About benhan

A rookie in blogging

Rebuilding Arsenal

Featured

Skuad Arsenal 2021/2022

Saya menulis series Transfer Window 2021/2022 dalam tiga artikel panjang yang mencoba memahami strategi transfer Arsenal musim ini. Artikel pertama saya tulis tanggal 25 Juli ketika Arsenal baru menyelesaikan transfer Tavares dan Lokonga, dan artikel terakhir dirilis tanggal 1 Agustus 2021, sehari setelah Arsenal mengumumkan Ben White. Silakan membaca kembali artikel-artikel tersebut untuk refreshing, jika berkenan.

Link Part 1 tentang aturan Home Grown dan kilas balik musim Arsenal 2019/2020

Link Part 2 tentang kilas balik musim Arsenal 2020/2021 dan kandidat marquee signing Arsenal

Link Part 3 tentang menghitung budget belanja Arsenal dan skenario prediksi akhir transfer window ini.

Mari kita lihat kembali skenario prediksi saya. Ada 2 versi, yang optimis dan realistis.

Skenario 1 – Optimis

Tabel 1 – Prediksi versi Optimis

Skenario 2 – Realistis

Tabel 2 – Prediksi versi Realistis

Dan yang akhirnya terjadi di akhir Transfer Window summer 2021 ini adalah sebagai berikut:

Tabel 3 – Skuad Arsenal setelah Deadline Day TW Summer 2021

Prediksi yang tidak jauh meleset

Jika kita bandingkan, yang terjadi di akhir TW ini adalah sesuatu di antara skenario optimis dan realistis.

  • Jumlah pemain yang masuk sama dengan skenario realistis, yaitu 6 pemain baru. Bahkan posisi pemain barunya pun sesuai dengan prediksi.
  • Net spending Arsenal hampir sama dengan skenario optimis, yaitu sekitar 90 juta pounds, kalkulasi saya mengenai budget belanja pemain Arsenal ternyata tidak malu-maluin.
  • Penjualan yang terjadi di bawah perkiraan saya. Arsenal tidak mampu menjual beberapa pemain yang terpaksa hanya berakhir dengan loan tanpa obligation to buy (Nelson dan Bellerin) dan 2 pemain yang mestinya dijual gagal sepakat dengan klub pembeli akhirnya akan berstatus free transfer di akhir musim ini (Nketiah dan Kolasinac).
  • Jumlah pemain tim utama Arsenal sekarang menjadi 27, prediksi saya 26. Arsenal gagal melepas Kolasinac free transfer di akhir TW ini. 15 pemain non-HG (max 17) artinya Arsenal belajar dari musim lalu, kali ini semua pemain dapat didaftarkan untuk PL.
  • Willian di luar dugaan saya, akhirnya memilih memutuskan kontraknya dengan terhormat, tanpa kompensasi pesangon karena ia masih punya harga diri dan ingin bermain bola. Respect kepadanya yang lebih mementingkan pride daripada uang. Hal ini tentunya menguntungkan Arsenal yang dapat melakukan penghematan biaya gaji pemain sekitar 20 juta pounds untuk 2 musim!

Strategi Transfer Arsenal

Strategi ini sudah pernah saya tulis di Part 3 series Transfer Window Arsenal dengan kutipan sebagai berikut:

Saya pertebal pernyataan Edu dan Arteta bahwa usia Ben White sesuai dengan profil pemain tim yang sedang Arsenal bangun. Saat Arsenal terancam dan kemudian beneran tersepak dari Champions League, Arsenal memilih jalur pintas, shortcut untuk segera kembali ke Champions League lagi dengan membeli pemain yang lebih senior dan berpengalaman. Ini yang biasa disebut stopgap solution (solusi yang bersifat sementara). Pemain senior (di atas 26 tahun) yang dibeli antara lain mulai dari Aubameyang dan Mkhitaryan (di paruh musim terakhir Wenger), kemudian Leno, Sokratis, Lichtsteiner, David Luiz, Cedric Soares, Willian, dan Thomas Partey. Langkah ini terbukti tidak berhasil membawa kembali Arsenal ke level Champions League. Arsenal sudah tidak bermain di Champions League selama 4 musim. Alih-alih mengangkat moral tim dan mengubah mentalitas tim menjadi tim juara, sebagian besar pemain senior ini justru mengecewakan penampilannya dan bahkan Arsenal di musim lalu harus diselamatkan oleh pemain-pemain muda jebolan Hale End, seperti Bukayo Saka dan Emile Smith Rowe. Belajar dari pengalaman tersebut, Arsenal lalu mengubah strategi transfer untuk musim ini.

