Martin Ødegaard, The Creator-in-making

Featured

Yang mengikuti tulisan saya sejak lama tentunya tahu persis kalau saya sangat memuja Dennis Bergkamp, dan bahkan alasan awal saya menjadi seorang Gooner. Di blog ini bahkan ada bagian yang dikhususkan untuk-Nya (sayang saya belum sempat menulis lebih banyak lagi mengenai biografinya). Tidak hanya saya, sebagian fans Arsenal yang memuja-Nya memberi Bergkamp nick name God, The Creator (plesetan dari perannya sebagai pembuat peluang utama Arsenal). Bergkamp berada pada level yang berbeda dari para pesepakbola hebat di dunia, dalam hal filosofi sepakbolanya, pandangan hidupnya. Ia melihat sepakbola sebagai sarana untuk mencapai kesempurnaan, sesuatu yang bermakna lebih dalam daripada ketenaran dan harta.

“Arsène Wenger has an interesting view about this. He says: “It is a spiritual thing. I am convinced of that. I believe you have two kinds of players who play football. Those who want to serve football like you serve God, and they put football so high that everything that is not close to what football should be is a little bit non-acceptable. And then you have those who use football to serve their ego. And sometimes the ego can get in the way of the game, because their interest comes before the interest of the game.

Sometimes the big ego is linked with what we call strong personalities, charisma. But most of the time what people call charisma is just big ego. I believe that Dennis was one of those who had such a high idea of the game and such a respect for the game that he wanted that to be above everything. I believe that the real great players are guided by how football should be played and not by how football should serve them. If it becomes spiritual, it’s endless and you’re always driven to going higher and getting closer to what you think football should be.

Then Wenger gives the example of a player who knows he ought to pass but takes a massive gamble and scores. “If he really loves the game he’ll go home and worry about it. He’ll know he really should have passed to set up an easy chance for someone else. But he was selfish and got lucky. If he doesn’t care about the game he’ll go home and think: ‘That was great – I’ll do the same next time.’

And he says that’s the difference. “That’s why you have to teach the kids to respect the game and treat the game a little bit like a religion, that is above you, where you want to serve the game.”

Bergkamp in his biography – Stillness and Speed

Bergkamp memiliki pandangan yang sama dengan Wenger, bahwa the game semestinya berada di atas egomu, yang membuatnya ingin “melayani”-nya bak seorang hamba yang melayani Tuhannya. Becoming the servant of the game. Sementara sebagian besar pesepakbola memiliki apa yang disebut big ego, individualis, bagaimana menjadi yang terbaik di lapangan hijau.

Selama saya mendukung Arsenal, hanya ada satu pemain yang menurut saya layak mewarisi tahta Bergkamp di klub tercinta. Di salah satu artikel di blog lama saya, “Ketika Sang Creator Menemukan Putra-Nya”, saya menuliskan tentang pandangan Bergkamp tentang Mesut Özil.

“Behind every pass there must be a thought.

Özil knows exactly how to control the ball in what kind of space to give himself time. That’s the difference between the players and great players. With his intelligence and his touch and his skills, he is trying to do something right with every ball.”

“With that pass it seems like Özil was already calculating what the next pass should be. So he puts the ball on the side which means Giroud’s only option is to pass it to the third player. The point is that there is a thought behind that pass. You see that with his control and his movement and that’s what I like.

With all the respect to the other Arsenal players, I think he is the one who can make a difference. The other players are good in midfield. But you need someone of a high-level you can be good in all areas of the pitch.”

Dennis Bergkamp on Mesut Özil

Bergkamp bisa melihat kalau Özil memiliki visi yang dapat melihat beberapa langkah ke depan, termasuk pilihan gerakan berikutnya dari rekan se-timnya. Kemudian dengan kontrol yang akurat ia memberikan operan yang “mengatur” gerakan berikutnya dari penerima bola. Ada tujuan di balik setiap operannya. Dan Bergkamp juga menjelaskan mengapa kejeniusan Özil ini akan membawa perubahan pada permainan Arsenal secara keseluruhan:

“It looks like it’s a relief to the other players. ‘Oh yes this is what we want’, ‘Oh this is a great ball’. They are adapting to Özil, and moving into spaces where before maybe they didn’t do that because maybe they weren’t expecting the ball.”

