Evolusi Wengerball

Sebagian besar tulisan ini berasal dari blog saya sebelumnya di benhan8: “10 Sempurna dalam 11”. Saya sadur kembali di sini ditambahkan dengan pengetahuan setelah membaca biografi Dennis Bergkamp untuk menjelaskan lebih lengkap tentang evolusi Wengerball sejak era Bergkamp hingga sekarang.

Wengerball MK I: Era Invincible

Catatan: MK dibaca Mark sebagaimana dalam seri Iron Man yang artinya versi keberapa dari suatu model.

Di era Invincible, Henry, Pires, dan Ljungberg, merupakan senjata “Tuhan” untuk memporak-porandakan pertahanan lawan. Dennis Bergkamp, sang master ruang dan waktu, akan memanfaatkan kecepatan ketiga pemain yang juga memiliki teknik tinggi tersebut untuk menghantarkan pukulan mematikan.

Seringkali kita menyaksikan dalam hitungan detik saja Arsenal bisa mencetak gol dari posisi bertahan. Berawal dari tackle Vieira lalu bola diberikan ke Bergkamp, Henry berlari cepat diikuti Pires dan Ljungberg. Dalam sekejap ada tiga pemain Arsenal di kotak penalti lawan. Bergkamp tinggal memilih kepada siapa bola akan diantarkan, dan gol pun tercipta. Semua terjadi dalam hitungan detik dan tidak lebih dari 10 sentuhan. Lawan pun ketakutan, pontang panting dalam mengikuti gerakan pemain Arsenal.

Transisi adalah kuncinya. Counter attack adalah nama populernya. Perubahan dari pertahanan ke penyerangan yang terjadi dengan cepat akan membuat lawan panik karena tidak cukup waktu untuk adaptasi formasi. Ditambah dengan pergerakan pemain yang tidak lazim dengan formasinya (Pires dan Ljungberg akan menusuk ke dalam dari sayap sementara Henry bergerak melebar keluar sementara dua fullback akan menyerang bak winger tradisional) membuat lawan kalang kabut.

Adalah prinsip umum bahwa pemain bola akan lebih kesulitan bergerak cepat sambil membelakangi gawang daripada menghadap ke gawang. Oleh karena itu peluang yang dihasilkan dalam posisi counter attack adalah peluang dengan probabilitas keberhasilan tertinggi. Ruang yang lebih banyak, musuh yang masih harus menyesuaikan posisi kembali, dan waktu yang berpihak kepada penyerang, menciptakan peluang mencetak gol tertinggi.

Wengerball MK I adalah soal counter attack yang secepat kilat.

Counter attack ditakuti semua tim bola. Sebaik apapun sebuah tim dalam penguasaan bola, satu counter attack cukup untuk membunuhnya. Sucker punch. Dan setelah gol terjadi, tim yang ingin mengejar ketertinggalan akan semakin menyerang. Hal ini malah akan semakin membuka ruang untuk counter attack berikutnya. Dengan cara inilah The Invincible mencetak 3-4 gol dalam satu pertandingan dengan mudahnya. Wengerball MK I adalah soal counter attack yang secepat kilat.

Wengerball MK II: Arsenal Post Invincible

Setelah era Invincible, Arsenal tidak lagi bermain dengan mengandalkan transisi yang cepat. Dengan Fabregas sebagai poros permainan, Arsenal bermain ala tiki taka, ball possession style dengan tingkat kesuksesan di bawah Barcelona. Wenger melakukan perubahan ini dengan sadar. Mengapa?

Ada dua alasan. Yang pertama: Henry dan Bergkamp tidak lagi muda. Arsenal tidak memiliki striker yang secepat Henry setelah itu. Penggantinya adalah Adebayor yang lebih lamban namun unggul dalam fisik dan Van Persie yang lebih teknikal. Alasan kedua: sehebat apapun The Invincible pada saat itu, perjalanannya di Eropa tidak jauh. Tim kontinental bermain tidak secepat tim Inggris, lebih taktis dan lebih sedikit menyisakan ruang untuk counter attack. Walaupun Arsenal sempat menang dari tim seperti Real Madrid, Juventus dan Inter Milan, Arsenal sering kali didominasi dalam permainan melawan tim-tim Eropa. Arsenal kerepotan dan disisihkan dari Knock Out Grup saat melawan tim seperti Bayern Muenchen (yang tidak sehebat sekarang) dan Valencia misalnya.

Wenger juga adalah pelatih cerdas yang selalu membaca arah angin perubahan. Setelah memanen talenta-talenta Perancis di era keemasan Perancis (1998-2000), ia melihat masa depan sepakbola Spanyol lewat dominasi mereka di kejuaraan dunia FIFA U-17 di tahun 2003. Cesc Fabregas menjadi top scorer di turnamen itu dan Spanyol menjadi juara. Bertepatan dengan dibongkarnya Tim Invincible karena faktor usia, Wenger juga mengganti style sepakbola timnya. Demi pursuit Holy Grail, trofi Liga Champions yang menjadi satu-satunya kekurangan di CV-nya.

Kiblat diubah ke Spanyol. Fabregas direkrut di tahun 2003 pada usia 16 tahun dan Jose Antonio Reyes di awal tahun 2004. Tahun 2005 dan 2006 secara berturut-turut Arsenal membeli pemain tipe ball player sebagaimana pemain Spanyol umumnya yaitu Hleb dan Rosicky. Sayang sekali Reyes gagal di Arsenal karena homesick dan korban dari “tatapan mata” Henry. Namun di musim 2007/2008 sepeninggal Thierry Henry, Arsenal dengan Kuartet midfield andalannya (Fabregas, Hleb, Rosicky, Flamini) berhasil menduduki puncak klasemen dan mendominasi liga Inggris sampai Februari 2008, saat pematahan kaki Eduardo mengguncang seluruh tim.

Wengerball baru, possession ball dengan pertukaran posisi pemain dan pergerakan bola satu sentuhan

Arsenal mengakhiri musim itu tanpa gelar dan tim yang tercerai berai. Hleb pindah ke Barcelona dan Flamini ke AC Milan. Namun musim itu adalah musim di mana Arsenal bermain Wengerball baru, possession ball dengan pertukaran posisi pemain dan pergerakan bola satu sentuhan. Kuartet Arsenal mendominasi lini tengah, bertukar posisi dengan cepat dan membentuk triangle operan satu sentuhan yang mematikan. Hubungan yang akrab antara keempat pemain ini di luar lapangan sangat membantu dalam kerjasama mereka di lapangan. Telepati seakan terjalin antara keempatnya. Rosicky dan Hleb yang pada dasarnya adalah pemain tengah bermain sebagai inverted winger sedangkan Fabregas dan Flamini sebagai double pivot. Namun saat pertandingan berjalan, posisi mereka sangat fleksibel. Berganti-ganti posisi dalam “box” dengan empat sudut, Arsenal bermain sempit, namun perpindahan posisi keempat pemain ini akan menciptakan “ruang” yang lebih besar daripada sekedar permainan melebar ke sayap. Menurut saya pribadi, sepakbola Arsenal di musim tersebut lebih indah daripada era Invincible sekalipun. Sayangnya cedera patah kakinya Eduardo di Februari 2008 memberikan tekanan mental yang luar biasa pada tim dan mengakhiri dini Wengerball MK II dan perburuan gelar juara Arsenal di musim itu.

Kuartet Midfield Arsenal 2007/2008

Hleb pindah ke Barcelona namun tidak berhasil berperan besar di sana walaupun memenangkan trofi Champions League dan ia menyesali kepindahan tersebut. Flamini pindah ke Milan setelah menolak perpanjangan kontrak. Kepindahan kedua pemain tersebut sedikit banyak terpengaruh oleh horror cedera Eduardo. Dalam sekejap, Fabregas ditinggal 2 sahabat terbaiknya.

