Dennis Bergkamp, The Perfect Ten

Pengunjung rutin blog ini dan follower akun twitter @benhan tentu tak perlu tanya lagi “pemujaan” saya terhadap Dennis Bergkamp. Namun jangan khawatir, saya masih cukup waras untuk menganggap Dennis Bergkamp sebagai seorang manusia. Ia jelas bukan Tuhan dalam definisi kaum-kaum beragama. Namun bagi sebagian kelompok yang menganggap sepakbola sejajar agama (dalam hal kefanatikan bukan soal Kebenaran Absolut), maka figur seorang pesepakbola bisa menjadi Tuhan mereka. Dan bagi sebagian fans Arsenal, Dennis Bergkamp is God.

Dennis Bergkamp sendiri adalah seorang Katolik yang taat, ia tak terlalu mempedulikan status “Tuhan” yang ia miliki di antara fans Arsenal. Walaupun ia sendiri percaya kepada Tuhan konvensional (Tuhan agamanya), ia adalah tipikal pemain yang dalam persepsi Wenger juga menganggap sepakbola sebagai “Tuhan”. Menurut Wenger ada tipe pemain yang melayani sepakbola seperti ia melayani Tuhan. Mereka meletakkan sepakbola sedemikian tinggi sehingga apapaun yang tidak dekat dengan bagaimana seharusnya sepakbola itu dimainkan, tidak dapat diterima. Wenger percaya Dennis Bergkamp begitu menghormati sepakbola sehingga ia melatih dirinya untuk menjadi sesempurna mungkin bukan demi egonya, tapi demi the game, sepakbola itu sendiri.

I believe that Dennis was one of those who had such a high idea of the game and such a respect for the game that he wanted that to be above everything.

I believe that the real great players are guided by how football should be played and not by how football should serve them. If it becomes spiritual, it’s endless and you’re always driven to going higher and getting closer to what you think football should be.

Membaca biografi Dennis Bergkamp yang pertama kali diotorisasi olehnya, Stillness and Speed, maka kita akan semakin yakin dengan persepsi Wenger di atas. Bergkamp adalah figur pesepakbola perfectionist yang tidak egois. Ia memilih menjadi assister daripada scorer, terutama di fase final karirnya, bukan karena ia tak mampu lagi mencetak gol namun karena ia lebih menikmati memberikan operan sempurna untuk rekannya. Ia juga tidak terobsesi dengan pamer skill yang umumnya dilakukan pemain bertalenta. Ia tidak suka dribbling, menggocek bola untuk mengalahkan lawan. Namun ia terobsesi dengan kontrol bola. Tentang bagaimana menghentikan bola dengan first touch, mengendalikan putaran dan gerakan bola, lalu memberikan operan terukur sesuai visi di kepala.

Dalam biografi tersebut, Wenger kembali memberikan contoh bagaimana seorang pemain yang mestinya mengoper bola kepada rekannya malah melakukan tembakan spekulasi dan berhasil mencetak gol.

If he really loves the game he’ll go home and worry about it. He’ll know he really should have passed to set up an easy chance for someone else. But he was selfish and got lucky. If he doesn’t care about the game he’ll go home and think: ‘That was great – I’ll do the same next time.’

Bila ia benar-benar mencintai sepakbola, ia akan pulang dan menyesali hal tersebut. Ia tahu seharusnya ia mengoper untuk memberikan kesempatan mencetak gol yang lebih mudah kepada rekannya. Tapi ia egois dan beruntung. Jika ia tak peduli pada sepakbola, ia akan pulang dan berpikir: “Yang tadi bagus, akan kuulangi lagi lain kali.”

Dan Wenger menutup pengamatannya itu dengan pesan:

That’s why you have to teach the kids to respect the game and treat the game a little bit like a religion, that is above you, where you want to serve the game.

Anak-anak mesti diajarkan untuk menghormati dan memperlakukan sepakbola seperti agama, bahwa Ia ada di atas dirimu, di mana kamu ingin melayani sepakbola.

