arsenal tampil prima dan bisa dianggap men of the match. Mereka menghapus bayangan mimpi baruk di Baku melawan tim yang sama. Aubameyang sedikit di atas performa seluruh tim karena eksekusinya yang luar biasa. Sang nomor 14 mempersembahkan FA Cup ke-14 untuk Arsenal. Tidak ada script yang lebih sempurna.

Sebuah tim harus siap menderita di lapangan, dan kemenangan akan terasa lebih nikmat sesudahnya.

Arteta sendiri sudah memenangkan pertarungan taktik dengan Pep, Klopp dan Lampard, dengan sumber daya yang lebih minim. Visinya sangat jelas, pemain percaya padanya sehingga eksekusi taktiknya di lapangan berjalan dengan baik. Ia menjadikan kelemahan timnya sebagai kekuatan dan mengeksploitasi kelemahan lawan dengan sangat dingin. Tim Arsenal ini lemah di tengah lapangan, kurang kreatif (apalagi dengan tidak dimainkannya Ozil), tapi Arteta memilih hal ini dengan sadar. Semenjak Project Restart, ia mengabaikan Ozil dan memilih mencetak gol lewat pressing tinggi ataupun counter attack yang mematikan. Ia percayakan lini depan kepada trio maut Laca-Auba-Pepe yang makin saling memahami satu sama lain. Ia patenkan duet Xhaka dan Ceballos yang juga semakin kompak dan sama baiknya dalam hal passing dekat dan jauh. Ia gunakan optimal senjata mematikan David Luiz, umpan panjang dan memilih Maitland Niles, pemain serba bisa yang sangat atletis untuk marking ketat pemain spesial lawan. Ia gunakan Soares untuk hadirkan rivalitas dan mengembalikan Bellerin ke posisi terbaiknya. Ia mengintegrasikan Tierney pasca cedera dengan sangat mulus ke dalam tim, baik sebagai LWB maupun LCB. Ia menumbuhkan kembali kepercayaan diri Mustafi, pemain yang dibuang oleh Emery. Dan terakhir, ia memberikan kepercayaan penuh kepada Emi Martinez yang dibayar berlipat ganda. Arsenal sekarang akan pusing memilih kiper utama untuk musim mendatang.

Dimulainya Era Arteta

Era Arteta kini resmi dimulai. The Arteta Way dimulai dengan revolusi mental, pelajaran tentang komitmen untuk menderita bersama, persiapan taktik yang matang, semangat tim dan gairah dalam bermain sepakbola, kalah maupun menang. Menyaksikan timnya Arteta bermain sepakbola membuat kita sadar kembali mengapa kita mencintai klub ini. Sepakbola Arsenal saat ini tidak selalu indah, namun saat kita melihat para pemain bermain demi satu sama lain, saat mereka memenangkan tackle, saat mereka melakukan pressing tinggi, saat mereka melakukan build-up play dengan tenang dari belakang, saat mereka tidak saling menyalahkan ketika kehilangan bola, sebaliknya saling menutupi ruang kosong rekannya, saat mereka melakukan fist bump ataupun high five, saat itulah optimisme terhadap Era baru ini hadir. Arteta adalah pelatih sepakbola modern yang mungkin lebih fasih soal taktik sepakbola modern daripada Wenger, namun ia juga tidak melupakan pentingnya sentuhan personal seorang manager terhadap pemainnya. Pentingnya bersikap bijak dan adil terhadap pemainnya. Para pemainnya mulai mencintainya sebagaimana mereka yang dulu bermain untuk Wenger. Cinta yang hadir dari kejujuran, kedekatan, dan juga rasa berterima kasih dan rasa hormat. Kombinasi hal terbaik dari Guardiola dan Wenger ini bisa berpotensi untuk menjadikan Arteta menjadi manager yang sangat baik, selama ia didukung oleh pemilik klub ini.

We are building something here. People can see we are building something and getting somewhere.

There is no better feeling than winning trophies. It has been a roller-coaster here, but to finish it like this is just brilliant.

The manager has had a big impact on this squad. We are improving. This is a process and we will have some bad results and ups and downs, but we all trust in this process 110 per cent.

Kieran Tierney

Pertarungan Berikutnya: Transfer Window!

Bila board Arsenal juga Percaya Era Arteta, mereka mesti mendukungnya di transfer window ini. Tugas pertama, pertahankan Aubameyang. Tugas kedua, melakukan jual-beli-pinjam yang cerdik. Arsenal tidak bisa tidak melepas pemain, untuk mendanai pemain baru. Menurut saya, paling tidak kita membutuhkan 1 CB utama, 1 CM, 1 AM dan sisanya tergantung siapa pemain yang dilepas.

Bila Ozil, Guendouzi, Torreira, Sokratis, Kolasinac jadi dilepas, maka Arsenal perlu mencari No.10 baru, 2 CM untuk melapis Xhaka dan Ceballos (yang ini harus extend loan atau sign permanen) dan 1 CB ditambah Saliba.

Sisi kreatif lini tengah adalah kelemahan utama Arsenal untuk bisa mendominasi pertandingan selain box to box Midfielder. Bila Thomas Partey jadi didatangkan, ia bisa menjadi box to box midfielder sekaligus complete midfielder yang dibutuhkan Arsenal. Ia bisa menjadi pemain yang mendikte tempo pretandingan seperti Xhaka, membawa bola seperti Ceballos dan mengantisipasi serangan seperti Torreira. Dengan demikian, Arsenal bisa menurunkan kembali No.10. Pertanyaannya siapa yang akan menggantikan Ozil? Nama Willian dan Coutinho disebut-sebut namun bagi saya keduanya bukanlah opsi yang menarik selain juga mahal. Arsenal perlu pemain seperti Kai Havertz yang sayangnya saat ini tidak terjangkau. Kita perlu pemain nyaman bermain di Zone 14. Sangat menarik ditunggu solusi Arteta untuk posisi itu.

Bila opsi di pasar tidak tersedia, dan fans Arsenal bisa bersabar sedikit, solusi internal untuk posisi No.10 itu sebenarnya ada. Bagi saya Emile Smith Rowe dan Bukayo Saka bisa menjadi jawaban musim depan. Mereka hanya butuh waktu untuk berkembang di bawah asuhan Arteta. Sebagaimana Wenger, Arteta juga memiliki kemampuan memoles pemain muda yang bertalenta, menjadi bintang. Ia sudah membuktikannya di City terutama dengan Sterling.

