You Can’t Undo The Past

“You can’t undo the past but you can certainly not repeat it.”

– Bruce Willis

Terkadang, apa yang terjadi di masa lalu tak dapat dihapus begitu saja. Arsenal memang menciptakan “new beginning” dengan kemenangan 2-0 atas Monaco di kandang mereka semalam tapi hasil agregat 3-3 tidak dapat meloloskan Arsenal ke babak berikutnya karena aturan away goals UEFA. Lagi-lagi Arsenal gagal lolos walaupun menang di leg kedua dan seri dalam agregat. Ini kedua kalinya kita mendapatkan hasil yang persis sama, seakan mengulang hasil di babak 16 besar UCL melawan Bayern Muenchen 2 tahun lalu.

Kita tidak dapat menghapus masa lalu begitu saja. Sebagian dari masa lalu akan selalu menghantui kita, membayangi kita, dan mempengaruhi kehidupan kita di masa kini. Tapi kita tentu bisa untuk tidak mengulanginya. Pelajaran dari masa lampau digunakan untuk tidak mengulangi lagi kesalahan di masa kini dan masa depan. Mereka yang belajar dari pengalaman sendiri mestinya akan lebih berhasil daripada mereka yang belajar dari pengalaman orang lain, apalagi dari mereka yang menolak untuk belajar. Arsenal mengulang kembali kesalahan dua tahun lalu dengan tidak menutup pertandingan saat skor 1-2. Satu gol lawan di menit-menit terakhir pertandingan terbukti demikian mahal harganya. Semestinya tahun depan kesalahan yang sama tidak akan terulang lagi, kalau para pemain dan Wenger mau belajar dari dua pertandingan UCL ini.

Hal positifnya adalah Arsenal kembali menang dan menjaga momentum bagus untuk kembali bertarung di liga dan FA Cup. Semenjak tahun 2015 dimulai, Arsenal memiliki hasil yang sangat bagus. Dari 16 pertandingan, 13 kali menang dan 3 kali kalah (lawan Southampton, Sp*rs dan Monaco). Untuk pertandingan EPL saja, Arsenal mencetak 8 kemenangan dari 10 pertandingan, 24 poin dari 30 poin maksimal. Hanya Liverpool yang tampil lebih baik di tahun 2015 ini dengan 8 kemenangan dan 2 seri, 26 poin dari 30 poin maksimal. Tabel di bawah ini menunjukkan hasil pertandingan Arsenal di tahun 2015.

Hasil Pertandingan Arsenal di Tahun 2015

                                            Hasil Pertandingan Arsenal di Tahun 2015

Yang menarik adalah tidak adanya hasil seri sepanjang 2015. Sepuluh pertandingan (sebelas bila menang di semifinal FA Cup) menunggu Arsenal untuk sisa musim ini. Bila kita bisa memenangkan semua 11 pertandingan tersebut maka gelar juara FA Cup dan peringkat kedua sudah pasti di tangan. Peringkat satu bisa saja diraih jika Chelsea melakukan bunuh diri di 10 pertandingan terakhir mereka. Selisih 7 poin cukup jauh, namun bila kita mengalahkan mereka 26 April nanti, selisih tinggal 4 poin. Satu kali draw dan dua kali kekalahan akan membawa mereka sama poinnya dengan Arsenal yang menang beruntun. Kemungkinannya kecil namun selama kita terus meraih kemenangan, Chelsea jelas akan tertekan sebagaimana apa yang sekarang sedang terjadi pada Manchester City.

Dari 9 pertandingan liga yang tersisa, 5 adalah pertandingan kandang dan 4 pertandingan tandang. Penghambat terbesar adalah Chelsea dan Liverpool di kandang serta Manchester United di tandang. Bila Arsenal bisa mengulangi performa mereka saat dua pertandingan tandang di Manchester, sangat mungkin nilai sempurna bisa diraih dari ketiga pertandingan tersebut. Kekecewaan di Liga Champions ini mestinya bisa diarahkan ke Premier League dan FA Cup. Fokus para pemain mesti diarahkan oleh Wenger ke 11 pertandingan tersisa. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, namun kita bisa tidak mengulanginya. Kesalahan elementer saat melawan Monaco di leg pertama bisa kita hindari. Kesombongan, menganggap remeh lawan, gung-ho dalam menyerang, lupa bertahan, lengah semenit dalam 90 menit, tak boleh dilakukan lagi. Penampilan profesional dalam 5 pertandingan semenjak kekalahan atas Monaco tersebut mesti diduplikasi untuk 11 pertandingan berikutnya. Musim ini belum selesai. Kita masih bisa menciptakan happy ending.

Olivier Giroud dan Aaron Ramsey

Bila awal musim adalah kisah soal Alexis, maka akhir musim tampaknya yang menjadi pemeran utama adalah duo Giroud dan Ramsey. Lagi-lagi mereka mencetak gol dan mencatatkan penampilan tim yang cemerlang. Keduanya mengulang kisah sukses musim lalu sebelum dilanda cedera. Alexis terlihat lelah belakangan ini dan perlu diistirahatkan. Walcott perlu mendapatkan kesempatan lebih untuk mengasah ketajamannya di depan gawang. Ramsey perlu diberikan tempat, walaupun mesti menggeser Cazorla. Mungkin Cazorla bisa bergantian dengan Ozil dalam memerankan playmaker.

Pilihan cukup banyak di lini depan dan tengah. Wenger harus pintar memainkan rotasi untuk menjaga kesegaran pemainnya. Welbeck, Walcott dan Ramsey sangat segar karena baru pulih dari cedera dan perlu mendapatkan kepercayaan pelatih. Mengistirahatkan pemain bintang seperti Alexis dan Ozil mestinya tidak menjadi hal tabu daripada memforsir mereka dan hasilnya tidak optimal. Dengan istirahat yang cukup, Alexis mestinya punya sedikit waktu untuk merenung dan berpikir bahwa sepakbola bukanlah beban individual semata. Kerjasama apik yang diperlihatkan Giroud dan Ramsey mestinya bisa mengingatkannya bahwa kemenangan itu hasil kerjasama tim yang baik. Ia terkadang terlihat begitu ngotot untuk memasukkan gol sendiri tanpa melihat posisi temannya.

Alexis mungkin masih berjuang dengan pelajaran bahasa Inggrisnya namun ia perlu mempelajari kalimat ini: “Victoria Concordia Crescit”. Bukan kalimat dalam bahasa Inggris, tetapi Alexis mungkin perlu memahami dan meresapinya.

Advertisements

An Everlasting New Beginning

“Football, if I can say, is an everlasting new beginning.”

