Rebuilding Arsenal

Featured

Skuad Arsenal 2021/2022

Saya menulis series Transfer Window 2021/2022 dalam tiga artikel panjang yang mencoba memahami strategi transfer Arsenal musim ini. Artikel pertama saya tulis tanggal 25 Juli ketika Arsenal baru menyelesaikan transfer Tavares dan Lokonga, dan artikel terakhir dirilis tanggal 1 Agustus 2021, sehari setelah Arsenal mengumumkan Ben White. Silakan membaca kembali artikel-artikel tersebut untuk refreshing, jika berkenan.

Link Part 1 tentang aturan Home Grown dan kilas balik musim Arsenal 2019/2020

Link Part 2 tentang kilas balik musim Arsenal 2020/2021 dan kandidat marquee signing Arsenal

Link Part 3 tentang menghitung budget belanja Arsenal dan skenario prediksi akhir transfer window ini.

Mari kita lihat kembali skenario prediksi saya. Ada 2 versi, yang optimis dan realistis.

Skenario 1 – Optimis

Tabel 1 – Prediksi versi Optimis

Skenario 2 – Realistis

Tabel 2 – Prediksi versi Realistis

Dan yang akhirnya terjadi di akhir Transfer Window summer 2021 ini adalah sebagai berikut:

Tabel 3 – Skuad Arsenal setelah Deadline Day TW Summer 2021

Prediksi yang tidak jauh meleset

Jika kita bandingkan, yang terjadi di akhir TW ini adalah sesuatu di antara skenario optimis dan realistis.

  • Jumlah pemain yang masuk sama dengan skenario realistis, yaitu 6 pemain baru. Bahkan posisi pemain barunya pun sesuai dengan prediksi.
  • Net spending Arsenal hampir sama dengan skenario optimis, yaitu sekitar 90 juta pounds, kalkulasi saya mengenai budget belanja pemain Arsenal ternyata tidak malu-maluin.
  • Penjualan yang terjadi di bawah perkiraan saya. Arsenal tidak mampu menjual beberapa pemain yang terpaksa hanya berakhir dengan loan tanpa obligation to buy (Nelson dan Bellerin) dan 2 pemain yang mestinya dijual gagal sepakat dengan klub pembeli akhirnya akan berstatus free transfer di akhir musim ini (Nketiah dan Kolasinac).
  • Jumlah pemain tim utama Arsenal sekarang menjadi 27, prediksi saya 26. Arsenal gagal melepas Kolasinac free transfer di akhir TW ini. 15 pemain non-HG (max 17) artinya Arsenal belajar dari musim lalu, kali ini semua pemain dapat didaftarkan untuk PL.
  • Willian di luar dugaan saya, akhirnya memilih memutuskan kontraknya dengan terhormat, tanpa kompensasi pesangon karena ia masih punya harga diri dan ingin bermain bola. Respect kepadanya yang lebih mementingkan pride daripada uang. Hal ini tentunya menguntungkan Arsenal yang dapat melakukan penghematan biaya gaji pemain sekitar 20 juta pounds untuk 2 musim!

Strategi Transfer Arsenal

Strategi ini sudah pernah saya tulis di Part 3 series Transfer Window Arsenal dengan kutipan sebagai berikut:

Saya pertebal pernyataan Edu dan Arteta bahwa usia Ben White sesuai dengan profil pemain tim yang sedang Arsenal bangun. Saat Arsenal terancam dan kemudian beneran tersepak dari Champions League, Arsenal memilih jalur pintas, shortcut untuk segera kembali ke Champions League lagi dengan membeli pemain yang lebih senior dan berpengalaman. Ini yang biasa disebut stopgap solution (solusi yang bersifat sementara). Pemain senior (di atas 26 tahun) yang dibeli antara lain mulai dari Aubameyang dan Mkhitaryan (di paruh musim terakhir Wenger), kemudian Leno, Sokratis, Lichtsteiner, David Luiz, Cedric Soares, Willian, dan Thomas Partey. Langkah ini terbukti tidak berhasil membawa kembali Arsenal ke level Champions League. Arsenal sudah tidak bermain di Champions League selama 4 musim. Alih-alih mengangkat moral tim dan mengubah mentalitas tim menjadi tim juara, sebagian besar pemain senior ini justru mengecewakan penampilannya dan bahkan Arsenal di musim lalu harus diselamatkan oleh pemain-pemain muda jebolan Hale End, seperti Bukayo Saka dan Emile Smith Rowe. Belajar dari pengalaman tersebut, Arsenal lalu mengubah strategi transfer untuk musim ini.

Transfer Window 2021/2022 – Saatnya Optimis? Part 3

Edu pun akhirnya memberikan wawancara kepada Skysports dan di Arsenal.com yang kurang lebih mengkonfirmasi soal strategi rebuilding tim dengan pemain muda di bawah 23 tahun dengan target panen jangka menengah (2-3 tahun) dan panjang (5 tahun ke atas). Edu menjelaskan saat ini Arsenal tertinggal jauh dari tim elit lainnya yang hanya cukup membeli 1-2 pemain di transfer window kali ini karena kualitas timnya sudah sangat baik (Chelsea, City, Liverpool) sementara Arsenal masih perlu memperbaiki kualitas tim di banyak posisi. Arteta mengatakan hal yang sama seminggu kemudian.

On top of that, we needed to recruit in a lot of positions. In order to do that, we had to spread the money and how it was spent wisely. Then we had to be very specific with the qualities, the targets we want that can reach the potential that is required at that level with the competition we have with other teams, to reach that [aim]. 

The whole strategy was around that, making those decisions as quickly as possible that could give us big margins of improvement in a short period of time.

Mikel Arteta – The thinking behind our transfer strategy

Karena KSE bukan bank yang cetak uang, 145 juta pounds miliknya dibelanjakan oleh Arsenal untuk 6 pemain muda yang akan meningkatkan kualitas tim, walau mungkin mereka butuh waktu lebih lama untuk memberikan dampak langsung. Bandingkan dengan City dan Chelsea yang belanjakan uang 100 juta pounds untuk seorang pemain elit. Edu berkata tujuan transfer kali ini adalah membangun pondasi. Di masa mendatang Arsenal mungkin hanya akan melakukan pembelian 1-2 pemain elit untuk melengkapi kualitas tim yang sudah cukup bagus. Tapi saat ini kita masih belum sampai ke sana. Seperti kata Arteta, kita perlu merekrut pemain di banyak posisi dari GK, RB, LB, CB, CM, AM, ST. Dari ketujuh posisi ini, enam terpenuhi dari transfer window ini dan yang lebih penting, keenam pemain ini memiliki kualitas (atau potensi) yang lebih tinggi daripada pemain yang akan digeser/ digantikan mereka di tim Arsenal.

  • Ramsdale -> Runarsson
  • Ben White -> Holding / Chambers
  • Tomiyasu -> Bellerin
  • Tavares -> Kolasinac
  • Lokonga -> Elneny
  • Odegaard -> meneruskan perannya sendiri di musim lalu

Keenam pemain muda ini tidak butuh waktu lama untuk integrasi ke timnya Arteta. Lima dari enam pemain ini langsung start melawan Norwich (Ramsdale, Ben White, Tomiyasu, Lokonga, Odegaard). Kemudian minus Lokonga, keempat pemain yang sama start lagi melawan Burnley. Hanya Nuno Tavares yang duduk di bangku cadangan sebagai pelapis Tierney. Kedua pertandingan berakhir dengan kemenangan 1-0 dan juga clean sheet. Untuk sementara ini, strategi rebuilding dengan target mid term dan long term ini juga memberikan dampak segera. Dari debut semua pemain baru ini, yang cukup mengejutkan adalah Ramsdale dan Tomiyasu. Kebanyakan fans Arsenal tidak mengira dampak positif instan dari penampilan mereka. Apalagi mengingat keduanya berasal dari klub yang lebih inferior daripada Arsenal (halo, spesialis degradasi…). Ini sebuah pelajaran buat kita bahwa pemain bagus ada di mana-mana, yang mungkin tidak terlalu terdengar di media dikarenakan keterbatasan dari pencapaian klub asalnya. Scouting Arsenal baik yang langsung di lapangan dan yang dari tim analisis statistik dan video patut diacungkan jempol karena keberhasilan mereka menemukan bakat-bakat terpendam ini.

Tomiyasu The Shield – source: @kazu_designs

Attiude and Character

Selain profil usia dan bakat pemain yang menjadi dasar pembelian pemain baru, hal lain yang dinilai dari tim perekrutan Arsenal adalah attitude dan character pemain. Di awal bergabungnya Arteta, saya menulis artikel The Arteta Way. Bagi Arteta, ada 4 hal penting yang ia inginkan sebagai pondasi dasar timnya: komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah untuk memainkan sepakbola dan mewakili klub ini.

The priority, as I said before, is what we are going to transmit on the team, is a reflection of the demands we are going to put on them every day in training. That’s commitment, accountability, aggression and passion to play this sport and to represent this football club.

This is the basic I am going to demand from them, and from there we can start to build things and improve all the things, obviously, that have to be done as quickly as possible, but if we don’t have this in the right manner, I think it will be difficult.

Mikel Arteta when he joined Arsenal as head coach, December 2019

Selama 1,5 tahun ini, Arteta melakukan perubahan tim dengan mengeluarkan pemain-pemain yang tidak memenuhi 4 kriteria di atas. Pemain yang tidak memiliki komitmen yang sama, tidak memberikan 100% di sesi latihan, dan tidak memiliki gairah untuk mewakili klub ini, silakan out!. Pemain yang melanggar nilai-nilai yang tidak dapat ditawar (non-negotiables) yang sudah ditentukan untuk tim juga out!. Revolusi mental memakan korban mereka yang tidak bisa ataupun yang menolak berpartisipasi. Mari kita lihat siapa saja para pemain tim utama warisan Wenger dan Emery yang sudah “dibuang” oleh Arteta:

  • Mkhitaryan
  • Emi Martinez (dijual untuk profit)
  • Sokratis
  • Mustafi
  • Ozil
  • Mavropanos
  • Guendouzi
  • Willock (dijual untuk profit)
  • Torreira

Bersih-bersih skuad ini tentunya juga bukan tanpa harga yang harus dibayar. Selain Emi Martinez dan Joe Willock, pemain lainnya dilepas murah dengan loan dan option to buy atau diputus kontrak. Arsenal jelas rugi dari segi potensi penjualan. Selain itu selama separuh musim 2020/2021 penampilan Arsenal sangat buruk yang notabene juga dipengaruhi faktor ketidakharmonisan di dalam skuad. Setelah bersih-bersih itu terjadi di bulan Januari 2021, praktis penampilan Arsenal jauh membaik (silakan baca Part 2 untuk lebih jelasnya)

Kemudian dari tim utama Arsenal saat ini, tersisa 10 pemain yang bukan hasil pembelian di masa Arteta, ataupun tidak/belum diberikan kontrak baru di masa Arteta, antara lain:

  • Kolasinac (sisa setahun)
  • Chambers (sisa setahun)
  • Elneny (sisa setahun)
  • Nketiah (sisa setahun)
  • Lacazette (sisa setahun)
  • Leno (sisa 2 tahun)
  • Pepe (sisa 3 tahun)
  • Maitland-Niles (sisa 2 tahun)
  • Bellerin (sisa 2 tahun)
  • Saliba (sisa 3 tahun)

Dari daftar di atas, kita kurang lebih bisa menebak jika di musim ini Arteta tidak memperpanjang kontrak pemain-pemain di atas, mereka adalah target berikutnya yang akan dijual/dilepas oleh Arsenal di TW mendatang. Hanya dalam waktu 2,5 tahun (di akhir musim ini) Arteta akan berhasil melakukan bersih-bersih skuad dan kemudian memiliki tim yang berisi pemain-pemain pilihannya sendiri, hasil seleksi alam 4 kriteria tersebut. Luar biasa dukungan board dan manajemen Arsenal untuk revolusi yang dipimpin Arteta ini. Praktis ia mengganti total tim warisan Wenger dan Emery dalam waktu yang relatif singkat.

Target Musim Ini

Satu hal menarik yang bisa kita perhatikan di wawancara Edu maupun Arteta adalah absennya penyebutan target Arsenal di musim ini. Masih kita ingat pernyataan kontroversial Willian yang menyebutkan bahwa Arteta membelinya untuk membawa Arsenal ke Champions League di musim pertama, dan keluar sebagai juara Champions League di musim ketiganya. Wow! Sayangnya pernyataan tersebut jauh dari kenyataan… Arteta dan Arsenal akhirnya menerima kenyataan bahwa kualitas timnya tidak bisa ditutup dengan satu dua pemain senior, dan sekarang Arsenal memilih jalur yang lebih terencana baik, dengan membangun pondasinya terlebih dahulu. Seperti yang sudah saya tulis di artikel sebelumnya:

Arsenal sepertinya sudah siap menempuh jalan yang lebih panjang agar peningkatan kualitas tim ini memiliki pondasi yang lebih kuat, beralih dari pembangunan tim instan dengan pondasi rapuh yang hasilnya terbukti mengecewakan. Arsenal memutuskan untuk membangun ulang tim. Pengalaman mengajarkan lebih sulit untuk “membentuk” pemain-pemain senior yang sudah “jadi” di klubnya masing-masing, apalagi untuk menyesuaikan diri mereka dengan style sepakbola yang berbeda yang diinginkan Arteta, seperti Positional Play yang menghasilkan sustainable pressure and possession

Transfer Window 2021/2022 – Saatnya Optimis? Part 3

Edu setelah berkonsultasi dengan manajemen Arsenal (Tim Lewis, Vinai) menginformasikan ke Arteta sekitar awal tahun ini rencana pembelian pemain dibawah 23 tahun sebagai bagian dari planning rebuilding Arsenal. Tentunya Arteta terkejut, karena ia tahu rencana ini butuh waktu lebih lama untuk berhasil sementara fans akan menuntut hasil jangka pendek pada dirinya. Namun manajemen meyakinkannya kalau ia akan diberi waktu untuk menggarap project ini. Mengembangkan tim muda ini menjadi tim yang bisa memainkan Positional Play tanpa target kembali ke Champions League segera. Dengan rencana baru ini baik Arteta dan Edu tidak lagi menyebut top four sebagai target finish musim ini. Mereka berusaha menurunkan ekspektasi fans. Di podcast yang menghadirkan Per Mertesacker sebagai pembicara (wajib ditonton), Per juga mengaku targetnya adalah dalam 2-3 tahun Arsenal bisa kembali ke Champions League dan bersaing serius untuk title Premier League.

Musim ini adalah soal meletakkan pondasi. Bagaimana tim ini bisa bermain dengan komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah mencerminkan tim Arsenal yang sesuai dengan reputasinya, by far the greatest team the world has ever seen. Memainkan sepakbola menyerang dengan pressing dan possession yang berkepanjangan. Tentunya Arsenal berharap bisa lolos minimal top six di akhir musim agar bisa kembali bermain di kompetisi Eropa namun saya yakin dalam hati Arteta dan pemain-pemain Arsenal, top four selalu menjadi incaran mereka (no pressure, team). Di akhir Desember nanti, kita bisa lihat sejauh apa posisi Arsenal dari top four, dibanding secara relatif dengan penampilan klub-klub lainnya.

Trust The Team

Terlepas dari keyakinan Anda terhadap kemampuan Arteta memimpin tim muda ini, Per Mertesacker mengatakan Trust itu sangat dibutuhkan dalam project rebuilding ini. Supporter mesti lebih sabar karena rencana ini memang akan butuh waktu, namun kita akan melihat indikasi adanya perbaikan sedikit demi sedikit seiring dengan waktu. Paling tidak gairah pemain-pemain muda berkarakter ini seperti Ramsdale dan Tomiyasu dalam membela tim ini akan sangat membanggakan. Tim ini akan mengalami masa-masa sulit juga seyogyanya tim yang berisi mayoritas pemain muda, dan di masa-masa sulit seperti itulah dukungan supporter sangat diperlukan. Trust the club and trust the team.

You always want the shortcut, you know, ‘bang’ straight back into the Champions League, straight back into being successful,

I think even myself, realising and working now with the academy, going more long term and developmental, I think we see kind of similar-ish traits in the first team, and I hope that Mikel gets the time that he needs.

