Hang? Restart!

Yang menonton Arsenal sepanjang musim ini pasti telah familiar dengan permainan Arsenal yang menyerang dan bertahan secara periodik dalam 90 menit. Ada momen di mana Arsenal akan melakukan pressing tinggi untuk merebut bola dan menyerang total, ada momen di mana Arsenal memilih membiarkan lawan menguasai bola dan fokus di pertahanan. Transisi dari fase menyerang dan bertahan ini terjadi berulang kali selama 45 menit setiap babak. Umumnya bila telah unggul di babak pertama, di babak kedua Arsenal cenderung akan lebih lama berada dalam fase bertahan, dan demikian sebaliknya. Arsenal seakan sering “restart” permainan mereka sepanjang 90 menit pertandingan.

Ternyata transisi antar fase itu tidak hanya terjadi di dalam pertandingan, tapi juga sepanjang musim Arsenal. Bila kita cermati form Arsenal di kompetisi EPL sampai saat ini diselingi dengan FA Cup (biru) dan Champions League (merah):

LWWWWWWWDWL. WWWL. WWWWDLL. DWWWWWWWDWL. DW

Dari sekuens di atas, terlihat bahwa bila Arsenal mengalami kekalahan di liga, maka hasil konsisten akan menyusul selama beberapa pertandingan berikutnya. Arsenal tidak pernah kalah berturut-turut di liga, satu-satunya kekalahan back to back adalah saat harus bertandang ke Napoli di UCL dan kemudian bertandang ke City di liga, dalam periode yang sangat padat di Desember. Maka tidak heran Arsenal tidak kalah saat menjamu MU setelah kekalahan menyesakkan dari Liverpool sebelumnya. Namun tidak banyak yang menyangka Arsenal akan menang atas Liverpool di FA Cup secara meyakinkan hanya dalam satu minggu sejak dikalahkan di EPL. Mereka, terutama para pundit dan fans Arsenal yang mungkin mudah putus asa, menyangka kekalahan yang sama akan terulang. Tentunya mereka tidak membaca statistik di atas. Konsistensi Arsenal secara jelas terpapar di sekuens form tersebut. Arsenal tidak kalah berturut-turut di kompetisi domestik, apalagi bila salah satunya main di kandang, dan Arsenal tidak akan kalah dari musuh yang sama dalam waktu yang dekat (cue: Dortmund). Sayangnya saya tidak sempat menulis blog sebelum pertandingan tersebut, bila iya saya pasti dengan percaya dirinya akan memprediksikan kemenangan untuk Arsenal (hehe :p).

Pendek kata, Arsenal menemukan kemampuan Restart dengan cepat setiap kali mengalami Hang!

Kalau melihat form di atas, Arsenal berpeluang besar untuk dapat menahan Bayern Muenchen di kandang (hasil minimal kalau tidak menang). Namun walaupun kalah tidak akan berdampak terhadap form Arsenal di liga. Tiga pertandingan sesudahnya yang relatif lebih mudah sudah menunggu untuk kembalinya sekuens kemenangan berturut-turut di liga. Kemenangan atas Liverpool akan mengangkat moral skuad dan memudahkan hang, restart ini kembali terjadi. Sekarang mari kita bahas sedikit mengenai keberhasilan fenomenal Arsenal atas Liverpool kemarin.

Balas Dendam Wenger

Keledai pun tak akan jatuh di lubang yang sama dua kali, apalagi sang Professor. Menganalisa dan mengetahui kesalahan-kesalahan yang dilakukan skuad Arsenal saat bertemu Liverpool minggu sebelumnya, Wenger menghadapi pertandingan ini dengan persiapan yang matang. Ia memilih memasangkan Podolski dan Chamberlain, serta Arteta dan Flamini daripada Cazorla, Wilshere ataupun Rosicky. Yang lebih penting lagi ia memilih Sanogo daripada Bendtner dan Giroud. Di belakang ia memasang Monreal dan Jenkinson daripada Gibbs dan Sagna. Total 7 perubahan pemain ia lakukan. Mayoritas perubahan tersebut dilakukan karena cedera atau tidak fitnya pemain (Wilshere, Cazorla, Gibbs) namun sisanya adalah jelas taktik Wenger untuk meredam Liverpool. Saya rasa walaupun Wilshere fit, Wenger akan tetap memilih Arteta dan Flamini untuk mengantisipasi kecepatan serangan Liverpool.

