You Can’t Undo The Past

“You can’t undo the past but you can certainly not repeat it.”

– Bruce Willis

Terkadang, apa yang terjadi di masa lalu tak dapat dihapus begitu saja. Arsenal memang menciptakan “new beginning” dengan kemenangan 2-0 atas Monaco di kandang mereka semalam tapi hasil agregat 3-3 tidak dapat meloloskan Arsenal ke babak berikutnya karena aturan away goals UEFA. Lagi-lagi Arsenal gagal lolos walaupun menang di leg kedua dan seri dalam agregat. Ini kedua kalinya kita mendapatkan hasil yang persis sama, seakan mengulang hasil di babak 16 besar UCL melawan Bayern Muenchen 2 tahun lalu.

Kita tidak dapat menghapus masa lalu begitu saja. Sebagian dari masa lalu akan selalu menghantui kita, membayangi kita, dan mempengaruhi kehidupan kita di masa kini. Tapi kita tentu bisa untuk tidak mengulanginya. Pelajaran dari masa lampau digunakan untuk tidak mengulangi lagi kesalahan di masa kini dan masa depan. Mereka yang belajar dari pengalaman sendiri mestinya akan lebih berhasil daripada mereka yang belajar dari pengalaman orang lain, apalagi dari mereka yang menolak untuk belajar. Arsenal mengulang kembali kesalahan dua tahun lalu dengan tidak menutup pertandingan saat skor 1-2. Satu gol lawan di menit-menit terakhir pertandingan terbukti demikian mahal harganya. Semestinya tahun depan kesalahan yang sama tidak akan terulang lagi, kalau para pemain dan Wenger mau belajar dari dua pertandingan UCL ini.

Hal positifnya adalah Arsenal kembali menang dan menjaga momentum bagus untuk kembali bertarung di liga dan FA Cup. Semenjak tahun 2015 dimulai, Arsenal memiliki hasil yang sangat bagus. Dari 16 pertandingan, 13 kali menang dan 3 kali kalah (lawan Southampton, Sp*rs dan Monaco). Untuk pertandingan EPL saja, Arsenal mencetak 8 kemenangan dari 10 pertandingan, 24 poin dari 30 poin maksimal. Hanya Liverpool yang tampil lebih baik di tahun 2015 ini dengan 8 kemenangan dan 2 seri, 26 poin dari 30 poin maksimal. Tabel di bawah ini menunjukkan hasil pertandingan Arsenal di tahun 2015.

Hasil Pertandingan Arsenal di Tahun 2015

                                            Hasil Pertandingan Arsenal di Tahun 2015

Yang menarik adalah tidak adanya hasil seri sepanjang 2015. Sepuluh pertandingan (sebelas bila menang di semifinal FA Cup) menunggu Arsenal untuk sisa musim ini. Bila kita bisa memenangkan semua 11 pertandingan tersebut maka gelar juara FA Cup dan peringkat kedua sudah pasti di tangan. Peringkat satu bisa saja diraih jika Chelsea melakukan bunuh diri di 10 pertandingan terakhir mereka. Selisih 7 poin cukup jauh, namun bila kita mengalahkan mereka 26 April nanti, selisih tinggal 4 poin. Satu kali draw dan dua kali kekalahan akan membawa mereka sama poinnya dengan Arsenal yang menang beruntun. Kemungkinannya kecil namun selama kita terus meraih kemenangan, Chelsea jelas akan tertekan sebagaimana apa yang sekarang sedang terjadi pada Manchester City.

Dari 9 pertandingan liga yang tersisa, 5 adalah pertandingan kandang dan 4 pertandingan tandang. Penghambat terbesar adalah Chelsea dan Liverpool di kandang serta Manchester United di tandang. Bila Arsenal bisa mengulangi performa mereka saat dua pertandingan tandang di Manchester, sangat mungkin nilai sempurna bisa diraih dari ketiga pertandingan tersebut. Kekecewaan di Liga Champions ini mestinya bisa diarahkan ke Premier League dan FA Cup. Fokus para pemain mesti diarahkan oleh Wenger ke 11 pertandingan tersisa. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, namun kita bisa tidak mengulanginya. Kesalahan elementer saat melawan Monaco di leg pertama bisa kita hindari. Kesombongan, menganggap remeh lawan, gung-ho dalam menyerang, lupa bertahan, lengah semenit dalam 90 menit, tak boleh dilakukan lagi. Penampilan profesional dalam 5 pertandingan semenjak kekalahan atas Monaco tersebut mesti diduplikasi untuk 11 pertandingan berikutnya. Musim ini belum selesai. Kita masih bisa menciptakan happy ending.

Olivier Giroud dan Aaron Ramsey

Bila awal musim adalah kisah soal Alexis, maka akhir musim tampaknya yang menjadi pemeran utama adalah duo Giroud dan Ramsey. Lagi-lagi mereka mencetak gol dan mencatatkan penampilan tim yang cemerlang. Keduanya mengulang kisah sukses musim lalu sebelum dilanda cedera. Alexis terlihat lelah belakangan ini dan perlu diistirahatkan. Walcott perlu mendapatkan kesempatan lebih untuk mengasah ketajamannya di depan gawang. Ramsey perlu diberikan tempat, walaupun mesti menggeser Cazorla. Mungkin Cazorla bisa bergantian dengan Ozil dalam memerankan playmaker.

Pilihan cukup banyak di lini depan dan tengah. Wenger harus pintar memainkan rotasi untuk menjaga kesegaran pemainnya. Welbeck, Walcott dan Ramsey sangat segar karena baru pulih dari cedera dan perlu mendapatkan kepercayaan pelatih. Mengistirahatkan pemain bintang seperti Alexis dan Ozil mestinya tidak menjadi hal tabu daripada memforsir mereka dan hasilnya tidak optimal. Dengan istirahat yang cukup, Alexis mestinya punya sedikit waktu untuk merenung dan berpikir bahwa sepakbola bukanlah beban individual semata. Kerjasama apik yang diperlihatkan Giroud dan Ramsey mestinya bisa mengingatkannya bahwa kemenangan itu hasil kerjasama tim yang baik. Ia terkadang terlihat begitu ngotot untuk memasukkan gol sendiri tanpa melihat posisi temannya.

Alexis mungkin masih berjuang dengan pelajaran bahasa Inggrisnya namun ia perlu mempelajari kalimat ini: “Victoria Concordia Crescit”. Bukan kalimat dalam bahasa Inggris, tetapi Alexis mungkin perlu memahami dan meresapinya.

Advertisements

An Everlasting New Beginning

“Football, if I can say, is an everlasting new beginning.”

– Oliver Giroud

Ungkapan di atas sering terbaca di berbagai artikel media Inggris pasca kemenangan 3-0 Arsenal atas West Ham. Penampilan sempurna Giroud yang menyumbangkan 1 gol, 1 assist dan 1 pre-assist, semacam menjadi aksi “redemption”-nya setelah kegagalan mencetak gol saat melawan Monaco di Champions League. Namun, sebenarnya kalimat di atas sudah pernah diucapkan Giroud di bulan Januari 2015 saat ia diwawancarai oleh Sports Illustrated.