I want to be successful tomorrow, I want to go back in the Champions League tomorrow, I want to speak to people and say, ‘listen, we have got the best club in the world who challenges for titles every single year’. That’s not the reality. I think the earlier we get on the train of ‘we are in a big, big transition still’ [the better].

To have sustainable success there needs to be some trust. I’m all for trusting people. Mikel Arteta, and I perceive him to be the right person, lets give him the trust and the development squad that he can take to the next level that will achieve Champions League football, maybe in two to three years.

From a club person, that’s my take basically at the moment, because I’ve worked with Mikel very very closely.

I know how much he wants it, I know his work ethic, I know how intense the squad works at the moment to get to a better level. I think we all have to swallow disappointment at the moment, which I’m keen to change, but the environments that we are going to deliver in the next years will be key for our success.

The stakes are very very high, and I understand that there is a lot of criticism, but some people need to swallow that and try and grow with it, and Mikel is someone that does that.

Per Mertesacker on The Beautiful Game Podcast

Kalaupun misalnya Mikel Arteta tidak berhasil membawa tim ini ke level yang diharapkan, pelatih berikutnya akan mewarisi tim dengan profil pemain yang lebih baik daripada Arteta. Lebih muda, berkarakter positif, berbakat, dan mampu memainkan sepakbola modern ala Positional Play. Arsenal tinggal mencari pelatih modern yang bisa menerapkannya lebih baik (tentunya tidak mudah mencarinya). Inilah hasil planning rebuilding Arsenal yang matang, bukan hasil tambal sulam dengan membeli pemain-pemain tua sebagai stopgap solution. Pada akhirnya klub tetap akan memetik hasilnya, siapapun manager-nya.

Untuk saat ini, mari kita menikmati mendukung Arsenal tanpa beban.

Menikmati aksi Ramsdale, Tomiyasu, Gabriel yang berjibaku dalam duel bola-bola atas…

Menikmati umpan terobosan jarak jauh dari Ben White, Partey dan Odegaard…

Menikmati crossing akurat dari Tierney yang sayangnya hanya satu dari lima yang berhasil dimanfaatkan striker-striker kita…

Menikmati one touch football The Smith dan Saka sambil diiringi chant baru Smith and Saka yang fantastis itu…

Menikmati twist and shout Sambi di lini tengah sambil melupakan sideway dan back pass Elneny…

Menikmati gocekan Pepe yang ketika berhasil biasanya dilanjutkan dengan assist ataupun gol-gol fantastis… Ketika tidak, suara ahhh akan terdengar bersamaan di stadion…

Menikmati momen pertama kalinya Balogun membobol gawang lawan sebagai striker utama… dan berakhir sebagai striker utama tim ini di akhir musim.

Menikmati larinya Martinelli yang meninggalkan Cristiano Ronaldo, idolanya, yang terjatuh ala Kante di lapangan hijau…

Sambil di dalam hati kita meyakini bahwa tim ini akan menjadi lebih baik lagi. Tim ini akan sampai ke sana… Pantai seberang yang sudah lama kita tinggalkan semenjak lengsernya The Professor. Mudah-mudahan kali ini anak-anak didiknya (Edu, Mikel dan Per) yang akan berhasil menggantikan perannya sebagai nahkoda kapal tercinta ini.

Martin Ødegaard, The Creator-in-making

Featured

Yang mengikuti tulisan saya sejak lama tentunya tahu persis kalau saya sangat memuja Dennis Bergkamp, dan bahkan alasan awal saya menjadi seorang Gooner. Di blog ini bahkan ada bagian yang dikhususkan untuk-Nya (sayang saya belum sempat menulis lebih banyak lagi mengenai biografinya). Tidak hanya saya, sebagian fans Arsenal yang memuja-Nya memberi Bergkamp nick name God, The Creator (plesetan dari perannya sebagai pembuat peluang utama Arsenal). Bergkamp berada pada level yang berbeda dari para pesepakbola hebat di dunia, dalam hal filosofi sepakbolanya, pandangan hidupnya. Ia melihat sepakbola sebagai sarana untuk mencapai kesempurnaan, sesuatu yang bermakna lebih dalam daripada ketenaran dan harta.

“Arsène Wenger has an interesting view about this. He says: “It is a spiritual thing. I am convinced of that. I believe you have two kinds of players who play football. Those who want to serve football like you serve God, and they put football so high that everything that is not close to what football should be is a little bit non-acceptable. And then you have those who use football to serve their ego. And sometimes the ego can get in the way of the game, because their interest comes before the interest of the game.

Sometimes the big ego is linked with what we call strong personalities, charisma. But most of the time what people call charisma is just big ego. I believe that Dennis was one of those who had such a high idea of the game and such a respect for the game that he wanted that to be above everything. I believe that the real great players are guided by how football should be played and not by how football should serve them. If it becomes spiritual, it’s endless and you’re always driven to going higher and getting closer to what you think football should be.

Then Wenger gives the example of a player who knows he ought to pass but takes a massive gamble and scores. “If he really loves the game he’ll go home and worry about it. He’ll know he really should have passed to set up an easy chance for someone else. But he was selfish and got lucky. If he doesn’t care about the game he’ll go home and think: ‘That was great – I’ll do the same next time.’

And he says that’s the difference. “That’s why you have to teach the kids to respect the game and treat the game a little bit like a religion, that is above you, where you want to serve the game.”

Bergkamp in his biography – Stillness and Speed

Bergkamp memiliki pandangan yang sama dengan Wenger, bahwa the game semestinya berada di atas egomu, yang membuatnya ingin “melayani”-nya bak seorang hamba yang melayani Tuhannya. Becoming the servant of the game. Sementara sebagian besar pesepakbola memiliki apa yang disebut big ego, individualis, bagaimana menjadi yang terbaik di lapangan hijau.

Selama saya mendukung Arsenal, hanya ada satu pemain yang menurut saya layak mewarisi tahta Bergkamp di klub tercinta. Di salah satu artikel di blog lama saya, “Ketika Sang Creator Menemukan Putra-Nya”, saya menuliskan tentang pandangan Bergkamp tentang Mesut Özil.

“Behind every pass there must be a thought.

Özil knows exactly how to control the ball in what kind of space to give himself time. That’s the difference between the players and great players. With his intelligence and his touch and his skills, he is trying to do something right with every ball.”

“With that pass it seems like Özil was already calculating what the next pass should be. So he puts the ball on the side which means Giroud’s only option is to pass it to the third player. The point is that there is a thought behind that pass. You see that with his control and his movement and that’s what I like.

With all the respect to the other Arsenal players, I think he is the one who can make a difference. The other players are good in midfield. But you need someone of a high-level you can be good in all areas of the pitch.”

Dennis Bergkamp on Mesut Özil

Bergkamp bisa melihat kalau Özil memiliki visi yang dapat melihat beberapa langkah ke depan, termasuk pilihan gerakan berikutnya dari rekan se-timnya. Kemudian dengan kontrol yang akurat ia memberikan operan yang “mengatur” gerakan berikutnya dari penerima bola. Ada tujuan di balik setiap operannya. Dan Bergkamp juga menjelaskan mengapa kejeniusan Özil ini akan membawa perubahan pada permainan Arsenal secara keseluruhan:

“It looks like it’s a relief to the other players. ‘Oh yes this is what we want’, ‘Oh this is a great ball’. They are adapting to Özil, and moving into spaces where before maybe they didn’t do that because maybe they weren’t expecting the ball.”

Mesut Özil kemudian membawa Arsenal memenangkan FA Cup sebanyak 3 kali, mengakhiri paceklik trofi selama 9 musim. Namun ia tidak pernah benar-benar berhasil menjadi pengganti Bergkamp dan tidak mengalami happy ending yang sama dengan Bergkamp di penghujung kariernya di Arsenal karena berbagai faktor yang pernah kita kupas di sini.

Sekarang, 8 tahun semenjak Mesut Ozil bergabung dengan Arsenal, kita menemukan kutipan yang hampir mirip dengan apa yang dikatakan Bergkamp mengenai Özil.

“He needs players around him to follow and understand him because the moment he has time on the ball he’s a real threat.

“He glides players together. He attracts players. He’s really confident on the ball. He can take the ball anywhere on the pitch and he gives us that continuity. I think tonight he was really good.”

Mikel Arteta on Martin Ødegaard

Child Prodigy from Drammen

Martin Ødegaard lahir di Drammen, sebuah kota kecil di Norwegia, tidak jauh dari ibukotanya Oslo. Ayahnya Hans Erik Ødegaard juga seorang pesepakbola. Sebagai pengagum John Arne Riise, ia tumbuh menjadi pendukung Liverpool. Kariernya meroket pesat di usia yang sangat muda. Hanya berusia 15 tahun, ia telah memulai debutnya di liga profesional Norwegia, bermain untuk klub Strømsgodset. Di usia yang sama, tepatnya 15 tahun dan 253 hari, ia melakukan debut untuk timnas senior Norwegia melawan UAE. Sebagai perbandingan, Fabregas melakukan debut timnasnya di usia 18 tahun dan Saka di usia 19 tahun. Video di bawah ini menceritakan dengan baik bagaimana Ødegaard mengguncang dunia sepakbola di usianya yang sangat muda dan hype seputar dirinya.

Documentary: The Phenomenon Martin Ødegaard

Semuanya berjalan demikian sempurna untuk Ødegaard. Belum genap 16 tahun, ia diincar tidak kurang dari 30 klub Eropa. Klub pujaannya, Liverpool mengundangnya untuk latihan bersama tim utamanya di awal Desember 2014. Dalam latihan tersebut ia melakukan nutmeg terhadap Joe Allen. Kemudian ia ditemukan sedang makan bersama Coutinho di restoran, bagian dari rayuan Liverpool untuk meyakinkannya bahwa klub itu yang terbaik untuk perkembangan dirinya.

Ødegaard berlatih bersama Liverpool, Des 2014

Tak hanya Liverpool, ia juga mengunjungi Manchester United, bertemu Van Gaal dan melakukan tur seputar Old Trafford dan Carrington, training ground mereka. Kemudian ia mengunjungi Arsenal yang telah memiliki Özil dan Manchester City. Di Jerman, ia diundang ke Bayern Muenchen dan bergabung dalam sesi latihan di bawah Pep Guardiola. Chairman dari Bayern, Karl-Heinz Rummenigge memujinya sebagai talenta yang luar biasa dan berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan Ødegaard. Ajax Amsterdam tidak mau ketinggalan. Manager saat itu, Frank de Boer mengatakan kepada media Norwegia, “Sangat luar biasa melihat pemain yang bermain demikian baik di usia demikian muda… Jika ia harus memilih, Ødegaard sebaiknya memilih Ajax.”

Namun tak ada klub yang menyamai apa yang dilakukan Real Madrid untuk memboyongnya. Tak mau kalah dengan Barcelona yang juga mengundangnya ke La Masia, Madrid mengirimkan private jet ke Norwegia untuk menjemputnya untuk melihat kompleks latihan mereka di Valdebebas. Mereka menjanjikannya tempat baginya di tim utama. Seminggu sebelumnya ayahnya telah diundang ke klub sendirian. Ayahnya ditawarkan pekerjaan untuk menjadi pelatih di Madrid sebagai bagian dari charm offensive untuk meyakinkan Odegaard memilih Madrid daripada sekian banyak klub besar Eropa lainnya yang berminat kepadanya.

Akhirnya di bulan Januari 2015, Ødegaard yang baru berusia 16 tahun melakukan lompatan yang hampir tak masuk akal dalam karier seorang pesepakbola, langsung dari Strømsgodset ke klub terbesar di dunia, Real Madrid. Tentunya ia memilih Madrid dengan harapan ia bisa berlatih dengan bintang dunia, didukung oleh fasilitas terbaik, agar bisa berkembang menjadi pemain yang sesuai dengan prediksi media dan banyak scout klub besar Eropa saat itu, the new Lionel Messi. Awal karier yang sempurna, sejauh ini.

Life is not a fairy tale

Apabila babak awal sepakbola pro-nya demikian sempurna, babak berikutnya dalam kehidupan seorang Ødegaard tidaklah seindah itu. Roda kehidupan berputar dan Ødegaard benar-benar mengalami bagaimana berada di atas dan di bawah. Ia tak berhasil menembus tim utama Madrid yang penuh bintang, dan selama 2 tahun hanya bermain di tim cadangan, Real Madrid Castilla. Pemain yang masih sangat muda itu pun mendapatkan kritikan dari media. Banyak berita miring mengenai dirinya yang memilih berlatih dengan Ronaldo daripada tim cadangan Madrid. Banyak pemain muda lainnya yang cemburu dengannya. Hype tentang dirinya pun mulai menurun. Bahkan keraguan mulai muncul, apakah ia memang pemain yang bertalenta hebat?

Demi perkembangan dirinya, dan menjauhkannya dari pusat perhatian media di Madrid, ia kemudian dipinjamkan ke Belanda, klub bernama Heerenveen selama 18 bulan. Di klub ini performanya tidak begitu baik, sehingga loannya dilanjutkan ke Vitesse selama 1 musim penuh. Di Vitesse, Ødegaard mulai menunjukkan mengapa ia disebut pemain berbakat. Tampil sebanyak 39 kali, ia memberikan 11 gol dan 12 assist. Pemberitaan mengenai dirinya kembali mencuat di media dan saat itu ia berusia 20 tahun.

Musim 2019/2020 Ødegaard kembali ke La Liga namun kali ini berbaju Real Sociedad. Awalnya loan di Sociedad direncanakan selama 2 musim penuh (2019-2021), namun karena ia bermain sangat baik di Sociedad di musim loan pertamanya (termasuk saat menang 4-3 lawan Madrid), sampai dinilai sebagai pemain terbaik di La Liga sebelum lock down (karena setelahnya ia mengalami cedera), Real Madrid memutuskan untuk memanggilnya kembali di awal musim 2020/2021. Setelah 5,5 tahun bermain di tim cadangan dan berbagai klub pinjaman, akhirnya Ødegaard dirasakan siap untuk tampil di tim utama Madrid, demikianlah rencananya. Bagi Ødegaard, ini seperti terang yang terlihat di ujung terowongan yang panjang, lima setengah tahun lamanya.

Statistik Progressive Passes Ødegaard saat loan di Sociedad, lihat siapa pemain di sebelahnya

Namun dewi fortuna sepakbola kembali membuat skenario yang berbeda. Cedera dan penampilan yang tidak memuaskan membuat Ødegaard hanya bermain sebanyak 7 pertandingan dan hanya selama 232 menit (2,5 full match) selama separuh musim. Frustrasi, Ødegaard minta ke Madrid untuk dipinjamkan kembali ke Sociedad. Arsenal mencium bau darah… Klub yang sempat tertarik serius dengannya, dan terus mengikuti karier Ødegaard semenjak itu memiliki koneksi yang baik dengan Sociedad, tempat Monreal bermain, yang juga terletak di kampung halaman Arteta. Edu dan Arteta bergerak cepat, tak akan sia-siakan kesempatan emas ini. Dari sekian banyak klub besar yang mengincarnya sejak muda, hanya Arsenal bergerak dahulu untuk mengamankan Ødegaard dengan status pinjaman separuh musim. Ødegaard yang awalnya memilih Sociedad, akhirnya berhasil diyakinkan oleh Arteta dan Edu bahwa masa pinjaman separuh musim di Arsenal ini akan membuatnya menjadi pemain yang lebih baik dan dijamin tidak akan membuang waktu kedua belah pihak.

I spoke to him before coming here, of course. That was very important for me and he seems like a top manager and I really liked his ideas, the way he sees football and also the way he is. He gave me a great feeling and that was important for me to come here. He was crucial.

Ødegaard on Arteta

Yeah I was here. I visited the club and trained a little bit. I had a chat with the club and I had a really good feeling when I was here. I was thinking a lot about it. In the end it wasn’t my decision at that time, but I had a really good time and I remember it well.

When I was here the first time, I had a good feeling and every time I heard about the club, I had a good feeling. Now I’m here, so I think it’s maybe meant to be.

Ødegaard on visiting Arsenal as a 15 years boy

Dari wawancara pertama Ødegaard tersebut, kita bisa merasakan bagaimana ia dengan jujur mengatakan bahwa ia merasakan ada koneksi dengan klub ini, bahkan sejak kunjungan di bulan Desember 2014 itu. Setiap ia mendengar atau membaca berita tentang Arsenal, ia merasakan hal yang baik. Tentu adanya Monreal di Sociedad mungkin juga berpengaruh (we know how f*ckin legend Nacho was), Ødegaard berkesimpulan kalau mungkin inilah Jalannya.

