Habis PHP, Terbitlah PEA

Fans Arsenal pastilah terbiasa mendengar kata PHP. Di sepuluh tahun terakhir era Wenger dan setelah Baku (final Europa League 2019), kita seringkali mendapatkan PHP bahwa inilah saatnya Arsenal kembali jaya. Bermula dengan Project Youth yang lahir pasca The Invincibles, Wenger melakukan regenerasi pemain dan perubahan gaya sepakbola Arsenal dari yang mengandalkan fisik dan kecepatan menjadi lebih teknikal. Pemain-pemain muda di antaranya Fabregas, Rosicky, Hleb, Flamini dan Van Persie tampil cemerlang di musim 2007-2008 dan sempat memberikan harapan kejayaan kembali Arsenal. Sempat memimpin klasemen di bulan Februari, penampilan Arsenal jatuh bebas di bulan Maret 2008 setelah cedera horor patah kaki yang dialami Eduardo.

Di musim 2010-2011 muncullah rising stars dalam sosok Wilshere, Ramsey, Nasri. Bersama Arshavin, Van Persie dan Fabregas, tim ini mengalahkan Barcelona 2-1 di leg pertama Champions League. Sampai akhir tahun 2010, Arsenal masih bercokol di peringkat kedua liga. Sama dengan 3 musim sebelumnya, mental tim muda mungkin lebih rapuh daripada tim yang berpengalaman. Semenjak kalah di final Piala Liga lawan Birmingham City tanggal di akhir February 2011 berkat blunder Koscielny dan Szczesny, posisi Arsenal di liga turun drastis. Hanya 2 kemenangan dalam 11 pertandingan terakhir membuat Arsenal harus puas di peringkat keempat, turun dari peringkat kedua. Wenger tak mampu mengangkat kembali moral tim mudanya saat itu. Kalau saja tim tersebut dapat bangkit dari kekalahan di final Piala Liga dan menang beruntun selama 10 pertandingan terakhir (di musim 97-98 mereka melakukannya), maka gelar juara liga sudah pasti di tangan. Fans kembali kena PHP.

Musim 2013-2014 menandai era PHP baru. Model Finansial Arsenal menjadi lebih kuat semenjak ada tambahan dana komersial dari sponsorship kit dan stadion yang baru. Mesut Ozil dibeli dari Real Madrid dengan rekor transfer 42 juta pounds. Satu musim berikutnya Alexis Sanchez didatangkan dari Barcelona. Kedatangan kedua pemain bintang ini membawa perubahan terhadap mental tim Arsenal. Trofi pertama pun diraih dalam bentuk FA Cup, mengakhiri musim kering selama 9 tahun tanpa trofi (sampai ada lagunya). Musim berikutnya kembali FA Cup diraih, dan setelah absen setahun, FA Cup kembali dimenangkan di tahun 2017. Tiga trofi dalam empat tahun. Namun di liga, Arsenal tak mampu bersaing dengan klub-klub besar lainnya yang lebih bermodal. Berturut-turut poin dan peringkat yang diraih sejak 2013-2014 s/d 2016-2017 adalah sebagai berikut: 79 (4th), 75 (3rd), 71 (2nd), 75 (5th). Arsenal pun harus puas hanya lolos ke Europa League di tahun 2017. Musim 2015-2016 adalah musim di mana Arsenal, jika sedikit lebih konsisten saja bisa menjadi juara liga dikarenakan semua tim besar lainnya saat itu juga sedang merosot penampilannya. Sayangnya, Leicester City-lah yang memanfaatkan peluang itu.

Musim 2017-2018 adalah musim terakhir Wenger. Ketidakpastian masa depannya dan dua pemain bintang (Ozil dan Sanchez) yang sisa kontraknya tinggal setahun bukan pertanda yang baik untuk memulai musim baru. Off the pitch, Ivan the Snake melakukan segala manuver untuk mengurangi kekuasaan Wenger dengan tujuan untuk kemudian mendepaknya. Bukan rahasia umum kalau Wenger menguasai segala hal di klub itu dan Ivan sebagai CEO hanya punya kuasa terbatas. Sven Mislintat bergabung di November 2017, disusul Raul Sanllehi di February 2018. Pergulatan kekuasaan di luar lapangan berdampak ke dalam lapangan. Sanchez dijual di tengah musim, kontrak Ozil diperpanjang. Wenger memutuskan untuk mundur dengan sisa kontrak setahun setelah penampilan timnya makin menurun. Arsenal pun finish di musim tersebut dengan hasil terburuk di era Wenger: 63 point dan peringkat ke-enam. Gazidis, Mislintat dan Sanllehi memilih Emery sebagai pengganti Wenger. Tidak lama kemudian Gazidis meninggalkan Arsenal untuk mengejar fulus yang lebih menggiurkan di AC Milan, sedangkan Mislintat kalah dalam pertarungan kekuasaan melawan Sanllehi dan akhirnya hengkang.

