Memahami Coquelin, False Six Arsenal

<> at KC Stadium on May 4, 2015 in Hull, England.

Francis Coquelin, Arsenal’s unorthodox DM

Artikel ini adalah soal memahami peran Francis Coquelin, pemain Arsenal yang sedang tidak populer di kalangan Gooners. Bukan salahnya, tapi “salah” Wenger yang membeli Granit Xhaka dengan harga selangit (35 juta poundsterling). Xhaka yang diharapkan fans-fans Arsenal dapat melahirkan kembali peran deep playmaker ala Arteta di musim ini terhalang oleh keras kepalanya Wenger yang terus memainkan Coquelin (dan Cazorla). Coquelin dijadikan kambing hitam oleh Gooners karena sebagian besar Gooners merasa Xhaka jauh lebih baik dan cocok untuk memainkan peran DM sekaligus deep playmaker di skuad Arsenal musim ini. Ia punya tackle keras, long pass dan short pass yang lebih akurat, terakhir punya long shot yang berbuah gol indah, ditambah lebih ganteng dari Coquelin. Kurang apa lagi? Mengapa Wenger demikian keras kepala untuk tidak mengganti Coquelin dengan Xhaka? Apakah Wenger punya misi pribadi untuk tidak menggunakan pemain mahalnya? Apakah transfer Xhaka bukan keputusannya? Berbagai teori konspirasi pun beredar di kalangan fans Arsenal yang menolak untuk memahami peran Coquelin dan isi kepala Wenger.

Tidak heran segala teori konspirasi di atas bisa lahir. Dari sebagian fans Arsenal yang saya follow (di Twitter), kebanyakan yang punya pemikiran anti Coquelin ini juga adalah mereka yang konsisten mengkritik Wenger, terutama soal taktik dan transfer. Mereka yang menolak memahami cara berpikir Wenger tentunya tidak akan paham mengapa Wenger lebih memilih Coquelin daripada Xhaka, untuk saat ini. Buat mereka, Wenger sudah outdated soal taktik, Wenger tidak mengerti bagaimana memainkan Xhaka, Wenger lebih pro ke anak didiknya daripada pemain bintang baru yang mahal. Bias anti-Wenger mereka mempengaruhi pendapat mereka tentang semua hal yang berhubungan dengan Wenger, termasuk tentang peran Coquelin. Jika Anda termasuk yang punya pendapat serupa, saya mohon Anda dapat sabar dan membaca artikel ini sampai selesai dulu sebelum berkomentar. Kolom komentar tersedia di bawah dan saya akan dengan senang hati meladeni keluh kesah Anda tentang Coquelin atau opini yang berseberangan. Artikel ini bertujuan untuk memahami cara pikir Wenger yang saat ini lebih memilih Coquelin daripada Xhaka, terlepas dari itu keputusan yang salah atau benar (yang hanya bisa diketahui di kemudian hari).

Untuk membandingkan peran keduanya maka match melawan Watford (Xhaka main, Arsenal menang 3-1) dan lawan Hull City (Coquelin main, Arsenal menang 4-1) bisa menjadi referensi. Keduanya berpasangan dengan Santi Cazorla dalam dua match itu. Mari kita mulai dengan paparan statistik sebelum saya memasukkan opini pribadi saya. Saya akan menggunakan Stats Zone (FourFourTwo) dan Whoscored yang mudah diakses setiap orang.

Stats Zone Defensive Dashboard

coq-def

Coquelin vs Hull City

xha-def

Xhaka vs Watford

Coquelin membuat 4 tackle, 4 interception dan 1 clearance dalam laga vs Hull City. Xhaka membuat 5 tackle, 2 interception, 3 clearance dalam match vs Watford. Angka yang tidak berbeda banyak. Tapi coba perhatikan posisi di mana aksi defence keduanya terjadi. Coquelin melakukan tackle dan interception lebih banyak di setengah lapangan lawan sementara Xhaka lebih banyak di setengah lapangan sendiri. Coquelin bermain lebih depan daripada Xhaka. Mengapa Coquelin bermain lebih maju? Dalam tiga pertandingan terakhir lawan Soton, PSG dan Hull City, Coquelin beberapa kali bermain lebih maju daripada Cazorla. Apakah ini karena nafsunya menyerang? Ataukah ini karena seringnya ia mengabaikan instruksi pelatih untuk stay di posisi DM?

Satu kali mungkin kebetulan, dua kali artinya kebiasaan buruk, namun kalau sampai tiga kali mengulangi hal yang sama artinya itu sebuah instruksi pelatih. Coquelin awalnya terlihat tidak nyaman dengan instruksi ini. Melawan Soton babak pertama, ia terus maju ke area lawan saat Arsenal menguasai bola. Beberapa kali ia menerima bola di lapangan lawan, namun gagal mengoper ke pemain Arsenal lainnya. Di babak pertama ia bermain buruk. Babak kedua, posisinya tukar dengan Cazorla, dari kiri ke kanan. Ia bermain lebih baik dan Arsenal menguasai bola dengan baik di babak kedua. Saat melawan PSG, Coquelin bermain lebih baik namun penampilan terbaiknya ada pada match lawan Hull City. Ia memainkan peran barunya yang diinstruksikan oleh Wenger dengan amat baik sehingga Arsenal mendominasi total pertandingan tersebut.

False Six 

Anam Hassan (@arsenalcolumn) memiliki teori yang menarik mengenai “instruksi” ini. Dalam tulisannya di arseblog, ia mengupas bahwa Wenger menginstruksikan Coquelin bermain lebih maju dari biasanya dengan dua tujuan (ditambahkan sedikit analisa saya):

  1. Dengan majunya Coquelin ke lapangan lawan, membuat permainan Arsenal tetap di area lawan. Berlawanan dengan Positional Play (Salida Lavolpiana) ala Guardiola yang menggunakan DM sebagai deep playmaker untuk mendistribusi bola ke depan, Wenger memilih menggunakan CB sebagai distributor bola. Coquelin maju ke depan akan menarik marker-nya dan menarik mundur pressing lawan. Bila marker Coquelin ikut mundur, CB Arsenal akan bebas mengoper ke ruang yang terbuka (biasanya diterima Cazorla). Bila lawan memilih maju untuk pressing CB Arsenal yang membawa bola, ruang kosong yang ditinggalkan midfield lawan akan diisi oleh Ozil atau Cazorla untuk menerima bola. Dan karena ruang kosong ini sangat dekat dengan Zone 14 (yang diidentifikasi oleh analis sepakbola sebagai zone paling berbahaya), Arsenal tinggal melakukan satu operan lagi untuk menyerang dari zone yang diidentifikasi sebagai area di mana tingkat keberhasilan serangannya paling tinggi. zone 14 in 18 zones.png
  2.  Apabila Arsenal kehilangan bola di daerah lawan, maka lawan akan melakukan counter attack dengan cepat. Di sini kecepatan fisik Coquelin dan kemampuan hebatnya mengendus bahaya sangat berarti. Coquelin berkali-kali melakukan tackle dan interception di area lawan, saat lawan baru mau melakukan counter attack. Gegenpressing ala Klopp dilakukan oleh Coquelin, sendiri. Bila sukses, counter dari counter attack ini lebih efektif daripada DM yang baru mulai membaca serangan lawan di area sendiri, di Zone 5 dan 8. Dan karena notabene pemain Arsenal masih berada di lapangan lawan saat counter terjadi, probabilitas Arsenal kembali mendapatkan bola sangat tinggi. Permainan dilanjutkan di area lawan.

Sekali tepuk dua lalat. Dengan memainkan Coquelin lebih maju, Wenger membuka ruang untuk Arsenal menyerang dari tengah, dari Zone 14 sekaligus mengatasi masalah counter attack lawan yang menjadi momok Arsenal selama ini.

