Jarak Antara Harapan dan Kenyataan adalah Kekecewaan

Judul di atas adalah pepatah filosofis yang mungkin bisa digunakan untuk panduan kehidupan sehari-hari.

  • Jarak antara harapan dan kenyataan adalah kekecewaan.
  • Semakin tinggi harapan kita, semakin besar kekecewaan kita atas kenyataan yang tidak sesuai harapan.
  • Semakin kita tidak berharap, semakin mudah kita dapat menerima kenyataan. 

Postulat di atas bukan hak paten Jalan Arsenal. Bukan pertama kali dan pasti bukan untuk yang terakhir kalinya postulat di atas mengenai harapan, kenyataan dan kekecawaan akan Anda baca dalam hidup. Selalu ingatlah akan kalimat-kalimat di atas setiap Anda mengalami kekecewaan. Pasti akan berguna.

Pada tulisan terakhir di blog ini, preview pertandingan Manchester United vs Arsenal, Jalan Arsenal meramalkan pertandingan itu akan menjadi panggung untuk Özil. Sayangnya hal itu tidak terjadi. Serangan virus sebelum pertandingan yang memakan 4 korban (Mertesacker, Rosicky, Gnabry dan Arteta) mengakibatkan Mertesacker dan Rosicky harus dipulangkan lebih awal. Arteta dan Gnabry berhasil mengatasi rasa sakitnya dan akhirnya masuk ke skuad hari itu. Serangan virus itu ternyata tidak terbatas pada keempat pemain tersebut. Özil setelah pertandingan dikabarkan juga mengalami hal yang sama. Mungkin itu salah satu sebab mengapa penampilannya tidak optimal sepanjang pertandingan.

Terlepas dari serangan virus tersebut, Wenger tidak mau mencari kambing hitam di luar penampilan timnya sendiri. Menurut Wenger, para pemain Arsenal tampil agak gugup di babak pertama. Di babak kedua mereka tampil lebih baik walaupun mengejar ketertinggalan dari tim juara bertahan tampaknya lebih berat daripada tugas Arsenal di pertandingan-pertandingan sebelumnya. Kegugupan pemain-pemain Arsenal menurut Wenger disebabkan oleh catatan masa lalu hasil pertandingan Arsenal di Old Trafford. Menang hanya 3 kali selama 15 tahun jelas bukan hasil yang dapat dibanggakan. Masalah psikologis ini ternyata lebih berat daripada yang kita bayangkan.

Dalam tulisan yang lalu, saya menyebutkan beberapa faktor yang mesti diatasi Arsenal untuk dapat menang di kandang MU:

“Selama Arsenal bisa membatasi jumlah tendangan bebas dan sudut untuk MU, menjaga konsentrasi penuh saat bertahan sebagaimana dua pertandingan terakhir, dan tidak memberikan MU respek yang berlebihan, Arsenal mestinya bisa menang malam ini.”

Sayangnya ketiga hal ini tidak dapat dilakukan Arsenal malam itu. Arsenal memberikan mereka tendangan sudut berulang kali dan duo SAS (Shrek and Skunk) memanfaatkannya dengan sangat baik. Tendangan sudut Rooney ke area luar zonal marking Arsenal yang berbuah gol (dicetak oleh pemain yang tak boleh disebut namanya) tentunya adalah hasil latihan mereka yang telah mempelajari pertahanan zonal marking Arsenal terhadap bola-bola mati. Demi mengalahkan Arsenal, Moyes melatih MU bak melatih tim seperti Stoke City. Mereka tahu sulit untuk mengalahkan Arsenal dalam permainan terbuka dan kesempatan terbesar adalah dengan memanfaatkan setplay. Rooney sendiri mengakui hal tersebut setelah pertandingan bahwa kelemahan Arsenal ada pada ukuran tinggi pemainnya. Ketidakhadiran Mertesacker memperbesar kelemahan ini. Stoke City 1 – 0 Arsenal.

Demi mengalahkan Arsenal, Moyes melatih MU bak melatih tim seperti Stoke City…

Setelah gol tersebut, di babak kedua praktis MU bermain bertahan dengan sesekali melakukan serangan balik. Dan mereka bertahan dengan sangat baik. Arsenal bermain lebih buruk daripada dua pertandingan sebelumnya. Faktor kelelahan ditambah serangan virus tersebut tampaknya mulai berdampak di babak kedua. Ramsey melakukan banyak sekali kesalahan dalam operan sehingga persentase keakuratan operannya adalah yang terendah sepanjang musim ini, sekitar 60%. Giroud frustrasi sejak babak pertama karena foul-foul kecil pemain MU tidak mendapatkan perhatian wasit. Özil baru tampak “hidup” di babak kedua, namun sayangnya tidak diimbangi dengan penampilan rekan-rekannya. Sementara itu di sisi kanan, Sagna terus memborbardir pertahanan MU dengan crossing-crossing yang sangat bagus tanpa adanya pemain Arsenal di ujung umpan lambung. Bendtner masuk dan tidak memberikan kontribusi apapun. Gnabry masuk dan membuat serangan Arsenal lebih hidup namun agak terlambat. Mungkin salah satu sebab ia tak masuk lebih awal daripada Bendtner adalah serangan virus yang menimpa dirinya. Di saat-saat seperti ini, kita berharap adanya pemain seperti Podolski dan Walcott yang mampu menambah daya gempur lini depan Arsenal. Sayang kedua pemain tersebut demikian lama absen musim ini. Kembalinya kedua pemain tersebut nantinya akan dirayakan seperti pemain baru, like a new signing.

Vermaelen yang menggantikan Mertesacker bermain cukup baik namun absennya ia dari skuad utama Arsenal dalam waktu yang cukup lama ada dampaknya. Pemain Arsenal lainnya rasanya sedikit kurang percaya dengan pertahanan Arsenal tanpa Mertesacker. Ketidakpercayaan ini berakibat di babak pertama, serangan yang dibangun kurang berani karena terlalu berhati-hati. Ini yang dimaksud Wenger dengan kegugupan. Pemain Arsenal bermain dengan rem tangan yang diaktifkan. Mudah-mudahan penampilan Vermaelan yang cukup baik akan menumbuhkan kepercayaan rekan-rekan terhadap dirinya dan menghilangkan kekhawatiran berlebihan ini di pertandingan-pertandingan berikutnya.

Pendek kata, pertandingan ini adalah pertandingan yang sangat mengecewakan karena hasilnya. Mengecewakan lebih-lebih karena harapan fans dan pemain Arsenal yang semakin percaya diri musim ini adalah tiga poin untuk dibawa pulang. Jarak antara harapan dan kenyataan adalah kekecewaan. Karena harapan 3 poin dan hasilnya pulang tanpa poin, kekecewaan itu makin besar. Bila harapannya hanya 1 poin, mungkin kekecewaan yang terjadi tidak akan begitu besar. Jarak ini subyektif, dan kita tentukan sendiri. Pengaturan ekspektasi konon menjadi cara mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan ini.

Karena harapan 3 poin dan hasilnya pulang tanpa poin, kekecewaan itu makin besar. Bila harapannya hanya 1 poin, mungkin kekecewaan yang terjadi tidak akan begitu besar.

Hal positifnya adalah tim ini memberikan harapan yang lebih besar karena memang kita melihat mereka mampu melakukan itu. Sebuah progress dalam hal relasi dan kepercayaan antara tim dan fans Arsenal, yang dalam beberapa musim ini tidak begitu baik. Datang ke MU dan mengambil maksimal poin mungkin tidak berani dimimpikan fans Arsenal musim lalu. Musim ini beda. Kita yakin menang dan akhirnya harus kalah dengan satu gol dari setplay. Kita membuat duo SAS MU yang katanya lebih dahsyat daripada duo SAS Kw Liverpool itu hanya mampu mengancam lewat bola mati ala Stoke City. Kita menyelesaikan pertandingan itu dalam posisi di atas angin walaupun tanpa hasil. Kebobolan hanya satu gol dalam tiga pertandingan besar berturut-turut (dalam satu minggu) dengan hasil 2 kali menang dan 1 kali kalah mungkin akan memberikan perspektif yang lebih baik. Saya memprediksi hasil ronde pertama November Rain ini adalah 2 seri dan 1 menang, total 5 poin. Arsenal berhasil meraih 6 poin dari 2 menang, 1 kalah. Kenyataan ini sudah melebihi harapan saya, maka semestinya saya happy. Bagaimana dengan Anda?

