Memahami Coquelin, False Six Arsenal

<> at KC Stadium on May 4, 2015 in Hull, England.

Francis Coquelin, Arsenal’s unorthodox DM

Artikel ini adalah soal memahami peran Francis Coquelin, pemain Arsenal yang sedang tidak populer di kalangan Gooners. Bukan salahnya, tapi “salah” Wenger yang membeli Granit Xhaka dengan harga selangit (35 juta poundsterling). Xhaka yang diharapkan fans-fans Arsenal dapat melahirkan kembali peran deep playmaker ala Arteta di musim ini terhalang oleh keras kepalanya Wenger yang terus memainkan Coquelin (dan Cazorla). Coquelin dijadikan kambing hitam oleh Gooners karena sebagian besar Gooners merasa Xhaka jauh lebih baik dan cocok untuk memainkan peran DM sekaligus deep playmaker di skuad Arsenal musim ini. Ia punya tackle keras, long pass dan short pass yang lebih akurat, terakhir punya long shot yang berbuah gol indah, ditambah lebih ganteng dari Coquelin. Kurang apa lagi? Mengapa Wenger demikian keras kepala untuk tidak mengganti Coquelin dengan Xhaka? Apakah Wenger punya misi pribadi untuk tidak menggunakan pemain mahalnya? Apakah transfer Xhaka bukan keputusannya? Berbagai teori konspirasi pun beredar di kalangan fans Arsenal yang menolak untuk memahami peran Coquelin dan isi kepala Wenger.

Tidak heran segala teori konspirasi di atas bisa lahir. Dari sebagian fans Arsenal yang saya follow (di Twitter), kebanyakan yang punya pemikiran anti Coquelin ini juga adalah mereka yang konsisten mengkritik Wenger, terutama soal taktik dan transfer. Mereka yang menolak memahami cara berpikir Wenger tentunya tidak akan paham mengapa Wenger lebih memilih Coquelin daripada Xhaka, untuk saat ini. Buat mereka, Wenger sudah outdated soal taktik, Wenger tidak mengerti bagaimana memainkan Xhaka, Wenger lebih pro ke anak didiknya daripada pemain bintang baru yang mahal. Bias anti-Wenger mereka mempengaruhi pendapat mereka tentang semua hal yang berhubungan dengan Wenger, termasuk tentang peran Coquelin. Jika Anda termasuk yang punya pendapat serupa, saya mohon Anda dapat sabar dan membaca artikel ini sampai selesai dulu sebelum berkomentar. Kolom komentar tersedia di bawah dan saya akan dengan senang hati meladeni keluh kesah Anda tentang Coquelin atau opini yang berseberangan. Artikel ini bertujuan untuk memahami cara pikir Wenger yang saat ini lebih memilih Coquelin daripada Xhaka, terlepas dari itu keputusan yang salah atau benar (yang hanya bisa diketahui di kemudian hari).

Untuk membandingkan peran keduanya maka match melawan Watford (Xhaka main, Arsenal menang 3-1) dan lawan Hull City (Coquelin main, Arsenal menang 4-1) bisa menjadi referensi. Keduanya berpasangan dengan Santi Cazorla dalam dua match itu. Mari kita mulai dengan paparan statistik sebelum saya memasukkan opini pribadi saya. Saya akan menggunakan Stats Zone (FourFourTwo) dan Whoscored yang mudah diakses setiap orang.

Stats Zone Defensive Dashboard

coq-def

Coquelin vs Hull City

xha-def

Xhaka vs Watford

Coquelin membuat 4 tackle, 4 interception dan 1 clearance dalam laga vs Hull City. Xhaka membuat 5 tackle, 2 interception, 3 clearance dalam match vs Watford. Angka yang tidak berbeda banyak. Tapi coba perhatikan posisi di mana aksi defence keduanya terjadi. Coquelin melakukan tackle dan interception lebih banyak di setengah lapangan lawan sementara Xhaka lebih banyak di setengah lapangan sendiri. Coquelin bermain lebih depan daripada Xhaka. Mengapa Coquelin bermain lebih maju? Dalam tiga pertandingan terakhir lawan Soton, PSG dan Hull City, Coquelin beberapa kali bermain lebih maju daripada Cazorla. Apakah ini karena nafsunya menyerang? Ataukah ini karena seringnya ia mengabaikan instruksi pelatih untuk stay di posisi DM?

Satu kali mungkin kebetulan, dua kali artinya kebiasaan buruk, namun kalau sampai tiga kali mengulangi hal yang sama artinya itu sebuah instruksi pelatih. Coquelin awalnya terlihat tidak nyaman dengan instruksi ini. Melawan Soton babak pertama, ia terus maju ke area lawan saat Arsenal menguasai bola. Beberapa kali ia menerima bola di lapangan lawan, namun gagal mengoper ke pemain Arsenal lainnya. Di babak pertama ia bermain buruk. Babak kedua, posisinya tukar dengan Cazorla, dari kiri ke kanan. Ia bermain lebih baik dan Arsenal menguasai bola dengan baik di babak kedua. Saat melawan PSG, Coquelin bermain lebih baik namun penampilan terbaiknya ada pada match lawan Hull City. Ia memainkan peran barunya yang diinstruksikan oleh Wenger dengan amat baik sehingga Arsenal mendominasi total pertandingan tersebut.

