Transfer Window 2021/2022 – Saatnya Optimis? Part 2

Lanjutan dari Part 1

Walaupun finish di peringkat delapan di musim 2019/2020, Arsenal mengakhiri musim tersebut dengan optimisme yang tinggi karena dua fakta:

  1. Juara FA Cup dengan mengalahkan tim yang di atas kertas lebih kuat, Manchester City dan Chelsea
  2. Form yang membaik setelah Project Restart, terutama setelah Arteta menggunakan formasi 3-4-3 (lihat Chart 1).
Chart 1 – Arteta’s Arsenal 2019/2020 PPG

Sedikit penjelasan bagaimana membaca Chart di atas. Rolling PPG (point per game) adalah akumulasi jumlah poin yang didapatkan dibagi dengan jumlah match yang telah dijalankan. Misalnya hasil 5 pertandingan adalah 3W 1L 1D maka jumlah poinnya menjadi 10, PPG = 10 : 5 = 2.00. Nah di musim 2019/2020 Liverpool finish di peringkat pertama dengan PPG 2.61 sedangkan Man United dan Chelsea di peringkat tiga dan empat dengan PPG 1.74. Area top four finish zone tersebut saya gambarkan di Chart 1 dibatasi oleh garis kuning horisontal yang menandakan PPG 1.74 dan garis hijau horisontal yang menandakan PPG 2.61.

Kemudian kita lihat kurva warna putih yang mewakili PPG Arsenal sejak match pertama hingga match ke-18 di bawah Emery dan Ljungberg. PPG nya semakin rendah seiring dengan berjalannya musim karena hasil buruk Arsenal. Ketika Arteta mengambil-alih posisi head coach Arsenal, tim ini terpuruk dengan PPG 1.28. Angka ini jika dikalikan dengan 38 pertandingan = 48 poin di akhir musim, jumlah poin yang biasanya diraih tim papan bawah yang sangat dekat dengan zona degradasi (magic number lolos degradasi di Premier League adalah 40 poin).

Agar kita bisa menilai masa kepelatihan Arteta dengan lebih adil, saya putus akumulasi PPG di match ke-18 dan mulai dari awal perhitungan PPG untuk Arteta’s Arsenal dari match ke-19. Hasilnya bisa Anda lihat sendiri di kurva warna merah. Arsenal mencapai performa puncak pas sebelum Covid-19 break, menyentuh PPG 1.70 yang artinya hampir masuk ke top four finish zone (secara teoritis karena secara faktual masih jauh dari Top Four dampak PPG di 18 pertandingan sebelumnya). Form Arsenal menurun setelah Covid-19 break, Arsenal kalah di dua pertandingan berturut-turut. Sebagai reaksi langsung, Arteta mengubah formasi ke 3-4-3 yang akhirnya menjadi faktor dalam perbaikan form Arsenal. Di akhir musim Arteta’s Arsenal memiliki PPG 1.65 dalam 20 pertandingan. Ini artinya jika kita tidak memperhitungkan 18 pertandingan sebelumnya, form ini secara teoritis adalah form tim peringkat kelima (Leicester yang finish peringkat ke-5 saat itu PPG-nya 1.63). Secara faktual Arsenal finish di peringkat ke-8 dampak hasil 18 pertandingan Arsenal sebelum masa Arteta.

Optimisme Awal Musim 2020/2021

Berbekal optimisme di atas, Arsenal pun menyusun rencana transfer untuk memperkuat skuadnya di musim berikutnya. Sayangnya jarak antara berakhirnya musim sebelumnya dengan dimulainya musim baru hanya 7 minggu. Musim 2020/2021 PL dimulai 12 September 2020 yang artinya klub tidak dapat melakukan pre-season yang memadai (kurang dari sebulan) sedangkan transfer deadline jatuh pada tanggal 5 October, 3 minggu setelah PL dimulai. Tentunya hal ini tidak menguntungkan Arteta yang belum memiliki waktu untuk drilling taktik yang diinginkannya di tim barunya.

