Antara London dan Istanbul

Tadinya saya ingin menulis artikel preview musim 2014/2015, namun karena alasan waktu (klasik) dan belum selesainya aktivitas transfer Arsenal, tulisan tersebut saya tunda dulu. Untuk mengisi blog yang kosong ini dan karena permintaan beberapa follower Twitter @JalanArsenal maupun @benhan sementara Arsenal sudah memulai musim, saya akan mencoba menulis tulisan-tulisan singkat review atau preview pertandingan-pertandingan Arsenal di awal musim ini sambil mencoba menanggapi rumor tentang transfer pemain tentunya.

Arsenal 2 – Crystal Palace 1

Sabtu lalu, Arsenal memulai musim dengan tiga poin yang didapatkan dengan cukup sulit. Ketinggalan lebih dulu oleh Crystal Palace dari gol set pieces, Arsenal melakukan comeback lewat gol Koscielny dan gol injury time Aaron Ramsey (siapa lagi?). Ada kemiripan start awal musim ini dengan akhir musim lalu (final FA Cup), di mana Arsenal kembali membuat fans-nya deg-degan hingga akhir pertandingan. Namun saya pribadi cukup tenang dengan pertandingan pertama ini. Dalam hati ini seperti ada firasat Arsenal akan menang pada akhirnya. Possession yang sampai 75% dan Palace yang notabene tidak membuat peluang berarti selain dari gol Hangeland, serta mental juara Arsenal (hal baru) adalah kombinasi yang bisa menimbulkan kepercayaan diri para pemain Arsenal untuk mengambil hasil maksimal dari pertandingan ini. Dan kepercayaan diri tersebut ikut menular ke penonton, ke fans Arsenal.

Chambers

Yang menjadi sorotan dari pertandingan kali ini adalah penampilan cemerlang Chambers. Setelah tampil cemerlang di Community Shield dan Emirates Cup, Chambers membuktikan walau baru berusia 19 tahun, kualitasnya bukan KW dan ia pantas tampil di kompetisi level elit. Mengambil sementara posisi Mertesacker, kualitas BFG juga di-copy olehnya yang antara lain: kemampuan membaca pertandingan dan memenangkan bola-bola atas. Arsenal menduetkan bek tengah dengan dua kualitas yang berbeda: Mertesacker yang menyerang bola atas, memimpin Zonal Marking Arsenal, membaca serangan lawan, melakukan interception dan Koscielny yang lebih cepat bertugas marking man to man striker lawan (tidak ada yang lebih baik darinya dalam hal ini di EPL), recovery bola dan pemain yang lepas dari tackling atau offside trap. Duet pertahanan “attacking” dan “recovering” dalam sosok Mertesacker dan Koscielny ini demikian efektif sehingga pemain pelapisnya mesti bisa memainkan salah satu peran dengan sama baiknya. Untuk hal ini Vermaelen gagal, dan terpaksa dijual ke Barca. Chambers menurut saya lebih bisa dan cocok memainkan peran Mertesacker. Sekarang kita tinggal mencari pelapis Koscielny. Mungkinkah Kostas Manolas yang dirumorkan sebagai incaran Wenger berikutnya adalah pemain dengan tipe yang sama? Saatnya searching video di youtube. Kalau malas, paling tidak scouting report ini sekilas menyiratkan ia punya kualitas yang mirip dengan Koscielny:

What particularly caught our attention was his ability to recover into position. He was able to beat the attackers of Colombia, pace for pace, to ensure he didn’t lose possession from a through ball.

