Race to Top Four

Rebuilding Arsenal Part 2

Musim ini adalah soal meletakkan pondasi. Bagaimana tim ini bisa bermain dengan komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah mencerminkan tim Arsenal yang sesuai dengan reputasinya, by far the greatest team the world has ever seen. Memainkan sepakbola menyerang dengan pressing dan possession yang berkepanjangan. Tentunya Arsenal berharap bisa lolos minimal top six di akhir musim agar bisa kembali bermain di kompetisi Eropa namun saya yakin dalam hati Arteta dan pemain-pemain Arsenal, top four selalu menjadi incaran mereka (no pressure, team). Di akhir Desember nanti, kita bisa lihat sejauh apa posisi Arsenal dari top four, dibanding secara relatif dengan penampilan klub-klub lainnya.

Rebuilding Arsenal

Saya menulis kutipan di atas di bulan September 2021, tentang strategi rebuilding Arsenal yang termasuk di dalamnya adalah strategi transfer pemain. Lima bulan kemudian, kita sekarang menjadi kandidat top four yang paling kuat di Premier League, bersaing dengan Manchester United dan Tottenham Hotspur yang memiliki head coach baru, dan West Ham United yang cukup stabil di musim lalu dan konsisten bertengger di posisi top four di awal musim ini.

Premier League Table GW 27

Sebagaimana ditunjukkan tabel di atas, Arsenal berada di peringkat keenam. Namun jumlah pertandingan yang dimainkan tidaklah sama di antara keempat tim ini (24 – 27) sehingga perbandingan yang lebih akurat mengenai peringkat tim adalah dengan menggunakan konsep PPG (point per game) di mana jumlah poin yang terkumpul dibagi dengan jumlah pertandingan yang telah dimainkan sebuah tim. Dengan demikian akan didapatkan urutan peringkat klasemen sebagai berikut:

  1. Arsenal: 1.88
  2. Manchester United: 1.74
  3. Tottenham Hotspur: 1.68
  4. West Ham United: 1.67

Bagaimana bila ada fans yang berujar, “OK, Arsenal PPG-nya paling tinggi, namun 3 game in hand-nya adalah melawan Liverpool, Chelsea dan Tottenham. Bukankah itu berarti PPG-nya pasti akan turun setelah memainkan game in hand mengingat kuatnya lawan-lawan tersebut?”

Jawabannya ada pada jadwal keempat tim ini. Semua tim ini masih harus berhadapan dengan tim top three, entah satu, dua atau bahkan tiga kali. Ironisnya justru MU dan West Ham yang sudah bertanding lebih banyak saat ini, masih harus berhadapan dengan Man City, Liverpool dan Chelsea di sisa pertandingan mereka musim ini. Arsenal masih harus berhadapan dengan Liverpool dan Chelsea sementara Tottenham tinggal berhadapan dengan Liverpool. Artinya Arsenal tidak dirugikan dengan game in hand melawan tim kuat, toh semuanya juga masih harus berhadapan dengan tim-tim kuat tersebut.

Form Arsenal

Hal lain yang bisa kita pakai untuk prediksi siapa yang akan memenangkan top four race ini adalah dengan melihat trend. Dalam sepakbola, trend ini ditemukan dalam bentuk form (penampilan terakhir) sebuah tim. Saya membuat dua grafik di bawah ini untuk menggambarkan form keempat tim. Grafik pertama menunjukkan jumlah perolehan poin seiring dengan jumlah pertandingan yang dimainkan secara berurutan, terlepas dari pertandingan yang ditunda di gameweek tertentu. Sedangkan grafik kedua adalah tentang jumlah PPG-nya.

Di grafik pertama ini (silakan di-zoom in) kita bisa melihat bagaimana MU memimpin terlebih dahulu top four race ini selama 4 minggu dari GW 4 sampai dengan GW 7. Kemudian diganti dengan West Ham United yang memimpin selama 5 minggu. Conte kemudian masuk ke Spurs menggantikan Nuno dan form Spurs membaik hingga mereka sempat memimpin top four race selama 5 minggu, sementara MU semakin jelek form-nya sampai saat Rangnick bergabung dan menstabilkan form mereka. Namun Arsenal adalah tim yang paling membaik form-nya dalam 9 minggu terakhir (7W 1D 1L), tepatnya semenjak Auba dikeluarkan dari tim (lawan Southampton). Saat ini Arsenal telah memimpin selama 3 minggu dan dengan selisih poin tertinggi dari rival terdekatnya selama kompetisi ini, yaitu 5 poin untuk 24 pertandingan yang dimainkan. Artinya Arsenal harus minimal kalah sekali dan draw sekali sementara rivalnya menang terus untuk kehilangan posisi pole position dalam race to top four ini.

Sementara itu Grafik kedua menunjukkan jumlah PPG seiring dengan jumlah pertandingan yang dimainkan secara berurutan. Dengan grafik ini kita bisa melihat lebih jelas lagi bagaimana trend Arsenal menanjak sejak 3 kekalahan berturut-turut di awal musim, sementara rival-rivalnya malah menurun dan sekarang berkonsolidasi di area PPG 1.60 – 1.70. Di grafik ini, saya juga menggambarkan Zona Top Four Finish yang adalah zona dengan PPG minimal sebesar 1.75 (sama dengan 66-67 poin untuk full satu musim) yang mana merupakan perolehan poin Chelsea di dua musim terakhir untuk finish di peringkat keempat. Kita bisa melihat hanya Arsenal sekarang yang berada di dalam zona top four ini. Dari dua grafik tersebut, kita bisa simpulkan bahwa Arsenal adalah the team in form, pengumpul poin terbanyak per-pertandingan, sedang uptrend, yang menjadikannya kandidat terkuat untuk meraih peringkat keempat musim ini. Premier League Current Form Table di bawah ini juga menyimpulkan demikian, Arsenal hanya di bawah Man City dan Liverpool dalam hal perolehan poin di 10 pertandingan terakhir.

updated on 28 Feb 2022

Arsenal adalah the team in form, pengumpul poin terbanyak per-pertandingan, sedang uptrend, yang menjadikannya kandidat terkuat untuk meraih peringkat keempat musim ini.

