‘One Arsène Wenger’, Menjawab Keraguan Demi Keraguan

One Arsène Wenger, there’s only one Arsène Wenger…

Mereka meragukan Aaron Ramsey, musim ini Ramsey pemain terbaik Premier League.

Mereka meragukan duet Per Mertesacker dan Koscielny, musim ini duet tersebut menjadi tulang punggung pertahanan terbaik Premier League.

Mereka meragukan Olivier Giroud, musim ini Giroud begitu vital dalam permainan Arsenal (10 goal + 5 assist) sehingga semua fans Arsenal kuatir ia cedera.

Mereka meragukan dan meremehkan Bendtner, malam ini ia menjawab dengan satu gol cepat dan secara keseluruhan penampilan yang di atas rata-rata.

Mereka meragukan Arsenal mampu menjadi juara musim ini walaupun Arsenal sedang memimpin klasemen 4 poin di atas peringkat kedua dan hanya menyisakan 5 pertandingan sisa di paruh musim 2013/2014 ini…

Keraguan demi keraguan dijawab tim Arsène Wenger musim ini. Pertama Southampton yang saat tandang berhasil menang atas Liverpool dan seri melawan United, tumbang oleh Arsenal 2-0. Lalu Cardiff City yang di kandangnya berhasil menang atas City dan seri lawan United, takluk di kandang oleh Arsenal 3-0. Terakhir Hull City yang menumbangkan Liverpool 3-1, dihabisi Arsenal 2-0 dengan cukup nyaman. Dan lawan berikutnya adalah Everton yang kemarin berhasil menang atas tim mediocre United. Apakah Arsenal akan kembali menang akhir pekan ini? Apakah kemenangan atas Everton akan cukup menjawab keraguan para “pakar” sepakbola yang mengisi kolom tabloid dan talkshow di acara bola? Mungkin tidak akan cukup sampai Arsenal memegang trofi di bulan Mei nanti. Tapi kita tak peduli, karena kita lebih tahu daripada mereka. Kita mengikuti tim Arsenal ini sejak belasan atau bahkan puluhan tahun silam, minggu per minggu. Kita tahu persis apa bedanya tim bermental juara dengan tim yang miskin kematangan. Kita tahu persis saat Arsenal bertransformasi menjadi tim kandidat juara liga.

AKB vs WOB

Dua musim terakhir adalah kulminasi keraguan terhadap Arsène Wenger dari camp fans Arsenal sendiri. Kepergian Fabregas dan Nasri di awal musim 2011/2012 serta Van Persie dan Song di awal musim 2012/2013 membuat Arsenal mengawali musim dengan sangat buruk dan mesti berjuang keras untuk lolos ke kualifikasi Liga Champions di akhir-akhir musim. Walaupun mereka akhirnya berhasil, fans sudah terlanjur kecewa terutama dengan kebijakan klub untuk menjual pemain terbaiknya dan tidak menggantinya dengan pemain yang setara. Belum lagi adanya AST (Arsenal Supporters’ Trust) lewat juru bicaranya Tim Payton yang gemar mengkritik klub di muka publik. Menuduh klub menimbun uang 70-100 juta pounds dan menolak membelanjakannya. Fans Arsenal terbelah dua bak Laut Merah dibelah Nabi Musa. Ada AKB (Arsene Knows Brigade) yang percaya penuh pada Arsène Wenger dan WOB (Wenger Out Brigade) yang menganggap Wenger telah out of touch, keras kepala dengan idealismenya dan menolak membelanjakan uang yang disediakan klub untuknya (asumsi mereka). Bahwa kenyataan 8 tahun tanpa trofi adalah indikasi Wenger sudah tak pantas lagi memimpin klub ini. Kelompok WOB ini makin lama makin keras suaranya di publik (dipimpin oleh Piers Morgan yang jarang masuk akal), sedangkan kelompok AKB semakin lama semakin sedikit atau memilih untuk diam. Mereka menanti kesempatan, the second coming of Messiah, karena keyakinan total mereka terhadap Lord Wenger yang telah memberikan gelar demi gelar dan ciri khas baru pada Arsenal semenjak kedatangannya serta rekor Invincible yang tak akan dipecahkan lagi oleh tim manapun di masa depan.

