‘One Arsène Wenger’, Menjawab Keraguan Demi Keraguan

One Arsène Wenger, there’s only one Arsène Wenger…

Mereka meragukan Aaron Ramsey, musim ini Ramsey pemain terbaik Premier League.

Mereka meragukan duet Per Mertesacker dan Koscielny, musim ini duet tersebut menjadi tulang punggung pertahanan terbaik Premier League.

Mereka meragukan Olivier Giroud, musim ini Giroud begitu vital dalam permainan Arsenal (10 goal + 5 assist) sehingga semua fans Arsenal kuatir ia cedera.

Mereka meragukan dan meremehkan Bendtner, malam ini ia menjawab dengan satu gol cepat dan secara keseluruhan penampilan yang di atas rata-rata.

Mereka meragukan Arsenal mampu menjadi juara musim ini walaupun Arsenal sedang memimpin klasemen 4 poin di atas peringkat kedua dan hanya menyisakan 5 pertandingan sisa di paruh musim 2013/2014 ini…

Keraguan demi keraguan dijawab tim Arsène Wenger musim ini. Pertama Southampton yang saat tandang berhasil menang atas Liverpool dan seri melawan United, tumbang oleh Arsenal 2-0. Lalu Cardiff City yang di kandangnya berhasil menang atas City dan seri lawan United, takluk di kandang oleh Arsenal 3-0. Terakhir Hull City yang menumbangkan Liverpool 3-1, dihabisi Arsenal 2-0 dengan cukup nyaman. Dan lawan berikutnya adalah Everton yang kemarin berhasil menang atas tim mediocre United. Apakah Arsenal akan kembali menang akhir pekan ini? Apakah kemenangan atas Everton akan cukup menjawab keraguan para “pakar” sepakbola yang mengisi kolom tabloid dan talkshow di acara bola? Mungkin tidak akan cukup sampai Arsenal memegang trofi di bulan Mei nanti. Tapi kita tak peduli, karena kita lebih tahu daripada mereka. Kita mengikuti tim Arsenal ini sejak belasan atau bahkan puluhan tahun silam, minggu per minggu. Kita tahu persis apa bedanya tim bermental juara dengan tim yang miskin kematangan. Kita tahu persis saat Arsenal bertransformasi menjadi tim kandidat juara liga.

AKB vs WOB

Dua musim terakhir adalah kulminasi keraguan terhadap Arsène Wenger dari camp fans Arsenal sendiri. Kepergian Fabregas dan Nasri di awal musim 2011/2012 serta Van Persie dan Song di awal musim 2012/2013 membuat Arsenal mengawali musim dengan sangat buruk dan mesti berjuang keras untuk lolos ke kualifikasi Liga Champions di akhir-akhir musim. Walaupun mereka akhirnya berhasil, fans sudah terlanjur kecewa terutama dengan kebijakan klub untuk menjual pemain terbaiknya dan tidak menggantinya dengan pemain yang setara. Belum lagi adanya AST (Arsenal Supporters’ Trust) lewat juru bicaranya Tim Payton yang gemar mengkritik klub di muka publik. Menuduh klub menimbun uang 70-100 juta pounds dan menolak membelanjakannya. Fans Arsenal terbelah dua bak Laut Merah dibelah Nabi Musa. Ada AKB (Arsene Knows Brigade) yang percaya penuh pada Arsène Wenger dan WOB (Wenger Out Brigade) yang menganggap Wenger telah out of touch, keras kepala dengan idealismenya dan menolak membelanjakan uang yang disediakan klub untuknya (asumsi mereka). Bahwa kenyataan 8 tahun tanpa trofi adalah indikasi Wenger sudah tak pantas lagi memimpin klub ini. Kelompok WOB ini makin lama makin keras suaranya di publik (dipimpin oleh Piers Morgan yang jarang masuk akal), sedangkan kelompok AKB semakin lama semakin sedikit atau memilih untuk diam. Mereka menanti kesempatan, the second coming of Messiah, karena keyakinan total mereka terhadap Lord Wenger yang telah memberikan gelar demi gelar dan ciri khas baru pada Arsenal semenjak kedatangannya serta rekor Invincible yang tak akan dipecahkan lagi oleh tim manapun di masa depan.