Saya coba membayangkan apa yang ada di benak Arteta saat itu dan pemain-pemain baru di posisi apa yang dimintanya ke manajemen. Karena Arteta sudah tidak menginginkan Ozil lagi (tak pernah dimainkan setelah break Covid-19, silakan baca Part 1) dan juga Sokratis, ia akan prioritaskan AMF dan CB di daftar transfernya. Selain itu, ia juga tahu 3-4-3 hanyalah solusi sementara saat itu dan sangat sadar formasi ini tidak mampu menaklukkan tim yang menerapkan low block. Visi jangka panjangnya Arteta ingin memainkan 4-3-3 dengan tim yang dapat melakukan high-pressing, kontrol dan dominasi pertandingan terus menerus (Arteta menyebutnya sustainable pressure and possession). Guendouzi dan Torreira tak masuk dalam daftar pemain yang bisa diandalkannya untuk visi ini, yang satu karena masalah attitude, dan yang kedua karena kewalahan dengan kecepatan dan tinggi badan di Premier League. Sangat wajar bila CM yang anti-pressing dan lebih mobile daripada Xhaka dan Elneny (agar Arsenal bisa main high pressing) masuk di dalam puncak daftar pemain yang diinginkannya.

“I am not too concerned about the possession, it’s about how we attack the opponent’s box, how we generate situations to score goals, the dominance, how quickly we regain the ball, how close we do that to the opponent’s goal. It tells you how far we’ve come to be able to do that in an away ground against one of our biggest rivals. It shows the personality and what the team wants to do and it’s going to be a big part of our identity. But we are going to finish that having produced the three points and had the security that we can control and dominate games against any opponent.”

Mikel Arteta

Maka muncullah daftar transfer sebagai berikut:

  • AMF yang bisa bermain di 4-3-3: Aouar
  • CM box to box yang bisa bermain di 4-3-3: Ceballos, Partey
  • CB: Gabriel

Namun transfer plan bisa berubah seiring dengan pergerakan di pasar. Willian tiba-tiba tersedia karena Chelsea hanya mau menawarkan kontrak baru selama 2 tahun. Kia, sebagai agent Willian dan sangat dekat dengan Raul Sanllehi dan Edu, menawarkan clientnya ke Arsenal. Arteta melihat Willian bisa menjadi alternatif di RW yang kreatif, karena Arsenal butuh kreativitas yang hilang semenjak Ozil tidak dimainkan sementara Pepe tidak terlalu meyakinkan saat itu di posisi RW (ingat Saka belum dimainkan sebagai RW, lebih banyak sebagai LWB dan LW). Sepertinya solusi yang bagus, Willian pun yang pertama kali bergabung dengan Arsenal saat itu tanggal 14 Agustus 2020.

Sehari kemudian, berita mengejutkan muncul, Raul Sanllehi dipecat board Arsenal yang diwakili Tim Lewis, karena hasil investigasi internal menyimpulkan Raul menyalah-gunakan kekuasaannya saat melakukan transfer pemain Arsenal (harga Pepe yang jauh di atas harga pasar dan kemungkinan kickback dalam deal-deal yang dilakukan lewat perantara super agent). Tentunya pemecatan mendadak ini mengganggu rencana transfer Arsenal mengingat pentingnya posisi Raul saat itu dan Edu yang terpaksa harus mengambil alih peran Raul dalam transfer tersebut secara mendadak.

Dilema berikutnya muncul, Aston Villa memberikan penawaran untuk Emi Martinez yang sudah lama mengincar posisi kiper pertama, ditambah ambisinya untuk menjadi GK timbnas Argentina. Ditambah beban Edu untuk mengeluarkan pemain-pemain yang tidak lagi dibutuhkan Arteta seperti Ozil, Sokratis, Mkhitaryan (habis loan di Roma), Guendouzi dan Torreira. Begitu banyaknya daftar incaran pemain in dan out di TW saat itu membuat Edu kewalahan dan hasilnya kita tahu sendiri:

  • Emi dijual tanpa dapat pengganti yang sepadan. Runarsson dibeli hanya berbekal rekomendasi Inaki Cana, pelatih kiper dan akhirnya terbukti blunder.
  • Aouar gagal dibeli karena harga yang diminta Lyon melebihi ekspektasi Arsenal (Lyon minta 60 juta Euro sementara Arsenal hanya menawar 35 juta Euro).
  • Partey dibeli di deadline day lewat aktivasi release clause.
  • Untungnya, transfer Gabriel sudah dikerjakan lebih awal oleh Raul sehingga ia bisa bergabung di tanggal 1 September sebelum musim dimulai.
  • Ozil, Sokratis gagal dijual, Mkhitaryan dilepas free transfer, Guendouzi dan Torreira di-loan out dan Arsenal berhasil meminjam kembali Dani Ceballos untuk kedua kalinya. Nelson dan Saliba juga gagal dipinjamkan keluar padahal Arteta tidak yakin untuk start mereka berdua di musim tersebut.

Dengan kondisi semrawut seperti yang dijelaskan di atas, saya bisa memahami mengapa Edu dan tim rekrutmen Arsenal tidak berhasil mengeksekusi transfer planning Arsenal dengan baik di transfer window pertama musim tersebut. Hasilnya, Ozil dan Sokratis tidak dapat didaftarkan ke PL gara-gara pemain Non Home Grown yang lebih dua dari kuota yang diizinkan (17). Nilai transfer window ini bagi saya mungkin hanya 6, tertolong dengan bergabungnya Gabriel dan Partey. Edu belajar dari hal ini dan menerapkan semua pelajaran mahalnya di transfer window Januari 2021, dan semoga untuk TW berikutnya juga.

And it’s only getting worse from there

Memulai musim dengan memecat Head of Football (setara Managing Director levelnya) dan transfer window yang messy tentunya akan berdampak terhadap moral dan persiapan tim. Sisa optimisme musim lalu hanya berlanjut untuk tiga pertandingan: Di Community Shield menang penalti lawan Liverpool, dilanjut kemenangan di match pertama dan kedua PL lawan Fulham dan West Ham. Di ketiga pertandingan tersebut Arteta menggunakan taktik yang sama dengan akhir musim lalu, 3-4-3 dan build up play from the back yang stretching lawan (baca artikel Memahami Artetaball). Di pertandingan ketiga PL lawan Liverpool, Arsenal dibantai 1-3. Kekalahan telak ini terasa lebih mengenaskan lagi karena Liverpool melakukan pressing tinggi terus menerus tanpa henti dan lini tengah Arsenal yang diisi oleh Xhaka dan Elneny didominasi total oleh Liverpool. Kekalahan ini mengubah taktik Arsenal hingga sampai akhir musim, melepas kepercayaannya pada 3-4-3 yang sesungguhnya bukan taktik idamannya. Bisa kita lihat rangkuman hasil, formasi dan starting line up Arsenal di musim 2020/2021 di tabel berikut.

Tabel 1 – Hasil Pertandingan Arsenal 2020/2021

Dari tabel di atas, bisa dilihat bahwa Arteta kemudian mengubah formasi dari 3-4-3 menjadi 4-3-3 di pertandingan berikutnya lawan Sheffield United. Saka, Elneny dan Ceballos dimainkan di tengah. Arsenal menang 2-1 setelah struggling untuk mencetak gol di babak pertama. Dua gol di menit 60-an atas tim terburuk musim lalu akhirnya menghasilkan kemenangan. Di pertandingan berikutnya melawan mentornya yang pernah dikalahkannya di FA Cup musim sebelumnya, Arteta menggunakan formasi “baru”, 4-3-1-2 dengan Willian bermain sebagai nomor 10 atau false 9 (tergantung penafsiran yang nonton) menunjang dua winger Aubameyang dan Pepe.

Mengejutkan, walaupun Arsenal tertinggal 1-0 di menit 20-an (Sterling, our boogeyman), Arsenal cukup dapat mengimbangi City dengan menciptakan beberapa peluang. Penampilan gemilang Ederson mengamankan kemenangan City. Partey melakukan debut pertamanya di menit ke-83, 12 hari semenjak ia bergabung dengan Arsenal. Arteta cukup optimis walaupun kalah di pertandingan hari ini dan merasa formasi 4-3-3 ini cukup berprospek untuk dipertahankan.