Jadi, Percaya Era Arteta?

Reinkarnasi Raja FA Cup

Arteta saat Arsenal menjadi juara FA Cup 2014

Malam ini, kita akan menyaksikan kemungkinan ditanamnya tonggak bersejarah pertama Arsenal era Arteta, kali ini dari pinggir lapangan. Di Final FA Cup 2014, Arteta memimpin skuad Arsenal di lapangan sebagai kapten pada hari bersejarah itu. Hari itu bersejarah, bisa menjadi hari yang membahagiakan karena mengakhiri masa penantian selama 9 tahun untuk trofi (trofi terakhir Arsenal saat itu FA Cup 2005) atau memperpanjang musim kering tanpa trofi klub. Meskipun Dennis Bergkamp pernah berujar kalau ia sangat menyukai Arsenal, dengan ataupun tanpa trofi, kita sebagai fans tentunya ingin sekali merasakan menjadi juara lagi, setelah sekian lama bersabar.

Saya masih ingat saat itu saya nonton bareng Final FA Cup 2014 yang diselenggarakan AIS Jakarta di Flavor Bliss Alam Sutera. Tulisan mengenai malam itu masih bisa dibaca di blog ini. Gooners mungkin juga masih ingat betapa hebatnya detak jantung kita saat Hull City memimpin 2-0 dan Arsenal butuh extra time dan gol ajaib Aaron Ramsey untuk memenangkan final tersebut. Malam itu menjadi malam yang sangat membahagiakan bagi fans Arsenal di generasi tersebut. Buat saya, lebih nikmat rasanya daripada saat Arsenal menjadi Invincibles, karena masa penantian untuk meraih trofi yang sangat lama. Bak air hujan yang baru turun setelah satu tahun masa kering, tentunya akan teraasa jauh lebih nikmat.

Semenjak itu, FA Cup seakan menjadi langganan Arsenal. Final berikutnya terjadi di tahun 2015 dan kemudian di 2017 dan keduanya dimenangkan Arsenal. Wenger pensiun sebagai manager dengan 7 trofi FA Cup dan berkontribusi untuk menorehkan sejarah Arsenal sebagai klub yang masuk ke final FA Cup terbanyak (20 final) dan juara FA Cup terbanyak (13). Pendek kata, Arsenal adalah Rajanya FA Cup dengan persentase 65% kemenangan di final sepanjang sejarah turnamen ini.

Mau tahu cerita di balik setiap kemenangan final FA Cup Arsenal, bisa cek di wikipedia, saya bantu dengan linknya: The Thirteen Classics (1930193619501971197919931998200220032005201420152017). Fakta lain yang menarik adalah dari semua final FA Cup Arsenal di bawah asuhan Wenger, ia hanya kalah di tahun 2001 dari Liverpool. Tujuh dari delapan final dimenangkannya sehingga persentase kemenangannya adalah 87.5%. Berbeda dengan 9 musim pertama Arsenal era Wenger yang memang mampu bersaing di semua kompetisi major dan FA Cup bukanlah trofi utama yang diincar, 3 trofi juara FA Cup Arsenal terakhir lebih berfungsi sebagai pelipur lara di akhir hasil Premier League yang mengecewakan. Meskipun demikian, 3 trofi FA Cup dalam 4 tahun (2014-2017) sempat memberikan secercah harapan kepada fans bahwa Arsenal bisa bangkit kembali untuk bersaing memperebutkan gelar juara liga. Sayangnya prestasi Arsenal semenjak musim 2016-2017 semakin merosot, dari peringkat 2 di musim 2015-2016, turun ke-5, 6, 5 dan terakhir di peringkat ke-8 musim ini. Dan malam ini kita kembali dihadirkan kemungkinan adanya pelipur lara untuk Gooners musim ini. Malam ini Arteta diberikan kesempatan mencetak rekor baru Arsenal di kompetisi ini, kemenangan ke-14 di turnamen sepakbola tertua di Inggris.

FA Cup Arsenal-nya Arteta

Walaupun peringkat akhir Arsenal di akhir musim ini yang terburuk dalam 25 tahun terakhir ini, Gooners yang mengikuti dengan cermat kiprah Arteta tidak akan terlalu bersedih saat memikirkannya. Identitas sepakbola tim ini mulai terlihat, demikian juga perkembangan mayoritas pemain Arsenal di bawah asuhan Arteta. Kita telah move on dari sepakbola era Emery yang membosankan. FA Cup sebenarnya dapat menjadi barometer yang tepat untuk menilai Arsenal-nya Arteta karena dari pertandingan pertama sampai final, tim ini diasuh olehnya.

Hasil Pertandingan Arsenal di FA Cup 2020

Dari screenshot di atas, bisa dilihat perjalanan Arsenal di turnamen ini. Arsenal memulai dengan mengalahkan timnya Marcelo Bielsa yang sedang naik daun di Championship (akhirnya mereka memenangkan Championship dan akan promosi ke Premier League musim depan). Pertandingan-pertandingan berikutnya semua dimenangkan dengan tidak mudah. Kemudian tibalah pertandingan melawan tim solid Sheffield United yang sangat menentukan, yang mana mental tim Arsenal diuji habis. Ceballos tampil sebagai pahlawan dengan mencetak gol kemenangan di menit terakhir.

Pertandingan melawan Manchester City di semifinal adalah penampilan terbaik Arsenal musim ini. Secara taktik dan mental Arsenal unggul atas Manchester City malam itu. Malam ini kita membutuhkan penampilan Arsenal yang sama, pertahanan yang solid dan counter attack yang mematikan. Build up yang tenang dan eksekusi finishing yang efisien. Arteta sudah membuktikan diri kalau ia bisa sangat tenang dan berpengaruh terhadap timnya, di big match melawan Liverpoold an Manchester City. Ia mampu memotivasi pemainnya untuk memberikan lebih dari 100%. Malam ini, semua pemain tahu, kemenangan di FA Cup ini akan sangat berarti bagi Arteta dan juga bagi kepercayaan diri mereka sendiri untuk musim mendatang.