False Six 

Anam Hassan (@arsenalcolumn) memiliki teori yang menarik mengenai “instruksi” ini. Dalam tulisannya di arseblog, ia mengupas bahwa Wenger menginstruksikan Coquelin bermain lebih maju dari biasanya dengan dua tujuan (ditambahkan sedikit analisa saya):

  1. Dengan majunya Coquelin ke lapangan lawan, membuat permainan Arsenal tetap di area lawan. Berlawanan dengan Positional Play (Salida Lavolpiana) ala Guardiola yang menggunakan DM sebagai deep playmaker untuk mendistribusi bola ke depan, Wenger memilih menggunakan CB sebagai distributor bola. Coquelin maju ke depan akan menarik marker-nya dan menarik mundur pressing lawan. Bila marker Coquelin ikut mundur, CB Arsenal akan bebas mengoper ke ruang yang terbuka (biasanya diterima Cazorla). Bila lawan memilih maju untuk pressing CB Arsenal yang membawa bola, ruang kosong yang ditinggalkan midfield lawan akan diisi oleh Ozil atau Cazorla untuk menerima bola. Dan karena ruang kosong ini sangat dekat dengan Zone 14 (yang diidentifikasi oleh analis sepakbola sebagai zone paling berbahaya), Arsenal tinggal melakukan satu operan lagi untuk menyerang dari zone yang diidentifikasi sebagai area di mana tingkat keberhasilan serangannya paling tinggi. zone 14 in 18 zones.png
  2.  Apabila Arsenal kehilangan bola di daerah lawan, maka lawan akan melakukan counter attack dengan cepat. Di sini kecepatan fisik Coquelin dan kemampuan hebatnya mengendus bahaya sangat berarti. Coquelin berkali-kali melakukan tackle dan interception di area lawan, saat lawan baru mau melakukan counter attack. Gegenpressing ala Klopp dilakukan oleh Coquelin, sendiri. Bila sukses, counter dari counter attack ini lebih efektif daripada DM yang baru mulai membaca serangan lawan di area sendiri, di Zone 5 dan 8. Dan karena notabene pemain Arsenal masih berada di lapangan lawan saat counter terjadi, probabilitas Arsenal kembali mendapatkan bola sangat tinggi. Permainan dilanjutkan di area lawan.

Sekali tepuk dua lalat. Dengan memainkan Coquelin lebih maju, Wenger membuka ruang untuk Arsenal menyerang dari tengah, dari Zone 14 sekaligus mengatasi masalah counter attack lawan yang menjadi momok Arsenal selama ini.

Hal ini merupakan evolusi taktik Wenger pasca Arteta. Guardiola menganalisa taktik Arsenal di tahun 2014 (saat kita masih menggunakan Arteta sebagai pivot):

Pep explains in detail how Mikel Arteta tries to draw in the opposing pivote in order to create a space in the middle of midfield into which Mesut Özil will try to appear. Pep walks through Arteta’s movements whilst emphasising to his players, who are spread out in front of him: “Özil is the dangerous one – he’s the one we really need to keep the closest eye on. Arteta draws you in, Özil pops up in that zone with Santi] Cazorla and Alex Oxlade-Chamberlain around him and that’s the way that they achieve superiority in a key area. We can’t afford that to happen.”

Saat itu Arteta bermain sebagai DM ala La Volpe. Positional Play yang diinspirasikan oleh Ricardo La Volpe (yang terkenal dengan sebutan Salida Lavolpiana, the way out of La Volpe) dan dikembangkan oleh Guardiola di Barca dan Bayern. Perannya sebagai pembawa bola adalah untuk menarik marker lawan agar tercipta ruang kosong di lapangan tengah untuk Ozil. Musim 2012/2013 setelah kepergian Song dan satu tahun setelah Arteta dibeli Arsenal, fans-fans Arsenal dan pundit bola bingung mengapa Arteta yang notabene pemain kreatif (AM Everton) ditaruh di posisi DM. Saat itu sepakbola Positional Play ala Guardiola belum populer diadopsi tim-tim Inggris. Banyak yang meragukan kemampuan Arteta sebagai DM dan menyayangkan kreativitasnya terbuang di posisi itu. Hasilnya Arteta menjelma menjadi DM tangguh, ahli tactical foul, passer bola terbanyak di tim Arsenal dan sesekali memberikan long ball akurat ke Giroud. Ia menjadi pemain terpenting di tim Arsenal sebelum Ozil bergabung. Masih ingat dulu fans Arsenal selalu khawatir setiap kali Arteta cedera? Bahkan kita punya statistik berapa % kemenangan Arsenal dengan Arteta vs tanpa Arteta. Good old days.