Awal musim ini, dengan satu tindakan Wenger menghapus tuduhan bahwa ia menolak spending big. Dua tindakan tepatnya. Yang pertama adalah bid kontroversial 40 juta + 1 pounds terhadap Luis Suarez yang gagal, dan yang kedua tentunya pembelian spektakuler Mesut Özil dari Real Madrid senilai 42,5 juta pounds, rekor pembelian termahal kedua di liga Inggris setelah pembelian Fernando Torres oleh Chelsea. Jika WOB (jika masih ada) merasa pembelian Özil adalah karena tekanan keras dari mereka di awal musim ini, asumsi tersebut salah besar. Wenger memang keras kepala, namun ia tahu persis apa yang ia lakukan. Ia punya budget terbatas, sehingga ia selalu mengatakan hanya akan membeli top, top player yang memang pantas dibeli dengan nilai tinggi. Dan kesempatan musim ini tiba ironisnya dibantu oleh penjualan Bale ke Madrid. Kejadian di luar kewajaran yang memungkinkan Madrid membuang pemain terbaik kedua mereka ke Arsenal.

Wenger memang keras kepala, namun ia tahu persis apa yang ia lakukan.

Dan bila ada fans Arsenal yang masih berhalusinasi bahwa pemain sekelas Özil mau pindah ke Arsenal tanpa adanya Wenger, maka wawancara terakhir Özil di Majalah FourFourTwo edisi Januari 2014 membuyarkan ilusi tersebut. Ia mengatakan keputusannya untuk pindah ke Arsenal dari klub terkaya dunia didasari oleh trust yang ia rasakan dari Wenger, bukan karena adanya pemain-pemain Jerman di klub ini. Dan jelas bukan karena uang (PSG menawarkan gaji lebih tinggi). Wenger telah memantaunya sejak ia di Werder Bremen dan mencoba membelinya saat itu namun kalah oleh pesona klub sekelas Madrid. Özil kemudian cukup diyakinkan dengan sebuah panggilan telepon dari Wenger. Pindah ke sebuah klub di liga yang asing baginya, di usia di mana ia mungkin akan menghabiskan usia puncaknya, bukanlah sebuah tindakan yang mudah. Perlu keyakinan penuh kepada manager barunya untuk mengambil keputusan tersebut.

“Somehow this telephone call just flicked a switch in me,” Ozil told Die Welt. “I thought: ‘What he is telling me is what I have missed at Real: transparency, trust, respect. He told me exactly how he sees me [as a player], how he wants to use me, what he expects from me and what he hopes I will contribute.”

Sebesar-besarnya Arsenal di Inggris, di dataran Eropa Arsenal belum dilihat sekelas dengan Real Madrid, Barcelona dan Bayern Muenchen, raksasa-raksasa Eropa saat ini. Untuk Özil pindah dari Madrid ke Arsenal, klub yang belum pernah memenangkan Liga Champions ini, umumnya akan dianggap langkah mundur. Namun kepercayaannya terhadap Wenger yang dirasanya mampu mengembangkannya ke level yang lebih tinggi sebagaimana yang ia lakukan terhadap Henry, Pires dan Vieira (Bergkamp pengecualian karena tanpa perlu disentuh juga sudah level God-like) membuat Özil yakin ini adalah langkah maju bagi karier pribadinya. Bukan tidak mungkin dalam satu dua tahun ke depan Özil bahkan mampu bersaing dengan Messi dan Ronaldo untuk Ballon d’Or, sesuatu yang diyakini oleh Wenger.

Kisah lainnya adalah Aaron Ramsey. Ramsey di usia 17 tahun adalah pemain yang diperebutkan banyak klub elit Inggris di antaranya Manchester United, Everton dan Arsenal. Bahkan United sempat memposting berita bahwa mereka telah mendapatkan Ramsey di website resminya sebelum kemudian Arsenal “menculiknya”. Lagi-lagi perlakuan khusus dan penjelasan visi Wenger terhadapnya dan orang tuanya (yang menerbangkannya dengan pesawat jet pribadi ke Swiss untuk bertemu langsung) akhirnya meyakinkan Ramsey untuk menolak tawaran United dan memilih bergabung dengan Arsenal. Terbukti hal itu adalah pilihan tepat baginya. Lima tahun kemudian ia bermain dengan pemain sekelas Mesut Özil, Santi Cazorla, Tomas Rosicky. Ia bisa saja melakukan kesalahan sehingga saat ini bermain dengan pemain seperti Anderson, Fellaini, Cleverley dan terpaut 12 poin dari pemimpin klasemen.

