Arteta Masterclass

FA Cup 2020 Semi Final – Arsenal 2-0 Manchester City – Wembley Stadium, London

Akhirnya setelah 25 pertandingan (14 menang, 6 seri dan 5 kalah) Revolusi Mental Arteta menunjukkan hasilnya. Dalam 4 hari, Arsenalnya Arteta mengalahkan dua tim terbaik di Premier League, Liverpool 2-1 dan Manchester City 2-0. Kedua tim tersebut dikalahkan dengan persiapan taktik yang cemerlang, eksekusi di lapangan yang hampir tanpa cela, dan penampilan tim yang luar biasa. Di atas kertas, kualitas pemain Arsenal jelas masih kalah dari kedua klub tersebut. Karena itu Arteta memilih untuk bermain bertahan sambil mengincar serangan balik yang efektif. Namun, seperti yang telah dirasakan semua tim yang memilih bertahan melawan kedua tim tersebut, kekalahan hampir pasti terjadi tanpa adanya game plan yang jelas untuk menyerang balik.

Arteta sendiri mengakui bahwa masih ada kesenjangan antara kualitas timnya dengan kedua tim tersebut. Namun baginya, dalam hal kepercayaan diri, akuntabilitas, dan gairah bermain sepakbola, timnya telah dapat menutup kesenjangan tersebut. Pemain Arsenal bermain untuk sesama, berjuang untuk setiap bola, menutup celah yang ditinggal rekannya dan terlihat sangat solid dalam bertahan maupun menyerang. Saat Arteta bergabung kembali dengan klub ini sebagai manager baru, ia mengatakan ada empat kualitas yang ia inginkan sebagai pondasi dasar timnya.

The priority, as I said before, is what we are going to transmit on the team, is a reflection of the demands we are going to put on them every day in training. That’s commitment, accountability, aggression and passion to play this sport and to represent this football club.

This is the basic I am going to demand from them, and from there we can start to build things and improve all the things, obviously, that have to be done as quickly as possible, but if we don’t have this in the right manner, I think it will be difficult.

Hanya dalam 25 pertandingan, tim yang dilatihnya ini telah berada dalam jalur yang diinginkannya. Pondasi dasar dari timnya terlihat jelas dan telah membuahkan hasil yang luar biasa. Para pemain mengikuti instruksinya karena mereka bisa merasakan hasilnya. Bak pengikut Messiah yang merasakan langsung kebenaran dari kata-katanya berwujud dalam pengalaman nyata, kepercayaan The Gunners terhadap sang manager pun semakin bertumbuh, begitu pula kepercayaan diri mereka pribadi. Sekarang mereka percaya kalau mereka mampu bersaing dengan tim juara di liga ini, karena telah mencicipi indahnya kemenangan atas tim juara. Mental mereka telah mengalami revolusi di tangan Arteta.

Selain revolusi mental, Arsenal juga memperlihatkan penguasaan taktik yang komplit. Arsenal mencetak gol saat melawan Liverpool lewat high pressing terhadap pemain bertahan dan kiper lawan. Tidak peduli yang dihadapinya adalah dua pemain termahal Liverpool, Lacazette dan Nelson berhasil mencetak gol setelah Van Dijk dan Alisson melakukan kesalahan besar akibat high pressing Arsenal. Lawan City, Arsenal mencetak gol lewat cara lain, build up play sempurna dari belakang. Melibatkan 10 pemain dan 18 operan, Aubameyang mencetak gol pertama Arsenal hasil bola yang terus mengalir tanpa bisa dihentikan oleh pressing pemain City. Pep Guardiola terpaksa menelan pil pahitnya sendiri, yang ironisnya diberikan oleh mantan asisten manager-nya.