Mungkin Giroud menjadi sedikit filosofis karena punya waktu lama untuk merenung selama proses rehabilitasi dari cederanya yang cukup panjang. Pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir dalam kariernya ia mengalami cedera serius. Ia harus mengulang segalanya dari nol kembali setelah pulih dari cedera panjang. Ia mesti bersaing dengan Welbeck dan Sanchez untuk posisi striker utama Arsenal. Filosofinya bahwa sepakbola selamanya adalah permulaan yang baru itu ada benarnya. Dalam kompetisi liga, pertandingan selalu di-reset setelah 90 menit. Walaupun hasil kumulatif dari poin setiap pertandingan dijumlahkan untuk menentukan juara kompetisi, hasil pertandingan yang satu tidaklah secara langsung mempengaruhi hasil pertandingan berikutnya. Sepakbola selalu memberikan peluang untuk lahir baru, untuk memperbaiki yang salah, untuk bertobat. Ungkapan “everlasting new beginning” juga bisa ditemukan dalam kitab suci, tentang kesempatan yang diberikan untuk memulai hidup baru, terlepas dari apa yang telah dilakukan di masa lampau.

Blog ini juga semacam mengalami sebuah “new beginning” dengan tulisan ini. Saya terakhir menulis tentang Arsenal di blog ini kurang lebih enam bulan lalu, September 2014, ketika musim kompetisi baru bergulir. Sekarang kita memasuki 9 pertandingan terakhir Premier League, babak semifinal FA Cup, dan bila mukjizat terjadi, babak perdelapan final Champions League (untuk Arsenal). Saya bukannya sengaja menghilang karena hasil-hasil buruk Arsenal di periode tersebut (walaupun malas juga kalau mesti menulis tentang kekalahan demi kekalahan, hehe), namun kesibukan di pekerjaan demi sesuap nasi dan seonggok berlian akhirnya menghambat isi otak tentang Arsenal untuk disebarkan lewat blog ini. Saya tetap mengikuti berita tentang Arsenal dan menonton pertandingannya (di layar kaca tentunya). Saya tetap mengumpat-umpat ke TV ketika Arsenal kalah dan tersenyum sendiri setiap pagi setelah Arsenal menang. Hanya saja untuk menulisnya, butuh waktu luang selama 1-2 jam tidak terganggu, hal yang sulit terjadi di tengah kesibukan saya tahun lalu dan awal tahun ini. Saya berharap tulisan ini bisa menjadi awal baru dari konsistensi saya dalam menulis tentang Arsenal. Tidak janji, namun akan diupayakan.

A New Beginning

Beberapa pemain Arsenal mengalami a new beginning seperti Giroud. Francis Coquelin adalah pemain yang paling menonjol. Ia hampir hilang dari radar fans pemain Arsenal kalau saja Wenger tidak memanggilnya kembali di paruh musim karena cedera panjang Arteta. Coquelin seakan lahir baru, memainkan peran sempurna di posisi DM, melengkapi puzzle Arsenal yang selama ini tidak pernah komplet. Ia menjadi tak tergantikan di posisi tersebut, bahkan tidak oleh Arteta yang fit sekalipun. Penampilannya sejak melawan Manchester City dan kemudian diulang di setiap pertandingan baik melawan tim kecil maupun besar, membuka mata fans Arsenal tentang pentingnya DM yang intelijen secara taktik, mampu membaca pertandingan dengan baik, dan mampu merebut bola dengan tackle ataupun interception. Coquelin tidak bertubuh tinggi besar, namun ia memiliki otak yang cepat berpikir dan tubuh yang cepat bereaksi, memotong bola lawan dan melakukan tackle dengan timing yang sempurna. Ia bahkan masih dapat berkontribusi dalam penyerangan bila melihat beberapa umpan panjangnya yang akurat. Saya tidak ragu lagi kalau Coquelin akan menjadi DM utama Arsenal hingga awal musim depan.

Hector Bellerin adalah pemain lainnya. Diberkati dengan timing yang pas dengan cedera Debuchy dan Koscielny sehingga Chambers beberapa kali harus bermain sebagai CB, Bellerin memulai karirnya sebagai pemain starter. Ia mampu bertahan dengan baik dan sangat cepat dalam counter attacking. Ia juga bagus dalam interception. Chambers tergeser posisinya sebagai back up CB. Musim depan akan menarik untuk melihat kompetisi antara Bellerin dengan Debuchy di RB namun musim ini Wenger tampaknya akan percaya pada Bellerin untuk menghantarkan Arsenal ke garis finish.

Santi Cazorla, Aaron Ramsey, Theo Walcott bisa juga masuk dalam kategori pemain lama namun memulai awal baru di musim ini. Pemain yang benar-benar baru seperti Alexis, Chambers, Gabriel, Ospina, Debuchy dan Welbeck sudah pasti sedang memulai babak baru dalam karir sepakbola mereka. Namun dalam durasi yang lebih pendek, setiap pemain berkesempatan untuk memperbarui penampilan mereka dalam setiap pertandingan. Dalam sepakbola setiap kali peluit berbunyi, semua pemain selalu memulai dari nol. Berapapun gol yang ia cetak di pertandingan sebelumnya, tidak menjadi jaminan ia akan mencetak gol lagi di pertandingan ini. Sebaliknya, berapapun kesempatan yang gagal berbuah menjadi gol di pertandingan sebelumnya, tidak menjadi jaminan kegagalan mencetak gol di pertandingan ini. Football indeed is an everlasting new beginning.

The Chance to Put It Right

“We got it wrong in the first game. What you want in life is the chance to put it right. We have the opportunity to put it right and after, no matter what, we will be ready to give everything to do it.

We are in a position where today Monaco is favourite. We can go there and create something special. I believe that we will have the desire to do it and give absolutely everything to do it.

I’d prefer to be 3-0 up but we have no choice. We have to put it right. Sometimes in life, you make a big mistake, and there’s no comeback, no way you get the chance to put it right again. In football, you can do it, so let’s just give everything to do it.”

– Wenger on the 2nd leg vs Monaco

Dalam kehidupan ada kalanya kita diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, namun tidak akan sering. Entah oleh guru, oleh keluarga, oleh pasangan, oleh komunitas di sekeliling kita, kesempatan untuk memperbaiki kesalahan akan diberikan, namun tidak akan berulang-ulang. Dalam sistem hukum kita dikenal adanya hukuman percobaan. Dalam agama, ada yang dinamakan kesempatan untuk bertobat. Dalam sepakbola, kesempatan untuk memperbaiki kesalahan lebih sering diberikan. Setiap pertandingan adalah kesempatan baru untuk memperbaiki apa yang salah, meluruskan apa yang tidak benar. The chance to put it right. Dengan catatan, selama pemain itu masih dipercaya sang pelatih.

Giroud masih dipercaya Wenger pasca horror melawan Monaco di Emirates Stadium, maka ia diberi kesempatan. Ia lalu mencetak gol di setiap pertandingan liga setelahnya (lawan Everton, QPR dan West Ham). Mertesacker adalah pemain lain yang tampil buruk di pertandingan itu, ia kembali masuk starting line up saat melawan QPR dan kembali ke performa biasanya. Giroud dan Mertesacker akan menjadi pemain yang paling berambisi mengubur kesalahan di leg pertama dengan penampilan gemilang di leg kedua ini. Tidak heran mereka berdualah yang paling banyak berkomentar sebelum pertandingan malam ini. Mudah-mudahan keduanya bisa membuktikannya di lapangan hijau.

