PUMA dan Alexis Mulai Era Baru Arsenal

FUTURE, FOREVER,VICTORIOUS

Tanggal 10 Juli 2014 jam 11 malam hari waktu London menjadi penanda era baru Arsenal. Setelah dua puluh tahun menggunakan Nike, Arsenal pindah sponsor kostum ke Puma mulai musim ini. Perusahaan alat dan kostum olahraga milik saudaranya pendiri Adidas ini memberikan kontrak sponsorship kit tertinggi di Inggris ke Arsenal. Semalam, mereka melakukan launching kit baru Puma Arsenal secara spektakuler di atas sungai Thames. Proyeksi video ke pancuran air dengan warna dominan merah, kuning dan biru disertai narasi dari Wenger pasti menarik perhatian warga London di sekitar. Puma terkesan serius dengan launching kit baru Arsenal ini. Hashtag #StrongerTogether menjadi tema pesan malam itu selain Future, Forever, Victorious yang menjadi label untuk masing-masing kit Cup (biru), Home (merah) dan Away (kuning). Setelah itu, toko Puma di Carnaby Street dibuka untuk pembelian awal fans Arsenal yang sudah tidak sabar memakai kostum baru. Arteta, Cazorla dan Flamini dihadirkan langsung sebagai kejutan untuk fans. Walaupun Alexis Sanchez, pemain baru Arsenal tidak ada di lokasi, berita resmi transfernya telah cukup membahagiakan semua fans Arsenal malam itu.

Proyeksi Video di Pancuran Air Sungai Thames

Secara desain, kostum Puma ini terlihat lebih menarik daripada kostum Nike musim lalu (walaupun kostum Away Nike yang kemarin itu terlihat lebih bagus). Model Regular Fit juga akan terlihat bagus untuk pesepakbola yang badannya atletis. Untuk Gooners, hal ini mungkin menjadi tantangan buat kita untuk memulai diet. Terutama fans Arsenal yang sudah berkepala tiga hehe. Demi terlihat gagah berbalut kostum Puma ini, lima sampai sepuluh kilo wajib dibakar.

Favorit saya adalah baju kaos Forever alias Home dan kaos kakinya Victorious (Away). Warna kuning dengan strip biru itu terlihat sangat pas dan sungguh menggoda untuk dipakai. Secara umum ketiga tema kostum Arsenal ini masuk kategori desain yang menarik untuk dipakai komplet. Puma mesti diacungi jempol urusan desain kostum bola Arsenal pertama mereka. Launching yang spektakuler dan desain yang serius, langkah awal yang bagus untuk menjadi Stronger Together.

Alexis Sanchez

Alexis Sanchez, A Gunner

Tanpa mesti beraksi di lapangan hijau, Alexis Sanchez telah terlihat pantas sebagai seorang Gunner. Ia bertubuh kecil tapi kekar. Satu kata yang diasosiasikan Wenger dengannya bukan kecepatan, tapi Power. Alexis, demikian nama yang dipilihnya untuk di belakang kostumnya, diyakini Wenger dan Arteta akan menambah power Arsenal. Ia kuat, dan sudah pasti cepat, dua kualitas yang sangat dibutuhkan di Premier League saat ini dan kebetulan dua kualitas yang kurang dimiliki Arsenal musim lalu, saat pemain-pemain cepatnya cedera.

Sanchez dibeli Arsenal dengan nilai sekitar 30 juta pounds dari Barcelona. Saya telah menulis kemarin sedikit tentang Sanchez dan kualitasnya. Ia adalah pemain terbaik kedua Barcelona musim lalu. Barcelona menjualnya dan Fabregas untuk mendanai pembelian Suarez. Dari segi umur (25), ia lebih muda 2 tahun dari Suarez (27). Dari segi kualitas, mungkin Suarez saat ini lebih unggul. Namun saya yakin Sanchez akan mencetak gol yang lebih banyak untuk Arsenal musim ini daripada 21 gol yang dicetaknya untuk Barcelona musim lalu. Ia lebih cocok bermain di Liga Inggris dengan space yang tersedia lebih luas daripada Liga Spanyol. Kecepatan dan kekuatannya bisa dioptimalkan di liga ini. Belum lagi ditambah dengan adanya Ozil yang bermain di belakangnya dan Giroud di depannya yang doyan melakukan flick satu sentuhan. Sanchez akan memanfaatkan kedua rekan barunya ini dengan optimal. Ia adalah pemain yang kita cari-cari semenjak hengkangnya Thierry Henry ke Barcelona. Walcott sendiri yang diharapkan dapat menggantikan Henry sampai saat ini belum pernah mencapai puncak permainannya, disebabkan oleh cedera panjang. Hadirnya Sanchez bisa mengurangi beban Walcott sebagai mesin gol Arsenal.

 Tidak heran kalau Wenger menolak kesempatan membeli kembali Fabregas dengan nilai transfer yang sama bukan?

Sanchez sebagaimana Suarez musim lalu adalah tipe pemain yang dibutuhkan Arsenal dan sangat diinginkan Wenger. Tidak heran Wenger berusaha membeli Suarez musim lalu. Kita butuh striker yang bisa menciptakan peluang untuk dirinya sendiri, dan mampu memanfaatkan penuh serangan balik cepat Arsenal dengan kecepatannya. Daripada membeli Benzema ataupun Balotelli atau pemain depan murni lainnya, pemain seperti Sanchez yang bisa bermain di semua posisi di depan sebagai winger, striker utama atau second striker, akan lebih berguna untuk Arsenal saat ini. Wenger tidak usah pusing memilih antara ia dan Giroud karena mereka berdua dapat bermain bersama. Kekurangan Walcott yang tidak memiliki naluri alami pesepakbola bisa ditutup oleh Sanchez. Walcott bahkan bisa belajar dari masternya bagaimana bermain dengan lepas dan bebas sebagai seorang striker di posisi manapun di depan. Giroud akan mendapatkan sokongan yang lebih cepat dan lebih rapat daripada yang selama ini ia dapatkan dari Podolski. Dilihat dari sisi manapun Sanchez adalah pembelian sempurna untuk musim ini. Tidak heran kalau Wenger menolak kesempatan membeli kembali Fabregas dengan nilai transfer yang sama bukan? Ia menyimpannya untuk Sanchez. Sorry ya Cesc.

Apa yang dilakukan Suarez selama ini di Liga Inggris, dengan gol-gol spektakulernya, Sanchez bisa melakukannya. Tidak percaya? Lihatlah golnya ke Madrid musim lalu di mana ia mempermainkan Varane dan Lopez dengan mudahnya.

Hristo Stoichkov, legenda Barca menyesali “kebodohan” Barcelona menjual pemain terbaiknya.

Because of those who do not understand football we must sell the best player we have at Barca. The policy of Barca was always like this, they do not like great players. [Alexis] is the best player for his pace, his battling qualities. He fights for every ball, he plays for the team. I like his mentality. He is leaving with his head high. He is a decisive player.

Kebiasaan Madrid dan Barca adalah membeli bintang setiap musimnya. Selain berkompetisi di lapangan hijau, kedua klub ini juga berkompetisi soal koleksi bintang setiap musim terlepas dari kebutuhan riilnya. Neymar dan Bale musim lalu dan kemungkinan besar musim ini soal Suarez dan Falcao/ James Rodriguez. Tentunya bintang yang mereka incar adalah pemain yang sedang top. Namun untuk melakukan itu mereka juga sering melepas bintang mereka sendiri, yang kurang populer, atau yang jadi korban politik dalam klub. Sanchez dan Ozil menjadi korban dari tradisi ini, dan Arsenal dengan lihainya berhasil menampung kedua bintang ini. Bersamaan itu klub rival kita, Sp*rs dan Liverpool mesti kehilangan pemain terbaik mereka ke duo klub Spanyol tersebut. Sekali sambit, dua burung kena. Secara tidak langsung kita membantu Barca dan Madrid melemahkan rival kita di Inggris, sembari memperkuat diri dengan mendapatkan pemain terbaik kedua Barca dan Madrid. Cerdas.

Dengan trend setiap musim minimal satu pemain bintang kelas dunia (musim ini barangkali akan ada dua) dibeli dari klub kaya Eropa, mungkin kita bisa mulai booking pemain untuk satu tahun berikutnya. Mungkin fans Arsenal mulai boleh mengkhayal tentang prospek James Rodriguez bermain untuk Arsenal 2015-2016? Era baru Arsenal berkat deal sponsorship baru Emirates dan Puma memungkinkan itu terjadi. Sebagaimana yang telah dibahas saya dua tahun lalu di seri blog Model Finansial Arsenal.

Faktor Wenger

Ada persamaan transfer Ozil dan Sanchez, keduanya diyakinkan oleh Wenger sebelum mengambil keputusan besar. Tidak mudah untuk memutuskan pindah dari klub bintang sekelas Barca dan Madrid ke klub yang reputasinya di bawah itu. Untuk orang-orang pada umumnya, serasa menjadi pecundang. Agar hati bisa mantap untuk memutuskan pindah dan tetap merasa yakin dengan masa depan, mereka butuh motivasi dan penenang yang kuat. Datanglah Wenger. Dalam percakapan empat mata pribadi dengan Ozil dan Sanchez, Wenger berhasil meyakinkan mereka bahwa tidak ada manager lain yang lebih mengerti tentang mereka daripada dirinya. Wenger berhasil meyakinkan bahwa bila masa depan mereka dipercayakan di tangannya, mereka akan puas dan berkembang. Sebagaimana seorang pria yang berhasil meyakinkan kekasihnya untuk hidup bersamanya, Wenger berhasil merekrut Ozil dan Sanchez tanpa mereka harus merasakan penyesalan pindah dari klub bintang.

