Habis PHP, Terbitlah PEA

Fans Arsenal pastilah terbiasa mendengar kata PHP. Di sepuluh tahun terakhir era Wenger dan setelah Baku (final Europa League 2019), kita seringkali mendapatkan PHP bahwa inilah saatnya Arsenal kembali jaya. Bermula dengan Project Youth yang lahir pasca The Invincibles, Wenger melakukan regenerasi pemain dan perubahan gaya sepakbola Arsenal dari yang mengandalkan fisik dan kecepatan menjadi lebih teknikal. Pemain-pemain muda di antaranya Fabregas, Rosicky, Hleb, Flamini dan Van Persie tampil cemerlang di musim 2007-2008 dan sempat memberikan harapan kejayaan kembali Arsenal. Sempat memimpin klasemen di bulan Februari, penampilan Arsenal jatuh bebas di bulan Maret 2008 setelah cedera horor patah kaki yang dialami Eduardo.

Di musim 2010-2011 muncullah rising stars dalam sosok Wilshere, Ramsey, Nasri. Bersama Arshavin, Van Persie dan Fabregas, tim ini mengalahkan Barcelona 2-1 di leg pertama Champions League. Sampai akhir tahun 2010, Arsenal masih bercokol di peringkat kedua liga. Sama dengan 3 musim sebelumnya, mental tim muda mungkin lebih rapuh daripada tim yang berpengalaman. Semenjak kalah di final Piala Liga lawan Birmingham City tanggal di akhir February 2011 berkat blunder Koscielny dan Szczesny, posisi Arsenal di liga turun drastis. Hanya 2 kemenangan dalam 11 pertandingan terakhir membuat Arsenal harus puas di peringkat keempat, turun dari peringkat kedua. Wenger tak mampu mengangkat kembali moral tim mudanya saat itu. Kalau saja tim tersebut dapat bangkit dari kekalahan di final Piala Liga dan menang beruntun selama 10 pertandingan terakhir (di musim 97-98 mereka melakukannya), maka gelar juara liga sudah pasti di tangan. Fans kembali kena PHP.

Musim 2013-2014 menandai era PHP baru. Model Finansial Arsenal menjadi lebih kuat semenjak ada tambahan dana komersial dari sponsorship kit dan stadion yang baru. Mesut Ozil dibeli dari Real Madrid dengan rekor transfer 42 juta pounds. Satu musim berikutnya Alexis Sanchez didatangkan dari Barcelona. Kedatangan kedua pemain bintang ini membawa perubahan terhadap mental tim Arsenal. Trofi pertama pun diraih dalam bentuk FA Cup, mengakhiri musim kering selama 9 tahun tanpa trofi (sampai ada lagunya). Musim berikutnya kembali FA Cup diraih, dan setelah absen setahun, FA Cup kembali dimenangkan di tahun 2017. Tiga trofi dalam empat tahun. Namun di liga, Arsenal tak mampu bersaing dengan klub-klub besar lainnya yang lebih bermodal. Berturut-turut poin dan peringkat yang diraih sejak 2013-2014 s/d 2016-2017 adalah sebagai berikut: 79 (4th), 75 (3rd), 71 (2nd), 75 (5th). Arsenal pun harus puas hanya lolos ke Europa League di tahun 2017. Musim 2015-2016 adalah musim di mana Arsenal, jika sedikit lebih konsisten saja bisa menjadi juara liga dikarenakan semua tim besar lainnya saat itu juga sedang merosot penampilannya. Sayangnya, Leicester City-lah yang memanfaatkan peluang itu.

Musim 2017-2018 adalah musim terakhir Wenger. Ketidakpastian masa depannya dan dua pemain bintang (Ozil dan Sanchez) yang sisa kontraknya tinggal setahun bukan pertanda yang baik untuk memulai musim baru. Off the pitch, Ivan the Snake melakukan segala manuver untuk mengurangi kekuasaan Wenger dengan tujuan untuk kemudian mendepaknya. Bukan rahasia umum kalau Wenger menguasai segala hal di klub itu dan Ivan sebagai CEO hanya punya kuasa terbatas. Sven Mislintat bergabung di November 2017, disusul Raul Sanllehi di February 2018. Pergulatan kekuasaan di luar lapangan berdampak ke dalam lapangan. Sanchez dijual di tengah musim, kontrak Ozil diperpanjang. Wenger memutuskan untuk mundur dengan sisa kontrak setahun setelah penampilan timnya makin menurun. Arsenal pun finish di musim tersebut dengan hasil terburuk di era Wenger: 63 point dan peringkat ke-enam. Gazidis, Mislintat dan Sanllehi memilih Emery sebagai pengganti Wenger. Tidak lama kemudian Gazidis meninggalkan Arsenal untuk mengejar fulus yang lebih menggiurkan di AC Milan, sedangkan Mislintat kalah dalam pertarungan kekuasaan melawan Sanllehi dan akhirnya hengkang.

Era Emery, tidak usah dibahaslah ya. Lebih cepat dilupakan lebih baik. Mungkin rekan-rekan Gooners bisa memperhatikan kalau saya tidak menulis satu artikel pun tentang Arsenal di era Emery sedangkan sekarang sudah menulis lima artikel tentang Arsenal-nya Arteta. PHP era Emery sangat luar biasa mengecewakannya. Ditambah dengan sepakbola tanpa identitasnya yang seakan menjadi pengkhianatan terhadap legacy warisan Arsene Wenger. Hasil akhir musim pertamanya adalah dibantainya Arsenal oleh Chelsea 1-4 di Baku, memupus harapan untuk tampil di Champions League setelah dalam beberapa pertandingan terakhir di Premier League Arsenal juga gagal meraih poin yang diperlukan untuk tetap di peringkat ke-empat. Ending yang anti-klimaks.

Lalu apakah era PHP ini sudah berakhir? Kita harap demikian setelah melihat kedahsyatan tim Arsenal di bawah asuhan Arteta yang baru bergabung Desember lalu. Ia bergabung saat kondisi moral tim sedang parah-parahnya dan sepakbola Arsenal sedang kehilangan jati diri. Granit Xhaka sang kapten dicopot bannya dan bersitegang dengan fans. Mesut Ozil dipinggirkan oleh Emery. Average point per game di musim ini yang didapatkan Emery bahkan lebih rendah daripada musim terburuk Wenger (1.38 vs 1.65). Arteta memperbaiki penampilan timnya dengan memulai dari dasar, dari komitmen, semangat juang tim dan gairah bermain sepakbola. Perlahan, hasil di lapangan membaik dan identitas sepakbola yang baru pun terlihat.

Grafik di atas ini menggambarkan performa Arsenal di Premier League musim ini di bawah 3 “head coach” yang berbeda. Average point per game di bawah Emery = 1.38, Ljungberg = 1.00 dan Arteta = 1.65. Sebagai perbandingan Liverpool, sang juara memiliki average ppg = 2.61. Masih banyak PR Arteta untuk Arsenal mencapai level penantang serius gelar juara EPL. Namun Arsenal bisa sedikit banyak terinspirasi oleh Liverpool-nya Klopp. Semenjak bergabung dengan Liverpool di Oktober 2015, berikut hasil setiap musimnya: 60 (8th), 76 (4th), 75 (4th), 97 (2nd) dan 99 (1st). Baru pada musim kelima Liverpool bisa meraih gelar juara namun setiap musim terlihat jelas peningkatan performa timnya dan terutama identitas sepakbolanya. Fans Arsenal mesti bersabar.

Habis PHP, Terbitlah PEA

PEA di sini bisa berarti Pierre-Emerick Aubameyang atau Percaya Era Arteta. Kedua figur ini berperan sangat penting musim ini terutama dalam mendapatkan gelar juara FA Cup yang ke-14. Mari kita bahas sedikit mengenai hasil pertandingan yang luar biasa ini.