Kedua kisah di atas adalah bukti bagaimana manager masih menjadi yang paling penting dalam sebuah klub sepakbola. Manchester United yang menjadi juara liga musim lalu mendadak menjadi tim mediocre ketika ditinggal manager hampir tiga dekade-nya. Saat klub terpuruk maka managerlah yang akan dipecat. Dengan kesimpulan ini maka eksistensi WOB menjadi tidak relevan lagi selama Arsenal berada di peringkat pertama, bermain dengan baik dan memimpin dalam pengejaran gelar liga Inggris. Untuk sementara ini mari kita semua berperan sebagai AKB. Percayakan pada Wenger karena tim ini memang miliknya, dibangun olehnya dan sejauh ini telah berhasil menjawab keraguan demi keraguan baik dari fans sendiri maupun dari pihak luar. Keraguan itu lenyap di Emirates Stadium kemarin, seluruh fans menyanyikan chant ‘One Arsène Wenger’ saat Arsenal tampil begitu dominan melawan Hull City, pemandangan yang kontras dengan atmosfer di stadion di hari pertama musim ini.

…eksistensi WOB menjadi tidak relevan lagi selama Arsenal berada di peringkat pertama, bermain dengan baik dan memimpin dalam pengejaran gelar liga Inggris.

Cukuplah pihak luar yang meragukan Arsenal, meragukan kita. Saat ini hendaknya semua fans berdiri di belakang tim, di belakang manager, dan meyakini “we can win the league.” Video dari ArsenalFan TV (yang berisi wawancara-wawancara dengan fans usai pertandingan) ini pas untuk menutup bagian ini: Fans Apologises to Arsene Wenger.

 

Menang dengan Bermain Indah

Bergkamp mengatakan di biografinya bahwa filosofi Arsenal bukan hanya bermain indah, namun menang dengan bermain indah. Menang menjadi targetnya dan bermain indah adalah pendekatannya, caranya. Di awal babak pertama dan kedua saat melawan Hull City, Arsenal tampil luar biasa dengan passing-passing yang cepat dan akurat. Pergerakan pemain yang cepat membuat Hull City kebingungan untuk mengikutinya. Sayang saja Bendtner bukan striker reguler sehingga ia hanya dapat mencetak satu gol. Namun gol yang dicetaknya tidak kalah cantiknya dengan gol-gol Arsenal musim ini. Berawal dari pertukaran bola yang cepat antara Ramsey, Rosicky dan Jenkinson di sisi kanan, crossing akurat Jenkinson disundul oleh Bendtner secara terarah, keras menuju gawang. Gol di menit awal babak pertama tersebut kemudian ditambah dengan gol di menit kedua babak kedua yang juga hasil ping-pong bola yang cepat di sisi yang berlawanan. Kali ini aktornya adalah Monreal, Ramsey dan Özil.

Ramsey bergerak bebas dari kiri ke kanan ke tengah, ia ada di mana-mana! Ditopang oleh trio Rosicky, Cazorla dan Özil yang terus mengalirkan bola dengan cepat, Ramsey berkali-kali masuk di posisi yang berbahaya. Total 6 tembakan ia lakukan di pertandingan ini (terbanyak dari semua pemain di pertandingan ini), dengan satu tembakan keras yang membutuhkan penyelamatan cemerlang dari kiper Hull City. Ia mengembalikan assist Özil di Cardiff City dengan assist yang tak kalah cantiknya lewat reversed pass di depan kotak penalti lawan. Özil menyelesaikannya dengan kalem. Dua gol ini tidak mengilustrasikan dominasi Arsenal yang begitu mutlak di pertandingan ini, namun Arsenal bisa berpuas diri karena pencapaian ini dilakukan dengan rotasi pemain yang melebihi batas Wenger pada umumnya.

Rotasi yang Berhasil

Wenger melakukan pergantian lima pemain di starting line up dari pertandingan sebelumnya. Masuk Monreal, Jenkinson, Flamini, Rosicky dan Bendtner menggantikan Gibbs, Sagna, Arteta, Wilshere dan Giroud. Kelima pemain ini bisa diprediksi akan digunakan kembali saat melawan Everton. Kecuali Jenkinson dan Bendtner, para pemain pengganti ini sudah sering dipakai di beberapa kesempatan musim ini sehingga rotasi pemain ini tidak merusak keseimbangan tim. Walcott belum dipasang sejak awal karena masih sakit (bukan cedera) dalam beberapa hari terakhir. Ia tidak mengikuti sesi latihan penuh di hari Senin. Mungkin untuk Everton pun ia belum dapat dipasang di awal pertandingan.

