Habis PHP, Terbitlah PEA

Fans Arsenal pastilah terbiasa mendengar kata PHP. Di sepuluh tahun terakhir era Wenger dan setelah Baku (final Europa League 2019), kita seringkali mendapatkan PHP bahwa inilah saatnya Arsenal kembali jaya. Bermula dengan Project Youth yang lahir pasca The Invincibles, Wenger melakukan regenerasi pemain dan perubahan gaya sepakbola Arsenal dari yang mengandalkan fisik dan kecepatan menjadi lebih teknikal. Pemain-pemain muda di antaranya Fabregas, Rosicky, Hleb, Flamini dan Van Persie tampil cemerlang di musim 2007-2008 dan sempat memberikan harapan kejayaan kembali Arsenal. Sempat memimpin klasemen di bulan Februari, penampilan Arsenal jatuh bebas di bulan Maret 2008 setelah cedera horor patah kaki yang dialami Eduardo.

Di musim 2010-2011 muncullah rising stars dalam sosok Wilshere, Ramsey, Nasri. Bersama Arshavin, Van Persie dan Fabregas, tim ini mengalahkan Barcelona 2-1 di leg pertama Champions League. Sampai akhir tahun 2010, Arsenal masih bercokol di peringkat kedua liga. Sama dengan 3 musim sebelumnya, mental tim muda mungkin lebih rapuh daripada tim yang berpengalaman. Semenjak kalah di final Piala Liga lawan Birmingham City tanggal di akhir February 2011 berkat blunder Koscielny dan Szczesny, posisi Arsenal di liga turun drastis. Hanya 2 kemenangan dalam 11 pertandingan terakhir membuat Arsenal harus puas di peringkat keempat, turun dari peringkat kedua. Wenger tak mampu mengangkat kembali moral tim mudanya saat itu. Kalau saja tim tersebut dapat bangkit dari kekalahan di final Piala Liga dan menang beruntun selama 10 pertandingan terakhir (di musim 97-98 mereka melakukannya), maka gelar juara liga sudah pasti di tangan. Fans kembali kena PHP.

Musim 2013-2014 menandai era PHP baru. Model Finansial Arsenal menjadi lebih kuat semenjak ada tambahan dana komersial dari sponsorship kit dan stadion yang baru. Mesut Ozil dibeli dari Real Madrid dengan rekor transfer 42 juta pounds. Satu musim berikutnya Alexis Sanchez didatangkan dari Barcelona. Kedatangan kedua pemain bintang ini membawa perubahan terhadap mental tim Arsenal. Trofi pertama pun diraih dalam bentuk FA Cup, mengakhiri musim kering selama 9 tahun tanpa trofi (sampai ada lagunya). Musim berikutnya kembali FA Cup diraih, dan setelah absen setahun, FA Cup kembali dimenangkan di tahun 2017. Tiga trofi dalam empat tahun. Namun di liga, Arsenal tak mampu bersaing dengan klub-klub besar lainnya yang lebih bermodal. Berturut-turut poin dan peringkat yang diraih sejak 2013-2014 s/d 2016-2017 adalah sebagai berikut: 79 (4th), 75 (3rd), 71 (2nd), 75 (5th). Arsenal pun harus puas hanya lolos ke Europa League di tahun 2017. Musim 2015-2016 adalah musim di mana Arsenal, jika sedikit lebih konsisten saja bisa menjadi juara liga dikarenakan semua tim besar lainnya saat itu juga sedang merosot penampilannya. Sayangnya, Leicester City-lah yang memanfaatkan peluang itu.

Musim 2017-2018 adalah musim terakhir Wenger. Ketidakpastian masa depannya dan dua pemain bintang (Ozil dan Sanchez) yang sisa kontraknya tinggal setahun bukan pertanda yang baik untuk memulai musim baru. Off the pitch, Ivan the Snake melakukan segala manuver untuk mengurangi kekuasaan Wenger dengan tujuan untuk kemudian mendepaknya. Bukan rahasia umum kalau Wenger menguasai segala hal di klub itu dan Ivan sebagai CEO hanya punya kuasa terbatas. Sven Mislintat bergabung di November 2017, disusul Raul Sanllehi di February 2018. Pergulatan kekuasaan di luar lapangan berdampak ke dalam lapangan. Sanchez dijual di tengah musim, kontrak Ozil diperpanjang. Wenger memutuskan untuk mundur dengan sisa kontrak setahun setelah penampilan timnya makin menurun. Arsenal pun finish di musim tersebut dengan hasil terburuk di era Wenger: 63 point dan peringkat ke-enam. Gazidis, Mislintat dan Sanllehi memilih Emery sebagai pengganti Wenger. Tidak lama kemudian Gazidis meninggalkan Arsenal untuk mengejar fulus yang lebih menggiurkan di AC Milan, sedangkan Mislintat kalah dalam pertarungan kekuasaan melawan Sanllehi dan akhirnya hengkang.

Era Emery, tidak usah dibahaslah ya. Lebih cepat dilupakan lebih baik. Mungkin rekan-rekan Gooners bisa memperhatikan kalau saya tidak menulis satu artikel pun tentang Arsenal di era Emery sedangkan sekarang sudah menulis lima artikel tentang Arsenal-nya Arteta. PHP era Emery sangat luar biasa mengecewakannya. Ditambah dengan sepakbola tanpa identitasnya yang seakan menjadi pengkhianatan terhadap legacy warisan Arsene Wenger. Hasil akhir musim pertamanya adalah dibantainya Arsenal oleh Chelsea 1-4 di Baku, memupus harapan untuk tampil di Champions League setelah dalam beberapa pertandingan terakhir di Premier League Arsenal juga gagal meraih poin yang diperlukan untuk tetap di peringkat ke-empat. Ending yang anti-klimaks.

Lalu apakah era PHP ini sudah berakhir? Kita harap demikian setelah melihat kedahsyatan tim Arsenal di bawah asuhan Arteta yang baru bergabung Desember lalu. Ia bergabung saat kondisi moral tim sedang parah-parahnya dan sepakbola Arsenal sedang kehilangan jati diri. Granit Xhaka sang kapten dicopot bannya dan bersitegang dengan fans. Mesut Ozil dipinggirkan oleh Emery. Average point per game di musim ini yang didapatkan Emery bahkan lebih rendah daripada musim terburuk Wenger (1.38 vs 1.65). Arteta memperbaiki penampilan timnya dengan memulai dari dasar, dari komitmen, semangat juang tim dan gairah bermain sepakbola. Perlahan, hasil di lapangan membaik dan identitas sepakbola yang baru pun terlihat.

Grafik di atas ini menggambarkan performa Arsenal di Premier League musim ini di bawah 3 “head coach” yang berbeda. Average point per game di bawah Emery = 1.38, Ljungberg = 1.00 dan Arteta = 1.65. Sebagai perbandingan Liverpool, sang juara memiliki average ppg = 2.61. Masih banyak PR Arteta untuk Arsenal mencapai level penantang serius gelar juara EPL. Namun Arsenal bisa sedikit banyak terinspirasi oleh Liverpool-nya Klopp. Semenjak bergabung dengan Liverpool di Oktober 2015, berikut hasil setiap musimnya: 60 (8th), 76 (4th), 75 (4th), 97 (2nd) dan 99 (1st). Baru pada musim kelima Liverpool bisa meraih gelar juara namun setiap musim terlihat jelas peningkatan performa timnya dan terutama identitas sepakbolanya. Fans Arsenal mesti bersabar.

Habis PHP, Terbitlah PEA

PEA di sini bisa berarti Pierre-Emerick Aubameyang atau Percaya Era Arteta. Kedua figur ini berperan sangat penting musim ini terutama dalam mendapatkan gelar juara FA Cup yang ke-14. Mari kita bahas sedikit mengenai hasil pertandingan yang luar biasa ini.

Di tulisan saya sebelum pertandingan, saya menuliskan soal prediksi line up yang terbukti tepat. Baik Arsenal maupun Chelsea memainkan formasi 3-4-3 walaupun dengan aplikasi yang berbeda. Video di bawah ini menjelaskannya dengan sederhana dan sangat baik:

Arsenal vs Chelsea Final FA Cup 2020 post analysis

Chelsea mendominasi 10 menit babak pertama. Ketiga penyerangnya bermain sangat rapat dan dengan umpan-umpan pendek memanfaatkan kelincahan dan kemampuan dribble Pulisic dan Mount yang ditunjang dengan flick pass dan hold-up play Giroud. Arteta sudah mengantisipasi itu dengan meminta ketiga CB-nya bermain rapat pula. Chelsea hanya bisa menembus pertahanan lewat kontrol bola yang luar biasa dari Pulisic di kotak penalti lawan. 1-0 untuk Chelsea setelah Giroud one touch flick ke Pulisic hasil crossing Mount yang mengenai kaki Holding. Game plan Lampard berjalan dengan baik.

Para pemain Arsenal tidak panik dan sebaliknya menjalankan game plan yang disusun Arteta dengan sangat baik. Arteta sudah memprediksi kalau James, wing back kanan Chelsea akan bermain lebih maju daripada Alonso di sisi kiri Chelsea. Azpilicueta diminta Lampard bermain agak melebar ke kanan untuk mengantisipasi Aubameyang. Bertolak belakang dengan tiga striker Chelsea, Arteta memposisikan ketiga striker Arsenal berjauhan satu sama lain, karena kekuatan mereka memang di kecepatan, lebih direct daripada bermain dengan umpan-umpan pendek. Lacazette memainkan peran false nine untuk menarik Zouma maju ke depan, sementara Rudiger sibuk menjaga Pepe yang sering memposisikan diri di garis pinggir lapangan. Karena jarak antar CB Chelsea yang semakin jauh, selanjutnya tinggal lomba lari Aubameyang dan Azpilicueta. Arsenal memiliki senjata umpan panjang Luiz dan Tierney yang siap melakukan lob jauh setiap Aubameyang memberikan aba-aba. Bergantian dengan Maitland-Niles, sisi kanan pertahanan Chelsea diserang terus-menerus sampai Azpilicueta tertarik hamstringnya baru di menit ke-35 karena diajak lomba lari terus-menerus. 1-1 setelah Azpilicueta yang hopeless terpaksa menjatuhkan Auba di kotak penalti lawan dan Auba tidak menyia-nyiakan tendangan penalti tersebut.

