Antara London dan Istanbul

Tadinya saya ingin menulis artikel preview musim 2014/2015, namun karena alasan waktu (klasik) dan belum selesainya aktivitas transfer Arsenal, tulisan tersebut saya tunda dulu. Untuk mengisi blog yang kosong ini dan karena permintaan beberapa follower Twitter @JalanArsenal maupun @benhan sementara Arsenal sudah memulai musim, saya akan mencoba menulis tulisan-tulisan singkat review atau preview pertandingan-pertandingan Arsenal di awal musim ini sambil mencoba menanggapi rumor tentang transfer pemain tentunya.

Arsenal 2 – Crystal Palace 1

Sabtu lalu, Arsenal memulai musim dengan tiga poin yang didapatkan dengan cukup sulit. Ketinggalan lebih dulu oleh Crystal Palace dari gol set pieces, Arsenal melakukan comeback lewat gol Koscielny dan gol injury time Aaron Ramsey (siapa lagi?). Ada kemiripan start awal musim ini dengan akhir musim lalu (final FA Cup), di mana Arsenal kembali membuat fans-nya deg-degan hingga akhir pertandingan. Namun saya pribadi cukup tenang dengan pertandingan pertama ini. Dalam hati ini seperti ada firasat Arsenal akan menang pada akhirnya. Possession yang sampai 75% dan Palace yang notabene tidak membuat peluang berarti selain dari gol Hangeland, serta mental juara Arsenal (hal baru) adalah kombinasi yang bisa menimbulkan kepercayaan diri para pemain Arsenal untuk mengambil hasil maksimal dari pertandingan ini. Dan kepercayaan diri tersebut ikut menular ke penonton, ke fans Arsenal.

Chambers

Yang menjadi sorotan dari pertandingan kali ini adalah penampilan cemerlang Chambers. Setelah tampil cemerlang di Community Shield dan Emirates Cup, Chambers membuktikan walau baru berusia 19 tahun, kualitasnya bukan KW dan ia pantas tampil di kompetisi level elit. Mengambil sementara posisi Mertesacker, kualitas BFG juga di-copy olehnya yang antara lain: kemampuan membaca pertandingan dan memenangkan bola-bola atas. Arsenal menduetkan bek tengah dengan dua kualitas yang berbeda: Mertesacker yang menyerang bola atas, memimpin Zonal Marking Arsenal, membaca serangan lawan, melakukan interception dan Koscielny yang lebih cepat bertugas marking man to man striker lawan (tidak ada yang lebih baik darinya dalam hal ini di EPL), recovery bola dan pemain yang lepas dari tackling atau offside trap. Duet pertahanan “attacking” dan “recovering” dalam sosok Mertesacker dan Koscielny ini demikian efektif sehingga pemain pelapisnya mesti bisa memainkan salah satu peran dengan sama baiknya. Untuk hal ini Vermaelen gagal, dan terpaksa dijual ke Barca. Chambers menurut saya lebih bisa dan cocok memainkan peran Mertesacker. Sekarang kita tinggal mencari pelapis Koscielny. Mungkinkah Kostas Manolas yang dirumorkan sebagai incaran Wenger berikutnya adalah pemain dengan tipe yang sama? Saatnya searching video di youtube. Kalau malas, paling tidak scouting report ini sekilas menyiratkan ia punya kualitas yang mirip dengan Koscielny:

What particularly caught our attention was his ability to recover into position. He was able to beat the attackers of Colombia, pace for pace, to ensure he didn’t lose possession from a through ball.

Sang Kapten

Selain penampilan cemerlang Chambers dan Koscielny, yang menarik juga adalah penampilan sang kapten baru Arsenal, Mikel Arteta. Banyak kritik pedas terhadapnya dari fans Arsenal yang menginginkan adanya DM baru untuk menggantikan Arteta. Sang kapten dirasakan lambat, dan tidak kuat lagi secara fisik sehingga tidak mampu mengemban tugas DM dengan maksimal. Namun di pertandingan melawan Palace, kualitas Arteta justru bersinar. Kemampuannya membaca serangan lawan membuatnya selalu ada pada posisi yang tepat di saat kritis. Dan seperti biasa distribusinya membuat Arsenal terus mendominasi permainan. Operan ke samping, belakang, dan depan dalam rangka mempertahankan “Order”, keteraturan dalam serangan Arsenal adalah kunci dari 75% ball possession tersebut. Dan sesuai filosofi Barca, ketika satu pihak menguasai bola, maka pihak yang lain tak dapat menyerang. Arteta tidak memberikan through ball fantastis karena memang bukan itu tugasnya. Tugasnya adalah merebut bola, melakukan interception, dan distribusi bola ke posisi aman. Dua pemain box to box dalam diri Ramsey dan Wilshere-lah yang berperan sebagai pencipta peluang Arsenal dalam pertandingan itu. Walaupun demikian Arteta sesekali ikut bergabung dalam serangan Arsenal. Di kala hampir semua pemain menyerang Arsenal mengoper dengan tidak akurat dalam pertandingan ini, Arteta selalu akurat. Tanpa dirinya, “Order” tak akan dapat dipertahankan dan Palace bisa menciptakan peluang berbahaya. Wenger selalu respek dengan kepemimpinan dan kualitas Arteta. Beberapa kutipan berikut dari musim lalu menjadi alasan mengapa Wenger mempercayakan Arteta menjadi kapten Arsenal walaupun kontraknya sisa setahun dan belum diperpanjang.

He is very influential and he’s a leader – one of the leaders of the team and he’s a technical leader as well.

He didn’t get the credit Diaby or Cazorla received, but on the day I felt he was outstanding and played a very efficient, intelligent role.

He is a winner and he does what it takes to win, it’s as simple as that. If he sees that he has to sit to allow us to be efficient, he will do it.

If he needs to push forward, he will do it just because he wants to win. That’s why I made him vice captain.

I like Mikel Arteta because of his quality, his focus, his commitment and his winner’s attitude. I have big respect for what he has achieved this season. He is very conscientious, very professional and he has a couple of years left at the top.