Hal ini merupakan evolusi taktik Wenger pasca Arteta. Guardiola menganalisa taktik Arsenal di tahun 2014 (saat kita masih menggunakan Arteta sebagai pivot):

Pep explains in detail how Mikel Arteta tries to draw in the opposing pivote in order to create a space in the middle of midfield into which Mesut Özil will try to appear. Pep walks through Arteta’s movements whilst emphasising to his players, who are spread out in front of him: “Özil is the dangerous one – he’s the one we really need to keep the closest eye on. Arteta draws you in, Özil pops up in that zone with Santi] Cazorla and Alex Oxlade-Chamberlain around him and that’s the way that they achieve superiority in a key area. We can’t afford that to happen.”

Saat itu Arteta bermain sebagai DM ala La Volpe. Positional Play yang diinspirasikan oleh Ricardo La Volpe (yang terkenal dengan sebutan Salida Lavolpiana, the way out of La Volpe) dan dikembangkan oleh Guardiola di Barca dan Bayern. Perannya sebagai pembawa bola adalah untuk menarik marker lawan agar tercipta ruang kosong di lapangan tengah untuk Ozil. Musim 2012/2013 setelah kepergian Song dan satu tahun setelah Arteta dibeli Arsenal, fans-fans Arsenal dan pundit bola bingung mengapa Arteta yang notabene pemain kreatif (AM Everton) ditaruh di posisi DM. Saat itu sepakbola Positional Play ala Guardiola belum populer diadopsi tim-tim Inggris. Banyak yang meragukan kemampuan Arteta sebagai DM dan menyayangkan kreativitasnya terbuang di posisi itu. Hasilnya Arteta menjelma menjadi DM tangguh, ahli tactical foul, passer bola terbanyak di tim Arsenal dan sesekali memberikan long ball akurat ke Giroud. Ia menjadi pemain terpenting di tim Arsenal sebelum Ozil bergabung. Masih ingat dulu fans Arsenal selalu khawatir setiap kali Arteta cedera? Bahkan kita punya statistik berapa % kemenangan Arsenal dengan Arteta vs tanpa Arteta. Good old days.

Cedera mengakhiri karir Arteta tapi dampak permainannya begitu membekas di hati Gooners yang berharap kita menemukan pengganti Arteta. Tidak heran kita begitu berharap banyak pada Xhaka. Pemain yang lebih mirip Arteta daripada semua pemain tengah yang kita miliki, termasuk Coquelin. Xhaka bisa mengoper bola dengan baik, long ball-nya akurat, dan rasanya interception serta tacklingnya lebih baik. Ia punya development ceiling yang lebih tinggi daripada Arteta. Kita melihat Xhaka sebagai Arteta Mk II.

Sayangnya fans Arsenal bak jalan di tempat (soal taktik) bila tetap berpikiran begitu. Bahkan Arteta di puncak permainannya sebagai DM tidak mampu membawa kita ke puncak. Wenger yang dikatakan outdated soal taktik sudah memilih untuk maju, evolusi taktik Arsenal untuk sekian kalinya. Memahami keterbatasan Positional Play Arsenal sebelumnya, terutama dengan berkembangnya adopsi transisi cepat di tim-tim lawan (paling jelas Leicester City), Wenger merespon dengan evolusi taktik terbarunya: False Six, atau bisa juga disebut Decoy DM. Istilah ini pertama kali ditulis di sini, jadi jangan lupa mengkreditkan blog ini bila istilah ini lalu populer.

Nomor enam adalah nomor sepakbola modern untuk DM. Coquelin menolak memberikan No 34 miliknya ke Xhaka mungkin karena No 6 ini masih dipakai Koscielny. False Six mengikuti trend False Nine adalah sebutan untuk DM palsu. Pemain yang memulai dengan posisi di DM, namun kemudian bergerak bukan di area operasi DM. Coquelin bermain sangat tinggi di 3 pertandingan terakhir, bahkan sering muncul di kotak penalti lawan. Ia semakin nyaman di posisi ini saat menyerang maupun bertahan. Operannya semakin bagus. Bahkan di pertandingan terakhir ia adalah pengoper ketiga terbanyak setelah Ozil dan Cazorla dengan tingkat kesuksesan tertinggi 98%. Dan operannya saat lawan Hull City kebanyakan terjadi di area lawan.

Coq Passes.png

Passing Coquelin vs Hull City

Namun walau asyik mengoper bola, Coquelin tidak melupakan perannya sebagai DM. Merebut bola secepat mungkin ketika bola berpindah pihak. Ia melakukannya dengan sangat efektif. Coquelin memimpin statistik defence Arsenal musim ini dengan 3.8 tackles dan 3.5 interception (per 90 mins, angka yang masuk 10 besar terbaik di EPL). Bila terjadi di lapangan lawan, statistik ini menjadi berkali lipat lebih berarti. Ia mematikan counter attack lawan sekaligus menjadi trigger serangan baru Arsenal di area berbahaya. Gol pertama Arsenal lawan Hull City terjadi akibat serangan yang dimulai oleh Coquelin (shoot jarak jauh, memantul dari lawan, rebut kembali bola hasil pantulan, oper ke Cazorla – Walcott shoot – Iwobi rebound shoot – Sanchez goal!). Penalti Arsenal juga diberikan karena tendangan keras Coquelin di dalam kotak penalti lawan. Kedua hal ini dimungkinkan karena posisi Coquelin yang demikian maju saat Arsenal menyerang. Dan hanya Coquelin yang bisa melakukan ini sekarang karena kualitasnya (fisik maupun insting) dalam mengendus dan menghentikan serangan lawan di area lawan belum bisa ditandingi CM Arsenal lainnya.

Mencari Duet Midfield Arsenal Terbaik

Mengetahui keras kepalanya Wenger, maka Coquelin dipastikan tidak akan diganti dalam beberapa pertandingan ke depan karena ia sedang mencoba taktik revolusioner False Six barunya ini. Lalu apakah ia akan tetap bertahan dengan duet Coquelin – Cazorla? Bagaimana nasib Xhaka? Kompleksitas ditambah dengan kembalinya Ramsey yang pasti akan menuntut bermain dan Elneny yang lama di bangku cadangan akan ikut panas. Musim ini adalah musim di mana kita memiliki depth terbaik di midfield. 5 pemain berkompetisi di 2 posisi. Hanya posisi Ozil yang tak tergantikan. Bila Coquelin juga tidak tergantikan maka 4 pemain lainnya akan berkompetisi untuk 1 posisi di midfield. Ini menjelaskan mengapa Jack Wilshere cabut duluan.

Menilik dari awal musim ini, Wenger sejauh ini sudah mencoba duet Coquelin-Cazorla (Liverpool, Soton, PSG, Hull), Coquelin-Xhaka (Leicester), dan Xhaka-Cazorla (Watford). Mana duet yang terbaik? Mari kita lihat heatmap dari Whoscored.

heatmap CoqXha LEI.png

Heatmap Xhaka & Coquelin vs Leicester City

Pertama kalinya Xhaka dan Coquelin bermain bersama karena Cazorla main sebagai AM. Xhaka start di DM dan Coquelin sebagai box to box. Heatmap yang biru itu adalah area jelajah Coquelin yang tersebar sedang Xhaka cenderung diam di Zone 7 dan 8. Coquelin mendapatkan MotM dari Whoscored di pertandingan (rating 8.4) ini karena statistik 5 tackle, 5 interceptionnya yang terbukti vital.

heatmap Xhazorla WAT.png

Heatmap Xhaka & Cazorla vs Watford

Di pertandingan ini, Coquelin cedera dan tidak bisa start. Xhaka diberikan kesempatan mendampingi Cazorla karena Ozil sudah kembali bermain. Terlihat heatmap tidak berbeda jauh dengan vs Leicester. Hanya saja kali ini Xhaka mengambil peranan lebih dalam bertahan dengan jumlah tackle dan interception yang lebih banyak (5, 2). Area jelajahnya masih di Zone 8 kiri sedangkan Cazorla beroperasi di kanan agak ke depan. Sekarang kita bandingkan dengan heatmap Coquelin & Cazorla di tiga pertandingan berikutnya (Soton, PSG, Hull):

heatmap Coqzorla SOT.png

heatmap Coqzorla PSG.png

Terlihat perbedaan jelas ketiga heatmap ini dengan dua heatmap sebelumnya: dua CM Arsenal bermain lebih maju. Bahkan saat melawan PSG sekalipun yang memainkan 4-3-3 dengan 3 CM berkualitas. Dalam pertandingan vs Soton dan Hull yang CM-nya tidak sebaik klub Eropa, dua CM Arsenal bermain mayoritas di lapangan lawan. Agenda Wenger untuk memaksakan permainan terjadi di lapangan lawan terwujud. Berkat taktik false six ini, berkat Coquelin. Heatmap lawan Hull City adalah ideal yang diinginkan Wenger. Dua CM-nya konsisten menjelajahi Zone 14, zone di mana serangan efektif dilancarkan.

