Rebuilding Arsenal

Featured

Skuad Arsenal 2021/2022

Saya menulis series Transfer Window 2021/2022 dalam tiga artikel panjang yang mencoba memahami strategi transfer Arsenal musim ini. Artikel pertama saya tulis tanggal 25 Juli ketika Arsenal baru menyelesaikan transfer Tavares dan Lokonga, dan artikel terakhir dirilis tanggal 1 Agustus 2021, sehari setelah Arsenal mengumumkan Ben White. Silakan membaca kembali artikel-artikel tersebut untuk refreshing, jika berkenan.

Link Part 1 tentang aturan Home Grown dan kilas balik musim Arsenal 2019/2020

Link Part 2 tentang kilas balik musim Arsenal 2020/2021 dan kandidat marquee signing Arsenal

Link Part 3 tentang menghitung budget belanja Arsenal dan skenario prediksi akhir transfer window ini.

Mari kita lihat kembali skenario prediksi saya. Ada 2 versi, yang optimis dan realistis.

Skenario 1 – Optimis

Tabel 1 – Prediksi versi Optimis

Skenario 2 – Realistis

Tabel 2 – Prediksi versi Realistis

Dan yang akhirnya terjadi di akhir Transfer Window summer 2021 ini adalah sebagai berikut:

Tabel 3 – Skuad Arsenal setelah Deadline Day TW Summer 2021

Prediksi yang tidak jauh meleset

Jika kita bandingkan, yang terjadi di akhir TW ini adalah sesuatu di antara skenario optimis dan realistis.

  • Jumlah pemain yang masuk sama dengan skenario realistis, yaitu 6 pemain baru. Bahkan posisi pemain barunya pun sesuai dengan prediksi.
  • Net spending Arsenal hampir sama dengan skenario optimis, yaitu sekitar 90 juta pounds, kalkulasi saya mengenai budget belanja pemain Arsenal ternyata tidak malu-maluin.
  • Penjualan yang terjadi di bawah perkiraan saya. Arsenal tidak mampu menjual beberapa pemain yang terpaksa hanya berakhir dengan loan tanpa obligation to buy (Nelson dan Bellerin) dan 2 pemain yang mestinya dijual gagal sepakat dengan klub pembeli akhirnya akan berstatus free transfer di akhir musim ini (Nketiah dan Kolasinac).
  • Jumlah pemain tim utama Arsenal sekarang menjadi 27, prediksi saya 26. Arsenal gagal melepas Kolasinac free transfer di akhir TW ini. 15 pemain non-HG (max 17) artinya Arsenal belajar dari musim lalu, kali ini semua pemain dapat didaftarkan untuk PL.
  • Willian di luar dugaan saya, akhirnya memilih memutuskan kontraknya dengan terhormat, tanpa kompensasi pesangon karena ia masih punya harga diri dan ingin bermain bola. Respect kepadanya yang lebih mementingkan pride daripada uang. Hal ini tentunya menguntungkan Arsenal yang dapat melakukan penghematan biaya gaji pemain sekitar 20 juta pounds untuk 2 musim!

Strategi Transfer Arsenal

Strategi ini sudah pernah saya tulis di Part 3 series Transfer Window Arsenal dengan kutipan sebagai berikut:

Saya pertebal pernyataan Edu dan Arteta bahwa usia Ben White sesuai dengan profil pemain tim yang sedang Arsenal bangun. Saat Arsenal terancam dan kemudian beneran tersepak dari Champions League, Arsenal memilih jalur pintas, shortcut untuk segera kembali ke Champions League lagi dengan membeli pemain yang lebih senior dan berpengalaman. Ini yang biasa disebut stopgap solution (solusi yang bersifat sementara). Pemain senior (di atas 26 tahun) yang dibeli antara lain mulai dari Aubameyang dan Mkhitaryan (di paruh musim terakhir Wenger), kemudian Leno, Sokratis, Lichtsteiner, David Luiz, Cedric Soares, Willian, dan Thomas Partey. Langkah ini terbukti tidak berhasil membawa kembali Arsenal ke level Champions League. Arsenal sudah tidak bermain di Champions League selama 4 musim. Alih-alih mengangkat moral tim dan mengubah mentalitas tim menjadi tim juara, sebagian besar pemain senior ini justru mengecewakan penampilannya dan bahkan Arsenal di musim lalu harus diselamatkan oleh pemain-pemain muda jebolan Hale End, seperti Bukayo Saka dan Emile Smith Rowe. Belajar dari pengalaman tersebut, Arsenal lalu mengubah strategi transfer untuk musim ini.

Transfer Window 2021/2022 – Saatnya Optimis? Part 3

Edu pun akhirnya memberikan wawancara kepada Skysports dan di Arsenal.com yang kurang lebih mengkonfirmasi soal strategi rebuilding tim dengan pemain muda di bawah 23 tahun dengan target panen jangka menengah (2-3 tahun) dan panjang (5 tahun ke atas). Edu menjelaskan saat ini Arsenal tertinggal jauh dari tim elit lainnya yang hanya cukup membeli 1-2 pemain di transfer window kali ini karena kualitas timnya sudah sangat baik (Chelsea, City, Liverpool) sementara Arsenal masih perlu memperbaiki kualitas tim di banyak posisi. Arteta mengatakan hal yang sama seminggu kemudian.