Gol kedua Arsenal melawan City hadir dari counter attack cepat, operan lob cemerlang dari Tierney setelah menerima back pass dari Pepe disambut dengan timing lari yang pas dari Aubameyang yang sekilas memberikan kita bayangan akan Thierry Henry yang lari dari channel kiri ke tengah sebelum kemudian mencetak gol. Aubameyang tidak mengecewakan harapan kita dan berhasil mencetak gol nutmeg salah satu kiper termahal di Premier League dengan santainya. Tim ini telah membuktikan kalau mereka bisa mencetak gol lewat cara apa saja – pressing tinggi, build up play, counter attack dan set piece. Arsenal-nya (perlengkapan senjata) komplit sudah.

Tentunya perjalanan menuju pencapaian saat ini tidaklah mudah. Ada pengorbanan, kerja keras dan konflik. Saya akan mencoba menuliskan beberapa hal berbeda yang dilakukan Arteta terhadap pemainnya yang kemudian berbuah positif dengan makin solidnya tim yang percaya penuh dengan kepemimpinannya.

Man Management Skill

Dalam salah satu ilmu manajemen untuk menciptakan high performance team, pondasi dasar paling penting adalah membangun Trust, kepercayaan. Pemain mesti percaya kepada manager-nya dan kepada rekannya. Dan Trust ini selalu dimulai dari kepemimpinan yang terbuka. Arteta berulang kali menegaskan bahwa ia selalu terbuka terhadap pemainnya. Ia siap bicara dengan lugas dan tidak akan segan dalam menyampaikan pendapatnya terhadap pemainnya. Dengan demikian ia memperlihatkan sikap yang fair dan tidak pilih kasih. Sebaliknya, pemain yang tidak bisa terbuka dengannya, untuk memenuhi standarnya dalam latihan, tidak akan dimainkan. Namun hal itu tidak berlaku untuk selamanya, begitu pemain tersebut berubah dan kemudian memperlihatkan perbedaan di latihan, maka ia dapat masuk kembali ke tim. Arteta tidak takut dengan konflik namun ia tetap berusaha untuk bersikap adil terhadap semua pemain.

Xhaka dan Ceballos menjadi contoh terbaik manajemen personal Arteta. Tidak heran mereka berdua sekarang membentuk partnership yang sangat solid. Setelah mereka berdua, Mustafi yang termarjinalkan juga kembali menunjukkan performa terbaiknya. Demikian juga Pepe yang meningkatkan usahanya dalam latihan dan kembali mendapatkan tempat di starting line up. Lacazette menemukan kembali kepercayaan dirinya. Luiz selalu mendapatkan kepercayaan Arteta walaupun melakukan kesalahan fatal saat restart liga melawan City. Pemain-pemain muda seperti Saka, Nketiah, Willock dan Nelson selalu mendapatkan kesempatan bermain ketika mereka siap. Arteta tidak takut memainkan mereka.

Di sisi lain, Arteta tidak sungkan untuk mengisolasikan pemain jika pemain tersebut tidak 100% dan sikapnya membahayakan kinerja tim. Guendouzi dan Ozil menjadi “korban” dari kebijakan ini. Guendouzi yang keras (dan besar) kepala menolak meminta maaf karena sikapnya setelah game lawan Brighton tidak mendapatkan tempat lagi di tim. Ia lebih mementingkan egonya daripada timnya. Jika situasi ini terus berlanjut, Guendouzi bakal dijual sebelum musim baru dimulai.

Untuk Ozil, semenjak restart liga tampaknya ia belum menampilkan upaya 100% saat latihan. Kata Arteta mengenai Ozil yang absen sejak pertandingan pertama setelah Premier League bergulir kembali:

I have been very open with Mesut from day one.

Since I joined I thought that he was fit and he was willing and he wanted to perform at the level he can do.

The moment I see that he is ready again to do that, I will treat him like anybody else. I think I’ve been more than fair with him and I think he has responded in many games the way I want. That’s it.

Bila Ozil tidak mau berusaha sekeras rekan-rekannya, artinya ia juga lebih mementingkan egonya daripada timnya, dan pasti akan dilepas juga sebelum musim baru dimulai walau tidak mudah karena gaji per minggunya yang telah tinggi. Namun bila Ozil memilih makan gaji buta daripada bermain sepakbola secara konsisten setiap minggu, maka karier sepakbolanya akan berakhir dengan cepat.