Daripada membeli DM baru untuk langsung menggantikan peran Arteta, saya rasa Wenger akan memilih mencari DM muda untuk perlahan-lahan menggantikan Arteta dalam masa transisi satu-dua musim ini. Arteta jelas tidak akan jadi lebih muda, lebih kuat, lebih cepat, dan perannya perlahan-lahan akan berkurang. Ia masih punya kepemimpinan dan visi yang akan sangat berguna untuk pemain-pemain muda Arsenal. Namun penggantinya perlu mulai dicari musim ini. Beberapa rumor seperti Carvalho (yang tipenya agak berbeda, lebih physical), Schneiderlin (yang tipenya mirip), atau Rabiot (bakat muda yang masih perlu banyak diasah) dilansir sebagai target DM baru Arsenal. Kita tunggu dan setelah dua pertandingan lawan Besiktas, rasanya kita akan tahu siapa yang sebenarnya diincar Wenger.

Serangan yang Belum Klik

Alexis memperlihatkan kualitasnya sekilas namun operannya masih banyak yang tidak akurat. Cazorla, Wilshere, Ramsey, Chamberlain juga sering salah mengoper. Sanogo tampil di bawah standarnya sendiri. Ia tampak kikuk, dan first touch-nya tidak bekerja. Pertandingan hari itu dimenangkan oleh pemain bertahan. Koscielny berperan besar dalam dua gol Arsenal. Tampak sekali Arsenal belum siap secara fisik maupun teknik di pertandingan ini. Seperti kata Wenger, musim dimulai seminggu lebih awal. Mudah-mudahan melawan Everton nanti lini depan dan tengah Arsenal bisa lebih klik. Sayangnya sebelum itu, mereka harus siap melawan teror fans Besiktas di Istanbul, yang terkenal galak.

Saya akan lebih memilih memainkan Chamberlain daripada Alexis di sayap kanan Arsenal malam nanti. Alexis terlihat sangat tidak siap dan Chamberlain akan lebih mudah bekerja sama dengan pemain-pemain yang sudah dikenalnya. Ramsey dan Wilshere tetap di tengah bersama Arteta (atau mungkin Flamini), dan Giroud memimpin di depan. Cazorla tetap di sayap kiri dan backfour sama dengan Monreal menggantikan Gibbs yang cedera. Chambers akan baik-baik saja dan Koscielny tampaknya fit untuk malam ini. Maka formasi Arsenal vs Besiktas:

Formasi 4-1-2-3: 

Szczesny – Debuchy, Chambers, Koscielny, Monreal – Arteta – Ramsey, Wilshere – Chamberlain, Giroud, Cazorla

Tidak ada alasan untuk kuatir berlebihan di awal musim seperti ini namun dua pertandingan kualifikasi Liga Champions ini juga tak boleh dianggap remeh. Rekor 12-0 dalam babak kualifikasi UCL selama rezim Wenger mesti dipertahankan dan diperpanjang. Permainan Arsenal mesti lebih baik daripada Sabtu lalu dan saya yakin kita bisa. Seperti mesin diesel yang baru dihidupkan, semakin lama akan semakin panas, demikian juga Arsenal. Seiring dengan waktu, permainannya akan semakin baik karena pemain mulai makin tajam secara teknik dan makin fit. Kombinasi-kombinasi akan hadir kembali, bola akan dioper semakin cepat, dan peluang yang tercipta makin banyak. Mencetak gol tidak akan menjadi masalah buat kita apalagi setelah hasil bagus 3-0 di Community Shield. Ramsey bisa memikul beban ini sementara rekan-rekannya sedang beraklimatisasi.

Untungnya di tim Arsenal saat ini tidak ada pemain seperti Gerrard. Bisa dipastikan Demba Ba tidak bisa mengambil keuntungan dari pemain Arsenal yang terpleset oleh kulit pisang imajineri di lapangan malam ini.

Oh ya, media di Inggris sedang sibuk memuji Fabregas dan menjagokan Chelsea sebagai kandidat juara liga Inggris musim ini (setelah menang lawan Burnley, tim promosi paling lemah musim ini). Saya punya banyak catatan soal Fabregas tapi biarlah itu menjadi bahan untuk tulisan berikutnya. Kita mesti punya senjata rahasia dalam berbagai hal, bukan?

Advertisements

Hang? Restart!

Yang menonton Arsenal sepanjang musim ini pasti telah familiar dengan permainan Arsenal yang menyerang dan bertahan secara periodik dalam 90 menit. Ada momen di mana Arsenal akan melakukan pressing tinggi untuk merebut bola dan menyerang total, ada momen di mana Arsenal memilih membiarkan lawan menguasai bola dan fokus di pertahanan. Transisi dari fase menyerang dan bertahan ini terjadi berulang kali selama 45 menit setiap babak. Umumnya bila telah unggul di babak pertama, di babak kedua Arsenal cenderung akan lebih lama berada dalam fase bertahan, dan demikian sebaliknya. Arsenal seakan sering “restart” permainan mereka sepanjang 90 menit pertandingan.

Ternyata transisi antar fase itu tidak hanya terjadi di dalam pertandingan, tapi juga sepanjang musim Arsenal. Bila kita cermati form Arsenal di kompetisi EPL sampai saat ini diselingi dengan FA Cup (biru) dan Champions League (merah):

LWWWWWWWDWL. WWWL. WWWWDLL. DWWWWWWWDWL. DW

Dari sekuens di atas, terlihat bahwa bila Arsenal mengalami kekalahan di liga, maka hasil konsisten akan menyusul selama beberapa pertandingan berikutnya. Arsenal tidak pernah kalah berturut-turut di liga, satu-satunya kekalahan back to back adalah saat harus bertandang ke Napoli di UCL dan kemudian bertandang ke City di liga, dalam periode yang sangat padat di Desember. Maka tidak heran Arsenal tidak kalah saat menjamu MU setelah kekalahan menyesakkan dari Liverpool sebelumnya. Namun tidak banyak yang menyangka Arsenal akan menang atas Liverpool di FA Cup secara meyakinkan hanya dalam satu minggu sejak dikalahkan di EPL. Mereka, terutama para pundit dan fans Arsenal yang mungkin mudah putus asa, menyangka kekalahan yang sama akan terulang. Tentunya mereka tidak membaca statistik di atas. Konsistensi Arsenal secara jelas terpapar di sekuens form tersebut. Arsenal tidak kalah berturut-turut di kompetisi domestik, apalagi bila salah satunya main di kandang, dan Arsenal tidak akan kalah dari musuh yang sama dalam waktu yang dekat (cue: Dortmund). Sayangnya saya tidak sempat menulis blog sebelum pertandingan tersebut, bila iya saya pasti dengan percaya dirinya akan memprediksikan kemenangan untuk Arsenal (hehe :p).

Pendek kata, Arsenal menemukan kemampuan Restart dengan cepat setiap kali mengalami Hang!

