North London Derby yang tak terlupakan

Happiness is in the content of moment-to-moment experiences…

Kebahagiaan ada pada pengalaman saat ini, bukan pada benda yang dimiliki. Jadi bila Anda memiliki uang lebih (bonus, tabungan), memilih menghabiskannya untuk pengalaman daripada material menurut riset psikolog Matthew Killingsworth, akan lebih mendatangkan kebahagiaan. Artikel “Buy Experiences, Not Things” yang berdasarkan pada riset Killingsworth yang menegaskan kembali hasil riset-riset psikologi selama sepuluh tahun terakhir ini yang menyimpulkan bahwa pengalaman (experiences) lebih memberikan kita kebahagiaan daripada kepemilikan (possession). Silakan dibaca artikel yang sangat menarik tersebut.

Saya sudah membuktikannya sendiri. Menyaksikan langsung pertandingan Arsenal vs tetangga berisik di Emirates Stadium mendatangkan kebahagiaan yang tak akan terlupakan, dibandingkan membeli tas atau pakaian bermerk (jelas isteri saya akan berpendapat berbeda). Hampir 3 bulan telah berlalu sejak pengalaman tersebut, namun setiap saya mencoba mengingatnya, menonton rekaman video dan foto dari hari bersejarah tersebut bagi seorang Gooner, senyum lebar akan selalu hadir, untuk diri sendiri.

20171118_152947858_iOS
Pose Bersama Pemain Terbaik Arsenal Sepanjang Masa. 18 Nov 2017. Arsenal 2-0 Tottenham Hotspur.

Mendeklarasikan diri sebagai Gooner sejak 1998, mengunjungi dan menyaksikan langsung pertandingan Arsenal adalah impian terpendam. Impian itu terwujud sebagian ketika Arsenal melakukan tur ke Indonesia tahun 2013. Saat itu, saya menyempatkan diri bergabung dengan puluhan ribu supporter Arsenal Indonesia menonton langsung pertandingan Arsenal vs Indonesia All Star di Gelora Bung Karno, Jakarta. Pertandingan yang berakhir 7-0 untuk Arsenal itu dengan aksi pemain muda Gedion Zelalem tentunya sangat berkesan. Melihat langsung pemain-pemain Arsenal di lapangan rumput maupun di bus tim untuk pertama kalinya, terasa surreal. Saya tidak menyadari saat itu kalau pengalaman di Emirates Stadium akan berkali lipat lebih luar biasanya.

Kesempatan untuk ke London dan menonton langsung North London Derby itu datang tanpa rencana. Bisa juga dianggap kebetulan. Tahun lalu, 2017, saya mendapatkan undangan dari head office perusahaan tempat saya bekerja untuk ikut leadership training di Belanda selama tiga kali, yakni di bulan Juni, September dan November, masing-masing selama 3-4 hari. Tiket pesawat dan akomodasi ditanggung perusahaan tentunya. Ini merupakan kesempatan pertama kalinya saya ke Eropa. Saat itu yang terbayang di pikiran bukanlah keindahan kincir angin dan bunga tulip di Belanda, tapi North London, kandang Arsenal. Saya langsung merencanakan untuk berkunjung ke London dari Belanda di salah satu dari tiga kesempatan kunjungan itu. Tiket pesawat Amsterdam – London tidaklah mahal, banyak pilihan budget airlines.

Bulan Juni tidak termasuk pilihan karena Premier League sedang libur, tersisalah opsi bulan September atau November. Atas saran seorang rekan peserta training asal London yang juga seorang Gooner, September menjadi pilihan bagus karena cuaca yang bersahabat (musim dingin belum tiba). Tiket pertandingan pun bisa diatur olehnya, pertandingan Arsenal vs Brighton & Hove Albion, tanggal 1 Oktober. Rencananya saya langsung melanjutkan perjalanan ke London setelah selesai training tanggal 30 September.

Sebagai Project Manager, rencana yang tidak berjalan mulus sudah biasa saya temukan dalam pekerjaan. Eh, ternyata rencana kunjungan ini juga begitu. Visa UK yang saya ajukan belum disetujui hingga hari H-3 keberangkatan ke Amsterdam. Khawatir saya tidak dapatkan kembali paspor untuk berangkat ke Amsterdam, saya ajukan fasilitas Passport Passback (peminjaman passport yang visa-nya belum disetujui) ke Embassy UK. Saya lalu membatalkan penerbangan ke London dari Amsterdam, batalkan reservasi hotel dan tentunya juga tiket pertandingan. Rencana ke London diubah ke bulan November. Yang mengejutkan, H-1 keberangkatan saya menerima kembali paspor saya yang sudah distempel Visa UK, disetujui! Sial, semua rencana sudah terlanjur diubah. Apa boleh buat, manusia hanya bisa berusaha, kehendak Tuhan berkata lain!