Prediksi Jumlah Poin Final

Lalu bagaimana dengan sisa pertandingan sampai akhir musim? Apakah jadwal Arsenal lebih mudah ataupun lebih berat dibanding pesaingnya? Saya membuat tabel fixtures keempat tim ini dan membuat simulasi hasil pertandingan. Dalam menebak hasil pertandingan, hendaknya kita menggunakan rules dan data masa lalu. Rules yang saya gunakan dalam simulasi ini adalah:

  1. Bila melawan tim top three, asumsikan semua tim pesaing top four ini akan kalah, home maupun away.
  2. Melihat hasil pertandingan sebelumnya lawan tim yang sama. Bila pertandingan sebelumnya away dan berikutnya home, maka hasil pertandingan sebelumnya di-upgrade. Contoh: kalau kalah telak -> tetap kalah, kalah tipis (selisih 1 gol) -> seri, kalau seri -> menang.
  3. Sebaliknya bila pertandingan sebelumnya home, dan sekarang away, maka hasil pertandingan berikutnya di-downgrade. Contoh: kalau menang telak -> menang, menang tipis (selisih 1 gol) -> seri, seri -> kalah.
  4. Penyesuaian subjektif berdasarkan form kedua tim akhir-akhir ini.

Dengan prinsip di atas, maka berikut adalah hasil prediksi saya hasil setiap pertandingan keempat tim rival top four ini:

Tabel Prediksi Hasil Pertandingan Top Four Race

Warna merah untuk kalah, orange untuk seri dan hijau untuk menang. Prediksi realistis saya Arsenal akan mendapatkan 8W, 4D dan 2L dari 14 laga sisa dengan perolehan poin 73 yang sudah sangat cukup untuk finish di peringkat keempat musim ini. Ini artinya dalam 14 laga sisa, Arsenal akan meraih PPG yang lebih tinggi di 14 pertandingan terakhir daripada yang dikumpulkan di 24 pertandingan sebelumnya (2.00 vs 1.88) namun lebih rendah dari 9 pertandingan terakhir di mana PPG Arsenal adalah 2.44 yang notabene adalah formnya tim kandidat juara liga, persis sama dengan PPG Man City saat ini (untuk 27 laga). Kalau mau optimis, saya rasa Arsenal bisa mengalahkan MU di kandang dan Southampton di tandang dan mengumpulkan 77 poin di akhir musim.

Di bawah Arsenal, Tottenham Hotspur akan finish di peringkat kelima. Tidak adanya partisipasi di kejuaraan Eropa dan hanya fokus di FA Cup serta liga domestik menguntungkan mereka dibandingkan MU dan West Ham. Selain itu Spurs tinggal melawan Liverpool sedangkan yang lainnya masih harus melawan Chelsea dan/atau Man City. Spurs juga memiliki jumlah pertandingan home yang lebih banyak daripada away, sedangkan yang lain sebaliknya. Namun Spurs juga tidak bisa diandalkan. Kekalahan berturut-turut lawan Southampton dan Wolves di kandang mereka memberi kesempatan untuk tim seperti Brighton dan Leicester untuk mencuri poin di kandang mereka.

MU dan West Ham memiliki fixture yang paling sulit sehingga PPG mereka saya prediksi akan drop drastis di 11 pertandingan terakhir. Masih harus melawan 3 tim top three, lalu 2 tim saingan top four, mereka akan kehilangan lebih banyak poin daripada kedua rivalnya. Lihat saja tabel prediksi saya di atas, rasanya itu sudah hasil paling optimal untuk kedua tim ini. MU bisa saja terpleset pas lawan Spurs, Leicester dan Arsenal, sedangkan West Ham bisa saja kalah lawan Spurs dan Arsenal yang akan membuat perolehan poin mereka di akhir musim di kisaran 60-an awal daripada akhir. MU finish keenam dan West Ham ketujuh.

Top Four Here We Go!

Ada beberapa fakta lain lagi yang menunjang prediksi Arsenal akan finish di peringkat keempat musim ini. Jumlah kebobolan gol misalnya. Arsenal hanya kebobolan 27 gol musim ini, hanya di atas City, Chelsea, Liverpool dan Wolves. Wolves tidak dapat bersaing di top four karena jumlah gol yang dicetaknya yang sedikit (terbukti dengan kekalahannya melawan West Ham kemarin). Sedangkan MU, Spurs dan West Ham semua kebobolan 30 gol lebih musim ini. Pertahanan Arsenal cukup solid musim ini untuk dapat bergabung dengan tim top three lainnya di posisi puncak klasemen liga musim ini dan pertahanan ini akan menjadi pondasi yang kuat untuk perkembangan tim ini di masa depan.

 Attack wins you games, defence wins you titles

Sir ALEX FERGUSON

Fakta lainnya adalah penampilan cemerlang Arsenal untuk menang di dua pertandingan lawan Wolves, tim kuat yang berhasil mencuri poin (bahkan menang) dari ketiga rival Arsenal tersebut. Bandingkan pertandingan West Ham semalam melawan Wolves yang tidak full team dengan pertandingan Arsenal melawan Wolves maka Anda dapat berkesimpulan bahwa Arsenal adalah tim yang lebih baik. Arsenal mendominasi lawannya akhir-akhir ini dengan possession, shots, chances, xG berkat pressing yang terus-menerus sehingga possession bisa selalu didominasi. Bahkan saat melawan City pun, Arsenal bisa mengimbangi mereka saat bermain dengan 11 pemain. Pemahaman pemain-pemain Arsenal dengan taktik Arteta semakin matang, namun yang membuat Arsenal bisa comeback dalam beberapa pertandingan terakhir ini adalah Unity and Belief.

Pemain cadangan saat dipanggil ke lapangan pun akan berkontribusi seperti Pepe dan Nketiah. Tidak ada yang merasa ditinggalkan. Tomiyasu cedera, Cedric hadir dengan penampilannya yang jauh lebih baik dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Auba pergi, Lacazette menjadi kapten yang lebih baik lagi, memberikan contoh di lapangan dengan semangat pantang menyerahnya dan duel-duelnya di lapangan hijau untuk merebut bola. Tim ini semakin ramping setelah bursa transfer Januari namun juga menjadi semakin solid apalagi semenjak training camp di Dubai. Blunder Gabriel tidak dibahas sama sekali oleh rekan-rekannya yang berfokus untuk memenangkan pertandingan. Koneksi dengan supporter semakin kuat. Banyak supporter yang nonton di stadion saat lawan Wolves mengatakan Emirates Stadium berguncang saat Laca mencetak gol seperti saat gol Welbeck lawan Leicester City di musim di mana Arsenal bersaing dengan mereka untuk perebutan juara liga. Tanpa perlu embel-embel United, klub ini sekarang sedang dalam keadaan Persatuan yang luar biasa, dari manajemen, tim pelatih, pemain sehingga supporter semua sangat solid dan bergerak maju bersama.

I am especially happy when a player individually makes an error that costs a goal, that then the team can put that aside and win the match, and never even talk about it.