Kita kemudian tahu bagaimana lanjutan ceritanya. Selama masa pinjaman 6 bulan tersebut, Ødegaard menjadi pemain kunci Arsenal yang berhasil memperbaiki form Arsenal (silakan baca ulasan musim tersebut), bersama para pemain muda andalan, Emile Smith Rowe dan Saka. Kehadirannya membuat Arsenal dapat menciptakan peluang-peluang yang lebih berkualitas dan banyak, tidak lagi mengandalkan spamming crossing dari sayap. Ia mampu mengisi ruang kosong kreativitas yang ditinggalkan Özil. Yang mengejutkan dari Ødegaard adalah ia juga mampu melakukan pressing dengan baik, gigih dalam duel, dan vokal di lapangan hijau. Berbeda dengan Özil dan Bergkamp yang lebih diam di lapangan, Ødegaard lebih banyak bersuara. Tak heran dalam usia yang masih muda pula (22 tahun), ia telah diangkat menjadi kapten timnas Norwegia.

Where He Belongs

Setelah selesai masa pinjamannya, Arsenal dan Ødegaard merasakan chemistry yang kuat, dan ingin melanjutkan perjalanan ini bersama. Sayangnya Real Madrid punya rencana lain dan ingin mempertahankan Ødegaard, apalagi karena Ancelotti menggantikan Zidane, pelatih yang tidak cocok dengan Ødegaard. Ia sempat mengutarakan maksudnya untuk bergabung dengan Arsenal namun Madrid tidak senang dengan ide tersebut dan menolaknya. Ødegaard pun menuliskan pesan perpisahan kepada rekan-rekannya dan fans Arsenal yang cukup emosional. Sampai saat itu, saya pribadi masih yakin kisah Arsenal dan Ødegaard ini belum berakhir.

Pre-season dimulai dan saya menonton salah satu match pre-season Real Madrid (demi Ødegaard tentunya) dan di sana bisa terlihat disconnect, tidak nyambungnya Ødegaard dengan rekan-rekan setimnya. Ia tidak menjadi pemain yang kita tonton selama 6 bulan berbaju merah putih. Ia seperti tidak belong ke tim itu. Real Madrid tentunya juga merasakannya dan akhirnya mereka memutuskan untuk cash in pemain yang masih bisa dijual tinggi ini dan untuk membiayai transfer Mbappe yang juga merupakan kesempatan emas bagi mereka. Arsenal tentunya menjadi klub pertama yang diinformasikan Ødegaard dan Madrid mengenai keputusan ini. Kesabaran dan keyakinan yang berbuah manis karena Arsenal akhirnya berhasil membeli permanen target utama kita di transfer window musim ini.

With hindsight, keputusan Arsenal untuk tidak menindaklanjuti bid pertama ke Emi Buendia adalah blessing in disguise. Sekarang kita mendapatkan Ødegaard dengan harga yang kurang lebih sama dengan yang dibayarkan Aston Villa untuk Buendia (30 juta pounds ++). Tanpa bermaksud menghina Buendia, Ødegaard adalah pemain yang berada di level yang sangat berbeda. Bakatnya sejak usia muda tidak akan hilang begitu saja. Dengan kerja keras dan berada di lingkungan yang tepat, Ødegaard yang memenuhi potensinya yang luar biasa dapat menjadi pemain kelas dunia yang setara legenda manapun dalam sejarah sepakbola. Itu adalah tantangan baginya dan Arsenal, untuk ciptakan kondisi baginya untuk memenuhi potensi dirinya, to live up to the hype enam tahun silam.

I said the last time, that you know every time I heard about the club I had a good feeling and I said maybe it was meant to be and I’m here again, so I guess it is.

Ødegaard on his second time joining Arsenal, this time permanently.

The Creator-in-making

Melihat caranya bermain, aksinya di lapangan, ingatan saya kembali kepada sosok pemain legendaris, pemain terbaik Arsenal sepanjang sejarah (subyektif – saya tahu). First touch-nya, gerakannya dengan bola, dribblenya yang simple dan kemudian visinya dalam melihat gerakan rekannya dan untuk menemukan mereka dengan operan akurat. Ødegaard saat ini belum berada pada level Özil apalagi disamakan dengan The Perfect Ten, Dennis Bergkamp. Namun kita bisa melihat potensinya, bayangan DB10 dalam dirinya. Mata yang telah mengikuti Arsenal selama 23 tahun ini tidak akan bohong. We recognize quality. Bagi saya, Martin Ødegaard adalah marquee signing, pembelian terbesar Arsenal di transfer window musim ini. Bahkan bisa dianggap a steal mengingat harga yang mesti dibayarkan Arsenal untuknya (setara dengan Xhaka, Mustafi, 5-6 tahun lalu).

Kita mesti bersyukur akhirnya pemain berbakat ini, walaupun mesti detour selama 6,5 tahun ke Spanyol, Belanda, balik lagi ke Spanyol, sekarang menemukan rumahnya di North London, where he belongs. Bila Dennis Bergkamp bergabung dengan Arsenal di usia 26 tahun, dan menjalani karier di Arsenal selama 11 tahun, Mesut Özil di usia 24 tahun dan menjalani 7,5 tahun kariernya di Arsenal, Martin Ødegaard bergabung dengan Arsenal di usia yang lebih muda lagi, 22 tahun. Ia akan menjalani usia keemasannya bersama Arsenal dan sangat mungkin akan menyamai atau bahkan melebihi lama kariernya Bergkamp di Arsenal. Kita sebagai fans Arsenal akan menikmati 5-10 musim ke depan dengan sepakbola kreatif di mana Ødegaard menjadi technical leader. Disokong dengan Saka dan Emile Smith Rowe yang tidak kalah menariknya. Hanya membayangkan itu saja membuat saya sedikit merinding. We’ve got our Arsenal back!

Saya yakin Martin Ødegaard adalah The Creator-in-making, pewaris tahta sejati The Perfect Ten. Semoga saja takdirnya memang menemukan Jalan melayani Tuhannya (the game) di Arsenal.

Transfer Window 2021/2022 – Saatnya Optimis? Part 3 (The Final)

Featured

Link Part 1

Link Part 2

Terima kasih kepada para pembaca yang telah setia mengikuti serial ini sampai di Part 3 ini. Kita telah sampai ke penghujung “cerita”. Tenang saja, bagian final dari tulisan panjang yang mengulas Transfer Window 2021/2022 ini tidak akan saya buat menggantung. Tulisan ini akan saya tutup dengan prediksi saya mengenai akhir dari transfer window Arsenal ini, yang deadlinenya jatuh pada tanggal 31 Agustus nanti, tepat sebulan dari hari ini. Arsenal baru saja mengumumkan transfer Ben White kemarin, namun Arsenal belum selesai. Masih banyak pergerakan di TW yang akan terjadi dalam satu bulan ini dan semuanya akan diulas di bagian terakhir serial ini.

Ben White dan Profil Pemain Incaran Arsenal

Dear fellow Goonerettes, how’s Ben White, is he cute?

Mari kita coba pahami dulu mengapa Arsenal membeli Ben White seharga 50 juta pounds, nilai yang sangat tinggi untuk ukuran seorang CB di PL, apalagi untuk ukuran klub Arsenal yang bukan sugar daddy club. Hanya Pepe dan Aubameyang yang nilai transfernya lebih tinggi dari Ben White sepanjang sejarah Arsenal. Ini adalah statement of intent bahwa Arsenal punya uang dan serius untuk memperbaiki kualitas skuad musim ini.

“Ben has been a key target this summer. He has so many qualities which make us so excited he’s joining us. Ben’s a young English player with a great future. He’s very strong defensively, good on the ball with a great passing range. We’re delighted Ben’s signed and we look forward to him growing with us.”

Edu

“Ben was a top target for us and it’s great that we’ve completed his signing. Ben has been educated with two very good clubs, Brighton and Leeds, in recent seasons. He has benefitted well from two very good coaching set-ups and has shown with both Brighton and on loan with Leeds what a strong talent he is. 

Ben is an intelligent defender who is very comfortable with the ball at his feet and his style fits perfectly with us. And of course, he is still young, so his age and profile fits with what we are building here. We are all looking forward to Ben being central to our future long-term plans.”

Mikel Arteta

Saya pertebal pernyataan Edu dan Arteta bahwa usia Ben White sesuai dengan profil pemain tim yang sedang Arsenal bangun. Saat Arsenal terancam dan kemudian beneran tersepak dari Champions League, Arsenal memilih jalur pintas, shortcut untuk segera kembali ke Champions League lagi dengan membeli pemain yang lebih senior dan berpengalaman. Ini yang biasa disebut stopgap solution (solusi yang bersifat sementara). Pemain senior (di atas 26 tahun) yang dibeli antara lain mulai dari Aubameyang dan Mkhitaryan (di paruh musim terakhir Wenger), kemudian Leno, Sokratis, Lichtsteiner, David Luiz, Cedric Soares, Willian, dan Thomas Partey. Langkah ini terbukti tidak berhasil membawa kembali Arsenal ke level Champions League. Arsenal sudah tidak bermain di Champions League selama 4 musim. Alih-alih mengangkat moral tim dan mengubah mentalitas tim menjadi tim juara, sebagian besar pemain senior ini justru mengecewakan penampilannya dan bahkan Arsenal di musim lalu harus diselamatkan oleh pemain-pemain muda jebolan Hale End, seperti Bukayo Saka dan Emile Smith Rowe. Belajar dari pengalaman tersebut, Arsenal lalu mengubah strategi transfer untuk musim ini.

Saat Arsenal terancam dan kemudian beneran tersepak dari Champions League, Arsenal memilih jalur pintas, shortcut untuk segera kembali ke Champions League lagi dengan membeli pemain yang lebih senior dan berpengalaman. Stopgap solution.

Arsenal sepertinya sudah siap menempuh jalan yang lebih panjang agar peningkatan kualitas tim ini memiliki pondasi yang lebih kuat, beralih dari pembangunan tim instan dengan pondasi rapuh yang hasilnya terbukti mengecewakan. Arsenal memutuskan untuk membangun ulang tim. Pengalaman mengajarkan lebih sulit untuk “membentuk” pemain-pemain senior yang sudah “jadi” di klubnya masing-masing, apalagi untuk menyesuaikan diri mereka dengan style sepakbola yang berbeda yang diinginkan Arteta, seperti Positional Play yang menghasilkan sustainable pressure and possession. Terbukti dengan Mesut Ozil yang kesulitan beradaptasi dan terpaksa dibuang dari tim, padahal ia adalah superstar dan pemain terbaik Arsenal untuk beberapa musim.

Selain itu Arteta ingin membangun kultur baru di klub ini, hal yang sudah dikampanyekannya semenjak pertama kali bergabung sebagai head coach. Kultur klub yang siap mengorbankan apapun demi meraih prestasi. Setiap pemain harus siap menderita bersama, bermain untuk satu sama lain, untuk kemudian menikmati hasilnya bersama. Dengan demikian ia dapat membangun identitas tim yang sesuai dengan value Arsenal – Victoria Concordia Crescit yang dikombinasikan dengan value non-negotiables-nya klub yang siap berkompetisi untuk juara (saya bahas di tulisan The Arteta Way dan Revolusi Mental Arteta). Untuk mengubah mental pemain, memang lebih mudah dilakukan terhadap pemain yang lebih muda. Semakin muda, semakin bagus.

Maka tidak heran 3 pemain yang baru bergabung dengan Arsenal adalah pemain di kisaran usia 20-23 tahun, inilah profil pemain incaran Arsenal di TW ini. Demikian juga nama-nama yang diisukan di media saat ini, semua berada di kisaran usia tersebut. Dengan pemain-pemain baru yang lahir di tahun 1997 ke atas tersebut, Edu dan Arteta dapat membangun tim baru untuk jangka panjang, yang akan memuncak dalam 3-4 tahun ke depan. Konsekuensi dari pilihan strategis itu adalah sebagai fans, kita harus lebih bersabar dalam memanen hasilnya karena seperti kata Wenger, pemain muda akan lebih inkonsisten, lebih banyak membuat kesalahan, faktor kurangnya jam terbang (ingat speech fenomenal-nya tentang Rob Holding?). Perlu waktu lebih lama untuk menyaksikan tim muda menjadi sukses. Tidak ada jalan pintas kali ini dan mereka butuh waktu. Fans harus memberikan tim ini waktu. Setelah beberapa tahun bermain bersama, kita akan menyaksikan tim yang menjadi greater than sum of its parts, kualitas timnya lebih besar daripada kualitas masing-masing pemain dijumlahkan, berkat chemistry yang kuat, ditopang pondasi values yang sama dan identitas sepakbola yang sama.

I’m sorry he didn’t cost 55 million so he can not be good…

Arsene Wenger on Rob Holding

Project Youth Mark II

Masih ingat kemenangan Arsenal 2-1 atas Barcelona di tahun 2011? Kemenangan Arsenal di kandang AC Milan tahun 2012? Arsenal musim 2007/2008 dengan Fabulous Four – Fabregas Flamini Rosicky dan Hleb? Sayangnya Project Youth Wenger saat itu gagal mendatangkan gelar karena timnya terpaksa dibongkar-pasang ulang sebelum sukses tercapai karena pemainnya dibajak klub yang lebih kaya (Arsenal harus menjual pemain demi bayar utang pembangunan stadion). Padahal jelas ada tanda-tanda bahwa tim yang dibangunnya saat itu akan siap bersaing di gelar juara liga, jika dapat dipertahankan lebih lama dan mereka tumbuh bersama. Bukan layu sebelum berkembang.

Kali ini Edu dan Arteta ingin membangun kembali tim dengan pondasi pemain muda berbakat, namun dikombinasikan dengan panduan pemain senior yang “lolos” revolusi mental Arteta. Perhatikan bagaimana Arteta tidak lupa menyebutkan pengaruh para pemain senior ketika ia memuji Saka, dan The Smith. Karena ia tahu bahwa pemain-pemain muda ini lebih mudah besar kepala, kemudian tersesat, tanpa bimbingan yang tepat dari pemain seniornya. Di tim ini musim lalu, David Luiz, Granit Xhaka dan Lacazette sering disebut oleh pemain-pemain muda Arsenal sebagai pemain senior yang banyak memberikan bimbingan kepada mereka. Selain itu, Aubameyang juga dekat dengan pemain-pemain muda ini yang dicontohkan dengan hadiah kalung berliannya kepada Little Chilly. Diharapkan dengan adanya keseimbangan yang pas antara pemain muda dan senior, tim ini bisa melalui masa transisi development ini dengan lebih lancar, untuk kemudian dalam 3-4 tahun mendatang menjadi tim yang super kuat dengan pondasi tim yang kokoh – para pemain muda berbakat yang masing-masing telah menjiwai Arsenal DNA, VCC dan Arteta’s Non-negotiables.

Ben White, Sambi Lokonga, dan Nuno Tavares masuk dalam kategori pemain muda berbakat tersebut. Selain itu mereka juga berkarakter kuat, hal penting lainnya yang dituntut Arteta dari pemainnya. Latar belakang Ben White yang bermain di 4 divisi di Inggris, naik satu divisi per tahun setelah dilepas oleh akademi Southampton di usia 16 tahun, sangat luar biasa. Belum lagi masalah kesehatannya sejak ia lahir sampai berusia 7 tahun, dan dapat ia lalui lewat usaha keras, bisa menjadi inspirasi kita semua. Yang tertarik mengetahuinya, bisa cek di thread Twitter saya di bawah ini.

Sambi Lokonga sendiri sudah menjadi kapten Anderlecht di usia yang sangat muda, dipercayai oleh Vincent Kompany, yang sendirinya adalah mantan kapten teladan. Nuno Tavares memiliki sejarah kontroversial sendiri sebagai pemain yang sangat outspoken, tidak sungkan mengeluarkan pendapatnya, walaupun saat itu tindakan tersebut merugikannya (ribut dengan fans Benfica dan terpaksa dijual klub). Mudah-mudahan ia bisa belajar dari pengalaman tersebut dan kemudian berubah di Arsenal.

