The Journey to Become Premier League Champions

“The happiness is linked sometimes with the suffering and the time you have to wait, so that is maybe why it was a great moment at the end of the game.” ~ Arsene Wenger, 2014 after Arsenal won the FA Cup

Dua puluh dua tahun lamanya kita menunggu trofi Premier League kembali ke Arsenal. Bila seorang anak lahir di era Invincibles yang mendominasi Inggris dan menjadi juara tak terkalahkan (2004), maka anak itu sekarang semestinya sudah lulus kuliah S1 ketika Arsenalnya Arteta mengangkat trofi Premier League. Satu generasi masa tunggunya. Satu generasi hidup dalam banter era.

Tidak heran, selebrasi besar-besaran dan spontan terjadi setelah match Bournemouth vs City yang memastikan Arsenal sebagai juara liga Inggris 2026. Di Emirates, malam yang sama, puluhan ribu fans Arsenal berkumpul dan bernyanyi, larut dalam kegembiraan terhebat dalam hidup mereka. Sesuai kata Wenger di atas, besarnya kebahagiaan kadang ditentukan oleh lamanya penderitaan selama masa tunggu. Banyak supporter lama Arsenal yang mengatakan ini euforia terhebat dalam sejarah mereka menjadi fans Arsenal. Lebih hebat dari selebrasi juara liga di tahun 1989, 1991, 1998, 2002, dan 2004. Tidak hanya di North London, ribuan fans Arsenal di seluruh dunia turun ke jalan untuk selebrasi. Di Uganda, Kenya, Vietnam hingga di Indonesia yang berparade dengan banner Mikel Arteta’s Army.

Sebagian fans Arsenal mungkin sudah patah arang, tidak pernah berharap timnya untuk dapat juara liga lagi. Ketidakmampuan untuk bersaing di pembelian pemain di paruh kedua era Wenger – akibat pembangunan stadion baru, sampai tidak lolosnya Arsenal ke Champions League di selama 6 musim berturut-turut (2017-2023) padahal sebelumnya langganan UCL 19 musim berturut-turut, sempat membuat fans Arsenal skeptis dengan masa depan klub bola ini. Fast forward 3 tahun ke depan, Arsenal menjadi juara Premier League dan akan bertarung di final Champions League 2026. Ini adalah mimpi terliar kita, jika ditanyakan 10 tahun yang lalu. Mimpi yang terealisasikan berkat satu orang, Mikel Arteta.

Tentu kejayaan musim ini tidak hanya karena Arteta. Ada faktor rekrutmen yang berperan, dukungan dana dari pemilik untuk transfer pemain, dan juga pengambil-alihan utang stadion ke bank sehingga Arsenal lebih memiliki ruang finansial yang cukup untuk transfer pemain. Kemudian suksesnya tim komersial Arsenal dalam mendongkrak pendapatan komersial dari sponsorship juga berpengaruh besar untuk ketersediaan budget transfer. Pendek kata, sukses on and off the pitch itu berjalan beriringan. Arteta mendapatkan budget transfer yang tinggi karena ia berhasil membawa progress berarti di lapangan. Dari finish peringkat 8 naik ke 5 yang artinya dana broadcasting Europa League masuk (sekitar 20-30 juta pounds), dan kemudian 3 musim berturut-turut di Champions League (tambahan 80-100 juta pounds per musim). Arteta bisa belanja banyak karena he earned it, hasil prestasi timnya di lapangan.

Grafik di bawah ini menjadi ilustrasi peningkatan signifikan pendapatan Arsenal berkat prestasi di lapangan ditambah suksesnya tim komersial. Pendapatan Arsenal lebih dari dua kali lipat hanya dalam waktu 5 tahun. Champions League money yang masuk sejak 2024 membuat perbedaan. Musim ini bakal lebih tinggi lagi. Arsenal akan menjadi klub PL dengan pendapatan tertinggi di 2026. More money earned, more spending.

Di dalam transformasi organisasi bahkan sampai ke level negara, leadership adalah hal yang terpenting. Amerika di era Obama dan Trump sangat berbeda. Hal yang sama juga terjadi di negeri ini. Pemimpin membuat visi, dan merealisasikannya, melakukan transformasi organisasi untuk mencapai visinya. Dalam sepakbola, pemimpin ini adalah sang manager. Di sebagian klub Eropa, kepemimpinan dibagi dua antara Head Coach dan Sporting Director. Namun yang lebih berperan tetap Manager atau Head Coach karena merekalah yang bertanggung jawab atas performa timnya di lapangan. Tim yang sama, dengan pelatih yang berbeda, hasilnya bisa sangat berbeda. Lihat saja MU dengan Amorim dan Carrick. Atau Chelsea dengan Maresca dan Rosenoir. Materi pemain yang sama, hasilnya berbeda jauh. Nah tulisan ini akan membahas bagaimana perjalanan Arsenal di bawah Mikel Arteta. Bagaimana ia tidak hanya merevolusi taktik tim, tapi juga kultur sebuah organisasi, sehingga kita bisa sampai ke tujuan seperti sekarang.

The Arteta Way

Semenjak Arteta bergabung, saya sudah yakin ia akan membawakan keberhasilan untuk klub ini. Saya menulis artikel The Arteta Way ini dan menutupnya dengan kalimat ini:

Saya percaya Arteta akan dapat menghadirkan kembali sepakbola menyerang yang merupakan perwujudan dari The Arsenal Way daripada sepakbola reaktif ala klub semenjana. Sepakbola protagonist yang gagal diwujudkan oleh Unai Emery.

Kepercayaan itu muncul karena di konferensi pers pertamanya, Arteta menekankan pada empat hal penting yang ia inginkan sebagai pondasi dasar timnya: komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah untuk memainkan sepakbola dan mewakili klub ini. Ia tidak bicara taktik dulu. Ia bicara soal kondisi mental, soal revolusi mental tim. Arteta menyadari betapa jauhnya Arsenal dari kompetitor saat itu, ketika Man City unggul 3-0 di babak pertama dan Emirates tinggal separuh penuh, ditinggal penonton. Klub ini kehilangan koneksi antara pemain dan fans, kehilangan gairah pemain dalam bermain sepakbola dan fans dalam mendukung tim.

Keempat pondasi dasar tim tersebut kemudian mengerucut menjadi tiga syarat non-negotiables untuk semua pemainnya yaitu: rispek, komitmen dan gairah. Bagaimana Arteta melakukan revolusi mental tersebut dan memastikan semua pemainnya mengikuti syarat non-negotiables tersebut? Dengan disiplin dan aplikasi sehari-hari. Saya yang sehari-hari berkutat dengan urusan manajemen dan leadership, melihat penerapan revolusi mental Arteta ini mirip dengan model high-performance team Lencioni.

Lencioni membuat model piramid berisi 5 unsur / tahapan perubahan perilaku sebuah tim untuk menghasilkan tim dengan kinerja yang lebih baik. Tim yang mana kinerjanya lebih baik dari gabungan kualitas masing-masing individu anggotanya. The whole is greater than the sum of its parts. Untuk tahu lebih lanjut, bisa dibaca di tulisan Arteta Masterclass di blog ini.

Hasil dari penerapan non-negotiables Arteta terlihat saat mengalahkan Liverpool (juara liga) 2-1 di pertandingan liga di akhir musim pertamanya. Arteta mengatakan bahwa dari segi permainan Arsenal masih punya gap dengan level tim papan atas liga saat itu, namun dari segi komitmen dan agresi, mereka sudah menyamai. Buah dari revolusi mental tersebut adalah kemenangan FA Cup di 2020, dengan mengalahkan Man City di semifinal dan Chelsea di final.

Selain hasil positif, revolusi mental Arteta juga memakan korban, mereka yang tak mampu mengikutinya. Pertama Mesut Ozil yang diasingkan dari tim semenjak restart liga setelah suspensi Covid

I have been very open with Mesut from day one.

Since I joined I thought that he was fit and he was willing and he wanted to perform at the level he can do.

The moment I see that he is ready again to do that, I will treat him like anybody else. I think I’ve been more than fair with him and I think he has responded in many games the way I want. That’s it.

Arteta on Ozil’s absence

Korban berikutnya adalah pemain-pemain yang dijual Arteta akibat mereka tidak menuruti syarat non-negotiables tersebut. Tentunya kasus yang paling terkenal adalah Auba. Setelah dijadikan kapten dan perpanjang kontrak baru, Auba tidak memberikan contoh sebagai leader, jenderalnya Arteta. Ia sendiri sering melakukan pelanggaran disiplin. Saya menuliskan kronologi pelanggaran Auba yang berakhir dengan ucapan Selamat Tinggal Auba.

Revolusi Taktik

Berbarengan dengan revolusi mental Arsenal, Arteta juga mengubah taktik Arsenal untuk bisa masuk ke level elit. Di tulisan: Memahami Artetaball saya mengupas bagaimana Arteta menerapkan positional play di Arsenal. Sebelumnya Emery mencoba menerapkan build up dari belakang namun taktik sepakbola yang dilakukan Emery sifatnya lebih reaktif daripada proaktif, menyesuaikan dengan taktik tim lawan. Pemain Arsenal saat itu banyak mengeluh karena diwajibkan menonton video analisa taktik yang lama, pembicaraan taktik yang detail dengan informasi yang kebanyakan. Ada pepatah orang jenius adalah mereka yang mampu menyederhanakan hal-hal kompleks saat berkomunikasi. Emery sebaliknya. Apalagi saat itu Arsenal tidak memiliki struktur dalam bertahan karena bagi Wenger sepakbola adalah soal menyerang.

Artetaball adalah Positional Play ala Arteta yang membangun serangan dari lini belakang (build-up play from the back), memancing lawan untuk pressing tinggi, dan menyerang secepat counter attack. Berawal dari umpan pendek goal kick, bila semua kondisi terpenuhi, Arsenal bisa mencetak gol 20-30 detik kemudian, lewat serentetan kombinasi operan pendek dan panjang yang tidak terinterupsi oleh lawan.