On top of that, we needed to recruit in a lot of positions. In order to do that, we had to spread the money and how it was spent wisely. Then we had to be very specific with the qualities, the targets we want that can reach the potential that is required at that level with the competition we have with other teams, to reach that [aim]. 

The whole strategy was around that, making those decisions as quickly as possible that could give us big margins of improvement in a short period of time.

Mikel Arteta – The thinking behind our transfer strategy

Karena KSE bukan bank yang cetak uang, 145 juta pounds miliknya dibelanjakan oleh Arsenal untuk 6 pemain muda yang akan meningkatkan kualitas tim, walau mungkin mereka butuh waktu lebih lama untuk memberikan dampak langsung. Bandingkan dengan City dan Chelsea yang belanjakan uang 100 juta pounds untuk seorang pemain elit. Edu berkata tujuan transfer kali ini adalah membangun pondasi. Di masa mendatang Arsenal mungkin hanya akan melakukan pembelian 1-2 pemain elit untuk melengkapi kualitas tim yang sudah cukup bagus. Tapi saat ini kita masih belum sampai ke sana. Seperti kata Arteta, kita perlu merekrut pemain di banyak posisi dari GK, RB, LB, CB, CM, AM, ST. Dari ketujuh posisi ini, enam terpenuhi dari transfer window ini dan yang lebih penting, keenam pemain ini memiliki kualitas (atau potensi) yang lebih tinggi daripada pemain yang akan digeser/ digantikan mereka di tim Arsenal.

  • Ramsdale -> Runarsson
  • Ben White -> Holding / Chambers
  • Tomiyasu -> Bellerin
  • Tavares -> Kolasinac
  • Lokonga -> Elneny
  • Odegaard -> meneruskan perannya sendiri di musim lalu

Keenam pemain muda ini tidak butuh waktu lama untuk integrasi ke timnya Arteta. Lima dari enam pemain ini langsung start melawan Norwich (Ramsdale, Ben White, Tomiyasu, Lokonga, Odegaard). Kemudian minus Lokonga, keempat pemain yang sama start lagi melawan Burnley. Hanya Nuno Tavares yang duduk di bangku cadangan sebagai pelapis Tierney. Kedua pertandingan berakhir dengan kemenangan 1-0 dan juga clean sheet. Untuk sementara ini, strategi rebuilding dengan target mid term dan long term ini juga memberikan dampak segera. Dari debut semua pemain baru ini, yang cukup mengejutkan adalah Ramsdale dan Tomiyasu. Kebanyakan fans Arsenal tidak mengira dampak positif instan dari penampilan mereka. Apalagi mengingat keduanya berasal dari klub yang lebih inferior daripada Arsenal (halo, spesialis degradasi…). Ini sebuah pelajaran buat kita bahwa pemain bagus ada di mana-mana, yang mungkin tidak terlalu terdengar di media dikarenakan keterbatasan dari pencapaian klub asalnya. Scouting Arsenal baik yang langsung di lapangan dan yang dari tim analisis statistik dan video patut diacungkan jempol karena keberhasilan mereka menemukan bakat-bakat terpendam ini.

Tomiyasu The Shield – source: @kazu_designs

Attiude and Character

Selain profil usia dan bakat pemain yang menjadi dasar pembelian pemain baru, hal lain yang dinilai dari tim perekrutan Arsenal adalah attitude dan character pemain. Di awal bergabungnya Arteta, saya menulis artikel The Arteta Way. Bagi Arteta, ada 4 hal penting yang ia inginkan sebagai pondasi dasar timnya: komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah untuk memainkan sepakbola dan mewakili klub ini.

The priority, as I said before, is what we are going to transmit on the team, is a reflection of the demands we are going to put on them every day in training. That’s commitment, accountability, aggression and passion to play this sport and to represent this football club.

This is the basic I am going to demand from them, and from there we can start to build things and improve all the things, obviously, that have to be done as quickly as possible, but if we don’t have this in the right manner, I think it will be difficult.