Sang Kapten

Selain penampilan cemerlang Chambers dan Koscielny, yang menarik juga adalah penampilan sang kapten baru Arsenal, Mikel Arteta. Banyak kritik pedas terhadapnya dari fans Arsenal yang menginginkan adanya DM baru untuk menggantikan Arteta. Sang kapten dirasakan lambat, dan tidak kuat lagi secara fisik sehingga tidak mampu mengemban tugas DM dengan maksimal. Namun di pertandingan melawan Palace, kualitas Arteta justru bersinar. Kemampuannya membaca serangan lawan membuatnya selalu ada pada posisi yang tepat di saat kritis. Dan seperti biasa distribusinya membuat Arsenal terus mendominasi permainan. Operan ke samping, belakang, dan depan dalam rangka mempertahankan “Order”, keteraturan dalam serangan Arsenal adalah kunci dari 75% ball possession tersebut. Dan sesuai filosofi Barca, ketika satu pihak menguasai bola, maka pihak yang lain tak dapat menyerang. Arteta tidak memberikan through ball fantastis karena memang bukan itu tugasnya. Tugasnya adalah merebut bola, melakukan interception, dan distribusi bola ke posisi aman. Dua pemain box to box dalam diri Ramsey dan Wilshere-lah yang berperan sebagai pencipta peluang Arsenal dalam pertandingan itu. Walaupun demikian Arteta sesekali ikut bergabung dalam serangan Arsenal. Di kala hampir semua pemain menyerang Arsenal mengoper dengan tidak akurat dalam pertandingan ini, Arteta selalu akurat. Tanpa dirinya, “Order” tak akan dapat dipertahankan dan Palace bisa menciptakan peluang berbahaya. Wenger selalu respek dengan kepemimpinan dan kualitas Arteta. Beberapa kutipan berikut dari musim lalu menjadi alasan mengapa Wenger mempercayakan Arteta menjadi kapten Arsenal walaupun kontraknya sisa setahun dan belum diperpanjang.

He is very influential and he’s a leader – one of the leaders of the team and he’s a technical leader as well.

He didn’t get the credit Diaby or Cazorla received, but on the day I felt he was outstanding and played a very efficient, intelligent role.

He is a winner and he does what it takes to win, it’s as simple as that. If he sees that he has to sit to allow us to be efficient, he will do it.

If he needs to push forward, he will do it just because he wants to win. That’s why I made him vice captain.

I like Mikel Arteta because of his quality, his focus, his commitment and his winner’s attitude. I have big respect for what he has achieved this season. He is very conscientious, very professional and he has a couple of years left at the top.

Daripada membeli DM baru untuk langsung menggantikan peran Arteta, saya rasa Wenger akan memilih mencari DM muda untuk perlahan-lahan menggantikan Arteta dalam masa transisi satu-dua musim ini. Arteta jelas tidak akan jadi lebih muda, lebih kuat, lebih cepat, dan perannya perlahan-lahan akan berkurang. Ia masih punya kepemimpinan dan visi yang akan sangat berguna untuk pemain-pemain muda Arsenal. Namun penggantinya perlu mulai dicari musim ini. Beberapa rumor seperti Carvalho (yang tipenya agak berbeda, lebih physical), Schneiderlin (yang tipenya mirip), atau Rabiot (bakat muda yang masih perlu banyak diasah) dilansir sebagai target DM baru Arsenal. Kita tunggu dan setelah dua pertandingan lawan Besiktas, rasanya kita akan tahu siapa yang sebenarnya diincar Wenger.

Serangan yang Belum Klik

Alexis memperlihatkan kualitasnya sekilas namun operannya masih banyak yang tidak akurat. Cazorla, Wilshere, Ramsey, Chamberlain juga sering salah mengoper. Sanogo tampil di bawah standarnya sendiri. Ia tampak kikuk, dan first touch-nya tidak bekerja. Pertandingan hari itu dimenangkan oleh pemain bertahan. Koscielny berperan besar dalam dua gol Arsenal. Tampak sekali Arsenal belum siap secara fisik maupun teknik di pertandingan ini. Seperti kata Wenger, musim dimulai seminggu lebih awal. Mudah-mudahan melawan Everton nanti lini depan dan tengah Arsenal bisa lebih klik. Sayangnya sebelum itu, mereka harus siap melawan teror fans Besiktas di Istanbul, yang terkenal galak.