Mesut Özil kemudian membawa Arsenal memenangkan FA Cup sebanyak 3 kali, mengakhiri paceklik trofi selama 9 musim. Namun ia tidak pernah benar-benar berhasil menjadi pengganti Bergkamp dan tidak mengalami happy ending yang sama dengan Bergkamp di penghujung kariernya di Arsenal karena berbagai faktor yang pernah kita kupas di sini.

Sekarang, 8 tahun semenjak Mesut Ozil bergabung dengan Arsenal, kita menemukan kutipan yang hampir mirip dengan apa yang dikatakan Bergkamp mengenai Özil.

“He needs players around him to follow and understand him because the moment he has time on the ball he’s a real threat.

“He glides players together. He attracts players. He’s really confident on the ball. He can take the ball anywhere on the pitch and he gives us that continuity. I think tonight he was really good.”

Mikel Arteta on Martin Ødegaard

Child Prodigy from Drammen

Martin Ødegaard lahir di Drammen, sebuah kota kecil di Norwegia, tidak jauh dari ibukotanya Oslo. Ayahnya Hans Erik Ødegaard juga seorang pesepakbola. Sebagai pengagum John Arne Riise, ia tumbuh menjadi pendukung Liverpool. Kariernya meroket pesat di usia yang sangat muda. Hanya berusia 15 tahun, ia telah memulai debutnya di liga profesional Norwegia, bermain untuk klub Strømsgodset. Di usia yang sama, tepatnya 15 tahun dan 253 hari, ia melakukan debut untuk timnas senior Norwegia melawan UAE. Sebagai perbandingan, Fabregas melakukan debut timnasnya di usia 18 tahun dan Saka di usia 19 tahun. Video di bawah ini menceritakan dengan baik bagaimana Ødegaard mengguncang dunia sepakbola di usianya yang sangat muda dan hype seputar dirinya.

Documentary: The Phenomenon Martin Ødegaard

Semuanya berjalan demikian sempurna untuk Ødegaard. Belum genap 16 tahun, ia diincar tidak kurang dari 30 klub Eropa. Klub pujaannya, Liverpool mengundangnya untuk latihan bersama tim utamanya di awal Desember 2014. Dalam latihan tersebut ia melakukan nutmeg terhadap Joe Allen. Kemudian ia ditemukan sedang makan bersama Coutinho di restoran, bagian dari rayuan Liverpool untuk meyakinkannya bahwa klub itu yang terbaik untuk perkembangan dirinya.

Ødegaard berlatih bersama Liverpool, Des 2014

Tak hanya Liverpool, ia juga mengunjungi Manchester United, bertemu Van Gaal dan melakukan tur seputar Old Trafford dan Carrington, training ground mereka. Kemudian ia mengunjungi Arsenal yang telah memiliki Özil dan Manchester City. Di Jerman, ia diundang ke Bayern Muenchen dan bergabung dalam sesi latihan di bawah Pep Guardiola. Chairman dari Bayern, Karl-Heinz Rummenigge memujinya sebagai talenta yang luar biasa dan berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan Ødegaard. Ajax Amsterdam tidak mau ketinggalan. Manager saat itu, Frank de Boer mengatakan kepada media Norwegia, “Sangat luar biasa melihat pemain yang bermain demikian baik di usia demikian muda… Jika ia harus memilih, Ødegaard sebaiknya memilih Ajax.”

Namun tak ada klub yang menyamai apa yang dilakukan Real Madrid untuk memboyongnya. Tak mau kalah dengan Barcelona yang juga mengundangnya ke La Masia, Madrid mengirimkan private jet ke Norwegia untuk menjemputnya untuk melihat kompleks latihan mereka di Valdebebas. Mereka menjanjikannya tempat baginya di tim utama. Seminggu sebelumnya ayahnya telah diundang ke klub sendirian. Ayahnya ditawarkan pekerjaan untuk menjadi pelatih di Madrid sebagai bagian dari charm offensive untuk meyakinkan Odegaard memilih Madrid daripada sekian banyak klub besar Eropa lainnya yang berminat kepadanya.

