Memahami Coquelin, False Six Arsenal

<> at KC Stadium on May 4, 2015 in Hull, England.

Francis Coquelin, Arsenal’s unorthodox DM

Artikel ini adalah soal memahami peran Francis Coquelin, pemain Arsenal yang sedang tidak populer di kalangan Gooners. Bukan salahnya, tapi “salah” Wenger yang membeli Granit Xhaka dengan harga selangit (35 juta poundsterling). Xhaka yang diharapkan fans-fans Arsenal dapat melahirkan kembali peran deep playmaker ala Arteta di musim ini terhalang oleh keras kepalanya Wenger yang terus memainkan Coquelin (dan Cazorla). Coquelin dijadikan kambing hitam oleh Gooners karena sebagian besar Gooners merasa Xhaka jauh lebih baik dan cocok untuk memainkan peran DM sekaligus deep playmaker di skuad Arsenal musim ini. Ia punya tackle keras, long pass dan short pass yang lebih akurat, terakhir punya long shot yang berbuah gol indah, ditambah lebih ganteng dari Coquelin. Kurang apa lagi? Mengapa Wenger demikian keras kepala untuk tidak mengganti Coquelin dengan Xhaka? Apakah Wenger punya misi pribadi untuk tidak menggunakan pemain mahalnya? Apakah transfer Xhaka bukan keputusannya? Berbagai teori konspirasi pun beredar di kalangan fans Arsenal yang menolak untuk memahami peran Coquelin dan isi kepala Wenger.

Tidak heran segala teori konspirasi di atas bisa lahir. Dari sebagian fans Arsenal yang saya follow (di Twitter), kebanyakan yang punya pemikiran anti Coquelin ini juga adalah mereka yang konsisten mengkritik Wenger, terutama soal taktik dan transfer. Mereka yang menolak memahami cara berpikir Wenger tentunya tidak akan paham mengapa Wenger lebih memilih Coquelin daripada Xhaka, untuk saat ini. Buat mereka, Wenger sudah outdated soal taktik, Wenger tidak mengerti bagaimana memainkan Xhaka, Wenger lebih pro ke anak didiknya daripada pemain bintang baru yang mahal. Bias anti-Wenger mereka mempengaruhi pendapat mereka tentang semua hal yang berhubungan dengan Wenger, termasuk tentang peran Coquelin. Jika Anda termasuk yang punya pendapat serupa, saya mohon Anda dapat sabar dan membaca artikel ini sampai selesai dulu sebelum berkomentar. Kolom komentar tersedia di bawah dan saya akan dengan senang hati meladeni keluh kesah Anda tentang Coquelin atau opini yang berseberangan. Artikel ini bertujuan untuk memahami cara pikir Wenger yang saat ini lebih memilih Coquelin daripada Xhaka, terlepas dari itu keputusan yang salah atau benar (yang hanya bisa diketahui di kemudian hari).

Untuk membandingkan peran keduanya maka match melawan Watford (Xhaka main, Arsenal menang 3-1) dan lawan Hull City (Coquelin main, Arsenal menang 4-1) bisa menjadi referensi. Keduanya berpasangan dengan Santi Cazorla dalam dua match itu. Mari kita mulai dengan paparan statistik sebelum saya memasukkan opini pribadi saya. Saya akan menggunakan Stats Zone (FourFourTwo) dan Whoscored yang mudah diakses setiap orang.

Stats Zone Defensive Dashboard

coq-def

Coquelin vs Hull City

xha-def

Xhaka vs Watford

Coquelin membuat 4 tackle, 4 interception dan 1 clearance dalam laga vs Hull City. Xhaka membuat 5 tackle, 2 interception, 3 clearance dalam match vs Watford. Angka yang tidak berbeda banyak. Tapi coba perhatikan posisi di mana aksi defence keduanya terjadi. Coquelin melakukan tackle dan interception lebih banyak di setengah lapangan lawan sementara Xhaka lebih banyak di setengah lapangan sendiri. Coquelin bermain lebih depan daripada Xhaka. Mengapa Coquelin bermain lebih maju? Dalam tiga pertandingan terakhir lawan Soton, PSG dan Hull City, Coquelin beberapa kali bermain lebih maju daripada Cazorla. Apakah ini karena nafsunya menyerang? Ataukah ini karena seringnya ia mengabaikan instruksi pelatih untuk stay di posisi DM?

Satu kali mungkin kebetulan, dua kali artinya kebiasaan buruk, namun kalau sampai tiga kali mengulangi hal yang sama artinya itu sebuah instruksi pelatih. Coquelin awalnya terlihat tidak nyaman dengan instruksi ini. Melawan Soton babak pertama, ia terus maju ke area lawan saat Arsenal menguasai bola. Beberapa kali ia menerima bola di lapangan lawan, namun gagal mengoper ke pemain Arsenal lainnya. Di babak pertama ia bermain buruk. Babak kedua, posisinya tukar dengan Cazorla, dari kiri ke kanan. Ia bermain lebih baik dan Arsenal menguasai bola dengan baik di babak kedua. Saat melawan PSG, Coquelin bermain lebih baik namun penampilan terbaiknya ada pada match lawan Hull City. Ia memainkan peran barunya yang diinstruksikan oleh Wenger dengan amat baik sehingga Arsenal mendominasi total pertandingan tersebut.