Setelah kepindahan Hleb dan Flamini, Wenger berusaha merekonstruksi ulang sepakbola Arsenal musim 2007/2008 di tahun-tahun berikutnya, namun gagal. Salah satu sebabnya adalah Rosicky yang cedera parah sejak awal musim 2008, sehingga praktis hanya Fabregas sendiri yang tersisa dari kuartet fenomenal tersebut. Hal lain adalah tiadanya pendamping Fabregas yang sebaik Flamini. Denilson dan Diaby tidak mampu mengemban tugas destroyer sebaik Flamini dan memberikan Fabregas kebebasan berkreasi di lapangan tengah. Arsenal membeli Samir Nasri dan Aaron Ramsey (umur 17 tahun saat itu), namun tetap saja Wenger gagal merekonstruksi kembali kuartet midfield yang mampu memainkan Wengerball MK II. Ball possession Arsenal tetap dipertahankan dominan dalam setiap pertandingan tapi mereka kekurangan greget dalam serangan. Perubahan posisi setiap pemain terlihat stagnan, dan Arsenal bergantung total pada passing ala quarterback Fabregas dan kecepatan Walcott untuk menciptakan peluang. Lawan dengan mudah menangkalnya dengan double atau triple up Fabregas setiap kali ia menerima bola. Dan kita semua tahu apa akhir ceritanya. Fabregas pun pergi meninggalkan Arsenal di awal musim 2011/2012 bersama Samir Nasri. Wenger kehilangan dua pemain tengah terbaiknya, sebuah syarat mutlak untuk memainkan Wenger Ball.

Kelahiran Kembali Wengerball (MK III)

Musim ini kita kembali menyaksikan sepakbola indah Arsenal, namun dalam versi yang sedikit berbeda. Wengerball yang baru ini memiliki kecepatan transisi era Invincible Bergkamp namun juga tiki-taka ball possession era kuartet Fabregas. Tim Arsenal yang baru ini tahu kapan harus bermain santai di gigi satu-dua dan kapan harus pindah ke gigi empat untuk meluncurkan serangan balik kilat. Beberapa pertandingan di bawah ini bisa menjadi ilustrasi Wengerball yang baru, MK III.

Dua gol Arsenal di Swansea (Gnabry, Ramsey) adalah contoh sempurna Wengerball dari dua jaman, era Invincible dan era Kuartet Midfield 2007/2008. Gol pertama berasal dari 20 operan cepat dari belakang ke depan, membentuk triangle yang indah dan perubahan posisi yang membingungkan lawan, ciri khas Wengerball MK II. Gol kedua berupa transisi yang cepat 4-5 sentuhan dari kiper ke striker dan diselesaikan dengan indah oleh Aaron Ramsey, ciri khas Wengerball era Invincible.

Melawan Norwich City, gol pertama Wilshere dalam waktu 20 detik sejak perpindahan bola dari Norwich ke Arsenal di depan kotak penalti Arsenal hingga bersarang di gawang Norwich. Gol tersebut melibatkan 2 backheels, 3 one-two dan 4 operan satu sentuhan dan 5 pemain Arsenal. Ini yang disebut Wenger sebagai Progression, bukan Possession. Jadi bola dioper dengan satu sentuhan dan maju ke depan, bukan ala tiki-taka yang sabar mengoper bola ke samping dan bila perlu ke belakang sambil menunggu kesempatan. Ini adalah operan satu sentuhan yang memanfaatkan momentum transisi. Sejak Flamini merebut bola, seluruh pemain Arsenal berpikir bagaimana dengan cepat menempatkan bola tersebut ke gawang lawan.

Jack Wilshere Norwich City goal

Rangkaian operan yang menuju pada gol Wilshere

Melawan Dortmund di kandang mereka, gol serupa tercipta. Juga dalam 20 detik, gol Ramsey ini melibatkan 3 one-two (2 antara Rosicky-Ramsey dan 1 antara Rosicky-Sokratis), 2 umpan lambung (Szczesny dan Ozil) dan 5 sundulan (2x Bender, Subotic dan 3x oleh Arteta, Giroud, Ramsey). Total terjadi 16 sentuhan (dengan urutan Szczesny-Bender-Subotic-Arteta-Rosicky-Ramsey-Rosicky-Ramsey-Rosicky-Sokratis-Rosicky 2x-Ozil 2x-Giroud-Ramsey) dalam waktu 20 detik sejak bola ditendang Szczesny sampai masuk ke gawang Dortmund. Sebuah varian kompleks dari Route One Football.

Saat melawan Marseille, durasi waktu yang diperlukan untuk terjadinya sebuah gol dari transisi lebih pendek, 8 detik. Dari Mertesacker ke Sagna dan langsung ke Wilshere. Gol ini lebih mirip dengan era Invincible daripada gol-gol di atas. Bergkamp mengatakan bahwa di jamannya mereka melatih khusus counter attack cepat untuk mencetak gol dalam 8 detik sejak terjadinya perpindahan penguasaan bola. Kecepatan Henry dieksploitasi habis oleh pemain-pemain Arsenal waktu itu. Hebatnya gol 8 detik Wilshere kemarin terjadi tanpa melibatkan pemain tercepat Arsenal saat ini, Theo Walcott.

Walcott bisa menjadi Henry era kini dengan kecepatan dan finishingnya yang makin akurat dan Özil bisa menjadi kunci Wengerball baru ini (saya menulis tentang Ozil sebagai pewaris tahta Bergkamp di sini). Keakuratan operannya dan pergerakan off the ball-nya yang cerdas menjadi kunci memulai Wengerball. Dalam dua gol di Swansea, rangkaian operan kilat satu sentuhan Arsenal dimulai dari Özil. Demikian juga satu kesempatan 8 detik lainnya saat melawan Marseille di mana Ramsey gagal menyelesaikan rangkaian operan yang dimulai setelah Özil menerima bola satu sentuhan dari Sagna.

Total ada 11 pemain tengah/depan yang bisa dipermutasikan untuk mengisi 5 posisi lini tengah/depan selain Giroud, yang saat ini tidak tergantikan

Pilihan pemain tengah Arsenal musim ini demikian banyak dan berkualitas sehingga Wenger bisa memainkan berbagai formasi tergantung karakter permainan lawannya. Ia bisa memainkan tiga CM di belakang Giroud dengan double pivot seperti saat melawan Napoli atau 3 CM dan 1 Winger seperti Arsenal musim lalu. Ia bisa memakai formasi 4-2-3-1, 4-1-3-2, 4-2-1-3 atau bahkan 4-4-1-1 sebagai varian 4-3-3. Tujuh pemain tengah yang dimilikinya sangat flexible. Belum lagi ditambah 2 pemain depan yang bisa menjadi winger dalam Walcott dan Podolski. Chamberlain dan Gnabry pun siap menjadi pilihan. Total ada 11 pemain tengah/depan yang bisa dipermutasikan untuk mengisi 5 posisi lini tengah/depan selain Giroud, yang saat ini tidak tergantikan. Kesebelas pemain tersebut adalah:

  1. Özil
  2. Cazorla
  3. Rosicky
  4. Ramsey
  5. Wilshere
  6. Chamberlain
  7. Walcott
  8. Podolski
  9. Gnabry
  10. Arteta
  11. Flamini

Kekayaan lini tengah Arsenal musim ini begitu memanjakan jika kita bandingkan dengan dua era sebelumnya. Era Invincible kita hanya punya: Vieira, Gilberto, Parlour, Pires, Ljungberg, Edu, Wiltord dan Bergkamp sebagai AM/SS. Era berikutnya: Fabregas, Hleb, Rosicky, Flamini, Diaby, Denilson, lalu ditambah Arshavin, Nasri yang keduanya tidak pernah mencapai permainan puncaknya di Arsenal. Sementara kesebelas pemain Arsenal era kini tersebut sedang menuju atau sedang berada pada permainan terbaik mereka.