Chelsea

Chelsea menutup musim ini dengan lolos ke Champions League. Hasil yang luar biasa untuk manajer muda Frank Lampard, terutama mengingat prestasi ini dicapai di tengah larangan transfer Chelsea. Mengandalkan pemain muda binaan akademi dan pemain baru satu-satunya Christian Pulisic yang berhasil dibeli sebelum larangan transfer, Frank Lampard berhasil menstabilkan kapal yang akhirnya berlabuh dengan mantap di peringkat keempat di akhir musim. Penampilan mereka sejak Project Restart cukup stabil dengan beberapa penampilan menonjol dari Giroud, Pulisic dan Mason Mount, tiga penyerang yang sangat berbahaya.

Di belakang mereka ada Kovacic yang penampilannya di musim ini lebih baik lagi semenjak dipermanenkan. Jorginho siap dengan umpan-umpan panjangnya kalau tidak sedang menjatuhkan diri teatrikal. Di sayap, James dan Alonso adalah wing back ofensif yang akan selalu maju menyerang. Chelsea akan bermain dengan 3-4-3, formasi yang sama dengan Arsenal.

Predikisi line-up kedua tim

Pulisic akan menyerang lewat dribble dan penetrasi di sisi kanan Arsenal dan Mount lewat crossing. Kedua pemain sayap ini sangat sering masuk ke dalam dari sayap untuk membiarkan overlapping dari wingback Chelsea. Keduanya sangat berbahaya, Mount dengan 8 gol dan 5 assist, Pulisic dengan 10 gol dan 7 assist untuk Chelsea musim ini.

Bila ada hal negatif dari kedua pemain sayap ini adalah keengganan mereka dalam melakukan tracking back. Hal ini bisa dieksploitasi pemain sayap Arsenal saat counter attack.

Giroud adalah pemain depan yang hold up play-nya lebih baik daripada semua striker Arsenal saat ini. Ia akan menjadi “bumper” untuk kedua pemain sayap ini dalam melakukan operan-operan pendek. Selain itu ia akan menjadi target man Chelsea yang demen crossing dari sayap. Dari 8 golnya musim ini di Premier League, 6 gol terjadi setelah Project Restart. Ia seperti lahir baru setelah lock-down Covid-19.

Untuk mengantisipasi pemain sayap Chelsea, Arteta bisa memilih menurunkan Ainsley Maitland-Niles dahulu. Namun bila ia ingin bermain lebih ofensif, Saka akan menjadi opsi yang lebih baik untuk menyerang sisi kanan Chelsea, berkombinasi dengan Aubameyang dan Xhaka. Sisi kiri Arsenal saat Saka bermain jauh lebih hidup dan ia memberikan kemampuan untuk memainkan kombinasi umpan pendek di sisi kiri lapangan.

Pemain depan Arsenal tidak kurang berbahaya. Di semua kompetisi musim ini Aubameyang mencetak 27 gol dan 3 assist, Pepe dengan 8 gol dan 9 assist, Lacazette dengan 12 gol dan 4 assist. Bila Saka (4 gol dan 11 asssist) dimainkan, daya serang Arsenal akan lebih kuat daripada Chelsea.

Perbedaan yang sangat jelas antara pemain depan Arsenal dan Chelsea adalah direct vs short pass. Chelsea akan bermain dengan umpan-umpan pendek sehingga akan bisa lebih lama dalam ball possession saat menyerang. Sebaliknya pemain depan Arsenal adalah tipe direct semua dan tidak nyaman dengan umpan-umpan pendek di sepertiga lapangan terakhir. Inilah kesulitan yang dialami Arsenal untuk membongkar dan penetrasi low block lawan. Dengan perbedaan style ini, Arsenal akan memilih bermain counter attack dan high pressing dan Chelsea sepertinya akan lebih dominan dalam ball possession.

Konsentrasi

Bukan rahasia umum lagi kalau masalah terbesar David Luiz adalah dirinya sendiri. Pemain dengan rekor memberikan 5 penalti musim ini harus fokus penuh dan menjadi tonggak utama pertahanan Arsenal malam ini, jika Arsenal ingin juara. Luiz di hari terbaiknya bisa tampil sangat baik, menghalau umpan crossing lawan dengan mudahnya dan memotong umpan cutback dari sayap ke pemain striker lawan. Tierney akan diberikan tugas untuk membantunya dan Holding di kanan. Ketiga pemain ini akan menjadi kunci suksesnya Arsenal malam ini.

Di tengah, duet Xhaka dan Ceballos semakin padu dan solid. Tidak ada yang perlu dikuatirkan soal lapangan tengah. Ceballos terutama seakan terlahirkan kembali. Ia melakukan interception, recovery, clearance, tackling dengan sangat baik di setiap pertandingan dan umpan-umpannya pun sangat akurat. Soal konsentrasi, lini tengah ini jauh membaik setelah Project Restart.

Di lini depan, trio Aubameyang, Pepe dan Lacazette semakin berbahaya. Pepe dan Auba terutama semakin terasa kliknya. Saat counter attack, ketiga pemain ini rasanya bisa mengatasi 3 CB Chelsea yang tidak begitu solid.

Emi Martinez

Pertandingan ini penting bagi semua pemain, staf dan fans Arsenal namun pertandingan ini memiliki makna paling spesial untuk Emi Martinez. Pemain yang sudah bergabung dengan Arsenal selama 10 tahun ini mengawali musim ini sebagai kiper cadangan namun sangat mungkin mengawali musim depan sebagai kiper utama Arsenal. Tidak ada yang kurang dari penampilan Emi setelah Leno cedera. Kelebihannya dibanding Leno adalah dalam menangkap bola hasil crossing. Dengan tubuhnya yang lebih tinggi, Emi sering menggagalkan serangan dari sayap lawan dengan mudahnya, menjemput bola sebelum menyentuh kepala pemain lawan, hal yang sangat dibutuhkannya malam ini.

Emi berlatih sangat keras selama lock-down dan dewi fortuna pun memberikannya kesempatan. Ia memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi, dan belief bahwa ia pantas menjadi kiper utama Arsenal. Saat ini ia berkesempatan meraih trofi pertamanya sebagai kiper di kompetisi utama, hasil jerih payah dan semangat tidak menyerah.