Akhirnya di bulan Januari 2015, Ødegaard yang baru berusia 16 tahun melakukan lompatan yang hampir tak masuk akal dalam karier seorang pesepakbola, langsung dari Strømsgodset ke klub terbesar di dunia, Real Madrid. Tentunya ia memilih Madrid dengan harapan ia bisa berlatih dengan bintang dunia, didukung oleh fasilitas terbaik, agar bisa berkembang menjadi pemain yang sesuai dengan prediksi media dan banyak scout klub besar Eropa saat itu, the new Lionel Messi. Awal karier yang sempurna, sejauh ini.

Life is not a fairy tale

Apabila babak awal sepakbola pro-nya demikian sempurna, babak berikutnya dalam kehidupan seorang Ødegaard tidaklah seindah itu. Roda kehidupan berputar dan Ødegaard benar-benar mengalami bagaimana berada di atas dan di bawah. Ia tak berhasil menembus tim utama Madrid yang penuh bintang, dan selama 2 tahun hanya bermain di tim cadangan, Real Madrid Castilla. Pemain yang masih sangat muda itu pun mendapatkan kritikan dari media. Banyak berita miring mengenai dirinya yang memilih berlatih dengan Ronaldo daripada tim cadangan Madrid. Banyak pemain muda lainnya yang cemburu dengannya. Hype tentang dirinya pun mulai menurun. Bahkan keraguan mulai muncul, apakah ia memang pemain yang bertalenta hebat?

Demi perkembangan dirinya, dan menjauhkannya dari pusat perhatian media di Madrid, ia kemudian dipinjamkan ke Belanda, klub bernama Heerenveen selama 18 bulan. Di klub ini performanya tidak begitu baik, sehingga loannya dilanjutkan ke Vitesse selama 1 musim penuh. Di Vitesse, Ødegaard mulai menunjukkan mengapa ia disebut pemain berbakat. Tampil sebanyak 39 kali, ia memberikan 11 gol dan 12 assist. Pemberitaan mengenai dirinya kembali mencuat di media dan saat itu ia berusia 20 tahun.

Musim 2019/2020 Ødegaard kembali ke La Liga namun kali ini berbaju Real Sociedad. Awalnya loan di Sociedad direncanakan selama 2 musim penuh (2019-2021), namun karena ia bermain sangat baik di Sociedad di musim loan pertamanya (termasuk saat menang 4-3 lawan Madrid), sampai dinilai sebagai pemain terbaik di La Liga sebelum lock down (karena setelahnya ia mengalami cedera), Real Madrid memutuskan untuk memanggilnya kembali di awal musim 2020/2021. Setelah 5,5 tahun bermain di tim cadangan dan berbagai klub pinjaman, akhirnya Ødegaard dirasakan siap untuk tampil di tim utama Madrid, demikianlah rencananya. Bagi Ødegaard, ini seperti terang yang terlihat di ujung terowongan yang panjang, lima setengah tahun lamanya.

Statistik Progressive Passes Ødegaard saat loan di Sociedad, lihat siapa pemain di sebelahnya

Namun dewi fortuna sepakbola kembali membuat skenario yang berbeda. Cedera dan penampilan yang tidak memuaskan membuat Ødegaard hanya bermain sebanyak 7 pertandingan dan hanya selama 232 menit (2,5 full match) selama separuh musim. Frustrasi, Ødegaard minta ke Madrid untuk dipinjamkan kembali ke Sociedad. Arsenal mencium bau darah… Klub yang sempat tertarik serius dengannya, dan terus mengikuti karier Ødegaard semenjak itu memiliki koneksi yang baik dengan Sociedad, tempat Monreal bermain, yang juga terletak di kampung halaman Arteta. Edu dan Arteta bergerak cepat, tak akan sia-siakan kesempatan emas ini. Dari sekian banyak klub besar yang mengincarnya sejak muda, hanya Arsenal bergerak dahulu untuk mengamankan Ødegaard dengan status pinjaman separuh musim. Ødegaard yang awalnya memilih Sociedad, akhirnya berhasil diyakinkan oleh Arteta dan Edu bahwa masa pinjaman separuh musim di Arsenal ini akan membuatnya menjadi pemain yang lebih baik dan dijamin tidak akan membuang waktu kedua belah pihak.