Wengerball Arsenal musim ini sangat berpotensi untuk melampaui level Wengerball di era Invincible dan 2007/2008. Arsenal bisa memainkan counter attack kilat namun juga bisa berbahaya lewat operan-operan cepat dari midfield ke depan saat menguasai bola. Arsenal bisa nyaman menyerahkan ball possession kepada lawan dan mengandalkan serangan balik (karena lini pertahanan yang solid, contoh: vs Dortmund, Southampton) namun juga sama nyamannya saat menguasai bola (800 operan vs Marseille). Pendek kata, baik saat memiliki bola maupun tidak, Arsenal bisa sama berbahayanya.

Wengerball adalah sepakbola menyerang dengan operan cepat satu sentuhan yang sangat membutuhkan rasa kepercayaan diri yang tinggi. Saat ini form Arsenal yang sedang bagus-bagusnya menciptakan kepercayaan diri yang tinggi. Posisi puncak di klasemen liga Inggris dan grup Champions League menambah kepercayaan diri ini. Jika hasil positif bisa dicapai dalam 7 pertandingan terakhir liga tahun ini, maka Arsenal akan mengakhiri tahun 2013 sebagai “juara” paruh musim. Sesuatu yang sudah lama sekali tidak kita lakukan.

Wengerball sedang mengalami evolusi, dan kita sebagai pengikut, pendukung, pencinta Arsenal diberikan kemewahan untuk menikmatinya saat ini. Sebuah hak yang layak didapatkan setelah penantian bertahun-tahun.

Victoria Concordia Crescit

Advertisements

8 Detik

Dalam biografi Bergkamp Stillness and Speed, salah satu ceritanya saat sesi latihan adalah counter attack 8 detik. Wenger akan menaruh manusia-manusia kayu sebagai patokan posisi pemain-pemain lawan dan para pemain Arsenal akan berusaha melakukan counter attack dari belakang ke depan dalam waktu 8 detik. Dari latihan, pola ini kemudian diterapkan di pertandingan. Dari Vieira yang merebut bola, lalu bola dioper ke Bergkamp, dari Bergkamp ke Henry, dan gol! Serangan balik kilat dengan hanya sedikit operan menjadi pemandangan biasa bagi fans Arsenal di era Invincibles.

Saat melawan Marseille, gol Jack Wilshere terjadi dalam 8 detik sejak operan Mertesacker ke Giroud. Giroud lalu mengoper ke Sagna sebelum garis tengah lapangan. Sagna memberikan through ball panjang ke Wilshere yang berlari ke kotak penalti lawan, melakukan cut in, dan me-lob bola ke sudut jauh gawang dengan kaki kirinya. Gol yang mirip dengan golnya saat tampil membela tim muda Arsenal di usia 15 tahun, yang membuatnya dikenal di antara fans Arsenal. Tiga operan, delapan detik, satu gol.

Enam menit kemudian, Sagna mengoper ke Ozil, lalu dioper lagi ke Wilshere yang masuk kotak penalti yang lalu melakukan reverse pass ke Ramsey. Sayangnya tembakan Ramsey masih dapat ditangkis kiper lawan. Berapa waktu yang tercatat sejak Sagna menyentuh bola hingga tembakan Ramsey? 8 detik. Berapa operan yang dibutuhkan? Tiga. Tiga operan, delapan detik, nyaris gol.

Habis Giroud Terbitlah Wilshere

Arsenal mendominasi penuh pertandingan melawan Marseille yang tidak tampil dengan kekuatan penuh. 800 lebih operan (terbanyak di matchday Liga Champions pekan itu) dilakukan Arsenal sepanjang pertandingan. Skor 2-0 tidak menggambarkan dominasi Arsenal pada pertandingan tersebut. Ozil gagal mencetak penalti namun tetap memberikan assist kepada Wilshere di babak kedua. Dua gol Wilshere cukup untuk memastikan Arsenal tetap di puncak klasemen grup walaupun belum lolos ke babak berikutnya. Inilah Grup Neraka Liga Champions musim ini. Tiga klub bisa meraih poin yang sama (12) di pertandingan terakhir dan salah satunya mesti gugur. Arsenal tidak boleh kalah dengan selisih tiga gol dari Napoli di matchday grup terakhir bila ingin tetap lolos ke babak berikutnya.

Jack Wilshere menjadi bintang malam itu, setelah Giroud menjadi bintang pertandingan sebelumnya. Di luar dugaan saya, Wenger memilih membangku-cadangkan Cazorla daripada Wilshere. Mungkin itulah sebabnya beredar pepatah “Wenger Knows”. Ia tahu persis kondisi pemainnya sendiri dan siapa yang mesti dimainkan. Dengan kembalinya pemain-pemain Arsenal dari cedera, Wenger sekarang akan dipusingkan untuk memilih komposisi lini tengah. Total ada 11 pemain tengah/depan yang bisa dipermutasikan untuk mengisi 5 posisi selain Giroud, yang saat ini tidak tergantikan. Saat ini Podolski dan Chamberlain belum bisa bergabung, tetapi Wenger tetap harus memilih 5 di antara 9 pemain utamanya antara lain: Arteta, Flamini, Ramsey, Wilshere, Cazorla, Rosicky, Ozil, Gnabry, Walcott untuk starting line up. Empat sisanya mesti puas start di bangku cadangan. Bila kita menghitung jatah 7 pemain di bangku cadangan yang membutuhkan paling tidak 1 GK, 2 defender, dan 1 Bendtner maka salah satu dari empat pemain tengah tersebut kemungkinan bahkan tidak dapat duduk di bangku cadangan. Saat Podolski dan Chamberlain kembali dari cedera, posisi bangku cadangan Arsenal akan diperebutkan bak gamers yang berebut PS4 di Black Friday.

Adanya pilihan yang kaya lebih baik daripada tanpa pilihan, atau pilihan yang buruk. Kekayaan lini tengah Arsenal musim ini menjadi solusi atas tipisnya skuad Arsenal di beberapa musim terakhir ini. Cedera yang pasti terjadi sepanjang musim membuat Arsenal kesulitan di beberapa periode karena pemain pelapis yang ada kualitasnya tidak sebaik pemain utama. Musim ini hal itu tak akan terjadi lagi. Wenger bisa menukar Cazorla dengan Wilshere, Ramsey dengan Rosicky, Arteta dengan Flamini, dan permainan Arsenal tidak terpengaruh banyak. Bahkan ia bisa memasukkan Gnabry dan Walcott untuk menambah daya serang. Ozil pun bisa digantikan bila perlu. Hanya Giroud yang tidak tergantikan saat ini. Ini masih menjadi PR Wenger untuk transfer window Januari nanti, kecuali bila Podolski mampu bermain sebagai CF dengan baik.

Pelangi setelah November Rain

Di awal bulan ini, saya menulis prediksi hasil Arsenal di bulan yang biasanya menjadi momok klub ini. Dari 6 pertandingan di bulan November, prediksi saya adalah 4 menang dan 2 seri. Untuk sementara ini Arsenal sudah meraih 4 kemenangan dan 1 kekalahan. Bila Arsenal menang dari Cardiff City akhir pekan ini, Arsenal akan ukir 5 kemenangan dan 1 kekalahan, 1 poin lebih baik daripada prediksi saya. Dengan rata-rata perolehan 2.5 poin/game, Arsenal akan mengukir rekor terbaik di bulan November selama era tanpa trofi, di mana rata-rata perolehan nilainya di 5 musim terakhir ini hanya 1.56 poin/game. Hasil ini juga akan di atas perolehan rata-rata Arsenal sebelum November (2.44 poin/game) dan di atas form juara musim lalu (2.34 poin/game). Yang lebih menakjubkan lagi, hasil tersebut bisa diraih tanpa Walcott dan Podolski di tim utama, 2 pemain pencetak gol terbanyak Arsenal musim lalu. Mimpi Arsenal akan gelar juara liga menjadi semakin dekat bila konsistensi ini bisa dipertahankan.