Cedera mengakhiri karir Arteta tapi dampak permainannya begitu membekas di hati Gooners yang berharap kita menemukan pengganti Arteta. Tidak heran kita begitu berharap banyak pada Xhaka. Pemain yang lebih mirip Arteta daripada semua pemain tengah yang kita miliki, termasuk Coquelin. Xhaka bisa mengoper bola dengan baik, long ball-nya akurat, dan rasanya interception serta tacklingnya lebih baik. Ia punya development ceiling yang lebih tinggi daripada Arteta. Kita melihat Xhaka sebagai Arteta Mk II.

Sayangnya fans Arsenal bak jalan di tempat (soal taktik) bila tetap berpikiran begitu. Bahkan Arteta di puncak permainannya sebagai DM tidak mampu membawa kita ke puncak. Wenger yang dikatakan outdated soal taktik sudah memilih untuk maju, evolusi taktik Arsenal untuk sekian kalinya. Memahami keterbatasan Positional Play Arsenal sebelumnya, terutama dengan berkembangnya adopsi transisi cepat di tim-tim lawan (paling jelas Leicester City), Wenger merespon dengan evolusi taktik terbarunya: False Six, atau bisa juga disebut Decoy DM. Istilah ini pertama kali ditulis di sini, jadi jangan lupa mengkreditkan blog ini bila istilah ini lalu populer.

Nomor enam adalah nomor sepakbola modern untuk DM. Coquelin menolak memberikan No 34 miliknya ke Xhaka mungkin karena No 6 ini masih dipakai Koscielny. False Six mengikuti trend False Nine adalah sebutan untuk DM palsu. Pemain yang memulai dengan posisi di DM, namun kemudian bergerak bukan di area operasi DM. Coquelin bermain sangat tinggi di 3 pertandingan terakhir, bahkan sering muncul di kotak penalti lawan. Ia semakin nyaman di posisi ini saat menyerang maupun bertahan. Operannya semakin bagus. Bahkan di pertandingan terakhir ia adalah pengoper ketiga terbanyak setelah Ozil dan Cazorla dengan tingkat kesuksesan tertinggi 98%. Dan operannya saat lawan Hull City kebanyakan terjadi di area lawan.

Coq Passes.png

Passing Coquelin vs Hull City

Namun walau asyik mengoper bola, Coquelin tidak melupakan perannya sebagai DM. Merebut bola secepat mungkin ketika bola berpindah pihak. Ia melakukannya dengan sangat efektif. Coquelin memimpin statistik defence Arsenal musim ini dengan 3.8 tackles dan 3.5 interception (per 90 mins, angka yang masuk 10 besar terbaik di EPL). Bila terjadi di lapangan lawan, statistik ini menjadi berkali lipat lebih berarti. Ia mematikan counter attack lawan sekaligus menjadi trigger serangan baru Arsenal di area berbahaya. Gol pertama Arsenal lawan Hull City terjadi akibat serangan yang dimulai oleh Coquelin (shoot jarak jauh, memantul dari lawan, rebut kembali bola hasil pantulan, oper ke Cazorla – Walcott shoot – Iwobi rebound shoot – Sanchez goal!). Penalti Arsenal juga diberikan karena tendangan keras Coquelin di dalam kotak penalti lawan. Kedua hal ini dimungkinkan karena posisi Coquelin yang demikian maju saat Arsenal menyerang. Dan hanya Coquelin yang bisa melakukan ini sekarang karena kualitasnya (fisik maupun insting) dalam mengendus dan menghentikan serangan lawan di area lawan belum bisa ditandingi CM Arsenal lainnya.

Mencari Duet Midfield Arsenal Terbaik

Mengetahui keras kepalanya Wenger, maka Coquelin dipastikan tidak akan diganti dalam beberapa pertandingan ke depan karena ia sedang mencoba taktik revolusioner False Six barunya ini. Lalu apakah ia akan tetap bertahan dengan duet Coquelin – Cazorla? Bagaimana nasib Xhaka? Kompleksitas ditambah dengan kembalinya Ramsey yang pasti akan menuntut bermain dan Elneny yang lama di bangku cadangan akan ikut panas. Musim ini adalah musim di mana kita memiliki depth terbaik di midfield. 5 pemain berkompetisi di 2 posisi. Hanya posisi Ozil yang tak tergantikan. Bila Coquelin juga tidak tergantikan maka 4 pemain lainnya akan berkompetisi untuk 1 posisi di midfield. Ini menjelaskan mengapa Jack Wilshere cabut duluan.