…duo SAS MU yang katanya lebih dahsyat daripada duo SAS Kw Liverpool itu hanya mampu mengancam lewat bola mati ala Stoke City…

Kekecewaan yang tersisa buat saya pribadi adalah gagalnya pertandingan tersebut menjadi panggung untuk Özil. Mungkin prediksi saya terlalu cepat. Seorang pemain yang baru mencicipi Liga Inggris kurang lebih 2 bulan dibebani tugas memimpin timnya menang atas juara bertahan di kandang mereka, mungkin terlalu cepat. Bergkamp melakukannya di Highbury saat melawan Southampton. Pertandingan berikutnya Arsenal secara kebetulan adalah pertandingan di kandang melawan Southampton. Özil punya kesempatan minggu depan untuk membuktikan dirinya sebagai pewaris resmi mahkota Bergkamp. Kalaupun itu tidak terjadi, masih ada minggu-minggu berikutnya. 🙂

Kegagalan mengakhiri musim United secara dini mungkin sedikit kita sesali, tapi sisi positifnya juga ada. Rasanya kurang seru juga bila juara bertahan tumbang di awal kompetisi. Hadirnya kembali United di persaingan puncak liga akan berdampak bagus juga untuk Arsenal. United akan mampu mencuri poin dari tim-tim seperti Chelsea, Manchester City, Liverpool, para pesaing juara musim ini. Toh kita juga tak mungkin menjadi juara musim ini di Old Trafford karena jadwal pertandingannya di bulan November ini. United kita butuhkan untuk “merampok” beberapa poin dari para pesaing juara liga Inggris di musim ini. Untuk itu, kita butuh mereka tetap kompetitif. Selisih lima poin pas rasanya, tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat. Selisih sebelas poin, Ferguson akan bangkit dari kubur untuk menggantikan Moyes.

Selisih sebelas poin, Ferguson akan bangkit dari kubur untuk menggantikan Moyes.

Untuk menghibur fans Arsenal selama satu minggu ini, Jalan Arsenal akan menampilkan cuplikan-cuplikan dari biografi Dennis Bergkamp, Stillness and Speed, tentunya dalam Bahasa Indonesia. Diawali dengan resensi, beberapa chapter dari biografi tersebut akan ditampilkan di sini. Bagi yang tidak mau kena spoiler, disarankan jangan baca. Namun saya akan sebisa mungkin menulis artikel soal Bergkamp sebagaimana membuat sebuah teaser, trailer fillm. Harapannya dengan adanya artikel-artikel soal Bergkamp yang disadur dari biografinya akan semakin menarik fans Arsenal untuk membeli buku itu sendiri. Toh biografinya bukan seperti cerita fiksi, rasanya tidak ada spoiler yang perlu dikhawatirkan mengingat sebagian besar fans Arsenal pasti mengetahui jalan hidup Bergkamp. Tidak jauh dari Jalan Arsenal.

Saat ini biografi Dennis Bergkamp tersebut hanya tersedia dalam bahasa Inggris. Mudah-mudahan nanti ada penerbit Indonesia yang tertarik. Siapa yang punya link penerbit? Saya sih siap membantu menerjemahkan bila perlu. Permata yang berharga ini sangat sayang bila “disimpan” oleh kalangan terbatas. Apa yang ada di pikiran Bergkamp wajib diketahui seluruh fans Arsenal, tanpa perlu menguasai bahasa Inggris. Semoga ada penerbit buku Indonesia yang juga menjadi fans Arsenal. Kita boleh berharap, namun ingat jangan kecewa ya. Karena jarak antara harapan dan kenyataan adalah kekecewaan. Be Happy!

Advertisements

Panggung untuk Özil

Preview Manchester United vs Arsenal, 10 November 2013 11.10 pmSun back page   Ozil  We ll end United s season

Pagi ini Inggris diramaikan dengan headline tabloid The Sun di atas. Headline sensasional yang menyebutkan kalau Özil akan mengakhiri musim United secara dini pada pertandingan hari ini. Ternyata setelah dibaca isi beritanya, sama sekali tidak ada kata-kata dari Özil yang seperti itu. Özil hanya mengatakan kalau Arsenal akan ke United dengan target untuk menang. Seperti biasa, wartawan melakukan spin atas kutipan Özil agar tabloidnya laku di hari big match ini.

Di luar sensasi spin yang tentunya akan memancing kemarahan fans United, headline tersebut di lain sisi juga mengindikasikan kepercayaan diri penuh pemain Arsenal dan media yang mulai menganggap serius kekuatan Arsenal musim ini. Posisi unggul 5 poin di puncak klasemen dan kemenangan sensasional tengah pekan atas Dortmund telah sedikit banyak mengubah persepsi media Inggris yang awalnya skeptis dengan peluang Arsenal menjadi juara liga. Posisi United yang terpisah 8 poin saat ini dengan Arsenal dan berpotensi menjadi 11 poin bila kalah malam ini membuat wartawan berani menulis headline seperti itu. Dan memang bila MU kalah malam ini, misi untuk mengejar ketertinggalan 11 poin akan terasa lebih berat walau bukan mustahil.

Posisi unggul 5 poin di puncak klasemen dan kemenangan sensasional tengah pekan atas Dortmund telah sedikit banyak mengubah persepsi media Inggris yang awalnya skeptis dengan peluang Arsenal menjadi juara liga

Pertanyaannya adalah bisakah Arsenal menang dari Manchester United di kandangnya? Selama era Wenger, Arsenal hanya mampu menang 3 kali di Old Trafford di kompetisi liga Inggris. Pertama kali saat musim double pertama 1997/1998 dengan solo gol dari Overmars. Kedua di musim double kedua 2001/2002 lagi-lagi dengan solo gol dari Wiltord yang sekaligus memastikan Arsenal menjadi juara liga musim itu. Yang terakhir di musim 2006/2007 dengan gol dari Adebayor hasil assist Cesc Fabregas. Tiga kemenangan 1-0 selama 16 musim mencerminkan sulitnya mengalahkan Manchester United di kandangnya, di era Ferguson.

United boleh saja ganti pelatih, dan hal itu sedikit mengganggu perjalanan mereka di awal musim. Namun mereka tetap masih menyandang status juara bertahan dengan komposisi pemain yang tidak berkurang dari musim lalu, malah diperkuat dengan Fellaini dan Adnan Januzaj. Saat ini penampilan mereka mulai stabil, katanya tidak terkalahkan di 8 pertandingan terakhir (semua kompetisi). Walaupun bila dilihat lawan-lawannya dalam 8 pertandingan tersebut dan banyaknya hasil seri, tidaklah terlalu impresif. Lebih banyak D daripada W nya. Form Arsenal jelas jauh lebih mengesankan untuk saat ini. Sebagai perbandingan Arsenal menang atas Dortmund di tandang sedangkan MU hanya bisa meraih hasil seri bertandang ke Sociedad, walaupun sudah menghalalkan segala cara termasuk divingnya Ashley Young.

Namun dalam performa terbaiknya United bisa lebih berbahaya daripada Liverpool. Dan mereka pun memiliki duet SAS yang lebih berbahaya daripada SAS-nya Liverpool. Shrek and Skunk (nama panggilan untuk Rooney dan Van Persie) jauh lebih berbahaya daripada Suarez dan Sturridge dari segi track record mereka melawan Arsenal. Bila Suarez dan Sturridge punya kecepatan, Rooney dan Van Persie punya intuisi dan hawa pembunuh yang dahsyat bila berada di kotak penalti lawan. Mertesacker dan Koscielny mesti ekstra hati-hati dan tampil penuh konsentrasi untuk mencegah mereka mencetak gol malam ini.

Bila pola serangan Liverpool minggu lalu agak monoton dengan bola-bola ke Suarez dan Sturridge yang sudah bisa ditebak, MU akan lebih menyerang lewat sayap. Fullback mereka akan overlapping dengan pemain sayap dalam formasi 4-4-2. Crossing Evra terutama sangat berbahaya. Januzaj juga telah memberikan beberapa indikasi kalau ia bukan hanya sebatas pemain potensial seperti Macheda beberapa musim lalu, namun juga dapat memberikan hasil nyata di lapangan lewat crossing dan umpan through ball-nya yang cantik. Mereka juga sangat berbahaya saat eksekusi bola mati. Rooney telah mencetak beberapa gol dari tendangan bebas. Musim lalu United praktis menjuarai liga mengandalkan efektivitas setplay mereka. Tendangan sudut, tendangan bebas dan tendangan penalti (untuk yang satu ini mudah-mudahan sedikit berkurang dengan perginya Fergie).

MU hanya bisa meraih hasil seri bertandang ke Sociedad, walaupun sudah menghalalkan segala cara termasuk divingnya Ashley Young

Prediksi formasi United malam ini:

De Gea – Smalling Ferdinand Vidic Evra – Valencia Carrick Fellaini Januzaj – Rooney RVP

Rafael, Evans dikabarkan cedera sedangkan Carrick, Cleverly, Welbeck juga masih akan menjalankan fitness test.