False Six 

Anam Hassan (@arsenalcolumn) memiliki teori yang menarik mengenai “instruksi” ini. Dalam tulisannya di arseblog, ia mengupas bahwa Wenger menginstruksikan Coquelin bermain lebih maju dari biasanya dengan dua tujuan (ditambahkan sedikit analisa saya):

  1. Dengan majunya Coquelin ke lapangan lawan, membuat permainan Arsenal tetap di area lawan. Berlawanan dengan Positional Play (Salida Lavolpiana) ala Guardiola yang menggunakan DM sebagai deep playmaker untuk mendistribusi bola ke depan, Wenger memilih menggunakan CB sebagai distributor bola. Coquelin maju ke depan akan menarik marker-nya dan menarik mundur pressing lawan. Bila marker Coquelin ikut mundur, CB Arsenal akan bebas mengoper ke ruang yang terbuka (biasanya diterima Cazorla). Bila lawan memilih maju untuk pressing CB Arsenal yang membawa bola, ruang kosong yang ditinggalkan midfield lawan akan diisi oleh Ozil atau Cazorla untuk menerima bola. Dan karena ruang kosong ini sangat dekat dengan Zone 14 (yang diidentifikasi oleh analis sepakbola sebagai zone paling berbahaya), Arsenal tinggal melakukan satu operan lagi untuk menyerang dari zone yang diidentifikasi sebagai area di mana tingkat keberhasilan serangannya paling tinggi. zone 14 in 18 zones.png
  2.  Apabila Arsenal kehilangan bola di daerah lawan, maka lawan akan melakukan counter attack dengan cepat. Di sini kecepatan fisik Coquelin dan kemampuan hebatnya mengendus bahaya sangat berarti. Coquelin berkali-kali melakukan tackle dan interception di area lawan, saat lawan baru mau melakukan counter attack. Gegenpressing ala Klopp dilakukan oleh Coquelin, sendiri. Bila sukses, counter dari counter attack ini lebih efektif daripada DM yang baru mulai membaca serangan lawan di area sendiri, di Zone 5 dan 8. Dan karena notabene pemain Arsenal masih berada di lapangan lawan saat counter terjadi, probabilitas Arsenal kembali mendapatkan bola sangat tinggi. Permainan dilanjutkan di area lawan.

Sekali tepuk dua lalat. Dengan memainkan Coquelin lebih maju, Wenger membuka ruang untuk Arsenal menyerang dari tengah, dari Zone 14 sekaligus mengatasi masalah counter attack lawan yang menjadi momok Arsenal selama ini.

Hal ini merupakan evolusi taktik Wenger pasca Arteta. Guardiola menganalisa taktik Arsenal di tahun 2014 (saat kita masih menggunakan Arteta sebagai pivot):

Pep explains in detail how Mikel Arteta tries to draw in the opposing pivote in order to create a space in the middle of midfield into which Mesut Özil will try to appear. Pep walks through Arteta’s movements whilst emphasising to his players, who are spread out in front of him: “Özil is the dangerous one – he’s the one we really need to keep the closest eye on. Arteta draws you in, Özil pops up in that zone with Santi] Cazorla and Alex Oxlade-Chamberlain around him and that’s the way that they achieve superiority in a key area. We can’t afford that to happen.”

Saat itu Arteta bermain sebagai DM ala La Volpe. Positional Play yang diinspirasikan oleh Ricardo La Volpe (yang terkenal dengan sebutan Salida Lavolpiana, the way out of La Volpe) dan dikembangkan oleh Guardiola di Barca dan Bayern. Perannya sebagai pembawa bola adalah untuk menarik marker lawan agar tercipta ruang kosong di lapangan tengah untuk Ozil. Musim 2012/2013 setelah kepergian Song dan satu tahun setelah Arteta dibeli Arsenal, fans-fans Arsenal dan pundit bola bingung mengapa Arteta yang notabene pemain kreatif (AM Everton) ditaruh di posisi DM. Saat itu sepakbola Positional Play ala Guardiola belum populer diadopsi tim-tim Inggris. Banyak yang meragukan kemampuan Arteta sebagai DM dan menyayangkan kreativitasnya terbuang di posisi itu. Hasilnya Arteta menjelma menjadi DM tangguh, ahli tactical foul, passer bola terbanyak di tim Arsenal dan sesekali memberikan long ball akurat ke Giroud. Ia menjadi pemain terpenting di tim Arsenal sebelum Ozil bergabung. Masih ingat dulu fans Arsenal selalu khawatir setiap kali Arteta cedera? Bahkan kita punya statistik berapa % kemenangan Arsenal dengan Arteta vs tanpa Arteta. Good old days.

Cedera mengakhiri karir Arteta tapi dampak permainannya begitu membekas di hati Gooners yang berharap kita menemukan pengganti Arteta. Tidak heran kita begitu berharap banyak pada Xhaka. Pemain yang lebih mirip Arteta daripada semua pemain tengah yang kita miliki, termasuk Coquelin. Xhaka bisa mengoper bola dengan baik, long ball-nya akurat, dan rasanya interception serta tacklingnya lebih baik. Ia punya development ceiling yang lebih tinggi daripada Arteta. Kita melihat Xhaka sebagai Arteta Mk II.