Kelima pemain “pengganti” ini bermain dengan sangat baik. Manfaat kebugaran fisik sangat terlihat. Monreal dan Jenkinson bekerja tanpa lelah naik turun menyusuri garis pinggir lapangan. Monreal bahkan tampil cemerlang, siap berikan kompetisi yang berat terhadap Gibbs. Jenkinson tampil lebih baik daripada penampilan-penampilan sebelumnya dan crossing akuratnya kembali menemukan tempat. Flamini seperti biasa tampil bak jenderal lapangan. Ia juga dapat berkolaborasi dengan baik bersama Arteta di 15 menit terakhir babak kedua. Rosicky seperti biasa membuat publik lupa terhadap usianya. Interception, tracking back, tackling dilakukannya bak pemain muda yang tak takut dengan cedera. Dan terakhir Bendtner seperti yang telah diulas di atas, menjawab keraguan dengan satu gol penting dan penampilan di depan yang lumayan. Tidak se-dominan Giroud namun cukup untuk merepotkan tim sekelas Hull City. Ia bahkan sempat hampir memberikan assist kepada Özil lewat crossingnya yang seakan merekonstruksi crossing Jenkinson kepadanya.

Hasil Klub Lain

Prediksi hasil-hasil klub lain di bulan Desember yang saya tulis kemarin, hampir akurat. Kecuali hasil MU melawan Everton, tim-tim besar lainnya menang. MU tampil lebih buruk dari dugaan, Moyes bahkan tak dapat mencuri satu point pun dari klub lamanya. Hasil ini menjadi legitimasi bagi era baru Everton di bawah Roberto Martinez, bahwa pemilihan ia menjadi manager Everton adalah pilihan tepat board klub tersebut setelah kepergian pahit Moyes. MU yang sekarang terpaut 12 poin dari Arsenal sulit dianggap sebagai kompetitor serius, kecuali jika mereka berhasil meraih 5 kemenangan berturut-turut di bulan Desember.

Chelsea dan City menang, namun tidak meyakinkan. Chelsea nyaris seri di kandang Sunderland. Stoke City mungkin dapat memberikan perlawanan yang lebih berarti akhir pekan ini. Manchester City sendiri memberikan dua gol di akhir-akhir pertandingan. Soal penyerangan City memang yang terbaik untuk saat ini (mencetak 40 gol) namun masih banyak PR di lini pertahanan mereka, terutama saat pertandingan tandang.

Empat gol Suarez lawan Norwich City membuktikan dirinya adalah striker terbaik Premier League dan menjelaskan mengapa Arsenal sangat menginginkannya di awal musim ini. Gol dari tembakan jarak jauh, jarak dekat, aksi individu, dan tendangan bebas menjadikan dirinya sebagai striker yang komplet sekelas Henry. Arsenal telah lama tidak memiliki striker seperti ini pasca Henry, yang punya kecepatan, teknik, kekerasan dan keakuratan tembakan. Liverpool tak akan menjual aset berharganya di Januari nanti namun juga akan sulit menahannya di akhir musim nanti. Bisa tidaknya Liverpool finish di posisi keempat akan tergantung penampilan Suarez musim ini. Dengan penampilan Suarez yang seperti ini, rasanya Liverpool mampu mencuri poin dari Tottenham, Chelsea dan City. Prediksi Desember tersebut sepertinya mesti diralat segera.

Mitos “Harus Mengalahkan Klub Besar”

Salah satu argumen yang beredar di pundit bola mengapa Arsenal belum pantas dianggap sebagai penantang juara utama adalah karena Arsenal belum mengalahkan klub besar seperti Manchester United, Manchester City dan Chelsea. Memang pertandingan antara tim besar adalah pertandingan “six pointer”, yang artinya selisih antara menang dan kalah adalah 6 poin. Contohnya saat Arsenal melawan MU beberapa pekan lalu. Saat itu selisih poin Arsenal dan MU adalah 8 poin. Jika Arsenal menang, selisih poin menjadi 11 dan jika Arsenal kalah selisih poin menjadi 5. Jarak 11 dan 5 adalah 6 poin. Maka dengan hasil kalah di pertandingan tersebut, Arsenal kehilangan 6 poin potensial. Dengan alasan tersebut, mengalahkan tim rival dalam pertandingan six pointer menjadi amat penting.