Semenjak drink break di babak pertama, Arsenal mendominasi pertandingan. Pressing tinggi Arsenal lebih efektif daripada Chelsea yang terpaksa membuang bola jauh-jauh, dan Pepe hampir saja mencetak gol indah lainnya hasil pressing tinggi kalau saja Maitland-Niles tidak offside. Xhaka menempel ketat Jorginho, Ceballos selalu ada di mana-mana untuk recovery bola ataupun interception. David Luiz mematikan Giroud sepanjang pertandingan, tanpa ada satupun shot on goal. Giroud bahkan terpaksa berakting ditembak sniper saking putus asanya. Sayang sekali Arsenal tidak menambah jumlah gol di babak pertama.

Di awal babak kedua, Pulisic kembali mengancam. Untungnya pemain terbaik Chelsea ini juga ketarik hamstringnya. Kadang kita membutuhkan dewi fortuna di pertandingan penting seperti ini. Pedro yang menggantikannya tidak mampu memberikan kontribusi yang sama. Ceballos memenangkan duel udara lawan Pedro, Bellerin menjemput bola dan lari sepanjang 40 meter, melewati Rudiger dan ditackle oleh Christensen. Pepe yang membayangi lari Bellerin siap menyambut bola liar dan mengumpan ke Aubameyang dengan tenang. James tidak kelihatan di lapangan lawan meninggalkan Zouma yang bingung antara marking Lacazette atau Aubameyang. Ia melakukan fake untuk shoot dengan kaki kanan yang sudah diantisipasi Zouma, memindahkan bola ke kiri lalu melakukan lob shot ketika kiper Chelsea maju ke depan. 2-1 untuk Arsenal. Dua gol hasil counter attack cepat. Lampard tak punya jawaban.

Sekarang kita mengerti mengapa Arteta tidak memainkan PEA sebagai striker tengah dan sebaliknya Auba sangat mematikan dari sayap kiri. Arteta “mengorbankan” Lacazette yang bermain sebagai false nine sedangkan Auba dan Pepe bermain lebih mirip sebagai dua penyerang utama saat Arsenal melakukan counter attack. Laca bertugas melakukan pressing tinggi saat bertahan, dan menarik maju bek lawan saat Arsenal menyerang, menciptakan ruang yang cukup untuk kecepatan lari Aubameyang. Terutama saat melawan pertahanan 3 CB, Aubameyang akan sangat efektif karena umumnya CB tidak secepat full back, ketika ditarik ke kiri kanan lapangan akan meninggalkan ruang kosong yang amat lebar. 29 gol dicetak Aubameyang musim ini yang hampir tidak pernah dimainkan sebagai penyerang tengah.

Semua penyerang Arsenal juga lebih disiplin saat bertahan. Auba dan Pepe melakukan tracking back dengan rajinnya dan berlari dengan cepat ke depan saat counter (bandingkan dengan penyerang Chelsea). Arteta berhasil melatih mereka sebagai satu unit yang disiplin. Teringat dengan kata-katanya mengenai menderita bersama. Sebuah tim harus siap menderita di lapangan, dan kemenangan akan terasa lebih nikmat sesudahnya. Seluruh pemain Arsenal yang bermain saat itu menjiwai filosofi ini dan mereka sangat menikmati hasilnya di akhir pertandingan. Pengorbanan yang pantas untuk diberikan.

Malam itu, semua pemain Arsenal tampil prima dan bisa dianggap men of the match. Mereka menghapus bayangan mimpi baruk di Baku melawan tim yang sama. Aubameyang sedikit di atas performa seluruh tim karena eksekusinya yang luar biasa. Sang nomor 14 mempersembahkan FA Cup ke-14 untuk Arsenal. Tidak ada script yang lebih sempurna.

Sebuah tim harus siap menderita di lapangan, dan kemenangan akan terasa lebih nikmat sesudahnya.

Arteta sendiri sudah memenangkan pertarungan taktik dengan Pep, Klopp dan Lampard, dengan sumber daya yang lebih minim. Visinya sangat jelas, pemain percaya padanya sehingga eksekusi taktiknya di lapangan berjalan dengan baik. Ia menjadikan kelemahan timnya sebagai kekuatan dan mengeksploitasi kelemahan lawan dengan sangat dingin. Tim Arsenal ini lemah di tengah lapangan, kurang kreatif (apalagi dengan tidak dimainkannya Ozil), tapi Arteta memilih hal ini dengan sadar. Semenjak Project Restart, ia mengabaikan Ozil dan memilih mencetak gol lewat pressing tinggi ataupun counter attack yang mematikan. Ia percayakan lini depan kepada trio maut Laca-Auba-Pepe yang makin saling memahami satu sama lain. Ia patenkan duet Xhaka dan Ceballos yang juga semakin kompak dan sama baiknya dalam hal passing dekat dan jauh. Ia gunakan optimal senjata mematikan David Luiz, umpan panjang dan memilih Maitland Niles, pemain serba bisa yang sangat atletis untuk marking ketat pemain spesial lawan. Ia gunakan Soares untuk hadirkan rivalitas dan mengembalikan Bellerin ke posisi terbaiknya. Ia mengintegrasikan Tierney pasca cedera dengan sangat mulus ke dalam tim, baik sebagai LWB maupun LCB. Ia menumbuhkan kembali kepercayaan diri Mustafi, pemain yang dibuang oleh Emery. Dan terakhir, ia memberikan kepercayaan penuh kepada Emi Martinez yang dibayar berlipat ganda. Arsenal sekarang akan pusing memilih kiper utama untuk musim mendatang.

Dimulainya Era Arteta

Era Arteta kini resmi dimulai. The Arteta Way dimulai dengan revolusi mental, pelajaran tentang komitmen untuk menderita bersama, persiapan taktik yang matang, semangat tim dan gairah dalam bermain sepakbola, kalah maupun menang. Menyaksikan timnya Arteta bermain sepakbola membuat kita sadar kembali mengapa kita mencintai klub ini. Sepakbola Arsenal saat ini tidak selalu indah, namun saat kita melihat para pemain bermain demi satu sama lain, saat mereka memenangkan tackle, saat mereka melakukan pressing tinggi, saat mereka melakukan build-up play dengan tenang dari belakang, saat mereka tidak saling menyalahkan ketika kehilangan bola, sebaliknya saling menutupi ruang kosong rekannya, saat mereka melakukan fist bump ataupun high five, saat itulah optimisme terhadap Era baru ini hadir. Arteta adalah pelatih sepakbola modern yang mungkin lebih fasih soal taktik sepakbola modern daripada Wenger, namun ia juga tidak melupakan pentingnya sentuhan personal seorang manager terhadap pemainnya. Pentingnya bersikap bijak dan adil terhadap pemainnya. Para pemainnya mulai mencintainya sebagaimana mereka yang dulu bermain untuk Wenger. Cinta yang hadir dari kejujuran, kedekatan, dan juga rasa berterima kasih dan rasa hormat. Kombinasi hal terbaik dari Guardiola dan Wenger ini bisa berpotensi untuk menjadikan Arteta menjadi manager yang sangat baik, selama ia didukung oleh pemilik klub ini.

We are building something here. People can see we are building something and getting somewhere.

There is no better feeling than winning trophies. It has been a roller-coaster here, but to finish it like this is just brilliant.

The manager has had a big impact on this squad. We are improving. This is a process and we will have some bad results and ups and downs, but we all trust in this process 110 per cent.

Kieran Tierney

Pertarungan Berikutnya: Transfer Window!

Bila board Arsenal juga Percaya Era Arteta, mereka mesti mendukungnya di transfer window ini. Tugas pertama, pertahankan Aubameyang. Tugas kedua, melakukan jual-beli-pinjam yang cerdik. Arsenal tidak bisa tidak melepas pemain, untuk mendanai pemain baru. Menurut saya, paling tidak kita membutuhkan 1 CB utama, 1 CM, 1 AM dan sisanya tergantung siapa pemain yang dilepas.

Bila Ozil, Guendouzi, Torreira, Sokratis, Kolasinac jadi dilepas, maka Arsenal perlu mencari No.10 baru, 2 CM untuk melapis Xhaka dan Ceballos (yang ini harus extend loan atau sign permanen) dan 1 CB ditambah Saliba.

Sisi kreatif lini tengah adalah kelemahan utama Arsenal untuk bisa mendominasi pertandingan selain box to box Midfielder. Bila Thomas Partey jadi didatangkan, ia bisa menjadi box to box midfielder sekaligus complete midfielder yang dibutuhkan Arsenal. Ia bisa menjadi pemain yang mendikte tempo pretandingan seperti Xhaka, membawa bola seperti Ceballos dan mengantisipasi serangan seperti Torreira. Dengan demikian, Arsenal bisa menurunkan kembali No.10. Pertanyaannya siapa yang akan menggantikan Ozil? Nama Willian dan Coutinho disebut-sebut namun bagi saya keduanya bukanlah opsi yang menarik selain juga mahal. Arsenal perlu pemain seperti Kai Havertz yang sayangnya saat ini tidak terjangkau. Kita perlu pemain nyaman bermain di Zone 14. Sangat menarik ditunggu solusi Arteta untuk posisi itu.

Bila opsi di pasar tidak tersedia, dan fans Arsenal bisa bersabar sedikit, solusi internal untuk posisi No.10 itu sebenarnya ada. Bagi saya Emile Smith Rowe dan Bukayo Saka bisa menjadi jawaban musim depan. Mereka hanya butuh waktu untuk berkembang di bawah asuhan Arteta. Sebagaimana Wenger, Arteta juga memiliki kemampuan memoles pemain muda yang bertalenta, menjadi bintang. Ia sudah membuktikannya di City terutama dengan Sterling.

