Dennis Bergkamp, The Perfect Ten

Pengunjung rutin blog ini dan follower akun twitter @benhan tentu tak perlu tanya lagi “pemujaan” saya terhadap Dennis Bergkamp. Namun jangan khawatir, saya masih cukup waras untuk menganggap Dennis Bergkamp sebagai seorang manusia. Ia jelas bukan Tuhan dalam definisi kaum-kaum beragama. Namun bagi sebagian kelompok yang menganggap sepakbola sejajar agama (dalam hal kefanatikan bukan soal Kebenaran Absolut), maka figur seorang pesepakbola bisa menjadi Tuhan mereka. Dan bagi sebagian fans Arsenal, Dennis Bergkamp is God.

Dennis Bergkamp sendiri adalah seorang Katolik yang taat, ia tak terlalu mempedulikan status “Tuhan” yang ia miliki di antara fans Arsenal. Walaupun ia sendiri percaya kepada Tuhan konvensional (Tuhan agamanya), ia adalah tipikal pemain yang dalam persepsi Wenger juga menganggap sepakbola sebagai “Tuhan”. Menurut Wenger ada tipe pemain yang melayani sepakbola seperti ia melayani Tuhan. Mereka meletakkan sepakbola sedemikian tinggi sehingga apapaun yang tidak dekat dengan bagaimana seharusnya sepakbola itu dimainkan, tidak dapat diterima. Wenger percaya Dennis Bergkamp begitu menghormati sepakbola sehingga ia melatih dirinya untuk menjadi sesempurna mungkin bukan demi egonya, tapi demi the game, sepakbola itu sendiri.

I believe that Dennis was one of those who had such a high idea of the game and such a respect for the game that he wanted that to be above everything.

I believe that the real great players are guided by how football should be played and not by how football should serve them. If it becomes spiritual, it’s endless and you’re always driven to going higher and getting closer to what you think football should be.

Membaca biografi Dennis Bergkamp yang pertama kali diotorisasi olehnya, Stillness and Speed, maka kita akan semakin yakin dengan persepsi Wenger di atas. Bergkamp adalah figur pesepakbola perfectionist yang tidak egois. Ia memilih menjadi assister daripada scorer, terutama di fase final karirnya, bukan karena ia tak mampu lagi mencetak gol namun karena ia lebih menikmati memberikan operan sempurna untuk rekannya. Ia juga tidak terobsesi dengan pamer skill yang umumnya dilakukan pemain bertalenta. Ia tidak suka dribbling, menggocek bola untuk mengalahkan lawan. Namun ia terobsesi dengan kontrol bola. Tentang bagaimana menghentikan bola dengan first touch, mengendalikan putaran dan gerakan bola, lalu memberikan operan terukur sesuai visi di kepala.

Dalam biografi tersebut, Wenger kembali memberikan contoh bagaimana seorang pemain yang mestinya mengoper bola kepada rekannya malah melakukan tembakan spekulasi dan berhasil mencetak gol.

If he really loves the game he’ll go home and worry about it. He’ll know he really should have passed to set up an easy chance for someone else. But he was selfish and got lucky. If he doesn’t care about the game he’ll go home and think: ‘That was great – I’ll do the same next time.’

Bila ia benar-benar mencintai sepakbola, ia akan pulang dan menyesali hal tersebut. Ia tahu seharusnya ia mengoper untuk memberikan kesempatan mencetak gol yang lebih mudah kepada rekannya. Tapi ia egois dan beruntung. Jika ia tak peduli pada sepakbola, ia akan pulang dan berpikir: “Yang tadi bagus, akan kuulangi lagi lain kali.”

Dan Wenger menutup pengamatannya itu dengan pesan:

That’s why you have to teach the kids to respect the game and treat the game a little bit like a religion, that is above you, where you want to serve the game.

Anak-anak mesti diajarkan untuk menghormati dan memperlakukan sepakbola seperti agama, bahwa Ia ada di atas dirimu, di mana kamu ingin melayani sepakbola.