Scrolling fixtures Home Arsenal, mata melotot pada North London Derby, 18 November 2017. Training di Amsterdam dimulai 20 November. Wah ini takdir, segera saya memesan tiket pesawat, reservasi akomodasi, dan kontak teman Gooner di London tersebut untuk tiket pertandingan. Singkat kata, ia gagal mendapatkan tiket pertandingan karena derby match tersebut masuk kategori A, ludes terjual. Tidak kehilangan akal, saya coba fasilitas ticketing online Stuthub. Harga tiket di sana kurang lebih 2 kali lipat harga general sale ditambah biaya pelayanan. Cari tiket termurah di upper tier, shortside (barisan bangku paling atas, sisi lapangan pendek belakang gawang), dapat tiket dengan harga £140 yang harga normalnya £76. Ditambah dengan biaya administrasi+servis, total biaya sekitar hampir 3 juta rupiah. Lumayan untuk pengalaman sekali seumur hidup (mudah-mudahan bisa berkali-kali, maunya). Pertandingan pertama yang sempurna, first match yang sekaligus first north london derby.

Tiket pesawat antar negara di Eropa tidak mahal, tiket easyJet hanya sekitar €80 pp tanpa bagasi. Namun hotel di London sangat mahal, maka saya memilih menggunakan Airbnb (homestay). Bisa dapat kamar privat di North London dengan harga €60 per malam, sepertiga dari harga hotel di tengah kota. Rencana perjalanan pun dibuat, tiba di London dari Amsterdam hari Kamis untuk menyaksikan pertandingan di hari Sabtu dan kembali ke Amsterdam hari Senin pagi untuk training. Empat malam di London tidak akan pernah cukup, namun karena ini adalah liburan tanpa keluarga, 4 hari ini sudah sangat lumayan, tahu dirilah sebagai seorang suami dan ayah dengan dua anak. Untung punya isteri yang juga seorang Gooner yang sangat pengertian. Lain kali saya berjanji akan datang lagi ke London bersama keluarga dalam wujud liburan beneran (2 minggu mungkin?).

Jurnal Perjalanan

Karena durasi perjalanan yang singkat, maka rencana jalan-jalan saya fokuskan ke Arsenal. Kamis siang menjelang sore tiba di London, naik Tube (London Underground – MRT) langsung menuju ke North London keluar di Arsenal Station. Berjalan melewati Highbury Stadium yang sudah disulap menjadi apartemen, saya sengaja tidak mampir dulu di kandang Arsenal karena cukup capek setelah terbang 14 jam dari Jakarta-Amsterdam direct flight yang dilanjutkan 1 jam penerbangan ke London. Sambil menunggu yang punya kunci rumah, sempatkan diri dinner di The Highbury Barn, pub di Highbury Park, dekat rumah tujuan.

IMG_20171116_151107

Highbury Square, apartement complex yang dulunya adalah Highbury Stadium. Nama Arsenal Stadium dan East Stand masih melekat, peninggalan budaya

Jumat pagi, saya berkunjung ke proyek teman di Kings Cross. Ia adalah rekan training (yang disebut di atas), Project Manager yang juga Londoner dan Gooner. Entah sengaja atau tidak, staf-staf proyek yang dikenalkannya pada saya juga hampir semuanya supporter Arsenal. Berceritalah kita mengenai prospek Arsenal vs Spurs. Walaupun di mulut pada yakin menang, namun saya bisa merasakan kekhawatiran di hati mereka, terlebih karena performa Spurs saat itu yang sedang bagus-bagusnya. Di meja salah seorang staf senior proyek tersebut, ada foto dirinya dengan Ian Wright dengan senyum lebarnya, supporter Arsenal seumur hidup sepertinya.

Saya dikenalkan sebagai seorang teman dari Jakarta, satu grup perusahaan, dan juga sebagai seorang Gooner yang akan nonton NLD. Pengantar perkenalan seperti ini ternyata sangat efektif. Arsenal, lebih daripada agama, menjadi jembatan komunikasi yang efektif. Langsung kita berbicara mengenai performa tim, mengenai Wenger in and out, mengenai Lacazette, Ozil dan pemain-pemain lainnya. Baru kemudian kita bercerita tentang asal dan kehidupan masing-masing. Hal ini juga saya rasakan ketika berkumpul dengan komunitas AIS di Jakarta, Pekalongan, Tuban dan Tangerang. Mudah sekali connect dengan supporter Arsenal di manapun karena selain kita memiliki hobi yang sama, kita juga melakukan perjalanan yang sama dalam mengikuti klub ini. Start-nya mungkin boleh berbeda, saya dari 1998, Anda dari 2000-an, atau ada yang dari 80-an, tapi saat kini yang kita alami sama. Kita seakan berada dalam satu kereta yang sama, berangkat dari stasiun yang berbeda-beda, waktu yang berbeda-beda, tetapi dengan satu tujuan, tujuan yang tak terhingga. Walaupun ada yang akan meninggalkan kereta ini duluan, sebelum sampai tujuan, entah karena kematian, ataupun karena penyakit (depresi, bosan), atau karena berkhianat (pindah kereta), yang tersisa akan terus melakukan perjalanan, bersama, mengalami hal yang sama. Kenangan yang sama dari gerbong kereta Arsenal ini tidak akan pernah dipahami oleh orang lain yang belum pernah masuk ke gerbong ini. Kenangan dan pengalaman saat ini menjadi alat komunikasi yang efektif untuk menghubungkan orang-orang yang tadinya asing satu sama lain.