Jadi, Percaya Era Arteta?

Reinkarnasi Raja FA Cup

Arteta saat Arsenal menjadi juara FA Cup 2014

Malam ini, kita akan menyaksikan kemungkinan ditanamnya tonggak bersejarah pertama Arsenal era Arteta, kali ini dari pinggir lapangan. Di Final FA Cup 2014, Arteta memimpin skuad Arsenal di lapangan sebagai kapten pada hari bersejarah itu. Hari itu bersejarah, bisa menjadi hari yang membahagiakan karena mengakhiri masa penantian selama 9 tahun untuk trofi (trofi terakhir Arsenal saat itu FA Cup 2005) atau memperpanjang musim kering tanpa trofi klub. Meskipun Dennis Bergkamp pernah berujar kalau ia sangat menyukai Arsenal, dengan ataupun tanpa trofi, kita sebagai fans tentunya ingin sekali merasakan menjadi juara lagi, setelah sekian lama bersabar.

Saya masih ingat saat itu saya nonton bareng Final FA Cup 2014 yang diselenggarakan AIS Jakarta di Flavor Bliss Alam Sutera. Tulisan mengenai malam itu masih bisa dibaca di blog ini. Gooners mungkin juga masih ingat betapa hebatnya detak jantung kita saat Hull City memimpin 2-0 dan Arsenal butuh extra time dan gol ajaib Aaron Ramsey untuk memenangkan final tersebut. Malam itu menjadi malam yang sangat membahagiakan bagi fans Arsenal di generasi tersebut. Buat saya, lebih nikmat rasanya daripada saat Arsenal menjadi Invincibles, karena masa penantian untuk meraih trofi yang sangat lama. Bak air hujan yang baru turun setelah satu tahun masa kering, tentunya akan teraasa jauh lebih nikmat.

Semenjak itu, FA Cup seakan menjadi langganan Arsenal. Final berikutnya terjadi di tahun 2015 dan kemudian di 2017 dan keduanya dimenangkan Arsenal. Wenger pensiun sebagai manager dengan 7 trofi FA Cup dan berkontribusi untuk menorehkan sejarah Arsenal sebagai klub yang masuk ke final FA Cup terbanyak (20 final) dan juara FA Cup terbanyak (13). Pendek kata, Arsenal adalah Rajanya FA Cup dengan persentase 65% kemenangan di final sepanjang sejarah turnamen ini.

Mau tahu cerita di balik setiap kemenangan final FA Cup Arsenal, bisa cek di wikipedia, saya bantu dengan linknya: The Thirteen Classics (1930193619501971197919931998200220032005201420152017). Fakta lain yang menarik adalah dari semua final FA Cup Arsenal di bawah asuhan Wenger, ia hanya kalah di tahun 2001 dari Liverpool. Tujuh dari delapan final dimenangkannya sehingga persentase kemenangannya adalah 87.5%. Berbeda dengan 9 musim pertama Arsenal era Wenger yang memang mampu bersaing di semua kompetisi major dan FA Cup bukanlah trofi utama yang diincar, 3 trofi juara FA Cup Arsenal terakhir lebih berfungsi sebagai pelipur lara di akhir hasil Premier League yang mengecewakan. Meskipun demikian, 3 trofi FA Cup dalam 4 tahun (2014-2017) sempat memberikan secercah harapan kepada fans bahwa Arsenal bisa bangkit kembali untuk bersaing memperebutkan gelar juara liga. Sayangnya prestasi Arsenal semenjak musim 2016-2017 semakin merosot, dari peringkat 2 di musim 2015-2016, turun ke-5, 6, 5 dan terakhir di peringkat ke-8 musim ini. Dan malam ini kita kembali dihadirkan kemungkinan adanya pelipur lara untuk Gooners musim ini. Malam ini Arteta diberikan kesempatan mencetak rekor baru Arsenal di kompetisi ini, kemenangan ke-14 di turnamen sepakbola tertua di Inggris.

FA Cup Arsenal-nya Arteta

Walaupun peringkat akhir Arsenal di akhir musim ini yang terburuk dalam 25 tahun terakhir ini, Gooners yang mengikuti dengan cermat kiprah Arteta tidak akan terlalu bersedih saat memikirkannya. Identitas sepakbola tim ini mulai terlihat, demikian juga perkembangan mayoritas pemain Arsenal di bawah asuhan Arteta. Kita telah move on dari sepakbola era Emery yang membosankan. FA Cup sebenarnya dapat menjadi barometer yang tepat untuk menilai Arsenal-nya Arteta karena dari pertandingan pertama sampai final, tim ini diasuh olehnya.

Hasil Pertandingan Arsenal di FA Cup 2020

Dari screenshot di atas, bisa dilihat perjalanan Arsenal di turnamen ini. Arsenal memulai dengan mengalahkan timnya Marcelo Bielsa yang sedang naik daun di Championship (akhirnya mereka memenangkan Championship dan akan promosi ke Premier League musim depan). Pertandingan-pertandingan berikutnya semua dimenangkan dengan tidak mudah. Kemudian tibalah pertandingan melawan tim solid Sheffield United yang sangat menentukan, yang mana mental tim Arsenal diuji habis. Ceballos tampil sebagai pahlawan dengan mencetak gol kemenangan di menit terakhir.

Pertandingan melawan Manchester City di semifinal adalah penampilan terbaik Arsenal musim ini. Secara taktik dan mental Arsenal unggul atas Manchester City malam itu. Malam ini kita membutuhkan penampilan Arsenal yang sama, pertahanan yang solid dan counter attack yang mematikan. Build up yang tenang dan eksekusi finishing yang efisien. Arteta sudah membuktikan diri kalau ia bisa sangat tenang dan berpengaruh terhadap timnya, di big match melawan Liverpoold an Manchester City. Ia mampu memotivasi pemainnya untuk memberikan lebih dari 100%. Malam ini, semua pemain tahu, kemenangan di FA Cup ini akan sangat berarti bagi Arteta dan juga bagi kepercayaan diri mereka sendiri untuk musim mendatang.

Chelsea

Chelsea menutup musim ini dengan lolos ke Champions League. Hasil yang luar biasa untuk manajer muda Frank Lampard, terutama mengingat prestasi ini dicapai di tengah larangan transfer Chelsea. Mengandalkan pemain muda binaan akademi dan pemain baru satu-satunya Christian Pulisic yang berhasil dibeli sebelum larangan transfer, Frank Lampard berhasil menstabilkan kapal yang akhirnya berlabuh dengan mantap di peringkat keempat di akhir musim. Penampilan mereka sejak Project Restart cukup stabil dengan beberapa penampilan menonjol dari Giroud, Pulisic dan Mason Mount, tiga penyerang yang sangat berbahaya.

Di belakang mereka ada Kovacic yang penampilannya di musim ini lebih baik lagi semenjak dipermanenkan. Jorginho siap dengan umpan-umpan panjangnya kalau tidak sedang menjatuhkan diri teatrikal. Di sayap, James dan Alonso adalah wing back ofensif yang akan selalu maju menyerang. Chelsea akan bermain dengan 3-4-3, formasi yang sama dengan Arsenal.

Predikisi line-up kedua tim

Pulisic akan menyerang lewat dribble dan penetrasi di sisi kanan Arsenal dan Mount lewat crossing. Kedua pemain sayap ini sangat sering masuk ke dalam dari sayap untuk membiarkan overlapping dari wingback Chelsea. Keduanya sangat berbahaya, Mount dengan 8 gol dan 5 assist, Pulisic dengan 10 gol dan 7 assist untuk Chelsea musim ini.

Bila ada hal negatif dari kedua pemain sayap ini adalah keengganan mereka dalam melakukan tracking back. Hal ini bisa dieksploitasi pemain sayap Arsenal saat counter attack.

Giroud adalah pemain depan yang hold up play-nya lebih baik daripada semua striker Arsenal saat ini. Ia akan menjadi “bumper” untuk kedua pemain sayap ini dalam melakukan operan-operan pendek. Selain itu ia akan menjadi target man Chelsea yang demen crossing dari sayap. Dari 8 golnya musim ini di Premier League, 6 gol terjadi setelah Project Restart. Ia seperti lahir baru setelah lock-down Covid-19.

Untuk mengantisipasi pemain sayap Chelsea, Arteta bisa memilih menurunkan Ainsley Maitland-Niles dahulu. Namun bila ia ingin bermain lebih ofensif, Saka akan menjadi opsi yang lebih baik untuk menyerang sisi kanan Chelsea, berkombinasi dengan Aubameyang dan Xhaka. Sisi kiri Arsenal saat Saka bermain jauh lebih hidup dan ia memberikan kemampuan untuk memainkan kombinasi umpan pendek di sisi kiri lapangan.

Pemain depan Arsenal tidak kurang berbahaya. Di semua kompetisi musim ini Aubameyang mencetak 27 gol dan 3 assist, Pepe dengan 8 gol dan 9 assist, Lacazette dengan 12 gol dan 4 assist. Bila Saka (4 gol dan 11 asssist) dimainkan, daya serang Arsenal akan lebih kuat daripada Chelsea.

Perbedaan yang sangat jelas antara pemain depan Arsenal dan Chelsea adalah direct vs short pass. Chelsea akan bermain dengan umpan-umpan pendek sehingga akan bisa lebih lama dalam ball possession saat menyerang. Sebaliknya pemain depan Arsenal adalah tipe direct semua dan tidak nyaman dengan umpan-umpan pendek di sepertiga lapangan terakhir. Inilah kesulitan yang dialami Arsenal untuk membongkar dan penetrasi low block lawan. Dengan perbedaan style ini, Arsenal akan memilih bermain counter attack dan high pressing dan Chelsea sepertinya akan lebih dominan dalam ball possession.