Era Emery, tidak usah dibahaslah ya. Lebih cepat dilupakan lebih baik. Mungkin rekan-rekan Gooners bisa memperhatikan kalau saya tidak menulis satu artikel pun tentang Arsenal di era Emery sedangkan sekarang sudah menulis lima artikel tentang Arsenal-nya Arteta. PHP era Emery sangat luar biasa mengecewakannya. Ditambah dengan sepakbola tanpa identitasnya yang seakan menjadi pengkhianatan terhadap legacy warisan Arsene Wenger. Hasil akhir musim pertamanya adalah dibantainya Arsenal oleh Chelsea 1-4 di Baku, memupus harapan untuk tampil di Champions League setelah dalam beberapa pertandingan terakhir di Premier League Arsenal juga gagal meraih poin yang diperlukan untuk tetap di peringkat ke-empat. Ending yang anti-klimaks.

Lalu apakah era PHP ini sudah berakhir? Kita harap demikian setelah melihat kedahsyatan tim Arsenal di bawah asuhan Arteta yang baru bergabung Desember lalu. Ia bergabung saat kondisi moral tim sedang parah-parahnya dan sepakbola Arsenal sedang kehilangan jati diri. Granit Xhaka sang kapten dicopot bannya dan bersitegang dengan fans. Mesut Ozil dipinggirkan oleh Emery. Average point per game di musim ini yang didapatkan Emery bahkan lebih rendah daripada musim terburuk Wenger (1.38 vs 1.65). Arteta memperbaiki penampilan timnya dengan memulai dari dasar, dari komitmen, semangat juang tim dan gairah bermain sepakbola. Perlahan, hasil di lapangan membaik dan identitas sepakbola yang baru pun terlihat.

Grafik di atas ini menggambarkan performa Arsenal di Premier League musim ini di bawah 3 “head coach” yang berbeda. Average point per game di bawah Emery = 1.38, Ljungberg = 1.00 dan Arteta = 1.65. Sebagai perbandingan Liverpool, sang juara memiliki average ppg = 2.61. Masih banyak PR Arteta untuk Arsenal mencapai level penantang serius gelar juara EPL. Namun Arsenal bisa sedikit banyak terinspirasi oleh Liverpool-nya Klopp. Semenjak bergabung dengan Liverpool di Oktober 2015, berikut hasil setiap musimnya: 60 (8th), 76 (4th), 75 (4th), 97 (2nd) dan 99 (1st). Baru pada musim kelima Liverpool bisa meraih gelar juara namun setiap musim terlihat jelas peningkatan performa timnya dan terutama identitas sepakbolanya. Fans Arsenal mesti bersabar.

Habis PHP, Terbitlah PEA

PEA di sini bisa berarti Pierre-Emerick Aubameyang atau Percaya Era Arteta. Kedua figur ini berperan sangat penting musim ini terutama dalam mendapatkan gelar juara FA Cup yang ke-14. Mari kita bahas sedikit mengenai hasil pertandingan yang luar biasa ini.

Di tulisan saya sebelum pertandingan, saya menuliskan soal prediksi line up yang terbukti tepat. Baik Arsenal maupun Chelsea memainkan formasi 3-4-3 walaupun dengan aplikasi yang berbeda. Video di bawah ini menjelaskannya dengan sederhana dan sangat baik:

Arsenal vs Chelsea Final FA Cup 2020 post analysis

Chelsea mendominasi 10 menit babak pertama. Ketiga penyerangnya bermain sangat rapat dan dengan umpan-umpan pendek memanfaatkan kelincahan dan kemampuan dribble Pulisic dan Mount yang ditunjang dengan flick pass dan hold-up play Giroud. Arteta sudah mengantisipasi itu dengan meminta ketiga CB-nya bermain rapat pula. Chelsea hanya bisa menembus pertahanan lewat kontrol bola yang luar biasa dari Pulisic di kotak penalti lawan. 1-0 untuk Chelsea setelah Giroud one touch flick ke Pulisic hasil crossing Mount yang mengenai kaki Holding. Game plan Lampard berjalan dengan baik.