Mencetak tiga gol tanpa kebobolan melawan Monaco bukan hal mudah. Namun Arsenal juga telah beberapa kali hampir membalikkan keadaan di leg kedua UCL. Hasil 2-0 lawan Bayern Muenchen di kandang mereka dan 3-0 lawan AC Milan di kandang sendiri adalah hasil spektakuler tapi masih dikategorikan sebagai kegagalan. Arsenal mungkin bisa menang malam ini, tapi apakah mereka mampu menang 3-0? Sebagai fans, kita pasti akan memberikan kesempatan, the chance to put it right. Inilah indahnya sepakbola. Fans akan cepat melupakan kekalahan ketika kemenangan hadir. Kesedihan bisa dengan cepat berganti menjadi kegembiraan.

Apapun hasil malam ini, tersingkir atau lolos, musim Arsenal belum berakhir. Semifinal FA Cup sudah menanti. Selisih 1 poin dengan City di liga menghadirkan kesempatan untuk merebut posisi kedua. Musim ini bagaikan roller coaster yang bertolak belakang dengan musim lalu. Setelah tampil buruk di paruh musim pertama, saat ini terlihat cikal bakal Arsenal baru yang kuat. Arsenal yang bisa menang tandang melawan klub besar lainnya. Dua klub Manchester sudah ditaklukkan di kandang mereka. Delapan kemenangan dari sepuluh pertandingan liga sejak awal tahun 2015 melejitkan Arsenal ke posisi ketiga setelah berbulan-bulan jauh dari posisi empat besar. Arsenal bisa finish lebih baik dengan poin yang lebih banyak daripada musim lalu. Menjadi juara mungkin masih agak jauh, tergantung bunuh dirinya Chelsea. Namun peringkat kedua di Premier League dan trofi FA Cup menjadi target yang sangat realistis saat ini.

Dalam hidup, ketika kita melakukan kesalahan, kita tentunya berharap diberikan kesempatan untuk memperbaikinya. Demikian juga pemain-pemain Arsenal. Sebagai fans, hal terbaik yang kita bisa lakukan adalah mendukung mereka hingga 90 menit berakhir. Percayalah pada mereka. Berikan mereka kesempatan. Sudah pasti mereka akan berjuang habis-habisan untuk membalikkan keadaan. Soal berhasil atau tidak adalah hal kedua, yang pertama akan kita akan nilai adalah perjuangan di lapangan hijau.

Pertandingan malam ini mungkin juga membawa sedikit nostalgia untuk Monsieur Wenger. Monaco adalah klub besar pertama yang dilatihnya. Di sini ia mengalami masa-masa indah dengan gelar liga pertamanya dan juga masa-masa pahit ketika dipecat dan juga harus kalah bersaing dari Marseille yang akhirnya terbukti menyuap pemain-pemain di Ligue 1. Kekecewaannya bersama Monaco bahkan harus membuatnya “bertapa” dahulu, jauh dari sepakbola Eropa di negeri Jepang. Dan kembali ke filosofi Giroud, selalu ada kesempatan baru, permulaan baru dalam sepakbola. Dari Jepang, Wenger malah menemukan tempatnya di Arsenal. Ia mungkin malah menjadi figur sepakbola dunia yang lebih berpengaruh saat ini daripada bila ia tetap di Perancis saat itu. Namun Monaco tidak melupakan Wenger. Presentasi spesial dengan plague dan foto Wenger menyambutnya di Stade Louis II.

Sejarah dan nostalgia masa lalu, statistik dan rekor Champions League (yang sangat mengunggulkan Monaco) bertemu malam ini dengan prospek new beginning-nya Arsenal. Dengan perjuangan keras dan sedikit dibantu oleh dewi fortuna, Arsenal sangat mungkin dapat mengukir sejarah baru malam ini. Victoria Concordia Crescit.

Jarak antara Harapan dan Kenyataan = Penderitaan

Mari kita mulai blog preview Arsenal vs Bayern Muenchen ini dengan satu pepatah filosofis lagi:

Jarak antara Harapan dan Kenyataan adalah Penderitaan.

Ini adalah kebenaran mutlak yang seringkali kita tolak untuk terima padahal nyata. Bila kita berharap atas sesuatu dan kenyataan yang terjadi tidak sesuai harapan tersebut, maka terjadilah penderitaan. Seberapa besar penderitaan itu tergantung dari seberapa besar jarak antara harapan dan kenyataan. Misal kita berharap dibelikan mobil Ferrari pada saat ulang tahun kita (anggap saja anak gedongan), eh taunya sama bokap dibelikan sepeda ontel. Penderitaan yang terjadi saat itu mungkin tak terbayangkan. Speechless. Harapnya Ferrari dapatnya Ontel. Hal yang sama berlaku untuk ranking di kelas, pacar, popularitas, gaji, promosi jabatan, dan banyak hal lain lagi. Semakin tinggi kita berharap, semakin sulit harapan itu terwujud, sehingga semakin tinggi kemungkinan kita menderita. Sebaliknya semakin rendah kita berharap, semakin mudah harapan itu terwujud, semakin mudah kita berpuas diri, dan tidak menderita. Namun hidup tanpa berharap adalah hidup tanpa ambisi, hidupnya orang malas. Maka sangat penting mendapatkan keseimbangan antara penentuan harapan dengan kenyataan yang mungkin diwujudkan.

Lalu kembali ke Arsenal, bagaimana sepantasnya kita meletakkan harapan akan hasil pertandingan melawan tim terkuat di Eropa musim lalu dan mungkin juga musim ini: Bayern Muenchen?

Semua orang pasti punya standar harapan masing-masing akan pertandingan ini yang berbeda-beda, bahkan untuk fans Arsenal sekalipun. Tentunya setiap fans Arsenal sejati pasti berharap menang di pertandingan hari ini, namun dalam harapan untuk menang tersebut juga tersirat keragu-raguan. Keragu-raguan ini menyebabkan terciptanya harapan yang formalitas supporter sebuah klub, harapan yang tidak sungguhan. Berharap menang tapi tidak yakin menang. Karena di bawah sadar, kita mungkin telah sadar akan dampak dari harapan yang terlalu tinggi dan tidak terwujud: penderitaan. Apalagi melawan tim sekelas Muenchen.

Saya sendiri akan sharing harapan saya atas hasil pertandingan ini, yang realistis, yang tidak bombastis. Untuk setting harapan, tentunya kita mesti tahu medan. Seberapa kuat Bayern Muenchen dan seberapa kuat Arsenal, seberapa besar pengaruh kandang Arsenal, sejarah pertemuan kedua klub dan kondisi para pemain dan manager. Mari kita coba bahas satu-satu sebelum kemudian menyimpulkan harapan realistis seperti apa yang wajar kita letakkan di pertandingan ini.