Menilik dari awal musim ini, Wenger sejauh ini sudah mencoba duet Coquelin-Cazorla (Liverpool, Soton, PSG, Hull), Coquelin-Xhaka (Leicester), dan Xhaka-Cazorla (Watford). Mana duet yang terbaik? Mari kita lihat heatmap dari Whoscored.

heatmap CoqXha LEI.png

Heatmap Xhaka & Coquelin vs Leicester City

Pertama kalinya Xhaka dan Coquelin bermain bersama karena Cazorla main sebagai AM. Xhaka start di DM dan Coquelin sebagai box to box. Heatmap yang biru itu adalah area jelajah Coquelin yang tersebar sedang Xhaka cenderung diam di Zone 7 dan 8. Coquelin mendapatkan MotM dari Whoscored di pertandingan (rating 8.4) ini karena statistik 5 tackle, 5 interceptionnya yang terbukti vital.

heatmap Xhazorla WAT.png

Heatmap Xhaka & Cazorla vs Watford

Di pertandingan ini, Coquelin cedera dan tidak bisa start. Xhaka diberikan kesempatan mendampingi Cazorla karena Ozil sudah kembali bermain. Terlihat heatmap tidak berbeda jauh dengan vs Leicester. Hanya saja kali ini Xhaka mengambil peranan lebih dalam bertahan dengan jumlah tackle dan interception yang lebih banyak (5, 2). Area jelajahnya masih di Zone 8 kiri sedangkan Cazorla beroperasi di kanan agak ke depan. Sekarang kita bandingkan dengan heatmap Coquelin & Cazorla di tiga pertandingan berikutnya (Soton, PSG, Hull):

heatmap Coqzorla SOT.png

heatmap Coqzorla PSG.png

Terlihat perbedaan jelas ketiga heatmap ini dengan dua heatmap sebelumnya: dua CM Arsenal bermain lebih maju. Bahkan saat melawan PSG sekalipun yang memainkan 4-3-3 dengan 3 CM berkualitas. Dalam pertandingan vs Soton dan Hull yang CM-nya tidak sebaik klub Eropa, dua CM Arsenal bermain mayoritas di lapangan lawan. Agenda Wenger untuk memaksakan permainan terjadi di lapangan lawan terwujud. Berkat taktik false six ini, berkat Coquelin. Heatmap lawan Hull City adalah ideal yang diinginkan Wenger. Dua CM-nya konsisten menjelajahi Zone 14, zone di mana serangan efektif dilancarkan.

Tidak hanya berpengaruh terhadap area jelajah CM. Taktik ini juga mengubah pola permainan Arsenal. Di mana CM Arsenal sebagai pemegang bola terbanyak bergerak, maka pemain-pemain yang lain akan mengikuti. Salah satu statistik model baru yang juga saya sukai adalah Positions & Passing Network milik @11tegen11. Saya akan sajikan 6 grafik @11tegen11 untuk Arsenal dan silakan simpulkan sendiri perubahannya.ARS v LIV.jpg

LEI v ARS.jpgWAT v ARS.jpgARS v SOT.jpgPSG v ARS.jpgHUL v ARS.jpg

Grafik di atas dari awal hingga terakhir menggambarkan evolusi taktik Wenger dan juga peran Coquelin. Match lawan Hull City memperlihatkan dominannya serangan Arsenal lewat tengah dan Zone 14. Arsenal menghasilkan goal attempt terbanyak dalam pertandingan tersebut. Arsenal yang biasa mengalirkan bola ke full back lalu cross ke Giroud mengubah gaya permainan dengan kombinasi pendek di tengah lapangan, lewat Zone 14. Sanchez, Ozil, Cazorla dan Coquelin menjadi tulang punggung taktik ini. Untuk melihat perbedaannya dengan Positional Play ala Guardiola, lihat grafik di bawah ini.Cskynq5WIAAUDkm.jpg

Untuk saat ini saya tidak melihat Wenger akan mengganti Coquelin dengan Xhaka. Xhaka tidak memiliki mobilitas ala Coquelin dan lebih condong bermain agak ke belakang. Dalam salah satu interviewnya Wenger mengatakan ia melihat Xhaka lebih cocok sebagai box to box midfielder daripada deep playmaker dan ia ditertawakan seantero jagat Twitter (fans Arsenal). Xhaka kan pengganti Arteta, kok malah mau disulap jadi Box to Box? Wenger buta ya? Sayangnya kebanyakan fans Arsenal merasa sudah paham taktik sepakbola hanya karena membaca artikel Positional Play ala Guardiola. Mereka lupa bahwa Wenger mengalahkan Barca dan Bayern-nya Guardiola, dengan tim yang jauh lebih murah meriah.

“He can of course [impose himself], he has the stature, the power, he has the strength. What we want is for him to use that in a very efficient way.

I personally prefer him as a box-to-box player,” added Wenger, “because he has the engine, the power and he has the long pass. He likes to come deep and distribute the game. I think as well he has the engine to have an impact with his runs.”

Wenger ingin Xhaka lebih banyak berlari seperti Coquelin. Hingga Xhaka siap berubah atau saat Wenger harus mengubah taktiknya untuk menghadapi tim tertentu yang tidak bisa dihadapi dengan False Six, Xhaka tampaknya masih harus duduk di bangku cadangan. Bagaimana dengan Ramsey dan Elneny?