Sayangnya fans Arsenal bak jalan di tempat (soal taktik) bila tetap berpikiran begitu. Bahkan Arteta di puncak permainannya sebagai DM tidak mampu membawa kita ke puncak. Wenger yang dikatakan outdated soal taktik sudah memilih untuk maju, evolusi taktik Arsenal untuk sekian kalinya. Memahami keterbatasan Positional Play Arsenal sebelumnya, terutama dengan berkembangnya adopsi transisi cepat di tim-tim lawan (paling jelas Leicester City), Wenger merespon dengan evolusi taktik terbarunya: False Six, atau bisa juga disebut Decoy DM. Istilah ini pertama kali ditulis di sini, jadi jangan lupa mengkreditkan blog ini bila istilah ini lalu populer.

Nomor enam adalah nomor sepakbola modern untuk DM. Coquelin menolak memberikan No 34 miliknya ke Xhaka mungkin karena No 6 ini masih dipakai Koscielny. False Six mengikuti trend False Nine adalah sebutan untuk DM palsu. Pemain yang memulai dengan posisi di DM, namun kemudian bergerak bukan di area operasi DM. Coquelin bermain sangat tinggi di 3 pertandingan terakhir, bahkan sering muncul di kotak penalti lawan. Ia semakin nyaman di posisi ini saat menyerang maupun bertahan. Operannya semakin bagus. Bahkan di pertandingan terakhir ia adalah pengoper ketiga terbanyak setelah Ozil dan Cazorla dengan tingkat kesuksesan tertinggi 98%. Dan operannya saat lawan Hull City kebanyakan terjadi di area lawan.

Coq Passes.png

Passing Coquelin vs Hull City

Namun walau asyik mengoper bola, Coquelin tidak melupakan perannya sebagai DM. Merebut bola secepat mungkin ketika bola berpindah pihak. Ia melakukannya dengan sangat efektif. Coquelin memimpin statistik defence Arsenal musim ini dengan 3.8 tackles dan 3.5 interception (per 90 mins, angka yang masuk 10 besar terbaik di EPL). Bila terjadi di lapangan lawan, statistik ini menjadi berkali lipat lebih berarti. Ia mematikan counter attack lawan sekaligus menjadi trigger serangan baru Arsenal di area berbahaya. Gol pertama Arsenal lawan Hull City terjadi akibat serangan yang dimulai oleh Coquelin (shoot jarak jauh, memantul dari lawan, rebut kembali bola hasil pantulan, oper ke Cazorla – Walcott shoot – Iwobi rebound shoot – Sanchez goal!). Penalti Arsenal juga diberikan karena tendangan keras Coquelin di dalam kotak penalti lawan. Kedua hal ini dimungkinkan karena posisi Coquelin yang demikian maju saat Arsenal menyerang. Dan hanya Coquelin yang bisa melakukan ini sekarang karena kualitasnya (fisik maupun insting) dalam mengendus dan menghentikan serangan lawan di area lawan belum bisa ditandingi CM Arsenal lainnya.

Mencari Duet Midfield Arsenal Terbaik

Mengetahui keras kepalanya Wenger, maka Coquelin dipastikan tidak akan diganti dalam beberapa pertandingan ke depan karena ia sedang mencoba taktik revolusioner False Six barunya ini. Lalu apakah ia akan tetap bertahan dengan duet Coquelin – Cazorla? Bagaimana nasib Xhaka? Kompleksitas ditambah dengan kembalinya Ramsey yang pasti akan menuntut bermain dan Elneny yang lama di bangku cadangan akan ikut panas. Musim ini adalah musim di mana kita memiliki depth terbaik di midfield. 5 pemain berkompetisi di 2 posisi. Hanya posisi Ozil yang tak tergantikan. Bila Coquelin juga tidak tergantikan maka 4 pemain lainnya akan berkompetisi untuk 1 posisi di midfield. Ini menjelaskan mengapa Jack Wilshere cabut duluan.

Menilik dari awal musim ini, Wenger sejauh ini sudah mencoba duet Coquelin-Cazorla (Liverpool, Soton, PSG, Hull), Coquelin-Xhaka (Leicester), dan Xhaka-Cazorla (Watford). Mana duet yang terbaik? Mari kita lihat heatmap dari Whoscored.

heatmap CoqXha LEI.png

Heatmap Xhaka & Coquelin vs Leicester City

Pertama kalinya Xhaka dan Coquelin bermain bersama karena Cazorla main sebagai AM. Xhaka start di DM dan Coquelin sebagai box to box. Heatmap yang biru itu adalah area jelajah Coquelin yang tersebar sedang Xhaka cenderung diam di Zone 7 dan 8. Coquelin mendapatkan MotM dari Whoscored di pertandingan (rating 8.4) ini karena statistik 5 tackle, 5 interceptionnya yang terbukti vital.

heatmap Xhazorla WAT.png

Heatmap Xhaka & Cazorla vs Watford

Di pertandingan ini, Coquelin cedera dan tidak bisa start. Xhaka diberikan kesempatan mendampingi Cazorla karena Ozil sudah kembali bermain. Terlihat heatmap tidak berbeda jauh dengan vs Leicester. Hanya saja kali ini Xhaka mengambil peranan lebih dalam bertahan dengan jumlah tackle dan interception yang lebih banyak (5, 2). Area jelajahnya masih di Zone 8 kiri sedangkan Cazorla beroperasi di kanan agak ke depan. Sekarang kita bandingkan dengan heatmap Coquelin & Cazorla di tiga pertandingan berikutnya (Soton, PSG, Hull):

heatmap Coqzorla SOT.png

heatmap Coqzorla PSG.png

Terlihat perbedaan jelas ketiga heatmap ini dengan dua heatmap sebelumnya: dua CM Arsenal bermain lebih maju. Bahkan saat melawan PSG sekalipun yang memainkan 4-3-3 dengan 3 CM berkualitas. Dalam pertandingan vs Soton dan Hull yang CM-nya tidak sebaik klub Eropa, dua CM Arsenal bermain mayoritas di lapangan lawan. Agenda Wenger untuk memaksakan permainan terjadi di lapangan lawan terwujud. Berkat taktik false six ini, berkat Coquelin. Heatmap lawan Hull City adalah ideal yang diinginkan Wenger. Dua CM-nya konsisten menjelajahi Zone 14, zone di mana serangan efektif dilancarkan.