Saya akan lebih memilih memainkan Chamberlain daripada Alexis di sayap kanan Arsenal malam nanti. Alexis terlihat sangat tidak siap dan Chamberlain akan lebih mudah bekerja sama dengan pemain-pemain yang sudah dikenalnya. Ramsey dan Wilshere tetap di tengah bersama Arteta (atau mungkin Flamini), dan Giroud memimpin di depan. Cazorla tetap di sayap kiri dan backfour sama dengan Monreal menggantikan Gibbs yang cedera. Chambers akan baik-baik saja dan Koscielny tampaknya fit untuk malam ini. Maka formasi Arsenal vs Besiktas:

Formasi 4-1-2-3: 

Szczesny – Debuchy, Chambers, Koscielny, Monreal – Arteta – Ramsey, Wilshere – Chamberlain, Giroud, Cazorla

Tidak ada alasan untuk kuatir berlebihan di awal musim seperti ini namun dua pertandingan kualifikasi Liga Champions ini juga tak boleh dianggap remeh. Rekor 12-0 dalam babak kualifikasi UCL selama rezim Wenger mesti dipertahankan dan diperpanjang. Permainan Arsenal mesti lebih baik daripada Sabtu lalu dan saya yakin kita bisa. Seperti mesin diesel yang baru dihidupkan, semakin lama akan semakin panas, demikian juga Arsenal. Seiring dengan waktu, permainannya akan semakin baik karena pemain mulai makin tajam secara teknik dan makin fit. Kombinasi-kombinasi akan hadir kembali, bola akan dioper semakin cepat, dan peluang yang tercipta makin banyak. Mencetak gol tidak akan menjadi masalah buat kita apalagi setelah hasil bagus 3-0 di Community Shield. Ramsey bisa memikul beban ini sementara rekan-rekannya sedang beraklimatisasi.

Untungnya di tim Arsenal saat ini tidak ada pemain seperti Gerrard. Bisa dipastikan Demba Ba tidak bisa mengambil keuntungan dari pemain Arsenal yang terpleset oleh kulit pisang imajineri di lapangan malam ini.

Oh ya, media di Inggris sedang sibuk memuji Fabregas dan menjagokan Chelsea sebagai kandidat juara liga Inggris musim ini (setelah menang lawan Burnley, tim promosi paling lemah musim ini). Saya punya banyak catatan soal Fabregas tapi biarlah itu menjadi bahan untuk tulisan berikutnya. Kita mesti punya senjata rahasia dalam berbagai hal, bukan?

Advertisements

Pelajaran Mahal di Waktu yang Tepat

Manchester City 6 – 3 Arsenal 

Sebagaimana yang diprediksi, pertandingan antara dua tim yang terkenal dengan sepakbola menyerang ini berlangsung dengan tempo cepat dan permainan terbuka. Sayangnya satu tim tampil di bawah standar sehingga pertandingan berjalan berat sebelah. Bila di artikel preview saya menulis ini adalah Pertandingan antara Penyerangan Terbaik dan Pertahanan Terbaik, di akhir pertandingan sub judul yang lebih cocok adalah Pertandingan antara Penyerangan Terbaik dan Pertahanan Terburuk. Bagaimana Arsenal bisa bermain seburuk itu dalam hal yang justru merupakan kekuatan mereka musim ini? Mumpung masih panas di kepala, saya coba tuangkan satu-satu.

Axis Wilshere-Monreal

Line up Arsenal hampir sesuai dengan prediksi di artikel preview dengan satu perbedaan: Wilshere yang dimainkan bukan Cazorla. Dan itu ternyata menjadi kesalahan fatal Wenger. Axis Wilshere-Monreal menjadi titik lemah Arsenal dalam pertandingan ini dan dieksploitasi habis-habisan oleh Man City. Berbeda dengan dugaan awal kalau City akan menyerang sisi kanan Arsenal karena Walcott akan cenderung lebih maju, City malah menyerang sisi kiri Arsenal. Zabaleta berkali-kali memberikan crossing rendah yang efektif dan City mencetak 3 gol (satu secara tidak langsung dari CK) dari sisi tersebut. Tiga gol yang membuat posisi Arsenal tertinggal yang lalu terpaksa meninggalkan pertahanan demi mengejar ketertinggalan. Sayangnya gambling tersebut gagal dan berakhir dengan skor yang lebih buruk lagi.