Pertandingan berikutnya melawan Leicester City dengan formasi 4-3-3 berjalan cukup baik di babak pertama. Arsenal mencetak gol Lacazette yang dianulir wasit karena VAR (Xhaka di-vonis salah menghalangi pandangan kiper saat corner kick). Arsenal melakukan 11 tendangan ke gawang di babak pertama itu, penampilan terbaik di musim tersebut. Di babak kedua penampilan Arsenal menurun dan counter attack cepat Leicester di mana Xhaka (dan siapa lagi kalau bukan Mustafi) melakukan kesalahan positioning sehingga terlambat tracking back pemain lawan, berbuah dengan gol satu-satunya di pertandingan tersebut, yang dicetak oleh Vardy (another boogeyman). Hasil yang tidak beruntung untuk Arsenal yang mendominasi pertandingan ini terutama di babak pertama.

Melawan Man United, Arteta tidak memainkan Xhaka (mungkin karena kesalahan lawan Leicester yang fatal) dan memilih menggunakan midfield three Partey – Elneny dan Saka dalam formasi 4-3-3. Duo pivot Partey-Elneny bermain dengan sangat baik dan Arsenal mendominasi pertandingan di kandang MU ini dan layak menang walaupun gol satu-satunya didapatkan dari penalti Aubameyang (berkat kegugupan Pogba yang tackle Bellerin). Walau demikian di sepanjang pertandingan peluang demi peluang dihasilkan The Gunners yang membuat kita makin yakin dengan formasi 4-3-3 ini. Dua kekalahan tidak beruntung dan satu kemenangan layak, rasa optimis pun lahir kembali.

Namun optimisme tersebut segera padam dengan hasil 7 pertandingan berikutnya tanpa kemenangan (5L 2D artinya hanya 2 poin dari 21 poin yang dapat diraih!). Melawan Aston Villa, Xhaka kembali tidak dimainkan dan Arteta memilih formasi yang sama saat lawan Man United, sayangnya Arsenal kebobolan lebih awal berkat own goal Saka dan Partey cedera di babak pertama sehingga tidak bisa melanjutkan ke babak kedua, diganti oleh Ceballos. Di sini mulai kerasa ketimpangan lini tengah Arsenal dan Villa mencetak 2 gol di babak kedua, hasil counter attack. Selain kebobolan 3 gol, Arsenal juga tak mampu membangun serangan yang berarti di babak kedua.

Kita akan mengenal periode ini di mana Arsenal mengkhianati jati dirinya, tim yang berubah menjadi tim spamming crossing akibat absennya kreativitas dan dominasi di lini tengah.

Selain kehilangan besar Partey di tujuh pertandingan ini, Arsenal juga kehilangan David Luiz. Dalam tujuh pertandingan tersebut Luiz hanya bermain 45 menit saat melawan Wolves dan kemudian bermain penuh lawan Everton. Partey sendiri tidak bermain sama sekali setelah cederanya di Aston Villa kecuali di pertandingan lawan Spurs dan kembali cedera di pertandingan tersebut karena ia belum 100% fit. Gabriel dan Holding sepertinya tidak tahu caranya bermain bersama (masalah komunikasi juga), absennya Luiz dan Partey membuat build up play Arsenal tidak jalan, Xhaka yang low in confidence akibat di-drop Arteta semenjak match lawan Leicester dan kemudian mendapatkan kartu merah lawan Burnley, Willian yang kebingungan dan miskin ide, semua faktor ini menghasilkan periode terkering dalam hal kreativitas Arsenal semenjak dipegang Wenger. Kita akan mengenal periode ini di mana Arsenal mengkhianati jati dirinya, tim yang berubah menjadi tim spamming crossing akibat absennya kreativitas dan dominasi di lini tengah.