Kelima pemain tengah Arsenal yang berkompetisi untuk 2 spot di CM ini memiliki kekuatan dan kelemahan yang berbeda:

  1. Coquelin: sudah dibahas kekuatannya, kelemahannya ada pada akurasi passingnya yang sekarang sedang diasah.
  2. Cazorla: +dribbling, passing, retensi bola dan mobilitas; -fisik, tackling, pertahanan
  3. Elneny: +pass and move, interception, shooting; -sering kurang fokus saat bertahan (vs LIV), tracking back
  4. Xhaka: +long pass, tackling; -mobilitas, interception, off the ball run
  5. Ramsey: +penetrasi ke box, shooting, passing; -defense, slow

Tidak ada midfielder yang sempurna namun pasangan yang balanced bisa saling menguatkan dan kombinasi yang tepat akan menjadi lebih kuat daripada jumlah kekuatan+kelemahan keduanya. Dengan mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan para pemain tengah Arsenal di atas dan taktik yang sedang menjadi fokus Wenger, duet pemain tengah terbaik Arsenal saat ini adalah Coquelin & Cazorla, COQZORLA.

Saya melihat lebih besar kemungkinan Xhaka dipasang dengan Elneny atau Ramsey daripada dengan Cazorla ataupun Coquelin. Maka Wenger bisa punya 2 pasang CM yang bisa ia gonta-ganti tergantung dengan lawan yang dihadapinya. Kalau ia ingin bermain agresif di lapangan lawan maka Coqzorla-lah yang dipasang. Kalau lebih ingin bermain counter attack maka Xhaka-Ramsey/Elneny bisa dipasang. Kita tidak perlu lagi was-was seperti jaman Arteta dulu, di mana tidak ada pengganti yang sepadan.

Menerima Coquelin Apa Adanya

Jadi setelah penjelasan panjang lebar di atas ditambah dengan paparan statistik yang komplet, masihkah Anda berpikir Coquelin adalah pemain yang jelek? Masihkah Anda berpikir Wenger kuno soal taktik? Masihkah Anda sibuk kampanye Xhaka vs Coquelin?

Semua data statistik di atas bisa didapat dengan gratis di internet. Jangan lupa Arsenal punya StatDNA, the world’s most advanced soccer data and analytics (klaim di akun Twitter-nya sebelum dibeli Arsenal). Perusahaan yang diakuisisi oleh Kroenke ini memberikan data statistik per hari ke Wenger. Apabila hanya dengan bekal statistik dari Stats Zone dan Whoscored saya bisa mengambil demikian banyak materi untuk tulisan ini, untuk menjustifikasi pandangan saya, bayangkan banyaknya informasi yang dimiliki Wenger soal pemainnya, soal perkembangan taktik sepakbola untuk kemudian menentukan permainan yang terbaik untuk timnya saat ini.

Bila belum percaya dengan ulasan artikel ini, silakan tonton ulang penampilan Coquelin di tiga pertandingan terakhir Arsenal. Tontonlah tanpa bias anti Coquelin di kepala. Anda akan melihat betapa efektinya peran Coquelin sebagai False Six, sebagai new Decoy DM Arsenal. Saatnya Anda menerima Coquelin apa adanya dan mendukungnya. Ia bisa jadi kunci sukses Arsenal musim ini.

 

Advertisements

Evolusi Wengerball

Sebagian besar tulisan ini berasal dari blog saya sebelumnya di benhan8: “10 Sempurna dalam 11”. Saya sadur kembali di sini ditambahkan dengan pengetahuan setelah membaca biografi Dennis Bergkamp untuk menjelaskan lebih lengkap tentang evolusi Wengerball sejak era Bergkamp hingga sekarang.

Wengerball MK I: Era Invincible

Catatan: MK dibaca Mark sebagaimana dalam seri Iron Man yang artinya versi keberapa dari suatu model.

Di era Invincible, Henry, Pires, dan Ljungberg, merupakan senjata “Tuhan” untuk memporak-porandakan pertahanan lawan. Dennis Bergkamp, sang master ruang dan waktu, akan memanfaatkan kecepatan ketiga pemain yang juga memiliki teknik tinggi tersebut untuk menghantarkan pukulan mematikan.

Seringkali kita menyaksikan dalam hitungan detik saja Arsenal bisa mencetak gol dari posisi bertahan. Berawal dari tackle Vieira lalu bola diberikan ke Bergkamp, Henry berlari cepat diikuti Pires dan Ljungberg. Dalam sekejap ada tiga pemain Arsenal di kotak penalti lawan. Bergkamp tinggal memilih kepada siapa bola akan diantarkan, dan gol pun tercipta. Semua terjadi dalam hitungan detik dan tidak lebih dari 10 sentuhan. Lawan pun ketakutan, pontang panting dalam mengikuti gerakan pemain Arsenal.

Transisi adalah kuncinya. Counter attack adalah nama populernya. Perubahan dari pertahanan ke penyerangan yang terjadi dengan cepat akan membuat lawan panik karena tidak cukup waktu untuk adaptasi formasi. Ditambah dengan pergerakan pemain yang tidak lazim dengan formasinya (Pires dan Ljungberg akan menusuk ke dalam dari sayap sementara Henry bergerak melebar keluar sementara dua fullback akan menyerang bak winger tradisional) membuat lawan kalang kabut.