Sanchez bertemu dengan Wenger di Brazil, di sela-sela Piala Dunia. Dalam percakapan pribadi tersebut, Wenger meyakinkannya bahwa kualitasnya cocok untuk bermain di Liga Inggris. Tadinya ia sudah siap kembali ke Italia setelah merasa tidak dibutuhkan di Barcelona. Wenger juga mengatakan padanya kalau ia telah mengikuti karir Sanchez sejak ia bermain di River Plate, Udinese dan terakhir di Barca. Wenger menjelaskan kepadanya apa yang akan ia lakukan bila Sanchez bergabung dengan Arsenal, tentang visinya untuk Sanchez. Hal sama yang ia katakan kepada Ozil. Sanchez terpesona, pulang, merenung dan kemudian mengatakan kepada agennya: “Lupakan semua klub lain, aku ingin bermain untuk Wenger dan Arsenal.” Cinta itu tidak bertepuk sebelah tangan.

Bukan sekali dua kali ini charm Perancis-nya Wenger bekerja. Saat merekrut Ramsey juga demikian. Ia menerbangkan Ramsey ke Swiss (saat itu sama, ia sedang menjadi komentator Euro) dengan pesawat jet khusus untuk menjelaskan kepadanya rencana terhadapnya. Sebelumnya Ferguson yang juga tertarik kepada Ramsey hanya mengutus Gary Neville untuk menemuinya dan mengajaknya melihat Old Trafford dan fasilitas latihan United. Ramsey lebih merasakan “cinta” Sang Professor dan akhirnya memutuskan bergabung dengan Arsenal, melupakan United yang merupakan klub idolanya sejak kecil. Keputusan itu terbukti benar musim lalu. Ia menjadi pemain terbaik Arsenal. Kepercayaan yang didapatkan dari kesan pertama itu tidak boleh dianggap remeh. Seringkali dalam hidup kita terkesan dengan seseorang hanya dalam sekali pertemuan. Wenger berkali-kali berhasil mengesankan calon pemain-pemainnya dalam pertemuan empat mata.

Cerita Thierry Henry juga sama. Mereka bertemu secara kebetulan (atau disengaja?) di pesawat setelah partai terakhir Juventus, tujuan Paris. Wenger dan Henry bercakap-cakap dan saat itu juga Henry mengatakan ia ingin bermain untuk Arsenal. Tentunya Wenger dan Henry sudah pernah bertemu sebelumnya di Monaco namun saat itu Henry masih pemain di tim mudanya. Tanpa perlu cerita panjang lebar lagi Henry menjadi pemain terbaik dalam sejarah Arsenal, semua itu berawal dari pertemuan secara kebetulan di pesawat.

Walaupun terlihat kaku, Wenger sesungguhnya adalah pribadi yang hangat dan disenangi pesepakbola. Dalam liburan merangkap kerjanya sebagai komentator TV Perancis di Brazil, ia menghabiskan waktu dengan bermain sepakbola pantai dan makan malam bersama para mantan pesepakbola tenar. Reputasinya di sepakbola internasional cukup harum dan para pemain baik mantan maupun yang masih aktif merasa senang bisa berasosiasi dengannya. Pemain yang akan bergabung bisa melihat daftar pemain yang “dicetaknya”: Henry, Vieira, Van Persie (sayangnya), Fabregas dan menyimpulkan bahwa ia bisa berkembang di bawah asuhan Wenger. Reputasi Wenger bahkan mungkin melebihi reputasi Arsenal untuk pemain-pemain Eropa dan Amerika Latin tersebut.

Makan Es Krim bersama Mantan Bintang (Vieiri, Veron dan Fabio Cannavaro)

Sepakbola Pantai bersama Lizarazu, Wiltord, Karembeu, Diomede, Dacourt

Menjadi komentator TV sambil merekrut pemain sekelas Sanchez? Not bad, Monsieur Wenger. Sebelum pulang dari final nanti, bagaimana kalau tambah satu pemain lagi dari timnas Jerman, Boss? Agen 007 kita yang menyamar sebagai pundit bola rasanya akan kembali dengan sukses dari misinya di Brazil hari Senin nanti.

The name is Wenger, Arsene Wenger

Tentang Rumor Transfer dan Piala Dunia (2)

Artikel ini menyambung bagian pertama sebelumnya, hanya saja sebentar lagi yang namanya rumor itu akan jadi kenyataan. Dalam beberapa jam lagi Alexis Sanchez dan Mathieu Debuchy akan diumumkan sebagai duo pemain baru Arsenal. Kemungkinan besar bersamaan dengan launching kaos bola baru Arsenal yang disponsori PUMA malam ini 11 pm GMT atau 05.00 WIB besok pagi.

Terus terang  saya tak lagi gugup dengan jadi atau tidaknya transfer Sanchez yang kabarnya mencapai nilai 30-35 juta poundsterling, hanya kalah dengan nilai transfer fantastis Ozil sepanjang sejarah Arsenal. Kemampuan Arsenal membeli pemain di tahun 2014 ini telah diprediksi di seri blog Model Finansial Arsenal di blog saya yang lama. Di tiga tulisan Model Finansial Arsenal tersebut saya menulis:

Tahun 2014 akan memulai babak baru dari naik kelasnya Arsenal. (Model Finansial Arsenal Part 1)

Di tahun 2014, potensi kenaikan pendapatan komersil sebesar 50 juta per tahun dan terbebasnya Arsenal dari cicilan utang stadion sebesar 20 juta per tahun akan menambah budget belanja pemain Wenger sebesar 70 juta per tahun menjadi 225 juta per musim, setara dengan Man United dan Chelsea. (Model Finansial Arsenal Part 2)

…pembelian Özil meletakkan kembali Arsenal di jajaran klub elit dan kaya dunia. First tier club yang belanja dari klub first tier juga. (Model Finansial Arsenal Part 3)

Alih-alih belanja dari klub gurem, Arsenal sekarang belanja dari dua klub terkaya dunia: Real Madrid dan Barcelona, dua musim panas berturut-turut. Dan kita tidak membeli pemain mereka yang hampir pensiun, atau pemain cadangan, atau pemain buangan. Kita membeli pemain kedua terbaik mereka (Ozil setelah Ronaldo, Sanchez setelah Messi) dengan harga premium. Hal ini mustahil terjadi di kondisi normal. Klub yang tidak butuh uang seperti Madrid dan Barca tidak perlu menjual pemain-pemain terbaik mereka. Adanya kondisi khusus memungkinkan itu, yaitu kedua klub sedang ingin me-refresh starting line up mereka dengan membeli pemain yang dirasakan (ingat kata kuncinya: dirasakan!) lebih baik lagi: Bale dan Suarez. Sp*rs dan Liverpool memungkinkan kita membeli Ozil dan Sanchez, ironisnya.

You sold Bale, we signed Mesut Ozil, Mesut Ozil, Mesut Ozil.

You sold Suarez, we signed Alexis Sanchez, Alexis Sanchez, Alexis Sanchez.

Tidak perlu diragukan lagi Sanchez akan mengubah Arsenal dari mobil Kijang menjadi mobil Ferrari. Kecepatan, dribbling, akurasi tembakannya hampir setara dengan Suarez. Plus ia tidak punya masalah psikologis di lapangan. Barca terpaksa menjual Sanchez karena ketidakcocokannya dengan Messi, walaupun ia menjadi kontributor gol dan assist kedua terbanyak di Barca, setelah Messi tentunya. Sanchez bisa menjadi Suarez-nya Arsenal. Lagi-lagi versi yang tanpa rasisme dan gigitan di lapangan.

Sanchez dikabarkan sedang melakukan medical di Arsenal di saat tulisan ini sedang dibuat. Apakah ia akan diumumkan hari ini? Mari kita tunggu. Tidak udah khawatir. Transfer ini pasti terjadi.

Selain Sanchez, pemain yang juga dipastikan akan bergabung dengan Arsenal dalam hitungan jam adalah Mathieu Debuchy. Debuchy akan menggantikan Sagna, sebagaimana ia menggantikan posisi tetap Sagna di timnas Perancis. Terus terang nama Debuchy telah dikaitkan dengan Arsenal sebelum ia pindah ke Newcastle. Dari pantauan penampilannya di Piala Dunia, ia bukanlah bek sayap yang jelek. Ia lebih ofensif daripada Sagna walaupun soal pertahanan Sagna masih lebih baik. Semoga dengan usia yang masih 28 tahun, potensinya bisa lebih keluar saat bermain bersama Arsenal. Ia pasti akan mendapatkan posisi tetap di bek sayap kanan Arsenal musim ini.

Di luar Sanchez dan Debuchy, Arsenal masih mengincar satu DM dan kiper cadangan. Bahkan kabarnya Arsenal juga mencari bek tengah untuk menggantikan Vermaelen yang siap hengkang ke klubnya Van Gaal, mantan managernya di Ajax Amsterdam. Joel Campbell juga akan bergabung di pre-season dan punya kesempatan untuk dipertahankan di skuad utama. Rasanya kita akan mendapatkan lima hingga enam pemain baru musim ini. Musim yang lebih sibuk daripada musim lalu. Pertanyaaanya: apakah kita akan melepas pemain lama? Podolski, Cazorla dan Arteta menjadi beberapa pemain yang diberitakan diminati klub lain.