Tidak hanya berpengaruh terhadap area jelajah CM. Taktik ini juga mengubah pola permainan Arsenal. Di mana CM Arsenal sebagai pemegang bola terbanyak bergerak, maka pemain-pemain yang lain akan mengikuti. Salah satu statistik model baru yang juga saya sukai adalah Positions & Passing Network milik @11tegen11. Saya akan sajikan 6 grafik @11tegen11 untuk Arsenal dan silakan simpulkan sendiri perubahannya.ARS v LIV.jpg

LEI v ARS.jpgWAT v ARS.jpgARS v SOT.jpgPSG v ARS.jpgHUL v ARS.jpg

Grafik di atas dari awal hingga terakhir menggambarkan evolusi taktik Wenger dan juga peran Coquelin. Match lawan Hull City memperlihatkan dominannya serangan Arsenal lewat tengah dan Zone 14. Arsenal menghasilkan goal attempt terbanyak dalam pertandingan tersebut. Arsenal yang biasa mengalirkan bola ke full back lalu cross ke Giroud mengubah gaya permainan dengan kombinasi pendek di tengah lapangan, lewat Zone 14. Sanchez, Ozil, Cazorla dan Coquelin menjadi tulang punggung taktik ini. Untuk melihat perbedaannya dengan Positional Play ala Guardiola, lihat grafik di bawah ini.Cskynq5WIAAUDkm.jpg

Untuk saat ini saya tidak melihat Wenger akan mengganti Coquelin dengan Xhaka. Xhaka tidak memiliki mobilitas ala Coquelin dan lebih condong bermain agak ke belakang. Dalam salah satu interviewnya Wenger mengatakan ia melihat Xhaka lebih cocok sebagai box to box midfielder daripada deep playmaker dan ia ditertawakan seantero jagat Twitter (fans Arsenal). Xhaka kan pengganti Arteta, kok malah mau disulap jadi Box to Box? Wenger buta ya? Sayangnya kebanyakan fans Arsenal merasa sudah paham taktik sepakbola hanya karena membaca artikel Positional Play ala Guardiola. Mereka lupa bahwa Wenger mengalahkan Barca dan Bayern-nya Guardiola, dengan tim yang jauh lebih murah meriah.

“He can of course [impose himself], he has the stature, the power, he has the strength. What we want is for him to use that in a very efficient way.

I personally prefer him as a box-to-box player,” added Wenger, “because he has the engine, the power and he has the long pass. He likes to come deep and distribute the game. I think as well he has the engine to have an impact with his runs.”

Wenger ingin Xhaka lebih banyak berlari seperti Coquelin. Hingga Xhaka siap berubah atau saat Wenger harus mengubah taktiknya untuk menghadapi tim tertentu yang tidak bisa dihadapi dengan False Six, Xhaka tampaknya masih harus duduk di bangku cadangan. Bagaimana dengan Ramsey dan Elneny?

Kelima pemain tengah Arsenal yang berkompetisi untuk 2 spot di CM ini memiliki kekuatan dan kelemahan yang berbeda:

  1. Coquelin: sudah dibahas kekuatannya, kelemahannya ada pada akurasi passingnya yang sekarang sedang diasah.
  2. Cazorla: +dribbling, passing, retensi bola dan mobilitas; -fisik, tackling, pertahanan
  3. Elneny: +pass and move, interception, shooting; -sering kurang fokus saat bertahan (vs LIV), tracking back
  4. Xhaka: +long pass, tackling; -mobilitas, interception, off the ball run
  5. Ramsey: +penetrasi ke box, shooting, passing; -defense, slow

Tidak ada midfielder yang sempurna namun pasangan yang balanced bisa saling menguatkan dan kombinasi yang tepat akan menjadi lebih kuat daripada jumlah kekuatan+kelemahan keduanya. Dengan mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan para pemain tengah Arsenal di atas dan taktik yang sedang menjadi fokus Wenger, duet pemain tengah terbaik Arsenal saat ini adalah Coquelin & Cazorla, COQZORLA.

Saya melihat lebih besar kemungkinan Xhaka dipasang dengan Elneny atau Ramsey daripada dengan Cazorla ataupun Coquelin. Maka Wenger bisa punya 2 pasang CM yang bisa ia gonta-ganti tergantung dengan lawan yang dihadapinya. Kalau ia ingin bermain agresif di lapangan lawan maka Coqzorla-lah yang dipasang. Kalau lebih ingin bermain counter attack maka Xhaka-Ramsey/Elneny bisa dipasang. Kita tidak perlu lagi was-was seperti jaman Arteta dulu, di mana tidak ada pengganti yang sepadan.

