Martin Ødegaard, The Creator-in-making

Featured

Yang mengikuti tulisan saya sejak lama tentunya tahu persis kalau saya sangat memuja Dennis Bergkamp, dan bahkan alasan awal saya menjadi seorang Gooner. Di blog ini bahkan ada bagian yang dikhususkan untuk-Nya (sayang saya belum sempat menulis lebih banyak lagi mengenai biografinya). Tidak hanya saya, sebagian fans Arsenal yang memuja-Nya memberi Bergkamp nick name God, The Creator (plesetan dari perannya sebagai pembuat peluang utama Arsenal). Bergkamp berada pada level yang berbeda dari para pesepakbola hebat di dunia, dalam hal filosofi sepakbolanya, pandangan hidupnya. Ia melihat sepakbola sebagai sarana untuk mencapai kesempurnaan, sesuatu yang bermakna lebih dalam daripada ketenaran dan harta.

“Arsène Wenger has an interesting view about this. He says: “It is a spiritual thing. I am convinced of that. I believe you have two kinds of players who play football. Those who want to serve football like you serve God, and they put football so high that everything that is not close to what football should be is a little bit non-acceptable. And then you have those who use football to serve their ego. And sometimes the ego can get in the way of the game, because their interest comes before the interest of the game.

Sometimes the big ego is linked with what we call strong personalities, charisma. But most of the time what people call charisma is just big ego. I believe that Dennis was one of those who had such a high idea of the game and such a respect for the game that he wanted that to be above everything. I believe that the real great players are guided by how football should be played and not by how football should serve them. If it becomes spiritual, it’s endless and you’re always driven to going higher and getting closer to what you think football should be.

Then Wenger gives the example of a player who knows he ought to pass but takes a massive gamble and scores. “If he really loves the game he’ll go home and worry about it. He’ll know he really should have passed to set up an easy chance for someone else. But he was selfish and got lucky. If he doesn’t care about the game he’ll go home and think: ‘That was great – I’ll do the same next time.’

And he says that’s the difference. “That’s why you have to teach the kids to respect the game and treat the game a little bit like a religion, that is above you, where you want to serve the game.”

Bergkamp in his biography – Stillness and Speed

Bergkamp memiliki pandangan yang sama dengan Wenger, bahwa the game semestinya berada di atas egomu, yang membuatnya ingin “melayani”-nya bak seorang hamba yang melayani Tuhannya. Becoming the servant of the game. Sementara sebagian besar pesepakbola memiliki apa yang disebut big ego, individualis, bagaimana menjadi yang terbaik di lapangan hijau.

Selama saya mendukung Arsenal, hanya ada satu pemain yang menurut saya layak mewarisi tahta Bergkamp di klub tercinta. Di salah satu artikel di blog lama saya, “Ketika Sang Creator Menemukan Putra-Nya”, saya menuliskan tentang pandangan Bergkamp tentang Mesut Özil.

“Behind every pass there must be a thought.

Özil knows exactly how to control the ball in what kind of space to give himself time. That’s the difference between the players and great players. With his intelligence and his touch and his skills, he is trying to do something right with every ball.”

“With that pass it seems like Özil was already calculating what the next pass should be. So he puts the ball on the side which means Giroud’s only option is to pass it to the third player. The point is that there is a thought behind that pass. You see that with his control and his movement and that’s what I like.

With all the respect to the other Arsenal players, I think he is the one who can make a difference. The other players are good in midfield. But you need someone of a high-level you can be good in all areas of the pitch.”

Dennis Bergkamp on Mesut Özil

Bergkamp bisa melihat kalau Özil memiliki visi yang dapat melihat beberapa langkah ke depan, termasuk pilihan gerakan berikutnya dari rekan se-timnya. Kemudian dengan kontrol yang akurat ia memberikan operan yang “mengatur” gerakan berikutnya dari penerima bola. Ada tujuan di balik setiap operannya. Dan Bergkamp juga menjelaskan mengapa kejeniusan Özil ini akan membawa perubahan pada permainan Arsenal secara keseluruhan:

“It looks like it’s a relief to the other players. ‘Oh yes this is what we want’, ‘Oh this is a great ball’. They are adapting to Özil, and moving into spaces where before maybe they didn’t do that because maybe they weren’t expecting the ball.”

Mesut Özil kemudian membawa Arsenal memenangkan FA Cup sebanyak 3 kali, mengakhiri paceklik trofi selama 9 musim. Namun ia tidak pernah benar-benar berhasil menjadi pengganti Bergkamp dan tidak mengalami happy ending yang sama dengan Bergkamp di penghujung kariernya di Arsenal karena berbagai faktor yang pernah kita kupas di sini.

Sekarang, 8 tahun semenjak Mesut Ozil bergabung dengan Arsenal, kita menemukan kutipan yang hampir mirip dengan apa yang dikatakan Bergkamp mengenai Özil.

“He needs players around him to follow and understand him because the moment he has time on the ball he’s a real threat.

“He glides players together. He attracts players. He’s really confident on the ball. He can take the ball anywhere on the pitch and he gives us that continuity. I think tonight he was really good.”

