Persepsi ≠ Kenyataan

Pikiran adalah Pelopor…

Sebuah kalimat dari Dhammapada yang terkenal itu akan menjadi bahan blog hari ini. Lho kok bukan tema sepakbola? Tenang, kita akan sampai di sana. Karena tulisan juga adalah buah pikir, dan tulisan tentang sepakbola, tentang Arsenal, tentu juga dipelopori oleh pikiran. Anggap saja “perjalanan” kali ini lewat rute yang sedikit berbeda, rute yang sedikit filosofis.

Nah maksud dari pepatah di atas adalah pikiran mendahului segalanya. Segalanya di sini termasuk: ucapan, tindakan, dan bahkan formasi mental. Formasi mental seperti perasaan sedih, senang, suka, tidak suka, benci, percaya diri, ragu, dan lain-lain terbentuk oleh pikiran. Lalu pikiran itu sendiri apa? Tidak akan dibahas di sini supaya tetap relevan dengan tema blog ini, tapi singkat kata ada pikiran sadar dan bawah sadar. Kedua bagian dari pikiran ini dibatasi oleh batas tipis yang namanya kesadaran, namun mereka akan saling “menyeberang” batas, berinteraksi dan saling mempengaruhi. Apa yang ada di bawah sadar ini saat kondisi tertentu terpenuhi, akan naik ke atas dan membentuk pikiran yang menjadi awal dari formasi mental. Maka manusia memiliki disposisi mental. Disposisi atau lebih mudahnya disebut bias pikiran ini yang membuat kita misalnya melihat sesuatu secara subjektif dan tidak sama satu sama lain. Misalnya kita yang fans Arsenal memiliki bias terhadap Arsenal. Kita akan merasa klub ini lebih baik dalam satu dan banyak hal dibanding klub lain dan fans lain yang memiliki bias yang berbeda tidak akan sependapat. Bias ini juga dapat menjelaskan mengapa ada AKB dan WOB di antara fans Arsenal.

Label adalah wujud yang lebih konkrit dari bias. Label AKB dan WOB yang menyederhanakan kelompok fans Arsenal yang berbeda pendapat menjadi dua kutub ekstrim: kelompok yang mendukung Wenger dan kelompok yang anti Wenger. Saat klub ini menang terus dan bertengger di puncak klasemen, label AKB-WOB akan lenyap sementara karena kelompok-kelompok fans Arsenal ini sedang menikmati tujuan bersama dan punya musuh bersama: 19 klub lainnya. Mereka akan bersatu. Ketika Arsenal mengalami kekalahan telak seperti saat melawan Liverpool kemarin dan turun ke peringkat kedua, label ini kembali muncul. Ingat yang di atas: kondisi tertentu terpenuhi, bias yang berada di bawah sadar akan naik atas dan membentuk formasi mental ini. Grup WOB akan muncul lagi dan mencela taktik Wenger, mental pemain, dan kebijakan transfer klub. Karena “kondisi tertentu” (baca: kekalahan) tersebut dipenuhi. Walaupun Arsenal sebenarnya masih berada sangat dekat dengan puncak klasemen.

Saat klub ini menang terus dan bertengger di puncak klasemen, label AKB-WOB akan lenyap sementara karena kelompok-kelompok fans Arsenal ini sedang menikmati tujuan bersama dan punya musuh bersama…

Bias pikiran di bawah sadar ini saat muncul di permukaan sadar, menjadi Persepsi. Persepsi yang adalah kumpulan bentuk-bentuk pikiran, dan menjadi sumber kita saat berpendapat, menulis, berucap, bertindak. Problemnya adalah persepsi tidak selalu sama dengan kenyataan. Persepsi bahkan sering menarik kita jauh dari kenyataan. Kenyataan yang kita ciptakan dalam pikiran kita tidak sama dengan kenyataan yang terjadi di dunia. Persepsi ini adalah apa yang ada di pikiran, bukan apa yang ada di kenyataan. Kita gagal melihat kenyataan ketika pikiran kita dipenuhi persepsi. Seperti saat kita memakai kacamata hitam, seluruh dunia akan terlihat bergradasi hitam, sehingga persepsi kita: dunia itu hitam. Kita tidak akan tahu dunia ini begitu berwarna bila kita terlalu terikat dengan persepsi dan lupa melepas “kacamata hitam”.