Final Piala Dunia

Tiga pemain Arsenal akhirnya lolos ke babak final Piala Dunia. Timnas Jerman rasanya tidak akan kesulitan menghadapi Argentina yang tampil buruk tadi pagi melawan Belanda. Menonton kedua tim bermain “taktik” ala Chelseanya Mourinho sungguh membosankan. Van Gaal yang dikabarkan jenius taktik merevolusi Total Football Belanda dengan memainkan formasi 6-3-1. Sungguh jenius bakal pelatih Manchester United ini.

Revolusi Total Football Van Gaal: 6-3-1

Terlepas daripada itu penampilan klub-klub semifinal selain Jerman memang mengecewakan. Mereka tampaknya lebih tak pantas masuk ke semifinal daripada tim-tim yang mereka kalahkan seperti: Colombia, Belgia, Costa Rica. Brazil memperlihatkan keterbatasannya tanpa Neymar dengan pembantaian 5-0 Jerman di babak pertama. Sebaliknya mesin diesel Jerman baru panas di babak semifinal setelah tampil baik di babak-babak sebelumnya namun minim gol. Dengan trend ini rasanya Argentina akan menjadi korban berikutnya mereka di final.

Mesut Ozil sangat vital bagi permainan Jerman walaupun pakar sepakbola yang matanya hanya mengikuti sorotan kamera tidak mampu menangkap gerakannya. Padahal setiap counter attack Jerman hampir selalu dimulai dengan gerakan Ozil. Ia memainkan posisi yang tidak umum baginya: penyerang sayap kiri atau kanan dengan amat baik. Kecepatannya bahkan terlihat di posisi ini. Hanya sayangnya peluang-peluang yang ia ciptakan masih gagal dimanfaatkan baik oleh Muller maupun Schurrle sementara peluang dari Kroos berbuah menjadi gol. Hanya itu saja bedanya Ozil dan Kroos. Dan karena Kroos bisa mencetak gol ala three pointer, Ozil jelas kalah dalam hal hasil akhir. Penciptaan peluang terbanyak Jerman tetap milik Ozil.

Mertesacker agak tergeser tempatnya oleh Hummels di dua pertandingan terakhir ini karena masalah kecepatan alasan Low. Melawan Messi di final, tampaknya tempatnya kembali akan diisi Hummels. Jerman tidak punya Koscielny yang mampu man marking Messi sehingga Mertesacker terpaksa dikorbankan, feeling saya.

Podolski sulit mendapatkan tempat di barisan depan Jerman yang penuh bintang. Pemain seperti Draxler pun hampir tidak pernah bermain. Schurrle yang sudah teruji dengan gol-golnya di turnamen ini akan mendampingi Muller di final nanti. Podolski semakin sulit menemukan tempatnya di timnas Jerman bila ia tak mampu mendapatkan tempat permanen di klubnya.

Setelah final nanti, kita akan mendapatkan tiga juara dunia baru. Tidak buruk untuk mental tim Arsenal.

Panas Dinginnya Rumor Transfer

Rumor soal beberapa pemain yang dibahas di blog bagian pertama setelah Piala Dunia ini langsung meredup. Benzema akan perpanjang kontraknya dengan Madrid dan Balotelli nilai jualnya menukik tajam akibat penampilan buruk setelah satu partai pertama. Balotelli seakan sulit mencari motivasi untuk mewujudkan penampilan terbaik dan ia juga gemar menyalahkan orang lain, faktor luar atas performa buruknya. “Why always me?” sepertinya adalah pertanyaan yang memang pantas dilontarkan pada dirinya sendiri. Ia mesti lebih sering berkaca daripada menyalahkan orang lain.

Serge Aurier juga mesti melupakan impiannya bermain bersama Arsenal dengan adanya Debuchy. Wenger tampaknya lebih ingin stabilitas di sisi kanan pertahanan mengingat di depannya akan bermain Walcott atau Sanchez. Aurier yang lebih ofensif mesti dilupakan untuk saat kini.

Bagaimana dengan Griezmann? Saya tidak melihat Arsenal akan mendekatinya tanpa menjual salah satu dari pemain sayap kita, Podolski atau Santi. Apakah itu perlu terjadi? Entahlah. Podolski dan Santi demikian penting tidak hanya soal teknikal tapi juga hal-hal non teknis di luar lapangan. Karakter mereka yang riang gembirang bisa menjadi penyatu tim dan keduanya adalah pemain favorit buat Gooners. Satu musim lagi untuk keduanya tidaklah berlebihan. Apalagi keduanya masih bisa memberikan assist dan goal untuk musim yang panjang, memperkuat squad depth sehingga tim tidak jatuh bebas di Februari atau Maret, seperti yang sudah-sudah.

Khedira menjadi pemain terakhir yang diisukan akan bergabung dengan Arsenal. Penampilannya di dua partai terakhir Jerman setelah Lahm digeser kembali ke bek kanan sangat baik. Bahkan Wenger memuji penampilan Khedira bersama Kroos dan Schweinsteiger di semifinal saat melawan Brazil, ketika ia bekerja sebagai salah satu komentator TV Perancis. Baru berusia 27 tahun, teman akrab Ozil, Khedira dapat menjadi pesaing dan pengganti Arteta musim ini. Rumor bahwa ia sudah mulai tidak betah di Madrid akan membantu terwujudnya transfer ketiga Arsenal musim ini. Opsi selain Khedira adalah Lars Bender dan Morgan Schneiderlin. Jika Arsenal berhasil menggaet salah satu dari tiga pemain tengah itu saja, maka lini tengah Arsenal akan menjadi jauh lebih kuat dan tidak mudah lagi dilewati pemain-pemain Chelsea, City dan Liverpool seperti musim lalu.

Jendela transfer masih panjang, hingga akhir Agustus nanti. Untuk sementara ini mari kita nikmati launching PUMA besok subuh, dan barangkali pengumuman transfer Sanchez dan Debuchy?

Tentang Rumor Transfer dan Piala Dunia (1)

Piala Dunia telah dimulai dan tim mana yang engkau dukung?

Kalau saya mudah: Arsenal. Tim nasional mana saja yang sedang bertanding bila ada pemain Arsenalnya maka itu yang didukung. Untuk saat ini masih mudah karena pemain-pemain Arsenal belum saling bertemu. Ada 11 pemain Arsenal yang mengikuti Piala Dunia ini. Sejauh ini hanya Inggris (Wilshere dan Chamberlain) dan Spanyol (Cazorla) yang gagal mendapatkan poin. Jerman (Ozil, Mertesacker, Podolski) menang, Perancis (Koscielny, Giroud) menang, Costa Rica (Campbell) menang mengejutkan, dan bahkan Swiss (Djourou) juga menang. Belgia (Vermaelen) belum bertanding.

Partai selanjutnya di babak penyisihan grup ketika Perancis bertemu Swiss dan Costa Rica ketemu Inggris baru hadirkan sedikit dilema. Tidak sulit juga sebenarnya. Tentunya lebih dukung Perancis mengingat Djourou statusnya belum jelas musim depan dan pegang Inggris mengingat Wilshere dan Chamberlain sosok penting di skuad tersebut dan di Arsenal walaupun saya akan sangat senang bila Campbell bisa mengejutkan kita untuk kedua kalinya. Harapannya semua tim yang beranggotakan pemain Arsenal dapat lolos ke babak knock out agar kita bisa lebih lama melihat mereka bermain.

Selain pemain Arsenal, yang menarik juga dalam mengikuti Piala Dunia ini adalah menyaksikan penampilan calon-calon pemain Arsenal yang mulai beredar rumor transfernya. Pemain-pemain seperti Griezmann, Benzema, Sanchez, Balotelli, Aurier, Khedira masuk dalam radar fans Arsenal karena kuatnya rumor yang beredar dan semuanya tampil sangat meyakinkan sejauh ini. Untungnya Wenger ada di Brasil menjadi komentator televisi. Tugas sampingan scouting final calon pemain baru Arsenal bisa dilakukannya dari jarak dekat. Fans Arsenal pasti bisa menerima bila satu-dua nama dari yang disebutkan tersebut bergabung dengan klubnya musim depan. Mereka memenuhi kriteria World Class dan posisi yang sedang dibutuhkan Arsenal, antara lain: Striker, Winger, DM dan Right Back. Selain empat posisi itu, kita masih butuh goalkeeper namun kualitas back up cukup untuk musim depan, tak perlu world class.

Scouting Seorang Armchair Fan

Hasil pantauan singkat sementara: Benzema, Griezmann dan Balotelli sangat menggiurkan. Terutama Benzema yang notabene berkontribusi di semua tiga gol Perancis ke kandang Honduras. Bila Wenger berhasil menariknya ke Arsenal, Giroud akan mendapatkan rival berat atau pendamping hebat (bila kita switch ke 4-4-2). Benzema terlihat lebih cepat dari Giroud dan tendangannya lebih akurat. Namun Giroud lebih unggul soal hold up play. Bila mereka mampu berkolaborasi dengan apik (dan rasanya akan bermain bersama di partai berikutnya), duet striker ini bisa saling melengkapi dan menakutkan.