Kalau melihat form di atas, Arsenal berpeluang besar untuk dapat menahan Bayern Muenchen di kandang (hasil minimal kalau tidak menang). Namun walaupun kalah tidak akan berdampak terhadap form Arsenal di liga. Tiga pertandingan sesudahnya yang relatif lebih mudah sudah menunggu untuk kembalinya sekuens kemenangan berturut-turut di liga. Kemenangan atas Liverpool akan mengangkat moral skuad dan memudahkan hang, restart ini kembali terjadi. Sekarang mari kita bahas sedikit mengenai keberhasilan fenomenal Arsenal atas Liverpool kemarin.

Balas Dendam Wenger

Keledai pun tak akan jatuh di lubang yang sama dua kali, apalagi sang Professor. Menganalisa dan mengetahui kesalahan-kesalahan yang dilakukan skuad Arsenal saat bertemu Liverpool minggu sebelumnya, Wenger menghadapi pertandingan ini dengan persiapan yang matang. Ia memilih memasangkan Podolski dan Chamberlain, serta Arteta dan Flamini daripada Cazorla, Wilshere ataupun Rosicky. Yang lebih penting lagi ia memilih Sanogo daripada Bendtner dan Giroud. Di belakang ia memasang Monreal dan Jenkinson daripada Gibbs dan Sagna. Total 7 perubahan pemain ia lakukan. Mayoritas perubahan tersebut dilakukan karena cedera atau tidak fitnya pemain (Wilshere, Cazorla, Gibbs) namun sisanya adalah jelas taktik Wenger untuk meredam Liverpool. Saya rasa walaupun Wilshere fit, Wenger akan tetap memilih Arteta dan Flamini untuk mengantisipasi kecepatan serangan Liverpool.

Podolski dan Chamberlain menentukan hasil pertandingan ini dengan dua gol mereka, namun kontribusi Ozil sangat vital. Tanpa 2 pre-assist yang ia lakukan, mereka tidak akan mendapatkan peluang. Sanogo juga berkontribusi lewat tendangan volley-nya setelah menerima umpan lambung dari Ozil. Sisanya, Flamini dan Arteta rajin mengejar dan merebut kembali bola, Monreal terus melakukan interception, dan Jenkinson mengawal sisi kanan dengan cukup apik. Fabianski luar biasa dengan keputusan-keputusan yang ia lakukan untuk menyelamatkan bola dari tembakan ataupun dari crossing, dan bahkan “mencurinya” dari kaki lawan (Sturridge). Koscielny menempel ketat Suarez tanpa memberikan ruang untuk ia menembak dari dekat, dan Mertesacker walaupun 2 kali kehilangan Sturridge saat hendak melakukan jebakan offside, tampil lebih baik daripada minggu lalu.

Sebelas pemain Arsenal di lapangan tampil luar biasa. Sikap mental yang berbeda dengan minggu lalu mereka tunjukkan sejak menit pertama. Tidak percuma amarah Wenger yang luar biasa minggu lalu (versi Arteta). Di samping itu support Wenger terhadap Ozil terbukti berguna. Ozil tampil beda kelas, mendominasi permainan Arsenal dan mengatur tempo dengan baik. Ia bahkan ikut bertahan dengan melakukan interception dan pressing di lapangan tengah. Skema balas dendam Wenger berjalan lancar. Liverpool dipaksa menelan pil pahit mereka sendiri. Senjata makan tuan dari serangan counter attack cepat.

Mungkin kira-kira begini arahan taktik dari Wenger:

“Dua fullback kalian jangan terlalu maju. Bayangi Suarez dan Sterling dan potong operan ke mereka saat mereka beroperasi di sayap.

Arteta dan Flamini, kalian saling back up. Jangan terlalu jauh satu sama lain dan jangan maju atau mundur bersamaan. Kelebihan pemain di tengah harus dimanfaatkan dengan doubling up Coutinho. Tekan dan rebut bolanya setiap ia mendapatkan bola.

Koscielny, kau tempel si Suarez, ia tak lebih baik daripada Messi. Dan Mertesacker, walaupun Sturridge itu cepat, tapi kakimu lebih panjang. Bila ia lolos jebakan offside, julurkan kakimu untuk tackle bola. Bila ia lolos, tenang dulu, jangan sampai langgar ia dan penalti. Fabianski pasti akan bisa memblok tendangannya yang rata-rata kualitasnya biasa itu. Koscielny, jangan terlalu nempel ke Suarez, ia bisa jatuh hanya karena jarimu menyentuh pantatnya.

Ozil, Podolski dan Chamberlain, setiap kali Flamini atau Arteta berhasil merebut bola, kalian langsung menyerang. Kita kembalikan senjata Liverpool ke mereka. Counter attack cepat. Walaupun striker mereka cepat, fullback mereka tidak secepat kalian. Ozil pasti akan berikan umpan terobosan yang lebih akurat daripada Coutinho. Chamberlain dan Podolski, seringlah kalian masuk ke kotak penalti lawan. Tidak ada pemain Arsenal yang tembakannya lebih keras dan akurat daripada kalian berdua. Tunjukkan!

Yaya Sanogo, mereka boleh saja meledekmu tapi aku percaya penuh padamu sejak pandangan pertama. Tidak usah kau baca surat kabar sebelum pertandingan. Konsentrasi saja untuk tampil 100% di pertandingan ini dan kujamin kau akan punya masa depan cemerlang di klub ini. Engkau punya kecepatan (sedikit di atas Giroud), punya keberanian untuk melawan dua CB senior Liverpool, dan juga punya sedikit trick ala Drogba. Engkau bisa menjadi Drogba-nya Arsenal, atau Adebayor? Ah tapi jangan dia, paling nanti kau berakhir di klub kecil tetangga itu. Jadilah Drogba, atau Kanu. Pernah dengar Kanu? Ini videonya. Pelajari dan lakukan.

Tanpa Giroud, Walcott, Cazorla, Ramsey, empat pemain pencetak gol terbanyak kita, aku yakin kalian bisa. Liverpool boleh sombong dengan kemenangan 5-1 itu, tapi kita semua tahu itu abnormal. Itu terjadi ketika kita lagi hang! Kita tahu, setiap kali kita mengalami hang, kita tinggal pencet tombol restart! Semudah itu. Aku yakin kalian semua bisa menang. Yang penting jangan kebobolan lewat set piece di babak pertama, dan jangan berikan mereka penalti. Setelah itu kalian pasti menguasai pertandingan dan peluang pasti muncul.”