Bingung? Mari kita berikan contoh yang lebih konkret.

Persepsi: Arsenal in crisis! Kekalahan telak Arsenal dari Liverpool membuyarkan mimpi mereka menjadi juara! Arsenal tidak pantas menjadi juara EPL!

Demikianlah headline media setelah kekalahan telak tersebut.

Kenyataan: Arsenal bertengger di peringkat kedua klasemen, hanya selisih satu poin dari Chelsea dan masih di atas Manchester City. Dua klub ini dipercaya mutlak hampir semua media sebagai calon kuat juara, sementara Arsenal berada di antaranya tapi tidak dianggap sama sekali. Dan dengan hasil seri Chelsea kemarin melawan WBA, Arsenal bisa dengan mudah naik lagi ke peringkat pertama jika mengalahkan MU malam ini.

Persepsi akan membesar-besarkan sesuatu sesuai bias kita. Bila memang mereka tidak percaya Arsenal tidak punya kans menjadi juara sejak awal musim ini, mereka cenderung akan memiliki bias tersebut sampai akhir musim, sampai kenyataan Arsenal memegang trofi juara terjadi. Maka ketika kekalahan telak tersebut terjadi, persepsinya bahwa Arsenal bukan tim kandidat juara tiba-tiba menemukan sebuah pendukung yang kuat. Nah apa gue bilang, Arsenal mana mungkin bisa jadi juara, dibantai Liverpool gitu. Dalam sekejap mereka mengabaikan hasil di 24 pertandingan sebelumnya yang mengantarkan Arsenal di posisi nomor satu tersebut. Satu kenyataan yang mendukung persepsinya akan dibesar-besarkan dan 24 kenyataan yang tidak sesuai persepsinya akan dikecil-kecilkan. Demikianlah cara kerja pikiran.

Kenyataan bahwa Wenger memberikan 3 gelar juara liga di masa lampau, dan kenyataan bahwa tim yang juara EPL setelah itu adalah tim yang memiliki budget belanja terbesar di liga (satu klub super kaya dan dua klub sugar daddy) diabaikan begitu saja.

Tentunya kita tidak bisa menyalahkan mereka, hal seperti ini terjadi bukan tanpa dasar. Delapan tahun tanpa trofi dan sembilan tahun tanpa gelar juara liga menjadi jejak rekam yang akan ikut membentuk persepsi ini. Apalagi untuk WOB yang anti Wenger. Pengalaman masa lalu di mana tim-tim Wenger pasca Highbury yang selalu nyaris juara tapi tak pernah juara membentuk persepsi mereka yang kuat bahwa tim di bawah Wenger tak mungkin lagi juara. Kenyataan bahwa Wenger memberikan 3 gelar juara liga di masa lampau, dan kenyataan bahwa tim yang juara EPL setelah itu adalah tim yang memiliki budget belanja terbesar di liga (satu klub super kaya dan dua klub sugar daddy) diabaikan begitu saja. Dalam hal ini persepsi mengalahkan kenyataan.

Nah mari kita coba membahas seobjektif mungkin apa itu kenyataan dalam kekalahan 5-1 dari Liverpool akhir pekan lalu.

1. Dua set pieces yang mengubah arah pertandingan

Konsentrasi tidak penuh pemain Arsenal di awal pertandingan berbuah fatal. Ketinggalan 2-0 demikian cepat membuat mereka harus keluar menyerang dan menjadi sasaran empuk kecepatan striker Liverpool. Bila kita cermati pertandingan Arsenal musim ini, tim ini cenderung bermain tenang tapi disiplin di babak pertama dan baru mencetak gol di babak kedua. Modalnya adalah pertahanan kokoh. Dalam sekejap duet CB terbaik musim ini diporak-porandakan oleh Liverpool karena konsentrasi lemah di awal pertandingan dan strategi Arsenal harus berubah. Mereka harus menyerang di babak pertama untuk mengejar ketertinggalan dan malah tertinggal lebih jauh.

