The Journey to Become Premier League Champions

“The happiness is linked sometimes with the suffering and the time you have to wait, so that is maybe why it was a great moment at the end of the game.” ~ Arsene Wenger, 2014 after Arsenal won the FA Cup

Dua puluh dua tahun lamanya kita menunggu trofi Premier League kembali ke Arsenal. Bila seorang anak lahir di era Invincibles yang mendominasi Inggris dan menjadi juara tak terkalahkan (2004), maka anak itu sekarang semestinya sudah lulus kuliah S1 ketika Arsenalnya Arteta mengangkat trofi Premier League. Satu generasi masa tunggunya. Satu generasi hidup dalam banter era.

Tidak heran, selebrasi besar-besaran dan spontan terjadi setelah match Bournemouth vs City yang memastikan Arsenal sebagai juara liga Inggris 2026. Di Emirates, malam yang sama, puluhan ribu fans Arsenal berkumpul dan bernyanyi, larut dalam kegembiraan terhebat dalam hidup mereka. Sesuai kata Wenger di atas, besarnya kebahagiaan kadang ditentukan oleh lamanya penderitaan selama masa tunggu. Banyak supporter lama Arsenal yang mengatakan ini euforia terhebat dalam sejarah mereka menjadi fans Arsenal. Lebih hebat dari selebrasi juara liga di tahun 1989, 1991, 1998, 2002, dan 2004. Tidak hanya di North London, ribuan fans Arsenal di seluruh dunia turun ke jalan untuk selebrasi. Di Uganda, Kenya, Vietnam hingga di Indonesia yang berparade dengan banner Mikel Arteta’s Army.

Sebagian fans Arsenal mungkin sudah patah arang, tidak pernah berharap timnya untuk dapat juara liga lagi. Ketidakmampuan untuk bersaing di pembelian pemain di paruh kedua era Wenger – akibat pembangunan stadion baru, sampai tidak lolosnya Arsenal ke Champions League di selama 6 musim berturut-turut (2017-2023) padahal sebelumnya langganan UCL 19 musim berturut-turut, sempat membuat fans Arsenal skeptis dengan masa depan klub bola ini. Fast forward 3 tahun ke depan, Arsenal menjadi juara Premier League dan akan bertarung di final Champions League 2026. Ini adalah mimpi terliar kita, jika ditanyakan 10 tahun yang lalu. Mimpi yang terealisasikan berkat satu orang, Mikel Arteta.

Tentu kejayaan musim ini tidak hanya karena Arteta. Ada faktor rekrutmen yang berperan, dukungan dana dari pemilik untuk transfer pemain, dan juga pengambil-alihan utang stadion ke bank sehingga Arsenal lebih memiliki ruang finansial yang cukup untuk transfer pemain. Kemudian suksesnya tim komersial Arsenal dalam mendongkrak pendapatan komersial dari sponsorship juga berpengaruh besar untuk ketersediaan budget transfer. Pendek kata, sukses on and off the pitch itu berjalan beriringan. Arteta mendapatkan budget transfer yang tinggi karena ia berhasil membawa progress berarti di lapangan. Dari finish peringkat 8 naik ke 5 yang artinya dana broadcasting Europa League masuk (sekitar 20-30 juta pounds), dan kemudian 3 musim berturut-turut di Champions League (tambahan 80-100 juta pounds per musim). Arteta bisa belanja banyak karena he earned it, hasil prestasi timnya di lapangan.

Grafik di bawah ini menjadi ilustrasi peningkatan signifikan pendapatan Arsenal berkat prestasi di lapangan ditambah suksesnya tim komersial. Pendapatan Arsenal lebih dari dua kali lipat hanya dalam waktu 5 tahun. Champions League money yang masuk sejak 2024 membuat perbedaan. Musim ini bakal lebih tinggi lagi. Arsenal akan menjadi klub PL dengan pendapatan tertinggi di 2026. More money earned, more spending.