Sebagian pesepakbola mungkin menganggap sepakbola hanyalah sebagai mata pencaharian. Banyak yang begitu. Bendtner misalnya, memilih mendapatkan gaji tinggi di Arsenal tanpa harus bermain daripada harus pindah ke klub yang lebih kecil namun menawarkan kesempatan membangkitkan kembali karirnya. Namun bagi Bergkamp, sepakbola bukan sekedar mata pencaharian. Ia tak pernah termotivasi oleh uang. Gajinya di Arsenal sempat dipotong karena ia menolak terbang, dan ia menerima gaji yang lebih kecil lagi di penghujung karirnya karena ia bermain lebih jarang. Namun ia tidak keberatan selama ia bisa memainkan permainan yang dicintainya ini, dengan rekan-rekan yang mengerti visi sepakbolanya, di bawah pelatih yang mempunyai visi sepakbola yang sama. Bergkamp mengakhiri karir sepakbolanya di Arsenal, dalam usia 37 tahun dan mendapatkan pertandingan testimonial sebagai penghargaan pengabdian 10 tahunnya, sesuatu yang tidak pernah didapatkan Henry maupun Vieira di Arsenal.

Testimonial Dennis Bergkamp, Last Game for Arsenal

Masa Kecil

Bergkamp tidak lahir dan dibesarkan di keluarga yang miskin. Tidak pula dari keluarga yang berantakan. Ia tidak memiliki masa kecil yang pahit yang umumnya bisa menjadi pendorong ambisi pesepakbola-pesepakbola besar dalam meraih prestasi. Bergkamp lahir dari keluarga biasa, keluarga Katolik yang taat dan bersama ketiga saudaranya mengecap pendidikan yang cukup. Ia bukan anak berandalan di sekolah, cenderung pendiam dan tidak memiliki banyak teman di sekolah karena menurutnya ia telah mendapatkan teman dari kakak-kakaknya yang usianya cukup dekat. Dan sebagaimana para pesepakbola profesional, Bergkamp menghabiskan masa kecilnya dengan bermain sepakbola dengan anak-anak sebaya di lingkungannya. Di lapangan beton ataupun lapangan hijau. Perbedaannya ada pada obsesinya sejak kecil terhadap kontrol bola.

Berbeda dengan rekan-rekannya yang bermain bola untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang menyenangkan, ketertarikan Bergkamp terhadap sepakbola ada pada level yang lebih serius. Ia ingin tahu bagaimana reaksi bola bila ditendang dengan cara yang berbeda. Tembok di dekat rumahnya menjadi tempat eksperimen kecilnya. Bergkamp akan menendang bola ke tembok dan pantulan bola akan coba dikendalikan dengan kakinya untuk dipantulkan kembali. Ia lalu mulai mengerti tentang sudut pantulan bola, tentang putaran bola, tentang cara efektif menghentikan bola hasil pantulan. Ia belajar banyak dari eksperimen dengan bola dan tembok tersebut. Hasil eksperimen dari masa kecil tersebut akhirnya memberikan momen-momen sepakbola yang tak terlupakan bagi seluruh pencinta sepakbola. Gol di Piala Dunia melawan Argentina, melawan Newcastle di Liga Inggris, adalah hasil dari kontrol bola yang sempurna. Sesuatu yang dimulai dari masa kecilnya akhirnya memberikan hasil di panggung yang didambakan semua pemain sepakbola. Sebuah mimpi masa kecil yang menjadi nyata.

Mukjizat

Tuhan identik dengan Mukjizat, Miracles. Saya rasa berawal dari sanalah status “Tuhan” Bergkamp. Ia menghadirkan mukjizat demi mukjizat yang tidak pernah dilihat fans Arsenal sebelumnya. Ia mulai dari dua gol pertamanya melawan Southampton di bulan September. Yang pertama adalah volley ke sudut jauh gawang dan yang kedua tendangan keras ke tiang dekat gawang, membentur tiang dan masuk. Lalu hattrick pertamanya melawan Leicester City mengisi urutan pertama, kedua dan ketiga goals of the week. Golnya saat melawan Newcastle, yang menipu Niko Dabizas dengan arah bola dan arah putaran dirinya yang bertolak belakang menjadi gol terbaik Arsenal sepanjang masa. Golnya di Piala Dunia 1998 saat melawan Argentina menjadi salah satu gol terbaik Piala Dunia sepanjang masa.