Ainsley Maitland-Niles

Sempat diisukan akan hengkang karena tidak nyaman bermain sebagai Right Back, Ainsley Maitland-Niles tidak dimainkan oleh Arteta untuk waktu yang lama. Perlahan, sebagaimana yang terjadi pada pemain lainnya yang ditangani Arteta, ia mulai berubah dalam sesi latihan, dan akhirnya mendapatkan tugas mulia di pertandingan lawan City. Arteta menurunkannya dengan misi menganulir Riyad Mahrez. Karena taktik spesial ini, Tierney terpaksa bermain sebagai LCB dan Maitland-Niles menjadi left wingback. Mahrez mati kutu sepanjang pertandingan ini karena ditempel ketat oleh lawannya. Satu-satunya peluang bersih yang didapatkannya menjadi satu-satunya shot on goal City yang diselamatkan dengan mudah oleh Emi. Mahrez diganti sebelum babak berdua berakhir dan Maitland-Niles bahkan beberapa kali sempat ikut turun menyerang sisi kanan lapangan City. Sayang saja umpan crossingnya tidak seakurat Saka, kalau tidak City bisa menderita kekalahan lebih besar. 2-0 cukup untuk malam itu.

Di akhir pertandingan Maitland-Niles dipeluk erat oleh David Luiz sang motivator. Arteta juga memeluknya dengan erat sambil mengangkatnya, wujud apresiasi ekseskusi misinya yang sukses besar. Maitland-Niles menambah satu lagi dari sekian banyak pemain yang menjadi lebih baik di bawah penanganan Arteta. Entahlah kalau Guendouzi menonton pertandingan ini atau tidak. Kalau ia punya akal sehat, mestinya ia akan terpengaruh untuk mengubah sikapnya, untuk ikut kereta Arteta yang melaju makin cepat.

Lacazette dan Pepe

Aubameyang mencetak dua gol dengan sangat efisien namun penampilan Lacazette tidak bisa dilupakan. Ia bermain sangat baik sebagai hold up player saat serangan balik dan meneruskan bola dengan progresif, atau mengundang foul lawan. Lacazette melakukan high pressing sepanjang pertandingan. Rivalitasi yang dihadirkan Arteta terhadapnya dengan seringnya memainkan Nketiah yang sangat energik berpengaruh positif terhadap Laca. Golnya saat melawan Spurs menunjukkan sinyal ia kembali ke penampilan terbaiknya.

Di sisi kanan, Pepe juga berkontribusi positif. Ia berperan dalam dua gol Aubameyang, sebagai assister dan pre-assister. Dribblingnya lebih bertujuan, gerakannya lebih fokus, dan kombinasinya dengan Bellerin terlihat semakin baik. Ia juga ikut dalam pressing dan tracking back, berubah total dibandingkan gaya permainannya yang lebih individualis saat pertama kali bergabung di awal musim. Sayang sekali hanya tertinggal tiga pertandingan tersisa di musim ini, di saat trio Laca-Auba-Pepe sedang menuju level yang diharapkan fans sejak awal musim.

Lencioni Model

Kembali ke ilmu manajemen soal high performance team. Saya mempelajari hal ini dalam salah satu training project management. Lencioni membuat model piramid berisi 5 unsur / tahapan perubahan perilaku sebuah tim untuk menghasilkan tim dengan kinerja yang lebih baik. Tim yang mana kinerjanya lebih baik dari gabungan kualitas masing-masing individu anggotanya. The whole is greater than the sum of its parts.