– Oliver Giroud

Ungkapan di atas sering terbaca di berbagai artikel media Inggris pasca kemenangan 3-0 Arsenal atas West Ham. Penampilan sempurna Giroud yang menyumbangkan 1 gol, 1 assist dan 1 pre-assist, semacam menjadi aksi “redemption”-nya setelah kegagalan mencetak gol saat melawan Monaco di Champions League. Namun, sebenarnya kalimat di atas sudah pernah diucapkan Giroud di bulan Januari 2015 saat ia diwawancarai oleh Sports Illustrated.

Mungkin Giroud menjadi sedikit filosofis karena punya waktu lama untuk merenung selama proses rehabilitasi dari cederanya yang cukup panjang. Pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir dalam kariernya ia mengalami cedera serius. Ia harus mengulang segalanya dari nol kembali setelah pulih dari cedera panjang. Ia mesti bersaing dengan Welbeck dan Sanchez untuk posisi striker utama Arsenal. Filosofinya bahwa sepakbola selamanya adalah permulaan yang baru itu ada benarnya. Dalam kompetisi liga, pertandingan selalu di-reset setelah 90 menit. Walaupun hasil kumulatif dari poin setiap pertandingan dijumlahkan untuk menentukan juara kompetisi, hasil pertandingan yang satu tidaklah secara langsung mempengaruhi hasil pertandingan berikutnya. Sepakbola selalu memberikan peluang untuk lahir baru, untuk memperbaiki yang salah, untuk bertobat. Ungkapan “everlasting new beginning” juga bisa ditemukan dalam kitab suci, tentang kesempatan yang diberikan untuk memulai hidup baru, terlepas dari apa yang telah dilakukan di masa lampau.

Blog ini juga semacam mengalami sebuah “new beginning” dengan tulisan ini. Saya terakhir menulis tentang Arsenal di blog ini kurang lebih enam bulan lalu, September 2014, ketika musim kompetisi baru bergulir. Sekarang kita memasuki 9 pertandingan terakhir Premier League, babak semifinal FA Cup, dan bila mukjizat terjadi, babak perdelapan final Champions League (untuk Arsenal). Saya bukannya sengaja menghilang karena hasil-hasil buruk Arsenal di periode tersebut (walaupun malas juga kalau mesti menulis tentang kekalahan demi kekalahan, hehe), namun kesibukan di pekerjaan demi sesuap nasi dan seonggok berlian akhirnya menghambat isi otak tentang Arsenal untuk disebarkan lewat blog ini. Saya tetap mengikuti berita tentang Arsenal dan menonton pertandingannya (di layar kaca tentunya). Saya tetap mengumpat-umpat ke TV ketika Arsenal kalah dan tersenyum sendiri setiap pagi setelah Arsenal menang. Hanya saja untuk menulisnya, butuh waktu luang selama 1-2 jam tidak terganggu, hal yang sulit terjadi di tengah kesibukan saya tahun lalu dan awal tahun ini. Saya berharap tulisan ini bisa menjadi awal baru dari konsistensi saya dalam menulis tentang Arsenal. Tidak janji, namun akan diupayakan.

A New Beginning

Beberapa pemain Arsenal mengalami a new beginning seperti Giroud. Francis Coquelin adalah pemain yang paling menonjol. Ia hampir hilang dari radar fans pemain Arsenal kalau saja Wenger tidak memanggilnya kembali di paruh musim karena cedera panjang Arteta. Coquelin seakan lahir baru, memainkan peran sempurna di posisi DM, melengkapi puzzle Arsenal yang selama ini tidak pernah komplet. Ia menjadi tak tergantikan di posisi tersebut, bahkan tidak oleh Arteta yang fit sekalipun. Penampilannya sejak melawan Manchester City dan kemudian diulang di setiap pertandingan baik melawan tim kecil maupun besar, membuka mata fans Arsenal tentang pentingnya DM yang intelijen secara taktik, mampu membaca pertandingan dengan baik, dan mampu merebut bola dengan tackle ataupun interception. Coquelin tidak bertubuh tinggi besar, namun ia memiliki otak yang cepat berpikir dan tubuh yang cepat bereaksi, memotong bola lawan dan melakukan tackle dengan timing yang sempurna. Ia bahkan masih dapat berkontribusi dalam penyerangan bila melihat beberapa umpan panjangnya yang akurat. Saya tidak ragu lagi kalau Coquelin akan menjadi DM utama Arsenal hingga awal musim depan.

Hector Bellerin adalah pemain lainnya. Diberkati dengan timing yang pas dengan cedera Debuchy dan Koscielny sehingga Chambers beberapa kali harus bermain sebagai CB, Bellerin memulai karirnya sebagai pemain starter. Ia mampu bertahan dengan baik dan sangat cepat dalam counter attacking. Ia juga bagus dalam interception. Chambers tergeser posisinya sebagai back up CB. Musim depan akan menarik untuk melihat kompetisi antara Bellerin dengan Debuchy di RB namun musim ini Wenger tampaknya akan percaya pada Bellerin untuk menghantarkan Arsenal ke garis finish.

Santi Cazorla, Aaron Ramsey, Theo Walcott bisa juga masuk dalam kategori pemain lama namun memulai awal baru di musim ini. Pemain yang benar-benar baru seperti Alexis, Chambers, Gabriel, Ospina, Debuchy dan Welbeck sudah pasti sedang memulai babak baru dalam karir sepakbola mereka. Namun dalam durasi yang lebih pendek, setiap pemain berkesempatan untuk memperbarui penampilan mereka dalam setiap pertandingan. Dalam sepakbola setiap kali peluit berbunyi, semua pemain selalu memulai dari nol. Berapapun gol yang ia cetak di pertandingan sebelumnya, tidak menjadi jaminan ia akan mencetak gol lagi di pertandingan ini. Sebaliknya, berapapun kesempatan yang gagal berbuah menjadi gol di pertandingan sebelumnya, tidak menjadi jaminan kegagalan mencetak gol di pertandingan ini. Football indeed is an everlasting new beginning.

The Chance to Put It Right

“We got it wrong in the first game. What you want in life is the chance to put it right. We have the opportunity to put it right and after, no matter what, we will be ready to give everything to do it.

We are in a position where today Monaco is favourite. We can go there and create something special. I believe that we will have the desire to do it and give absolutely everything to do it.

I’d prefer to be 3-0 up but we have no choice. We have to put it right. Sometimes in life, you make a big mistake, and there’s no comeback, no way you get the chance to put it right again. In football, you can do it, so let’s just give everything to do it.”

– Wenger on the 2nd leg vs Monaco

Dalam kehidupan ada kalanya kita diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, namun tidak akan sering. Entah oleh guru, oleh keluarga, oleh pasangan, oleh komunitas di sekeliling kita, kesempatan untuk memperbaiki kesalahan akan diberikan, namun tidak akan berulang-ulang. Dalam sistem hukum kita dikenal adanya hukuman percobaan. Dalam agama, ada yang dinamakan kesempatan untuk bertobat. Dalam sepakbola, kesempatan untuk memperbaiki kesalahan lebih sering diberikan. Setiap pertandingan adalah kesempatan baru untuk memperbaiki apa yang salah, meluruskan apa yang tidak benar. The chance to put it right. Dengan catatan, selama pemain itu masih dipercaya sang pelatih.