Mikel Arteta on Martin Ødegaard

Child Prodigy from Drammen

Martin Ødegaard lahir di Drammen, sebuah kota kecil di Norwegia, tidak jauh dari ibukotanya Oslo. Ayahnya Hans Erik Ødegaard juga seorang pesepakbola. Sebagai pengagum John Arne Riise, ia tumbuh menjadi pendukung Liverpool. Kariernya meroket pesat di usia yang sangat muda. Hanya berusia 15 tahun, ia telah memulai debutnya di liga profesional Norwegia, bermain untuk klub Strømsgodset. Di usia yang sama, tepatnya 15 tahun dan 253 hari, ia melakukan debut untuk timnas senior Norwegia melawan UAE. Sebagai perbandingan, Fabregas melakukan debut timnasnya di usia 18 tahun dan Saka di usia 19 tahun. Video di bawah ini menceritakan dengan baik bagaimana Ødegaard mengguncang dunia sepakbola di usianya yang sangat muda dan hype seputar dirinya.

Documentary: The Phenomenon Martin Ødegaard

Semuanya berjalan demikian sempurna untuk Ødegaard. Belum genap 16 tahun, ia diincar tidak kurang dari 30 klub Eropa. Klub pujaannya, Liverpool mengundangnya untuk latihan bersama tim utamanya di awal Desember 2014. Dalam latihan tersebut ia melakukan nutmeg terhadap Joe Allen. Kemudian ia ditemukan sedang makan bersama Coutinho di restoran, bagian dari rayuan Liverpool untuk meyakinkannya bahwa klub itu yang terbaik untuk perkembangan dirinya.

Ødegaard berlatih bersama Liverpool, Des 2014

Tak hanya Liverpool, ia juga mengunjungi Manchester United, bertemu Van Gaal dan melakukan tur seputar Old Trafford dan Carrington, training ground mereka. Kemudian ia mengunjungi Arsenal yang telah memiliki Özil dan Manchester City. Di Jerman, ia diundang ke Bayern Muenchen dan bergabung dalam sesi latihan di bawah Pep Guardiola. Chairman dari Bayern, Karl-Heinz Rummenigge memujinya sebagai talenta yang luar biasa dan berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan Ødegaard. Ajax Amsterdam tidak mau ketinggalan. Manager saat itu, Frank de Boer mengatakan kepada media Norwegia, “Sangat luar biasa melihat pemain yang bermain demikian baik di usia demikian muda… Jika ia harus memilih, Ødegaard sebaiknya memilih Ajax.”

Namun tak ada klub yang menyamai apa yang dilakukan Real Madrid untuk memboyongnya. Tak mau kalah dengan Barcelona yang juga mengundangnya ke La Masia, Madrid mengirimkan private jet ke Norwegia untuk menjemputnya untuk melihat kompleks latihan mereka di Valdebebas. Mereka menjanjikannya tempat baginya di tim utama. Seminggu sebelumnya ayahnya telah diundang ke klub sendirian. Ayahnya ditawarkan pekerjaan untuk menjadi pelatih di Madrid sebagai bagian dari charm offensive untuk meyakinkan Odegaard memilih Madrid daripada sekian banyak klub besar Eropa lainnya yang berminat kepadanya.

Akhirnya di bulan Januari 2015, Ødegaard yang baru berusia 16 tahun melakukan lompatan yang hampir tak masuk akal dalam karier seorang pesepakbola, langsung dari Strømsgodset ke klub terbesar di dunia, Real Madrid. Tentunya ia memilih Madrid dengan harapan ia bisa berlatih dengan bintang dunia, didukung oleh fasilitas terbaik, agar bisa berkembang menjadi pemain yang sesuai dengan prediksi media dan banyak scout klub besar Eropa saat itu, the new Lionel Messi. Awal karier yang sempurna, sejauh ini.

Life is not a fairy tale

Apabila babak awal sepakbola pro-nya demikian sempurna, babak berikutnya dalam kehidupan seorang Ødegaard tidaklah seindah itu. Roda kehidupan berputar dan Ødegaard benar-benar mengalami bagaimana berada di atas dan di bawah. Ia tak berhasil menembus tim utama Madrid yang penuh bintang, dan selama 2 tahun hanya bermain di tim cadangan, Real Madrid Castilla. Pemain yang masih sangat muda itu pun mendapatkan kritikan dari media. Banyak berita miring mengenai dirinya yang memilih berlatih dengan Ronaldo daripada tim cadangan Madrid. Banyak pemain muda lainnya yang cemburu dengannya. Hype tentang dirinya pun mulai menurun. Bahkan keraguan mulai muncul, apakah ia memang pemain yang bertalenta hebat?

Demi perkembangan dirinya, dan menjauhkannya dari pusat perhatian media di Madrid, ia kemudian dipinjamkan ke Belanda, klub bernama Heerenveen selama 18 bulan. Di klub ini performanya tidak begitu baik, sehingga loannya dilanjutkan ke Vitesse selama 1 musim penuh. Di Vitesse, Ødegaard mulai menunjukkan mengapa ia disebut pemain berbakat. Tampil sebanyak 39 kali, ia memberikan 11 gol dan 12 assist. Pemberitaan mengenai dirinya kembali mencuat di media dan saat itu ia berusia 20 tahun.