Awal musim ini, dengan satu tindakan Wenger menghapus tuduhan bahwa ia menolak spending big. Dua tindakan tepatnya. Yang pertama adalah bid kontroversial 40 juta + 1 pounds terhadap Luis Suarez yang gagal, dan yang kedua tentunya pembelian spektakuler Mesut Özil dari Real Madrid senilai 42,5 juta pounds, rekor pembelian termahal kedua di liga Inggris setelah pembelian Fernando Torres oleh Chelsea. Jika WOB (jika masih ada) merasa pembelian Özil adalah karena tekanan keras dari mereka di awal musim ini, asumsi tersebut salah besar. Wenger memang keras kepala, namun ia tahu persis apa yang ia lakukan. Ia punya budget terbatas, sehingga ia selalu mengatakan hanya akan membeli top, top player yang memang pantas dibeli dengan nilai tinggi. Dan kesempatan musim ini tiba ironisnya dibantu oleh penjualan Bale ke Madrid. Kejadian di luar kewajaran yang memungkinkan Madrid membuang pemain terbaik kedua mereka ke Arsenal.

Wenger memang keras kepala, namun ia tahu persis apa yang ia lakukan.

Dan bila ada fans Arsenal yang masih berhalusinasi bahwa pemain sekelas Özil mau pindah ke Arsenal tanpa adanya Wenger, maka wawancara terakhir Özil di Majalah FourFourTwo edisi Januari 2014 membuyarkan ilusi tersebut. Ia mengatakan keputusannya untuk pindah ke Arsenal dari klub terkaya dunia didasari oleh trust yang ia rasakan dari Wenger, bukan karena adanya pemain-pemain Jerman di klub ini. Dan jelas bukan karena uang (PSG menawarkan gaji lebih tinggi). Wenger telah memantaunya sejak ia di Werder Bremen dan mencoba membelinya saat itu namun kalah oleh pesona klub sekelas Madrid. Özil kemudian cukup diyakinkan dengan sebuah panggilan telepon dari Wenger. Pindah ke sebuah klub di liga yang asing baginya, di usia di mana ia mungkin akan menghabiskan usia puncaknya, bukanlah sebuah tindakan yang mudah. Perlu keyakinan penuh kepada manager barunya untuk mengambil keputusan tersebut.

“Somehow this telephone call just flicked a switch in me,” Ozil told Die Welt. “I thought: ‘What he is telling me is what I have missed at Real: transparency, trust, respect. He told me exactly how he sees me [as a player], how he wants to use me, what he expects from me and what he hopes I will contribute.”

Sebesar-besarnya Arsenal di Inggris, di dataran Eropa Arsenal belum dilihat sekelas dengan Real Madrid, Barcelona dan Bayern Muenchen, raksasa-raksasa Eropa saat ini. Untuk Özil pindah dari Madrid ke Arsenal, klub yang belum pernah memenangkan Liga Champions ini, umumnya akan dianggap langkah mundur. Namun kepercayaannya terhadap Wenger yang dirasanya mampu mengembangkannya ke level yang lebih tinggi sebagaimana yang ia lakukan terhadap Henry, Pires dan Vieira (Bergkamp pengecualian karena tanpa perlu disentuh juga sudah level God-like) membuat Özil yakin ini adalah langkah maju bagi karier pribadinya. Bukan tidak mungkin dalam satu dua tahun ke depan Özil bahkan mampu bersaing dengan Messi dan Ronaldo untuk Ballon d’Or, sesuatu yang diyakini oleh Wenger.

Kisah lainnya adalah Aaron Ramsey. Ramsey di usia 17 tahun adalah pemain yang diperebutkan banyak klub elit Inggris di antaranya Manchester United, Everton dan Arsenal. Bahkan United sempat memposting berita bahwa mereka telah mendapatkan Ramsey di website resminya sebelum kemudian Arsenal “menculiknya”. Lagi-lagi perlakuan khusus dan penjelasan visi Wenger terhadapnya dan orang tuanya (yang menerbangkannya dengan pesawat jet pribadi ke Swiss untuk bertemu langsung) akhirnya meyakinkan Ramsey untuk menolak tawaran United dan memilih bergabung dengan Arsenal. Terbukti hal itu adalah pilihan tepat baginya. Lima tahun kemudian ia bermain dengan pemain sekelas Mesut Özil, Santi Cazorla, Tomas Rosicky. Ia bisa saja melakukan kesalahan sehingga saat ini bermain dengan pemain seperti Anderson, Fellaini, Cleverley dan terpaut 12 poin dari pemimpin klasemen.