2. Kelambanan yang dieksploitasi oleh kecepatan

Duet CB Arsenal walau terkokoh bukan yang tercepat di liga. Dan dua fullback yang dipasang malam itu juga bukan pemain yang larinya cepat. Gibbs dan Jenkinson umumnya lebih cepat daripada Monreal dan Sagna. Hal ini dieksploitasi oleh Liverpool yang memasang tiga striker cepat: Suarez, Sturridge dan Sterling. Kalau masih kurang yakin, bahkan inisial nama ketiganya adalah Trio S, Speed. Bila Arsenal hanya punya satu Walcott dan itu sudah ditakuti Barcelona, Liverpool punya 3 Walcott, bahkan dalam bentuk versi yang lebih mutakhir. Gol ketiga dan keempat Liverpool berawal dari Ozil yang kehilangan bola dan salah mengoper, namun tidak kurang kontribusinya juga adalah dua fullback yang sedang di posisi maju, dan kelambanan Arteta, Mertesacker dan Koscielny dibanding pemain penyerang Liverpool.

Kecepatan Liverpool sebenarnya bisa di-counter dengan memperlambat tempo permainan. Namun ketinggalan dahulu membuat pemain Arsenal tidak sabar dan meninggalkan rencana itu.

3. Pressing dan semangat memulai pertandingan yang berbeda

Arsenal bisa kehilangan bola di tengah lapangan karena pressing pemain Liverpool yang intens, yang mirip dengan gegenpressing Dortmund. Arsenal mungkin memulai pertandingan ini bukan dalam kondisi mental yang sebaik saat melawan Dortmund. Mungkin karena pernah mengalahkan Liverpool di kandang dengan cukup nyaman, pemain-pemain Arsenal di pertandingan ini sedikit nyantai. Tidak ada pressing tinggi di awal pertandingan, Giroud yang biasanya mengejar lawan terlihat santai, demikian juga pemain lainnya. Setelah tertinggal, Arsenal bermain terburu-buru untuk mencetak gol. Tidak ada passing-passing santai sambil mencari celah. Keterburu-buruan itu dikombinasikan dengan pressing tinggi dan intens Liverpool berbuah dua counter attack yang menghabisi peluang Arsenal untuk kembali di pertandingan ini.

Singkat kata, Arsenal bertemu bogey team-nya malam itu dalam bentuk Liverpool. Seperti api yang ketemu air, taktik dan formasi Arsenal diredam dengan cerdik oleh Liverpool. Ditambah dengan turunnya performa dan semangat beberapa pemain Arsenal, telaklah kekalahan yang didapatkan.

Arsenal bisa memenangkan pertandingan ini bila mereka tidak tertinggal lebih dahulu, perlahan membangun dominasi dan bermain lebih dalam. Menunggu Liverpool lelah dan frustrasi di babak kedua dan kemudian menyerang pertahanan mereka yang tidak terkenal kokoh. Namun dua set pieces tersebut mengubah segalanya.

Kenyataannya adalah Arsenal kalah telak lawan Liverpool. Kalah taktik dan kalah semangat. Tiga poin gagal didapatkan. Selain itu tidak perlu ada bumbu lainnya. Arsenal tetap di peringkat kedua, bisa kembali di peringkat pertama malam ini, dan masih berpeluang di perebutan juara liga musim ini. Walau kalah dari Liverpool, peringkat Arsenal masih di atas Liverpool dengan beda perolehan poin yang cukup signifikan. Arsenal tim yang lebih baik sepanjang musim tapi lebih buruk malam itu. Selain itu adalah persepsi belaka, ciptaan bias pikiran masing-masing.

Manchester United

Persepsinya adalah ini tim juara bertahan, punya mental juara. Kenyataannya adalah tim ini masih bertengger di peringkat ketujuh dan masih kesulitan menemukan form musim lalu. Tim ini sesungguhnya adalah team in crisis. Karena bila United tidak lolos ke UCL musim ini, maka semakin sulit bagi mereka merekrut pemain-pemain top Eropa. Kecuali jika mereka mau membayar gaji pemain barunya dua kali lipat ala City beberapa musim lalu. Namun kondisi keuangan MU yang dililit utang akibat pembebanan pribadi dari Glazers tidak memungkinkan itu. Moyes mesti berjuang untuk bisa finish di peringkat keempat, namun hal itu semakin hari semakin sulit. Apalagi melihat performa klub-klub top four saat ini, yang lebih kuat daripada musim sebelumnya.