Musim 2019/2020 Ødegaard kembali ke La Liga namun kali ini berbaju Real Sociedad. Awalnya loan di Sociedad direncanakan selama 2 musim penuh (2019-2021), namun karena ia bermain sangat baik di Sociedad di musim loan pertamanya (termasuk saat menang 4-3 lawan Madrid), sampai dinilai sebagai pemain terbaik di La Liga sebelum lock down (karena setelahnya ia mengalami cedera), Real Madrid memutuskan untuk memanggilnya kembali di awal musim 2020/2021. Setelah 5,5 tahun bermain di tim cadangan dan berbagai klub pinjaman, akhirnya Ødegaard dirasakan siap untuk tampil di tim utama Madrid, demikianlah rencananya. Bagi Ødegaard, ini seperti terang yang terlihat di ujung terowongan yang panjang, lima setengah tahun lamanya.

Statistik Progressive Passes Ødegaard saat loan di Sociedad, lihat siapa pemain di sebelahnya

Namun dewi fortuna sepakbola kembali membuat skenario yang berbeda. Cedera dan penampilan yang tidak memuaskan membuat Ødegaard hanya bermain sebanyak 7 pertandingan dan hanya selama 232 menit (2,5 full match) selama separuh musim. Frustrasi, Ødegaard minta ke Madrid untuk dipinjamkan kembali ke Sociedad. Arsenal mencium bau darah… Klub yang sempat tertarik serius dengannya, dan terus mengikuti karier Ødegaard semenjak itu memiliki koneksi yang baik dengan Sociedad, tempat Monreal bermain, yang juga terletak di kampung halaman Arteta. Edu dan Arteta bergerak cepat, tak akan sia-siakan kesempatan emas ini. Dari sekian banyak klub besar yang mengincarnya sejak muda, hanya Arsenal bergerak dahulu untuk mengamankan Ødegaard dengan status pinjaman separuh musim. Ødegaard yang awalnya memilih Sociedad, akhirnya berhasil diyakinkan oleh Arteta dan Edu bahwa masa pinjaman separuh musim di Arsenal ini akan membuatnya menjadi pemain yang lebih baik dan dijamin tidak akan membuang waktu kedua belah pihak.

I spoke to him before coming here, of course. That was very important for me and he seems like a top manager and I really liked his ideas, the way he sees football and also the way he is. He gave me a great feeling and that was important for me to come here. He was crucial.

Ødegaard on Arteta

Yeah I was here. I visited the club and trained a little bit. I had a chat with the club and I had a really good feeling when I was here. I was thinking a lot about it. In the end it wasn’t my decision at that time, but I had a really good time and I remember it well.

When I was here the first time, I had a good feeling and every time I heard about the club, I had a good feeling. Now I’m here, so I think it’s maybe meant to be.

Ødegaard on visiting Arsenal as a 15 years boy

Dari wawancara pertama Ødegaard tersebut, kita bisa merasakan bagaimana ia dengan jujur mengatakan bahwa ia merasakan ada koneksi dengan klub ini, bahkan sejak kunjungan di bulan Desember 2014 itu. Setiap ia mendengar atau membaca berita tentang Arsenal, ia merasakan hal yang baik. Tentu adanya Monreal di Sociedad mungkin juga berpengaruh (we know how f*ckin legend Nacho was), Ødegaard berkesimpulan kalau mungkin inilah Jalannya.

Kita kemudian tahu bagaimana lanjutan ceritanya. Selama masa pinjaman 6 bulan tersebut, Ødegaard menjadi pemain kunci Arsenal yang berhasil memperbaiki form Arsenal (silakan baca ulasan musim tersebut), bersama para pemain muda andalan, Emile Smith Rowe dan Saka. Kehadirannya membuat Arsenal dapat menciptakan peluang-peluang yang lebih berkualitas dan banyak, tidak lagi mengandalkan spamming crossing dari sayap. Ia mampu mengisi ruang kosong kreativitas yang ditinggalkan Özil. Yang mengejutkan dari Ødegaard adalah ia juga mampu melakukan pressing dengan baik, gigih dalam duel, dan vokal di lapangan hijau. Berbeda dengan Özil dan Bergkamp yang lebih diam di lapangan, Ødegaard lebih banyak bersuara. Tak heran dalam usia yang masih muda pula (22 tahun), ia telah diangkat menjadi kapten timnas Norwegia.

Where He Belongs

Setelah selesai masa pinjamannya, Arsenal dan Ødegaard merasakan chemistry yang kuat, dan ingin melanjutkan perjalanan ini bersama. Sayangnya Real Madrid punya rencana lain dan ingin mempertahankan Ødegaard, apalagi karena Ancelotti menggantikan Zidane, pelatih yang tidak cocok dengan Ødegaard. Ia sempat mengutarakan maksudnya untuk bergabung dengan Arsenal namun Madrid tidak senang dengan ide tersebut dan menolaknya. Ødegaard pun menuliskan pesan perpisahan kepada rekan-rekannya dan fans Arsenal yang cukup emosional. Sampai saat itu, saya pribadi masih yakin kisah Arsenal dan Ødegaard ini belum berakhir.