Giroud masih dipercaya Wenger pasca horror melawan Monaco di Emirates Stadium, maka ia diberi kesempatan. Ia lalu mencetak gol di setiap pertandingan liga setelahnya (lawan Everton, QPR dan West Ham). Mertesacker adalah pemain lain yang tampil buruk di pertandingan itu, ia kembali masuk starting line up saat melawan QPR dan kembali ke performa biasanya. Giroud dan Mertesacker akan menjadi pemain yang paling berambisi mengubur kesalahan di leg pertama dengan penampilan gemilang di leg kedua ini. Tidak heran mereka berdualah yang paling banyak berkomentar sebelum pertandingan malam ini. Mudah-mudahan keduanya bisa membuktikannya di lapangan hijau.

Mencetak tiga gol tanpa kebobolan melawan Monaco bukan hal mudah. Namun Arsenal juga telah beberapa kali hampir membalikkan keadaan di leg kedua UCL. Hasil 2-0 lawan Bayern Muenchen di kandang mereka dan 3-0 lawan AC Milan di kandang sendiri adalah hasil spektakuler tapi masih dikategorikan sebagai kegagalan. Arsenal mungkin bisa menang malam ini, tapi apakah mereka mampu menang 3-0? Sebagai fans, kita pasti akan memberikan kesempatan, the chance to put it right. Inilah indahnya sepakbola. Fans akan cepat melupakan kekalahan ketika kemenangan hadir. Kesedihan bisa dengan cepat berganti menjadi kegembiraan.

Apapun hasil malam ini, tersingkir atau lolos, musim Arsenal belum berakhir. Semifinal FA Cup sudah menanti. Selisih 1 poin dengan City di liga menghadirkan kesempatan untuk merebut posisi kedua. Musim ini bagaikan roller coaster yang bertolak belakang dengan musim lalu. Setelah tampil buruk di paruh musim pertama, saat ini terlihat cikal bakal Arsenal baru yang kuat. Arsenal yang bisa menang tandang melawan klub besar lainnya. Dua klub Manchester sudah ditaklukkan di kandang mereka. Delapan kemenangan dari sepuluh pertandingan liga sejak awal tahun 2015 melejitkan Arsenal ke posisi ketiga setelah berbulan-bulan jauh dari posisi empat besar. Arsenal bisa finish lebih baik dengan poin yang lebih banyak daripada musim lalu. Menjadi juara mungkin masih agak jauh, tergantung bunuh dirinya Chelsea. Namun peringkat kedua di Premier League dan trofi FA Cup menjadi target yang sangat realistis saat ini.

Dalam hidup, ketika kita melakukan kesalahan, kita tentunya berharap diberikan kesempatan untuk memperbaikinya. Demikian juga pemain-pemain Arsenal. Sebagai fans, hal terbaik yang kita bisa lakukan adalah mendukung mereka hingga 90 menit berakhir. Percayalah pada mereka. Berikan mereka kesempatan. Sudah pasti mereka akan berjuang habis-habisan untuk membalikkan keadaan. Soal berhasil atau tidak adalah hal kedua, yang pertama akan kita akan nilai adalah perjuangan di lapangan hijau.

Pertandingan malam ini mungkin juga membawa sedikit nostalgia untuk Monsieur Wenger. Monaco adalah klub besar pertama yang dilatihnya. Di sini ia mengalami masa-masa indah dengan gelar liga pertamanya dan juga masa-masa pahit ketika dipecat dan juga harus kalah bersaing dari Marseille yang akhirnya terbukti menyuap pemain-pemain di Ligue 1. Kekecewaannya bersama Monaco bahkan harus membuatnya “bertapa” dahulu, jauh dari sepakbola Eropa di negeri Jepang. Dan kembali ke filosofi Giroud, selalu ada kesempatan baru, permulaan baru dalam sepakbola. Dari Jepang, Wenger malah menemukan tempatnya di Arsenal. Ia mungkin malah menjadi figur sepakbola dunia yang lebih berpengaruh saat ini daripada bila ia tetap di Perancis saat itu. Namun Monaco tidak melupakan Wenger. Presentasi spesial dengan plague dan foto Wenger menyambutnya di Stade Louis II.

Sejarah dan nostalgia masa lalu, statistik dan rekor Champions League (yang sangat mengunggulkan Monaco) bertemu malam ini dengan prospek new beginning-nya Arsenal. Dengan perjuangan keras dan sedikit dibantu oleh dewi fortuna, Arsenal sangat mungkin dapat mengukir sejarah baru malam ini. Victoria Concordia Crescit.

Resolusi 2014 Arsenal: Lebih Baik daripada 2013

Sebelumnya mohon maaf tidak sempat blogging di akhir Desember dan awal Januari tentang Arsenal karena berbagai hal yang sifatnya pribadi. Ayah yang sakit, sidang pribadi saya (silakan googling kasus hukum @benhan) dan project baru di kantor tidak meluangkan sejam-dua jam bagi saya untuk menulis sebuah artikel review maupun preview. Nonton Arsenal tentunya tidak boleh dilewatkan namun menulis artikel yang perlu sedikit memutar otak terpaksa saya lewatkan. Sekali lagi maaf bagi yang sudah menunggu-nunggu… 🙂 Sungguh senang ada yang mengapresiasi blog ini.

Back to business, Arsenal tercatat sebagai tim terbaik di tahun 2013 di Inggris. Baik dari posisi puncak sementara di kompetisi 2013/2014 ataupun dari prestasi sepanjang tahun kalender 2013, Arsenal tak dapat dibantah lagi memperoleh poin terbanyak. Hanya satu kata yang dapat melukiskan prestasi tanpa trofi ini: “Konsistensi”. Tim Wenger yang satu ini berhasil mematahkan kutukan inkonsistensi tim Arsenal lainnya sejak era Invincibles, hanya sayangnya belum dilakukan pada durasi waktu yang tepat. Dari Januari ke Desember daripada dari Agustus ke Mei tahun berikutnya. Tantangan untuk membuktikan konsistensi tim ini ada pada paruh musim kompetisi ini: bagaimana dalam waktu 5 bulan tim ini bisa menjaga konsistensinya. Sejauh ini, lumayan.