Klub Terbaik Eropa

Jujur saya tidak mengikuti Bundesliga, maka analisa teknik sebaiknya diberikan kepada ahlinya. Namun tidak sulit menyimpulkan bahwa Bayern Muenchen adalah klub terbaik di Eropa saat ini, berdasarkan prestasinya musim lalu, dan prestasinya di liga dan UCL sejauh ini, di musim ini. Bila Muenchen sudah dominan musim lalu di Bundesliga, musim ini lebih gila lagi. Pep mengubah Muenchen menjadi tim yang sangat sulit dikalahkan musim ini (tak terkalahkan di liga dan hanya sekali kalah di UCL, oleh City). Ia mengubah Lahm dari fullback menjadi DM, dan memainkan formasi yang sangat menyerang dengan pemain-pemain bagus seperti Gotze, Muller, Kroos, Alcantara, Ribery (untungnya absen), Robben dan Mandzukic. Selain itu ia masih punya pemain tengah seperti Schweinsteiger dan Javi Martinez yang tidak diragukan lagi kualitasnya. Di belakang ia punya Rafinha dan Alaba sebagai fullback, Boateng dan Dante sebagai CB, serta Neuer kiper timnas Jerman.

Di atas kertas, kualitas pemain Arsenal masih kalah dari Muenchen. Mungkin hanya Ozil, Mertesacker dan Koscielny yang bisa bersaing dengan nama-nama pemain Muenchen tersebut. Coba bandingkan Arteta, Flamini dengan Schweinsteiger dan Martinez. Gotze, Muller, Robben dengan Chambo, Cazorla, Podolski. Mandzukic dengan Giroud. Bila kita main CM atau FM, sudah hampir pasti rating pemain-pemain Muenchen di atas pemain Arsenal. Untungnya sepakbola bukanlah soal gabungan statistik personal pemainnya. The whole might be greater than the sum of its parts. Sebuah tim bisa lebih besar daripada jumlah dari setiap personilnya. Maka Arsenal bisa mengalahkan Muenchen di kandangnya musim lalu.

Tapi sebelum menyimpulkan Arsenal bisa kalahkan Muenchen, untuk bagian ini kita sebut saja secara kekuatan tim di atas kertas, Muenchen > Arsenal.

Sejarah Pertemuan

Musim lalu, Arsenal mengejutkan Muenchen dan dunia sepakbola dengan kemenangan 2-0 di kandang mereka, satu-satunya kekalahan telak Muenchen di kandang musim lalu. Mencetak gol cepat lewat sayap dari Walcott ke Giroud, Arsenal kemudian menambah satu gol hasil sundulan Koscielny dari tendangan sudut. Praktis sisanya Arsenal bertahan dari gempuran Muenchen. Sayang sekali satu kesempatan Gervinho gagal menjadi gol. Setelah gol Koscielny, Muenchen praktis membuang waktu di 10 menit terakhir untuk menjamin lolosnya mereka ke babak selanjutnya atas keuntungan aggregate. Muenchen dibatasi Arsenal untuk hanya melakukan tendangan-tendangan jarak jauh. Pertahanan Arsenal demikian solid malam itu, sehingga the whole is greater than the sum of its parts terjadi.

Pertemuan pertama di Emirates Stadium yang berakhir 3-1 ingin dilupakan hampir semua fans Arsenal. Namun dalam pertandingan tersebut, bukan berarti Arsenal menyerah begitu saja. Saat kedudukan 2-1 (setelah Arsenal mencetak gol), Arsenal sedang di atas angin untuk menyamakan kedudukan sebelum gol Mandzukic hasil serangan balik membuat mereka putus asa. Fakta ini diabaikan. Andai saja serangan balik tersebut tidak berhasil, bisa jadi sampai menit terakhir Muenchen akan digempur Arsenal. Bagi saya pribadi, dalam dua leg tersebut, walaupun Muenchen lebih kuat soal ball possession dan lebih banyak menciptakan kesempatan, Arsenal cukup dapat mengimbangi permainan klub terkuat Eropa tersebut. Dan kunci itu ada pada pertahanan yang super kuat di leg kedua.

Benteng Arsenal

Musim ini Emirates Stadium bisa dikatakan mulai menjelma menjadi benteng Arsenal. Selain kekalahan awal atas Aston Villa yang dapat diabaikan, dan kekalahan tipis atas Dortmund (pertandingan Capital One Cup lawan Chelsea sengaja diabaikan di sini), Arsenal tidak terkalahkan di kandang dan sangat sedikit kebobolan gol. Kuncinya ada pada duet Mertesacker dan Koscielny serta penampilan Szczesny. Selain itu pemain-pemain Arsenal seperti terobsesi dengan clean sheet di kandang. Mungkin perubahan sikap para fans Arsenal yang mulai lebih percaya pada tim ini sejak memuncaki klasemen menambah kepercayaan diri para pemain. Fokus dan konsentrasi di setiap pertandingan kandang terlihat berbeda musim ini. Hasil fluke seperti kekalahan 6-3 di Etihad, 5-1 di Anfield atau bahkan 1-0 di Old Trafford tidak akan terjadi di kandang. Menarik untuk menunggu apakah rekor pertahanan ini masih bisa bertahan saat kita menjamu Muenchen.

Pertarungan Taktik Dua Manager

Guardiola pernah kalah dari Wenger di Emirates (2-1 lawan Barca) dan Wenger selalu kalah dari Guardiola di Nou Camp. Namun yang perlu diingat adalah materi pemain kedua klub saat itu berbeda jauh. Wenger memiliki tim yang lebih lemah. Saat ini juga demikian walaupun penambahan Ozil dan makin matangnya beberapa pemain Arsenal membuat perbedaan kualitas tiap pemain semakin dekat daripada pertemuan-pertemuan berikutnya. Taktik Guardiola tidak sulit ditebak, demikian juga Wenger. Kedua pelatih ini adalah pelatih yang memprioritaskan strategi daripada taktik. Gaya permainan dominan daripada antisipasi gaya dan taktik lawan. Pep melatih pemainnya dengan obsesi terhadap positioning yang ketat, dan menekankan pada ball possession. Wenger melatih pemainnya untuk bermain sepakbola cepat satu dua sentuhan dan memberikan keleluasaan mereka untuk berimprovisasi di lapangan, terutama kepada para pemain tengahnya (lihat pergerakan Ozil, Cazorla). Di situ sedikit perbedaan kedua pelatih. Bila Pep lebih pada disiplin, Wenger lebih pada freedom. Demikian saya melihatnya.

Bila kita menyimak komentar Arteta (yang tidak akan bermain malam ini karena suspensi kartu) tentang Muenchen:

They are very creative, they can use the full backs to have people running behind, they have people who can hold the ball, running midfielders, they can shoot from outside the box.

They’ve got a complete team but again I think they face some issues at the back which I’m sure we can exploit.

maka jelaslah bahwa Wenger dan para pemainnya telah melakukan analisa terhadap calon lawannya ini. Mereka menyerang lewat fullback, tendangan jarak jauh, namun juga memiliki kelemahan di belakang yang dapat dieksploitasi. Sekali lagi karena saya tidak mengikuti Muenchen maka saya tidak tahu secara persis kelemahan apa yang dimaksud Arteta tersebut. Pertandingan Muenchen melawan City bahkan tidak dapat dijadikan sebagai referensi mengingat tidak pentingnya nilai pertandingan itu saat itu bagi Muenchen yang hampir pasti menjadi juara grup. Daripada berspekulasi tentang kelemahan Muenchen, lebih baik kita mencoba melihat apa kekuatan Arsenal yang dapat digunakan di pertandingan ini.