Pre-season dimulai dan saya menonton salah satu match pre-season Real Madrid (demi Ødegaard tentunya) dan di sana bisa terlihat disconnect, tidak nyambungnya Ødegaard dengan rekan-rekan setimnya. Ia tidak menjadi pemain yang kita tonton selama 6 bulan berbaju merah putih. Ia seperti tidak belong ke tim itu. Real Madrid tentunya juga merasakannya dan akhirnya mereka memutuskan untuk cash in pemain yang masih bisa dijual tinggi ini dan untuk membiayai transfer Mbappe yang juga merupakan kesempatan emas bagi mereka. Arsenal tentunya menjadi klub pertama yang diinformasikan Ødegaard dan Madrid mengenai keputusan ini. Kesabaran dan keyakinan yang berbuah manis karena Arsenal akhirnya berhasil membeli permanen target utama kita di transfer window musim ini.

With hindsight, keputusan Arsenal untuk tidak menindaklanjuti bid pertama ke Emi Buendia adalah blessing in disguise. Sekarang kita mendapatkan Ødegaard dengan harga yang kurang lebih sama dengan yang dibayarkan Aston Villa untuk Buendia (30 juta pounds ++). Tanpa bermaksud menghina Buendia, Ødegaard adalah pemain yang berada di level yang sangat berbeda. Bakatnya sejak usia muda tidak akan hilang begitu saja. Dengan kerja keras dan berada di lingkungan yang tepat, Ødegaard yang memenuhi potensinya yang luar biasa dapat menjadi pemain kelas dunia yang setara legenda manapun dalam sejarah sepakbola. Itu adalah tantangan baginya dan Arsenal, untuk ciptakan kondisi baginya untuk memenuhi potensi dirinya, to live up to the hype enam tahun silam.

I said the last time, that you know every time I heard about the club I had a good feeling and I said maybe it was meant to be and I’m here again, so I guess it is.

Ødegaard on his second time joining Arsenal, this time permanently.

The Creator-in-making

Melihat caranya bermain, aksinya di lapangan, ingatan saya kembali kepada sosok pemain legendaris, pemain terbaik Arsenal sepanjang sejarah (subyektif – saya tahu). First touch-nya, gerakannya dengan bola, dribblenya yang simple dan kemudian visinya dalam melihat gerakan rekannya dan untuk menemukan mereka dengan operan akurat. Ødegaard saat ini belum berada pada level Özil apalagi disamakan dengan The Perfect Ten, Dennis Bergkamp. Namun kita bisa melihat potensinya, bayangan DB10 dalam dirinya. Mata yang telah mengikuti Arsenal selama 23 tahun ini tidak akan bohong. We recognize quality. Bagi saya, Martin Ødegaard adalah marquee signing, pembelian terbesar Arsenal di transfer window musim ini. Bahkan bisa dianggap a steal mengingat harga yang mesti dibayarkan Arsenal untuknya (setara dengan Xhaka, Mustafi, 5-6 tahun lalu).

Kita mesti bersyukur akhirnya pemain berbakat ini, walaupun mesti detour selama 6,5 tahun ke Spanyol, Belanda, balik lagi ke Spanyol, sekarang menemukan rumahnya di North London, where he belongs. Bila Dennis Bergkamp bergabung dengan Arsenal di usia 26 tahun, dan menjalani karier di Arsenal selama 11 tahun, Mesut Özil di usia 24 tahun dan menjalani 7,5 tahun kariernya di Arsenal, Martin Ødegaard bergabung dengan Arsenal di usia yang lebih muda lagi, 22 tahun. Ia akan menjalani usia keemasannya bersama Arsenal dan sangat mungkin akan menyamai atau bahkan melebihi lama kariernya Bergkamp di Arsenal. Kita sebagai fans Arsenal akan menikmati 5-10 musim ke depan dengan sepakbola kreatif di mana Ødegaard menjadi technical leader. Disokong dengan Saka dan Emile Smith Rowe yang tidak kalah menariknya. Hanya membayangkan itu saja membuat saya sedikit merinding. We’ve got our Arsenal back!

Saya yakin Martin Ødegaard adalah The Creator-in-making, pewaris tahta sejati The Perfect Ten. Semoga saja takdirnya memang menemukan Jalan melayani Tuhannya (the game) di Arsenal.

Tukar Tambah Sukses Arsenal

Setelah menulis 2 artikel mengenai aktivitas transfer Arsenal musim panas kemarin, rasanya tidak elok jika saya tidak menyimpulkannya dengan artikel yang juga membahas transfer musim dingin ini. Kedatangan Aubameyang dan Mkhitaryan di luar prediksi kedua artikel tersebut, dan tentunya juga mengejutkan semua fans Arsenal. Hype fanbase Arsenal menyambut dibelinya Aubameyang sangat luar biasa dan akun Twitter Arsenal pun mengimbanginya dengan video yang tak kalah luar biasanya.

