Martin Ødegaard, The Creator-in-making

Featured

Yang mengikuti tulisan saya sejak lama tentunya tahu persis kalau saya sangat memuja Dennis Bergkamp, dan bahkan alasan awal saya menjadi seorang Gooner. Di blog ini bahkan ada bagian yang dikhususkan untuk-Nya (sayang saya belum sempat menulis lebih banyak lagi mengenai biografinya). Tidak hanya saya, sebagian fans Arsenal yang memuja-Nya memberi Bergkamp nick name God, The Creator (plesetan dari perannya sebagai pembuat peluang utama Arsenal). Bergkamp berada pada level yang berbeda dari para pesepakbola hebat di dunia, dalam hal filosofi sepakbolanya, pandangan hidupnya. Ia melihat sepakbola sebagai sarana untuk mencapai kesempurnaan, sesuatu yang bermakna lebih dalam daripada ketenaran dan harta.

“Arsène Wenger has an interesting view about this. He says: “It is a spiritual thing. I am convinced of that. I believe you have two kinds of players who play football. Those who want to serve football like you serve God, and they put football so high that everything that is not close to what football should be is a little bit non-acceptable. And then you have those who use football to serve their ego. And sometimes the ego can get in the way of the game, because their interest comes before the interest of the game.

Sometimes the big ego is linked with what we call strong personalities, charisma. But most of the time what people call charisma is just big ego. I believe that Dennis was one of those who had such a high idea of the game and such a respect for the game that he wanted that to be above everything. I believe that the real great players are guided by how football should be played and not by how football should serve them. If it becomes spiritual, it’s endless and you’re always driven to going higher and getting closer to what you think football should be.

Then Wenger gives the example of a player who knows he ought to pass but takes a massive gamble and scores. “If he really loves the game he’ll go home and worry about it. He’ll know he really should have passed to set up an easy chance for someone else. But he was selfish and got lucky. If he doesn’t care about the game he’ll go home and think: ‘That was great – I’ll do the same next time.’

And he says that’s the difference. “That’s why you have to teach the kids to respect the game and treat the game a little bit like a religion, that is above you, where you want to serve the game.”

Bergkamp in his biography – Stillness and Speed

Bergkamp memiliki pandangan yang sama dengan Wenger, bahwa the game semestinya berada di atas egomu, yang membuatnya ingin “melayani”-nya bak seorang hamba yang melayani Tuhannya. Becoming the servant of the game. Sementara sebagian besar pesepakbola memiliki apa yang disebut big ego, individualis, bagaimana menjadi yang terbaik di lapangan hijau.

Selama saya mendukung Arsenal, hanya ada satu pemain yang menurut saya layak mewarisi tahta Bergkamp di klub tercinta. Di salah satu artikel di blog lama saya, “Ketika Sang Creator Menemukan Putra-Nya”, saya menuliskan tentang pandangan Bergkamp tentang Mesut Özil.

“Behind every pass there must be a thought.

Özil knows exactly how to control the ball in what kind of space to give himself time. That’s the difference between the players and great players. With his intelligence and his touch and his skills, he is trying to do something right with every ball.”

“With that pass it seems like Özil was already calculating what the next pass should be. So he puts the ball on the side which means Giroud’s only option is to pass it to the third player. The point is that there is a thought behind that pass. You see that with his control and his movement and that’s what I like.

With all the respect to the other Arsenal players, I think he is the one who can make a difference. The other players are good in midfield. But you need someone of a high-level you can be good in all areas of the pitch.”

Dennis Bergkamp on Mesut Özil

Bergkamp bisa melihat kalau Özil memiliki visi yang dapat melihat beberapa langkah ke depan, termasuk pilihan gerakan berikutnya dari rekan se-timnya. Kemudian dengan kontrol yang akurat ia memberikan operan yang “mengatur” gerakan berikutnya dari penerima bola. Ada tujuan di balik setiap operannya. Dan Bergkamp juga menjelaskan mengapa kejeniusan Özil ini akan membawa perubahan pada permainan Arsenal secara keseluruhan:

“It looks like it’s a relief to the other players. ‘Oh yes this is what we want’, ‘Oh this is a great ball’. They are adapting to Özil, and moving into spaces where before maybe they didn’t do that because maybe they weren’t expecting the ball.”

Mesut Özil kemudian membawa Arsenal memenangkan FA Cup sebanyak 3 kali, mengakhiri paceklik trofi selama 9 musim. Namun ia tidak pernah benar-benar berhasil menjadi pengganti Bergkamp dan tidak mengalami happy ending yang sama dengan Bergkamp di penghujung kariernya di Arsenal karena berbagai faktor yang pernah kita kupas di sini.

Sekarang, 8 tahun semenjak Mesut Ozil bergabung dengan Arsenal, kita menemukan kutipan yang hampir mirip dengan apa yang dikatakan Bergkamp mengenai Özil.

“He needs players around him to follow and understand him because the moment he has time on the ball he’s a real threat.

“He glides players together. He attracts players. He’s really confident on the ball. He can take the ball anywhere on the pitch and he gives us that continuity. I think tonight he was really good.”

Mikel Arteta on Martin Ødegaard

Child Prodigy from Drammen

Martin Ødegaard lahir di Drammen, sebuah kota kecil di Norwegia, tidak jauh dari ibukotanya Oslo. Ayahnya Hans Erik Ødegaard juga seorang pesepakbola. Sebagai pengagum John Arne Riise, ia tumbuh menjadi pendukung Liverpool. Kariernya meroket pesat di usia yang sangat muda. Hanya berusia 15 tahun, ia telah memulai debutnya di liga profesional Norwegia, bermain untuk klub Strømsgodset. Di usia yang sama, tepatnya 15 tahun dan 253 hari, ia melakukan debut untuk timnas senior Norwegia melawan UAE. Sebagai perbandingan, Fabregas melakukan debut timnasnya di usia 18 tahun dan Saka di usia 19 tahun. Video di bawah ini menceritakan dengan baik bagaimana Ødegaard mengguncang dunia sepakbola di usianya yang sangat muda dan hype seputar dirinya.

Documentary: The Phenomenon Martin Ødegaard

Semuanya berjalan demikian sempurna untuk Ødegaard. Belum genap 16 tahun, ia diincar tidak kurang dari 30 klub Eropa. Klub pujaannya, Liverpool mengundangnya untuk latihan bersama tim utamanya di awal Desember 2014. Dalam latihan tersebut ia melakukan nutmeg terhadap Joe Allen. Kemudian ia ditemukan sedang makan bersama Coutinho di restoran, bagian dari rayuan Liverpool untuk meyakinkannya bahwa klub itu yang terbaik untuk perkembangan dirinya.

Ødegaard berlatih bersama Liverpool, Des 2014

Tak hanya Liverpool, ia juga mengunjungi Manchester United, bertemu Van Gaal dan melakukan tur seputar Old Trafford dan Carrington, training ground mereka. Kemudian ia mengunjungi Arsenal yang telah memiliki Özil dan Manchester City. Di Jerman, ia diundang ke Bayern Muenchen dan bergabung dalam sesi latihan di bawah Pep Guardiola. Chairman dari Bayern, Karl-Heinz Rummenigge memujinya sebagai talenta yang luar biasa dan berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan Ødegaard. Ajax Amsterdam tidak mau ketinggalan. Manager saat itu, Frank de Boer mengatakan kepada media Norwegia, “Sangat luar biasa melihat pemain yang bermain demikian baik di usia demikian muda… Jika ia harus memilih, Ødegaard sebaiknya memilih Ajax.”