Di dalam transformasi organisasi bahkan sampai ke level negara, leadership adalah hal yang terpenting. Amerika di era Obama dan Trump sangat berbeda. Hal yang sama juga terjadi di negeri ini. Pemimpin membuat visi, dan merealisasikannya, melakukan transformasi organisasi untuk mencapai visinya. Dalam sepakbola, pemimpin ini adalah sang manager. Di sebagian klub Eropa, kepemimpinan dibagi dua antara Head Coach dan Sporting Director. Namun yang lebih berperan tetap Manager atau Head Coach karena merekalah yang bertanggung jawab atas performa timnya di lapangan. Tim yang sama, dengan pelatih yang berbeda, hasilnya bisa sangat berbeda. Lihat saja MU dengan Amorim dan Carrick. Atau Chelsea dengan Maresca dan Rosenoir. Materi pemain yang sama, hasilnya berbeda jauh. Nah tulisan ini akan membahas bagaimana perjalanan Arsenal di bawah Mikel Arteta. Bagaimana ia tidak hanya merevolusi taktik tim, tapi juga kultur sebuah organisasi, sehingga kita bisa sampai ke tujuan seperti sekarang.

The Arteta Way

Semenjak Arteta bergabung, saya sudah yakin ia akan membawakan keberhasilan untuk klub ini. Saya menulis artikel The Arteta Way ini dan menutupnya dengan kalimat ini:

Saya percaya Arteta akan dapat menghadirkan kembali sepakbola menyerang yang merupakan perwujudan dari The Arsenal Way daripada sepakbola reaktif ala klub semenjana. Sepakbola protagonist yang gagal diwujudkan oleh Unai Emery.

Kepercayaan itu muncul karena di konferensi pers pertamanya, Arteta menekankan pada empat hal penting yang ia inginkan sebagai pondasi dasar timnya: komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah untuk memainkan sepakbola dan mewakili klub ini. Ia tidak bicara taktik dulu. Ia bicara soal kondisi mental, soal revolusi mental tim. Arteta menyadari betapa jauhnya Arsenal dari kompetitor saat itu, ketika Man City unggul 3-0 di babak pertama dan Emirates tinggal separuh penuh, ditinggal penonton. Klub ini kehilangan koneksi antara pemain dan fans, kehilangan gairah pemain dalam bermain sepakbola dan fans dalam mendukung tim.

Keempat pondasi dasar tim tersebut kemudian mengerucut menjadi tiga syarat non-negotiables untuk semua pemainnya yaitu: rispek, komitmen dan gairah. Bagaimana Arteta melakukan revolusi mental tersebut dan memastikan semua pemainnya mengikuti syarat non-negotiables tersebut? Dengan disiplin dan aplikasi sehari-hari. Saya yang sehari-hari berkutat dengan urusan manajemen dan leadership, melihat penerapan revolusi mental Arteta ini mirip dengan model high-performance team Lencioni.

Lencioni membuat model piramid berisi 5 unsur / tahapan perubahan perilaku sebuah tim untuk menghasilkan tim dengan kinerja yang lebih baik. Tim yang mana kinerjanya lebih baik dari gabungan kualitas masing-masing individu anggotanya. The whole is greater than the sum of its parts. Untuk tahu lebih lanjut, bisa dibaca di tulisan Arteta Masterclass di blog ini.

Hasil dari penerapan non-negotiables Arteta terlihat saat mengalahkan Liverpool (juara liga) 2-1 di pertandingan liga di akhir musim pertamanya. Arteta mengatakan bahwa dari segi permainan Arsenal masih punya gap dengan level tim papan atas liga saat itu, namun dari segi komitmen dan agresi, mereka sudah menyamai. Buah dari revolusi mental tersebut adalah kemenangan FA Cup di 2020, dengan mengalahkan Man City di semifinal dan Chelsea di final.

Selain hasil positif, revolusi mental Arteta juga memakan korban, mereka yang tak mampu mengikutinya. Pertama Mesut Ozil yang diasingkan dari tim semenjak restart liga setelah suspensi Covid

I have been very open with Mesut from day one.

Since I joined I thought that he was fit and he was willing and he wanted to perform at the level he can do.

The moment I see that he is ready again to do that, I will treat him like anybody else. I think I’ve been more than fair with him and I think he has responded in many games the way I want. That’s it.

Arteta on Ozil’s absence

Korban berikutnya adalah pemain-pemain yang dijual Arteta akibat mereka tidak menuruti syarat non-negotiables tersebut. Tentunya kasus yang paling terkenal adalah Auba. Setelah dijadikan kapten dan perpanjang kontrak baru, Auba tidak memberikan contoh sebagai leader, jenderalnya Arteta. Ia sendiri sering melakukan pelanggaran disiplin. Saya menuliskan kronologi pelanggaran Auba yang berakhir dengan ucapan Selamat Tinggal Auba.