Rotasi yang Tak Terelakkan

Agar prediksi di atas menjadi kenyataan, maka hasil 3 poin mesti diraih melawan Cardiff City akhir pekan ini. Tim yang berhasil menahan imbang MU pekan lalu ini bukan tim kuat seperti Southampton namun tetap mesti diwaspadai. Saat ini tidak ada pertandingan mudah di liga Inggris. Turun konsentrasi sedikit saja, akan kehilangan poin, bahkan dari tim papan bawah sekalipun. Namun kita bisa sedikit lega karena selain penuh percaya diri, skuad Arsenal musim ini hampir tidak pernah kehilangan konsentrasi semenjak kekalahan dari Aston Villa. Hal ini tercermin dari penampilan professional Szczesny dan lini pertahanan Arsenal. Tidak ada lagi kesalahan-kesalahan konyol yang dilakukan di tengah pertandingan. Perlu upaya luar biasa dari lawan untuk mencetak gol ke gawang Arsenal musim ini. Duet Mertesacker dan Koscielny telah meraih 5 clean sheet berturut-turut ketika mereka bermain bersama (Per tidak main di Old Trafford).

skuad Arsenal musim ini hampir tidak pernah kehilangan konsentrasi semenjak kekalahan dari Aston Villa

Bulan depan, skedul Arsenal akan lebih ketat daripada bulan ini. Enam pertandingan liga dan satu pertandingan UCL harus dimainkan dalam waktu 4 pekan. Rotasi pemain menjadi kunci untuk selalu meraih hasil optimal. Tidak mungkin setiap pemain diturunkan di tujuh pertandingan di bulan Desember berturut-turut. Kabar baik untuk pemain yang sering duduk di bangku cadangan. Setelah Cardiff City, Arsenal akan menjamu Hull City, lalu Everton 3 hari kemudian. Selang 3 hari kemudian bertandang ke Napoli dan 3 hari berikutnya ke Manchester City. Lima pertandingan dalam 2 minggu. Jadwal padat dan rangkaian pertandingan yang tak kalah sulit dari bulan November.

Menjadi menarik prediksi starting line up yang akan diturunkan Wenger besok. Apakah Walcott akan mendapatkan kesempatan atau Wenger kembali pada formasi pemenang? Apakah Cazorla akan diturunkan ataukah Wilshere akan dipertahankan? Flamini atau Arteta? Gibbs atau Monreal yang tampil bagus di pertengahan pekan? Begitu banyak permutasi yang mungkin. Silakan tuliskan prediksi Anda. Saya sendiri akan memilih formasi ini:

Szcezsny – Sagna, Mertesacker, Koscielny, Gibbs – Arteta, Ramsey, Ozil – Walcott, Giroud, Cazorla

Subs: Fabianski, Vermaelen, Monreal, Flamini, Wilshere, Rosicky, Bendtner

Ramsey akan tetap dimainkan karena staminanya yang fantastis, dan Ozil akan dicoba untuk melancarkan combo maut dengan Walcott. Bagaimana prediksi fellow Gooners?

Terakhir, mari berdoa untuk Pat Rice, legenda Arsenal yang juga menjadi asisten manager Wenger semenjak tahun pertamanya hingga dua musim lalu. Pat Rice saat ini sedang berjuang melawan penyakit kanker yang dideritanya. Sebagai bagian dari manajemen, ia adalah figur yang sangat berpengaruh bagi Arsenal di era Wenger. Loyalitas, Kesabaran, Konsistensi, adalah kualitas yang dimiliki Pat Rice. Ia sadar ia tidak dapat menjadi manager yang baik, namun ia telah terbukti sebagai asisten manager terbaik yang pernah dimiliki Wenger. Bersama Pat Rice, Wenger meraih tiga gelar juara liga, lebih baik daripada pencapaian Wenger di klub manapun.

Get Well Soon, Mr. Pat Rice!

Pat Rice, The Legend

Southampton, Giroud dan Resep Rahasia Henry

Rekor tim dengan pertahanan terbaik di Premier League itu akhirnya terpecahkan. Hanya kebobolan 5 gol dalam 11 pertandingan dan belum pernah kebobolan lebih dari 1 gol per pertandingan. Tantangan untuk mencetak lebih dari satu gol sebagaimana yang ditulis di artikel preview sebelum pertandingan dijawab dengan sempurna oleh Arsenal dan khususnya oleh Giroud. Mungkin Giroud sedikit kesal karena diragukan kapasitasnya (oleh penulis hehe) sebagai Mesin Gol Arsenal sehingga ia mencoba membuktikan kapasitasnya sebagai striker utama Arsenal. Bila dilihat dari koleksi 7 gol dari 12 pertandingan, maka ia on the track untuk mencetak lebih dari 20 gol liga musim ini, sebuah ukuran untuk striker top di Premier League.

Ilusi Statistik

Southampton sesuai prediksi bermain sangat baik dalam bertahan khususnya dalam melakukan pressing. Arsenal meresponnya dengan menyerahkan ball possession sambil tetap menjaga defensive shape, hal yang tidak berbeda jauh dengan yang dilakukan saat berhadapan dengan Dortmund. Hasilnya ball possesion Southampton lebih tinggi sedikit daripada Arsenal (51-49) namun hanya sedikit menghasilkan peluang bersih. Sebagaimana kata Wenger:

Against Southampton they had a lot of ball possession but in their own half of the field and very little in our final third, so it’s an illusion, these possession statistics.

The right balance in ball possession is progression and you can see it in Tottenham and Manchester City, where Tottenham actually had more ball possession.

Southampton memiliki penguasaan bola yang lebih tinggi namun di paruh lapangan mereka sendiri dan sangat sedikit di sepertiga lapangan lawan sehingga statistik penguasaan bola ini adalah ilusi. Menurut Wenger keseimbangan yang benar dalam penguasaan bola adalah “progression”. Contohnya walaupun Tottenham memiliki lebih banyak penguasaan bola, mereka kebobolan 6 gol dari City karena penguasaan bolanya tidak menghasilkan peluang di area lawan. Possession-nya bukan Progression.

Di saat pertandingan selesai, ada juga seseorang yang twit ke saya kalau Arsenal tidaklah bermain baik karena kalah statistik tembakan di mana Southampton lebih banyak melakukan tembakan ke gawang daripada Arsenal (10 berbanding 9 dengan sama-sama 4 on target). Lagi-lagi ini adalah contoh ilusi statistik jika tidak menonton pertandingan itu sendiri. Grafik di bawah ini menunjukkan betapa statistik hanyalah penyederhanaan peristiwa dan tidak dapat memberikan gambaran utuh pertandingan.