MIKEL ARTETA after wolves match

Di artikel Rebuilding Arsenal pertama, saya menulis bahwa Trust itu sangat dibutuhkan dalam project rebuilding ini karena rencana ini memang akan butuh waktu, terutama karena kita membangun kembali skuad ini dengan poros pemain-pemain muda. Namun, problem dan konflik di klub rival seperti yang sekarang terjadi di MU dengan dressing room yang terbelah, ataupun di Spurs di mana Conte terang-terangan menyatakan ia lebih baik daripada klub yang sekarang mempekerjakannya, mempercepat project rebuilding Arsenal ini. Top four tentunya sekarang menjadi target Mikel Arteta dan semua pemainnya dan supporter Arsenal akan mati-matian mendukungnya saat bermain home maupun away. Ini bukan lagi soal ekspektasi atau target, ini soal Golden Opportunity, kesempatan emas yang hadir dan kita berada di posisi terdekat untuk mengambilnya. Untuk mengambil kesempatan emas ini, kita harus membuktikan diri kalau kita itu layak. Di sini pentingnya Belief. Untuk hal ini juga, tim ini tidak kurang. Bisa kita lihat di pertandingan lawan Wolves kemarin bagaimana Arsenal bisa comeback dari ketertinggalan menjadi menang melawan tim yang tidak pernah kalah ketika telah memimpin di paruh waktu musim ini.

Lacazette celebrated in front of envious Neves

Penutup artikel ini adalah seruan Champions League, Here We Go! Mari menjadi tim termuda di Premier League dengan manager termuda yang bisa finish di peringkat keempat, kembali ke Champions League setelah 5 musim absen, milestone pertama yang sangat penting dalam project Rebuilding Arsenal ini. Semua hal ini bisa terjadi bukan tanpa sebab. Konsistensi dan prestasi bukanlah hasil keberuntungan belaka. Di artikel berikutnya, bagian ketiga dari series Rebuilding Arsenal ini, saya akan mencoba mengupas lebih detail formula yang dipakai di balik strategi rebuilding Arsenal ini. Judul artikelnya: Shrinking to Grow.

Selamat Tinggal, Auba!

Aubameyang at Arsenal (2018-2022)

Pierre-Emerick Aubameyang akhirnya meninggalkan Arsenal, hanya dalam waktu tepat empat tahun sejak bergabung di Januari 2018. Ia mengikuti jejak pemain bintang sebelumnya yang ia gantikan, Alexis Sanchez yang juga hanya menghabiskan kariernya cukup singkat (3,5 tahun) di Arsenal. Bedanya Sanchez tidak memperpanjang kontrak di Arsenal sementara Auba sudah memperpanjang kontraknya 2 tahun di tahun 2020 kemarin (dengan event yang spesial). Kontrak barunya yang masih sisa 1,5 tahun sekarang (berakhir Juni 2023) disepakati untuk diakhiri oleh klub dan dirinya secara konsensual di Transfer Window musim dingin. Aubameyang pun dapat bergabung dengan Barcelona dengan status free transfer (Arsenal tidak mendapatkan transfer fee dari Barcelona).

Saya tidak perlu menulis lagi pencapaian Auba di Arsenal. Ia adalah top skorer kita selama 4 tahun itu (92 gol dalam 163 penampilan di semua kompetisi) dengan rincian sebagai berikut:

  • 2017-18 All Comp.: 14 app 10 goals; PL: 13 app 10 goals
  • 2018-19 All Comp.: 51 app 31 goals; PL: 36 app 22 goals
  • 2019-20 All Comp.: 44 app 29 goals; PL: 36 app 22 goals + 1 FA Cup
  • 2020-21 All Comp.: 39 app 15 goals; PL: 29 app 10 goals
  • 2021-22 All Comp.: 15 app 7 goals; PL: 14 app 4 goals

Dari statistik di atas jelas terlihat 2,5 musim pertama Auba pencapaiannya luar biasa. Dengan rasio gol 0.64 gol per match di periode tersebut, jelas Auba masuk dalam level very elite striker di liga. Penampilan istimewa Aubameyang tersebut menjustifikasi biaya transfernya yang sebesar £56m itu dan ditutup dengan trofi FA Cup 2020 yang hampir bisa dikatakan dimenangkan berkat aksi individualnya di depan gawang yang super cool.

Melihat begitu pentingnya peran Aubameyang bagi tim, tentunya kita semua menginginkan Auba memperpanjang kontraknya yang sisa setahun saat itu (selesai di Juni 2021). Auba ingin gaji yang sesuai dengan perannya di tim saat itu, kurang lebih apa yang didapatkan Ozil, £350K/minggu semusim. Arsenal keberatan, Barca dan klub-klub lainnya menunggu di belakang layar. Arteta pun sampai ikut turun tangan agar tidak terjadi deadlock. Ia melobi Auba pribadi, bertemu dengan ayahnya, meyakinkan mereka bahwa Auba akan menjadi pemain sentral di sisa kontraknya di Arsenal dan meninggalkan “legacy” di klub ini, layaknya pemain legendaris berkostum No.14 sebelumnya. Arteta juga meyakinkan klub bahwa ia butuh Auba saat itu. Akhirnya kontrak baru disepakati dengan gaji dasar sekitar £250K/minggu yang ditambah bonus appearance dan goal bisa mencapai max £350K/minggu.

Video announcement “sign da thing” pun di-upload dengan live streaming. Topeng Black Panther dijadikan petunjuk. Video bertajuk “This is where I belong” pun diputar. Live Streaming Auba dan Laca sahabat baiknya yang membuat semua Gooners tersenyum lebar. Kemudian video wawancaranya bersama Ian Wright di Emirates Stadium di mana ia menyebutkan bahwa alasannya mau memperpanjang kontrak adalah setelah percakapannya yang jujur dengan Arteta.

I had a chat with Mikel. I think he gave me something very clear about the idea of the future of the club and about me.

He was straight and honest and that’s what I like because we are always honest. He said, OK you can maybe leave… I don’t know what your mind is thinking right now, but you can leave and go for trophies at other clubs or you can stay here and have a legacy.

This, for me, was the key word.

Aubameyang to ian wright when he signed the new contract

Aubameyang jelas adalah Hero bagi kita saat itu. Arteta jelas jujur saat mengatakan ia bisa meninggalkan legacy di Arsenal dan Auba percaya hal itu sepenuhnya. Ia siap menjadi leader tim ini dan membawa kembali tim ini kembali ke kejayaan. Semua sepakat meneruskan waktu bersama Aubameyang untuk tiga tahun lagi semenjak tahun 2020 itu adalah yang terbaik untuk semua pihak – baik klub, manager, rekan-rekan setimnya, Auba sendiri dan supporter Arsenal.

Ia menyebutkan bahwa alasannya mau memperpanjang kontrak adalah setelah percakapannya yang jujur dengan Arteta.