Untuk Arsenal, Flamini dan Wilshere dikabarkan ikut dalam skuad yang berangkat ke Manchester. Prediksi formasinya sebagai berikut:

Szczesny – Sagna Mertesacker Koscielny Gibbs – Flamini Arteta – Ramsey Özil Cazorla – Giroud

Flamini perlu dipasang untuk membantu fullback Arsenal saat MU menyerang lewat sayap. Pada pertandingan melawan Liverpool dan Dortmund terlihat kekurangan kecepatan Arteta beberapa kali memberikan peluang untuk lawan di kotak penalti. Selain itu Özil dan Cazorla yang harus turun membantu pertahanan di sayap mengurangi potensi Arsenal dalam penyerangan. Adanya Flamini memungkinkan Ramsey, Özil dan Cazorla fokus pada penyerangan dan pressing agar transisi dari pertahanan ke penyerangan bisa dilakukan dengan lebih cepat. Secara kemampuan teknik, skuad Arsenal kali ini lebih baik daripada MU. Kecuali penyerang mereka yang relatif lebih baik, Arsenal jauh lebih unggul di lini tengah. One touch football yang agak sulit dimainkan melawan Dortmund akan kembali di pertandingan ini. MU bukan tim yang melakukan pressing dengan intensitas tinggi. Bila Carrick tidak bermain, mereka malah akan mendapatkan masalah baru dalam sirkulasi dan distribusi bola. Dengan pressing tinggi yang dilakukan 4 pemain penyerang Arsenal terhadap lini tengah United, Arsenal akan mendominasi penguasaan bola dan adanya Flamini dan Arteta sebagai double pivot dapat mengatasi serangan balik MU dari sayap.

Selama Arsenal bisa membatasi jumlah tendangan bebas dan sudut untuk MU, menjaga konsentrasi penuh saat bertahan sebagaimana dua pertandingan terakhir, dan tidak memberikan MU respek yang berlebihan, Arsenal mestinya bisa menang malam ini.

Dalam pertandingan di Old Trafford sebelumnya, Arsenal terlalu memberikan respek kepada tim baru mantan kaptennya. “Hadiah” yang diberikan Vermaelen kepada Van Persie di menit-menit awal pertandingan “membunuh” pertandingan itu. Belum lagi insiden Andre Santos yang mengajak RVP tukaran kaos di saat turun minum. Pada pertemuan berikutnya di kandang Arsenal, Sagna lagi-lagi memberikan hadiah penalti kepada RVP sehingga skor menjadi 1-1. Namun di pertandingan malam ini, saya yakin respek terhadap RVP telah dapat dihilangkan. Itu karena satu nama: Mesut Özil.

Hadirnya Özil di Arsenal bersamaan dengan Fellaini di MU membuat surat terbuka RVP kepada dunia yang meragukan Arah dan Ambisi mantan klubnya itu menjadi lucu

Musim lalu Arsenal kehilangan aura bintang dengan hengkangnya pemain terbaiknya. Musim ini Arsenal kedatangan salah satu pemain terbaik dunia, Mesut Özil. Hadirnya Özil di Arsenal bersamaan dengan Fellaini di MU membuat surat terbuka RVP kepada dunia yang meragukan Arah dan Ambisi mantan klubnya itu menjadi lucu, setahun kemudian. Lebih lucu lagi ketika MU menunjuk Moyes sebagai pengganti Ferguson, yang sempat berjanji kepada Van Persie ia tak akan pensiun. Mungkinkah arah dan ambisi klub yang dimaksud Van Persie dapat diwakilkan oleh Moyes dan Fellaini?

Kita tak punya banyak waktu untuk memeriksa kondisi little boy inside Van Persie sekarang. Ia sendiri yang telah membakar jembatan antara dirinya dengan klub, termasuk dengan rekan setimnya. Di muka umum ia meragukan mereka memiliki kapasitas untuk menjadi juara. Ia juga seakan “menampar” muka manager yang telah demikian mempercayainya, yang mengubahnya dari anak muda bertalenta namun bermasalah dari Belanda menjadi salah satu striker yang paling ditakuti di dunia. Walaupun ia mendapatkan medali gelar yang selama ini ia impikan, potensinya untuk menjadi legenda Arsenal hilang bersamaan dengan ingatan kita akan kontribusinya (termasuk cederanya) selama di Arsenal lewat aksi memalukan untuk memaksakan kepindahan ke rival yang paling dibenci seluruh pendukung klub.

Sekaranglah saatnya mantan rekan setimnya membuktikan kalau ia salah. Bahwa Arsenal adalah tim yang sedang menanjak sedangkan MU adalah tim yang sedang merosot. Tidak ada cara yang lebih baik selain menambah jarak 8 poin saat ini menjadi 11 poin saat pertandingan usai.

Dennis Bergkamp dan Mesut Özil

Setelah membaca biografi Dennis Bergkamp, Stillness and Speed, pikiran saya tidak bisa lepas dari Mesut Özil. Banyak kemiripan Bergkamp dengan Özil. Mereka sama-sama perfectionist, introvert, jenius, dan memiliki first touch yang bagaikan sentuhan dewa sepakbola. Bergkamp melihat dirinya dalam diri Mesut Özil. Ia melihat first touch yang sama. Bergkamp mengakui sendiri dalam biografinya bahwa sejak muda ia bukanlah pemain yang suka dribbling atau pamer skill seperti Zidane misalnya. Ia terobsesi dengan kontrol bola, dengan first touch. Di awal cerita, ia yang masih anak-anak melatih kontrol bolanya lewat memantulkan bola ke tembok. Dari sana ia bereksperimen soal sudut sentuhan kaki dengan bola, bagaimana spin bola, cara trapping bola yang sempurna di udara. Sebuah biografi yang luar biasa yang membawa kita masuk ke alam pikiran seorang jenius sepakbola yang juga legenda Arsenal. Suatu hari saya akan mencoba menulis resensinya di sini.

Selain first touch yang sempurna, Bergkamp juga melihat visi sepakbola yang mirip pada Özil. Menurutnya Özil mampu melihat permainan sampai beberapa langkah ke depan. Ia mampu memprediksi apa yang akan dilakukan rekannya dan lawan untuk beberapa langkah ke depan sebelum ia melakukan operan. Ia akan memberikan operan yang terbaik kepada rekannya sehingga tidak dibutuhkan banyak sentuhan untuk mencetak gol. Operan yang juga membelah pertahanan lawan. Özil sebagaimana Bergkamp adalah master ruang dan waktu. Mereka menciptakan ruang dan waktu untuk dirinya dan rekan-rekannya. Hal ini dikonfirmasi dari wawancara David Winner (penulis biografi Bergkamp) dengan rekan-rekan Arsenalnya seperti Vieira, Wright dan Henry. Dan Bergkamp yang jarang memuji pemain bola lainnya, melihat hal yang sama pada Özil dan mengatakannya pada media secara terbuka.

Tidak ada panggung lain yang lebih cocok untuk seorang jenius seperti Özil selain rumahnya juara bertahan. Walaupun Özil telah tampil cukup baik dengan beberapa gol dan assist dalam dua bulan ini, ia belum memperlihatkan 100% kemampuannya bersama Arsenal. Sebagai penantang utama Liga Inggris musim ini, Özil bersama rekan-rekan Arsenal-nya berkesempatan menegaskan terjadinya pergeseran kekuatan sepakbola Inggris dari Manchester ke North London. Walaupun hasil maksimal telah diraih dari Liverpool dan Dortmund, rasanya belum sempurna kelulusan Arsenal dari ujian publik sebelum mengalahkan sang juara bertahan, di kandang mereka. Panggung ini memang diciptakan untuk Özil, tinggal ia menjawabnya.

Let’s end United season at their home.

Musuh Terbesar Arsenal

Tulisan ini bukan preview pertandingan Manchester United vs Arsenal besok. Rasanya agak capek juga untuk menulis ulasan taktik yang panjang sehari setelah review panjang Dortmund vs Arsenal kemarin. Pembaca juga mungkin bosan bila lagi-lagi harus beurusan dengan statistik dan grafik. Jadi tulisan ini lebih soal opini ringan tentang Arsenal saja. Anggap saja prolog dari preview besok. Mudah-mudahan besok masih ada energi untuk menulis artikel preview yang lebih mendalam.

Perkembangan menarik di bulan November ini adalah, Arsenal mematahkan dua prediksi saya yang cukup realistis dengan hasil kemenangan lawan Liverpool dan Dortmund (predikat saya seri untuk kedua pertandingan tersebut). Dengan bekal dua kemenangan besar ini, Arsenal on track untuk mematahkan kutukan bulan November. Seperti yang ditulis dalam artikel November Rain Arsenal, perolehan poin rata-rata Arsenal selama 5 musim terakhir di bulan November hanya 1,56 per pertandingan. Saat ini nilai rata-rata perolehan Arsenal sudah jauh melebihi standar tersebut dengan 3 poin per pertandingan. Bila Arsenal bisa memenangkan pertandingan besok sekaligus menutup ronde pertama bulan November ini, maka ronde kedua setelah international break dapat dihadapi dengan tanpa beban tambahan.