Di tulisan saya sebelum pertandingan, saya menuliskan soal prediksi line up yang terbukti tepat. Baik Arsenal maupun Chelsea memainkan formasi 3-4-3 walaupun dengan aplikasi yang berbeda. Video di bawah ini menjelaskannya dengan sederhana dan sangat baik:

Arsenal vs Chelsea Final FA Cup 2020 post analysis

Chelsea mendominasi 10 menit babak pertama. Ketiga penyerangnya bermain sangat rapat dan dengan umpan-umpan pendek memanfaatkan kelincahan dan kemampuan dribble Pulisic dan Mount yang ditunjang dengan flick pass dan hold-up play Giroud. Arteta sudah mengantisipasi itu dengan meminta ketiga CB-nya bermain rapat pula. Chelsea hanya bisa menembus pertahanan lewat kontrol bola yang luar biasa dari Pulisic di kotak penalti lawan. 1-0 untuk Chelsea setelah Giroud one touch flick ke Pulisic hasil crossing Mount yang mengenai kaki Holding. Game plan Lampard berjalan dengan baik.

Para pemain Arsenal tidak panik dan sebaliknya menjalankan game plan yang disusun Arteta dengan sangat baik. Arteta sudah memprediksi kalau James, wing back kanan Chelsea akan bermain lebih maju daripada Alonso di sisi kiri Chelsea. Azpilicueta diminta Lampard bermain agak melebar ke kanan untuk mengantisipasi Aubameyang. Bertolak belakang dengan tiga striker Chelsea, Arteta memposisikan ketiga striker Arsenal berjauhan satu sama lain, karena kekuatan mereka memang di kecepatan, lebih direct daripada bermain dengan umpan-umpan pendek. Lacazette memainkan peran false nine untuk menarik Zouma maju ke depan, sementara Rudiger sibuk menjaga Pepe yang sering memposisikan diri di garis pinggir lapangan. Karena jarak antar CB Chelsea yang semakin jauh, selanjutnya tinggal lomba lari Aubameyang dan Azpilicueta. Arsenal memiliki senjata umpan panjang Luiz dan Tierney yang siap melakukan lob jauh setiap Aubameyang memberikan aba-aba. Bergantian dengan Maitland-Niles, sisi kanan pertahanan Chelsea diserang terus-menerus sampai Azpilicueta tertarik hamstringnya baru di menit ke-35 karena diajak lomba lari terus-menerus. 1-1 setelah Azpilicueta yang hopeless terpaksa menjatuhkan Auba di kotak penalti lawan dan Auba tidak menyia-nyiakan tendangan penalti tersebut.

Semenjak drink break di babak pertama, Arsenal mendominasi pertandingan. Pressing tinggi Arsenal lebih efektif daripada Chelsea yang terpaksa membuang bola jauh-jauh, dan Pepe hampir saja mencetak gol indah lainnya hasil pressing tinggi kalau saja Maitland-Niles tidak offside. Xhaka menempel ketat Jorginho, Ceballos selalu ada di mana-mana untuk recovery bola ataupun interception. David Luiz mematikan Giroud sepanjang pertandingan, tanpa ada satupun shot on goal. Giroud bahkan terpaksa berakting ditembak sniper saking putus asanya. Sayang sekali Arsenal tidak menambah jumlah gol di babak pertama.

Di awal babak kedua, Pulisic kembali mengancam. Untungnya pemain terbaik Chelsea ini juga ketarik hamstringnya. Kadang kita membutuhkan dewi fortuna di pertandingan penting seperti ini. Pedro yang menggantikannya tidak mampu memberikan kontribusi yang sama. Ceballos memenangkan duel udara lawan Pedro, Bellerin menjemput bola dan lari sepanjang 40 meter, melewati Rudiger dan ditackle oleh Christensen. Pepe yang membayangi lari Bellerin siap menyambut bola liar dan mengumpan ke Aubameyang dengan tenang. James tidak kelihatan di lapangan lawan meninggalkan Zouma yang bingung antara marking Lacazette atau Aubameyang. Ia melakukan fake untuk shoot dengan kaki kanan yang sudah diantisipasi Zouma, memindahkan bola ke kiri lalu melakukan lob shot ketika kiper Chelsea maju ke depan. 2-1 untuk Arsenal. Dua gol hasil counter attack cepat. Lampard tak punya jawaban.

Sekarang kita mengerti mengapa Arteta tidak memainkan PEA sebagai striker tengah dan sebaliknya Auba sangat mematikan dari sayap kiri. Arteta “mengorbankan” Lacazette yang bermain sebagai false nine sedangkan Auba dan Pepe bermain lebih mirip sebagai dua penyerang utama saat Arsenal melakukan counter attack. Laca bertugas melakukan pressing tinggi saat bertahan, dan menarik maju bek lawan saat Arsenal menyerang, menciptakan ruang yang cukup untuk kecepatan lari Aubameyang. Terutama saat melawan pertahanan 3 CB, Aubameyang akan sangat efektif karena umumnya CB tidak secepat full back, ketika ditarik ke kiri kanan lapangan akan meninggalkan ruang kosong yang amat lebar. 29 gol dicetak Aubameyang musim ini yang hampir tidak pernah dimainkan sebagai penyerang tengah.

Semua penyerang Arsenal juga lebih disiplin saat bertahan. Auba dan Pepe melakukan tracking back dengan rajinnya dan berlari dengan cepat ke depan saat counter (bandingkan dengan penyerang Chelsea). Arteta berhasil melatih mereka sebagai satu unit yang disiplin. Teringat dengan kata-katanya mengenai menderita bersama. Sebuah tim harus siap menderita di lapangan, dan kemenangan akan terasa lebih nikmat sesudahnya. Seluruh pemain Arsenal yang bermain saat itu menjiwai filosofi ini dan mereka sangat menikmati hasilnya di akhir pertandingan. Pengorbanan yang pantas untuk diberikan.

Malam itu, semua pemain Arsenal tampil prima dan bisa dianggap men of the match. Mereka menghapus bayangan mimpi baruk di Baku melawan tim yang sama. Aubameyang sedikit di atas performa seluruh tim karena eksekusinya yang luar biasa. Sang nomor 14 mempersembahkan FA Cup ke-14 untuk Arsenal. Tidak ada script yang lebih sempurna.

Sebuah tim harus siap menderita di lapangan, dan kemenangan akan terasa lebih nikmat sesudahnya.

Arteta sendiri sudah memenangkan pertarungan taktik dengan Pep, Klopp dan Lampard, dengan sumber daya yang lebih minim. Visinya sangat jelas, pemain percaya padanya sehingga eksekusi taktiknya di lapangan berjalan dengan baik. Ia menjadikan kelemahan timnya sebagai kekuatan dan mengeksploitasi kelemahan lawan dengan sangat dingin. Tim Arsenal ini lemah di tengah lapangan, kurang kreatif (apalagi dengan tidak dimainkannya Ozil), tapi Arteta memilih hal ini dengan sadar. Semenjak Project Restart, ia mengabaikan Ozil dan memilih mencetak gol lewat pressing tinggi ataupun counter attack yang mematikan. Ia percayakan lini depan kepada trio maut Laca-Auba-Pepe yang makin saling memahami satu sama lain. Ia patenkan duet Xhaka dan Ceballos yang juga semakin kompak dan sama baiknya dalam hal passing dekat dan jauh. Ia gunakan optimal senjata mematikan David Luiz, umpan panjang dan memilih Maitland Niles, pemain serba bisa yang sangat atletis untuk marking ketat pemain spesial lawan. Ia gunakan Soares untuk hadirkan rivalitas dan mengembalikan Bellerin ke posisi terbaiknya. Ia mengintegrasikan Tierney pasca cedera dengan sangat mulus ke dalam tim, baik sebagai LWB maupun LCB. Ia menumbuhkan kembali kepercayaan diri Mustafi, pemain yang dibuang oleh Emery. Dan terakhir, ia memberikan kepercayaan penuh kepada Emi Martinez yang dibayar berlipat ganda. Arsenal sekarang akan pusing memilih kiper utama untuk musim mendatang.