Aubameyang ketika perpanjang kontraknya

From Hero to Zero

Siapa yang menyangka hanya dalam waktu satu setengah tahun kurang dari ditandatanganinya kontrak baru tersebut, Auba kemudian diasingkan oleh Arteta dari timnya, dicabut ban kaptennya, berlatih sendiri dan akhirnya dilepas sebagai free agent. Hal yang di luar dugaan semua pihak. Alih-alih meninggalkan legacy di klub tercinta, Aubameyang bahkan tak sempat mengucapkan farewell secara langsung di hadapan supporter Arsenal di stadion, tidak juga kepada rekan-rekannya yang sedang berlatih/ team bonding di Dubai saat itu. Akhir yang sangat “ruthless” untuk seorang pemain terbaik Arsenal di eranya, seorang hero. Hal yang serupa juga terjadi dengan Ozil, yang tak diberikan kesempatan untuk farewell dengan supporter Arsenal. Tentunya mudah untuk sebagian fans menuduh Arteta sebagai sosok yang kejam dalam kedua kejadian ini. Saya mencoba dengan kepala dingin mengurai apa yang sesungguhnya terjadi sehingga Arteta dan board Arsenal mengambil keputusan demikian. Mencari tahu, apa yang menjadi dasar Arsenal membalikkan keputusan yang mereka ambil satu setengah tahun sebelumnya.

Musim lalu (2020/2021) Aubameyang mengalami banyak masalah. Dari sakit malaria, ibunya yang sakit keras sehingga ia sampai absen beberapa pertandingan untuk pulkam mendampingi ibunya (dan diberikan izin oleh klub). Lalu pelanggaran disiplin yang ia lakukan, terlambat saat North London Derby yang mengakibatkan ia tidak dimasukkan ke dalam tim sama sekali dan mesti menonton pertandingan dari stand (bahkan tidak dari bench). Performa Aubameyang di lapangan juga tidak begitu baik, ia hanya mencetak 10 gol dalam 29 penampilan di liga. Rasio 0.34 gol per match ini jauh dari 2 musim sebelumnya di mana rasionya 0.61 gol per match. Namun Arteta masih membelanya di publik, terlepas dari performanya yang tidak sesuai standar tersebut. Fans Arsenal mulai gelisah karena ada sinyal kalau Auba akan mengikuti jejak Ozil yang turun performanya setelah mendapatkan kontrak baru.

Musim ini (2021/2022) Aubameyang memulainya dengan tidak baik. Kali ini ia positif Covid-19 bersama Laca yang diindikasikan berasal dari pesta ultah anaknya yang digelar di bulan Agustus, Auba tidak tampil di 2 pertandingan pertama liga dan belum fit saat Arsenal melawan City di pertandingan ketiga. Tiga kekalahan beruntun harus diderita Arsenal yang menyebabkan Arsenal berada di posisi terbawah klasemen.

Perlahan Arsenal bangkit. Auba selalu start di musim ini sebagai striker utama saat ia fit, mengorbankan Lacazette yang harus duduk di bangku cadangan. Di pertandingan berikutnya Aubameyang mencetak gol melawan Norwich City. Ia tidak mencetak gol vs Burnley namun tampil baik saat NLD di kandang, mencetak satu gol hasil counter attack cantik bersama Emile Smith Rowe. NLD-gate semusim sebelumnya seakan sudah hilang dari ingatan kita semua.

Lalu saat seri lawan Brighton, Auba tidak tampil baik, diganti oleh Laca di menit ke 72. Lawan Crystal Palace, Auba mencetak gol awal namun Arsenal secara umum kesulitan melawan Crystal Palace, tertinggal 1-2 sebelum akhirnya menyamakan kedudukan lewat gol injury time Laca. Nah di pertandingan berikutnya melawan Aston Villa, Arsenal mulai memberikan penampilan yang meyakinkan, mendominasi lawan dan akhirnya menang 3-1 dengan Auba mencetak satu gol dan memberikan satu assist.

What was good, or very good, two or three years ago, with his role in this team, at this club, it is not enough. He had to take a step forward. I would say the same with Laca, look what he is transmitting, not just doing or playing, what he is transmitting. For me that is really, really important.

They lead by example and not only there but as well at the training ground. Certain things, a role they could have had three years ago in the squad, now it has changed.

MIKel arteta on aubameyang after aston villa match

Arteta mengatakan bahwa apa yang telah dilakukan oleh Aubameyang dengan sangat baik selama dua atau tiga tahun sebelumnya di klub ini, belum cukup, mengingat perannya sekarang sebagai kapten dan striker utama. Arteta mengatakan bahwa Auba mesti mengambil satu langkah lebih maju lagi. Ia (bersama Laca) punya tanggung jawab untuk memimpin dengan menjadi role model, tidak hanya di lapangan hijau, tapi juga di training ground. Ia ingin mereka menyampaikan pesan tersebut kepada tim dengan aksi dan sikap mereka. Baginya hal ini sangat penting.

Dan Arteta melihat Auba berubah di pertandingan melawan Aston Villa tersebut. Ia melakukan pressing dengan tujuan yang jelas, cara ia bergerak, link up play-nya, caranya memimpin dalam pertandingan ini sehingga ia berhasil mengubah semuanya (tim). Ia tidak statik sepanjang pertandingan dan kemudian mencetak gol. Arteta memilih Auba versi pekerja keras ini.

Apart from the goals, the celebration when they put the ball in the net, do you see the way he runs? The purpose he has to press the ball, and when he takes it his movement, his link, how is leading the game – that is when he is changing the rest, not when he is static and then he puts the ball in the net. I prefer this Auba.

MIKEL ARTETA

Mudah kita simpulkan bahwa selama ini Arteta terus mendorong Auba dan Laca agar dapat benar-benar menjadi leader di tim ini. Tim muda ini membutuhkan role model dan mereka berdua bisa memikul tanggung jawab extra itu. Dalam pertandingan ini Auba menunjukkannya. Ia berikan satu gol dan satu assist tapi yg lebih mengesankan Arteta adalah kerja kerasnya di lapangan.

Sayangnya setelah itu, demikianlah performa Aubameyang di pertandingan-pertandingan PL berikutnya:

  • Leicester vs Arsenal (0 – 2): Auba missed sitter 2x. Menurut saya mainnya masih OK walaupun akhirnya di match ini yang tampil untuk memberikan perbedaan adalah para pemain muda.
  • Arsenal vs Watford (1 – 0), Auba missed penalty. Emile Smith Rowe menjadi pahlawan dengan solo goalnya.
  • Liverpool vs Arsenal (4 – 0).