Sebagian pesepakbola mungkin menganggap sepakbola hanyalah sebagai mata pencaharian. Banyak yang begitu. Bendtner misalnya, memilih mendapatkan gaji tinggi di Arsenal tanpa harus bermain daripada harus pindah ke klub yang lebih kecil namun menawarkan kesempatan membangkitkan kembali karirnya. Namun bagi Bergkamp, sepakbola bukan sekedar mata pencaharian. Ia tak pernah termotivasi oleh uang. Gajinya di Arsenal sempat dipotong karena ia menolak terbang, dan ia menerima gaji yang lebih kecil lagi di penghujung karirnya karena ia bermain lebih jarang. Namun ia tidak keberatan selama ia bisa memainkan permainan yang dicintainya ini, dengan rekan-rekan yang mengerti visi sepakbolanya, di bawah pelatih yang mempunyai visi sepakbola yang sama. Bergkamp mengakhiri karir sepakbolanya di Arsenal, dalam usia 37 tahun dan mendapatkan pertandingan testimonial sebagai penghargaan pengabdian 10 tahunnya, sesuatu yang tidak pernah didapatkan Henry maupun Vieira di Arsenal.

Testimonial Dennis Bergkamp, Last Game for Arsenal

Masa Kecil

Bergkamp tidak lahir dan dibesarkan di keluarga yang miskin. Tidak pula dari keluarga yang berantakan. Ia tidak memiliki masa kecil yang pahit yang umumnya bisa menjadi pendorong ambisi pesepakbola-pesepakbola besar dalam meraih prestasi. Bergkamp lahir dari keluarga biasa, keluarga Katolik yang taat dan bersama ketiga saudaranya mengecap pendidikan yang cukup. Ia bukan anak berandalan di sekolah, cenderung pendiam dan tidak memiliki banyak teman di sekolah karena menurutnya ia telah mendapatkan teman dari kakak-kakaknya yang usianya cukup dekat. Dan sebagaimana para pesepakbola profesional, Bergkamp menghabiskan masa kecilnya dengan bermain sepakbola dengan anak-anak sebaya di lingkungannya. Di lapangan beton ataupun lapangan hijau. Perbedaannya ada pada obsesinya sejak kecil terhadap kontrol bola.

Berbeda dengan rekan-rekannya yang bermain bola untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang menyenangkan, ketertarikan Bergkamp terhadap sepakbola ada pada level yang lebih serius. Ia ingin tahu bagaimana reaksi bola bila ditendang dengan cara yang berbeda. Tembok di dekat rumahnya menjadi tempat eksperimen kecilnya. Bergkamp akan menendang bola ke tembok dan pantulan bola akan coba dikendalikan dengan kakinya untuk dipantulkan kembali. Ia lalu mulai mengerti tentang sudut pantulan bola, tentang putaran bola, tentang cara efektif menghentikan bola hasil pantulan. Ia belajar banyak dari eksperimen dengan bola dan tembok tersebut. Hasil eksperimen dari masa kecil tersebut akhirnya memberikan momen-momen sepakbola yang tak terlupakan bagi seluruh pencinta sepakbola. Gol di Piala Dunia melawan Argentina, melawan Newcastle di Liga Inggris, adalah hasil dari kontrol bola yang sempurna. Sesuatu yang dimulai dari masa kecilnya akhirnya memberikan hasil di panggung yang didambakan semua pemain sepakbola. Sebuah mimpi masa kecil yang menjadi nyata.

Mukjizat

Tuhan identik dengan Mukjizat, Miracles. Saya rasa berawal dari sanalah status “Tuhan” Bergkamp. Ia menghadirkan mukjizat demi mukjizat yang tidak pernah dilihat fans Arsenal sebelumnya. Ia mulai dari dua gol pertamanya melawan Southampton di bulan September. Yang pertama adalah volley ke sudut jauh gawang dan yang kedua tendangan keras ke tiang dekat gawang, membentur tiang dan masuk. Lalu hattrick pertamanya melawan Leicester City mengisi urutan pertama, kedua dan ketiga goals of the week. Golnya saat melawan Newcastle, yang menipu Niko Dabizas dengan arah bola dan arah putaran dirinya yang bertolak belakang menjadi gol terbaik Arsenal sepanjang masa. Golnya di Piala Dunia 1998 saat melawan Argentina menjadi salah satu gol terbaik Piala Dunia sepanjang masa.