Kita seakan berada dalam satu kereta yang sama, berangkat dari stasiun yang berbeda-beda, waktu yang berbeda-beda, tetapi dengan satu tujuan, tujuan yang tak terhingga.

Siangnya, saya memutuskan ke Emirates Stadium dengan tujuan melihat bagian luar stadion dan bagian dalam lewat Arsenal Tour. Setelah melewati Ken Friar Bridge, tampaklah pemandangan Emirates Stadium di sebelah kiri dan Arsenal Museum sebelah kanan. Megah sekali stadion Arsenal ini, dengan facade kaca dan cladding poster berbagai pemain legendaris yang berangkulan, simbol Victoria Concordia Crescit. Puas mengambil foto dari luar, segera saya masuk ke Arsenal Museum untuk membeli tiket Arsenal Stadium and Museum Tour. Karena tidak pernah membaca apa saja isi tour-nya selain masuk ke dalam stadion, saya cukup penasaran dengan isi museumnya.

Arsenal Stadium.jpg

Kiri atas (searah jarum jam): Monumen Ken Friar Bridge, Arsenal Museum, Emirates Stadium

The Tour

Setelah membayar £22, saya diberikan semacam walkman dan earphone yang bisa memainkan file audio tertentu ketika kita berada dekat dengan titik tertentu, sebagaimana tour guide yang menjelaskan histori benda tertentu di museum-museum di Eropa. Di kasir, saya berkenalan dengan Alpha, pria asal Sierra Leone yang juga ingin mengikuti tur. Ia fans West Ham United, namun istrinya dan kakak-adiknya adalah fans Arsenal. Karena sedang di London, ia penasaran dengan isi stadion Arsenal. Ia belum memiliki tiket untuk pertandingan besok. Lumayan, dapat teman baru yang bisa dimintakan bantuan motret, daripada foto selfie melulu. Jadilah kami saling memotret selama tour ini, kerjasama simbiosis mutualisme.

Arsenal Museum

Arsenal Museum

Dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang mencerminkan era yang berbeda, museum ini penuh dengan memorabilia dan kata-kata kutipan para legenda. Misalnya dari Herbert Chapman, manager sukses Arsenal yang pertama yang meletakkan batu pondasi kesuksesan untuk manager-manager berikutnya:

I’m going to make this the greatest club in the world.

Bob Wilson, kiper legendaris Arsenal saat ia mengunjungi Highbury pertama kalinya:

It took my breath away. How could I ever have the nerve to play in front of this?

Dan ini, dua kutipan dari Arsene Wenger:

In football there is a shared responsibility. Intelligent players always understand the real star is the team and what they give to the team, the team gives back to them.

It’s not impossible. I know it will be difficult for us to go through the season unbeaten. But if we keep the right attitude it’s possible we can do it.

Kutipan terakhir tersebut dilontarkan Wenger di awal musim 2002/2003 yang mana akhirnya timnya disalip oleh Manchester United dalam perebutan gelar juara Premier League. Wenger menjadi bahan tertawaan supporter United dan media karena dianggap pemimpi. Musim berikutnya ia yang tertawa terakhir karena keyakinannya pada timnya terbayar dengan gelar Premier League yang didapatkan tanpa menderita kekalahan. The Invincible mendapatkan tempat layak di museum tersebut. Rasanya waktu berjam-jam pun tidak cukup untuk menelusuri seluruh bagian dari museum ini. Kalau tidak mengingat matahari akan terbenam dan saya belum melihat isinya Emirates Stadium, enggan rasanya beranjak keluar dari tempat yang penuh sejarah Arsenal ini. Saya dan Alpha pun keluar dari museum, menyeberang ke arah stadion.

IMG_20171118_144301

19 Managers of Arsenal (1894 – present)

Masuk dari basement dan naik ke atas, ke Director’s Box lalu ke kursi penonton di Club Level, pemandangan luar biasa menyambut kami. Jantung saya seakan berhenti berdetak sesaat menyaksikan lapangan hijau yang rapi, atap yang berbentuk kurva tipis bergelombang dan deretan bangku merah yang mengikuti lengkungan indah atap stadion tersebut.