Di bagian kedua dari series Memahami Artetaball, saya menulis:

Filosofi sepakbola Arteta adalah mendominasi lawan. Baik dengan build-up play dari belakang ataupun dengan dominasi dalam menyerang di lapangan lawan. Binaan dari Barcelona-nya Cruyff, Arsenal-nya Wenger dan kemudian Guardiola, tentunya berambisi memainkan sepakbola menyerang yang dominan. Namun Arteta paham betul skuad yang dimilikinya saat ini belum sanggup mendominasi lawan selama 90 menit penuh. Maka ia melakukan sedikit modifikasi taktik untuk mengoptimalkan kekuatan skuadnya dan juga menutup kelemahannya.

Dominasi, yang diinginkan Arteta mulai terealisasikan di musim 2022/2023, ketika Gabriel Jesus dan Zinchenko bergabung dan Arsenal memainkan sepakbola menyerang yang sangat fluid. Jesus main sebagai false nine dan Zinchenko sebagai inverted left back, membuat banyak tim kewalahan dalam merebut possession kembali. Selain itu Saliba dan Gabriel memungkinkan Arsenal bermain dengan garis pertahanan yang tinggi. Arsenal mulai camping di lapangan lawan dengan ball possession dan counterpressing. Jesus, Saka, Martinelli dan Odegaard menjadi kunci serangan Arsenal. Arsenal memimpin klasemen selama 30 game weeks dari 38 match day dan kemudian disusul Man City akibat cedera pemain: Jesus sejak Desember dan kemudian disusul Saliba, Tomiyasu dan Partey di bulan Maret dan April. Sepakbola dominan Arsenal tak dapat dipertahankan tanpa empat pemain kunci tersebut. Dari 6 kekalahan di liga tersebut, 2 diderita dari Man City, rival langsung kita dengan skor 1-3 dan 1-4. Arsenal di-bully oleh City di kedua match tersebut dan terpaksa harus menerima finish di peringkat kedua.

Musim berikutnya 2023/2024, Arteta memutuskan untuk go physical dengan pembelian Timber, Rice dan Havertz. Di bulan September saat konferensi pers ia ditanya bagian mana dari timnya yang perlu peningkatan? Arteta menjawab:

“Suffocating the opponent more. Create more chances. Conceding zero chances and play further from our goal.”

Raya pun di-loan dengan opsi permanen di akhir musim. Arteta ingin double down dengan taktik suffocating tim lawan di paruh lapangan mereka sehingga ia membutuhkan kiper sweeper yang percaya diri bermain dengan posisi jauh dari gawang saat Arsenal mendominasi lawan. Ramsdale tidak nyaman dengan hal itu, seperti yang ia ungkap di interview ini. Dan kita tahu itu adalah awal dari akhir kariernya Ramsdale bersama Arsenal.

Revolusi taktik Arteta pun terjadi dari yang sebelumnya build-up from the back dan stretching lawan dengan memancing mereka untuk pressing tinggi, beralih menjadi suffocating lawan di paruh lapangan mereka sendiri. Hal ini dilakukan sejak man to man marking makin marak dilakukan tim-tim papan tengah PL seperti Brighton. Arteta mengatasi ini dengan bypass pressing lawan lewat long ball Raya ke Havertz yang akan menang duel udara. Kemudian dominasi dimulai di lapangan lawan. Lawan hampir tidak bisa keluar dari lapangan mereka sendiri karena counterpressing Arsenal setiap kehilangan bola akibat passing atau shooting. Struktur Arsenal memungkinkan compact-nya counter pressing berkat lini pertahanan paling tinggi di Premier League. Bisa dilihat di grafik di bawah ini transformasi Arsenal yang makin mengurangi waktu bermain di final third sendiri dan beralih ke bermain di final third lawan.

Sepakbola adalah soal aksi reaksi. Setiap taktik pasti akan melahirkan anti taktik yang baru. Taktik suffocating Arteta kemudian dilawan dengan super low block. Untuk mengatasinya, setelah trip ke Dubai Januari 2024, Arteta dan Jover membawa oleh-oleh set piece ampuh Declan Rice. Inilah cikal bakal chant set piece again ole ole yang membanggakan. Musim 2023/24 itu menjadi pertarungan title terketat Arsenal dalam 20 tahun terakhir, berakhir dengan kalah 2 poin dari Man City. Walau gagal juara, dominannya Arsenal dalam permainan di lapangan, ditambah untuk pertama kalinya Arsenal tidak kalah dari Man City home dan away di satu musim, meyakinkan Arteta bahwa pendekatan fisikal ini sudah tepat walau timnya finish di peringkat kedua.

Di musim 2024/25 pembelian pemain fisikal kembali dilakukan. Mikel Merino dan Calafiori didatangkan. Calafiori untuk menggantikan Zinchenko yang sudah terlihat kewalahan untuk bermain fisikal terutama saat tracking back lawan. Sayangnya Arsenal tidak berhasil mendapatkan pemain sayap dengan target utama Nico Williams. Tanpa back-up yang cukup, pemain-pemain utama Arsenal silih berganti cedera dari Jesus, Havertz, Saka, Odegaard, kemudian disusul dengan pemain baru Calafiori, Gabriel, Ben White dan Tomiyasu yang absen sepanjang musim. Walau finish di peringkat kedua, Arsenal tak mampu memberikan perlawanan berarti untuk Liverpool. Walau begitu, pendekatan fisikal dan sistem Arteta menghasilkan floor performance yang cukup tinggi untuk tetap bertahan di peringkat kedua. Penampilan cemerlang di Champions League juga membawa tim ini lolos ke semifinal dengan kemenangan quarterfinal yang luar biasa atas Real Madrid.

Pelajaran di musim sebelumnya membuat Berta yang masuk menggantikan Edu mengubah strategi transfer Arsenal. Alih-alih membeli pemain mahal, ia lebih mementingkan jumlah pemain baru. Delapan pemain diboyong dengan harga yang masuk akal (tidak lebih dari 70 juta pounds), tidak fantastis: Zubimendi, Norgaard, Mosquera, Kepa, Madueke, Gyokeres, Eze dan Hincapie (loan with obligation). Tujuannya adalah menghadirkan kedalaman skuad dengan kualitas pemain yang tidak berbeda jauh antara starter dan finisher. Strategi ini berbuah manis. Walaupun dihantam cedera silih berganti, kedalaman skuad ini berhasil menjaga posisi Arsenal untuk tetap ada di puncak klasemen hingga minggu terakhir, hanya disalip Man City di satu minggu – GW33, dan itupun karena perbedaan gol scored, jumlah poin dan selisih gol sama.

Bisa kita bayangkan bagaimana nasib Arsenal musim ini kalau tidak ada Eze misalnya ketika Odegaard cedera panjang. Terus Hincapie, ketika Calafiori cedera. Madueke sebagai pelapis mumpuni Saka, yang tidak ada di musim-musim sebelumnya. Mosquera juga sempat backup posisi RB dan RCB. Havertz yang cedera hampir sepanjang musim membuat Gyokeres bekerja keras di posisi striker. Dari 8 pemain baru tersebut hanya Norgaard yang jarang dipakai di PL musim ini, hanya start di FA Cup, Carabao dan Champions League.

Duitnya Dari Mana?

Revolusi mental dan revolusi taktik pasti perlu biaya. Arsenal adalah net spender terbanyak di bursa transfer musim ini dengan nilai belanja £282 juta net, di atas Liverpool net spend yang senilai £268 juta. Secara total spending, Liverpool lebih tinggi (>£400 juta), namun di-offset dengan penjualan mereka yang juga tinggi. Pertanyaannya duit transfernya datang dari mana?

Untuk mengetahui jawabannya silakan baca tulisan saya mengenai Rebuilding Arsenal, khususnya bagian ketiga yang berjudul Shrinking to Grow. Menariknya Josh Kroenke baru-baru ini menceritakan ke media mengenai proses bangun ulang Arsenal dengan tema yang sama. Setelah kekalahan di final Europa League di Baku, Josh merasa progress Arsenal saat itu tidak sesuai jalur dan banyak hal yang salah (kita ingat di match itu Ozil berdebat dengan Emery saat diganti). Ia mengusulkan kepada ayahnya, Stan Kroenke, bagaimana kalau kita melangkah mundur dahulu untuk kemudian maju ke depan. Melangkah mundur yang dimaksud adalah reset, membangun ulang tim dengan resiko progress mundur. Membenahi pondasinya dahulu. Bagian dari rekonstruksi klub tersebut adalah menunjuk Mikel Arteta sebagai head coach, untuk membangun ulang kultur klub.

Sometimes you have to shrink to grow. Just as losing fat while building muscle is the key to attaining peak physical fitness, companies need to shed underperforming brands while focusing on more promising ones.

– David Harding and Charles Tillen

Shrinking to Grow versi Arsenal adalah dengan membenahi budget pemain. Karena tidak bermain di Champions League, maka budget gaji pemain juga harus disesuaikan. Kroenke dulu pernah berkata kalau Arsenal bak tim yang budgetnya Champions League tapi bermain di Europa League. Antara pengeluaran dan prestasi tidak seimbang. Besar pasak daripada tiang.

Bersama dengan Edu, Arteta memulai rebuilding tim. Pemain-pemain tua bergaji mahal dibuang, diganti dengan pemain yang lebih muda dengan gaji yang lebih rendah dan pemain-pemain akademi. Hasilnya pengeluaran gaji pemain Arsenal menjadi yang paling sehat dan paling rendah dibanding klub-klub besar Premier League lainnya. Seperti yang kita ketahui bukan net transfer pemain yang menentukan keberhasilan sebuah tim. Sukses sebuah tim lebih banyak ditentukan oleh budget gaji pemain. Cek saja semua liga Eropa maka akan didapatkan kesimpulan juara liga selalu tim yang budget gaji pemainnya paling tinggi. Apabila bukan, berarti sedang terjadi anomali, ada tim yang punching above the weight (seperti Arsenal musim ini).

Penyehatan finansial ini berdampak positif. Hingga musim lalu sekalipun ketika Arsenal sudah memiliki budget Champions League, pengeluaran gaji Arsenal masih di peringkat keempat Premier League padahal finish di peringkat kedua. Tim ini overperformed secara budget.