Kedua kisah di atas adalah bukti bagaimana manager masih menjadi yang paling penting dalam sebuah klub sepakbola. Manchester United yang menjadi juara liga musim lalu mendadak menjadi tim mediocre ketika ditinggal manager hampir tiga dekade-nya. Saat klub terpuruk maka managerlah yang akan dipecat. Dengan kesimpulan ini maka eksistensi WOB menjadi tidak relevan lagi selama Arsenal berada di peringkat pertama, bermain dengan baik dan memimpin dalam pengejaran gelar liga Inggris. Untuk sementara ini mari kita semua berperan sebagai AKB. Percayakan pada Wenger karena tim ini memang miliknya, dibangun olehnya dan sejauh ini telah berhasil menjawab keraguan demi keraguan baik dari fans sendiri maupun dari pihak luar. Keraguan itu lenyap di Emirates Stadium kemarin, seluruh fans menyanyikan chant ‘One Arsène Wenger’ saat Arsenal tampil begitu dominan melawan Hull City, pemandangan yang kontras dengan atmosfer di stadion di hari pertama musim ini.

…eksistensi WOB menjadi tidak relevan lagi selama Arsenal berada di peringkat pertama, bermain dengan baik dan memimpin dalam pengejaran gelar liga Inggris.

Cukuplah pihak luar yang meragukan Arsenal, meragukan kita. Saat ini hendaknya semua fans berdiri di belakang tim, di belakang manager, dan meyakini “we can win the league.” Video dari ArsenalFan TV (yang berisi wawancara-wawancara dengan fans usai pertandingan) ini pas untuk menutup bagian ini: Fans Apologises to Arsene Wenger.

 

Menang dengan Bermain Indah

Bergkamp mengatakan di biografinya bahwa filosofi Arsenal bukan hanya bermain indah, namun menang dengan bermain indah. Menang menjadi targetnya dan bermain indah adalah pendekatannya, caranya. Di awal babak pertama dan kedua saat melawan Hull City, Arsenal tampil luar biasa dengan passing-passing yang cepat dan akurat. Pergerakan pemain yang cepat membuat Hull City kebingungan untuk mengikutinya. Sayang saja Bendtner bukan striker reguler sehingga ia hanya dapat mencetak satu gol. Namun gol yang dicetaknya tidak kalah cantiknya dengan gol-gol Arsenal musim ini. Berawal dari pertukaran bola yang cepat antara Ramsey, Rosicky dan Jenkinson di sisi kanan, crossing akurat Jenkinson disundul oleh Bendtner secara terarah, keras menuju gawang. Gol di menit awal babak pertama tersebut kemudian ditambah dengan gol di menit kedua babak kedua yang juga hasil ping-pong bola yang cepat di sisi yang berlawanan. Kali ini aktornya adalah Monreal, Ramsey dan Özil.

Ramsey bergerak bebas dari kiri ke kanan ke tengah, ia ada di mana-mana! Ditopang oleh trio Rosicky, Cazorla dan Özil yang terus mengalirkan bola dengan cepat, Ramsey berkali-kali masuk di posisi yang berbahaya. Total 6 tembakan ia lakukan di pertandingan ini (terbanyak dari semua pemain di pertandingan ini), dengan satu tembakan keras yang membutuhkan penyelamatan cemerlang dari kiper Hull City. Ia mengembalikan assist Özil di Cardiff City dengan assist yang tak kalah cantiknya lewat reversed pass di depan kotak penalti lawan. Özil menyelesaikannya dengan kalem. Dua gol ini tidak mengilustrasikan dominasi Arsenal yang begitu mutlak di pertandingan ini, namun Arsenal bisa berpuas diri karena pencapaian ini dilakukan dengan rotasi pemain yang melebihi batas Wenger pada umumnya.

Rotasi yang Berhasil

Wenger melakukan pergantian lima pemain di starting line up dari pertandingan sebelumnya. Masuk Monreal, Jenkinson, Flamini, Rosicky dan Bendtner menggantikan Gibbs, Sagna, Arteta, Wilshere dan Giroud. Kelima pemain ini bisa diprediksi akan digunakan kembali saat melawan Everton. Kecuali Jenkinson dan Bendtner, para pemain pengganti ini sudah sering dipakai di beberapa kesempatan musim ini sehingga rotasi pemain ini tidak merusak keseimbangan tim. Walcott belum dipasang sejak awal karena masih sakit (bukan cedera) dalam beberapa hari terakhir. Ia tidak mengikuti sesi latihan penuh di hari Senin. Mungkin untuk Everton pun ia belum dapat dipasang di awal pertandingan.