Podolski dan Chamberlain menentukan hasil pertandingan ini dengan dua gol mereka, namun kontribusi Ozil sangat vital. Tanpa 2 pre-assist yang ia lakukan, mereka tidak akan mendapatkan peluang. Sanogo juga berkontribusi lewat tendangan volley-nya setelah menerima umpan lambung dari Ozil. Sisanya, Flamini dan Arteta rajin mengejar dan merebut kembali bola, Monreal terus melakukan interception, dan Jenkinson mengawal sisi kanan dengan cukup apik. Fabianski luar biasa dengan keputusan-keputusan yang ia lakukan untuk menyelamatkan bola dari tembakan ataupun dari crossing, dan bahkan “mencurinya” dari kaki lawan (Sturridge). Koscielny menempel ketat Suarez tanpa memberikan ruang untuk ia menembak dari dekat, dan Mertesacker walaupun 2 kali kehilangan Sturridge saat hendak melakukan jebakan offside, tampil lebih baik daripada minggu lalu.

Sebelas pemain Arsenal di lapangan tampil luar biasa. Sikap mental yang berbeda dengan minggu lalu mereka tunjukkan sejak menit pertama. Tidak percuma amarah Wenger yang luar biasa minggu lalu (versi Arteta). Di samping itu support Wenger terhadap Ozil terbukti berguna. Ozil tampil beda kelas, mendominasi permainan Arsenal dan mengatur tempo dengan baik. Ia bahkan ikut bertahan dengan melakukan interception dan pressing di lapangan tengah. Skema balas dendam Wenger berjalan lancar. Liverpool dipaksa menelan pil pahit mereka sendiri. Senjata makan tuan dari serangan counter attack cepat.

Mungkin kira-kira begini arahan taktik dari Wenger:

“Dua fullback kalian jangan terlalu maju. Bayangi Suarez dan Sterling dan potong operan ke mereka saat mereka beroperasi di sayap.

Arteta dan Flamini, kalian saling back up. Jangan terlalu jauh satu sama lain dan jangan maju atau mundur bersamaan. Kelebihan pemain di tengah harus dimanfaatkan dengan doubling up Coutinho. Tekan dan rebut bolanya setiap ia mendapatkan bola.

Koscielny, kau tempel si Suarez, ia tak lebih baik daripada Messi. Dan Mertesacker, walaupun Sturridge itu cepat, tapi kakimu lebih panjang. Bila ia lolos jebakan offside, julurkan kakimu untuk tackle bola. Bila ia lolos, tenang dulu, jangan sampai langgar ia dan penalti. Fabianski pasti akan bisa memblok tendangannya yang rata-rata kualitasnya biasa itu. Koscielny, jangan terlalu nempel ke Suarez, ia bisa jatuh hanya karena jarimu menyentuh pantatnya.

Ozil, Podolski dan Chamberlain, setiap kali Flamini atau Arteta berhasil merebut bola, kalian langsung menyerang. Kita kembalikan senjata Liverpool ke mereka. Counter attack cepat. Walaupun striker mereka cepat, fullback mereka tidak secepat kalian. Ozil pasti akan berikan umpan terobosan yang lebih akurat daripada Coutinho. Chamberlain dan Podolski, seringlah kalian masuk ke kotak penalti lawan. Tidak ada pemain Arsenal yang tembakannya lebih keras dan akurat daripada kalian berdua. Tunjukkan!

Yaya Sanogo, mereka boleh saja meledekmu tapi aku percaya penuh padamu sejak pandangan pertama. Tidak usah kau baca surat kabar sebelum pertandingan. Konsentrasi saja untuk tampil 100% di pertandingan ini dan kujamin kau akan punya masa depan cemerlang di klub ini. Engkau punya kecepatan (sedikit di atas Giroud), punya keberanian untuk melawan dua CB senior Liverpool, dan juga punya sedikit trick ala Drogba. Engkau bisa menjadi Drogba-nya Arsenal, atau Adebayor? Ah tapi jangan dia, paling nanti kau berakhir di klub kecil tetangga itu. Jadilah Drogba, atau Kanu. Pernah dengar Kanu? Ini videonya. Pelajari dan lakukan.