Kekuatan Pondasi Arsenal

Kekuatan Arsenal musim ini bukan pada kualitas penyerangannya. Serangan yang dibangun Arsenal tidak segencar dan sesering City atau Liverpool misalnya. Arsenal bisa bertengger di puncak klasemen EPL demikian lama musim ini dan hanya terpaut satu point saat ini dari puncak karena pondasi yang dibangun pada pertahanan, sejak awal Maret tahun lalu (tepatnya setelah kekalahan dari Spurs di liga, dan saat pertandingan leg kedua melawan Muenchen). Pondasi tersebut bertahan hingga hampir setahun, dan masih kokoh. Masuknya Ozil dan Flamini memberikan keseimbangan baru pada pondasi tersebut. Tidak hanya bertahan dan menang 1-0, Arsenal juga cukup kuat dalam melakukan serangan cepat karena pengaruh Ozil. Sayangnya Walcott dan Ramsey yang menjadi mesin gol Arsenal musim ini masih cedera. Bila mereka berdua fit, Muenchen akan menghadapi lawan yang jauh berbeda. Walaupun demikian, pondasi pertahanan Arsenal tetap dapat diandalkan di pertandingan ini.

Maka tidak sulit untuk mengira bahwa Wenger akan memainkan taktik sebagaimana saat melawan Liverpool. Solid di belakang dengan fullback yang sedikit ditahan untuk maju, dan mengandalkan serangan cepat yang dibangun oleh Ozil dan pemain sayap. Giroud perlu sedekat mungkin ke kotak penalti lawan sebagaimana Sanogo kemarin, dan kecepatan Chamberlain serta Podolski perlu dieksploitasi oleh kecepatan pikiran Ozil. Arsenal mesti nyaman dengan menyerahkan ball possession kepada Muenchen, dan mereka telah nyaman melakukannya musim ini. Arsenal bisa restart serangan di periode-periode kritis pertandingan seperti 10 menit awal dan akhir babak pertama dan kedua, dan sisanya bertahan dengan tidak memberikan ruang pergerakan untuk pemain Muenchen, sesuatu yang sangat kita kuasai musim ini. Tentunya memilih untuk tidak menguasai bola memerlukan tingkat konsentrasi yang lebih tinggi daripada menguasainya. Namun tingkat konsentrasi yang tinggi ini sangat membantu untuk tidak melakukan kesalahan, dan sangat berpengaruh dalam melakukan serangan balik yang efisien.

Demi terciptanya gol lewat serangan balik, maka saya prediksi Wenger tetap akan memainkan Chamberlain di pertandingan ini dan mungkin Podolski bila ia yakin dengan kemampuan tracking back Podolski. Bila ia tidak terlalu yakin, maka ia akan memilih Rosicky. Namun dengan demikian artinya kehilangan satu ruang untuk Cazorla. Keputusan sulit untuk Wenger. Flamini akan menggantikan posisi Arteta dan Wilshere kemungkinan akan menemaninya di tengah. Kalau saya pribadi, mungkin akan memilih memasang Chamberlain dan Podolski di sayap, serta Rosicky, Ozil dan Flamini di tengah. Pressure yang bisa diberikan Rosicky lebih baik daripada Wilshere ataupun Cazorla dan ia lebih jarang kehilangan bola daripada keduanya, hal yang sangat penting untuk pemain poros tengah. Kedua pemain ini bisa disimpan untuk babak kedua, ketika Arsenal ingin pindah gigi lebih tinggi dan menyerang penuh.

Namun sepertinya Wenger akan berpikir terlalu riskan memainkan dua pemain penyerang di pertandingan ini. Maka ia besar kemungkinan akan memilih menyimpan Podolski dan memainkan Cazorla.

Prediksi line ups: Szczesny – Sagna, Mertesacker, Koscielny, Gibbs – Flamini, Rosicky, Ozil – Cazorla, Giroud, Chamberlain.

Sub: Fabianski, Monreal, Jenkinson, Podolski, Sanogo, Gnabry, Wilshere.

Tidak banyak pilihan pemain penyerang untuk Wenger karena cedera Ramsey dan Walcott. Untungnya pemain bertahannya yang bisa dipasang adalah pilihan-pilihan utama.

Setelah analisa amatiran di atas, seberapa tinggi harapanmu atas pertandingan ini? Bila sebelum pertandingan lawan Liverpool di FA Cup saya sangat yakin Arsenal menang, maka di pertandingan ini harapan saya terletak pada kemenangan 1-0 atau seri. Terus terang sulit berharap kita menang telak dari klub terkuat Eropa yang sedang di atas angin dan kondisi kita sendiri yang belum stabil dengan cederanya beberapa pemain inti. Tapi tetap tersisa harapan untuk mencuri kemenangan bila game plan Wenger bisa diterapkan dengan apik oleh pemain-pemainnya dan dibantu oleh kharisma benteng pertahanan Arsenal yang baru: Emirates Stadium.

Pesan terakhir, ingat pepatah di atas. Jika kita kalah dalam pertandingan ini, jangan terlalu sedih. Karena harapan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Peace out and just enjoy the game! 🙂

Orkestra Simfoni Arsenal Bungkam Konser Heavy Metal di Dortmund

zp_10_Ramsey-goal-3_1628Dortmund 0 – 1 Arsenal (Ramsey 62′)

Analogi Klopp, manager Dortmund, yang beredar di media Inggris dan Jerman sebelum pertandingan bahwa Dortmund vs Arsenal bagaikan pertandingan antara heavy metal vs orkestra simfoni ternyata menjadi kenyataan di lapangan. Hanya saja mungkin hasilnya tidak sesuai harapan Klopp. “Silent Orchestra” malam itu membungkam konser hingar-bingar heavy metal di Dortmund, setelah 90 menit. Seisi stadion terhentak dan sunyi saat Ramsey menyundul bola ke gawang Dortmund, sebelum disontakkan kembali dengan teriakan dan chant ribuan fans away Arsenal.

Dortmund memulai pertandingan seperti layaknya sebuah konser band musik heavy metal. Tanpa basa-basi langsung menuju nada tertinggi. Pemain Dortmund melakukan pressing dengan intensitas tinggi di area Arsenal tanpa henti. Arsenal berkali-kali kehilangan bola dan kesulitan untuk keluar dari areanya sendiri. Operan dari lini tengah selalu dipotong pemain Dortmund, dan bila pemain Arsenal mencoba melakukan dribbling ia akan ditempel 2-3 pemain Dortmund yang memaksanya melakukan kesalahan. Gegenpressing, demikian nama sistem yang diterapkan Klopp sejak beberapa tahun lalu, yang tidak hanya berhasil memenangkan mereka gelar juara namun juga hati pencinta sepakbola seluruh dunia.

Gegenpressing

Prinsip gegenpressing adalah pressing dengan intensitas tinggi dengan tujuan merusak permainan lawan, merebut kembali bola secepat mungkin di area lawan, dan luncurkan serangan kilat. Para pemain akan menutup ruang gerak dan operan lawan secara terorganisir dengan positioning terkoordinir yang telah dilatih lewat drilling ribuan kali sehingga ketika bola direbut, para pemain sudah berada pada posisi yang siap untuk counter attack. Sistem ini menjadi efektif karena saat bola direbut lawan, baru mau pindah dari gigi mundur ke gigi maju, bola sudah direbut kembali dan dalam hitungan detik bola bisa masuk ke kotak penalti lawan. Kata Jurgen Klopp tentang gegenpressing:

Gegenpressing is the best playmaker in the world. The best moment to win the ball is immediately after your team just lost it. The opponent is still looking for orientation where to pass the ball.