Tidak hanya berpengaruh terhadap area jelajah CM. Taktik ini juga mengubah pola permainan Arsenal. Di mana CM Arsenal sebagai pemegang bola terbanyak bergerak, maka pemain-pemain yang lain akan mengikuti. Salah satu statistik model baru yang juga saya sukai adalah Positions & Passing Network milik @11tegen11. Saya akan sajikan 6 grafik @11tegen11 untuk Arsenal dan silakan simpulkan sendiri perubahannya.ARS v LIV.jpg

LEI v ARS.jpgWAT v ARS.jpgARS v SOT.jpgPSG v ARS.jpgHUL v ARS.jpg

Grafik di atas dari awal hingga terakhir menggambarkan evolusi taktik Wenger dan juga peran Coquelin. Match lawan Hull City memperlihatkan dominannya serangan Arsenal lewat tengah dan Zone 14. Arsenal menghasilkan goal attempt terbanyak dalam pertandingan tersebut. Arsenal yang biasa mengalirkan bola ke full back lalu cross ke Giroud mengubah gaya permainan dengan kombinasi pendek di tengah lapangan, lewat Zone 14. Sanchez, Ozil, Cazorla dan Coquelin menjadi tulang punggung taktik ini. Untuk melihat perbedaannya dengan Positional Play ala Guardiola, lihat grafik di bawah ini.Cskynq5WIAAUDkm.jpg

Untuk saat ini saya tidak melihat Wenger akan mengganti Coquelin dengan Xhaka. Xhaka tidak memiliki mobilitas ala Coquelin dan lebih condong bermain agak ke belakang. Dalam salah satu interviewnya Wenger mengatakan ia melihat Xhaka lebih cocok sebagai box to box midfielder daripada deep playmaker dan ia ditertawakan seantero jagat Twitter (fans Arsenal). Xhaka kan pengganti Arteta, kok malah mau disulap jadi Box to Box? Wenger buta ya? Sayangnya kebanyakan fans Arsenal merasa sudah paham taktik sepakbola hanya karena membaca artikel Positional Play ala Guardiola. Mereka lupa bahwa Wenger mengalahkan Barca dan Bayern-nya Guardiola, dengan tim yang jauh lebih murah meriah.

“He can of course [impose himself], he has the stature, the power, he has the strength. What we want is for him to use that in a very efficient way.

I personally prefer him as a box-to-box player,” added Wenger, “because he has the engine, the power and he has the long pass. He likes to come deep and distribute the game. I think as well he has the engine to have an impact with his runs.”

Wenger ingin Xhaka lebih banyak berlari seperti Coquelin. Hingga Xhaka siap berubah atau saat Wenger harus mengubah taktiknya untuk menghadapi tim tertentu yang tidak bisa dihadapi dengan False Six, Xhaka tampaknya masih harus duduk di bangku cadangan. Bagaimana dengan Ramsey dan Elneny?

Kelima pemain tengah Arsenal yang berkompetisi untuk 2 spot di CM ini memiliki kekuatan dan kelemahan yang berbeda:

  1. Coquelin: sudah dibahas kekuatannya, kelemahannya ada pada akurasi passingnya yang sekarang sedang diasah.
  2. Cazorla: +dribbling, passing, retensi bola dan mobilitas; -fisik, tackling, pertahanan
  3. Elneny: +pass and move, interception, shooting; -sering kurang fokus saat bertahan (vs LIV), tracking back
  4. Xhaka: +long pass, tackling; -mobilitas, interception, off the ball run
  5. Ramsey: +penetrasi ke box, shooting, passing; -defense, slow

Tidak ada midfielder yang sempurna namun pasangan yang balanced bisa saling menguatkan dan kombinasi yang tepat akan menjadi lebih kuat daripada jumlah kekuatan+kelemahan keduanya. Dengan mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan para pemain tengah Arsenal di atas dan taktik yang sedang menjadi fokus Wenger, duet pemain tengah terbaik Arsenal saat ini adalah Coquelin & Cazorla, COQZORLA.

Saya melihat lebih besar kemungkinan Xhaka dipasang dengan Elneny atau Ramsey daripada dengan Cazorla ataupun Coquelin. Maka Wenger bisa punya 2 pasang CM yang bisa ia gonta-ganti tergantung dengan lawan yang dihadapinya. Kalau ia ingin bermain agresif di lapangan lawan maka Coqzorla-lah yang dipasang. Kalau lebih ingin bermain counter attack maka Xhaka-Ramsey/Elneny bisa dipasang. Kita tidak perlu lagi was-was seperti jaman Arteta dulu, di mana tidak ada pengganti yang sepadan.

Menerima Coquelin Apa Adanya

Jadi setelah penjelasan panjang lebar di atas ditambah dengan paparan statistik yang komplet, masihkah Anda berpikir Coquelin adalah pemain yang jelek? Masihkah Anda berpikir Wenger kuno soal taktik? Masihkah Anda sibuk kampanye Xhaka vs Coquelin?

Semua data statistik di atas bisa didapat dengan gratis di internet. Jangan lupa Arsenal punya StatDNA, the world’s most advanced soccer data and analytics (klaim di akun Twitter-nya sebelum dibeli Arsenal). Perusahaan yang diakuisisi oleh Kroenke ini memberikan data statistik per hari ke Wenger. Apabila hanya dengan bekal statistik dari Stats Zone dan Whoscored saya bisa mengambil demikian banyak materi untuk tulisan ini, untuk menjustifikasi pandangan saya, bayangkan banyaknya informasi yang dimiliki Wenger soal pemainnya, soal perkembangan taktik sepakbola untuk kemudian menentukan permainan yang terbaik untuk timnya saat ini.

Bila belum percaya dengan ulasan artikel ini, silakan tonton ulang penampilan Coquelin di tiga pertandingan terakhir Arsenal. Tontonlah tanpa bias anti Coquelin di kepala. Anda akan melihat betapa efektinya peran Coquelin sebagai False Six, sebagai new Decoy DM Arsenal. Saatnya Anda menerima Coquelin apa adanya dan mendukungnya. Ia bisa jadi kunci sukses Arsenal musim ini.

 

Advertisements

Adios Bac, Cesc…

Selamat jalan Bacary Sagna. Best right back we’ve ever had. Pamitan Bac terkesan berkelas dengan posting tulus yang personal di Instagram (komplet dengan typo), tidak seperti surat terbuka yang direview dan diedit secara legal oleh lawyer ala Van Persie. Bac berkelas, dan memberikan salam terakhir serta ungkapan terima kasihnya kepada fans Arsenal, kepada Wenger, dari hatinya yang terdalam. Perasaan yang emosional darinya dapat kita rasakan ketika membaca pesan tersebut.