Kepercayaan diri sedang memenuhi camp Arsenal saat ini. Bahkan saking pede-nya menghadapi pertandingan besok, Arsenal.com mengakhiri tulisan previewnya dengan kutipan berikut:

But victory would turn last week’s question by 180 degrees.

Not can Arsenal beat the ‘big teams’.

But can the ‘big teams’ beat Arsenal?

Bila Arsenal menang dari MU besok, pertanyaan di atas menjadi valid. Bukan lagi soal dapatkah Arsenal mengalahkan tim besar, tapi soal dapatkah tim besar mengalahkan Arsenal? Mungkin terdengar agak arogan, namun rasanya kita berhak untuk sedikit arogan, BILA kita menang besok.

Satu dekade silam, pertandingan antara MU vs Arsenal selalu dipenuhi drama, tensi tinggi baik di lapangan maupun di luar lapangan. Psy war akan dilakukan masing-masing manager sebelum pertandingan dan berlanjut hingga akhir pertandingan. Wartawan akan menemukan kutipan-kutipan menggigit untuk headline. Namun semenjak Arsenal pindah ke Emirates Stadium yang hampir bersamaan dengan invasi Sugar Daddies ke Premier League, rivalitas antara Arsenal dan MU meredup. Klub kaya baru seperti Chelsea dan Manchester City tampil di panggung utama dan Arsenal perlahan-lahan mundur ke balik layar. Chelsea dan Manchester City datang dengan budget belanja tak terbatas pemilik barunya, yang mencuci uang dengan membeli pemain-pemain top dunia, termasuk dari Arsenal. Tim Arsenal yang dibangun susah payah oleh Wenger perlahan-lahan dipreteli oleh rivalnya. Gaji double dari klub pesaing menyilaukan para pemain yang dibina sejak muda. Ashley Cole, Adebayor, Nasri contohnya. Terakhir yang paling memilukan adalah ketika sang kapten, pemain terbaiknya, dibajak oleh rival sejatinya, Ferguson.

semenjak Arsenal pindah ke Emirates Stadium yang hampir bersamaan dengan invasi Sugar Daddies ke Premier League, rivalitas antara Arsenal dan MU meredup

Bagi Gooners di North London, rival sejati Arsenal mungkin adalah sebuah klub kecil yang kebetulan exist di distrik yang sama, Tottenham Hotspur. Namun bagi Gooners seluruh dunia, yang kebanyakan mungkin mulai mendukung Arsenal sejak era Premier League, Manchester United-lah rival sejati Arsenal. Pertarungan yang dimulai sejak Wenger memenangkan double di musim penuh pertamanya yang mengancam dominasi MU yang baru ditancapkan Ferguson, berlanjut hingga era Invincibles tahun 2004, telah mengukir rivalitas sejati dua klub yang mungkin tak akan lagi terulang hingga sekarang. Dalam 7 musim tersebut (1997-2004), total Wenger memenangkan 3 gelar juara liga dan Ferguson 4 gelar juara liga. Musim 2004-2005 Mourinho masuk ke Chelsea dan dengan budget tak terbatas dari Abramovich mengganggu dominasi dua klub Premier League tersebut. MU sempat mengalami masa 3 musim tanpa gelar sebelum bangkit lagi ke atas sedangkan Arsenal lebih sulit untuk bangkit ke puncak karena budget yang dimiliki Wenger tak pernah mendekati budgetnya Ferguson, dampak dari pembangunan stadion baru.

dalam 7 musim tersebut (1997-2004), total Wenger memenangkan 3 gelar juara liga dan Ferguson 4 gelar juara liga

Walaupun setelah musim 2004-2005 itu Wenger praktis tak punya budget untuk transfer pemain (net transfer spending-nya positif dari musim tersebut hingga musim 2012/2013 yang artinya lebih banyak menjual pemain daripada membeli), Arsenal tetap mencoba berkompetisi dengan dua klub Sugar Daddy dan satu klub status quo tersebut. Di musim 2007/2008 Arsenal pernah demikian dekat dengan gelar juara EPL, unggul 5 poin di atas MU di bulan Februari, sebelum kemudian terjun bebas semenjak kaki Eduardo patah di Birmingham City. Pemain-pemain yang usianya masih muda ditambah kepemimpinan kapten yang payah (Gallas) tidak dapat mengatasi shock mental akibat kejadian tersebut. Semenjak kejadian itu, Arsenal hanya berhasil meraih 8 poin dari 24 poin yang tersisa, dan akhirnya finish di posisi ketiga. Mental collapse yang monumental.

Satu kesempatan lainnya di mana Arsenal agak dekat dengan posisi puncak EPL adalah musim 2010/2011. Sempat memimpin klasemen di Tahun Baru dan akhirnya terpaut hanya satu poin dari MU sebagai pemimpin klasemen di akhir Februari, lagi-lagi Arsenal jatuh bebas di bulan Maret dan April dengan hanya meraih satu kemenangan di liga. Kali ini sebabnya bukan patah kaki pemain, tapi kekalahan tragis dari Birmingham City di League Cup (apa kebetulan? Lagi-lagi Birmingham City) dan cedera pemain yang terjadi silih berganti. Dua pemain andalan saat itu, Van Persie hanya bermain sebagai starter 19 kali dan Fabregas 22 kali, ditambah mereka jarang bermain bersama karena jangka waktu cedera yang berbeda. Musim itu pun berakhir tragis dengan pindahnya Fabregas dan Nasri di awal musim berikutnya. Fabregas kembali ke rumahnya karena beban yang terlalu berat sebagai kapten dan ia tidak melihat masa depan Arsenal yang mampu bersaing dengan tiga klub kaya lainnya sedangkan Nasri jelas karena nilai uang yang ditawarkan oleh klub sugar daddy baru, Manchester City.

Berdasarkan dua kejadian di atas, maka tak heranlah kalau baru-baru ini Rooney berkomentar kalau Arsenal biasanya akan jatuh bebas di bulan Februari-Maret. Ia tidak salah memang, namun mungkin perawatan penumbuhan rambutnya membuat ia mengingat tentang tim Arsenal yang salah. Sebagaimana tanggapan Ramsey dan Wenger atas komentar tersebut, tim Arsenal dua musim terakhir ini justru ngebut dalam pengumpulan poin di paruh musim kedua (sejak Natal). Bahkan jika hanya berdasarkan perolehan poin di kalender tahun 2013, Arsenal akan memimpin klasemen di akhir musim yang lalu.

Tim Arsenal yang sekarang berbeda dengan tim 2008 dan 2011. Belajar dari kesalahan memasang pemain-pemain muda di semua lini, Wenger mengubah strategi transfernya dengan membeli lebih banyak pemain-pemain berpengalaman. Mertesacker, Arteta, Podolski, Giroud, Cazorla, Monreal dibeli pada usia di atas 25 tahun, usia matang pemain bola. Musim ini ia menambah dengan Viviano, Flamini dan Ozil. Pemain muda masih dibeli, tapi tidak menjadi andalan utama. Pemain muda seperti Chamberlain, Ryo, Gnabry, Zelalem dan Sanogo akan diintegrasikan perlahan-lahan ke tim inti, tanpa beban yang di luar kapasitasnya. Maka usia rata-rata pemain Arsenal naik jauh dari yang biasanya 22-23 beberapa tahun lalu menjadi 27-28, usia matang sebuah tim.

tim Arsenal dua musim terakhir ini justru ngebut dalam pengumpulan poin di paruh musim kedua

Kematangan dan pengalaman pemain yang lebih dewasa sangat membantu dalam mencegah terjadinya mental shock akibat tragedi. Membantu tim menemukan respon yang tepat terhadap tekanan. Wenger mengatakan bila timnya berusia lebih muda saja saat bertandang ke Dortmund kemarin, mereka akan pulang dengan kekalahan telak. Ini bukti nyata pengaruh dari kedewasaan pemain Arsenal di tim sekarang ini.

Tidak hanya pemain baru yang dewasa, pemain Arsenal peninggalan era sebelumnya pun semakin dewasa. Rosicky, Sagna, Koscielny, Vermaelen masuk kategori ini. Sedangkan Walcott, Wilshere, Ramsey, Gibbs dan Szczesny masuk kategori pemain muda yang akan terbantu dengan adanya pemain-pemain senior di sekitarnya. Faktor mental tak lagi menjadi kelemahan Arsenal. Terbukti dalam dua musim terakhir ini, perjuangan mereka untuk tetap finish di posisi empat besar walaupun tertinggal jauh di awal musim bisa dianggap sebagai bukti kelulusan dari ujian mental terberat.