Transfer Window 2021/2022 – Saatnya Optimis? Part 3

Edu pun akhirnya memberikan wawancara kepada Skysports dan di Arsenal.com yang kurang lebih mengkonfirmasi soal strategi rebuilding tim dengan pemain muda di bawah 23 tahun dengan target panen jangka menengah (2-3 tahun) dan panjang (5 tahun ke atas). Edu menjelaskan saat ini Arsenal tertinggal jauh dari tim elit lainnya yang hanya cukup membeli 1-2 pemain di transfer window kali ini karena kualitas timnya sudah sangat baik (Chelsea, City, Liverpool) sementara Arsenal masih perlu memperbaiki kualitas tim di banyak posisi. Arteta mengatakan hal yang sama seminggu kemudian.

On top of that, we needed to recruit in a lot of positions. In order to do that, we had to spread the money and how it was spent wisely. Then we had to be very specific with the qualities, the targets we want that can reach the potential that is required at that level with the competition we have with other teams, to reach that [aim]. 

The whole strategy was around that, making those decisions as quickly as possible that could give us big margins of improvement in a short period of time.

Mikel Arteta – The thinking behind our transfer strategy

Karena KSE bukan bank yang cetak uang, 145 juta pounds miliknya dibelanjakan oleh Arsenal untuk 6 pemain muda yang akan meningkatkan kualitas tim, walau mungkin mereka butuh waktu lebih lama untuk memberikan dampak langsung. Bandingkan dengan City dan Chelsea yang belanjakan uang 100 juta pounds untuk seorang pemain elit. Edu berkata tujuan transfer kali ini adalah membangun pondasi. Di masa mendatang Arsenal mungkin hanya akan melakukan pembelian 1-2 pemain elit untuk melengkapi kualitas tim yang sudah cukup bagus. Tapi saat ini kita masih belum sampai ke sana. Seperti kata Arteta, kita perlu merekrut pemain di banyak posisi dari GK, RB, LB, CB, CM, AM, ST. Dari ketujuh posisi ini, enam terpenuhi dari transfer window ini dan yang lebih penting, keenam pemain ini memiliki kualitas (atau potensi) yang lebih tinggi daripada pemain yang akan digeser/ digantikan mereka di tim Arsenal.

  • Ramsdale -> Runarsson
  • Ben White -> Holding / Chambers
  • Tomiyasu -> Bellerin
  • Tavares -> Kolasinac
  • Lokonga -> Elneny
  • Odegaard -> meneruskan perannya sendiri di musim lalu

Keenam pemain muda ini tidak butuh waktu lama untuk integrasi ke timnya Arteta. Lima dari enam pemain ini langsung start melawan Norwich (Ramsdale, Ben White, Tomiyasu, Lokonga, Odegaard). Kemudian minus Lokonga, keempat pemain yang sama start lagi melawan Burnley. Hanya Nuno Tavares yang duduk di bangku cadangan sebagai pelapis Tierney. Kedua pertandingan berakhir dengan kemenangan 1-0 dan juga clean sheet. Untuk sementara ini, strategi rebuilding dengan target mid term dan long term ini juga memberikan dampak segera. Dari debut semua pemain baru ini, yang cukup mengejutkan adalah Ramsdale dan Tomiyasu. Kebanyakan fans Arsenal tidak mengira dampak positif instan dari penampilan mereka. Apalagi mengingat keduanya berasal dari klub yang lebih inferior daripada Arsenal (halo, spesialis degradasi…). Ini sebuah pelajaran buat kita bahwa pemain bagus ada di mana-mana, yang mungkin tidak terlalu terdengar di media dikarenakan keterbatasan dari pencapaian klub asalnya. Scouting Arsenal baik yang langsung di lapangan dan yang dari tim analisis statistik dan video patut diacungkan jempol karena keberhasilan mereka menemukan bakat-bakat terpendam ini.

Tomiyasu The Shield – source: @kazu_designs

Attiude and Character

Selain profil usia dan bakat pemain yang menjadi dasar pembelian pemain baru, hal lain yang dinilai dari tim perekrutan Arsenal adalah attitude dan character pemain. Di awal bergabungnya Arteta, saya menulis artikel The Arteta Way. Bagi Arteta, ada 4 hal penting yang ia inginkan sebagai pondasi dasar timnya: komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah untuk memainkan sepakbola dan mewakili klub ini.

The priority, as I said before, is what we are going to transmit on the team, is a reflection of the demands we are going to put on them every day in training. That’s commitment, accountability, aggression and passion to play this sport and to represent this football club.

This is the basic I am going to demand from them, and from there we can start to build things and improve all the things, obviously, that have to be done as quickly as possible, but if we don’t have this in the right manner, I think it will be difficult.