Menerima Coquelin Apa Adanya

Jadi setelah penjelasan panjang lebar di atas ditambah dengan paparan statistik yang komplet, masihkah Anda berpikir Coquelin adalah pemain yang jelek? Masihkah Anda berpikir Wenger kuno soal taktik? Masihkah Anda sibuk kampanye Xhaka vs Coquelin?

Semua data statistik di atas bisa didapat dengan gratis di internet. Jangan lupa Arsenal punya StatDNA, the world’s most advanced soccer data and analytics (klaim di akun Twitter-nya sebelum dibeli Arsenal). Perusahaan yang diakuisisi oleh Kroenke ini memberikan data statistik per hari ke Wenger. Apabila hanya dengan bekal statistik dari Stats Zone dan Whoscored saya bisa mengambil demikian banyak materi untuk tulisan ini, untuk menjustifikasi pandangan saya, bayangkan banyaknya informasi yang dimiliki Wenger soal pemainnya, soal perkembangan taktik sepakbola untuk kemudian menentukan permainan yang terbaik untuk timnya saat ini.

Bila belum percaya dengan ulasan artikel ini, silakan tonton ulang penampilan Coquelin di tiga pertandingan terakhir Arsenal. Tontonlah tanpa bias anti Coquelin di kepala. Anda akan melihat betapa efektinya peran Coquelin sebagai False Six, sebagai new Decoy DM Arsenal. Saatnya Anda menerima Coquelin apa adanya dan mendukungnya. Ia bisa jadi kunci sukses Arsenal musim ini.

 

Advertisements

Specialist in Failure and The Great Arsene Wenger

Menulis tentang Arsenal, sesuatu yang menjadi passion saya, bukanlah hal yang sulit. Menemukan waktu untuk menulis di kala kesibukan untuk mencari sesuap nasi ini yang sulit. Disibukkan oleh kegiatan rutin di proyek, saya coba manfaatkan sedikit waktu dari libur panjang 4 hari ini untuk menuliskan pandangan saya mengenai perkembangan terbaru di Premier League, khususnya tentang Arsenal.

Kejadian spesial di Premier League musim ini yang mendorong saya untuk menulis sebuah artikel adalah ketika si sombong terkena batunya. Jose Mourinho dipecat Chelsea untuk kedua kalinya. Dua kali. Belum pernah seumur hidup saya bertemu dengan orang yang dipecat perusahaan yang sama dua kali. Anda perlu menjadi orang yang sangat-sangat spesial untuk dipecat dua kali oleh employer yang sama. Special One menjadi Specialist in Failure.

thenew specialist in failure

Headline media Inggris di awal Oktober akhirnya menjadi kenyataan

Mourinho dan Chelsea pasti tidak menduga kejadian di tahun 2007 akan terulang sekarang. Saat Mourinho kembali menukangi Chelsea untuk kedua kalinya, ia menyebut dirinya sebagai The Happy One dan ingin membangun dinasti yang berlangsung lama di Chelsea ala Ferguson di MU dan Wenger di Arsenal. Namun apa boleh buat, 2 tahun lebih kemudian, Chelsea menemukan bahwa Mourinho tidak punya daya tahan dan kemampuan manajerial setara Ferguson dan Wenger. Ia tidak mampu mengendalikan pemainnya setelah 2 musim bersama, kehilangan respek para pemainnya dan akhirnya gagal di awal musim ketiganya. Sama dengan kejadian 8 tahun lalu, sama dengan apa yang terjadi di Real Madrid. Mimpi dinasti Mourinho akhirnya buyar.

downrightsizzlingantelope

Gif di atas terjadi tahun lalu, ketika Wenger mendorong Mourinho saat ingin mendatangi Sanchez di pinggir lapangan setelah ditekel keras oleh Gary Cahill. Dari rekaman tersebut, terlihat jelas siapa yang lebih gagah (umur tidak menjadi patokan). Wenger dan Mourinho jelas bukan teman akrab. Mourinho sering memancing Wenger dengan berbagai ejekan: voyeur, specialist in failure, dan berbagai sindiran lain di press conference yang kadang tidak ada hubungannya dengan Arsenal. Dari segala ucapannya untuk Wenger, walaupun Mourinho “sukses” di berbagai liga, tampaknya ia masih menyimpan rasa iri terhadap reputasi dan popularitas Wenger di antara fans Arsenal, mantan pemain Arsenal, para manager sepakbola dan media.

Chelsea memenangkan pertandingan tersebut 2-0. Mourinho won the battle but lost the war. Hanya setahun lebih sejak kejadian tersebut, Mourinho dengan pengecutnya “minta” dipecat oleh Chelsea karena ia tak dapat mengembalikan form Chelsea yang terpuruk di zona relegasi. Ia tak berani menghadapi sisa musim ini, harus berjuang untuk survive di Premier League tanpa kemungkinan berakhir di top four (trofi keempat buat klub Inggris). Sementara itu Arsenal bertengger di dekat puncak klasemen, hanya berjarak 2 poin dari Leicester City, setelah menang dari rival utama, Manchester City. Wawancara-wawancara Mourinho dalam preskon Chelsea satu bulan belakangan ini jelas berupaya mem-provokasi Roman Abramovich untuk memecatnya. Mengatakan pemainnya sebagai pengkhianat, menuduh ada yang membocorkan strateginya, dll, di depan media adalah trik Mourinho untuk “kabur” dari tanggung jawabnya sebagai manager klub. Segala kejelekan Mourinho muncul di musim ketiganya di klub yang sama. Ia membuktikan pendapat umum bahwa ia adalah manager short term, manager yang hanya dapat bertahan 2 musim di satu klub. Alih-alih ingin membangun dinasti, karir Mourinho di satu klub seperti jejak di pasir pantai yang segera hilang disapu ombak. Akhirnya ia dipecat Chelsea, untuk kedua kalinya. Specialist in failure.