Dampak lainnya dari pengeluaran gaji yang lebih kecil adalah ketersediaan dana transfer yang lebih besar. Rumus komponen biaya pengeluaran terbesar sebuah klub adalah gaji + amortisasi biaya transfer. Amortisasi adalah biaya transfer yang didistribusikan merata sesuai durasi kontrak pemain baru. Contoh bila pemain A dibeli seharga 100 juta kontrak 5 tahun, maka biaya amoritasasi per tahunnya adalah 20 juta. Inilah resep rahasia mengapa Arsenal bisa melakukan nett spending tertinggi di summer lalu.

Dari grafik pengeluaran gaji di atas, terlihat kalau pengeluaran gaji Arsenal lebih sedikit, 70-90 juta pounds di bawah Manchester City dan Liverpool, padahal pendapatannya hampir sama (grafik yang lain). Dengan konsep amortisasi, dan memperhitungkan faktor amortisasi di masa depan, maka Arsenal dengan mudahnya bisa melakukan transfer net spend sekitar 70 x 5 / 2 = 175 juta di atas kedua kompetitor tersebut, dalam satu musim.

Seperti yang kita bahas di atas, Arteta earned the right to spend. Prestasi tim yang finish di posisi 8-8-5-2-2-2, satu musim di Europa League dan 3 musim di Champions League dikombinasikan dengan pemangkasan budget gaji pemain menyebabkan Arteta mendapatkan alokasi budget transfer fee yang lumayan. Bermain di Europa League memberikan dana tambahan 20-30 juta dari broadcasting dan prize money. Di Champions League, bila lolos ke babak knock-out maka tambahan dana 80-120 juta akan didapatkan. Dan budget ini pun digunakan secara maksimal di setiap musimnya. Pembelian Declan Rice misalnya, yang memecahkan rekor transfer Arsenal disetujui Josh karena ia tahu ini akan bisa dibayarkan dengan dana Champions League. Kita tahu Arsenal menggunakan budget secara maksimal karena pembelian Raya dan Hincapie sampai harus diakali dengan loan with obligation to buy, kena batasan Financial Fair Play. Artinya pembelian kedua pemain tersebut dilakukan dengan “meminjam” budget musim berikutnya.

Strategi budgeting yang pintar dari musim sebelumnya dikombinasikan dengan pendapatan yang meningkat berkat prestasi di Champions League berhasil menyediakan dana untuk rekrutmen besar-besaran musim ini. Dengan eksekusi Berta yang cerdik maka Arsenal memiliki skuad terbaik dan terdalam di Premier League. Kita memiliki 2 pemain yang hampir sama bagusnya di setiap posisi, pertama kalinya terjadi di era Arteta. Sebuah kemewahan yang merupakan hasil kerja keras dan kerja pintar, bukan hasil pemberian sugar daddy.

Mental, taktik dan dana. Tiga faktor utama yang belum lengkap tanpa koneksi dengan fans untuk menghasilkan revolusi budaya klub bola. Arteta memimpin dalam hal ini. Ia mencari segala macam cara untuk menguatkan koneksi timnya dengan fans di lapangan. North London Forever menjadi anthem sepakbola modern yang sangat berpengaruh, ia yang mengenalkannya. Serial dokumenter All or Nothing di Amazon membantu fans memahami kerja di belakang layar yang dilakukan Arteta dan tim kepelatihannya. Ashburton Army diberikan tempat khusus untuk chant di stadion, tanpa henti dan kompak. Untuk pertama kalinya Arsenal seakan memiliki grup supporter ultras. Chant Mikel Arteta’s Army pun menjadi favorit supporter Arsenal, dipimpin Ashburton Army. Dan dalam 2 musim terakhir ini, dipasangnya Tifo yang melibatkan grup supporter dalam pembuatannya. Keharmonisan yang terjadi antara pihak eksekutif dan tim pelatih kemudian terjadi juga antara pemain dan supporter. VCC, Victoria Concordia Crescit, kemenangan tumbuh melalui keharmonisan, bukan lagi slogan klise.

Puncak dari revolusi budaya Arsenal yang dimulai Arteta sejak 6 tahun lalu adalah gelar Premier League 2026, yang didapatkan dengan mengalahkan mentornya sendiri, Pep Guardiola yang dianggap sebagai Manager terbaik dalam sejarah Premier League, dengan dukungan dana yang tak terbatas. Hal yang hampir mustahil rasanya. Sepuluh tahun lalu, ketika Pep Guardiola bergabung dengan Manchester City, tidak ada fans Arsenal yang berani membayangkan Arsenal dapat menjadi juara liga, dengan mengalahkan timnya Pep yang didukung finansial doping sebuah kerajaan (ehm, soal ini akan dibahas di lain kesempatan).

Trust the process, and I will deliver. Arteta akhirnya menghantarkan kita ke pantai seberang, walau perlu sedikit waktu karena tantangan yang luar biasa besarnya. Kesabaran dan keyakinan itu akhirnya terbayarkan. Keberhasilan ini adalah contoh sempurna bagaimana Leadership yang visioner, fokus dan persisten bisa mengubah nasib sebuah organisasi.

We’re the champions. With one more win, we could be Immortal. Samar-samar saya bisa mendengar seruan ini yang disampaikan oleh Arteta kepada timnya. Ajakan untuk melangkah lebih jauh lagi. Hanya dengan satu kemenangan, tim ini bisa mengukir prestasi terbaik dalam sejarah Arsenal, The Holy Double. Double Premier League dan Champions League, bukan Double Piala Ciki.

Come on You Gunners. Mari mengukir sejarah. Let’s be The Champions of Europe.

Selamat Tinggal, Auba!

Aubameyang at Arsenal (2018-2022)

Pierre-Emerick Aubameyang akhirnya meninggalkan Arsenal, hanya dalam waktu tepat empat tahun sejak bergabung di Januari 2018. Ia mengikuti jejak pemain bintang sebelumnya yang ia gantikan, Alexis Sanchez yang juga hanya menghabiskan kariernya cukup singkat (3,5 tahun) di Arsenal. Bedanya Sanchez tidak memperpanjang kontrak di Arsenal sementara Auba sudah memperpanjang kontraknya 2 tahun di tahun 2020 kemarin (dengan event yang spesial). Kontrak barunya yang masih sisa 1,5 tahun sekarang (berakhir Juni 2023) disepakati untuk diakhiri oleh klub dan dirinya secara konsensual di Transfer Window musim dingin. Aubameyang pun dapat bergabung dengan Barcelona dengan status free transfer (Arsenal tidak mendapatkan transfer fee dari Barcelona).

Saya tidak perlu menulis lagi pencapaian Auba di Arsenal. Ia adalah top skorer kita selama 4 tahun itu (92 gol dalam 163 penampilan di semua kompetisi) dengan rincian sebagai berikut:

  • 2017-18 All Comp.: 14 app 10 goals; PL: 13 app 10 goals
  • 2018-19 All Comp.: 51 app 31 goals; PL: 36 app 22 goals
  • 2019-20 All Comp.: 44 app 29 goals; PL: 36 app 22 goals + 1 FA Cup
  • 2020-21 All Comp.: 39 app 15 goals; PL: 29 app 10 goals
  • 2021-22 All Comp.: 15 app 7 goals; PL: 14 app 4 goals

Dari statistik di atas jelas terlihat 2,5 musim pertama Auba pencapaiannya luar biasa. Dengan rasio gol 0.64 gol per match di periode tersebut, jelas Auba masuk dalam level very elite striker di liga. Penampilan istimewa Aubameyang tersebut menjustifikasi biaya transfernya yang sebesar £56m itu dan ditutup dengan trofi FA Cup 2020 yang hampir bisa dikatakan dimenangkan berkat aksi individualnya di depan gawang yang super cool.

Melihat begitu pentingnya peran Aubameyang bagi tim, tentunya kita semua menginginkan Auba memperpanjang kontraknya yang sisa setahun saat itu (selesai di Juni 2021). Auba ingin gaji yang sesuai dengan perannya di tim saat itu, kurang lebih apa yang didapatkan Ozil, £350K/minggu semusim. Arsenal keberatan, Barca dan klub-klub lainnya menunggu di belakang layar. Arteta pun sampai ikut turun tangan agar tidak terjadi deadlock. Ia melobi Auba pribadi, bertemu dengan ayahnya, meyakinkan mereka bahwa Auba akan menjadi pemain sentral di sisa kontraknya di Arsenal dan meninggalkan “legacy” di klub ini, layaknya pemain legendaris berkostum No.14 sebelumnya. Arteta juga meyakinkan klub bahwa ia butuh Auba saat itu. Akhirnya kontrak baru disepakati dengan gaji dasar sekitar £250K/minggu yang ditambah bonus appearance dan goal bisa mencapai max £350K/minggu.

Video announcement “sign da thing” pun di-upload dengan live streaming. Topeng Black Panther dijadikan petunjuk. Video bertajuk “This is where I belong” pun diputar. Live Streaming Auba dan Laca sahabat baiknya yang membuat semua Gooners tersenyum lebar. Kemudian video wawancaranya bersama Ian Wright di Emirates Stadium di mana ia menyebutkan bahwa alasannya mau memperpanjang kontrak adalah setelah percakapannya yang jujur dengan Arteta.

I had a chat with Mikel. I think he gave me something very clear about the idea of the future of the club and about me.

He was straight and honest and that’s what I like because we are always honest. He said, OK you can maybe leave… I don’t know what your mind is thinking right now, but you can leave and go for trophies at other clubs or you can stay here and have a legacy.

This, for me, was the key word.

Aubameyang to ian wright when he signed the new contract

Aubameyang jelas adalah Hero bagi kita saat itu. Arteta jelas jujur saat mengatakan ia bisa meninggalkan legacy di Arsenal dan Auba percaya hal itu sepenuhnya. Ia siap menjadi leader tim ini dan membawa kembali tim ini kembali ke kejayaan. Semua sepakat meneruskan waktu bersama Aubameyang untuk tiga tahun lagi semenjak tahun 2020 itu adalah yang terbaik untuk semua pihak – baik klub, manager, rekan-rekan setimnya, Auba sendiri dan supporter Arsenal.