Adalah prinsip umum bahwa pemain bola akan lebih kesulitan bergerak cepat sambil membelakangi gawang daripada menghadap ke gawang. Oleh karena itu peluang yang dihasilkan dalam posisi counter attack adalah peluang dengan probabilitas keberhasilan tertinggi. Ruang yang lebih banyak, musuh yang masih harus menyesuaikan posisi kembali, dan waktu yang berpihak kepada penyerang, menciptakan peluang mencetak gol tertinggi.

Wengerball MK I adalah soal counter attack yang secepat kilat.

Counter attack ditakuti semua tim bola. Sebaik apapun sebuah tim dalam penguasaan bola, satu counter attack cukup untuk membunuhnya. Sucker punch. Dan setelah gol terjadi, tim yang ingin mengejar ketertinggalan akan semakin menyerang. Hal ini malah akan semakin membuka ruang untuk counter attack berikutnya. Dengan cara inilah The Invincible mencetak 3-4 gol dalam satu pertandingan dengan mudahnya. Wengerball MK I adalah soal counter attack yang secepat kilat.

Wengerball MK II: Arsenal Post Invincible

Setelah era Invincible, Arsenal tidak lagi bermain dengan mengandalkan transisi yang cepat. Dengan Fabregas sebagai poros permainan, Arsenal bermain ala tiki taka, ball possession style dengan tingkat kesuksesan di bawah Barcelona. Wenger melakukan perubahan ini dengan sadar. Mengapa?

Ada dua alasan. Yang pertama: Henry dan Bergkamp tidak lagi muda. Arsenal tidak memiliki striker yang secepat Henry setelah itu. Penggantinya adalah Adebayor yang lebih lamban namun unggul dalam fisik dan Van Persie yang lebih teknikal. Alasan kedua: sehebat apapun The Invincible pada saat itu, perjalanannya di Eropa tidak jauh. Tim kontinental bermain tidak secepat tim Inggris, lebih taktis dan lebih sedikit menyisakan ruang untuk counter attack. Walaupun Arsenal sempat menang dari tim seperti Real Madrid, Juventus dan Inter Milan, Arsenal sering kali didominasi dalam permainan melawan tim-tim Eropa. Arsenal kerepotan dan disisihkan dari Knock Out Grup saat melawan tim seperti Bayern Muenchen (yang tidak sehebat sekarang) dan Valencia misalnya.

Wenger juga adalah pelatih cerdas yang selalu membaca arah angin perubahan. Setelah memanen talenta-talenta Perancis di era keemasan Perancis (1998-2000), ia melihat masa depan sepakbola Spanyol lewat dominasi mereka di kejuaraan dunia FIFA U-17 di tahun 2003. Cesc Fabregas menjadi top scorer di turnamen itu dan Spanyol menjadi juara. Bertepatan dengan dibongkarnya Tim Invincible karena faktor usia, Wenger juga mengganti style sepakbola timnya. Demi pursuit Holy Grail, trofi Liga Champions yang menjadi satu-satunya kekurangan di CV-nya.

Kiblat diubah ke Spanyol. Fabregas direkrut di tahun 2003 pada usia 16 tahun dan Jose Antonio Reyes di awal tahun 2004. Tahun 2005 dan 2006 secara berturut-turut Arsenal membeli pemain tipe ball player sebagaimana pemain Spanyol umumnya yaitu Hleb dan Rosicky. Sayang sekali Reyes gagal di Arsenal karena homesick dan korban dari “tatapan mata” Henry. Namun di musim 2007/2008 sepeninggal Thierry Henry, Arsenal dengan Kuartet midfield andalannya (Fabregas, Hleb, Rosicky, Flamini) berhasil menduduki puncak klasemen dan mendominasi liga Inggris sampai Februari 2008, saat pematahan kaki Eduardo mengguncang seluruh tim.

Wengerball baru, possession ball dengan pertukaran posisi pemain dan pergerakan bola satu sentuhan

Arsenal mengakhiri musim itu tanpa gelar dan tim yang tercerai berai. Hleb pindah ke Barcelona dan Flamini ke AC Milan. Namun musim itu adalah musim di mana Arsenal bermain Wengerball baru, possession ball dengan pertukaran posisi pemain dan pergerakan bola satu sentuhan. Kuartet Arsenal mendominasi lini tengah, bertukar posisi dengan cepat dan membentuk triangle operan satu sentuhan yang mematikan. Hubungan yang akrab antara keempat pemain ini di luar lapangan sangat membantu dalam kerjasama mereka di lapangan. Telepati seakan terjalin antara keempatnya. Rosicky dan Hleb yang pada dasarnya adalah pemain tengah bermain sebagai inverted winger sedangkan Fabregas dan Flamini sebagai double pivot. Namun saat pertandingan berjalan, posisi mereka sangat fleksibel. Berganti-ganti posisi dalam “box” dengan empat sudut, Arsenal bermain sempit, namun perpindahan posisi keempat pemain ini akan menciptakan “ruang” yang lebih besar daripada sekedar permainan melebar ke sayap. Menurut saya pribadi, sepakbola Arsenal di musim tersebut lebih indah daripada era Invincible sekalipun. Sayangnya cedera patah kakinya Eduardo di Februari 2008 memberikan tekanan mental yang luar biasa pada tim dan mengakhiri dini Wengerball MK II dan perburuan gelar juara Arsenal di musim itu.