Dua musim terakhir ini problem Arsenal bukanlah pada faktor mental pemainnya. Problem ada pada kepergian pemain-pemain terbaiknya di awal musim. Nasri dan Fabregas dua musim sebelumnya dan disusul Van Persie serta Song musim lalu. Kepergian pemain andalan mengganggu stabilitas tim sedangkan pemain baru butuh waktu untuk beradaptasi. Maka dua musim lalu, Arsenal langsung kehilangan poin di paruh musim pertama. Musim ini hal itu tak terjadi, pemain terbaik berhasil diikat dan dead wood dijual. Pemain baru yang masuk tidak terlalu dibebankan untuk berkontribusi. Stabilitas yang ada dari musim sebelumnya sangat membantu mereka berintegrasi dengan tim. Lima poin unggul di puncak keasaman saat ini menjadi pembeda pendekatan baru Arsenal ini.

Maka Rooney mestinya lebih berhati-hati dengan komentarnya jika ia punya ingatan yang baik. Tim Arsenal yang akan bertandang ke Old Trafford besok adalah tim yang tidak memiliki masalah mental, tim yang berpengalaman dan tahu persis bagaimana merespon kekalahan atau kemerosotan form. Tim ini mungkin akan mengalami kekalahan di masa depan, namun mereka tahu persis caranya untuk bangkit. Sudah terbukti waktu mengalami kekalahan atas Villa, Dortmund dan Chelsea di kandang.

Sejarah mengatakan bila sedang dalam level teknik terbaiknya (musim 2007/2008 dan 2010/2011), musuh terbesar Arsenal bukanlah Tottenham ataupun United, tapi adalah diri sendiri. Tekanan mental, shock akibat kekalahan tragis atau cedera horor rekannya, menjadi hambatan untuk kedua tim itu. Tim Arsenal musim ini bisa dikatakan selain memiliki level teknik yang tinggi juga memiliki kematangan mental. Maka musuh terbesarnya kali ini bukanlah kemampuan mengatasi tekanan mental, tapi complacency.

Yang dimaksud complaceny adalah arogansi, rasa berpuas diri yang terlalu dini. Sudah terbang tinggi ke langit lupa kembali ke bumi. Ini ujian baru untuk Arsenal karena tim ini belum pernah memimpin klasemen dengan selisih 5 poin di bulan November. Bila Ramsey yang sudah mencetak 11 gol dan juga pernah mengalami cedera patah kaki, bisa tetap rendah hati dan menganggap perjalanan ini masih panjang, maka hasil apapun yang diraih besok tidak akan berpengaruh banyak terhadap jalan Arsenal untuk meraih gelar di akhir musim.

Your own self is your worst enemy.

Orkestra Simfoni Arsenal Bungkam Konser Heavy Metal di Dortmund

zp_10_Ramsey-goal-3_1628Dortmund 0 – 1 Arsenal (Ramsey 62′)

Analogi Klopp, manager Dortmund, yang beredar di media Inggris dan Jerman sebelum pertandingan bahwa Dortmund vs Arsenal bagaikan pertandingan antara heavy metal vs orkestra simfoni ternyata menjadi kenyataan di lapangan. Hanya saja mungkin hasilnya tidak sesuai harapan Klopp. “Silent Orchestra” malam itu membungkam konser hingar-bingar heavy metal di Dortmund, setelah 90 menit. Seisi stadion terhentak dan sunyi saat Ramsey menyundul bola ke gawang Dortmund, sebelum disontakkan kembali dengan teriakan dan chant ribuan fans away Arsenal.

Dortmund memulai pertandingan seperti layaknya sebuah konser band musik heavy metal. Tanpa basa-basi langsung menuju nada tertinggi. Pemain Dortmund melakukan pressing dengan intensitas tinggi di area Arsenal tanpa henti. Arsenal berkali-kali kehilangan bola dan kesulitan untuk keluar dari areanya sendiri. Operan dari lini tengah selalu dipotong pemain Dortmund, dan bila pemain Arsenal mencoba melakukan dribbling ia akan ditempel 2-3 pemain Dortmund yang memaksanya melakukan kesalahan. Gegenpressing, demikian nama sistem yang diterapkan Klopp sejak beberapa tahun lalu, yang tidak hanya berhasil memenangkan mereka gelar juara namun juga hati pencinta sepakbola seluruh dunia.

Gegenpressing

Prinsip gegenpressing adalah pressing dengan intensitas tinggi dengan tujuan merusak permainan lawan, merebut kembali bola secepat mungkin di area lawan, dan luncurkan serangan kilat. Para pemain akan menutup ruang gerak dan operan lawan secara terorganisir dengan positioning terkoordinir yang telah dilatih lewat drilling ribuan kali sehingga ketika bola direbut, para pemain sudah berada pada posisi yang siap untuk counter attack. Sistem ini menjadi efektif karena saat bola direbut lawan, baru mau pindah dari gigi mundur ke gigi maju, bola sudah direbut kembali dan dalam hitungan detik bola bisa masuk ke kotak penalti lawan. Kata Jurgen Klopp tentang gegenpressing:

Gegenpressing is the best playmaker in the world. The best moment to win the ball is immediately after your team just lost it. The opponent is still looking for orientation where to pass the ball.

Berbeda dengan tiki-taka Barcelona yang juga menerapkan pressing tinggi terhadap lawan untuk merebut kembali bola, Dortmund akan langsung menyerang dengan cepat ketika berhasil merebut bola sedangkan Barcelona akan memainkan operan-operan pendek dahulu untuk melanjutkan possession football-nya. Bagi penonton, sepakbola Barcelona terkesan lambat sedangkan sepakbola Dortmund terkesan cepat, elektrik, instan. Sepakbola Barcelona adalah soal rangkaian operan pendek yang harmonis bak orkestra simfoni sedangkan Dortmund adalah antagonisnya, soal destruction, soal chaos, heavy metal. Klopp mungkin menyamakan sepakbola Arsenal dengan Barcelona, tim yang setia pada penguasaan bola dan tiki-taka. Ia mungkin belum tahu kalau Arsenal telah mulai perlahan-lahan meninggalkan sistem (Barcelona) itu sejak musim lalu.

Gegenpressing butuh kecepatan dan stamina yang tinggi maka tak heran Klopp selalu menuntut dan melatih pemainnya agar mampu berlari lebih jauh daripada pemain lawan. Di leg pertama, total pemain Dortmund berlari 10 km lebih banyak daripada keseluruhan pemain Arsenal. Di leg kedua ini, Aaron Ramsey berlari lebih jauh daripada semua pemain Dortmund. Dengan staminanya yang tinggi dan seringnya ia melakukan tackle yang berakibat turnover, Ramsey adalah pemain ideal untuk melakukan gegenpressing ala Klopp. Bila tidak sedang menjadi pelatih lawan, Klopp pasti akan tersenyum saat Ramsey mencetak gol satu-satunya di pertandingan ini.

Di babak pertama, gegenpressing Dortmund nyaris menghasilkan gol. Berulang kali kita menyaksikan pressing intensitas tinggi mereka terhadap pemain Arsenal, dan ketika berhasil merebut bola, pemain Dortmund sudah berlarian menyerbu kotak penalti Arsenal. Dua-tiga pemain Dortmund akan mengurung pemain Arsenal yang menguasai bola. Satu melakukan pressing dari muka, satu menutup jalur operan ke samping dan satu lagi menutup jalur operan ke belakang sambil siap berlari ke area lawan bila bola berhasil direbut. Sisi kiri Arsenal menjadi incaran mereka. Blaszczykowski, Großkreutz dan Lewandowski melakukan hal ini terhadap Cazorla dan Gibbs dan berhasil beberapa kali. Kecepatan kombinasi pemain Dortmund di sisi ini menghasilkan peluang bersih Mkhitaryan yang untungnya tembakannya melebar ke samping gawang Szczesny.

Berawal dari lemparan ke dalam milik Dortmund di paruh lapangannya sendiri, Großkreutz melempar bola ke Lewandowski yang langsung melakukan one-two dengan Blaszczykowski. Menerima bola kembalian, Lewandowski berlari langsung ke gawang Arsenal dan diikuti paralel Blaszczykowski yang tidak tinggal diam. Arteta menjatuhkan Lewandowski namun Blaszczykowski yang berlari tepat di sampingnya langsung mengambil alih bola. Saat itu juga Mkhitaryan telah berlari di tengah lapangan, siap menerima bola dan melakukan shooting. Tiga pemain Dortmund ini berlari bersamaan bak tiga garis lurus sejajar menuju gawang lawan, pemandangan yang sungguh mengerikan bagi pemain bertahan lawan. Namun bagi penonton, gerakan mereka bertiga terlihat seperti chaos yang juga indah, terdengar seperti musik heavy metal di mana setiap instrumen seakan saling berebut untuk mendominasi namun masing-masing juga adalah bagian dari komposisi.

Sistem sepakbola gegenpressing Dortmund ini telah makan banyak korban. Real Madrid dan sang ahli taktik The Special One dibuat tak berkutik oleh Dortmund di stadion ini beberapa bulan silam. Hasil 4-1 untuk gegenpressing yang ternyata lebih dahsyat dan efektif daripada counterattacking football-nya Mourinho. Wenger tentu telah mempelajari sistem Klopp ini sebelum leg pertama. Dan pengalaman dari pertemuan di leg pertama membuat eksekusi taktik anti-gegenpressing Arsenal di leg kedua ini berjalan sempurna.