Para pemain Arsenal tidak panik dan sebaliknya menjalankan game plan yang disusun Arteta dengan sangat baik. Arteta sudah memprediksi kalau James, wing back kanan Chelsea akan bermain lebih maju daripada Alonso di sisi kiri Chelsea. Azpilicueta diminta Lampard bermain agak melebar ke kanan untuk mengantisipasi Aubameyang. Bertolak belakang dengan tiga striker Chelsea, Arteta memposisikan ketiga striker Arsenal berjauhan satu sama lain, karena kekuatan mereka memang di kecepatan, lebih direct daripada bermain dengan umpan-umpan pendek. Lacazette memainkan peran false nine untuk menarik Zouma maju ke depan, sementara Rudiger sibuk menjaga Pepe yang sering memposisikan diri di garis pinggir lapangan. Karena jarak antar CB Chelsea yang semakin jauh, selanjutnya tinggal lomba lari Aubameyang dan Azpilicueta. Arsenal memiliki senjata umpan panjang Luiz dan Tierney yang siap melakukan lob jauh setiap Aubameyang memberikan aba-aba. Bergantian dengan Maitland-Niles, sisi kanan pertahanan Chelsea diserang terus-menerus sampai Azpilicueta tertarik hamstringnya baru di menit ke-35 karena diajak lomba lari terus-menerus. 1-1 setelah Azpilicueta yang hopeless terpaksa menjatuhkan Auba di kotak penalti lawan dan Auba tidak menyia-nyiakan tendangan penalti tersebut.

Semenjak drink break di babak pertama, Arsenal mendominasi pertandingan. Pressing tinggi Arsenal lebih efektif daripada Chelsea yang terpaksa membuang bola jauh-jauh, dan Pepe hampir saja mencetak gol indah lainnya hasil pressing tinggi kalau saja Maitland-Niles tidak offside. Xhaka menempel ketat Jorginho, Ceballos selalu ada di mana-mana untuk recovery bola ataupun interception. David Luiz mematikan Giroud sepanjang pertandingan, tanpa ada satupun shot on goal. Giroud bahkan terpaksa berakting ditembak sniper saking putus asanya. Sayang sekali Arsenal tidak menambah jumlah gol di babak pertama.

Di awal babak kedua, Pulisic kembali mengancam. Untungnya pemain terbaik Chelsea ini juga ketarik hamstringnya. Kadang kita membutuhkan dewi fortuna di pertandingan penting seperti ini. Pedro yang menggantikannya tidak mampu memberikan kontribusi yang sama. Ceballos memenangkan duel udara lawan Pedro, Bellerin menjemput bola dan lari sepanjang 40 meter, melewati Rudiger dan ditackle oleh Christensen. Pepe yang membayangi lari Bellerin siap menyambut bola liar dan mengumpan ke Aubameyang dengan tenang. James tidak kelihatan di lapangan lawan meninggalkan Zouma yang bingung antara marking Lacazette atau Aubameyang. Ia melakukan fake untuk shoot dengan kaki kanan yang sudah diantisipasi Zouma, memindahkan bola ke kiri lalu melakukan lob shot ketika kiper Chelsea maju ke depan. 2-1 untuk Arsenal. Dua gol hasil counter attack cepat. Lampard tak punya jawaban.

Sekarang kita mengerti mengapa Arteta tidak memainkan PEA sebagai striker tengah dan sebaliknya Auba sangat mematikan dari sayap kiri. Arteta “mengorbankan” Lacazette yang bermain sebagai false nine sedangkan Auba dan Pepe bermain lebih mirip sebagai dua penyerang utama saat Arsenal melakukan counter attack. Laca bertugas melakukan pressing tinggi saat bertahan, dan menarik maju bek lawan saat Arsenal menyerang, menciptakan ruang yang cukup untuk kecepatan lari Aubameyang. Terutama saat melawan pertahanan 3 CB, Aubameyang akan sangat efektif karena umumnya CB tidak secepat full back, ketika ditarik ke kiri kanan lapangan akan meninggalkan ruang kosong yang amat lebar. 29 gol dicetak Aubameyang musim ini yang hampir tidak pernah dimainkan sebagai penyerang tengah.