Dan tanpa ragu lagi, sebelas pemain Arsenal + tiga pemain cadangan memencet tombol restart malam itu dan skema balas dendam Wenger berjalan sempurna.

Duo Senjata Utama Arsenal

West Ham United 1 – 3 Arsenal

Cole (46′) – Walcott (68′, 71′), Podolski (79′)

Apa yang semestinya menjadi kemenangan reguler bagi Arsenal sempat juga membuat fans Arsenal deg-degan. Walaupun tampil dengan kekuatan penuh, berbeda dengan prediksi di tulisan preview saya, Arsenal kesulitan untuk mencetak gol di babak pertama walau mendominasi dan menciptakan beberapa peluang. Tidak heran Giroud dijadikan kambing hitam atas kegagalan mencetak gol tersebut. Beberapa kali ia menempatkan dirinya di posisi yang pas untuk mencetak gol dan sebanyak kali itu pula ia sendiri kecewa dengan hasilnya. Entah kaki yang gagal connect ke bola, atau sundulan dan tembakan yang melebar, atau tembakan yang masih bisa ditahan kiper, semua upayanya gagal. Untungnya fans away Arsenal masih bersabar dengan dirinya dan konsisten menyanyikan lagunya yang merupakan gubahan dari “Hey Jude” (The Beatles) untuknya. “Kesetiaan” tersebut akhirnya berbuah manis walau bukan dalam bentuk gol, tapi dalam bentuk assist kepada Podolski di penghujung babak kedua.

Rotasi Terpaksa

Wenger secara mengejutkan tidak melakukan rotasi signifikan di pertandingan ini. Ia hanya mengganti Rosicky dengan Cazorla. Koscielny kembali ke bangku cadangan setelah melalui masa penyembuhan cederanya saat lawan City dan Giroud serta Ozil tetap dipasang sejak menit pertama. Namun berbeda dengan prediksi kebanyakan orang, non-rotasi ini tidak menganggu penampilan Giroud dan Ozil secara keseluruhan, tetapi Ramsey yang menjadi korban. Ia mengalami cedera di babak kedua dan terpaksa digantikan oleh Podolski. Menariknya, “rotasi terpaksa” ini malah berbuah manis karena sejak itu permainan Arsenal lebih menggigit dan punya tujuan. Tiga gol Arsenal di babak kedua diciptakan setelah Podolski masuk menggantikan Ramsey. Perubahan posisi di mana Cazorla bermain sebagai CM menemani Arteta di tengah dan Podolski di sayap kiri ternyata berdampak besar terhadap efisiensi serangan Arsenal.

Dominasi di babak pertama tanpa gol Arsenal seakan tak berarti saat Carlton Cole mencetak gol di menit-menit awal babak kedua. Gol tersebut terjadi karena 2 hal: 1. Kesalahan Szczesny yang menangkis bola dengan memantulkannya ke depan Cole dan 2. Keterlambatan Ramsey untuk turun ke belakang. Ramsey terlihat lelah sepanjang pertandingan atau kurang jelas konsentrasinya. Beberapa kali ia memberikan through ball ambisius namun gagal menerobos pertahanan West Ham. Beberapa kali pula ia membiarkan Arteta sendirian saat menghadapi serangan balik West Ham. Ramsey yang biasanya melakukan tackle terbanyak di setiap pertandingan Arsenal, di pertandingan ini hanya melakukan 2 tackle sukses dan 0 interception. Sebagai perbandingan, Arteta sukses melakukan 4 tackle, 6 clearances dan 1 interception. Bahkan Cazorla lebih sukses soal bertahan di pertandingan ini dengan 2 tackle, 2 interception dan 1 clearance.

Pengaturan Tempo

Cazorla mendemonstrasikan bagaimana bermain sebagai CM yang mampu mengatur tempo pertandingan. Bola dioper pendek secara lateral dan vertikal sambil menunggu momen untuk mengirimkan umpan yang menusuk pertahanan lawan. Kunci suksesnya penyerangan sebuah tim sering kali tergantung pada tempo permainan yang diatur jenderal lapangan tengah. Di masa lampau kita punya Cesc Fabregas yang bisa melakukan ini dengan sangat baik. Arteta juga bisa walaupun kemampuannya sedikit terbatas soal through ball, dan sekarang kita lihat kemampuan itu di Cazorla. Ramsey dan Wilshere belum sampai ke level tersebut. Sering kali kita melihat mereka terburu-buru untuk menyerang saat menguasai bola dan berakhir pada kegagalan. Entah karena operan yang dipotong lawan, atau dribble yang gagal melewati barisan pertahanan. Saat posisi Ramsey diganti Cazorla, kontras terlihat perbedaan permainan Arsenal. Santi bisa mengatur tempo saat membangun serangan Arsenal. Dan karena ia bermain lebih ke belakang, ia punya ruang yang lebih banyak untuk berkreasi daripada sebagai LW. Sebaliknya, Ramsey yang mungkin masih terobsesi dengan rekor golnya musim ini, posisinya sering terlalu ke depan untuk ukuran seorang CM. Ia seakan lebih tertarik dengan urusan mencetak gol daripada mengendalikan jalannya pertandingan.

Tentunya Cazorla punya kelemahan dibandingkan Ramsey dalam soal bertahan. Dari segi fisik dan kemampuan melakukan tackling, Ramsey lebih unggul. Namun dari segi penguasaan bola, akurasi umpan, dan kematangan dalam pengambilan keputusan, Cazorla masih lebih unggul. Ramsey dan Wilshere bisa belajar banyak dari hal ini. Ozil juga memilikinya dan ia kelihatan sedang berupaya menyamakan frekuensi dengan rekan-rekan setimnya. Gol pertama Walcott tercipta karena umpan Cazorla yang bebas di depan kotak penalti kepadanya. Menarik untuk melihat bagaimana Wenger akan mempertahankan kombinasi Cazorla-Arteta di lini tengah ini di pertandingan-pertandingan berikutnya. Eksperimen yang wajib dicoba terutama dengan kembalinya Podolski di sayap kiri Arsenal.

Podolski dan Walcott

He has been out for four months, he has not played one game. I try to get him slowly back to competitiveness and he has shown he can have a huge impact because he can score and make goals – he can give assists. But on the pitch we had Podolski and Walcott and Giroud and Ozil and Cazorla you know when you lose the ball you can be a bit vulnerable but we had to go for it.