Percaya Arteta

Dua petandingan pasca kemenangan fantastis lawan City sempat mengurangi kepercayaan diri fans Arsenal akan kemampuan timnya. Arsenal kalah 1-0 melawan Aston Villa dan menang 3-2 lawan Watford dengan memberikan kesempatan Watford untuk kembali ke pertandingan setelah unggul 3-0. Dan kedua tim papan bawah ini sedang berjuang menghindari relegasi. Gooners mulai membayangkan skenario buruk musim lalu, di mana Arsenal dihajar Chelsea 1-4 di final Europa League, yang membuyarkan mimpi kembali ke Champions League saat itu. Hal itu bisa saja terjadi, namun saya percaya Arteta dan timnya mampu menghindari skenario terburuk itu.

Melawan Aston Villa, terlihat jelas tim Arsenal yang lelah dan terkuras mentalnya. Skuad ini tidak memiliki kedalaman sebaik tim besar lainnya sehingga pemain yang notabene sama terus digunakan Arteta. Lawan Watford, Arsenal sedikit melepas pedal gas setelah unggul 3-0. Arteta jelas sangat marah dengan penampilan yang inkonsisten tersebut. Satu minggu telah berlalu dan tim ini mestinya memiliki persiapan mental dan fisik yang cukup untuk pertandingan hari ini. Kondisi mental mereka perlu kembali seperti 2 minggu lalu, saat melawan Liverpool dan kemudian tiga hari kemudian melawan Manchester City. Arsenal di malam tersebut bisa mengalahkan tim manapun di liga ini.

Keyakinan terhadap Arteta paling jelas hadir dari para pemain. Hampir semua pemain (kecuali Ozil dan Guendouzi) memuji cara melatih dan manajemen Arteta. Mereka tidak menyangka Arteta akan sehebat ini. Taktik yang direncanakannya berhasil dieksekusi di lapangan dan terbukti efektif. Kemenangan demi kemenangan, terutama hasil perencanaan matang melahirkan kepercayaan terhadap managernya. Mereka ingin terus bersama Arteta meraih kesuksesan di masa depan dan memenangkan FA Cup ini akan menjadi bukti dari kepercayaan mereka.

Saat Arteta dan rekan-rekannya memenangkan FA Cup 2014, mereka melakukannya untuk manager-nya, Arsene Wenger. Saat itu bila Arsenal kalah, maka kontrak Wenger tidak akan diperpanjang. Wenger selalu membela dan melindungi pemainnya, dan di malam final tersebut, semua pemain Arsenal ingin memberikannya sebuah trofi penting, sebagai wujud terima kasih mereka atas kepercayaannya terhadap mereka. Mereka masih ingin memperpanjang babak akhir Wenger bersama Arsenal. Mengingat malam itu, Arteta berujar:

“I mention Arsène because we felt the responsibility to respond to him. He really deserved it because of the way he defended us. He protected all the players through some difficult moments and it was a moment of gratitude towards him from all of the players to say: ‘He deserves it, we want to stay with him.’ The best possible way to help was to win that trophy.”

Di FA Cup kali ini kondisinya berbeda. Kita baru saja membuka babak baru Arsenal bersama Arteta. Kemenangan malam ini bisa menjadi penting dan mempermudah persiapannya musim depan, dari soal kepercayaan diri pemain, mempertahankan pemain bintang, mendatangkan pemain baru (karena budget yang bertambah), namun tidaklah sesignifikan menjuarai trofi di tahun 2014, karena satu hal: waktu. Arteta memiliki banyak waktu untuk membenahi tim ini, menang ataupun kalah malam ini. Ia baru memulai revolusi-nya.

Namun bila Arsenal-nya Arteta menang malam ini, maka kita bolehlah meresmikan reinkarnasi raja FA Cup. Arsenal sebagai raja FA Cup di era Wenger, akan terlahir kembali di tangan muridnya, sang putera mahkota. Semoga kemenangan malam ini akan menjadi awal dominasi baru Arsenal, yang kita harapkan tidak hanya terbatas di FA Cup saja. Walaupun kita tidak bisa selebrasi bareng malam ini, saya rasa tidak ada yang menentang kalau tengah malam ini suasana di rumah akan sedikit dikejutkan dan diramaikan dengan seruan kemenangan.

Come On You Gunners!

Arteta Masterclass

FA Cup 2020 Semi Final – Arsenal 2-0 Manchester City – Wembley Stadium, London

Akhirnya setelah 25 pertandingan (14 menang, 6 seri dan 5 kalah) Revolusi Mental Arteta menunjukkan hasilnya. Dalam 4 hari, Arsenalnya Arteta mengalahkan dua tim terbaik di Premier League, Liverpool 2-1 dan Manchester City 2-0. Kedua tim tersebut dikalahkan dengan persiapan taktik yang cemerlang, eksekusi di lapangan yang hampir tanpa cela, dan penampilan tim yang luar biasa. Di atas kertas, kualitas pemain Arsenal jelas masih kalah dari kedua klub tersebut. Karena itu Arteta memilih untuk bermain bertahan sambil mengincar serangan balik yang efektif. Namun, seperti yang telah dirasakan semua tim yang memilih bertahan melawan kedua tim tersebut, kekalahan hampir pasti terjadi tanpa adanya game plan yang jelas untuk menyerang balik.

Arteta sendiri mengakui bahwa masih ada kesenjangan antara kualitas timnya dengan kedua tim tersebut. Namun baginya, dalam hal kepercayaan diri, akuntabilitas, dan gairah bermain sepakbola, timnya telah dapat menutup kesenjangan tersebut. Pemain Arsenal bermain untuk sesama, berjuang untuk setiap bola, menutup celah yang ditinggal rekannya dan terlihat sangat solid dalam bertahan maupun menyerang. Saat Arteta bergabung kembali dengan klub ini sebagai manager baru, ia mengatakan ada empat kualitas yang ia inginkan sebagai pondasi dasar timnya.

The priority, as I said before, is what we are going to transmit on the team, is a reflection of the demands we are going to put on them every day in training. That’s commitment, accountability, aggression and passion to play this sport and to represent this football club.