Karena penampilannya turun di dua pertandingan sebelumnya, inilah pesan Arteta untuk Auba sebelum pertandingan melawan Liverpool:

…he needs to continue the form that he’s in and the attitude that he’s showing and as well the level of implication that he has, not only around the team but around the club as well.

MIKEL ARTETA on AUbameyang pre-match vs liverpool

Arteta menuntut lebih dari kaptennya. Ia ingin Auba meneruskan performa baiknya dengan sikap dan kerja keras yang telah ia tunjukkan sebelumnya, tidak hanya di sekitar tim tapi juga di sekitar klub. Apa maksudnya? Pendek kata on dan off the pitch, Auba perlu bersikap sebagai seorang pemimpin (kapten) dan bekerja keras. Apakah “pesan” Arteta kepada Auba sebelum pertandingan itu semacam pertanda adanya penurunan upaya dari Auba on dan off the pitch?

Walau Arteta telah mengingatkan, Auba tetap bermain jelek di pertandingan lawan Liverpool tersebut. Arsenal tertekan sepanjang pertandingan dan akhirnya kebobolan di menit terakhir babak pertama lewat set pieces. Di babak kedua ada satu kesempatan saat counterattack Arsenal yang disia-siakan oleh Auba dengan tendangannya yang lemah. Blunder pun akhirnya dilakukan pemain-pemain muda Arsenal saat ingin mengejar ketertinggalan yang mengakibatkan Arsenal kembali terekspos oleh counterattack Liverpool yang berujung dengan kekalahan telak 4-0. Auba bermain penuh selama 90 menit.

Pertandingan berikutnya melawan Newcastle (menang) dan Manchester United (kalah), Auba diganti di menit ke-70-an oleh Laca dan ia tidak mencetak gol. Semenjak dipuji oleh Arteta setelah pertandingan Aston Villa tersebut, ironisnya Auba gagal mencetak gol di lima pertandingan berikutnya.

Arteta akhirnya menyerah dengan Aubameyang dan mencoba hal baru. Melawan Everton dan butuh kemenangan, Auba di-drop ke bench dan diganti Laca di starting lineup. Arsenal kalah 1-2 dan Auba masuk di menit ke-85 menggantikan Laca. Sepanjang pertandingan, saat kamera menyorot Auba, jelas terlihat rasa frustrasinya karena tidak dimainkan sejak awal. Kemudian terjadilah insiden historik tersebut.

Pertandingan melawan Everton itu terjadi di hari Senin. Arsenal akan main lagi lawan Southampton di hari Sabtu. Auba meminta izin ke klub untuk melewatkan training session di hari Rabu dengan alasan untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit dan membawanya ke London. Saat itu kasus Covid-19 lagi tinggi-tingginya di UK. Banyak pesepakbola PL dilarang berpergian keluar kota apalagi keluar negeri saat itu. Auba dikasih dispensasi oleh Arsenal untuk ke Perancis karena alasan ibunya yang sakit namun ia diminta untuk kembali pada hari yang sama ke London agar Kamis bisa ikut sesi latihan. Perlu diketahui saat itu Arteta dan tim sedang berada dalam tekanan tinggi akibat kalah dua kali berturut-turut melawan MU dan Everton. Arsenal harus bangkit dari kekalahan dan menang melawan Southampton.

Protokol Covid-19 saat itu menyatakan siapapun yang tiba di London mesti melakukan PCR test terlebih dahulu dan kalau sudah terbukti negatif baru boleh keluar dari isolasi terlepas orang itu atlet atau bukan. Kita tahu dari skandal False Positives FC bahwa hasil tes ini di Inggris bisa keluar paling cepat 8 jam dan paling lama bisa sampai 24 jam.

Auba kemudian kembali ke London di Kamis pagi hari, bukan Rabu sore atau malam sesuai komitmennya. Kamis pagi itu ia langsung ke training ground London Colney tanpa mengikuti protokol Covid yang berlaku tersebut. Ngakunya Auba: ia tidak tahu ada perubahan aturan protokol Covid. Arsenal terkejut dengan kedatangannya dan juga kecewa dengan Auba yang melanggar komitmen, padahal sudah diberikan dispensasi khusus.

Auba disuruh pulang sesampainya di training ground karena Arsenal tidak mau membahayakan skuad dan training ground yg beresiko untuk ditutup akibat pelanggaran protokol Covid-19 oleh Auba. Ia kemudian isolasi di rumah setelah melakukan tes PCR. Sayangnya di hari yang sama itu, ia ketahuan membuat tato baru yang jelas merupakan pelanggaran aturan isolasi. Foto tersebut di-upload oleh artis tatonya dan menjadi viral di socmed. Hal ini bukan pertama kalinya dilakukan Auba karena tahun lalu di tengah lockdown Covid-19 di UK, insiden serupa terjadi. Artis tato yang sama, Alejandro Nicolas Bernal, posting video ia yang sedang men-tato Aubameyang di tanggal 9 Februari 2021. Hal ini menjadi viral di socmed karena merupakan pelanggaran lockdown yang ketat saat itu di UK dan Arsenal berjanji akan bicara ke Aubameyang untuk mengklarifikasi dan mengingatkannya mengenai tanggung jawabnya di saat pandemi ini.

Flashback ke Awal 2021

Yang lebih menarik lagi, sebelum kejadian tato di bulan Februari itu, Auba juga absen membela tim karena mengunjungi ibunya yang sakit keras. Nah lho? Penasaran mengapa pola yang sama terjadi, saya kemudian mencoba menelusuri ulang apa yang terjadi di awal tahun 2021 itu dan membandingkannya dengan insiden di bulan Desember 2021.