Mikel Arteta when he joined Arsenal as head coach, December 2019

Selama 1,5 tahun ini, Arteta melakukan perubahan tim dengan mengeluarkan pemain-pemain yang tidak memenuhi 4 kriteria di atas. Pemain yang tidak memiliki komitmen yang sama, tidak memberikan 100% di sesi latihan, dan tidak memiliki gairah untuk mewakili klub ini, silakan out!. Pemain yang melanggar nilai-nilai yang tidak dapat ditawar (non-negotiables) yang sudah ditentukan untuk tim juga out!. Revolusi mental memakan korban mereka yang tidak bisa ataupun yang menolak berpartisipasi. Mari kita lihat siapa saja para pemain tim utama warisan Wenger dan Emery yang sudah “dibuang” oleh Arteta:

  • Mkhitaryan
  • Emi Martinez (dijual untuk profit)
  • Sokratis
  • Mustafi
  • Ozil
  • Mavropanos
  • Guendouzi
  • Willock (dijual untuk profit)
  • Torreira

Bersih-bersih skuad ini tentunya juga bukan tanpa harga yang harus dibayar. Selain Emi Martinez dan Joe Willock, pemain lainnya dilepas murah dengan loan dan option to buy atau diputus kontrak. Arsenal jelas rugi dari segi potensi penjualan. Selain itu selama separuh musim 2020/2021 penampilan Arsenal sangat buruk yang notabene juga dipengaruhi faktor ketidakharmonisan di dalam skuad. Setelah bersih-bersih itu terjadi di bulan Januari 2021, praktis penampilan Arsenal jauh membaik (silakan baca Part 2 untuk lebih jelasnya)

Kemudian dari tim utama Arsenal saat ini, tersisa 10 pemain yang bukan hasil pembelian di masa Arteta, ataupun tidak/belum diberikan kontrak baru di masa Arteta, antara lain:

  • Kolasinac (sisa setahun)
  • Chambers (sisa setahun)
  • Elneny (sisa setahun)
  • Nketiah (sisa setahun)
  • Lacazette (sisa setahun)
  • Leno (sisa 2 tahun)
  • Pepe (sisa 3 tahun)
  • Maitland-Niles (sisa 2 tahun)
  • Bellerin (sisa 2 tahun)
  • Saliba (sisa 3 tahun)

Dari daftar di atas, kita kurang lebih bisa menebak jika di musim ini Arteta tidak memperpanjang kontrak pemain-pemain di atas, mereka adalah target berikutnya yang akan dijual/dilepas oleh Arsenal di TW mendatang. Hanya dalam waktu 2,5 tahun (di akhir musim ini) Arteta akan berhasil melakukan bersih-bersih skuad dan kemudian memiliki tim yang berisi pemain-pemain pilihannya sendiri, hasil seleksi alam 4 kriteria tersebut. Luar biasa dukungan board dan manajemen Arsenal untuk revolusi yang dipimpin Arteta ini. Praktis ia mengganti total tim warisan Wenger dan Emery dalam waktu yang relatif singkat.

Target Musim Ini

Satu hal menarik yang bisa kita perhatikan di wawancara Edu maupun Arteta adalah absennya penyebutan target Arsenal di musim ini. Masih kita ingat pernyataan kontroversial Willian yang menyebutkan bahwa Arteta membelinya untuk membawa Arsenal ke Champions League di musim pertama, dan keluar sebagai juara Champions League di musim ketiganya. Wow! Sayangnya pernyataan tersebut jauh dari kenyataan… Arteta dan Arsenal akhirnya menerima kenyataan bahwa kualitas timnya tidak bisa ditutup dengan satu dua pemain senior, dan sekarang Arsenal memilih jalur yang lebih terencana baik, dengan membangun pondasinya terlebih dahulu. Seperti yang sudah saya tulis di artikel sebelumnya:

Arsenal sepertinya sudah siap menempuh jalan yang lebih panjang agar peningkatan kualitas tim ini memiliki pondasi yang lebih kuat, beralih dari pembangunan tim instan dengan pondasi rapuh yang hasilnya terbukti mengecewakan. Arsenal memutuskan untuk membangun ulang tim. Pengalaman mengajarkan lebih sulit untuk “membentuk” pemain-pemain senior yang sudah “jadi” di klubnya masing-masing, apalagi untuk menyesuaikan diri mereka dengan style sepakbola yang berbeda yang diinginkan Arteta, seperti Positional Play yang menghasilkan sustainable pressure and possession

Transfer Window 2021/2022 – Saatnya Optimis? Part 3

Edu setelah berkonsultasi dengan manajemen Arsenal (Tim Lewis, Vinai) menginformasikan ke Arteta sekitar awal tahun ini rencana pembelian pemain dibawah 23 tahun sebagai bagian dari planning rebuilding Arsenal. Tentunya Arteta terkejut, karena ia tahu rencana ini butuh waktu lebih lama untuk berhasil sementara fans akan menuntut hasil jangka pendek pada dirinya. Namun manajemen meyakinkannya kalau ia akan diberi waktu untuk menggarap project ini. Mengembangkan tim muda ini menjadi tim yang bisa memainkan Positional Play tanpa target kembali ke Champions League segera. Dengan rencana baru ini baik Arteta dan Edu tidak lagi menyebut top four sebagai target finish musim ini. Mereka berusaha menurunkan ekspektasi fans. Di podcast yang menghadirkan Per Mertesacker sebagai pembicara (wajib ditonton), Per juga mengaku targetnya adalah dalam 2-3 tahun Arsenal bisa kembali ke Champions League dan bersaing serius untuk title Premier League.