Mengapa saya cenderung memainkan Cazorla di awal daripada Wilshere karena dua hal: 1. Cazorla lebih baik dalam ball possession sehingga ia lebih bisa mengatur tempo permainan Arsenal dan 2. Duet Cazorla-Monreal lebih baik daripada Wilshere-Monreal yang belum teruji. Permainan Wilshere adalah soal dribbling dan penetrasi. Dalam pertandingan ini sayangnya dribblingnya banyak yang gagal dan turn over sering terjadi berawal dari dirinya. City lalu menyerang balik dengan cepat dan Arsenal gagal mempertahankan penguasaan bola di tengah.

Kelemahan lainnya dari Wilshere yang berkontribusi pada gol adalah kecenderungannya untuk ke tengah karena secara natural ia adalah pemain tengah yang dikaryakan di sayap. Berbeda dengan Cazorla dan Rosicky yang lebih nyaman bermain di sayap, Wilshere jarang bergerak sepanjang sisi lapangan. Gol pertama dan kedua City notabene berawal dari jauhnya Wilshere dari garis tepi lapangan yang otomatis membuat ia juga berada jauh dari fullback City yang melakukan overlapping. Akibatnya City dapatkan corner kick dari serangan hasil overlapping Zabaleta dan Aguero mencetak gol pertama. Gol kedua terjadi saat Wilshere gagal lagi mengantisipasi overlapping Zabaleta.

Gol keempat City terjadi saat Monreal gagal menghalangi Navas memberikan crossing kepada Silva. Monreal dan Wilshere tampil buruk di pertandingan hari ini. Kombinasi keduanya membuat sisi kiri Arsenal sangat rentan setiap kali diserang.

Dilema Flamini-Arteta

Wenger drop Arteta dan memilih Flamini. Sayangnya Flamini tampil tidak sesuai harapan. Gol ketiga City terjadi karena kesalahan elementer yang dilakukannya. Umpan Ozil yang mestinya aman-aman saja gagal diantisipasinya dan Fernandinho memanfaatkannya untuk langsung mencetak gol. Perbedaan Flamini dan Fernandinho sangat terlihat di pertandingan ini. Bila City mempunyai pondasi batu kali kokoh di tengah dengan adanya Fernandinho dan Yaya Toure, Flamini dan Ramsey bak “pondasi tahu” yang gampang diterobos lawan.

Mengapa Wenger drop Arteta? Karena di dua pertandingan sebelumnya kekurangan kecepatan Arteta sangat terasa. Bahkan saat melawan Napoli dua kartu kuning diterimanya karena kekurangan kecepatan tersebut membuat ia harus melakukan foul. Wenger berpikir Flamini dan Ramsey cukup untuk menahan City. Sayangnya mereka berdua tidak memiliki kemampuan mengatur tempo ala Arteta. Arteta mungkin lemah dalam hal tackling dan penjagaan pemain yang lebih cepat, tapi soal ball retention, distribusi bola sambil mengatur tempo permainan, ia jauh lebih unggul. Arsenal terus terhanyut dengan tempo cepat yang menguntungkan City karena Ramsey dan Wilshere setiap mendapatkan bola langsung ingin membawanya ke depan, berakhir dengan kehilangan bola dan City menyerang kembali. Arteta akan mendistribusikannya secara horizontal, ke belakang, atur tempo baru menyerang. Inilah kekuatannya Arteta yang tidak dimiliki pemain-pemain muda Arsenal yang sering terburu nafsu. Lihat Wilshere yang beberapa kali kesal sendiri karena passingnya tidak menemukan rekannya atau tidak mendapatkan operan dari rekannya. Ketidakmatangan seperti ini dapat ditenangkan bila Arteta ada di lapangan.