Perkataan Wenger di atas tentang Podolski menarik karena ia mengetahui Podolski dapat mencetak gol dan assist, namun ia juga tahu memainkan Podolski dan Walcott bersamaan berarti Arsenal lebih rentan terhadap serangan balik. Podolski dan Walcott tidak suka melakukan back tracking dan hal itu wajar bagi pemain berjiwa striker. Berbeda dengan pemain tengah, striker umumnya menyimpan energinya untuk kemudian meledak di beberapa periode vital. Pemain tengah umumnya mengeluarkan energi secara konstan, merata di sepanjang pertandingan sementara striker lebih eksplosif. Maka jangan heran striker top bisa terlihat diam dan tidak berkontribusi sepanjang pertandingan untuk kemudian tiba-tiba mencetak gol beruntun. Pengecualian untuk beberapa striker yang mengandalkan kecepatan seperti Suarez dan Henry, mereka akan terus terlibat sepanjang pertandingan karena kegemaran mereka melakukan dribbling bola.

Striker akan menyentuh bola jauh lebih sedikit daripada pemain tengah. Bila seorang pemain tengah dominan akan menyentuh bola sekitar 70-100 kali per pertandingan, seorang striker paling 15-30 kali. Waktu yang diberikan kepada seorang striker saat ia menerima bola juga jauh lebih sedikit. Bek lawan akan segera berusaha merebutnya dan ia praktis berada di area yang lebih ramai daripada seorang midfielder. Dalam kondisi demikian ia mesti menyimpan stamina dan konsentrasinya sepanjang pertandingan sambil menunggu kesempatan yang jarang tersebut untuk muncul, sehingga dalam waktu singkat tersebut ia bisa memberikan hasil maksimal. Oleh karena itu tracking back yang memakan energi banyak tidak disukai striker pada umumnya. Maka jangan kesal saat melihat Podolski dan Walcott berjogging ria saat tracking back mengawal fullback lawan. Itu adalah sifat alami striker murni.

Karena sifat ini pulalah yang disadari Wenger maka ia tahu riskan memainkan dua winger-striker murni di satu pertandingan. Wenger memilih untuk menyeimbangkannya dengan memainkan satu CM di sayap. Namun di saat tertinggal 1-0 di babak kedua dari West Ham, Wenger tak punya pilihan lain. Ia “terpaksa” berspekulasi untuk lebih menyerang dengan memasukkan Podolski. Kali ini spekulasinya berhasil. Walcott yang “hening” di babak pertama mendadak mencetak dua gol setelah Podolski masuk. Ini bukan kebetulan. Lawan terpaksa menyebar perhatian kepada tiga striker Arsenal sehingga Walcott mendapatkan ruang lebih banyak. Bukan kebetulan pula 2 gol terakhir di pertandingan ini melibatkan Walcott, Giroud dan Podolski.

Berbekal dari observasi pertandingan ini, tulisan saya berikutnya direncanakan soal kembalinya Podolski dan bagaimana secara taktik ia mungkin akan mengubah formasi Arsenal, atau mungkin juga tidak. Prospek kembalinya ke formasi 4-4-2 mesti dipertimbangkan Wenger karena tajamnya Podolski dan Walcott dan kurang tajamnya Giroud di depan gawang jangan sampai salah dikelola. Saat ini, suka atau tidak Giroud lebih berfungsi sebagai “bumper” untuk duo senjata utama Arsenal dalam mencetak gol: Podolski dan Walcott.

Boxing Day: Pukulan KO 6 Poin

Akhir-akhir ini lagi disibukkan oleh proyek baru, sehingga sulit sekali meluangkan waktu untuk menulis preview dan review pertandingan, harap maklum ya.

Sedikit ulasan dari pertandingan melawan Chelsea yang berakhir seri 0-0. Beberapa poin penting yang menjadi catatan:

1. Kedua tim tidak memiliki top top striker

Walaupun Chelsea menghasilkan lebih banyak peluang terutama di babak pertama, dua peluang emas Giroud yang gagal diselesaikan dengan baik hampir menjadi penentu pertandingan ini. Tidak sulit kita untuk membayangkan kalau dua peluang emas tersebut akan menjadi gol bila diberikan kepada top top striker (kata “top” sengaja diulang dua kali) sekelas Suarez, Aguero, Negredo ataupun si Dutch Skunk ketika masih bermain di Arsenal. Peluang pertama Giroud hampir sama dengan yang diselesaikan si Dutch Skunk waktu melawan Everton musim 2011/2012 dan sayangnya tendangan Giroud malah melebar ke sisi tiang dekat gawang. Peluang keduanya hampir sama dengan yang didapatkan dan diselesaikan oleh Negredo saat melawan Arsenal minggu sebelumnya, yang juga gagal menjadi gol karena tendangannya masih ke arah Peter Cech. Dalam pertandingan antara dua tim yang levelnya seimbang, peluang bersih seperti ini sulit diciptakan, sehingga hasil akhir sering ditentukan oleh kualitas strikernya sebagaimana yang kita lihat saat Arsenal dibantai City minggu lalu. Aguero dan Negredo menjadi penentu kemenangan City karena clinical finish-nya berhasil memaksa Arsenal selalu ketinggalan dan dalam posisi tertekan untuk mengejar ketertinggalan. Sisanya tinggal cerita yang sudah kita miliki. Skor 6-3 seakan mengilustrasikan dominasi City padahal sesungguhnya skor itu adalah indikasi kualitas finishing kedua tim.

Tidak heran bila bulan Januari nanti, nama di puncak daftar belanja Arsenal dan Chelsea adalah seorang top top striker. Masalahnya hanyalah mencari klub yang mau menjual striker terbaik mereka di pertengahan musim

Chelsea sendiri juga tidak memiliki top top striker. Torres gagal memposisikan dirinya di area yang berbahaya dan peluang terbaik Chelsea lahir dari tendangan Frank Lampard yang masih membentur crossbar. Pertandingan ini bisa menjadi pertandingan dengan hasil yang berbeda bila salah satu tim memiliki striker sekelas Suarez, Aguero atau Negredo. City punya dua striker yang kelasnya di atas semua striker Liga Inggris dan Liverpool punya satu. Tidak heran bila bulan Januari nanti, nama di puncak daftar belanja Arsenal dan Chelsea adalah seorang top top striker. Masalahnya hanyalah mencari klub yang mau menjual striker terbaik mereka di pertengahan musim. Jangan harap Liverpool akan melakukannya musim ini.