Musim ini adalah soal meletakkan pondasi. Bagaimana tim ini bisa bermain dengan komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah mencerminkan tim Arsenal yang sesuai dengan reputasinya, by far the greatest team the world has ever seen. Memainkan sepakbola menyerang dengan pressing dan possession yang berkepanjangan. Tentunya Arsenal berharap bisa lolos minimal top six di akhir musim agar bisa kembali bermain di kompetisi Eropa namun saya yakin dalam hati Arteta dan pemain-pemain Arsenal, top four selalu menjadi incaran mereka (no pressure, team). Di akhir Desember nanti, kita bisa lihat sejauh apa posisi Arsenal dari top four, dibanding secara relatif dengan penampilan klub-klub lainnya.

Trust The Team

Terlepas dari keyakinan Anda terhadap kemampuan Arteta memimpin tim muda ini, Per Mertesacker mengatakan Trust itu sangat dibutuhkan dalam project rebuilding ini. Supporter mesti lebih sabar karena rencana ini memang akan butuh waktu, namun kita akan melihat indikasi adanya perbaikan sedikit demi sedikit seiring dengan waktu. Paling tidak gairah pemain-pemain muda berkarakter ini seperti Ramsdale dan Tomiyasu dalam membela tim ini akan sangat membanggakan. Tim ini akan mengalami masa-masa sulit juga seyogyanya tim yang berisi mayoritas pemain muda, dan di masa-masa sulit seperti itulah dukungan supporter sangat diperlukan. Trust the club and trust the team.

You always want the shortcut, you know, ‘bang’ straight back into the Champions League, straight back into being successful,

I think even myself, realising and working now with the academy, going more long term and developmental, I think we see kind of similar-ish traits in the first team, and I hope that Mikel gets the time that he needs.

I want to be successful tomorrow, I want to go back in the Champions League tomorrow, I want to speak to people and say, ‘listen, we have got the best club in the world who challenges for titles every single year’. That’s not the reality. I think the earlier we get on the train of ‘we are in a big, big transition still’ [the better].

To have sustainable success there needs to be some trust. I’m all for trusting people. Mikel Arteta, and I perceive him to be the right person, lets give him the trust and the development squad that he can take to the next level that will achieve Champions League football, maybe in two to three years.

From a club person, that’s my take basically at the moment, because I’ve worked with Mikel very very closely.

I know how much he wants it, I know his work ethic, I know how intense the squad works at the moment to get to a better level. I think we all have to swallow disappointment at the moment, which I’m keen to change, but the environments that we are going to deliver in the next years will be key for our success.

The stakes are very very high, and I understand that there is a lot of criticism, but some people need to swallow that and try and grow with it, and Mikel is someone that does that.

Per Mertesacker on The Beautiful Game Podcast

Kalaupun misalnya Mikel Arteta tidak berhasil membawa tim ini ke level yang diharapkan, pelatih berikutnya akan mewarisi tim dengan profil pemain yang lebih baik daripada Arteta. Lebih muda, berkarakter positif, berbakat, dan mampu memainkan sepakbola modern ala Positional Play. Arsenal tinggal mencari pelatih modern yang bisa menerapkannya lebih baik (tentunya tidak mudah mencarinya). Inilah hasil planning rebuilding Arsenal yang matang, bukan hasil tambal sulam dengan membeli pemain-pemain tua sebagai stopgap solution. Pada akhirnya klub tetap akan memetik hasilnya, siapapun manager-nya.

Untuk saat ini, mari kita menikmati mendukung Arsenal tanpa beban.

Menikmati aksi Ramsdale, Tomiyasu, Gabriel yang berjibaku dalam duel bola-bola atas…

Menikmati umpan terobosan jarak jauh dari Ben White, Partey dan Odegaard…

Menikmati crossing akurat dari Tierney yang sayangnya hanya satu dari lima yang berhasil dimanfaatkan striker-striker kita…

Menikmati one touch football The Smith dan Saka sambil diiringi chant baru Smith and Saka yang fantastis itu…

Menikmati twist and shout Sambi di lini tengah sambil melupakan sideway dan back pass Elneny…

Menikmati gocekan Pepe yang ketika berhasil biasanya dilanjutkan dengan assist ataupun gol-gol fantastis… Ketika tidak, suara ahhh akan terdengar bersamaan di stadion…

Menikmati momen pertama kalinya Balogun membobol gawang lawan sebagai striker utama… dan berakhir sebagai striker utama tim ini di akhir musim.

Menikmati larinya Martinelli yang meninggalkan Cristiano Ronaldo, idolanya, yang terjatuh ala Kante di lapangan hijau…

Sambil di dalam hati kita meyakini bahwa tim ini akan menjadi lebih baik lagi. Tim ini akan sampai ke sana… Pantai seberang yang sudah lama kita tinggalkan semenjak lengsernya The Professor. Mudah-mudahan kali ini anak-anak didiknya (Edu, Mikel dan Per) yang akan berhasil menggantikan perannya sebagai nahkoda kapal tercinta ini.