Perpisahan dengan Sagna ini sudah diprediksi. Ia menolak memperpanjang kontrak karena Arsenal tak dapat menyamai penawaran dari City. Hal ini dapat dimengerti. Sagna mungkin hanya punya 2-3 tahun tersisa untuk karir sepakbolanya di level elit, dan Arsenal tidak ingin memecahkan plafon gaji pemainnya dengan membayar Sagna dengan gaji mendekati level Ozil lalu tetap harus mencari penggantinya di 1-2 musim berikutnya. City berbeda kelas soal budget pemain. Walau dijatuhi denda oleh UEFA, mereka sanggup membayar Sagna berapapun yang ia mau. Sagna bisa mendapatkan bayaran besar untuk fase terakhir dari karirnya. Ia mesti memikirkan pensiunnya. Kita paham, dan kita merelakan Sagna yang selama ini tak pernah kurang dari 100% membela Arsenal.

Mengganti Sagna bukan pekerjaan mudah. Jenkinson rasanya belum sanggup menggantikan peran Sagna yang solid di belakang dan selalu menjadi outlet saat menyerang. Beberapa musim terakhir ini Sagna mengubah pola serangan Arsenal yang umumnya lebih berat ke kiri menjadi berat ke kanan. Jenkinson tidak memiliki positional awareness, dan kemampuan bertahan selevel Sagna walaupun crossing-nya mungkin lebih baik. Tidak heran rumor seputar calon RB baru Arsenal lebih kencang daripada posisi lainnya. Siapapun yang didapatkan Wenger nanti, ia punya pekerjaan rumah berat untuk menggantikan legenda Arsenal, Bacary Sagna.

The King is Dead, Long Live the King! 

Selain Sagna, hari ini juga saatnya fans Arsenal mengucapkan Adios untuk Cesc Fabregas. Walaupun ia bukan pemain Arsenal sebelum bergabung dengan the dark side of London, Cesc selalu dianggap sebagai seorang Gooner dan Arsenal adalah rumah keduanya setelah Barca. Yang membantu memunculkan persepsi ini adalah diselipkannya klausul buyback (lebih tepatnya first refusal option, bisa buyback kalau Barca berkenan) di kontrak Cesc Fabregas saat ia pindah ke Barca. Mungkin Wenger sudah memprediksi Cesc tak akan lama di Barca dan akan kembali lagi ke London suatu hari nanti. Sayangnya kepulangannya saat ini tidak di saat yang tepat. Arsenal menolak menggunakan klausul itu dan membiarkan Chelsea membelinya. Fans Arsenal mungkin perlu bersimpati kepada Cesc, ia ditolak dua klub yang mungkin benar-benar dicintainya saat ini, Barca dan Arsenal. Pilihannya kepada Chelsea mungkin mirip dengan pilihan saya kepada capres Pemilu nanti, milih lesser evil, bukan memilih the worshiped, loved one karena pilihan tersebut tidak tersedia.

Fans Arsenal mungkin perlu bersimpati kepada Cesc, ia ditolak dua klub yang mungkin benar-benar dicintainya saat ini, Barca dan Arsenal

Sekarang mari kita mengenang masanya Cesc di Arsenal agar perpisahan ini paripurna. Setelah kepergian Thierry Henry, Fabregas mestinya menjadi Raja Baru Arsenal. Putera Mahkota, Pangeran Arsenal yang menjadi pusat permainan Arsenal ini hanya berhasil “nyaris” memberikan Arsenal trofi di musim 2007/2008 (memimpin di perburuan gelar juara liga) dan 2010/2011 . Walau minim gelar, semua fans Arsenal tahu betapa vitalnya Cesc dalam sepakbola Arsenal pasca Invincibles, pasca bubarnya The Three Musketeers (Henry, Vieira, Pires) dan pasca “pensiunnya” God Bergkamp. Wenger bahkan mengubah formasi 4-2-2 Arsenal ke 4-3-3, menjual Vieira ke Juventus, demi mengakomodasi Fabregas sebagai pusat sepakbola Arsenal. Wenger membelinya di usia 16 tahun, memainkannya di usia 17 tahun, dan terpaksa merelakannya kembali ke “kampung”-nya di usia 24 tahun, usia menuju puncaknya seorang pemain tengah. Sesungguhnya Wenger tidak rela sepenuhnya melepas Cesc, terbukti dengan masih sempatnya ia menyelipkan klausal “first refusal” ke kontrak transfer Cesc ke Barca. Klausal yang memungkinkan Arsenal membeli kembali Cesc dengan harga lebih murah dari harga jual aslinya bila Barca berniat menjualnya dan menerima tawaran dari klub lain.

Klausul ini pula yang sekarang menjadi sorotan utama di jendela transfer ini karena tersebar kabar Barca ingin menjualnya dan merenovasi susunan pemain di bawah manager baru mereka. Cesc menjadi bagian dari daftar surplus tersebut. Ironis mengingat Barca demikian susah payah mengambilnya dari Arsenal 3 tahun lalu. Cesc yang diprediksi menjadi pengganti Xavi malah duluan ditendang dari Barcelona daripada Song. Cesc yang dikatakan memiliki DNA Barca tidak pernah menjadi pusat di Barcelona. Ia mungkin bergabung di saat yang kurang tepat. Tiga pelatih berbeda di tiga musimnya bersama Barca dan tidak satupun benar-benar memahami posisi terbaiknya. Hanya Wenger yang mengerti betul bagaimana mengoptimalkan kemampuannya. Cesc bukan false nine, bukan pula second striker. Ia mestinya menjadi conductor di lapangan tengah. Di Arsenal ia memainkan peran ini dengan sangat baik, walaupun hanya ditemani pemain sekelas Denilson dan Diaby, atau Song. Bayangkan bila ia ditemani pemain sekelas Arteta saat itu. Cesc tidak pernah memiliki kesempatan bermain dengan pemain berpengalaman seperti Arteta di masa puncaknya. Ia mesti sendirian mengemban beban playmaker sekaligus beban sebagai kapten Arsenal. Ia pergi di saat Mertesacker, Arteta, pemain-pemain dengan jiwa leadership bergabung. Soal karir di sepakbola, Cesc mungkin termasuk pemain yang sial, tidak memiliki timing yang tepat, baik di Arsenal maupun di Barca.

Tiga pelatih berbeda di tiga musimnya bersama Barca dan tidak satupun yang benar-benar memahami posisi terbaiknya

Dan sekarang ia terpaksa bergabung dengan Chelsea, karena pacar dan bayinya tinggal di London.

Cesc tidak pernah benar-benar menjadi Raja di Arsenal. Henry, Bergkamp, Vieira, Adams adalah Raja di masa jayanya mereka. Semua menghantarkan trofi di puncak karir mereka. Semua menjadi pusat permainan Arsenal di karir mereka. Cesc menjadi pusat, namun tanpa trofi. Tim Arsenal yang saat ini sudah lebih beruntung daripadanya. Ramsey yang menjadi pusat permainan Arsenal musim ini, walaupun tidak sevital Cesc, berhasil mengantarkan trofi FA Cup. Tentunya Ramsey lebih beruntung. Ia memiliki Ozil, Cazorla, Arteta, Mertesacker, Koscielny bahkan Giroud di sekitarnya. Pemain-pemain matang yang di era Cesc sangat langka. Ramsey belum menjadi Raja, paling tidak belum untuk musim ini. Perebutan gelar Raja Arsenal baru untuk musim depan mungkin akan terjadi antara ia dan Ozil, atau dengan pemain baru Arsenal nantinya.