Ia menyebutkan bahwa alasannya mau memperpanjang kontrak adalah setelah percakapannya yang jujur dengan Arteta.

Aubameyang ketika perpanjang kontraknya

From Hero to Zero

Siapa yang menyangka hanya dalam waktu satu setengah tahun kurang dari ditandatanganinya kontrak baru tersebut, Auba kemudian diasingkan oleh Arteta dari timnya, dicabut ban kaptennya, berlatih sendiri dan akhirnya dilepas sebagai free agent. Hal yang di luar dugaan semua pihak. Alih-alih meninggalkan legacy di klub tercinta, Aubameyang bahkan tak sempat mengucapkan farewell secara langsung di hadapan supporter Arsenal di stadion, tidak juga kepada rekan-rekannya yang sedang berlatih/ team bonding di Dubai saat itu. Akhir yang sangat “ruthless” untuk seorang pemain terbaik Arsenal di eranya, seorang hero. Hal yang serupa juga terjadi dengan Ozil, yang tak diberikan kesempatan untuk farewell dengan supporter Arsenal. Tentunya mudah untuk sebagian fans menuduh Arteta sebagai sosok yang kejam dalam kedua kejadian ini. Saya mencoba dengan kepala dingin mengurai apa yang sesungguhnya terjadi sehingga Arteta dan board Arsenal mengambil keputusan demikian. Mencari tahu, apa yang menjadi dasar Arsenal membalikkan keputusan yang mereka ambil satu setengah tahun sebelumnya.

Musim lalu (2020/2021) Aubameyang mengalami banyak masalah. Dari sakit malaria, ibunya yang sakit keras sehingga ia sampai absen beberapa pertandingan untuk pulkam mendampingi ibunya (dan diberikan izin oleh klub). Lalu pelanggaran disiplin yang ia lakukan, terlambat saat North London Derby yang mengakibatkan ia tidak dimasukkan ke dalam tim sama sekali dan mesti menonton pertandingan dari stand (bahkan tidak dari bench). Performa Aubameyang di lapangan juga tidak begitu baik, ia hanya mencetak 10 gol dalam 29 penampilan di liga. Rasio 0.34 gol per match ini jauh dari 2 musim sebelumnya di mana rasionya 0.61 gol per match. Namun Arteta masih membelanya di publik, terlepas dari performanya yang tidak sesuai standar tersebut. Fans Arsenal mulai gelisah karena ada sinyal kalau Auba akan mengikuti jejak Ozil yang turun performanya setelah mendapatkan kontrak baru.

Musim ini (2021/2022) Aubameyang memulainya dengan tidak baik. Kali ini ia positif Covid-19 bersama Laca yang diindikasikan berasal dari pesta ultah anaknya yang digelar di bulan Agustus, Auba tidak tampil di 2 pertandingan pertama liga dan belum fit saat Arsenal melawan City di pertandingan ketiga. Tiga kekalahan beruntun harus diderita Arsenal yang menyebabkan Arsenal berada di posisi terbawah klasemen.

Perlahan Arsenal bangkit. Auba selalu start di musim ini sebagai striker utama saat ia fit, mengorbankan Lacazette yang harus duduk di bangku cadangan. Di pertandingan berikutnya Aubameyang mencetak gol melawan Norwich City. Ia tidak mencetak gol vs Burnley namun tampil baik saat NLD di kandang, mencetak satu gol hasil counter attack cantik bersama Emile Smith Rowe. NLD-gate semusim sebelumnya seakan sudah hilang dari ingatan kita semua.

Lalu saat seri lawan Brighton, Auba tidak tampil baik, diganti oleh Laca di menit ke 72. Lawan Crystal Palace, Auba mencetak gol awal namun Arsenal secara umum kesulitan melawan Crystal Palace, tertinggal 1-2 sebelum akhirnya menyamakan kedudukan lewat gol injury time Laca. Nah di pertandingan berikutnya melawan Aston Villa, Arsenal mulai memberikan penampilan yang meyakinkan, mendominasi lawan dan akhirnya menang 3-1 dengan Auba mencetak satu gol dan memberikan satu assist.

What was good, or very good, two or three years ago, with his role in this team, at this club, it is not enough. He had to take a step forward. I would say the same with Laca, look what he is transmitting, not just doing or playing, what he is transmitting. For me that is really, really important.

They lead by example and not only there but as well at the training ground. Certain things, a role they could have had three years ago in the squad, now it has changed.

MIKel arteta on aubameyang after aston villa match

Arteta mengatakan bahwa apa yang telah dilakukan oleh Aubameyang dengan sangat baik selama dua atau tiga tahun sebelumnya di klub ini, belum cukup, mengingat perannya sekarang sebagai kapten dan striker utama. Arteta mengatakan bahwa Auba mesti mengambil satu langkah lebih maju lagi. Ia (bersama Laca) punya tanggung jawab untuk memimpin dengan menjadi role model, tidak hanya di lapangan hijau, tapi juga di training ground. Ia ingin mereka menyampaikan pesan tersebut kepada tim dengan aksi dan sikap mereka. Baginya hal ini sangat penting.

Dan Arteta melihat Auba berubah di pertandingan melawan Aston Villa tersebut. Ia melakukan pressing dengan tujuan yang jelas, cara ia bergerak, link up play-nya, caranya memimpin dalam pertandingan ini sehingga ia berhasil mengubah semuanya (tim). Ia tidak statik sepanjang pertandingan dan kemudian mencetak gol. Arteta memilih Auba versi pekerja keras ini.

Apart from the goals, the celebration when they put the ball in the net, do you see the way he runs? The purpose he has to press the ball, and when he takes it his movement, his link, how is leading the game – that is when he is changing the rest, not when he is static and then he puts the ball in the net. I prefer this Auba.

MIKEL ARTETA

Mudah kita simpulkan bahwa selama ini Arteta terus mendorong Auba dan Laca agar dapat benar-benar menjadi leader di tim ini. Tim muda ini membutuhkan role model dan mereka berdua bisa memikul tanggung jawab extra itu. Dalam pertandingan ini Auba menunjukkannya. Ia berikan satu gol dan satu assist tapi yg lebih mengesankan Arteta adalah kerja kerasnya di lapangan.

Sayangnya setelah itu, demikianlah performa Aubameyang di pertandingan-pertandingan PL berikutnya:

  • Leicester vs Arsenal (0 – 2): Auba missed sitter 2x. Menurut saya mainnya masih OK walaupun akhirnya di match ini yang tampil untuk memberikan perbedaan adalah para pemain muda.
  • Arsenal vs Watford (1 – 0), Auba missed penalty. Emile Smith Rowe menjadi pahlawan dengan solo goalnya.
  • Liverpool vs Arsenal (4 – 0).

Karena penampilannya turun di dua pertandingan sebelumnya, inilah pesan Arteta untuk Auba sebelum pertandingan melawan Liverpool:

…he needs to continue the form that he’s in and the attitude that he’s showing and as well the level of implication that he has, not only around the team but around the club as well.

MIKEL ARTETA on AUbameyang pre-match vs liverpool

Arteta menuntut lebih dari kaptennya. Ia ingin Auba meneruskan performa baiknya dengan sikap dan kerja keras yang telah ia tunjukkan sebelumnya, tidak hanya di sekitar tim tapi juga di sekitar klub. Apa maksudnya? Pendek kata on dan off the pitch, Auba perlu bersikap sebagai seorang pemimpin (kapten) dan bekerja keras. Apakah “pesan” Arteta kepada Auba sebelum pertandingan itu semacam pertanda adanya penurunan upaya dari Auba on dan off the pitch?

Walau Arteta telah mengingatkan, Auba tetap bermain jelek di pertandingan lawan Liverpool tersebut. Arsenal tertekan sepanjang pertandingan dan akhirnya kebobolan di menit terakhir babak pertama lewat set pieces. Di babak kedua ada satu kesempatan saat counterattack Arsenal yang disia-siakan oleh Auba dengan tendangannya yang lemah. Blunder pun akhirnya dilakukan pemain-pemain muda Arsenal saat ingin mengejar ketertinggalan yang mengakibatkan Arsenal kembali terekspos oleh counterattack Liverpool yang berujung dengan kekalahan telak 4-0. Auba bermain penuh selama 90 menit.

Pertandingan berikutnya melawan Newcastle (menang) dan Manchester United (kalah), Auba diganti di menit ke-70-an oleh Laca dan ia tidak mencetak gol. Semenjak dipuji oleh Arteta setelah pertandingan Aston Villa tersebut, ironisnya Auba gagal mencetak gol di lima pertandingan berikutnya.

Arteta akhirnya menyerah dengan Aubameyang dan mencoba hal baru. Melawan Everton dan butuh kemenangan, Auba di-drop ke bench dan diganti Laca di starting lineup. Arsenal kalah 1-2 dan Auba masuk di menit ke-85 menggantikan Laca. Sepanjang pertandingan, saat kamera menyorot Auba, jelas terlihat rasa frustrasinya karena tidak dimainkan sejak awal. Kemudian terjadilah insiden historik tersebut.

Pertandingan melawan Everton itu terjadi di hari Senin. Arsenal akan main lagi lawan Southampton di hari Sabtu. Auba meminta izin ke klub untuk melewatkan training session di hari Rabu dengan alasan untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit dan membawanya ke London. Saat itu kasus Covid-19 lagi tinggi-tingginya di UK. Banyak pesepakbola PL dilarang berpergian keluar kota apalagi keluar negeri saat itu. Auba dikasih dispensasi oleh Arsenal untuk ke Perancis karena alasan ibunya yang sakit namun ia diminta untuk kembali pada hari yang sama ke London agar Kamis bisa ikut sesi latihan. Perlu diketahui saat itu Arteta dan tim sedang berada dalam tekanan tinggi akibat kalah dua kali berturut-turut melawan MU dan Everton. Arsenal harus bangkit dari kekalahan dan menang melawan Southampton.