A Present from Santa

Untungnya di hari Natal, Arteta mendapatkan ilham baru. Emile Smith Rowe dimainkan di pertandingan lawan Chelsea, Saka dimainkan untuk pertama kalinya di sayap kanan, Martinelli juga untuk pertama kalinya start musim itu dan dimainkan di sayap kiri. Ketiga pemain muda ini menopang Lacazette di tengah dengan formasi 4-2-3-1. Trio young and dangerous ini benar-benar menghancurkan tim Chelsea-nya Frank Lampard yang sedang digadang-gadang menjadi juara musim tersebut. Skor pertandingan 3-1 dan Arsenal bermain sangat baik. Kreativitas yang hilang di tujuh pertandingan sebelumnya, lahir kembali. The Smith (nama panggilannya sekarang) menjadi katalis kembalinya permainan menyerang Arsenal yang tidak melulu mengandalkan hopeful crossing dari sideline. Selanjutnya kita sudah tahu sendiri bagaimana form Arsenal membaik walaupun kemudian sempat mengalami beberapa kali sandungan akibat VAR, kartu merah, ataupun blunder individual pemain yang harus dibayar mahal dengan pupusnya harapan lolos ke kompetisi Eropa musim berikutnya.

Chart 2 – Arsenal 2020/2021 PPG

Chart di atas menunjukkan perbaikan performa Arsenal. Dalam 14 match pertama, Arsenal hanya mendapatkan PPG 1.00. Ini peforma yang sangat buruk, selevel dengan tim yang akan degradasi di akhir musim, sama dengan 38 poin untuk 38 pertandingan. Setelah Natal, semenjak Emile Smith Rowe dimainkan sebagai nomor 10, form Arsenal berubah ke arah positif secara signifikan. Walaupun tetap gagal masuk ke peringkat ke-4 di akhir musim, form Arsenal jika hanya dihitung dari 24 pertandingan semenjak Emile Smith Rowe dimainkan adalah 1.96 PPG, lebih baik dari Man United yang finish di peringkat kedua di akhir musim (1.95 PPG).

Tentunya tidak hanya Emile Smith Rowe yang berperan. Partey bermain sebanyak 14 kali dalam 24 pertandingan tersebut dan Odegaard yang bergabung dengan Arsenal di akhir Januari juga berkontribusi dalam hal kreativitas Arsenal. Di periode ini juga Arteta beberapa kali mencoba Aubameyang sebagai CF walau tidak selalu sukses. Sementara itu Arteta kehilangan kepercayaan terahadap Willian yang semakin jarang diturunkan sebagai starter dan menggantikannya dengan Saka di sayap kanan yang tampil luar biasa (pemain terbaik musim itu). Sisi lain non-teknis yang membantu perbaikan penampilan di periode ini adalah berhasilnya Edu mencarikan solusi di Januari untuk Sokratis, Ozil, Mustafi, dan Kolasinac sehingga tim yang tersisa lebih ramping dan lebih solid tanpa harus ada ketegangan yang tidak perlu (perang PR Ozil dan klub di social media). Selain itu pemain muda yang tidak mendapatkan banyak kesempatan juga di loan out seperti Saliba, Willock dan Maitland-Niles agar mereka bisa berkembang dengan mendapatkan menit bermain.

Hanya satu kali Arteta kembali menggunakan formasi 3-4-3 yang tentunya juga mengejutkan Tuchel saat melawan Chelsea di penghujung musim. Arsenal sudah kehilangan kesempatan ke Europa League dan harus bermain sebaik mungkin untuk finish setinggi-tingginya, modal untuk musim depan. Formasi bertahan tersebut berhasil mendatangkan kemenangan untuk Arsenal berkat blunder Jorginho dan Kepa yang dimanfaatkan dengan baik oleh Aubameyang dan The Smith. Arsenal menang 5 kali berturut-turut di akhir musim dan finish di peringkat-8, sama dengan musim sebelumnya namun dengan perolehan poin yang membaik (61 dibanding 55). Kita hanya bisa berandai-andai bila The Smith dimainkan sejak awal musim (andaikan ia tidak cedera) dan Partey bisa bermain full satu musim, berapa peringkat yang bisa dicapai Arsenal.

The Smith layak mendapatkan artikel tersendiri karena perannya tersebut dan sekarang dipercayai klub untuk memakai kaos Nomor 10 yang keramat. Saya akan berusaha menulisnya di lain kesempatan.