Diawali dengan kalimat “Yo Pi’erre, you wanna come out here?” (dari lagu Magnolia – Playboi Carti, yang terinspirasi dari adegan dengan kalimat yang sama di Jamie Foxx Show), dilanjutkan dengan musik tekno yang upbeat dan gemerlap lampu LED, video ini sesuai dengan karakter Aubameyang yang antusiastik, fun, dan penuh swagger. Selebrasi golnya dengan Mkhitaryan yang khas (skipping) tidak abai dimasukkan. Video ini membayar hype fans Arsenal yang sudah lama menunggu resminya transfer fenomenal ini. Bila Manchester United mencoba memperlihatkan sisi melankolis pemain barunya dengan video permainan piano Sanchez (yang terus terang tidak meyakinkan), Arsenal memilih dengan menampilkan video Aubameyang yang super fun, super hype, estatik, yang membuat debar jantung fans Arsenal jauh lebih cepat, otak merilis dopamine dalam jumlah banyak, sekaligus menetapkan harapan yang sangat tinggi terhadap pemain baru pemakai kostum legendaris No.14 ini.

Jujur, saya tidak mengira Arsenal akan mendapatkan Aubameyang musim ini. Setelah kecewa dengan aktivitas transfer Arsenal di musim panas, saya pikir lebih baik tidak berharap banyak agar tidak terlalu kecewa. Artikel saya sebelumnya memprediksi Arsenal akan menambahkan 1 atau 2 pemain di luar Lacazette dan Kolasinac. Mbappe dan Lemar dibicarakan. Kenyataannya nol. Keputusan mempertahankan Sanchez pun menjadi senjata makan tuan. Sanchez yang kecewa karena batal dijual di hari terakhir transfer window musim panas, ditambah dengan tidak lolosnya timnas Chili ke Piala Dunia, bermain tidak sebaik musim lalu dan mengacaukan suasana harmonis tim. Permainannya yang sangat individualis musim ini juga menyebabkan Arsenal bermain lebih buruk dari musim lalu. Alih-alih berkompetisi untuk juara liga, Arsenal terpuruk di posisi keenam musim ini.

Dengan kondisi demikian, siapa sangka Arsenal dapat membuat periode transfer Januari ini menjadi periode transfer terbaik Arsenal semenjak era Invincible? Artikel saya sebelumnya menyebutkan problem utama Arsenal adalah skuad yang gemuk, melebihi kuota 25 pemain yang dapat didaftarkan. Hal ini membatasi pergerakan transfer masuk. Pendek kata Arsenal mesti menjual pemain yang tidak dibutuhkan untuk dapat membeli yang baru. Tidak ada masalah dengan budget transfer. Namun saya tidak membahas aturan Premier League Short Term Cost Control (STCC) dalam artikel tersebut. Ternyata aturan STCC tersebut juga sangat berpengaruh terhadap kebijakan transfer Arsenal. Klub tidak boleh menaikkan pengeluaran untuk gaji pemain > 7% pengeluaran gaji tahun sebelumnya. Tujuannya agar pendapatan dari hak siar TV Premier League tidak digunakan untuk menaikkan gaji pemain seenaknya. Namun, klub boleh menaikkan pengeluaran gaji > 7% jika ekses di atas 7% tersebut dapat dijustifikasi dengan kenaikan pendapatan dari sisi komersial / sponsorship, tiket, profit jual pemain, dan bonus dari UEFA. Lihat flow chart di bawah ini.

pl20stcc202016-opt882x767o02c0s882x767

Nah Arsenal tidak menaikkan tiket musiman stadion, gagal menaikkan pendapatan komersial secara signifikan (hanya naik 10 juta pounds musim ini), dan juga tidak bermain di UCL musim ini. Arsenal menjadi klub top PL yang paling terkena dampak aturan STCC musim ini. Manchester City dan United bisa bermanuver dengan pendapatan komersial mereka. Yang satu sugar daddy club yang bisa di-inject dana dari Abu Dhabi kapan saja dan yang satu lagi memang super kaya karena pendapatan komersialnya. Liverpool dan Chelsea bermain di UCL musim ini, dapat extra pendapatan. Keempat klub punya fleksibilitas lebih dalam menaikkan budget untuk gaji pemain daripada Arsenal.

Karena skuad Arsenal juga gemuk, ditambah lagi keperluan memenuhi aturan STCC, maka satu-satunya cara Arsenal untuk bisa membeli pemain baru adalah dengan menjual pemainnya. Profit hasil jual pemain ini kemudian bisa digunakan untuk menaikkan pengeluaran gaji > 7% tanpa melanggar STCC.

Salah satu alasan Arsenal tak mampu memenuhi permintaan gaji Sanchez dan Ozil secara bersamaan di awal musim adalah aturan STCC ini. Kabarnya Sanchez minta gaji di atas 500K/week ke Arsenal, dan tentunya Ozil tidak akan menerima kurang dari itu. Arsenal memilih Ozil dan melepas Sanchez. Akhirnya Ozil bisa diperpanjang dengan gaji 350K/week. Timing perpanjangan kontraknya pun sangat tepat. Pertama Lacazette, Aubameyang dan Mkhitaryan diboyong dengan gaji di atas 150K/week, lebih tinggi daripada gaji Ozil saat itu. Setelah itu baru Ozil diberikan kontrak fantastis. Apabila hal ini terjadi sebelumnya, kemungkinan agent-nya Aubameyang dan Mkhitaryan akan lebih ngotot dalam negosiasi gaji pemain mereka. Hal lumrah sebagai manusia untuk melihat pendapatan orang lain sebagai alasan untuk dapat lebih. Kita pun begitu di lingkungan kerja. 🙂