Protokol Covid-19 saat itu menyatakan siapapun yang tiba di London mesti melakukan PCR test terlebih dahulu dan kalau sudah terbukti negatif baru boleh keluar dari isolasi terlepas orang itu atlet atau bukan. Kita tahu dari skandal False Positives FC bahwa hasil tes ini di Inggris bisa keluar paling cepat 8 jam dan paling lama bisa sampai 24 jam.

Auba kemudian kembali ke London di Kamis pagi hari, bukan Rabu sore atau malam sesuai komitmennya. Kamis pagi itu ia langsung ke training ground London Colney tanpa mengikuti protokol Covid yang berlaku tersebut. Ngakunya Auba: ia tidak tahu ada perubahan aturan protokol Covid. Arsenal terkejut dengan kedatangannya dan juga kecewa dengan Auba yang melanggar komitmen, padahal sudah diberikan dispensasi khusus.

Auba disuruh pulang sesampainya di training ground karena Arsenal tidak mau membahayakan skuad dan training ground yg beresiko untuk ditutup akibat pelanggaran protokol Covid-19 oleh Auba. Ia kemudian isolasi di rumah setelah melakukan tes PCR. Sayangnya di hari yang sama itu, ia ketahuan membuat tato baru yang jelas merupakan pelanggaran aturan isolasi. Foto tersebut di-upload oleh artis tatonya dan menjadi viral di socmed. Hal ini bukan pertama kalinya dilakukan Auba karena tahun lalu di tengah lockdown Covid-19 di UK, insiden serupa terjadi. Artis tato yang sama, Alejandro Nicolas Bernal, posting video ia yang sedang men-tato Aubameyang di tanggal 9 Februari 2021. Hal ini menjadi viral di socmed karena merupakan pelanggaran lockdown yang ketat saat itu di UK dan Arsenal berjanji akan bicara ke Aubameyang untuk mengklarifikasi dan mengingatkannya mengenai tanggung jawabnya di saat pandemi ini.

Flashback ke Awal 2021

Yang lebih menarik lagi, sebelum kejadian tato di bulan Februari itu, Auba juga absen membela tim karena mengunjungi ibunya yang sakit keras. Nah lho? Penasaran mengapa pola yang sama terjadi, saya kemudian mencoba menelusuri ulang apa yang terjadi di awal tahun 2021 itu dan membandingkannya dengan insiden di bulan Desember 2021.

  • 23 Jan 2021 FA Cup – Southampton vs Arsenal (1 – 0): Auba absen. Arteta hanya mengatakan Auba sedang melalui masa sulit tanpa menjelaskan penyebabnya.
  • 26 Jan 2021 PL – Southampton vs Arsenal (1 – 3): Auba kembali absen. Sehari berikutnya Auba menjelaskan ia absen karena ibunya yang sakit. Ia diberikan kesempatan oleh Arsenal untuk personal leave ini dan akan kembali ke London besoknya (28 Jan).
  • 30 Jan 2021 PL – Arsenal vs Man United (0 – 0): Auba belum kelihatan di bangku cadangan. Arteta masih supportive terhadap Auba dan mengatakan klub mendukungnya di masa sulit ini dan ia butuh waktu.
  • 2 Feb 2021 PL – Wolves vs Arsenal (2 – 1): Auba duduk di bangku cadangan, Laca start. Ini adalah pertandingan spesial di mana Craig Pawson memberikan Arsenal dua kartu merah. David Luiz mendapatkan kartu merah di menit ke-45 sehingga Laca terpaksa diganti Gabriel. Kemudian Pepe digantikan Auba di menit ke-61. Leno kena kartu merah di menit ke-72.
  • 6 Feb 2021 PL – Aston Villa vs Arsenal (1 – 0): Auba duduk di bangku cadangan, Laca start. Auba masuk di menit ke-59 menggantikan Laca.
  • 9 Feb 2021 – Video Tato diupload artisnya. Arsenal berjanji akan bicara dengan Auba. Kasus diselesaikan secara internal tanpa diumumkan apa sanksinya.
  • 14 Feb 2021 PL – Arsenal vs Leeds (4 – 2): Auba akhirnya menjadi starter setelah absen 3 pertandingan dan dicadangkan selama 2 pertandingan. Ia tampil gemilang dan mencetak hat-trick di pertandingan ini. Ia bermain full 90 menit.
  • 19 Feb – 12 Mar 2021 – Arsenal melawan Man City, Benfica (UEL), Leicester, Burnley dan Olympiacos (UEL). Auba main full di 4 pertandingan dan menjadi cadangan di match lawan Leicester yang berjarak terlalu dekat dengan Benfica. Ia mencetak 2 gol ke Benfica dan 1 gol ke gawang Burnley.
  • 15 Mar 2021 PL – Arsenal vs Tottenham (2 – 1). Kejadian telatnya Auba sehingga ia tidak dimasukkan ke dalam skuad sama sekali.
  • Sanksi indispliner Auba tidak berlangsung lama karena di pertandingan berikutnya melawan Olympiacos Auba menjadi starter, namun tidak mencetak gol dan Arsenal kalah. Kemudian lawan West Ham ia bermain sebagai RW dan Laca CF, Arsenal seri 3-3, Auba tidak cetak gol. Ia kemudian menjalankan tugas negara membela Gabon, dan di sana ia kena malaria. Pertandingan setelah itu lawan Liverpool dan Slavia Prague, Auba belum mengetahui kalau ia kena malaria, hanya saja badannya terlihat lebih lemas. Setelah itu ia divonis sakit malaria, opname di rumah sakit dan kemudian absen selama tiga minggu.
  • Auba kembali ke bangku cadangan saat semifinal UEL pertama melawan Villarreal, hanya bermain selama 5 menit dan tidak bisa membantu Arsenal yang kalah. Lalu ia start vs Newcastle yang menjadi awal dari rally 5 pertandingan PL terakhir Arsenal untuk menutup musim tersebut dengan sedikit bermartabat. Di pertandingan ini ia mencetak 1 gol dan 1 assist. Kemudian di semifinal UEL kedua, ia juga start tapi Arsenal hanya bisa mendapatkan hasil seri dan harus gugur dari kompetisi ini. Di 4 pertandingan PL terakhir, Auba tidak mencetak gol sama sekali. Auba mengakhiri musim tersebut hanya dengan 10 gol di liga, bisa disebut musim terburuk dari segi produktivitas gol dalam sebelas tahun terakhir kariernya.

Saya mencoba simpulkan serentetan kejadian di atas sebagai berikut: 23 Jan 2021, Auba minta dispensasi personal, diberikan. Kemudian saat ia telah menyelesaikan masalah pribadinya, pelan-pelan ia diintegrasikan kembali ke dalam tim. Arsenal kalah dua kali, ia malah bikin tato melanggar lockdown (9 Feb). Arteta bicara dengannya, kemudian ia tampil sangat baik melawan Leeds, masalah seakan-akan selesai. Namun sebulan kemudian, terjadilah insiden NLD itu. Ia dimaafkan, bermain kembali namun secara mental mungkin berpengaruh. Formnya memburuk dan ditambah ia kena malaria. Sejak NLD-gate tersebut, Auba hanya mencetak 1 gol dalam 10 pertandingan berikutnya. Sebaliknya Arsenal menang dalam 5 pertandingan PL terakhir itu, tanpa terlalu banyak kontribusi darinya.

Sejak NLD-gate tersebut, Auba hanya mencetak 1 gol dalam 10 pertandingan berikutnya. Sebaliknya Arsenal menang dalam 5 pertandingan PL terakhir itu, tanpa terlalu banyak kontribusi darinya.

arsenal di akhir musim 2020-2021

Menurut saya insiden NLD-gate itu cukup berpengaruh terhadap Auba. Karakternya yang extrovert tapi banyak menggunakan perasaan daripada logika (sunshine yellow personality), mudah tersinggung jika dipermalukan seperti itu oleh Arteta di depan rekan-rekan timnya. Bukan kebetulan bahwa semenjak itu form-nya jatuh bebas, dan seperti yang kita ketahui Auba tidak pernah kembali lagi ke form terbaiknya.

Their naturally outgoing, sociable, dynamic energy lifts the energy of the team as they love to provide a bit of a laugh. They worry about the team dynamic and want to ensure that everyone is involved. Their friendly, persuasive and animated behaviour can often help bring the group together.

If they are criticised on an idea, the Sunshine Yellow tends to go into “transmit” mode even harder rather than taking the time to find out where their colleague is coming from.

Sunshine Yellows with low emotional maturity may also avoid receiving critical feedback. They may choose to reject the person or respond in a passive-aggressive way.

Sunshine yellow personality – insights discovery

Not Captain Material

Kembali ke Desember 2021. Auba kemudian ditelepon oleh Arsenal, dikabari bahwa Jumat ia tidak perlu datang ke London Colney karena Sabtu ia tidak akan dimainkan sama sekali. Beberapa hari kemudian ia kembali ke training ground dan berbicara empat mata dengan Arteta dan juga dengan Edu. Arteta menjelaskan kepadanya sanksi yang harus diterimanya, ban kaptennya dicopot dan ia diinstruksikan untuk berlatih sendiri, terisolasi dari rekan-rekan timnya (miris, mengingat ia sering melanggar aturan isolasi) sampai masa waktu yang tidak ditentukan. Dan semenjak itu Arteta tak bicara lagi padanya.

Arteta kecewa karena Auba melanggar komitmen bersama dan terkesan meremehkan apa yang telah disepakati bersama, terutama di tengah kondisi kasus Covid yang memuncak di Inggris. Ia seperti tidak menganggap serius apa yang telah disepakati dengan klub padahal ia telah diberikan kepercayaan dan dispensasi spesial. Dan ini bukan kejadian yang pertama kali, bila kita melihat kronologis di atas. Kesimpulannya ia dianggap “abuse the trust” yang diberikan oleh Arteta dan tidak menjadi contoh kapten yang baik untuk timnya.