IMG_20171117_155103.jpg  IMG_20171117_155152IMG_20171117_155108.jpg

Dalam kondisi kosong pun stadion ini megah luar biasa. Sunyi sekali karena suara beberapa peserta tour teredam oleh kemampuan akustik bangunan yang sangat baik. Kata-kata,”Oh my God, it’s amazing!” berulang kali terucap dari bibir saya dan Alpha. Ia yang tidak berencana untuk menonton pertandingan esok kemudian berujar, “Benny, I have to see the match tomorrow.” Alpha merasa sayang melewatkan pertandingan di stadion yang sangat bagus ini. Ia sudah pernah menyaksikan pertandingan di kandang Chelsea dan Manchester City, namun baginya stadion kandang Arsenal ini masih jauh lebih keren. Ia pun menelepon saudaranya yang sudah lama tinggal di London untuk mencarikan tiket untuk pertandingan besok. Keesokan harinya saya tidak bertemu dengannya karena keramaian yang luar biasa tapi ia mengabarkan kalau ia mendapatkan tiket di area tandang, menonton bersama pendukung Spurs!

Setelah puas menikmati sensasi dari tiga indera, mata, telinga dan kulit yang menyentuh bangku stadion, serta berfoto-foto ria, kami pindah ke bawah. Dressing room menjadi tujuan pertama. Ada terlihat kolam air untuk pemulihan, tempat massage, gym kecil sebelum kamar ganti pemain. Di dalam, tentunya tempat Ozil menjadi pilihan pertama. Blessing dari saya terhadapnya ternyata tidak sia-sia, Ozil tampil luar biasa keesokan harinya.

IMG_20171117_160713

Blessing untuk Ozil

Dari dressing room, kami melintasi ruang press conference Wenger, lalu ke tunnel menuju lapangan. Sekali lagi, kami terkesima dengan pemandangan depan mata. Lapangan rumput yang begitu rapi dan hijau. Saya melihat apa yang para pemain Arsenal lihat. Sungguh stadion yang luar biasa, walau saat ini dalam keadaan kosong. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya bermain di saat stadion penuh, seluruh pendukung menyanyikan lagumu, tak henti-henti seperti We’ve Got Mesut Ozil!

IMG_20171117_161718

Bersama Alpha di Bangku Cadangan

Keberuntungan di hari itu tiada habisnya. Alpha tiba-tiba menyenggol tanganku. Tebak, siapa yang datang ke stadion hari itu? He’s a very nice man.DSC00606

Pengalaman tur yang manis, dan tak akan terlupakan. Setelah itu saatnya belanja merchandise Arsenal di The Armoury untuk diri sendiri dan keluarga.

The Match Day

Gerimis di siang hari itu menemani perjalanan ke stadion. Keluar dari Arsenal Station, Gooners mulai bernyanyi bersama. Lagu wajib “What do you think of Tottenham?” berulang kali dikumandangkan supporter Arsenal. Gate masuk fans home dan away dipisah untuk menghindari keributan. Kebanyakan fans Spurs menyembunyikan jersey mereka di luar stadion (di balik jaket) agar tidak bentrok dengan fans Arsenal. Kaos putih tersebut baru terlihat ketika mereka berkumpul di gate masuk away fans. Mulailah banter chant diserukan satu sama lain. Masuk ke dalam, chant supporter Arsenal semakin kencang. Bak paduan suara gereja, suasana khidmat mengiringi masuknya fans ke tempat sakral ini.

Banyak pendukung Arsenal memilih ngumpul, ngobrol sambil minum bir atau buang air kecil dahulu sebelum ke bangku penonton. Sebagian mengerubungi layar televisi yang tergantung, menyiarkan hype north london derby dengan komentar-komentar pundit yang meramalkan kemenangan Spurs. Tentu mereka tidak tahu kalau saya sudah mengunjungi dan memberikan jampi-jampi spesial ke stadion ini kemarin. 🙂

IMG_20171118_122814.jpg

Inilah view dari tempat duduk saya, Upper Tier Shortside Clock End

Saya duduk di bangku barisan atas belakang gawang, area yang disebut Clock End yang berseberangan dengan North Bank, yang terkenal dengan chant-chant kencang dari anggota REDaction Gooners. Atmosfer pertandingan yang benar-benar luar biasa. Kalau kemarin saya menyaksikan kemegahan dalam sunyi, di match day yang terlihat adalah lautan manusia yang bergelora, bernyanyi bersama sambil menggerak-gerakkan tangan. Emirates Stadium terasa bergetar oleh resonansi suara yang berirama dari puluhan ribu supporter Arsenal. Hebatnya akustik stadion ini bekerja baik sehingga seruan keras puluhan ribu orang ini tidak memekakkan telinga. Begitu positifnya semangat para pendukung Arsenal, bahkan mereka yang datang dengan skeptisme pun akan tergugah, mulai timbul kepercayaan diri bahwa Arsenal akan menang.