I spoke to him before coming here, of course. That was very important for me and he seems like a top manager and I really liked his ideas, the way he sees football and also the way he is. He gave me a great feeling and that was important for me to come here. He was crucial.

Ødegaard on Arteta

Yeah I was here. I visited the club and trained a little bit. I had a chat with the club and I had a really good feeling when I was here. I was thinking a lot about it. In the end it wasn’t my decision at that time, but I had a really good time and I remember it well.

When I was here the first time, I had a good feeling and every time I heard about the club, I had a good feeling. Now I’m here, so I think it’s maybe meant to be.

Ødegaard on visiting Arsenal as a 15 years boy

Dari wawancara pertama Ødegaard tersebut, kita bisa merasakan bagaimana ia dengan jujur mengatakan bahwa ia merasakan ada koneksi dengan klub ini, bahkan sejak kunjungan di bulan Desember 2014 itu. Setiap ia mendengar atau membaca berita tentang Arsenal, ia merasakan hal yang baik. Tentu adanya Monreal di Sociedad mungkin juga berpengaruh (we know how f*ckin legend Nacho was), Ødegaard berkesimpulan kalau mungkin inilah Jalannya.

Kita kemudian tahu bagaimana lanjutan ceritanya. Selama masa pinjaman 6 bulan tersebut, Ødegaard menjadi pemain kunci Arsenal yang berhasil memperbaiki form Arsenal (silakan baca ulasan musim tersebut), bersama para pemain muda andalan, Emile Smith Rowe dan Saka. Kehadirannya membuat Arsenal dapat menciptakan peluang-peluang yang lebih berkualitas dan banyak, tidak lagi mengandalkan spamming crossing dari sayap. Ia mampu mengisi ruang kosong kreativitas yang ditinggalkan Özil. Yang mengejutkan dari Ødegaard adalah ia juga mampu melakukan pressing dengan baik, gigih dalam duel, dan vokal di lapangan hijau. Berbeda dengan Özil dan Bergkamp yang lebih diam di lapangan, Ødegaard lebih banyak bersuara. Tak heran dalam usia yang masih muda pula (22 tahun), ia telah diangkat menjadi kapten timnas Norwegia.

Where He Belongs

Setelah selesai masa pinjamannya, Arsenal dan Ødegaard merasakan chemistry yang kuat, dan ingin melanjutkan perjalanan ini bersama. Sayangnya Real Madrid punya rencana lain dan ingin mempertahankan Ødegaard, apalagi karena Ancelotti menggantikan Zidane, pelatih yang tidak cocok dengan Ødegaard. Ia sempat mengutarakan maksudnya untuk bergabung dengan Arsenal namun Madrid tidak senang dengan ide tersebut dan menolaknya. Ødegaard pun menuliskan pesan perpisahan kepada rekan-rekannya dan fans Arsenal yang cukup emosional. Sampai saat itu, saya pribadi masih yakin kisah Arsenal dan Ødegaard ini belum berakhir.

Pre-season dimulai dan saya menonton salah satu match pre-season Real Madrid (demi Ødegaard tentunya) dan di sana bisa terlihat disconnect, tidak nyambungnya Ødegaard dengan rekan-rekan setimnya. Ia tidak menjadi pemain yang kita tonton selama 6 bulan berbaju merah putih. Ia seperti tidak belong ke tim itu. Real Madrid tentunya juga merasakannya dan akhirnya mereka memutuskan untuk cash in pemain yang masih bisa dijual tinggi ini dan untuk membiayai transfer Mbappe yang juga merupakan kesempatan emas bagi mereka. Arsenal tentunya menjadi klub pertama yang diinformasikan Ødegaard dan Madrid mengenai keputusan ini. Kesabaran dan keyakinan yang berbuah manis karena Arsenal akhirnya berhasil membeli permanen target utama kita di transfer window musim ini.