Berbeda dengan tiki-taka Barcelona yang juga menerapkan pressing tinggi terhadap lawan untuk merebut kembali bola, Dortmund akan langsung menyerang dengan cepat ketika berhasil merebut bola sedangkan Barcelona akan memainkan operan-operan pendek dahulu untuk melanjutkan possession football-nya. Bagi penonton, sepakbola Barcelona terkesan lambat sedangkan sepakbola Dortmund terkesan cepat, elektrik, instan. Sepakbola Barcelona adalah soal rangkaian operan pendek yang harmonis bak orkestra simfoni sedangkan Dortmund adalah antagonisnya, soal destruction, soal chaos, heavy metal. Klopp mungkin menyamakan sepakbola Arsenal dengan Barcelona, tim yang setia pada penguasaan bola dan tiki-taka. Ia mungkin belum tahu kalau Arsenal telah mulai perlahan-lahan meninggalkan sistem (Barcelona) itu sejak musim lalu.

Gegenpressing butuh kecepatan dan stamina yang tinggi maka tak heran Klopp selalu menuntut dan melatih pemainnya agar mampu berlari lebih jauh daripada pemain lawan. Di leg pertama, total pemain Dortmund berlari 10 km lebih banyak daripada keseluruhan pemain Arsenal. Di leg kedua ini, Aaron Ramsey berlari lebih jauh daripada semua pemain Dortmund. Dengan staminanya yang tinggi dan seringnya ia melakukan tackle yang berakibat turnover, Ramsey adalah pemain ideal untuk melakukan gegenpressing ala Klopp. Bila tidak sedang menjadi pelatih lawan, Klopp pasti akan tersenyum saat Ramsey mencetak gol satu-satunya di pertandingan ini.

Di babak pertama, gegenpressing Dortmund nyaris menghasilkan gol. Berulang kali kita menyaksikan pressing intensitas tinggi mereka terhadap pemain Arsenal, dan ketika berhasil merebut bola, pemain Dortmund sudah berlarian menyerbu kotak penalti Arsenal. Dua-tiga pemain Dortmund akan mengurung pemain Arsenal yang menguasai bola. Satu melakukan pressing dari muka, satu menutup jalur operan ke samping dan satu lagi menutup jalur operan ke belakang sambil siap berlari ke area lawan bila bola berhasil direbut. Sisi kiri Arsenal menjadi incaran mereka. Blaszczykowski, Großkreutz dan Lewandowski melakukan hal ini terhadap Cazorla dan Gibbs dan berhasil beberapa kali. Kecepatan kombinasi pemain Dortmund di sisi ini menghasilkan peluang bersih Mkhitaryan yang untungnya tembakannya melebar ke samping gawang Szczesny.

Berawal dari lemparan ke dalam milik Dortmund di paruh lapangannya sendiri, Großkreutz melempar bola ke Lewandowski yang langsung melakukan one-two dengan Blaszczykowski. Menerima bola kembalian, Lewandowski berlari langsung ke gawang Arsenal dan diikuti paralel Blaszczykowski yang tidak tinggal diam. Arteta menjatuhkan Lewandowski namun Blaszczykowski yang berlari tepat di sampingnya langsung mengambil alih bola. Saat itu juga Mkhitaryan telah berlari di tengah lapangan, siap menerima bola dan melakukan shooting. Tiga pemain Dortmund ini berlari bersamaan bak tiga garis lurus sejajar menuju gawang lawan, pemandangan yang sungguh mengerikan bagi pemain bertahan lawan. Namun bagi penonton, gerakan mereka bertiga terlihat seperti chaos yang juga indah, terdengar seperti musik heavy metal di mana setiap instrumen seakan saling berebut untuk mendominasi namun masing-masing juga adalah bagian dari komposisi.

Sistem sepakbola gegenpressing Dortmund ini telah makan banyak korban. Real Madrid dan sang ahli taktik The Special One dibuat tak berkutik oleh Dortmund di stadion ini beberapa bulan silam. Hasil 4-1 untuk gegenpressing yang ternyata lebih dahsyat dan efektif daripada counterattacking football-nya Mourinho. Wenger tentu telah mempelajari sistem Klopp ini sebelum leg pertama. Dan pengalaman dari pertemuan di leg pertama membuat eksekusi taktik anti-gegenpressing Arsenal di leg kedua ini berjalan sempurna.

“Wenger Tidak Mengenal Taktik”

Sebagian fans Arsenal yang hobi main Football Manager sering menuding kalau Wenger tidak mengerti taktik sepakbola. Bagaimana mungkin seorang manager yang sudah berkompetisi belasan tahun di Liga Champions, pemegang rekor Invincible dan berkali-kali memecahkan rekor Eropa dengan mengalahkan Real Madrid, AC Milan, Bayern Muenchen dan malam ini Borussia Dortmund di kandang mereka, bisa tidak mengerti taktik sepakbola? Apakah mungkin dengan modal bermain Football Manager, seorang fan sepakbola merangkap armchair manager bisa lebih paham tentang taktik sepakbola daripada real manager kawakan seperti Wenger?

Di tulisan ini, saya mencoba untuk tidak menjadi armchair manager. Tapi dengan benefit of hindsight, kita bisa mencoba menganalisa apa taktik anti-gegenpressing yang diterapkan Wenger terhadap Dortmund di pertandingan ini sehingga bisa pulang mengantongi tiga poin yang berharga sementara Mourinho dan banyak manager Eropa lainnya gagal. Ada beberapa penentu kemenangan Arsenal yang bisa kita lihat dari pertandingan ini.

Anti-gegenpressing

We weren’t able to find a player in space a lot of the time, as Arsenal were quick on their feet and defended well.

Klopp di akhir pertandingan mengakui kalau pemain Arsenal bertahan dengan sangat baik dan dapat cepat membatasi ruang gerak pemainnya. Wenger mengatakan pengalaman dan kedewasaan pemain Arsenal membantu mereka mengatasi serangan bertubi-tubi Dortmund. Wenger mengakui bila timnya lebih muda saja, mungkin mereka akan pulang dengan kekalahan telak, demikian dahsyatnya sepakbola Dortmund. Pembelian Mertesacker, Arteta beberapa musim lalu mulai membuahkan hasil di musim ini. Demikian juga adanya Rosicky, Sagna yang bisa membimbing pemain muda Arsenal seperti Ramsey, Gibbs, Szczesny, agar tidak panik dalam pertandingan seperti ini dan melakukan kesalahan yang tidak perlu. Pemain-pemain yang lebih berpengalaman ini membawakan kedewasaan dan kematangan dalam permainan Arsenal. Kenaifan di leg pertama di mana dua fullback Arsenal maju bersamaan tidak lagi diulangi di pertandingan ini.

I was pleased with our focus tonight. We were under pressure from first minute to last but we didn’t make any mistakes and defended well. We were compact and worked together and although there was a difficult period in the first half we put in a very mature performance.

Our defence was under a lot of pressure but they showed good awareness and tactical ability and that gives us a big lift. Not many teams come here and win.