Hanya satu kata yang dapat melukiskan prestasi tanpa trofi ini: KONSISTENSI

Arsenal memulai tahun baru 2014 dengan memberikan fansnya kemenangan demi kemenangan. Tanpa Ozil, Ramsey dan Giroud yang menjadi tiga pemain paling berpengaruh di paruh musim pertama, Arsenal tetap menang di dua kompetisi. Bahkan Tottenham yang baru saja memecat pelatih yang membelanjakan (walaupun yang belanja sebenarnya duet Baldini dan Levy) 100 juta pounds dana hasil penjualan Bale (You Sold Bale, We Signed Mesut Ozil, Mesut Ozil, Mesut Ozil – chant) dikalahkan dengan meyakinkan. Tiba-tiba model tim dengan manajemen Director of Football dan Head Coach dicela oleh para pundit yang sebelum musim ini dimulai memuji-muji model tersebut (dan mencela era tradisional ala Arsenal-Wenger). Para pundit itu memang tidak konsisten, maka abaikanlah prediksi mereka akan inkonsistensi Arsenal. Tidak mungkin kita percaya pada “maling yang teriak maling” bukan?

You Sold Bale,

We Signed Mesut Ozil, Mesut Ozil, Mesut Ozil.

Analisa taktik menjadi insignifikan ketika sebuah tim bermain konsisten. Tim yang sedang dipenuhi kepercayaan diri akan bermain dengan sepakbola dominan gaya mereka dan menghancurkan lawan yang berimprovisasi seperti apapun. Strategi > Taktik. Tim seperti Barcelona, Muenchen melakukan itu. Arsenal sedang ke arah tersebut. Arsenal yang dulu bisa dikalahkan dengan taktik ala Stoke City misalnya, dan selalu enggan bertandang ke klub-klub di utara sana yang terkenal dengan permainan fisiknya. Arsenal tahun 2013 konsisten mendulang poin justru dari tim-tim yang mengandalkan fisik dan taktik long ball untuk melawan strategi attacking football dengan mengandalkan operan cepat Arsenal. Arsenal hanya kalah dari Villa (kontroversi wasit), United (kelelahan fisik setelah melawan Liverpool dan Dortmund) dan City (lagi-lagi kelelahan fisik setelah dua pertandingan melawan Everton dan Napoli). Dua kekalahan Arsenal tersebut punya kesamaan: sama-sama setelah partai tandang Champions League, dan secara kebetulan sama-sama setelah menjamu klub Merseyside (hehe yang ini bisa diabaikan). Jadi bukan masalah taktik, tapi lebih soal kelelahan satu tim (akibat minim rotasi) yang dieksploitasi oleh tim lain yang memiliki lini depan maut secara penuh.

Secara pribadi saya merasa kekuatan Arsenal terutama di lini tengah dan belakang setara atau sedikit lebih kuat dibanding rival terkuat seperti City dan Chelsea. Di lini depan mungkin Arsenal sedikit lebih lemah daripada City. Faktor yang akan menentukan persaingan tiga klub ini di akhir kompetisi adalah: cedera, penambahan kekuatan ataupun peningkatan penampilan. Dari tiga poin ini Arsenal sudah lemah di poin pertama, cedera. Jawaban dari pertanyaan mampukah Arsenal konsisten dan menjadi juara liga ada pada kemampuan Wenger dan timnya menjawab poin kedua dan ketiga.

Faktor yang akan menentukan persaingan tiga klub ini di akhir kompetisi adalah: cedera, penambahan kekuatan ataupun peningkatan penampilan

Penambahan Kekuatan Skuad

Cedera Walcott terjadi di saat yang salah bagi dirinya. Di saat ia mulai menemukan performa terbaiknya, ia harus cedera dan melupakan mimpi plesiran di Brasil dengan dalih berkompetisi untuk Piala Dunia. Hanya sebagai peserta-penonton di Piala Dunia 2006 di usia ke-17, diabaikan dan tidak dibawa oleh Capello di Piala Dunia 2010, dan sekarang terpaksa tidak tampil di Piala Dunia 2010 di usia yang notabene sedang mencapai puncak (25 tahun). Di Piala Dunia berikutnya Walcott akan telah berusia 29 tahun. Simpati untuknya yang mungkin tidak akan merasakan masa puncak kejayaan di kompetisi dunia tersebut (bukan berarti kehilangan kesempatan untuk jaya bersama Arsenal). Perlu mandi kembang mungkin, Theo.

Satu hal yang mungkin dapat menghibur dirinya adalah Inggris bukan tim terbaik dan tidak dalam kondisi tim yang akan menjuarai kompetisi ini. Jerman, Spanyol, Brasil dan Argentina mungkin. Yang sedkit dapat menghibur fans adalah Gnabry dan Chamberlain akan dapatkan kesempatan langka bersaing untuk mengesankan Wenger di sisa kompetisi ini di posisi yang notabene sudah milik Walcott. Arsenal akan kehilangan kontribusi gol-gol dari Walcott dan harus mencari gantinya. Pertanyaannya dari Podolski, Gnabry, Chamberlain atau pemain baru?

Momen AHA! Podolski

Bila Wenger ingin mendorong Podolski untuk lebih haus gol, maka sisi kanan Arsenal akan mengimbangi dengan pemain yang lebih kreatif daripada “direct”. Gnabry, Rosicky, Cazorla dan mungkin Chamberlain akan digeser ke sisi ini. Bila Wenger tidak yakin dengan Podolski, maka ia akan membeli pemain sayap baru striker-winger ala Suarez. Tidak banyak pemain seperti ini yang terlintas di kepala saya, apalagi yang tersedia di transfer window pertengahan kompetisi. Jadi biarkan itu jadi PR Wenger dan tim daripada cape-cape mikirin dan belum tentu pula sesuai dengan benak mereka.

Wenger tidak akan membeli pemain yang bertipe sama dengan Giroud karena katanya: 

I looked for a striker last summer to play with Giroud and without Giroud,

In my mind, it was absolutely not to replace Giroud, it was to play with or without him.

After, we took [Mesut] Ozil, who is a bit off-the-striker, but we could have taken someone who plays up front and play in a 4-4-2.

Kutipan di atas menarik karena Wenger mengatakan mempertimbangkan memainkan dua striker dengan formasi 4-4-2 (kemungkinan ini yang dipikirkan ketika ia hendak membeli Suarez). Selain bermain di formasi 4-3-3, Podolski dapat bermain dengan formasi 4-4-2 dan mungkin ia akan lebih menikmatinya dengan berada lebih dekat kepada Giroud yang artinya lebih banyak kesempatan untuk mencetak gol dan bebas dari tugas “tracking back” pemain lawan yang tidak disukai striker.

Dengan latar belakang pemikiran tersebut maka beberapa pertandingan di bulan Januari ini akan menjadi audisi bagi Podolski. Villa, Fulham, Southampton, dan Coventry City (FA Cup) akan menjadi ajang uji coba Podolski. Bila ia gagal, Wenger akan membeli (atau meminjam) pemain di akhir Januari ini. Bila ia berhasil dengan posisi sayap kiri-cum-strikernya di formasi 4-3-3 ataupun posisi second striker di 4-4-2, kemungkinan besar Wenger akan menunggu pembelian pemain versi jangka panjang di transfer window awal musim depan. Ini prediksi saya.