Nah melawan United malam ini, Arsenal mesti melupakan kekalahan melawan Liverpool secara mental tapi mengingat jelas kesalahan-kesalahan yang dilakukan saat itu. Kenaifan taktik di lapangan tentu telah diulas Wenger sebelum pertandingan ini. Mereka tidak boleh kecolongan dari set pieces lagi. Konsentrasi mesti 110% saat bertahan dari set pieces. Gol semata wayang United paruh musim ini juga dari set pieces. Selain itu Arsenal mesti mengantisipasi crossing United karena sepertinya itulah satu-satunya taktik permainan tim Moyes. Mereka bermain lewat sayap yang memberikan umpan lambung ke dalam kotak penalti.

Kembali ke basic, bermain tenang seperti saat melawan klub-klub papan tengah, tidak terpengaruh dengan persepsi tim juara bertahan. Selama Arsenal bisa menempatkan calon lawannya ini di tempatnya yang pas (tim papan tengah saat ini), tidak terlalu takut dengan mantan kapten Judas-nya, maka Arsenal bisa meraih tiga poin malam ini. Bukannya meremehkan, tapi kenyataannya tim ini kalah oleh Stoke City di awal Februari dan sudah kalah delapan kali di liga musim ini. Kapan lagi saat yang tepat untuk membuktikan kepada si pembelot bahwa “arah dan ambisi” klub ini sudah benar, tidak seperti yang ia duga. Siapa yang menyangka kalau “arah dan ambisi” klub barunya itu ternyata malah tidak sesuai “persepsi”-nya setelah bergabung satu musim.

Selama Arsenal bisa menempatkan calon lawannya ini di tempatnya yang pas (tim papan tengah saat ini), tidak terlalu takut dengan mantan kapten Judas-nya, maka Arsenal bisa meraih tiga poin malam ini

Soal Ozil, malam di Anfield tersebut tentunya adalah malam terburuk baginya musim ini. Namun itu tidak serta merta membuatnya menjadi pemain buruk. Untuk seorang pemain baru, penampilannya musim ini termasuk relatif mulus kecuali malam itu. Setiap pemain pasti akan mengalami masa seperti itu. Yang perlu dilakukan fans dan sudah pasti dilakukan manager dan rekan-rekannya adalah memberikannya kepercayaan penuh dan terus mendukungnya. Mudah-mudahan kita berharap ia akan memberikan penampilan terbaiknya malam ini. Dan mulai mencetak gol, seperti harapan Wenger.

Untuk formasi lainnya, sebagaimana kata Wenger sendiri, saya prediksi tidak akan perubahan berarti.

After a big disappointment like that you always sit there, thinking, ‘Do I make five or six changes or do I give them a chance to show it was just an accident?’ And most of the time you give the players a chance, especially if they have done well before.

If there is a continuity of a bad patch you have to change things, but if it is just one game, most of the time you give the players a chance to [put things right].

Back four yang sama mungkin akan dipertahankan dan mungkin Gibbs masuk menggantikan Monreal. Arteta tetap dipasang karena Flamini masih dilarang bermain. Wilshere akan menemaninya di tengah dan satu-satunya kemungkinan penggantian pemain adalah posisi Chamberlain. Wenger bisa memilih Rosicky, Gnabry ataupun Podolski. Bila Wenger memilih Rosicky, kemungkinan Cazorla akan diganti Podolski di kiri. Namun rasanya Wenger akan memilih stabilitas dan performa Cazorla yang semakin membaik sebelum pertandingan melawan Liverpool tersebut.