Kelima pemain “pengganti” ini bermain dengan sangat baik. Manfaat kebugaran fisik sangat terlihat. Monreal dan Jenkinson bekerja tanpa lelah naik turun menyusuri garis pinggir lapangan. Monreal bahkan tampil cemerlang, siap berikan kompetisi yang berat terhadap Gibbs. Jenkinson tampil lebih baik daripada penampilan-penampilan sebelumnya dan crossing akuratnya kembali menemukan tempat. Flamini seperti biasa tampil bak jenderal lapangan. Ia juga dapat berkolaborasi dengan baik bersama Arteta di 15 menit terakhir babak kedua. Rosicky seperti biasa membuat publik lupa terhadap usianya. Interception, tracking back, tackling dilakukannya bak pemain muda yang tak takut dengan cedera. Dan terakhir Bendtner seperti yang telah diulas di atas, menjawab keraguan dengan satu gol penting dan penampilan di depan yang lumayan. Tidak se-dominan Giroud namun cukup untuk merepotkan tim sekelas Hull City. Ia bahkan sempat hampir memberikan assist kepada Özil lewat crossingnya yang seakan merekonstruksi crossing Jenkinson kepadanya.

Hasil Klub Lain

Prediksi hasil-hasil klub lain di bulan Desember yang saya tulis kemarin, hampir akurat. Kecuali hasil MU melawan Everton, tim-tim besar lainnya menang. MU tampil lebih buruk dari dugaan, Moyes bahkan tak dapat mencuri satu point pun dari klub lamanya. Hasil ini menjadi legitimasi bagi era baru Everton di bawah Roberto Martinez, bahwa pemilihan ia menjadi manager Everton adalah pilihan tepat board klub tersebut setelah kepergian pahit Moyes. MU yang sekarang terpaut 12 poin dari Arsenal sulit dianggap sebagai kompetitor serius, kecuali jika mereka berhasil meraih 5 kemenangan berturut-turut di bulan Desember.

Chelsea dan City menang, namun tidak meyakinkan. Chelsea nyaris seri di kandang Sunderland. Stoke City mungkin dapat memberikan perlawanan yang lebih berarti akhir pekan ini. Manchester City sendiri memberikan dua gol di akhir-akhir pertandingan. Soal penyerangan City memang yang terbaik untuk saat ini (mencetak 40 gol) namun masih banyak PR di lini pertahanan mereka, terutama saat pertandingan tandang.

Empat gol Suarez lawan Norwich City membuktikan dirinya adalah striker terbaik Premier League dan menjelaskan mengapa Arsenal sangat menginginkannya di awal musim ini. Gol dari tembakan jarak jauh, jarak dekat, aksi individu, dan tendangan bebas menjadikan dirinya sebagai striker yang komplet sekelas Henry. Arsenal telah lama tidak memiliki striker seperti ini pasca Henry, yang punya kecepatan, teknik, kekerasan dan keakuratan tembakan. Liverpool tak akan menjual aset berharganya di Januari nanti namun juga akan sulit menahannya di akhir musim nanti. Bisa tidaknya Liverpool finish di posisi keempat akan tergantung penampilan Suarez musim ini. Dengan penampilan Suarez yang seperti ini, rasanya Liverpool mampu mencuri poin dari Tottenham, Chelsea dan City. Prediksi Desember tersebut sepertinya mesti diralat segera.

Mitos “Harus Mengalahkan Klub Besar”

Salah satu argumen yang beredar di pundit bola mengapa Arsenal belum pantas dianggap sebagai penantang juara utama adalah karena Arsenal belum mengalahkan klub besar seperti Manchester United, Manchester City dan Chelsea. Memang pertandingan antara tim besar adalah pertandingan “six pointer”, yang artinya selisih antara menang dan kalah adalah 6 poin. Contohnya saat Arsenal melawan MU beberapa pekan lalu. Saat itu selisih poin Arsenal dan MU adalah 8 poin. Jika Arsenal menang, selisih poin menjadi 11 dan jika Arsenal kalah selisih poin menjadi 5. Jarak 11 dan 5 adalah 6 poin. Maka dengan hasil kalah di pertandingan tersebut, Arsenal kehilangan 6 poin potensial. Dengan alasan tersebut, mengalahkan tim rival dalam pertandingan six pointer menjadi amat penting.