Namun bukan hanya gol yang menjadi mukjizat Bergkamp. Fans Arsenal beruntung karena Bergkamp menjadi The Perfect Ten di Arsenal. Bermain sebagai shadow striker, dan perlahan-lahan menjadi playmaker, Bergkamp menunjukkan bahwa kemukjizatan di lapangan hijau tidak hanya monopoli sebuah gol. Dan fans Arsenal pun belajar mengapresiasi keindahan sebuah assist, atau pre-assist. Assist Bergkamp kepada Ljungberg di pertandingan liga Champions menjadi puncak mukjizat sebuah operan. Menggocek bola di depan tiga pemain Juventus, Bergkamp menunggu dan menunggu Ljungberg bergerak. Lima detik ia menunggu sambil menggerakkan bola ke sana kemari dan saat momennya tiba, saat Ljungberg bergerak, bola dioper dan mendarat persis di depan kaki Ljungberg untuk kemudian menjadi gol.

Di akhir karirnya bersama Arsenal, Dennis Bergkamp mencetak 120 gol dan 124 assist. Setiap assistnya tidak kalah cantiknya dengan setiap golnya. Dan tidak ada gol atau assistnya yang sifatnya kebetulan. Dalam bukunya, ia menjawab pertanyaan soal apakah golnya mengandung unsur keberuntungan. Hebatnya, ia mengatakan ia mengingat setiap momen golnya dan pikiran yang terjadi sebelumnya. Gol mukjizatnya terjadi sesuai gagasan di kepalanya sebelum ia melakukannya. Gol terhadap Argentina itu misalnya, ia tahu persis ia hanya boleh melakukan tiga sentuhan, ia tahu persis ia harus menghentikan bola di udara terlebih dahulu, lalu harus membawa bola ke dalam sambil mengecoh pemain bertahan, dan mencetak gol menggunakan sisi luar dari kaki kanannya. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana di kepalanya. Saat ditanya golnya melawan Newcastle apakah memang direncanakan, ia balik bertanya, “Menurutmu bagian mana dari gol tersebut yang tidak saya rencanakan?” dengan gaya khas kepercayaan diri (bukan arogansi) pesepakbola Belanda.

Bergkamp melayani sepakbola sebagaimana ia melayani Tuhan. Karena visi spiritual tersebutlah, ia bisa menghadirkan kemukjizatan di lapangan hijau, yang membawa para pemujanya menganggapnya Tuhan. Tuhan bekerja secara misterius, dan mungkin inilah salah satu cara-Nya. Sebuah siklus yang terhubung kembali di lapangan hijau. Para penonton sepakbola yang umumnya melampiaskan emosi di stadion dengan mengumpat dan bernyanyi kencang-kencang, serentak terdiam, terhipnotis oleh momen yang dihadirkan oleh seorang Dennis Bergkamp. Sebuah momen Ilahi yang menghentikan waktu, mematikan seluruh komentar pikiran. Saat itu hanya ada Dennis Bergkamp dan bola yang bergerak pelan sesuai kehendak-Nya. Tidak ada komentar pikiran, distorsi suara, kita hanya melihat Dennis Bergkamp dalam kemukjizatan. Saat melihat hanya melihat, mencerap hanya mencerap, dan merasa hanya merasa. Saat pikiran berada pada saat kini, bukan pada masa lalu atau masa depan. Saat itu sepakbola terangkat amat tinggi, melebihi segala keegoisan manusia, menembus segala bias identitas diri, lawan maupun kawan semua hanya merasakan satu perasaan, kekaguman pada sesuatu yang di luar nalar manusia.

Tulisan ini saya akhiri di sini sebagai pembuka rangkaian tulisan mengenai Dennis Bergkamp. Tulisan berikutnya adalah resensi biografi Dennis Bergkamp, Stillness and Speed yang kemudian akan disambung dengan beberapa artikel yang bersumber pada buku tersebut. Kategori “Dennis Bergkamp” akan membedakan artikel-artikel ini dari “Catatan Harian” umumnya. Tulisan ini merupakan bagian dari aktualisasi kekaguman saya kepada Dennis Bergkamp, yang kemudian menumbuhkan kecintaan saya kepada Arsenal. Melakukan sesuatu yang kita cintai, adalah hal yang paling membahagiakan! Dan kebahagiaan seperti ini tidak akan pernah habis walau dibagikan.

I really like Arsenal. But you, do you like Arsenal? Or just Arsenal with Trophies?