2. Jika tidak mampu menang, jangan kalah

Ketika pertandingan memasuki menit ke-85, terlihat kedua tim memilih amankan satu poin daripada kehilangan poin sama sekali. Wenger pernah berujar saat timnya kalah melawan Dortmund setelah menit ke-85: “Jika tidak mampu menang, paling tidak jangan kalah.” Perkataan ini diterapkan dengan baik oleh kedua tim. Bahkan Mourinho juga tampaknya sadar sulit bagi timnya saat ini untuk mencuri gol di menit-menit akhir. Ia menggantikan Torres dengan David Luiz di menit ke-87 untuk amankan satu poin. Wenger sendiri tidak melakukan pergantian pemain, mungkin karena dua alasan: 1. Takut mengganggu keseimbangan tim saat itu, setiap perubahan beresiko pada kebobolan gol, 2. Kualitas penyerangan pemain di bangku cadangan juga tidak jauh berbeda dengan yang sekarang di lapangan.

Jarang sekali Wenger se-pragmatis itu namun keputusannya kali ini tampaknya tepat. Saya saat itu berpikir bila ia mengganti pemain maka paling mungkin adalah mengganti Giroud dan Rosicky. Walcott tak mungkin diganti karena dengan begitu berarti ancaman terhadap fullback kiri Chelsea akan hilang. Namun di menit ke 85 peluang Arsenal tercipta oleh kombinasi Rosicky, Gibbs dan Giroud. Itu bukti Rosicky masih cukup fresh saat itu dan Giroud bisa saja mencetak gol. Sulit melihat Bendtner atau Podolski yang belum pernah bermain sejak Agustus mampu memposisikan diri seperti Giroud sehingga peluang tersebut tercipta. Lebih baik mendapatkan satu poin dan menjaga jarak yang sama dengan Chelsea daripada kalah di pertandingan Six-Pointer ini.

3. Prediksi Desember: City dan Liverpool tampil di luar dugaan

Prediksi saya di bulan Desember meleset untuk hasil beberapa pertandingan. Yang mengejutkan tentunya kemenangan telak Liverpool atas Tottenham dan Man City atas Arsenal. MU berhasil mengembalikan formnya dan tidak heran akan menang di dua pertandingan terakhir tahun ini setelah sempat kalah dua kali berturut-turut dari Everton dan Newcastle. Yang menarik adalah lawan berikutnya Liverpool: City dan Chelsea yang keduanya adalah pertandingan Away. Mampukah Liverpool (baca: Suarez) mencuri poin dari kedua tim tersebut atau tetap kalah sesuai prediksi saya sebelumnya? Saya dengan senang hati bersedia merevisi prediksi tersebut karena berapapun poin yang dicuri Liverpool dari kedua pesaing berat tersebut menjadi sangat penting bagi Arsenal untuk kembali ke puncak klasemen. Liverpool bisa saja menang di kedua pertandingan tersebut dan tetap di puncak. Tapi secara jangka panjang, Chelsea dan City tetap lebih berbahaya dengan skuadnya yang lebih merata dan dalam.

…berapapun poin yang dicuri Liverpool dari kedua pesaing berat tersebut menjadi sangat penting bagi Arsenal untuk kembali ke puncak klasemen.

Namun kepastian ketiga pengisi empat besar klasemen tersebut pekan ini untuk drop poin tidak akan ada artinya bila Arsenal tidak menang saat melawan West Ham dan Newcastle. Di atas kertas, Arsenal mestinya mampu mengalahkan kedua tim ini, bila mampu mengatasi kendala waktu dan ruang. Selain mesti bertandang di kedua pertandingan ini, jarak waktu antara kedua pertandingan ini juga sangat berdekatan: Kamis dan Minggu. Rotasi pemain menjadi kunci bagi Wenger untuk memastikan enam poin diraih.

Preview vs West Ham

Melawan West Ham yang masih berjuang untuk mendapatkan kemenangan (dalam empat pertandingan terakhir kalah 3 kali dan seri sekali lawan Sunderland), Arsenal mesti menyerang total sejak menit pertama. Ubahlah pertandingan tandang menjadi kandang. Namun Wenger juga mesti merotasi pemainnya. Melawan West Ham yang relatif lebih mudah daripada Newcastle, mungkin inilah saatnya mengistirahatkan Ozil dan Giroud.

Ozil pertama kali mengalami berkompetisi di liga tanpa winter break dan Giroud perlu sedikit break untuk menemukan kembali ketajamannya. Podolski dan Bendtner butuh waktu bermain. Cazorla juga. Pertandingan ini menjadi saat yang pas untuk mengistirahatkan mereka untuk mengantisipasi kelelahan pemain saat melawan Newcastle yang pasti lebih berat.

Wilshere juga otomatis tidak bermain di pertandingan ini sehingga untuk melawan Newcastle Wenger bisa mendapatkan tiga pemain dalam kondisi yang lebih segar. Wenger bisa mencoba Podolski di pertandingan ini atau memberikan kesempatan kembali kepada Bendtner. Saya pribadi cenderung memasukkan Cazorla di sayap kiri, Bendtner di tengah dan Walcott di kanan. Untuk tengah Rosicky yang bermain bagus bisa meneruskan partnershipnya dengan Ramsey dan Arteta di tengah. Flamini bisa disimpan untuk Newcastle. Back four yang sama dipertahankan untuk stabilitas. Koscielny mungkin akan lebih fit saat melawan Newcastle.

Line ups: Szczesny – Sagna, Mertesacker, Vermaelen, Gibbs – Arteta, Ramsey, Rosicky – Walcott, Bendtner, Cazorla

Subs: Fabianski, Koscielny, Monreal, Flamini, Giroud, Ozil, Podolski

Line up dan bench yang cukup kuat ini mestinya mampu meraih tiga poin melawan West Ham dan bila Liverpool drop poin saat melawan Chelsea, kita akan kembali ke puncak klasemen. Saatnya Arsenal mengirimkan “Knock Out Blow” senilai 6 poin penuh ke rival-rivalnya di Boxing Day ini.