Mikel Arteta when he joined Arsenal as head coach, December 2019

Selama 1,5 tahun ini, Arteta melakukan perubahan tim dengan mengeluarkan pemain-pemain yang tidak memenuhi 4 kriteria di atas. Pemain yang tidak memiliki komitmen yang sama, tidak memberikan 100% di sesi latihan, dan tidak memiliki gairah untuk mewakili klub ini, silakan out!. Pemain yang melanggar nilai-nilai yang tidak dapat ditawar (non-negotiables) yang sudah ditentukan untuk tim juga out!. Revolusi mental memakan korban mereka yang tidak bisa ataupun yang menolak berpartisipasi. Mari kita lihat siapa saja para pemain tim utama warisan Wenger dan Emery yang sudah “dibuang” oleh Arteta:

  • Mkhitaryan
  • Emi Martinez (dijual untuk profit)
  • Sokratis
  • Mustafi
  • Ozil
  • Mavropanos
  • Guendouzi
  • Willock (dijual untuk profit)
  • Torreira

Bersih-bersih skuad ini tentunya juga bukan tanpa harga yang harus dibayar. Selain Emi Martinez dan Joe Willock, pemain lainnya dilepas murah dengan loan dan option to buy atau diputus kontrak. Arsenal jelas rugi dari segi potensi penjualan. Selain itu selama separuh musim 2020/2021 penampilan Arsenal sangat buruk yang notabene juga dipengaruhi faktor ketidakharmonisan di dalam skuad. Setelah bersih-bersih itu terjadi di bulan Januari 2021, praktis penampilan Arsenal jauh membaik (silakan baca Part 2 untuk lebih jelasnya)

Kemudian dari tim utama Arsenal saat ini, tersisa 10 pemain yang bukan hasil pembelian di masa Arteta, ataupun tidak/belum diberikan kontrak baru di masa Arteta, antara lain:

  • Kolasinac (sisa setahun)
  • Chambers (sisa setahun)
  • Elneny (sisa setahun)
  • Nketiah (sisa setahun)
  • Lacazette (sisa setahun)
  • Leno (sisa 2 tahun)
  • Pepe (sisa 3 tahun)
  • Maitland-Niles (sisa 2 tahun)
  • Bellerin (sisa 2 tahun)
  • Saliba (sisa 3 tahun)

Dari daftar di atas, kita kurang lebih bisa menebak jika di musim ini Arteta tidak memperpanjang kontrak pemain-pemain di atas, mereka adalah target berikutnya yang akan dijual/dilepas oleh Arsenal di TW mendatang. Hanya dalam waktu 2,5 tahun (di akhir musim ini) Arteta akan berhasil melakukan bersih-bersih skuad dan kemudian memiliki tim yang berisi pemain-pemain pilihannya sendiri, hasil seleksi alam 4 kriteria tersebut. Luar biasa dukungan board dan manajemen Arsenal untuk revolusi yang dipimpin Arteta ini. Praktis ia mengganti total tim warisan Wenger dan Emery dalam waktu yang relatif singkat.

Target Musim Ini

Satu hal menarik yang bisa kita perhatikan di wawancara Edu maupun Arteta adalah absennya penyebutan target Arsenal di musim ini. Masih kita ingat pernyataan kontroversial Willian yang menyebutkan bahwa Arteta membelinya untuk membawa Arsenal ke Champions League di musim pertama, dan keluar sebagai juara Champions League di musim ketiganya. Wow! Sayangnya pernyataan tersebut jauh dari kenyataan… Arteta dan Arsenal akhirnya menerima kenyataan bahwa kualitas timnya tidak bisa ditutup dengan satu dua pemain senior, dan sekarang Arsenal memilih jalur yang lebih terencana baik, dengan membangun pondasinya terlebih dahulu. Seperti yang sudah saya tulis di artikel sebelumnya:

Arsenal sepertinya sudah siap menempuh jalan yang lebih panjang agar peningkatan kualitas tim ini memiliki pondasi yang lebih kuat, beralih dari pembangunan tim instan dengan pondasi rapuh yang hasilnya terbukti mengecewakan. Arsenal memutuskan untuk membangun ulang tim. Pengalaman mengajarkan lebih sulit untuk “membentuk” pemain-pemain senior yang sudah “jadi” di klubnya masing-masing, apalagi untuk menyesuaikan diri mereka dengan style sepakbola yang berbeda yang diinginkan Arteta, seperti Positional Play yang menghasilkan sustainable pressure and possession

Transfer Window 2021/2022 – Saatnya Optimis? Part 3

Edu setelah berkonsultasi dengan manajemen Arsenal (Tim Lewis, Vinai) menginformasikan ke Arteta sekitar awal tahun ini rencana pembelian pemain dibawah 23 tahun sebagai bagian dari planning rebuilding Arsenal. Tentunya Arteta terkejut, karena ia tahu rencana ini butuh waktu lebih lama untuk berhasil sementara fans akan menuntut hasil jangka pendek pada dirinya. Namun manajemen meyakinkannya kalau ia akan diberi waktu untuk menggarap project ini. Mengembangkan tim muda ini menjadi tim yang bisa memainkan Positional Play tanpa target kembali ke Champions League segera. Dengan rencana baru ini baik Arteta dan Edu tidak lagi menyebut top four sebagai target finish musim ini. Mereka berusaha menurunkan ekspektasi fans. Di podcast yang menghadirkan Per Mertesacker sebagai pembicara (wajib ditonton), Per juga mengaku targetnya adalah dalam 2-3 tahun Arsenal bisa kembali ke Champions League dan bersaing serius untuk title Premier League.