Dimulainya Era Arteta

Era Arteta kini resmi dimulai. The Arteta Way dimulai dengan revolusi mental, pelajaran tentang komitmen untuk menderita bersama, persiapan taktik yang matang, semangat tim dan gairah dalam bermain sepakbola, kalah maupun menang. Menyaksikan timnya Arteta bermain sepakbola membuat kita sadar kembali mengapa kita mencintai klub ini. Sepakbola Arsenal saat ini tidak selalu indah, namun saat kita melihat para pemain bermain demi satu sama lain, saat mereka memenangkan tackle, saat mereka melakukan pressing tinggi, saat mereka melakukan build-up play dengan tenang dari belakang, saat mereka tidak saling menyalahkan ketika kehilangan bola, sebaliknya saling menutupi ruang kosong rekannya, saat mereka melakukan fist bump ataupun high five, saat itulah optimisme terhadap Era baru ini hadir. Arteta adalah pelatih sepakbola modern yang mungkin lebih fasih soal taktik sepakbola modern daripada Wenger, namun ia juga tidak melupakan pentingnya sentuhan personal seorang manager terhadap pemainnya. Pentingnya bersikap bijak dan adil terhadap pemainnya. Para pemainnya mulai mencintainya sebagaimana mereka yang dulu bermain untuk Wenger. Cinta yang hadir dari kejujuran, kedekatan, dan juga rasa berterima kasih dan rasa hormat. Kombinasi hal terbaik dari Guardiola dan Wenger ini bisa berpotensi untuk menjadikan Arteta menjadi manager yang sangat baik, selama ia didukung oleh pemilik klub ini.

We are building something here. People can see we are building something and getting somewhere.

There is no better feeling than winning trophies. It has been a roller-coaster here, but to finish it like this is just brilliant.

The manager has had a big impact on this squad. We are improving. This is a process and we will have some bad results and ups and downs, but we all trust in this process 110 per cent.

Kieran Tierney

Pertarungan Berikutnya: Transfer Window!

Bila board Arsenal juga Percaya Era Arteta, mereka mesti mendukungnya di transfer window ini. Tugas pertama, pertahankan Aubameyang. Tugas kedua, melakukan jual-beli-pinjam yang cerdik. Arsenal tidak bisa tidak melepas pemain, untuk mendanai pemain baru. Menurut saya, paling tidak kita membutuhkan 1 CB utama, 1 CM, 1 AM dan sisanya tergantung siapa pemain yang dilepas.

Bila Ozil, Guendouzi, Torreira, Sokratis, Kolasinac jadi dilepas, maka Arsenal perlu mencari No.10 baru, 2 CM untuk melapis Xhaka dan Ceballos (yang ini harus extend loan atau sign permanen) dan 1 CB ditambah Saliba.

Sisi kreatif lini tengah adalah kelemahan utama Arsenal untuk bisa mendominasi pertandingan selain box to box Midfielder. Bila Thomas Partey jadi didatangkan, ia bisa menjadi box to box midfielder sekaligus complete midfielder yang dibutuhkan Arsenal. Ia bisa menjadi pemain yang mendikte tempo pretandingan seperti Xhaka, membawa bola seperti Ceballos dan mengantisipasi serangan seperti Torreira. Dengan demikian, Arsenal bisa menurunkan kembali No.10. Pertanyaannya siapa yang akan menggantikan Ozil? Nama Willian dan Coutinho disebut-sebut namun bagi saya keduanya bukanlah opsi yang menarik selain juga mahal. Arsenal perlu pemain seperti Kai Havertz yang sayangnya saat ini tidak terjangkau. Kita perlu pemain nyaman bermain di Zone 14. Sangat menarik ditunggu solusi Arteta untuk posisi itu.

Bila opsi di pasar tidak tersedia, dan fans Arsenal bisa bersabar sedikit, solusi internal untuk posisi No.10 itu sebenarnya ada. Bagi saya Emile Smith Rowe dan Bukayo Saka bisa menjadi jawaban musim depan. Mereka hanya butuh waktu untuk berkembang di bawah asuhan Arteta. Sebagaimana Wenger, Arteta juga memiliki kemampuan memoles pemain muda yang bertalenta, menjadi bintang. Ia sudah membuktikannya di City terutama dengan Sterling.

Jadi, Percaya Era Arteta?

Reinkarnasi Raja FA Cup

Arteta saat Arsenal menjadi juara FA Cup 2014

Malam ini, kita akan menyaksikan kemungkinan ditanamnya tonggak bersejarah pertama Arsenal era Arteta, kali ini dari pinggir lapangan. Di Final FA Cup 2014, Arteta memimpin skuad Arsenal di lapangan sebagai kapten pada hari bersejarah itu. Hari itu bersejarah, bisa menjadi hari yang membahagiakan karena mengakhiri masa penantian selama 9 tahun untuk trofi (trofi terakhir Arsenal saat itu FA Cup 2005) atau memperpanjang musim kering tanpa trofi klub. Meskipun Dennis Bergkamp pernah berujar kalau ia sangat menyukai Arsenal, dengan ataupun tanpa trofi, kita sebagai fans tentunya ingin sekali merasakan menjadi juara lagi, setelah sekian lama bersabar.

Saya masih ingat saat itu saya nonton bareng Final FA Cup 2014 yang diselenggarakan AIS Jakarta di Flavor Bliss Alam Sutera. Tulisan mengenai malam itu masih bisa dibaca di blog ini. Gooners mungkin juga masih ingat betapa hebatnya detak jantung kita saat Hull City memimpin 2-0 dan Arsenal butuh extra time dan gol ajaib Aaron Ramsey untuk memenangkan final tersebut. Malam itu menjadi malam yang sangat membahagiakan bagi fans Arsenal di generasi tersebut. Buat saya, lebih nikmat rasanya daripada saat Arsenal menjadi Invincibles, karena masa penantian untuk meraih trofi yang sangat lama. Bak air hujan yang baru turun setelah satu tahun masa kering, tentunya akan teraasa jauh lebih nikmat.

Semenjak itu, FA Cup seakan menjadi langganan Arsenal. Final berikutnya terjadi di tahun 2015 dan kemudian di 2017 dan keduanya dimenangkan Arsenal. Wenger pensiun sebagai manager dengan 7 trofi FA Cup dan berkontribusi untuk menorehkan sejarah Arsenal sebagai klub yang masuk ke final FA Cup terbanyak (20 final) dan juara FA Cup terbanyak (13). Pendek kata, Arsenal adalah Rajanya FA Cup dengan persentase 65% kemenangan di final sepanjang sejarah turnamen ini.

Mau tahu cerita di balik setiap kemenangan final FA Cup Arsenal, bisa cek di wikipedia, saya bantu dengan linknya: The Thirteen Classics (1930193619501971197919931998200220032005201420152017). Fakta lain yang menarik adalah dari semua final FA Cup Arsenal di bawah asuhan Wenger, ia hanya kalah di tahun 2001 dari Liverpool. Tujuh dari delapan final dimenangkannya sehingga persentase kemenangannya adalah 87.5%. Berbeda dengan 9 musim pertama Arsenal era Wenger yang memang mampu bersaing di semua kompetisi major dan FA Cup bukanlah trofi utama yang diincar, 3 trofi juara FA Cup Arsenal terakhir lebih berfungsi sebagai pelipur lara di akhir hasil Premier League yang mengecewakan. Meskipun demikian, 3 trofi FA Cup dalam 4 tahun (2014-2017) sempat memberikan secercah harapan kepada fans bahwa Arsenal bisa bangkit kembali untuk bersaing memperebutkan gelar juara liga. Sayangnya prestasi Arsenal semenjak musim 2016-2017 semakin merosot, dari peringkat 2 di musim 2015-2016, turun ke-5, 6, 5 dan terakhir di peringkat ke-8 musim ini. Dan malam ini kita kembali dihadirkan kemungkinan adanya pelipur lara untuk Gooners musim ini. Malam ini Arteta diberikan kesempatan mencetak rekor baru Arsenal di kompetisi ini, kemenangan ke-14 di turnamen sepakbola tertua di Inggris.

FA Cup Arsenal-nya Arteta

Walaupun peringkat akhir Arsenal di akhir musim ini yang terburuk dalam 25 tahun terakhir ini, Gooners yang mengikuti dengan cermat kiprah Arteta tidak akan terlalu bersedih saat memikirkannya. Identitas sepakbola tim ini mulai terlihat, demikian juga perkembangan mayoritas pemain Arsenal di bawah asuhan Arteta. Kita telah move on dari sepakbola era Emery yang membosankan. FA Cup sebenarnya dapat menjadi barometer yang tepat untuk menilai Arsenal-nya Arteta karena dari pertandingan pertama sampai final, tim ini diasuh olehnya.