Balotelli sedikit berbeda dari Benzema. Ia punya kualitas di udara yang mungkin sebanding dengan Bendtner (ya terpaksa disebut lagi pemain ini) namun juga punya kualitas tendangan sebaik Podolski dan Benzema. Ia juga punya kecepatan yang lebih daripada Benzema. Ia seperti versi sempurna dari Sanogo. Prospek menduetkannya dengan Giroud dan bermain one two di kotak penalti lawan juga tidak kalah menggiurkannya. Wenger mesti mendapatkan satu dari dua target ini setelah Piala Dunia. Klub pemilik tidak akan menjual kedua pemain ini sebelum Piala Dunia usai, untuk mendapatkan tambahan beberapa juta pounds. Fans Arsenal mesti bersabar soal transfer antara kedua striker ini. Untuk harga, Balotelli akan lebih murah daripada Benzema karena reputasinya yang sulit diatur. Namun secara kualitas, Balotelli punya potensi yang dahsyat yang mungkin bisa melebihi Benzema di puncaknya, bila ia mau diatur dan bisa dikendalikan oleh Wenger.

Griezmann dan Sanchez adalah tipikal winger idaman yang kita butuhkan musim yang lalu. Kita butuh outlet untuk Ozil dan keduanya bisa menjadi outlet tersebut. Keduanya cepat dan punya crossing yang bagus. Tidak heran beredar rumor kembalinya Cazorla ke Spanyol, bila Arsenal memang serius ingin membeli winger baru. Bila tidak, saya tidak melihat kemungkinan Cazorla dilepas karena baru saja tanda tangan kontrak baru. Namun tak bisa dipungkiri, Griezmann atau Sanchez adalah upgrade atas Cazorla yang mulai kesulitan menemukan posisi tetapnya musim lalu di Arsenal.

Serge Aurier, self proclaimed new Arsenal player ini sangat ingin menggantikan Sagna dan dua assist-nya sudah memberikan kesan pertama yang bagus. Namun ia juga terlihat sedikit rentan soal bertahan, kebalikan dari Sagna. Untuk yang satu ini rasanya penilaian mesti disimpan dulu hingga 2 partai berikutnya.

Untuk posisi DM, Khedira memenuhi syarat dan bukan rahasia lagi kalau ia kurang betah di Madrid dan adalah teman akrab Ozil. Selain Khedira, saya juga tertarik dengan penampilan Morgan Schneiderlin yang sayangnya belum tampil untuk Perancis. Ia tampil baik bersama Southampton, tapi bagaimana bila ia bermain dengan rekan-rekan World Class di pentas dunia? Schneiderlin bisa jadi alternatif yang lebih murah bagi Arsenal, lebih muda dan sudah pasti tak perlu lagi beradaptasi dengan kompetisi di Inggris.

The New Born Arsenal Star

Joel Campbell sang pembuat kejutan. Pemain yang dibeli di tahun 2011 namun selama 3 musim bermain di luar Inggris karena permasalahan izin kerja (akhirnya didapatkan tahun lalu) membuktikan kepercayaan Wenger saat membelinya dari Costa Rica. Tampil cemerlang dengan satu gol dan satu assist melawan klub juara ketiga Piala Dunia lalu, Uruguay bukan hal biasa. Ia sudah pasti kembali ke Arsenal musim ini dan masih punya kontrak 2 tahun. Ia akan menjadi bonus bagi Arsenal musim ini, bersaing dengan Yaya Sanogo dan calon striker baru Arsenal. Bila ia bisa tampil cemerlang lagi saat melawan Inggris, tak ragu lagi media di Inggris akan mengangkat bintang baru ini. Ia bisa membuktikan penampilan cemerlangnya melawan tim mediocre di Champions League musim lalu, Manchester United bukan kebetulan.

Selain daftar nama pemain di atas, siapa lagi yang menjadi perhatianmu? Silakan share di kolom komentar.

Mesut Ozil

Sedikit bahasan tentang  Ozil. Sekarang telah terungkap alasan Wenger menolak membeli kembali Cesc Fabregas. Dari mulutnya sendiri, Cesc mengatakan Wenger menolaknya karena posisinya telah diisi Ozil. Artinya Wenger tidak bisa mengakomodasi Cesc di tim Arsenal yang sekarang. Sangat masuk akal sesuai artikel sebelumnya. Tidak mungkin Cesc dibeli hanya untuk menjadi pemain skuad yang dirotasikan atau Ozil mesti digeser menjadi pemain sayap. Arsenal hanya butuh satu playmaker murni dan saat ini Wenger yakin posisi itu milik Ozil. Dalam pertandingan melawan Jerman kemarin, walaupun Ozil tidak menghasilkan gol namun gerakannya berkontribusi besar terhadap 2 gol pertama Jerman. Selain itu setiap Jerman melakukan counter attack, Ozil selalu menjadi pemain pertama di lini depan yang berperan utama. Ozil berlari dengan cepat, mendapatkan bola dan mengirim ke depan dengan operan kilat. Bila Arsenal mendapatkan striker atau winger yang cepat, berpotensi menjadi tim counter attack yang mematikan seperti era Invincibles. Ini adalah kualitas Ozil yang sedikit berbeda dengan Cesc karena ia juga punya kecepatan dan nyaman bergerak menyusuri sisi samping lapangan. Ini dapat menjadi gaya sepakbola Arsenal musim ini.

Keraguan fans Arsenal terhadap Ozil mestinya dapat dihapuskan di Piala Dunia ini. Silakan tanya Mourinho apakah ia mau menukar Ozil dengan Cesc? Saya mulai sedikit curiga Mourinho ingin membeli Cesc agar memancing Wenger untuk mengaktifkan buyback clause sehingga budget kita yang terbatas itu habis untuk Cesc daripada pemain depan. Aksi itu sekaligus untuk membuat gusar Ozil karena hadirnya pemain hebat lain di posisinya di Arsenal dan Chelsea menjadi lebih mudah meminangnya. Sayangnya Wenger cerdik dan dapat membaca gerakan licik Mourinho itu dan tidak terjebak. Hehe tentunya ini hanya spekulasi iseng, tapi paling tidak ini teori yang menyenangkan bukan? Agak membingungkan juga mengapa Mourinho membeli Cesc ketika ia menjual Mata paruh musim lalu yang notabene posisinya hampir sama.

Hapuskan Keraguan

Bila masih ragu dengan niat belanja Arsenal, bacalah komentar Draxler yang baru saja mengakui bahwa Arsenal memang mengajukan penawaran untuk membelinya di bulan Januari lalu namun masih ditolaknya. Itu adalah bukti ambisi Arsenal untuk membeli striker baru. Mungkin saja penawaran Arsenal masih di bawah permintaan Schalke, namun paling tidak budget untuk striker baru itu memang ada sejak Januari. Saya yakin Wenger masih punya budget tersebut dan akan ditambah tambahan dana baru dari sponsor Puma dan Emirates yang dimulai musim ini. Wenger tahu persis kekurangan Arsenal dibanding 3 tim top lainnya adalah striker top dan itu mesti menjadi prioritasnya di jendela transfer ini. Untuk itulah ia menolak membelanjakan 30 juta pounds untuk Cesc dan menyimpannya untuk striker di kisaran nilai tersebut. Permasalahannya hanyalah menemukan kesepakatan dengan klub yang mau menjual striker topnya.

Untuk hal itu terjadi, butuh reaksi berantai dari beberapa peristiwa (seperti kasus Ozil) karena sangat-sangat jarang sebuah klub kaya mau menjual striker kelas dunia. Mari kita bersabar menunggu kejutan sambil menyaksikan penampilan calon-calon pemain Arsenal tersebut di Piala Dunia. Sambil berkhayal tentang mereka berkostum merah-putih di musim baru nanti. Bahan untuk ngayal: Balotelli atau Benzema? 😀

Adios Bac, Cesc…

Selamat jalan Bacary Sagna. Best right back we’ve ever had. Pamitan Bac terkesan berkelas dengan posting tulus yang personal di Instagram (komplet dengan typo), tidak seperti surat terbuka yang direview dan diedit secara legal oleh lawyer ala Van Persie. Bac berkelas, dan memberikan salam terakhir serta ungkapan terima kasihnya kepada fans Arsenal, kepada Wenger, dari hatinya yang terdalam. Perasaan yang emosional darinya dapat kita rasakan ketika membaca pesan tersebut.

Perpisahan dengan Sagna ini sudah diprediksi. Ia menolak memperpanjang kontrak karena Arsenal tak dapat menyamai penawaran dari City. Hal ini dapat dimengerti. Sagna mungkin hanya punya 2-3 tahun tersisa untuk karir sepakbolanya di level elit, dan Arsenal tidak ingin memecahkan plafon gaji pemainnya dengan membayar Sagna dengan gaji mendekati level Ozil lalu tetap harus mencari penggantinya di 1-2 musim berikutnya. City berbeda kelas soal budget pemain. Walau dijatuhi denda oleh UEFA, mereka sanggup membayar Sagna berapapun yang ia mau. Sagna bisa mendapatkan bayaran besar untuk fase terakhir dari karirnya. Ia mesti memikirkan pensiunnya. Kita paham, dan kita merelakan Sagna yang selama ini tak pernah kurang dari 100% membela Arsenal.

Mengganti Sagna bukan pekerjaan mudah. Jenkinson rasanya belum sanggup menggantikan peran Sagna yang solid di belakang dan selalu menjadi outlet saat menyerang. Beberapa musim terakhir ini Sagna mengubah pola serangan Arsenal yang umumnya lebih berat ke kiri menjadi berat ke kanan. Jenkinson tidak memiliki positional awareness, dan kemampuan bertahan selevel Sagna walaupun crossing-nya mungkin lebih baik. Tidak heran rumor seputar calon RB baru Arsenal lebih kencang daripada posisi lainnya. Siapapun yang didapatkan Wenger nanti, ia punya pekerjaan rumah berat untuk menggantikan legenda Arsenal, Bacary Sagna.