Namun tak ada klub yang menyamai apa yang dilakukan Real Madrid untuk memboyongnya. Tak mau kalah dengan Barcelona yang juga mengundangnya ke La Masia, Madrid mengirimkan private jet ke Norwegia untuk menjemputnya untuk melihat kompleks latihan mereka di Valdebebas. Mereka menjanjikannya tempat baginya di tim utama. Seminggu sebelumnya ayahnya telah diundang ke klub sendirian. Ayahnya ditawarkan pekerjaan untuk menjadi pelatih di Madrid sebagai bagian dari charm offensive untuk meyakinkan Odegaard memilih Madrid daripada sekian banyak klub besar Eropa lainnya yang berminat kepadanya.

Akhirnya di bulan Januari 2015, Ødegaard yang baru berusia 16 tahun melakukan lompatan yang hampir tak masuk akal dalam karier seorang pesepakbola, langsung dari Strømsgodset ke klub terbesar di dunia, Real Madrid. Tentunya ia memilih Madrid dengan harapan ia bisa berlatih dengan bintang dunia, didukung oleh fasilitas terbaik, agar bisa berkembang menjadi pemain yang sesuai dengan prediksi media dan banyak scout klub besar Eropa saat itu, the new Lionel Messi. Awal karier yang sempurna, sejauh ini.

Life is not a fairy tale

Apabila babak awal sepakbola pro-nya demikian sempurna, babak berikutnya dalam kehidupan seorang Ødegaard tidaklah seindah itu. Roda kehidupan berputar dan Ødegaard benar-benar mengalami bagaimana berada di atas dan di bawah. Ia tak berhasil menembus tim utama Madrid yang penuh bintang, dan selama 2 tahun hanya bermain di tim cadangan, Real Madrid Castilla. Pemain yang masih sangat muda itu pun mendapatkan kritikan dari media. Banyak berita miring mengenai dirinya yang memilih berlatih dengan Ronaldo daripada tim cadangan Madrid. Banyak pemain muda lainnya yang cemburu dengannya. Hype tentang dirinya pun mulai menurun. Bahkan keraguan mulai muncul, apakah ia memang pemain yang bertalenta hebat?

Demi perkembangan dirinya, dan menjauhkannya dari pusat perhatian media di Madrid, ia kemudian dipinjamkan ke Belanda, klub bernama Heerenveen selama 18 bulan. Di klub ini performanya tidak begitu baik, sehingga loannya dilanjutkan ke Vitesse selama 1 musim penuh. Di Vitesse, Ødegaard mulai menunjukkan mengapa ia disebut pemain berbakat. Tampil sebanyak 39 kali, ia memberikan 11 gol dan 12 assist. Pemberitaan mengenai dirinya kembali mencuat di media dan saat itu ia berusia 20 tahun.

Musim 2019/2020 Ødegaard kembali ke La Liga namun kali ini berbaju Real Sociedad. Awalnya loan di Sociedad direncanakan selama 2 musim penuh (2019-2021), namun karena ia bermain sangat baik di Sociedad di musim loan pertamanya (termasuk saat menang 4-3 lawan Madrid), sampai dinilai sebagai pemain terbaik di La Liga sebelum lock down (karena setelahnya ia mengalami cedera), Real Madrid memutuskan untuk memanggilnya kembali di awal musim 2020/2021. Setelah 5,5 tahun bermain di tim cadangan dan berbagai klub pinjaman, akhirnya Ødegaard dirasakan siap untuk tampil di tim utama Madrid, demikianlah rencananya. Bagi Ødegaard, ini seperti terang yang terlihat di ujung terowongan yang panjang, lima setengah tahun lamanya.

Statistik Progressive Passes Ødegaard saat loan di Sociedad, lihat siapa pemain di sebelahnya

Namun dewi fortuna sepakbola kembali membuat skenario yang berbeda. Cedera dan penampilan yang tidak memuaskan membuat Ødegaard hanya bermain sebanyak 7 pertandingan dan hanya selama 232 menit (2,5 full match) selama separuh musim. Frustrasi, Ødegaard minta ke Madrid untuk dipinjamkan kembali ke Sociedad. Arsenal mencium bau darah… Klub yang sempat tertarik serius dengannya, dan terus mengikuti karier Ødegaard semenjak itu memiliki koneksi yang baik dengan Sociedad, tempat Monreal bermain, yang juga terletak di kampung halaman Arteta. Edu dan Arteta bergerak cepat, tak akan sia-siakan kesempatan emas ini. Dari sekian banyak klub besar yang mengincarnya sejak muda, hanya Arsenal bergerak dahulu untuk mengamankan Ødegaard dengan status pinjaman separuh musim. Ødegaard yang awalnya memilih Sociedad, akhirnya berhasil diyakinkan oleh Arteta dan Edu bahwa masa pinjaman separuh musim di Arsenal ini akan membuatnya menjadi pemain yang lebih baik dan dijamin tidak akan membuang waktu kedua belah pihak.

I spoke to him before coming here, of course. That was very important for me and he seems like a top manager and I really liked his ideas, the way he sees football and also the way he is. He gave me a great feeling and that was important for me to come here. He was crucial.

Ødegaard on Arteta

Yeah I was here. I visited the club and trained a little bit. I had a chat with the club and I had a really good feeling when I was here. I was thinking a lot about it. In the end it wasn’t my decision at that time, but I had a really good time and I remember it well.

When I was here the first time, I had a good feeling and every time I heard about the club, I had a good feeling. Now I’m here, so I think it’s maybe meant to be.

Ødegaard on visiting Arsenal as a 15 years boy

Dari wawancara pertama Ødegaard tersebut, kita bisa merasakan bagaimana ia dengan jujur mengatakan bahwa ia merasakan ada koneksi dengan klub ini, bahkan sejak kunjungan di bulan Desember 2014 itu. Setiap ia mendengar atau membaca berita tentang Arsenal, ia merasakan hal yang baik. Tentu adanya Monreal di Sociedad mungkin juga berpengaruh (we know how f*ckin legend Nacho was), Ødegaard berkesimpulan kalau mungkin inilah Jalannya.

Kita kemudian tahu bagaimana lanjutan ceritanya. Selama masa pinjaman 6 bulan tersebut, Ødegaard menjadi pemain kunci Arsenal yang berhasil memperbaiki form Arsenal (silakan baca ulasan musim tersebut), bersama para pemain muda andalan, Emile Smith Rowe dan Saka. Kehadirannya membuat Arsenal dapat menciptakan peluang-peluang yang lebih berkualitas dan banyak, tidak lagi mengandalkan spamming crossing dari sayap. Ia mampu mengisi ruang kosong kreativitas yang ditinggalkan Özil. Yang mengejutkan dari Ødegaard adalah ia juga mampu melakukan pressing dengan baik, gigih dalam duel, dan vokal di lapangan hijau. Berbeda dengan Özil dan Bergkamp yang lebih diam di lapangan, Ødegaard lebih banyak bersuara. Tak heran dalam usia yang masih muda pula (22 tahun), ia telah diangkat menjadi kapten timnas Norwegia.

Where He Belongs

Setelah selesai masa pinjamannya, Arsenal dan Ødegaard merasakan chemistry yang kuat, dan ingin melanjutkan perjalanan ini bersama. Sayangnya Real Madrid punya rencana lain dan ingin mempertahankan Ødegaard, apalagi karena Ancelotti menggantikan Zidane, pelatih yang tidak cocok dengan Ødegaard. Ia sempat mengutarakan maksudnya untuk bergabung dengan Arsenal namun Madrid tidak senang dengan ide tersebut dan menolaknya. Ødegaard pun menuliskan pesan perpisahan kepada rekan-rekannya dan fans Arsenal yang cukup emosional. Sampai saat itu, saya pribadi masih yakin kisah Arsenal dan Ødegaard ini belum berakhir.