Namun kenyataannya tidak seperti hitung-hitungan di atas kertas. Memang six pointer vital bagi rivalitas tim yang setara. Tetapi mengalahkan tim kecil juga tidak kalah penting. Tiga pertandingan setelah MU vs Arsenal, jarak antara MU dan Arsenal yang sempat diperkecil menjadi 5 poin sekarang menjadi 12 poin. Tiga kemenangan Arsenal berturut-turut dan hasil seri-seri-kalah MU membuat kemenangan six pointer MU terhadap Arsenal tersebut dengan cepat dapat dinegasikan dampaknya. Itu karena MU tidak mampu meraih angka sempurna di pertandingan lainnya.

Berkat bekal hasil melawan klub-klub “kecil”, Arsenal bisa lebih tenang dalam memasuki pertandingan six pointer melawan rival beratnya, dibanding mereka

Untuk Chelsea dan Manchester City yang relatif lebih konsisten daripada MU, six pointer dengan mereka menjadi penting. Misalnya saat ini selisih poin Chelsea dan Arsenal 4 poin. Jika Arsenal menang selisih menjadi 7 poin, bila kalah menjadi 1 poin. Dengan Man City, menang jadi 9 poin, kalah jadi 3 poin. Dan karena Chelsea dan Man City terus-menerus mendulang poin dari tim kecil, hasil menang melawan mereka menjadi penting. Jika tidak bisa menang, paling tidak seri agar selisih poin tetap terjaga. Sebaliknya bagi mereka, kemenangan melawan Arsenal menjadi target utama bulan ini, seri saja tidak cukup. Berkat bekal hasil melawan klub-klub “kecil”, Arsenal bisa lebih tenang dalam memasuki pertandingan six pointer melawan rival beratnya, dibanding mereka. Arsenal cukup “tidak kalah” sedangkan mereka “mesti menang”. Hal tersebut sudah cukup untuk memposisikan Arsenal di atas angin dalam perburuan “gelar” juara paruh musim ini.

Enam pertandingan lagi di bulan Desember, tak ada yang bisa kita perbuat sebagai fans kecuali menonton pertandingan, mendukung penuh tim dan percaya kepada nyanyian klasik yang sudah berusia belasan tahun ini:

One Arsène Wenger, there’s only one Arsène Wenger…

Advertisements

Desember, Pertarungan Juara Paruh Musim

Setelah berhasil meraih 9 poin dari 12 poin maksimum di bulan November, Arsenal dihadapkan dengan 6 pertandingan liga di bulan Desember. Bila November adalah soal mengatasi kutukan tahunan Arsenal, Desember adalah soal pertarungan memperebutkan gelar tidak resmi “Juara Paruh Musim”. Gelar tidak resmi ini bisa menjadi petunjuk kekuatan sebuah tim setelah setengah dari kompetisi dilalui. Kebetulan untuk musim ini, persis 19 pertandingan akan telah dijalani ke-20 klub EPL di penghujung tahun 2013 ini. Oleh karena itu keenam pertandingan di bulan Desember ini menjadi penentu siapa klub terkuat di paruh pertama musim 2013/2014 ini.

Prediksi Lima Klub Terkuat Paruh Musim

Hasil minggu lalu menempatkan Arsenal, Chelsea dan Manchester City di posisi yang diunggulkan dalam kompetisi Juara Paruh Musim ini. Kekalahan Liverpool dari Hull City dan hasil seri Tottenham vs MU membuat tiga klub tersebut mulai mengambil jarak dengan kompetitornya. Jarak poin antara klub peringkat pertama (Arsenal) dengan peringkat kedelapan (MU) memang belum begitu jauh, hanya 9 poin. Dengan 18 poin maksimum yang tersedia untuk diraih masing-masing klub di bulan Desember ini, secara matematis MU yang di peringkat ke-8 masih bisa meraih predikat juara paruh musim ini dengan catatan klub-klub di atasnya gagal meraih banyak poin.