Kayanya pemain tengah ofensif di Arsenal saat ini menjadi satu-satunya alasan Arsenal menolak Cesc. Kita baru saja membeli Ozil dengan rekor transfer 42 juta pounds musim lalu. Ramsey, Wilshere dan Chamberlain sedang memperebutkan satu posisi di CM dan posisi DM sendiri akan diperebutkan Arteta, Flamini dan bakal pemain baru. Tentunya Cesc tidak kalah bagus dengan semua pemain tersebut. Namun saat ini dana sebesar 30 juta pounds lebih baik digunakan Arsenal untuk membeli pemain di posisi yang dibutuhkan: Striker, DM, RB daripada membeli tambahan pemain yang tidak akan mengubah banyak kualitas tim, karena posisi lini tengah yang sudah cukup berkualitas. Misalkan dana 30 juta pounds itu digunakan untuk membeli pemain sekelas Javi Martinez misalnya, kualitas tim akan jauh berubah. Atau untuk striker sekelas Benzema, Balotelli, Arsenal akan menjadi tim yang jauh lebih menakutkan. Membeli Cesc seperti menukar mobil Panther dengan Kijang, sedangkan membeli seorang striker atau DM baru seperti mengganti mobil Panther tersebut dengan mobil SUV 3000 cc yang baru.

Namun saat ini dana sebesar 30 juta pounds lebih baik digunakan Arsenal untuk membeli pemain di posisi yang dibutuhkan: Striker, DM, RB daripada membeli tambahan pemain yang tidak akan mengubah banyak kualitas tim, karena posisi lini tengah yang sudah cukup berkualitas.

Dengan bergabungnya Cesc ke Chelsea, fans Arsenal bisa menutup satu babak tentang pemain favorit mereka yang satu ini. Hilang sudah klausul buyback tersebut, hilang sudah pintu kembali untuk Cesc, paling tidak sebagai seorang pemain bola (ia sangat mungkin menjadi manager yang baik). Saya pribadi memiliki ikatan emosional yang cukup dalam terhadap Cesc. Meneteskan air mata ketika ia memilih kembali ke Barca dan memprediksi masa sulit Arsenal setelah ditinggalkannya. Cesc bagi saya adalah pemain sekelas Bergkamp, Henry, Vieira dan Pires. Di usia yang sangat muda, ia sudah jauh meninggalkan rekan-rekan angkatannya. Golnya di Milan dan pelukannya kepada Wenger saat itu tak mungkin terlupakan. Saat ia memimpin comeback melawan Barca di Emirates. Saat ia grogi dan akhirnya melakukan kesalahan di Nou Camp dan kita harus kalah. Saat ia mengumpan tanpa melihat, dengan ujung kaki, samping kaki, atau bahkan dengan tumit kaki, matanya seakan ada di semua bagian kakinya. Cesc the football quarterback, the master of time and space. Tidak ada conductor Arsenal yang se-influential dirinya, baik di masa lampau maupun di masa kini.

Cesc mungkin termasuk pemain yang sial, tidak memiliki timing yang tepat, baik di Arsenal maupun di Barca

Mungkin kembali ke Barca adalah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan di dalam hidupnya. Kita selalu mengerti dan memaafkannya, menyimpan harapan untuk ia kembali suatu hari nanti, sebagai pemain Arsenal. Namun pertimbangan logis mengenai masa depan Arsenal dan komposisi skuad Arsenal saat ini mengharuskan kita mengabaikan perasaan emosional ini. Bergabungnya ia dengan Mourinho, specialist in failure, akan memudahkan kita memutuskan ikatan emosional ini. Cesc bukan lagi calon legenda Arsenal. Ia hanyalah seorang pemain yang pernah bermain di Arsenal dan ia sekarang bermain untuk tim musuh. Ia telah mati di memory saya, sebagai pemain Arsenal.

The King is Dead… Adios Cesc Fabregas!

The Rosicky

‘The Rosicky’ adalah sebutan pemain-pemain Arsenal untuk passing unik Rosicky yang mengandalkan sisi luar dari kakinya. Silakan cek golnya ke gawang Sunderland minggu lalu. Rosicky melakukan ‘The Rosicky’ dua kali saat ia mengoper bola pertama ke Cazorla, lalu menerima bola dari Wilshere, ia melakukannya lagi ke Giroud. Dan hebatnya lagi Rosicky melakukannya sambil ‘slalom’ (skiing) dari sisi kanan lapangan, ke tengah lalu ke depan. Ia adalah wujud sempurna dari permainan Give-and-Go, tipikal permainan tim yang sulit diantisipasi lawan.

Dengan mengoper menggunakan sisi luar kaki, Rosicky bisa melakukan operan-operan pendek dengan ringan namun memiliki ‘weight’ yang sempurna. Akibatnya, pemain yang menerima bolanya tinggal mengarahkan arah bola untuk mengembalikan bola yang sama sempurnanya dalam hal kecepatan dan akurasinya. Rosicky menjadi partner sempurna untuk Giroud di kala absennya Ramsey dan Walcott. Giroud yang lebih suka bermain dengan posisi membelakangi gawang akan menjadi ‘bumper’ sempurna untuk ‘slalom’-nya Rosicky dan reboundnya ‘The Rosicky’. Giroud menjadi poros pergerakan Rosicky ke dalam kotak penalti lawan. Berbekal link up play dan hold up ball yang memadai, mereka bisa menjadi pasangan sempurna bila terus melatih permainan Give-and-Go seperti gol lawan Sunderland tersebut.

Kabar baiknya untuk fans Arsenal adalah Rosicky yang dulu dikenal sebagai Little Mozart telah setuju untuk perpanjangan kontrak setahun sampai akhir musim depan. Wenger pun memuji pemain yang beberapa tahun lalu menyihir dunia persepakbolaan Eropa dengan kemampuan tekniknya.

When he arrived, he was less a tactical player and more the Mozart from Prague. He was purely a creative, offensive player. But today, he is a real organiser as well. He gives a real structure to the team.

He is one of the players who plays the game of give-and-move and he is a great accelerator of the game. He always makes things happen, not with individual dribbling but with individual acceleration of his passing and his runs.

His goal was one of the top goals we have scored.

Saya masih ingat saat Rosicky bergabung dengan Arsenal di awal musim 2006/2007 dari Dortmund. Kegembiraan yang dirasakan mungkin sama dengan fans-fans Arsenal saat ini ketika Ozil memilih bergabung dengan Arsenal. Saat itu Rosicky berumur 25 tahun (sama dengan Ozil saat ini) dan ia mengenakan kostum nomor 7 milik Robert Pires yang legendaris itu. Berbekal nickname Little Mozart, sang playmaker dari Dortmund tersebut diharapkan fans Arsenal dapat menggantikan peran Robert Pires, yang sangat fenomenal kontribusinya saat Arsenal meraih juara liga musim 2001/2002 dan 2003/2004. Ia terkenal dengan tendangan jarak jauhnya yang akurat dari luar kotak penalti lawan (mungkin sekarang seperti tendangan Kroos), dan dribbling serta operannya sebagai playmaker utama. Sebagai referensi betapa melegendanya Rosicky di Dortmund, The Little Mozart adalah pemain idola Reus, pemain muda Dortmund yang sekarang sudah berkelas dunia, incaran klub-klub elit Eropa.

Musim berikutnya setelah ia bergabung, Rosicky bersama Hleb, Fabregas dan Flamini lalu membentuk kuartet midfield Arsenal yang mendominasi lini tengah Arsenal dan liga Inggris hingga bulan Februari 2008 saat kejadian horror patah kakinya Eduardo. Saat itu lini tengah Arsenal demikian baiknya memainkan give-and-go. Dari Rosicky ke Fabregas, ke Hleb lalu berakhir dengan salah satu dari mereka masuk ke kotak penalti lawan dan mencetak gol. Fabregas yang paling menikmati partnership keempat pemain tersebut dan mencetak gol terbanyak saat itu. Namun peran Rosicky, Hleb dan Flamini serta pertemanan keempat pemain tersebut di luar lapangan sangat berpengaruh terhadap prestasi Arsenal musim itu, sebelum dihantam oleh cedera Eduardo. Rosicky yang berkesempatan menjadi pemain terbaik di Liga Inggris, bila Arsenal juara saat itu, gagal mewujudkannya. Ia hanya diingat oleh fans Arsenal yang masih menyimpan memori akan kenangan pahit musim tersebut. Harapan yang sangat tinggi yang tidak terwujud.