“Wenger Tidak Mengenal Taktik”

Sebagian fans Arsenal yang hobi main Football Manager sering menuding kalau Wenger tidak mengerti taktik sepakbola. Bagaimana mungkin seorang manager yang sudah berkompetisi belasan tahun di Liga Champions, pemegang rekor Invincible dan berkali-kali memecahkan rekor Eropa dengan mengalahkan Real Madrid, AC Milan, Bayern Muenchen dan malam ini Borussia Dortmund di kandang mereka, bisa tidak mengerti taktik sepakbola? Apakah mungkin dengan modal bermain Football Manager, seorang fan sepakbola merangkap armchair manager bisa lebih paham tentang taktik sepakbola daripada real manager kawakan seperti Wenger?

Di tulisan ini, saya mencoba untuk tidak menjadi armchair manager. Tapi dengan benefit of hindsight, kita bisa mencoba menganalisa apa taktik anti-gegenpressing yang diterapkan Wenger terhadap Dortmund di pertandingan ini sehingga bisa pulang mengantongi tiga poin yang berharga sementara Mourinho dan banyak manager Eropa lainnya gagal. Ada beberapa penentu kemenangan Arsenal yang bisa kita lihat dari pertandingan ini.

Anti-gegenpressing

We weren’t able to find a player in space a lot of the time, as Arsenal were quick on their feet and defended well.

Klopp di akhir pertandingan mengakui kalau pemain Arsenal bertahan dengan sangat baik dan dapat cepat membatasi ruang gerak pemainnya. Wenger mengatakan pengalaman dan kedewasaan pemain Arsenal membantu mereka mengatasi serangan bertubi-tubi Dortmund. Wenger mengakui bila timnya lebih muda saja, mungkin mereka akan pulang dengan kekalahan telak, demikian dahsyatnya sepakbola Dortmund. Pembelian Mertesacker, Arteta beberapa musim lalu mulai membuahkan hasil di musim ini. Demikian juga adanya Rosicky, Sagna yang bisa membimbing pemain muda Arsenal seperti Ramsey, Gibbs, Szczesny, agar tidak panik dalam pertandingan seperti ini dan melakukan kesalahan yang tidak perlu. Pemain-pemain yang lebih berpengalaman ini membawakan kedewasaan dan kematangan dalam permainan Arsenal. Kenaifan di leg pertama di mana dua fullback Arsenal maju bersamaan tidak lagi diulangi di pertandingan ini.

I was pleased with our focus tonight. We were under pressure from first minute to last but we didn’t make any mistakes and defended well. We were compact and worked together and although there was a difficult period in the first half we put in a very mature performance.

Our defence was under a lot of pressure but they showed good awareness and tactical ability and that gives us a big lift. Not many teams come here and win.

Wenger melakukan sedikit perubahan soal bagaimana Arsenal bertahan dalam leg kedua ini sebagai bagian utama dari taktik anti-gegenpressing. Kata-kata kuncinya adalah: compact, good awareness, dan tactical ability. Grafik dashboard dari Statszone Four Four Two di bawah ini akan mengilustrasikan perubahan tersebut.

Legends

Legends

Arsenal Defensive Dashboard (leg 1)

Arsenal Defensive Dashboard (leg 1)

FourFourTwo Arsenal defensive

Arsenal Defensive Dashboard (leg 2)

Dua grafik di atas menunjukkan aksi pertahanan Arsenal di dua leg melawan Dortmund. Gawang Arsenal di sebelah kiri. Ada 4 macam aksi yang tergambar dalam grafik ini yaitu “X” untuk tackle, “O” untuk clearance, “Diamond” untuk Interception, dan “Triangle” untuk foul.

Data dari grafik di atas untuk aksi pertahanan Arsenal:

  1. Tackle, leg 1: 23/28 dan leg 2: 8/14
  2. Interception, leg 1: 22 dan leg 2: 22.
  3. Clearance, leg 1: 23 dan di leg 2: 35.
  4. Foul, leg 1: 14 dan leg 2: 13.

Di leg kedua, Arsenal melakukan lebih sedikit tackle namun lebih banyak clearance. Arsenal juga memusatkan pertahanan di dalam dan sekitar kotak penalti dibanding di leg pertama yang lebih menyebar ke tengah dan depan. Dengan kata lain, lini pertahanan Arsenal di leg kedua ini lebih mundur dan Arsenal mengurangi aktivitas pressing mereka di wilayah lawan dan sekitar garis tengah. Arsenal baru melakukan pressing dan tackling ketika lawan masuk ke area berbahaya (area yang memungkinkan tembakan ke gawang dan umpan lambung dari samping). Arsenal membiarkan Dortmund membawa bola sampai ke area yang “diizinkan”.

Gegenpressing selain adalah sistem anti possession football yang sekaligus adalah sistem anti pressing. Kok bisa? Karena selain merebut bola yang dikuasai lawan, ia juga merebut bola yang baru saja direbut lawan. Justru yang kedua ini lebih berbahaya. Karena saat melakukan pressing, para pemain umumnya dalam posisi yang lebih maju daripada biasanya, sehingga sangat rawan untuk terkena serangan balik. Apalagi bila pressing dilakukan di area tengah lapangan, ruang antara pemain yang melakukan pressing (umumnya pemain depan dan tengah) dengan barisan permain di belakangnya akan dieksploitasi Dortmund dengan sangat baik.

Untuk mengatasi gegenpressing, Arsenal melakukan selective ball possession dan maintaining defensive shape.

Arsenal memang menguasai bola lebih banyak di babak pertama, namun bola lebih banyak dioper di area sendiri dan sesekali long ball ke depan. Arsenal menghindari pressing Dortmund di area tengah. Konsekuensi dari taktik ini adalah operan “pinball” satu dua sentuhan di tengah lapangan yang menjadi karakteristik Arsenal tidak terjadi. Operan lebih banyak terjadi di sisi lapangan atau langsung ke depan. Bukan kebetulan kalau kombinasi operan terbanyak di antara pemain Arsenal adalah kombinasi Sagna dan Ozil dengan total 23 operan. Ini yang dikatakan selective ball possession.

Arsenal juga lebih jarang melakukan pressing di area lawan, dan sekitar garis tengah. Dortmund dibiarkan membawa bola, sesuatu yang sebenarnya bukan spesialisasi mereka. Back four Arsenal akan mundur sampai ke kotak penalti, demikian juga pemain tengah, sambil membayangi pemain Dortmund. Tackling hanya akan dilakukan ketika Dortmund masuk ke area di mana shooting dan crossing dimungkinkan. Arsenal nyaman membiarkan Dortmund membawa bola, dengan memprioritaskan defensive shape, menjaga jarak antar lini pemain Arsenal dan jarak pemain dengan bola. Dengan cara demikian ruang untuk counterattack Dortmund dibatasi. Itu yang dimaksud Klopp dengan: “we weren’t able to find a player in space a lot of the time.”

Saat Arsenal menyerang, lini belakang maju serentak untuk pertahankan jarak antara dua lini sembari eksekusi offside trap bila bola direbut dan diserang balik. Beberapa kali pemain Dortmund terkena jebakan offside ini. Yang paling nyata adalah saat tembakan Blaszczykowski ditahan Szczesny. Tiga pemain Dortmund berada di belakang garis pertahanan Arsenal sehingga walaupun bola rebound dari save Szczesny bisa disambar, posisi mereka sudah offside.

Saat Arsenal diserang, lini belakang dan lini tengah mundur. Jarak antar lini ini selalu dpertahankan. Ini yang dimaksud Wenger dengan compact. Good Awareness diperlukan untuk tahu kapan harus mundur dan maju, dan juga menyadari posisi rekan-rekan di sekitarnya saat eksekusi offside trap. Dan yang dimaksud tactical ability adalah kemampuan pemain mengeksekusi taktik ini dengan baik plus kemampuan beradaptasi secara taktis terhadap perubahan di lapangan.

Mertesacker, MotM pertandingan ini adalah kunci dalam memimpin lini pertahanan. Ia mengorganisir offside trap, melakukan interception, tackling, dan duetnya bersama Koscielny praktis meminimalisir peluang bersih Dortmund menjadi hanya tiga: tembakan melenceng Mkhitaryan, sundulan Reus dan tembakan Blaszczykowski. Sisanya adalah tembakan spekulatif atau peluang dari setplay. Bahkan di satu kesempatan, hanya dengan sebuah sapuan ia merebut bola dari kaki Reus yang sedang dribbling ke kotak penalti. Mertesacker memberikan rasa aman terhadap lini pertahanan Arsenal sehingga tidak terjadi kepanikan walaupun terus-menerus di bawah tekanan gegenpressing Dortmund.