Hasil Pertandingan Arsenal di FA Cup 2020

Dari screenshot di atas, bisa dilihat perjalanan Arsenal di turnamen ini. Arsenal memulai dengan mengalahkan timnya Marcelo Bielsa yang sedang naik daun di Championship (akhirnya mereka memenangkan Championship dan akan promosi ke Premier League musim depan). Pertandingan-pertandingan berikutnya semua dimenangkan dengan tidak mudah. Kemudian tibalah pertandingan melawan tim solid Sheffield United yang sangat menentukan, yang mana mental tim Arsenal diuji habis. Ceballos tampil sebagai pahlawan dengan mencetak gol kemenangan di menit terakhir.

Pertandingan melawan Manchester City di semifinal adalah penampilan terbaik Arsenal musim ini. Secara taktik dan mental Arsenal unggul atas Manchester City malam itu. Malam ini kita membutuhkan penampilan Arsenal yang sama, pertahanan yang solid dan counter attack yang mematikan. Build up yang tenang dan eksekusi finishing yang efisien. Arteta sudah membuktikan diri kalau ia bisa sangat tenang dan berpengaruh terhadap timnya, di big match melawan Liverpoold an Manchester City. Ia mampu memotivasi pemainnya untuk memberikan lebih dari 100%. Malam ini, semua pemain tahu, kemenangan di FA Cup ini akan sangat berarti bagi Arteta dan juga bagi kepercayaan diri mereka sendiri untuk musim mendatang.

Chelsea

Chelsea menutup musim ini dengan lolos ke Champions League. Hasil yang luar biasa untuk manajer muda Frank Lampard, terutama mengingat prestasi ini dicapai di tengah larangan transfer Chelsea. Mengandalkan pemain muda binaan akademi dan pemain baru satu-satunya Christian Pulisic yang berhasil dibeli sebelum larangan transfer, Frank Lampard berhasil menstabilkan kapal yang akhirnya berlabuh dengan mantap di peringkat keempat di akhir musim. Penampilan mereka sejak Project Restart cukup stabil dengan beberapa penampilan menonjol dari Giroud, Pulisic dan Mason Mount, tiga penyerang yang sangat berbahaya.

Di belakang mereka ada Kovacic yang penampilannya di musim ini lebih baik lagi semenjak dipermanenkan. Jorginho siap dengan umpan-umpan panjangnya kalau tidak sedang menjatuhkan diri teatrikal. Di sayap, James dan Alonso adalah wing back ofensif yang akan selalu maju menyerang. Chelsea akan bermain dengan 3-4-3, formasi yang sama dengan Arsenal.

Predikisi line-up kedua tim

Pulisic akan menyerang lewat dribble dan penetrasi di sisi kanan Arsenal dan Mount lewat crossing. Kedua pemain sayap ini sangat sering masuk ke dalam dari sayap untuk membiarkan overlapping dari wingback Chelsea. Keduanya sangat berbahaya, Mount dengan 8 gol dan 5 assist, Pulisic dengan 10 gol dan 7 assist untuk Chelsea musim ini.

Bila ada hal negatif dari kedua pemain sayap ini adalah keengganan mereka dalam melakukan tracking back. Hal ini bisa dieksploitasi pemain sayap Arsenal saat counter attack.

Giroud adalah pemain depan yang hold up play-nya lebih baik daripada semua striker Arsenal saat ini. Ia akan menjadi “bumper” untuk kedua pemain sayap ini dalam melakukan operan-operan pendek. Selain itu ia akan menjadi target man Chelsea yang demen crossing dari sayap. Dari 8 golnya musim ini di Premier League, 6 gol terjadi setelah Project Restart. Ia seperti lahir baru setelah lock-down Covid-19.

Untuk mengantisipasi pemain sayap Chelsea, Arteta bisa memilih menurunkan Ainsley Maitland-Niles dahulu. Namun bila ia ingin bermain lebih ofensif, Saka akan menjadi opsi yang lebih baik untuk menyerang sisi kanan Chelsea, berkombinasi dengan Aubameyang dan Xhaka. Sisi kiri Arsenal saat Saka bermain jauh lebih hidup dan ia memberikan kemampuan untuk memainkan kombinasi umpan pendek di sisi kiri lapangan.

Pemain depan Arsenal tidak kurang berbahaya. Di semua kompetisi musim ini Aubameyang mencetak 27 gol dan 3 assist, Pepe dengan 8 gol dan 9 assist, Lacazette dengan 12 gol dan 4 assist. Bila Saka (4 gol dan 11 asssist) dimainkan, daya serang Arsenal akan lebih kuat daripada Chelsea.

Perbedaan yang sangat jelas antara pemain depan Arsenal dan Chelsea adalah direct vs short pass. Chelsea akan bermain dengan umpan-umpan pendek sehingga akan bisa lebih lama dalam ball possession saat menyerang. Sebaliknya pemain depan Arsenal adalah tipe direct semua dan tidak nyaman dengan umpan-umpan pendek di sepertiga lapangan terakhir. Inilah kesulitan yang dialami Arsenal untuk membongkar dan penetrasi low block lawan. Dengan perbedaan style ini, Arsenal akan memilih bermain counter attack dan high pressing dan Chelsea sepertinya akan lebih dominan dalam ball possession.

Konsentrasi

Bukan rahasia umum lagi kalau masalah terbesar David Luiz adalah dirinya sendiri. Pemain dengan rekor memberikan 5 penalti musim ini harus fokus penuh dan menjadi tonggak utama pertahanan Arsenal malam ini, jika Arsenal ingin juara. Luiz di hari terbaiknya bisa tampil sangat baik, menghalau umpan crossing lawan dengan mudahnya dan memotong umpan cutback dari sayap ke pemain striker lawan. Tierney akan diberikan tugas untuk membantunya dan Holding di kanan. Ketiga pemain ini akan menjadi kunci suksesnya Arsenal malam ini.

Di tengah, duet Xhaka dan Ceballos semakin padu dan solid. Tidak ada yang perlu dikuatirkan soal lapangan tengah. Ceballos terutama seakan terlahirkan kembali. Ia melakukan interception, recovery, clearance, tackling dengan sangat baik di setiap pertandingan dan umpan-umpannya pun sangat akurat. Soal konsentrasi, lini tengah ini jauh membaik setelah Project Restart.

Di lini depan, trio Aubameyang, Pepe dan Lacazette semakin berbahaya. Pepe dan Auba terutama semakin terasa kliknya. Saat counter attack, ketiga pemain ini rasanya bisa mengatasi 3 CB Chelsea yang tidak begitu solid.

Emi Martinez

Pertandingan ini penting bagi semua pemain, staf dan fans Arsenal namun pertandingan ini memiliki makna paling spesial untuk Emi Martinez. Pemain yang sudah bergabung dengan Arsenal selama 10 tahun ini mengawali musim ini sebagai kiper cadangan namun sangat mungkin mengawali musim depan sebagai kiper utama Arsenal. Tidak ada yang kurang dari penampilan Emi setelah Leno cedera. Kelebihannya dibanding Leno adalah dalam menangkap bola hasil crossing. Dengan tubuhnya yang lebih tinggi, Emi sering menggagalkan serangan dari sayap lawan dengan mudahnya, menjemput bola sebelum menyentuh kepala pemain lawan, hal yang sangat dibutuhkannya malam ini.

Emi berlatih sangat keras selama lock-down dan dewi fortuna pun memberikannya kesempatan. Ia memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi, dan belief bahwa ia pantas menjadi kiper utama Arsenal. Saat ini ia berkesempatan meraih trofi pertamanya sebagai kiper di kompetisi utama, hasil jerih payah dan semangat tidak menyerah.