This is the basic I am going to demand from them, and from there we can start to build things and improve all the things, obviously, that have to be done as quickly as possible, but if we don’t have this in the right manner, I think it will be difficult.

Hanya dalam 25 pertandingan, tim yang dilatihnya ini telah berada dalam jalur yang diinginkannya. Pondasi dasar dari timnya terlihat jelas dan telah membuahkan hasil yang luar biasa. Para pemain mengikuti instruksinya karena mereka bisa merasakan hasilnya. Bak pengikut Messiah yang merasakan langsung kebenaran dari kata-katanya berwujud dalam pengalaman nyata, kepercayaan The Gunners terhadap sang manager pun semakin bertumbuh, begitu pula kepercayaan diri mereka pribadi. Sekarang mereka percaya kalau mereka mampu bersaing dengan tim juara di liga ini, karena telah mencicipi indahnya kemenangan atas tim juara. Mental mereka telah mengalami revolusi di tangan Arteta.

Selain revolusi mental, Arsenal juga memperlihatkan penguasaan taktik yang komplit. Arsenal mencetak gol saat melawan Liverpool lewat high pressing terhadap pemain bertahan dan kiper lawan. Tidak peduli yang dihadapinya adalah dua pemain termahal Liverpool, Lacazette dan Nelson berhasil mencetak gol setelah Van Dijk dan Alisson melakukan kesalahan besar akibat high pressing Arsenal. Lawan City, Arsenal mencetak gol lewat cara lain, build up play sempurna dari belakang. Melibatkan 10 pemain dan 18 operan, Aubameyang mencetak gol pertama Arsenal hasil bola yang terus mengalir tanpa bisa dihentikan oleh pressing pemain City. Pep Guardiola terpaksa menelan pil pahitnya sendiri, yang ironisnya diberikan oleh mantan asisten manager-nya.

Gol kedua Arsenal melawan City hadir dari counter attack cepat, operan lob cemerlang dari Tierney setelah menerima back pass dari Pepe disambut dengan timing lari yang pas dari Aubameyang yang sekilas memberikan kita bayangan akan Thierry Henry yang lari dari channel kiri ke tengah sebelum kemudian mencetak gol. Aubameyang tidak mengecewakan harapan kita dan berhasil mencetak gol nutmeg salah satu kiper termahal di Premier League dengan santainya. Tim ini telah membuktikan kalau mereka bisa mencetak gol lewat cara apa saja – pressing tinggi, build up play, counter attack dan set piece. Arsenal-nya (perlengkapan senjata) komplit sudah.

Tentunya perjalanan menuju pencapaian saat ini tidaklah mudah. Ada pengorbanan, kerja keras dan konflik. Saya akan mencoba menuliskan beberapa hal berbeda yang dilakukan Arteta terhadap pemainnya yang kemudian berbuah positif dengan makin solidnya tim yang percaya penuh dengan kepemimpinannya.

Man Management Skill

Dalam salah satu ilmu manajemen untuk menciptakan high performance team, pondasi dasar paling penting adalah membangun Trust, kepercayaan. Pemain mesti percaya kepada manager-nya dan kepada rekannya. Dan Trust ini selalu dimulai dari kepemimpinan yang terbuka. Arteta berulang kali menegaskan bahwa ia selalu terbuka terhadap pemainnya. Ia siap bicara dengan lugas dan tidak akan segan dalam menyampaikan pendapatnya terhadap pemainnya. Dengan demikian ia memperlihatkan sikap yang fair dan tidak pilih kasih. Sebaliknya, pemain yang tidak bisa terbuka dengannya, untuk memenuhi standarnya dalam latihan, tidak akan dimainkan. Namun hal itu tidak berlaku untuk selamanya, begitu pemain tersebut berubah dan kemudian memperlihatkan perbedaan di latihan, maka ia dapat masuk kembali ke tim. Arteta tidak takut dengan konflik namun ia tetap berusaha untuk bersikap adil terhadap semua pemain.

Xhaka dan Ceballos menjadi contoh terbaik manajemen personal Arteta. Tidak heran mereka berdua sekarang membentuk partnership yang sangat solid. Setelah mereka berdua, Mustafi yang termarjinalkan juga kembali menunjukkan performa terbaiknya. Demikian juga Pepe yang meningkatkan usahanya dalam latihan dan kembali mendapatkan tempat di starting line up. Lacazette menemukan kembali kepercayaan dirinya. Luiz selalu mendapatkan kepercayaan Arteta walaupun melakukan kesalahan fatal saat restart liga melawan City. Pemain-pemain muda seperti Saka, Nketiah, Willock dan Nelson selalu mendapatkan kesempatan bermain ketika mereka siap. Arteta tidak takut memainkan mereka.

Di sisi lain, Arteta tidak sungkan untuk mengisolasikan pemain jika pemain tersebut tidak 100% dan sikapnya membahayakan kinerja tim. Guendouzi dan Ozil menjadi “korban” dari kebijakan ini. Guendouzi yang keras (dan besar) kepala menolak meminta maaf karena sikapnya setelah game lawan Brighton tidak mendapatkan tempat lagi di tim. Ia lebih mementingkan egonya daripada timnya. Jika situasi ini terus berlanjut, Guendouzi bakal dijual sebelum musim baru dimulai.

Untuk Ozil, semenjak restart liga tampaknya ia belum menampilkan upaya 100% saat latihan. Kata Arteta mengenai Ozil yang absen sejak pertandingan pertama setelah Premier League bergulir kembali:

I have been very open with Mesut from day one.

Since I joined I thought that he was fit and he was willing and he wanted to perform at the level he can do.

The moment I see that he is ready again to do that, I will treat him like anybody else. I think I’ve been more than fair with him and I think he has responded in many games the way I want. That’s it.

Bila Ozil tidak mau berusaha sekeras rekan-rekannya, artinya ia juga lebih mementingkan egonya daripada timnya, dan pasti akan dilepas juga sebelum musim baru dimulai walau tidak mudah karena gaji per minggunya yang telah tinggi. Namun bila Ozil memilih makan gaji buta daripada bermain sepakbola secara konsisten setiap minggu, maka karier sepakbolanya akan berakhir dengan cepat.