Idealnya dalam pertandingan seperti ini Arteta berpasangan dengan Ramsey. Ramsey dengan jumlah tackling terbanyak di liga bisa menutup kekurangan kecepatan Arteta dan Arteta bisa mengatur tempo pertandingan saat Arsenal menguasai bola. Sayangnya faktor kelelahan dan jadwal yang padat tidak memungkinkan hal itu terwujud hari ini.

Setelah ketinggalan 4-2, Wenger terpaksa gambling untuk menyerang total, nothing to lose, kalah 4-2 dan 6-3 ya sama saja. Ia memasukkan Gnabry dan menarik Flamini yang tampil buruk keluar. Tanpa Flamini, lapangan tengah Arsenal bak karpet merah yang mengundang marching band City. City bisa mencetak beberapa gol tambahan di periode ini dan Wilshere serta Ramsey gagal sama sekali menjadi poros tengah. Bisa dimengerti keinginan Arsenal untuk mengejar ketertinggalan tapi naluri menyerang Wilshere dan Ramsey membuat mereka mengabaikan sama sekali pertahanan di lini tengah. Terjadinya gol kelima dan keenam City adalah akibatnya.

Kesalahan individu

Gol-gol City terjadi akibat kesalahan individu Arsenal dalam bertahan. Dari Koscielny saat gol pertama, Wilshere gol kedua, Flamini gol ketiga, Monreal gol keempat, Mertesacker gol kelima dan terakhir semua pemain tengah, belakang, kiper Arsenal untuk gol keenam. Kesalahan individu ada penjelasannya: konsentrasi yang kurang atau faktor kelelahan. Kombinasi keduanya mungkin yang menjadi penyebabnya kali ini. Walaupun tidak semua pemain tersebut bermain penuh di Napoli namun perjalanan yang harus ditempuh membuat mereka tidak memiliki waktu cukup untuk recovery. Kamis terbang dari Napoli ke London, Jumat istirahat dan mesti terbang Sabtu pagi ke Manchester. Bahkan waktu untuk latihan penuh pun tidak tersedia. City diuntungkan istirahat satu hari dan beberapa pemain intinya yang tidak dimainkan saat lawan Muenchen. Intinya persiapan City lebih baik di Arsenal dan mereka diuntungkan dengan tak perlu melakukan perjalanan jauh karena bermain di kandang. Hal kecil seperti ini sering jadi pembeda ketika dua tim kuat bertemu.

Faktor kelelahan ini juga yang mungkin membuat Wenger urung menurunkan Cazorla ataupun Rosicky yang bermain di Napoli kemarin. Rosicky dan Cazorla akan lebih cocok di formasi yang memainkan Walcott daripada Wilshere. Cazorla yang bermain berturut-turut perlu istirahat dan Rosicky tidak muda lagi. Wilshere dan Ramsey yang tidak memulai pertandingan di Napoli dirasakan akan lebih segar di pertandingan ini. Mungkin itu benar, namun taktik yang dimainkan Pellegrini mengeksploitasi posisi Wilshere yang tidak nyaman ini.

Mesin Gol Arsenal

Kenyataan ini terwujud sedikit tertunda dari artikel saya sebelumnya: “Kembalinya Mesin Gol Arsenal”. Satu-satunya hal positif dari pertandingan ini adalah tajamnya Theo Walcott. Gol pertamanya diambilnya dengan sangat baik, tendangan mendatar namun terarah dan dengan sedikit bending sehingga kiper City tak mampu bergerak, terhipnotis. Gol kedua ala Henry, di posisi kiri dan bending ke pojok jauh kanan gawang. Mungkin semasa ia rehabilitasi, ia dapat satu dua petunjuk dari King Henry yang masih berlatih di training ground Arsenal. Penampilannya hari ini otomatis mengamankan posisi sayap kanan untuk dirinya di pertandingan melawan Chelsea.