Pre-season dimulai dan saya menonton salah satu match pre-season Real Madrid (demi Ødegaard tentunya) dan di sana bisa terlihat disconnect, tidak nyambungnya Ødegaard dengan rekan-rekan setimnya. Ia tidak menjadi pemain yang kita tonton selama 6 bulan berbaju merah putih. Ia seperti tidak belong ke tim itu. Real Madrid tentunya juga merasakannya dan akhirnya mereka memutuskan untuk cash in pemain yang masih bisa dijual tinggi ini dan untuk membiayai transfer Mbappe yang juga merupakan kesempatan emas bagi mereka. Arsenal tentunya menjadi klub pertama yang diinformasikan Ødegaard dan Madrid mengenai keputusan ini. Kesabaran dan keyakinan yang berbuah manis karena Arsenal akhirnya berhasil membeli permanen target utama kita di transfer window musim ini.

With hindsight, keputusan Arsenal untuk tidak menindaklanjuti bid pertama ke Emi Buendia adalah blessing in disguise. Sekarang kita mendapatkan Ødegaard dengan harga yang kurang lebih sama dengan yang dibayarkan Aston Villa untuk Buendia (30 juta pounds ++). Tanpa bermaksud menghina Buendia, Ødegaard adalah pemain yang berada di level yang sangat berbeda. Bakatnya sejak usia muda tidak akan hilang begitu saja. Dengan kerja keras dan berada di lingkungan yang tepat, Ødegaard yang memenuhi potensinya yang luar biasa dapat menjadi pemain kelas dunia yang setara legenda manapun dalam sejarah sepakbola. Itu adalah tantangan baginya dan Arsenal, untuk ciptakan kondisi baginya untuk memenuhi potensi dirinya, to live up to the hype enam tahun silam.

I said the last time, that you know every time I heard about the club I had a good feeling and I said maybe it was meant to be and I’m here again, so I guess it is.

Ødegaard on his second time joining Arsenal, this time permanently.

The Creator-in-making

Melihat caranya bermain, aksinya di lapangan, ingatan saya kembali kepada sosok pemain legendaris, pemain terbaik Arsenal sepanjang sejarah (subyektif – saya tahu). First touch-nya, gerakannya dengan bola, dribblenya yang simple dan kemudian visinya dalam melihat gerakan rekannya dan untuk menemukan mereka dengan operan akurat. Ødegaard saat ini belum berada pada level Özil apalagi disamakan dengan The Perfect Ten, Dennis Bergkamp. Namun kita bisa melihat potensinya, bayangan DB10 dalam dirinya. Mata yang telah mengikuti Arsenal selama 23 tahun ini tidak akan bohong. We recognize quality. Bagi saya, Martin Ødegaard adalah marquee signing, pembelian terbesar Arsenal di transfer window musim ini. Bahkan bisa dianggap a steal mengingat harga yang mesti dibayarkan Arsenal untuknya (setara dengan Xhaka, Mustafi, 5-6 tahun lalu).

Kita mesti bersyukur akhirnya pemain berbakat ini, walaupun mesti detour selama 6,5 tahun ke Spanyol, Belanda, balik lagi ke Spanyol, sekarang menemukan rumahnya di North London, where he belongs. Bila Dennis Bergkamp bergabung dengan Arsenal di usia 26 tahun, dan menjalani karier di Arsenal selama 11 tahun, Mesut Özil di usia 24 tahun dan menjalani 7,5 tahun kariernya di Arsenal, Martin Ødegaard bergabung dengan Arsenal di usia yang lebih muda lagi, 22 tahun. Ia akan menjalani usia keemasannya bersama Arsenal dan sangat mungkin akan menyamai atau bahkan melebihi lama kariernya Bergkamp di Arsenal. Kita sebagai fans Arsenal akan menikmati 5-10 musim ke depan dengan sepakbola kreatif di mana Ødegaard menjadi technical leader. Disokong dengan Saka dan Emile Smith Rowe yang tidak kalah menariknya. Hanya membayangkan itu saja membuat saya sedikit merinding. We’ve got our Arsenal back!

Saya yakin Martin Ødegaard adalah The Creator-in-making, pewaris tahta sejati The Perfect Ten. Semoga saja takdirnya memang menemukan Jalan melayani Tuhannya (the game) di Arsenal.

Transfer Window 2021/2022 – Saatnya Optimis? Part 3 (The Final)

Featured

Link Part 1

Link Part 2

Terima kasih kepada para pembaca yang telah setia mengikuti serial ini sampai di Part 3 ini. Kita telah sampai ke penghujung “cerita”. Tenang saja, bagian final dari tulisan panjang yang mengulas Transfer Window 2021/2022 ini tidak akan saya buat menggantung. Tulisan ini akan saya tutup dengan prediksi saya mengenai akhir dari transfer window Arsenal ini, yang deadlinenya jatuh pada tanggal 31 Agustus nanti, tepat sebulan dari hari ini. Arsenal baru saja mengumumkan transfer Ben White kemarin, namun Arsenal belum selesai. Masih banyak pergerakan di TW yang akan terjadi dalam satu bulan ini dan semuanya akan diulas di bagian terakhir serial ini.

Ben White dan Profil Pemain Incaran Arsenal

Dear fellow Goonerettes, how’s Ben White, is he cute?

Mari kita coba pahami dulu mengapa Arsenal membeli Ben White seharga 50 juta pounds, nilai yang sangat tinggi untuk ukuran seorang CB di PL, apalagi untuk ukuran klub Arsenal yang bukan sugar daddy club. Hanya Pepe dan Aubameyang yang nilai transfernya lebih tinggi dari Ben White sepanjang sejarah Arsenal. Ini adalah statement of intent bahwa Arsenal punya uang dan serius untuk memperbaiki kualitas skuad musim ini.

“Ben has been a key target this summer. He has so many qualities which make us so excited he’s joining us. Ben’s a young English player with a great future. He’s very strong defensively, good on the ball with a great passing range. We’re delighted Ben’s signed and we look forward to him growing with us.”

Edu

“Ben was a top target for us and it’s great that we’ve completed his signing. Ben has been educated with two very good clubs, Brighton and Leeds, in recent seasons. He has benefitted well from two very good coaching set-ups and has shown with both Brighton and on loan with Leeds what a strong talent he is. 

Ben is an intelligent defender who is very comfortable with the ball at his feet and his style fits perfectly with us. And of course, he is still young, so his age and profile fits with what we are building here. We are all looking forward to Ben being central to our future long-term plans.”

Mikel Arteta

Saya pertebal pernyataan Edu dan Arteta bahwa usia Ben White sesuai dengan profil pemain tim yang sedang Arsenal bangun. Saat Arsenal terancam dan kemudian beneran tersepak dari Champions League, Arsenal memilih jalur pintas, shortcut untuk segera kembali ke Champions League lagi dengan membeli pemain yang lebih senior dan berpengalaman. Ini yang biasa disebut stopgap solution (solusi yang bersifat sementara). Pemain senior (di atas 26 tahun) yang dibeli antara lain mulai dari Aubameyang dan Mkhitaryan (di paruh musim terakhir Wenger), kemudian Leno, Sokratis, Lichtsteiner, David Luiz, Cedric Soares, Willian, dan Thomas Partey. Langkah ini terbukti tidak berhasil membawa kembali Arsenal ke level Champions League. Arsenal sudah tidak bermain di Champions League selama 4 musim. Alih-alih mengangkat moral tim dan mengubah mentalitas tim menjadi tim juara, sebagian besar pemain senior ini justru mengecewakan penampilannya dan bahkan Arsenal di musim lalu harus diselamatkan oleh pemain-pemain muda jebolan Hale End, seperti Bukayo Saka dan Emile Smith Rowe. Belajar dari pengalaman tersebut, Arsenal lalu mengubah strategi transfer untuk musim ini.