Walaupun tetap gagal masuk ke peringkat ke-4 di akhir musim, form Arsenal jika hanya dihitung dari 24 pertandingan semenjak Emile Smith Rowe dimainkan adalah 1.96 PPG, lebih baik dari Man United yang finish di peringkat kedua di akhir musim (1.95 PPG).

Did Arteta nail it with 4-2-3-1?

Lalu dengan form yang layak masuk peringkat kedua di 24 pertandingan terakhir Arsenal musim lalu, apakah kita bisa menyimpulkan bahwa Arteta telah menemukan tim yang diinginkannya? Jawabannya tidak, masih kurang. Walaupun akhirnya Arteta tampaknya menemukan jawaban untuk membongkar low block dan mampu mengimbangi tim besar, namun skuad Arsenal yang sekarang masih jauh dari visinya memainkan tim dengan high pressing dengan sustainable pressure and possession. Tim yang sekarang ini masih enggan melakukan pressing tinggi (takut dengan counter cepat) terutama bila midfieldnya berisi Xhaka, Ceballos atau Elneny. Di depan Lacazette, Martinelli, The Smith dan Saka adalah pemain-pemain yang bisa melakukan pressing tinggi, demikian juga Pepe. Namun Willian dan Aubameyang bukanlah tipe pemain yang dapat melakukan pressing dengan intensitas tinggi. Dengan dikembalikannya Odegaard ke Madrid, tim Arsenal ini terasa timpang bila The Smith tidak bisa bermain (bisa kita lihat di pre-season ini). Hal yang sama juga berlaku untuk Partey yang tidak memiliki penggantinya di skuad Arsenal tersebut. Arsenal jelas membutuhkan pembelian pemain baru untuk menggantikan Odegaard dan David Luiz yang pergi, sekaligus mencari pemain-pemain yang bisa menjadi upgrade atas pemain sekarang.

Pilihan itu jatuh pada Ben White (pengganti David Luiz sebagai ball playing defender), Nuno Tavares (pelapis Tierney), dan Sambi Lokonga (pengganti Ceballos sekaligus sebagai pemain muda pelapis Partey). Dari pre-season ini kita bisa melihat sedikit kelebihan (dan kekurangan) Tavares dan juga betapa miripnya permainan Sambi dengan Partey. Bayangkan Arsenal yang bisa bermain dengan dua Partey. Satu saja sudah begitu influential musim lalu, bagaimana dengan dua?

Edu yang memegang kuasa penuh untuk negosiasi transfer dan power Arteta dalam rebuilding squad yang semakin besar karena dipromosikan dari head coach menjadi manager, ditambah dengan bergabungnya Richard Garlick untuk detail negosiasi dan kontrak, plus hilangnya kegaduhan yang disebabkan oleh kasus Raul musim lalu membuat Arsenal lebih siap dalam menghadapi jendela transfer musim ini. Berbagai nama dihembuskan ke media dengan tujuan strategis dan taktis. Nama Bissouma dilempar tapi Ben White yang dibeli. Ryan Bertrand dimunculkan, tapi Nuno Tavares yang diangkut. Tidak ada yang mengendus Arsenal mengejar Sambi Lokonga sampai pada taraf pemainnya sudah setuju dan tinggal finalisasi soal final figure dengan Anderlecht. Sejauh ini eksekusi transfer Arsenal berjalan dengan mulus.

Who’s next?