Prediksi line up: 

Szczesny – Sagna, Mertesacker, Koscielny, Gibbs – Arteta, Wilshere, Ozil – Chamberlain, Giroud, Cazorla

Subs: Fabianski, Jenkinson, Monreal, Rosicky, Bendtner, Podolski, Sanogo

Advertisements

Jarak Antara Harapan dan Kenyataan adalah Kekecewaan

Judul di atas adalah pepatah filosofis yang mungkin bisa digunakan untuk panduan kehidupan sehari-hari.

  • Jarak antara harapan dan kenyataan adalah kekecewaan.
  • Semakin tinggi harapan kita, semakin besar kekecewaan kita atas kenyataan yang tidak sesuai harapan.
  • Semakin kita tidak berharap, semakin mudah kita dapat menerima kenyataan. 

Postulat di atas bukan hak paten Jalan Arsenal. Bukan pertama kali dan pasti bukan untuk yang terakhir kalinya postulat di atas mengenai harapan, kenyataan dan kekecawaan akan Anda baca dalam hidup. Selalu ingatlah akan kalimat-kalimat di atas setiap Anda mengalami kekecewaan. Pasti akan berguna.

Pada tulisan terakhir di blog ini, preview pertandingan Manchester United vs Arsenal, Jalan Arsenal meramalkan pertandingan itu akan menjadi panggung untuk Özil. Sayangnya hal itu tidak terjadi. Serangan virus sebelum pertandingan yang memakan 4 korban (Mertesacker, Rosicky, Gnabry dan Arteta) mengakibatkan Mertesacker dan Rosicky harus dipulangkan lebih awal. Arteta dan Gnabry berhasil mengatasi rasa sakitnya dan akhirnya masuk ke skuad hari itu. Serangan virus itu ternyata tidak terbatas pada keempat pemain tersebut. Özil setelah pertandingan dikabarkan juga mengalami hal yang sama. Mungkin itu salah satu sebab mengapa penampilannya tidak optimal sepanjang pertandingan.

Terlepas dari serangan virus tersebut, Wenger tidak mau mencari kambing hitam di luar penampilan timnya sendiri. Menurut Wenger, para pemain Arsenal tampil agak gugup di babak pertama. Di babak kedua mereka tampil lebih baik walaupun mengejar ketertinggalan dari tim juara bertahan tampaknya lebih berat daripada tugas Arsenal di pertandingan-pertandingan sebelumnya. Kegugupan pemain-pemain Arsenal menurut Wenger disebabkan oleh catatan masa lalu hasil pertandingan Arsenal di Old Trafford. Menang hanya 3 kali selama 15 tahun jelas bukan hasil yang dapat dibanggakan. Masalah psikologis ini ternyata lebih berat daripada yang kita bayangkan.

Dalam tulisan yang lalu, saya menyebutkan beberapa faktor yang mesti diatasi Arsenal untuk dapat menang di kandang MU:

“Selama Arsenal bisa membatasi jumlah tendangan bebas dan sudut untuk MU, menjaga konsentrasi penuh saat bertahan sebagaimana dua pertandingan terakhir, dan tidak memberikan MU respek yang berlebihan, Arsenal mestinya bisa menang malam ini.”

Sayangnya ketiga hal ini tidak dapat dilakukan Arsenal malam itu. Arsenal memberikan mereka tendangan sudut berulang kali dan duo SAS (Shrek and Skunk) memanfaatkannya dengan sangat baik. Tendangan sudut Rooney ke area luar zonal marking Arsenal yang berbuah gol (dicetak oleh pemain yang tak boleh disebut namanya) tentunya adalah hasil latihan mereka yang telah mempelajari pertahanan zonal marking Arsenal terhadap bola-bola mati. Demi mengalahkan Arsenal, Moyes melatih MU bak melatih tim seperti Stoke City. Mereka tahu sulit untuk mengalahkan Arsenal dalam permainan terbuka dan kesempatan terbesar adalah dengan memanfaatkan setplay. Rooney sendiri mengakui hal tersebut setelah pertandingan bahwa kelemahan Arsenal ada pada ukuran tinggi pemainnya. Ketidakhadiran Mertesacker memperbesar kelemahan ini. Stoke City 1 – 0 Arsenal.