The King is Dead, Long Live the King! 

Selain Sagna, hari ini juga saatnya fans Arsenal mengucapkan Adios untuk Cesc Fabregas. Walaupun ia bukan pemain Arsenal sebelum bergabung dengan the dark side of London, Cesc selalu dianggap sebagai seorang Gooner dan Arsenal adalah rumah keduanya setelah Barca. Yang membantu memunculkan persepsi ini adalah diselipkannya klausul buyback (lebih tepatnya first refusal option, bisa buyback kalau Barca berkenan) di kontrak Cesc Fabregas saat ia pindah ke Barca. Mungkin Wenger sudah memprediksi Cesc tak akan lama di Barca dan akan kembali lagi ke London suatu hari nanti. Sayangnya kepulangannya saat ini tidak di saat yang tepat. Arsenal menolak menggunakan klausul itu dan membiarkan Chelsea membelinya. Fans Arsenal mungkin perlu bersimpati kepada Cesc, ia ditolak dua klub yang mungkin benar-benar dicintainya saat ini, Barca dan Arsenal. Pilihannya kepada Chelsea mungkin mirip dengan pilihan saya kepada capres Pemilu nanti, milih lesser evil, bukan memilih the worshiped, loved one karena pilihan tersebut tidak tersedia.

Fans Arsenal mungkin perlu bersimpati kepada Cesc, ia ditolak dua klub yang mungkin benar-benar dicintainya saat ini, Barca dan Arsenal

Sekarang mari kita mengenang masanya Cesc di Arsenal agar perpisahan ini paripurna. Setelah kepergian Thierry Henry, Fabregas mestinya menjadi Raja Baru Arsenal. Putera Mahkota, Pangeran Arsenal yang menjadi pusat permainan Arsenal ini hanya berhasil “nyaris” memberikan Arsenal trofi di musim 2007/2008 (memimpin di perburuan gelar juara liga) dan 2010/2011 . Walau minim gelar, semua fans Arsenal tahu betapa vitalnya Cesc dalam sepakbola Arsenal pasca Invincibles, pasca bubarnya The Three Musketeers (Henry, Vieira, Pires) dan pasca “pensiunnya” God Bergkamp. Wenger bahkan mengubah formasi 4-2-2 Arsenal ke 4-3-3, menjual Vieira ke Juventus, demi mengakomodasi Fabregas sebagai pusat sepakbola Arsenal. Wenger membelinya di usia 16 tahun, memainkannya di usia 17 tahun, dan terpaksa merelakannya kembali ke “kampung”-nya di usia 24 tahun, usia menuju puncaknya seorang pemain tengah. Sesungguhnya Wenger tidak rela sepenuhnya melepas Cesc, terbukti dengan masih sempatnya ia menyelipkan klausal “first refusal” ke kontrak transfer Cesc ke Barca. Klausal yang memungkinkan Arsenal membeli kembali Cesc dengan harga lebih murah dari harga jual aslinya bila Barca berniat menjualnya dan menerima tawaran dari klub lain.

Klausul ini pula yang sekarang menjadi sorotan utama di jendela transfer ini karena tersebar kabar Barca ingin menjualnya dan merenovasi susunan pemain di bawah manager baru mereka. Cesc menjadi bagian dari daftar surplus tersebut. Ironis mengingat Barca demikian susah payah mengambilnya dari Arsenal 3 tahun lalu. Cesc yang diprediksi menjadi pengganti Xavi malah duluan ditendang dari Barcelona daripada Song. Cesc yang dikatakan memiliki DNA Barca tidak pernah menjadi pusat di Barcelona. Ia mungkin bergabung di saat yang kurang tepat. Tiga pelatih berbeda di tiga musimnya bersama Barca dan tidak satupun benar-benar memahami posisi terbaiknya. Hanya Wenger yang mengerti betul bagaimana mengoptimalkan kemampuannya. Cesc bukan false nine, bukan pula second striker. Ia mestinya menjadi conductor di lapangan tengah. Di Arsenal ia memainkan peran ini dengan sangat baik, walaupun hanya ditemani pemain sekelas Denilson dan Diaby, atau Song. Bayangkan bila ia ditemani pemain sekelas Arteta saat itu. Cesc tidak pernah memiliki kesempatan bermain dengan pemain berpengalaman seperti Arteta di masa puncaknya. Ia mesti sendirian mengemban beban playmaker sekaligus beban sebagai kapten Arsenal. Ia pergi di saat Mertesacker, Arteta, pemain-pemain dengan jiwa leadership bergabung. Soal karir di sepakbola, Cesc mungkin termasuk pemain yang sial, tidak memiliki timing yang tepat, baik di Arsenal maupun di Barca.

Tiga pelatih berbeda di tiga musimnya bersama Barca dan tidak satupun yang benar-benar memahami posisi terbaiknya

Dan sekarang ia terpaksa bergabung dengan Chelsea, karena pacar dan bayinya tinggal di London.

Cesc tidak pernah benar-benar menjadi Raja di Arsenal. Henry, Bergkamp, Vieira, Adams adalah Raja di masa jayanya mereka. Semua menghantarkan trofi di puncak karir mereka. Semua menjadi pusat permainan Arsenal di karir mereka. Cesc menjadi pusat, namun tanpa trofi. Tim Arsenal yang saat ini sudah lebih beruntung daripadanya. Ramsey yang menjadi pusat permainan Arsenal musim ini, walaupun tidak sevital Cesc, berhasil mengantarkan trofi FA Cup. Tentunya Ramsey lebih beruntung. Ia memiliki Ozil, Cazorla, Arteta, Mertesacker, Koscielny bahkan Giroud di sekitarnya. Pemain-pemain matang yang di era Cesc sangat langka. Ramsey belum menjadi Raja, paling tidak belum untuk musim ini. Perebutan gelar Raja Arsenal baru untuk musim depan mungkin akan terjadi antara ia dan Ozil, atau dengan pemain baru Arsenal nantinya.

Kayanya pemain tengah ofensif di Arsenal saat ini menjadi satu-satunya alasan Arsenal menolak Cesc. Kita baru saja membeli Ozil dengan rekor transfer 42 juta pounds musim lalu. Ramsey, Wilshere dan Chamberlain sedang memperebutkan satu posisi di CM dan posisi DM sendiri akan diperebutkan Arteta, Flamini dan bakal pemain baru. Tentunya Cesc tidak kalah bagus dengan semua pemain tersebut. Namun saat ini dana sebesar 30 juta pounds lebih baik digunakan Arsenal untuk membeli pemain di posisi yang dibutuhkan: Striker, DM, RB daripada membeli tambahan pemain yang tidak akan mengubah banyak kualitas tim, karena posisi lini tengah yang sudah cukup berkualitas. Misalkan dana 30 juta pounds itu digunakan untuk membeli pemain sekelas Javi Martinez misalnya, kualitas tim akan jauh berubah. Atau untuk striker sekelas Benzema, Balotelli, Arsenal akan menjadi tim yang jauh lebih menakutkan. Membeli Cesc seperti menukar mobil Panther dengan Kijang, sedangkan membeli seorang striker atau DM baru seperti mengganti mobil Panther tersebut dengan mobil SUV 3000 cc yang baru.

Namun saat ini dana sebesar 30 juta pounds lebih baik digunakan Arsenal untuk membeli pemain di posisi yang dibutuhkan: Striker, DM, RB daripada membeli tambahan pemain yang tidak akan mengubah banyak kualitas tim, karena posisi lini tengah yang sudah cukup berkualitas.

Dengan bergabungnya Cesc ke Chelsea, fans Arsenal bisa menutup satu babak tentang pemain favorit mereka yang satu ini. Hilang sudah klausul buyback tersebut, hilang sudah pintu kembali untuk Cesc, paling tidak sebagai seorang pemain bola (ia sangat mungkin menjadi manager yang baik). Saya pribadi memiliki ikatan emosional yang cukup dalam terhadap Cesc. Meneteskan air mata ketika ia memilih kembali ke Barca dan memprediksi masa sulit Arsenal setelah ditinggalkannya. Cesc bagi saya adalah pemain sekelas Bergkamp, Henry, Vieira dan Pires. Di usia yang sangat muda, ia sudah jauh meninggalkan rekan-rekan angkatannya. Golnya di Milan dan pelukannya kepada Wenger saat itu tak mungkin terlupakan. Saat ia memimpin comeback melawan Barca di Emirates. Saat ia grogi dan akhirnya melakukan kesalahan di Nou Camp dan kita harus kalah. Saat ia mengumpan tanpa melihat, dengan ujung kaki, samping kaki, atau bahkan dengan tumit kaki, matanya seakan ada di semua bagian kakinya. Cesc the football quarterback, the master of time and space. Tidak ada conductor Arsenal yang se-influential dirinya, baik di masa lampau maupun di masa kini.

Cesc mungkin termasuk pemain yang sial, tidak memiliki timing yang tepat, baik di Arsenal maupun di Barca

Mungkin kembali ke Barca adalah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan di dalam hidupnya. Kita selalu mengerti dan memaafkannya, menyimpan harapan untuk ia kembali suatu hari nanti, sebagai pemain Arsenal. Namun pertimbangan logis mengenai masa depan Arsenal dan komposisi skuad Arsenal saat ini mengharuskan kita mengabaikan perasaan emosional ini. Bergabungnya ia dengan Mourinho, specialist in failure, akan memudahkan kita memutuskan ikatan emosional ini. Cesc bukan lagi calon legenda Arsenal. Ia hanyalah seorang pemain yang pernah bermain di Arsenal dan ia sekarang bermain untuk tim musuh. Ia telah mati di memory saya, sebagai pemain Arsenal.