Perlu waktu lebih lama untuk menyaksikan tim muda menjadi sukses. Tidak ada jalan pintas kali ini. Beberapa tahun bermain bersama, kita akan menyaksikan tim yang menjadi greater than sum of its parts.

Diharapkan dengan adanya keseimbangan yang pas antara pemain muda dan senior, tim ini bisa melalui masa transisi development ini dengan lebih lancar, untuk kemudian dalam 3-4 tahun mendatang menjadi tim yang super kuat dengan pondasi tim yang kokoh – para pemain muda berbakat yang masing-masing telah menjiwai Arsenal DNA, VCC dan Arteta’s Non-negotiables

Kembalinya Granit Xhaka

Dengan bergabungnya Ben White dan berita bahwa Granit Xhaka disodori perpanjangan kontrak baru di Arsenal karena AS Roma yang tak kunjung meningkatkan tawarannya (Mourinho sekarang melatih klub miskin…), maka saya terpaksa mengubah tabel skuad Arsenal saat ini yang sebelumnya dimuat di Part 1. Dari ulasan di Part 1 dan Part 2 kita telah mengetahui mengapa pemain yang saya warnai merah dan kuning itu termasuk pemain surplus yang ditargetkan untuk dilepas dan sebagian akan diganti dengan pemain baru yang lebih cocok dengan filosofi sepakbola Arteta.

Granit Xhaka adalah kasus yang menarik. Kita jelas tahu Arteta ingin meng-upgrade lini tengahnya dengan menggantikan Xhaka dengan CM yang lebih mobile dan komplit dalam hal menyerang dan bertahan seperti Locatelli dan Bruno Guimaraes (lihat grafik). Namun di sisi lain, kehilangan Xhaka hanya untuk uang receh 12 juta pounds yang ditawarkan Roma dirasakan tidak layak bagi Arsenal. Selain Granit Xhaka adalah deep lying playmaker yang berkualitas (dengan kekurangannya), ia juga adalah pemimpin yang bisa diandalkan, kapten sejatinya Arteta di lapangan hijau. Perginya David Luiz telah menyisakan kekosongan di dalam leadership tim. Belum lagi rumor kepergian Lacazette yang juga memegang peranan penting dalam leadership di tim ini. Bila Xhaka dan Laca pergi, maka Arsenal hanya akan memiliki Aubameyang, Tierney dan barangkali Holding sebagai leader tim ini yang tentunya berbeda jauh dengan pengaruh yang dimiliki Xhaka, Luiz dan Lacazette di musim lalu. Berdasarkan perkembangan terakhir ini maka saya mengubah warna Xhaka dari merah menjadi hijau di Tabel 1.

Tabel 1 – Skuad Arsenal sekarang

Dari Tabel 1 di atas, terlihat skuad utama Arsenal cukup gemuk dengan 30 pemain. Arsenal tidak akan punya masalah Home Grown dengan komposisi pemain sekarang. Terlebih kalau kita lihat beberapa pemain non HG akan dijual sehingga akan tersedia slot yang cukup untuk pemain baru dan kita memiliki 6 pemain U-21 yang sudah dikategorikan pemain utama.

Sekarang kita ingin mengurangi jumlah skuad dari 30 pemain menjadi 24-26 saja karena Arsenal tidak berkompetisi di Eropa. Dari 6 pemain merah yang akan dikeluarkan, yang perlu dicarikan penggantinya adalah posisi GK, RB, dan CM (nomor 10). Bila 5 pemain kuning juga dikeluarkan, maka Arsenal perlu menambah 2 pemain lagi di posisi CM (box to box) dan CF. Jadi max total 11 keluar dan 5 masuk dalam satu bulan ke depan. Mari kita runut rumor nama-nama pemain baru untuk 5 posisi tersebut:

  • GK: Aaron Ramsdale (>30 juta pounds kalau Arsenal ingin go big and go young, kiper yang akan menggantikan Leno musim berikutnya), Sam Johnstone (12-15 juta pounds kalau Arsenal hanya mencari kiper kedua sebagai back up Leno). Keduanya berstatus Home Grown.
  • RB: Max Aarons (25 juta pounds), Mert Muldur (10 juta pounds)
  • CM: Manuel Locatelli (34 juta pounds), Bruno Guimaraes (35 juta pounds)
  • AMF: Martin Odegaard (35-40 juta pounds), James Maddison (60-70 juta pounds)
  • CF: Tammy Abraham (40 juta pounds), Lautaro Martinez (60-65 juta pounds)

Menghitung Budget Transfer Arsenal

Dengan banyaknya nama-nama yang perlu dibeli Arsenal, dan kurang lakunya pemain kita (contoh Xhaka) akibat berkurangnya kemampuan beli klub-klub di luar Premier League, maka kita akan bertanya-tanya darimana datangnya budget belanjanya, apalagi dengan owner yang terkenal pelit dan kondisi pandemi Covid-19 yang menyebabkan klub masih rugi kurang lebih 120-150 juta pounds per musim (laporan keuangan full satu musim 2020/2021 belum diterbitkan). Mari kita lihat catatan dan estimasi laporan keuangan Arsenal dari Arsenal Supporters’ Trust (AST) di tabel berikut ini.

Tabel 2 – Summary Financial Performance Arsenal (source: AST)

Akibat absennya pendapatan dari tiket stadion, Arsenal menderita kerugian 54 juta pounds di musim 2019/2020 (1/3 musim stadion kosong) dan kira-kira 150 juta pounds di musim 2020/2021 (full musim stadion kosong). Kalau kita lihat posisi cash 2020 yang hanya menyisakan 110 juta pounds dan estimasi kerugian 158 juta pounds di akhir musim 2020/2021, jelas Arsenal butuh cash injection untuk menanggung kerugian musim lalu sekaligus untuk biaya operasional musim ini. Untuk keperluan itu Arsenal telah meminjam dana 120 juta pounds dari Bank of England di bulan Januari 2021 dengan skema keringanan pandemi, bunganya sangat rendah, namun harus dibayar di bulan Mei 2021. Arsenal kemudian melalui guarantor KSE, meminjam uang lagi dari Barclays Bank senilai 120 juta pounds untuk melunasi utang dari Bank of England tersebut dan utang baru ini akan dicicil pembayarannya dalam jangka waktu yang lebih panjang (tidak jelas sampai berapa tahun). Bila utang dari Bank of England (pandemic scheme) tidak boleh dipakai untuk membeli pemain baru atau menaikkan gaji pemain, utang dari Barclays Bank ini tidak memiliki persyaratan seperti itu karena ini loan privat biasa dan aset sang pemilik (KSE) yang tidak terbatas pada klub Arsenal saja cukup untuk menjadi jaminan. Intinya kalau Arsenal gagal bayar, aset KSE lainnya bisa juga disita bila aset klubnya kurang (seperti kita tahu, aset klub hanyalah stadion dan training ground sementara pemain adalah aset yang sifatnya movable bukan fixed). Kesimpulannya Arsenal bebas menggunakan utang ini untuk transfer atau kontrak baru pemain di musim ini selain menutup biaya operasional.

Di tahun 2020, KSE juga melunasi utang stadion Arsenal senilai 184 juta pounds dan menggantinya sebagai “pinjaman” dari KSE yang harus dicicil Arsenal. Tentunya karena ia adalah pemilik klub, kapan cicilan tersebut harus dibayar ya sesukanya pemilik (contoh lainnya Roman Abramovich meminjamkan uang pribadinya kepada Chelsea sebesar Satu Milyar pounds dalam 10 tahun dan Chelsea gagal bayar sehingga utang ini di-write off oleh Roman). Dengan cara ini, KSE mengurangi beban biaya Arsenal untuk nyicil utang stadion sebelumnya yang sebesar 36 juta pounds per tahun. Secara total, KSE bisa dikatakan “meminjamkan” Arsenal uang sebesar 300 juta pounds dengan 120 juta utang ke bank dijamin mereka, dan 180 juta pinjaman dari KSE sendiri. Sebagai perbandingan, harga klub ini sendiri ditaksir sekitar 1,8 sampai 2 milyar pounds. Jadi pinjaman owner ini sudah sebesar 15% dari nilai asetnya, bukan angka yang kecil. Jadi Kroenke tidaklah se-“pelit” sangkaan kebanyakan fans Arsenal.

Pertanyaan berikutnya, apakah KSE akan menambahkan lagi cash injection di atas 300 juta pounds pinjaman ini yang sudah diberikan demi budget belanja Arsenal musim ini? Mari kita periksa bersama.

Anggaplah pinjaman KSE itu tak perlu dibayar dalam waktu dekat maka operasional Arsenal musim ini tinggal tergantung balance pendapatan dan pengeluaran. Dari tabel di atas, hitung-hitungan simple (tidak akurat karena cost tidak sama dengan cash) bisa diasumsikan cash Arsenal 110 + utang 120 – loss 150 akan menyisakan cash di awal musim ini kira-kira sebesar 80 juta pounds, yang terendah dalam beberapa tahun terakhir. Cash ini tentunya tidak boleh lebih rendah lagi karena masih ada kewajiban pembayaran transfer pemain sebelumnya. Pendek kata, Arsenal tidak boleh rugi lagi di buku musim 2021/2022 jika tidak ingin klub kehabisan cash alias terancam bangkrut.

Pendapatan Arsenal di musim normal dengan Champions League itu sekitar 420 juta pounds. Hadiah karena berpartisipasi di Champions League untuk klub PL minimal 50 juta pounds dan tim juara bisa membawa pulang total pemasukan sampai 80 juta pounds. Sedangkan partisipasi di Europa League hanya akan memberikan pemasukan sekitar 10-20 juta pounds. Maka tanpa kompetisi Eropa sama sekali musim ini dan anggaplah fans boleh memenuhi stadion kembali, maka pendapatan Arsenal musim ini akan ada di kisaran 380 juta pounds bukan 320 juta pounds seperti yang di-estimasi AST.

Nah sekarang perhitungan biaya. Biaya terdiri dari gaji pemain dan transfer pemain dan biaya operasional klub. Menariknya biaya transfer tidak dicatat full di satu musim. Contoh: bila sebuah klub membeli pemain senilai 50 juta pounds dengan kontrak 5 tahun, maka biaya yang dicatat di musim pertama adalah amortization-nya sebesar 50 dibagi 5 tahun = 10 juta pounds. Kemudian musim berikutnya juga sama akan dicatat 10 juta pounds, dan seterusnya sampai kontraknya berakhir. Dengan cara ini, bila Arsenal belanja pemain sebesar 200 juta pounds untuk musim ini dan rata-rata pemain barunya dikontrak 5 tahun, maka biaya belanja pemain untuk musim ini hanya akan dicatat sebesar 40 juta pounds, sebagai tambahan amortization di atas biaya amortization musim-musim sebelumnya. Kemudian setiap tahun Arsenal akan catat biaya amortization 40 juta pounds baru ini hanya sebagai akibat belanja pemain musim ini. Belanja pemain baru di musim berikutnya lagi akan menghasilkan biaya amortization tambahan di atas 40 juta yang dibebankan semusim. Saya menghitung dari daftar belanja pemain Arsenal dalam 5 tahun terakhir kira-kira biaya amortization dari transfer di musim-musim sebelumnya akan dicatat di musim ini sebesar 80 juta pounds, belum termasuk belanja musim ini. Ini yang menyebabkan Cost Arsenal naik semenjak musim 2017/2018 melebihi 400 juta pounds dan membuat Arsenal lebih besar pasak daripada tiang.

Karena biaya Arsenal dari amortization musim ini pasti nambah akibat belanja pemain baru, sederhananya kalau belanja 100 juta pounds maka amortization tambahannya 20 juta, belanja 150 -> 30 juta dan 200 -> 40 juta, 250 -> 50 juta maka untuk membalance biaya tambahan tersebut tanpa klub mengalami kerugian setiap tahunnya ada beberapa cara:

  1. Tingkatkan pendapatan dengan cara kembali ke Champions League, tambahan pendapatan otomatis sekitar 50-80 juta pounds. Menjadi juara Premier League juga akan mendatangkan tambahan hadiah uang 20 juta pounds untuk Arsenal dan efek domino pendapatan komersial yang akan nambah (sponsor lebih suka dengan klub juara).
  2. Kurangi beban biaya gaji. Dengan melepas pemain-pemain bergaji besar di musim lalu seperti Ozil, Mkhitaryan, Mustafi, Sokratis dan musim ini bila Arsenal juga menjual Lacazette dan melepas Kolasinac, saya prediksi akan ada penghematan dari segi gaji pemain sebanyak 30-40 juta pounds (Ozil sudah 18 juta pounds sendiri) sehingga biaya per tahun menjadi 400 juta pounds, belum termasuk amortization belanja pemain tahun ini. Biaya gaji pemain baru bisa di-offset dengan pemain lainnya yang akan dijual / loan out di musim ini juga dan karena Arsenal akan lebih banyak menjual pemain atau daripada membeli, saya asumsikan beban gaji pemain baru tidak akan menambah biaya per tahun ini.
  3. Pemasukan dari Profit penjualan pemain. Lihat baris Player Sales di Tabel 2, pemasukan ini dicatat terpisah dari Revenue. Ini sebenarnya dikategorikan sebagai non-operating profit. Cara hitungnya adalah harga jual dikurangi amortization yang tersisa. Contoh: Lacazette dibeli seharga 47,5 juta pounds, amortization per tahun 9,5 juta pound. Bila ia dijual sekarang (dengan sisa kontrak setahun) seharga 15 juta pounds, maka profit dari player sales menjadi 15 – 9,5 = 6,5 juta pounds. Yang dicatat di Player Sales menjadi 6,5 juta bukan 15 juta pounds. Tapi amortization cost-nya untuk musim ini juga menjadi 0 bukan 9,5 juta pounds. Untuk pemain muda jebolan akademi sendiri (tidak ada amortization cost) dan pemain yang sudah habis amortization costnya seperti Granit Xhaka, maka harga penjualan pemainnya akan dicatat langsung sebagai Profit from Player Sales.

Sekarang Anda sudah tahu resep rahasia menciptakan budget transfer Arsenal. Pertama, tingkatkan pendapatan sebagai rencana jangka panjang, big picture action. KSE menyimpulkan dengan mengangkat tim kembali ke Champions League, dan bersaing untuk juara PL, paling tidak Arsenal bisa menaikkan pendapatan sebesar 100 juta pounds dari 380 juta pounds musim ini ke level yang setara Liverpool dan Manchester City sekitar 460-480 juta pounds. Sangat realistis bila stadion penuh penonton. Dengan demikian hanya dalam waktu kurang dari 5 tahun, “pinjaman”-nya ke klub yang sebesar 300 juta pounds bisa dikembalikan. Sebaliknya, bila ia tak berbuat apa-apa sekarang, value klub akan semakin merosot (sudah dibuktikan oleh survey Deloitte terakhir) yang akan merusak nilai asetnya (investasinya rugi). Kemerosotan ini akan terjadi sangat cepat jika tidak dihentikan dan akan lama bagi Arsenal untuk bisa kembali bersaing di level top lagi (contoh Leeds United era 2000-an). Satu-satunya cara untuk kembali ke Champions League adalah dengan investasi yang tepat di tim pelatih dan pemain, tidak ada cara pintas lainnya.

Untuk jangka pendek, penghematan beban gaji yang sudah dimulai di musim lalu dan pemasukan dari profit penjualan pemain menjadi target Arsenal musim ini. Sayangnya kondisi lagi pandemi sehingga Arsenal harus cerdas agar potensial profit ini tidak tergerus oleh pasar yang terdepresi. Musim ini Arsenal berpotensi meraup profit Player Sales dari 80 juta pounds hingga 120 juta pounds. Supaya mudah hitungnya, saya anggap biaya amortization sisa pemain yang mau dijual tidak kita kurangi lagi di komponen biaya, sehingga profit from players sales bisa dihitung dari total harga jual pemain saja, untuk kesederhanaan estimasi. Sekarang kita coba kalkulasi sederhana:

  • Revenue = 380
  • Cost = 400
  • Operating Profit/Loss = -20
  • Finance Cost = minimal karena restrukturisasi utang KSE, anggap saja -15 per tahun untuk bayar ke Barclays Bank pinjaman yang 120 juta itu
  • Profit Player Sales = 80 (ambil yang minimum)
  • Maka Profit Sementara 2021/2022 = 380 – 400 – 15 + 80 = 45 juta pounds (sebelum biaya amortization baru dari belanja pemain musim ini)

Anggaplah Arsenal ingin balance di bukunya nol, maka kita bisa hitung budget belanja pemain (buying player, bukan net spending) musim ini dengan konversi Profit Sementara tersebut menjadi Amortisation per tahun, sehingga Budget Belanja musim ini menjadi 45 x 5 = 225 juta pounds. Mengejutkan? Apakah ini ilusi? Jelas tidak kalau Anda memahami rencana besar Arsenal dan mekanisme accounting klub sepakbola seperti yang saya jelaskan di atas. Namun ingat player sales sebesar ini tidak dapat terjadi setiap musim, sehingga di musim berikutnya biaya amortization sebesar 45 juta pounds ini harus ditutupi dengan pendapatan tambahan dari Champions League bukan dari player sales.