Tulisan Jonathan Wilson di Guardian, The devil and José Mourinho, mengulas sosok Mourinho dengan detail. Artikel tersebut menyimpulkan Mourinho membangun karirnya dengan semangat balas dendam (terhadap Barcelona). Ia melatih sepakbola anti-Barcajax (Barcelona-Ajax). Antitesis sepakbola possession ala Total Football, Mourinho menitikberatkan pada sepakbola bertahan yang menitikberatkan pada counter attack. Mourinho punya prinsip: “Whoever has the ball is more likely to make a mistake”. Semakin sering sebuah tim membawa bola, semakin besar kemungkinan ia kehilangan bola. Dan kehilangan bola saat menyerang adalah momen yang paling berbahaya. Counterattack adalah serangan terbaik, dalam waktu cepat menghasilkan peluang yang amat berbahaya (karena bentuk formasi lawan yang terbuka). Artikel itu mengulas dengan sangat baik mengapa hal itu menjadi kesuksesan Mourinho di awal karirnya di Chelsea dan Real Madrid namun juga menjadi sumber kegagalannya di musim ketiga di kedua klub tersebut. Wajib dibaca untuk mengenal lebih jauh sosok manager kontroversial tersebut.

Satu hal lain yang menarik dari artikel tersebut, yang juga membuktikan pandangan saya sebelumnya terhadap Mourinho adalah bahwa pendekatannya dalam me-manage klub adalah menggunakan krisis, menciptakan musuh bersama, selaras dengan taktik sepakbolanya yang reaksioner (counterattack, bertahan). Mourinho adalah ahlinya counter, menerapkan taktik reaksi atas taktik lawan. Untuk sukses, ia menciptakan musuh bersama: Arsenal, Wenger, media, wasit, sepakbola menyerang, dll, dan menggunakannya untuk membangun semangat dan kebersamaan tim. Mourinho kewalahan saat slogan musuh bersama itu menjadi usang, ia tidak mampu memotivasi dengan cara yang lebih positif, menciptakan tujuan bersama. Ia tak dapat memotivasi pemainnya secara positif, tanpa menemukan bahan untuk provokasi dan reaksi.

Ketika pemainnya tidak termotivasi lagi di musim ini, bosan dengan sepakbola bertahannya, ia gagal memutarbalikkan keadaan. Ia mencoba menciptakan musuh baru: wasit. Lalu ia melakukan blunder fatal, musuh baru ciptaannya: Eva Carneiro adalah dokter favoritnya para pemain Chelsea. Sejak kejadian dengan Eva tersebut, Chelsea terus terpuruk dan Mourinho mencari cara untuk kabur, mendesak klub untuk memecatnya, dengan provokasi. Mourinho tidak pernah introspeksi dan menyalahkan dirinya sendiri. Ia selalu mencari kambing hitam atas kegagalannya: entah itu wasit, media, dokter klub, pemainnya, atau bahkan pemiliknya.

The Great Arsene Wenger

Kegagalan Mourinho semakin membuat saya semakin mengagumi Arsene Wenger. Di musim 2011/2012 Arsenal mengalami krisis yang mirip dengan Chelsea musim ini. Masih ingat kekalahan 8-2 dari MU di pertandingan ketiga awal musim tersebut? Sebelumnya di pertandingan pertama Arsenal seri 0-0 dari Newcastle kemudian di pertandingan kedua kalah 0-2 dari Liverpool. Awal musim yang buruk itu juga dipengaruhi oleh hengkangnya Fabregas dan Nasri, dua pemain tengah inti Arsenal, di bulan Agustus. Sebulan sebelumnya, Clichy juga “terpaksa” dijual ke City. Di last minute transfer window, Arsenal kalap belanja untuk menutupi lubang yang ditinggal 3 pemain intinya. Masuklah Mertesacker, Arteta, Andres Santos, Yossi Benayoun (loan) dan Park Chu-Young (yang sama sekali tidak digunakan) melengkapi Gervinho dan Chamberlain yang dibeli lebih awal.

Badai hilangnya pemain lama dan masa adaptasinya pemain baru membuat Arsenal terpuruk di awal musim. Dalam 6 pertandingan pertama musim itu, Arsenal hanya bisa mendapatkan 7 poin, persis dengan hasil yang didapatkan Chelsea di 6 pertandingan awal musim ini. Grafik di bawah ini menunjukkan kemiripan start buruk Chelsea musim ini dan Arsenal 2011/2012.

Arsenal vs Chelsea

Worst Start of The Season

Dari grafik di atas, bisa dilihat bahwa Arsenal melejit setelah pertandingan ke-7. Arsenal mencetak 5 kemenangan berturut-turut setelahnya dan tidak kalah lagi hingga ke pertandingan ke-16. Sementara itu dalam jangka waktu yang sama, Chelseanya Mourinho kalah sebanyak 6 kali yang diselingi 2 kemenangan dan 1 seri. Berangkat dengan nilai yang sama di pertandingan ke-6, Arsenal musim itu mendapatkan 29 poin dalam 16 pertandingan sementara Chelsea hanya mendapatkan 15 poin sebelum Mourinho dipecat. Dengan rata-rata kurang dari 1 poin per game menjelang paruh musim (untuk menjadi juara liga diperlukan 2,2 – 2,3 poin per game) dan tidak adanya indikasi akan terjadi perubahan radikal, Mourinho memang harus dipecat.