Kenaikan pengeluaran gaji musim ini yang kemungkinan > 7% daripada pengeluaran gaji musim lalu hanya dimungkinkan karena profit dari jualan pemain Arsenal sangat tinggi. Profit = nilai penjualan – sisa nilai pemain setelah amortization nilai transfer. Contohnya begini: Coquelin dan Walcott adalah pemain Arsenal yang telah perpanjang kontrak mereka dari kontrak awal transfer pertama. Nilai transfernya sudah diamortisasi semua (misal transfer 10 juta, kontrak 4 tahun maka nilai amortisasi per tahun 2,5 juta). Maka hasil penjualan mereka otomatis dianggap profit semua. Melirik daftar pemain Arsenal yang dijual musim ini yang notabene adalah pemain lama kecuali Gabriel, bisa diperkirakan profit jual pemain Arsenal musim ini mencapai 100 juta pound. Laporan keuangan Arsenal musim ini akan membuat hijau mata para pemegang saham. Bisa dipahami kan sekarang kalau Stan Kroenke tidak akan melepas sahamnya yang sudah meningkat hampir 3 kali lipat sejak ia membelinya. Musim panen belum tiba tapi padi sudah terlihat menguning…

Tukar Tambah Sukses Arsenal

Tanpa bermaksud menghina, menukar Giroud ke Aubameyang itu bak upgrade dari mobil sedan ke mobil sport.

Setelah dua jendela transfer musim ini, Arsenal berhasil melakukan yang mereka inginkan, akhirnya. Tidak hanya membuang pemain yang sedang merajuk, Arsenal juga berhasil merampingkan skuad dengan membuang beberapa pemain cadangan (otomatis mengurangi pengeluaran gaji pemain klub) dan mendapatkan dua pemain top tipikal Arsenal, yang sudah menjadi idaman Wenger sejak lama. Aubameyang dan Mkhitaryan didapatkan lewat transaksi tukar tambah ribet yang melibatkan Sanchez dan Giroud. Kombo maut ini kemudian dilengkapi dengan perpanjangan kontrak Mesut Ozil dengan menaikkan gajinya lebih dari dua kali lipat. Semua itu dicapai dengan nett transfer spending minus (penjualan lebih besar daripada pembelian), dan tanpa melanggar STCC. Deal tukar tambah yang sempurna. Tanpa bermaksud menghina, menukar Giroud ke Aubameyang itu bak upgrade dari mobil sedan ke mobil sport.

Mari kita lihat komposisi skuad Arsenal setelah transfer Lacazette dan Kolasinac, sebelum dimulainya musim 2017/2018:

GK (4): Cech, Ospina, Martinez, Szczesny

DF (12): Mertesacker, Koscielny, Mustafi, Gabriel, Holding, Chambers, Monreal, Bellerin, Gibbs, Debuchy, Jenkinson, Kolasinac

MF (8+1): Ramsey, Wilshere, Ozil, Chamberlain, Cazorla, Xhaka, Coquelin, Elneny, Jeff (U21)

FW (8+1): Sanchez, Perez, Giroud, Walcott, Iwobi (U21), Welbeck, Campbell, AkpomLacazette

Skuad di atas awalnya berjumlah 32 pemain + 2 U21. Dengan bergabungnya Mkhitaryan, Aubameyang, Mavropanos (U21) dan dijual/dipinjamkannya pemain-pemain yang dicoret di atas, komposisi tim utama Arsenal mengutip Arsenal.com menjadi sebagai berikut:

GK (2): Cech, Ospina

DF (8+1): Mertesacker, Koscielny, Mustafi, Holding, Chambers, Monreal, Bellerin, Kolasinac, Mavropanos (U21)

MF (7+1): Ramsey, Wilshere, Ozil, Cazorla, Xhaka, Elneny, Ainsley Maitland-Niles (U21), Mkhitaryan

FW (3+1): Iwobi (U21), Welbeck, Lacazette, Aubameyang

Skuad menjadi jauh lebih ramping dengan 20 pemain + 3 pemain U21. Tidak tanggung-tanggung, 12 pemain senior “dibuang” Arsenal musim ini. Pemain Home Grown Arsenal memang berkurang, tinggal 6 pemain (Holding, Chambers, Bellerin, Ramsey, Wilshere, Welbeck) tanpa mengikutkan pemain U21. Namun jumlah pemain “asing” Arsenal juga berkurang menjadi tinggal 14 orang, menyisakan 3 slot untuk rekrutmen pemain “asing” senior musim depan. Clearance sale yang berhasil!