 

Namun bila kita melihat jadwal dari klub-klub yang sementara menduduki posisi empat besar ini (Arsenal, Chelsea, Manchester City dan Liverpool) dan jadwal dari sang juara bertahan, secara realistis kecil kemungkinan MU dapat menduduki peringkat pertama di akhir tahun ini. Sebaliknya Arsenal dan Chelsea-lah yang paling berpeluang untuk menjadi juara paruh musim, dan mungkin Manchester City bila tim tersebut berhasil meraih 6 kemenangan berturut-turut. Di bawah ini adalah tabel prediksi saya untuk hasil klub big four + incumbent di bulan Desember ini:

Kandidat Juara Paruh Musim

Tabel Pertarungan Juara Paruh Musim

Catatan: font berwarna hitam menang, hijau seri, merah kalah

Dari fixture di atas, MU mendapatkan jadwal pertandingan yang relatif lebih mudah daripada kompetitornya dan Liverpool terberat. MU tidak perlu menghadapi klub 4 besar, dan mungkin hanya 2 pertandingan Home yang akan sedikit menyulitkannya, Everton dan Newcastle. Mari kita prediksi hasil terbaik MU adalah 5 kemenangan dan 1 seri (melawan Everton), maka poin max yang akan diraihnya adalah 16 poin. Namun dengan konsistensi MU sekarang, bukan tidak mungkin mereka akan meraih poin yang lebih sedikit lagi. Peringkat max untuk MU di akhir tahun: 4.

Liverpool mendapatkan jadwal terberat karena mesti bertandang ke Manchester City dan Chelsea yang keduanya sangat sulit dikalahkan di kandangnya. Mereka juga mesti bertandang ke Tottenham. Prediksi saya untuk Liverpool: 2 kekalahan di City dan Chelsea serta hasil seri di Tottenham. Dengan demikian Liverpool bisa tergeser ke posisi ke-5 atau lebih bawah lagi karena poin yang diraihnya hanya 10 dari max 18.

Manchester City mendapatkan jadwal yang kurang lebih sama dengan Chelsea. Perbedaannya ada pada City mendapatkan 2 pertandingan kandang saat melawan Arsenal dan Liverpool dan Chelsea 1 kandang, 1 tandang. Namun rekor away City yang demikian buruk musim ini membuat saya prediksi mereka akan kehilangan 2 poin di salah satu pertandingan tandang saat melawan West Brom atau Southampton. Sisanya hasil seri melawan Arsenal dan menang di empat pertandingan lainnya. Dengan 14 poin, City bisa memantapkan posisinya di peringkat ke-3. Bila memenangkan keenam pertandingan mereka bisa berada di puncak klasemen.

Chelsea diharapkan untuk menang dari 5 pertandingan dan seri melawan Arsenal. Chelsea akan semakin solid di peringkat kedua dan memperpendek jarak dengan Arsenal. Sunderland dan Stoke City Away bukanlah pertandingan yang sulit bagi mereka. Asalkan mampu menghindari kekalahan saat melawan Arsenal dan menang atas Liverpool, mereka akan menjadi tim yang meraih poin terbanyak selain MU di bulan ini.

Arsenal sendiri paling dekat dengan predikat juara paruh musim selama mereka tidak kehilangan poin saat melawan 4 tim selain Chelsea dan City. Dengan keunggulan 4 poin saat ini atas Chelsea, Arsenal masih “dibolehkan” meraih 2 hasil seri saat melawan Chelsea dan City. Bila kalah dari kedua tim tersebut, Arsenal akan sulit untuk dapat bertahan di peringkat pertama. Performa di bulan November mesti diulangi lagi di bulan ini. Maksimum satu kekalahan atau dua seri dari enam pertandingan krusial tersebut.

Bila semua berjalan sesuai skenario di atas maka peringkat 1-5 di akhir tahun yang juga paruh musim ini: 1. Arsenal, 2. Chelsea, 3. Man City, 4. Man United, 5. Liverpool.

Tantangan untuk tim Arsenal saat ini adalah: mampukah mereka menahan atau bahkan menang dari Manchester City, yang sampai saat ini meraih hasil sempurna di kandangnya? Mampukah mereka bermain lebih pragmatis dan lebih efisien saat melawan Chelsea di Emirates Stadium daripada saat pertemuan kedua klub di Capital One Cup? Kedua tantangan ini akan dapat dijawab dengan baik oleh Arsenal jika Wenger memainkan kartu trufnya dengan sempurna, yaitu: rotasi pemain.