Wenger melakukan sedikit perubahan soal bagaimana Arsenal bertahan dalam leg kedua ini sebagai bagian utama dari taktik anti-gegenpressing. Kata-kata kuncinya adalah: compact, good awareness, dan tactical ability. Grafik dashboard dari Statszone Four Four Two di bawah ini akan mengilustrasikan perubahan tersebut.

Legends

Legends

Arsenal Defensive Dashboard (leg 1)

Arsenal Defensive Dashboard (leg 1)

FourFourTwo Arsenal defensive

Arsenal Defensive Dashboard (leg 2)

Dua grafik di atas menunjukkan aksi pertahanan Arsenal di dua leg melawan Dortmund. Gawang Arsenal di sebelah kiri. Ada 4 macam aksi yang tergambar dalam grafik ini yaitu “X” untuk tackle, “O” untuk clearance, “Diamond” untuk Interception, dan “Triangle” untuk foul.

Data dari grafik di atas untuk aksi pertahanan Arsenal:

  1. Tackle, leg 1: 23/28 dan leg 2: 8/14
  2. Interception, leg 1: 22 dan leg 2: 22.
  3. Clearance, leg 1: 23 dan di leg 2: 35.
  4. Foul, leg 1: 14 dan leg 2: 13.

Di leg kedua, Arsenal melakukan lebih sedikit tackle namun lebih banyak clearance. Arsenal juga memusatkan pertahanan di dalam dan sekitar kotak penalti dibanding di leg pertama yang lebih menyebar ke tengah dan depan. Dengan kata lain, lini pertahanan Arsenal di leg kedua ini lebih mundur dan Arsenal mengurangi aktivitas pressing mereka di wilayah lawan dan sekitar garis tengah. Arsenal baru melakukan pressing dan tackling ketika lawan masuk ke area berbahaya (area yang memungkinkan tembakan ke gawang dan umpan lambung dari samping). Arsenal membiarkan Dortmund membawa bola sampai ke area yang “diizinkan”.

Gegenpressing selain adalah sistem anti possession football yang sekaligus adalah sistem anti pressing. Kok bisa? Karena selain merebut bola yang dikuasai lawan, ia juga merebut bola yang baru saja direbut lawan. Justru yang kedua ini lebih berbahaya. Karena saat melakukan pressing, para pemain umumnya dalam posisi yang lebih maju daripada biasanya, sehingga sangat rawan untuk terkena serangan balik. Apalagi bila pressing dilakukan di area tengah lapangan, ruang antara pemain yang melakukan pressing (umumnya pemain depan dan tengah) dengan barisan permain di belakangnya akan dieksploitasi Dortmund dengan sangat baik.

Untuk mengatasi gegenpressing, Arsenal melakukan selective ball possession dan maintaining defensive shape.

Arsenal memang menguasai bola lebih banyak di babak pertama, namun bola lebih banyak dioper di area sendiri dan sesekali long ball ke depan. Arsenal menghindari pressing Dortmund di area tengah. Konsekuensi dari taktik ini adalah operan “pinball” satu dua sentuhan di tengah lapangan yang menjadi karakteristik Arsenal tidak terjadi. Operan lebih banyak terjadi di sisi lapangan atau langsung ke depan. Bukan kebetulan kalau kombinasi operan terbanyak di antara pemain Arsenal adalah kombinasi Sagna dan Ozil dengan total 23 operan. Ini yang dikatakan selective ball possession.

Arsenal juga lebih jarang melakukan pressing di area lawan, dan sekitar garis tengah. Dortmund dibiarkan membawa bola, sesuatu yang sebenarnya bukan spesialisasi mereka. Back four Arsenal akan mundur sampai ke kotak penalti, demikian juga pemain tengah, sambil membayangi pemain Dortmund. Tackling hanya akan dilakukan ketika Dortmund masuk ke area di mana shooting dan crossing dimungkinkan. Arsenal nyaman membiarkan Dortmund membawa bola, dengan memprioritaskan defensive shape, menjaga jarak antar lini pemain Arsenal dan jarak pemain dengan bola. Dengan cara demikian ruang untuk counterattack Dortmund dibatasi. Itu yang dimaksud Klopp dengan: “we weren’t able to find a player in space a lot of the time.”

Saat Arsenal menyerang, lini belakang maju serentak untuk pertahankan jarak antara dua lini sembari eksekusi offside trap bila bola direbut dan diserang balik. Beberapa kali pemain Dortmund terkena jebakan offside ini. Yang paling nyata adalah saat tembakan Blaszczykowski ditahan Szczesny. Tiga pemain Dortmund berada di belakang garis pertahanan Arsenal sehingga walaupun bola rebound dari save Szczesny bisa disambar, posisi mereka sudah offside.

Saat Arsenal diserang, lini belakang dan lini tengah mundur. Jarak antar lini ini selalu dpertahankan. Ini yang dimaksud Wenger dengan compact. Good Awareness diperlukan untuk tahu kapan harus mundur dan maju, dan juga menyadari posisi rekan-rekan di sekitarnya saat eksekusi offside trap. Dan yang dimaksud tactical ability adalah kemampuan pemain mengeksekusi taktik ini dengan baik plus kemampuan beradaptasi secara taktis terhadap perubahan di lapangan.

Mertesacker, MotM pertandingan ini adalah kunci dalam memimpin lini pertahanan. Ia mengorganisir offside trap, melakukan interception, tackling, dan duetnya bersama Koscielny praktis meminimalisir peluang bersih Dortmund menjadi hanya tiga: tembakan melenceng Mkhitaryan, sundulan Reus dan tembakan Blaszczykowski. Sisanya adalah tembakan spekulatif atau peluang dari setplay. Bahkan di satu kesempatan, hanya dengan sebuah sapuan ia merebut bola dari kaki Reus yang sedang dribbling ke kotak penalti. Mertesacker memberikan rasa aman terhadap lini pertahanan Arsenal sehingga tidak terjadi kepanikan walaupun terus-menerus di bawah tekanan gegenpressing Dortmund.

Dortmund Defensive Dashboard (leg 1)

Dortmund Defensive Dashboard (leg 1)

Dortmund Defensive Dashboard (leg 2)

Dortmund Defensive Dashboard (leg 2)

Dari grafik di atas, bisa dilihat kalau di leg kedua Dortmund lebih sedikit melakukan tackling dan interception di area Arsenal dan area tengah, dampak dari penerapan taktik Arsenal. Selective ball possession Arsenal yang seringkali bypass area tengah dan pressing yang tidak dilakukan Arsenal di tengah lapangan mengurangi aksi gegenpressing Dortmund di area berbahaya tersebut.

Taktik anti-gegenpressing Wenger berhasil dilakukan pemain-pemain Arsenal dengan baik sehingga Dortmund gagal mencetak gol untuk pertama kalinya di kandangnya sendiri musim ini.

Orkestra Simfoni

Sebuah orkestra adalah permainan musik dengan banyak musisi yang memainkan instrumen yang berbeda. Orkestra yang dimainkan 50 musisi atau kurang disebut orkestra chamber, dan bila dimainkan dalam kapasitas penuh oleh kurang lebih 100 musisi disebut orkestra simfoni. Sebuah orkestra simfoni terdiri dari 4 kelompok dengan alat musik yang mirip: woodwinds, brass, percussion dan strings. Penjelasan lebih lengkap silakan cek wikipedia.