Konsentrasi

Bukan rahasia umum lagi kalau masalah terbesar David Luiz adalah dirinya sendiri. Pemain dengan rekor memberikan 5 penalti musim ini harus fokus penuh dan menjadi tonggak utama pertahanan Arsenal malam ini, jika Arsenal ingin juara. Luiz di hari terbaiknya bisa tampil sangat baik, menghalau umpan crossing lawan dengan mudahnya dan memotong umpan cutback dari sayap ke pemain striker lawan. Tierney akan diberikan tugas untuk membantunya dan Holding di kanan. Ketiga pemain ini akan menjadi kunci suksesnya Arsenal malam ini.

Di tengah, duet Xhaka dan Ceballos semakin padu dan solid. Tidak ada yang perlu dikuatirkan soal lapangan tengah. Ceballos terutama seakan terlahirkan kembali. Ia melakukan interception, recovery, clearance, tackling dengan sangat baik di setiap pertandingan dan umpan-umpannya pun sangat akurat. Soal konsentrasi, lini tengah ini jauh membaik setelah Project Restart.

Di lini depan, trio Aubameyang, Pepe dan Lacazette semakin berbahaya. Pepe dan Auba terutama semakin terasa kliknya. Saat counter attack, ketiga pemain ini rasanya bisa mengatasi 3 CB Chelsea yang tidak begitu solid.

Emi Martinez

Pertandingan ini penting bagi semua pemain, staf dan fans Arsenal namun pertandingan ini memiliki makna paling spesial untuk Emi Martinez. Pemain yang sudah bergabung dengan Arsenal selama 10 tahun ini mengawali musim ini sebagai kiper cadangan namun sangat mungkin mengawali musim depan sebagai kiper utama Arsenal. Tidak ada yang kurang dari penampilan Emi setelah Leno cedera. Kelebihannya dibanding Leno adalah dalam menangkap bola hasil crossing. Dengan tubuhnya yang lebih tinggi, Emi sering menggagalkan serangan dari sayap lawan dengan mudahnya, menjemput bola sebelum menyentuh kepala pemain lawan, hal yang sangat dibutuhkannya malam ini.

Emi berlatih sangat keras selama lock-down dan dewi fortuna pun memberikannya kesempatan. Ia memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi, dan belief bahwa ia pantas menjadi kiper utama Arsenal. Saat ini ia berkesempatan meraih trofi pertamanya sebagai kiper di kompetisi utama, hasil jerih payah dan semangat tidak menyerah.

Percaya Arteta

Dua petandingan pasca kemenangan fantastis lawan City sempat mengurangi kepercayaan diri fans Arsenal akan kemampuan timnya. Arsenal kalah 1-0 melawan Aston Villa dan menang 3-2 lawan Watford dengan memberikan kesempatan Watford untuk kembali ke pertandingan setelah unggul 3-0. Dan kedua tim papan bawah ini sedang berjuang menghindari relegasi. Gooners mulai membayangkan skenario buruk musim lalu, di mana Arsenal dihajar Chelsea 1-4 di final Europa League, yang membuyarkan mimpi kembali ke Champions League saat itu. Hal itu bisa saja terjadi, namun saya percaya Arteta dan timnya mampu menghindari skenario terburuk itu.

Melawan Aston Villa, terlihat jelas tim Arsenal yang lelah dan terkuras mentalnya. Skuad ini tidak memiliki kedalaman sebaik tim besar lainnya sehingga pemain yang notabene sama terus digunakan Arteta. Lawan Watford, Arsenal sedikit melepas pedal gas setelah unggul 3-0. Arteta jelas sangat marah dengan penampilan yang inkonsisten tersebut. Satu minggu telah berlalu dan tim ini mestinya memiliki persiapan mental dan fisik yang cukup untuk pertandingan hari ini. Kondisi mental mereka perlu kembali seperti 2 minggu lalu, saat melawan Liverpool dan kemudian tiga hari kemudian melawan Manchester City. Arsenal di malam tersebut bisa mengalahkan tim manapun di liga ini.

Keyakinan terhadap Arteta paling jelas hadir dari para pemain. Hampir semua pemain (kecuali Ozil dan Guendouzi) memuji cara melatih dan manajemen Arteta. Mereka tidak menyangka Arteta akan sehebat ini. Taktik yang direncanakannya berhasil dieksekusi di lapangan dan terbukti efektif. Kemenangan demi kemenangan, terutama hasil perencanaan matang melahirkan kepercayaan terhadap managernya. Mereka ingin terus bersama Arteta meraih kesuksesan di masa depan dan memenangkan FA Cup ini akan menjadi bukti dari kepercayaan mereka.

Saat Arteta dan rekan-rekannya memenangkan FA Cup 2014, mereka melakukannya untuk manager-nya, Arsene Wenger. Saat itu bila Arsenal kalah, maka kontrak Wenger tidak akan diperpanjang. Wenger selalu membela dan melindungi pemainnya, dan di malam final tersebut, semua pemain Arsenal ingin memberikannya sebuah trofi penting, sebagai wujud terima kasih mereka atas kepercayaannya terhadap mereka. Mereka masih ingin memperpanjang babak akhir Wenger bersama Arsenal. Mengingat malam itu, Arteta berujar:

“I mention Arsène because we felt the responsibility to respond to him. He really deserved it because of the way he defended us. He protected all the players through some difficult moments and it was a moment of gratitude towards him from all of the players to say: ‘He deserves it, we want to stay with him.’ The best possible way to help was to win that trophy.”

Di FA Cup kali ini kondisinya berbeda. Kita baru saja membuka babak baru Arsenal bersama Arteta. Kemenangan malam ini bisa menjadi penting dan mempermudah persiapannya musim depan, dari soal kepercayaan diri pemain, mempertahankan pemain bintang, mendatangkan pemain baru (karena budget yang bertambah), namun tidaklah sesignifikan menjuarai trofi di tahun 2014, karena satu hal: waktu. Arteta memiliki banyak waktu untuk membenahi tim ini, menang ataupun kalah malam ini. Ia baru memulai revolusi-nya.

Namun bila Arsenal-nya Arteta menang malam ini, maka kita bolehlah meresmikan reinkarnasi raja FA Cup. Arsenal sebagai raja FA Cup di era Wenger, akan terlahir kembali di tangan muridnya, sang putera mahkota. Semoga kemenangan malam ini akan menjadi awal dominasi baru Arsenal, yang kita harapkan tidak hanya terbatas di FA Cup saja. Walaupun kita tidak bisa selebrasi bareng malam ini, saya rasa tidak ada yang menentang kalau tengah malam ini suasana di rumah akan sedikit dikejutkan dan diramaikan dengan seruan kemenangan.

Come On You Gunners!

Arteta Masterclass

FA Cup 2020 Semi Final – Arsenal 2-0 Manchester City – Wembley Stadium, London

Akhirnya setelah 25 pertandingan (14 menang, 6 seri dan 5 kalah) Revolusi Mental Arteta menunjukkan hasilnya. Dalam 4 hari, Arsenalnya Arteta mengalahkan dua tim terbaik di Premier League, Liverpool 2-1 dan Manchester City 2-0. Kedua tim tersebut dikalahkan dengan persiapan taktik yang cemerlang, eksekusi di lapangan yang hampir tanpa cela, dan penampilan tim yang luar biasa. Di atas kertas, kualitas pemain Arsenal jelas masih kalah dari kedua klub tersebut. Karena itu Arteta memilih untuk bermain bertahan sambil mengincar serangan balik yang efektif. Namun, seperti yang telah dirasakan semua tim yang memilih bertahan melawan kedua tim tersebut, kekalahan hampir pasti terjadi tanpa adanya game plan yang jelas untuk menyerang balik.

Arteta sendiri mengakui bahwa masih ada kesenjangan antara kualitas timnya dengan kedua tim tersebut. Namun baginya, dalam hal kepercayaan diri, akuntabilitas, dan gairah bermain sepakbola, timnya telah dapat menutup kesenjangan tersebut. Pemain Arsenal bermain untuk sesama, berjuang untuk setiap bola, menutup celah yang ditinggal rekannya dan terlihat sangat solid dalam bertahan maupun menyerang. Saat Arteta bergabung kembali dengan klub ini sebagai manager baru, ia mengatakan ada empat kualitas yang ia inginkan sebagai pondasi dasar timnya.

The priority, as I said before, is what we are going to transmit on the team, is a reflection of the demands we are going to put on them every day in training. That’s commitment, accountability, aggression and passion to play this sport and to represent this football club.

This is the basic I am going to demand from them, and from there we can start to build things and improve all the things, obviously, that have to be done as quickly as possible, but if we don’t have this in the right manner, I think it will be difficult.

Hanya dalam 25 pertandingan, tim yang dilatihnya ini telah berada dalam jalur yang diinginkannya. Pondasi dasar dari timnya terlihat jelas dan telah membuahkan hasil yang luar biasa. Para pemain mengikuti instruksinya karena mereka bisa merasakan hasilnya. Bak pengikut Messiah yang merasakan langsung kebenaran dari kata-katanya berwujud dalam pengalaman nyata, kepercayaan The Gunners terhadap sang manager pun semakin bertumbuh, begitu pula kepercayaan diri mereka pribadi. Sekarang mereka percaya kalau mereka mampu bersaing dengan tim juara di liga ini, karena telah mencicipi indahnya kemenangan atas tim juara. Mental mereka telah mengalami revolusi di tangan Arteta.

Selain revolusi mental, Arsenal juga memperlihatkan penguasaan taktik yang komplit. Arsenal mencetak gol saat melawan Liverpool lewat high pressing terhadap pemain bertahan dan kiper lawan. Tidak peduli yang dihadapinya adalah dua pemain termahal Liverpool, Lacazette dan Nelson berhasil mencetak gol setelah Van Dijk dan Alisson melakukan kesalahan besar akibat high pressing Arsenal. Lawan City, Arsenal mencetak gol lewat cara lain, build up play sempurna dari belakang. Melibatkan 10 pemain dan 18 operan, Aubameyang mencetak gol pertama Arsenal hasil bola yang terus mengalir tanpa bisa dihentikan oleh pressing pemain City. Pep Guardiola terpaksa menelan pil pahitnya sendiri, yang ironisnya diberikan oleh mantan asisten manager-nya.