Semenjak Arteta menjadi head coach dan kemudian manager Arsenal, ia berulang kali menekankan pentingnya pemain Arsenal untuk merasa bangga dan terhormat, bahkan merasa “privileged” menjadi pemain yang mewakili klub ini. Seyogyanya sebagai pemain Arsenal, kebanggaan itu diaplikasikan dalam bentuk komitmen dan kerja keras baik di lapangan maupun di training ground. Disiplin adalah hal utama bagi Arteta bahkan sejak ia menjadi pemain. Selain itu menurut saya personality Arteta adalah Fiery Red, extrovert namun lebih menggunakan logika daripada perasaan sehingga karakter seperti ini umumnya sangat fokus, driven, tegas dan juga ruthless. Maka ia punya prinsip non-negotiables yang tidak boleh dilanggar semua anggota tim, apalagi oleh seorang kapten.

Menariknya, Auba sendiri seperti belum memahami mengapa ia dihukum demikian keras oleh Arteta. Di dalam preskonnya di Barca, ia menjawab kalau masalahnya ada di Arteta, bukan di dirinya. Ia tidak paham mengapa Arteta tidak senang (dan membesar-besarkan masalah yang mungkin dianggap sepele baginya), sedangkan ia kalem-kalem saja.

My problem was only with Arteta. He wasn’t happy. I can’t tell you more. He wasn’t very happy, I was very calm.

Auba on his broken relationship with arteta

Sementara itu Arteta menjelaskan alasannya mencabut ban kapten dari Auba:

I do not establish my authority by being dictatorial or ruthless,

I just ask for one thing: respect and commitment. At this level, if I don’t get that, I will pack my bags and go somewhere else because that is the minimum I can ask for.

I am going to expect that from everybody who works for the club. First of all from myself, and the day I don’t do that I will walk through that door and go and do something else. It as clear as that.

To be successful you have to be passionate about something and want to represent a club of this size, with its history. That is the minimum standard you have to bring. I am not going to ask anybody to put the ball in the top corner every time they hit it, but I will ask them to do the right things every single day for this club.

Arteta on auba being stripped of captaincy

Kita bisa membaca adanya keyword seperti respect, commitment, represent the club, dan yang terpenting “do the right things every single day for this club.” Dari sini kita bisa menyimpulkan Auba dinilai tidak melakukan hal-hal ini belakangan ini. Tentunya penilaian ini tidak hanya datang dari Auba seorang. Menyia-nyiakan dan kemudian membuang pemain bergaji tertinggi di klub saat ini tentunya tidak dapat dilakukan oleh seorang manager belaka. Board Arsenal tentunya mendukung Arteta 100% dalam hal ini.

Setelah membaca kembali serangkaian kejadian sebelum kasus terakhir ini terjadi, saya menduga setelah match lawan Aston Villa itu, Auba menurun lagi upayanya di training ground. Mungkin ia telat datang latihan, mungkin upayanya turun sekian persen. Implikasinya setelah pertandingan itu ia gagal mencetak gol dalam 5 pertandingan berikutnya dan gagal menginspirasikan tim dalam kapasitasnya sebagai kapten.

Sebelum pertandingan melawan Liverpool, Arteta memberikannya peringatan: tidak mencetak gol tidak masalah selama engkau meningkatkan upaya, melanjutkan aplikasi kerja keras di lapangan maupun training ground, karena ia melihat Auba mulai kendor lagi. Lalu di pertandingan Liverpool tersebut kita bisa melihat di saat tim lagi down, Auba juga tidak mampu menginspirasi rekan-rekan setimnya. Lalu di dua pertandingan berikutnya ia tampil buruk, dan akhirnya di-drop ke bench saat lawan Everton.

Arteta berharap setelah di-bench saat lawan Everton, Auba bisa bereaksi dengan introspeksi dan berusaha keras untuk bisa kembali ke starting lineup. Namun hal sebaliknya yang terjadi. Auba terkesan menganggap remeh dispensasi yang diberikan saat Covid-19, meninggalkan rekan-rekannya yg sedang latihan keras untuk bangkit melawan Southampton setelah dua kekalahan berturut-turut. Ia kembali ke London terlambat, pergi tatoan pula, tidak meminta maaf, dan alasannya: saya tidak tahu ada aturan baru soal isolasi. Pemain yang digaji setinggi itu kita harapkan agent-nya ataupun dirinya untuk melek terhadap aturan isolasi apalagi ketika ia mendapatkan dispensasi khusus. Arteta tidak bisa menerima alasan ini dan memutuskan, OK, you’re out, Auba.

Absennya Auba digantikan oleh Laca, teman baiknya. Dan ternyata dipimpin oleh Laca yg bekerja keras, Arsenal malah menang di 4 match PL berikutnya dan memberikan penampilan terbaik musim ini saat melawan Man City. Laca memberikan kontribusi 2 gol dan 3 assist di 5 match itu. Kehadiran Auba tidak dirindukan Arsenal sama sekali.

Bila Arsenal mampu move on dari Auba, sebaliknya Auba tidak berhasil merehabilitasi nama baiknya ketika diberikan kesempatan untuk membela Gabon di AFCON. Ia memilih party di Dubai tanpa masker bersama beberapa rekannya sebelum AFCON resmi dimulai. Akibatnya ia dan Mario Lemina positif Covid.

Apakah Auba memang tidak sadar pentingnya perannya sebagai kapten timnas di saat itu? Di tengah kritikan terhadapnya yang dianggap gagal sebagai kapten Arsenal? Contoh seperti apa yg dapat ia berikan kepada rekan-rekan setimnya?

Kemudian kembali muncul rumor yang tidak baik, bahwa setelah recover dari Covid-19 di Cameroon ia pulang ke hotel di dini pagi hari bersama Mario Lemina dalam keadaan mabuk. Rumor ini malah dimuat oleh L’Union, koran terkenal di Gabon. Auba membantah hal ini. Kita tidak tahu mana fakta yang benar, namun timnas Gabon memulangkannya ke London, dengan alasan resmi: masalah kesehatan jantung akibat Covid. Arsenal kaget dan bingung. Auba dicek, dan dinyatakan kondisi jantungnya baik-baik saja saja. Artinya alasan itu dibuat-buat oleh timnas Gabon dengan tujuan memulangkan Auba. Tanya kenapa?

Reputasi Aubameyang di Arsenal semakin jatuh. From hero to zero, hanya dalam satu setengah tahun. Arteta membawa timnya ke Dubai untuk training sekaligus team bonding. Auba tidak dibawa sementara pemain yang numpang latihan seperti Jack Wilshere saja dibawa Arsenal. Ini adalah sinyal keras kalau Auba mesti mencari klub baru karena bukan lagi bagian dari masa depan Arsenal. Agent-nya mulai bergerilya mencari klub yang berminat.

Barca The Saviour

Saat tawaran Barca datang, kesempatan emas ini tentunya tidak akan disia-siakan oleh Arsenal. Toh Auba tidak akan dimainkan lagi. Bila ia bisa dilepas di Januari tersebut, maka Arsenal bisa menghemat gaji tingginya selama 1,5 musim (untuk persiapan pembelian striker top di Juni nanti) dan tim bisa fokus di setiap pertandingan tanpa harus menghadapi pertanyaan dari media setiap minggu, “Kapan Auba main lagi?”

Namun misi melepas Auba ke Barca ternyata tidak semudah itu. Arsenal hampir gagal deal dengan Barca karena Barca terikat dengan aturan La Liga soal budget gaji pemain. Mereka hanya mampu membayar Auba sekitar 2,5 juta euro untuk musim ini. Mereka ingin Arsenal membayar sisa gaji Auba dengan status loan 6 bulan dan kemudian di akhir musim ditinjau kembali. Arsenal tidak mau. Hampir deadlock, Arteta akhirnya memutuskan bersama Tim Lewis untuk terminate kontrak Auba saja sehingga ia bisa bergabung dg Barca dengan status free agent. Auba sudah ngebet ke Barca dan sejak siang hari itu sudah terbang ke Barca untuk persiapan tanda tangan kontrak di deadline day transfer window.

Untuk putuskan kontrak Auba dan menghasilkan win-win solution untuk semua pihak, kira-kira begini formula yang diterapkan:

  • Auba basicnya £250K/week di Arsenal, £350K/week kalau ada bonus goal + appearance.
  • Auba terima dari Barca £100K/week sampai akhir musim ini. Namun ia mendapatkan kontrak selama 3,5 musim, 2 tahun extra dari sisa kontraknya di Arsenal.
  • Arsenal membayar ke Auba severance payment untuk pemutusan kontrak, senilai £7 juta. Ini sama dengan £350K/week dikali 20 minggu yang tersisa untuk musim ini. Dengan cara ini Arsenal menghemat gaji Auba full musim depan, senilai £13 juta dari basicnya saja.
  • Barca akan menaikkan gaji Auba di musim depan, mungkin tidak signifikan namun dengan memberikan ia kontrak selama 3,5 musim, dibayar £100K/minggu pun sama nilainya dengan sisa kontraknya yang 1,5 musim di Arsenal. Ada opsi break contract di Juni 2023, yang mana ada kemungkinan Auba akan diputus-kontrak saat itu dan sisa gajinya dibayar penuh oleh Barca karena Auba mungkin tidak akan cukup fit untuk bermain di Barca sampai dengan 2025 (ia akan berusia 36 tahun saat itu). Dengan demikian secara keseluruhan Auba tidak kehilangan potensi pendapatan dari sisa kontraknya di Arsenal.

Dengan solusi di atas, semua pihak mendapatkan solusi yang diinginkan. Arsenal bisa menghemat gaji yang signifikan, Barca bisa mendapatkan pemain bintang yang sudah lama mereka incar walaupun sedang di penghujung kariernya, dengan gaji relatif murah, dan Aubameyang bisa menyelamatkan mukanya, melupakan penderitaan diisolasikan dari tim dan sebaliknya dapat bergabung kembali dengan sohib party-nya, Ousmane Dembele yang ironisnya memilih tinggal hingga akhir musim ini di Barca karena kedatangan Auba (OK, so not really win-win for Barca).