Namun kenyataannya tidak seperti hitung-hitungan di atas kertas. Memang six pointer vital bagi rivalitas tim yang setara. Tetapi mengalahkan tim kecil juga tidak kalah penting. Tiga pertandingan setelah MU vs Arsenal, jarak antara MU dan Arsenal yang sempat diperkecil menjadi 5 poin sekarang menjadi 12 poin. Tiga kemenangan Arsenal berturut-turut dan hasil seri-seri-kalah MU membuat kemenangan six pointer MU terhadap Arsenal tersebut dengan cepat dapat dinegasikan dampaknya. Itu karena MU tidak mampu meraih angka sempurna di pertandingan lainnya.

Berkat bekal hasil melawan klub-klub “kecil”, Arsenal bisa lebih tenang dalam memasuki pertandingan six pointer melawan rival beratnya, dibanding mereka

Untuk Chelsea dan Manchester City yang relatif lebih konsisten daripada MU, six pointer dengan mereka menjadi penting. Misalnya saat ini selisih poin Chelsea dan Arsenal 4 poin. Jika Arsenal menang selisih menjadi 7 poin, bila kalah menjadi 1 poin. Dengan Man City, menang jadi 9 poin, kalah jadi 3 poin. Dan karena Chelsea dan Man City terus-menerus mendulang poin dari tim kecil, hasil menang melawan mereka menjadi penting. Jika tidak bisa menang, paling tidak seri agar selisih poin tetap terjaga. Sebaliknya bagi mereka, kemenangan melawan Arsenal menjadi target utama bulan ini, seri saja tidak cukup. Berkat bekal hasil melawan klub-klub “kecil”, Arsenal bisa lebih tenang dalam memasuki pertandingan six pointer melawan rival beratnya, dibanding mereka. Arsenal cukup “tidak kalah” sedangkan mereka “mesti menang”. Hal tersebut sudah cukup untuk memposisikan Arsenal di atas angin dalam perburuan “gelar” juara paruh musim ini.

Enam pertandingan lagi di bulan Desember, tak ada yang bisa kita perbuat sebagai fans kecuali menonton pertandingan, mendukung penuh tim dan percaya kepada nyanyian klasik yang sudah berusia belasan tahun ini:

One Arsène Wenger, there’s only one Arsène Wenger…

Jarak Antara Harapan dan Kenyataan adalah Kekecewaan

Judul di atas adalah pepatah filosofis yang mungkin bisa digunakan untuk panduan kehidupan sehari-hari.

  • Jarak antara harapan dan kenyataan adalah kekecewaan.
  • Semakin tinggi harapan kita, semakin besar kekecewaan kita atas kenyataan yang tidak sesuai harapan.
  • Semakin kita tidak berharap, semakin mudah kita dapat menerima kenyataan. 

Postulat di atas bukan hak paten Jalan Arsenal. Bukan pertama kali dan pasti bukan untuk yang terakhir kalinya postulat di atas mengenai harapan, kenyataan dan kekecawaan akan Anda baca dalam hidup. Selalu ingatlah akan kalimat-kalimat di atas setiap Anda mengalami kekecewaan. Pasti akan berguna.

Pada tulisan terakhir di blog ini, preview pertandingan Manchester United vs Arsenal, Jalan Arsenal meramalkan pertandingan itu akan menjadi panggung untuk Özil. Sayangnya hal itu tidak terjadi. Serangan virus sebelum pertandingan yang memakan 4 korban (Mertesacker, Rosicky, Gnabry dan Arteta) mengakibatkan Mertesacker dan Rosicky harus dipulangkan lebih awal. Arteta dan Gnabry berhasil mengatasi rasa sakitnya dan akhirnya masuk ke skuad hari itu. Serangan virus itu ternyata tidak terbatas pada keempat pemain tersebut. Özil setelah pertandingan dikabarkan juga mengalami hal yang sama. Mungkin itu salah satu sebab mengapa penampilannya tidak optimal sepanjang pertandingan.