The Little Mozart adalah pemain idola Reus, pemain muda Dortmund yang sekarang menjadi incaran klub-klub elit Eropa

The Midfield Quartet

Hleb pergi, Flamini pergi dan akhirnya Fabregas pergi, Rosicky tinggal sendiri. Cedera panjang membuatnya tak bisa pindah ke klub lain dan juga tak bisa berbuat banyak untuk menolong Arsenal di masa kelam tanpa trofi tersebut. Saat ini Rosicky mendapatkan partner lini tengah baru yang tak kalah hebatnya dengan musim 2007/2008 tersebut. Flamini kembali, masuk Ozil, dan Cazorla menjalani musim keduanya. Ditambah lagi Ramsey dan Wilshere yang makin matang. Banyaknya pemain tengah Arsenal yang bertipe sama tidak memungkinkan kelima pemain tersebut dimainkan bersamaan. Rosicky tergeser ke barisan pelapis oleh pemain yang lebih muda. Ia mesti merelakan posisi playmaker utama kepada Ozil. Di posisi CM di samping Flamini/Arteta ia mesti bersaing dengan Wilshere dan Ramsey (yang sekarang cedera). Untungnya Rosicky bisa bermain di berbagai posisi. Di sayap ia bersaing dengan Chamberlain, Podolski dan Cazorla. Rosicky mesti menerima perannya yang berubah dari playmaker menjadi pemain back up serba bisa, utility player. Perubahan ini mesti ia terima karena umurnya yang tidak muda lagi, 33 tahun. Penambahan umur ini juga membuat ia lebih taktikal, seperti kata Wenger. Ia lebih memperhatikan posisinya saat menyerang maupun bertahan. Mengatur nafas dan tempo permainan. Ia menjadi pemain yang lebih taktis, seperti Arteta. Mereka mampu beradaptasi dengan cerdik terhadap intensitas liga Inggris walaupun usia sudah tidak muda lagi.

Walaupun bergeser sebagai pemain pelapis, Rosicky memiliki keunikan yang tidak dimiliki Ozil, Cazorla, Ramsey dan Wilshere. The Rosicky dan keistimewaannya dalam melakukan Give-and-go. Tidak ada pemain Arsenal yang lebih baik dan berani lagi saat melakukan one-two di area lawan. Rosicky selalu mencari lubang di pertahanan lawan, menekan lawan untuk melakukan kesalahan (terbaik dalam memimpin pressure dari depan), dan menerobos lini belakang lawan dengan ‘slalom’-nya. Yang membedakannya dengan Robert Pires hanyalah trofi juara liga. Di luar itu, The Little Mozart tidak perlu merasa inferior terhadap legenda-legenda playmaker Arsenal sebelumnya.

Di musim ini Rosicky akan berlari dan terus berlari (dengan taktis tentunya) tanpa mempedulikan usianya. Ia berlari mengejar mimpinya yang tertunda di usia puncaknya. Memegang trofi juara liga di akhir musim.

Kembalinya Mesin Gol Arsenal

Setelah 2 minggu international break dengan hasil Giroud dan kawan-kawan sebangsanya berhasil memastikan Perancis tetap ikut pesta sepakbola di Brasil, sepakbola akhirnya kembali hari ini. Tak hanya itu, mesin gol Arsenal pun ikut kembali ke training ground London Colney.

image

Yang ini? Sayangnya Thierry Henry tidak lagi bermain untuk Arsenal walau masih terkesan cukup fit di klubnya sekarang, NY Red Bulls. Pencetak rekor gol terbanyak dalam sejarah Arsenal mulai minggu ini bergabung dengan sesi latihan tim Arsenal, suatu tradisi yang ia mulai 2 tahun lalu untuk menjaga kebugaran fisiknya selama libur Major League Soccer. Alasan kebugaran fisik mungkin hanya sebuah klise, fans Arsenal tahu persis kalau kembalinya ia ke North London karena rasa kangen yang tak terbendung terhadap klub lamanya ini. Rasa yang sama yang dirasakan banyak mantan pemain Arsenal lainnya. Lehmann, Pires, Campbell, Ljungberg dalam beberapa kesempatan kembali ke klub tercinta ini baik untuk latihan, mengambil kursus coaching, atau sekedar menjadi duta klub dalam global marketing Arsenal. Bahkan Dennis Bergkamp dalam biografinya yang terbaru mengatakan ia ingin kembali ke klub ini di masa mendatang. Baginya Arsenal sama dengan Barcelona bagi Cruyff, selalu menjadi tempat spesial walaupun saat ini mereka sedang merevolusi klub kelahirannya, Ajax Amsterdam. Arsenal terkenal sebagai klub yang memiliki rasa kekeluargaan yang kuat, sehingga klub ini bagi banyak mantan pemainnya bukan hanya sekadar tempat mereka mencari uang, tapi sudah merupakan bagian dari hidup yang sulit dilupakan.

Kembali ke mesin gol Arsenal. Bukan Henry yang dimaksud, tapi striker yang juga mungkin sama cepatnya dan belakangan ini memiliki insting membunuh di depan gawang yang mirip pendahulunya.

image

Ya, Theo Walcott. Walaupun baru mencetak satu gol musim ini, Walcott adalah mesin gol Arsenal musim lalu dengan catatan 21 gol di semua kompetisi. Ia baru akan memulai masa suburnya sebelum kemudian dilanda cedera panjang di awal musim ini. Ia baru dapat kembali hari ini, mungkin di bangku cadangan. Namun hadirnya Walcott akan menambah amunisi Arsenal dan akan sangat menyenangkan rekan barunya, Mesut Ozil.

Saat debut Ozil melawan Sunderland, kita melihat potensi maut duet mereka. Dua kali Ozil memberikan peluang manis kepada Walcott untuk kemudian berhadapan satu lawan satu dengan kiper lawan yang sayangnya belum berbuah gol. Namun kecepatan lari Walcott dan akurasi operan Ozil tak pelak lagi akan menjadi combo maut Arsenal musim ini. Giroud telah bermain bagus musim ini, menjadi poros permainan Arsenal di depan, namun ia tidak memiliki senjata maut yang ditakuti semua pemain belakang: kecepatan.

Walcott akan menjadi pemain yang paling beruntung dengan kehadiran Ozil dan Ozil bisa menambah koleksi angka statistiknya di kolom assist. Keduanya bagaikan pasangan yang sudah ditakdirkan di liga Inggris, kompetisi sepakbola yang memberikan lebih banyak ruang daripada liga Eropa elit lainnya. Seperti Bergkamp dan Henry, Stillness and Speed bisa lahir kembali pada pasangan Ozil dan Walcott. Yang satu punya first touch dan visi terbaik di dunia sepakbola, yang lain punya kecepatan dan ketajaman seorang pembunuh di depan gawang. Walcott mungkin masih perlu mengasah ketajamannya hingga sampai ke level Henry, namun ia telah menunjukkan peningkatan di bidang ini sejak musim lalu.

Walcott juga memberikan variasi dalam serangan Arsenal. Musim ini Arsenal bermain sangat sempit karena absennya pemain sayap tulen. Transisi yang cepat dari sayap seakan lenyap seiring dengan masuknya Walcott ke klinik medis. Dibarengi dengan absennya Podolski, praktis Arsenal bermain mengandalkan pertukaran bola yang cepat di tengah. Crossing dari sayap yang dilakukan oleh fullback cenderung lebih mudah diatasi lawan, karena biasanya terjadi setelah masa transisi lewat. Lawan telah kembali ke formasi bertahan saat fullback turun menyerang. Kecepatan pemain depan sayap dalam periode transisi akan memberikan crossing yang sulit diantisipasi barisan pertahanan lawan yang sedang melakukan transisi ke gigi mundur. Walcott akan mengeksploitasi periode transisi ini.