Semua penyerang Arsenal juga lebih disiplin saat bertahan. Auba dan Pepe melakukan tracking back dengan rajinnya dan berlari dengan cepat ke depan saat counter (bandingkan dengan penyerang Chelsea). Arteta berhasil melatih mereka sebagai satu unit yang disiplin. Teringat dengan kata-katanya mengenai menderita bersama. Sebuah tim harus siap menderita di lapangan, dan kemenangan akan terasa lebih nikmat sesudahnya. Seluruh pemain Arsenal yang bermain saat itu menjiwai filosofi ini dan mereka sangat menikmati hasilnya di akhir pertandingan. Pengorbanan yang pantas untuk diberikan.

Malam itu, semua pemain Arsenal tampil prima dan bisa dianggap men of the match. Mereka menghapus bayangan mimpi baruk di Baku melawan tim yang sama. Aubameyang sedikit di atas performa seluruh tim karena eksekusinya yang luar biasa. Sang nomor 14 mempersembahkan FA Cup ke-14 untuk Arsenal. Tidak ada script yang lebih sempurna.

Sebuah tim harus siap menderita di lapangan, dan kemenangan akan terasa lebih nikmat sesudahnya.

Arteta sendiri sudah memenangkan pertarungan taktik dengan Pep, Klopp dan Lampard, dengan sumber daya yang lebih minim. Visinya sangat jelas, pemain percaya padanya sehingga eksekusi taktiknya di lapangan berjalan dengan baik. Ia menjadikan kelemahan timnya sebagai kekuatan dan mengeksploitasi kelemahan lawan dengan sangat dingin. Tim Arsenal ini lemah di tengah lapangan, kurang kreatif (apalagi dengan tidak dimainkannya Ozil), tapi Arteta memilih hal ini dengan sadar. Semenjak Project Restart, ia mengabaikan Ozil dan memilih mencetak gol lewat pressing tinggi ataupun counter attack yang mematikan. Ia percayakan lini depan kepada trio maut Laca-Auba-Pepe yang makin saling memahami satu sama lain. Ia patenkan duet Xhaka dan Ceballos yang juga semakin kompak dan sama baiknya dalam hal passing dekat dan jauh. Ia gunakan optimal senjata mematikan David Luiz, umpan panjang dan memilih Maitland Niles, pemain serba bisa yang sangat atletis untuk marking ketat pemain spesial lawan. Ia gunakan Soares untuk hadirkan rivalitas dan mengembalikan Bellerin ke posisi terbaiknya. Ia mengintegrasikan Tierney pasca cedera dengan sangat mulus ke dalam tim, baik sebagai LWB maupun LCB. Ia menumbuhkan kembali kepercayaan diri Mustafi, pemain yang dibuang oleh Emery. Dan terakhir, ia memberikan kepercayaan penuh kepada Emi Martinez yang dibayar berlipat ganda. Arsenal sekarang akan pusing memilih kiper utama untuk musim mendatang.

Dimulainya Era Arteta

Era Arteta kini resmi dimulai. The Arteta Way dimulai dengan revolusi mental, pelajaran tentang komitmen untuk menderita bersama, persiapan taktik yang matang, semangat tim dan gairah dalam bermain sepakbola, kalah maupun menang. Menyaksikan timnya Arteta bermain sepakbola membuat kita sadar kembali mengapa kita mencintai klub ini. Sepakbola Arsenal saat ini tidak selalu indah, namun saat kita melihat para pemain bermain demi satu sama lain, saat mereka memenangkan tackle, saat mereka melakukan pressing tinggi, saat mereka melakukan build-up play dengan tenang dari belakang, saat mereka tidak saling menyalahkan ketika kehilangan bola, sebaliknya saling menutupi ruang kosong rekannya, saat mereka melakukan fist bump ataupun high five, saat itulah optimisme terhadap Era baru ini hadir. Arteta adalah pelatih sepakbola modern yang mungkin lebih fasih soal taktik sepakbola modern daripada Wenger, namun ia juga tidak melupakan pentingnya sentuhan personal seorang manager terhadap pemainnya. Pentingnya bersikap bijak dan adil terhadap pemainnya. Para pemainnya mulai mencintainya sebagaimana mereka yang dulu bermain untuk Wenger. Cinta yang hadir dari kejujuran, kedekatan, dan juga rasa berterima kasih dan rasa hormat. Kombinasi hal terbaik dari Guardiola dan Wenger ini bisa berpotensi untuk menjadikan Arteta menjadi manager yang sangat baik, selama ia didukung oleh pemilik klub ini.