Saat Arsenal terancam dan kemudian beneran tersepak dari Champions League, Arsenal memilih jalur pintas, shortcut untuk segera kembali ke Champions League lagi dengan membeli pemain yang lebih senior dan berpengalaman. Stopgap solution.

Arsenal sepertinya sudah siap menempuh jalan yang lebih panjang agar peningkatan kualitas tim ini memiliki pondasi yang lebih kuat, beralih dari pembangunan tim instan dengan pondasi rapuh yang hasilnya terbukti mengecewakan. Arsenal memutuskan untuk membangun ulang tim. Pengalaman mengajarkan lebih sulit untuk “membentuk” pemain-pemain senior yang sudah “jadi” di klubnya masing-masing, apalagi untuk menyesuaikan diri mereka dengan style sepakbola yang berbeda yang diinginkan Arteta, seperti Positional Play yang menghasilkan sustainable pressure and possession. Terbukti dengan Mesut Ozil yang kesulitan beradaptasi dan terpaksa dibuang dari tim, padahal ia adalah superstar dan pemain terbaik Arsenal untuk beberapa musim.

Selain itu Arteta ingin membangun kultur baru di klub ini, hal yang sudah dikampanyekannya semenjak pertama kali bergabung sebagai head coach. Kultur klub yang siap mengorbankan apapun demi meraih prestasi. Setiap pemain harus siap menderita bersama, bermain untuk satu sama lain, untuk kemudian menikmati hasilnya bersama. Dengan demikian ia dapat membangun identitas tim yang sesuai dengan value Arsenal – Victoria Concordia Crescit yang dikombinasikan dengan value non-negotiables-nya klub yang siap berkompetisi untuk juara (saya bahas di tulisan The Arteta Way dan Revolusi Mental Arteta). Untuk mengubah mental pemain, memang lebih mudah dilakukan terhadap pemain yang lebih muda. Semakin muda, semakin bagus.

Maka tidak heran 3 pemain yang baru bergabung dengan Arsenal adalah pemain di kisaran usia 20-23 tahun, inilah profil pemain incaran Arsenal di TW ini. Demikian juga nama-nama yang diisukan di media saat ini, semua berada di kisaran usia tersebut. Dengan pemain-pemain baru yang lahir di tahun 1997 ke atas tersebut, Edu dan Arteta dapat membangun tim baru untuk jangka panjang, yang akan memuncak dalam 3-4 tahun ke depan. Konsekuensi dari pilihan strategis itu adalah sebagai fans, kita harus lebih bersabar dalam memanen hasilnya karena seperti kata Wenger, pemain muda akan lebih inkonsisten, lebih banyak membuat kesalahan, faktor kurangnya jam terbang (ingat speech fenomenal-nya tentang Rob Holding?). Perlu waktu lebih lama untuk menyaksikan tim muda menjadi sukses. Tidak ada jalan pintas kali ini dan mereka butuh waktu. Fans harus memberikan tim ini waktu. Setelah beberapa tahun bermain bersama, kita akan menyaksikan tim yang menjadi greater than sum of its parts, kualitas timnya lebih besar daripada kualitas masing-masing pemain dijumlahkan, berkat chemistry yang kuat, ditopang pondasi values yang sama dan identitas sepakbola yang sama.

I’m sorry he didn’t cost 55 million so he can not be good…

Arsene Wenger on Rob Holding

Project Youth Mark II

Masih ingat kemenangan Arsenal 2-1 atas Barcelona di tahun 2011? Kemenangan Arsenal di kandang AC Milan tahun 2012? Arsenal musim 2007/2008 dengan Fabulous Four – Fabregas Flamini Rosicky dan Hleb? Sayangnya Project Youth Wenger saat itu gagal mendatangkan gelar karena timnya terpaksa dibongkar-pasang ulang sebelum sukses tercapai karena pemainnya dibajak klub yang lebih kaya (Arsenal harus menjual pemain demi bayar utang pembangunan stadion). Padahal jelas ada tanda-tanda bahwa tim yang dibangunnya saat itu akan siap bersaing di gelar juara liga, jika dapat dipertahankan lebih lama dan mereka tumbuh bersama. Bukan layu sebelum berkembang.

Kali ini Edu dan Arteta ingin membangun kembali tim dengan pondasi pemain muda berbakat, namun dikombinasikan dengan panduan pemain senior yang “lolos” revolusi mental Arteta. Perhatikan bagaimana Arteta tidak lupa menyebutkan pengaruh para pemain senior ketika ia memuji Saka, dan The Smith. Karena ia tahu bahwa pemain-pemain muda ini lebih mudah besar kepala, kemudian tersesat, tanpa bimbingan yang tepat dari pemain seniornya. Di tim ini musim lalu, David Luiz, Granit Xhaka dan Lacazette sering disebut oleh pemain-pemain muda Arsenal sebagai pemain senior yang banyak memberikan bimbingan kepada mereka. Selain itu, Aubameyang juga dekat dengan pemain-pemain muda ini yang dicontohkan dengan hadiah kalung berliannya kepada Little Chilly. Diharapkan dengan adanya keseimbangan yang pas antara pemain muda dan senior, tim ini bisa melalui masa transisi development ini dengan lebih lancar, untuk kemudian dalam 3-4 tahun mendatang menjadi tim yang super kuat dengan pondasi tim yang kokoh – para pemain muda berbakat yang masing-masing telah menjiwai Arsenal DNA, VCC dan Arteta’s Non-negotiables.

Ben White, Sambi Lokonga, dan Nuno Tavares masuk dalam kategori pemain muda berbakat tersebut. Selain itu mereka juga berkarakter kuat, hal penting lainnya yang dituntut Arteta dari pemainnya. Latar belakang Ben White yang bermain di 4 divisi di Inggris, naik satu divisi per tahun setelah dilepas oleh akademi Southampton di usia 16 tahun, sangat luar biasa. Belum lagi masalah kesehatannya sejak ia lahir sampai berusia 7 tahun, dan dapat ia lalui lewat usaha keras, bisa menjadi inspirasi kita semua. Yang tertarik mengetahuinya, bisa cek di thread Twitter saya di bawah ini.

Sambi Lokonga sendiri sudah menjadi kapten Anderlecht di usia yang sangat muda, dipercayai oleh Vincent Kompany, yang sendirinya adalah mantan kapten teladan. Nuno Tavares memiliki sejarah kontroversial sendiri sebagai pemain yang sangat outspoken, tidak sungkan mengeluarkan pendapatnya, walaupun saat itu tindakan tersebut merugikannya (ribut dengan fans Benfica dan terpaksa dijual klub). Mudah-mudahan ia bisa belajar dari pengalaman tersebut dan kemudian berubah di Arsenal.

Perlu waktu lebih lama untuk menyaksikan tim muda menjadi sukses. Tidak ada jalan pintas kali ini. Beberapa tahun bermain bersama, kita akan menyaksikan tim yang menjadi greater than sum of its parts.