Lawan kita malam ini, Southampton bukanlah tim mediocre. Di bawah asuhan Pochettino mereka hanya kalah satu kali musim ini, mampu meraih hasil seri di Old Trafford dan menang di Anfield. Tim ini jelas tidak takut bertarung di kandang klub besar. Peringkat tiga dengan selisih hanya tiga poin dari Arsenal bukanlah kebetulan. Lawan yang pantas untuk tim pemimpin klasemen yang masih kesal karena membuang poin percuma di Old Trafford dua pekan lalu.

Kunci keberhasilan Southampton ada pada pertahanannya yang kuat. Hanya kebobolan 5 gol dalam 11 pertandingan dengan kebobolan terbanyak hanya satu gol per pertandingan. Hasil 6 clean sheet berhasil mereka ukir musim ini mengukuhkan mereka sebagai tim dengan pertahanan terbaik di liga sejauh ini. Mampukah Arsenal mencetak lebih dari satu gol? Jika menurut pada statistik Southampton musim ini, maka Arsenal hanya mungkin menang dengan skor 1-0. Problem lainnya adalah Southampton tidak hanya baik dalam bertahan, mereka juga cukup baik dalam menyerang dengan perolehan 15 gol musim ini. Angka yang cukup sebanding dengan tim-tim lain di posisi empat besar.

Bila dalam kondisi prima, bukan tidak mungkin Arsenal mampu memecahkan rekor Southampton ini. Mampukah Arsenal mencetak 2 gol dengan komposisi Giroud, Cazorla, Ramsey, Ozil dan Wilshere ditambah dengan Walcott di babak kedua? Sangat mampu dan mungkin. Syaratnya adalah Arsenal mesti membuang semua keraguan sejak awal dan sepenuhnya memainkan permainan mereka yang penuh percaya diri. Syarat tambahan: hindari virus yang mengganggu penampilan dua pekan lalu. Bila Arsenal mampu mencetak gol dalam pertandingan ini, apalagi lebih dari satu gol, Arsenal akan amankan tiga poin penting.

Prediksi line up Arsenal:
Szczesny –  Sagna, Mertesacker, Koscielny, Gibbs – Arteta, Ramsey, Ozil – Wilshere, Giroud, Cazorla.

Subs:
Fabianski, Vermaelen, Monreal, Jenkinson, Walcott, Gnabry, Bendtner

Catatan: Flamini dapat larangan bermain karena akumulasi kartu kuning. Rosicky dikabarkan masih flu.

Panggung untuk Özil

Preview Manchester United vs Arsenal, 10 November 2013 11.10 pmSun back page   Ozil  We ll end United s season

Pagi ini Inggris diramaikan dengan headline tabloid The Sun di atas. Headline sensasional yang menyebutkan kalau Özil akan mengakhiri musim United secara dini pada pertandingan hari ini. Ternyata setelah dibaca isi beritanya, sama sekali tidak ada kata-kata dari Özil yang seperti itu. Özil hanya mengatakan kalau Arsenal akan ke United dengan target untuk menang. Seperti biasa, wartawan melakukan spin atas kutipan Özil agar tabloidnya laku di hari big match ini.

Di luar sensasi spin yang tentunya akan memancing kemarahan fans United, headline tersebut di lain sisi juga mengindikasikan kepercayaan diri penuh pemain Arsenal dan media yang mulai menganggap serius kekuatan Arsenal musim ini. Posisi unggul 5 poin di puncak klasemen dan kemenangan sensasional tengah pekan atas Dortmund telah sedikit banyak mengubah persepsi media Inggris yang awalnya skeptis dengan peluang Arsenal menjadi juara liga. Posisi United yang terpisah 8 poin saat ini dengan Arsenal dan berpotensi menjadi 11 poin bila kalah malam ini membuat wartawan berani menulis headline seperti itu. Dan memang bila MU kalah malam ini, misi untuk mengejar ketertinggalan 11 poin akan terasa lebih berat walau bukan mustahil.

Posisi unggul 5 poin di puncak klasemen dan kemenangan sensasional tengah pekan atas Dortmund telah sedikit banyak mengubah persepsi media Inggris yang awalnya skeptis dengan peluang Arsenal menjadi juara liga

Pertanyaannya adalah bisakah Arsenal menang dari Manchester United di kandangnya? Selama era Wenger, Arsenal hanya mampu menang 3 kali di Old Trafford di kompetisi liga Inggris. Pertama kali saat musim double pertama 1997/1998 dengan solo gol dari Overmars. Kedua di musim double kedua 2001/2002 lagi-lagi dengan solo gol dari Wiltord yang sekaligus memastikan Arsenal menjadi juara liga musim itu. Yang terakhir di musim 2006/2007 dengan gol dari Adebayor hasil assist Cesc Fabregas. Tiga kemenangan 1-0 selama 16 musim mencerminkan sulitnya mengalahkan Manchester United di kandangnya, di era Ferguson.

United boleh saja ganti pelatih, dan hal itu sedikit mengganggu perjalanan mereka di awal musim. Namun mereka tetap masih menyandang status juara bertahan dengan komposisi pemain yang tidak berkurang dari musim lalu, malah diperkuat dengan Fellaini dan Adnan Januzaj. Saat ini penampilan mereka mulai stabil, katanya tidak terkalahkan di 8 pertandingan terakhir (semua kompetisi). Walaupun bila dilihat lawan-lawannya dalam 8 pertandingan tersebut dan banyaknya hasil seri, tidaklah terlalu impresif. Lebih banyak D daripada W nya. Form Arsenal jelas jauh lebih mengesankan untuk saat ini. Sebagai perbandingan Arsenal menang atas Dortmund di tandang sedangkan MU hanya bisa meraih hasil seri bertandang ke Sociedad, walaupun sudah menghalalkan segala cara termasuk divingnya Ashley Young.

Namun dalam performa terbaiknya United bisa lebih berbahaya daripada Liverpool. Dan mereka pun memiliki duet SAS yang lebih berbahaya daripada SAS-nya Liverpool. Shrek and Skunk (nama panggilan untuk Rooney dan Van Persie) jauh lebih berbahaya daripada Suarez dan Sturridge dari segi track record mereka melawan Arsenal. Bila Suarez dan Sturridge punya kecepatan, Rooney dan Van Persie punya intuisi dan hawa pembunuh yang dahsyat bila berada di kotak penalti lawan. Mertesacker dan Koscielny mesti ekstra hati-hati dan tampil penuh konsentrasi untuk mencegah mereka mencetak gol malam ini.

Bila pola serangan Liverpool minggu lalu agak monoton dengan bola-bola ke Suarez dan Sturridge yang sudah bisa ditebak, MU akan lebih menyerang lewat sayap. Fullback mereka akan overlapping dengan pemain sayap dalam formasi 4-4-2. Crossing Evra terutama sangat berbahaya. Januzaj juga telah memberikan beberapa indikasi kalau ia bukan hanya sebatas pemain potensial seperti Macheda beberapa musim lalu, namun juga dapat memberikan hasil nyata di lapangan lewat crossing dan umpan through ball-nya yang cantik. Mereka juga sangat berbahaya saat eksekusi bola mati. Rooney telah mencetak beberapa gol dari tendangan bebas. Musim lalu United praktis menjuarai liga mengandalkan efektivitas setplay mereka. Tendangan sudut, tendangan bebas dan tendangan penalti (untuk yang satu ini mudah-mudahan sedikit berkurang dengan perginya Fergie).

MU hanya bisa meraih hasil seri bertandang ke Sociedad, walaupun sudah menghalalkan segala cara termasuk divingnya Ashley Young

Prediksi formasi United malam ini:

De Gea – Smalling Ferdinand Vidic Evra – Valencia Carrick Fellaini Januzaj – Rooney RVP

Rafael, Evans dikabarkan cedera sedangkan Carrick, Cleverly, Welbeck juga masih akan menjalankan fitness test.