Legacy

Manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan. Rencana Auba untuk mengakhiri karier di Arsenal dan meninggalkan legacy yang harum sebagai legenda Arsenal gagal terlaksana. Tentunya sikap dan aksinya sendiri yang menjadi sebab utama kegagalan tersebut (bila ia mau jujur dengan diri sendiri). Bila dulu percakapannya yang jujur dengan Arteta tentang makna legacy membuatnya memperpanjang kontrak, maka percakapan yang jujur kali ini dengan Arteta mengenai komitmen yang dilanggar dan kekecewaan klub terhadap sikapnya mesti diterima dengan pahit oleh Auba. Sayangnya ia (dan kita) mesti menerima kenyataan bahwa ia gagal menjadi legacy sebagaimana impian semua supporter Arsenal di momen perpanjangan kontrak itu.

Menariknya, tim muda ini tidak merasakan kehilangan dengan kepergiannya. Mereka bermain dengan baik setelah ia di-drop dan berlatih dengan ceria di Dubai tanpa dirinya. Kapten baru lahir di dalam seorang Laca, yang menjalankan perannya dengan sangat baik di periode ini. Sudah bukan rahasia umum kalau Laca adalah figur senior yang dihormati terutama oleh pemain-pemain muda, karena ia sering memberikan mereka bimbingan.

Menariknya lagi, tidak cuma Auba, dari sejumlah pesepakbola yang pernah menjadi kapten Arsenal, sebagian besar tidak memiliki kesempatan mengakhiri kariernya di Arsenal. Setelah Tony Adams yang pensiun di Arsenal, sejumlah pemain seperti Vieira, Henry, Gallas, Fabregas, Van Persie, Vermaelen, Koscielny, dan sekarang Aubameyang meninggalkan Arsenal untuk mengakhiri karier bermain mereka di klub lainnya. Namun ada fakta yang menarik juga, hanya dua kapten Arsenal yang kariernya berakhir di klub ini semenjak Adams, yaitu Mikel Arteta dan Per Mertesacker. Dan mereka berdua sekarang menjadi First Team Manager dan Academy Manager di klub tercinta. Bukan kebetulan kalau mereka berdua inilah yang benar-benar memahami apa artinya kehormatan yang diberikan untuk membela klub ini. Wenger berhasil mendidik keduanya dengan baik untuk mewarisi title Mr. Arsenal berikutnya, setelah Mr. Arsenal orisinal, Tony Adams.

Lembaran Aubameyang di klub ini akhirnya kita tutup. Terima kasih untuk 4 tahun pengabdiannya. Alih-alih meninggalkan legacy, Aubameyang “ditinggalkan” oleh managernya dan timnya. Kita akan mengenang manis video announcement pembelian Auba “Yo Pi’erre, you wanna come out here?” yang sampai saat ini belum bisa tergantikan kerennya. Kita akan mengenang gol-gol indah Aubameyang, trofi FA Cup 2020, dan senyum lebarnya yang affectionate ketika ia sedang happy. Namun kita juga memahami sekarang, mengapa perpisahan ini harus terjadi.

Selamat tinggal Auba, sayang sekali kisahmu dan Arsenal mesti berakhir di sini. Kami akan maju terus, untuk menuju Top Four di akhir musim. Entahlah kalau kita bisa berjumpa lagi di Champions League atau tidak musim depan (tergantung finish-nya Barca juga 😉).

Up The Arsenal!

Preview Arsenal 2020-21 Season

LONDON, ENGLAND – AUGUST 29: Arsenal celebrate with the Community Shield Trophy following his team’s victory in during the FA Community Shield final between Arsenal and Liverpool at Wembley Stadium on August 29, 2020 in London, England. (Photo by Justin Tallis/ pool via Getty Images)

Arsenal mengawali musim 2020-21 ini dengan optimisme penuh setelah memenangi Community Shield 2020 dengan mengalahkan sang juara Premier League, Liverpool dengan meyakinkan, walaupun hasil akhir kemenangan didapatkan lewat adu penalti. Sepanjang pertandingan, setelah memimpin dahulu dengan gol Aubameyang, Arsenal tidak pernah terlihat sebagai tim yang inferior melawan tim juara. Saat bertahan, Arsenal terorganisir dengan baik dan setiap menyerang balik, barisan pertahanan Liverpool kelabakan. Serangan balik mungkin tetap akan menjadi senjata utama Arsenal musim ini, yang akan kita bahas sebagai bagian dari preview musim baru ini.

Meroketnya Bintang Arteta

Kejatuhan Raul Sanllehi akibat skandal transfer (walaupun tidak diungkap jelas oleh klub) diimbangi dengan naiknya bintang Vinai Venkatesham dan Mikel Arteta. Vinai sekarang resmi menjadi CEO Arsenal, dan Arteta dipromosikan menjadi 1st team Manager, tak lagi sekedar Head Coach. Hanya dalam 2 tahun lebih semenjak Wenger lengser, Arsenal balik badan untuk kembali memakai struktur yang mirip dengan eranya, daripada warisan Gazidis. Mantan CEO Arsenal ini mencoba mengadopsi struktur klub sepakbola yang lebih modern dengan mengurangi peran manager (Wenger) dengan menghadirkan posisi Technical Director dan Head of Football Relations. Intinya adalah fungsi rekrutmen, transfer dan kontrak pemain tidak lagi melibatkan manager yang hanya difungsikan untuk melatih tim. Manager boleh meminta dicarikan pemain di posisi tertentu namun keputusan final untuk membeli, menjual pemain tak lagi ada di tangan manager. Hal itu dilakukan karena dirasakan Wenger menjadi penghambat transformasi Arsenal menjadi klub sepakbola modern.

Era Raul membawa Arsenal ke kutub ekstrem yang berlawanan. Bila Wenger enggan berurusan dengan super agent, Raul sebaliknya. Pembelian pemain-pemain lewat super agent Kia Joorabchian (David Luiz, Cedric Soares, Willian) dan juga Arturo Canales (Pablo Mari) dipertanyakan prosesnya. Kemudian rumor pemain yang akan dibeli pun tak jauh dari pemainnya Kia (Coutinho, Felipe Anderson, Kurzawa). Kontrak David Luiz diperpanjang, loan Mari dan Soares dipermanenkan, Willian dikontrak selama 3 tahun. Aksi-aksi yang mengundang pertanyaan apakah ini adalah keputusan yang bijak, ditambah dengan harga transfer Pepe yang di atas harga pasar (Raul adalah teman dekat GM Lille, Marc Ingla) akhirnya membuat KSE mengirim pengacara kepercayaan mereka Tim Lewis untuk melakukan review internal. Singkat kata hasilnya adalah Raul terdepak dari puncak kekuasaan eksekutif Arsenal.

Raul jugalah yang membalikkan arah pencarian suksesor Wenger dari Arteta ke Emery, yang diperkenalkan oleh Arturo Canales (yang kemudian menjadi agent-nya Emery sebelum ia dikontrak Arsenal). Satu setengah tahun kemudian, dengan enggannya Raul terpaksa menerima kalau Emery mesti didepak dan Arteta dilobi untuk mengisi posisi head coach. Yang menarik adalah utusan Arsenal untuk lobi Arteta di tengah malam tersebut tidak lain adalah Vinai Venkatesham, sang Managing Director yang berbagi tugas dengan Raul di tingkat eksekutif.

Arteta berhasil menstabilkan kapal yang sedang karam, dan membawa Arsenal ke pantai seberang terbaik yang bisa dicapai saat itu. Juara FA Cup berarti Arsenal bisa berkompetisi di Europa League dan mendapatkan suntikan dana 25-40 juta euro dari broadcast televisi, prize money dan ticket (tergantung Covid) yang amat penting untuk pembangunan skuad musim ini, terutama di tengah keterbatasan mendatangkan fans ke stadion akibat COVID-19. Di luar sisi finansial, prestasi Arteta ini membangkitkan suasana positif yang luar biasa di semua staff Arsenal dan pemain. Memberikan kepercayaan diri bahwa tim ini punya masa depan, terlebih dengan mengalahkan tim-tim besar di akhir musim (City, Chelsea, Liverpool). Ia pun diberikan pengakuan dan promosi menjadi Manager Arsenal, bukan lagi head coach. Arteta menjadi pewaris sejati manager Arsenal yang sebelumnya, Arsene Wenger.

Dengan peran sebagai manager, Arteta akan memiliki suara dalam hal perekrutan pemain, perpanjangan kontrak dan penjualan pemain. Ia akan bekerja sama dengan Edu yang secara teknis akan lebih sibuk dengan detail kontrak dan transfer dan pencarian bakat. Arteta bisa membangun tim yang diinginkannya, tentunya tergantung dengan kemampuan finansial Arsenal. Pendek kata, pengangkatan dirinya menjadi Manager Arsenal ini sebagai bukti dukungan penuh CEO dan board Arsenal, terutama keluarga Kroenke.

Transfer Pemain

Arsenal bergerak cukup cepat di jendela transfer ini. Tentunya tidak ada yang bisa mengimbangi Chelsea. Willian direkrut dengan free transfer, Gabriel bergabung tepat waktu sehingga sempat berlatih 2 minggu, dan Ceballos juga didatangkan kembali dengan status pinjam, juga tepat waktu. Di sisi penjualan pemain, Arsenal sedikit terseret, karena lesunya peminat dan bedanya nilai valuasi antara pembeli dan penjual. Hanya Mkhitaryan yang sudah dilepas secara free sampai sejauh ini. Daftar pemain yang digosipkan akan dilepas sebelum jendela transfer berakhir:

  1. Torreira (£20-25 juta)
  2. Sokratis (£5 juta / free)
  3. Kolasinac (£10 juta / loan)
  4. Elneny (£5 juta / loan)
  5. Chambers (£10 juta / loan)
  6. Holding (£10 juta / loan) atau Mustafi
  7. Emi Martinez (£20 juta)
  8. Bellerin (£30 juta)
  9. Maitland-Niles (£20 juta) bila Bellerin tak jadi dijual
  10. Guendouzi (ga ada peminatnya)

Menjual pemain dengan baik sangat penting untuk bisa membiayai pembelian baru. Di luar uang yang didapatkan dari hasil penjualan, penghematan gaji juga akan signifikan. Dari daftar penjualan di atas saja, Arsenal bisa menghemat gaji pemain sekitar £25-30 juta per tahun. Angka ini setara dengan budget pembelian seorang Aouar / Partey beserta gajinya (pembelian pemain biayanya masuk dalam amortisation yang dibebankan per tahun sampai kontraknya selesai). Ini belum menghitung nilai hasil penjualan pemain itu sendiri. Singkat kata bila Arsenal bisa meraup £60 juta nett saja (+penghematan gajinya) dari penjualan 7-8 pemain di atas, maka budget untuk pembelian Gabriel, Aouar dan Partey telah terpenuhi dengan sendirinya.