Advertisements

Panggung untuk Özil

Preview Manchester United vs Arsenal, 10 November 2013 11.10 pmSun back page   Ozil  We ll end United s season

Pagi ini Inggris diramaikan dengan headline tabloid The Sun di atas. Headline sensasional yang menyebutkan kalau Özil akan mengakhiri musim United secara dini pada pertandingan hari ini. Ternyata setelah dibaca isi beritanya, sama sekali tidak ada kata-kata dari Özil yang seperti itu. Özil hanya mengatakan kalau Arsenal akan ke United dengan target untuk menang. Seperti biasa, wartawan melakukan spin atas kutipan Özil agar tabloidnya laku di hari big match ini.

Di luar sensasi spin yang tentunya akan memancing kemarahan fans United, headline tersebut di lain sisi juga mengindikasikan kepercayaan diri penuh pemain Arsenal dan media yang mulai menganggap serius kekuatan Arsenal musim ini. Posisi unggul 5 poin di puncak klasemen dan kemenangan sensasional tengah pekan atas Dortmund telah sedikit banyak mengubah persepsi media Inggris yang awalnya skeptis dengan peluang Arsenal menjadi juara liga. Posisi United yang terpisah 8 poin saat ini dengan Arsenal dan berpotensi menjadi 11 poin bila kalah malam ini membuat wartawan berani menulis headline seperti itu. Dan memang bila MU kalah malam ini, misi untuk mengejar ketertinggalan 11 poin akan terasa lebih berat walau bukan mustahil.

Posisi unggul 5 poin di puncak klasemen dan kemenangan sensasional tengah pekan atas Dortmund telah sedikit banyak mengubah persepsi media Inggris yang awalnya skeptis dengan peluang Arsenal menjadi juara liga

Pertanyaannya adalah bisakah Arsenal menang dari Manchester United di kandangnya? Selama era Wenger, Arsenal hanya mampu menang 3 kali di Old Trafford di kompetisi liga Inggris. Pertama kali saat musim double pertama 1997/1998 dengan solo gol dari Overmars. Kedua di musim double kedua 2001/2002 lagi-lagi dengan solo gol dari Wiltord yang sekaligus memastikan Arsenal menjadi juara liga musim itu. Yang terakhir di musim 2006/2007 dengan gol dari Adebayor hasil assist Cesc Fabregas. Tiga kemenangan 1-0 selama 16 musim mencerminkan sulitnya mengalahkan Manchester United di kandangnya, di era Ferguson.

United boleh saja ganti pelatih, dan hal itu sedikit mengganggu perjalanan mereka di awal musim. Namun mereka tetap masih menyandang status juara bertahan dengan komposisi pemain yang tidak berkurang dari musim lalu, malah diperkuat dengan Fellaini dan Adnan Januzaj. Saat ini penampilan mereka mulai stabil, katanya tidak terkalahkan di 8 pertandingan terakhir (semua kompetisi). Walaupun bila dilihat lawan-lawannya dalam 8 pertandingan tersebut dan banyaknya hasil seri, tidaklah terlalu impresif. Lebih banyak D daripada W nya. Form Arsenal jelas jauh lebih mengesankan untuk saat ini. Sebagai perbandingan Arsenal menang atas Dortmund di tandang sedangkan MU hanya bisa meraih hasil seri bertandang ke Sociedad, walaupun sudah menghalalkan segala cara termasuk divingnya Ashley Young.

Namun dalam performa terbaiknya United bisa lebih berbahaya daripada Liverpool. Dan mereka pun memiliki duet SAS yang lebih berbahaya daripada SAS-nya Liverpool. Shrek and Skunk (nama panggilan untuk Rooney dan Van Persie) jauh lebih berbahaya daripada Suarez dan Sturridge dari segi track record mereka melawan Arsenal. Bila Suarez dan Sturridge punya kecepatan, Rooney dan Van Persie punya intuisi dan hawa pembunuh yang dahsyat bila berada di kotak penalti lawan. Mertesacker dan Koscielny mesti ekstra hati-hati dan tampil penuh konsentrasi untuk mencegah mereka mencetak gol malam ini.

Bila pola serangan Liverpool minggu lalu agak monoton dengan bola-bola ke Suarez dan Sturridge yang sudah bisa ditebak, MU akan lebih menyerang lewat sayap. Fullback mereka akan overlapping dengan pemain sayap dalam formasi 4-4-2. Crossing Evra terutama sangat berbahaya. Januzaj juga telah memberikan beberapa indikasi kalau ia bukan hanya sebatas pemain potensial seperti Macheda beberapa musim lalu, namun juga dapat memberikan hasil nyata di lapangan lewat crossing dan umpan through ball-nya yang cantik. Mereka juga sangat berbahaya saat eksekusi bola mati. Rooney telah mencetak beberapa gol dari tendangan bebas. Musim lalu United praktis menjuarai liga mengandalkan efektivitas setplay mereka. Tendangan sudut, tendangan bebas dan tendangan penalti (untuk yang satu ini mudah-mudahan sedikit berkurang dengan perginya Fergie).