Selain itu Arsenal mungkin akan mencari right back untuk cover kepergian Sagna (please don’t) dan mungkin beberapa pemain muda untuk persiapan regenerasi Rosicky, Arteta yang sudah tidak muda lagi. Mimpi transfer besar bisa kita simpan setelah Piala Dunia 2014 saja, lebih realistis dan pasti lebih seru.

Peningkatan Penampilan

Pembelian striker baru di tengah musim tidak selalu akan langsung memberikan kontribusi. Lebih penting adalah pemain-pemain sekarang dapat mempertahankan performanya atau malah meningkatkannya. Karena itu performa Giroud dan Podolski (dan juga Bendtner jika ia fokus) lebih penting daripada potensial performa calon pemain baru Arsenal. Giroud terutama karena sudah nyetel dengan pemain lainnya, dan sangat vital dalam permainan Arsenal sekarang. Wenger sendiri mengatakan, Giroud memberikan keseimbangan pada tim:

We have small players who combine quickly, so to find someone who can hold it, keep the ball, make some room for other players. well he does that very well. He gives us a very good balance.

Saat ini Giroud sudah mencetak 11 gol secara total, hanya selisih 6 gol dari total gol (17) yang ia cetak musim lalu. Bila ia bisa mengulang mencetak 11 gol lagi di paruh musim kedua ini, maka ia akan punya lebih dari 20 gol dan itu angka yang cukup bagus.

Podolski mencetak 16 gol musim lalu, dan musim ini baru 3 gol karena cedera panjang. Tiga gol itu hasil dari 3 start dan 3 subs. Bayangkan bila ia bisa start terus di 18 pertandingan liga sisa, mungkin ia bisa mencetak 20 gol liga musim ini? 🙂

Peluru Podolski dan Giroud, ditambah amunisi dari Ozil, Cazorla dan Rosicky yang belakangan makin fenomenal, serta suntikan darah segar dari Gnabry dan Chamberlain akan menentukan hasil akhir Arsenal musim ini. Semoga daftar cedera Arsenal musim ini cukup berhenti di Walcott saja.

Lini tengah dan belakang, no comment. Mereka fenomenal dan sudah menjelma menjadi pertahanan yang dapat memberikan gelar juara liga.

Lawan Villa

Saatnya membuktikan kekalahan perdana Arsenal musim ini adalah fluke, sesuatu anomali, kejadian luar biasa yang kontroversial. Saatnya restore order, mengembalikan tatanan yang seharusnya: kemenangan bagi Arsenal dan kembali ke puncak klasemen. Tidak ada pertandingan mudah di Premier League, seperti kata Ozil tapi tim yang sekarang pasti sangat paham tidak ada pertandingan yang tidak penting di Premier League apalagi dengan kondisi rival-rival terkuat menguntit dekat di belakang, siap menyalip kapan saja.

Giroud akan kembali tampil malam ini. Dan juga Ozil. Yang absen adalah Ramsey, Gibbs dan Vermaelen tapi Arsenal punya pengganti yang cukup mumpuni. Prediksi line up Arsenal:

Szczesny – Sagna, Mertesacker, Koscielny, Monreal – Arteta, Wilshere, Ozil – Cazorla, Giroud, Podolski

Subs: Fabianski, Jenkinson, Flamini, Rosicky, Chamberlain, Gnabry, Ryo

Bendtner masih cedera, dan rasanya Wenger akan memainkan Podolski daripada Gnabry malam ini. Sebagai audisi untuknya.

Duo Senjata Utama Arsenal

West Ham United 1 – 3 Arsenal

Cole (46′) – Walcott (68′, 71′), Podolski (79′)

Apa yang semestinya menjadi kemenangan reguler bagi Arsenal sempat juga membuat fans Arsenal deg-degan. Walaupun tampil dengan kekuatan penuh, berbeda dengan prediksi di tulisan preview saya, Arsenal kesulitan untuk mencetak gol di babak pertama walau mendominasi dan menciptakan beberapa peluang. Tidak heran Giroud dijadikan kambing hitam atas kegagalan mencetak gol tersebut. Beberapa kali ia menempatkan dirinya di posisi yang pas untuk mencetak gol dan sebanyak kali itu pula ia sendiri kecewa dengan hasilnya. Entah kaki yang gagal connect ke bola, atau sundulan dan tembakan yang melebar, atau tembakan yang masih bisa ditahan kiper, semua upayanya gagal. Untungnya fans away Arsenal masih bersabar dengan dirinya dan konsisten menyanyikan lagunya yang merupakan gubahan dari “Hey Jude” (The Beatles) untuknya. “Kesetiaan” tersebut akhirnya berbuah manis walau bukan dalam bentuk gol, tapi dalam bentuk assist kepada Podolski di penghujung babak kedua.

Rotasi Terpaksa

Wenger secara mengejutkan tidak melakukan rotasi signifikan di pertandingan ini. Ia hanya mengganti Rosicky dengan Cazorla. Koscielny kembali ke bangku cadangan setelah melalui masa penyembuhan cederanya saat lawan City dan Giroud serta Ozil tetap dipasang sejak menit pertama. Namun berbeda dengan prediksi kebanyakan orang, non-rotasi ini tidak menganggu penampilan Giroud dan Ozil secara keseluruhan, tetapi Ramsey yang menjadi korban. Ia mengalami cedera di babak kedua dan terpaksa digantikan oleh Podolski. Menariknya, “rotasi terpaksa” ini malah berbuah manis karena sejak itu permainan Arsenal lebih menggigit dan punya tujuan. Tiga gol Arsenal di babak kedua diciptakan setelah Podolski masuk menggantikan Ramsey. Perubahan posisi di mana Cazorla bermain sebagai CM menemani Arteta di tengah dan Podolski di sayap kiri ternyata berdampak besar terhadap efisiensi serangan Arsenal.

Dominasi di babak pertama tanpa gol Arsenal seakan tak berarti saat Carlton Cole mencetak gol di menit-menit awal babak kedua. Gol tersebut terjadi karena 2 hal: 1. Kesalahan Szczesny yang menangkis bola dengan memantulkannya ke depan Cole dan 2. Keterlambatan Ramsey untuk turun ke belakang. Ramsey terlihat lelah sepanjang pertandingan atau kurang jelas konsentrasinya. Beberapa kali ia memberikan through ball ambisius namun gagal menerobos pertahanan West Ham. Beberapa kali pula ia membiarkan Arteta sendirian saat menghadapi serangan balik West Ham. Ramsey yang biasanya melakukan tackle terbanyak di setiap pertandingan Arsenal, di pertandingan ini hanya melakukan 2 tackle sukses dan 0 interception. Sebagai perbandingan, Arteta sukses melakukan 4 tackle, 6 clearances dan 1 interception. Bahkan Cazorla lebih sukses soal bertahan di pertandingan ini dengan 2 tackle, 2 interception dan 1 clearance.