Up The Arse(nal)! #UTA

Pelajaran Mahal di Waktu yang Tepat

Manchester City 6 – 3 Arsenal 

Sebagaimana yang diprediksi, pertandingan antara dua tim yang terkenal dengan sepakbola menyerang ini berlangsung dengan tempo cepat dan permainan terbuka. Sayangnya satu tim tampil di bawah standar sehingga pertandingan berjalan berat sebelah. Bila di artikel preview saya menulis ini adalah Pertandingan antara Penyerangan Terbaik dan Pertahanan Terbaik, di akhir pertandingan sub judul yang lebih cocok adalah Pertandingan antara Penyerangan Terbaik dan Pertahanan Terburuk. Bagaimana Arsenal bisa bermain seburuk itu dalam hal yang justru merupakan kekuatan mereka musim ini? Mumpung masih panas di kepala, saya coba tuangkan satu-satu.

Axis Wilshere-Monreal

Line up Arsenal hampir sesuai dengan prediksi di artikel preview dengan satu perbedaan: Wilshere yang dimainkan bukan Cazorla. Dan itu ternyata menjadi kesalahan fatal Wenger. Axis Wilshere-Monreal menjadi titik lemah Arsenal dalam pertandingan ini dan dieksploitasi habis-habisan oleh Man City. Berbeda dengan dugaan awal kalau City akan menyerang sisi kanan Arsenal karena Walcott akan cenderung lebih maju, City malah menyerang sisi kiri Arsenal. Zabaleta berkali-kali memberikan crossing rendah yang efektif dan City mencetak 3 gol (satu secara tidak langsung dari CK) dari sisi tersebut. Tiga gol yang membuat posisi Arsenal tertinggal yang lalu terpaksa meninggalkan pertahanan demi mengejar ketertinggalan. Sayangnya gambling tersebut gagal dan berakhir dengan skor yang lebih buruk lagi.

Mengapa saya cenderung memainkan Cazorla di awal daripada Wilshere karena dua hal: 1. Cazorla lebih baik dalam ball possession sehingga ia lebih bisa mengatur tempo permainan Arsenal dan 2. Duet Cazorla-Monreal lebih baik daripada Wilshere-Monreal yang belum teruji. Permainan Wilshere adalah soal dribbling dan penetrasi. Dalam pertandingan ini sayangnya dribblingnya banyak yang gagal dan turn over sering terjadi berawal dari dirinya. City lalu menyerang balik dengan cepat dan Arsenal gagal mempertahankan penguasaan bola di tengah.

Kelemahan lainnya dari Wilshere yang berkontribusi pada gol adalah kecenderungannya untuk ke tengah karena secara natural ia adalah pemain tengah yang dikaryakan di sayap. Berbeda dengan Cazorla dan Rosicky yang lebih nyaman bermain di sayap, Wilshere jarang bergerak sepanjang sisi lapangan. Gol pertama dan kedua City notabene berawal dari jauhnya Wilshere dari garis tepi lapangan yang otomatis membuat ia juga berada jauh dari fullback City yang melakukan overlapping. Akibatnya City dapatkan corner kick dari serangan hasil overlapping Zabaleta dan Aguero mencetak gol pertama. Gol kedua terjadi saat Wilshere gagal lagi mengantisipasi overlapping Zabaleta.

Gol keempat City terjadi saat Monreal gagal menghalangi Navas memberikan crossing kepada Silva. Monreal dan Wilshere tampil buruk di pertandingan hari ini. Kombinasi keduanya membuat sisi kiri Arsenal sangat rentan setiap kali diserang.

Dilema Flamini-Arteta

Wenger drop Arteta dan memilih Flamini. Sayangnya Flamini tampil tidak sesuai harapan. Gol ketiga City terjadi karena kesalahan elementer yang dilakukannya. Umpan Ozil yang mestinya aman-aman saja gagal diantisipasinya dan Fernandinho memanfaatkannya untuk langsung mencetak gol. Perbedaan Flamini dan Fernandinho sangat terlihat di pertandingan ini. Bila City mempunyai pondasi batu kali kokoh di tengah dengan adanya Fernandinho dan Yaya Toure, Flamini dan Ramsey bak “pondasi tahu” yang gampang diterobos lawan.

Mengapa Wenger drop Arteta? Karena di dua pertandingan sebelumnya kekurangan kecepatan Arteta sangat terasa. Bahkan saat melawan Napoli dua kartu kuning diterimanya karena kekurangan kecepatan tersebut membuat ia harus melakukan foul. Wenger berpikir Flamini dan Ramsey cukup untuk menahan City. Sayangnya mereka berdua tidak memiliki kemampuan mengatur tempo ala Arteta. Arteta mungkin lemah dalam hal tackling dan penjagaan pemain yang lebih cepat, tapi soal ball retention, distribusi bola sambil mengatur tempo permainan, ia jauh lebih unggul. Arsenal terus terhanyut dengan tempo cepat yang menguntungkan City karena Ramsey dan Wilshere setiap mendapatkan bola langsung ingin membawanya ke depan, berakhir dengan kehilangan bola dan City menyerang kembali. Arteta akan mendistribusikannya secara horizontal, ke belakang, atur tempo baru menyerang. Inilah kekuatannya Arteta yang tidak dimiliki pemain-pemain muda Arsenal yang sering terburu nafsu. Lihat Wilshere yang beberapa kali kesal sendiri karena passingnya tidak menemukan rekannya atau tidak mendapatkan operan dari rekannya. Ketidakmatangan seperti ini dapat ditenangkan bila Arteta ada di lapangan.

Idealnya dalam pertandingan seperti ini Arteta berpasangan dengan Ramsey. Ramsey dengan jumlah tackling terbanyak di liga bisa menutup kekurangan kecepatan Arteta dan Arteta bisa mengatur tempo pertandingan saat Arsenal menguasai bola. Sayangnya faktor kelelahan dan jadwal yang padat tidak memungkinkan hal itu terwujud hari ini.

Setelah ketinggalan 4-2, Wenger terpaksa gambling untuk menyerang total, nothing to lose, kalah 4-2 dan 6-3 ya sama saja. Ia memasukkan Gnabry dan menarik Flamini yang tampil buruk keluar. Tanpa Flamini, lapangan tengah Arsenal bak karpet merah yang mengundang marching band City. City bisa mencetak beberapa gol tambahan di periode ini dan Wilshere serta Ramsey gagal sama sekali menjadi poros tengah. Bisa dimengerti keinginan Arsenal untuk mengejar ketertinggalan tapi naluri menyerang Wilshere dan Ramsey membuat mereka mengabaikan sama sekali pertahanan di lini tengah. Terjadinya gol kelima dan keenam City adalah akibatnya.