Revolusi Taktik

Berbarengan dengan revolusi mental Arsenal, Arteta juga mengubah taktik Arsenal untuk bisa masuk ke level elit. Di tulisan: Memahami Artetaball saya mengupas bagaimana Arteta menerapkan positional play di Arsenal. Sebelumnya Emery mencoba menerapkan build up dari belakang namun taktik sepakbola yang dilakukan Emery sifatnya lebih reaktif daripada proaktif, menyesuaikan dengan taktik tim lawan. Pemain Arsenal saat itu banyak mengeluh karena diwajibkan menonton video analisa taktik yang lama, pembicaraan taktik yang detail dengan informasi yang kebanyakan. Ada pepatah orang jenius adalah mereka yang mampu menyederhanakan hal-hal kompleks saat berkomunikasi. Emery sebaliknya. Apalagi saat itu Arsenal tidak memiliki struktur dalam bertahan karena bagi Wenger sepakbola adalah soal menyerang.

Artetaball adalah Positional Play ala Arteta yang membangun serangan dari lini belakang (build-up play from the back), memancing lawan untuk pressing tinggi, dan menyerang secepat counter attack. Berawal dari umpan pendek goal kick, bila semua kondisi terpenuhi, Arsenal bisa mencetak gol 20-30 detik kemudian, lewat serentetan kombinasi operan pendek dan panjang yang tidak terinterupsi oleh lawan.

Di bagian kedua dari series Memahami Artetaball, saya menulis:

Filosofi sepakbola Arteta adalah mendominasi lawan. Baik dengan build-up play dari belakang ataupun dengan dominasi dalam menyerang di lapangan lawan. Binaan dari Barcelona-nya Cruyff, Arsenal-nya Wenger dan kemudian Guardiola, tentunya berambisi memainkan sepakbola menyerang yang dominan. Namun Arteta paham betul skuad yang dimilikinya saat ini belum sanggup mendominasi lawan selama 90 menit penuh. Maka ia melakukan sedikit modifikasi taktik untuk mengoptimalkan kekuatan skuadnya dan juga menutup kelemahannya.

Dominasi, yang diinginkan Arteta mulai terealisasikan di musim 2022/2023, ketika Gabriel Jesus dan Zinchenko bergabung dan Arsenal memainkan sepakbola menyerang yang sangat fluid. Jesus main sebagai false nine dan Zinchenko sebagai inverted left back, membuat banyak tim kewalahan dalam merebut possession kembali. Selain itu Saliba dan Gabriel memungkinkan Arsenal bermain dengan garis pertahanan yang tinggi. Arsenal mulai camping di lapangan lawan dengan ball possession dan counterpressing. Jesus, Saka, Martinelli dan Odegaard menjadi kunci serangan Arsenal. Arsenal memimpin klasemen selama 30 game weeks dari 38 match day dan kemudian disusul Man City akibat cedera pemain: Jesus sejak Desember dan kemudian disusul Saliba, Tomiyasu dan Partey di bulan Maret dan April. Sepakbola dominan Arsenal tak dapat dipertahankan tanpa empat pemain kunci tersebut. Dari 6 kekalahan di liga tersebut, 2 diderita dari Man City, rival langsung kita dengan skor 1-3 dan 1-4. Arsenal di-bully oleh City di kedua match tersebut dan terpaksa harus menerima finish di peringkat kedua.

Musim berikutnya 2023/2024, Arteta memutuskan untuk go physical dengan pembelian Timber, Rice dan Havertz. Di bulan September saat konferensi pers ia ditanya bagian mana dari timnya yang perlu peningkatan? Arteta menjawab:

“Suffocating the opponent more. Create more chances. Conceding zero chances and play further from our goal.”

Raya pun di-loan dengan opsi permanen di akhir musim. Arteta ingin double down dengan taktik suffocating tim lawan di paruh lapangan mereka sehingga ia membutuhkan kiper sweeper yang percaya diri bermain dengan posisi jauh dari gawang saat Arsenal mendominasi lawan. Ramsdale tidak nyaman dengan hal itu, seperti yang ia ungkap di interview ini. Dan kita tahu itu adalah awal dari akhir kariernya Ramsdale bersama Arsenal.