Diharapkan dengan adanya keseimbangan yang pas antara pemain muda dan senior, tim ini bisa melalui masa transisi development ini dengan lebih lancar, untuk kemudian dalam 3-4 tahun mendatang menjadi tim yang super kuat dengan pondasi tim yang kokoh – para pemain muda berbakat yang masing-masing telah menjiwai Arsenal DNA, VCC dan Arteta’s Non-negotiables

Kembalinya Granit Xhaka

Dengan bergabungnya Ben White dan berita bahwa Granit Xhaka disodori perpanjangan kontrak baru di Arsenal karena AS Roma yang tak kunjung meningkatkan tawarannya (Mourinho sekarang melatih klub miskin…), maka saya terpaksa mengubah tabel skuad Arsenal saat ini yang sebelumnya dimuat di Part 1. Dari ulasan di Part 1 dan Part 2 kita telah mengetahui mengapa pemain yang saya warnai merah dan kuning itu termasuk pemain surplus yang ditargetkan untuk dilepas dan sebagian akan diganti dengan pemain baru yang lebih cocok dengan filosofi sepakbola Arteta.

Granit Xhaka adalah kasus yang menarik. Kita jelas tahu Arteta ingin meng-upgrade lini tengahnya dengan menggantikan Xhaka dengan CM yang lebih mobile dan komplit dalam hal menyerang dan bertahan seperti Locatelli dan Bruno Guimaraes (lihat grafik). Namun di sisi lain, kehilangan Xhaka hanya untuk uang receh 12 juta pounds yang ditawarkan Roma dirasakan tidak layak bagi Arsenal. Selain Granit Xhaka adalah deep lying playmaker yang berkualitas (dengan kekurangannya), ia juga adalah pemimpin yang bisa diandalkan, kapten sejatinya Arteta di lapangan hijau. Perginya David Luiz telah menyisakan kekosongan di dalam leadership tim. Belum lagi rumor kepergian Lacazette yang juga memegang peranan penting dalam leadership di tim ini. Bila Xhaka dan Laca pergi, maka Arsenal hanya akan memiliki Aubameyang, Tierney dan barangkali Holding sebagai leader tim ini yang tentunya berbeda jauh dengan pengaruh yang dimiliki Xhaka, Luiz dan Lacazette di musim lalu. Berdasarkan perkembangan terakhir ini maka saya mengubah warna Xhaka dari merah menjadi hijau di Tabel 1.

Tabel 1 – Skuad Arsenal sekarang

Dari Tabel 1 di atas, terlihat skuad utama Arsenal cukup gemuk dengan 30 pemain. Arsenal tidak akan punya masalah Home Grown dengan komposisi pemain sekarang. Terlebih kalau kita lihat beberapa pemain non HG akan dijual sehingga akan tersedia slot yang cukup untuk pemain baru dan kita memiliki 6 pemain U-21 yang sudah dikategorikan pemain utama.

Sekarang kita ingin mengurangi jumlah skuad dari 30 pemain menjadi 24-26 saja karena Arsenal tidak berkompetisi di Eropa. Dari 6 pemain merah yang akan dikeluarkan, yang perlu dicarikan penggantinya adalah posisi GK, RB, dan CM (nomor 10). Bila 5 pemain kuning juga dikeluarkan, maka Arsenal perlu menambah 2 pemain lagi di posisi CM (box to box) dan CF. Jadi max total 11 keluar dan 5 masuk dalam satu bulan ke depan. Mari kita runut rumor nama-nama pemain baru untuk 5 posisi tersebut:

  • GK: Aaron Ramsdale (>30 juta pounds kalau Arsenal ingin go big and go young, kiper yang akan menggantikan Leno musim berikutnya), Sam Johnstone (12-15 juta pounds kalau Arsenal hanya mencari kiper kedua sebagai back up Leno). Keduanya berstatus Home Grown.
  • RB: Max Aarons (25 juta pounds), Mert Muldur (10 juta pounds)
  • CM: Manuel Locatelli (34 juta pounds), Bruno Guimaraes (35 juta pounds)
  • AMF: Martin Odegaard (35-40 juta pounds), James Maddison (60-70 juta pounds)
  • CF: Tammy Abraham (40 juta pounds), Lautaro Martinez (60-65 juta pounds)

Menghitung Budget Transfer Arsenal

Dengan banyaknya nama-nama yang perlu dibeli Arsenal, dan kurang lakunya pemain kita (contoh Xhaka) akibat berkurangnya kemampuan beli klub-klub di luar Premier League, maka kita akan bertanya-tanya darimana datangnya budget belanjanya, apalagi dengan owner yang terkenal pelit dan kondisi pandemi Covid-19 yang menyebabkan klub masih rugi kurang lebih 120-150 juta pounds per musim (laporan keuangan full satu musim 2020/2021 belum diterbitkan). Mari kita lihat catatan dan estimasi laporan keuangan Arsenal dari Arsenal Supporters’ Trust (AST) di tabel berikut ini.

Tabel 2 – Summary Financial Performance Arsenal (source: AST)

Akibat absennya pendapatan dari tiket stadion, Arsenal menderita kerugian 54 juta pounds di musim 2019/2020 (1/3 musim stadion kosong) dan kira-kira 150 juta pounds di musim 2020/2021 (full musim stadion kosong). Kalau kita lihat posisi cash 2020 yang hanya menyisakan 110 juta pounds dan estimasi kerugian 158 juta pounds di akhir musim 2020/2021, jelas Arsenal butuh cash injection untuk menanggung kerugian musim lalu sekaligus untuk biaya operasional musim ini. Untuk keperluan itu Arsenal telah meminjam dana 120 juta pounds dari Bank of England di bulan Januari 2021 dengan skema keringanan pandemi, bunganya sangat rendah, namun harus dibayar di bulan Mei 2021. Arsenal kemudian melalui guarantor KSE, meminjam uang lagi dari Barclays Bank senilai 120 juta pounds untuk melunasi utang dari Bank of England tersebut dan utang baru ini akan dicicil pembayarannya dalam jangka waktu yang lebih panjang (tidak jelas sampai berapa tahun). Bila utang dari Bank of England (pandemic scheme) tidak boleh dipakai untuk membeli pemain baru atau menaikkan gaji pemain, utang dari Barclays Bank ini tidak memiliki persyaratan seperti itu karena ini loan privat biasa dan aset sang pemilik (KSE) yang tidak terbatas pada klub Arsenal saja cukup untuk menjadi jaminan. Intinya kalau Arsenal gagal bayar, aset KSE lainnya bisa juga disita bila aset klubnya kurang (seperti kita tahu, aset klub hanyalah stadion dan training ground sementara pemain adalah aset yang sifatnya movable bukan fixed). Kesimpulannya Arsenal bebas menggunakan utang ini untuk transfer atau kontrak baru pemain di musim ini selain menutup biaya operasional.

Di tahun 2020, KSE juga melunasi utang stadion Arsenal senilai 184 juta pounds dan menggantinya sebagai “pinjaman” dari KSE yang harus dicicil Arsenal. Tentunya karena ia adalah pemilik klub, kapan cicilan tersebut harus dibayar ya sesukanya pemilik (contoh lainnya Roman Abramovich meminjamkan uang pribadinya kepada Chelsea sebesar Satu Milyar pounds dalam 10 tahun dan Chelsea gagal bayar sehingga utang ini di-write off oleh Roman). Dengan cara ini, KSE mengurangi beban biaya Arsenal untuk nyicil utang stadion sebelumnya yang sebesar 36 juta pounds per tahun. Secara total, KSE bisa dikatakan “meminjamkan” Arsenal uang sebesar 300 juta pounds dengan 120 juta utang ke bank dijamin mereka, dan 180 juta pinjaman dari KSE sendiri. Sebagai perbandingan, harga klub ini sendiri ditaksir sekitar 1,8 sampai 2 milyar pounds. Jadi pinjaman owner ini sudah sebesar 15% dari nilai asetnya, bukan angka yang kecil. Jadi Kroenke tidaklah se-“pelit” sangkaan kebanyakan fans Arsenal.