Tanpa Giroud, Walcott, Cazorla, Ramsey, empat pemain pencetak gol terbanyak kita, aku yakin kalian bisa. Liverpool boleh sombong dengan kemenangan 5-1 itu, tapi kita semua tahu itu abnormal. Itu terjadi ketika kita lagi hang! Kita tahu, setiap kali kita mengalami hang, kita tinggal pencet tombol restart! Semudah itu. Aku yakin kalian semua bisa menang. Yang penting jangan kebobolan lewat set piece di babak pertama, dan jangan berikan mereka penalti. Setelah itu kalian pasti menguasai pertandingan dan peluang pasti muncul.”

Dan tanpa ragu lagi, sebelas pemain Arsenal + tiga pemain cadangan memencet tombol restart malam itu dan skema balas dendam Wenger berjalan sempurna.

Advertisements

Persepsi ≠ Kenyataan

Pikiran adalah Pelopor…

Sebuah kalimat dari Dhammapada yang terkenal itu akan menjadi bahan blog hari ini. Lho kok bukan tema sepakbola? Tenang, kita akan sampai di sana. Karena tulisan juga adalah buah pikir, dan tulisan tentang sepakbola, tentang Arsenal, tentu juga dipelopori oleh pikiran. Anggap saja “perjalanan” kali ini lewat rute yang sedikit berbeda, rute yang sedikit filosofis.

Nah maksud dari pepatah di atas adalah pikiran mendahului segalanya. Segalanya di sini termasuk: ucapan, tindakan, dan bahkan formasi mental. Formasi mental seperti perasaan sedih, senang, suka, tidak suka, benci, percaya diri, ragu, dan lain-lain terbentuk oleh pikiran. Lalu pikiran itu sendiri apa? Tidak akan dibahas di sini supaya tetap relevan dengan tema blog ini, tapi singkat kata ada pikiran sadar dan bawah sadar. Kedua bagian dari pikiran ini dibatasi oleh batas tipis yang namanya kesadaran, namun mereka akan saling “menyeberang” batas, berinteraksi dan saling mempengaruhi. Apa yang ada di bawah sadar ini saat kondisi tertentu terpenuhi, akan naik ke atas dan membentuk pikiran yang menjadi awal dari formasi mental. Maka manusia memiliki disposisi mental. Disposisi atau lebih mudahnya disebut bias pikiran ini yang membuat kita misalnya melihat sesuatu secara subjektif dan tidak sama satu sama lain. Misalnya kita yang fans Arsenal memiliki bias terhadap Arsenal. Kita akan merasa klub ini lebih baik dalam satu dan banyak hal dibanding klub lain dan fans lain yang memiliki bias yang berbeda tidak akan sependapat. Bias ini juga dapat menjelaskan mengapa ada AKB dan WOB di antara fans Arsenal.

Label adalah wujud yang lebih konkrit dari bias. Label AKB dan WOB yang menyederhanakan kelompok fans Arsenal yang berbeda pendapat menjadi dua kutub ekstrim: kelompok yang mendukung Wenger dan kelompok yang anti Wenger. Saat klub ini menang terus dan bertengger di puncak klasemen, label AKB-WOB akan lenyap sementara karena kelompok-kelompok fans Arsenal ini sedang menikmati tujuan bersama dan punya musuh bersama: 19 klub lainnya. Mereka akan bersatu. Ketika Arsenal mengalami kekalahan telak seperti saat melawan Liverpool kemarin dan turun ke peringkat kedua, label ini kembali muncul. Ingat yang di atas: kondisi tertentu terpenuhi, bias yang berada di bawah sadar akan naik atas dan membentuk formasi mental ini. Grup WOB akan muncul lagi dan mencela taktik Wenger, mental pemain, dan kebijakan transfer klub. Karena “kondisi tertentu” (baca: kekalahan) tersebut dipenuhi. Walaupun Arsenal sebenarnya masih berada sangat dekat dengan puncak klasemen.