Dari evaluasi dua musim terakhir ini, kita paham mengapa Xhaka, pemain yang paling diandalkan Arteta untuk leadership di lapangan direlakan Arteta untuk pergi. Ini demi evolusi tim menjadi tim yang dapat memainkan sepakbola sesuai visinya. Arteta ingin mengganti Xhaka dengan CM yang lebih mobile, lebih box to box, anti pressing dan dapat melakukan pressing, interception, tackling lebih baik namun tetap memiliki kemampuan ball progression yang bagus seperti Xhaka. Intinya CM yang tidak mudah kehilangan bola saat di-press, mampu distribusi bola dengan baik, memajukan bola ke depan baik lewat operan maupun lewat dribble, dan terakhir mampu mendapatkan bola kembali dengan cepat ketika tim-nya kehilangan bola (lewat interception dan tackle). Tidak banyak CM yang memenuhi kriteria ini. Posisi ini akan menjadi sangat penting mengingat vitalnya peran Xhaka musim lalu di Arsenal. Jangan heran bila pemain ini menjadi yang terakhir bergabung dengan Arsenal karena ini akan menjadi marquee signing Arsenal. Sampai saat tulisan ini dibuat, Juventus masih meeting dengan Sassuolo mengenai pembelian/peminjaman Locatelli yang kabarnya menjadi target nomor satu Arsenal untuk posisi ini. Selain Locatelli, nama Bruno Guimaraes, Ruben Neves, Renato Sanches, Yves Bissouma dan terakhir Eduardo Camavinga muncul sebagai alternatif. Bisa kita pahami bahwa pemain-pemain tersebut fit dengan kriteria yang dicari oleh Arteta. Posisi inilah yang akan menentukan apakah skuad Arsenal musim ini bisa bersaing di top four atau tidak.

Posisi kedua yang cukup dibutuhkan namun tidak se-urgent posisi CM adalah posisi AMF pengganti Odegaard. Tentunya siapa yang lagi yang lebih cocok untuk menggantikan Odegaard selain Odegaard sendiri? Nama lain sebagai alternatif adalah James Maddison (yang mendapat hembusan kuat dari AFCBell, legenda ITK Arsenal), dan Houssem Aouar yang harganya beserta juga rumornya makin meredup. Kita memiliki The Smith saat ini, namun ia juga tak akan mampu bermain full di 38 pertandingan. Alangkah baiknya bila kita bisa mendapatkan AMF baru yang bisa bergantian atau malah bermain bersama Smith di posisi 4-3-3, dua pemain kreatif di lini yang berbeda.

Posisi berikutnya adalah back up goalkeeper karena Runarsson dianggap sebagai kiper yang anti-tangkis dan tangkap bola, hanya jago bermain bola dengan kakinya. Selain itu RB pengganti Bellerin (bila jadi pergi). Yang menarik adalah munculnya nama Aaron Ramsdale yang dinilai sangat tinggi oleh Sheffield United (30 juta pounds ++) dan jurnalis semua pada kaget kalau Arsenal mau membeli kiper kedua dengan harga mahal (belum tahu mereka big club mentality!).

Kejutan terakhir adalah Arsenal mengincar striker baru pengganti Laca (yang kontraknya sisa setahun dan secara komersil sebaiknya dijual sekarang). Nama Tammy Abraham (40 juta pounds) dan Lautaro Martinez (60-70 juta pounds) dihubung-hubungkan dengan Arsenal. Bahkan fans Arsenal yang paling optimis sekalipun (saya misalnya) terheran-heran uang darimana Arsenal ini (mengingat pelitnya Kroenke selama ini) mau beli pemain sebanyak ini dan terutama striker semahal ini? Apakah Kroenke cs sedang mabuk? Menang lotere?

Saya akan membahas di Part 3 apakah Arsenal bisa membiayai semua transfer ini, berapa budget transfer Arsenal sebenaranya dan seberapa optimis kita dapat menggaet target-target yang diincar dan untuk performa tim tercinta ini di musim 2021/2022.

Marquee Signing

Tak ragu lagi Marquee Signing Arsenal musim ini adalah CM. Mungkin Ben White dan striker baru bisa melebihi harga CM ini, namun pemain ini akan menjadi sangat vital untuk skuad Arsenal musim ini jika Anda sudah selesai membaca Part 1 dan 2 dari serial tulisan ini. Saya menemukan artikel yang sangat bagus di Le Grove yang mana Adam Rae Voge membedah dengan sangat baik kualitas CM Arsenal sekarang dan siapa saja pemain baru yang bisa menjadi upgrade atas CM Arsenal saat ini. Sangat direkomendasikan untuk membaca tuntas artikel tersebut. Anda akan terkejut dengan data yang disajikan.

Mari kita ambil beberapa chart yang menarik dari tulisan tersebut. Pertama kualitas CM Arsenal saat ini, dari sudut pandang complete midfielder.