Building a high performance team

Setelah membangun Trust, maka yang berikutnya adalah tim harus tidak takut menghadapi konflik. Perdebatan perlu terjadi karena setelah itu, tim harus mencapai kesepakatan dan semua yang berbeda pandangan awalnya akhirnya harus berkomitmen terhadap keputusan yang satu, metode dan tujuan yang sama. Mereka yang tetap tidak sejalan, dengan terpaksa disisihkan (Guendouzi, Ozil). Dengan komitmen tersebutlah, maka akuntabilitas bisa diterapkan. Pemain yang melakukan kesalahan, mengaku salah dan mendapatkan konsekuensinya. Lebih baik lagi, setiap rekannya akan mencoba cover sehingga kesalahan itu tidak berdampak buruk, sebagaimana Xhaka yang meng-cover kesalah Mustafi malam itu. Karena tim yang berfungsi dengan baik percaya bahwa hasil itu sifatnya kolektif.

Trust -> Conflict -> Commitment -> Accountability -> Results.

Mirip bukan dengan 4 fondasi dasarnya Arteta Way? Saya tidak akan kaget kalau Arteta terinspirasi oleh model manajemen Lencioni ini.

Masterclass

Seperti yang diutarakan di awal, sangat sayang musim ini tersisa 3 pertandingan lagi, ketika Arteta mulai menunjukkan Masterclassnya, berkat tim yang sudah sejalan, yang bernafas dengan detak jantung yang sama. Tidak tanggung-tanggung dua pelatih kawakan, Klopp dan Pep dengan tim yang jauh lebih mahal sudah merasakannya. Di final FA Cup dalam 2 minggu mendatang, Arteta akan berhadapan dengan salah satu dari dua pelatih muda mantan pemain sukses lainnya di dalam Lampard dan Solksjaer, pertarungan yang tidak akan kalah serunya. Final FA Cup ini akan sangat berarti bagi Arteta dan Arsenal: mendapatkan tambahan budget untuk belanja musim depan (karena bisa berpartisipasi di Europa League) dan mempertahankan pemain terbaiknya agar tidak hengkang (Aubameyang).

Masterclass yang ditunjukkan Arteta begitu berbeda dengan sepakbola tanpa jati diri di era Emery. Semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Berbagai pundit bola yang biasanya menganggap remeh Arsenal bisa merasakan perubahan tim ini di bawah asuhan Arteta. Bila ini baru tahapan basic, sesuai penjelasannya, kita boleh merasa optimis dengan masa depan Arsenal di tangan Arteta. Kita berharap KSE sama optimisnya dalam mendukung Arteta dengan dana yang sepadan, agar kita bisa menyaksikan visi Arteta Way terealisasikan.

Hang? Restart!

Yang menonton Arsenal sepanjang musim ini pasti telah familiar dengan permainan Arsenal yang menyerang dan bertahan secara periodik dalam 90 menit. Ada momen di mana Arsenal akan melakukan pressing tinggi untuk merebut bola dan menyerang total, ada momen di mana Arsenal memilih membiarkan lawan menguasai bola dan fokus di pertahanan. Transisi dari fase menyerang dan bertahan ini terjadi berulang kali selama 45 menit setiap babak. Umumnya bila telah unggul di babak pertama, di babak kedua Arsenal cenderung akan lebih lama berada dalam fase bertahan, dan demikian sebaliknya. Arsenal seakan sering “restart” permainan mereka sepanjang 90 menit pertandingan.

Ternyata transisi antar fase itu tidak hanya terjadi di dalam pertandingan, tapi juga sepanjang musim Arsenal. Bila kita cermati form Arsenal di kompetisi EPL sampai saat ini diselingi dengan FA Cup (biru) dan Champions League (merah):