Ainsley Maitland-Niles

Sempat diisukan akan hengkang karena tidak nyaman bermain sebagai Right Back, Ainsley Maitland-Niles tidak dimainkan oleh Arteta untuk waktu yang lama. Perlahan, sebagaimana yang terjadi pada pemain lainnya yang ditangani Arteta, ia mulai berubah dalam sesi latihan, dan akhirnya mendapatkan tugas mulia di pertandingan lawan City. Arteta menurunkannya dengan misi menganulir Riyad Mahrez. Karena taktik spesial ini, Tierney terpaksa bermain sebagai LCB dan Maitland-Niles menjadi left wingback. Mahrez mati kutu sepanjang pertandingan ini karena ditempel ketat oleh lawannya. Satu-satunya peluang bersih yang didapatkannya menjadi satu-satunya shot on goal City yang diselamatkan dengan mudah oleh Emi. Mahrez diganti sebelum babak berdua berakhir dan Maitland-Niles bahkan beberapa kali sempat ikut turun menyerang sisi kanan lapangan City. Sayang saja umpan crossingnya tidak seakurat Saka, kalau tidak City bisa menderita kekalahan lebih besar. 2-0 cukup untuk malam itu.

Di akhir pertandingan Maitland-Niles dipeluk erat oleh David Luiz sang motivator. Arteta juga memeluknya dengan erat sambil mengangkatnya, wujud apresiasi ekseskusi misinya yang sukses besar. Maitland-Niles menambah satu lagi dari sekian banyak pemain yang menjadi lebih baik di bawah penanganan Arteta. Entahlah kalau Guendouzi menonton pertandingan ini atau tidak. Kalau ia punya akal sehat, mestinya ia akan terpengaruh untuk mengubah sikapnya, untuk ikut kereta Arteta yang melaju makin cepat.

Lacazette dan Pepe

Aubameyang mencetak dua gol dengan sangat efisien namun penampilan Lacazette tidak bisa dilupakan. Ia bermain sangat baik sebagai hold up player saat serangan balik dan meneruskan bola dengan progresif, atau mengundang foul lawan. Lacazette melakukan high pressing sepanjang pertandingan. Rivalitasi yang dihadirkan Arteta terhadapnya dengan seringnya memainkan Nketiah yang sangat energik berpengaruh positif terhadap Laca. Golnya saat melawan Spurs menunjukkan sinyal ia kembali ke penampilan terbaiknya.

Di sisi kanan, Pepe juga berkontribusi positif. Ia berperan dalam dua gol Aubameyang, sebagai assister dan pre-assister. Dribblingnya lebih bertujuan, gerakannya lebih fokus, dan kombinasinya dengan Bellerin terlihat semakin baik. Ia juga ikut dalam pressing dan tracking back, berubah total dibandingkan gaya permainannya yang lebih individualis saat pertama kali bergabung di awal musim. Sayang sekali hanya tertinggal tiga pertandingan tersisa di musim ini, di saat trio Laca-Auba-Pepe sedang menuju level yang diharapkan fans sejak awal musim.

Lencioni Model

Kembali ke ilmu manajemen soal high performance team. Saya mempelajari hal ini dalam salah satu training project management. Lencioni membuat model piramid berisi 5 unsur / tahapan perubahan perilaku sebuah tim untuk menghasilkan tim dengan kinerja yang lebih baik. Tim yang mana kinerjanya lebih baik dari gabungan kualitas masing-masing individu anggotanya. The whole is greater than the sum of its parts.

Building a high performance team

Setelah membangun Trust, maka yang berikutnya adalah tim harus tidak takut menghadapi konflik. Perdebatan perlu terjadi karena setelah itu, tim harus mencapai kesepakatan dan semua yang berbeda pandangan awalnya akhirnya harus berkomitmen terhadap keputusan yang satu, metode dan tujuan yang sama. Mereka yang tetap tidak sejalan, dengan terpaksa disisihkan (Guendouzi, Ozil). Dengan komitmen tersebutlah, maka akuntabilitas bisa diterapkan. Pemain yang melakukan kesalahan, mengaku salah dan mendapatkan konsekuensinya. Lebih baik lagi, setiap rekannya akan mencoba cover sehingga kesalahan itu tidak berdampak buruk, sebagaimana Xhaka yang meng-cover kesalah Mustafi malam itu. Karena tim yang berfungsi dengan baik percaya bahwa hasil itu sifatnya kolektif.

Trust -> Conflict -> Commitment -> Accountability -> Results.

Mirip bukan dengan 4 fondasi dasarnya Arteta Way? Saya tidak akan kaget kalau Arteta terinspirasi oleh model manajemen Lencioni ini.

Masterclass

Seperti yang diutarakan di awal, sangat sayang musim ini tersisa 3 pertandingan lagi, ketika Arteta mulai menunjukkan Masterclassnya, berkat tim yang sudah sejalan, yang bernafas dengan detak jantung yang sama. Tidak tanggung-tanggung dua pelatih kawakan, Klopp dan Pep dengan tim yang jauh lebih mahal sudah merasakannya. Di final FA Cup dalam 2 minggu mendatang, Arteta akan berhadapan dengan salah satu dari dua pelatih muda mantan pemain sukses lainnya di dalam Lampard dan Solksjaer, pertarungan yang tidak akan kalah serunya. Final FA Cup ini akan sangat berarti bagi Arteta dan Arsenal: mendapatkan tambahan budget untuk belanja musim depan (karena bisa berpartisipasi di Europa League) dan mempertahankan pemain terbaiknya agar tidak hengkang (Aubameyang).

Masterclass yang ditunjukkan Arteta begitu berbeda dengan sepakbola tanpa jati diri di era Emery. Semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Berbagai pundit bola yang biasanya menganggap remeh Arsenal bisa merasakan perubahan tim ini di bawah asuhan Arteta. Bila ini baru tahapan basic, sesuai penjelasannya, kita boleh merasa optimis dengan masa depan Arsenal di tangan Arteta. Kita berharap KSE sama optimisnya dalam mendukung Arteta dengan dana yang sepadan, agar kita bisa menyaksikan visi Arteta Way terealisasikan.