Musim ini adalah soal meletakkan pondasi. Bagaimana tim ini bisa bermain dengan komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah mencerminkan tim Arsenal yang sesuai dengan reputasinya, by far the greatest team the world has ever seen. Memainkan sepakbola menyerang dengan pressing dan possession yang berkepanjangan. Tentunya Arsenal berharap bisa lolos minimal top six di akhir musim agar bisa kembali bermain di kompetisi Eropa namun saya yakin dalam hati Arteta dan pemain-pemain Arsenal, top four selalu menjadi incaran mereka (no pressure, team). Di akhir Desember nanti, kita bisa lihat sejauh apa posisi Arsenal dari top four, dibanding secara relatif dengan penampilan klub-klub lainnya.

Trust The Team

Terlepas dari keyakinan Anda terhadap kemampuan Arteta memimpin tim muda ini, Per Mertesacker mengatakan Trust itu sangat dibutuhkan dalam project rebuilding ini. Supporter mesti lebih sabar karena rencana ini memang akan butuh waktu, namun kita akan melihat indikasi adanya perbaikan sedikit demi sedikit seiring dengan waktu. Paling tidak gairah pemain-pemain muda berkarakter ini seperti Ramsdale dan Tomiyasu dalam membela tim ini akan sangat membanggakan. Tim ini akan mengalami masa-masa sulit juga seyogyanya tim yang berisi mayoritas pemain muda, dan di masa-masa sulit seperti itulah dukungan supporter sangat diperlukan. Trust the club and trust the team.

You always want the shortcut, you know, ‘bang’ straight back into the Champions League, straight back into being successful,

I think even myself, realising and working now with the academy, going more long term and developmental, I think we see kind of similar-ish traits in the first team, and I hope that Mikel gets the time that he needs.

I want to be successful tomorrow, I want to go back in the Champions League tomorrow, I want to speak to people and say, ‘listen, we have got the best club in the world who challenges for titles every single year’. That’s not the reality. I think the earlier we get on the train of ‘we are in a big, big transition still’ [the better].

To have sustainable success there needs to be some trust. I’m all for trusting people. Mikel Arteta, and I perceive him to be the right person, lets give him the trust and the development squad that he can take to the next level that will achieve Champions League football, maybe in two to three years.

From a club person, that’s my take basically at the moment, because I’ve worked with Mikel very very closely.

I know how much he wants it, I know his work ethic, I know how intense the squad works at the moment to get to a better level. I think we all have to swallow disappointment at the moment, which I’m keen to change, but the environments that we are going to deliver in the next years will be key for our success.

The stakes are very very high, and I understand that there is a lot of criticism, but some people need to swallow that and try and grow with it, and Mikel is someone that does that.

Per Mertesacker on The Beautiful Game Podcast

Kalaupun misalnya Mikel Arteta tidak berhasil membawa tim ini ke level yang diharapkan, pelatih berikutnya akan mewarisi tim dengan profil pemain yang lebih baik daripada Arteta. Lebih muda, berkarakter positif, berbakat, dan mampu memainkan sepakbola modern ala Positional Play. Arsenal tinggal mencari pelatih modern yang bisa menerapkannya lebih baik (tentunya tidak mudah mencarinya). Inilah hasil planning rebuilding Arsenal yang matang, bukan hasil tambal sulam dengan membeli pemain-pemain tua sebagai stopgap solution. Pada akhirnya klub tetap akan memetik hasilnya, siapapun manager-nya.

Untuk saat ini, mari kita menikmati mendukung Arsenal tanpa beban.

Menikmati aksi Ramsdale, Tomiyasu, Gabriel yang berjibaku dalam duel bola-bola atas…

Menikmati umpan terobosan jarak jauh dari Ben White, Partey dan Odegaard…

Menikmati crossing akurat dari Tierney yang sayangnya hanya satu dari lima yang berhasil dimanfaatkan striker-striker kita…

Menikmati one touch football The Smith dan Saka sambil diiringi chant baru Smith and Saka yang fantastis itu…

Menikmati twist and shout Sambi di lini tengah sambil melupakan sideway dan back pass Elneny…

Menikmati gocekan Pepe yang ketika berhasil biasanya dilanjutkan dengan assist ataupun gol-gol fantastis… Ketika tidak, suara ahhh akan terdengar bersamaan di stadion…

Menikmati momen pertama kalinya Balogun membobol gawang lawan sebagai striker utama… dan berakhir sebagai striker utama tim ini di akhir musim.

Menikmati larinya Martinelli yang meninggalkan Cristiano Ronaldo, idolanya, yang terjatuh ala Kante di lapangan hijau…

Sambil di dalam hati kita meyakini bahwa tim ini akan menjadi lebih baik lagi. Tim ini akan sampai ke sana… Pantai seberang yang sudah lama kita tinggalkan semenjak lengsernya The Professor. Mudah-mudahan kali ini anak-anak didiknya (Edu, Mikel dan Per) yang akan berhasil menggantikan perannya sebagai nahkoda kapal tercinta ini.