Berkurangnya jumlah pemain Home Grown juga menjelaskan mengapa Arsenal begitu ngotot mengejar Jonny Evans. Selain sebagai bek senior berpengalaman, ia juga pemain Home Grown. Dengan bergabungnya Evans, Arsenal bisa memburu lebih banyak pemain “asing” tambahan musim depan tanpa harus terganggu dengan aturan kuota Home Grown (syarat aturan Home Grown adalah max 17 pemain asing dari slot 25 pemain). Musim depan kesiapan Arsenal untuk belanja pemain akan jauh lebih baik daripada musim ini. Kok bisa? Ini alasannya:

  1. Dana untuk transfer akan tersedia banyak karena nett transfer surplus musim ini. Operasi tukar tambah yang sukses menyisakan banyak amunisi untuk musim depan.
  2. Kuota pemain tidak akan menjadi masalah. Pensiunnya Mertesacker dan dilepasnya Cazorla akhir musim ini akan menyisakan slot 5 pemain baru dari luar Liga Inggris.
  3. Aturan STCC juga tidak akan menjadi kendala Arsenal musim depan. Bila musim ini aturan itu bisa diatasi Arsenal dengan profit penjualan pemain, maka musim depan STCC tidak akan menjadi masalah karena faktor berikutnya ini.
  4. Kenaikan pendapatan komersial Arsenal musim 2018/2019. Kemungkinan besar musim depan sponsorship kostum Arsenal akan pindah dari Puma ke Adidas. Arsenal akan buyback sponsorship Puma sebesar 30 juta pound/musim yang tinggal setahun musim depan dan menggantikannya dengan sponsorship dari Adidas. Rumor mengatakan Adidas siap membayar 90 juta pound/musim, naik 3 kali lipat dari jumlah yang dibayar Puma sekarang. Sebagai info, Chelsea, City dan United memiliki nilai deal sponsorship kostum yang jauh lebih besar daripada Arsenal saat ini.

So musim depan beli Jan Oblak, Max Meyer, Malcom dan Kostas Manolas? Silakan bermimpi… Mungkin kali ini mimpi Gooners lebih dekat dengan kenyataan berkat bergabungnya transfer guru Raul Sanllehi dan Sven Mislintat. Keempat faktor di atas dan suksesnya pembelian Aubameyang + Mkhitaryan setidaknya meniupkan angin optimisme baru dalam hal rekrutmen pemain.

Mungkin kali ini mimpi Gooners lebih dekat dengan kenyataan berkat bergabungnya transfer guru Raul Sanllehi dan Sven Mislintat.

Auba dan Micki

Mari kembali ke masa kini. Kemenangan gemilang 5-1 atas Everton akhir pekan lalu menunjukkan langsung nyetelnya kedua pemain terbaru Arsenal. Mkhitaryan seperti kembali pada formnya saat bermain di Dortmund, setelah kebebasannya dibatasi Special One, sang supir bus yang jago parkir. Dua dari tiga assist-nya diberikan untuk Aaron Ramsey, pemain yang baru bermain bersamanya sekitar 30 menit pekan lalu. Kecerdikannya mengisi kantung di antara lini tengah dan belakang lawan sangat berbahaya bagi lawan. Ozil menemukan pemain yang dapat mengimbanginya dalam playmaking. Selain itu umpan silangnya juga sangat akurat, 2 kali dilepaskan dari sisi kanan dan 2 kali pula menemukan Ramsey. Ia juga memiliki skill dribble yang mumpuni, namun seperti Ozil ia adalah tim player yang mengutamakan kecepatan passing dan operan satu sentuhan daripada berlama-lama menggocek bola ala Sanchez.

Micki juga bertukar posisi dengan Iwobi dan Ozil dengan luwesnya. Di awal ia bermain di kiri, Iwobi di kanan. Setelah gol kedua Arsenal, Micki pindah ke kanan dan Iwobi ke kiri. Namun keduanya sering bertukar posisi dengan Ozil di tengah dan fleksibilitas ketiganya membingungkan taktik man-marking Everton.

Bila Micki dengan umpan akurat dan kostum nomor 7-nya mengingatkan kita pada Rosicky dan Pires, nomor 14 Arsenal yang baru memberikan kesan Thierry Henry yang bermain kembali. Kecepatannya dalam counter attack, lepas dari jebakan offside lawan dan kemudian mencetak gol dengan tenangnya sudah lama tak kita jumpai dalam striker-striker Arsenal pasca era Henry. Bahkan si Judas yang punya tembakan akurat tidaklah secepat Aubameyang. Auba juga memperlihatkan kemampuannya dalam link-up play dengan operan vitalnya ke Micki untuk gol pertama Arsenal. Mungkin ia tidak memiliki skill dribble ala Henry, namun saya rasa ia memiliki kelebihan lain sebagai goal poacher, fox in the box yang bisa mengendus bola akan berakhir di mana di kotak penalti lawan. Saat Koscielny menyundul masuk gol kedua, Aubameyang sudah siap menyambar di belakangnya. Di Dortmund, ia terkenal dengan spesialisasinya menyambar bola umpan silang di tiang gawang jauh, posisi yang sangat berbahaya untuk kiper dan bek lawan karena merupakan blind spot mereka. Bermain di depan dua pemain top kreatif yang sangat senang mengumpan bola akan membuatnya makin berbahaya. Bahkan Aaron Ramsey dapat memanfaatkan kelengahan lawan yang tersita perhatiannya oleh pergerakan Aubameyang di kotak penalti.

…nomor 14 Arsenal yang baru memberikan kesan Thierry Henry yang bermain kembali.