With hindsight, keputusan Arsenal untuk tidak menindaklanjuti bid pertama ke Emi Buendia adalah blessing in disguise. Sekarang kita mendapatkan Ødegaard dengan harga yang kurang lebih sama dengan yang dibayarkan Aston Villa untuk Buendia (30 juta pounds ++). Tanpa bermaksud menghina Buendia, Ødegaard adalah pemain yang berada di level yang sangat berbeda. Bakatnya sejak usia muda tidak akan hilang begitu saja. Dengan kerja keras dan berada di lingkungan yang tepat, Ødegaard yang memenuhi potensinya yang luar biasa dapat menjadi pemain kelas dunia yang setara legenda manapun dalam sejarah sepakbola. Itu adalah tantangan baginya dan Arsenal, untuk ciptakan kondisi baginya untuk memenuhi potensi dirinya, to live up to the hype enam tahun silam.

I said the last time, that you know every time I heard about the club I had a good feeling and I said maybe it was meant to be and I’m here again, so I guess it is.

Ødegaard on his second time joining Arsenal, this time permanently.

The Creator-in-making

Melihat caranya bermain, aksinya di lapangan, ingatan saya kembali kepada sosok pemain legendaris, pemain terbaik Arsenal sepanjang sejarah (subyektif – saya tahu). First touch-nya, gerakannya dengan bola, dribblenya yang simple dan kemudian visinya dalam melihat gerakan rekannya dan untuk menemukan mereka dengan operan akurat. Ødegaard saat ini belum berada pada level Özil apalagi disamakan dengan The Perfect Ten, Dennis Bergkamp. Namun kita bisa melihat potensinya, bayangan DB10 dalam dirinya. Mata yang telah mengikuti Arsenal selama 23 tahun ini tidak akan bohong. We recognize quality. Bagi saya, Martin Ødegaard adalah marquee signing, pembelian terbesar Arsenal di transfer window musim ini. Bahkan bisa dianggap a steal mengingat harga yang mesti dibayarkan Arsenal untuknya (setara dengan Xhaka, Mustafi, 5-6 tahun lalu).

Kita mesti bersyukur akhirnya pemain berbakat ini, walaupun mesti detour selama 6,5 tahun ke Spanyol, Belanda, balik lagi ke Spanyol, sekarang menemukan rumahnya di North London, where he belongs. Bila Dennis Bergkamp bergabung dengan Arsenal di usia 26 tahun, dan menjalani karier di Arsenal selama 11 tahun, Mesut Özil di usia 24 tahun dan menjalani 7,5 tahun kariernya di Arsenal, Martin Ødegaard bergabung dengan Arsenal di usia yang lebih muda lagi, 22 tahun. Ia akan menjalani usia keemasannya bersama Arsenal dan sangat mungkin akan menyamai atau bahkan melebihi lama kariernya Bergkamp di Arsenal. Kita sebagai fans Arsenal akan menikmati 5-10 musim ke depan dengan sepakbola kreatif di mana Ødegaard menjadi technical leader. Disokong dengan Saka dan Emile Smith Rowe yang tidak kalah menariknya. Hanya membayangkan itu saja membuat saya sedikit merinding. We’ve got our Arsenal back!

Saya yakin Martin Ødegaard adalah The Creator-in-making, pewaris tahta sejati The Perfect Ten. Semoga saja takdirnya memang menemukan Jalan melayani Tuhannya (the game) di Arsenal.

Dennis Bergkamp, The Perfect Ten

Pengunjung rutin blog ini dan follower akun twitter @benhan tentu tak perlu tanya lagi “pemujaan” saya terhadap Dennis Bergkamp. Namun jangan khawatir, saya masih cukup waras untuk menganggap Dennis Bergkamp sebagai seorang manusia. Ia jelas bukan Tuhan dalam definisi kaum-kaum beragama. Namun bagi sebagian kelompok yang menganggap sepakbola sejajar agama (dalam hal kefanatikan bukan soal Kebenaran Absolut), maka figur seorang pesepakbola bisa menjadi Tuhan mereka. Dan bagi sebagian fans Arsenal, Dennis Bergkamp is God.