The King is Dead… Adios Cesc Fabregas!

Winning FA Cup The Arsenal Way

Menang FA Cup dengan Jalan Arsenal

Arsenal 3-2 Hull City

Cazorla (17), Koscielny (72), Ramsey (109) – Chester (3), Davies (9)

Arsenal, The 2014 FA Cup Winner

Arsenal, The 2014 FA Cup Winner

Begini rupanya cara mengakhiri puasa gelar hampir 9 musim. Trofi terakhir yang diraih Arsenal di Highbury adalah FA Cup (tahun 2005) dan sudah sepantasnya pula trofi pertama Arsenal di Emirates Stadium adalah FA Cup. FA Cup sebagai pembuka dan penutup sebuah babak, babak kering gelar di mana Arsenal mesti mengencangkan ikat pinggang, mesti membangun dan membayar stadion baru sambil berkompetisi dengan klub-klub sugar daddy dengan budget tak terbatas yang masuk ke liga Inggris 9 tahun belakangan ini (silakan baca artikel Model Finansial Arsenal).

Siapapun yang menulis “skenario” final FA Cup malam itu mesti diacungi jempol. Tidak ada cara yang lebih dramatis untuk mengakhiri puasa gelar ini daripada apa yang terjadi malam itu. Tertinggal 2 gol di 10 menit pertama, comeback Arsenal yang mencetak 3 gol di 110 menit sisanya membuat pertandingan tersebut menjadi pertandingan final FA Cup yang paling menarik dalam satu dekade ini. Wenger telah mendapatkan lima trofi FA Cup, namun trofi kelima ini saya yakin akan menjadi trofi yang paling dikenang fans Arsenal. Nilai historis dan dramatisnya pertandingan itu mungkin setara dengan kemenangan 14 kali beruntun Arsenal di musim 97/98 yang menyalip Manchester United dalam perburuan gelar juara liga. Atau 2 gol Michael Thomas di tahun 1989 di Anfield yang mengakhiri puasa gelar juara liga Arsenal selama 18 tahun! Bayangkan bila Arsenal menang mudah 3-0 atas Hull City di final kemarin. Fans Arsenal akan gembira karena mengakhiri puasa gelar namun rasanya mereka juga akan cepat melupakan pertandingan final ini. Yang diingat mungkin hanya momen saat para pemain dan manajer akhirnya mengangkat trofi FA Cup.

Winning FA Cup The Arsenal Way

The Arsenal Way di sini artinya jalan berliku untuk sukses, tanpa jalan pintas dan dilalui langkah demi langkah, dengan sumber daya sendiri. We earned the trophy, not buying it. Walaupun Hull City juga pantas meraih FA Cup ini, Arsenal berjuang keras untuk comeback dari ketertinggalan 0-2 dan memetik buah perjuangan keras itu. Arsenal memang melakukan transfer besar dengan membeli Ozil musim ini, namun itu adalah hasil “tabungan” dan kesabaran selama 8 tahun. Selain Ozil, skuad Arsenal terdiri dari pemain-pemain yang direkrut sejak muda atau murah (kisaran 10 juta pounds). Arsenal mencetak bintang, bukan membeli bintang layaknya klub-klub sugar daddy. Sanogo dan Ramsey yang direkrut sejak muda (dan cukup murah) menjadi kunci kemenangan malam ini. Dilengkapi dengan Santi Cazorla, Koscielny dan Giroud yang dibeli dengan harga hanya belasan juta pounds, mereka tampil lebih baik daripada Ozil, sang bintang mahal yang tampil kurang prima malam itu. Harga transfer pemain tidak serta merta menjadi ukuran kualitas pemain, apalagi di klub yang terkenal dengan filosofi mencetak bintangnya ini.

Skenario final FA Cup ini makin sempurna ketika pemain terbaik Arsenal musim ini, Aaron Ramsey, menjadi pencetak gol terakhir penentu kemenangan. Filosofi Arsenal yang dibangun Wenger terwujud dalam diri Ramsey. Direkrut saat berusia 17 tahun, dididik dengan Wengerball, mengalami cedera panjang, rehabilitasi dan kembali bermain, diragukan banyak orang termasuk fans Arsenal sendiri namun tidak oleh Sang Manager, dan akhirnya membayar kepercayaan managernya dengan performa konsisten yang mengejutkan semua orang. Kisah Aaron Ramsey seakan seperti kisah Gospel tentang create, fall, redemption and restoration. Dalam rentang waktu yang lebih lama, analogi serupa dapat kita temui dalam sosok Arsene Wenger selama membangun “kerajaan”-nya di Arsenal: mengangkat level harapan semua fans Arsenal (create), menjadi korban kesuksesannya sendiri, dikritik karena 8 musim tanpa gelar, ditinggal pemain-pemain terbaiknya (fall), terpaksa membongkar dan membangun ulang tim karena budget terbatas, dan akhirnya menjawab kritik malam itu dengan trofi FA Cup kelimanya (45% dari 11 trofi FA Cup sepanjang sejarah Arsenal) (redemption). Hanya Ferguson yang menyamai rekor jumlah trofi FA Cup tersebut dan Wenger berkesempatan memecahkan rekor tersebut dalam tiga tahun kontrak barunya yang akan ditandatangani dalam beberapa hari ke depan.

Kisah Aaron Ramsey seakan seperti kisah Gospel tentang create, fall, redemption and restoration

Kemenangan ini tidaklah mudah. Namun tidak ada final FA Cup yang mudah dalam satu dekade belakangan ini. Berikut adalah hasil 10 final FA Cup terakhir:

2004–05 Arsenal 0–0 dagger Manchester United Millennium Stadium 71,876
2005–06 Liverpool 3–3 dagger West Ham United Millennium Stadium 71,140
2006–07 Chelsea 1–0 * Manchester United Wembley Stadium (new) 89,826
2007–08 Portsmouth 1–0 Cardiff City Wembley Stadium (new) 89,874
2008–09 Chelsea 2–1 Everton Wembley Stadium (new) 89,391
2009–10 Chelsea double-dagger 1–0 Portsmouth Wembley Stadium (new) 88,335
2010–11 Manchester City 1–0 Stoke City Wembley Stadium (new) 88,643
2011–12 Chelsea 2–1 Liverpool Wembley Stadium (new) 89,041
2012–13 Wigan Athletic 1–0 Manchester City Wembley Stadium (new) 86,254
2013–14 Arsenal 3–2 * Hull City Wembley Stadium (new) 89,345

Bila ada yang bertaruh Arsenal akan menang lebih dari dua gol malam itu, pasti ia tidak membaca statistik di atas

Dua final dimenangkan lewat adu penalti dan dua lainnya dengan gol di extra time. Sisanya (6 final) adalah kemenangan dengan selisih hanya satu gol. Bila ada yang bertaruh Arsenal akan menang lebih dari dua gol malam itu, pasti ia tidak membaca statistik di atas.

FA Cup adalah turnamen tertua di dunia dan tidak kehilangan daya magis-nya hingga sekarang. Walaupun Wenger menempatkan FA Cup sebagai prioritas ketiga setiap musimnya (setelah Premier League dan Champions League), tidak berarti hal yang mudah untuk mencapai final dan memenanginya. Arsenal mengalahkan Tottenham, Liverpool, Everton dan Wigan (juara bertahan yang mengalahkan City) dalam perjalanan menuju final FA Cup kali ini. Kemenangan lewat adu penalti di semifinal lawan Wigan seakan menjadi preview final malam ini, dan pertandingan sulit kembali terulang. Tekanan ancaman 9 musim tanpa gelar dan ketertinggalan 2 gol di awal menjadi ujian berat bagi pemain, manager dan fans Arsenal malam itu. Namun akhirnya, hasil manis bisa kita petik, buah kesabaran dan keyakinan pada semboyan: Victoria Concordia Crescit. Keharmonisan antara fans, manager dan pemain akhirnya membuahkan kemenangan. A team of losers bertransformasi menjadi a team of winners.

Hanya Ferguson yang menyamai rekor jumlah trofi FA Cup tersebut dan Wenger berkesempatan memecahkan rekor tersebut dalam tiga tahun kontrak barunya…

Nobar AIS Jabodetabek

Momen historik itu saya saksikan di acara nobar bersama AIS Jabodetabek, acara yang diselenggarakan bersama beberapa klub supporter Arsenal regional wilayah Jabodetabek. Bertempat di Flavor Bliss Alam Sutera, Serpong, yang hanya 15 menitan dari rumah, saya tiba di lokasi sekitar jam 9 malam. Karena sebelumnya sudah membuat janji dengan boss AIS, Rawindraditya, dan dengan Wimar Witoelar, begitu sampai lokasi saya langsung mencari beliau berdua. Ratusan muda-mudi dalam kostum Arsenal sudah memenuhi lokasi. Beberapa layar lebar juga telah dipasang di panggung utama. Singkat kata, saya ketemu Wimar di salah satu resto di Flavor Bliss, dan bersama Liya dan Jason (warga Perancis fans Chelsea yang malam itu berkostum Arsenal) kami menuju lokasi nobar.