Loyal Servant

Kita tentu sedih dengan berpisahnya pemain-pemain setia Arsenal seperti Giroud, Walcott dan Coquelin (mungkin untuk yang satu ini banyak fans yang tidak sepakat), namun akal sehat harus mengalahkan perasaan dalam hal ini. Ketiga pemain tersebut sayangnya tidak dipercaya lagi oleh Wenger musim ini. Mereka hanya bermain sebagai tim B musim ini, di Europa League dan Carabao Cup. Bahkan Wenger lebih percaya kepada Welbeck, Iwobi dan Elneny untuk start di Premier League daripada ketiga pemain ini. Daripada membayar gajinya per-minggu (tidak murah, kurang lebih 100K/week per orang) tanpa jam bermain yang cukup dan semakin hari nilai jualnya semakin mengecil, menggantikan mereka dengan seorang Aubameyang sambil menyisakan slot pemain untuk masa depan adalah langkah yang rasional.

Bagaimana dengan Lacazette? Banyak fans Arsenal yang mempertanyakan di mana Lacazette akan bermain dengan bergabungnya Aubameyang? Hal seperti itu tak perlu kita khawatirkan mestinya. Paling tidak sekarang Arsenal punya opsi dua top striker. Saat melawan Swansea, Lacazette bermain amat buruk, terburuk dalam musim ini. Bila Aubameyang sudah bergabung saat itu, maka ia bisa digantikan dan mungkin gaya bermain Arsenal bisa berubah menjadi lebih efektif. Jangan lupa pula kalau Aubameyang tidak bisa bermain di Europa League.

Tidak pula menutup kemungkinan mereka bisa bermain bersama bila Arsenal mengubah formasi atau saat mengejar ketinggalan kedudukan. Mungkin hal ini tidak akan sering terjadi (mudah-mudahan kita tidak sering tertinggal). Namun, seperti kata Wenger, kompetisi hanya akan membuat pemain lebih baik lagi. Kita tak perlu peduli dengan perasaan Lacazette, Arsenal bukan sinetron. Semua pemain adalah profesional. Justru persaingan akan memberinya motivasi untuk menjadi lebih baik lagi. Tim secara keseluruhan akan menjadi lebih baik karena adanya tantangan internal. Yang justru perlu kita khawatirkan adalah bila kita tak punya pilihan striker, sebagaimana Arsenal di era Giroud, era nrimo apa adanya.

Menariknya, setelah jendela transfer musim dingin ditutup, kekhawatiran fans akan jatuhnya klub ke titik nadir akibat kehilangan serempak Sanchez dan Ozil tidak terjadi. Arsenal menjadi tim yang lebih ramping namun lebih harmonis. Applause harus diberikan kepada kerja keras tim manajemen Arsenal dalam hal ini Gazidis dan tim barunya (Sven Mislintat, Huss Fahmy). Ironisnya, Wenger yang tidak suka dengan winter transfer window, mungkin akan diselamatkan oleh hal yang sama. Rumor Gazidis mencari pengganti Wenger bukan asap tanpa api. Bila Arsenal tidak berakhir dengan trofi apapun musim ini, dan tidak lolos UCL, kemungkinan besar Wenger akan diganti. Keberhasilan Gazidis merekrut Mislintat dan Sanllehi bisa menjadi cerminan standar rekrutmen manager Arsenal pasca Wenger. Keduanya adalah orang-orang top yang berhasil di klub lamanya dan diincar banyak klub lain. Dampak Mislintat sudah mulai terlihat dengan direkrutnya Mavropanos yang mengesankan Wenger dan ditariknya dua pemain eks Dortmund yang juga ditemukannya sendiri 5 tahun silam. Sanllehi akan bergerak di musim panas nanti, kabarnya ia mengincar Malcom dan Oblak. Bila kedua orang ini menjadi standar perekrutan manager Arsenal berikutnya, kita sebagai fans boleh lega, lebih optimis dengan masa depan klub tercinta.

Sekarang kembali ke Wenger. Aubameyang dan Mkhitaryan direkrut Gazidis dan timnya untuk Wenger dan juga masa depan Arsenal. Ia telah diberikan pemain idamannya, dan kesempatan untuk membuktikan apakah ia masih pantas memimpin tim ini atau tidak. Final Carabao Cup di depan mata, posisi keempat semakin dekat dengan selisih 6 angka, dan Europa League memberikan jalur Plan B untuk masuk Liga Champions musim depan. Dengan skuad yang lebih ramping, prospek sponsorship kostum yang lebih atraktif (Adidas akan tawarkan kontrak yang lebih menarik jika Arsenal lolos UCL), Arsenal siap menyongsong masa depan yang lebih baik. Namun semuanya ditentukan terlebih dahulu oleh mampu/tidaknya Wenger membawa tim ini masuk ke Liga Champions kembali, lewat jalur top four trophy ataupun Europa League trophy.

Bila Wenger tidak mampu, sebagaimana loyal servant lainnya yang dilepas Arsenal musim ini, tampaknya Arsenal juga tidak akan ragu menyongsong masa depan tanpa manager terbaik sepanjang sejarahnya ini.

Bila Wenger mampu, untuk kesekian kalinya, kembali menjadi Houdini yang lepas dari cengkeraman maut di detik-detik terakhir, maka sudah seyogyanya kita memberinya kembali kesempatan. Kesempatan untuk memenangi trofi yang sudah lama menjauhinya, dengan pemain-pemain terbaik yang mampu diberikan klub kepadanya.