  • 23 Jan 2021 FA Cup – Southampton vs Arsenal (1 – 0): Auba absen. Arteta hanya mengatakan Auba sedang melalui masa sulit tanpa menjelaskan penyebabnya.
  • 26 Jan 2021 PL – Southampton vs Arsenal (1 – 3): Auba kembali absen. Sehari berikutnya Auba menjelaskan ia absen karena ibunya yang sakit. Ia diberikan kesempatan oleh Arsenal untuk personal leave ini dan akan kembali ke London besoknya (28 Jan).
  • 30 Jan 2021 PL – Arsenal vs Man United (0 – 0): Auba belum kelihatan di bangku cadangan. Arteta masih supportive terhadap Auba dan mengatakan klub mendukungnya di masa sulit ini dan ia butuh waktu.
  • 2 Feb 2021 PL – Wolves vs Arsenal (2 – 1): Auba duduk di bangku cadangan, Laca start. Ini adalah pertandingan spesial di mana Craig Pawson memberikan Arsenal dua kartu merah. David Luiz mendapatkan kartu merah di menit ke-45 sehingga Laca terpaksa diganti Gabriel. Kemudian Pepe digantikan Auba di menit ke-61. Leno kena kartu merah di menit ke-72.
  • 6 Feb 2021 PL – Aston Villa vs Arsenal (1 – 0): Auba duduk di bangku cadangan, Laca start. Auba masuk di menit ke-59 menggantikan Laca.
  • 9 Feb 2021 – Video Tato diupload artisnya. Arsenal berjanji akan bicara dengan Auba. Kasus diselesaikan secara internal tanpa diumumkan apa sanksinya.
  • 14 Feb 2021 PL – Arsenal vs Leeds (4 – 2): Auba akhirnya menjadi starter setelah absen 3 pertandingan dan dicadangkan selama 2 pertandingan. Ia tampil gemilang dan mencetak hat-trick di pertandingan ini. Ia bermain full 90 menit.
  • 19 Feb – 12 Mar 2021 – Arsenal melawan Man City, Benfica (UEL), Leicester, Burnley dan Olympiacos (UEL). Auba main full di 4 pertandingan dan menjadi cadangan di match lawan Leicester yang berjarak terlalu dekat dengan Benfica. Ia mencetak 2 gol ke Benfica dan 1 gol ke gawang Burnley.
  • 15 Mar 2021 PL – Arsenal vs Tottenham (2 – 1). Kejadian telatnya Auba sehingga ia tidak dimasukkan ke dalam skuad sama sekali.
  • Sanksi indispliner Auba tidak berlangsung lama karena di pertandingan berikutnya melawan Olympiacos Auba menjadi starter, namun tidak mencetak gol dan Arsenal kalah. Kemudian lawan West Ham ia bermain sebagai RW dan Laca CF, Arsenal seri 3-3, Auba tidak cetak gol. Ia kemudian menjalankan tugas negara membela Gabon, dan di sana ia kena malaria. Pertandingan setelah itu lawan Liverpool dan Slavia Prague, Auba belum mengetahui kalau ia kena malaria, hanya saja badannya terlihat lebih lemas. Setelah itu ia divonis sakit malaria, opname di rumah sakit dan kemudian absen selama tiga minggu.
  • Auba kembali ke bangku cadangan saat semifinal UEL pertama melawan Villarreal, hanya bermain selama 5 menit dan tidak bisa membantu Arsenal yang kalah. Lalu ia start vs Newcastle yang menjadi awal dari rally 5 pertandingan PL terakhir Arsenal untuk menutup musim tersebut dengan sedikit bermartabat. Di pertandingan ini ia mencetak 1 gol dan 1 assist. Kemudian di semifinal UEL kedua, ia juga start tapi Arsenal hanya bisa mendapatkan hasil seri dan harus gugur dari kompetisi ini. Di 4 pertandingan PL terakhir, Auba tidak mencetak gol sama sekali. Auba mengakhiri musim tersebut hanya dengan 10 gol di liga, bisa disebut musim terburuk dari segi produktivitas gol dalam sebelas tahun terakhir kariernya.

Saya mencoba simpulkan serentetan kejadian di atas sebagai berikut: 23 Jan 2021, Auba minta dispensasi personal, diberikan. Kemudian saat ia telah menyelesaikan masalah pribadinya, pelan-pelan ia diintegrasikan kembali ke dalam tim. Arsenal kalah dua kali, ia malah bikin tato melanggar lockdown (9 Feb). Arteta bicara dengannya, kemudian ia tampil sangat baik melawan Leeds, masalah seakan-akan selesai. Namun sebulan kemudian, terjadilah insiden NLD itu. Ia dimaafkan, bermain kembali namun secara mental mungkin berpengaruh. Formnya memburuk dan ditambah ia kena malaria. Sejak NLD-gate tersebut, Auba hanya mencetak 1 gol dalam 10 pertandingan berikutnya. Sebaliknya Arsenal menang dalam 5 pertandingan PL terakhir itu, tanpa terlalu banyak kontribusi darinya.

Sejak NLD-gate tersebut, Auba hanya mencetak 1 gol dalam 10 pertandingan berikutnya. Sebaliknya Arsenal menang dalam 5 pertandingan PL terakhir itu, tanpa terlalu banyak kontribusi darinya.

arsenal di akhir musim 2020-2021

Menurut saya insiden NLD-gate itu cukup berpengaruh terhadap Auba. Karakternya yang extrovert tapi banyak menggunakan perasaan daripada logika (sunshine yellow personality), mudah tersinggung jika dipermalukan seperti itu oleh Arteta di depan rekan-rekan timnya. Bukan kebetulan bahwa semenjak itu form-nya jatuh bebas, dan seperti yang kita ketahui Auba tidak pernah kembali lagi ke form terbaiknya.

Their naturally outgoing, sociable, dynamic energy lifts the energy of the team as they love to provide a bit of a laugh. They worry about the team dynamic and want to ensure that everyone is involved. Their friendly, persuasive and animated behaviour can often help bring the group together.

If they are criticised on an idea, the Sunshine Yellow tends to go into “transmit” mode even harder rather than taking the time to find out where their colleague is coming from.

Sunshine Yellows with low emotional maturity may also avoid receiving critical feedback. They may choose to reject the person or respond in a passive-aggressive way.

Sunshine yellow personality – insights discovery

Not Captain Material

Kembali ke Desember 2021. Auba kemudian ditelepon oleh Arsenal, dikabari bahwa Jumat ia tidak perlu datang ke London Colney karena Sabtu ia tidak akan dimainkan sama sekali. Beberapa hari kemudian ia kembali ke training ground dan berbicara empat mata dengan Arteta dan juga dengan Edu. Arteta menjelaskan kepadanya sanksi yang harus diterimanya, ban kaptennya dicopot dan ia diinstruksikan untuk berlatih sendiri, terisolasi dari rekan-rekan timnya (miris, mengingat ia sering melanggar aturan isolasi) sampai masa waktu yang tidak ditentukan. Dan semenjak itu Arteta tak bicara lagi padanya.

Arteta kecewa karena Auba melanggar komitmen bersama dan terkesan meremehkan apa yang telah disepakati bersama, terutama di tengah kondisi kasus Covid yang memuncak di Inggris. Ia seperti tidak menganggap serius apa yang telah disepakati dengan klub padahal ia telah diberikan kepercayaan dan dispensasi spesial. Dan ini bukan kejadian yang pertama kali, bila kita melihat kronologis di atas. Kesimpulannya ia dianggap “abuse the trust” yang diberikan oleh Arteta dan tidak menjadi contoh kapten yang baik untuk timnya.