Pertanyaan berikutnya, apakah KSE akan menambahkan lagi cash injection di atas 300 juta pounds pinjaman ini yang sudah diberikan demi budget belanja Arsenal musim ini? Mari kita periksa bersama.

Anggaplah pinjaman KSE itu tak perlu dibayar dalam waktu dekat maka operasional Arsenal musim ini tinggal tergantung balance pendapatan dan pengeluaran. Dari tabel di atas, hitung-hitungan simple (tidak akurat karena cost tidak sama dengan cash) bisa diasumsikan cash Arsenal 110 + utang 120 – loss 150 akan menyisakan cash di awal musim ini kira-kira sebesar 80 juta pounds, yang terendah dalam beberapa tahun terakhir. Cash ini tentunya tidak boleh lebih rendah lagi karena masih ada kewajiban pembayaran transfer pemain sebelumnya. Pendek kata, Arsenal tidak boleh rugi lagi di buku musim 2021/2022 jika tidak ingin klub kehabisan cash alias terancam bangkrut.

Pendapatan Arsenal di musim normal dengan Champions League itu sekitar 420 juta pounds. Hadiah karena berpartisipasi di Champions League untuk klub PL minimal 50 juta pounds dan tim juara bisa membawa pulang total pemasukan sampai 80 juta pounds. Sedangkan partisipasi di Europa League hanya akan memberikan pemasukan sekitar 10-20 juta pounds. Maka tanpa kompetisi Eropa sama sekali musim ini dan anggaplah fans boleh memenuhi stadion kembali, maka pendapatan Arsenal musim ini akan ada di kisaran 380 juta pounds bukan 320 juta pounds seperti yang di-estimasi AST.

Nah sekarang perhitungan biaya. Biaya terdiri dari gaji pemain dan transfer pemain dan biaya operasional klub. Menariknya biaya transfer tidak dicatat full di satu musim. Contoh: bila sebuah klub membeli pemain senilai 50 juta pounds dengan kontrak 5 tahun, maka biaya yang dicatat di musim pertama adalah amortization-nya sebesar 50 dibagi 5 tahun = 10 juta pounds. Kemudian musim berikutnya juga sama akan dicatat 10 juta pounds, dan seterusnya sampai kontraknya berakhir. Dengan cara ini, bila Arsenal belanja pemain sebesar 200 juta pounds untuk musim ini dan rata-rata pemain barunya dikontrak 5 tahun, maka biaya belanja pemain untuk musim ini hanya akan dicatat sebesar 40 juta pounds, sebagai tambahan amortization di atas biaya amortization musim-musim sebelumnya. Kemudian setiap tahun Arsenal akan catat biaya amortization 40 juta pounds baru ini hanya sebagai akibat belanja pemain musim ini. Belanja pemain baru di musim berikutnya lagi akan menghasilkan biaya amortization tambahan di atas 40 juta yang dibebankan semusim. Saya menghitung dari daftar belanja pemain Arsenal dalam 5 tahun terakhir kira-kira biaya amortization dari transfer di musim-musim sebelumnya akan dicatat di musim ini sebesar 80 juta pounds, belum termasuk belanja musim ini. Ini yang menyebabkan Cost Arsenal naik semenjak musim 2017/2018 melebihi 400 juta pounds dan membuat Arsenal lebih besar pasak daripada tiang.

Karena biaya Arsenal dari amortization musim ini pasti nambah akibat belanja pemain baru, sederhananya kalau belanja 100 juta pounds maka amortization tambahannya 20 juta, belanja 150 -> 30 juta dan 200 -> 40 juta, 250 -> 50 juta maka untuk membalance biaya tambahan tersebut tanpa klub mengalami kerugian setiap tahunnya ada beberapa cara:

  1. Tingkatkan pendapatan dengan cara kembali ke Champions League, tambahan pendapatan otomatis sekitar 50-80 juta pounds. Menjadi juara Premier League juga akan mendatangkan tambahan hadiah uang 20 juta pounds untuk Arsenal dan efek domino pendapatan komersial yang akan nambah (sponsor lebih suka dengan klub juara).
  2. Kurangi beban biaya gaji. Dengan melepas pemain-pemain bergaji besar di musim lalu seperti Ozil, Mkhitaryan, Mustafi, Sokratis dan musim ini bila Arsenal juga menjual Lacazette dan melepas Kolasinac, saya prediksi akan ada penghematan dari segi gaji pemain sebanyak 30-40 juta pounds (Ozil sudah 18 juta pounds sendiri) sehingga biaya per tahun menjadi 400 juta pounds, belum termasuk amortization belanja pemain tahun ini. Biaya gaji pemain baru bisa di-offset dengan pemain lainnya yang akan dijual / loan out di musim ini juga dan karena Arsenal akan lebih banyak menjual pemain atau daripada membeli, saya asumsikan beban gaji pemain baru tidak akan menambah biaya per tahun ini.
  3. Pemasukan dari Profit penjualan pemain. Lihat baris Player Sales di Tabel 2, pemasukan ini dicatat terpisah dari Revenue. Ini sebenarnya dikategorikan sebagai non-operating profit. Cara hitungnya adalah harga jual dikurangi amortization yang tersisa. Contoh: Lacazette dibeli seharga 47,5 juta pounds, amortization per tahun 9,5 juta pound. Bila ia dijual sekarang (dengan sisa kontrak setahun) seharga 15 juta pounds, maka profit dari player sales menjadi 15 – 9,5 = 6,5 juta pounds. Yang dicatat di Player Sales menjadi 6,5 juta bukan 15 juta pounds. Tapi amortization cost-nya untuk musim ini juga menjadi 0 bukan 9,5 juta pounds. Untuk pemain muda jebolan akademi sendiri (tidak ada amortization cost) dan pemain yang sudah habis amortization costnya seperti Granit Xhaka, maka harga penjualan pemainnya akan dicatat langsung sebagai Profit from Player Sales.

Sekarang Anda sudah tahu resep rahasia menciptakan budget transfer Arsenal. Pertama, tingkatkan pendapatan sebagai rencana jangka panjang, big picture action. KSE menyimpulkan dengan mengangkat tim kembali ke Champions League, dan bersaing untuk juara PL, paling tidak Arsenal bisa menaikkan pendapatan sebesar 100 juta pounds dari 380 juta pounds musim ini ke level yang setara Liverpool dan Manchester City sekitar 460-480 juta pounds. Sangat realistis bila stadion penuh penonton. Dengan demikian hanya dalam waktu kurang dari 5 tahun, “pinjaman”-nya ke klub yang sebesar 300 juta pounds bisa dikembalikan. Sebaliknya, bila ia tak berbuat apa-apa sekarang, value klub akan semakin merosot (sudah dibuktikan oleh survey Deloitte terakhir) yang akan merusak nilai asetnya (investasinya rugi). Kemerosotan ini akan terjadi sangat cepat jika tidak dihentikan dan akan lama bagi Arsenal untuk bisa kembali bersaing di level top lagi (contoh Leeds United era 2000-an). Satu-satunya cara untuk kembali ke Champions League adalah dengan investasi yang tepat di tim pelatih dan pemain, tidak ada cara pintas lainnya.