Kepercayaan diri pendukung pun menular ke pemain Arsenal. Mereka bermain luar biasa yang mengakibatkan pemain Spurs bermain sangat buruk. Arsenal terus menyerang tanpa kuatir dengan counter attack Spurs. Ozil, Sanchez dan Lacazette berkombinasi dengan sangat baik. Bellerin terus melakukan overlapping di sayap kanan. Koscielny dan Mustafi terus memotong operan pemain tengah Spurs ke penyerangnya. Pressing tinggi dilakukan para pemain Arsenal dan kejutannya Spurs sama sekali tidak melakukan pressing tinggi. Mereka terlihat seperti kelelahan, atau patah semangat, ketika sundulan Mustafi menyambut umpan lambung Ozil dari free-kick membuahkan gol pertama Arsenal.

Pendukung Arsenal semakin semangat dengan gol pertama itu. Lagu wajib what do you think of Tottenham kembali dikumandangkan, sambil tangan menunjuk-nunjuk ke area penonton tandang. Tidak lama setelah gol pertama itu, Sanchez menjebol gawang Spurs setelah kombinasi Bellerin dan Lacazette. Meledaklah seisi stadion Arsenal. Orang asing saling berangkulan, high-five, dan tertawa bersama.

Ada sebuah hal unik yang saya alami saat menonton pertandingan Arsenal dari sisi shortside, belakang gawang daripada dari sisi longside, samping lapangan. Saya pikir saya tidak akan menikmatinya. Kejutannya, menonton dari sisi ini pergerakan dan jalur operan pemain terlihat dengan jelas. Larinya Bellerin dan Sanchez yang menunggu passing dari Ozil sangat kelihatan. Saat mereka mulai berlari sambil melihat Ozil, saat Ozil melihat lari mereka. View ini juga adalah view pandangan pemain. Pemain secara natural akan menghadap ke arah gawang lawan. Formasi dan gerakan pemain terlihat lebih jelas daripada dari layar televisi. Maklum, saya tidak mengikuti langsung kompetisi sepakbola lokal di stadion. Bagi yang sering menonton liga Indonesia, mungkin memahami apa yang saya maksud.

Selain Sanchez dan Bellerin, pemain yang terus bergerak tanpa bola adalah Aaron Ramsey. Di layar televisi pergerakan Ramsey ini tidak akan terpantau. Ramsey punya stamina yang luar biasa, bergerak tanpa henti, memberikan ruang untuk rekannya dengan memancing pemain lawan dan melakukan penetrasi ke kotak penalti sambil meminta bola. Banyak pemain tampil cemerlang hari itu namun tetap bintang yang paling bersinar adalah Mesut Ozil, pusat permainan Arsenal.

Mustafi mengenai atmosfer hari itu:

The atmosphere at the stadium was really on fire, so from the beginning it was really loud. Coming back from injury and playing in the derby, you’re a bit nervous, but obviously scoring takes all the pressure off your shoulders. It felt really good.

I remember that I made a quick turn to have a look at the linesman. I was not thinking about the celebration, I was just enjoying the moment and let myself go. Scoring in the north London derby, I know that it means a lot to a lot of people. Obviously that gives you that feeling that you give them something back. After the game I was more happy for the people than for my goal.

Ngobrol dengan pendukung Arsenal di sebelah saya, mengertilah saya bahwa atmosfer derby hari itu memang luar biasa, di atas normal pertandingan home Arsenal. Melawan prediksi pundit bola yang rata-rata meramalkan kemenangan Spurs, supporter Arsenal bersatu padu menyemangati para pemain dari detik pertama hingga terakhir. Inilah esensi dari mendukung sebuah tim sepakbola. Berbeda dengan teriakan di depan layar kaca yang tak akan pernah terdengar oleh pemain, di stadion pengaruh pendukung itu sangat nyata. Supporter menjadi pemain, dan pemain berbalik menjadi supporter. Pada akhirnya seperti kata Mustafi, para pemain Arsenal ini lebih merasa berbahagia untuk supporter Arsenal daripada untuk dirinya sendiri, karena telah memberikan kebahagiaan kepada mereka, kebahagiaan yang berasal dari pengalaman.

Berbeda dengan teriakan di depan layar kaca yang tak akan pernah terdengar oleh pemain, di stadion pengaruh pendukung itu sangat nyata. Supporter menjadi pemain, dan pemain berbalik menjadi supporter.

Pertandingan selesai dan senyum serta tawa menghiasi wajah pendukung Arsenal yang bergerak keluar dari stadion. Saat itu saya merasa iri dengan Londoners, dengan mereka yang bisa menyaksikan pertandingan langsung seperti ini setiap minggu. Terkadang mereka mungkin tidak merasakan privilege yang mereka punya, terlahir dan hidup di dekat klub tercinta ini. Sebagian dari mereka mengecap kita, fans Arsenal dari belahan dunia lain, sebagai plastic fans, atau tourist fans. Mereka tidak sadar betapa inginnya kita bertukar tempat dengan mereka, dalam kemenangan maupun kekalahan. Hanya segelintir dari kita yang bisa merasakan pengalaman seperti ini sekali seumur hidup. Sebagian besar dari jutaan fans Arsenal di seluruh dunia bahkan tidak akan pernah mencicipi pengalaman ini, sayangnya.