Untuk Arsenal, Flamini dan Wilshere dikabarkan ikut dalam skuad yang berangkat ke Manchester. Prediksi formasinya sebagai berikut:

Szczesny – Sagna Mertesacker Koscielny Gibbs – Flamini Arteta – Ramsey Özil Cazorla – Giroud

Flamini perlu dipasang untuk membantu fullback Arsenal saat MU menyerang lewat sayap. Pada pertandingan melawan Liverpool dan Dortmund terlihat kekurangan kecepatan Arteta beberapa kali memberikan peluang untuk lawan di kotak penalti. Selain itu Özil dan Cazorla yang harus turun membantu pertahanan di sayap mengurangi potensi Arsenal dalam penyerangan. Adanya Flamini memungkinkan Ramsey, Özil dan Cazorla fokus pada penyerangan dan pressing agar transisi dari pertahanan ke penyerangan bisa dilakukan dengan lebih cepat. Secara kemampuan teknik, skuad Arsenal kali ini lebih baik daripada MU. Kecuali penyerang mereka yang relatif lebih baik, Arsenal jauh lebih unggul di lini tengah. One touch football yang agak sulit dimainkan melawan Dortmund akan kembali di pertandingan ini. MU bukan tim yang melakukan pressing dengan intensitas tinggi. Bila Carrick tidak bermain, mereka malah akan mendapatkan masalah baru dalam sirkulasi dan distribusi bola. Dengan pressing tinggi yang dilakukan 4 pemain penyerang Arsenal terhadap lini tengah United, Arsenal akan mendominasi penguasaan bola dan adanya Flamini dan Arteta sebagai double pivot dapat mengatasi serangan balik MU dari sayap.

Selama Arsenal bisa membatasi jumlah tendangan bebas dan sudut untuk MU, menjaga konsentrasi penuh saat bertahan sebagaimana dua pertandingan terakhir, dan tidak memberikan MU respek yang berlebihan, Arsenal mestinya bisa menang malam ini.

Dalam pertandingan di Old Trafford sebelumnya, Arsenal terlalu memberikan respek kepada tim baru mantan kaptennya. “Hadiah” yang diberikan Vermaelen kepada Van Persie di menit-menit awal pertandingan “membunuh” pertandingan itu. Belum lagi insiden Andre Santos yang mengajak RVP tukaran kaos di saat turun minum. Pada pertemuan berikutnya di kandang Arsenal, Sagna lagi-lagi memberikan hadiah penalti kepada RVP sehingga skor menjadi 1-1. Namun di pertandingan malam ini, saya yakin respek terhadap RVP telah dapat dihilangkan. Itu karena satu nama: Mesut Özil.

Hadirnya Özil di Arsenal bersamaan dengan Fellaini di MU membuat surat terbuka RVP kepada dunia yang meragukan Arah dan Ambisi mantan klubnya itu menjadi lucu

Musim lalu Arsenal kehilangan aura bintang dengan hengkangnya pemain terbaiknya. Musim ini Arsenal kedatangan salah satu pemain terbaik dunia, Mesut Özil. Hadirnya Özil di Arsenal bersamaan dengan Fellaini di MU membuat surat terbuka RVP kepada dunia yang meragukan Arah dan Ambisi mantan klubnya itu menjadi lucu, setahun kemudian. Lebih lucu lagi ketika MU menunjuk Moyes sebagai pengganti Ferguson, yang sempat berjanji kepada Van Persie ia tak akan pensiun. Mungkinkah arah dan ambisi klub yang dimaksud Van Persie dapat diwakilkan oleh Moyes dan Fellaini?

Kita tak punya banyak waktu untuk memeriksa kondisi little boy inside Van Persie sekarang. Ia sendiri yang telah membakar jembatan antara dirinya dengan klub, termasuk dengan rekan setimnya. Di muka umum ia meragukan mereka memiliki kapasitas untuk menjadi juara. Ia juga seakan “menampar” muka manager yang telah demikian mempercayainya, yang mengubahnya dari anak muda bertalenta namun bermasalah dari Belanda menjadi salah satu striker yang paling ditakuti di dunia. Walaupun ia mendapatkan medali gelar yang selama ini ia impikan, potensinya untuk menjadi legenda Arsenal hilang bersamaan dengan ingatan kita akan kontribusinya (termasuk cederanya) selama di Arsenal lewat aksi memalukan untuk memaksakan kepindahan ke rival yang paling dibenci seluruh pendukung klub.

Sekaranglah saatnya mantan rekan setimnya membuktikan kalau ia salah. Bahwa Arsenal adalah tim yang sedang menanjak sedangkan MU adalah tim yang sedang merosot. Tidak ada cara yang lebih baik selain menambah jarak 8 poin saat ini menjadi 11 poin saat pertandingan usai.

Dennis Bergkamp dan Mesut Özil

Setelah membaca biografi Dennis Bergkamp, Stillness and Speed, pikiran saya tidak bisa lepas dari Mesut Özil. Banyak kemiripan Bergkamp dengan Özil. Mereka sama-sama perfectionist, introvert, jenius, dan memiliki first touch yang bagaikan sentuhan dewa sepakbola. Bergkamp melihat dirinya dalam diri Mesut Özil. Ia melihat first touch yang sama. Bergkamp mengakui sendiri dalam biografinya bahwa sejak muda ia bukanlah pemain yang suka dribbling atau pamer skill seperti Zidane misalnya. Ia terobsesi dengan kontrol bola, dengan first touch. Di awal cerita, ia yang masih anak-anak melatih kontrol bolanya lewat memantulkan bola ke tembok. Dari sana ia bereksperimen soal sudut sentuhan kaki dengan bola, bagaimana spin bola, cara trapping bola yang sempurna di udara. Sebuah biografi yang luar biasa yang membawa kita masuk ke alam pikiran seorang jenius sepakbola yang juga legenda Arsenal. Suatu hari saya akan mencoba menulis resensinya di sini.

Selain first touch yang sempurna, Bergkamp juga melihat visi sepakbola yang mirip pada Özil. Menurutnya Özil mampu melihat permainan sampai beberapa langkah ke depan. Ia mampu memprediksi apa yang akan dilakukan rekannya dan lawan untuk beberapa langkah ke depan sebelum ia melakukan operan. Ia akan memberikan operan yang terbaik kepada rekannya sehingga tidak dibutuhkan banyak sentuhan untuk mencetak gol. Operan yang juga membelah pertahanan lawan. Özil sebagaimana Bergkamp adalah master ruang dan waktu. Mereka menciptakan ruang dan waktu untuk dirinya dan rekan-rekannya. Hal ini dikonfirmasi dari wawancara David Winner (penulis biografi Bergkamp) dengan rekan-rekan Arsenalnya seperti Vieira, Wright dan Henry. Dan Bergkamp yang jarang memuji pemain bola lainnya, melihat hal yang sama pada Özil dan mengatakannya pada media secara terbuka.

Tidak ada panggung lain yang lebih cocok untuk seorang jenius seperti Özil selain rumahnya juara bertahan. Walaupun Özil telah tampil cukup baik dengan beberapa gol dan assist dalam dua bulan ini, ia belum memperlihatkan 100% kemampuannya bersama Arsenal. Sebagai penantang utama Liga Inggris musim ini, Özil bersama rekan-rekan Arsenal-nya berkesempatan menegaskan terjadinya pergeseran kekuatan sepakbola Inggris dari Manchester ke North London. Walaupun hasil maksimal telah diraih dari Liverpool dan Dortmund, rasanya belum sempurna kelulusan Arsenal dari ujian publik sebelum mengalahkan sang juara bertahan, di kandang mereka. Panggung ini memang diciptakan untuk Özil, tinggal ia menjawabnya.

Let’s end United season at their home.