Pengaturan Tempo

Cazorla mendemonstrasikan bagaimana bermain sebagai CM yang mampu mengatur tempo pertandingan. Bola dioper pendek secara lateral dan vertikal sambil menunggu momen untuk mengirimkan umpan yang menusuk pertahanan lawan. Kunci suksesnya penyerangan sebuah tim sering kali tergantung pada tempo permainan yang diatur jenderal lapangan tengah. Di masa lampau kita punya Cesc Fabregas yang bisa melakukan ini dengan sangat baik. Arteta juga bisa walaupun kemampuannya sedikit terbatas soal through ball, dan sekarang kita lihat kemampuan itu di Cazorla. Ramsey dan Wilshere belum sampai ke level tersebut. Sering kali kita melihat mereka terburu-buru untuk menyerang saat menguasai bola dan berakhir pada kegagalan. Entah karena operan yang dipotong lawan, atau dribble yang gagal melewati barisan pertahanan. Saat posisi Ramsey diganti Cazorla, kontras terlihat perbedaan permainan Arsenal. Santi bisa mengatur tempo saat membangun serangan Arsenal. Dan karena ia bermain lebih ke belakang, ia punya ruang yang lebih banyak untuk berkreasi daripada sebagai LW. Sebaliknya, Ramsey yang mungkin masih terobsesi dengan rekor golnya musim ini, posisinya sering terlalu ke depan untuk ukuran seorang CM. Ia seakan lebih tertarik dengan urusan mencetak gol daripada mengendalikan jalannya pertandingan.

Tentunya Cazorla punya kelemahan dibandingkan Ramsey dalam soal bertahan. Dari segi fisik dan kemampuan melakukan tackling, Ramsey lebih unggul. Namun dari segi penguasaan bola, akurasi umpan, dan kematangan dalam pengambilan keputusan, Cazorla masih lebih unggul. Ramsey dan Wilshere bisa belajar banyak dari hal ini. Ozil juga memilikinya dan ia kelihatan sedang berupaya menyamakan frekuensi dengan rekan-rekan setimnya. Gol pertama Walcott tercipta karena umpan Cazorla yang bebas di depan kotak penalti kepadanya. Menarik untuk melihat bagaimana Wenger akan mempertahankan kombinasi Cazorla-Arteta di lini tengah ini di pertandingan-pertandingan berikutnya. Eksperimen yang wajib dicoba terutama dengan kembalinya Podolski di sayap kiri Arsenal.

Podolski dan Walcott

He has been out for four months, he has not played one game. I try to get him slowly back to competitiveness and he has shown he can have a huge impact because he can score and make goals – he can give assists. But on the pitch we had Podolski and Walcott and Giroud and Ozil and Cazorla you know when you lose the ball you can be a bit vulnerable but we had to go for it.

Perkataan Wenger di atas tentang Podolski menarik karena ia mengetahui Podolski dapat mencetak gol dan assist, namun ia juga tahu memainkan Podolski dan Walcott bersamaan berarti Arsenal lebih rentan terhadap serangan balik. Podolski dan Walcott tidak suka melakukan back tracking dan hal itu wajar bagi pemain berjiwa striker. Berbeda dengan pemain tengah, striker umumnya menyimpan energinya untuk kemudian meledak di beberapa periode vital. Pemain tengah umumnya mengeluarkan energi secara konstan, merata di sepanjang pertandingan sementara striker lebih eksplosif. Maka jangan heran striker top bisa terlihat diam dan tidak berkontribusi sepanjang pertandingan untuk kemudian tiba-tiba mencetak gol beruntun. Pengecualian untuk beberapa striker yang mengandalkan kecepatan seperti Suarez dan Henry, mereka akan terus terlibat sepanjang pertandingan karena kegemaran mereka melakukan dribbling bola.

Striker akan menyentuh bola jauh lebih sedikit daripada pemain tengah. Bila seorang pemain tengah dominan akan menyentuh bola sekitar 70-100 kali per pertandingan, seorang striker paling 15-30 kali. Waktu yang diberikan kepada seorang striker saat ia menerima bola juga jauh lebih sedikit. Bek lawan akan segera berusaha merebutnya dan ia praktis berada di area yang lebih ramai daripada seorang midfielder. Dalam kondisi demikian ia mesti menyimpan stamina dan konsentrasinya sepanjang pertandingan sambil menunggu kesempatan yang jarang tersebut untuk muncul, sehingga dalam waktu singkat tersebut ia bisa memberikan hasil maksimal. Oleh karena itu tracking back yang memakan energi banyak tidak disukai striker pada umumnya. Maka jangan kesal saat melihat Podolski dan Walcott berjogging ria saat tracking back mengawal fullback lawan. Itu adalah sifat alami striker murni.

Karena sifat ini pulalah yang disadari Wenger maka ia tahu riskan memainkan dua winger-striker murni di satu pertandingan. Wenger memilih untuk menyeimbangkannya dengan memainkan satu CM di sayap. Namun di saat tertinggal 1-0 di babak kedua dari West Ham, Wenger tak punya pilihan lain. Ia “terpaksa” berspekulasi untuk lebih menyerang dengan memasukkan Podolski. Kali ini spekulasinya berhasil. Walcott yang “hening” di babak pertama mendadak mencetak dua gol setelah Podolski masuk. Ini bukan kebetulan. Lawan terpaksa menyebar perhatian kepada tiga striker Arsenal sehingga Walcott mendapatkan ruang lebih banyak. Bukan kebetulan pula 2 gol terakhir di pertandingan ini melibatkan Walcott, Giroud dan Podolski.

Berbekal dari observasi pertandingan ini, tulisan saya berikutnya direncanakan soal kembalinya Podolski dan bagaimana secara taktik ia mungkin akan mengubah formasi Arsenal, atau mungkin juga tidak. Prospek kembalinya ke formasi 4-4-2 mesti dipertimbangkan Wenger karena tajamnya Podolski dan Walcott dan kurang tajamnya Giroud di depan gawang jangan sampai salah dikelola. Saat ini, suka atau tidak Giroud lebih berfungsi sebagai “bumper” untuk duo senjata utama Arsenal dalam mencetak gol: Podolski dan Walcott.