Percaya Arteta

Dua petandingan pasca kemenangan fantastis lawan City sempat mengurangi kepercayaan diri fans Arsenal akan kemampuan timnya. Arsenal kalah 1-0 melawan Aston Villa dan menang 3-2 lawan Watford dengan memberikan kesempatan Watford untuk kembali ke pertandingan setelah unggul 3-0. Dan kedua tim papan bawah ini sedang berjuang menghindari relegasi. Gooners mulai membayangkan skenario buruk musim lalu, di mana Arsenal dihajar Chelsea 1-4 di final Europa League, yang membuyarkan mimpi kembali ke Champions League saat itu. Hal itu bisa saja terjadi, namun saya percaya Arteta dan timnya mampu menghindari skenario terburuk itu.

Melawan Aston Villa, terlihat jelas tim Arsenal yang lelah dan terkuras mentalnya. Skuad ini tidak memiliki kedalaman sebaik tim besar lainnya sehingga pemain yang notabene sama terus digunakan Arteta. Lawan Watford, Arsenal sedikit melepas pedal gas setelah unggul 3-0. Arteta jelas sangat marah dengan penampilan yang inkonsisten tersebut. Satu minggu telah berlalu dan tim ini mestinya memiliki persiapan mental dan fisik yang cukup untuk pertandingan hari ini. Kondisi mental mereka perlu kembali seperti 2 minggu lalu, saat melawan Liverpool dan kemudian tiga hari kemudian melawan Manchester City. Arsenal di malam tersebut bisa mengalahkan tim manapun di liga ini.

Keyakinan terhadap Arteta paling jelas hadir dari para pemain. Hampir semua pemain (kecuali Ozil dan Guendouzi) memuji cara melatih dan manajemen Arteta. Mereka tidak menyangka Arteta akan sehebat ini. Taktik yang direncanakannya berhasil dieksekusi di lapangan dan terbukti efektif. Kemenangan demi kemenangan, terutama hasil perencanaan matang melahirkan kepercayaan terhadap managernya. Mereka ingin terus bersama Arteta meraih kesuksesan di masa depan dan memenangkan FA Cup ini akan menjadi bukti dari kepercayaan mereka.

Saat Arteta dan rekan-rekannya memenangkan FA Cup 2014, mereka melakukannya untuk manager-nya, Arsene Wenger. Saat itu bila Arsenal kalah, maka kontrak Wenger tidak akan diperpanjang. Wenger selalu membela dan melindungi pemainnya, dan di malam final tersebut, semua pemain Arsenal ingin memberikannya sebuah trofi penting, sebagai wujud terima kasih mereka atas kepercayaannya terhadap mereka. Mereka masih ingin memperpanjang babak akhir Wenger bersama Arsenal. Mengingat malam itu, Arteta berujar:

“I mention Arsène because we felt the responsibility to respond to him. He really deserved it because of the way he defended us. He protected all the players through some difficult moments and it was a moment of gratitude towards him from all of the players to say: ‘He deserves it, we want to stay with him.’ The best possible way to help was to win that trophy.”

Di FA Cup kali ini kondisinya berbeda. Kita baru saja membuka babak baru Arsenal bersama Arteta. Kemenangan malam ini bisa menjadi penting dan mempermudah persiapannya musim depan, dari soal kepercayaan diri pemain, mempertahankan pemain bintang, mendatangkan pemain baru (karena budget yang bertambah), namun tidaklah sesignifikan menjuarai trofi di tahun 2014, karena satu hal: waktu. Arteta memiliki banyak waktu untuk membenahi tim ini, menang ataupun kalah malam ini. Ia baru memulai revolusi-nya.

Namun bila Arsenal-nya Arteta menang malam ini, maka kita bolehlah meresmikan reinkarnasi raja FA Cup. Arsenal sebagai raja FA Cup di era Wenger, akan terlahir kembali di tangan muridnya, sang putera mahkota. Semoga kemenangan malam ini akan menjadi awal dominasi baru Arsenal, yang kita harapkan tidak hanya terbatas di FA Cup saja. Walaupun kita tidak bisa selebrasi bareng malam ini, saya rasa tidak ada yang menentang kalau tengah malam ini suasana di rumah akan sedikit dikejutkan dan diramaikan dengan seruan kemenangan.

Come On You Gunners!

Winning FA Cup The Arsenal Way

Menang FA Cup dengan Jalan Arsenal

Arsenal 3-2 Hull City

Cazorla (17), Koscielny (72), Ramsey (109) – Chester (3), Davies (9)

Arsenal, The 2014 FA Cup Winner
Arsenal, The 2014 FA Cup Winner

Begini rupanya cara mengakhiri puasa gelar hampir 9 musim. Trofi terakhir yang diraih Arsenal di Highbury adalah FA Cup (tahun 2005) dan sudah sepantasnya pula trofi pertama Arsenal di Emirates Stadium adalah FA Cup. FA Cup sebagai pembuka dan penutup sebuah babak, babak kering gelar di mana Arsenal mesti mengencangkan ikat pinggang, mesti membangun dan membayar stadion baru sambil berkompetisi dengan klub-klub sugar daddy dengan budget tak terbatas yang masuk ke liga Inggris 9 tahun belakangan ini (silakan baca artikel Model Finansial Arsenal).

Siapapun yang menulis “skenario” final FA Cup malam itu mesti diacungi jempol. Tidak ada cara yang lebih dramatis untuk mengakhiri puasa gelar ini daripada apa yang terjadi malam itu. Tertinggal 2 gol di 10 menit pertama, comeback Arsenal yang mencetak 3 gol di 110 menit sisanya membuat pertandingan tersebut menjadi pertandingan final FA Cup yang paling menarik dalam satu dekade ini. Wenger telah mendapatkan lima trofi FA Cup, namun trofi kelima ini saya yakin akan menjadi trofi yang paling dikenang fans Arsenal. Nilai historis dan dramatisnya pertandingan itu mungkin setara dengan kemenangan 14 kali beruntun Arsenal di musim 97/98 yang menyalip Manchester United dalam perburuan gelar juara liga. Atau 2 gol Michael Thomas di tahun 1989 di Anfield yang mengakhiri puasa gelar juara liga Arsenal selama 18 tahun! Bayangkan bila Arsenal menang mudah 3-0 atas Hull City di final kemarin. Fans Arsenal akan gembira karena mengakhiri puasa gelar namun rasanya mereka juga akan cepat melupakan pertandingan final ini. Yang diingat mungkin hanya momen saat para pemain dan manajer akhirnya mengangkat trofi FA Cup.

Winning FA Cup The Arsenal Way

The Arsenal Way di sini artinya jalan berliku untuk sukses, tanpa jalan pintas dan dilalui langkah demi langkah, dengan sumber daya sendiri. We earned the trophy, not buying it. Walaupun Hull City juga pantas meraih FA Cup ini, Arsenal berjuang keras untuk comeback dari ketertinggalan 0-2 dan memetik buah perjuangan keras itu. Arsenal memang melakukan transfer besar dengan membeli Ozil musim ini, namun itu adalah hasil “tabungan” dan kesabaran selama 8 tahun. Selain Ozil, skuad Arsenal terdiri dari pemain-pemain yang direkrut sejak muda atau murah (kisaran 10 juta pounds). Arsenal mencetak bintang, bukan membeli bintang layaknya klub-klub sugar daddy. Sanogo dan Ramsey yang direkrut sejak muda (dan cukup murah) menjadi kunci kemenangan malam ini. Dilengkapi dengan Santi Cazorla, Koscielny dan Giroud yang dibeli dengan harga hanya belasan juta pounds, mereka tampil lebih baik daripada Ozil, sang bintang mahal yang tampil kurang prima malam itu. Harga transfer pemain tidak serta merta menjadi ukuran kualitas pemain, apalagi di klub yang terkenal dengan filosofi mencetak bintangnya ini.