Dennis Bergkamp sendiri adalah seorang Katolik yang taat, ia tak terlalu mempedulikan status “Tuhan” yang ia miliki di antara fans Arsenal. Walaupun ia sendiri percaya kepada Tuhan konvensional (Tuhan agamanya), ia adalah tipikal pemain yang dalam persepsi Wenger juga menganggap sepakbola sebagai “Tuhan”. Menurut Wenger ada tipe pemain yang melayani sepakbola seperti ia melayani Tuhan. Mereka meletakkan sepakbola sedemikian tinggi sehingga apapaun yang tidak dekat dengan bagaimana seharusnya sepakbola itu dimainkan, tidak dapat diterima. Wenger percaya Dennis Bergkamp begitu menghormati sepakbola sehingga ia melatih dirinya untuk menjadi sesempurna mungkin bukan demi egonya, tapi demi the game, sepakbola itu sendiri.

I believe that Dennis was one of those who had such a high idea of the game and such a respect for the game that he wanted that to be above everything.

I believe that the real great players are guided by how football should be played and not by how football should serve them. If it becomes spiritual, it’s endless and you’re always driven to going higher and getting closer to what you think football should be.

Membaca biografi Dennis Bergkamp yang pertama kali diotorisasi olehnya, Stillness and Speed, maka kita akan semakin yakin dengan persepsi Wenger di atas. Bergkamp adalah figur pesepakbola perfectionist yang tidak egois. Ia memilih menjadi assister daripada scorer, terutama di fase final karirnya, bukan karena ia tak mampu lagi mencetak gol namun karena ia lebih menikmati memberikan operan sempurna untuk rekannya. Ia juga tidak terobsesi dengan pamer skill yang umumnya dilakukan pemain bertalenta. Ia tidak suka dribbling, menggocek bola untuk mengalahkan lawan. Namun ia terobsesi dengan kontrol bola. Tentang bagaimana menghentikan bola dengan first touch, mengendalikan putaran dan gerakan bola, lalu memberikan operan terukur sesuai visi di kepala.

Dalam biografi tersebut, Wenger kembali memberikan contoh bagaimana seorang pemain yang mestinya mengoper bola kepada rekannya malah melakukan tembakan spekulasi dan berhasil mencetak gol.

If he really loves the game he’ll go home and worry about it. He’ll know he really should have passed to set up an easy chance for someone else. But he was selfish and got lucky. If he doesn’t care about the game he’ll go home and think: ‘That was great – I’ll do the same next time.’

Bila ia benar-benar mencintai sepakbola, ia akan pulang dan menyesali hal tersebut. Ia tahu seharusnya ia mengoper untuk memberikan kesempatan mencetak gol yang lebih mudah kepada rekannya. Tapi ia egois dan beruntung. Jika ia tak peduli pada sepakbola, ia akan pulang dan berpikir: “Yang tadi bagus, akan kuulangi lagi lain kali.”

Dan Wenger menutup pengamatannya itu dengan pesan:

That’s why you have to teach the kids to respect the game and treat the game a little bit like a religion, that is above you, where you want to serve the game.

Anak-anak mesti diajarkan untuk menghormati dan memperlakukan sepakbola seperti agama, bahwa Ia ada di atas dirimu, di mana kamu ingin melayani sepakbola.

Sebagian pesepakbola mungkin menganggap sepakbola hanyalah sebagai mata pencaharian. Banyak yang begitu. Bendtner misalnya, memilih mendapatkan gaji tinggi di Arsenal tanpa harus bermain daripada harus pindah ke klub yang lebih kecil namun menawarkan kesempatan membangkitkan kembali karirnya. Namun bagi Bergkamp, sepakbola bukan sekedar mata pencaharian. Ia tak pernah termotivasi oleh uang. Gajinya di Arsenal sempat dipotong karena ia menolak terbang, dan ia menerima gaji yang lebih kecil lagi di penghujung karirnya karena ia bermain lebih jarang. Namun ia tidak keberatan selama ia bisa memainkan permainan yang dicintainya ini, dengan rekan-rekan yang mengerti visi sepakbolanya, di bawah pelatih yang mempunyai visi sepakbola yang sama. Bergkamp mengakhiri karir sepakbolanya di Arsenal, dalam usia 37 tahun dan mendapatkan pertandingan testimonial sebagai penghargaan pengabdian 10 tahunnya, sesuatu yang tidak pernah didapatkan Henry maupun Vieira di Arsenal.