Semenjak Arteta menjadi head coach dan kemudian manager Arsenal, ia berulang kali menekankan pentingnya pemain Arsenal untuk merasa bangga dan terhormat, bahkan merasa “privileged” menjadi pemain yang mewakili klub ini. Seyogyanya sebagai pemain Arsenal, kebanggaan itu diaplikasikan dalam bentuk komitmen dan kerja keras baik di lapangan maupun di training ground. Disiplin adalah hal utama bagi Arteta bahkan sejak ia menjadi pemain. Selain itu menurut saya personality Arteta adalah Fiery Red, extrovert namun lebih menggunakan logika daripada perasaan sehingga karakter seperti ini umumnya sangat fokus, driven, tegas dan juga ruthless. Maka ia punya prinsip non-negotiables yang tidak boleh dilanggar semua anggota tim, apalagi oleh seorang kapten.

Menariknya, Auba sendiri seperti belum memahami mengapa ia dihukum demikian keras oleh Arteta. Di dalam preskonnya di Barca, ia menjawab kalau masalahnya ada di Arteta, bukan di dirinya. Ia tidak paham mengapa Arteta tidak senang (dan membesar-besarkan masalah yang mungkin dianggap sepele baginya), sedangkan ia kalem-kalem saja.

My problem was only with Arteta. He wasn’t happy. I can’t tell you more. He wasn’t very happy, I was very calm.

Auba on his broken relationship with arteta

Sementara itu Arteta menjelaskan alasannya mencabut ban kapten dari Auba:

I do not establish my authority by being dictatorial or ruthless,

I just ask for one thing: respect and commitment. At this level, if I don’t get that, I will pack my bags and go somewhere else because that is the minimum I can ask for.

I am going to expect that from everybody who works for the club. First of all from myself, and the day I don’t do that I will walk through that door and go and do something else. It as clear as that.

To be successful you have to be passionate about something and want to represent a club of this size, with its history. That is the minimum standard you have to bring. I am not going to ask anybody to put the ball in the top corner every time they hit it, but I will ask them to do the right things every single day for this club.

Arteta on auba being stripped of captaincy

Kita bisa membaca adanya keyword seperti respect, commitment, represent the club, dan yang terpenting “do the right things every single day for this club.” Dari sini kita bisa menyimpulkan Auba dinilai tidak melakukan hal-hal ini belakangan ini. Tentunya penilaian ini tidak hanya datang dari Auba seorang. Menyia-nyiakan dan kemudian membuang pemain bergaji tertinggi di klub saat ini tentunya tidak dapat dilakukan oleh seorang manager belaka. Board Arsenal tentunya mendukung Arteta 100% dalam hal ini.

Setelah membaca kembali serangkaian kejadian sebelum kasus terakhir ini terjadi, saya menduga setelah match lawan Aston Villa itu, Auba menurun lagi upayanya di training ground. Mungkin ia telat datang latihan, mungkin upayanya turun sekian persen. Implikasinya setelah pertandingan itu ia gagal mencetak gol dalam 5 pertandingan berikutnya dan gagal menginspirasikan tim dalam kapasitasnya sebagai kapten.

Sebelum pertandingan melawan Liverpool, Arteta memberikannya peringatan: tidak mencetak gol tidak masalah selama engkau meningkatkan upaya, melanjutkan aplikasi kerja keras di lapangan maupun training ground, karena ia melihat Auba mulai kendor lagi. Lalu di pertandingan Liverpool tersebut kita bisa melihat di saat tim lagi down, Auba juga tidak mampu menginspirasi rekan-rekan setimnya. Lalu di dua pertandingan berikutnya ia tampil buruk, dan akhirnya di-drop ke bench saat lawan Everton.

Arteta berharap setelah di-bench saat lawan Everton, Auba bisa bereaksi dengan introspeksi dan berusaha keras untuk bisa kembali ke starting lineup. Namun hal sebaliknya yang terjadi. Auba terkesan menganggap remeh dispensasi yang diberikan saat Covid-19, meninggalkan rekan-rekannya yg sedang latihan keras untuk bangkit melawan Southampton setelah dua kekalahan berturut-turut. Ia kembali ke London terlambat, pergi tatoan pula, tidak meminta maaf, dan alasannya: saya tidak tahu ada aturan baru soal isolasi. Pemain yang digaji setinggi itu kita harapkan agent-nya ataupun dirinya untuk melek terhadap aturan isolasi apalagi ketika ia mendapatkan dispensasi khusus. Arteta tidak bisa menerima alasan ini dan memutuskan, OK, you’re out, Auba.

Absennya Auba digantikan oleh Laca, teman baiknya. Dan ternyata dipimpin oleh Laca yg bekerja keras, Arsenal malah menang di 4 match PL berikutnya dan memberikan penampilan terbaik musim ini saat melawan Man City. Laca memberikan kontribusi 2 gol dan 3 assist di 5 match itu. Kehadiran Auba tidak dirindukan Arsenal sama sekali.

Bila Arsenal mampu move on dari Auba, sebaliknya Auba tidak berhasil merehabilitasi nama baiknya ketika diberikan kesempatan untuk membela Gabon di AFCON. Ia memilih party di Dubai tanpa masker bersama beberapa rekannya sebelum AFCON resmi dimulai. Akibatnya ia dan Mario Lemina positif Covid.

Apakah Auba memang tidak sadar pentingnya perannya sebagai kapten timnas di saat itu? Di tengah kritikan terhadapnya yang dianggap gagal sebagai kapten Arsenal? Contoh seperti apa yg dapat ia berikan kepada rekan-rekan setimnya?

Kemudian kembali muncul rumor yang tidak baik, bahwa setelah recover dari Covid-19 di Cameroon ia pulang ke hotel di dini pagi hari bersama Mario Lemina dalam keadaan mabuk. Rumor ini malah dimuat oleh L’Union, koran terkenal di Gabon. Auba membantah hal ini. Kita tidak tahu mana fakta yang benar, namun timnas Gabon memulangkannya ke London, dengan alasan resmi: masalah kesehatan jantung akibat Covid. Arsenal kaget dan bingung. Auba dicek, dan dinyatakan kondisi jantungnya baik-baik saja saja. Artinya alasan itu dibuat-buat oleh timnas Gabon dengan tujuan memulangkan Auba. Tanya kenapa?

Reputasi Aubameyang di Arsenal semakin jatuh. From hero to zero, hanya dalam satu setengah tahun. Arteta membawa timnya ke Dubai untuk training sekaligus team bonding. Auba tidak dibawa sementara pemain yang numpang latihan seperti Jack Wilshere saja dibawa Arsenal. Ini adalah sinyal keras kalau Auba mesti mencari klub baru karena bukan lagi bagian dari masa depan Arsenal. Agent-nya mulai bergerilya mencari klub yang berminat.