Prediksi Transfer Arsenal Berikutnya

Tentunya bila Arsenal memutuskan untuk belanja 225 juta pounds dan menjual minimum 80 juta pounds pemainnya sekarang, gambling ini hanya akan terbayar bila Arsenal masuk kembali ke Champions League musim depan. Saya yakin manajemen klub ini telah menjalankan hitung-hitungan ini dari musim lalu sehingga langkah-langkah seperti redundancies staff dan scout, melepas gratis beberapa pemain bergaji tinggi sudah dimulai dari musim lalu. Klub juga mencoba menaikkan pendapatan sebisa mungkin, termasuk lewat penjualan streaming game pre-season (haha segala cara mesti dimanfaatkan), dan kerjasamanya dengan token crypto untuk mendapatkan pemasukan baru dari global fanbase Arsenal. Namun semua ini hanya akan sukses bila skuad Arsenal musim ini dapat memanfaatkan absennya dari kompetisi di Eropa untuk fokus ke Premier League dan finish di top four. Kebangkitan di 24 pertandingan terakhir musim lalu (baca Part 2) dan keyakinan hadirnya perubahan positif yang telah dilakukan Arteta sejak ia bergabung di kultur dan atmosfer tim telah membuat manajemen klub dan pemilik Arsenal percaya dengan Arteta 100% dan memberikan ia cheque senilai 225 juta pounds untuk belanja pemain di TW ini. Angka ini tidak berbeda jauh dengan rumor yang sempat beredar bahwa KSE memberikan Arteta budget belanja musim mini hingga 250 juta pounds bukan? Selisih 25 juta pounds ini mudah saja tercapai jika Arsenal bisa mengoptimalkan penjualan pemain ke level 120 juta pounds.

Namun hitung-hitungan di atas juga berarti TW musim ini adalah spesial case dan tidak setiap musim ke depannya Arsenal bisa melakukannya. Jangan berharap Arsenal belanja 200 juta pounds lebih setiap musim, lebih realistik sekitar 100 juta pounds per musim (nambah sedikit kalau berhasil melangkah semakin jauh di Champions League). Arsenal melihat ini sebagai kesempatan emas di mana pasar terdepresi dan merupakan buyer market sehingga harga pemain pun turun dan persaingan berkurang untuk mendapatkan pemain. Ketika efek pandemi sudah berkurang, maka harga akan kembali normal. Selain itu dengan membeli pemain usia 21-23 tahun sekarang, dalam 2-3 tahun ke depan kita tidak terlalu membutuhkan banyak pemain baru, bisa lebih mengandalkan pada perkembangan pemain muda ini sebagai squad improvement yang terjadi secara natural.

Bisa kita katakan Arsenal benar-benar gambling di TW ini dengan Showdown ala poker di meja taruhan, dengan Arteta sebagai kuncinya. Luar biasa kepercayaan yang diberikan klub kepada manajer muda ini. Trust the process!

…dengan membeli pemain usia 21-23 tahun sekarang, dalam 2-3 tahun ke depan kita tidak terlalu membutuhkan banyak pemain baru, bisa lebih mengandalkan pada perkembangan pemain muda ini sebagai squad improvement yang terjadi secara natural.

Nah sekarang kita sampai pada bagian prediksi transfer saya. Ada dua skenario yang saya buat. Yang pertama adalah versi Optimis yaitu Arsenal sukses mengeksekusi semua rencananya di satu TW saja, dalam sisa sebulan terakhir menjual 9 pemain dan membeli 5 pemain baru. Skenario kedua adalah yang mungkin lebih Realistis, mengingat sulitnya penjualan pemain. Di sini saya prediksi Arsenal akan berhasil menjual 7 pemain dan membeli 3 pemain baru di sisa satu bulan ini. Kemungkinan sisanya akan dilakukan di Januari atau malah di musim depannya lagi.

Skenario 1 – Optimis

Tabel 3 – Prediksi versi Optimis

Player Sales senilai kurang lebih 120 juta pounds, sehingga budget belanja (buying power) Arsenal meningkat drastis sampai level 250 juta pounds, bahkan Tammy Abraham di daftar ini bisa diganti dengan Lautaro Martinez dengan tambahan 20-25 juta pounds, masih cukup. Kuncinya tentu ada pada kelihaian Edu dan Garlick untuk menjual Joe Willock di 25 juta, AMN dan Nelson di masing-masing 15 juta, dan Nketiah di 20 juta. Lacazette barter dengan Bruno Guimaraes + 25 juta cash. Bellerin barter dengan Lautaro Martinez dengan tambahan 45-50 juta cash. Kemudian Lucas Torreira dijual dengan minimal harga 10 juta pounds saja mengingat lesunya pasar Italia sekarang.

Untuk pemain yang dibeli, Odegaard harus dinego habis ke level 35 juta pounds dan Ramsdale dibeli dengan adds-on, basic transfer 25 juta pounds. Mert Muldur hasil hadiah dari Sassuolo karena kita membantu mereka agar tidak di-bully Juventus saat transfer Locatelli. Apabila Lautaro Martinez tidak berhasil digaet, maka Tammy Abaraham seharga 40 juta pounds dengan status homegrown dan ceiling yang tinggi juga atraktif. Apalagi ia memiliki atribut yang tidak dimiliki striker Arsenal sekarang (target man, heading, driving to the box, attacking the box).

Jumlah pemain menjadi 26 orang dengan komposisi 15 non HG dengan Tammy atau 16 non HG dengan Lautaro Martinez. Musim depan Nuno Tavarez akan makan jatah non HG maka penting buat Arsenal menyisakan minimal satu slot non HG sekarang. Kuota HG tidak masalah karena kita masih memiliki beberapa pemain U21 yang di musim-musim mendatang akan masuk ke kategori HG. Mau lebih jelas tentang aturan HG, silakan kembali baca Part 1.

Sementara itu Willian dan Cedric jika dijual tidak akan membutuhkan pengganti pemain baru, dan skuad akan menjadi lebih ramping dengan 24 pemain. Saya juga tidak mengharapkan pemasukan banyak dari penjualan kedua pemain ini namun cukup signifikan untuk penghematan biaya gaji pemain.

Skenario 2 – Realistis

Tabel 4 – Prediksi versi Realistis

Dengan basis yang sama dengan Skenario 1 namun di sini saya prediksi Arsenal gagal menjual Willock di harga yang diinginkan sehingga pemain ini dipertahankan. Kemudian swap Lacazette dan Bruno Guimaraes gagal karena Arsenal juga tidak berhasil mendatangkan striker baru. Yang masuk Odegaard, Ramsdale dan Mert Muldur. Pertimbangannya tentunya dengan kembalinya Granit Xhaka, Arteta mungkin merasa dengan adanya 4 CM saat ini dan Sambi sepertinya cukup meyakinkan untuk tampil di Premier League, CM baru belum diperlukan, bisa disimpan untuk winter TW atau musim mendatang. Demikian juga untuk Lacazette yang walaupun kontraknya tersisa satu tahun, namun leadershipnya yang bagus dan form-nya yang sedang baik-baiknya rasanya sayang dijual hanya demi pendapatan 10-13 juta pounds saja.

Pertimbangan lainnya dengan terlalu banyaknya perombakan skuad, bisa jadi tim bukannya menjadi harmonis, malah membutuhkan waktu lama untuk membangun ulang. Dengan skenario ini pun, Arsenal sudah kedatangan 6 pemain baru (satu pemain baru rasa lama dalam wujud Odegaard) sehingga angka 5 pemain baru ini masih terhitung ideal. Dengan total belanja sekitar 142 juta pounds, maka tambahan amortization setahun adalah 142 / 5 = 28.4 juta pounds saja, tidak terlalu membebani anggaran klub musim ini dan menyisakan budget belanja musim depan untuk modal tim yang berkompetisi di Champions League (semoga).

Dengan skuad versi skenario realistis ini, selama Partey tidak cedera dan Lacazette, Aubameyang bisa tampil lebih baik daripada musim lalu, saya optimis Arsenal bisa masuk ke top four di akhir musim ini. Kita sudah melihat indikasinya saat kita mengulas performa musim lalu di Part 2. Di pre-season ini saja kita bisa melihat The Smith yang makin berpengaruh terhadap tim, makin percaya diri. Pepe dan Partey yang semakin sharp. Tierney kembali menunjukkan agresivitasnya dan Sambi mengindikasikan pemain dengan prospek cerah, Partey versi muda. Belum lagi ditambah dengan Ben White dan Odegaard yang tentunya akan menambah daya gedor Arsenal. Malam ini kita bisa menyaksikan kesiapan tim ini memulai Premier League dalam friendly lawan Chelsea.

Apabila diperlukan pun, Arsenal masih bisa menambah daya gedor di TW Januari nanti dengan adanya amunisi yang masih tersedia.

Penantian dan Harapan

Satu bulan ke depan menjadi penentuan berhasil tidaknya gerakan Arsenal di jendela transfer ini. Pembelian ketiga pemain yang telah terjadi dengan nilai transfer signifikan, rumor yang beredar dan pernyataan dari jurnalis yang mengutip sumber dari dalam klub semua menunjukkan pada indikasi Arsenal akan belanja besar untuk musim ini. Tidak heran Pep Guardiola juga mengatakan Arsenal will invest next season, tentunya ia sudah bicara dengan Arteta dan rencana ini sudah dibuat sejak musim lalu, bukan karena reaksi instan KSE terhadap protes fans seputar Super League. Langkah ini sangat bisa dimengerti sebagai reaksi natural untuk memproteksi nilai asetnya dari kemerosotan lebih jauh. Kroenke tidak terlalu peduli dengan kritikan fans, bisa dilihat dengan niatnya memindahkan sebuah klub (The Rams) dari satu kota ke kota lain karena alasan komersial. Ia tak peduli protes penduduk satu kota sekalipun. Namun selama langkah ini membuat tim ini menjadi lebih baik dan Josh Kroenke ingin menggunakannya untuk PR dirinya di hadapan fans, kita sih setuju-setuju saja. Janganlah menjadi fans yang naif dan reaktif, jadilah fans yang mau berpikir lebih jauh dan memahami realita, maka Anda akan lebih berkurang penderitaannya dalam mendukung sebuah tim sepakbola.

Saya sangat gembira melihat rencana Arsenal (dan KSE) mendukung Arteta dengan tindakan yang ambisius ini dan bahwa Arsenal kembali mengandalkan pemain muda dalam proses rebuilding tim. Keberhasilan Arsenal mengikat masa depan pemain-pemain muda ini seperti yang telah terjadi pada Bukayo Saka, Gabriel Martinelli, Folarin Balogun, Kieran Tierney dan Emile Smith Rowe yang semuanya menandatangani kontrak 5 tahun menjadi bukti Arsenal tidak akan mengulangi kesalahan masa lalu di mana Project Youth buyar karena kegagalan Arsenal mempertahankan pemain-pemain muda seperti Hleb, Fabregas, Nasri, Adebayor, Song, dari incaran tim kaya.

Kita sebagai fans, juga mesti sabar dengan pemilihan jalan yang tidak pintas ini. Target pertama masuk ke top four dahulu karena selisih sekitar 14 poin dengan top four dari perolehan poin Arsenal musim lalu cukup jauh untuk dijembatani dalam satu musim. Safe number untuk top four adalah 75 poin sedangkan Arsenal hanya meraih 61 poin musim lalu. Kemudian musim-musim berikutnya barulah berusaha ke level angka 85-95 poin (naik lagi 10-20 poin, tidak mudah bukan?) yang artinya bersaing dengan kandidat juara PL. Namun kita juga tahu bahwa tim muda, semakin sering bermain bersama akan tumbuh bersama dengan satu tujuan – menjadi manifestasi sebuah tim sepakbola yang hebat, di mana the whole is greater than the sum of its parts.

Arsenal sekarang terlihat lebih punya planning matang dan lebih tahu cara mengeksekusi planningnya dengan benar. Satu visi dan solid dari manajemen atas hingga ke tim pelatih dan semua pemain. Mantan pemain Wenger memegang posisi-posisi penting di klub seperti Edu, Mertesacker dan Arteta. Hilang sudah outsiders seperti Raul cs dan saya optimis manajemen Arsenal sekarang bisa upgrade Arsenal DNA warisan Wenger dengan menjadi klub yang lebih kompetitif tanpa meninggalkan The Arsenal Way, Jalan Arsenal.

Semoga sebelum tepat ulang tahun ke-20 diabadikannya The Invincibles warisan terhebat Sang Maestro, Gooners di seantero jagat sudah bisa kembali merasakan Arsenal mengangkat trofi Premier League, di bawah pimpinan murid-murid andalannya. Bak sebuah cerita silat klasik.

Transfer Window 2021/2022 – Saatnya Optimis? Part 2

Featured

Lanjutan dari Part 1

Walaupun finish di peringkat delapan di musim 2019/2020, Arsenal mengakhiri musim tersebut dengan optimisme yang tinggi karena dua fakta:

  1. Juara FA Cup dengan mengalahkan tim yang di atas kertas lebih kuat, Manchester City dan Chelsea
  2. Form yang membaik setelah Project Restart, terutama setelah Arteta menggunakan formasi 3-4-3 (lihat Chart 1).
Chart 1 – Arteta’s Arsenal 2019/2020 PPG

Sedikit penjelasan bagaimana membaca Chart di atas. Rolling PPG (point per game) adalah akumulasi jumlah poin yang didapatkan dibagi dengan jumlah match yang telah dijalankan. Misalnya hasil 5 pertandingan adalah 3W 1L 1D maka jumlah poinnya menjadi 10, PPG = 10 : 5 = 2.00. Nah di musim 2019/2020 Liverpool finish di peringkat pertama dengan PPG 2.61 sedangkan Man United dan Chelsea di peringkat tiga dan empat dengan PPG 1.74. Area top four finish zone tersebut saya gambarkan di Chart 1 dibatasi oleh garis kuning horisontal yang menandakan PPG 1.74 dan garis hijau horisontal yang menandakan PPG 2.61.

Kemudian kita lihat kurva warna putih yang mewakili PPG Arsenal sejak match pertama hingga match ke-18 di bawah Emery dan Ljungberg. PPG nya semakin rendah seiring dengan berjalannya musim karena hasil buruk Arsenal. Ketika Arteta mengambil-alih posisi head coach Arsenal, tim ini terpuruk dengan PPG 1.28. Angka ini jika dikalikan dengan 38 pertandingan = 48 poin di akhir musim, jumlah poin yang biasanya diraih tim papan bawah yang sangat dekat dengan zona degradasi (magic number lolos degradasi di Premier League adalah 40 poin).

Agar kita bisa menilai masa kepelatihan Arteta dengan lebih adil, saya putus akumulasi PPG di match ke-18 dan mulai dari awal perhitungan PPG untuk Arteta’s Arsenal dari match ke-19. Hasilnya bisa Anda lihat sendiri di kurva warna merah. Arsenal mencapai performa puncak pas sebelum Covid-19 break, menyentuh PPG 1.70 yang artinya hampir masuk ke top four finish zone (secara teoritis karena secara faktual masih jauh dari Top Four dampak PPG di 18 pertandingan sebelumnya). Form Arsenal menurun setelah Covid-19 break, Arsenal kalah di dua pertandingan berturut-turut. Sebagai reaksi langsung, Arteta mengubah formasi ke 3-4-3 yang akhirnya menjadi faktor dalam perbaikan form Arsenal. Di akhir musim Arteta’s Arsenal memiliki PPG 1.65 dalam 20 pertandingan. Ini artinya jika kita tidak memperhitungkan 18 pertandingan sebelumnya, form ini secara teoritis adalah form tim peringkat kelima (Leicester yang finish peringkat ke-5 saat itu PPG-nya 1.63). Secara faktual Arsenal finish di peringkat ke-8 dampak hasil 18 pertandingan Arsenal sebelum masa Arteta.