Ribuan Gooners di lokasi Nobar

Ribuan Gooners di lokasi Nobar

Windra sudah menyiapkan tempat di dekat panggung dan kami diundang untuk talkshow singkat di depan panggung sebelum pertandingan dimulai, tentang Arsenal tentunya. Bergabung dengan saya dan Wimar kemudian adalah Antony Sutton (Londoner yang juga wartawan sepakbola @JakartaCasual), Vincent Rompies (artis serba bisa fans Arsenal) dan Edwin Setyadinata (presenter bola yang juga mantan ketua AIS). Kami berempat ditanyai hal-hal seputar Arsenal. Semua narasumber optimis dengan kemenangan Arsenal malam itu, tentunya karena kami belum mengintip “skenario”-nya. Beberapa quote menarik yang bisa saya ingat dari para narasumber malam itu:

  • Wimar: “David Moyes sebenarnya cocok menangani MU. Ia bisa membawa MU stabil dan konsisten… di peringkat ketujuh.”
  • Wimar: “Momen paling bahagia musim ini… Nasri tidak terpanggil ke timnas Perancis.”
  • Vincent: “Kalau gue ikut nobar di WBH (Warung Bang Hoody), Arsenal selalu kalah. Karena sekarang bukan di WBH, gue mau ikut.”
  • Antony: “People in Asia usually support clubs like Man United, Liverpool, and lately Chelsea and City because of their success in winning trophies. Arsenal haven’t got any trophies in eight years yet the followers in Indonesia keep growing like this. Amazing.”
  • Benhan: “Delapan tahun tanpa trofi dan AIS malah tumbuh berkembang seperti sekarang. Di sini tidak ada plastic fans, karena plastic fans tidak akan mendukung tim tanpa trofi. Di sini semua real fans. Luar biasa kerja jaringan AIS.”
  • Edwin: “Dulu di tahun 2005 kami mengadakan nobar Arsenal paling hanya 15-20 orang yang ikut. Ini nobar terbesar dengan peserta terbanyak (3000 orang lebih) yang pernah saya ikuti.”
Talkshow AIS

Talkshow AIS

View Penonton dari Panggung

View Penonton dari Panggung

Usai talkshow, AIS merayakan ulang tahun kesebelasnya. Dilanjutkan dengan menyanyikan chant-chant ala Arsenal.

And it’s Arsenal, 
Arsenal FC, 
We’re by far the greatest team, 
The world has ever seen….

She wore, She wore,
She wore a yellow ribbon, 
She wore a yellow ribbon in the merry month of May,
And when, I asked, Oh why she wore that ribbon,
She said its for the Arsenal and we’re going to Wembley, Wembley, Wembley,
We’re the famous Arsenal and we’re going Wembley.

dan masih banyak lagi chant lainnya. Tidak lupa tentunya Windra memimpin chant wajib: “What do you think of Tottenham?” Serentak semua menjawab, “Shit!”

Rollercoaster 120 menit

Pertandingan dimulai dan saya kebetulan duduk bersama Wimar, Vincent dan Edwin. Sepanjang pertandingan kami sempat ngobrol dan “stress” bersama. Awal-awal chant non stop dari Gooners membahana di lokasi nobar. Baru berjalan tiga menit, kami terdiam karena gol dari Hull City datang tak terduga. Enam menit kemudian gol kedua dari Hull City kembali masuk. Bila gol pertama murni lahir dari keterkejutan Arsenal karena tendangan Huddlestone yang dibelokkan Chester, gol kedua mereka memiliki kontribusi kesalahan dari Fabianski yang gagal menepis bola ke luar lapangan. Tak pelak terlintas pemikiran bahwa Wenger salah memilih memasang Fabianski daripada Szczesny. Gol ketiga hampir terjadi bila Gibbs tidak berhasil menghalau bola sundulan yang mengarah ke gawang. Fabianski terlihat ragu menyambut bola-bola crossing Hull City sebaliknya mereka terlihat sudah latihan set pieces dengan sangat baik dan menggunakannya sebagai senjata anti-Arsenal di final ini. Arsenal terlihat seperti klub amatir melawan klub profesional di awal pertandingan ini.

Chant dari fans Arsenal menurun intensitasnya. Para Gooner di Flavor Bliss memegang kepalanya, terkejut dan tidak menyangka kebobolan 2 gol awal. Prospek trofi di depan mata memudar. Saya sendiri speechless seakan tidak percaya, masak kegagalan Carling Cup 2011 mesti terjadi lagi?! Final yang dirasakan akan berjalan mudah karena Hull City pernah dikalahkan 0-3 di kandang mereka sendiri oleh Arsenal beberapa minggu sebelumnya tiba-tiba menjadi seperti neraka. Beberapa fans Arsenal di lokasi nobar masih setia menyanyikan lagu-lagu penyemangat namun sebagian besar terdiam, terpaku, terpana, tak percaya dengan pemandangan skor di layar.

Arsenal mulai menyerang namun masih gagal melahirkan peluang bersih. Gooners menunggu-nunggu gol balasan yang tak kunjung datang. Saya berkata kepada Wimar bahwa minimal kita butuh satu gol di babak pertama untuk punya peluang menang. Santi Cazorla yang akhirnya menjawabnya. Gol dari tendangan bebas langsung yang langka terjadi musim ini, kali ini dieksekusi dengan indahnya. Serentak semua Gooner berdiri dari tempat duduknya, berteriak sambil melompat-lompat. Skor 2-1 di babak pertama memberikan harapan untuk comeback.

Bersama Wimar

 

Di babak kedua Arsenal lebih mendominasi namun beberapa peluang tidak berhasil diselesaikan Giroud, Podolski dan Ozil. Peluang penalti yang jelas juga diabaikan wasit. Hull City bertahan dengan baik. Kami mulai berpikir ini bukan harinya Arsenal. Saya berujar bahwa menjadi seorang Gooner memang cobaannya berat. Peluang mengakhiri puasa 8 musim tanpa gelar sudah di depan mata, namun tidak diambil-ambil juga. Istilah Vincent, seperti lagi puasa, terus melihat orang lain sudah pada buka puasa duluan, sambil minum es dengan nikmat di depan mata kita, dan kita masih harus menahan diri untuk buka puasa. “Arsenal like to do things the hard way”, kata Antony. Wimar mengatakan tak ada orang di dunia ini yang tahu skor pertandingan ini 30 menit ke depan. Sepakbola sungguh sulit ditebak. Wimar pasti belum membaca “skenario”-nya. 🙂

Wenger bertindak sigap menggantikan Podolski dengan Sanogo di menit ke-60. Tidak seperti biasanya, ia bergerak 10 menit lebih awal. Podolski yang tidak efektif digantikan Sanogo yang menurut saya keputusan tepat. Sanogo akan mengganggu konsentrasi pemain bertahan Hull City karena ia lebih nyaman bergerak di kotak penalti lawan daripada Podolski. Ada beberapa fans Arsenal yang terdengar mencemooh keputusan itu karena Sanogo belum pernah mencetak gol sekalipun dalam karirnya bersama Arsenal. Mereka jelas salah. Begitu Sanogo masuk, permainan Arsenal berubah. Lini tengah seakan menemukan outletnya. Ia membantu pergerakan Giroud karena dengan formasi 4-4-2 Arsenal sekarang memiliki 2 striker yang perlu diawasi. Corner kick yang menghasilkan gol Koscielny juga terjadi karena usaha tembakan Sanogo. Gol kedua Arsenal ini serentak membuat arena nobar meriah dengan flare, seruan, teriakan, pelukan, high-five 3000-an Gooner.

Flare Saat Gol Terjadi

Kemeriahan Saat Gol Terjadi

Babak kedua hampir usai, dan Wenger belum memasukkan Rosicky ataupun Wilshere. Saya saat itu menduga ia menyimpan mereka untuk extra time, menunggu pemain-pemain Hull City kehabisan stamina. Namun sulit untuk sabar menunggu kali ini. “Kalau sampai jadi adu penalti, saya tak yakin jantung ini kuat menontonnya”, ujar saya ke Wimar. Bukan Wenger namanya kalau tidak keras kepala, yakin dan sabar menunggu. Akhirnya ia melepaskan dua senjata terakhirnya di awal babak kedua extra time. Keputusan tepat karena kedua pemain enerjik ini mengoyak-ngoyak pertahanan Hull City. Ramsey mendapatkan beberapa peluang dan langsung menembak namun semuanya off target. Kami mulai mencela Ramsey, wah egois, wah bukan harinya, terlalu ngotot, dan lain-lain. Namun kengototan itu pula yang ternyata berbuah hasil. Einstein berkata, melakukan sesuatu yang tidak berhasil secara berulang-ulang adalah kebodohan. Ternyata pepatah itu tidak selalu benar. Bila gol pertama dan kedua Arsenal berasal dari set pieces, maka gol ketiga ini adalah gol sempurna Wengerball. Berawal dari Arteta ke Wilshere yang kemudian mengoper bola ke kotak penalti ke kaki Sanogo, dengan dua sentuhan Sanogo mengopernya ke Giroud dan kedua pemain ini bergerak ke arah berlawanan yang membuka pertahanan Hull City. Ramsey masuk ke kotak penalti dan Giroud yang mendengar seruannya melakukan back heel pass cantik. Tendangan first time dari Ramsey dan gol pun tercipta. Wengerball diselesaikan dengan manis oleh Wenger’s Man, pemain yang ia rayu secara pribadi dan renggut dari cengkeraman Ferguson, yang ia bina, pupuk, terus dimainkan saat semua orang di dunia berpendapat sebaliknya. Aaron Ramsey, nama yang tahun lalu masih dicemooh sebagian fans Arsenal, hari ini menjadi pahlawan Arsenal, legenda Arsenal karena apapun prestasinya setelah ini, ia akan tercatat dalam sejarah Arsenal sebagaimana Michael Thomas yang melesakkan dua gol di Anfield tahun 1989. Demikian pentingnya gol yang ia ciptakan malam itu dalam sejarah Arsenal. Puasa gelar hampir 9 tahun itu akhirnya berakhir. Aaron Ramsey adalah sosok pembukanya. Sosok pengakhir “kutukan” Emirates Stadium.