Skenario final FA Cup ini makin sempurna ketika pemain terbaik Arsenal musim ini, Aaron Ramsey, menjadi pencetak gol terakhir penentu kemenangan. Filosofi Arsenal yang dibangun Wenger terwujud dalam diri Ramsey. Direkrut saat berusia 17 tahun, dididik dengan Wengerball, mengalami cedera panjang, rehabilitasi dan kembali bermain, diragukan banyak orang termasuk fans Arsenal sendiri namun tidak oleh Sang Manager, dan akhirnya membayar kepercayaan managernya dengan performa konsisten yang mengejutkan semua orang. Kisah Aaron Ramsey seakan seperti kisah Gospel tentang create, fall, redemption and restoration. Dalam rentang waktu yang lebih lama, analogi serupa dapat kita temui dalam sosok Arsene Wenger selama membangun “kerajaan”-nya di Arsenal: mengangkat level harapan semua fans Arsenal (create), menjadi korban kesuksesannya sendiri, dikritik karena 8 musim tanpa gelar, ditinggal pemain-pemain terbaiknya (fall), terpaksa membongkar dan membangun ulang tim karena budget terbatas, dan akhirnya menjawab kritik malam itu dengan trofi FA Cup kelimanya (45% dari 11 trofi FA Cup sepanjang sejarah Arsenal) (redemption). Hanya Ferguson yang menyamai rekor jumlah trofi FA Cup tersebut dan Wenger berkesempatan memecahkan rekor tersebut dalam tiga tahun kontrak barunya yang akan ditandatangani dalam beberapa hari ke depan.

Kisah Aaron Ramsey seakan seperti kisah Gospel tentang create, fall, redemption and restoration

Kemenangan ini tidaklah mudah. Namun tidak ada final FA Cup yang mudah dalam satu dekade belakangan ini. Berikut adalah hasil 10 final FA Cup terakhir:

2004–05 Arsenal 0–0 dagger Manchester United Millennium Stadium 71,876
2005–06 Liverpool 3–3 dagger West Ham United Millennium Stadium 71,140
2006–07 Chelsea 1–0 * Manchester United Wembley Stadium (new) 89,826
2007–08 Portsmouth 1–0 Cardiff City Wembley Stadium (new) 89,874
2008–09 Chelsea 2–1 Everton Wembley Stadium (new) 89,391
2009–10 Chelsea double-dagger 1–0 Portsmouth Wembley Stadium (new) 88,335
2010–11 Manchester City 1–0 Stoke City Wembley Stadium (new) 88,643
2011–12 Chelsea 2–1 Liverpool Wembley Stadium (new) 89,041
2012–13 Wigan Athletic 1–0 Manchester City Wembley Stadium (new) 86,254
2013–14 Arsenal 3–2 * Hull City Wembley Stadium (new) 89,345

Bila ada yang bertaruh Arsenal akan menang lebih dari dua gol malam itu, pasti ia tidak membaca statistik di atas

Dua final dimenangkan lewat adu penalti dan dua lainnya dengan gol di extra time. Sisanya (6 final) adalah kemenangan dengan selisih hanya satu gol. Bila ada yang bertaruh Arsenal akan menang lebih dari dua gol malam itu, pasti ia tidak membaca statistik di atas.

FA Cup adalah turnamen tertua di dunia dan tidak kehilangan daya magis-nya hingga sekarang. Walaupun Wenger menempatkan FA Cup sebagai prioritas ketiga setiap musimnya (setelah Premier League dan Champions League), tidak berarti hal yang mudah untuk mencapai final dan memenanginya. Arsenal mengalahkan Tottenham, Liverpool, Everton dan Wigan (juara bertahan yang mengalahkan City) dalam perjalanan menuju final FA Cup kali ini. Kemenangan lewat adu penalti di semifinal lawan Wigan seakan menjadi preview final malam ini, dan pertandingan sulit kembali terulang. Tekanan ancaman 9 musim tanpa gelar dan ketertinggalan 2 gol di awal menjadi ujian berat bagi pemain, manager dan fans Arsenal malam itu. Namun akhirnya, hasil manis bisa kita petik, buah kesabaran dan keyakinan pada semboyan: Victoria Concordia Crescit. Keharmonisan antara fans, manager dan pemain akhirnya membuahkan kemenangan. A team of losers bertransformasi menjadi a team of winners.

Hanya Ferguson yang menyamai rekor jumlah trofi FA Cup tersebut dan Wenger berkesempatan memecahkan rekor tersebut dalam tiga tahun kontrak barunya…

Nobar AIS Jabodetabek

Momen historik itu saya saksikan di acara nobar bersama AIS Jabodetabek, acara yang diselenggarakan bersama beberapa klub supporter Arsenal regional wilayah Jabodetabek. Bertempat di Flavor Bliss Alam Sutera, Serpong, yang hanya 15 menitan dari rumah, saya tiba di lokasi sekitar jam 9 malam. Karena sebelumnya sudah membuat janji dengan boss AIS, Rawindraditya, dan dengan Wimar Witoelar, begitu sampai lokasi saya langsung mencari beliau berdua. Ratusan muda-mudi dalam kostum Arsenal sudah memenuhi lokasi. Beberapa layar lebar juga telah dipasang di panggung utama. Singkat kata, saya ketemu Wimar di salah satu resto di Flavor Bliss, dan bersama Liya dan Jason (warga Perancis fans Chelsea yang malam itu berkostum Arsenal) kami menuju lokasi nobar.

Ribuan Gooners di lokasi Nobar
Ribuan Gooners di lokasi Nobar

Windra sudah menyiapkan tempat di dekat panggung dan kami diundang untuk talkshow singkat di depan panggung sebelum pertandingan dimulai, tentang Arsenal tentunya. Bergabung dengan saya dan Wimar kemudian adalah Antony Sutton (Londoner yang juga wartawan sepakbola @JakartaCasual), Vincent Rompies (artis serba bisa fans Arsenal) dan Edwin Setyadinata (presenter bola yang juga mantan ketua AIS). Kami berempat ditanyai hal-hal seputar Arsenal. Semua narasumber optimis dengan kemenangan Arsenal malam itu, tentunya karena kami belum mengintip “skenario”-nya. Beberapa quote menarik yang bisa saya ingat dari para narasumber malam itu:

  • Wimar: “David Moyes sebenarnya cocok menangani MU. Ia bisa membawa MU stabil dan konsisten… di peringkat ketujuh.”
  • Wimar: “Momen paling bahagia musim ini… Nasri tidak terpanggil ke timnas Perancis.”
  • Vincent: “Kalau gue ikut nobar di WBH (Warung Bang Hoody), Arsenal selalu kalah. Karena sekarang bukan di WBH, gue mau ikut.”
  • Antony: “People in Asia usually support clubs like Man United, Liverpool, and lately Chelsea and City because of their success in winning trophies. Arsenal haven’t got any trophies in eight years yet the followers in Indonesia keep growing like this. Amazing.”
  • Benhan: “Delapan tahun tanpa trofi dan AIS malah tumbuh berkembang seperti sekarang. Di sini tidak ada plastic fans, karena plastic fans tidak akan mendukung tim tanpa trofi. Di sini semua real fans. Luar biasa kerja jaringan AIS.”
  • Edwin: “Dulu di tahun 2005 kami mengadakan nobar Arsenal paling hanya 15-20 orang yang ikut. Ini nobar terbesar dengan peserta terbanyak (3000 orang lebih) yang pernah saya ikuti.”

Talkshow AIS
Talkshow AIS

View Penonton dari Panggung
View Penonton dari Panggung

Usai talkshow, AIS merayakan ulang tahun kesebelasnya. Dilanjutkan dengan menyanyikan chant-chant ala Arsenal.

And it’s Arsenal, 
Arsenal FC, 
We’re by far the greatest team, 
The world has ever seen….

She wore, She wore,
She wore a yellow ribbon, 
She wore a yellow ribbon in the merry month of May,
And when, I asked, Oh why she wore that ribbon,
She said its for the Arsenal and we’re going to Wembley, Wembley, Wembley,
We’re the famous Arsenal and we’re going Wembley.

dan masih banyak lagi chant lainnya. Tidak lupa tentunya Windra memimpin chant wajib: “What do you think of Tottenham?” Serentak semua menjawab, “Shit!”