Mengingat Saliba dan Gabriel masih perlu adaptasi dengan Premier League dan kemampuan bahasa Inggris mereka yang masih terbatas, saya memprediksi Holding akan dipertahankan oleh Arteta. Bila Arsenal bisa menjual 6 pemain sebelum Bellerin dan Maitlan-Niles dengan total nilai £60-70 juta (best scenario) maka Bellerin ataupun Maitland-Niles tak perlu dijual. Sekarang kita mengerti mengapa Emi Martinez walaupun sangat bagus, perlu dijual untuk membiayai pembelian Aouar / Partey. Ia saat ini menjadi pemain Arsenal yang paling mudah dijual, gajinya pun tidak tinggi sehingga tidak memberatkan klub pembelinya.

Dari daftar di atas, saya pribadi tidak ingin melihat Bellerin dan Maitland-Niles pergi. Bellerin adalah role model yang sangat baik untuk klub ini dan ia mulai kembali ke penampilan terbaiknya setelah cedera. Maitland-Niles sendiri adalah atlet super yang menurut saya bisa menjadi the next Vieira bila Arteta bisa mengasah kemampuan passing dan visinya. Ia memiliki fisik dan kecepatan yang mumpuni untuk posisi tersebut.

Untuk pemain baru incaran, saya memilih Aouar daripada Partey. Ulasannya ada dalam taktik berikut ini.

Perkembangan Taktik Arteta

Arsenalnya Arteta masih mengandalkan serangan balik untuk memenangkan pertandingan. Tidak salah mengingat kelemahan dan kekuatan tim ini (lemah di lini tengah dan kuat di lini depan yang juga cepat). Namun variasi menuju serangan balik ini yang berbeda dengan Arsenal di bawah Emery. Arteta melatih tim ini sehingga mereka memiliki build-up play dari belakang yang percaya diri dan cukup efisien untuk mengundang high-pressing tim lawan dan kemudian menggunakan sektor sayap untuk melancarkan serangan balik cepat. Manchester City, Chelsea dan Liverpool menjadi makanan empuk taktik Arteta ini. Namun berhadapan dengan Aston Villa yang enggan melakukan pressing dan memilih bertahan dengan low block, Arsenal kehilangan cara. Untuk itu, datanglah peran Willian.

Dalam beberapa musim terakhir, Arsenal kehilangan pemain yang mampu dribble bola dan ball retention tinggi. Pemain seperti Hleb, Rosicky, Wilshere, Nasri, dan Cazorla menjadi kunci sepakbola menyerang Wenger yang sangat nyaman melakukan operan-operan dan take-on di depan kotak penalti lawan, karena kemampuan ball retention dan dribble-nya yang tinggi. Tanpa pemain seperti ini, Arteta terpaksa memilih jalur sayap untuk menyerang, yang tidak efektif bila kita tidak memiliki penyerang di kotak penalti yang jago menyambut bola atas. Willian akan memainkan peran ini. Bak Point Guard NBA, ia akan membawa bola dengan trick-nya, melewati satu dua pemain dan mengoper ke kotak penalti lawan dengan akurat. Dan kita tahu, kita memiliki tiga striker yang sangat tajam dalam soal finishing.

Willian juga bisa menjadi mentor yang baik untuk Saka dan Emile Smith Rowe. Namun kedua pemain ini masih sangat muda sehingga performanya akan naik turun sepanjang musim. Oleh karena itu, membeli Aouar menurut saya menjadi lebih penting daripada Partey musim ini. Terlebih dengan kesulitan tim ini meraih poin melawan tim-tim papan tengah dan bawah, daya kreativitas serangan Arsenal sangat perlu ditingkatkan musim ini. Kita tidak memiliki kesulitan untuk meraih poin melawan tim papan atas, sehingga jelas penampilan melawan tim yang memilih bertahanlah yang harus kita tingkatkan musim ini. Aouar bisa menjadi jawaban tambahan selain Willian.

Soal pertahanan, bila Gabriel dan Saliba beradaptasi dengan baik, mereka bisa menjadi bek yang agresif melakukan pressing dan marking terhadap penyerang lawan yang lolos dari lini tengah. Di luar itu, untuk duet pivot, Xhaka dan Ceballos sudah melakukannya dengan sangat baik di akhir musim lalu. Pelapis mereka adalah Willock dan sayangnya Guendouzi yang menurut saya belum ada peminatnya untuk musim ini. Bila Thomas Partey bisa direkrut musim ini, tentunya transfer window Arsenal menjadi sempurna. Semuanya tergantung suksesnya penjualan Arsenal dalam 3 minggu mendatang.

Prediksi Final Skuad:

Depan (7): Aubameyang, Lacazette, Pepe, Nketiah, Nelson, Saka, Martinelli

Tengah (9): Willian, Ozil (mudah-mudahan bisa integrasi musim ini), Xhaka, Ceballos, Willock, Guendouzi, Emile-Smith Rowe, Aouar, Partey.

Belakang (10): Luiz, Saliba, Gabriel, Mustafi, Holding, Mari; Bellerin, Tierney, Maitland-Niles, Soares

Kiper (2): Leno, Raya

Total 28 pemain dengan komposisi 17 non-HG, sisanya HG dan U-21. Pas ya?

Next Rising Stars

Musim ini, pemain yang akan menjadi rising stars menurut saya adalah Saka dan Nketiah. Kedua pemain ini sangat dekat menjadi nomor satu di posisinya musim lalu. Keduanya punya karakteristik yang berbeda dan akan menjadi aset termahal Arsenal dalam beberapa musim ke depan. Kesamaan keduanya adalah ketenangannya dalam mengeksekusi operan ataupun tembakan ke gawang di final third lapangan. Saka dalam hal ini mungkin lebih baik daripada Nketiah dari segi jumlah assist dan gol-nya. Namun Eddie berkali-kali mendapatkan kepercayaan Arteta untuk memimpin lini depan daripada Lacazette dan saya yakin dengan perkembangan usianya yang makin matang, ia akan menjadi striker utama Arsenal di 2 musim ke depan, bila ia bisa mengembangkan dirinya dengan baik di musim ini.

Musim ini juga menjadi penentu untuk Reiss Nelson dan Emile Smith Rowe yang berusia 20 tahun. Di usia yang sama Jadon Sancho sudah demikian sukses di Bundesliga dan berpotensi menjadi pemain termahal PL musim ini. Kedua pemain ini tentunya ingin membuktikan dirinya di liga musim ini. Kesempatan terbuka lebar untuk mereka mengingat padatnya kompetisi musim ini, yang lebih ringkas sebulan. Arteta akan merotasi pemain lebih sering dan keduanya harus membuktikan diri setiap diberikan kesempatan.

Di lini belakang, potensi Gabriel dan Saliba tidak diragukan lagi. Pertanyaan yang tersisa hanyalah seberapa cepat mereka bisa beradaptasi dengan PL, tanpa mengalami cedera berat.

Target Akhir Musim

Kebanyakan pundit masih tidak menganggap Arsenal sebagai tim top four musim ini. Tentunya mereka tidak mengikuti Arsenal secara dekat dan hanya melihat dari fakta bahwa kita duduk di peringkat kedelapan musim lalu. Namun kita yang mengikuti Arsenal dengan giat tahu persis kalau tim ini sedang terbang tinggi, satu-satunya jalan ke depan hanyalah naik dan mereka belum merealisasikan potensinya secara penuh.

Bila kita berhasil mendatangkan Aouar dan Partey, saya merasa peringkat ketiga dan bahkan kedua musim ini bukanlah impian. Arteta adalah manajer yang luar biasa dan saat ini ia mendapatkan kepercayaan penuh semua pemainnya. Bila mereka bisa memberikan 100% dalam setiap pertandingan, musim ini Arsenal bisa menjadi luar biasa. Semi-final dan Final FA Cup adalah teaser atas apa yang bisa dilakukan Arsenal musim ini. Ditambah dengan pemain baru yang direkrut musim ini yang jelas adalah perbaikan dari pemain yang sudah ada, Arteta memiliki semua bahan yang dibutuhkannya untuk mengangkat tim ini lebih tinggi lagi. Dan ia memiliki kepercayaan diri yang luar biasa tinggi (tanpa menjadi arogan). Saat meyakinkan Willian, ia berujar: “Saya butuh kamu untuk menempatkan kami di Champions League, dan mengakhiri karirmu dengan menjadi juara Champions League.” Dalam hanya 3 tahun dari sekarang, Arteta berambisi untuk membawa klub ini menjadi juara Champions League. Wow. Tidak ada satupun fans Arsenal saat ini yang berani berandai-andai seperti ini.

Untuk menjadi juara liga musim ini, mungkin masih terlalu dini. Namun peringkat dua (diiringi dengan kejatuhan Manchester City) atau tiga jelas bukan hal yang mustahil. Sebagai pembanding, di musim pertama Wenger (1996-97) yang tidak penuh, Arsenal finish di peringkat ketiga (dengan nilai yang sama dengan peringkat kedua, kalah selisih gol). Di musim keduanya yang juga menjadi musim penuh pertamanya, Wenger membawa Arsenal menjuarai Premier League dan FA Cup. Saat itu liga didominasi oleh Manchester United, Newcastle United dan Liverpool. Akan menjadi skrip yang sempurna bila Arteta bisa mengulangi prestasi mentornya ini di musim penuh pertamanya. Semoga.

Untuk sementara ini, mari kita jangan bermimpi dahulu dan kembali kita ikuti perjalanan Arsenal musim ini. Setiap pertandingan pasti akan menjadi sangat menarik karena sentuhan Arteta dan optimisme timnya. Mari kita memulai musim dengan kemenangan pertama melawan Fulham malam ini.

Come On You Gunners. Up The Arsenal!