Terlepas dari serangan virus tersebut, Wenger tidak mau mencari kambing hitam di luar penampilan timnya sendiri. Menurut Wenger, para pemain Arsenal tampil agak gugup di babak pertama. Di babak kedua mereka tampil lebih baik walaupun mengejar ketertinggalan dari tim juara bertahan tampaknya lebih berat daripada tugas Arsenal di pertandingan-pertandingan sebelumnya. Kegugupan pemain-pemain Arsenal menurut Wenger disebabkan oleh catatan masa lalu hasil pertandingan Arsenal di Old Trafford. Menang hanya 3 kali selama 15 tahun jelas bukan hasil yang dapat dibanggakan. Masalah psikologis ini ternyata lebih berat daripada yang kita bayangkan.

Dalam tulisan yang lalu, saya menyebutkan beberapa faktor yang mesti diatasi Arsenal untuk dapat menang di kandang MU:

“Selama Arsenal bisa membatasi jumlah tendangan bebas dan sudut untuk MU, menjaga konsentrasi penuh saat bertahan sebagaimana dua pertandingan terakhir, dan tidak memberikan MU respek yang berlebihan, Arsenal mestinya bisa menang malam ini.”

Sayangnya ketiga hal ini tidak dapat dilakukan Arsenal malam itu. Arsenal memberikan mereka tendangan sudut berulang kali dan duo SAS (Shrek and Skunk) memanfaatkannya dengan sangat baik. Tendangan sudut Rooney ke area luar zonal marking Arsenal yang berbuah gol (dicetak oleh pemain yang tak boleh disebut namanya) tentunya adalah hasil latihan mereka yang telah mempelajari pertahanan zonal marking Arsenal terhadap bola-bola mati. Demi mengalahkan Arsenal, Moyes melatih MU bak melatih tim seperti Stoke City. Mereka tahu sulit untuk mengalahkan Arsenal dalam permainan terbuka dan kesempatan terbesar adalah dengan memanfaatkan setplay. Rooney sendiri mengakui hal tersebut setelah pertandingan bahwa kelemahan Arsenal ada pada ukuran tinggi pemainnya. Ketidakhadiran Mertesacker memperbesar kelemahan ini. Stoke City 1 – 0 Arsenal.

Demi mengalahkan Arsenal, Moyes melatih MU bak melatih tim seperti Stoke City…

Setelah gol tersebut, di babak kedua praktis MU bermain bertahan dengan sesekali melakukan serangan balik. Dan mereka bertahan dengan sangat baik. Arsenal bermain lebih buruk daripada dua pertandingan sebelumnya. Faktor kelelahan ditambah serangan virus tersebut tampaknya mulai berdampak di babak kedua. Ramsey melakukan banyak sekali kesalahan dalam operan sehingga persentase keakuratan operannya adalah yang terendah sepanjang musim ini, sekitar 60%. Giroud frustrasi sejak babak pertama karena foul-foul kecil pemain MU tidak mendapatkan perhatian wasit. Özil baru tampak “hidup” di babak kedua, namun sayangnya tidak diimbangi dengan penampilan rekan-rekannya. Sementara itu di sisi kanan, Sagna terus memborbardir pertahanan MU dengan crossing-crossing yang sangat bagus tanpa adanya pemain Arsenal di ujung umpan lambung. Bendtner masuk dan tidak memberikan kontribusi apapun. Gnabry masuk dan membuat serangan Arsenal lebih hidup namun agak terlambat. Mungkin salah satu sebab ia tak masuk lebih awal daripada Bendtner adalah serangan virus yang menimpa dirinya. Di saat-saat seperti ini, kita berharap adanya pemain seperti Podolski dan Walcott yang mampu menambah daya gempur lini depan Arsenal. Sayang kedua pemain tersebut demikian lama absen musim ini. Kembalinya kedua pemain tersebut nantinya akan dirayakan seperti pemain baru, like a new signing.

Vermaelen yang menggantikan Mertesacker bermain cukup baik namun absennya ia dari skuad utama Arsenal dalam waktu yang cukup lama ada dampaknya. Pemain Arsenal lainnya rasanya sedikit kurang percaya dengan pertahanan Arsenal tanpa Mertesacker. Ketidakpercayaan ini berakibat di babak pertama, serangan yang dibangun kurang berani karena terlalu berhati-hati. Ini yang dimaksud Wenger dengan kegugupan. Pemain Arsenal bermain dengan rem tangan yang diaktifkan. Mudah-mudahan penampilan Vermaelan yang cukup baik akan menumbuhkan kepercayaan rekan-rekan terhadap dirinya dan menghilangkan kekhawatiran berlebihan ini di pertandingan-pertandingan berikutnya.