Revolusi taktik Arteta pun terjadi dari yang sebelumnya build-up from the back dan stretching lawan dengan memancing mereka untuk pressing tinggi, beralih menjadi suffocating lawan di paruh lapangan mereka sendiri. Hal ini dilakukan sejak man to man marking makin marak dilakukan tim-tim papan tengah PL seperti Brighton. Arteta mengatasi ini dengan bypass pressing lawan lewat long ball Raya ke Havertz yang akan menang duel udara. Kemudian dominasi dimulai di lapangan lawan. Lawan hampir tidak bisa keluar dari lapangan mereka sendiri karena counterpressing Arsenal setiap kehilangan bola akibat passing atau shooting. Struktur Arsenal memungkinkan compact-nya counter pressing berkat lini pertahanan paling tinggi di Premier League. Bisa dilihat di grafik di bawah ini transformasi Arsenal yang makin mengurangi waktu bermain di final third sendiri dan beralih ke bermain di final third lawan.

Sepakbola adalah soal aksi reaksi. Setiap taktik pasti akan melahirkan anti taktik yang baru. Taktik suffocating Arteta kemudian dilawan dengan super low block. Untuk mengatasinya, setelah trip ke Dubai Januari 2024, Arteta dan Jover membawa oleh-oleh set piece ampuh Declan Rice. Inilah cikal bakal chant set piece again ole ole yang membanggakan. Musim 2023/24 itu menjadi pertarungan title terketat Arsenal dalam 20 tahun terakhir, berakhir dengan kalah 2 poin dari Man City. Walau gagal juara, dominannya Arsenal dalam permainan di lapangan, ditambah untuk pertama kalinya Arsenal tidak kalah dari Man City home dan away di satu musim, meyakinkan Arteta bahwa pendekatan fisikal ini sudah tepat walau timnya finish di peringkat kedua.

Di musim 2024/25 pembelian pemain fisikal kembali dilakukan. Mikel Merino dan Calafiori didatangkan. Calafiori untuk menggantikan Zinchenko yang sudah terlihat kewalahan untuk bermain fisikal terutama saat tracking back lawan. Sayangnya Arsenal tidak berhasil mendapatkan pemain sayap dengan target utama Nico Williams. Tanpa back-up yang cukup, pemain-pemain utama Arsenal silih berganti cedera dari Jesus, Havertz, Saka, Odegaard, kemudian disusul dengan pemain baru Calafiori, Gabriel, Ben White dan Tomiyasu yang absen sepanjang musim. Walau finish di peringkat kedua, Arsenal tak mampu memberikan perlawanan berarti untuk Liverpool. Walau begitu, pendekatan fisikal dan sistem Arteta menghasilkan floor performance yang cukup tinggi untuk tetap bertahan di peringkat kedua. Penampilan cemerlang di Champions League juga membawa tim ini lolos ke semifinal dengan kemenangan quarterfinal yang luar biasa atas Real Madrid.

Pelajaran di musim sebelumnya membuat Berta yang masuk menggantikan Edu mengubah strategi transfer Arsenal. Alih-alih membeli pemain mahal, ia lebih mementingkan jumlah pemain baru. Delapan pemain diboyong dengan harga yang masuk akal (tidak lebih dari 70 juta pounds), tidak fantastis: Zubimendi, Norgaard, Mosquera, Kepa, Madueke, Gyokeres, Eze dan Hincapie (loan with obligation). Tujuannya adalah menghadirkan kedalaman skuad dengan kualitas pemain yang tidak berbeda jauh antara starter dan finisher. Strategi ini berbuah manis. Walaupun dihantam cedera silih berganti, kedalaman skuad ini berhasil menjaga posisi Arsenal untuk tetap ada di puncak klasemen hingga minggu terakhir, hanya disalip Man City di satu minggu – GW33, dan itupun karena perbedaan gol scored, jumlah poin dan selisih gol sama.

Bisa kita bayangkan bagaimana nasib Arsenal musim ini kalau tidak ada Eze misalnya ketika Odegaard cedera panjang. Terus Hincapie, ketika Calafiori cedera. Madueke sebagai pelapis mumpuni Saka, yang tidak ada di musim-musim sebelumnya. Mosquera juga sempat backup posisi RB dan RCB. Havertz yang cedera hampir sepanjang musim membuat Gyokeres bekerja keras di posisi striker. Dari 8 pemain baru tersebut hanya Norgaard yang jarang dipakai di PL musim ini, hanya start di FA Cup, Carabao dan Champions League.

Duitnya Dari Mana?