Martin Ødegaard, The Creator-in-making

Featured

Yang mengikuti tulisan saya sejak lama tentunya tahu persis kalau saya sangat memuja Dennis Bergkamp, dan bahkan alasan awal saya menjadi seorang Gooner. Di blog ini bahkan ada bagian yang dikhususkan untuk-Nya (sayang saya belum sempat menulis lebih banyak lagi mengenai biografinya). Tidak hanya saya, sebagian fans Arsenal yang memuja-Nya memberi Bergkamp nick name God, The Creator (plesetan dari perannya sebagai pembuat peluang utama Arsenal). Bergkamp berada pada level yang berbeda dari para pesepakbola hebat di dunia, dalam hal filosofi sepakbolanya, pandangan hidupnya. Ia melihat sepakbola sebagai sarana untuk mencapai kesempurnaan, sesuatu yang bermakna lebih dalam daripada ketenaran dan harta.

“Arsène Wenger has an interesting view about this. He says: “It is a spiritual thing. I am convinced of that. I believe you have two kinds of players who play football. Those who want to serve football like you serve God, and they put football so high that everything that is not close to what football should be is a little bit non-acceptable. And then you have those who use football to serve their ego. And sometimes the ego can get in the way of the game, because their interest comes before the interest of the game.

Sometimes the big ego is linked with what we call strong personalities, charisma. But most of the time what people call charisma is just big ego. I believe that Dennis was one of those who had such a high idea of the game and such a respect for the game that he wanted that to be above everything. I believe that the real great players are guided by how football should be played and not by how football should serve them. If it becomes spiritual, it’s endless and you’re always driven to going higher and getting closer to what you think football should be.

Then Wenger gives the example of a player who knows he ought to pass but takes a massive gamble and scores. “If he really loves the game he’ll go home and worry about it. He’ll know he really should have passed to set up an easy chance for someone else. But he was selfish and got lucky. If he doesn’t care about the game he’ll go home and think: ‘That was great – I’ll do the same next time.’

And he says that’s the difference. “That’s why you have to teach the kids to respect the game and treat the game a little bit like a religion, that is above you, where you want to serve the game.”

Bergkamp in his biography – Stillness and Speed

Bergkamp memiliki pandangan yang sama dengan Wenger, bahwa the game semestinya berada di atas egomu, yang membuatnya ingin “melayani”-nya bak seorang hamba yang melayani Tuhannya. Becoming the servant of the game. Sementara sebagian besar pesepakbola memiliki apa yang disebut big ego, individualis, bagaimana menjadi yang terbaik di lapangan hijau.

Selama saya mendukung Arsenal, hanya ada satu pemain yang menurut saya layak mewarisi tahta Bergkamp di klub tercinta. Di salah satu artikel di blog lama saya, “Ketika Sang Creator Menemukan Putra-Nya”, saya menuliskan tentang pandangan Bergkamp tentang Mesut Özil.

“Behind every pass there must be a thought.

Özil knows exactly how to control the ball in what kind of space to give himself time. That’s the difference between the players and great players. With his intelligence and his touch and his skills, he is trying to do something right with every ball.”

“With that pass it seems like Özil was already calculating what the next pass should be. So he puts the ball on the side which means Giroud’s only option is to pass it to the third player. The point is that there is a thought behind that pass. You see that with his control and his movement and that’s what I like.

With all the respect to the other Arsenal players, I think he is the one who can make a difference. The other players are good in midfield. But you need someone of a high-level you can be good in all areas of the pitch.”

Dennis Bergkamp on Mesut Özil

Bergkamp bisa melihat kalau Özil memiliki visi yang dapat melihat beberapa langkah ke depan, termasuk pilihan gerakan berikutnya dari rekan se-timnya. Kemudian dengan kontrol yang akurat ia memberikan operan yang “mengatur” gerakan berikutnya dari penerima bola. Ada tujuan di balik setiap operannya. Dan Bergkamp juga menjelaskan mengapa kejeniusan Özil ini akan membawa perubahan pada permainan Arsenal secara keseluruhan:

“It looks like it’s a relief to the other players. ‘Oh yes this is what we want’, ‘Oh this is a great ball’. They are adapting to Özil, and moving into spaces where before maybe they didn’t do that because maybe they weren’t expecting the ball.”

Mesut Özil kemudian membawa Arsenal memenangkan FA Cup sebanyak 3 kali, mengakhiri paceklik trofi selama 9 musim. Namun ia tidak pernah benar-benar berhasil menjadi pengganti Bergkamp dan tidak mengalami happy ending yang sama dengan Bergkamp di penghujung kariernya di Arsenal karena berbagai faktor yang pernah kita kupas di sini.

Sekarang, 8 tahun semenjak Mesut Ozil bergabung dengan Arsenal, kita menemukan kutipan yang hampir mirip dengan apa yang dikatakan Bergkamp mengenai Özil.