Kesalahan individu

Gol-gol City terjadi akibat kesalahan individu Arsenal dalam bertahan. Dari Koscielny saat gol pertama, Wilshere gol kedua, Flamini gol ketiga, Monreal gol keempat, Mertesacker gol kelima dan terakhir semua pemain tengah, belakang, kiper Arsenal untuk gol keenam. Kesalahan individu ada penjelasannya: konsentrasi yang kurang atau faktor kelelahan. Kombinasi keduanya mungkin yang menjadi penyebabnya kali ini. Walaupun tidak semua pemain tersebut bermain penuh di Napoli namun perjalanan yang harus ditempuh membuat mereka tidak memiliki waktu cukup untuk recovery. Kamis terbang dari Napoli ke London, Jumat istirahat dan mesti terbang Sabtu pagi ke Manchester. Bahkan waktu untuk latihan penuh pun tidak tersedia. City diuntungkan istirahat satu hari dan beberapa pemain intinya yang tidak dimainkan saat lawan Muenchen. Intinya persiapan City lebih baik di Arsenal dan mereka diuntungkan dengan tak perlu melakukan perjalanan jauh karena bermain di kandang. Hal kecil seperti ini sering jadi pembeda ketika dua tim kuat bertemu.

Faktor kelelahan ini juga yang mungkin membuat Wenger urung menurunkan Cazorla ataupun Rosicky yang bermain di Napoli kemarin. Rosicky dan Cazorla akan lebih cocok di formasi yang memainkan Walcott daripada Wilshere. Cazorla yang bermain berturut-turut perlu istirahat dan Rosicky tidak muda lagi. Wilshere dan Ramsey yang tidak memulai pertandingan di Napoli dirasakan akan lebih segar di pertandingan ini. Mungkin itu benar, namun taktik yang dimainkan Pellegrini mengeksploitasi posisi Wilshere yang tidak nyaman ini.

Mesin Gol Arsenal

Kenyataan ini terwujud sedikit tertunda dari artikel saya sebelumnya: “Kembalinya Mesin Gol Arsenal”. Satu-satunya hal positif dari pertandingan ini adalah tajamnya Theo Walcott. Gol pertamanya diambilnya dengan sangat baik, tendangan mendatar namun terarah dan dengan sedikit bending sehingga kiper City tak mampu bergerak, terhipnotis. Gol kedua ala Henry, di posisi kiri dan bending ke pojok jauh kanan gawang. Mungkin semasa ia rehabilitasi, ia dapat satu dua petunjuk dari King Henry yang masih berlatih di training ground Arsenal. Penampilannya hari ini otomatis mengamankan posisi sayap kanan untuk dirinya di pertandingan melawan Chelsea.

Perbedaan kualitas striker City dan Arsenal begitu ketara saat Aguero dan Negredo mencetak gol dari sedikit peluang yang tersedia sementara Giroud gagal menyundul crossing Sagna, offside saat menembak (dan bolanya masuk) dan gagal mengumpan dengan kaki kanannya di depan gawang. Giroud mesti lebih efektif lagi di depan gawang jika ia tak ingin Wenger mencari striker utama di Januari nanti. Link up play dan holding up-nya memang bagus namun ia butuh lebih clinical di depan gawang sebagai striker utama. Sudah lama ia tidak mencetak gol dari open play dan kini saatnya ia lebih ganas dan egois di depan gawang. Walcott bisa mengejar jumlah golnya bila ia terus tampil seperti ini. Kegeraman Wenger terhadapnya terlihat saat ia sudah diganti Bendtner di menit ke-75. Wenger seakan memberikan sinyal kalau ia lebih percaya kepada Bendtner daripada Giroud untuk dapat mencetak gol di 15 menit terakhir (dan memang ia lakukan hanya sayang masih offside gara-gara ukuran sepatunya yang demikian besar).

Sembilan Hari

Walaupun kekalahan ini menyesakkan dada dan akan membuat orang-orang kembali meragukan kemampuan Arsenal menjadi juara liga, banyak hikmah yang masih bisa kita petik. Kita beruntung sudah menabung poin dari hasil melawan tim-tim papan tengah dan bawah sebelumnya sehingga pertandingan ini hanya membuat City selisih 3 poin, belum menyusul Arsenal. Hal lain adalah walaupun kalah telak, kesalahan-kesalahan Arsenal di pertandingan ini tidak sulit untuk diperbaiki dan secara permainan Arsenal sebenarnya masih dapat mengimbangi City dengan beberapa serangan yang gagal menjadi gol dan tiga gol yang dicetak dengan cukup indah. Kekalahan ini membuka mata akan kelemahan Arsenal yang masih perlu dibenahi dan untungnya ini terjadi masih di paruh musim pertama. Masih banyak waktu untuk membenahinya. Dan untungnya untuk pertandingan berikutnya kita masih punya waktu sembilan hari untuk memulihkan diri dari kelelahan fisik dan mental.

Sembilan hari ini mesti digunakan Wenger dan para pemain dengan maksimal. Menganalisa kelemahan di pertandingan hari ini, memperbaiki komunikasi tim, mengasah permainan yang mengandalkan kecepatan Walcott, dan Giroud bisa latihan tembakan dengan Henry setiap hari. Dengan hasil buruk melawan Everton dan City, tidak ada hasil lain yang dapat diterima sembilan hari kemudian selain menang melawan Chelsea. Pelajaran mahal dari City ini mestinya mencambuk para pemain untuk bermain lebih baik lagi. Lebih konsisten, lebih fokus, lebih haus dan ganas. Bila kita melihat beberapa penampilan terbaik Arsenal musim ini (bukan di pertandingan ini), Arsenal bisa menang atas Chelsea yang tak lebih baik daripada City selama hal ini selalu diingat: kemenangan akan lahir dari suasana yang harmonis. Kemarahan Mertesacker kepada Ozil di akhir pertandingan yang tampak frustrasi dan menolak ke arah penonton tandang tidak perlu dibesar-besarkan. Itu hanya tanda betapa pemain sangat kecewa dengan kekalahan ini. Mertesacker mempunyai hati yang besar dan mengerti perasaan fans Arsenal setelah kekalahan besar ini, sedangkan Ozil terlalu kecewa dengan dirinya sendiri dan dengan kekalahan kali ini. Keduanya terhanyut dengan emosi setelah kekalahan. Besok mereka akan bertemu kembali di training ground dan akan kembali harmonis. Tugas Wenger selama 9 hari ini untuk mengembalikan tim ke kondisi fisik dan mental terbaik sebelum melawan Chelsea.

Victoria Concordia Crescit