Southampton Shots

Southampton Shots

Arsenal Shots

Arsenal Shots

Dari dua grafik teratas terlihat kalau Southampton lebih banyak melakukan tembakan dari luar kotak penalti (8 dari 10) sehingga tembakannya lebih mudah diselamatkan oleh Szczesny ataupun diblok oleh pemain bertahan Arsenal. Sedangkan Arsenal melakukan mayoritas tembakannya dari dalam kotak penalti (6 dari 9). Dengan demikian kualitas peluang yang dihasilkan Arsenal lebih tinggi daripada Southampton. Dua peluang (dari tembakan Wilshere dan Ramsey) yang “diselamatkan” tiang gawang Southampton di lain hari mungkin saja menjadi gol. Walaupun sudah melihat grafik di atas, tetap saja kita tidak bisa mendapatkan gambaran utuh kualitas tembakan kedua tim tanpa menonton pertandingan. Kecepatan bola, kekerasan tendangan, kurva lintasan bola misalnya tidak dapat digambarkan oleh statistik angka maupun grafik di atas. Statistik dapat membantu kita memahami alur pertandingan, namun jangan mengandalkan penuh pada statistik untuk menilai performa sebuah tim dalam pertandingan.

Southampton tanpa ragu lagi adalah tim terbaik di liga yang dihadapi Arsenal sejauh ini. Walaupun kalah dari United 2 pekan lalu, permainan MU saat itu tidaklah sebaik Southampton. Southampton melakukan pressing dengan penuh percaya diri, memainkan high defensive line, dan juga menciptakan peluang dari open play. Namun sayangnya Arsenal bermain lebih baik daripada saat di Old Trafford terutama barisan pertahanannya. Frustrasi, Southampton terpaksa menembak dari luar kotak penalti karena gagal masuk ke dalam kotak penalti Arsenal. Arsenal membalas dengan beberapa kali serangan cepat dan kemudian kembali bertahan tanpa tergoda untuk melakukan pressing tinggi. Mereka merasa nyaman dengan mempertahankan defensive shape tanpa harus melakukan pressing.

Serangan Arsenal memang belum terlalu “click” di pertandingan kali ini. Beberapa kali operan-operan di area Southampton tidak menemukan penyelesaian akhir. Wanyama dan Schneiderlin tampil baik dalam mematahkan serangan Arsenal, termasuk jika perlu melakukan professional foul. Wanyama terutama beberapa kali membenturkan dirinya ke Wilshere untuk menghentikan serangan Arsenal dan Clattenburg tidak memberikan foul. Namun, “karma buruk” tersebut akhirnya berbuah dan Giroud yang akhirnya mengambil alih peran utama kali ini.

Gol pertama berasal dari kesalahan Boruc saat menguasai bola. Tetapi hal itu tak lepas dari peran Giroud dalam pressing saat ia menerima back pass dari Shaw. Giroud tampaknya belajar satu dua hal dari Thierry Henry, yang bergabung dengan latihan tim Arsenal minggu ini. Sangat mungkin ia juga mendapatkan “resep rahasia” Henry dalam mencetak gol.

Giroud dan Henry

Resep Rahasia Henry

Dalam salah satu bagian dari biografi Bergkamp, Henry diwawancara oleh David Winner. Ia menjelaskan resep rahasia striker top dalam mencetak gol, yang ia sebut freezing technique. Apa itu? Henry menjelaskan kalau kebanyakan striker mengontrol bola lalu menembak namun striker top tahu bagaimana caranya untuk pause, untuk berhenti. Control, pause, finish. Ketika ia mengendalikan bola, ia berhenti, melihat kiper lawan dan kemudian menembak, tanpa melihat bola. Ketika ia mengendalikan bola, kiper lawan akan datang padanya, itu saatnya untuk berhenti. Dan ketika berhenti, lihat ke kiper, saat itu ia akan freeze (membeku). Tidak perlu lama, namun kiper itu harus dibekukan. Jangan melihat ke bola karena saat kiper itu datang, ia tak akan terlihat bila mata striker sedang menatap bola. Karena itu striker top harus melihat ke arah kiper. Kontrol bola, berhenti, kepala ke depan, dan bekukan kiper dengan menatapnya. Inilah freezing technique, resep rahasia the great striker King Henry yang mencetak rekor gol terbanyak dalam sejarah Arsenal. Bila Giroud pintar, tentunya ia telah mengetahui dan mempelajari rahasia ini.

Yang dilakukan Giroud terhadap Boruc adalah varian lain dari freezing technique ini. Giroud membuat Boruc grogi sehingga upayanya dalam men-dribble bola dan melakukan trik harus dibayar mahal. Giroud bahkan melakukan hal yang satu level di atas freezing technique Henry. Ia tidak membuat kiper lawan membeku, tapi berdansa! Mungkin tatapan mata sexy-nya memiliki sesuatu yang spesial sehingga pria lain pun tak tahan untuk tidak bergoyang di hadapannya. Apapun rahasia di balik tatapan Giroud ini, rasanya kita tidak akan mengetahuinya sampai saat ia menulis biografinya sendiri.

Mungkin tatapan mata sexy-nya memiliki sesuatu yang spesial sehingga pria lain pun tak tahan untuk tidak bergoyang di hadapannya.

Gol kedua Giroud dari kotak penalti termasuk langka karena saat itu Arteta dan Ozil tidak berada di lapangan. Sebagai penembak penalti ketiga, ia melakukannya dengan cukup baik. Mengecoh Boruc (lagi-lagi dengan tatapan mata!) ke kiri, ia menembak ke kanan. Tidak ke sudut jauh gawang namun cukup untuk mencetak gol. Mungkin perlahan-lahan dia bisa meyakinkan boss Wenger untuk memberikan prioritas pertama padanya untuk tendangan penalti, hal yang sangat dapat membantu dalam usahanya menjadi top scorer liga musim ini.

Sedikit tentang Tottenham

Kemenangan fantastis Arsenal atas Southampton semakin terasa manis setelah Tottenham kalah 6-0 dari Manchester City dan MU ditahan imbang Cardiff City. Bila Southampton adalah tim dengan pertahanan terbaik maka tanpa ragu lagi Manchester City adalah tim dengan penyerangan terbaik. Kemenangan meyakinkan kemarin menjadikan mereka salah satu penantang kuat gelar Premier League walaupun masih terpaut 6 poin dari Arsenal. Duet Negredo dan Aguero ditopang Nasri dan Navas semakin baik minggu ke minggu. Berbeda dengan AVB, Pellegrini tampaknya telah menemukan formasi terbaiknya.

Tottenham yang telah membelanjakan lebih dari 100 juta pounds tampak seperti tim kecil ketika “dipermainkan” oleh Manchester City. Bila AVB masih menyimpan lembar garansi belanjanya, mungkin ia akan minta uang kembali. Kenaifan Levy dan AVB yang merasa pembelanjaan besar dan jumlah yang banyak bisa menggantikan peran seorang Gareth Bale terekspos di pertandingan ini.

Bila AVB masih menyimpan lembar garansi belanjanya, mungkin ia akan minta uang kembali.

Di biografi Bergkamp, Wenger pernah mengatakan padanya bahwa sebuah tim selalu tentang lima atau enam pemain utamanya. Lalu tergantung pada pemain terlemahnya. Bila ia cukup baik untuk dapat mengikuti level lima atau enam pemain utama tersebut, maka tak akan ada masalah. Namun jika seorang pelatih takut satu pemain terlemahnya dapat membuat level permainan turun, maka ada masalah besar. Semakin banyak pemain yang dapat membuat perbedaan, semakin besar peluang pemain lainnya akan naik ke level yang lebih tinggi. Nah bila melihat skuad Tottenham dan Arsenal sekarang, tidak sulit untuk menilai siapa yang memiliki lima-enam pemain utama tersebut. Di Arsenal kita punya Giroud-Arteta-Mertesacker-Koscielny-Sagna yang selalu dapat diandalkan dan membuat perbedaan. Cazorla musim lalu sangat dominan dan Wilshere dua musim sebelumnya menjadi andalan. Ramsey menjadi fenomenal musim ini dan Gibbs juga tampil luar biasa. Szczesny akhirnya menemukan performa terbaiknya. Dan Ozil, kita belum melihat permainan terbaiknya. Arsenal tidak lagi soal lima-enam pemain utama namun seluruh skuad punya kekuatan merata dari lini depan hingga ke belakang tanpa benar-benar memiliki “pemain terlemah”. Hal yang sama tidak dapat dikatakan untuk Tottenham.