Revolusi mental dan revolusi taktik pasti perlu biaya. Arsenal adalah net spender terbanyak di bursa transfer musim ini dengan nilai belanja £282 juta net, di atas Liverpool net spend yang senilai £268 juta. Secara total spending, Liverpool lebih tinggi (>£400 juta), namun di-offset dengan penjualan mereka yang juga tinggi. Pertanyaannya duit transfernya datang dari mana?

Untuk mengetahui jawabannya silakan baca tulisan saya mengenai Rebuilding Arsenal, khususnya bagian ketiga yang berjudul Shrinking to Grow. Menariknya Josh Kroenke baru-baru ini menceritakan ke media mengenai proses bangun ulang Arsenal dengan tema yang sama. Setelah kekalahan di final Europa League di Baku, Josh merasa progress Arsenal saat itu tidak sesuai jalur dan banyak hal yang salah (kita ingat di match itu Ozil berdebat dengan Emery saat diganti). Ia mengusulkan kepada ayahnya, Stan Kroenke, bagaimana kalau kita melangkah mundur dahulu untuk kemudian maju ke depan. Melangkah mundur yang dimaksud adalah reset, membangun ulang tim dengan resiko progress mundur. Membenahi pondasinya dahulu. Bagian dari rekonstruksi klub tersebut adalah menunjuk Mikel Arteta sebagai head coach, untuk membangun ulang kultur klub.

Sometimes you have to shrink to grow. Just as losing fat while building muscle is the key to attaining peak physical fitness, companies need to shed underperforming brands while focusing on more promising ones.

– David Harding and Charles Tillen

Shrinking to Grow versi Arsenal adalah dengan membenahi budget pemain. Karena tidak bermain di Champions League, maka budget gaji pemain juga harus disesuaikan. Kroenke dulu pernah berkata kalau Arsenal bak tim yang budgetnya Champions League tapi bermain di Europa League. Antara pengeluaran dan prestasi tidak seimbang. Besar pasak daripada tiang.

Bersama dengan Edu, Arteta memulai rebuilding tim. Pemain-pemain tua bergaji mahal dibuang, diganti dengan pemain yang lebih muda dengan gaji yang lebih rendah dan pemain-pemain akademi. Hasilnya pengeluaran gaji pemain Arsenal menjadi yang paling sehat dan paling rendah dibanding klub-klub besar Premier League lainnya. Seperti yang kita ketahui bukan net transfer pemain yang menentukan keberhasilan sebuah tim. Sukses sebuah tim lebih banyak ditentukan oleh budget gaji pemain. Cek saja semua liga Eropa maka akan didapatkan kesimpulan juara liga selalu tim yang budget gaji pemainnya paling tinggi. Apabila bukan, berarti sedang terjadi anomali, ada tim yang punching above the weight (seperti Arsenal musim ini).

Penyehatan finansial ini berdampak positif. Hingga musim lalu sekalipun ketika Arsenal sudah memiliki budget Champions League, pengeluaran gaji Arsenal masih di peringkat keempat Premier League padahal finish di peringkat kedua. Tim ini overperformed secara budget.

Dampak lainnya dari pengeluaran gaji yang lebih kecil adalah ketersediaan dana transfer yang lebih besar. Rumus komponen biaya pengeluaran terbesar sebuah klub adalah gaji + amortisasi biaya transfer. Amortisasi adalah biaya transfer yang didistribusikan merata sesuai durasi kontrak pemain baru. Contoh bila pemain A dibeli seharga 100 juta kontrak 5 tahun, maka biaya amoritasasi per tahunnya adalah 20 juta. Inilah resep rahasia mengapa Arsenal bisa melakukan nett spending tertinggi di summer lalu.

Dari grafik pengeluaran gaji di atas, terlihat kalau pengeluaran gaji Arsenal lebih sedikit, 70-90 juta pounds di bawah Manchester City dan Liverpool, padahal pendapatannya hampir sama (grafik yang lain). Dengan konsep amortisasi, dan memperhitungkan faktor amortisasi di masa depan, maka Arsenal dengan mudahnya bisa melakukan transfer net spend sekitar 70 x 5 / 2 = 175 juta di atas kedua kompetitor tersebut, dalam satu musim.