Demi mengalahkan Arsenal, Moyes melatih MU bak melatih tim seperti Stoke City…

Setelah gol tersebut, di babak kedua praktis MU bermain bertahan dengan sesekali melakukan serangan balik. Dan mereka bertahan dengan sangat baik. Arsenal bermain lebih buruk daripada dua pertandingan sebelumnya. Faktor kelelahan ditambah serangan virus tersebut tampaknya mulai berdampak di babak kedua. Ramsey melakukan banyak sekali kesalahan dalam operan sehingga persentase keakuratan operannya adalah yang terendah sepanjang musim ini, sekitar 60%. Giroud frustrasi sejak babak pertama karena foul-foul kecil pemain MU tidak mendapatkan perhatian wasit. Özil baru tampak “hidup” di babak kedua, namun sayangnya tidak diimbangi dengan penampilan rekan-rekannya. Sementara itu di sisi kanan, Sagna terus memborbardir pertahanan MU dengan crossing-crossing yang sangat bagus tanpa adanya pemain Arsenal di ujung umpan lambung. Bendtner masuk dan tidak memberikan kontribusi apapun. Gnabry masuk dan membuat serangan Arsenal lebih hidup namun agak terlambat. Mungkin salah satu sebab ia tak masuk lebih awal daripada Bendtner adalah serangan virus yang menimpa dirinya. Di saat-saat seperti ini, kita berharap adanya pemain seperti Podolski dan Walcott yang mampu menambah daya gempur lini depan Arsenal. Sayang kedua pemain tersebut demikian lama absen musim ini. Kembalinya kedua pemain tersebut nantinya akan dirayakan seperti pemain baru, like a new signing.

Vermaelen yang menggantikan Mertesacker bermain cukup baik namun absennya ia dari skuad utama Arsenal dalam waktu yang cukup lama ada dampaknya. Pemain Arsenal lainnya rasanya sedikit kurang percaya dengan pertahanan Arsenal tanpa Mertesacker. Ketidakpercayaan ini berakibat di babak pertama, serangan yang dibangun kurang berani karena terlalu berhati-hati. Ini yang dimaksud Wenger dengan kegugupan. Pemain Arsenal bermain dengan rem tangan yang diaktifkan. Mudah-mudahan penampilan Vermaelan yang cukup baik akan menumbuhkan kepercayaan rekan-rekan terhadap dirinya dan menghilangkan kekhawatiran berlebihan ini di pertandingan-pertandingan berikutnya.

Pendek kata, pertandingan ini adalah pertandingan yang sangat mengecewakan karena hasilnya. Mengecewakan lebih-lebih karena harapan fans dan pemain Arsenal yang semakin percaya diri musim ini adalah tiga poin untuk dibawa pulang. Jarak antara harapan dan kenyataan adalah kekecewaan. Karena harapan 3 poin dan hasilnya pulang tanpa poin, kekecewaan itu makin besar. Bila harapannya hanya 1 poin, mungkin kekecewaan yang terjadi tidak akan begitu besar. Jarak ini subyektif, dan kita tentukan sendiri. Pengaturan ekspektasi konon menjadi cara mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan ini.

Karena harapan 3 poin dan hasilnya pulang tanpa poin, kekecewaan itu makin besar. Bila harapannya hanya 1 poin, mungkin kekecewaan yang terjadi tidak akan begitu besar.

Hal positifnya adalah tim ini memberikan harapan yang lebih besar karena memang kita melihat mereka mampu melakukan itu. Sebuah progress dalam hal relasi dan kepercayaan antara tim dan fans Arsenal, yang dalam beberapa musim ini tidak begitu baik. Datang ke MU dan mengambil maksimal poin mungkin tidak berani dimimpikan fans Arsenal musim lalu. Musim ini beda. Kita yakin menang dan akhirnya harus kalah dengan satu gol dari setplay. Kita membuat duo SAS MU yang katanya lebih dahsyat daripada duo SAS Kw Liverpool itu hanya mampu mengancam lewat bola mati ala Stoke City. Kita menyelesaikan pertandingan itu dalam posisi di atas angin walaupun tanpa hasil. Kebobolan hanya satu gol dalam tiga pertandingan besar berturut-turut (dalam satu minggu) dengan hasil 2 kali menang dan 1 kali kalah mungkin akan memberikan perspektif yang lebih baik. Saya memprediksi hasil ronde pertama November Rain ini adalah 2 seri dan 1 menang, total 5 poin. Arsenal berhasil meraih 6 poin dari 2 menang, 1 kalah. Kenyataan ini sudah melebihi harapan saya, maka semestinya saya happy. Bagaimana dengan Anda?