Saat klub ini menang terus dan bertengger di puncak klasemen, label AKB-WOB akan lenyap sementara karena kelompok-kelompok fans Arsenal ini sedang menikmati tujuan bersama dan punya musuh bersama…

Bias pikiran di bawah sadar ini saat muncul di permukaan sadar, menjadi Persepsi. Persepsi yang adalah kumpulan bentuk-bentuk pikiran, dan menjadi sumber kita saat berpendapat, menulis, berucap, bertindak. Problemnya adalah persepsi tidak selalu sama dengan kenyataan. Persepsi bahkan sering menarik kita jauh dari kenyataan. Kenyataan yang kita ciptakan dalam pikiran kita tidak sama dengan kenyataan yang terjadi di dunia. Persepsi ini adalah apa yang ada di pikiran, bukan apa yang ada di kenyataan. Kita gagal melihat kenyataan ketika pikiran kita dipenuhi persepsi. Seperti saat kita memakai kacamata hitam, seluruh dunia akan terlihat bergradasi hitam, sehingga persepsi kita: dunia itu hitam. Kita tidak akan tahu dunia ini begitu berwarna bila kita terlalu terikat dengan persepsi dan lupa melepas “kacamata hitam”.

Bingung? Mari kita berikan contoh yang lebih konkret.

Persepsi: Arsenal in crisis! Kekalahan telak Arsenal dari Liverpool membuyarkan mimpi mereka menjadi juara! Arsenal tidak pantas menjadi juara EPL!

Demikianlah headline media setelah kekalahan telak tersebut.

Kenyataan: Arsenal bertengger di peringkat kedua klasemen, hanya selisih satu poin dari Chelsea dan masih di atas Manchester City. Dua klub ini dipercaya mutlak hampir semua media sebagai calon kuat juara, sementara Arsenal berada di antaranya tapi tidak dianggap sama sekali. Dan dengan hasil seri Chelsea kemarin melawan WBA, Arsenal bisa dengan mudah naik lagi ke peringkat pertama jika mengalahkan MU malam ini.

Persepsi akan membesar-besarkan sesuatu sesuai bias kita. Bila memang mereka tidak percaya Arsenal tidak punya kans menjadi juara sejak awal musim ini, mereka cenderung akan memiliki bias tersebut sampai akhir musim, sampai kenyataan Arsenal memegang trofi juara terjadi. Maka ketika kekalahan telak tersebut terjadi, persepsinya bahwa Arsenal bukan tim kandidat juara tiba-tiba menemukan sebuah pendukung yang kuat. Nah apa gue bilang, Arsenal mana mungkin bisa jadi juara, dibantai Liverpool gitu. Dalam sekejap mereka mengabaikan hasil di 24 pertandingan sebelumnya yang mengantarkan Arsenal di posisi nomor satu tersebut. Satu kenyataan yang mendukung persepsinya akan dibesar-besarkan dan 24 kenyataan yang tidak sesuai persepsinya akan dikecil-kecilkan. Demikianlah cara kerja pikiran.

Kenyataan bahwa Wenger memberikan 3 gelar juara liga di masa lampau, dan kenyataan bahwa tim yang juara EPL setelah itu adalah tim yang memiliki budget belanja terbesar di liga (satu klub super kaya dan dua klub sugar daddy) diabaikan begitu saja.

Tentunya kita tidak bisa menyalahkan mereka, hal seperti ini terjadi bukan tanpa dasar. Delapan tahun tanpa trofi dan sembilan tahun tanpa gelar juara liga menjadi jejak rekam yang akan ikut membentuk persepsi ini. Apalagi untuk WOB yang anti Wenger. Pengalaman masa lalu di mana tim-tim Wenger pasca Highbury yang selalu nyaris juara tapi tak pernah juara membentuk persepsi mereka yang kuat bahwa tim di bawah Wenger tak mungkin lagi juara. Kenyataan bahwa Wenger memberikan 3 gelar juara liga di masa lampau, dan kenyataan bahwa tim yang juara EPL setelah itu adalah tim yang memiliki budget belanja terbesar di liga (satu klub super kaya dan dua klub sugar daddy) diabaikan begitu saja. Dalam hal ini persepsi mengalahkan kenyataan.

Nah mari kita coba membahas seobjektif mungkin apa itu kenyataan dalam kekalahan 5-1 dari Liverpool akhir pekan lalu.

1. Dua set pieces yang mengubah arah pertandingan

Konsentrasi tidak penuh pemain Arsenal di awal pertandingan berbuah fatal. Ketinggalan 2-0 demikian cepat membuat mereka harus keluar menyerang dan menjadi sasaran empuk kecepatan striker Liverpool. Bila kita cermati pertandingan Arsenal musim ini, tim ini cenderung bermain tenang tapi disiplin di babak pertama dan baru mencetak gol di babak kedua. Modalnya adalah pertahanan kokoh. Dalam sekejap duet CB terbaik musim ini diporak-porandakan oleh Liverpool karena konsentrasi lemah di awal pertandingan dan strategi Arsenal harus berubah. Mereka harus menyerang di babak pertama untuk mengejar ketertinggalan dan malah tertinggal lebih jauh.