Testimonial Dennis Bergkamp, Last Game for Arsenal

Masa Kecil

Bergkamp tidak lahir dan dibesarkan di keluarga yang miskin. Tidak pula dari keluarga yang berantakan. Ia tidak memiliki masa kecil yang pahit yang umumnya bisa menjadi pendorong ambisi pesepakbola-pesepakbola besar dalam meraih prestasi. Bergkamp lahir dari keluarga biasa, keluarga Katolik yang taat dan bersama ketiga saudaranya mengecap pendidikan yang cukup. Ia bukan anak berandalan di sekolah, cenderung pendiam dan tidak memiliki banyak teman di sekolah karena menurutnya ia telah mendapatkan teman dari kakak-kakaknya yang usianya cukup dekat. Dan sebagaimana para pesepakbola profesional, Bergkamp menghabiskan masa kecilnya dengan bermain sepakbola dengan anak-anak sebaya di lingkungannya. Di lapangan beton ataupun lapangan hijau. Perbedaannya ada pada obsesinya sejak kecil terhadap kontrol bola.

Berbeda dengan rekan-rekannya yang bermain bola untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang menyenangkan, ketertarikan Bergkamp terhadap sepakbola ada pada level yang lebih serius. Ia ingin tahu bagaimana reaksi bola bila ditendang dengan cara yang berbeda. Tembok di dekat rumahnya menjadi tempat eksperimen kecilnya. Bergkamp akan menendang bola ke tembok dan pantulan bola akan coba dikendalikan dengan kakinya untuk dipantulkan kembali. Ia lalu mulai mengerti tentang sudut pantulan bola, tentang putaran bola, tentang cara efektif menghentikan bola hasil pantulan. Ia belajar banyak dari eksperimen dengan bola dan tembok tersebut. Hasil eksperimen dari masa kecil tersebut akhirnya memberikan momen-momen sepakbola yang tak terlupakan bagi seluruh pencinta sepakbola. Gol di Piala Dunia melawan Argentina, melawan Newcastle di Liga Inggris, adalah hasil dari kontrol bola yang sempurna. Sesuatu yang dimulai dari masa kecilnya akhirnya memberikan hasil di panggung yang didambakan semua pemain sepakbola. Sebuah mimpi masa kecil yang menjadi nyata.

Mukjizat

Tuhan identik dengan Mukjizat, Miracles. Saya rasa berawal dari sanalah status “Tuhan” Bergkamp. Ia menghadirkan mukjizat demi mukjizat yang tidak pernah dilihat fans Arsenal sebelumnya. Ia mulai dari dua gol pertamanya melawan Southampton di bulan September. Yang pertama adalah volley ke sudut jauh gawang dan yang kedua tendangan keras ke tiang dekat gawang, membentur tiang dan masuk. Lalu hattrick pertamanya melawan Leicester City mengisi urutan pertama, kedua dan ketiga goals of the week. Golnya saat melawan Newcastle, yang menipu Niko Dabizas dengan arah bola dan arah putaran dirinya yang bertolak belakang menjadi gol terbaik Arsenal sepanjang masa. Golnya di Piala Dunia 1998 saat melawan Argentina menjadi salah satu gol terbaik Piala Dunia sepanjang masa.