Kuartet Midfield Arsenal 2007/2008

Hleb pindah ke Barcelona namun tidak berhasil berperan besar di sana walaupun memenangkan trofi Champions League dan ia menyesali kepindahan tersebut. Flamini pindah ke Milan setelah menolak perpanjangan kontrak. Kepindahan kedua pemain tersebut sedikit banyak terpengaruh oleh horror cedera Eduardo. Dalam sekejap, Fabregas ditinggal 2 sahabat terbaiknya.

Setelah kepindahan Hleb dan Flamini, Wenger berusaha merekonstruksi ulang sepakbola Arsenal musim 2007/2008 di tahun-tahun berikutnya, namun gagal. Salah satu sebabnya adalah Rosicky yang cedera parah sejak awal musim 2008, sehingga praktis hanya Fabregas sendiri yang tersisa dari kuartet fenomenal tersebut. Hal lain adalah tiadanya pendamping Fabregas yang sebaik Flamini. Denilson dan Diaby tidak mampu mengemban tugas destroyer sebaik Flamini dan memberikan Fabregas kebebasan berkreasi di lapangan tengah. Arsenal membeli Samir Nasri dan Aaron Ramsey (umur 17 tahun saat itu), namun tetap saja Wenger gagal merekonstruksi kembali kuartet midfield yang mampu memainkan Wengerball MK II. Ball possession Arsenal tetap dipertahankan dominan dalam setiap pertandingan tapi mereka kekurangan greget dalam serangan. Perubahan posisi setiap pemain terlihat stagnan, dan Arsenal bergantung total pada passing ala quarterback Fabregas dan kecepatan Walcott untuk menciptakan peluang. Lawan dengan mudah menangkalnya dengan double atau triple up Fabregas setiap kali ia menerima bola. Dan kita semua tahu apa akhir ceritanya. Fabregas pun pergi meninggalkan Arsenal di awal musim 2011/2012 bersama Samir Nasri. Wenger kehilangan dua pemain tengah terbaiknya, sebuah syarat mutlak untuk memainkan Wenger Ball.

Kelahiran Kembali Wengerball (MK III)

Musim ini kita kembali menyaksikan sepakbola indah Arsenal, namun dalam versi yang sedikit berbeda. Wengerball yang baru ini memiliki kecepatan transisi era Invincible Bergkamp namun juga tiki-taka ball possession era kuartet Fabregas. Tim Arsenal yang baru ini tahu kapan harus bermain santai di gigi satu-dua dan kapan harus pindah ke gigi empat untuk meluncurkan serangan balik kilat. Beberapa pertandingan di bawah ini bisa menjadi ilustrasi Wengerball yang baru, MK III.

Dua gol Arsenal di Swansea (Gnabry, Ramsey) adalah contoh sempurna Wengerball dari dua jaman, era Invincible dan era Kuartet Midfield 2007/2008. Gol pertama berasal dari 20 operan cepat dari belakang ke depan, membentuk triangle yang indah dan perubahan posisi yang membingungkan lawan, ciri khas Wengerball MK II. Gol kedua berupa transisi yang cepat 4-5 sentuhan dari kiper ke striker dan diselesaikan dengan indah oleh Aaron Ramsey, ciri khas Wengerball era Invincible.

Melawan Norwich City, gol pertama Wilshere dalam waktu 20 detik sejak perpindahan bola dari Norwich ke Arsenal di depan kotak penalti Arsenal hingga bersarang di gawang Norwich. Gol tersebut melibatkan 2 backheels, 3 one-two dan 4 operan satu sentuhan dan 5 pemain Arsenal. Ini yang disebut Wenger sebagai Progression, bukan Possession. Jadi bola dioper dengan satu sentuhan dan maju ke depan, bukan ala tiki-taka yang sabar mengoper bola ke samping dan bila perlu ke belakang sambil menunggu kesempatan. Ini adalah operan satu sentuhan yang memanfaatkan momentum transisi. Sejak Flamini merebut bola, seluruh pemain Arsenal berpikir bagaimana dengan cepat menempatkan bola tersebut ke gawang lawan.

Jack Wilshere Norwich City goal

Rangkaian operan yang menuju pada gol Wilshere

Melawan Dortmund di kandang mereka, gol serupa tercipta. Juga dalam 20 detik, gol Ramsey ini melibatkan 3 one-two (2 antara Rosicky-Ramsey dan 1 antara Rosicky-Sokratis), 2 umpan lambung (Szczesny dan Ozil) dan 5 sundulan (2x Bender, Subotic dan 3x oleh Arteta, Giroud, Ramsey). Total terjadi 16 sentuhan (dengan urutan Szczesny-Bender-Subotic-Arteta-Rosicky-Ramsey-Rosicky-Ramsey-Rosicky-Sokratis-Rosicky 2x-Ozil 2x-Giroud-Ramsey) dalam waktu 20 detik sejak bola ditendang Szczesny sampai masuk ke gawang Dortmund. Sebuah varian kompleks dari Route One Football.