Padahal Mourinho memiliki semua pemain terbaiknya dari musim lalu. Ia tak perlu menjual pemain untuk membiayai keuangan klub. Ia masih punya Hazard, Fabregas, Costa dan Thibaut Courtois (walau sempat cedera). Satu-satunya pemain terbaiknya yang terpaksa ia lepas adalah Petr Cech, kiper kedua, itupun berkat kemurahan hati Roman Abramovich. Ia juga mendapatkan pemain baru tambahan seperti Falcao, Pedro, Begovic dan Baba Rahman. Mourinho tidak merasakan 10% pun dari krisis yang dirasakan Wenger di awal musim 2011/2012. Namun Wenger berhasil membalikkan krisis tersebut menjadi kekuatan. Arsenal berhasil duduk di peringkat ke-3 di musim tersebut. Dengan start awal yang sama buruknya dalam 7 pertandingan pertama, kualitas managerlah yang berbicara. Tidak ada yang menyangka dengan start seburuk itu Arsenal masih bisa finish di peringkat 3 dan lolos ke Liga Champions musim itu. Contoh terbaru dari Chelsea dan Mourinho ini secara tidak langsung menegaskan supremasi daya tahan dan kekuatan magis Arsene Wenger. Inilah salah satu alasan mengapa Wenger mampu bertahan hampir 20 tahun di Arsenal sedangkan Mourinho sulit bertahan lebih dari 3 musim setiap kali ia mencoba.

Keberhasilan itu relatif. Bila Anda sedang bekerja di perusahaan yang menerapkan KPI (key performance indicators), tentunya Anda mengerti kalau di setiap awal tahun antara employee dan employer (atau superior/boss) akan terjadi kesepakatan Sasaran apa yang ingin dicapai tahun ini. Perusahaan ingin menetapkan hasil sebaik mungkin, tapi harus melihat resource, sumber daya perusahaan saat itu. Tidak mungkin semua perusahaan ingin menjadi nomor satu di bidangnya, tanpa sumber daya nomor satu juga. Kita perlu melihat keluar: peluang di market, kompetisi di market itu sendiri, lalu melihat ke dalam: asset, kemampuan manajemen, dan kekuatan organisasi. Dari situ kita menerapkan sasaran yang optimistis namun juga realistis. Selama sasaran yang disepakati bersama itu dapat dicapai di akhir tahun, kedua belah pihak akan puas. Hal yang sama terjadi di semua klub sepakbola. Semua fans inginnya trofi sebagai ukuran kesuksesan, namun manager dan pemilik klub memiliki tolak ukur kesuksesan yang sedikit berbeda. Saya yakin Abramovich tidak menuntut Chelsea untuk selalu juara liga di setiap musim. Namun ia tentunya ingin konsistensi di setiap musimnya. Nah mengukur konsistensi untuk tim elit itu mudah, yaitu selalu lolos ke Liga Champions, artinya selalu minimum di peringkat ketiga atau keempat.

Wenger pernah diledek oleh media dan fans bola karena menyebutkan peringkat keempat sebagai trofi. Itu karena Arsenal sudah lama tidak mendapatkan trofi hingga 2 musim lalu. Wenger dianggap demikian “desperate” hingga delusional menganggap peringkat keempat sebagai trofi.

Wenger akhirnya membocorkan bahwa “KPI” yang disepakatinya bersama board Arsenal selama musim puasa (2005-2014) adalah minimal peringkat keempat setiap musimnya, karena kesulitan keuangan Arsenal sebelum 2014 (baca Model Finansial Arsenal) dan invasi sugar daddy clubs. Saat ini “trofi” peringkat keempat tersebut menjadi tuntutan fans Liverpool, Chelsea dan MU terhadap managernya. Kita masih ingat betapa gembiranya fans United berhasil mendapatkan “trofi” tersebut musim lalu setelah dipimpin oleh Van Gaal. Dan saya juga yakin fans Liverpool tidak akan menolak diberikan “trofi” peringkat keempat di akhir musim. Bahkan mungkin mereka rela untuk ditukar dengan trofi FA Cup ataupun League Cup. Sayangnya fans Chelsea tidak akan mendapatkan “trofi” peringkat keempat tersebut musim ini. Untuk bisa lolos ke peringkat keempat, Chelsea mesti meraih 2,4 hingga 2,5 poin/game, yang amat sangat sulit.

Peringkat keempat, lolos ke Liga Champions adalah bukti konsistensi sebuah klub. Ia menjadi sasaran dalam KPI yang disepakati oleh pemilik klub elit dan managernya. Ia menjadi indikasi supremasi klub elit. Arsene Wenger, dengan budget yang terbatas untuk membeli pemain terbaik, dengan badai krisis yang diciptakan dari hengkangnya pemain-pemain terbaiknya ke klub rivalnya, selama ia memimpin Arsenal, tidak pernah keluar dari peringkat keempat. Tidak ada satupun klub di Eropa selain Real Madrid yang sanggup menyamai konsistensinya. Dalam 5 musim terakhir ini, hanya Manchester City dan Arsenal yang tidak pernah keluar dari top four. Dan dilihat dari klasemen terbaru, hanya Manchester City dan Arsenal yang bisa yakin tetap di top four di akhir musim. Sisa dua tempat akan diperebutkan Leicester City, MU, Liverpool, dan Tottenham.