We are building something here. People can see we are building something and getting somewhere.

There is no better feeling than winning trophies. It has been a roller-coaster here, but to finish it like this is just brilliant.

The manager has had a big impact on this squad. We are improving. This is a process and we will have some bad results and ups and downs, but we all trust in this process 110 per cent.

Kieran Tierney

Pertarungan Berikutnya: Transfer Window!

Bila board Arsenal juga Percaya Era Arteta, mereka mesti mendukungnya di transfer window ini. Tugas pertama, pertahankan Aubameyang. Tugas kedua, melakukan jual-beli-pinjam yang cerdik. Arsenal tidak bisa tidak melepas pemain, untuk mendanai pemain baru. Menurut saya, paling tidak kita membutuhkan 1 CB utama, 1 CM, 1 AM dan sisanya tergantung siapa pemain yang dilepas.

Bila Ozil, Guendouzi, Torreira, Sokratis, Kolasinac jadi dilepas, maka Arsenal perlu mencari No.10 baru, 2 CM untuk melapis Xhaka dan Ceballos (yang ini harus extend loan atau sign permanen) dan 1 CB ditambah Saliba.

Sisi kreatif lini tengah adalah kelemahan utama Arsenal untuk bisa mendominasi pertandingan selain box to box Midfielder. Bila Thomas Partey jadi didatangkan, ia bisa menjadi box to box midfielder sekaligus complete midfielder yang dibutuhkan Arsenal. Ia bisa menjadi pemain yang mendikte tempo pretandingan seperti Xhaka, membawa bola seperti Ceballos dan mengantisipasi serangan seperti Torreira. Dengan demikian, Arsenal bisa menurunkan kembali No.10. Pertanyaannya siapa yang akan menggantikan Ozil? Nama Willian dan Coutinho disebut-sebut namun bagi saya keduanya bukanlah opsi yang menarik selain juga mahal. Arsenal perlu pemain seperti Kai Havertz yang sayangnya saat ini tidak terjangkau. Kita perlu pemain nyaman bermain di Zone 14. Sangat menarik ditunggu solusi Arteta untuk posisi itu.

Bila opsi di pasar tidak tersedia, dan fans Arsenal bisa bersabar sedikit, solusi internal untuk posisi No.10 itu sebenarnya ada. Bagi saya Emile Smith Rowe dan Bukayo Saka bisa menjadi jawaban musim depan. Mereka hanya butuh waktu untuk berkembang di bawah asuhan Arteta. Sebagaimana Wenger, Arteta juga memiliki kemampuan memoles pemain muda yang bertalenta, menjadi bintang. Ia sudah membuktikannya di City terutama dengan Sterling.

Jadi, Percaya Era Arteta?

Arteta Masterclass

FA Cup 2020 Semi Final – Arsenal 2-0 Manchester City – Wembley Stadium, London

Akhirnya setelah 25 pertandingan (14 menang, 6 seri dan 5 kalah) Revolusi Mental Arteta menunjukkan hasilnya. Dalam 4 hari, Arsenalnya Arteta mengalahkan dua tim terbaik di Premier League, Liverpool 2-1 dan Manchester City 2-0. Kedua tim tersebut dikalahkan dengan persiapan taktik yang cemerlang, eksekusi di lapangan yang hampir tanpa cela, dan penampilan tim yang luar biasa. Di atas kertas, kualitas pemain Arsenal jelas masih kalah dari kedua klub tersebut. Karena itu Arteta memilih untuk bermain bertahan sambil mengincar serangan balik yang efektif. Namun, seperti yang telah dirasakan semua tim yang memilih bertahan melawan kedua tim tersebut, kekalahan hampir pasti terjadi tanpa adanya game plan yang jelas untuk menyerang balik.