MU hanya bisa meraih hasil seri bertandang ke Sociedad, walaupun sudah menghalalkan segala cara termasuk divingnya Ashley Young

Prediksi formasi United malam ini:

De Gea – Smalling Ferdinand Vidic Evra – Valencia Carrick Fellaini Januzaj – Rooney RVP

Rafael, Evans dikabarkan cedera sedangkan Carrick, Cleverly, Welbeck juga masih akan menjalankan fitness test.

Untuk Arsenal, Flamini dan Wilshere dikabarkan ikut dalam skuad yang berangkat ke Manchester. Prediksi formasinya sebagai berikut:

Szczesny – Sagna Mertesacker Koscielny Gibbs – Flamini Arteta – Ramsey Özil Cazorla – Giroud

Flamini perlu dipasang untuk membantu fullback Arsenal saat MU menyerang lewat sayap. Pada pertandingan melawan Liverpool dan Dortmund terlihat kekurangan kecepatan Arteta beberapa kali memberikan peluang untuk lawan di kotak penalti. Selain itu Özil dan Cazorla yang harus turun membantu pertahanan di sayap mengurangi potensi Arsenal dalam penyerangan. Adanya Flamini memungkinkan Ramsey, Özil dan Cazorla fokus pada penyerangan dan pressing agar transisi dari pertahanan ke penyerangan bisa dilakukan dengan lebih cepat. Secara kemampuan teknik, skuad Arsenal kali ini lebih baik daripada MU. Kecuali penyerang mereka yang relatif lebih baik, Arsenal jauh lebih unggul di lini tengah. One touch football yang agak sulit dimainkan melawan Dortmund akan kembali di pertandingan ini. MU bukan tim yang melakukan pressing dengan intensitas tinggi. Bila Carrick tidak bermain, mereka malah akan mendapatkan masalah baru dalam sirkulasi dan distribusi bola. Dengan pressing tinggi yang dilakukan 4 pemain penyerang Arsenal terhadap lini tengah United, Arsenal akan mendominasi penguasaan bola dan adanya Flamini dan Arteta sebagai double pivot dapat mengatasi serangan balik MU dari sayap.

Selama Arsenal bisa membatasi jumlah tendangan bebas dan sudut untuk MU, menjaga konsentrasi penuh saat bertahan sebagaimana dua pertandingan terakhir, dan tidak memberikan MU respek yang berlebihan, Arsenal mestinya bisa menang malam ini.

Dalam pertandingan di Old Trafford sebelumnya, Arsenal terlalu memberikan respek kepada tim baru mantan kaptennya. “Hadiah” yang diberikan Vermaelen kepada Van Persie di menit-menit awal pertandingan “membunuh” pertandingan itu. Belum lagi insiden Andre Santos yang mengajak RVP tukaran kaos di saat turun minum. Pada pertemuan berikutnya di kandang Arsenal, Sagna lagi-lagi memberikan hadiah penalti kepada RVP sehingga skor menjadi 1-1. Namun di pertandingan malam ini, saya yakin respek terhadap RVP telah dapat dihilangkan. Itu karena satu nama: Mesut Özil.

Hadirnya Özil di Arsenal bersamaan dengan Fellaini di MU membuat surat terbuka RVP kepada dunia yang meragukan Arah dan Ambisi mantan klubnya itu menjadi lucu

Musim lalu Arsenal kehilangan aura bintang dengan hengkangnya pemain terbaiknya. Musim ini Arsenal kedatangan salah satu pemain terbaik dunia, Mesut Özil. Hadirnya Özil di Arsenal bersamaan dengan Fellaini di MU membuat surat terbuka RVP kepada dunia yang meragukan Arah dan Ambisi mantan klubnya itu menjadi lucu, setahun kemudian. Lebih lucu lagi ketika MU menunjuk Moyes sebagai pengganti Ferguson, yang sempat berjanji kepada Van Persie ia tak akan pensiun. Mungkinkah arah dan ambisi klub yang dimaksud Van Persie dapat diwakilkan oleh Moyes dan Fellaini?