Seperti yang kita bahas di atas, Arteta earned the right to spend. Prestasi tim yang finish di posisi 8-8-5-2-2-2, satu musim di Europa League dan 3 musim di Champions League dikombinasikan dengan pemangkasan budget gaji pemain menyebabkan Arteta mendapatkan alokasi budget transfer fee yang lumayan. Bermain di Europa League memberikan dana tambahan 20-30 juta dari broadcasting dan prize money. Di Champions League, bila lolos ke babak knock-out maka tambahan dana 80-120 juta akan didapatkan. Dan budget ini pun digunakan secara maksimal di setiap musimnya. Pembelian Declan Rice misalnya, yang memecahkan rekor transfer Arsenal disetujui Josh karena ia tahu ini akan bisa dibayarkan dengan dana Champions League. Kita tahu Arsenal menggunakan budget secara maksimal karena pembelian Raya dan Hincapie sampai harus diakali dengan loan with obligation to buy, kena batasan Financial Fair Play. Artinya pembelian kedua pemain tersebut dilakukan dengan “meminjam” budget musim berikutnya.

Strategi budgeting yang pintar dari musim sebelumnya dikombinasikan dengan pendapatan yang meningkat berkat prestasi di Champions League berhasil menyediakan dana untuk rekrutmen besar-besaran musim ini. Dengan eksekusi Berta yang cerdik maka Arsenal memiliki skuad terbaik dan terdalam di Premier League. Kita memiliki 2 pemain yang hampir sama bagusnya di setiap posisi, pertama kalinya terjadi di era Arteta. Sebuah kemewahan yang merupakan hasil kerja keras dan kerja pintar, bukan hasil pemberian sugar daddy.

Mental, taktik dan dana. Tiga faktor utama yang belum lengkap tanpa koneksi dengan fans untuk menghasilkan revolusi budaya klub bola. Arteta memimpin dalam hal ini. Ia mencari segala macam cara untuk menguatkan koneksi timnya dengan fans di lapangan. North London Forever menjadi anthem sepakbola modern yang sangat berpengaruh, ia yang mengenalkannya. Serial dokumenter All or Nothing di Amazon membantu fans memahami kerja di belakang layar yang dilakukan Arteta dan tim kepelatihannya. Ashburton Army diberikan tempat khusus untuk chant di stadion, tanpa henti dan kompak. Untuk pertama kalinya Arsenal seakan memiliki grup supporter ultras. Chant Mikel Arteta’s Army pun menjadi favorit supporter Arsenal, dipimpin Ashburton Army. Dan dalam 2 musim terakhir ini, dipasangnya Tifo yang melibatkan grup supporter dalam pembuatannya. Keharmonisan yang terjadi antara pihak eksekutif dan tim pelatih kemudian terjadi juga antara pemain dan supporter. VCC, Victoria Concordia Crescit, kemenangan tumbuh melalui keharmonisan, bukan lagi slogan klise.

Puncak dari revolusi budaya Arsenal yang dimulai Arteta sejak 6 tahun lalu adalah gelar Premier League 2026, yang didapatkan dengan mengalahkan mentornya sendiri, Pep Guardiola yang dianggap sebagai Manager terbaik dalam sejarah Premier League, dengan dukungan dana yang tak terbatas. Hal yang hampir mustahil rasanya. Sepuluh tahun lalu, ketika Pep Guardiola bergabung dengan Manchester City, tidak ada fans Arsenal yang berani membayangkan Arsenal dapat menjadi juara liga, dengan mengalahkan timnya Pep yang didukung finansial doping sebuah kerajaan (ehm, soal ini akan dibahas di lain kesempatan).

Trust the process, and I will deliver. Arteta akhirnya menghantarkan kita ke pantai seberang, walau perlu sedikit waktu karena tantangan yang luar biasa besarnya. Kesabaran dan keyakinan itu akhirnya terbayarkan. Keberhasilan ini adalah contoh sempurna bagaimana Leadership yang visioner, fokus dan persisten bisa mengubah nasib sebuah organisasi.

We’re the champions. With one more win, we could be Immortal. Samar-samar saya bisa mendengar seruan ini yang disampaikan oleh Arteta kepada timnya. Ajakan untuk melangkah lebih jauh lagi. Hanya dengan satu kemenangan, tim ini bisa mengukir prestasi terbaik dalam sejarah Arsenal, The Holy Double. Double Premier League dan Champions League, bukan Double Piala Ciki.

Come on You Gunners. Mari mengukir sejarah. Let’s be The Champions of Europe.

1 thought on “The Journey to Become Premier League Champions

Leave a comment