Pendek kata, pertandingan ini adalah pertandingan yang sangat mengecewakan karena hasilnya. Mengecewakan lebih-lebih karena harapan fans dan pemain Arsenal yang semakin percaya diri musim ini adalah tiga poin untuk dibawa pulang. Jarak antara harapan dan kenyataan adalah kekecewaan. Karena harapan 3 poin dan hasilnya pulang tanpa poin, kekecewaan itu makin besar. Bila harapannya hanya 1 poin, mungkin kekecewaan yang terjadi tidak akan begitu besar. Jarak ini subyektif, dan kita tentukan sendiri. Pengaturan ekspektasi konon menjadi cara mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan ini.

Karena harapan 3 poin dan hasilnya pulang tanpa poin, kekecewaan itu makin besar. Bila harapannya hanya 1 poin, mungkin kekecewaan yang terjadi tidak akan begitu besar.

Hal positifnya adalah tim ini memberikan harapan yang lebih besar karena memang kita melihat mereka mampu melakukan itu. Sebuah progress dalam hal relasi dan kepercayaan antara tim dan fans Arsenal, yang dalam beberapa musim ini tidak begitu baik. Datang ke MU dan mengambil maksimal poin mungkin tidak berani dimimpikan fans Arsenal musim lalu. Musim ini beda. Kita yakin menang dan akhirnya harus kalah dengan satu gol dari setplay. Kita membuat duo SAS MU yang katanya lebih dahsyat daripada duo SAS Kw Liverpool itu hanya mampu mengancam lewat bola mati ala Stoke City. Kita menyelesaikan pertandingan itu dalam posisi di atas angin walaupun tanpa hasil. Kebobolan hanya satu gol dalam tiga pertandingan besar berturut-turut (dalam satu minggu) dengan hasil 2 kali menang dan 1 kali kalah mungkin akan memberikan perspektif yang lebih baik. Saya memprediksi hasil ronde pertama November Rain ini adalah 2 seri dan 1 menang, total 5 poin. Arsenal berhasil meraih 6 poin dari 2 menang, 1 kalah. Kenyataan ini sudah melebihi harapan saya, maka semestinya saya happy. Bagaimana dengan Anda?

…duo SAS MU yang katanya lebih dahsyat daripada duo SAS Kw Liverpool itu hanya mampu mengancam lewat bola mati ala Stoke City…

Kekecewaan yang tersisa buat saya pribadi adalah gagalnya pertandingan tersebut menjadi panggung untuk Özil. Mungkin prediksi saya terlalu cepat. Seorang pemain yang baru mencicipi Liga Inggris kurang lebih 2 bulan dibebani tugas memimpin timnya menang atas juara bertahan di kandang mereka, mungkin terlalu cepat. Bergkamp melakukannya di Highbury saat melawan Southampton. Pertandingan berikutnya Arsenal secara kebetulan adalah pertandingan di kandang melawan Southampton. Özil punya kesempatan minggu depan untuk membuktikan dirinya sebagai pewaris resmi mahkota Bergkamp. Kalaupun itu tidak terjadi, masih ada minggu-minggu berikutnya. 🙂

Kegagalan mengakhiri musim United secara dini mungkin sedikit kita sesali, tapi sisi positifnya juga ada. Rasanya kurang seru juga bila juara bertahan tumbang di awal kompetisi. Hadirnya kembali United di persaingan puncak liga akan berdampak bagus juga untuk Arsenal. United akan mampu mencuri poin dari tim-tim seperti Chelsea, Manchester City, Liverpool, para pesaing juara musim ini. Toh kita juga tak mungkin menjadi juara musim ini di Old Trafford karena jadwal pertandingannya di bulan November ini. United kita butuhkan untuk “merampok” beberapa poin dari para pesaing juara liga Inggris di musim ini. Untuk itu, kita butuh mereka tetap kompetitif. Selisih lima poin pas rasanya, tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat. Selisih sebelas poin, Ferguson akan bangkit dari kubur untuk menggantikan Moyes.