‘One Arsène Wenger’, Menjawab Keraguan Demi Keraguan

One Arsène Wenger, there’s only one Arsène Wenger…

Mereka meragukan Aaron Ramsey, musim ini Ramsey pemain terbaik Premier League.

Mereka meragukan duet Per Mertesacker dan Koscielny, musim ini duet tersebut menjadi tulang punggung pertahanan terbaik Premier League.

Mereka meragukan Olivier Giroud, musim ini Giroud begitu vital dalam permainan Arsenal (10 goal + 5 assist) sehingga semua fans Arsenal kuatir ia cedera.

Mereka meragukan dan meremehkan Bendtner, malam ini ia menjawab dengan satu gol cepat dan secara keseluruhan penampilan yang di atas rata-rata.

Mereka meragukan Arsenal mampu menjadi juara musim ini walaupun Arsenal sedang memimpin klasemen 4 poin di atas peringkat kedua dan hanya menyisakan 5 pertandingan sisa di paruh musim 2013/2014 ini…

Keraguan demi keraguan dijawab tim Arsène Wenger musim ini. Pertama Southampton yang saat tandang berhasil menang atas Liverpool dan seri melawan United, tumbang oleh Arsenal 2-0. Lalu Cardiff City yang di kandangnya berhasil menang atas City dan seri lawan United, takluk di kandang oleh Arsenal 3-0. Terakhir Hull City yang menumbangkan Liverpool 3-1, dihabisi Arsenal 2-0 dengan cukup nyaman. Dan lawan berikutnya adalah Everton yang kemarin berhasil menang atas tim mediocre United. Apakah Arsenal akan kembali menang akhir pekan ini? Apakah kemenangan atas Everton akan cukup menjawab keraguan para “pakar” sepakbola yang mengisi kolom tabloid dan talkshow di acara bola? Mungkin tidak akan cukup sampai Arsenal memegang trofi di bulan Mei nanti. Tapi kita tak peduli, karena kita lebih tahu daripada mereka. Kita mengikuti tim Arsenal ini sejak belasan atau bahkan puluhan tahun silam, minggu per minggu. Kita tahu persis apa bedanya tim bermental juara dengan tim yang miskin kematangan. Kita tahu persis saat Arsenal bertransformasi menjadi tim kandidat juara liga.

AKB vs WOB

Dua musim terakhir adalah kulminasi keraguan terhadap Arsène Wenger dari camp fans Arsenal sendiri. Kepergian Fabregas dan Nasri di awal musim 2011/2012 serta Van Persie dan Song di awal musim 2012/2013 membuat Arsenal mengawali musim dengan sangat buruk dan mesti berjuang keras untuk lolos ke kualifikasi Liga Champions di akhir-akhir musim. Walaupun mereka akhirnya berhasil, fans sudah terlanjur kecewa terutama dengan kebijakan klub untuk menjual pemain terbaiknya dan tidak menggantinya dengan pemain yang setara. Belum lagi adanya AST (Arsenal Supporters’ Trust) lewat juru bicaranya Tim Payton yang gemar mengkritik klub di muka publik. Menuduh klub menimbun uang 70-100 juta pounds dan menolak membelanjakannya. Fans Arsenal terbelah dua bak Laut Merah dibelah Nabi Musa. Ada AKB (Arsene Knows Brigade) yang percaya penuh pada Arsène Wenger dan WOB (Wenger Out Brigade) yang menganggap Wenger telah out of touch, keras kepala dengan idealismenya dan menolak membelanjakan uang yang disediakan klub untuknya (asumsi mereka). Bahwa kenyataan 8 tahun tanpa trofi adalah indikasi Wenger sudah tak pantas lagi memimpin klub ini. Kelompok WOB ini makin lama makin keras suaranya di publik (dipimpin oleh Piers Morgan yang jarang masuk akal), sedangkan kelompok AKB semakin lama semakin sedikit atau memilih untuk diam. Mereka menanti kesempatan, the second coming of Messiah, karena keyakinan total mereka terhadap Lord Wenger yang telah memberikan gelar demi gelar dan ciri khas baru pada Arsenal semenjak kedatangannya serta rekor Invincible yang tak akan dipecahkan lagi oleh tim manapun di masa depan.

Awal musim ini, dengan satu tindakan Wenger menghapus tuduhan bahwa ia menolak spending big. Dua tindakan tepatnya. Yang pertama adalah bid kontroversial 40 juta + 1 pounds terhadap Luis Suarez yang gagal, dan yang kedua tentunya pembelian spektakuler Mesut Özil dari Real Madrid senilai 42,5 juta pounds, rekor pembelian termahal kedua di liga Inggris setelah pembelian Fernando Torres oleh Chelsea. Jika WOB (jika masih ada) merasa pembelian Özil adalah karena tekanan keras dari mereka di awal musim ini, asumsi tersebut salah besar. Wenger memang keras kepala, namun ia tahu persis apa yang ia lakukan. Ia punya budget terbatas, sehingga ia selalu mengatakan hanya akan membeli top, top player yang memang pantas dibeli dengan nilai tinggi. Dan kesempatan musim ini tiba ironisnya dibantu oleh penjualan Bale ke Madrid. Kejadian di luar kewajaran yang memungkinkan Madrid membuang pemain terbaik kedua mereka ke Arsenal.