LWWWWWWWDWL. WWWL. WWWWDLL. DWWWWWWWDWL. DW

Dari sekuens di atas, terlihat bahwa bila Arsenal mengalami kekalahan di liga, maka hasil konsisten akan menyusul selama beberapa pertandingan berikutnya. Arsenal tidak pernah kalah berturut-turut di liga, satu-satunya kekalahan back to back adalah saat harus bertandang ke Napoli di UCL dan kemudian bertandang ke City di liga, dalam periode yang sangat padat di Desember. Maka tidak heran Arsenal tidak kalah saat menjamu MU setelah kekalahan menyesakkan dari Liverpool sebelumnya. Namun tidak banyak yang menyangka Arsenal akan menang atas Liverpool di FA Cup secara meyakinkan hanya dalam satu minggu sejak dikalahkan di EPL. Mereka, terutama para pundit dan fans Arsenal yang mungkin mudah putus asa, menyangka kekalahan yang sama akan terulang. Tentunya mereka tidak membaca statistik di atas. Konsistensi Arsenal secara jelas terpapar di sekuens form tersebut. Arsenal tidak kalah berturut-turut di kompetisi domestik, apalagi bila salah satunya main di kandang, dan Arsenal tidak akan kalah dari musuh yang sama dalam waktu yang dekat (cue: Dortmund). Sayangnya saya tidak sempat menulis blog sebelum pertandingan tersebut, bila iya saya pasti dengan percaya dirinya akan memprediksikan kemenangan untuk Arsenal (hehe :p).

Pendek kata, Arsenal menemukan kemampuan Restart dengan cepat setiap kali mengalami Hang!

Kalau melihat form di atas, Arsenal berpeluang besar untuk dapat menahan Bayern Muenchen di kandang (hasil minimal kalau tidak menang). Namun walaupun kalah tidak akan berdampak terhadap form Arsenal di liga. Tiga pertandingan sesudahnya yang relatif lebih mudah sudah menunggu untuk kembalinya sekuens kemenangan berturut-turut di liga. Kemenangan atas Liverpool akan mengangkat moral skuad dan memudahkan hang, restart ini kembali terjadi. Sekarang mari kita bahas sedikit mengenai keberhasilan fenomenal Arsenal atas Liverpool kemarin.

Balas Dendam Wenger

Keledai pun tak akan jatuh di lubang yang sama dua kali, apalagi sang Professor. Menganalisa dan mengetahui kesalahan-kesalahan yang dilakukan skuad Arsenal saat bertemu Liverpool minggu sebelumnya, Wenger menghadapi pertandingan ini dengan persiapan yang matang. Ia memilih memasangkan Podolski dan Chamberlain, serta Arteta dan Flamini daripada Cazorla, Wilshere ataupun Rosicky. Yang lebih penting lagi ia memilih Sanogo daripada Bendtner dan Giroud. Di belakang ia memasang Monreal dan Jenkinson daripada Gibbs dan Sagna. Total 7 perubahan pemain ia lakukan. Mayoritas perubahan tersebut dilakukan karena cedera atau tidak fitnya pemain (Wilshere, Cazorla, Gibbs) namun sisanya adalah jelas taktik Wenger untuk meredam Liverpool. Saya rasa walaupun Wilshere fit, Wenger akan tetap memilih Arteta dan Flamini untuk mengantisipasi kecepatan serangan Liverpool.

Podolski dan Chamberlain menentukan hasil pertandingan ini dengan dua gol mereka, namun kontribusi Ozil sangat vital. Tanpa 2 pre-assist yang ia lakukan, mereka tidak akan mendapatkan peluang. Sanogo juga berkontribusi lewat tendangan volley-nya setelah menerima umpan lambung dari Ozil. Sisanya, Flamini dan Arteta rajin mengejar dan merebut kembali bola, Monreal terus melakukan interception, dan Jenkinson mengawal sisi kanan dengan cukup apik. Fabianski luar biasa dengan keputusan-keputusan yang ia lakukan untuk menyelamatkan bola dari tembakan ataupun dari crossing, dan bahkan “mencurinya” dari kaki lawan (Sturridge). Koscielny menempel ketat Suarez tanpa memberikan ruang untuk ia menembak dari dekat, dan Mertesacker walaupun 2 kali kehilangan Sturridge saat hendak melakukan jebakan offside, tampil lebih baik daripada minggu lalu.