Dortmund Defensive Dashboard (leg 1)

Dortmund Defensive Dashboard (leg 1)

Dortmund Defensive Dashboard (leg 2)

Dortmund Defensive Dashboard (leg 2)

Dari grafik di atas, bisa dilihat kalau di leg kedua Dortmund lebih sedikit melakukan tackling dan interception di area Arsenal dan area tengah, dampak dari penerapan taktik Arsenal. Selective ball possession Arsenal yang seringkali bypass area tengah dan pressing yang tidak dilakukan Arsenal di tengah lapangan mengurangi aksi gegenpressing Dortmund di area berbahaya tersebut.

Taktik anti-gegenpressing Wenger berhasil dilakukan pemain-pemain Arsenal dengan baik sehingga Dortmund gagal mencetak gol untuk pertama kalinya di kandangnya sendiri musim ini.

Orkestra Simfoni

Sebuah orkestra adalah permainan musik dengan banyak musisi yang memainkan instrumen yang berbeda. Orkestra yang dimainkan 50 musisi atau kurang disebut orkestra chamber, dan bila dimainkan dalam kapasitas penuh oleh kurang lebih 100 musisi disebut orkestra simfoni. Sebuah orkestra simfoni terdiri dari 4 kelompok dengan alat musik yang mirip: woodwinds, brass, percussion dan strings. Penjelasan lebih lengkap silakan cek wikipedia.

Apa yang ada di kepala Klopp saat menganalogikan sepakbola Arsenal dengan sebuah orkestra? Sepakbola Arsenal jelas hanya dimainkan oleh 11 orang, terlalu sedikit untuk sebuah orkestra namun juga sedikit lebih banyak daripada grup band heavy metal. Rasanya bukan jumlah orang yang dianalogikan Klopp tapi lebih pada upayanya kontraskan gaya sepakbola Arsenal dengan Dortmund.

Bila gaya sepakbola Dortmund adalah soal chaos, destruction football, merusak permainan lawan untuk kemudian menyerang secara mematikan, sepakbola Arsenal disamakan dengan harmonisasi musik dari instrumen-instrumen yang berbeda. Tentunya ini adalah pujian tulus dari Klopp. Arsenal dalam persepsinya memainkan sepakbola bak orkestra, komposisi musik yang harmonis dan “membangun”, kontras dengan musik heavy metal yang intens, acak dan “merusak”.

Klopp mungkin belum tahu semboyan Arsenal Victoria Concordia Crescit juga adalah soal meraih kemenangan lewat harmonisasi di antara pemainnya. Malam itu semboyan tersebut diaplikasikan dengan baik. Seluruh pemain Arsenal dari Giroud sampai Szczesny tampil harmonis dalam membendung serangan Dortmund. Mereka menikmati peran bertahan dari hingar-bingar aksi di lapangan maupun di sekeliling lapangan. Chant pendukung Dortmund yang tiada henti disertai teriakan dari megafon tidak menganggu performa pemain-pemain Arsenal. Mereka seakan bermain dengan earphone di telinga, sambil mendengarkan Symphony No. 9, tidak mempedulikan konser heavy metal yang sedang terjadi di sekelilingnya. The silent orchestra melayani serangan Dortmund dengan komunikasi telepatis antara pemainnya.

Di babak kedua, setelah serangan bertubi-tubi Dortmund selama 15 menit pertama yang gagal menemukan jalan ke gawang Arsenal, momen kemenangan orkestra simfoni tiba. Szczesny menendang bola jauh ke Giroud, disundul pemain Dortmund, Bender. Bola muntahan di udara disundul oleh Subotic lalu disundul kembali oleh Arteta dan hanya dengan satu sentuhan Rosicky membelokkan bola yang jatuh tersebut ke Ramsey yang langsung mengembalikan lagi ke Rosicky lewat one-two. Kembali dilakukan one-two dari Rosicky ke Ramsey, kembali ke Rosicky, lalu Rosicky melakukan one-two dengan pemain Dortmund (Sokratis), dan bola kembaliannya distop lalu dioper ke Ozil di sayap kanan. Ozil menghentikan bola lalu memberikan umpan lambung ke Giroud, disambut dengan sundulan ke tengah yang disamber Ramsey dengan kepalanya, tanpa mempedulikan kaki Subotic yang juga terangkat.

Gol ini melibatkan 3 one-two, 2 umpan lambung, 5 sundulan dan 16 sentuhan dalam waktu 20 detik

Kompleksitas gol yang terjadi dari rangkaian operan one touch ini tidak kalah dari gol Wilshere saat melawan Norwich. Gol ini melibatkan 3 one-two (2 antara Rosicky-Ramsey dan 1 antara Rosicky-Sokratis), 2 umpan lambung (Szczesny dan Ozil) dan 5 sundulan (2x Bender, Subotic dan 3x oleh Arteta, Giroud, Ramsey). Total terjadi 16 sentuhan (dengan urutan Szczesny-Bender-Subotic-Arteta-Rosicky-Ramsey-Rosicky-Ramsey-Rosicky-Sokratis-Rosicky 2x-Ozil 2x-Giroud-Ramsey) dalam waktu 20 detik sejak bola ditendang Szczesny sampai masuk ke gawang Dortmund. Sebuah gol yang indah, hasil harmonisasi peran kiper hingga striker. Sebuah gol orkestra. Arsenal kembali melakukan pinball football. Dan tentunya gegenpressing tidak bisa menjawab itu. Bagaimana mungkin melakukan pressing terhadap bola yang nyaris tidak berhenti?

Kemampuan Teknis yang Unggul

Setelah gol pertama itu, Arsenal makin menyerang dan Dortmund terlihat kelelahan. Total 5 peluang terjadi setelah itu. Tembakan Ramsey yang nyaris masuk bila tidak terkena kaki Weidenfeller, tembakan Giroud yang diselamatkan di garis gawang, dua kali sundulan Mertesacker menyambut corner kick dan terakhir dari Koscielny yang bertabrakan dengan Weidenfeller ketika menyambut bola di udara.

I was concerned that there was a long way to go at 1-0 but we could have made it two. We had some good chances. We knew at half-time it was about keeping our focus and letting our technical ability win the game, which is what happened.

Wenger merasa kemampuan teknis pemain-pemain Arsenal masih di atas Dortmund. Itu benar. Dortmund tidak memiliki pemain seperti Ozil, yang punya visi hingga beberapa langkah ke depan. Rosicky dan Cazorla adalah pemain dengan teknik yang lebih tinggi daripada rata-rata pemain Dortmund. Mereka juga tidak memiliki Ramsey, mesin gol dari tengah. Seberapapun hebatnya sebuah taktik dilatih, sepakbola adalah soal relasi manusia dengan bola. Momen-momen ajaib akan lahir dari aksi individual yang berteknik tinggi. Klopp sendiri pernah berkata demikian soal Messi:

Messi is the most unbelievable player because there’s no weapon against him when he is fit – no tactic will work

Pada akhirnya harmonisasi aksi individual pemain Arsenal, dari one-two yang dilakukan Rosicky dan Ramsey, crossing akurat Ozil, kegigihan Giroud dalam bertarung di udara dan sentuhan Midas Ramsey, dirangkai dalam sebuah rencana manager kawakan, mengalahkan taktik gegenpressing yang telah menjadi jiwa permainan kolektif Dortmund.

Klopp adalah pelatih super (sedikit insight bisa dibaca di artikel cemerlang ini) dan Dortmund adalah tim yang sangat bagus. Tim terkuat yang dihadapi Arsenal musim ini. Bahwa Arsenal bisa mengalahkan Dortmund di kandang mereka (yang sedang membutuhkan poin untuk lolos grup) setelah hampir imbang di kandang sendiri adalah indikasi kekuatan Arsenal saat ini. Tidak heran Arsenal bisa mengatasi Liverpool dengan relatif nyaman minggu lalu. Arsenal sudah menjadi salah satu tim terkuat di Eropa. Klopp pun menegaskan itu usai pertandingan.

Yes (Arsenal can win the Champions League). They are young, healthy and good technicians. They won a clever game tonight and could go to the final and win it – as long as they don’t play against Bayern Munich.

Hari Minggu ini, kita akan berhadapan dengan tim yang gagal menang di Real Sociedad walaupun sudah mencoba berbagai cara termasuk diving Ashley Young. Arsenal akan ke Old Trafford dengan kepercayaan diri penuh, tidak seperti beberapa musim sebelumnya. Artikel preview pertandingan tersebut akan ditulis terpisah besok atau lusa. Sementara itu, silakan berbagi kebahagiaan atas kemenangan monumental ini di kolom komentar di bawah. 🙂

Mati Satu Tinggallah Lima

One down, five to go.

Dalam tulisan saya sebelumnya, November Rain Arsenal, prediksi saya kita akan mendapatkan 4 kemenangan dan 2 seri dari 6 pertandingan vital di bulan November ini. Hebatnya Arsenal melampaui prediksi saya dengan mengalahkan Liverpool 2-0 akhir pekan lalu. Mampukah kita mengulanginya lagi malam ini?