Optimisme Awal Musim 2020/2021

Berbekal optimisme di atas, Arsenal pun menyusun rencana transfer untuk memperkuat skuadnya di musim berikutnya. Sayangnya jarak antara berakhirnya musim sebelumnya dengan dimulainya musim baru hanya 7 minggu. Musim 2020/2021 PL dimulai 12 September 2020 yang artinya klub tidak dapat melakukan pre-season yang memadai (kurang dari sebulan) sedangkan transfer deadline jatuh pada tanggal 5 October, 3 minggu setelah PL dimulai. Tentunya hal ini tidak menguntungkan Arteta yang belum memiliki waktu untuk drilling taktik yang diinginkannya di tim barunya.

Saya coba membayangkan apa yang ada di benak Arteta saat itu dan pemain-pemain baru di posisi apa yang dimintanya ke manajemen. Karena Arteta sudah tidak menginginkan Ozil lagi (tak pernah dimainkan setelah break Covid-19, silakan baca Part 1) dan juga Sokratis, ia akan prioritaskan AMF dan CB di daftar transfernya. Selain itu, ia juga tahu 3-4-3 hanyalah solusi sementara saat itu dan sangat sadar formasi ini tidak mampu menaklukkan tim yang menerapkan low block. Visi jangka panjangnya Arteta ingin memainkan 4-3-3 dengan tim yang dapat melakukan high-pressing, kontrol dan dominasi pertandingan terus menerus (Arteta menyebutnya sustainable pressure and possession). Guendouzi dan Torreira tak masuk dalam daftar pemain yang bisa diandalkannya untuk visi ini, yang satu karena masalah attitude, dan yang kedua karena kewalahan dengan kecepatan dan tinggi badan di Premier League. Sangat wajar bila CM yang anti-pressing dan lebih mobile daripada Xhaka dan Elneny (agar Arsenal bisa main high pressing) masuk di dalam puncak daftar pemain yang diinginkannya.

“I am not too concerned about the possession, it’s about how we attack the opponent’s box, how we generate situations to score goals, the dominance, how quickly we regain the ball, how close we do that to the opponent’s goal. It tells you how far we’ve come to be able to do that in an away ground against one of our biggest rivals. It shows the personality and what the team wants to do and it’s going to be a big part of our identity. But we are going to finish that having produced the three points and had the security that we can control and dominate games against any opponent.”

Mikel Arteta

Maka muncullah daftar transfer sebagai berikut:

  • AMF yang bisa bermain di 4-3-3: Aouar
  • CM box to box yang bisa bermain di 4-3-3: Ceballos, Partey
  • CB: Gabriel

Namun transfer plan bisa berubah seiring dengan pergerakan di pasar. Willian tiba-tiba tersedia karena Chelsea hanya mau menawarkan kontrak baru selama 2 tahun. Kia, sebagai agent Willian dan sangat dekat dengan Raul Sanllehi dan Edu, menawarkan clientnya ke Arsenal. Arteta melihat Willian bisa menjadi alternatif di RW yang kreatif, karena Arsenal butuh kreativitas yang hilang semenjak Ozil tidak dimainkan sementara Pepe tidak terlalu meyakinkan saat itu di posisi RW (ingat Saka belum dimainkan sebagai RW, lebih banyak sebagai LWB dan LW). Sepertinya solusi yang bagus, Willian pun yang pertama kali bergabung dengan Arsenal saat itu tanggal 14 Agustus 2020.

Sehari kemudian, berita mengejutkan muncul, Raul Sanllehi dipecat board Arsenal yang diwakili Tim Lewis, karena hasil investigasi internal menyimpulkan Raul menyalah-gunakan kekuasaannya saat melakukan transfer pemain Arsenal (harga Pepe yang jauh di atas harga pasar dan kemungkinan kickback dalam deal-deal yang dilakukan lewat perantara super agent). Tentunya pemecatan mendadak ini mengganggu rencana transfer Arsenal mengingat pentingnya posisi Raul saat itu dan Edu yang terpaksa harus mengambil alih peran Raul dalam transfer tersebut secara mendadak.

Dilema berikutnya muncul, Aston Villa memberikan penawaran untuk Emi Martinez yang sudah lama mengincar posisi kiper pertama, ditambah ambisinya untuk menjadi GK timbnas Argentina. Ditambah beban Edu untuk mengeluarkan pemain-pemain yang tidak lagi dibutuhkan Arteta seperti Ozil, Sokratis, Mkhitaryan (habis loan di Roma), Guendouzi dan Torreira. Begitu banyaknya daftar incaran pemain in dan out di TW saat itu membuat Edu kewalahan dan hasilnya kita tahu sendiri:

  • Emi dijual tanpa dapat pengganti yang sepadan. Runarsson dibeli hanya berbekal rekomendasi Inaki Cana, pelatih kiper dan akhirnya terbukti blunder.
  • Aouar gagal dibeli karena harga yang diminta Lyon melebihi ekspektasi Arsenal (Lyon minta 60 juta Euro sementara Arsenal hanya menawar 35 juta Euro).
  • Partey dibeli di deadline day lewat aktivasi release clause.
  • Untungnya, transfer Gabriel sudah dikerjakan lebih awal oleh Raul sehingga ia bisa bergabung di tanggal 1 September sebelum musim dimulai.
  • Ozil, Sokratis gagal dijual, Mkhitaryan dilepas free transfer, Guendouzi dan Torreira di-loan out dan Arsenal berhasil meminjam kembali Dani Ceballos untuk kedua kalinya. Nelson dan Saliba juga gagal dipinjamkan keluar padahal Arteta tidak yakin untuk start mereka berdua di musim tersebut.

Dengan kondisi semrawut seperti yang dijelaskan di atas, saya bisa memahami mengapa Edu dan tim rekrutmen Arsenal tidak berhasil mengeksekusi transfer planning Arsenal dengan baik di transfer window pertama musim tersebut. Hasilnya, Ozil dan Sokratis tidak dapat didaftarkan ke PL gara-gara pemain Non Home Grown yang lebih dua dari kuota yang diizinkan (17). Nilai transfer window ini bagi saya mungkin hanya 6, tertolong dengan bergabungnya Gabriel dan Partey. Edu belajar dari hal ini dan menerapkan semua pelajaran mahalnya di transfer window Januari 2021, dan semoga untuk TW berikutnya juga.

And it’s only getting worse from there

Memulai musim dengan memecat Head of Football (setara Managing Director levelnya) dan transfer window yang messy tentunya akan berdampak terhadap moral dan persiapan tim. Sisa optimisme musim lalu hanya berlanjut untuk tiga pertandingan: Di Community Shield menang penalti lawan Liverpool, dilanjut kemenangan di match pertama dan kedua PL lawan Fulham dan West Ham. Di ketiga pertandingan tersebut Arteta menggunakan taktik yang sama dengan akhir musim lalu, 3-4-3 dan build up play from the back yang stretching lawan (baca artikel Memahami Artetaball). Di pertandingan ketiga PL lawan Liverpool, Arsenal dibantai 1-3. Kekalahan telak ini terasa lebih mengenaskan lagi karena Liverpool melakukan pressing tinggi terus menerus tanpa henti dan lini tengah Arsenal yang diisi oleh Xhaka dan Elneny didominasi total oleh Liverpool. Kekalahan ini mengubah taktik Arsenal hingga sampai akhir musim, melepas kepercayaannya pada 3-4-3 yang sesungguhnya bukan taktik idamannya. Bisa kita lihat rangkuman hasil, formasi dan starting line up Arsenal di musim 2020/2021 di tabel berikut.

Tabel 1 – Hasil Pertandingan Arsenal 2020/2021

Dari tabel di atas, bisa dilihat bahwa Arteta kemudian mengubah formasi dari 3-4-3 menjadi 4-3-3 di pertandingan berikutnya lawan Sheffield United. Saka, Elneny dan Ceballos dimainkan di tengah. Arsenal menang 2-1 setelah struggling untuk mencetak gol di babak pertama. Dua gol di menit 60-an atas tim terburuk musim lalu akhirnya menghasilkan kemenangan. Di pertandingan berikutnya melawan mentornya yang pernah dikalahkannya di FA Cup musim sebelumnya, Arteta menggunakan formasi “baru”, 4-3-1-2 dengan Willian bermain sebagai nomor 10 atau false 9 (tergantung penafsiran yang nonton) menunjang dua winger Aubameyang dan Pepe.

Mengejutkan, walaupun Arsenal tertinggal 1-0 di menit 20-an (Sterling, our boogeyman), Arsenal cukup dapat mengimbangi City dengan menciptakan beberapa peluang. Penampilan gemilang Ederson mengamankan kemenangan City. Partey melakukan debut pertamanya di menit ke-83, 12 hari semenjak ia bergabung dengan Arsenal. Arteta cukup optimis walaupun kalah di pertandingan hari ini dan merasa formasi 4-3-3 ini cukup berprospek untuk dipertahankan.

Pertandingan berikutnya melawan Leicester City dengan formasi 4-3-3 berjalan cukup baik di babak pertama. Arsenal mencetak gol Lacazette yang dianulir wasit karena VAR (Xhaka di-vonis salah menghalangi pandangan kiper saat corner kick). Arsenal melakukan 11 tendangan ke gawang di babak pertama itu, penampilan terbaik di musim tersebut. Di babak kedua penampilan Arsenal menurun dan counter attack cepat Leicester di mana Xhaka (dan siapa lagi kalau bukan Mustafi) melakukan kesalahan positioning sehingga terlambat tracking back pemain lawan, berbuah dengan gol satu-satunya di pertandingan tersebut, yang dicetak oleh Vardy (another boogeyman). Hasil yang tidak beruntung untuk Arsenal yang mendominasi pertandingan ini terutama di babak pertama.

Melawan Man United, Arteta tidak memainkan Xhaka (mungkin karena kesalahan lawan Leicester yang fatal) dan memilih menggunakan midfield three Partey – Elneny dan Saka dalam formasi 4-3-3. Duo pivot Partey-Elneny bermain dengan sangat baik dan Arsenal mendominasi pertandingan di kandang MU ini dan layak menang walaupun gol satu-satunya didapatkan dari penalti Aubameyang (berkat kegugupan Pogba yang tackle Bellerin). Walau demikian di sepanjang pertandingan peluang demi peluang dihasilkan The Gunners yang membuat kita makin yakin dengan formasi 4-3-3 ini. Dua kekalahan tidak beruntung dan satu kemenangan layak, rasa optimis pun lahir kembali.

Namun optimisme tersebut segera padam dengan hasil 7 pertandingan berikutnya tanpa kemenangan (5L 2D artinya hanya 2 poin dari 21 poin yang dapat diraih!). Melawan Aston Villa, Xhaka kembali tidak dimainkan dan Arteta memilih formasi yang sama saat lawan Man United, sayangnya Arsenal kebobolan lebih awal berkat own goal Saka dan Partey cedera di babak pertama sehingga tidak bisa melanjutkan ke babak kedua, diganti oleh Ceballos. Di sini mulai kerasa ketimpangan lini tengah Arsenal dan Villa mencetak 2 gol di babak kedua, hasil counter attack. Selain kebobolan 3 gol, Arsenal juga tak mampu membangun serangan yang berarti di babak kedua.

Kita akan mengenal periode ini di mana Arsenal mengkhianati jati dirinya, tim yang berubah menjadi tim spamming crossing akibat absennya kreativitas dan dominasi di lini tengah.

Selain kehilangan besar Partey di tujuh pertandingan ini, Arsenal juga kehilangan David Luiz. Dalam tujuh pertandingan tersebut Luiz hanya bermain 45 menit saat melawan Wolves dan kemudian bermain penuh lawan Everton. Partey sendiri tidak bermain sama sekali setelah cederanya di Aston Villa kecuali di pertandingan lawan Spurs dan kembali cedera di pertandingan tersebut karena ia belum 100% fit. Gabriel dan Holding sepertinya tidak tahu caranya bermain bersama (masalah komunikasi juga), absennya Luiz dan Partey membuat build up play Arsenal tidak jalan, Xhaka yang low in confidence akibat di-drop Arteta semenjak match lawan Leicester dan kemudian mendapatkan kartu merah lawan Burnley, Willian yang kebingungan dan miskin ide, semua faktor ini menghasilkan periode terkering dalam hal kreativitas Arsenal semenjak dipegang Wenger. Kita akan mengenal periode ini di mana Arsenal mengkhianati jati dirinya, tim yang berubah menjadi tim spamming crossing akibat absennya kreativitas dan dominasi di lini tengah.

A Present from Santa

Untungnya di hari Natal, Arteta mendapatkan ilham baru. Emile Smith Rowe dimainkan di pertandingan lawan Chelsea, Saka dimainkan untuk pertama kalinya di sayap kanan, Martinelli juga untuk pertama kalinya start musim itu dan dimainkan di sayap kiri. Ketiga pemain muda ini menopang Lacazette di tengah dengan formasi 4-2-3-1. Trio young and dangerous ini benar-benar menghancurkan tim Chelsea-nya Frank Lampard yang sedang digadang-gadang menjadi juara musim tersebut. Skor pertandingan 3-1 dan Arsenal bermain sangat baik. Kreativitas yang hilang di tujuh pertandingan sebelumnya, lahir kembali. The Smith (nama panggilannya sekarang) menjadi katalis kembalinya permainan menyerang Arsenal yang tidak melulu mengandalkan hopeful crossing dari sideline. Selanjutnya kita sudah tahu sendiri bagaimana form Arsenal membaik walaupun kemudian sempat mengalami beberapa kali sandungan akibat VAR, kartu merah, ataupun blunder individual pemain yang harus dibayar mahal dengan pupusnya harapan lolos ke kompetisi Eropa musim berikutnya.

Chart 2 – Arsenal 2020/2021 PPG

Chart di atas menunjukkan perbaikan performa Arsenal. Dalam 14 match pertama, Arsenal hanya mendapatkan PPG 1.00. Ini peforma yang sangat buruk, selevel dengan tim yang akan degradasi di akhir musim, sama dengan 38 poin untuk 38 pertandingan. Setelah Natal, semenjak Emile Smith Rowe dimainkan sebagai nomor 10, form Arsenal berubah ke arah positif secara signifikan. Walaupun tetap gagal masuk ke peringkat ke-4 di akhir musim, form Arsenal jika hanya dihitung dari 24 pertandingan semenjak Emile Smith Rowe dimainkan adalah 1.96 PPG, lebih baik dari Man United yang finish di peringkat kedua di akhir musim (1.95 PPG).

Tentunya tidak hanya Emile Smith Rowe yang berperan. Partey bermain sebanyak 14 kali dalam 24 pertandingan tersebut dan Odegaard yang bergabung dengan Arsenal di akhir Januari juga berkontribusi dalam hal kreativitas Arsenal. Di periode ini juga Arteta beberapa kali mencoba Aubameyang sebagai CF walau tidak selalu sukses. Sementara itu Arteta kehilangan kepercayaan terahadap Willian yang semakin jarang diturunkan sebagai starter dan menggantikannya dengan Saka di sayap kanan yang tampil luar biasa (pemain terbaik musim itu). Sisi lain non-teknis yang membantu perbaikan penampilan di periode ini adalah berhasilnya Edu mencarikan solusi di Januari untuk Sokratis, Ozil, Mustafi, dan Kolasinac sehingga tim yang tersisa lebih ramping dan lebih solid tanpa harus ada ketegangan yang tidak perlu (perang PR Ozil dan klub di social media). Selain itu pemain muda yang tidak mendapatkan banyak kesempatan juga di loan out seperti Saliba, Willock dan Maitland-Niles agar mereka bisa berkembang dengan mendapatkan menit bermain.