Southampton, Giroud dan Resep Rahasia Henry

Rekor tim dengan pertahanan terbaik di Premier League itu akhirnya terpecahkan. Hanya kebobolan 5 gol dalam 11 pertandingan dan belum pernah kebobolan lebih dari 1 gol per pertandingan. Tantangan untuk mencetak lebih dari satu gol sebagaimana yang ditulis di artikel preview sebelum pertandingan dijawab dengan sempurna oleh Arsenal dan khususnya oleh Giroud. Mungkin Giroud sedikit kesal karena diragukan kapasitasnya (oleh penulis hehe) sebagai Mesin Gol Arsenal sehingga ia mencoba membuktikan kapasitasnya sebagai striker utama Arsenal. Bila dilihat dari koleksi 7 gol dari 12 pertandingan, maka ia on the track untuk mencetak lebih dari 20 gol liga musim ini, sebuah ukuran untuk striker top di Premier League.

Ilusi Statistik

Southampton sesuai prediksi bermain sangat baik dalam bertahan khususnya dalam melakukan pressing. Arsenal meresponnya dengan menyerahkan ball possession sambil tetap menjaga defensive shape, hal yang tidak berbeda jauh dengan yang dilakukan saat berhadapan dengan Dortmund. Hasilnya ball possesion Southampton lebih tinggi sedikit daripada Arsenal (51-49) namun hanya sedikit menghasilkan peluang bersih. Sebagaimana kata Wenger:

Against Southampton they had a lot of ball possession but in their own half of the field and very little in our final third, so it’s an illusion, these possession statistics.

The right balance in ball possession is progression and you can see it in Tottenham and Manchester City, where Tottenham actually had more ball possession.

Southampton memiliki penguasaan bola yang lebih tinggi namun di paruh lapangan mereka sendiri dan sangat sedikit di sepertiga lapangan lawan sehingga statistik penguasaan bola ini adalah ilusi. Menurut Wenger keseimbangan yang benar dalam penguasaan bola adalah “progression”. Contohnya walaupun Tottenham memiliki lebih banyak penguasaan bola, mereka kebobolan 6 gol dari City karena penguasaan bolanya tidak menghasilkan peluang di area lawan. Possession-nya bukan Progression.

Di saat pertandingan selesai, ada juga seseorang yang twit ke saya kalau Arsenal tidaklah bermain baik karena kalah statistik tembakan di mana Southampton lebih banyak melakukan tembakan ke gawang daripada Arsenal (10 berbanding 9 dengan sama-sama 4 on target). Lagi-lagi ini adalah contoh ilusi statistik jika tidak menonton pertandingan itu sendiri. Grafik di bawah ini menunjukkan betapa statistik hanyalah penyederhanaan peristiwa dan tidak dapat memberikan gambaran utuh pertandingan.

Southampton Shots

Southampton Shots

Arsenal Shots

Arsenal Shots

Dari dua grafik teratas terlihat kalau Southampton lebih banyak melakukan tembakan dari luar kotak penalti (8 dari 10) sehingga tembakannya lebih mudah diselamatkan oleh Szczesny ataupun diblok oleh pemain bertahan Arsenal. Sedangkan Arsenal melakukan mayoritas tembakannya dari dalam kotak penalti (6 dari 9). Dengan demikian kualitas peluang yang dihasilkan Arsenal lebih tinggi daripada Southampton. Dua peluang (dari tembakan Wilshere dan Ramsey) yang “diselamatkan” tiang gawang Southampton di lain hari mungkin saja menjadi gol. Walaupun sudah melihat grafik di atas, tetap saja kita tidak bisa mendapatkan gambaran utuh kualitas tembakan kedua tim tanpa menonton pertandingan. Kecepatan bola, kekerasan tendangan, kurva lintasan bola misalnya tidak dapat digambarkan oleh statistik angka maupun grafik di atas. Statistik dapat membantu kita memahami alur pertandingan, namun jangan mengandalkan penuh pada statistik untuk menilai performa sebuah tim dalam pertandingan.

Southampton tanpa ragu lagi adalah tim terbaik di liga yang dihadapi Arsenal sejauh ini. Walaupun kalah dari United 2 pekan lalu, permainan MU saat itu tidaklah sebaik Southampton. Southampton melakukan pressing dengan penuh percaya diri, memainkan high defensive line, dan juga menciptakan peluang dari open play. Namun sayangnya Arsenal bermain lebih baik daripada saat di Old Trafford terutama barisan pertahanannya. Frustrasi, Southampton terpaksa menembak dari luar kotak penalti karena gagal masuk ke dalam kotak penalti Arsenal. Arsenal membalas dengan beberapa kali serangan cepat dan kemudian kembali bertahan tanpa tergoda untuk melakukan pressing tinggi. Mereka merasa nyaman dengan mempertahankan defensive shape tanpa harus melakukan pressing.

Serangan Arsenal memang belum terlalu “click” di pertandingan kali ini. Beberapa kali operan-operan di area Southampton tidak menemukan penyelesaian akhir. Wanyama dan Schneiderlin tampil baik dalam mematahkan serangan Arsenal, termasuk jika perlu melakukan professional foul. Wanyama terutama beberapa kali membenturkan dirinya ke Wilshere untuk menghentikan serangan Arsenal dan Clattenburg tidak memberikan foul. Namun, “karma buruk” tersebut akhirnya berbuah dan Giroud yang akhirnya mengambil alih peran utama kali ini.

Gol pertama berasal dari kesalahan Boruc saat menguasai bola. Tetapi hal itu tak lepas dari peran Giroud dalam pressing saat ia menerima back pass dari Shaw. Giroud tampaknya belajar satu dua hal dari Thierry Henry, yang bergabung dengan latihan tim Arsenal minggu ini. Sangat mungkin ia juga mendapatkan “resep rahasia” Henry dalam mencetak gol.

Giroud dan Henry

Resep Rahasia Henry

Dalam salah satu bagian dari biografi Bergkamp, Henry diwawancara oleh David Winner. Ia menjelaskan resep rahasia striker top dalam mencetak gol, yang ia sebut freezing technique. Apa itu? Henry menjelaskan kalau kebanyakan striker mengontrol bola lalu menembak namun striker top tahu bagaimana caranya untuk pause, untuk berhenti. Control, pause, finish. Ketika ia mengendalikan bola, ia berhenti, melihat kiper lawan dan kemudian menembak, tanpa melihat bola. Ketika ia mengendalikan bola, kiper lawan akan datang padanya, itu saatnya untuk berhenti. Dan ketika berhenti, lihat ke kiper, saat itu ia akan freeze (membeku). Tidak perlu lama, namun kiper itu harus dibekukan. Jangan melihat ke bola karena saat kiper itu datang, ia tak akan terlihat bila mata striker sedang menatap bola. Karena itu striker top harus melihat ke arah kiper. Kontrol bola, berhenti, kepala ke depan, dan bekukan kiper dengan menatapnya. Inilah freezing technique, resep rahasia the great striker King Henry yang mencetak rekor gol terbanyak dalam sejarah Arsenal. Bila Giroud pintar, tentunya ia telah mengetahui dan mempelajari rahasia ini.