Wenger memang keras kepala, namun ia tahu persis apa yang ia lakukan.

Dan bila ada fans Arsenal yang masih berhalusinasi bahwa pemain sekelas Özil mau pindah ke Arsenal tanpa adanya Wenger, maka wawancara terakhir Özil di Majalah FourFourTwo edisi Januari 2014 membuyarkan ilusi tersebut. Ia mengatakan keputusannya untuk pindah ke Arsenal dari klub terkaya dunia didasari oleh trust yang ia rasakan dari Wenger, bukan karena adanya pemain-pemain Jerman di klub ini. Dan jelas bukan karena uang (PSG menawarkan gaji lebih tinggi). Wenger telah memantaunya sejak ia di Werder Bremen dan mencoba membelinya saat itu namun kalah oleh pesona klub sekelas Madrid. Özil kemudian cukup diyakinkan dengan sebuah panggilan telepon dari Wenger. Pindah ke sebuah klub di liga yang asing baginya, di usia di mana ia mungkin akan menghabiskan usia puncaknya, bukanlah sebuah tindakan yang mudah. Perlu keyakinan penuh kepada manager barunya untuk mengambil keputusan tersebut.

“Somehow this telephone call just flicked a switch in me,” Ozil told Die Welt. “I thought: ‘What he is telling me is what I have missed at Real: transparency, trust, respect. He told me exactly how he sees me [as a player], how he wants to use me, what he expects from me and what he hopes I will contribute.”

Sebesar-besarnya Arsenal di Inggris, di dataran Eropa Arsenal belum dilihat sekelas dengan Real Madrid, Barcelona dan Bayern Muenchen, raksasa-raksasa Eropa saat ini. Untuk Özil pindah dari Madrid ke Arsenal, klub yang belum pernah memenangkan Liga Champions ini, umumnya akan dianggap langkah mundur. Namun kepercayaannya terhadap Wenger yang dirasanya mampu mengembangkannya ke level yang lebih tinggi sebagaimana yang ia lakukan terhadap Henry, Pires dan Vieira (Bergkamp pengecualian karena tanpa perlu disentuh juga sudah level God-like) membuat Özil yakin ini adalah langkah maju bagi karier pribadinya. Bukan tidak mungkin dalam satu dua tahun ke depan Özil bahkan mampu bersaing dengan Messi dan Ronaldo untuk Ballon d’Or, sesuatu yang diyakini oleh Wenger.

Kisah lainnya adalah Aaron Ramsey. Ramsey di usia 17 tahun adalah pemain yang diperebutkan banyak klub elit Inggris di antaranya Manchester United, Everton dan Arsenal. Bahkan United sempat memposting berita bahwa mereka telah mendapatkan Ramsey di website resminya sebelum kemudian Arsenal “menculiknya”. Lagi-lagi perlakuan khusus dan penjelasan visi Wenger terhadapnya dan orang tuanya (yang menerbangkannya dengan pesawat jet pribadi ke Swiss untuk bertemu langsung) akhirnya meyakinkan Ramsey untuk menolak tawaran United dan memilih bergabung dengan Arsenal. Terbukti hal itu adalah pilihan tepat baginya. Lima tahun kemudian ia bermain dengan pemain sekelas Mesut Özil, Santi Cazorla, Tomas Rosicky. Ia bisa saja melakukan kesalahan sehingga saat ini bermain dengan pemain seperti Anderson, Fellaini, Cleverley dan terpaut 12 poin dari pemimpin klasemen.

Kedua kisah di atas adalah bukti bagaimana manager masih menjadi yang paling penting dalam sebuah klub sepakbola. Manchester United yang menjadi juara liga musim lalu mendadak menjadi tim mediocre ketika ditinggal manager hampir tiga dekade-nya. Saat klub terpuruk maka managerlah yang akan dipecat. Dengan kesimpulan ini maka eksistensi WOB menjadi tidak relevan lagi selama Arsenal berada di peringkat pertama, bermain dengan baik dan memimpin dalam pengejaran gelar liga Inggris. Untuk sementara ini mari kita semua berperan sebagai AKB. Percayakan pada Wenger karena tim ini memang miliknya, dibangun olehnya dan sejauh ini telah berhasil menjawab keraguan demi keraguan baik dari fans sendiri maupun dari pihak luar. Keraguan itu lenyap di Emirates Stadium kemarin, seluruh fans menyanyikan chant ‘One Arsène Wenger’ saat Arsenal tampil begitu dominan melawan Hull City, pemandangan yang kontras dengan atmosfer di stadion di hari pertama musim ini.

…eksistensi WOB menjadi tidak relevan lagi selama Arsenal berada di peringkat pertama, bermain dengan baik dan memimpin dalam pengejaran gelar liga Inggris.