Rollercoaster 120 menit

Pertandingan dimulai dan saya kebetulan duduk bersama Wimar, Vincent dan Edwin. Sepanjang pertandingan kami sempat ngobrol dan “stress” bersama. Awal-awal chant non stop dari Gooners membahana di lokasi nobar. Baru berjalan tiga menit, kami terdiam karena gol dari Hull City datang tak terduga. Enam menit kemudian gol kedua dari Hull City kembali masuk. Bila gol pertama murni lahir dari keterkejutan Arsenal karena tendangan Huddlestone yang dibelokkan Chester, gol kedua mereka memiliki kontribusi kesalahan dari Fabianski yang gagal menepis bola ke luar lapangan. Tak pelak terlintas pemikiran bahwa Wenger salah memilih memasang Fabianski daripada Szczesny. Gol ketiga hampir terjadi bila Gibbs tidak berhasil menghalau bola sundulan yang mengarah ke gawang. Fabianski terlihat ragu menyambut bola-bola crossing Hull City sebaliknya mereka terlihat sudah latihan set pieces dengan sangat baik dan menggunakannya sebagai senjata anti-Arsenal di final ini. Arsenal terlihat seperti klub amatir melawan klub profesional di awal pertandingan ini.

Chant dari fans Arsenal menurun intensitasnya. Para Gooner di Flavor Bliss memegang kepalanya, terkejut dan tidak menyangka kebobolan 2 gol awal. Prospek trofi di depan mata memudar. Saya sendiri speechless seakan tidak percaya, masak kegagalan Carling Cup 2011 mesti terjadi lagi?! Final yang dirasakan akan berjalan mudah karena Hull City pernah dikalahkan 0-3 di kandang mereka sendiri oleh Arsenal beberapa minggu sebelumnya tiba-tiba menjadi seperti neraka. Beberapa fans Arsenal di lokasi nobar masih setia menyanyikan lagu-lagu penyemangat namun sebagian besar terdiam, terpaku, terpana, tak percaya dengan pemandangan skor di layar.

Arsenal mulai menyerang namun masih gagal melahirkan peluang bersih. Gooners menunggu-nunggu gol balasan yang tak kunjung datang. Saya berkata kepada Wimar bahwa minimal kita butuh satu gol di babak pertama untuk punya peluang menang. Santi Cazorla yang akhirnya menjawabnya. Gol dari tendangan bebas langsung yang langka terjadi musim ini, kali ini dieksekusi dengan indahnya. Serentak semua Gooner berdiri dari tempat duduknya, berteriak sambil melompat-lompat. Skor 2-1 di babak pertama memberikan harapan untuk comeback.

Bersama Wimar

 

Di babak kedua Arsenal lebih mendominasi namun beberapa peluang tidak berhasil diselesaikan Giroud, Podolski dan Ozil. Peluang penalti yang jelas juga diabaikan wasit. Hull City bertahan dengan baik. Kami mulai berpikir ini bukan harinya Arsenal. Saya berujar bahwa menjadi seorang Gooner memang cobaannya berat. Peluang mengakhiri puasa 8 musim tanpa gelar sudah di depan mata, namun tidak diambil-ambil juga. Istilah Vincent, seperti lagi puasa, terus melihat orang lain sudah pada buka puasa duluan, sambil minum es dengan nikmat di depan mata kita, dan kita masih harus menahan diri untuk buka puasa. “Arsenal like to do things the hard way”, kata Antony. Wimar mengatakan tak ada orang di dunia ini yang tahu skor pertandingan ini 30 menit ke depan. Sepakbola sungguh sulit ditebak. Wimar pasti belum membaca “skenario”-nya. 🙂

Wenger bertindak sigap menggantikan Podolski dengan Sanogo di menit ke-60. Tidak seperti biasanya, ia bergerak 10 menit lebih awal. Podolski yang tidak efektif digantikan Sanogo yang menurut saya keputusan tepat. Sanogo akan mengganggu konsentrasi pemain bertahan Hull City karena ia lebih nyaman bergerak di kotak penalti lawan daripada Podolski. Ada beberapa fans Arsenal yang terdengar mencemooh keputusan itu karena Sanogo belum pernah mencetak gol sekalipun dalam karirnya bersama Arsenal. Mereka jelas salah. Begitu Sanogo masuk, permainan Arsenal berubah. Lini tengah seakan menemukan outletnya. Ia membantu pergerakan Giroud karena dengan formasi 4-4-2 Arsenal sekarang memiliki 2 striker yang perlu diawasi. Corner kick yang menghasilkan gol Koscielny juga terjadi karena usaha tembakan Sanogo. Gol kedua Arsenal ini serentak membuat arena nobar meriah dengan flare, seruan, teriakan, pelukan, high-five 3000-an Gooner.

Flare Saat Gol Terjadi
Kemeriahan Saat Gol Terjadi

Babak kedua hampir usai, dan Wenger belum memasukkan Rosicky ataupun Wilshere. Saya saat itu menduga ia menyimpan mereka untuk extra time, menunggu pemain-pemain Hull City kehabisan stamina. Namun sulit untuk sabar menunggu kali ini. “Kalau sampai jadi adu penalti, saya tak yakin jantung ini kuat menontonnya”, ujar saya ke Wimar. Bukan Wenger namanya kalau tidak keras kepala, yakin dan sabar menunggu. Akhirnya ia melepaskan dua senjata terakhirnya di awal babak kedua extra time. Keputusan tepat karena kedua pemain enerjik ini mengoyak-ngoyak pertahanan Hull City. Ramsey mendapatkan beberapa peluang dan langsung menembak namun semuanya off target. Kami mulai mencela Ramsey, wah egois, wah bukan harinya, terlalu ngotot, dan lain-lain. Namun kengototan itu pula yang ternyata berbuah hasil. Einstein berkata, melakukan sesuatu yang tidak berhasil secara berulang-ulang adalah kebodohan. Ternyata pepatah itu tidak selalu benar. Bila gol pertama dan kedua Arsenal berasal dari set pieces, maka gol ketiga ini adalah gol sempurna Wengerball. Berawal dari Arteta ke Wilshere yang kemudian mengoper bola ke kotak penalti ke kaki Sanogo, dengan dua sentuhan Sanogo mengopernya ke Giroud dan kedua pemain ini bergerak ke arah berlawanan yang membuka pertahanan Hull City. Ramsey masuk ke kotak penalti dan Giroud yang mendengar seruannya melakukan back heel pass cantik. Tendangan first time dari Ramsey dan gol pun tercipta. Wengerball diselesaikan dengan manis oleh Wenger’s Man, pemain yang ia rayu secara pribadi dan renggut dari cengkeraman Ferguson, yang ia bina, pupuk, terus dimainkan saat semua orang di dunia berpendapat sebaliknya. Aaron Ramsey, nama yang tahun lalu masih dicemooh sebagian fans Arsenal, hari ini menjadi pahlawan Arsenal, legenda Arsenal karena apapun prestasinya setelah ini, ia akan tercatat dalam sejarah Arsenal sebagaimana Michael Thomas yang melesakkan dua gol di Anfield tahun 1989. Demikian pentingnya gol yang ia ciptakan malam itu dalam sejarah Arsenal. Puasa gelar hampir 9 tahun itu akhirnya berakhir. Aaron Ramsey adalah sosok pembukanya. Sosok pengakhir “kutukan” Emirates Stadium.

Sejak gol ketiga Arsenal itu tercipta, semua Gooner serentak berdiri dan tak ingin lagi duduk. Windra dan rekan-rekan pengurus AIS naik ke panggung dan memimpin chant dengan microphone. Kami terus bernyanyi tak henti-henti. Sepuluh menit tersisa terasa lama namun semua Gooner penuh percaya diri akan memenangkan pertandingan ini. Tak ada lagi keraguan. Skenario ini demikian sempurna. Tertinggal 0-2 dan melakukan comeback 3-2 dengan pemain terbaik Arsenal mencetak gol penentuan, di extra time. Tidak ada skenario yang lebih baik lagi. Arsenal ditakdirkan menjadi juara FA Cup 2014 dengan cara dramatis ini.

Peluit panjang berbunyi dan Gooner berpelukan, high-five dan larut dalam suka cita. Mungkin ada sebagian yang meneteskan air mata. Saya mengantarkan Wimar dan kawan-kawan ke parkiran dahulu dan menyempatkan diri kembali sejenak untuk melihat momen pengangkatan trofi oleh Wenger dan para pemainnya. Sayangnya, tidak semua momen tersebut ditayangkan beinSport.