Hanya satu kali Arteta kembali menggunakan formasi 3-4-3 yang tentunya juga mengejutkan Tuchel saat melawan Chelsea di penghujung musim. Arsenal sudah kehilangan kesempatan ke Europa League dan harus bermain sebaik mungkin untuk finish setinggi-tingginya, modal untuk musim depan. Formasi bertahan tersebut berhasil mendatangkan kemenangan untuk Arsenal berkat blunder Jorginho dan Kepa yang dimanfaatkan dengan baik oleh Aubameyang dan The Smith. Arsenal menang 5 kali berturut-turut di akhir musim dan finish di peringkat-8, sama dengan musim sebelumnya namun dengan perolehan poin yang membaik (61 dibanding 55). Kita hanya bisa berandai-andai bila The Smith dimainkan sejak awal musim (andaikan ia tidak cedera) dan Partey bisa bermain full satu musim, berapa peringkat yang bisa dicapai Arsenal.

The Smith layak mendapatkan artikel tersendiri karena perannya tersebut dan sekarang dipercayai klub untuk memakai kaos Nomor 10 yang keramat. Saya akan berusaha menulisnya di lain kesempatan.

Walaupun tetap gagal masuk ke peringkat ke-4 di akhir musim, form Arsenal jika hanya dihitung dari 24 pertandingan semenjak Emile Smith Rowe dimainkan adalah 1.96 PPG, lebih baik dari Man United yang finish di peringkat kedua di akhir musim (1.95 PPG).

Did Arteta nail it with 4-2-3-1?

Lalu dengan form yang layak masuk peringkat kedua di 24 pertandingan terakhir Arsenal musim lalu, apakah kita bisa menyimpulkan bahwa Arteta telah menemukan tim yang diinginkannya? Jawabannya tidak, masih kurang. Walaupun akhirnya Arteta tampaknya menemukan jawaban untuk membongkar low block dan mampu mengimbangi tim besar, namun skuad Arsenal yang sekarang masih jauh dari visinya memainkan tim dengan high pressing dengan sustainable pressure and possession. Tim yang sekarang ini masih enggan melakukan pressing tinggi (takut dengan counter cepat) terutama bila midfieldnya berisi Xhaka, Ceballos atau Elneny. Di depan Lacazette, Martinelli, The Smith dan Saka adalah pemain-pemain yang bisa melakukan pressing tinggi, demikian juga Pepe. Namun Willian dan Aubameyang bukanlah tipe pemain yang dapat melakukan pressing dengan intensitas tinggi. Dengan dikembalikannya Odegaard ke Madrid, tim Arsenal ini terasa timpang bila The Smith tidak bisa bermain (bisa kita lihat di pre-season ini). Hal yang sama juga berlaku untuk Partey yang tidak memiliki penggantinya di skuad Arsenal tersebut. Arsenal jelas membutuhkan pembelian pemain baru untuk menggantikan Odegaard dan David Luiz yang pergi, sekaligus mencari pemain-pemain yang bisa menjadi upgrade atas pemain sekarang.

Pilihan itu jatuh pada Ben White (pengganti David Luiz sebagai ball playing defender), Nuno Tavares (pelapis Tierney), dan Sambi Lokonga (pengganti Ceballos sekaligus sebagai pemain muda pelapis Partey). Dari pre-season ini kita bisa melihat sedikit kelebihan (dan kekurangan) Tavares dan juga betapa miripnya permainan Sambi dengan Partey. Bayangkan Arsenal yang bisa bermain dengan dua Partey. Satu saja sudah begitu influential musim lalu, bagaimana dengan dua?

Edu yang memegang kuasa penuh untuk negosiasi transfer dan power Arteta dalam rebuilding squad yang semakin besar karena dipromosikan dari head coach menjadi manager, ditambah dengan bergabungnya Richard Garlick untuk detail negosiasi dan kontrak, plus hilangnya kegaduhan yang disebabkan oleh kasus Raul musim lalu membuat Arsenal lebih siap dalam menghadapi jendela transfer musim ini. Berbagai nama dihembuskan ke media dengan tujuan strategis dan taktis. Nama Bissouma dilempar tapi Ben White yang dibeli. Ryan Bertrand dimunculkan, tapi Nuno Tavares yang diangkut. Tidak ada yang mengendus Arsenal mengejar Sambi Lokonga sampai pada taraf pemainnya sudah setuju dan tinggal finalisasi soal final figure dengan Anderlecht. Sejauh ini eksekusi transfer Arsenal berjalan dengan mulus.

Who’s next?

Dari evaluasi dua musim terakhir ini, kita paham mengapa Xhaka, pemain yang paling diandalkan Arteta untuk leadership di lapangan direlakan Arteta untuk pergi. Ini demi evolusi tim menjadi tim yang dapat memainkan sepakbola sesuai visinya. Arteta ingin mengganti Xhaka dengan CM yang lebih mobile, lebih box to box, anti pressing dan dapat melakukan pressing, interception, tackling lebih baik namun tetap memiliki kemampuan ball progression yang bagus seperti Xhaka. Intinya CM yang tidak mudah kehilangan bola saat di-press, mampu distribusi bola dengan baik, memajukan bola ke depan baik lewat operan maupun lewat dribble, dan terakhir mampu mendapatkan bola kembali dengan cepat ketika tim-nya kehilangan bola (lewat interception dan tackle). Tidak banyak CM yang memenuhi kriteria ini. Posisi ini akan menjadi sangat penting mengingat vitalnya peran Xhaka musim lalu di Arsenal. Jangan heran bila pemain ini menjadi yang terakhir bergabung dengan Arsenal karena ini akan menjadi marquee signing Arsenal. Sampai saat tulisan ini dibuat, Juventus masih meeting dengan Sassuolo mengenai pembelian/peminjaman Locatelli yang kabarnya menjadi target nomor satu Arsenal untuk posisi ini. Selain Locatelli, nama Bruno Guimaraes, Ruben Neves, Renato Sanches, Yves Bissouma dan terakhir Eduardo Camavinga muncul sebagai alternatif. Bisa kita pahami bahwa pemain-pemain tersebut fit dengan kriteria yang dicari oleh Arteta. Posisi inilah yang akan menentukan apakah skuad Arsenal musim ini bisa bersaing di top four atau tidak.

Posisi kedua yang cukup dibutuhkan namun tidak se-urgent posisi CM adalah posisi AMF pengganti Odegaard. Tentunya siapa yang lagi yang lebih cocok untuk menggantikan Odegaard selain Odegaard sendiri? Nama lain sebagai alternatif adalah James Maddison (yang mendapat hembusan kuat dari AFCBell, legenda ITK Arsenal), dan Houssem Aouar yang harganya beserta juga rumornya makin meredup. Kita memiliki The Smith saat ini, namun ia juga tak akan mampu bermain full di 38 pertandingan. Alangkah baiknya bila kita bisa mendapatkan AMF baru yang bisa bergantian atau malah bermain bersama Smith di posisi 4-3-3, dua pemain kreatif di lini yang berbeda.

Posisi berikutnya adalah back up goalkeeper karena Runarsson dianggap sebagai kiper yang anti-tangkis dan tangkap bola, hanya jago bermain bola dengan kakinya. Selain itu RB pengganti Bellerin (bila jadi pergi). Yang menarik adalah munculnya nama Aaron Ramsdale yang dinilai sangat tinggi oleh Sheffield United (30 juta pounds ++) dan jurnalis semua pada kaget kalau Arsenal mau membeli kiper kedua dengan harga mahal (belum tahu mereka big club mentality!).

Kejutan terakhir adalah Arsenal mengincar striker baru pengganti Laca (yang kontraknya sisa setahun dan secara komersil sebaiknya dijual sekarang). Nama Tammy Abraham (40 juta pounds) dan Lautaro Martinez (60-70 juta pounds) dihubung-hubungkan dengan Arsenal. Bahkan fans Arsenal yang paling optimis sekalipun (saya misalnya) terheran-heran uang darimana Arsenal ini (mengingat pelitnya Kroenke selama ini) mau beli pemain sebanyak ini dan terutama striker semahal ini? Apakah Kroenke cs sedang mabuk? Menang lotere?

Saya akan membahas di Part 3 apakah Arsenal bisa membiayai semua transfer ini, berapa budget transfer Arsenal sebenaranya dan seberapa optimis kita dapat menggaet target-target yang diincar dan untuk performa tim tercinta ini di musim 2021/2022.

Marquee Signing

Tak ragu lagi Marquee Signing Arsenal musim ini adalah CM. Mungkin Ben White dan striker baru bisa melebihi harga CM ini, namun pemain ini akan menjadi sangat vital untuk skuad Arsenal musim ini jika Anda sudah selesai membaca Part 1 dan 2 dari serial tulisan ini. Saya menemukan artikel yang sangat bagus di Le Grove yang mana Adam Rae Voge membedah dengan sangat baik kualitas CM Arsenal sekarang dan siapa saja pemain baru yang bisa menjadi upgrade atas CM Arsenal saat ini. Sangat direkomendasikan untuk membaca tuntas artikel tersebut. Anda akan terkejut dengan data yang disajikan.

Mari kita ambil beberapa chart yang menarik dari tulisan tersebut. Pertama kualitas CM Arsenal saat ini, dari sudut pandang complete midfielder.

Chart 3 – Kualitas CM Arsenal

Dari chart di atas sekarang kita bisa tahu secara objektif statistik mengapa Torreira, Willock dan Elneny kualitasnya masih jauh dari tiga CM yang lainnya, Partey, Ceballos dan Xhaka. Guendouzi berada di antaranya namun nilainya mesti dikurangi banyak poin karena masalah attitude. Kita juga bisa menyimpulkan level Partey yang jomplang dengan semua CM lain yang dimiliki Arsenal. Kesimpulan saya berikutnya karena data ini kurang lebih sama dengan persepsi saya mengenai kualitas CM Arsenal, model ini boleh diandalkan. Saya rasa tim data analis Arsenal juga memiliki data yang sama dan kesimpulan yang sama. Dari data ini, sangat bersyukur bila kita bisa menjual Willock di harga tinggi di TW ini. Bila ingin tahu dasar di balik kriteria statistik yang dipilih, silakan baca artikel aslinya.

Lalu Adam membuat rangkuman data potensi CM untuk Arsenal, berdasarkan rumor yang baru muncul sedikit saat itu. Tulisan tersebut dibuat di tanggal 15 Juni, saat rumor pemain seperti Locatelli belum sehangat sekarang. Hasilnya seperti ini:

Chart 4 – Potensi CM baru

Bila terlalu kecil tulisannya, saya perjelas dari kiri ke kanan: Partey, Locatelli, Neves, Xhaka, Rodrigo de Paul, Anguissa, Bissouma, Aouar, Rodriguez diurut berdasarkan final score complete midfieldernya. Kembali terlihat betapa tingginya poin Partey dibanding semua nama CM ini. Kita juga sekarang tahu mengapa Locatelli berada di atas Ruben Neves dan Yves Bissouma misalnya dalam daftar transfer Arsenal. Entah Arsenal yang nyontek model ini atau sebaliknya, si penulis yang dapat cheat sheet dari Arsenal. Atau memang inilah model yang dipakai klub-klub dalam membuat urutan target pemain, ditambah kemudian scouting langsung. Temuan yang luar biasa.

Lalu penulis memperlebar modelnya ke semua CM yang tersedia datanya di internet dan yang ada dalam daftar pantauannya. Ingat tulisan tersebut ditulis di tanggal 15 Juni, sehingga hasil ini pasti mengejutkan Anda:

Chart 5 – Target CM Arsenal?

Sangat menarik bukan menemukan nama Bruno Guimares tepat berada di sebelah Thomas Partey? Nama Bruno baru hangat kembali kemarin setelah ada kabar Arsenal siap move on dari Locatelli dan mulai bicara dengan Lyon untuk transfer pemain ini. Barangkali ia sesungguhnya adalah target utama Arsenal kalau melihat model di atas. Barangkali pembicaraan mengenai Houssem Aouar adalah smokescreen untuk Bruno Guimares sama dengan Bissouma sebagai smokescreen untuk Ben White. Barangkali Locatelli adalah smokescreen untuk membantu Sassuolo agar tidak di-bully oleh Juventus dan Arsenal punya kepentingan untuk membeli RB Sassuolo yang bernama Mert Muldur (22 tahun). Kita tidak tahu dan tidak pernah akan tahu sampai transfer itu kemudian terjadi.

Thomas Partey lebih baik daripada semua CM yang namanya beredar di pasaran sekarang. Saatnya mengapresiasi pemain yang kita miliki.

Yang pasti hal yang bisa membuat kita optimis musim ini adalah: Arsenal punya transfer plan yang disiapkan dengan baik, dan sampai sekarang berhasil mengeksekusinya dengan baik. Masih banyak PR tersisa dan kita akan membahas soal budget Arsenal untuk membiayai pemain-pemain idaman ini di Part 3.

…bersambung ke Part 3

Transfer Window 2021/2022 – Saatnya Optimis? Part 1

Featured

Sebagai fans Arsenal yang cenderung mengerem diri supaya tidak terbuai dengan hype seputar rumor transfer pemain baru di setiap transfer window (TW), sepertinya akan sulit untuk menahan diri kali ini. Bila pada musim-musim sebelumnya fans Arsenal sering merasa kena PHP isu transfer pemain, musim 2021/2022 ini tidak sedikit Arsenal fans mulai merasa optimis dengan TW Arsenal kali ini. Apakah kita sudah boleh optimis? Yuk kita analisa.

Arsenal dikaitkan dengan beberapa nama besar di TW kali ini. Beberapa media sepakbola mainstream dan jurnalis dengan reputasi reliable seperti David Ornstein sendiri sudah mengatakan Arsenal akan belanja besar musim ini walaupun klub tetap harus melakukan penjualan pemain. Ambisi Arsenal musim ini adalah meningkatkan kualitas skuad, membuat tim menjadi lebih seimbang dan sesuai visi sang manager dengan tujuan utama masuk kembali ke top four (Champions League money, baby). Arsenal sadar saat ini (di tengah pandemi Covid-19) adalah momen terbaik untuk investasi besar-besaran di tim atau terancam terus bercokol di papan tengah, turun derajat dari imej big club. Seorang businessman hendaknya tahu pentingnya melindungi nilai asetnya, tidak membiarkan nilainya terus merosot. Kroenke sebagai pebisnis yang memulai dari bisnisnya dari real estate, tentunya sangat paham hal ini.

Akibat hilangnya pemasukan dari stadion, dan banyaknya hak siar TV yang tidak terbayarkan di luar Premier League, banyak klub terpaksa harus menjual pemainnya sedangkan tidak banyak klub yang memiliki kemampuan finansial untuk membeli pemain baru. Kondisi ini menjadikan TW kali ini buyer market. Pembeli menjadi raja. Kita menyaksikan sendiri bagaimana Arsenal bisa membeli Nuno Tavares senilai 8 juta Euro dan Albert Sambi Lokonga senilai 17,5 juta Euro (sebelum adds-on) yang mana di musim normal akan membutuhkan dana 1,5 sampai 2 kali lipat. Setelah mengamankan kedua pemain ini, Arsenal diberitakan akan membeli Ben White dari Brighton & Hove Albion senilai 50 juta pounds (tampaknya pandemic great sale tidak berlaku untuk pemain dari klub Premier League).

Di sisi lain kita juga kesulitan untuk menjual pemain surplus. Mavropanos dan Guendouzi hanya bisa “dijual” dengan sistem loan dahulu di musim ini dan obligation to buy di akhir musim dengan harga yang relatif murah, di bawah ekspektasi Arsenal. Total deal Mavropanos dan Guendouzi jika semua syaratnya terpenuhi adalah masing-masing 5.5 juta pounds dan 10 juta pounds, hanya separuh dari ekspektasi Arsenal.

William Saliba, pemain terfavorit (untuk kategori belum pernah debut) fans Arsenal akhirnya dipinjamkan ke Marseille selama satu musim penuh dengan harapan ia akan berkembang menjadi pemain yang lebih baik dan siap untuk tampil di Premier League musim depan. Dengan 3 pemain keluar dan 2 pemain masuk, plus sejumlah pemain loan dan pemain habis kontrak dirilis akhir musim lalu, seperti inilah skuad Arsenal sekarang.

Tabel 1 – Skuad Arsenal Sekarang

Aturan Home Grown

Dari tabel di atas, bisa dilihat sekarang Arsenal tidak memiliki masalah Home Grown lagi. Tidak seperti musim sebelumnya yang berakibat Mesut Ozil dan Sokratis tidak bisa didaftarkan ke Premier League.

Demikian bunyi aturan Home Grown Premier League:

Each Premier League club have submitted a squad list for the 2020/21 season.

Each squad contains no more than 17 players who do not fulfil the “Home Grown Player” (HGP) criteria.