Gerimis menyambut Gooners yang beranjak pulang. Karena gerimis, gerombolan pendukung yang masih ingin merayakan kemenangan pun bubar. Saya berjalan dengan sangat pelan, enggan mengakhiri pengalaman ini, enggan meninggalkan stadion klub tercinta. Setelah mengambil beberapa foto selfie bersama Berhala God Bergkamp, kembali saya bertemu seorang fans Arsenal dari Barcelona. Barter jasa fotografi, ia pun mengabadikan foto-foto saya dengan patung Bergkamp dan Henry, duet paling maut dalam sejarah Arsenal. Suatu hari nanti, mungkin anak saya akan melakukan hal yang sama, dengan patung Ozil dan Aubameyang…

Catatan Pinggir (buat mereka yang menanyakan soal biaya):

Estimasi biaya perjalanan ini (tidak termasuk shopping, makan, dll):

  • Tiket penerbangan Jakarta – Amsterdam pp = Rp 12.500.000 (ditanggung perusahaan)
  • Tiket penerbangan Amsterdam – London pp = Rp 1.200.000
  • Penginapan Airbnb, 4 malam x €60 = Rp 3.800.000
  • Tiket nonton Arsenal = Rp 2.900.000 (via calo online)
  • MRT dari airport dan ke stadion pp = Rp 600.000

Total estimasi biaya = Rp 21.000.000 = harga sepeda motor Honda Vario 150 = harga iPhone X 256GB.

Bila fans Arsenal ditanya, mana yang lebih membahagiakan: nonton langsung match day di Emirates Stadium atau beli iPhone X 256GB?

Tentu kita semua tahu jawabannya…

 

Advertisements

Mengapa Arsenal?

Mengapa Arsenal?

Mengapa mendukung klub bola dari sebuah negeri asing yang letaknya 10.000 km lebih dari tempat tinggalmu?

Mengapa mendukung sebuah tim bola yang mungkin seumur hidup pun tak dapat engkau kunjungi, tonton dan support langsung di stadion kandangnya?

Mengapa mencintai sesuatu yang mungkin tidak pernah mengenal dirimu, alih-alih mengharapkannya membalas cintamu?

Mengapa mendukung tim bola yang delapan tahun terakhir ini gagal mendapatkan trofi?

Mengapa tidak mendukung klub bola lokalmu saja?

Berbagai pertanyaan aneh namun relevan di atas sering dilontarkan saudara, teman atau bahkan orang asing yang kita temukan di twitter. Saya sendiri sering mendapatkan pertanyaan serupa, terutama ketika sedang nge-twit soal Arsenal dengan hasrat yang tidak kalahnya dengan hasrat fans JKT48 ketika mereka menonton penampilan idolanya. Istri pun pertama sempat kaget, bingung, lalu komplain karena ia merasa sering “diduakan” setelah Arsenal. Bahkan saat pacaran dulu, malam minggu sering kami isi dengan nobar pertandingan Arsenal. Keributan kecil pun terkadang terjadi, namun karena cintanya, lambat laun pacar yang lalu menjadi istri ini pun akhirnya bisa menerima. Lambat laun, mungkin karena kagum dengan militansi dan hasrat pasangannya ini dalam mendukung tim Merah Putih ini, ia suatu hari menyatakan dirinya “pindah agama”, dari pendukung Manchester United ke Arsenal. Ia akhirnya kembali ke Jalan yang Benar. 🙂

Masing-masing Gooner mungkin punya jawaban sendiri atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Saya akan mencoba menceritakan sedikit awal mula kisah cinta saya dengan Arsenal. Tagline “born not as a Gooner but will die as one” dipakai untuk blog ini bukan sebagai pepatah klise tanpa keyakinan nyata. Kemelekatan terhadap klub yang satu ini sudah demikian kuat sehingga sudah menjadi identitas diri. Melebihi tempat asal, suku, ras dan mungkin agama. Bukan suatu hal yang sehat, mungkin. Namun inilah yang saya rasakan dan tidak malu untu mengakuinya. Arsenal menjadi tempat aktualisasi emosi, label jati diri, dan bagian yang kuat dari kehidupan sehari-hari. Lima belas tahun sudah ikatan sepihak diri ini dan Arsenal terjadi, dan makin hari makin kuat, terlepas dari jumlah trofi dan prestasi klub ini.