Arteta sendiri mengakui bahwa masih ada kesenjangan antara kualitas timnya dengan kedua tim tersebut. Namun baginya, dalam hal kepercayaan diri, akuntabilitas, dan gairah bermain sepakbola, timnya telah dapat menutup kesenjangan tersebut. Pemain Arsenal bermain untuk sesama, berjuang untuk setiap bola, menutup celah yang ditinggal rekannya dan terlihat sangat solid dalam bertahan maupun menyerang. Saat Arteta bergabung kembali dengan klub ini sebagai manager baru, ia mengatakan ada empat kualitas yang ia inginkan sebagai pondasi dasar timnya.

The priority, as I said before, is what we are going to transmit on the team, is a reflection of the demands we are going to put on them every day in training. That’s commitment, accountability, aggression and passion to play this sport and to represent this football club.

This is the basic I am going to demand from them, and from there we can start to build things and improve all the things, obviously, that have to be done as quickly as possible, but if we don’t have this in the right manner, I think it will be difficult.

Hanya dalam 25 pertandingan, tim yang dilatihnya ini telah berada dalam jalur yang diinginkannya. Pondasi dasar dari timnya terlihat jelas dan telah membuahkan hasil yang luar biasa. Para pemain mengikuti instruksinya karena mereka bisa merasakan hasilnya. Bak pengikut Messiah yang merasakan langsung kebenaran dari kata-katanya berwujud dalam pengalaman nyata, kepercayaan The Gunners terhadap sang manager pun semakin bertumbuh, begitu pula kepercayaan diri mereka pribadi. Sekarang mereka percaya kalau mereka mampu bersaing dengan tim juara di liga ini, karena telah mencicipi indahnya kemenangan atas tim juara. Mental mereka telah mengalami revolusi di tangan Arteta.

Selain revolusi mental, Arsenal juga memperlihatkan penguasaan taktik yang komplit. Arsenal mencetak gol saat melawan Liverpool lewat high pressing terhadap pemain bertahan dan kiper lawan. Tidak peduli yang dihadapinya adalah dua pemain termahal Liverpool, Lacazette dan Nelson berhasil mencetak gol setelah Van Dijk dan Alisson melakukan kesalahan besar akibat high pressing Arsenal. Lawan City, Arsenal mencetak gol lewat cara lain, build up play sempurna dari belakang. Melibatkan 10 pemain dan 18 operan, Aubameyang mencetak gol pertama Arsenal hasil bola yang terus mengalir tanpa bisa dihentikan oleh pressing pemain City. Pep Guardiola terpaksa menelan pil pahitnya sendiri, yang ironisnya diberikan oleh mantan asisten manager-nya.

Gol kedua Arsenal melawan City hadir dari counter attack cepat, operan lob cemerlang dari Tierney setelah menerima back pass dari Pepe disambut dengan timing lari yang pas dari Aubameyang yang sekilas memberikan kita bayangan akan Thierry Henry yang lari dari channel kiri ke tengah sebelum kemudian mencetak gol. Aubameyang tidak mengecewakan harapan kita dan berhasil mencetak gol nutmeg salah satu kiper termahal di Premier League dengan santainya. Tim ini telah membuktikan kalau mereka bisa mencetak gol lewat cara apa saja – pressing tinggi, build up play, counter attack dan set piece. Arsenal-nya (perlengkapan senjata) komplit sudah.

Tentunya perjalanan menuju pencapaian saat ini tidaklah mudah. Ada pengorbanan, kerja keras dan konflik. Saya akan mencoba menuliskan beberapa hal berbeda yang dilakukan Arteta terhadap pemainnya yang kemudian berbuah positif dengan makin solidnya tim yang percaya penuh dengan kepemimpinannya.

Man Management Skill

Dalam salah satu ilmu manajemen untuk menciptakan high performance team, pondasi dasar paling penting adalah membangun Trust, kepercayaan. Pemain mesti percaya kepada manager-nya dan kepada rekannya. Dan Trust ini selalu dimulai dari kepemimpinan yang terbuka. Arteta berulang kali menegaskan bahwa ia selalu terbuka terhadap pemainnya. Ia siap bicara dengan lugas dan tidak akan segan dalam menyampaikan pendapatnya terhadap pemainnya. Dengan demikian ia memperlihatkan sikap yang fair dan tidak pilih kasih. Sebaliknya, pemain yang tidak bisa terbuka dengannya, untuk memenuhi standarnya dalam latihan, tidak akan dimainkan. Namun hal itu tidak berlaku untuk selamanya, begitu pemain tersebut berubah dan kemudian memperlihatkan perbedaan di latihan, maka ia dapat masuk kembali ke tim. Arteta tidak takut dengan konflik namun ia tetap berusaha untuk bersikap adil terhadap semua pemain.