Kita tak punya banyak waktu untuk memeriksa kondisi little boy inside Van Persie sekarang. Ia sendiri yang telah membakar jembatan antara dirinya dengan klub, termasuk dengan rekan setimnya. Di muka umum ia meragukan mereka memiliki kapasitas untuk menjadi juara. Ia juga seakan “menampar” muka manager yang telah demikian mempercayainya, yang mengubahnya dari anak muda bertalenta namun bermasalah dari Belanda menjadi salah satu striker yang paling ditakuti di dunia. Walaupun ia mendapatkan medali gelar yang selama ini ia impikan, potensinya untuk menjadi legenda Arsenal hilang bersamaan dengan ingatan kita akan kontribusinya (termasuk cederanya) selama di Arsenal lewat aksi memalukan untuk memaksakan kepindahan ke rival yang paling dibenci seluruh pendukung klub.

Sekaranglah saatnya mantan rekan setimnya membuktikan kalau ia salah. Bahwa Arsenal adalah tim yang sedang menanjak sedangkan MU adalah tim yang sedang merosot. Tidak ada cara yang lebih baik selain menambah jarak 8 poin saat ini menjadi 11 poin saat pertandingan usai.

Dennis Bergkamp dan Mesut Özil

Setelah membaca biografi Dennis Bergkamp, Stillness and Speed, pikiran saya tidak bisa lepas dari Mesut Özil. Banyak kemiripan Bergkamp dengan Özil. Mereka sama-sama perfectionist, introvert, jenius, dan memiliki first touch yang bagaikan sentuhan dewa sepakbola. Bergkamp melihat dirinya dalam diri Mesut Özil. Ia melihat first touch yang sama. Bergkamp mengakui sendiri dalam biografinya bahwa sejak muda ia bukanlah pemain yang suka dribbling atau pamer skill seperti Zidane misalnya. Ia terobsesi dengan kontrol bola, dengan first touch. Di awal cerita, ia yang masih anak-anak melatih kontrol bolanya lewat memantulkan bola ke tembok. Dari sana ia bereksperimen soal sudut sentuhan kaki dengan bola, bagaimana spin bola, cara trapping bola yang sempurna di udara. Sebuah biografi yang luar biasa yang membawa kita masuk ke alam pikiran seorang jenius sepakbola yang juga legenda Arsenal. Suatu hari saya akan mencoba menulis resensinya di sini.

Selain first touch yang sempurna, Bergkamp juga melihat visi sepakbola yang mirip pada Özil. Menurutnya Özil mampu melihat permainan sampai beberapa langkah ke depan. Ia mampu memprediksi apa yang akan dilakukan rekannya dan lawan untuk beberapa langkah ke depan sebelum ia melakukan operan. Ia akan memberikan operan yang terbaik kepada rekannya sehingga tidak dibutuhkan banyak sentuhan untuk mencetak gol. Operan yang juga membelah pertahanan lawan. Özil sebagaimana Bergkamp adalah master ruang dan waktu. Mereka menciptakan ruang dan waktu untuk dirinya dan rekan-rekannya. Hal ini dikonfirmasi dari wawancara David Winner (penulis biografi Bergkamp) dengan rekan-rekan Arsenalnya seperti Vieira, Wright dan Henry. Dan Bergkamp yang jarang memuji pemain bola lainnya, melihat hal yang sama pada Özil dan mengatakannya pada media secara terbuka.

Tidak ada panggung lain yang lebih cocok untuk seorang jenius seperti Özil selain rumahnya juara bertahan. Walaupun Özil telah tampil cukup baik dengan beberapa gol dan assist dalam dua bulan ini, ia belum memperlihatkan 100% kemampuannya bersama Arsenal. Sebagai penantang utama Liga Inggris musim ini, Özil bersama rekan-rekan Arsenal-nya berkesempatan menegaskan terjadinya pergeseran kekuatan sepakbola Inggris dari Manchester ke North London. Walaupun hasil maksimal telah diraih dari Liverpool dan Dortmund, rasanya belum sempurna kelulusan Arsenal dari ujian publik sebelum mengalahkan sang juara bertahan, di kandang mereka. Panggung ini memang diciptakan untuk Özil, tinggal ia menjawabnya.

Let’s end United season at their home.