Rotasi Pemain

Wenger sudah menyadari pentingnya rotasi pemain di 7 pertandingan di bulan Desember ini (termasuk satu pertandingan penentuan grup UCL). Bulan Desember menjadi bulan yang lebih berat daripada November tahun ini karena padatnya jadwal pertandingan. Arsenal praktis bermain setiap 3 hari kecuali jeda antara pertandingan melawan City dan Chelsea. Sebelum dua pertandingan krusial tersebut, Arsenal mesti meraih 6 poin sempurna saat menjamu Hull City dan Everton dan minimal seri di Napoli untuk lolos sebagai juara grup F Champions League. Tidak mungkin 11 pemain yang sama dapat dimainkan Wenger di periode tersebut.

Strategi Wenger adalah mengganti tidak terlalu banyak pemain di starting line up setiap pertandingan, namun juga konsisten melakukannya di setiap pertandingan. Kabar baiknya untuk Wenger adalah ia memiliki stok pemain tengah yang cukup untuk rotasi ini. Untuk pemain belakang juga memadai selama tidak ada lagi pemain yang cedera. Kabar buruknya: Podolski belum bisa bermain paling tidak hingga 1-2 minggu mendatang dan kita hanya punya Giroud di depan. Membalut Giroud dengan selimut hangat setiap pertandingan usai dan tidak membebaninya dengan latihan berat mungkin adalah kunci sukses Arsenal bulan ini (j/k).

Hull City

Kebiasaan Wenger adalah tidak mengganti lebih dari 3 pemain dari pertandingan ke pertandingan liga. Menurutnya lebih dari itu akan merusak keseimbangan tim. Mari kita prediksi siapa yang akan ia mainkan saat melawan Hull City. Klub yang mampu mengalahkan Liverpool 3 hari lalu ini tidak dapat dianggap enteng. Namun Arsenal juga bukan Liverpool yang tidak solid di lini belakang dan tengah. Beberapa pemain dapat diistirahatkan di pertandingan kali ini untuk pertandingan melawan Everton akhir pekan nanti, yang pastinya akan lebih berat.

Ramsey bisa diganti oleh Rosicky, Arteta oleh Flamini dan Ozil bahkan juga dapat diistirahatkan. Dan karena Sagna juga cedera ringan, ia akan digantikan Jenkinson. Dan karena Jenkinson akan jadi titik lemah Arsenal, Wenger rasanya akan mempertahankan 3 pemain bertahan utama lainnya. Itu sudah 4 pemain yang digantikan. Mari kita bertahan pada aturan max 3 pemain yang diganti, maka prediksi saya adalah pemain yang diistirahatkan: Ramsey, Ozil dan Sagna.

Starting line up melawan Hull City:

Szczesny – Jenkinson, Mertesacker, Koscielny, Gibbs – Arteta, Flamini, Rosicky – Wilshere, Giroud, Cazorla

Subs: Fabianski, Vermaelen, Monreal, Ramsey, Ozil, Walcott, Gnabry

Wenger mungkin belum akan memasang Walcott sejak awal pertandingan karena itu akan merusak balance pemain kreatifnya yang sejauh ini telah berjalan baik. Namun bila ia ingin sedikit spekulatif dengan memainkan Walcott sejak awal, maka Hull City adalah lawan yang pas dibanding Everton. Intuisi saya memprediksi Wenger akan menggunakan Walcott lebih awal di babak kedua, mungkin menit ke-60.

Atau alternatif kedua bila Wilshere yang diistirahatkan, bukan Ramsey yang juga berarti Walcott akan dimainkan sejak awal:

Szczesny – Jenkinson, Mertesacker, Koscielny, Gibbs – Flamini, Ramsey, Ozil – Walcott, Giroud, Cazorla

Subs: Fabianski, Vermaelen, Monreal, Arteta, Rosicky, Wilshere, Gnabry

Lebih suka yang mana?

Bila alternatif pertama yang dipakai maka saat melawan Everton Wenger dapat menggunakan kembali Ramsey dan Ozil. Monreal juga dapat menggantikan Gibbs. Vermaelen mungkin akan dipasang saat melawan Napoli saat Sagna telah fit kembali. Namun tidak ada gunanya melakukan prediksi starting line up beberapa pertandingan ke depan bila kita belum tahu siapa saja yang akan turun malam ini.

Tiga poin mesti dikantongi Arsenal malam ini untuk memulai perjalanan mulus di bulan Desember. Walau bukan gelar sebenarnya, predikat Juara Paruh Musim akan menambah kepercayaan diri Arsenal dan membungkam media yang masih saja meragukan kemampuan tim ini untuk menjadi juara sesungguhnya di akhir musim nanti.

COYG!