“He needs players around him to follow and understand him because the moment he has time on the ball he’s a real threat.

“He glides players together. He attracts players. He’s really confident on the ball. He can take the ball anywhere on the pitch and he gives us that continuity. I think tonight he was really good.”

Mikel Arteta on Martin Ødegaard

Child Prodigy from Drammen

Martin Ødegaard lahir di Drammen, sebuah kota kecil di Norwegia, tidak jauh dari ibukotanya Oslo. Ayahnya Hans Erik Ødegaard juga seorang pesepakbola. Sebagai pengagum John Arne Riise, ia tumbuh menjadi pendukung Liverpool. Kariernya meroket pesat di usia yang sangat muda. Hanya berusia 15 tahun, ia telah memulai debutnya di liga profesional Norwegia, bermain untuk klub Strømsgodset. Di usia yang sama, tepatnya 15 tahun dan 253 hari, ia melakukan debut untuk timnas senior Norwegia melawan UAE. Sebagai perbandingan, Fabregas melakukan debut timnasnya di usia 18 tahun dan Saka di usia 19 tahun. Video di bawah ini menceritakan dengan baik bagaimana Ødegaard mengguncang dunia sepakbola di usianya yang sangat muda dan hype seputar dirinya.

Documentary: The Phenomenon Martin Ødegaard

Semuanya berjalan demikian sempurna untuk Ødegaard. Belum genap 16 tahun, ia diincar tidak kurang dari 30 klub Eropa. Klub pujaannya, Liverpool mengundangnya untuk latihan bersama tim utamanya di awal Desember 2014. Dalam latihan tersebut ia melakukan nutmeg terhadap Joe Allen. Kemudian ia ditemukan sedang makan bersama Coutinho di restoran, bagian dari rayuan Liverpool untuk meyakinkannya bahwa klub itu yang terbaik untuk perkembangan dirinya.

Ødegaard berlatih bersama Liverpool, Des 2014

Tak hanya Liverpool, ia juga mengunjungi Manchester United, bertemu Van Gaal dan melakukan tur seputar Old Trafford dan Carrington, training ground mereka. Kemudian ia mengunjungi Arsenal yang telah memiliki Özil dan Manchester City. Di Jerman, ia diundang ke Bayern Muenchen dan bergabung dalam sesi latihan di bawah Pep Guardiola. Chairman dari Bayern, Karl-Heinz Rummenigge memujinya sebagai talenta yang luar biasa dan berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan Ødegaard. Ajax Amsterdam tidak mau ketinggalan. Manager saat itu, Frank de Boer mengatakan kepada media Norwegia, “Sangat luar biasa melihat pemain yang bermain demikian baik di usia demikian muda… Jika ia harus memilih, Ødegaard sebaiknya memilih Ajax.”

Namun tak ada klub yang menyamai apa yang dilakukan Real Madrid untuk memboyongnya. Tak mau kalah dengan Barcelona yang juga mengundangnya ke La Masia, Madrid mengirimkan private jet ke Norwegia untuk menjemputnya untuk melihat kompleks latihan mereka di Valdebebas. Mereka menjanjikannya tempat baginya di tim utama. Seminggu sebelumnya ayahnya telah diundang ke klub sendirian. Ayahnya ditawarkan pekerjaan untuk menjadi pelatih di Madrid sebagai bagian dari charm offensive untuk meyakinkan Odegaard memilih Madrid daripada sekian banyak klub besar Eropa lainnya yang berminat kepadanya.

Akhirnya di bulan Januari 2015, Ødegaard yang baru berusia 16 tahun melakukan lompatan yang hampir tak masuk akal dalam karier seorang pesepakbola, langsung dari Strømsgodset ke klub terbesar di dunia, Real Madrid. Tentunya ia memilih Madrid dengan harapan ia bisa berlatih dengan bintang dunia, didukung oleh fasilitas terbaik, agar bisa berkembang menjadi pemain yang sesuai dengan prediksi media dan banyak scout klub besar Eropa saat itu, the new Lionel Messi. Awal karier yang sempurna, sejauh ini.

Life is not a fairy tale

Apabila babak awal sepakbola pro-nya demikian sempurna, babak berikutnya dalam kehidupan seorang Ødegaard tidaklah seindah itu. Roda kehidupan berputar dan Ødegaard benar-benar mengalami bagaimana berada di atas dan di bawah. Ia tak berhasil menembus tim utama Madrid yang penuh bintang, dan selama 2 tahun hanya bermain di tim cadangan, Real Madrid Castilla. Pemain yang masih sangat muda itu pun mendapatkan kritikan dari media. Banyak berita miring mengenai dirinya yang memilih berlatih dengan Ronaldo daripada tim cadangan Madrid. Banyak pemain muda lainnya yang cemburu dengannya. Hype tentang dirinya pun mulai menurun. Bahkan keraguan mulai muncul, apakah ia memang pemain yang bertalenta hebat?