Apa yang ada di kepala Klopp saat menganalogikan sepakbola Arsenal dengan sebuah orkestra? Sepakbola Arsenal jelas hanya dimainkan oleh 11 orang, terlalu sedikit untuk sebuah orkestra namun juga sedikit lebih banyak daripada grup band heavy metal. Rasanya bukan jumlah orang yang dianalogikan Klopp tapi lebih pada upayanya kontraskan gaya sepakbola Arsenal dengan Dortmund.

Bila gaya sepakbola Dortmund adalah soal chaos, destruction football, merusak permainan lawan untuk kemudian menyerang secara mematikan, sepakbola Arsenal disamakan dengan harmonisasi musik dari instrumen-instrumen yang berbeda. Tentunya ini adalah pujian tulus dari Klopp. Arsenal dalam persepsinya memainkan sepakbola bak orkestra, komposisi musik yang harmonis dan “membangun”, kontras dengan musik heavy metal yang intens, acak dan “merusak”.

Klopp mungkin belum tahu semboyan Arsenal Victoria Concordia Crescit juga adalah soal meraih kemenangan lewat harmonisasi di antara pemainnya. Malam itu semboyan tersebut diaplikasikan dengan baik. Seluruh pemain Arsenal dari Giroud sampai Szczesny tampil harmonis dalam membendung serangan Dortmund. Mereka menikmati peran bertahan dari hingar-bingar aksi di lapangan maupun di sekeliling lapangan. Chant pendukung Dortmund yang tiada henti disertai teriakan dari megafon tidak menganggu performa pemain-pemain Arsenal. Mereka seakan bermain dengan earphone di telinga, sambil mendengarkan Symphony No. 9, tidak mempedulikan konser heavy metal yang sedang terjadi di sekelilingnya. The silent orchestra melayani serangan Dortmund dengan komunikasi telepatis antara pemainnya.

Di babak kedua, setelah serangan bertubi-tubi Dortmund selama 15 menit pertama yang gagal menemukan jalan ke gawang Arsenal, momen kemenangan orkestra simfoni tiba. Szczesny menendang bola jauh ke Giroud, disundul pemain Dortmund, Bender. Bola muntahan di udara disundul oleh Subotic lalu disundul kembali oleh Arteta dan hanya dengan satu sentuhan Rosicky membelokkan bola yang jatuh tersebut ke Ramsey yang langsung mengembalikan lagi ke Rosicky lewat one-two. Kembali dilakukan one-two dari Rosicky ke Ramsey, kembali ke Rosicky, lalu Rosicky melakukan one-two dengan pemain Dortmund (Sokratis), dan bola kembaliannya distop lalu dioper ke Ozil di sayap kanan. Ozil menghentikan bola lalu memberikan umpan lambung ke Giroud, disambut dengan sundulan ke tengah yang disamber Ramsey dengan kepalanya, tanpa mempedulikan kaki Subotic yang juga terangkat.

Gol ini melibatkan 3 one-two, 2 umpan lambung, 5 sundulan dan 16 sentuhan dalam waktu 20 detik

Kompleksitas gol yang terjadi dari rangkaian operan one touch ini tidak kalah dari gol Wilshere saat melawan Norwich. Gol ini melibatkan 3 one-two (2 antara Rosicky-Ramsey dan 1 antara Rosicky-Sokratis), 2 umpan lambung (Szczesny dan Ozil) dan 5 sundulan (2x Bender, Subotic dan 3x oleh Arteta, Giroud, Ramsey). Total terjadi 16 sentuhan (dengan urutan Szczesny-Bender-Subotic-Arteta-Rosicky-Ramsey-Rosicky-Ramsey-Rosicky-Sokratis-Rosicky 2x-Ozil 2x-Giroud-Ramsey) dalam waktu 20 detik sejak bola ditendang Szczesny sampai masuk ke gawang Dortmund. Sebuah gol yang indah, hasil harmonisasi peran kiper hingga striker. Sebuah gol orkestra. Arsenal kembali melakukan pinball football. Dan tentunya gegenpressing tidak bisa menjawab itu. Bagaimana mungkin melakukan pressing terhadap bola yang nyaris tidak berhenti?

Kemampuan Teknis yang Unggul

Setelah gol pertama itu, Arsenal makin menyerang dan Dortmund terlihat kelelahan. Total 5 peluang terjadi setelah itu. Tembakan Ramsey yang nyaris masuk bila tidak terkena kaki Weidenfeller, tembakan Giroud yang diselamatkan di garis gawang, dua kali sundulan Mertesacker menyambut corner kick dan terakhir dari Koscielny yang bertabrakan dengan Weidenfeller ketika menyambut bola di udara.

I was concerned that there was a long way to go at 1-0 but we could have made it two. We had some good chances. We knew at half-time it was about keeping our focus and letting our technical ability win the game, which is what happened.

Wenger merasa kemampuan teknis pemain-pemain Arsenal masih di atas Dortmund. Itu benar. Dortmund tidak memiliki pemain seperti Ozil, yang punya visi hingga beberapa langkah ke depan. Rosicky dan Cazorla adalah pemain dengan teknik yang lebih tinggi daripada rata-rata pemain Dortmund. Mereka juga tidak memiliki Ramsey, mesin gol dari tengah. Seberapapun hebatnya sebuah taktik dilatih, sepakbola adalah soal relasi manusia dengan bola. Momen-momen ajaib akan lahir dari aksi individual yang berteknik tinggi. Klopp sendiri pernah berkata demikian soal Messi:

Messi is the most unbelievable player because there’s no weapon against him when he is fit – no tactic will work

Pada akhirnya harmonisasi aksi individual pemain Arsenal, dari one-two yang dilakukan Rosicky dan Ramsey, crossing akurat Ozil, kegigihan Giroud dalam bertarung di udara dan sentuhan Midas Ramsey, dirangkai dalam sebuah rencana manager kawakan, mengalahkan taktik gegenpressing yang telah menjadi jiwa permainan kolektif Dortmund.

Klopp adalah pelatih super (sedikit insight bisa dibaca di artikel cemerlang ini) dan Dortmund adalah tim yang sangat bagus. Tim terkuat yang dihadapi Arsenal musim ini. Bahwa Arsenal bisa mengalahkan Dortmund di kandang mereka (yang sedang membutuhkan poin untuk lolos grup) setelah hampir imbang di kandang sendiri adalah indikasi kekuatan Arsenal saat ini. Tidak heran Arsenal bisa mengatasi Liverpool dengan relatif nyaman minggu lalu. Arsenal sudah menjadi salah satu tim terkuat di Eropa. Klopp pun menegaskan itu usai pertandingan.

Yes (Arsenal can win the Champions League). They are young, healthy and good technicians. They won a clever game tonight and could go to the final and win it – as long as they don’t play against Bayern Munich.

Hari Minggu ini, kita akan berhadapan dengan tim yang gagal menang di Real Sociedad walaupun sudah mencoba berbagai cara termasuk diving Ashley Young. Arsenal akan ke Old Trafford dengan kepercayaan diri penuh, tidak seperti beberapa musim sebelumnya. Artikel preview pertandingan tersebut akan ditulis terpisah besok atau lusa. Sementara itu, silakan berbagi kebahagiaan atas kemenangan monumental ini di kolom komentar di bawah. 🙂