Namun bukan hanya gol yang menjadi mukjizat Bergkamp. Fans Arsenal beruntung karena Bergkamp menjadi The Perfect Ten di Arsenal. Bermain sebagai shadow striker, dan perlahan-lahan menjadi playmaker, Bergkamp menunjukkan bahwa kemukjizatan di lapangan hijau tidak hanya monopoli sebuah gol. Dan fans Arsenal pun belajar mengapresiasi keindahan sebuah assist, atau pre-assist. Assist Bergkamp kepada Ljungberg di pertandingan liga Champions menjadi puncak mukjizat sebuah operan. Menggocek bola di depan tiga pemain Juventus, Bergkamp menunggu dan menunggu Ljungberg bergerak. Lima detik ia menunggu sambil menggerakkan bola ke sana kemari dan saat momennya tiba, saat Ljungberg bergerak, bola dioper dan mendarat persis di depan kaki Ljungberg untuk kemudian menjadi gol.

Di akhir karirnya bersama Arsenal, Dennis Bergkamp mencetak 120 gol dan 124 assist. Setiap assistnya tidak kalah cantiknya dengan setiap golnya. Dan tidak ada gol atau assistnya yang sifatnya kebetulan. Dalam bukunya, ia menjawab pertanyaan soal apakah golnya mengandung unsur keberuntungan. Hebatnya, ia mengatakan ia mengingat setiap momen golnya dan pikiran yang terjadi sebelumnya. Gol mukjizatnya terjadi sesuai gagasan di kepalanya sebelum ia melakukannya. Gol terhadap Argentina itu misalnya, ia tahu persis ia hanya boleh melakukan tiga sentuhan, ia tahu persis ia harus menghentikan bola di udara terlebih dahulu, lalu harus membawa bola ke dalam sambil mengecoh pemain bertahan, dan mencetak gol menggunakan sisi luar dari kaki kanannya. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana di kepalanya. Saat ditanya golnya melawan Newcastle apakah memang direncanakan, ia balik bertanya, “Menurutmu bagian mana dari gol tersebut yang tidak saya rencanakan?” dengan gaya khas kepercayaan diri (bukan arogansi) pesepakbola Belanda.

Bergkamp melayani sepakbola sebagaimana ia melayani Tuhan. Karena visi spiritual tersebutlah, ia bisa menghadirkan kemukjizatan di lapangan hijau, yang membawa para pemujanya menganggapnya Tuhan. Tuhan bekerja secara misterius, dan mungkin inilah salah satu cara-Nya. Sebuah siklus yang terhubung kembali di lapangan hijau. Para penonton sepakbola yang umumnya melampiaskan emosi di stadion dengan mengumpat dan bernyanyi kencang-kencang, serentak terdiam, terhipnotis oleh momen yang dihadirkan oleh seorang Dennis Bergkamp. Sebuah momen Ilahi yang menghentikan waktu, mematikan seluruh komentar pikiran. Saat itu hanya ada Dennis Bergkamp dan bola yang bergerak pelan sesuai kehendak-Nya. Tidak ada komentar pikiran, distorsi suara, kita hanya melihat Dennis Bergkamp dalam kemukjizatan. Saat melihat hanya melihat, mencerap hanya mencerap, dan merasa hanya merasa. Saat pikiran berada pada saat kini, bukan pada masa lalu atau masa depan. Saat itu sepakbola terangkat amat tinggi, melebihi segala keegoisan manusia, menembus segala bias identitas diri, lawan maupun kawan semua hanya merasakan satu perasaan, kekaguman pada sesuatu yang di luar nalar manusia.

Tulisan ini saya akhiri di sini sebagai pembuka rangkaian tulisan mengenai Dennis Bergkamp. Tulisan berikutnya adalah resensi biografi Dennis Bergkamp, Stillness and Speed yang kemudian akan disambung dengan beberapa artikel yang bersumber pada buku tersebut. Kategori “Dennis Bergkamp” akan membedakan artikel-artikel ini dari “Catatan Harian” umumnya. Tulisan ini merupakan bagian dari aktualisasi kekaguman saya kepada Dennis Bergkamp, yang kemudian menumbuhkan kecintaan saya kepada Arsenal. Melakukan sesuatu yang kita cintai, adalah hal yang paling membahagiakan! Dan kebahagiaan seperti ini tidak akan pernah habis walau dibagikan.

I really like Arsenal. But you, do you like Arsenal? Or just Arsenal with Trophies?