Demi perkembangan dirinya, dan menjauhkannya dari pusat perhatian media di Madrid, ia kemudian dipinjamkan ke Belanda, klub bernama Heerenveen selama 18 bulan. Di klub ini performanya tidak begitu baik, sehingga loannya dilanjutkan ke Vitesse selama 1 musim penuh. Di Vitesse, Ødegaard mulai menunjukkan mengapa ia disebut pemain berbakat. Tampil sebanyak 39 kali, ia memberikan 11 gol dan 12 assist. Pemberitaan mengenai dirinya kembali mencuat di media dan saat itu ia berusia 20 tahun.

Musim 2019/2020 Ødegaard kembali ke La Liga namun kali ini berbaju Real Sociedad. Awalnya loan di Sociedad direncanakan selama 2 musim penuh (2019-2021), namun karena ia bermain sangat baik di Sociedad di musim loan pertamanya (termasuk saat menang 4-3 lawan Madrid), sampai dinilai sebagai pemain terbaik di La Liga sebelum lock down (karena setelahnya ia mengalami cedera), Real Madrid memutuskan untuk memanggilnya kembali di awal musim 2020/2021. Setelah 5,5 tahun bermain di tim cadangan dan berbagai klub pinjaman, akhirnya Ødegaard dirasakan siap untuk tampil di tim utama Madrid, demikianlah rencananya. Bagi Ødegaard, ini seperti terang yang terlihat di ujung terowongan yang panjang, lima setengah tahun lamanya.

Statistik Progressive Passes Ødegaard saat loan di Sociedad, lihat siapa pemain di sebelahnya

Namun dewi fortuna sepakbola kembali membuat skenario yang berbeda. Cedera dan penampilan yang tidak memuaskan membuat Ødegaard hanya bermain sebanyak 7 pertandingan dan hanya selama 232 menit (2,5 full match) selama separuh musim. Frustrasi, Ødegaard minta ke Madrid untuk dipinjamkan kembali ke Sociedad. Arsenal mencium bau darah… Klub yang sempat tertarik serius dengannya, dan terus mengikuti karier Ødegaard semenjak itu memiliki koneksi yang baik dengan Sociedad, tempat Monreal bermain, yang juga terletak di kampung halaman Arteta. Edu dan Arteta bergerak cepat, tak akan sia-siakan kesempatan emas ini. Dari sekian banyak klub besar yang mengincarnya sejak muda, hanya Arsenal bergerak dahulu untuk mengamankan Ødegaard dengan status pinjaman separuh musim. Ødegaard yang awalnya memilih Sociedad, akhirnya berhasil diyakinkan oleh Arteta dan Edu bahwa masa pinjaman separuh musim di Arsenal ini akan membuatnya menjadi pemain yang lebih baik dan dijamin tidak akan membuang waktu kedua belah pihak.

I spoke to him before coming here, of course. That was very important for me and he seems like a top manager and I really liked his ideas, the way he sees football and also the way he is. He gave me a great feeling and that was important for me to come here. He was crucial.

Ødegaard on Arteta

Yeah I was here. I visited the club and trained a little bit. I had a chat with the club and I had a really good feeling when I was here. I was thinking a lot about it. In the end it wasn’t my decision at that time, but I had a really good time and I remember it well.

When I was here the first time, I had a good feeling and every time I heard about the club, I had a good feeling. Now I’m here, so I think it’s maybe meant to be.

Ødegaard on visiting Arsenal as a 15 years boy

Dari wawancara pertama Ødegaard tersebut, kita bisa merasakan bagaimana ia dengan jujur mengatakan bahwa ia merasakan ada koneksi dengan klub ini, bahkan sejak kunjungan di bulan Desember 2014 itu. Setiap ia mendengar atau membaca berita tentang Arsenal, ia merasakan hal yang baik. Tentu adanya Monreal di Sociedad mungkin juga berpengaruh (we know how f*ckin legend Nacho was), Ødegaard berkesimpulan kalau mungkin inilah Jalannya.

Kita kemudian tahu bagaimana lanjutan ceritanya. Selama masa pinjaman 6 bulan tersebut, Ødegaard menjadi pemain kunci Arsenal yang berhasil memperbaiki form Arsenal (silakan baca ulasan musim tersebut), bersama para pemain muda andalan, Emile Smith Rowe dan Saka. Kehadirannya membuat Arsenal dapat menciptakan peluang-peluang yang lebih berkualitas dan banyak, tidak lagi mengandalkan spamming crossing dari sayap. Ia mampu mengisi ruang kosong kreativitas yang ditinggalkan Özil. Yang mengejutkan dari Ødegaard adalah ia juga mampu melakukan pressing dengan baik, gigih dalam duel, dan vokal di lapangan hijau. Berbeda dengan Özil dan Bergkamp yang lebih diam di lapangan, Ødegaard lebih banyak bersuara. Tak heran dalam usia yang masih muda pula (22 tahun), ia telah diangkat menjadi kapten timnas Norwegia.