Tottenham membeli banyak pemain dan biaya mahal yang harus dibayar adalah adapatsi. Mungkin mereka akan lebih baik seiring dengan berjalannya waktu namun mungkin juga banyak pemain yang tidak mendapatkan waktu bermain yang cukup akhirnya akan memilih pindah musim depan. Apalagi bila mereka kembali gagal mendapatkan tempat di empat besar. Di bulan Agustus Wenger mengatakan hal ini:

There is a technical risk when you buy more than three players because you unbalance a little bit the stability of your squad.

You have to find a way to integrate more. And your squad is always a balance, and there’s a bit more risk. Signing players can work as well. It can click fantastically well, but there is a little risk in the stability of the squad and on the technical consistency.

Hal ini dirasakan Arsenal sendiri di dua musim sebelumnya. Pembelian besar-besaran karena kehilangan dua pemain utama, Fabregas dan Nasri berakibat pada masa adaptasi yang lama dari para pemain baru dan menganggu stabilitas tim. Hasilnya baru dituai musim ini. Arteta dan Mertesacker menjadi tulang punggung skuad Arsenal sekarang.

Marseille

Pertandingan melawan Marseille sayangnya tidak disiarkan langsung di stasiun TV. Tak ada cara lain selain streaming. Saya sendiri akan menonton replay-nya saja. Marseille yang tidak mendapatkan poin sama sekali dari 4 pertandingan selama ini bisa bermain lepas tanpa beban dan hal ini bisa berbahaya. Di pertemuan pertama dengan Arsenal di kandangnya, mereka tampil cukup baik. Ayew dan Valbuena tampak berbahaya. Kabar terakhir menyebutkan kemungkinan Ayew cedera. Arsenal sendiri akan menurunkan tim terbaiknya mengingat hasil tiga poin amat penting untuk mengamankan peluang lolos ke babak berikutnya. Pertandingan berikutnya ke kandang Napoli akan lebih berat.

Arteta cedera ringan di akhir pertandingan lawan Southampton sehingga posisinya kemungkinan digantikan Flamini. Di luar itu, prediksi saya tim inti yang sama akan diturunkan dan Walcott siap turun di babak kedua untuk mendapatkan kesempatan bermain lebih lama. Wilshere bisa jadi digantikan Rosicky untuk memberikannya waktu beristirahat yang cukup.

Prediksi line up Arsenal:
Szczesny –  Sagna, Mertesacker, Koscielny, Gibbs – Flamini, Ramsey, Ozil – Rosicky, Giroud, Cazorla.

Subs:
Fabianski, Vermaelen, Monreal, Wilshere, Walcott, Arteta, Bendtner

Selama Arsenal bermain dengan fokus penuh, rasanya tidak sulit untuk memenangkan pertandingan ini.

Kembalinya Mesin Gol Arsenal

Setelah 2 minggu international break dengan hasil Giroud dan kawan-kawan sebangsanya berhasil memastikan Perancis tetap ikut pesta sepakbola di Brasil, sepakbola akhirnya kembali hari ini. Tak hanya itu, mesin gol Arsenal pun ikut kembali ke training ground London Colney.

image

Yang ini? Sayangnya Thierry Henry tidak lagi bermain untuk Arsenal walau masih terkesan cukup fit di klubnya sekarang, NY Red Bulls. Pencetak rekor gol terbanyak dalam sejarah Arsenal mulai minggu ini bergabung dengan sesi latihan tim Arsenal, suatu tradisi yang ia mulai 2 tahun lalu untuk menjaga kebugaran fisiknya selama libur Major League Soccer. Alasan kebugaran fisik mungkin hanya sebuah klise, fans Arsenal tahu persis kalau kembalinya ia ke North London karena rasa kangen yang tak terbendung terhadap klub lamanya ini. Rasa yang sama yang dirasakan banyak mantan pemain Arsenal lainnya. Lehmann, Pires, Campbell, Ljungberg dalam beberapa kesempatan kembali ke klub tercinta ini baik untuk latihan, mengambil kursus coaching, atau sekedar menjadi duta klub dalam global marketing Arsenal. Bahkan Dennis Bergkamp dalam biografinya yang terbaru mengatakan ia ingin kembali ke klub ini di masa mendatang. Baginya Arsenal sama dengan Barcelona bagi Cruyff, selalu menjadi tempat spesial walaupun saat ini mereka sedang merevolusi klub kelahirannya, Ajax Amsterdam. Arsenal terkenal sebagai klub yang memiliki rasa kekeluargaan yang kuat, sehingga klub ini bagi banyak mantan pemainnya bukan hanya sekadar tempat mereka mencari uang, tapi sudah merupakan bagian dari hidup yang sulit dilupakan.

Kembali ke mesin gol Arsenal. Bukan Henry yang dimaksud, tapi striker yang juga mungkin sama cepatnya dan belakangan ini memiliki insting membunuh di depan gawang yang mirip pendahulunya.

image

Ya, Theo Walcott. Walaupun baru mencetak satu gol musim ini, Walcott adalah mesin gol Arsenal musim lalu dengan catatan 21 gol di semua kompetisi. Ia baru akan memulai masa suburnya sebelum kemudian dilanda cedera panjang di awal musim ini. Ia baru dapat kembali hari ini, mungkin di bangku cadangan. Namun hadirnya Walcott akan menambah amunisi Arsenal dan akan sangat menyenangkan rekan barunya, Mesut Ozil.

Saat debut Ozil melawan Sunderland, kita melihat potensi maut duet mereka. Dua kali Ozil memberikan peluang manis kepada Walcott untuk kemudian berhadapan satu lawan satu dengan kiper lawan yang sayangnya belum berbuah gol. Namun kecepatan lari Walcott dan akurasi operan Ozil tak pelak lagi akan menjadi combo maut Arsenal musim ini. Giroud telah bermain bagus musim ini, menjadi poros permainan Arsenal di depan, namun ia tidak memiliki senjata maut yang ditakuti semua pemain belakang: kecepatan.

Walcott akan menjadi pemain yang paling beruntung dengan kehadiran Ozil dan Ozil bisa menambah koleksi angka statistiknya di kolom assist. Keduanya bagaikan pasangan yang sudah ditakdirkan di liga Inggris, kompetisi sepakbola yang memberikan lebih banyak ruang daripada liga Eropa elit lainnya. Seperti Bergkamp dan Henry, Stillness and Speed bisa lahir kembali pada pasangan Ozil dan Walcott. Yang satu punya first touch dan visi terbaik di dunia sepakbola, yang lain punya kecepatan dan ketajaman seorang pembunuh di depan gawang. Walcott mungkin masih perlu mengasah ketajamannya hingga sampai ke level Henry, namun ia telah menunjukkan peningkatan di bidang ini sejak musim lalu.

Walcott juga memberikan variasi dalam serangan Arsenal. Musim ini Arsenal bermain sangat sempit karena absennya pemain sayap tulen. Transisi yang cepat dari sayap seakan lenyap seiring dengan masuknya Walcott ke klinik medis. Dibarengi dengan absennya Podolski, praktis Arsenal bermain mengandalkan pertukaran bola yang cepat di tengah. Crossing dari sayap yang dilakukan oleh fullback cenderung lebih mudah diatasi lawan, karena biasanya terjadi setelah masa transisi lewat. Lawan telah kembali ke formasi bertahan saat fullback turun menyerang. Kecepatan pemain depan sayap dalam periode transisi akan memberikan crossing yang sulit diantisipasi barisan pertahanan lawan yang sedang melakukan transisi ke gigi mundur. Walcott akan mengeksploitasi periode transisi ini.