Xhaka dan Ceballos menjadi contoh terbaik manajemen personal Arteta. Tidak heran mereka berdua sekarang membentuk partnership yang sangat solid. Setelah mereka berdua, Mustafi yang termarjinalkan juga kembali menunjukkan performa terbaiknya. Demikian juga Pepe yang meningkatkan usahanya dalam latihan dan kembali mendapatkan tempat di starting line up. Lacazette menemukan kembali kepercayaan dirinya. Luiz selalu mendapatkan kepercayaan Arteta walaupun melakukan kesalahan fatal saat restart liga melawan City. Pemain-pemain muda seperti Saka, Nketiah, Willock dan Nelson selalu mendapatkan kesempatan bermain ketika mereka siap. Arteta tidak takut memainkan mereka.

Di sisi lain, Arteta tidak sungkan untuk mengisolasikan pemain jika pemain tersebut tidak 100% dan sikapnya membahayakan kinerja tim. Guendouzi dan Ozil menjadi “korban” dari kebijakan ini. Guendouzi yang keras (dan besar) kepala menolak meminta maaf karena sikapnya setelah game lawan Brighton tidak mendapatkan tempat lagi di tim. Ia lebih mementingkan egonya daripada timnya. Jika situasi ini terus berlanjut, Guendouzi bakal dijual sebelum musim baru dimulai.

Untuk Ozil, semenjak restart liga tampaknya ia belum menampilkan upaya 100% saat latihan. Kata Arteta mengenai Ozil yang absen sejak pertandingan pertama setelah Premier League bergulir kembali:

I have been very open with Mesut from day one.

Since I joined I thought that he was fit and he was willing and he wanted to perform at the level he can do.

The moment I see that he is ready again to do that, I will treat him like anybody else. I think I’ve been more than fair with him and I think he has responded in many games the way I want. That’s it.

Bila Ozil tidak mau berusaha sekeras rekan-rekannya, artinya ia juga lebih mementingkan egonya daripada timnya, dan pasti akan dilepas juga sebelum musim baru dimulai walau tidak mudah karena gaji per minggunya yang telah tinggi. Namun bila Ozil memilih makan gaji buta daripada bermain sepakbola secara konsisten setiap minggu, maka karier sepakbolanya akan berakhir dengan cepat.

Ainsley Maitland-Niles

Sempat diisukan akan hengkang karena tidak nyaman bermain sebagai Right Back, Ainsley Maitland-Niles tidak dimainkan oleh Arteta untuk waktu yang lama. Perlahan, sebagaimana yang terjadi pada pemain lainnya yang ditangani Arteta, ia mulai berubah dalam sesi latihan, dan akhirnya mendapatkan tugas mulia di pertandingan lawan City. Arteta menurunkannya dengan misi menganulir Riyad Mahrez. Karena taktik spesial ini, Tierney terpaksa bermain sebagai LCB dan Maitland-Niles menjadi left wingback. Mahrez mati kutu sepanjang pertandingan ini karena ditempel ketat oleh lawannya. Satu-satunya peluang bersih yang didapatkannya menjadi satu-satunya shot on goal City yang diselamatkan dengan mudah oleh Emi. Mahrez diganti sebelum babak berdua berakhir dan Maitland-Niles bahkan beberapa kali sempat ikut turun menyerang sisi kanan lapangan City. Sayang saja umpan crossingnya tidak seakurat Saka, kalau tidak City bisa menderita kekalahan lebih besar. 2-0 cukup untuk malam itu.

Di akhir pertandingan Maitland-Niles dipeluk erat oleh David Luiz sang motivator. Arteta juga memeluknya dengan erat sambil mengangkatnya, wujud apresiasi ekseskusi misinya yang sukses besar. Maitland-Niles menambah satu lagi dari sekian banyak pemain yang menjadi lebih baik di bawah penanganan Arteta. Entahlah kalau Guendouzi menonton pertandingan ini atau tidak. Kalau ia punya akal sehat, mestinya ia akan terpengaruh untuk mengubah sikapnya, untuk ikut kereta Arteta yang melaju makin cepat.