Namun bukan hanya gol yang menjadi mukjizat Bergkamp. Fans Arsenal beruntung karena Bergkamp menjadi The Perfect Ten di Arsenal. Bermain sebagai shadow striker, dan perlahan-lahan menjadi playmaker, Bergkamp menunjukkan bahwa kemukjizatan di lapangan hijau tidak hanya monopoli sebuah gol. Dan fans Arsenal pun belajar mengapresiasi keindahan sebuah assist, atau pre-assist. Assist Bergkamp kepada Ljungberg di pertandingan liga Champions menjadi puncak mukjizat sebuah operan. Menggocek bola di depan tiga pemain Juventus, Bergkamp menunggu dan menunggu Ljungberg bergerak. Lima detik ia menunggu sambil menggerakkan bola ke sana kemari dan saat momennya tiba, saat Ljungberg bergerak, bola dioper dan mendarat persis di depan kaki Ljungberg untuk kemudian menjadi gol.

Di akhir karirnya bersama Arsenal, Dennis Bergkamp mencetak 120 gol dan 124 assist. Setiap assistnya tidak kalah cantiknya dengan setiap golnya. Dan tidak ada gol atau assistnya yang sifatnya kebetulan. Dalam bukunya, ia menjawab pertanyaan soal apakah golnya mengandung unsur keberuntungan. Hebatnya, ia mengatakan ia mengingat setiap momen golnya dan pikiran yang terjadi sebelumnya. Gol mukjizatnya terjadi sesuai gagasan di kepalanya sebelum ia melakukannya. Gol terhadap Argentina itu misalnya, ia tahu persis ia hanya boleh melakukan tiga sentuhan, ia tahu persis ia harus menghentikan bola di udara terlebih dahulu, lalu harus membawa bola ke dalam sambil mengecoh pemain bertahan, dan mencetak gol menggunakan sisi luar dari kaki kanannya. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana di kepalanya. Saat ditanya golnya melawan Newcastle apakah memang direncanakan, ia balik bertanya, “Menurutmu bagian mana dari gol tersebut yang tidak saya rencanakan?” dengan gaya khas kepercayaan diri (bukan arogansi) pesepakbola Belanda.

Bergkamp melayani sepakbola sebagaimana ia melayani Tuhan. Karena visi spiritual tersebutlah, ia bisa menghadirkan kemukjizatan di lapangan hijau, yang membawa para pemujanya menganggapnya Tuhan. Tuhan bekerja secara misterius, dan mungkin inilah salah satu cara-Nya. Sebuah siklus yang terhubung kembali di lapangan hijau. Para penonton sepakbola yang umumnya melampiaskan emosi di stadion dengan mengumpat dan bernyanyi kencang-kencang, serentak terdiam, terhipnotis oleh momen yang dihadirkan oleh seorang Dennis Bergkamp. Sebuah momen Ilahi yang menghentikan waktu, mematikan seluruh komentar pikiran. Saat itu hanya ada Dennis Bergkamp dan bola yang bergerak pelan sesuai kehendak-Nya. Tidak ada komentar pikiran, distorsi suara, kita hanya melihat Dennis Bergkamp dalam kemukjizatan. Saat melihat hanya melihat, mencerap hanya mencerap, dan merasa hanya merasa. Saat pikiran berada pada saat kini, bukan pada masa lalu atau masa depan. Saat itu sepakbola terangkat amat tinggi, melebihi segala keegoisan manusia, menembus segala bias identitas diri, lawan maupun kawan semua hanya merasakan satu perasaan, kekaguman pada sesuatu yang di luar nalar manusia.

Tulisan ini saya akhiri di sini sebagai pembuka rangkaian tulisan mengenai Dennis Bergkamp. Tulisan berikutnya adalah resensi biografi Dennis Bergkamp, Stillness and Speed yang kemudian akan disambung dengan beberapa artikel yang bersumber pada buku tersebut. Kategori “Dennis Bergkamp” akan membedakan artikel-artikel ini dari “Catatan Harian” umumnya. Tulisan ini merupakan bagian dari aktualisasi kekaguman saya kepada Dennis Bergkamp, yang kemudian menumbuhkan kecintaan saya kepada Arsenal. Melakukan sesuatu yang kita cintai, adalah hal yang paling membahagiakan! Dan kebahagiaan seperti ini tidak akan pernah habis walau dibagikan.

I really like Arsenal. But you, do you like Arsenal? Or just Arsenal with Trophies?

Advertisements