Chart 3 – Kualitas CM Arsenal

Dari chart di atas sekarang kita bisa tahu secara objektif statistik mengapa Torreira, Willock dan Elneny kualitasnya masih jauh dari tiga CM yang lainnya, Partey, Ceballos dan Xhaka. Guendouzi berada di antaranya namun nilainya mesti dikurangi banyak poin karena masalah attitude. Kita juga bisa menyimpulkan level Partey yang jomplang dengan semua CM lain yang dimiliki Arsenal. Kesimpulan saya berikutnya karena data ini kurang lebih sama dengan persepsi saya mengenai kualitas CM Arsenal, model ini boleh diandalkan. Saya rasa tim data analis Arsenal juga memiliki data yang sama dan kesimpulan yang sama. Dari data ini, sangat bersyukur bila kita bisa menjual Willock di harga tinggi di TW ini. Bila ingin tahu dasar di balik kriteria statistik yang dipilih, silakan baca artikel aslinya.

Lalu Adam membuat rangkuman data potensi CM untuk Arsenal, berdasarkan rumor yang baru muncul sedikit saat itu. Tulisan tersebut dibuat di tanggal 15 Juni, saat rumor pemain seperti Locatelli belum sehangat sekarang. Hasilnya seperti ini:

Chart 4 – Potensi CM baru

Bila terlalu kecil tulisannya, saya perjelas dari kiri ke kanan: Partey, Locatelli, Neves, Xhaka, Rodrigo de Paul, Anguissa, Bissouma, Aouar, Rodriguez diurut berdasarkan final score complete midfieldernya. Kembali terlihat betapa tingginya poin Partey dibanding semua nama CM ini. Kita juga sekarang tahu mengapa Locatelli berada di atas Ruben Neves dan Yves Bissouma misalnya dalam daftar transfer Arsenal. Entah Arsenal yang nyontek model ini atau sebaliknya, si penulis yang dapat cheat sheet dari Arsenal. Atau memang inilah model yang dipakai klub-klub dalam membuat urutan target pemain, ditambah kemudian scouting langsung. Temuan yang luar biasa.

Lalu penulis memperlebar modelnya ke semua CM yang tersedia datanya di internet dan yang ada dalam daftar pantauannya. Ingat tulisan tersebut ditulis di tanggal 15 Juni, sehingga hasil ini pasti mengejutkan Anda:

Chart 5 – Target CM Arsenal?

Sangat menarik bukan menemukan nama Bruno Guimares tepat berada di sebelah Thomas Partey? Nama Bruno baru hangat kembali kemarin setelah ada kabar Arsenal siap move on dari Locatelli dan mulai bicara dengan Lyon untuk transfer pemain ini. Barangkali ia sesungguhnya adalah target utama Arsenal kalau melihat model di atas. Barangkali pembicaraan mengenai Houssem Aouar adalah smokescreen untuk Bruno Guimares sama dengan Bissouma sebagai smokescreen untuk Ben White. Barangkali Locatelli adalah smokescreen untuk membantu Sassuolo agar tidak di-bully oleh Juventus dan Arsenal punya kepentingan untuk membeli RB Sassuolo yang bernama Mert Muldur (22 tahun). Kita tidak tahu dan tidak pernah akan tahu sampai transfer itu kemudian terjadi.

Thomas Partey lebih baik daripada semua CM yang namanya beredar di pasaran sekarang. Saatnya mengapresiasi pemain yang kita miliki.

Yang pasti hal yang bisa membuat kita optimis musim ini adalah: Arsenal punya transfer plan yang disiapkan dengan baik, dan sampai sekarang berhasil mengeksekusinya dengan baik. Masih banyak PR tersisa dan kita akan membahas soal budget Arsenal untuk membiayai pemain-pemain idaman ini di Part 3.

…bersambung ke Part 3

4 thoughts on “Transfer Window 2021/2022 – Saatnya Optimis? Part 2

  1. Pingback: Martin Ødegaard, The Creator-in-making | Jalan Arsenal

  2. Pingback: Rebuilding Arsenal | Jalan Arsenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s