Sebelas pemain Arsenal di lapangan tampil luar biasa. Sikap mental yang berbeda dengan minggu lalu mereka tunjukkan sejak menit pertama. Tidak percuma amarah Wenger yang luar biasa minggu lalu (versi Arteta). Di samping itu support Wenger terhadap Ozil terbukti berguna. Ozil tampil beda kelas, mendominasi permainan Arsenal dan mengatur tempo dengan baik. Ia bahkan ikut bertahan dengan melakukan interception dan pressing di lapangan tengah. Skema balas dendam Wenger berjalan lancar. Liverpool dipaksa menelan pil pahit mereka sendiri. Senjata makan tuan dari serangan counter attack cepat.

Mungkin kira-kira begini arahan taktik dari Wenger:

“Dua fullback kalian jangan terlalu maju. Bayangi Suarez dan Sterling dan potong operan ke mereka saat mereka beroperasi di sayap.

Arteta dan Flamini, kalian saling back up. Jangan terlalu jauh satu sama lain dan jangan maju atau mundur bersamaan. Kelebihan pemain di tengah harus dimanfaatkan dengan doubling up Coutinho. Tekan dan rebut bolanya setiap ia mendapatkan bola.

Koscielny, kau tempel si Suarez, ia tak lebih baik daripada Messi. Dan Mertesacker, walaupun Sturridge itu cepat, tapi kakimu lebih panjang. Bila ia lolos jebakan offside, julurkan kakimu untuk tackle bola. Bila ia lolos, tenang dulu, jangan sampai langgar ia dan penalti. Fabianski pasti akan bisa memblok tendangannya yang rata-rata kualitasnya biasa itu. Koscielny, jangan terlalu nempel ke Suarez, ia bisa jatuh hanya karena jarimu menyentuh pantatnya.

Ozil, Podolski dan Chamberlain, setiap kali Flamini atau Arteta berhasil merebut bola, kalian langsung menyerang. Kita kembalikan senjata Liverpool ke mereka. Counter attack cepat. Walaupun striker mereka cepat, fullback mereka tidak secepat kalian. Ozil pasti akan berikan umpan terobosan yang lebih akurat daripada Coutinho. Chamberlain dan Podolski, seringlah kalian masuk ke kotak penalti lawan. Tidak ada pemain Arsenal yang tembakannya lebih keras dan akurat daripada kalian berdua. Tunjukkan!

Yaya Sanogo, mereka boleh saja meledekmu tapi aku percaya penuh padamu sejak pandangan pertama. Tidak usah kau baca surat kabar sebelum pertandingan. Konsentrasi saja untuk tampil 100% di pertandingan ini dan kujamin kau akan punya masa depan cemerlang di klub ini. Engkau punya kecepatan (sedikit di atas Giroud), punya keberanian untuk melawan dua CB senior Liverpool, dan juga punya sedikit trick ala Drogba. Engkau bisa menjadi Drogba-nya Arsenal, atau Adebayor? Ah tapi jangan dia, paling nanti kau berakhir di klub kecil tetangga itu. Jadilah Drogba, atau Kanu. Pernah dengar Kanu? Ini videonya. Pelajari dan lakukan.

Tanpa Giroud, Walcott, Cazorla, Ramsey, empat pemain pencetak gol terbanyak kita, aku yakin kalian bisa. Liverpool boleh sombong dengan kemenangan 5-1 itu, tapi kita semua tahu itu abnormal. Itu terjadi ketika kita lagi hang! Kita tahu, setiap kali kita mengalami hang, kita tinggal pencet tombol restart! Semudah itu. Aku yakin kalian semua bisa menang. Yang penting jangan kebobolan lewat set piece di babak pertama, dan jangan berikan mereka penalti. Setelah itu kalian pasti menguasai pertandingan dan peluang pasti muncul.”

Dan tanpa ragu lagi, sebelas pemain Arsenal + tiga pemain cadangan memencet tombol restart malam itu dan skema balas dendam Wenger berjalan sempurna.