2. Kelambanan yang dieksploitasi oleh kecepatan

Duet CB Arsenal walau terkokoh bukan yang tercepat di liga. Dan dua fullback yang dipasang malam itu juga bukan pemain yang larinya cepat. Gibbs dan Jenkinson umumnya lebih cepat daripada Monreal dan Sagna. Hal ini dieksploitasi oleh Liverpool yang memasang tiga striker cepat: Suarez, Sturridge dan Sterling. Kalau masih kurang yakin, bahkan inisial nama ketiganya adalah Trio S, Speed. Bila Arsenal hanya punya satu Walcott dan itu sudah ditakuti Barcelona, Liverpool punya 3 Walcott, bahkan dalam bentuk versi yang lebih mutakhir. Gol ketiga dan keempat Liverpool berawal dari Ozil yang kehilangan bola dan salah mengoper, namun tidak kurang kontribusinya juga adalah dua fullback yang sedang di posisi maju, dan kelambanan Arteta, Mertesacker dan Koscielny dibanding pemain penyerang Liverpool.

Kecepatan Liverpool sebenarnya bisa di-counter dengan memperlambat tempo permainan. Namun ketinggalan dahulu membuat pemain Arsenal tidak sabar dan meninggalkan rencana itu.

3. Pressing dan semangat memulai pertandingan yang berbeda

Arsenal bisa kehilangan bola di tengah lapangan karena pressing pemain Liverpool yang intens, yang mirip dengan gegenpressing Dortmund. Arsenal mungkin memulai pertandingan ini bukan dalam kondisi mental yang sebaik saat melawan Dortmund. Mungkin karena pernah mengalahkan Liverpool di kandang dengan cukup nyaman, pemain-pemain Arsenal di pertandingan ini sedikit nyantai. Tidak ada pressing tinggi di awal pertandingan, Giroud yang biasanya mengejar lawan terlihat santai, demikian juga pemain lainnya. Setelah tertinggal, Arsenal bermain terburu-buru untuk mencetak gol. Tidak ada passing-passing santai sambil mencari celah. Keterburu-buruan itu dikombinasikan dengan pressing tinggi dan intens Liverpool berbuah dua counter attack yang menghabisi peluang Arsenal untuk kembali di pertandingan ini.

Singkat kata, Arsenal bertemu bogey team-nya malam itu dalam bentuk Liverpool. Seperti api yang ketemu air, taktik dan formasi Arsenal diredam dengan cerdik oleh Liverpool. Ditambah dengan turunnya performa dan semangat beberapa pemain Arsenal, telaklah kekalahan yang didapatkan.

Arsenal bisa memenangkan pertandingan ini bila mereka tidak tertinggal lebih dahulu, perlahan membangun dominasi dan bermain lebih dalam. Menunggu Liverpool lelah dan frustrasi di babak kedua dan kemudian menyerang pertahanan mereka yang tidak terkenal kokoh. Namun dua set pieces tersebut mengubah segalanya.

Kenyataannya adalah Arsenal kalah telak lawan Liverpool. Kalah taktik dan kalah semangat. Tiga poin gagal didapatkan. Selain itu tidak perlu ada bumbu lainnya. Arsenal tetap di peringkat kedua, bisa kembali di peringkat pertama malam ini, dan masih berpeluang di perebutan juara liga musim ini. Walau kalah dari Liverpool, peringkat Arsenal masih di atas Liverpool dengan beda perolehan poin yang cukup signifikan. Arsenal tim yang lebih baik sepanjang musim tapi lebih buruk malam itu. Selain itu adalah persepsi belaka, ciptaan bias pikiran masing-masing.