Gol kedua Arsenal melawan City hadir dari counter attack cepat, operan lob cemerlang dari Tierney setelah menerima back pass dari Pepe disambut dengan timing lari yang pas dari Aubameyang yang sekilas memberikan kita bayangan akan Thierry Henry yang lari dari channel kiri ke tengah sebelum kemudian mencetak gol. Aubameyang tidak mengecewakan harapan kita dan berhasil mencetak gol nutmeg salah satu kiper termahal di Premier League dengan santainya. Tim ini telah membuktikan kalau mereka bisa mencetak gol lewat cara apa saja – pressing tinggi, build up play, counter attack dan set piece. Arsenal-nya (perlengkapan senjata) komplit sudah.

Tentunya perjalanan menuju pencapaian saat ini tidaklah mudah. Ada pengorbanan, kerja keras dan konflik. Saya akan mencoba menuliskan beberapa hal berbeda yang dilakukan Arteta terhadap pemainnya yang kemudian berbuah positif dengan makin solidnya tim yang percaya penuh dengan kepemimpinannya.

Man Management Skill

Dalam salah satu ilmu manajemen untuk menciptakan high performance team, pondasi dasar paling penting adalah membangun Trust, kepercayaan. Pemain mesti percaya kepada manager-nya dan kepada rekannya. Dan Trust ini selalu dimulai dari kepemimpinan yang terbuka. Arteta berulang kali menegaskan bahwa ia selalu terbuka terhadap pemainnya. Ia siap bicara dengan lugas dan tidak akan segan dalam menyampaikan pendapatnya terhadap pemainnya. Dengan demikian ia memperlihatkan sikap yang fair dan tidak pilih kasih. Sebaliknya, pemain yang tidak bisa terbuka dengannya, untuk memenuhi standarnya dalam latihan, tidak akan dimainkan. Namun hal itu tidak berlaku untuk selamanya, begitu pemain tersebut berubah dan kemudian memperlihatkan perbedaan di latihan, maka ia dapat masuk kembali ke tim. Arteta tidak takut dengan konflik namun ia tetap berusaha untuk bersikap adil terhadap semua pemain.

Xhaka dan Ceballos menjadi contoh terbaik manajemen personal Arteta. Tidak heran mereka berdua sekarang membentuk partnership yang sangat solid. Setelah mereka berdua, Mustafi yang termarjinalkan juga kembali menunjukkan performa terbaiknya. Demikian juga Pepe yang meningkatkan usahanya dalam latihan dan kembali mendapatkan tempat di starting line up. Lacazette menemukan kembali kepercayaan dirinya. Luiz selalu mendapatkan kepercayaan Arteta walaupun melakukan kesalahan fatal saat restart liga melawan City. Pemain-pemain muda seperti Saka, Nketiah, Willock dan Nelson selalu mendapatkan kesempatan bermain ketika mereka siap. Arteta tidak takut memainkan mereka.

Di sisi lain, Arteta tidak sungkan untuk mengisolasikan pemain jika pemain tersebut tidak 100% dan sikapnya membahayakan kinerja tim. Guendouzi dan Ozil menjadi “korban” dari kebijakan ini. Guendouzi yang keras (dan besar) kepala menolak meminta maaf karena sikapnya setelah game lawan Brighton tidak mendapatkan tempat lagi di tim. Ia lebih mementingkan egonya daripada timnya. Jika situasi ini terus berlanjut, Guendouzi bakal dijual sebelum musim baru dimulai.

Untuk Ozil, semenjak restart liga tampaknya ia belum menampilkan upaya 100% saat latihan. Kata Arteta mengenai Ozil yang absen sejak pertandingan pertama setelah Premier League bergulir kembali:

I have been very open with Mesut from day one.

Since I joined I thought that he was fit and he was willing and he wanted to perform at the level he can do.

The moment I see that he is ready again to do that, I will treat him like anybody else. I think I’ve been more than fair with him and I think he has responded in many games the way I want. That’s it.

Bila Ozil tidak mau berusaha sekeras rekan-rekannya, artinya ia juga lebih mementingkan egonya daripada timnya, dan pasti akan dilepas juga sebelum musim baru dimulai walau tidak mudah karena gaji per minggunya yang telah tinggi. Namun bila Ozil memilih makan gaji buta daripada bermain sepakbola secara konsisten setiap minggu, maka karier sepakbolanya akan berakhir dengan cepat.

Ainsley Maitland-Niles

Sempat diisukan akan hengkang karena tidak nyaman bermain sebagai Right Back, Ainsley Maitland-Niles tidak dimainkan oleh Arteta untuk waktu yang lama. Perlahan, sebagaimana yang terjadi pada pemain lainnya yang ditangani Arteta, ia mulai berubah dalam sesi latihan, dan akhirnya mendapatkan tugas mulia di pertandingan lawan City. Arteta menurunkannya dengan misi menganulir Riyad Mahrez. Karena taktik spesial ini, Tierney terpaksa bermain sebagai LCB dan Maitland-Niles menjadi left wingback. Mahrez mati kutu sepanjang pertandingan ini karena ditempel ketat oleh lawannya. Satu-satunya peluang bersih yang didapatkannya menjadi satu-satunya shot on goal City yang diselamatkan dengan mudah oleh Emi. Mahrez diganti sebelum babak berdua berakhir dan Maitland-Niles bahkan beberapa kali sempat ikut turun menyerang sisi kanan lapangan City. Sayang saja umpan crossingnya tidak seakurat Saka, kalau tidak City bisa menderita kekalahan lebih besar. 2-0 cukup untuk malam itu.

Di akhir pertandingan Maitland-Niles dipeluk erat oleh David Luiz sang motivator. Arteta juga memeluknya dengan erat sambil mengangkatnya, wujud apresiasi ekseskusi misinya yang sukses besar. Maitland-Niles menambah satu lagi dari sekian banyak pemain yang menjadi lebih baik di bawah penanganan Arteta. Entahlah kalau Guendouzi menonton pertandingan ini atau tidak. Kalau ia punya akal sehat, mestinya ia akan terpengaruh untuk mengubah sikapnya, untuk ikut kereta Arteta yang melaju makin cepat.

Lacazette dan Pepe

Aubameyang mencetak dua gol dengan sangat efisien namun penampilan Lacazette tidak bisa dilupakan. Ia bermain sangat baik sebagai hold up player saat serangan balik dan meneruskan bola dengan progresif, atau mengundang foul lawan. Lacazette melakukan high pressing sepanjang pertandingan. Rivalitasi yang dihadirkan Arteta terhadapnya dengan seringnya memainkan Nketiah yang sangat energik berpengaruh positif terhadap Laca. Golnya saat melawan Spurs menunjukkan sinyal ia kembali ke penampilan terbaiknya.

Di sisi kanan, Pepe juga berkontribusi positif. Ia berperan dalam dua gol Aubameyang, sebagai assister dan pre-assister. Dribblingnya lebih bertujuan, gerakannya lebih fokus, dan kombinasinya dengan Bellerin terlihat semakin baik. Ia juga ikut dalam pressing dan tracking back, berubah total dibandingkan gaya permainannya yang lebih individualis saat pertama kali bergabung di awal musim. Sayang sekali hanya tertinggal tiga pertandingan tersisa di musim ini, di saat trio Laca-Auba-Pepe sedang menuju level yang diharapkan fans sejak awal musim.

Lencioni Model

Kembali ke ilmu manajemen soal high performance team. Saya mempelajari hal ini dalam salah satu training project management. Lencioni membuat model piramid berisi 5 unsur / tahapan perubahan perilaku sebuah tim untuk menghasilkan tim dengan kinerja yang lebih baik. Tim yang mana kinerjanya lebih baik dari gabungan kualitas masing-masing individu anggotanya. The whole is greater than the sum of its parts.

Building a high performance team

Setelah membangun Trust, maka yang berikutnya adalah tim harus tidak takut menghadapi konflik. Perdebatan perlu terjadi karena setelah itu, tim harus mencapai kesepakatan dan semua yang berbeda pandangan awalnya akhirnya harus berkomitmen terhadap keputusan yang satu, metode dan tujuan yang sama. Mereka yang tetap tidak sejalan, dengan terpaksa disisihkan (Guendouzi, Ozil). Dengan komitmen tersebutlah, maka akuntabilitas bisa diterapkan. Pemain yang melakukan kesalahan, mengaku salah dan mendapatkan konsekuensinya. Lebih baik lagi, setiap rekannya akan mencoba cover sehingga kesalahan itu tidak berdampak buruk, sebagaimana Xhaka yang meng-cover kesalah Mustafi malam itu. Karena tim yang berfungsi dengan baik percaya bahwa hasil itu sifatnya kolektif.

Trust -> Conflict -> Commitment -> Accountability -> Results.

Mirip bukan dengan 4 fondasi dasarnya Arteta Way? Saya tidak akan kaget kalau Arteta terinspirasi oleh model manajemen Lencioni ini.

Masterclass

Seperti yang diutarakan di awal, sangat sayang musim ini tersisa 3 pertandingan lagi, ketika Arteta mulai menunjukkan Masterclassnya, berkat tim yang sudah sejalan, yang bernafas dengan detak jantung yang sama. Tidak tanggung-tanggung dua pelatih kawakan, Klopp dan Pep dengan tim yang jauh lebih mahal sudah merasakannya. Di final FA Cup dalam 2 minggu mendatang, Arteta akan berhadapan dengan salah satu dari dua pelatih muda mantan pemain sukses lainnya di dalam Lampard dan Solksjaer, pertarungan yang tidak akan kalah serunya. Final FA Cup ini akan sangat berarti bagi Arteta dan Arsenal: mendapatkan tambahan budget untuk belanja musim depan (karena bisa berpartisipasi di Europa League) dan mempertahankan pemain terbaiknya agar tidak hengkang (Aubameyang).