Saat melawan Marseille, durasi waktu yang diperlukan untuk terjadinya sebuah gol dari transisi lebih pendek, 8 detik. Dari Mertesacker ke Sagna dan langsung ke Wilshere. Gol ini lebih mirip dengan era Invincible daripada gol-gol di atas. Bergkamp mengatakan bahwa di jamannya mereka melatih khusus counter attack cepat untuk mencetak gol dalam 8 detik sejak terjadinya perpindahan penguasaan bola. Kecepatan Henry dieksploitasi habis oleh pemain-pemain Arsenal waktu itu. Hebatnya gol 8 detik Wilshere kemarin terjadi tanpa melibatkan pemain tercepat Arsenal saat ini, Theo Walcott.

Walcott bisa menjadi Henry era kini dengan kecepatan dan finishingnya yang makin akurat dan Özil bisa menjadi kunci Wengerball baru ini (saya menulis tentang Ozil sebagai pewaris tahta Bergkamp di sini). Keakuratan operannya dan pergerakan off the ball-nya yang cerdas menjadi kunci memulai Wengerball. Dalam dua gol di Swansea, rangkaian operan kilat satu sentuhan Arsenal dimulai dari Özil. Demikian juga satu kesempatan 8 detik lainnya saat melawan Marseille di mana Ramsey gagal menyelesaikan rangkaian operan yang dimulai setelah Özil menerima bola satu sentuhan dari Sagna.

Total ada 11 pemain tengah/depan yang bisa dipermutasikan untuk mengisi 5 posisi lini tengah/depan selain Giroud, yang saat ini tidak tergantikan

Pilihan pemain tengah Arsenal musim ini demikian banyak dan berkualitas sehingga Wenger bisa memainkan berbagai formasi tergantung karakter permainan lawannya. Ia bisa memainkan tiga CM di belakang Giroud dengan double pivot seperti saat melawan Napoli atau 3 CM dan 1 Winger seperti Arsenal musim lalu. Ia bisa memakai formasi 4-2-3-1, 4-1-3-2, 4-2-1-3 atau bahkan 4-4-1-1 sebagai varian 4-3-3. Tujuh pemain tengah yang dimilikinya sangat flexible. Belum lagi ditambah 2 pemain depan yang bisa menjadi winger dalam Walcott dan Podolski. Chamberlain dan Gnabry pun siap menjadi pilihan. Total ada 11 pemain tengah/depan yang bisa dipermutasikan untuk mengisi 5 posisi lini tengah/depan selain Giroud, yang saat ini tidak tergantikan. Kesebelas pemain tersebut adalah:

  1. Özil
  2. Cazorla
  3. Rosicky
  4. Ramsey
  5. Wilshere
  6. Chamberlain
  7. Walcott
  8. Podolski
  9. Gnabry
  10. Arteta
  11. Flamini

Kekayaan lini tengah Arsenal musim ini begitu memanjakan jika kita bandingkan dengan dua era sebelumnya. Era Invincible kita hanya punya: Vieira, Gilberto, Parlour, Pires, Ljungberg, Edu, Wiltord dan Bergkamp sebagai AM/SS. Era berikutnya: Fabregas, Hleb, Rosicky, Flamini, Diaby, Denilson, lalu ditambah Arshavin, Nasri yang keduanya tidak pernah mencapai permainan puncaknya di Arsenal. Sementara kesebelas pemain Arsenal era kini tersebut sedang menuju atau sedang berada pada permainan terbaik mereka.

Wengerball Arsenal musim ini sangat berpotensi untuk melampaui level Wengerball di era Invincible dan 2007/2008. Arsenal bisa memainkan counter attack kilat namun juga bisa berbahaya lewat operan-operan cepat dari midfield ke depan saat menguasai bola. Arsenal bisa nyaman menyerahkan ball possession kepada lawan dan mengandalkan serangan balik (karena lini pertahanan yang solid, contoh: vs Dortmund, Southampton) namun juga sama nyamannya saat menguasai bola (800 operan vs Marseille). Pendek kata, baik saat memiliki bola maupun tidak, Arsenal bisa sama berbahayanya.

Wengerball adalah sepakbola menyerang dengan operan cepat satu sentuhan yang sangat membutuhkan rasa kepercayaan diri yang tinggi. Saat ini form Arsenal yang sedang bagus-bagusnya menciptakan kepercayaan diri yang tinggi. Posisi puncak di klasemen liga Inggris dan grup Champions League menambah kepercayaan diri ini. Jika hasil positif bisa dicapai dalam 7 pertandingan terakhir liga tahun ini, maka Arsenal akan mengakhiri tahun 2013 sebagai “juara” paruh musim. Sesuatu yang sudah lama sekali tidak kita lakukan.

Wengerball sedang mengalami evolusi, dan kita sebagai pengikut, pendukung, pencinta Arsenal diberikan kemewahan untuk menikmatinya saat ini. Sebuah hak yang layak didapatkan setelah penantian bertahun-tahun.

Victoria Concordia Crescit