Cukuplah pihak luar yang meragukan Arsenal, meragukan kita. Saat ini hendaknya semua fans berdiri di belakang tim, di belakang manager, dan meyakini “we can win the league.” Video dari ArsenalFan TV (yang berisi wawancara-wawancara dengan fans usai pertandingan) ini pas untuk menutup bagian ini: Fans Apologises to Arsene Wenger.

 

Menang dengan Bermain Indah

Bergkamp mengatakan di biografinya bahwa filosofi Arsenal bukan hanya bermain indah, namun menang dengan bermain indah. Menang menjadi targetnya dan bermain indah adalah pendekatannya, caranya. Di awal babak pertama dan kedua saat melawan Hull City, Arsenal tampil luar biasa dengan passing-passing yang cepat dan akurat. Pergerakan pemain yang cepat membuat Hull City kebingungan untuk mengikutinya. Sayang saja Bendtner bukan striker reguler sehingga ia hanya dapat mencetak satu gol. Namun gol yang dicetaknya tidak kalah cantiknya dengan gol-gol Arsenal musim ini. Berawal dari pertukaran bola yang cepat antara Ramsey, Rosicky dan Jenkinson di sisi kanan, crossing akurat Jenkinson disundul oleh Bendtner secara terarah, keras menuju gawang. Gol di menit awal babak pertama tersebut kemudian ditambah dengan gol di menit kedua babak kedua yang juga hasil ping-pong bola yang cepat di sisi yang berlawanan. Kali ini aktornya adalah Monreal, Ramsey dan Özil.

Ramsey bergerak bebas dari kiri ke kanan ke tengah, ia ada di mana-mana! Ditopang oleh trio Rosicky, Cazorla dan Özil yang terus mengalirkan bola dengan cepat, Ramsey berkali-kali masuk di posisi yang berbahaya. Total 6 tembakan ia lakukan di pertandingan ini (terbanyak dari semua pemain di pertandingan ini), dengan satu tembakan keras yang membutuhkan penyelamatan cemerlang dari kiper Hull City. Ia mengembalikan assist Özil di Cardiff City dengan assist yang tak kalah cantiknya lewat reversed pass di depan kotak penalti lawan. Özil menyelesaikannya dengan kalem. Dua gol ini tidak mengilustrasikan dominasi Arsenal yang begitu mutlak di pertandingan ini, namun Arsenal bisa berpuas diri karena pencapaian ini dilakukan dengan rotasi pemain yang melebihi batas Wenger pada umumnya.

Rotasi yang Berhasil

Wenger melakukan pergantian lima pemain di starting line up dari pertandingan sebelumnya. Masuk Monreal, Jenkinson, Flamini, Rosicky dan Bendtner menggantikan Gibbs, Sagna, Arteta, Wilshere dan Giroud. Kelima pemain ini bisa diprediksi akan digunakan kembali saat melawan Everton. Kecuali Jenkinson dan Bendtner, para pemain pengganti ini sudah sering dipakai di beberapa kesempatan musim ini sehingga rotasi pemain ini tidak merusak keseimbangan tim. Walcott belum dipasang sejak awal karena masih sakit (bukan cedera) dalam beberapa hari terakhir. Ia tidak mengikuti sesi latihan penuh di hari Senin. Mungkin untuk Everton pun ia belum dapat dipasang di awal pertandingan.

Kelima pemain “pengganti” ini bermain dengan sangat baik. Manfaat kebugaran fisik sangat terlihat. Monreal dan Jenkinson bekerja tanpa lelah naik turun menyusuri garis pinggir lapangan. Monreal bahkan tampil cemerlang, siap berikan kompetisi yang berat terhadap Gibbs. Jenkinson tampil lebih baik daripada penampilan-penampilan sebelumnya dan crossing akuratnya kembali menemukan tempat. Flamini seperti biasa tampil bak jenderal lapangan. Ia juga dapat berkolaborasi dengan baik bersama Arteta di 15 menit terakhir babak kedua. Rosicky seperti biasa membuat publik lupa terhadap usianya. Interception, tracking back, tackling dilakukannya bak pemain muda yang tak takut dengan cedera. Dan terakhir Bendtner seperti yang telah diulas di atas, menjawab keraguan dengan satu gol penting dan penampilan di depan yang lumayan. Tidak se-dominan Giroud namun cukup untuk merepotkan tim sekelas Hull City. Ia bahkan sempat hampir memberikan assist kepada Özil lewat crossingnya yang seakan merekonstruksi crossing Jenkinson kepadanya.

Hasil Klub Lain

Prediksi hasil-hasil klub lain di bulan Desember yang saya tulis kemarin, hampir akurat. Kecuali hasil MU melawan Everton, tim-tim besar lainnya menang. MU tampil lebih buruk dari dugaan, Moyes bahkan tak dapat mencuri satu point pun dari klub lamanya. Hasil ini menjadi legitimasi bagi era baru Everton di bawah Roberto Martinez, bahwa pemilihan ia menjadi manager Everton adalah pilihan tepat board klub tersebut setelah kepergian pahit Moyes. MU yang sekarang terpaut 12 poin dari Arsenal sulit dianggap sebagai kompetitor serius, kecuali jika mereka berhasil meraih 5 kemenangan berturut-turut di bulan Desember.