The rest of the squad, up to a total of 25 players, must be “Home Grown”.

Each club squad list is below as well as an additional list of each club’s registered Under-21 players who are eligible over and above the squad limit of 25 players. 

What is a Home-Grown Player?
A “Home-Grown Player” means a player who, irrespective of nationality or age, has been registered with any club affiliated to The Football Association or the Football Association of Wales for a period, continuous or not, of three entire seasons, or 36 months, before his 21st birthday (or the end of the season during which he turns 21).
Rules on U21 players
Under-21 players are eligible over and above the limit of 25 players per squad. For the 2021/22 campaign Under-21 players will have been born on or after 1 January 2000.

Singkatnya jumlah pemain tim utama max 25 orang dengan syarat Non HG max 17, dan sisanya HG. Bila HG kurang dari 8, artinya pemain tim utama yang bisa didaftarkan menjadi kurang dari 25 orang, tidak termasuk pemain U-21 yang tidak memiliki batasan jumlah.

Tim utama Arsenal saat ini terdiri dari 29 pemain dengan komposisi 16 Non HG, 7 HG dan 6 U-21. Nuno Tavares bisa dikategorikan U-21 hanya untuk musim ini karena ia lahir di tahun 2000. Musim depan, ia akan masuk kategori Non HG. William Saliba bila kembali ke Arsenal musim depan nanti akan masuk kategori HG, karena Arsenal membelinya dan mendaftarkan izin kerjanya di Inggris sebelum ia berusia 18 tahun. Tahun depan, ia akan genap menyelesaikan 3 musim dengan status legal sebagai pemain Arsenal sebelum ia berusia 21 tahun, sehingga memenuhi syarat untuk menjadi pemain Home Grown.

Kesimpulannya, sampai saat ini skuad Arsenal telah memenuhi persyaratan aturan Home Grown.

Surplus Pemain

Di tabel di atas saya juga mewarnai pemain dengan warna merah, kuning dan hijau berdasarkan penampilan mereka musim lalu. Merah itu untuk pemain surplus, yang menurut saya akan dibuang Arteta, hijau untuk pemain yang kelihatannya akan dipakai di musim ini, dan kuning untuk pemain yang mana statusnya belum jelas, bisa dipertahankan, bisa juga dijual atau pinjamkan tergantung dengan penampilan selama pre-season dan tawaran dari klub lain. Anda boleh bikin tabel versi sendiri tapi saya rasa tidak akan berbeda jauh dengan tabel versi saya ini.

Ada 8 pemain merah yang terdiri dari 5 pemain Non HG dan 3 pemain HG. Menjual atau loan out 8 pemain dalam satu transfer window (TW) tentunya hal yang sangat sulit, belum ditambah dengan membeli penggantinya. Saya tidak yakin seluruh 8 pemain surplus ini dapat dikeluarkan dari klub di TW ini. Arsenal juga tidak mau menjual pemainnya terlalu murah di market yang sedang depresi ini. Opsi lain adalah loan out semusim, dengan obligation to buy sebagaimana yang terjadi dengan Dino dan Guen. Dari 8 pemain tersebut hanya Granit Xhaka yang hampir pasti ke Roma. Bellerin masih dirumorkan ke Inter Milan yang hampir bangkrut, yang hanya dapat menawarkan opsi loan tanpa obligation to buy. Runarsson, Kolasinac, Torreira, dan Willian belum memiliki peminat sejauh ini.

Pundi uang Arsenal ada pada para pemain muda Inggrisnya yaitu Nketiah dan Nelson. Joe Willock dan Ainsley Maitlaind-Niles pun bisa dimasukkan dalam daftar jual jika tawaran menarik ada yang masuk. Nketiah hanya punya sisa kontrak setahun sedangkan tiga pemain lainnya masih memiliki sisa kontrak 2 tahun. Arsenal (dan pemain) harus memutuskan apakah memperpanjang kontrak mereka atau menjual mereka berempat di TW ini karena pemain dengan sisa satu tahun kontrak notabene berpeluang besar untuk memilih free transfer, dilema yang dialami Arsenal saat ini untuk Lacazette dan Nketiah.

Perubahan Filosofi

Mari kita sedikit flashback untuk memahami mengapa sebagian pemain Arsenal sekarang dianggap surplus dan perlu diganti. Mengutip kalimat bijak dari Machiavelli:

“Whoever wishes to foresee the future must consult the past; for human events ever resemble those of preceding times. This arises from the fact that they are produced by men who ever have been, and ever shall be, animated by the same passions, and thus they necessarily have the same results.”

Machiavelli

Melihat masa lalu untuk memprediksi masa depan. Saya akan mencoba mengurai langkah-langkah yang diambil manager kita, Mikel Arteta di satu setengah musim yang lalu dan mencoba memprediksi visi sepakbola Arsenalnya di musim ini dan masa mendatang, termasuk tipe pemain yang akan didatangkannya.

Di setengah musim pertama Arteta (2019/2020), begitu menggantikan Ljungberg yang saat itu menjabat sebagai head coach sementara setelah pemecatan Emery di bulan November 2019, ia memiliki satu fokus utama yaitu memperbaiki lini pertahanan. Arsenal kebobolan 27 gol hanya dalam 18 pertandingan (1.5 gol per match) sebelum Arteta bergabung, dengan catatan hasil pertandingan W5 D8 L5. Kebobolan 1.5 gol per match ini jika diekstrapolasi untuk satu musim sama dengan kebobolan 57 gol per musim (standar tim papan tengah). Bandingkan dengan musim lalu di mana Arsenal hanya kebobolan 39 gol (1.03 gol per match).

Menarik sekali melihat kembali statistik dan line-ups Arsenal di musim itu karena apa yang ada di ingatan saya ternyata tidak sesuai dengan fakta sejarah. Arteta masih menggunakan formasi 4-2-3-1 saat ia mulai menukangi Arsenal. Pasangan CB Arsenal utama saat itu di bawah Emery adalah David Luiz dan Sokratis. Pasangan ini tidak bertahan lama di bawah Arteta. Dari 20 Premier League match tersisa yang dipimpin Arteta, David Luiz dan Sokratis hanya diduetkan sebanyak 3 kali. Arteta kemudian lebih banyak memasangkan David Luiz bersama Mustafi. Ketika salah satu cedera, maka Holding atau Mari yang masuk, tapi tidak sering. Jika dijumlahkan, dalam 26 pertandingan tersisa musim itu (20 PL + 6 FA Cup, kompetisi yang lain tidak saya anggap karena faktor tim B), Luiz dan Mustafi berduet selama 12 kali. Luiz sebagai LCB dan Mustafi RCB. Ketika Arteta kemudian mengganti formasi ke 3-4-3, Luiz di tengah dan Mustafi sebagai RCB.

Di posisi fullback, Matiland-Niles menjadi andalan RB Arsenal karena cederanya Bellerin dan Cedric. Ia bermain selama 5x di RB di semua match awal Arteta, kemudian 1x sebagai RWB dan 3x sebagai LWB di 26 pertandingan tersebut. Bellerin kemudian mulai dimainkan ketika ia pulih dari cedera, bergantian dengan Sokratis (terpaksa, Chambers dan Cedric juga masih cedera) di RB. Kemudian di akhir musim Cedric dan Bellerin bergantian mengisi posisi RWB (formasi 3-4-3).

Di tengah, Arsenal memainkan dua pivot bergantian antara Xhaka, Torreira, Guendouzi dan Ceballos. Awalnya Arteta memasang Xhaka-Torreira. Kemudian beberapa kali mencoba Xhaka-Guendouzi dan belakangan ia mempertahankan Xhaka-Ceballos. Urutan kombinasi duo pivot yang tersering dipasang saat itu: Xhaka-Ceballos 11x, Xhaka-Torreira 6x, Xhaka-Guendouzi 4x dan kombinasi lainnya hanya 2x dan 1x.

Kemudian Ozil start sebagai nomor 10 di seluruh 10 pertandingan PL di bawah Arteta saat itu, sebelum kemudian break (Maret – Juni) akibat pandemi Covid-19. Terjadi sesuatu selama masa rehat itu (PR ga dikerjakan, masalah pay cut, fokus di training, dll) yang mengakibatkan Arteta tidak pernah lagi memainkan Ozil semenjak Project Restart, ketika PL kembali bergulir di bulan Juni. Match pertama di bulan Juni tersebut, Manchester City membantai Arsenal 3-0. Di pertandingan berikutnya, Arteta mengganti formasi dari 4-2-3-1 menjadi 3-4-3, melawan Brighton yang sayangnya juga diakhiri kekalahan 0-1.

Perubahan formasi menjadi 3-4-3 itu tidak hanya terjadi di Premier League tapi juga di FA Cup. Sejak saat itu hingga akhir musim, Arteta menggunakan formasi 3-4-3 selama 11x (8x di PL dan 3x di FA Cup) dan 4-2-3-1 hanya 1x. Perubahan formasi ini membawakan hasil yang lebih baik bagi Arteta. Dalam 11 pertandingan PL dengan formasi 4-2-3-1 (Ozil main di 10 pertandingan tersebut), hasil pertandingan Arsenal adalah W4 D5 L2 dengan point per game (ppg) 1.54. Ketika ia mengganti formasinya menjadi 3-4-3 sampai akhir musim, hasil yang didapatkan membaik, menjadi W5 D1 L3, ppg 1.78. Alhasil rata-rata ppg di bawah Arteta menjadi 1.65. Sebagai perbandingan peringkat keempat musim tersebut memiliki 66 point, yang artinya ppg-nya 1.74. Pergantian formasi ke 3-4-3 tersebut selain memperbaiki hasil Arsenal di PL, juga menjadi kunci untuk Arsenal mengalahkan Manchester City dan Chelsea yang lebih diunggulkan di semifinal dan final FA Cup. Hasil yang berbuah trofi pertama Arteta yang didapatkan hanya dalam separuh musim sejak ia bergabung.

Ada dua faktor yang membuat Arteta mengubah formasi dari 4-2-3-1 menjadi 3-4-3. Pertama adalah timnya tidak bisa melakukan high pressing sehingga ia menerima fakta tersebut lalu memilih melakukan low block yang dikombinasikan dengan build up play yang cepat dari sayap sehingga ketika lawan stretched akibat terpancing untuk pressing, serangan Arsenal sama efektifnya dengan counter attack yang cepat. Padahal serangan tersebut diawali dari operan kiper ke pemain belakang, bukan dari hasil perebutan bola.

Faktor kedua adalah di-dropnya Mesut Ozil semenjak Project Restart. Tanpa Ozil, 3-4-3 menjadi formasi natural Arsenal karena double pivot akan menyalurkan bola ke sayap dan kedua wing back akan berkombinasi dengan winger serta CF Arsenal. Yang lebih menarik lagi adalah Aubameyang tidak pernah sekalipun dipasang sebagai CF di musim tersebut, ia selalu main sebagai LWF atau terkadang RWF. CF yang dipasang hanya dua, bergantian antara Lacazette dan Nketiah. Kedua striker ini bisa drop deep untuk hold up ball dan link up play dengan pemain tengah dan winger, style yang berbeda dengan Aubameyang yang lebih suka run ins behind.

Timnya tidak bisa melakukan high pressing karena CM yang dimilikinya saat itu termasuk lamban dibandingkan rata-rata tim di PL. Semua CM saat itu baik Xhaka, Ceballos, Torreira, dan Guendouzi bisa dengan mudah dilewati lawan dengan dribbling dan setelah itu kesulitan mengejar lawannya. Karena mobilitas dan akselerasinya yang rendah, otomatis intensitas pressing-nya pun berkurang dan lawan dengan mudah bisa lolos dari pressing CM Arsenal. Ditambah lagi pasangan CB Arsenal saat itu bukanlah CB yang tergolong pemain yang cepat. Mustafi sering salah positioning, terlalu maju sendirian sedangkan David Luiz tidak berani terlalu maju karena ia sadar akan kemampuan larinya kalau di-counter lawan. Akibatnya lahirlah gap yang besar antara lini tengah dan lini belakang, dan juga antara Luiz dan Mustafi ketika Mustafi sedang sok jagoan ke depan (ingat gol lawan gara-gara ini?). Saling menyalahkan dan saling menunjuk ketika Arsenal kebobolan gol (dengan aktor utama Mustafi dan Guendouzi) menjadi pemandangan yang biasa di musim itu.

Untuk membuat tim compact tanpa banyak celah, formasi 3-4-3 dan low block adalah solusi, namun itu juga artinya melupakan agenda high pressing terhadap tim lawan. Di luar kekalahan telak lawan City dan kemudian menyusul kekalahan dari Brighton, formasi 3-4-3 ini berhasil membenahi pertahanan Arsenal sehingga hanya kebobolan 7 gol di 8 pertandingan PL sisa.

Tabel 2 – Hasil Pertandingan di bawah Arteta 2019/2020

Namun formasi 3-4-3 ini juga bukan taktik sempurna. Ada satu kali Arteta mengganti formasi kembali ke 4-2-3-1 musim itu, saat melawan Watford di pertandingan terakhir PL. Di pertandingan sebelumnya 3-4-3 nya Arsenal mengalami kebuntuan melawan low block Aston Villa dan akhirnya harus menderita kekalahan 0-1. Kembali ke formasi 4-2-3-1 dengan Willock bermain sebagai No 10 saat itu akhirnya menghasilkan kemenangan lawan Watford walaupun dengan skor yang tidak begitu meyakinkan (3-2). Arsenal finish di peringkat ke-8 namun tetap lolos ke Europa League berkat trofi FA Cup.

Fakta menarik lainnya adalah apabila di bawah Emery (& Ljungberg) Arsenal kebobolan 27 gol dalam 18 match (1.5 gol pm), Arsenalnya Arteta hanya kebobolan 21 gol dalam 20 match (1.05 gol pm). Angka ini kalau diekstrapolasi ke 38 match akan menjadi 40 gol. Ingat 39 gol kebobolan Arsenal musim lalu? Ternyata itu bukan fluke.

Kesimpulannya, kita semua tahu sebagai mantan muridnya Pep Guardiola dan filosofinya sendiri tentang sepakbola menyerang, formasi favorit Arteta adalah 4-3-3. Namun ia harus pragmatis dengan kualitas skuadnya yang ada saat itu dan target utamanya yaitu membangun kembali kepercayaan diri tim dan lolos ke turnamen Eropa (UEL). Arteta terpaksa mengandalkan formasi 3-4-3, melupakan filosofi sepakbolanya yaitu high pressing dan possession football, namun setidaknya ia masih bisa meminta timnya untuk berani memainkan build up from the back yang bisa dikatakan cukup berhasil di akhir musim tersebut.

Bagaimana dengan musim berikutnya? Ternyata solusi di atas tidak berlangsung lama…

Fun Facts Arsenal 2019/2020

  • Arteta tidak pernah menggunakan Aubameyang sebagai CF, peran tersebut dijalankan Lacazette dan Nketiah bergantian.
  • Emery menggunakan Luiz-Sokratis sebagai duet CB, perlahan duet ini diganti Arteta dengan Luiz-Mustafi dan Sokratis hanya bermain sebagai RB saat Bellerin dan Cedric cedera, bergantian dengan Maitland-Niles .
  • Maitland-Niles mendapat banyak kesempatan sebagai fullback maupun wingback di musim tersebut, total 9x start (PL dan FA). Sementara Nelson start 4x sebelum break pandemi dan hanya 2x setelah break pandemi, di PL dan FA.
  • Arteta say goodbye to Mesut Ozil semenjak PL dimulai kembali setelah break Covid-19. Ia tak pernah dimainkan sama sekali, sementara di 10 pertandingan PL sebelumnya dengan formasi 4-2-3-1, Ozil selalu start.
  • Duo pivot kepercayaan Arteta adalah Xhaka – Ceballos. Torreira mulai di-phase out perlahan seiring dengan berjalannya musim.
  • Poin per game yang diraih Arteta dengan formasi 4-2-3-1 adalah 1.54 sementara dengan formasi 3-4-3 ppg-nya 1.78. Di musim tersebut 1.74 ppg cukup untuk finish top four.
  • Arsenal hanya kebobolan 21 gol selama 20 match PL di bawah Arteta. Kalau diekstrapolasi ke satu musim, ini sama dengan 40 gol. Sounds familiar?

…bersambung ke Part 2