Sebagaimana semua kisah cinta romantis, kisah ini juga berawal dari jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan objek cinta itu bernama Dennis Bergkamp. Waktu itu saya sudah mulai kuliah di Bandung. Semasa SMP dan SMU olahraga yang saya sukai bukan sepakbola. Kalau bermain sepakbola pun, umumnya menjadi center back karena badan yang cukup tinggi. Larinya kurang cepat untuk menjadi striker maupun winger. Sepakbola juga menjadi olahraga yang “mahal” karena kurangnya lapangan bola beneran di kota asal saya. Kami hanya bisa bermain sepakbola di lapangan rumput sekolah yang ukurannya kurang dari separuh lapangan bola, dengan kaki ayam tanpa sepatu bola (saat itu tergolong mahal). Waktu itu futsal juga belum ada. Kami akhirnya lebih sering bermain basket dan badminton daripada sepakbola. Klub bola lokal juga tidak berkompetisi di liga pro nasional. Demikianlah masa sekolah dilewati tanpa pernah mengenal olahraga terpopuler dunia ini dengan lebih dalam. Siaran langsung liga Italia saat itu juga diikuti selintas saja. Paling yang mash diingat hanyalah nama-nama pemain tim nasional negara-negara terkenal saat Piala Dunia. Seperti Roberto Baggio, yang tampil fenomenal di Piala Dunia 1994.

Tahun 1997, saya ke Bandung untuk kuliah. Saat itu liga Inggris sudah ditayangkan di televisi swasta dan perlahan menggeser dominasi liga Italia. Teman-teman yang merantau bareng dari kampung ada yang sudah menjadi pendukung klub Inggris. Ada yang memilih Liverpool, namun kebanyakan menjadi fans Manchester United (biasa, glory hunter hehe). Saya belum terlalu menyukai liga Inggris, lebih suka menonton turnamen internasional. Maka berlalulah tahun pertama kuliah itu tanpa mengikuti liga Inggris atau liga manapun secara reguler di televisi.

Bulan Juni 1998, Piala Dunia di Perancis dimulai. Pada tahun itu juga game FIFA World Cup 98 dirilis. Saat itu sudah punya Playstation dan hype Piala Dunia 98 membawa kami untuk bermain game FIFA. Entah kenapa, saya sering memilih tim Belanda setiap kali main FIFA. Mungkin karena reputasi Total Football-nya, atau reputasi trio Gullit-Van Basten-Rijkaard yang sudah sangat terkenal di Indonesia di awal tahun 90-an, atau karena suka saja dengan seragam Oranye-nya. Secara otomatis tim jagoan saya di Piala Dunia 98 itu adalah Belanda.

Kebetulan pula Belanda tampil fenomenal di PD 98. Piala Dunia 98 adalah salah satu Piala Dunia terbaik dengan partisipasi tim-tim dengn kekuatan merata dan bintang yang terkenal di setiap tim. Zidane di Perancis, Ronaldo si kuncung di Brasil bersama Rivaldo dan Bebeto, Gabriel Batistuta-nya Argentina, dan Davor Suker Kroasia. Baggio juga masih bermain, namun bintang Italia saat itu adalah Christian Vieri. Pemain-pemain bintang di PD 98 rata-rata bermain di Serie A, liga terbaik dunia saat itu.

Belanda yang tidak diunggulkan karena tampil buruk di Euro 96 ternyata mengejutkan dengn kelahiran kembai Total Football di tangan pelatih Guus Hiddink. Pemain-pemain Belanda tampil menonjol seperti si kembar De Boer, Edgar Davids, Bergkamp, Kluivert dan Overmars dan itu tercetak kuat di ingatan. Dan gaya permainannya sangat menarik di mata. Pemain tengah dan belakang hingga depan saling bertukar posisi, possession football dan overlapping full back. Belanda begitu mendominasi alur permainan setiap pertandingan. Dan yang paling berkesan tentunya adalah gol luar biasa Bergkamp ke gawang Argentina yang mengantarkan Belanda ke semifinal. Menyambut umpan lambung jauh dari Frank De Boer di menit ke-89 saat skor 1-1, Bergkamp dengan first touch-nya menghentikan bola di udara sambil melompat, second touchnya memantulkan bola sambil nutmeg Roberto Ayala, dan third touchnya adalah sontekan ke gawang Argentina. Dengan tiga sentuhan, Bergkamp membawa Belanda ke semifinal Piala Dunia.

Dalam sekejap, nama Bergkamp melompat jauh ke top table pesepakbola favorit saya, menggeser Roberto Baggio yang bertengger di puncak sejak 4 tahun lalu. Bagi saya, Bergkamp adalah pemain terbaik di turnamen itu, melebihi Zidane.

Sayangnya Belanda yang tampil lebih menawan daripada yang kemudian menjadi juara dunia, Perancis, akhirnya mesti puas dihentikan Brasil di semifinal. Walau Belanda kalah, pandangan pertama pada Bergkamp dan golnya membuat saya jatuh cinta. Mulailah mencari tahu ia bermain di klub mana. Ternyata ia bermain untuk Arsenal dan baru saja mengantarkan klub Inggris tersebut menjadi juara musim itu (1997/1998). Walaupun agak terlambat, tidak sempat menyaksikan perjalanan Arsenal menghentikan dominasi Manchester United di musim itu, saya berjanji pada diri sendiri akan selalu mengikuti aksi Bergkamp di liga Inggris. Terlalu sayang untuk dlewatkan.