Kunci kemenangan Arsenal atas Liverpool sebagian besar sudah diulas di artikel preview sebelum pertandingan, dan Arsenal melakukannya dengan sangat baik. Arsenal tidak mengubah formasinya untuk menyesuaikan dengan formasi 3-5-2 Liverpool. Itu bukan gaya Wenger. Wenger akan memaksakan dominasi timnya atas tim lawan dan melakukan sedikit penyesuaian pada penampilan personel di lapangan. Yang dlakukan Arsenal dengan sangat baik adalah eksploitasi wing back Liverpool dan melakukan pressing di lapangan lawan sehingga berkali-kali memaksakan turnover di area Liverpool.

Arsenal berhasil memotong supply bola ke duet SAS (peran besar MotM saya malam itu: Arteta), dan sesuai prediksi saya Liverpool tidak akan dapat mencetak gol bila SAS tidak mendapatkan bola. Ketergantungan Liverpool yang demikian tinggi pada SAS menjadikan mereka two men team. Bahkan yang menariknya duet SAS ini berubah menjadi ASS di penghujung pertandingan. Konflik Antara Suarez dan Sturridge hampir terjadi ketika salah satu anggota “duet” ini komplain kepada rekannya karena tidak diberikan operan. Catatan statistik menyatakan hanya 4 operan yang terjadi antara dua anggota duet ini sepanjang pertandingan. Empat. Lebih mirip dua solo yang kebetulan tampil bareng daripada duet maut.

Ketergantungan Liverpool yang demikian tinggi pada SAS menjadikan mereka two men team

Pergerakan pemain tengah Arsenal dan operan one-two mereka terlalu sulit diikuti Liverpool. Dan kelemahan bermain dengan 3 CB ini adalah mereka akan kekurangan satu pemain untuk melakukan marking pemain Arsenal di luar kotak penalti. Tiga CB Liverpool cenderung melakukan zonal marking di dalam kotak penaltinya dan Giroud selalu memenuhi perhatian mereka. Mereka gagal mengawasi pergerakan Cazorla, Ozil, Ramsey, Rosicky yang bermain mengisi kekosongan antara dua lini Livepool belum lagi overlapping Gibbs dan Sagna di sayap. Sedangkan wingback Liverpool, Cisokkho dan Flanagan sering terlambat turun untuk tracking pemain Arsenal. Crossing Sagna ke area di belakang Giroud yang tidak diisi pemain Liverpool (3 CB semuanya di depan Giroud) berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh Cazorla. Sementara untuk gol kedua, perhatian Gerrard dan Lucas Leiva tersita oleh Ozil sehingga Ramsey punya waktu banyak saat menyambut operan Ozil untuk menghitung satu, dua, tiga… lalu menendang bola secara bersih dan terukur. Dari segi jumlah, pemain Liverpool akan selalu kalah di lini tengah dengan formasi ini dan 3 CB di belakang serasa sia-sia dalam menghadapi pola serangan Arsenal yang lebih banyak mengacak-acak ruang antara lini pertahanan dan tengah Liverpool.

Ramsey punya waktu banyak saat menyambut operan Ozil untuk menghitung satu, dua, tiga… lalu menendang bola secara bersih dan terukur

Liverpool sempat mengubah formasi menjadi 4-4-2 di babak kedua namun hal itu tidak berpengaruh banyak karena Arsenal kembali mencetak gol. Masuknya Coutinho memang memberikan beberapa peluang kepada Liverpool namun catatan saya hanya dua peluang bersih yang mungkin menghasilkan gol di babak kedua, yaitu tembakan Suarez yang dikomplain Sturridge dan bola dari first touch Sturridge yang disamber Suarez di luar dugaan rekannya (lihat polanya? “Duet” mitos?) dan tendangannya mengenai tiang gawang luar. Foul Sagna terhadap Suarez yang diambil cepat oleh Suarez meskipun tahu wasit telah meniup peluit dan akan mengkartu-kuningkan Sagna, sama sekali bukan peluang gol. Pemain Arsenal berhenti mengejar bola setelah mendengarkan bunyi peluit tersebut. Hanya imajinasi dalam level tinggi yang berpikir itu adalah peluang gol.

Dua peluang bersih Liverpool dibandingkan dua peluang Giroud, dua tembakan Ozil ke kiper, satu tembakan Ramsey ke kiper, dan satu tembakan Rosicky yang ditepis kiper, plus dua gol Arsenal. Jelas dari segi peluang bersih, Arsenal lebih unggul. Dan keunggulan itu tercermin dalam jumlah gol yang tercipta malam itu. Arsenal 2, Liverpool 0.

Bukan Liverpool yang lemah, namun Arsenal musim ini memang bukan lagi sekedar pesaing untuk empat besar

Namun jangan salah artikan bahwa artikel ini menganggap remeh Liverpool. Jelas tidak. Liverpool adalah tim yang bagus. Mungkin untuk musim ini dari lawan-lawan yang sudah dihadapi Arsenal, hanya Dortmund yang lebih baik daripadanya. Liverpool jelas dapat dianggap salah satu kandidat empat besar EPL. Sebuah peningkatan mengingat telah cukup lama Liverpool tidak lagi bersaing di kompetisi Liga Champions (tepatnya 4 musim). Bukan Liverpool yang lemah, namun Arsenal musim ini memang bukan lagi sekedar pesaing untuk empat besar.

Apabila Arsenal saat ini memimpin dengan cukup nyaman di EPL, tidak demikian halnya dengan di grup neraka Champions League. Bila Arsenal gagal mendapatkan satu poin pun dari pertandingan malam ini melawan Dortmund, maka Arsenal mungkin hanya akan finish di posisi runner-up walaupun menang di dua pertandingan terakhir. Satu poin adalah hasil minimal untuk malam ini dan tiga poin adalah balas dendam yang memuaskan.

Sulit membuat preview untuk pertandingan ini selain Arsenal rasanya akan mengulang formasi yang sama saat melawan Liverpool. Gibbs dikabarkan bisa ikut tim ke Dortmund dan Gnabry juga masuk cadangan. Bila Gibbs cukup fit, ia akan dimainkan dan bila tidak, Monreal adalah pengganti yang lebih dari cukup. Arsenal akan kembali mengandalkan 5 pemain tengahnya untuk mendominasi lapangan tengah di Dortmund.

Arsenal sudah mendapatkan pelajaran fatal saat bermain di kandang 2 minggu lalu. “If you can’t win, at least don’t lose,” kata Wenger. Pepatah sederhana ini mesti dijalankan malam ini. Permainan yang lebih hati-hati seperti saat melawan Muenchen musim lalu bisa diperagakan kembali. Level permainan Arsenal dan Dortmund tidak berbeda jauh. Bedanya adalah 80.000 supporter Dortmund yang jauh lebih gila dan militan daripada dukungan di Emirates Stadium. Saya akan sangat puas dengan hasil satu poin di pertandingan ini. Namun kalau Arsenal kembali bisa mematahkan prediksi, kenapa tidak?

Update sedikit soal Dortmund:
Klopp mengatakan ia suka pemainnya berlari lebih banyak daripada pemain lawan. Ia lebih suka musik heavy metal daripada orkestra (perumpamaannya untuk Wengerball). Wenger membalasnya dengan mengatakan bukan soal berapa banyak/jauh larinya yang penting, tapi bagaimana pemain berlari. Seringkali tim yang berlari lebih banyak justru kalah dalam pertandingan. Malam ini Arsenal bisa membuat pemain-pemain Dortmund berlari tanpa hasil bila kita bisa kembali memainkan “pinball”, membiarkan mereka mengejar bayangan bola.

Jika Arsenal bisa menguasai lebih banyak bola, melakukan pressing 3 detik recovery setiap kehilangan bola, dan kembali mempertahankan shape bila gagal merebut kembali bola, lalu membunuh lewat counterattack, maka besar kemungkinan Arsenal mampu mengalahkan Dortmund. Wenger pasti sudah mempelajari video saat Monchengladbach mengalahkan Dortmund musim ini. Mereka mengalahkan Dortmund dalam permainannya sendiri, serangan balik yang cepat. Szczesny paling tidak mesti tampil sebaik Ter Stegen malam ini.

Terus terang, sulit mencari kelemahan finalis Liga Champions musim lalu. Namun hal yang sama juga dapat dikatakan untuk juara Liga Champions yang kita kalahkan di kandangnya sendiri. Tim ini sejak kemenangan fenomenal tersebut bila tidak melakukan kesalahan, bisa mengalahkan siapa saja. Itu yang mesti diyakini setiap pemain Arsenal di lapangan.

Bila Arsenal dapat menang malam ini, empat pertandingan sisa di bulan ini akan dihadapi dengan kepercayaan diri yang makin tinggi lagi. Ada harapan nyata kalau November Rain akan berubah menjadi Sweet November.

Come On You Gunners!