Revolusi Mental Arteta

Empat pertandingan pertama Arteta menghasilkan imbang (Bournemouth), kalah (Chelsea) dan menang 2x (MU, Leeds FA Cup). Awal yang rasanya lumayan untuk ukuran seorang manajer baru klub papan tengah. Namun buat kita, Gooners yang menonton keempat pertandingan tersebut, kita bisa merasakan perubahan yang drastis dalam segi upaya, taktik, energi semua pemain Arsenal yang menjadi sangat positif. Penampilan yang memberikan harapan bahwa musim ini belum usai. Bahwa Arsenal bisa terangkat dari posisi di papan tengah.

Apa yang dilakukan Arteta sehingga sepakbola Arsenal berubah dari reaktif menjadi proaktif? Tiba-tiba kita memainkan sepakbola protagonist, yang hanya bisa diimpikan oleh Emery namun tak pernah terwujud. Arteta, dalam waktu yang sangat singkat mentransformasi team Arsenal ini, bermain menyerang, counter pressing, defensive line yang tinggi, one-two pass yang kembali dan terakhir pemain yang tersenyum di lapangan. “The fun is back!” kata Sokratis.

Dalam tulisan saya sebelumnya, The Arteta Way, Arteta menyebutkan ada 4 hal penting yang ia inginkan sebagai pondasi dasar timnya: komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah untuk memainkan sepakbola dan mewakili klub ini. Di berbagai press conference sebelum dan sesudah pertandingan, Arsenal kembali mengulanginya. Komitmen, agresi, gairah dan akuntabilitas. Setiap pemain harus berkomitmen di lapangan hijau 100% upaya tanpa sedikitpun menyerah, agresif dalam pressing, bergairah dalam memainkan sepakbola menyerang dan terakhir sama-sama bertanggung jawab terhadap apapun yang terjadi di lapangan. Arteta tidak ingin pemainnya saling menyalahkan ketika kehilangan bola, setiap pemain wajib tracking back dan melindungi temannya. Satu untuk semua, semua untuk satu. Arteta tahu, agar para pemainnya bisa memainkan sepakbola dengan intensitas sangat tinggi yang saat ini dimainkan klub-klub papan atas Premier League, ia perlu merevolusi mental pemainnya dahulu.

Revolusi Mental

Revolusi Mental itu berjalan bertahap. Pertama melawan Bournemouth, bermain menyerang sejak menit pertama dengan high pressing, Arsenal ketinggalan 1-0 di babak pertama. Pemain tidak menyerah, dan terus memborbardir pertahanan Bournemouth. 17 shots untuk away game, yang sangat tinggi dibanding Arsenal era Emery. Akhirnya Aubameyang menyamakan kedudukan di menit ke-63. Perbedaan seri dan menang ada pada keputusan-keputusan yang kurang tepat dari Nelson, Saka, Lacazette dan Aubameyang saat berada di final third lawan. Arteta memakluminya, yang ia soroti justru kondisi mental pemain:

It will be a process. I was worried what would happen if we conceded a goal. We did and I was very pleased with the character they showed. They came in at half-time and their faces, their reactions [were spot on]. It was about how much they wanted it. Normally, when you are in this process and you concede a goal, the confidence goes down and a lot of things that have happened in the past can come back. It didn’t happen, it happened in the complete opposite sense and that’s a really positive thing to take on board.

Pertandingan kedua melawan Chelsea, serangan dan pressing tinggi Arsenal di babak pertama sangat baik sekali. Ombak serangan Arsenal datang bertubi-tubi dan ketika kehilangan bola dalam 5 detik bola sudah terebut kembali. Permainan praktis terjadi di paruh lapangan lawan. Aubameyang mencetak gol di menit ke-13. Chelsea tak punya jawaban dan harus mengganti pemain di menit ke-34, memasukkan Jorginho. Di babak kedua, permainan Arsenal drop. Arsenal bertahan dan Chelsea yang mendominasi pertandingan. Walaupun demikian, tidak banyak peluang besar tercipta untuk Chelsea. Namun kesalahan Leno dalam menangkis umpan dari corner kick berbuah gol bagi Chelsea dan tidak lama kemudian saat Arsenal menyerang, sebuah counter attack cepat Chelsea juga kembali berbuah gol karena kesalahan keputusan Mustafi yang memilih mundur daripada menahan Abraham. Bad habit comes back easily.

Walaupun kalah, supporter Arsenal memberikan standing ovation kepada para pemain Arsenal. Usaha keras mereka dan sepakbola menyerang yang dimainkan tak luput dari penghargaan para penonton. Kita seperti mulai mencium bau kemenangan.

Melawan Manchester United, babak pertama yang sama agresifnya kembali terjadi. Arsenal mencetak dua gol di babak pertama lewat Pepe dan Sokratis dan MU tidak bisa menjawabnya. Di babak kedua, Arsenal sedikit mundur dan mengendalikan pertandingan lewat pertahanan yang disiplin. Kali ini Arsenal bertahan dengan lebih cerdik dan MU tidak bisa mencetak gol sama sekali. Kemenangan pertama Arteta uniknya terjadi melawan MU, mantan musuh bebuyutan Arsenal.

Yang menarik adalah wawancara David Luiz setelah pertandingan yang mengakui bahwa secara fisik, pemain-pemain Arsenal belum siap memainkan sepakbola intens Arteta selama 90 menit. Namun ketika fisik tidak siap, maka hati harus mengambil alih.

Mikel Arteta is a great coach, he knows football, he was a great player. He brings things and I believe in his philosophy. I think he can improve every single player.

In life when you are happy the results can be totally different.
I always like to use the mantra, if you sleep happy you can sleep four hours, it’s better than sleeping sad for eight hours. If you work with happiness and believing what you are doing it is totally different, so I’m happy with everybody.

David Luiz after winning against Manchester United

Arteta menanamkan mental baru kepada para pemain Arsenal. Dari semua wawancaranya saya bisa mengira mantra Arteta sebelum setiap pertandingan sebagai berikut:

  • Mainkan sepakbola menyerang sesuai identitas klub, sepakbola reaktif tidak akan membuatmu happy
  • Berikan hatimu untuk pertandingan di lapangan, 100% upaya dalam memenangkan duel dalam merebut bola. Be aggressive and intense!
  • Saling back-up rekan setim. Tidak saling menyalahkan, bermain bersama, sukses bersama
  • Semua gestur tubuhmu di lapangan akan ditangkap penonton, dengan bersikap positif maka penonton akan memberikan reaksi positif juga. Demikian juga sebaliknya
  • Pemenang tidak pernah relax, konsistensi dalam upaya membedakan antara pemenang dan pecundang.