Musim pertama saya mengikuti Bergkamp yang juga artinya mengikuti Arsenal, Arsenal tidak berhasil menjadi juara. Kalah satu poin dengan Manchester United yang kembali menjadi juara musim itu. Kepahitan di akhir musim ditambah dengan penjualan Anelka ke Real Madrid. Namun Wenger bergerak cepat. Pemain muda Perancis bertalenta luar biasa ini langsung digantikan dengan pemain muda Perancis lainnya yang malah akhirnya menjadi legenda klub, Thierry Henry. Musim kedua saya mendukung Arsenal juga berakhir tanpa gelar. Dan kali ini giliran Overmars dan Petit yang hengkang ke Barcelona. Masuk Robert Pires dan Wiltord. Musim ketiga kembali tanpa gelar juara. Namun menonton aksi Bergkamp dan kali ini dilengkapi dengan Henry, Pires, Vieira, Ljungberg cukup memberikan harapan. Perlahan sepakbola yang mirip dengan Total Football Belanda mulai dimainkan Arsenal. Musim berikutnya Arsenal akhirnya meraih Double kedua di bawah asuhan Wenger. Penantian tiga musim mendukung Arsenal akhirnya berbuah manis. Memang beda rasanya menjadi juara setelah dengan sabar dan setia mendukung selama beberapa tahun. Banter dengan teman-teman saya yang fans MU pun tak terelakkan. Arsenal benar-benar mendominasi musim 2001/2002 itu. Tidak hanya menang, namun menang dengan permainan indah. Seperti kata Bergkamp:

Arsène Wenger’s idea is not only to play good football. It’s to play good football to win. In my day, we knew that with our style we could hurt teams and win trophies too. But we did it our way, with the positional game, passing, movement.

Musim berikutnya Arsenal tetap dominan walaupun akhirnya disalip MU di akhir musim. Gelar FA Cup menjadi penghibur. Wenger yang mengatakan di musim itu (2002/2003) bahwa timnya bisa saja tanpa terkalahkan sampai akhir musim akhirnya diejek media dan lawan. Siapa yang menyangka musim berikutnya (2003/2004) hal yang tidak mungkin tersebut terealisasikan. The Invincibles dengan rekor W 26 D 12 L 0 mencatatkan rekor di liga Inggris sebagai tim satu-satunya yang tidak terkalahkan sejak lebih dari 100 tahun kompetisi liga Inggris. The Invincibles pertama adalah Preston North End dengan rekor W 18 D 4 L 0 di musim 1888/1889. Jumlah pertandingan yang berbeda jauh dan jarak waktu yang lebih dari 100 tahun membuat rekor tak terkalahkan The Gunners saat itu semakin istimewa. Dan rekor ini belum pernah disamakan hingga sekarang.

Arsenal pindah ke Emirates Stadium di awal musim 2006/2007 dan Bergkamp pun memainkan pertandingan terakhirnya sebagai pemain Arsenal dan sebagai pemain profesional, pertandingan testimonial yang sekaligus menjadi pertandingan pertama stadion baru tersebut. Arsenal melawan Ajax, current and legends. Alpha dan Omega, yang pertama dan yang terakhir. Pemain-pemain legenda Belanda/Ajax seperti Cruyff, Rijkaard, Van Basten, dan kembar de Boer ikut bermain. Perpisahan yang mengharukan, tanpa terasa air mata in pun menetes. Namun perpisahan dengan Dennis Bergkamp ini tidak berarti perpisahan dengan Arsenal. Bergkamp yang mengenalkan saya kepada Arsenal. Rasa cinta ini sudah meluas tidak hanya kepada dirinya, tapi juga kepada klub yang dicintainya. Arsene Wenger dengan filosofi hidup dan sepakbolanya menambah kuat kemelekatan ini. Tujuh tahun telah berlalu sejak pertandingan terakhir Bergkamp itu, dan Arsenal belum berhasil mendapatkan trofi apapun sepeninggalnya. Namun hati ini tetap untuk Arsenal. Tak bisa berpaling ke lain hati. Cinta sejati adalah soal selalu bersama baik di saat suka maupun duka, bukan? Soal kesetiaan dan saling pengertian.

Dan sebagai alpha dan omega dari tulisan ini, rasanya tidak ada yang lebih cocok daripada kutipan dari sang legenda, DB10, untuk menutup tulisan ini sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

Dennis Bergkamp was asked about the lack of silverware at Arsenal, and the Dutchman was poised with one of the best Arsenal quotes I’ve ever seen.

I really like Arsenal. But you, do you like Arsenal? Or just Arsenal with Trophies?