Masterclass yang ditunjukkan Arteta begitu berbeda dengan sepakbola tanpa jati diri di era Emery. Semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Berbagai pundit bola yang biasanya menganggap remeh Arsenal bisa merasakan perubahan tim ini di bawah asuhan Arteta. Bila ini baru tahapan basic, sesuai penjelasannya, kita boleh merasa optimis dengan masa depan Arsenal di tangan Arteta. Kita berharap KSE sama optimisnya dalam mendukung Arteta dengan dana yang sepadan, agar kita bisa menyaksikan visi Arteta Way terealisasikan.

Revolusi Mental Arteta

Empat pertandingan pertama Arteta menghasilkan imbang (Bournemouth), kalah (Chelsea) dan menang 2x (MU, Leeds FA Cup). Awal yang rasanya lumayan untuk ukuran seorang manajer baru klub papan tengah. Namun buat kita, Gooners yang menonton keempat pertandingan tersebut, kita bisa merasakan perubahan yang drastis dalam segi upaya, taktik, energi semua pemain Arsenal yang menjadi sangat positif. Penampilan yang memberikan harapan bahwa musim ini belum usai. Bahwa Arsenal bisa terangkat dari posisi di papan tengah.

Apa yang dilakukan Arteta sehingga sepakbola Arsenal berubah dari reaktif menjadi proaktif? Tiba-tiba kita memainkan sepakbola protagonist, yang hanya bisa diimpikan oleh Emery namun tak pernah terwujud. Arteta, dalam waktu yang sangat singkat mentransformasi team Arsenal ini, bermain menyerang, counter pressing, defensive line yang tinggi, one-two pass yang kembali dan terakhir pemain yang tersenyum di lapangan. “The fun is back!” kata Sokratis.

Dalam tulisan saya sebelumnya, The Arteta Way, Arteta menyebutkan ada 4 hal penting yang ia inginkan sebagai pondasi dasar timnya: komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah untuk memainkan sepakbola dan mewakili klub ini. Di berbagai press conference sebelum dan sesudah pertandingan, Arsenal kembali mengulanginya. Komitmen, agresi, gairah dan akuntabilitas. Setiap pemain harus berkomitmen di lapangan hijau 100% upaya tanpa sedikitpun menyerah, agresif dalam pressing, bergairah dalam memainkan sepakbola menyerang dan terakhir sama-sama bertanggung jawab terhadap apapun yang terjadi di lapangan. Arteta tidak ingin pemainnya saling menyalahkan ketika kehilangan bola, setiap pemain wajib tracking back dan melindungi temannya. Satu untuk semua, semua untuk satu. Arteta tahu, agar para pemainnya bisa memainkan sepakbola dengan intensitas sangat tinggi yang saat ini dimainkan klub-klub papan atas Premier League, ia perlu merevolusi mental pemainnya dahulu.

Revolusi Mental

Revolusi Mental itu berjalan bertahap. Pertama melawan Bournemouth, bermain menyerang sejak menit pertama dengan high pressing, Arsenal ketinggalan 1-0 di babak pertama. Pemain tidak menyerah, dan terus memborbardir pertahanan Bournemouth. 17 shots untuk away game, yang sangat tinggi dibanding Arsenal era Emery. Akhirnya Aubameyang menyamakan kedudukan di menit ke-63. Perbedaan seri dan menang ada pada keputusan-keputusan yang kurang tepat dari Nelson, Saka, Lacazette dan Aubameyang saat berada di final third lawan. Arteta memakluminya, yang ia soroti justru kondisi mental pemain:

It will be a process. I was worried what would happen if we conceded a goal. We did and I was very pleased with the character they showed. They came in at half-time and their faces, their reactions [were spot on]. It was about how much they wanted it. Normally, when you are in this process and you concede a goal, the confidence goes down and a lot of things that have happened in the past can come back. It didn’t happen, it happened in the complete opposite sense and that’s a really positive thing to take on board.

Pertandingan kedua melawan Chelsea, serangan dan pressing tinggi Arsenal di babak pertama sangat baik sekali. Ombak serangan Arsenal datang bertubi-tubi dan ketika kehilangan bola dalam 5 detik bola sudah terebut kembali. Permainan praktis terjadi di paruh lapangan lawan. Aubameyang mencetak gol di menit ke-13. Chelsea tak punya jawaban dan harus mengganti pemain di menit ke-34, memasukkan Jorginho. Di babak kedua, permainan Arsenal drop. Arsenal bertahan dan Chelsea yang mendominasi pertandingan. Walaupun demikian, tidak banyak peluang besar tercipta untuk Chelsea. Namun kesalahan Leno dalam menangkis umpan dari corner kick berbuah gol bagi Chelsea dan tidak lama kemudian saat Arsenal menyerang, sebuah counter attack cepat Chelsea juga kembali berbuah gol karena kesalahan keputusan Mustafi yang memilih mundur daripada menahan Abraham. Bad habit comes back easily.

Walaupun kalah, supporter Arsenal memberikan standing ovation kepada para pemain Arsenal. Usaha keras mereka dan sepakbola menyerang yang dimainkan tak luput dari penghargaan para penonton. Kita seperti mulai mencium bau kemenangan.

Melawan Manchester United, babak pertama yang sama agresifnya kembali terjadi. Arsenal mencetak dua gol di babak pertama lewat Pepe dan Sokratis dan MU tidak bisa menjawabnya. Di babak kedua, Arsenal sedikit mundur dan mengendalikan pertandingan lewat pertahanan yang disiplin. Kali ini Arsenal bertahan dengan lebih cerdik dan MU tidak bisa mencetak gol sama sekali. Kemenangan pertama Arteta uniknya terjadi melawan MU, mantan musuh bebuyutan Arsenal.

Yang menarik adalah wawancara David Luiz setelah pertandingan yang mengakui bahwa secara fisik, pemain-pemain Arsenal belum siap memainkan sepakbola intens Arteta selama 90 menit. Namun ketika fisik tidak siap, maka hati harus mengambil alih.

Mikel Arteta is a great coach, he knows football, he was a great player. He brings things and I believe in his philosophy. I think he can improve every single player.

In life when you are happy the results can be totally different.
I always like to use the mantra, if you sleep happy you can sleep four hours, it’s better than sleeping sad for eight hours. If you work with happiness and believing what you are doing it is totally different, so I’m happy with everybody.

David Luiz after winning against Manchester United

Arteta menanamkan mental baru kepada para pemain Arsenal. Dari semua wawancaranya saya bisa mengira mantra Arteta sebelum setiap pertandingan sebagai berikut:

  • Mainkan sepakbola menyerang sesuai identitas klub, sepakbola reaktif tidak akan membuatmu happy
  • Berikan hatimu untuk pertandingan di lapangan, 100% upaya dalam memenangkan duel dalam merebut bola. Be aggressive and intense!
  • Saling back-up rekan setim. Tidak saling menyalahkan, bermain bersama, sukses bersama
  • Semua gestur tubuhmu di lapangan akan ditangkap penonton, dengan bersikap positif maka penonton akan memberikan reaksi positif juga. Demikian juga sebaliknya
  • Pemenang tidak pernah relax, konsistensi dalam upaya membedakan antara pemenang dan pecundang.

Saat melawan Leeds di third round FA Cup, pemain Arsenal melupakan semua hal di atas di babak pertama. Ini masalah mental. Setelah menang melawan MU, pressure turun dan pemain merasa lebih relax, ah cuma lawan tim Championship. Mereka mengabaikan peringatan Arteta bahwa Leeds di bawah Bielsa bukan tim biasa, setiap minggu mem-bully tim-tim di Championship dan itu juga sebabnya saat ini mereka di puncak klasemen. Bielsa adalah pelatih jenius, pionir sepakbola yang punya pengaruh paling besar terhadap sepakbola modern saat ini. Pep mengatakan ia adalah pelatih terbaik dunia saat ini. Arteta yang dekat dengan Poch (murid Bielsa) dan mantan asisten Pep tentunya tahu persis sepakbola ala Bielsa.

Karena mental tim belum benar-benar terbentuk, Arsenal menderita selama 35 menit pertama. Leeds pressing man to man dan memaksa Arsenal bertahan. Arsenal sangat beruntung tidak kebobolan. Di saat half time, Arteta mencak-mencak terhadap pemainnya. Ia menginstruksikan pemainnya untuk bermain seperti gerombolan serigala yang mengejar bola tanpa henti. Ia tidak mengubah line up atau mengganti pemain. Xhaka dan Guendouzi disuruh bermain lebih ke depan, pressing lawan begitu pemain depan kehilangan bola. Hasilnya luar biasa, Arsenal berbalik bermain di paruh lapangan Leeds dan akhirnya mencetak gol lewat Nelson.

Arteta mengatakan bahwa ia sekarang tahu apa yang timnya butuhkan ketika kalah dan apa yang mereka butuhkan ketika menang. Bak tim baru lahir, Arsenal masih rapuh dan perlu dipandu. Ketika menang, kesombongan merayap masuk dan pressure hilang, pemain mulai lebih relax dan jadinya tidak bisa mempertahankan konsistensi.

I am learning every day about them. How they react when they lose, what they need when they lose, what they need when they win as well. And as well, how can they react when they want to. Because before that, obviously everybody said it was a physical issue that we could not sustain a certain rhythm or intensity throughout the game. Look how they finished tonight. After 94 minutes they kept going and this is here and this is there. This is what they have to understand as a team.

Mengubah mental tim menjadi mental juara tidaklah mudah. Perlu upaya luar biasa dan tim yang menyatu. Semua orang setuju dan ikut dalam kereta ini. Arteta mengatakan masalah fisik tidak menjadi masalah (sebagaimana di pertandingan lawan Chelsea dan MU). Ketika para pemain niat, mereka terus berjuang sampai peluit akhir berbunyi. 94 menit melawan Leeds yang sangat physical dan pemain Arsenal tidak berhenti mengejar di babak kedua. Hal ini yang harus mereka pahami, dan alami bersama, sebagai satu tim.