Untuk jangka pendek, penghematan beban gaji yang sudah dimulai di musim lalu dan pemasukan dari profit penjualan pemain menjadi target Arsenal musim ini. Sayangnya kondisi lagi pandemi sehingga Arsenal harus cerdas agar potensial profit ini tidak tergerus oleh pasar yang terdepresi. Musim ini Arsenal berpotensi meraup profit Player Sales dari 80 juta pounds hingga 120 juta pounds. Supaya mudah hitungnya, saya anggap biaya amortization sisa pemain yang mau dijual tidak kita kurangi lagi di komponen biaya, sehingga profit from players sales bisa dihitung dari total harga jual pemain saja, untuk kesederhanaan estimasi. Sekarang kita coba kalkulasi sederhana:

  • Revenue = 380
  • Cost = 400
  • Operating Profit/Loss = -20
  • Finance Cost = minimal karena restrukturisasi utang KSE, anggap saja -15 per tahun untuk bayar ke Barclays Bank pinjaman yang 120 juta itu
  • Profit Player Sales = 80 (ambil yang minimum)
  • Maka Profit Sementara 2021/2022 = 380 – 400 – 15 + 80 = 45 juta pounds (sebelum biaya amortization baru dari belanja pemain musim ini)

Anggaplah Arsenal ingin balance di bukunya nol, maka kita bisa hitung budget belanja pemain (buying player, bukan net spending) musim ini dengan konversi Profit Sementara tersebut menjadi Amortisation per tahun, sehingga Budget Belanja musim ini menjadi 45 x 5 = 225 juta pounds. Mengejutkan? Apakah ini ilusi? Jelas tidak kalau Anda memahami rencana besar Arsenal dan mekanisme accounting klub sepakbola seperti yang saya jelaskan di atas. Namun ingat player sales sebesar ini tidak dapat terjadi setiap musim, sehingga di musim berikutnya biaya amortization sebesar 45 juta pounds ini harus ditutupi dengan pendapatan tambahan dari Champions League bukan dari player sales.

Prediksi Transfer Arsenal Berikutnya

Tentunya bila Arsenal memutuskan untuk belanja 225 juta pounds dan menjual minimum 80 juta pounds pemainnya sekarang, gambling ini hanya akan terbayar bila Arsenal masuk kembali ke Champions League musim depan. Saya yakin manajemen klub ini telah menjalankan hitung-hitungan ini dari musim lalu sehingga langkah-langkah seperti redundancies staff dan scout, melepas gratis beberapa pemain bergaji tinggi sudah dimulai dari musim lalu. Klub juga mencoba menaikkan pendapatan sebisa mungkin, termasuk lewat penjualan streaming game pre-season (haha segala cara mesti dimanfaatkan), dan kerjasamanya dengan token crypto untuk mendapatkan pemasukan baru dari global fanbase Arsenal. Namun semua ini hanya akan sukses bila skuad Arsenal musim ini dapat memanfaatkan absennya dari kompetisi di Eropa untuk fokus ke Premier League dan finish di top four. Kebangkitan di 24 pertandingan terakhir musim lalu (baca Part 2) dan keyakinan hadirnya perubahan positif yang telah dilakukan Arteta sejak ia bergabung di kultur dan atmosfer tim telah membuat manajemen klub dan pemilik Arsenal percaya dengan Arteta 100% dan memberikan ia cheque senilai 225 juta pounds untuk belanja pemain di TW ini. Angka ini tidak berbeda jauh dengan rumor yang sempat beredar bahwa KSE memberikan Arteta budget belanja musim mini hingga 250 juta pounds bukan? Selisih 25 juta pounds ini mudah saja tercapai jika Arsenal bisa mengoptimalkan penjualan pemain ke level 120 juta pounds.

Namun hitung-hitungan di atas juga berarti TW musim ini adalah spesial case dan tidak setiap musim ke depannya Arsenal bisa melakukannya. Jangan berharap Arsenal belanja 200 juta pounds lebih setiap musim, lebih realistik sekitar 100 juta pounds per musim (nambah sedikit kalau berhasil melangkah semakin jauh di Champions League). Arsenal melihat ini sebagai kesempatan emas di mana pasar terdepresi dan merupakan buyer market sehingga harga pemain pun turun dan persaingan berkurang untuk mendapatkan pemain. Ketika efek pandemi sudah berkurang, maka harga akan kembali normal. Selain itu dengan membeli pemain usia 21-23 tahun sekarang, dalam 2-3 tahun ke depan kita tidak terlalu membutuhkan banyak pemain baru, bisa lebih mengandalkan pada perkembangan pemain muda ini sebagai squad improvement yang terjadi secara natural.

Bisa kita katakan Arsenal benar-benar gambling di TW ini dengan Showdown ala poker di meja taruhan, dengan Arteta sebagai kuncinya. Luar biasa kepercayaan yang diberikan klub kepada manajer muda ini. Trust the process!

…dengan membeli pemain usia 21-23 tahun sekarang, dalam 2-3 tahun ke depan kita tidak terlalu membutuhkan banyak pemain baru, bisa lebih mengandalkan pada perkembangan pemain muda ini sebagai squad improvement yang terjadi secara natural.

Nah sekarang kita sampai pada bagian prediksi transfer saya. Ada dua skenario yang saya buat. Yang pertama adalah versi Optimis yaitu Arsenal sukses mengeksekusi semua rencananya di satu TW saja, dalam sisa sebulan terakhir menjual 9 pemain dan membeli 5 pemain baru. Skenario kedua adalah yang mungkin lebih Realistis, mengingat sulitnya penjualan pemain. Di sini saya prediksi Arsenal akan berhasil menjual 7 pemain dan membeli 3 pemain baru di sisa satu bulan ini. Kemungkinan sisanya akan dilakukan di Januari atau malah di musim depannya lagi.

Skenario 1 – Optimis

Tabel 3 – Prediksi versi Optimis

Player Sales senilai kurang lebih 120 juta pounds, sehingga budget belanja (buying power) Arsenal meningkat drastis sampai level 250 juta pounds, bahkan Tammy Abraham di daftar ini bisa diganti dengan Lautaro Martinez dengan tambahan 20-25 juta pounds, masih cukup. Kuncinya tentu ada pada kelihaian Edu dan Garlick untuk menjual Joe Willock di 25 juta, AMN dan Nelson di masing-masing 15 juta, dan Nketiah di 20 juta. Lacazette barter dengan Bruno Guimaraes + 25 juta cash. Bellerin barter dengan Lautaro Martinez dengan tambahan 45-50 juta cash. Kemudian Lucas Torreira dijual dengan minimal harga 10 juta pounds saja mengingat lesunya pasar Italia sekarang.

Untuk pemain yang dibeli, Odegaard harus dinego habis ke level 35 juta pounds dan Ramsdale dibeli dengan adds-on, basic transfer 25 juta pounds. Mert Muldur hasil hadiah dari Sassuolo karena kita membantu mereka agar tidak di-bully Juventus saat transfer Locatelli. Apabila Lautaro Martinez tidak berhasil digaet, maka Tammy Abaraham seharga 40 juta pounds dengan status homegrown dan ceiling yang tinggi juga atraktif. Apalagi ia memiliki atribut yang tidak dimiliki striker Arsenal sekarang (target man, heading, driving to the box, attacking the box).