Sejak gol ketiga Arsenal itu tercipta, semua Gooner serentak berdiri dan tak ingin lagi duduk. Windra dan rekan-rekan pengurus AIS naik ke panggung dan memimpin chant dengan microphone. Kami terus bernyanyi tak henti-henti. Sepuluh menit tersisa terasa lama namun semua Gooner penuh percaya diri akan memenangkan pertandingan ini. Tak ada lagi keraguan. Skenario ini demikian sempurna. Tertinggal 0-2 dan melakukan comeback 3-2 dengan pemain terbaik Arsenal mencetak gol penentuan, di extra time. Tidak ada skenario yang lebih baik lagi. Arsenal ditakdirkan menjadi juara FA Cup 2014 dengan cara dramatis ini.

Peluit panjang berbunyi dan Gooner berpelukan, high-five dan larut dalam suka cita. Mungkin ada sebagian yang meneteskan air mata. Saya mengantarkan Wimar dan kawan-kawan ke parkiran dahulu dan menyempatkan diri kembali sejenak untuk melihat momen pengangkatan trofi oleh Wenger dan para pemainnya. Sayangnya, tidak semua momen tersebut ditayangkan beinSport.

One Arsene Wenger

Keesokan harinya foto-foto selebrasi Arsenal mulai muncul di media. Rasa haru memenuhi dada ini ketika melihat Wenger tersenyum lebar mengangkat trofi yang telah demikian lama berpisah darinya. Para pemain mengatakan mereka memenangkan trofi ini untuknya, sebuah ungkapan yang tulus dan penuh dengan penghormatan dan rasa terima kasih. Wenger selama ini selalu mempercayai pemainnya, melindungi mereka dari kritik media, dan dalam konteks tersebut wajar bila para pemain ini kemudian merasa berhutang budi kepadanya. Hutang budi ini dibayar tidak lain dengan cara memenangkan trofi untuknya.

The manager and players have been under a lot of pressure over the last couple of years, and this one’s for the manager, for the fans, who’ve always believed in us as well even when things weren’t going as well. ~ Aaron Ramsey

Arsene Wenger Fifth FA Cup

Vermaelen memberikan trofi FA Cup kepada Wenger setelah ia mengangkatnya. Tradisi yang tidak biasa karena umumnya manager akan mengangkatnya belakangan setelah semua pemain. Namun hal itu ia lakukan karena ia tahu persis betapa pentingnya makna trofi ini bagi Wenger. Wenger terlihat sumringah sekaligus lega. Tekanan besar selama 9 tahun seakan terlepaskan hari itu. Semua kekakuan Wenger juga runtuh di hari itu. Ia diangkat dan dilempar ke atas oleh para pemainnya, lalu dikejar Podolski dan disiram dengan champagne. Belum pernah Wenger terlihat sebahagia dan selepas itu selama karirnya di Arsenal. Gif di bawah ini menjadi buktinya.

tumblr_n5qhlxI4As1r5kkj0o4_250

Adegan Langka

The Bump

Secara pribadi, selain senang karena akhirnya klub yang saya dukung mengakhiri musim kering tanpa gelar, saya turut berbahagia untuk The Boss, Arsene Wenger. Obsesinya terhadap sepakbola dan cintanya terhadap Arsenal mungkin tak ada duanya. Bahwa ia telah menghadirkan sukses demi sukses di fase awalnya memegang Arsenal, menghadirkan rekor Invincibles yang tidak pernah bisa diulang oleh manajer lainnya, seakan terlupakan saat ia kemudian menjadi korban kesuksesannya sendiri ketika Arsenal tak mampu lagi bersaing dengan dua klub Sugar Daddy dan Manchester United. Wenger tidak sempurna, namun upayanya untuk mengangkat kembali Arsenal dengan segala keterbatasannya (budget untuk transfer dan gaji pemain karena beban stadion baru) tidak diragukan lagi. Wenger rela berkorban, menjadi martir di baris depan ketika board Arsenal menyembunyikan fakta bahwa Arsenal tak mampu bersaing dengan klub-klub lain soal belanja pemain, paling tidak sampai tahun 2014 (akhirnya dipercepat setahun karena kontrak baru dengan Emirates dan Puma membantu pencairan lebih awal). Penyembunyian fakta oleh board Arsenal itu tak lain agar klub ini tetap dipersepsikan sebagai klub elit, agar pemain bagus mau bertahan dan calon pemain tidak meremehkannya. Apa jadinya bila Arsenal mengakui mereka tidak punya budget transfer sama sekali dan mesti menjual pemain dahulu sebelum membeli pemain baru? Wenger dan board Arsenal sepakat untuk menyembunyikan hal ini meskipun konsekuensinya adalah Wenger seakan punya penyakit “enggan belanja pemain”.

Setiap tahun ia selalu memberikan “trofi” minimal peringkat keempat, dan ia dicela karena menganggapnya sebagai trofi. Padahal dari segi hadiah uang (minimal 30 juta pounds), partisipasi di Liga Champions jauh lebih besar dari hadiah uang juara turnamen domestik apapun. Selain itu berpartisipasi di Liga Champions akan memungkinkan sebuah klub untuk berpeluang menarik pemain-pemain top Eropa atau mempertahankan pemain-pemain terbaiknya. Tanya saja kepada klub seperti Everton dan Spurs, apakah finish di posisi ke-4 akan serasa seperti memenangkan trofi? Fans Liverpool juga merayakan “trofi” peringkat kedua mereka musim ini karena untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, mereka kembali ke Liga Champions (dan berpeluang besar menahan Suarez).

Namun kali ini “trofi sungguhan” berhasil diraih Wenger dengan tim yang menurutnya terbaik soal semangat dan kekuatan mental setelah era Invincibles. Tim Arsenal kali ini adalah tim campuran pengalaman dan semangat muda. Selama delapan tahun sebelumnya, Wenger mesti mengandalkan anak-anak muda dan baru beberapa tahun belakangan ini ia dapat melengkapinya dengan pemain berpengalaman dan satu-dua pemain bintang. Bandingkan lini tengah Arsenal saat itu (Denilson, Diaby) dan sekarang (Arteta, Ramsey). Walcott sendiri yang sempat bermain di dua periode tersebut mengatakan:

[The fans] have waited so long and since I’ve been here, this team has been the best I’ve worked with. It’s a fantastic response [from the fans] and we want more from these guys.

Baru musim ini pula Wenger bisa membeli pemain idaman khas Arsenal: Mesut Ozil. Ia berani membayar mahal karena budgetnya memang ada. Musim depan, ia bisa kembali membeli pemain idamannya karena budgetnya telah tersedia di tahun 2014 ini. Trofi FA Cup ini akan membungkam kritik tanpa gelar dari media dan dari Specialist in Failure yang sudah 2 musim tanpa trofi (baca: Jose Mourinho). Trofi ini juga akan sementara menyatukan dua kubu fans Arsenal: AKB (Arsene Knows Best) dan AMG (Arsene Must Go). Wenger bisa bebas menyusun ulang strategi transfer dan formasi untuk musim depan. AMG mesti rela menerima kontrak barunya karena trofi yang diiinginkan mereka telah didapatkan musim ini.

Bagi saya pribadi, Wenger adalah manusia terhormat dengan nilai-nilai pribadi yang tinggi. A man with honour. A great human being. Beberapa ungkapannya dalam video wawancara berikut ini bisa membuat kita terkagum-kagum dengan obsesi dan dedikasinya pada sepakbola.

“You have to sacrifice your life for this job.”

“Every defeat is a scar on your heart that remains for life.”

“The core of the build-up to training is done by me – I wouldn’t be in this job if it was just to sit behind a desk.”

“You have to prepare to week seven days a week for the whole year. I think I’ve worked hard in the last nine years than in the first five or six.”

Tidak diragukan lagi bahwa ia inginkan hal terbaik untuk Arsenal. Tuduhan bahwa ia “sengaja” tidak mengejar trofi untuk Arsenal karena pelit belanja pemain sungguh konyol dan tidak masuk akal. Berikan ia kesempatan kembali untuk menghadirkan masa kejayaan Arsenal yang pernah ia ciptakan. Biarkan imajinasinya terealisasi dalam tiga tahun ke depan. Kita pernah punya Invincibles, Doubles, Thierry Henry, Patrick Vieira, Robert Pires, Cesc Fabregas yang lahir dari kedua tangannya. Seorang Dennis Bergkamp (God) sekalipun baru menjadi juara dan legenda di Arsenal setelah Wenger bergabung dengan Arsenal.

Ia telah mengencangkan ikat pinggang selama delapan tahun belakangan ini dan saat ini baru mulai memanen hasilnya. Sebagaimana kisah Gospel seputar create, fall, redemption and restoration, saat ini adalah saat Restorasi Arsene Wenger, Restorasi Arsenal. Saya pribadi akan dengan sabar menyaksikan hasil karya terakhir dari One Arsene Wenger untuk klub tercinta kita ini, The Mighty Arsenal.

Semoga sukses ini menjadi yang pertama dari yang banyak, yang akan datang. COYG.