Pada akhirnya, para pemain yang akan menikmati kemenangan. Mereka bisa memilih menderita di lapangan dan di akhir pertandingan, atau berjuang bersama, menderita fisik tapi happy di akhir pertandingan. Saat ini pemain Arsenal mulai memahami langsung (lewat pengalaman), perbedaan tim medioker dan tim juara. Setelah 18 bulan di-brainwash oleh pelatih medioker dan tahun-tahun belakangan era Wenger yang memang miskin konsistensi.

Dan kemudian, bermain seperti ini setiap minggu, setiap pertandingan, setiap sesi latihan. Hanya dengan demikian Arsenal bisa diubah menjadi tim dengan mental juara.

Perubahan Taktik

Tentunya hanya bermodal semangat saja tidak bisa mengubah sebuah tim serta merta menjadi tim juara. Ada perubahan taktik dan posisi pemain agar tim bisa merebut bola dengan waktu dekat, upaya minimal. Itu tugas pelatih. Tulisan Michael Cox di The Athletic mengupas perubahan ala Arteta ini dengan sangat baik. Saya rangkum sedikit di sini.

Formasi di atas kertas Arsenal adalah 4-2-3-1 tapi di atas lapangan formasi itu berubah menjadi 4-4-2 saat bertahan dengan Ozil dan Lacazette di depan dan 2-3-5 saat menyerang. Maitland-Niles berubah dari RB ke RCM dan Saka / Kolasinac maju dari LB ke LW. Lihat grafik di bawah ini. Dengan 5 pemain menyerang dan 5 pemain bertahan, Arsenal stretching lawan melebar sehingga memberikan banyak space khususnya untuk Ozil dan Xhaka dalam mengumpan.

David Luiz bersiap mengoper bola ke RW Arsenal, lihat space yang dimilikinya!
Xhaka punya beberapa opsi, lihat space yang terbuka lebar untuk Aubameyang dan Saka

Perubahan formasi ini memungkinkan Arsenal bermain operan pendek maupun panjang, dan cukup banyak space untuk winger berlari. Umpan satu-dua yang sudah lama hilang dari peredaran muncul kembali.

Dengan formasi seperti ini juga, saat kehilangan bola, Arsenal bisa dengan cepatnya mengerumuni pemain lawan yang memegang bola dan memutus jalur operan bola. Bila pressing awal gagal, maka Arsenal kembali ke formasi 4-4-2 blok bertahan yang rapat menutup lini tengah.

Mengagumkan apa yang bisa dicapai dengan perubahan sedikit formasi dan eksekusi yang konsisten.

Kita baru di chapter pertama revolusi mental Arteta, sangat menarik melihat apa yang akan dilakukannya di pertandingan malam ini, melawan Crystal Palace tandang.

Pertandingan ini akan sangat berarti untuk satu pemain. Ajang redemption untuk Granit Xhaka. Semoga kemenangan dan penampilan gemilang menjadi balasan yang pas untuk aib tahun lalu yang mengakibatkan ban kaptennya dicopot.

Kita ingin menyaksikan revolusi mental Xhaka malam ini. Semoga terjadi.



The Arteta Way

WBMikel_1600x900
Mikel Arteta, Arsenal New Head Coach (20 Dec 2019)

Momen bersejarah baru ini mendorong saya untuk kembali menulis blog setelah sekian lama non-aktif. Blog terakhir saya di bulan Februari 2018 tentang nonton langsung North London Derby yang ternyata juga menjadi musim terakhir Le Boss, orang yang paling saya hormati di muka bumi saat ini. Arsenal tanpa Arsene Wenger berubah. Bukan soal hasil pertandingan, tapi lebih soal bagaimana klub ini dijalankan. Wenger mungkin bisa merasakan itu, maka pesannya “Take care of the values of the club” selain ditujukan kepada fans, juga secara tidak langsung disampaikan kepada board Arsenal.

Berakhirnya Sebuah Era 

Lengsernya Wenger adalah hasil dari pertarungan kekuasaan. Gazidis yang tidak pernah bisa klop dengan Wenger, sudah lama menunggu momen untuk berkuasa. Ia memasang Raul Sanllehi dan Sven Mislintat untuk mengurangi absolute power Wenger di klub. Rekrutmen di musim terakhir itu juga rasanya dilakukan mereka tanpa banyak mendengarkan maunya Wenger.  Dengan performa musim itu yang menjadi musim terburuk Arsenal era Wenger, board Arsenal diyakinkan Gazidis bahwa inilah saatnya untuk perubahan. Karena respek board yang begitu tinggi terhadap Wenger, ia diberikan kesempatan untuk mengucapkan perpisahan sebelum musim berakhir dan mereka dapat memulai proses mencari penggantinya. Buku otobiografi Wenger yang akan terbit pertengahan tahun depan pasti akan mengupas banyak pertarungan kekuasaan di balik layar ini.

Gazidis, Raul dan Sven melakukan pencarian manajer baru sebelum akhir musim sebagaimana audisi bakat reality show. Mikel Arteta yang menjadi unggulan petaruh akhirnya disalip di babak final oleh salesman Unai Emery dengan power pointnya yang spektakuler. Kurang pengalaman, Arteta mungkin tidak menyiapkan diri sebaik itu. Unai datang lengkap dengan timnya yang terdiri dari 6-7 orang. Ia memutar video analisa semua pemain Arsenal dan mengatakan kalau ia tahu bagaimana mengeksploitasi pemain terbaik Arsenal, Aaron Ramsey. Metode homework untuk pemain lewat USB juga dipaparkan. Akhirnya ia berhasil meyakinkan trio kwek kwek bahwa ia manajer yang tepat untuk mengubah nasib Arsenal yang sudah lama tidak masuk Champions League. Saya yakin presentasi Emery dilakukan di siang hari. Kalau tidak, mereka mungkin saat itu akan was-was dengan kemampuan komunikasinya saat ia mengucapkan “Good Ebening”.

Satu setengah musim kemudian, di bawah kepemimpinan Emery, emosi kita diaduk-aduk dengan akhir musim lalu yang anti klimaks, kepergian Ramsey (ironisnya) dan beberapa pemain penting lainnya, sepakbola tanpa identitas, perang dingin manajer dan pemain bintang, manajer yang kehilangan respek pemain, kapten yang ribut dengan fans, dan tentunya yang paling miris 7 pertandingan beruntun tanpa kemenangan, dan itupun kebanyakan melawan klub semenjana.

Krisis Identitas dan Kepercayaan Diri

Saya tidak pernah terinspirasi untuk menulis blog tentang Arsenal di era Emery. Sulit rasanya mengidentifikasikan klub tersayang kita saat melihat timnya bermain di lapangan. Emery adalah tipe pelatih reaktif. Ia menyesuaikan taktik timnya dengan cara bermain lawan. Ia doyan ganti formasi dan ganti starting line-ups. Akibatnya para pemain kebingungan dan tidak terjalin chemistry yang baik antara pemain satu dan yang lain. Kita tidak punya duet striker, duet pemain tengah, ataupun duet pemain belakang yang menetap. Apalagi kombinasi antara pemain tengah dan depan. Bermain dengan Laca dan Auba sangat berbeda. Yang satu memilih lari di channel antara FB dan CB, yang lain memilih drop deep di tengah untuk menerima bola. Para pemain tengah terpaksa mengganti cara passing mereka dari satu pertandingan ke pertandingan lain karena perbedaan gaya ini. Kombinasikan itu dengan 11 varian pemain dan kebingunganlah yang didapatkan. Saat itulah sepakbola Arsenal kehilangan identitas, karena taktik yang terus berganti tergantung lawannya.

Emery juga terlalu tinggi menganggap lawan dan akibatnya merendahkan timnya sendiri. Alih-alih mengeksploitasi kekuatan timnya sendiri, ia memilih mengantisipasi kekuatan tim lawan. Di saat seperti ini, saya jadi ingat kata Wenger:

A football team is like a beautiful woman. When you do not tell her, she forgets she is beautiful.

Krisis kepercayaan diri menjadi tema umum semua pemain Arsenal saat ditanya soal kemerosotan performa di lapangan di musim ini. Ini kegagalan dari empowerment team. Banyak lagi kutipan serupa mengenai kepercayaan diri, fokus kepada kekuatan yang semua ini telah menjadi value Arsenal selama 2 dekade kepemimpinan Wenger.

None of us has all the qualities. But we make our life and our success with one quality that is very strong, and we can diminish our weaker sides a little bit. Once a player has a strong quality, my job is then to give him the confidence.

In my job, the main quality is to be an optimist. You should see what the club is about after big defeats, it’s like a lost war. Everybody is on the floor, so you have to be an optimist and say to people ‘Come on, we are good enough to pick up and win our next game’. Everyone forgets quickly in life how good he is or how good he can be when things go wrong.

Kutipan-kutipan di atas tidak hanya berlaku pada sepakbola, tapi untuk hidup secara umumnya. Inilah nilai-nilai kehidupan, kalau dapat kita hayati dan terapkan.

Atlet cepat melupakan bagaimana bagusnya dirinya ketika ia terus menerus menderita kekalahan. Pemain Arsenal seakan harus diingatkan mereka adalah pemain bagus yang setia menghuni 4 besar, yang berkompetisi untuk trofi. Mungkin Emery terus mengatakan kalau pemain lawan bagus dan lain-lain, jarang memuji pemainnya sendiri, membangku cadangkan pemain terbaiknya hanya untuk membuktikan kuasanya. Mungkin semua hal negatif tersebut diulang-ulang setiap hari di latihan dan akibatnya pemain-pemain Arsenal kehilangan kepercayaan diri.