One Arsene Wenger

Keesokan harinya foto-foto selebrasi Arsenal mulai muncul di media. Rasa haru memenuhi dada ini ketika melihat Wenger tersenyum lebar mengangkat trofi yang telah demikian lama berpisah darinya. Para pemain mengatakan mereka memenangkan trofi ini untuknya, sebuah ungkapan yang tulus dan penuh dengan penghormatan dan rasa terima kasih. Wenger selama ini selalu mempercayai pemainnya, melindungi mereka dari kritik media, dan dalam konteks tersebut wajar bila para pemain ini kemudian merasa berhutang budi kepadanya. Hutang budi ini dibayar tidak lain dengan cara memenangkan trofi untuknya.

The manager and players have been under a lot of pressure over the last couple of years, and this one’s for the manager, for the fans, who’ve always believed in us as well even when things weren’t going as well. ~ Aaron Ramsey

Arsene Wenger Fifth FA Cup

Vermaelen memberikan trofi FA Cup kepada Wenger setelah ia mengangkatnya. Tradisi yang tidak biasa karena umumnya manager akan mengangkatnya belakangan setelah semua pemain. Namun hal itu ia lakukan karena ia tahu persis betapa pentingnya makna trofi ini bagi Wenger. Wenger terlihat sumringah sekaligus lega. Tekanan besar selama 9 tahun seakan terlepaskan hari itu. Semua kekakuan Wenger juga runtuh di hari itu. Ia diangkat dan dilempar ke atas oleh para pemainnya, lalu dikejar Podolski dan disiram dengan champagne. Belum pernah Wenger terlihat sebahagia dan selepas itu selama karirnya di Arsenal. Gif di bawah ini menjadi buktinya.

tumblr_n5qhlxI4As1r5kkj0o4_250
Adegan Langka

The Bump

Secara pribadi, selain senang karena akhirnya klub yang saya dukung mengakhiri musim kering tanpa gelar, saya turut berbahagia untuk The Boss, Arsene Wenger. Obsesinya terhadap sepakbola dan cintanya terhadap Arsenal mungkin tak ada duanya. Bahwa ia telah menghadirkan sukses demi sukses di fase awalnya memegang Arsenal, menghadirkan rekor Invincibles yang tidak pernah bisa diulang oleh manajer lainnya, seakan terlupakan saat ia kemudian menjadi korban kesuksesannya sendiri ketika Arsenal tak mampu lagi bersaing dengan dua klub Sugar Daddy dan Manchester United. Wenger tidak sempurna, namun upayanya untuk mengangkat kembali Arsenal dengan segala keterbatasannya (budget untuk transfer dan gaji pemain karena beban stadion baru) tidak diragukan lagi. Wenger rela berkorban, menjadi martir di baris depan ketika board Arsenal menyembunyikan fakta bahwa Arsenal tak mampu bersaing dengan klub-klub lain soal belanja pemain, paling tidak sampai tahun 2014 (akhirnya dipercepat setahun karena kontrak baru dengan Emirates dan Puma membantu pencairan lebih awal). Penyembunyian fakta oleh board Arsenal itu tak lain agar klub ini tetap dipersepsikan sebagai klub elit, agar pemain bagus mau bertahan dan calon pemain tidak meremehkannya. Apa jadinya bila Arsenal mengakui mereka tidak punya budget transfer sama sekali dan mesti menjual pemain dahulu sebelum membeli pemain baru? Wenger dan board Arsenal sepakat untuk menyembunyikan hal ini meskipun konsekuensinya adalah Wenger seakan punya penyakit “enggan belanja pemain”.

Setiap tahun ia selalu memberikan “trofi” minimal peringkat keempat, dan ia dicela karena menganggapnya sebagai trofi. Padahal dari segi hadiah uang (minimal 30 juta pounds), partisipasi di Liga Champions jauh lebih besar dari hadiah uang juara turnamen domestik apapun. Selain itu berpartisipasi di Liga Champions akan memungkinkan sebuah klub untuk berpeluang menarik pemain-pemain top Eropa atau mempertahankan pemain-pemain terbaiknya. Tanya saja kepada klub seperti Everton dan Spurs, apakah finish di posisi ke-4 akan serasa seperti memenangkan trofi? Fans Liverpool juga merayakan “trofi” peringkat kedua mereka musim ini karena untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, mereka kembali ke Liga Champions (dan berpeluang besar menahan Suarez).

Namun kali ini “trofi sungguhan” berhasil diraih Wenger dengan tim yang menurutnya terbaik soal semangat dan kekuatan mental setelah era Invincibles. Tim Arsenal kali ini adalah tim campuran pengalaman dan semangat muda. Selama delapan tahun sebelumnya, Wenger mesti mengandalkan anak-anak muda dan baru beberapa tahun belakangan ini ia dapat melengkapinya dengan pemain berpengalaman dan satu-dua pemain bintang. Bandingkan lini tengah Arsenal saat itu (Denilson, Diaby) dan sekarang (Arteta, Ramsey). Walcott sendiri yang sempat bermain di dua periode tersebut mengatakan:

[The fans] have waited so long and since I’ve been here, this team has been the best I’ve worked with. It’s a fantastic response [from the fans] and we want more from these guys.

Baru musim ini pula Wenger bisa membeli pemain idaman khas Arsenal: Mesut Ozil. Ia berani membayar mahal karena budgetnya memang ada. Musim depan, ia bisa kembali membeli pemain idamannya karena budgetnya telah tersedia di tahun 2014 ini. Trofi FA Cup ini akan membungkam kritik tanpa gelar dari media dan dari Specialist in Failure yang sudah 2 musim tanpa trofi (baca: Jose Mourinho). Trofi ini juga akan sementara menyatukan dua kubu fans Arsenal: AKB (Arsene Knows Best) dan AMG (Arsene Must Go). Wenger bisa bebas menyusun ulang strategi transfer dan formasi untuk musim depan. AMG mesti rela menerima kontrak barunya karena trofi yang diiinginkan mereka telah didapatkan musim ini.

Bagi saya pribadi, Wenger adalah manusia terhormat dengan nilai-nilai pribadi yang tinggi. A man with honour. A great human being. Beberapa ungkapannya dalam video wawancara berikut ini bisa membuat kita terkagum-kagum dengan obsesi dan dedikasinya pada sepakbola.

“You have to sacrifice your life for this job.”

“Every defeat is a scar on your heart that remains for life.”

“The core of the build-up to training is done by me – I wouldn’t be in this job if it was just to sit behind a desk.”

“You have to prepare to week seven days a week for the whole year. I think I’ve worked hard in the last nine years than in the first five or six.”

Tidak diragukan lagi bahwa ia inginkan hal terbaik untuk Arsenal. Tuduhan bahwa ia “sengaja” tidak mengejar trofi untuk Arsenal karena pelit belanja pemain sungguh konyol dan tidak masuk akal. Berikan ia kesempatan kembali untuk menghadirkan masa kejayaan Arsenal yang pernah ia ciptakan. Biarkan imajinasinya terealisasi dalam tiga tahun ke depan. Kita pernah punya Invincibles, Doubles, Thierry Henry, Patrick Vieira, Robert Pires, Cesc Fabregas yang lahir dari kedua tangannya. Seorang Dennis Bergkamp (God) sekalipun baru menjadi juara dan legenda di Arsenal setelah Wenger bergabung dengan Arsenal.

Ia telah mengencangkan ikat pinggang selama delapan tahun belakangan ini dan saat ini baru mulai memanen hasilnya. Sebagaimana kisah Gospel seputar create, fall, redemption and restoration, saat ini adalah saat Restorasi Arsene Wenger, Restorasi Arsenal. Saya pribadi akan dengan sabar menyaksikan hasil karya terakhir dari One Arsene Wenger untuk klub tercinta kita ini, The Mighty Arsenal.

Semoga sukses ini menjadi yang pertama dari yang banyak, yang akan datang. COYG.