Where He Belongs

Setelah selesai masa pinjamannya, Arsenal dan Ødegaard merasakan chemistry yang kuat, dan ingin melanjutkan perjalanan ini bersama. Sayangnya Real Madrid punya rencana lain dan ingin mempertahankan Ødegaard, apalagi karena Ancelotti menggantikan Zidane, pelatih yang tidak cocok dengan Ødegaard. Ia sempat mengutarakan maksudnya untuk bergabung dengan Arsenal namun Madrid tidak senang dengan ide tersebut dan menolaknya. Ødegaard pun menuliskan pesan perpisahan kepada rekan-rekannya dan fans Arsenal yang cukup emosional. Sampai saat itu, saya pribadi masih yakin kisah Arsenal dan Ødegaard ini belum berakhir.

Pre-season dimulai dan saya menonton salah satu match pre-season Real Madrid (demi Ødegaard tentunya) dan di sana bisa terlihat disconnect, tidak nyambungnya Ødegaard dengan rekan-rekan setimnya. Ia tidak menjadi pemain yang kita tonton selama 6 bulan berbaju merah putih. Ia seperti tidak belong ke tim itu. Real Madrid tentunya juga merasakannya dan akhirnya mereka memutuskan untuk cash in pemain yang masih bisa dijual tinggi ini dan untuk membiayai transfer Mbappe yang juga merupakan kesempatan emas bagi mereka. Arsenal tentunya menjadi klub pertama yang diinformasikan Ødegaard dan Madrid mengenai keputusan ini. Kesabaran dan keyakinan yang berbuah manis karena Arsenal akhirnya berhasil membeli permanen target utama kita di transfer window musim ini.

With hindsight, keputusan Arsenal untuk tidak menindaklanjuti bid pertama ke Emi Buendia adalah blessing in disguise. Sekarang kita mendapatkan Ødegaard dengan harga yang kurang lebih sama dengan yang dibayarkan Aston Villa untuk Buendia (30 juta pounds ++). Tanpa bermaksud menghina Buendia, Ødegaard adalah pemain yang berada di level yang sangat berbeda. Bakatnya sejak usia muda tidak akan hilang begitu saja. Dengan kerja keras dan berada di lingkungan yang tepat, Ødegaard yang memenuhi potensinya yang luar biasa dapat menjadi pemain kelas dunia yang setara legenda manapun dalam sejarah sepakbola. Itu adalah tantangan baginya dan Arsenal, untuk ciptakan kondisi baginya untuk memenuhi potensi dirinya, to live up to the hype enam tahun silam.

I said the last time, that you know every time I heard about the club I had a good feeling and I said maybe it was meant to be and I’m here again, so I guess it is.

Ødegaard on his second time joining Arsenal, this time permanently.

The Creator-in-making

Melihat caranya bermain, aksinya di lapangan, ingatan saya kembali kepada sosok pemain legendaris, pemain terbaik Arsenal sepanjang sejarah (subyektif – saya tahu). First touch-nya, gerakannya dengan bola, dribblenya yang simple dan kemudian visinya dalam melihat gerakan rekannya dan untuk menemukan mereka dengan operan akurat. Ødegaard saat ini belum berada pada level Özil apalagi disamakan dengan The Perfect Ten, Dennis Bergkamp. Namun kita bisa melihat potensinya, bayangan DB10 dalam dirinya. Mata yang telah mengikuti Arsenal selama 23 tahun ini tidak akan bohong. We recognize quality. Bagi saya, Martin Ødegaard adalah marquee signing, pembelian terbesar Arsenal di transfer window musim ini. Bahkan bisa dianggap a steal mengingat harga yang mesti dibayarkan Arsenal untuknya (setara dengan Xhaka, Mustafi, 5-6 tahun lalu).

Kita mesti bersyukur akhirnya pemain berbakat ini, walaupun mesti detour selama 6,5 tahun ke Spanyol, Belanda, balik lagi ke Spanyol, sekarang menemukan rumahnya di North London, where he belongs. Bila Dennis Bergkamp bergabung dengan Arsenal di usia 26 tahun, dan menjalani karier di Arsenal selama 11 tahun, Mesut Özil di usia 24 tahun dan menjalani 7,5 tahun kariernya di Arsenal, Martin Ødegaard bergabung dengan Arsenal di usia yang lebih muda lagi, 22 tahun. Ia akan menjalani usia keemasannya bersama Arsenal dan sangat mungkin akan menyamai atau bahkan melebihi lama kariernya Bergkamp di Arsenal. Kita sebagai fans Arsenal akan menikmati 5-10 musim ke depan dengan sepakbola kreatif di mana Ødegaard menjadi technical leader. Disokong dengan Saka dan Emile Smith Rowe yang tidak kalah menariknya. Hanya membayangkan itu saja membuat saya sedikit merinding. We’ve got our Arsenal back!

Saya yakin Martin Ødegaard adalah The Creator-in-making, pewaris tahta sejati The Perfect Ten. Semoga saja takdirnya memang menemukan Jalan melayani Tuhannya (the game) di Arsenal.