Jumlah pemain menjadi 26 orang dengan komposisi 15 non HG dengan Tammy atau 16 non HG dengan Lautaro Martinez. Musim depan Nuno Tavarez akan makan jatah non HG maka penting buat Arsenal menyisakan minimal satu slot non HG sekarang. Kuota HG tidak masalah karena kita masih memiliki beberapa pemain U21 yang di musim-musim mendatang akan masuk ke kategori HG. Mau lebih jelas tentang aturan HG, silakan kembali baca Part 1.

Sementara itu Willian dan Cedric jika dijual tidak akan membutuhkan pengganti pemain baru, dan skuad akan menjadi lebih ramping dengan 24 pemain. Saya juga tidak mengharapkan pemasukan banyak dari penjualan kedua pemain ini namun cukup signifikan untuk penghematan biaya gaji pemain.

Skenario 2 – Realistis

Tabel 4 – Prediksi versi Realistis

Dengan basis yang sama dengan Skenario 1 namun di sini saya prediksi Arsenal gagal menjual Willock di harga yang diinginkan sehingga pemain ini dipertahankan. Kemudian swap Lacazette dan Bruno Guimaraes gagal karena Arsenal juga tidak berhasil mendatangkan striker baru. Yang masuk Odegaard, Ramsdale dan Mert Muldur. Pertimbangannya tentunya dengan kembalinya Granit Xhaka, Arteta mungkin merasa dengan adanya 4 CM saat ini dan Sambi sepertinya cukup meyakinkan untuk tampil di Premier League, CM baru belum diperlukan, bisa disimpan untuk winter TW atau musim mendatang. Demikian juga untuk Lacazette yang walaupun kontraknya tersisa satu tahun, namun leadershipnya yang bagus dan form-nya yang sedang baik-baiknya rasanya sayang dijual hanya demi pendapatan 10-13 juta pounds saja.

Pertimbangan lainnya dengan terlalu banyaknya perombakan skuad, bisa jadi tim bukannya menjadi harmonis, malah membutuhkan waktu lama untuk membangun ulang. Dengan skenario ini pun, Arsenal sudah kedatangan 6 pemain baru (satu pemain baru rasa lama dalam wujud Odegaard) sehingga angka 5 pemain baru ini masih terhitung ideal. Dengan total belanja sekitar 142 juta pounds, maka tambahan amortization setahun adalah 142 / 5 = 28.4 juta pounds saja, tidak terlalu membebani anggaran klub musim ini dan menyisakan budget belanja musim depan untuk modal tim yang berkompetisi di Champions League (semoga).

Dengan skuad versi skenario realistis ini, selama Partey tidak cedera dan Lacazette, Aubameyang bisa tampil lebih baik daripada musim lalu, saya optimis Arsenal bisa masuk ke top four di akhir musim ini. Kita sudah melihat indikasinya saat kita mengulas performa musim lalu di Part 2. Di pre-season ini saja kita bisa melihat The Smith yang makin berpengaruh terhadap tim, makin percaya diri. Pepe dan Partey yang semakin sharp. Tierney kembali menunjukkan agresivitasnya dan Sambi mengindikasikan pemain dengan prospek cerah, Partey versi muda. Belum lagi ditambah dengan Ben White dan Odegaard yang tentunya akan menambah daya gedor Arsenal. Malam ini kita bisa menyaksikan kesiapan tim ini memulai Premier League dalam friendly lawan Chelsea.

Apabila diperlukan pun, Arsenal masih bisa menambah daya gedor di TW Januari nanti dengan adanya amunisi yang masih tersedia.

Penantian dan Harapan

Satu bulan ke depan menjadi penentuan berhasil tidaknya gerakan Arsenal di jendela transfer ini. Pembelian ketiga pemain yang telah terjadi dengan nilai transfer signifikan, rumor yang beredar dan pernyataan dari jurnalis yang mengutip sumber dari dalam klub semua menunjukkan pada indikasi Arsenal akan belanja besar untuk musim ini. Tidak heran Pep Guardiola juga mengatakan Arsenal will invest next season, tentunya ia sudah bicara dengan Arteta dan rencana ini sudah dibuat sejak musim lalu, bukan karena reaksi instan KSE terhadap protes fans seputar Super League. Langkah ini sangat bisa dimengerti sebagai reaksi natural untuk memproteksi nilai asetnya dari kemerosotan lebih jauh. Kroenke tidak terlalu peduli dengan kritikan fans, bisa dilihat dengan niatnya memindahkan sebuah klub (The Rams) dari satu kota ke kota lain karena alasan komersial. Ia tak peduli protes penduduk satu kota sekalipun. Namun selama langkah ini membuat tim ini menjadi lebih baik dan Josh Kroenke ingin menggunakannya untuk PR dirinya di hadapan fans, kita sih setuju-setuju saja. Janganlah menjadi fans yang naif dan reaktif, jadilah fans yang mau berpikir lebih jauh dan memahami realita, maka Anda akan lebih berkurang penderitaannya dalam mendukung sebuah tim sepakbola.

Saya sangat gembira melihat rencana Arsenal (dan KSE) mendukung Arteta dengan tindakan yang ambisius ini dan bahwa Arsenal kembali mengandalkan pemain muda dalam proses rebuilding tim. Keberhasilan Arsenal mengikat masa depan pemain-pemain muda ini seperti yang telah terjadi pada Bukayo Saka, Gabriel Martinelli, Folarin Balogun, Kieran Tierney dan Emile Smith Rowe yang semuanya menandatangani kontrak 5 tahun menjadi bukti Arsenal tidak akan mengulangi kesalahan masa lalu di mana Project Youth buyar karena kegagalan Arsenal mempertahankan pemain-pemain muda seperti Hleb, Fabregas, Nasri, Adebayor, Song, dari incaran tim kaya.

Kita sebagai fans, juga mesti sabar dengan pemilihan jalan yang tidak pintas ini. Target pertama masuk ke top four dahulu karena selisih sekitar 14 poin dengan top four dari perolehan poin Arsenal musim lalu cukup jauh untuk dijembatani dalam satu musim. Safe number untuk top four adalah 75 poin sedangkan Arsenal hanya meraih 61 poin musim lalu. Kemudian musim-musim berikutnya barulah berusaha ke level angka 85-95 poin (naik lagi 10-20 poin, tidak mudah bukan?) yang artinya bersaing dengan kandidat juara PL. Namun kita juga tahu bahwa tim muda, semakin sering bermain bersama akan tumbuh bersama dengan satu tujuan – menjadi manifestasi sebuah tim sepakbola yang hebat, di mana the whole is greater than the sum of its parts.

Arsenal sekarang terlihat lebih punya planning matang dan lebih tahu cara mengeksekusi planningnya dengan benar. Satu visi dan solid dari manajemen atas hingga ke tim pelatih dan semua pemain. Mantan pemain Wenger memegang posisi-posisi penting di klub seperti Edu, Mertesacker dan Arteta. Hilang sudah outsiders seperti Raul cs dan saya optimis manajemen Arsenal sekarang bisa upgrade Arsenal DNA warisan Wenger dengan menjadi klub yang lebih kompetitif tanpa meninggalkan The Arsenal Way, Jalan Arsenal.

Semoga sebelum tepat ulang tahun ke-20 diabadikannya The Invincibles warisan terhebat Sang Maestro, Gooners di seantero jagat sudah bisa kembali merasakan Arsenal mengangkat trofi Premier League, di bawah pimpinan murid-murid andalannya. Bak sebuah cerita silat klasik.