Lawan kita malam ini, Southampton bukanlah tim mediocre. Di bawah asuhan Pochettino mereka hanya kalah satu kali musim ini, mampu meraih hasil seri di Old Trafford dan menang di Anfield. Tim ini jelas tidak takut bertarung di kandang klub besar. Peringkat tiga dengan selisih hanya tiga poin dari Arsenal bukanlah kebetulan. Lawan yang pantas untuk tim pemimpin klasemen yang masih kesal karena membuang poin percuma di Old Trafford dua pekan lalu.

Kunci keberhasilan Southampton ada pada pertahanannya yang kuat. Hanya kebobolan 5 gol dalam 11 pertandingan dengan kebobolan terbanyak hanya satu gol per pertandingan. Hasil 6 clean sheet berhasil mereka ukir musim ini mengukuhkan mereka sebagai tim dengan pertahanan terbaik di liga sejauh ini. Mampukah Arsenal mencetak lebih dari satu gol? Jika menurut pada statistik Southampton musim ini, maka Arsenal hanya mungkin menang dengan skor 1-0. Problem lainnya adalah Southampton tidak hanya baik dalam bertahan, mereka juga cukup baik dalam menyerang dengan perolehan 15 gol musim ini. Angka yang cukup sebanding dengan tim-tim lain di posisi empat besar.

Bila dalam kondisi prima, bukan tidak mungkin Arsenal mampu memecahkan rekor Southampton ini. Mampukah Arsenal mencetak 2 gol dengan komposisi Giroud, Cazorla, Ramsey, Ozil dan Wilshere ditambah dengan Walcott di babak kedua? Sangat mampu dan mungkin. Syaratnya adalah Arsenal mesti membuang semua keraguan sejak awal dan sepenuhnya memainkan permainan mereka yang penuh percaya diri. Syarat tambahan: hindari virus yang mengganggu penampilan dua pekan lalu. Bila Arsenal mampu mencetak gol dalam pertandingan ini, apalagi lebih dari satu gol, Arsenal akan amankan tiga poin penting.

Prediksi line up Arsenal:
Szczesny –  Sagna, Mertesacker, Koscielny, Gibbs – Arteta, Ramsey, Ozil – Wilshere, Giroud, Cazorla.

Subs:
Fabianski, Vermaelen, Monreal, Jenkinson, Walcott, Gnabry, Bendtner

Catatan: Flamini dapat larangan bermain karena akumulasi kartu kuning. Rosicky dikabarkan masih flu.

Dennis Bergkamp, The Perfect Ten

Pengunjung rutin blog ini dan follower akun twitter @benhan tentu tak perlu tanya lagi “pemujaan” saya terhadap Dennis Bergkamp. Namun jangan khawatir, saya masih cukup waras untuk menganggap Dennis Bergkamp sebagai seorang manusia. Ia jelas bukan Tuhan dalam definisi kaum-kaum beragama. Namun bagi sebagian kelompok yang menganggap sepakbola sejajar agama (dalam hal kefanatikan bukan soal Kebenaran Absolut), maka figur seorang pesepakbola bisa menjadi Tuhan mereka. Dan bagi sebagian fans Arsenal, Dennis Bergkamp is God.

Dennis Bergkamp sendiri adalah seorang Katolik yang taat, ia tak terlalu mempedulikan status “Tuhan” yang ia miliki di antara fans Arsenal. Walaupun ia sendiri percaya kepada Tuhan konvensional (Tuhan agamanya), ia adalah tipikal pemain yang dalam persepsi Wenger juga menganggap sepakbola sebagai “Tuhan”. Menurut Wenger ada tipe pemain yang melayani sepakbola seperti ia melayani Tuhan. Mereka meletakkan sepakbola sedemikian tinggi sehingga apapaun yang tidak dekat dengan bagaimana seharusnya sepakbola itu dimainkan, tidak dapat diterima. Wenger percaya Dennis Bergkamp begitu menghormati sepakbola sehingga ia melatih dirinya untuk menjadi sesempurna mungkin bukan demi egonya, tapi demi the game, sepakbola itu sendiri.

I believe that Dennis was one of those who had such a high idea of the game and such a respect for the game that he wanted that to be above everything.

I believe that the real great players are guided by how football should be played and not by how football should serve them. If it becomes spiritual, it’s endless and you’re always driven to going higher and getting closer to what you think football should be.

Membaca biografi Dennis Bergkamp yang pertama kali diotorisasi olehnya, Stillness and Speed, maka kita akan semakin yakin dengan persepsi Wenger di atas. Bergkamp adalah figur pesepakbola perfectionist yang tidak egois. Ia memilih menjadi assister daripada scorer, terutama di fase final karirnya, bukan karena ia tak mampu lagi mencetak gol namun karena ia lebih menikmati memberikan operan sempurna untuk rekannya. Ia juga tidak terobsesi dengan pamer skill yang umumnya dilakukan pemain bertalenta. Ia tidak suka dribbling, menggocek bola untuk mengalahkan lawan. Namun ia terobsesi dengan kontrol bola. Tentang bagaimana menghentikan bola dengan first touch, mengendalikan putaran dan gerakan bola, lalu memberikan operan terukur sesuai visi di kepala.

Dalam biografi tersebut, Wenger kembali memberikan contoh bagaimana seorang pemain yang mestinya mengoper bola kepada rekannya malah melakukan tembakan spekulasi dan berhasil mencetak gol.

If he really loves the game he’ll go home and worry about it. He’ll know he really should have passed to set up an easy chance for someone else. But he was selfish and got lucky. If he doesn’t care about the game he’ll go home and think: ‘That was great – I’ll do the same next time.’

Bila ia benar-benar mencintai sepakbola, ia akan pulang dan menyesali hal tersebut. Ia tahu seharusnya ia mengoper untuk memberikan kesempatan mencetak gol yang lebih mudah kepada rekannya. Tapi ia egois dan beruntung. Jika ia tak peduli pada sepakbola, ia akan pulang dan berpikir: “Yang tadi bagus, akan kuulangi lagi lain kali.”

Dan Wenger menutup pengamatannya itu dengan pesan:

That’s why you have to teach the kids to respect the game and treat the game a little bit like a religion, that is above you, where you want to serve the game.

Anak-anak mesti diajarkan untuk menghormati dan memperlakukan sepakbola seperti agama, bahwa Ia ada di atas dirimu, di mana kamu ingin melayani sepakbola.

Sebagian pesepakbola mungkin menganggap sepakbola hanyalah sebagai mata pencaharian. Banyak yang begitu. Bendtner misalnya, memilih mendapatkan gaji tinggi di Arsenal tanpa harus bermain daripada harus pindah ke klub yang lebih kecil namun menawarkan kesempatan membangkitkan kembali karirnya. Namun bagi Bergkamp, sepakbola bukan sekedar mata pencaharian. Ia tak pernah termotivasi oleh uang. Gajinya di Arsenal sempat dipotong karena ia menolak terbang, dan ia menerima gaji yang lebih kecil lagi di penghujung karirnya karena ia bermain lebih jarang. Namun ia tidak keberatan selama ia bisa memainkan permainan yang dicintainya ini, dengan rekan-rekan yang mengerti visi sepakbolanya, di bawah pelatih yang mempunyai visi sepakbola yang sama. Bergkamp mengakhiri karir sepakbolanya di Arsenal, dalam usia 37 tahun dan mendapatkan pertandingan testimonial sebagai penghargaan pengabdian 10 tahunnya, sesuatu yang tidak pernah didapatkan Henry maupun Vieira di Arsenal.