Yang dilakukan Giroud terhadap Boruc adalah varian lain dari freezing technique ini. Giroud membuat Boruc grogi sehingga upayanya dalam men-dribble bola dan melakukan trik harus dibayar mahal. Giroud bahkan melakukan hal yang satu level di atas freezing technique Henry. Ia tidak membuat kiper lawan membeku, tapi berdansa! Mungkin tatapan mata sexy-nya memiliki sesuatu yang spesial sehingga pria lain pun tak tahan untuk tidak bergoyang di hadapannya. Apapun rahasia di balik tatapan Giroud ini, rasanya kita tidak akan mengetahuinya sampai saat ia menulis biografinya sendiri.

Mungkin tatapan mata sexy-nya memiliki sesuatu yang spesial sehingga pria lain pun tak tahan untuk tidak bergoyang di hadapannya.

Gol kedua Giroud dari kotak penalti termasuk langka karena saat itu Arteta dan Ozil tidak berada di lapangan. Sebagai penembak penalti ketiga, ia melakukannya dengan cukup baik. Mengecoh Boruc (lagi-lagi dengan tatapan mata!) ke kiri, ia menembak ke kanan. Tidak ke sudut jauh gawang namun cukup untuk mencetak gol. Mungkin perlahan-lahan dia bisa meyakinkan boss Wenger untuk memberikan prioritas pertama padanya untuk tendangan penalti, hal yang sangat dapat membantu dalam usahanya menjadi top scorer liga musim ini.

Sedikit tentang Tottenham

Kemenangan fantastis Arsenal atas Southampton semakin terasa manis setelah Tottenham kalah 6-0 dari Manchester City dan MU ditahan imbang Cardiff City. Bila Southampton adalah tim dengan pertahanan terbaik maka tanpa ragu lagi Manchester City adalah tim dengan penyerangan terbaik. Kemenangan meyakinkan kemarin menjadikan mereka salah satu penantang kuat gelar Premier League walaupun masih terpaut 6 poin dari Arsenal. Duet Negredo dan Aguero ditopang Nasri dan Navas semakin baik minggu ke minggu. Berbeda dengan AVB, Pellegrini tampaknya telah menemukan formasi terbaiknya.

Tottenham yang telah membelanjakan lebih dari 100 juta pounds tampak seperti tim kecil ketika “dipermainkan” oleh Manchester City. Bila AVB masih menyimpan lembar garansi belanjanya, mungkin ia akan minta uang kembali. Kenaifan Levy dan AVB yang merasa pembelanjaan besar dan jumlah yang banyak bisa menggantikan peran seorang Gareth Bale terekspos di pertandingan ini.

Bila AVB masih menyimpan lembar garansi belanjanya, mungkin ia akan minta uang kembali.

Di biografi Bergkamp, Wenger pernah mengatakan padanya bahwa sebuah tim selalu tentang lima atau enam pemain utamanya. Lalu tergantung pada pemain terlemahnya. Bila ia cukup baik untuk dapat mengikuti level lima atau enam pemain utama tersebut, maka tak akan ada masalah. Namun jika seorang pelatih takut satu pemain terlemahnya dapat membuat level permainan turun, maka ada masalah besar. Semakin banyak pemain yang dapat membuat perbedaan, semakin besar peluang pemain lainnya akan naik ke level yang lebih tinggi. Nah bila melihat skuad Tottenham dan Arsenal sekarang, tidak sulit untuk menilai siapa yang memiliki lima-enam pemain utama tersebut. Di Arsenal kita punya Giroud-Arteta-Mertesacker-Koscielny-Sagna yang selalu dapat diandalkan dan membuat perbedaan. Cazorla musim lalu sangat dominan dan Wilshere dua musim sebelumnya menjadi andalan. Ramsey menjadi fenomenal musim ini dan Gibbs juga tampil luar biasa. Szczesny akhirnya menemukan performa terbaiknya. Dan Ozil, kita belum melihat permainan terbaiknya. Arsenal tidak lagi soal lima-enam pemain utama namun seluruh skuad punya kekuatan merata dari lini depan hingga ke belakang tanpa benar-benar memiliki “pemain terlemah”. Hal yang sama tidak dapat dikatakan untuk Tottenham.

Tottenham membeli banyak pemain dan biaya mahal yang harus dibayar adalah adapatsi. Mungkin mereka akan lebih baik seiring dengan berjalannya waktu namun mungkin juga banyak pemain yang tidak mendapatkan waktu bermain yang cukup akhirnya akan memilih pindah musim depan. Apalagi bila mereka kembali gagal mendapatkan tempat di empat besar. Di bulan Agustus Wenger mengatakan hal ini:

There is a technical risk when you buy more than three players because you unbalance a little bit the stability of your squad.

You have to find a way to integrate more. And your squad is always a balance, and there’s a bit more risk. Signing players can work as well. It can click fantastically well, but there is a little risk in the stability of the squad and on the technical consistency.

Hal ini dirasakan Arsenal sendiri di dua musim sebelumnya. Pembelian besar-besaran karena kehilangan dua pemain utama, Fabregas dan Nasri berakibat pada masa adaptasi yang lama dari para pemain baru dan menganggu stabilitas tim. Hasilnya baru dituai musim ini. Arteta dan Mertesacker menjadi tulang punggung skuad Arsenal sekarang.

Marseille

Pertandingan melawan Marseille sayangnya tidak disiarkan langsung di stasiun TV. Tak ada cara lain selain streaming. Saya sendiri akan menonton replay-nya saja. Marseille yang tidak mendapatkan poin sama sekali dari 4 pertandingan selama ini bisa bermain lepas tanpa beban dan hal ini bisa berbahaya. Di pertemuan pertama dengan Arsenal di kandangnya, mereka tampil cukup baik. Ayew dan Valbuena tampak berbahaya. Kabar terakhir menyebutkan kemungkinan Ayew cedera. Arsenal sendiri akan menurunkan tim terbaiknya mengingat hasil tiga poin amat penting untuk mengamankan peluang lolos ke babak berikutnya. Pertandingan berikutnya ke kandang Napoli akan lebih berat.

Arteta cedera ringan di akhir pertandingan lawan Southampton sehingga posisinya kemungkinan digantikan Flamini. Di luar itu, prediksi saya tim inti yang sama akan diturunkan dan Walcott siap turun di babak kedua untuk mendapatkan kesempatan bermain lebih lama. Wilshere bisa jadi digantikan Rosicky untuk memberikannya waktu beristirahat yang cukup.

Prediksi line up Arsenal:
Szczesny –  Sagna, Mertesacker, Koscielny, Gibbs – Flamini, Ramsey, Ozil – Rosicky, Giroud, Cazorla.

Subs:
Fabianski, Vermaelen, Monreal, Wilshere, Walcott, Arteta, Bendtner

Selama Arsenal bermain dengan fokus penuh, rasanya tidak sulit untuk memenangkan pertandingan ini.