Perbedaan kualitas striker City dan Arsenal begitu ketara saat Aguero dan Negredo mencetak gol dari sedikit peluang yang tersedia sementara Giroud gagal menyundul crossing Sagna, offside saat menembak (dan bolanya masuk) dan gagal mengumpan dengan kaki kanannya di depan gawang. Giroud mesti lebih efektif lagi di depan gawang jika ia tak ingin Wenger mencari striker utama di Januari nanti. Link up play dan holding up-nya memang bagus namun ia butuh lebih clinical di depan gawang sebagai striker utama. Sudah lama ia tidak mencetak gol dari open play dan kini saatnya ia lebih ganas dan egois di depan gawang. Walcott bisa mengejar jumlah golnya bila ia terus tampil seperti ini. Kegeraman Wenger terhadapnya terlihat saat ia sudah diganti Bendtner di menit ke-75. Wenger seakan memberikan sinyal kalau ia lebih percaya kepada Bendtner daripada Giroud untuk dapat mencetak gol di 15 menit terakhir (dan memang ia lakukan hanya sayang masih offside gara-gara ukuran sepatunya yang demikian besar).

Sembilan Hari

Walaupun kekalahan ini menyesakkan dada dan akan membuat orang-orang kembali meragukan kemampuan Arsenal menjadi juara liga, banyak hikmah yang masih bisa kita petik. Kita beruntung sudah menabung poin dari hasil melawan tim-tim papan tengah dan bawah sebelumnya sehingga pertandingan ini hanya membuat City selisih 3 poin, belum menyusul Arsenal. Hal lain adalah walaupun kalah telak, kesalahan-kesalahan Arsenal di pertandingan ini tidak sulit untuk diperbaiki dan secara permainan Arsenal sebenarnya masih dapat mengimbangi City dengan beberapa serangan yang gagal menjadi gol dan tiga gol yang dicetak dengan cukup indah. Kekalahan ini membuka mata akan kelemahan Arsenal yang masih perlu dibenahi dan untungnya ini terjadi masih di paruh musim pertama. Masih banyak waktu untuk membenahinya. Dan untungnya untuk pertandingan berikutnya kita masih punya waktu sembilan hari untuk memulihkan diri dari kelelahan fisik dan mental.

Sembilan hari ini mesti digunakan Wenger dan para pemain dengan maksimal. Menganalisa kelemahan di pertandingan hari ini, memperbaiki komunikasi tim, mengasah permainan yang mengandalkan kecepatan Walcott, dan Giroud bisa latihan tembakan dengan Henry setiap hari. Dengan hasil buruk melawan Everton dan City, tidak ada hasil lain yang dapat diterima sembilan hari kemudian selain menang melawan Chelsea. Pelajaran mahal dari City ini mestinya mencambuk para pemain untuk bermain lebih baik lagi. Lebih konsisten, lebih fokus, lebih haus dan ganas. Bila kita melihat beberapa penampilan terbaik Arsenal musim ini (bukan di pertandingan ini), Arsenal bisa menang atas Chelsea yang tak lebih baik daripada City selama hal ini selalu diingat: kemenangan akan lahir dari suasana yang harmonis. Kemarahan Mertesacker kepada Ozil di akhir pertandingan yang tampak frustrasi dan menolak ke arah penonton tandang tidak perlu dibesar-besarkan. Itu hanya tanda betapa pemain sangat kecewa dengan kekalahan ini. Mertesacker mempunyai hati yang besar dan mengerti perasaan fans Arsenal setelah kekalahan besar ini, sedangkan Ozil terlalu kecewa dengan dirinya sendiri dan dengan kekalahan kali ini. Keduanya terhanyut dengan emosi setelah kekalahan. Besok mereka akan bertemu kembali di training ground dan akan kembali harmonis. Tugas Wenger selama 9 hari ini untuk mengembalikan tim ke kondisi fisik dan mental terbaik sebelum melawan Chelsea.

Victoria Concordia Crescit