Saat melawan Leeds di third round FA Cup, pemain Arsenal melupakan semua hal di atas di babak pertama. Ini masalah mental. Setelah menang melawan MU, pressure turun dan pemain merasa lebih relax, ah cuma lawan tim Championship. Mereka mengabaikan peringatan Arteta bahwa Leeds di bawah Bielsa bukan tim biasa, setiap minggu mem-bully tim-tim di Championship dan itu juga sebabnya saat ini mereka di puncak klasemen. Bielsa adalah pelatih jenius, pionir sepakbola yang punya pengaruh paling besar terhadap sepakbola modern saat ini. Pep mengatakan ia adalah pelatih terbaik dunia saat ini. Arteta yang dekat dengan Poch (murid Bielsa) dan mantan asisten Pep tentunya tahu persis sepakbola ala Bielsa.

Karena mental tim belum benar-benar terbentuk, Arsenal menderita selama 35 menit pertama. Leeds pressing man to man dan memaksa Arsenal bertahan. Arsenal sangat beruntung tidak kebobolan. Di saat half time, Arteta mencak-mencak terhadap pemainnya. Ia menginstruksikan pemainnya untuk bermain seperti gerombolan serigala yang mengejar bola tanpa henti. Ia tidak mengubah line up atau mengganti pemain. Xhaka dan Guendouzi disuruh bermain lebih ke depan, pressing lawan begitu pemain depan kehilangan bola. Hasilnya luar biasa, Arsenal berbalik bermain di paruh lapangan Leeds dan akhirnya mencetak gol lewat Nelson.

Arteta mengatakan bahwa ia sekarang tahu apa yang timnya butuhkan ketika kalah dan apa yang mereka butuhkan ketika menang. Bak tim baru lahir, Arsenal masih rapuh dan perlu dipandu. Ketika menang, kesombongan merayap masuk dan pressure hilang, pemain mulai lebih relax dan jadinya tidak bisa mempertahankan konsistensi.

I am learning every day about them. How they react when they lose, what they need when they lose, what they need when they win as well. And as well, how can they react when they want to. Because before that, obviously everybody said it was a physical issue that we could not sustain a certain rhythm or intensity throughout the game. Look how they finished tonight. After 94 minutes they kept going and this is here and this is there. This is what they have to understand as a team.

Mengubah mental tim menjadi mental juara tidaklah mudah. Perlu upaya luar biasa dan tim yang menyatu. Semua orang setuju dan ikut dalam kereta ini. Arteta mengatakan masalah fisik tidak menjadi masalah (sebagaimana di pertandingan lawan Chelsea dan MU). Ketika para pemain niat, mereka terus berjuang sampai peluit akhir berbunyi. 94 menit melawan Leeds yang sangat physical dan pemain Arsenal tidak berhenti mengejar di babak kedua. Hal ini yang harus mereka pahami, dan alami bersama, sebagai satu tim.

Pada akhirnya, para pemain yang akan menikmati kemenangan. Mereka bisa memilih menderita di lapangan dan di akhir pertandingan, atau berjuang bersama, menderita fisik tapi happy di akhir pertandingan. Saat ini pemain Arsenal mulai memahami langsung (lewat pengalaman), perbedaan tim medioker dan tim juara. Setelah 18 bulan di-brainwash oleh pelatih medioker dan tahun-tahun belakangan era Wenger yang memang miskin konsistensi.

Dan kemudian, bermain seperti ini setiap minggu, setiap pertandingan, setiap sesi latihan. Hanya dengan demikian Arsenal bisa diubah menjadi tim dengan mental juara.

Perubahan Taktik

Tentunya hanya bermodal semangat saja tidak bisa mengubah sebuah tim serta merta menjadi tim juara. Ada perubahan taktik dan posisi pemain agar tim bisa merebut bola dengan waktu dekat, upaya minimal. Itu tugas pelatih. Tulisan Michael Cox di The Athletic mengupas perubahan ala Arteta ini dengan sangat baik. Saya rangkum sedikit di sini.

Formasi di atas kertas Arsenal adalah 4-2-3-1 tapi di atas lapangan formasi itu berubah menjadi 4-4-2 saat bertahan dengan Ozil dan Lacazette di depan dan 2-3-5 saat menyerang. Maitland-Niles berubah dari RB ke RCM dan Saka / Kolasinac maju dari LB ke LW. Lihat grafik di bawah ini. Dengan 5 pemain menyerang dan 5 pemain bertahan, Arsenal stretching lawan melebar sehingga memberikan banyak space khususnya untuk Ozil dan Xhaka dalam mengumpan.

David Luiz bersiap mengoper bola ke RW Arsenal, lihat space yang dimilikinya!
Xhaka punya beberapa opsi, lihat space yang terbuka lebar untuk Aubameyang dan Saka

Perubahan formasi ini memungkinkan Arsenal bermain operan pendek maupun panjang, dan cukup banyak space untuk winger berlari. Umpan satu-dua yang sudah lama hilang dari peredaran muncul kembali.

Dengan formasi seperti ini juga, saat kehilangan bola, Arsenal bisa dengan cepatnya mengerumuni pemain lawan yang memegang bola dan memutus jalur operan bola. Bila pressing awal gagal, maka Arsenal kembali ke formasi 4-4-2 blok bertahan yang rapat menutup lini tengah.

Mengagumkan apa yang bisa dicapai dengan perubahan sedikit formasi dan eksekusi yang konsisten.

Kita baru di chapter pertama revolusi mental Arteta, sangat menarik melihat apa yang akan dilakukannya di pertandingan malam ini, melawan Crystal Palace tandang.

Pertandingan ini akan sangat berarti untuk satu pemain. Ajang redemption untuk Granit Xhaka. Semoga kemenangan dan penampilan gemilang menjadi balasan yang pas untuk aib tahun lalu yang mengakibatkan ban kaptennya dicopot.

Kita ingin menyaksikan revolusi mental Xhaka malam ini. Semoga terjadi.