…duo SAS MU yang katanya lebih dahsyat daripada duo SAS Kw Liverpool itu hanya mampu mengancam lewat bola mati ala Stoke City…

Kekecewaan yang tersisa buat saya pribadi adalah gagalnya pertandingan tersebut menjadi panggung untuk Özil. Mungkin prediksi saya terlalu cepat. Seorang pemain yang baru mencicipi Liga Inggris kurang lebih 2 bulan dibebani tugas memimpin timnya menang atas juara bertahan di kandang mereka, mungkin terlalu cepat. Bergkamp melakukannya di Highbury saat melawan Southampton. Pertandingan berikutnya Arsenal secara kebetulan adalah pertandingan di kandang melawan Southampton. Özil punya kesempatan minggu depan untuk membuktikan dirinya sebagai pewaris resmi mahkota Bergkamp. Kalaupun itu tidak terjadi, masih ada minggu-minggu berikutnya. 🙂

Kegagalan mengakhiri musim United secara dini mungkin sedikit kita sesali, tapi sisi positifnya juga ada. Rasanya kurang seru juga bila juara bertahan tumbang di awal kompetisi. Hadirnya kembali United di persaingan puncak liga akan berdampak bagus juga untuk Arsenal. United akan mampu mencuri poin dari tim-tim seperti Chelsea, Manchester City, Liverpool, para pesaing juara musim ini. Toh kita juga tak mungkin menjadi juara musim ini di Old Trafford karena jadwal pertandingannya di bulan November ini. United kita butuhkan untuk “merampok” beberapa poin dari para pesaing juara liga Inggris di musim ini. Untuk itu, kita butuh mereka tetap kompetitif. Selisih lima poin pas rasanya, tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat. Selisih sebelas poin, Ferguson akan bangkit dari kubur untuk menggantikan Moyes.

Selisih sebelas poin, Ferguson akan bangkit dari kubur untuk menggantikan Moyes.

Untuk menghibur fans Arsenal selama satu minggu ini, Jalan Arsenal akan menampilkan cuplikan-cuplikan dari biografi Dennis Bergkamp, Stillness and Speed, tentunya dalam Bahasa Indonesia. Diawali dengan resensi, beberapa chapter dari biografi tersebut akan ditampilkan di sini. Bagi yang tidak mau kena spoiler, disarankan jangan baca. Namun saya akan sebisa mungkin menulis artikel soal Bergkamp sebagaimana membuat sebuah teaser, trailer fillm. Harapannya dengan adanya artikel-artikel soal Bergkamp yang disadur dari biografinya akan semakin menarik fans Arsenal untuk membeli buku itu sendiri. Toh biografinya bukan seperti cerita fiksi, rasanya tidak ada spoiler yang perlu dikhawatirkan mengingat sebagian besar fans Arsenal pasti mengetahui jalan hidup Bergkamp. Tidak jauh dari Jalan Arsenal.

Saat ini biografi Dennis Bergkamp tersebut hanya tersedia dalam bahasa Inggris. Mudah-mudahan nanti ada penerbit Indonesia yang tertarik. Siapa yang punya link penerbit? Saya sih siap membantu menerjemahkan bila perlu. Permata yang berharga ini sangat sayang bila “disimpan” oleh kalangan terbatas. Apa yang ada di pikiran Bergkamp wajib diketahui seluruh fans Arsenal, tanpa perlu menguasai bahasa Inggris. Semoga ada penerbit buku Indonesia yang juga menjadi fans Arsenal. Kita boleh berharap, namun ingat jangan kecewa ya. Karena jarak antara harapan dan kenyataan adalah kekecewaan. Be Happy!