Chelsea dan City menang, namun tidak meyakinkan. Chelsea nyaris seri di kandang Sunderland. Stoke City mungkin dapat memberikan perlawanan yang lebih berarti akhir pekan ini. Manchester City sendiri memberikan dua gol di akhir-akhir pertandingan. Soal penyerangan City memang yang terbaik untuk saat ini (mencetak 40 gol) namun masih banyak PR di lini pertahanan mereka, terutama saat pertandingan tandang.

Empat gol Suarez lawan Norwich City membuktikan dirinya adalah striker terbaik Premier League dan menjelaskan mengapa Arsenal sangat menginginkannya di awal musim ini. Gol dari tembakan jarak jauh, jarak dekat, aksi individu, dan tendangan bebas menjadikan dirinya sebagai striker yang komplet sekelas Henry. Arsenal telah lama tidak memiliki striker seperti ini pasca Henry, yang punya kecepatan, teknik, kekerasan dan keakuratan tembakan. Liverpool tak akan menjual aset berharganya di Januari nanti namun juga akan sulit menahannya di akhir musim nanti. Bisa tidaknya Liverpool finish di posisi keempat akan tergantung penampilan Suarez musim ini. Dengan penampilan Suarez yang seperti ini, rasanya Liverpool mampu mencuri poin dari Tottenham, Chelsea dan City. Prediksi Desember tersebut sepertinya mesti diralat segera.

Mitos “Harus Mengalahkan Klub Besar”

Salah satu argumen yang beredar di pundit bola mengapa Arsenal belum pantas dianggap sebagai penantang juara utama adalah karena Arsenal belum mengalahkan klub besar seperti Manchester United, Manchester City dan Chelsea. Memang pertandingan antara tim besar adalah pertandingan “six pointer”, yang artinya selisih antara menang dan kalah adalah 6 poin. Contohnya saat Arsenal melawan MU beberapa pekan lalu. Saat itu selisih poin Arsenal dan MU adalah 8 poin. Jika Arsenal menang, selisih poin menjadi 11 dan jika Arsenal kalah selisih poin menjadi 5. Jarak 11 dan 5 adalah 6 poin. Maka dengan hasil kalah di pertandingan tersebut, Arsenal kehilangan 6 poin potensial. Dengan alasan tersebut, mengalahkan tim rival dalam pertandingan six pointer menjadi amat penting.

Namun kenyataannya tidak seperti hitung-hitungan di atas kertas. Memang six pointer vital bagi rivalitas tim yang setara. Tetapi mengalahkan tim kecil juga tidak kalah penting. Tiga pertandingan setelah MU vs Arsenal, jarak antara MU dan Arsenal yang sempat diperkecil menjadi 5 poin sekarang menjadi 12 poin. Tiga kemenangan Arsenal berturut-turut dan hasil seri-seri-kalah MU membuat kemenangan six pointer MU terhadap Arsenal tersebut dengan cepat dapat dinegasikan dampaknya. Itu karena MU tidak mampu meraih angka sempurna di pertandingan lainnya.

Berkat bekal hasil melawan klub-klub “kecil”, Arsenal bisa lebih tenang dalam memasuki pertandingan six pointer melawan rival beratnya, dibanding mereka

Untuk Chelsea dan Manchester City yang relatif lebih konsisten daripada MU, six pointer dengan mereka menjadi penting. Misalnya saat ini selisih poin Chelsea dan Arsenal 4 poin. Jika Arsenal menang selisih menjadi 7 poin, bila kalah menjadi 1 poin. Dengan Man City, menang jadi 9 poin, kalah jadi 3 poin. Dan karena Chelsea dan Man City terus-menerus mendulang poin dari tim kecil, hasil menang melawan mereka menjadi penting. Jika tidak bisa menang, paling tidak seri agar selisih poin tetap terjaga. Sebaliknya bagi mereka, kemenangan melawan Arsenal menjadi target utama bulan ini, seri saja tidak cukup. Berkat bekal hasil melawan klub-klub “kecil”, Arsenal bisa lebih tenang dalam memasuki pertandingan six pointer melawan rival beratnya, dibanding mereka. Arsenal cukup “tidak kalah” sedangkan mereka “mesti menang”. Hal tersebut sudah cukup untuk memposisikan Arsenal di atas angin dalam perburuan “gelar” juara paruh musim ini.

Enam pertandingan lagi di bulan Desember, tak ada yang bisa kita perbuat sebagai fans kecuali menonton pertandingan, mendukung penuh tim dan percaya kepada nyanyian klasik yang sudah berusia belasan tahun ini:

One Arsène Wenger, there’s only one Arsène Wenger…