Testimonial Dennis Bergkamp, Last Game for Arsenal

Masa Kecil

Bergkamp tidak lahir dan dibesarkan di keluarga yang miskin. Tidak pula dari keluarga yang berantakan. Ia tidak memiliki masa kecil yang pahit yang umumnya bisa menjadi pendorong ambisi pesepakbola-pesepakbola besar dalam meraih prestasi. Bergkamp lahir dari keluarga biasa, keluarga Katolik yang taat dan bersama ketiga saudaranya mengecap pendidikan yang cukup. Ia bukan anak berandalan di sekolah, cenderung pendiam dan tidak memiliki banyak teman di sekolah karena menurutnya ia telah mendapatkan teman dari kakak-kakaknya yang usianya cukup dekat. Dan sebagaimana para pesepakbola profesional, Bergkamp menghabiskan masa kecilnya dengan bermain sepakbola dengan anak-anak sebaya di lingkungannya. Di lapangan beton ataupun lapangan hijau. Perbedaannya ada pada obsesinya sejak kecil terhadap kontrol bola.

Berbeda dengan rekan-rekannya yang bermain bola untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang menyenangkan, ketertarikan Bergkamp terhadap sepakbola ada pada level yang lebih serius. Ia ingin tahu bagaimana reaksi bola bila ditendang dengan cara yang berbeda. Tembok di dekat rumahnya menjadi tempat eksperimen kecilnya. Bergkamp akan menendang bola ke tembok dan pantulan bola akan coba dikendalikan dengan kakinya untuk dipantulkan kembali. Ia lalu mulai mengerti tentang sudut pantulan bola, tentang putaran bola, tentang cara efektif menghentikan bola hasil pantulan. Ia belajar banyak dari eksperimen dengan bola dan tembok tersebut. Hasil eksperimen dari masa kecil tersebut akhirnya memberikan momen-momen sepakbola yang tak terlupakan bagi seluruh pencinta sepakbola. Gol di Piala Dunia melawan Argentina, melawan Newcastle di Liga Inggris, adalah hasil dari kontrol bola yang sempurna. Sesuatu yang dimulai dari masa kecilnya akhirnya memberikan hasil di panggung yang didambakan semua pemain sepakbola. Sebuah mimpi masa kecil yang menjadi nyata.

Mukjizat

Tuhan identik dengan Mukjizat, Miracles. Saya rasa berawal dari sanalah status “Tuhan” Bergkamp. Ia menghadirkan mukjizat demi mukjizat yang tidak pernah dilihat fans Arsenal sebelumnya. Ia mulai dari dua gol pertamanya melawan Southampton di bulan September. Yang pertama adalah volley ke sudut jauh gawang dan yang kedua tendangan keras ke tiang dekat gawang, membentur tiang dan masuk. Lalu hattrick pertamanya melawan Leicester City mengisi urutan pertama, kedua dan ketiga goals of the week. Golnya saat melawan Newcastle, yang menipu Niko Dabizas dengan arah bola dan arah putaran dirinya yang bertolak belakang menjadi gol terbaik Arsenal sepanjang masa. Golnya di Piala Dunia 1998 saat melawan Argentina menjadi salah satu gol terbaik Piala Dunia sepanjang masa.

Namun bukan hanya gol yang menjadi mukjizat Bergkamp. Fans Arsenal beruntung karena Bergkamp menjadi The Perfect Ten di Arsenal. Bermain sebagai shadow striker, dan perlahan-lahan menjadi playmaker, Bergkamp menunjukkan bahwa kemukjizatan di lapangan hijau tidak hanya monopoli sebuah gol. Dan fans Arsenal pun belajar mengapresiasi keindahan sebuah assist, atau pre-assist. Assist Bergkamp kepada Ljungberg di pertandingan liga Champions menjadi puncak mukjizat sebuah operan. Menggocek bola di depan tiga pemain Juventus, Bergkamp menunggu dan menunggu Ljungberg bergerak. Lima detik ia menunggu sambil menggerakkan bola ke sana kemari dan saat momennya tiba, saat Ljungberg bergerak, bola dioper dan mendarat persis di depan kaki Ljungberg untuk kemudian menjadi gol.

Di akhir karirnya bersama Arsenal, Dennis Bergkamp mencetak 120 gol dan 124 assist. Setiap assistnya tidak kalah cantiknya dengan setiap golnya. Dan tidak ada gol atau assistnya yang sifatnya kebetulan. Dalam bukunya, ia menjawab pertanyaan soal apakah golnya mengandung unsur keberuntungan. Hebatnya, ia mengatakan ia mengingat setiap momen golnya dan pikiran yang terjadi sebelumnya. Gol mukjizatnya terjadi sesuai gagasan di kepalanya sebelum ia melakukannya. Gol terhadap Argentina itu misalnya, ia tahu persis ia hanya boleh melakukan tiga sentuhan, ia tahu persis ia harus menghentikan bola di udara terlebih dahulu, lalu harus membawa bola ke dalam sambil mengecoh pemain bertahan, dan mencetak gol menggunakan sisi luar dari kaki kanannya. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana di kepalanya. Saat ditanya golnya melawan Newcastle apakah memang direncanakan, ia balik bertanya, “Menurutmu bagian mana dari gol tersebut yang tidak saya rencanakan?” dengan gaya khas kepercayaan diri (bukan arogansi) pesepakbola Belanda.

Bergkamp melayani sepakbola sebagaimana ia melayani Tuhan. Karena visi spiritual tersebutlah, ia bisa menghadirkan kemukjizatan di lapangan hijau, yang membawa para pemujanya menganggapnya Tuhan. Tuhan bekerja secara misterius, dan mungkin inilah salah satu cara-Nya. Sebuah siklus yang terhubung kembali di lapangan hijau. Para penonton sepakbola yang umumnya melampiaskan emosi di stadion dengan mengumpat dan bernyanyi kencang-kencang, serentak terdiam, terhipnotis oleh momen yang dihadirkan oleh seorang Dennis Bergkamp. Sebuah momen Ilahi yang menghentikan waktu, mematikan seluruh komentar pikiran. Saat itu hanya ada Dennis Bergkamp dan bola yang bergerak pelan sesuai kehendak-Nya. Tidak ada komentar pikiran, distorsi suara, kita hanya melihat Dennis Bergkamp dalam kemukjizatan. Saat melihat hanya melihat, mencerap hanya mencerap, dan merasa hanya merasa. Saat pikiran berada pada saat kini, bukan pada masa lalu atau masa depan. Saat itu sepakbola terangkat amat tinggi, melebihi segala keegoisan manusia, menembus segala bias identitas diri, lawan maupun kawan semua hanya merasakan satu perasaan, kekaguman pada sesuatu yang di luar nalar manusia.

Tulisan ini saya akhiri di sini sebagai pembuka rangkaian tulisan mengenai Dennis Bergkamp. Tulisan berikutnya adalah resensi biografi Dennis Bergkamp, Stillness and Speed yang kemudian akan disambung dengan beberapa artikel yang bersumber pada buku tersebut. Kategori “Dennis Bergkamp” akan membedakan artikel-artikel ini dari “Catatan Harian” umumnya. Tulisan ini merupakan bagian dari aktualisasi kekaguman saya kepada Dennis Bergkamp, yang kemudian menumbuhkan kecintaan saya kepada Arsenal. Melakukan sesuatu yang kita cintai, adalah hal yang paling membahagiakan! Dan kebahagiaan seperti ini tidak akan pernah habis walau dibagikan.

I really like Arsenal. But you, do you like Arsenal? Or just Arsenal with Trophies?