Lacazette dan Pepe

Aubameyang mencetak dua gol dengan sangat efisien namun penampilan Lacazette tidak bisa dilupakan. Ia bermain sangat baik sebagai hold up player saat serangan balik dan meneruskan bola dengan progresif, atau mengundang foul lawan. Lacazette melakukan high pressing sepanjang pertandingan. Rivalitasi yang dihadirkan Arteta terhadapnya dengan seringnya memainkan Nketiah yang sangat energik berpengaruh positif terhadap Laca. Golnya saat melawan Spurs menunjukkan sinyal ia kembali ke penampilan terbaiknya.

Di sisi kanan, Pepe juga berkontribusi positif. Ia berperan dalam dua gol Aubameyang, sebagai assister dan pre-assister. Dribblingnya lebih bertujuan, gerakannya lebih fokus, dan kombinasinya dengan Bellerin terlihat semakin baik. Ia juga ikut dalam pressing dan tracking back, berubah total dibandingkan gaya permainannya yang lebih individualis saat pertama kali bergabung di awal musim. Sayang sekali hanya tertinggal tiga pertandingan tersisa di musim ini, di saat trio Laca-Auba-Pepe sedang menuju level yang diharapkan fans sejak awal musim.

Lencioni Model

Kembali ke ilmu manajemen soal high performance team. Saya mempelajari hal ini dalam salah satu training project management. Lencioni membuat model piramid berisi 5 unsur / tahapan perubahan perilaku sebuah tim untuk menghasilkan tim dengan kinerja yang lebih baik. Tim yang mana kinerjanya lebih baik dari gabungan kualitas masing-masing individu anggotanya. The whole is greater than the sum of its parts.

Building a high performance team

Setelah membangun Trust, maka yang berikutnya adalah tim harus tidak takut menghadapi konflik. Perdebatan perlu terjadi karena setelah itu, tim harus mencapai kesepakatan dan semua yang berbeda pandangan awalnya akhirnya harus berkomitmen terhadap keputusan yang satu, metode dan tujuan yang sama. Mereka yang tetap tidak sejalan, dengan terpaksa disisihkan (Guendouzi, Ozil). Dengan komitmen tersebutlah, maka akuntabilitas bisa diterapkan. Pemain yang melakukan kesalahan, mengaku salah dan mendapatkan konsekuensinya. Lebih baik lagi, setiap rekannya akan mencoba cover sehingga kesalahan itu tidak berdampak buruk, sebagaimana Xhaka yang meng-cover kesalah Mustafi malam itu. Karena tim yang berfungsi dengan baik percaya bahwa hasil itu sifatnya kolektif.

Trust -> Conflict -> Commitment -> Accountability -> Results.

Mirip bukan dengan 4 fondasi dasarnya Arteta Way? Saya tidak akan kaget kalau Arteta terinspirasi oleh model manajemen Lencioni ini.

Masterclass

Seperti yang diutarakan di awal, sangat sayang musim ini tersisa 3 pertandingan lagi, ketika Arteta mulai menunjukkan Masterclassnya, berkat tim yang sudah sejalan, yang bernafas dengan detak jantung yang sama. Tidak tanggung-tanggung dua pelatih kawakan, Klopp dan Pep dengan tim yang jauh lebih mahal sudah merasakannya. Di final FA Cup dalam 2 minggu mendatang, Arteta akan berhadapan dengan salah satu dari dua pelatih muda mantan pemain sukses lainnya di dalam Lampard dan Solksjaer, pertarungan yang tidak akan kalah serunya. Final FA Cup ini akan sangat berarti bagi Arteta dan Arsenal: mendapatkan tambahan budget untuk belanja musim depan (karena bisa berpartisipasi di Europa League) dan mempertahankan pemain terbaiknya agar tidak hengkang (Aubameyang).

Masterclass yang ditunjukkan Arteta begitu berbeda dengan sepakbola tanpa jati diri di era Emery. Semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Berbagai pundit bola yang biasanya menganggap remeh Arsenal bisa merasakan perubahan tim ini di bawah asuhan Arteta. Bila ini baru tahapan basic, sesuai penjelasannya, kita boleh merasa optimis dengan masa depan Arsenal di tangan Arteta. Kita berharap KSE sama optimisnya dalam mendukung Arteta dengan dana yang sepadan, agar kita bisa menyaksikan visi Arteta Way terealisasikan.