Hal ini bisa dilihat dari jarak antar pemain yang demikian jauh di lapangan. Kurang compact. CB yang tidak berani pressing dan nempel ke pemain depan lawan karena takut tidak bisa mengejar mereka ketika lolos. Arsenal tidak bermain high pressing, namun tidak juga low block. Saat pemain depannya pressing, pemain tengah tidak ikut, dan pemain belakang jauh di areanya sendiri. Tidak satu komando. Saat lawan lolos pressing, hanya butuh satu dua umpan akurat dan pemain cepat untuk menembus pertahanan Arsenal dan berakhir dengan shot on target. Tidak heran kalau kita memberikan begitu banyak peluang tembakan kepada lawan dengan cara bermain seperti ini. Cara bermain yang kekurangan percaya diri.

Hal pertama yang diucapkan para pemain saat Emery diganti oleh Ljungberg sebagai head coach sementara adalah Ljungberg memahami pemain karena ia adalah mantan pemain. Secara tidak langsung mereka ingin mengatakan kalau Emery tidak memahami mereka. Mungkin Emery memainkan mereka bak main Football Manager. Memasang starting line up sesuai analisa videonya dari tim lawan, mengganti taktik dan formasi dari satu game ke game lain, pencet tombol simulasi dan tunggu hasilnya. Gagal, coba lagi dengan formasi lain. Sisi humanisnya, sisi personal touch dengan berdiskusi dengan pemain tidak ada. Ia jelas tidak mengatakan kepada Mesut Ozil kalau dirinya beautiful… Tidak ada fitur itu di Football Manager (entah kalau versi terbarunya). Emery lupa bahwa saat pertandingan berlangsung, yang menjalankannya adalah para pemain bola, bukan pelatih, sekeras apapun teriakannya di lapangan.

Akhirnya, tidak ada pemain Arsenal yang bersedia bermain untuknya. Bahkan kapten andalannya pun kecewa ketika “dikorbankan” oleh Emery dan akhirnya menjadi sasaran amuk massa. Lebih lagi ketika Emery tidak membelanya. Semua aksi seperti itu diperhatikan semua pemain dan mereka kehilangan respect dan kepercayaan pada pelatihnya. Singkat kata, Emery lost the dressing room and then he lost the job.

Revolusi Arteta

Sejak awal saya menginginkan Arteta sebagai head coach baru Arsenal. Sejak menjadi pemain Arsenal, ia sudah menunjukkan leadershipnya yang sangat kuat. Interview terakhirnya di majalah Arsenal juga menunjukkan keinginan kuatnya untuk menjadi manajer sepakbola. Alih-alih melanjutkan kariernya di klub-klub kaya di China atau MLS di USA, atau menjadi pundit sepakbola sebagaimana Thierry Henry dan beberapa mantan pemain Premier League, Arteta langsung memilih meniti karier sebagai asisten manajer Manchester City di bawah manajer terbaik dunia, Pep Guardiola. Ia tidak mau membuang waktu. Ia punya ambisi, kepercayaan diri, dan belief ia akan menjadi manajer Arsenal di masa depan. Saat itu ia mengatakan kepada staf-staf di Arsenal bahwa ia akan keluar dari klub untuk menuntut ilmu dulu, dan kembali saat ia siap. Karakter yang sangat kuat dan kepercayaan diri yang tinggi. Keyakinannya dan hasil kerja kerasnya akhirnya terbayar sekarang.

Tidak mudah untuk Arsenal menunjuk Arteta menjadi head coach yang baru tanpa pengalaman menjadi manajer. Namun Arteta memiliki banyak hal yang membuat ia lebih unggul dari kandidat lainnya. Ia menjadi kandidat yang paling cocok untuk Arsenal di saat value Arsenal yang dipertegas di era Wenger semakin terkikis. Arsenal tidak memiliki komunikator yang baik saat ditimpa krisis, sebagai PR dan sekaligus penegak nilai Arsenal. Acuan moral klub. Emery tidak bisa melakukan peran itu dan board juga tidak mau muncul ke depan untuk menahan peluru dari fans dan media. Saat Koscielny menjadi pemberontak, misalnya. Saat Ozil sering bolos dengan izin sakit. Saat Xhaka emosional di-boo supporter. Saat gosip seputar keterlibatan super agent dalam transfer pemain dan kemudian munculnya prospek Nuno Espirito Santo menjadi headh coach baru Arsenal karena pengaruh Jorge Mendes. Saat ada dugaan Raul menggunakan koneksi super agentnya untuk transfer pemain dan membayar di atas harga pasar. Semua rumor yang bertentangan dengan value Arsenal yang berawal dari Victoria Concordia Crescit. Victory grows out of harmony.

Arsenal website punya section The Arsenal Way, yang mendefinisikan nilai-nilai Arsenal dari sisi sejarah maupun korporasi. Bagi saya yang tidak tinggal di Islington, Jalan Arsenal adalah hal-hal yang dilakukan dengan benar, berintegritas, manusiawi dan harmonis. Semua kutipan dari Wenger mengenai sepakbola, indahnya manusia dan kepercayaan diri adalah bagian tak terpisahkan dari Jalan Arsenal.

Arteta mengerti itu.

Pada kesempatan pertamanya bicara pada pers, ia tampil sangat menawan. Komunikasinya lugas dan cerdas. Pertama ia berterima kasih kepada Arsene Wenger yang melihat kualitas dirinya, membawanya ke klub yang sudah lama diidolakannya, menjadikannya kapten, membuatnya jatuh cinta dan dengan demikian memberinya peluang untuk menjadi The Boss baru Arsenal.

Arteta mempelajari pentingnya sentuhan personal dan juga modernitas taktik dari dua manajer hebat. Ia juga belajar bagaimana menyampaikan pesannya dengan sederhana kepada pemain. Ia memulai dari dasar. Pertama, bermainlah dengan agresif, saling mendukung, dan bertanggung jawab. Akuntabilitas adalah isu di mana-mana tidak cuma di sepakbola. Semua manajer yang baik tahu bahwa untuk menciptakan tim yang mampu berperforma baik, perlu adanya komitmen bersama yang kemudian ditindaklanjuti dengan hasil dan akuntabilitas. Manajer perlu menjadi ruthless, pertama memberikan kesempatan, dukungan dan arahan namun kemudian juga menyingkirkan mereka yang tidak berkomitmen dan tidak perform. Arteta memulai hal itu dengan timnya. Siapapun pemain Arsenal yang tidak tampil 100% dan tidak mengikuti instruksinya akan disingkirkan. Harmoni artinya semua bagian dari tim memiliki satu tujuan yang sama dan berkomitmen untuk mencapainya bersama.

Untuk bisa mendapatkan komitmen itu, ia perlu meyakinkan semua pemain dahulu bahwa Jalan yang akan ia tempuh adalah jalan yang akan membawa pada kemenangan, dan kesuksesan.

Ia tidak bicara soal taktik dahulu. Di pertandingan lawan Everton terlihat bagaimana David Luiz dan Granit Xhaka yang biasanya tidak agresif dalam tackle atau interception melakukannya dengan baik. Saya sangat terkesan dengan Luiz yang menempel dekat pemain penyerang lawan dan berhasil dalam duel 1 on 1 dalam banyak kesempatan. Xhaka juga track back, intercept, tackle. Semua pemain bekerja keras untuk tidak memberikan peluang menyerang Everton. Hasilnya clean sheet pertama setelah sekian lama. Yang masih kurang adalah bagaimana menyerang dengan baik dan itu akan hadir seiring dengan waktu Arteta berlatih bersama tim. Kita mesti bersabar karena seperti kata Wenger lagi, kepercayaan diri itu seperti turun lift dan naik tangga. Hilang dengan cepat dan hanya bisa dibangun perlahan.

Banyak sudah beredar artikel mengenai bagaimana Arteta melatih pemain-pemain City untuk menjadi lebih baik lagi. Sterling, Sane adalah contoh apik. Kita menunggu polesan Arteta terhadap pemain-pemain muda Arsenal. Emile Smith Rowe dan Bukayo Saka adalah jebolan akademi Arsenal terbaik yang menunggu golden touch Arteta. Kita masih punya Martinelli, Tierney, Nelson, Willock, Guendouzi dan Saliba yang akan bergabung musim depan. Kemudian Ceballos dan Pepe yang juga belum menunjukkan performa terbaiknya di Premier League. Di tim U23, pemain muda berlimpah bakat juga siap menunggu giliran.

Bagi Arteta, ada 4 hal penting yang ia inginkan sebagai pondasi dasar timnya: komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah untuk memainkan sepakbola dan mewakili klub ini.

The priority, as I said before, is what we are going to transmit on the team, is a reflection of the demands we are going to put on them every day in training. That’s commitment, accountability, aggression and passion to play this sport and to represent this football club.

This is the basic I am going to demand from them, and from there we can start to build things and improve all the things, obviously, that have to be done as quickly as possible, but if we don’t have this in the right manner, I think it will be difficult.

Musim ini, empat besar mungkin bisa kita lupakan karena begitu jauhnya posisi Arsenal di klasemen. Mari hilangkan ekspektasi tinggi agar setiap proses lebih bisa kita nikmati secara natural. Sebagai Gooners, yang bisa kita lakukan adalah memberikan waktu untuk Arteta bekerja dan mendukungnya. Yang pasti minggu per minggu kita akan melihat perbaikan penampilan Arsenal. Saya yakin.

Setelah lebih dari 20 tahun mendukung Arsenal, saya sudah menyaksikan pemain bintang datang dan pergi. Hal ini juga akan terjadi sekarang. Mungkin kita akan kehilangan Ozil, Aubameyang atau bahkan Lacazette. Tidak masalah, karena kita sekarang mendapatkan talenta pelatih emas di Arteta, yang tidak muncul setiap tahun. Pelatih yang akan menghasilkan puluhan pemain bagus di klub ini, yang akan bermain sesuai identitas Arsenal. Saya percaya Arteta akan dapat menghadirkan kembali sepakbola menyerang yang merupakan perwujudan dari The Arsenal Way daripada sepakbola reaktif ala klub semenjana. Sepakbola protagonist yang gagal diwujudkan oleh Unai Emery.

The New Arsenal Way is The Arteta Way.