Barca The Saviour

Saat tawaran Barca datang, kesempatan emas ini tentunya tidak akan disia-siakan oleh Arsenal. Toh Auba tidak akan dimainkan lagi. Bila ia bisa dilepas di Januari tersebut, maka Arsenal bisa menghemat gaji tingginya selama 1,5 musim (untuk persiapan pembelian striker top di Juni nanti) dan tim bisa fokus di setiap pertandingan tanpa harus menghadapi pertanyaan dari media setiap minggu, “Kapan Auba main lagi?”

Namun misi melepas Auba ke Barca ternyata tidak semudah itu. Arsenal hampir gagal deal dengan Barca karena Barca terikat dengan aturan La Liga soal budget gaji pemain. Mereka hanya mampu membayar Auba sekitar 2,5 juta euro untuk musim ini. Mereka ingin Arsenal membayar sisa gaji Auba dengan status loan 6 bulan dan kemudian di akhir musim ditinjau kembali. Arsenal tidak mau. Hampir deadlock, Arteta akhirnya memutuskan bersama Tim Lewis untuk terminate kontrak Auba saja sehingga ia bisa bergabung dg Barca dengan status free agent. Auba sudah ngebet ke Barca dan sejak siang hari itu sudah terbang ke Barca untuk persiapan tanda tangan kontrak di deadline day transfer window.

Untuk putuskan kontrak Auba dan menghasilkan win-win solution untuk semua pihak, kira-kira begini formula yang diterapkan:

  • Auba basicnya £250K/week di Arsenal, £350K/week kalau ada bonus goal + appearance.
  • Auba terima dari Barca £100K/week sampai akhir musim ini. Namun ia mendapatkan kontrak selama 3,5 musim, 2 tahun extra dari sisa kontraknya di Arsenal.
  • Arsenal membayar ke Auba severance payment untuk pemutusan kontrak, senilai £7 juta. Ini sama dengan £350K/week dikali 20 minggu yang tersisa untuk musim ini. Dengan cara ini Arsenal menghemat gaji Auba full musim depan, senilai £13 juta dari basicnya saja.
  • Barca akan menaikkan gaji Auba di musim depan, mungkin tidak signifikan namun dengan memberikan ia kontrak selama 3,5 musim, dibayar £100K/minggu pun sama nilainya dengan sisa kontraknya yang 1,5 musim di Arsenal. Ada opsi break contract di Juni 2023, yang mana ada kemungkinan Auba akan diputus-kontrak saat itu dan sisa gajinya dibayar penuh oleh Barca karena Auba mungkin tidak akan cukup fit untuk bermain di Barca sampai dengan 2025 (ia akan berusia 36 tahun saat itu). Dengan demikian secara keseluruhan Auba tidak kehilangan potensi pendapatan dari sisa kontraknya di Arsenal.

Dengan solusi di atas, semua pihak mendapatkan solusi yang diinginkan. Arsenal bisa menghemat gaji yang signifikan, Barca bisa mendapatkan pemain bintang yang sudah lama mereka incar walaupun sedang di penghujung kariernya, dengan gaji relatif murah, dan Aubameyang bisa menyelamatkan mukanya, melupakan penderitaan diisolasikan dari tim dan sebaliknya dapat bergabung kembali dengan sohib party-nya, Ousmane Dembele yang ironisnya memilih tinggal hingga akhir musim ini di Barca karena kedatangan Auba (OK, so not really win-win for Barca).

Legacy

Manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan. Rencana Auba untuk mengakhiri karier di Arsenal dan meninggalkan legacy yang harum sebagai legenda Arsenal gagal terlaksana. Tentunya sikap dan aksinya sendiri yang menjadi sebab utama kegagalan tersebut (bila ia mau jujur dengan diri sendiri). Bila dulu percakapannya yang jujur dengan Arteta tentang makna legacy membuatnya memperpanjang kontrak, maka percakapan yang jujur kali ini dengan Arteta mengenai komitmen yang dilanggar dan kekecewaan klub terhadap sikapnya mesti diterima dengan pahit oleh Auba. Sayangnya ia (dan kita) mesti menerima kenyataan bahwa ia gagal menjadi legacy sebagaimana impian semua supporter Arsenal di momen perpanjangan kontrak itu.

Menariknya, tim muda ini tidak merasakan kehilangan dengan kepergiannya. Mereka bermain dengan baik setelah ia di-drop dan berlatih dengan ceria di Dubai tanpa dirinya. Kapten baru lahir di dalam seorang Laca, yang menjalankan perannya dengan sangat baik di periode ini. Sudah bukan rahasia umum kalau Laca adalah figur senior yang dihormati terutama oleh pemain-pemain muda, karena ia sering memberikan mereka bimbingan.

Menariknya lagi, tidak cuma Auba, dari sejumlah pesepakbola yang pernah menjadi kapten Arsenal, sebagian besar tidak memiliki kesempatan mengakhiri kariernya di Arsenal. Setelah Tony Adams yang pensiun di Arsenal, sejumlah pemain seperti Vieira, Henry, Gallas, Fabregas, Van Persie, Vermaelen, Koscielny, dan sekarang Aubameyang meninggalkan Arsenal untuk mengakhiri karier bermain mereka di klub lainnya. Namun ada fakta yang menarik juga, hanya dua kapten Arsenal yang kariernya berakhir di klub ini semenjak Adams, yaitu Mikel Arteta dan Per Mertesacker. Dan mereka berdua sekarang menjadi First Team Manager dan Academy Manager di klub tercinta. Bukan kebetulan kalau mereka berdua inilah yang benar-benar memahami apa artinya kehormatan yang diberikan untuk membela klub ini. Wenger berhasil mendidik keduanya dengan baik untuk mewarisi title Mr. Arsenal berikutnya, setelah Mr. Arsenal orisinal, Tony Adams.

Lembaran Aubameyang di klub ini akhirnya kita tutup. Terima kasih untuk 4 tahun pengabdiannya. Alih-alih meninggalkan legacy, Aubameyang “ditinggalkan” oleh managernya dan timnya. Kita akan mengenang manis video announcement pembelian Auba “Yo Pi’erre, you wanna come out here?” yang sampai saat ini belum bisa tergantikan kerennya. Kita akan mengenang gol-gol indah Aubameyang, trofi FA Cup 2020, dan senyum lebarnya yang affectionate ketika ia sedang happy. Namun kita juga memahami sekarang, mengapa perpisahan ini harus terjadi.

Selamat tinggal Auba, sayang sekali kisahmu dan Arsenal mesti berakhir di sini. Kami akan maju terus, untuk menuju Top Four di akhir musim. Entahlah kalau kita bisa berjumpa lagi di Champions League atau tidak musim depan (tergantung finish-nya Barca juga 😉).

Up The Arsenal!