Manchester United

Persepsinya adalah ini tim juara bertahan, punya mental juara. Kenyataannya adalah tim ini masih bertengger di peringkat ketujuh dan masih kesulitan menemukan form musim lalu. Tim ini sesungguhnya adalah team in crisis. Karena bila United tidak lolos ke UCL musim ini, maka semakin sulit bagi mereka merekrut pemain-pemain top Eropa. Kecuali jika mereka mau membayar gaji pemain barunya dua kali lipat ala City beberapa musim lalu. Namun kondisi keuangan MU yang dililit utang akibat pembebanan pribadi dari Glazers tidak memungkinkan itu. Moyes mesti berjuang untuk bisa finish di peringkat keempat, namun hal itu semakin hari semakin sulit. Apalagi melihat performa klub-klub top four saat ini, yang lebih kuat daripada musim sebelumnya.

Nah melawan United malam ini, Arsenal mesti melupakan kekalahan melawan Liverpool secara mental tapi mengingat jelas kesalahan-kesalahan yang dilakukan saat itu. Kenaifan taktik di lapangan tentu telah diulas Wenger sebelum pertandingan ini. Mereka tidak boleh kecolongan dari set pieces lagi. Konsentrasi mesti 110% saat bertahan dari set pieces. Gol semata wayang United paruh musim ini juga dari set pieces. Selain itu Arsenal mesti mengantisipasi crossing United karena sepertinya itulah satu-satunya taktik permainan tim Moyes. Mereka bermain lewat sayap yang memberikan umpan lambung ke dalam kotak penalti.

Kembali ke basic, bermain tenang seperti saat melawan klub-klub papan tengah, tidak terpengaruh dengan persepsi tim juara bertahan. Selama Arsenal bisa menempatkan calon lawannya ini di tempatnya yang pas (tim papan tengah saat ini), tidak terlalu takut dengan mantan kapten Judas-nya, maka Arsenal bisa meraih tiga poin malam ini. Bukannya meremehkan, tapi kenyataannya tim ini kalah oleh Stoke City di awal Februari dan sudah kalah delapan kali di liga musim ini. Kapan lagi saat yang tepat untuk membuktikan kepada si pembelot bahwa “arah dan ambisi” klub ini sudah benar, tidak seperti yang ia duga. Siapa yang menyangka kalau “arah dan ambisi” klub barunya itu ternyata malah tidak sesuai “persepsi”-nya setelah bergabung satu musim.

Selama Arsenal bisa menempatkan calon lawannya ini di tempatnya yang pas (tim papan tengah saat ini), tidak terlalu takut dengan mantan kapten Judas-nya, maka Arsenal bisa meraih tiga poin malam ini

Soal Ozil, malam di Anfield tersebut tentunya adalah malam terburuk baginya musim ini. Namun itu tidak serta merta membuatnya menjadi pemain buruk. Untuk seorang pemain baru, penampilannya musim ini termasuk relatif mulus kecuali malam itu. Setiap pemain pasti akan mengalami masa seperti itu. Yang perlu dilakukan fans dan sudah pasti dilakukan manager dan rekan-rekannya adalah memberikannya kepercayaan penuh dan terus mendukungnya. Mudah-mudahan kita berharap ia akan memberikan penampilan terbaiknya malam ini. Dan mulai mencetak gol, seperti harapan Wenger.

Untuk formasi lainnya, sebagaimana kata Wenger sendiri, saya prediksi tidak akan perubahan berarti.

After a big disappointment like that you always sit there, thinking, ‘Do I make five or six changes or do I give them a chance to show it was just an accident?’ And most of the time you give the players a chance, especially if they have done well before.

If there is a continuity of a bad patch you have to change things, but if it is just one game, most of the time you give the players a chance to [put things right].

Back four yang sama mungkin akan dipertahankan dan mungkin Gibbs masuk menggantikan Monreal. Arteta tetap dipasang karena Flamini masih dilarang bermain. Wilshere akan menemaninya di tengah dan satu-satunya kemungkinan penggantian pemain adalah posisi Chamberlain. Wenger bisa memilih Rosicky, Gnabry ataupun Podolski. Bila Wenger memilih Rosicky, kemungkinan Cazorla akan diganti Podolski di kiri. Namun rasanya Wenger akan memilih stabilitas dan performa Cazorla yang semakin membaik sebelum pertandingan melawan Liverpool tersebut.

Prediksi line up: 

Szczesny – Sagna, Mertesacker, Koscielny, Gibbs – Arteta, Wilshere, Ozil – Chamberlain, Giroud, Cazorla

Subs: Fabianski, Jenkinson, Monreal, Rosicky, Bendtner, Podolski, Sanogo