Karena keberhasilan manager yang ditopang budget tak terbatas, kita sering lupa kehebatan dan konsistensi manager kita sendiri, Arsene Wenger. Mourinho tidak akan bisa sukses bila ia berada dalam situasi yang dihadapi Wenger selama ini. Sekarang terbukti dalam situasi yang relatif lebih mudah, ia gagal. Wenger baru bisa membeli pemain idamannya (Ozil, Sanchez) dan tidak menjual pemain terbaiknya setiap musim (Ramsey, Koscielny) sejak 2 musim lalu. Dua trofi FA Cup hasilnya. Musim ini dia tidak berhasil menggaet Lewandowski maupun Benzema, tapi ia mendapatkan Petr Cech, kiper idamannya sejak 11 tahun silam dan sejauh ini Arsenal memulai musim dengan cukup baik, mengingat kejatuhan rival-rivalnya dan kejutan dari tim seperti Leicester City, Crystal Palace. Arsenal masih menjadi satu-satunya tim yang mengalahkan Leicester City, 5-2, di kandang mereka pula.

Apa bedanya Mourinho dan Wenger?

Mourinho menggunakan motivasi musuh bersama, sedangkan Wenger menggunakan motivasi tujuan bersama.

Mourinho menggunakan setiap kesempatan untuk mengejek rivalnya, sedangkan Wenger melewatkan kesempatan untuk menggarami luka Mourinho (soal etika).

Mourinho meminta pemain Chelsea menang untuk dirinya, sedangkan pemain Arsenal ingin menang untuk Wenger tanpa harus diminta (interview Arteta, Walcott, Ramsey).

Mourinho merengek saat klub tak membelikan pemain idamannya, Wenger menerima keterbatasan budgetnya dan bekerja dengan segala keterbatasannya (selama bertahun-tahun).

Mourinho menerapkan sepakbola reaktif (bertahan, menyesuaikan dengan taktik lawan), Wenger menerapkan sepakbola pro-aktif (menyerang, mendominasi lawan dengan gaya sepakbola sendiri).

Mourinho menginstruksikan secara detail taktik kepada pemainnya (penekanan intelligence pelatih di atas segalanya), Wenger memberikan balance dan shape dan membiarkan pemainnya berkreasi sendiri di lapangan (intelligence pemain lebih penting).

Mourinho mengabdi kepada dirinya (devil di dalam diri), Wenger mengabdi kepada klubnya.

Kesempatan Emas Arsenal

Bila kita melihat start 5 musim terakhir Arsenal, maka musim ini memiliki kemiripan yang sama dengan musim 2013/2014 di mana Arsenal memimpin klasemen terlama di musim itu (dari September hingga Februari) namun gagal di paruh ketiga musim. Kekalahan 1-5 dari Liverpool menjadi awal kejatuhan Arsenal dari puncak klasemen musim itu.

Arsenal 5 seasons.png

Grafik di atas menunjukkan nilai yang sama yang didapatkan Arsenal musim ini dan musim 2013/2014, 36 poin dari 17 pertandingan (2,12 ppg). Ini merupakan hasil terbaik dalam 5 musim terakhir. Bila Arsenal bisa menghindari hasil buruk di Februari sebagaimana 2 tahun lalu, maka musim ini adalah peluang terbesar Arsenal untuk menjadi juara liga.

Ada beberapa perbedaan Arsenal 2 tahun lalu dan Arsenal sekarang:

  1. Arsenal bisa menang melawan tim besar (United, Chelsea, City, Liverpool semua pernah dikalahkan).
  2. Mental juara, Arsenal sudah memenangkan 2 kali FA Cup berturut-turut.
  3. Mesut Ozil dalam kondisi terbaiknya.
  4. Back four yang solid dan dalam performa terbaiknya: Bellerin, Per, Koscielny, Monreal.
  5. Petr Cech.

Bila kelima faktor tersebut belum cukup, Wenger perlu melakukan satu hal lagi untuk menjamin adanya solusi ketika terjadi krisis: membeli pemain di transfer window Januari.

Di musim 2013/2014 Wenger melakukan kesalahan fatal dengan hanya membeli Kim Kallstrom yang kemudian cedera sebelum dimainkan. Walcott juga cedera panjang di paruh musim dan Arsenal praktis hanya mengandalkan Giroud dan Ramsey untuk mencetak gol. Musim ini untuk mengantisipasi cedera Coquelin, posisi DM menjadi sasaran pembelian utama.

Ada satu pemain di posisi tersebut (tidak tepat DM, tapi box to box) yang sangat dikagumi Wenger. Tahun lalu saat diwawancara sebuah stasiun televisi, ini kata Wenger:

‘As a footballer, he has everything. It is difficult to figure out what he doesn’t have.

‘Things happened very quickly. We were interested in him. We tried to get him to come here. But he very quickly signed for Juventus.

‘He has the potential to win the Ballon d’Or.’ 

Nama pemain itu adalah Paul Pogba.

Di masa ketika Wenger mulai punya budget untuk mendapatkan pemain-pemain idamannya yang sempat berlabuh dahulu di klub lain (Ozil, Sanchez, Cech), apakah ia akan mencoba untuk menarik Paul Pogba dari Juventus Januari nanti? Kita boleh mulai bermimpi.