Selisih sebelas poin, Ferguson akan bangkit dari kubur untuk menggantikan Moyes.

Untuk menghibur fans Arsenal selama satu minggu ini, Jalan Arsenal akan menampilkan cuplikan-cuplikan dari biografi Dennis Bergkamp, Stillness and Speed, tentunya dalam Bahasa Indonesia. Diawali dengan resensi, beberapa chapter dari biografi tersebut akan ditampilkan di sini. Bagi yang tidak mau kena spoiler, disarankan jangan baca. Namun saya akan sebisa mungkin menulis artikel soal Bergkamp sebagaimana membuat sebuah teaser, trailer fillm. Harapannya dengan adanya artikel-artikel soal Bergkamp yang disadur dari biografinya akan semakin menarik fans Arsenal untuk membeli buku itu sendiri. Toh biografinya bukan seperti cerita fiksi, rasanya tidak ada spoiler yang perlu dikhawatirkan mengingat sebagian besar fans Arsenal pasti mengetahui jalan hidup Bergkamp. Tidak jauh dari Jalan Arsenal.

Saat ini biografi Dennis Bergkamp tersebut hanya tersedia dalam bahasa Inggris. Mudah-mudahan nanti ada penerbit Indonesia yang tertarik. Siapa yang punya link penerbit? Saya sih siap membantu menerjemahkan bila perlu. Permata yang berharga ini sangat sayang bila “disimpan” oleh kalangan terbatas. Apa yang ada di pikiran Bergkamp wajib diketahui seluruh fans Arsenal, tanpa perlu menguasai bahasa Inggris. Semoga ada penerbit buku Indonesia yang juga menjadi fans Arsenal. Kita boleh berharap, namun ingat jangan kecewa ya. Karena jarak antara harapan dan kenyataan adalah kekecewaan. Be Happy!

Panggung untuk Özil

Preview Manchester United vs Arsenal, 10 November 2013 11.10 pmSun back page   Ozil  We ll end United s season

Pagi ini Inggris diramaikan dengan headline tabloid The Sun di atas. Headline sensasional yang menyebutkan kalau Özil akan mengakhiri musim United secara dini pada pertandingan hari ini. Ternyata setelah dibaca isi beritanya, sama sekali tidak ada kata-kata dari Özil yang seperti itu. Özil hanya mengatakan kalau Arsenal akan ke United dengan target untuk menang. Seperti biasa, wartawan melakukan spin atas kutipan Özil agar tabloidnya laku di hari big match ini.

Di luar sensasi spin yang tentunya akan memancing kemarahan fans United, headline tersebut di lain sisi juga mengindikasikan kepercayaan diri penuh pemain Arsenal dan media yang mulai menganggap serius kekuatan Arsenal musim ini. Posisi unggul 5 poin di puncak klasemen dan kemenangan sensasional tengah pekan atas Dortmund telah sedikit banyak mengubah persepsi media Inggris yang awalnya skeptis dengan peluang Arsenal menjadi juara liga. Posisi United yang terpisah 8 poin saat ini dengan Arsenal dan berpotensi menjadi 11 poin bila kalah malam ini membuat wartawan berani menulis headline seperti itu. Dan memang bila MU kalah malam ini, misi untuk mengejar ketertinggalan 11 poin akan terasa lebih berat walau bukan mustahil.

Posisi unggul 5 poin di puncak klasemen dan kemenangan sensasional tengah pekan atas Dortmund telah sedikit banyak mengubah persepsi media Inggris yang awalnya skeptis dengan peluang Arsenal menjadi juara liga

Pertanyaannya adalah bisakah Arsenal menang dari Manchester United di kandangnya? Selama era Wenger, Arsenal hanya mampu menang 3 kali di Old Trafford di kompetisi liga Inggris. Pertama kali saat musim double pertama 1997/1998 dengan solo gol dari Overmars. Kedua di musim double kedua 2001/2002 lagi-lagi dengan solo gol dari Wiltord yang sekaligus memastikan Arsenal menjadi juara liga musim itu. Yang terakhir di musim 2006/2007 dengan gol dari Adebayor hasil assist Cesc Fabregas. Tiga kemenangan 1-0 selama 16 musim mencerminkan sulitnya mengalahkan Manchester United di kandangnya, di era Ferguson.

United boleh saja ganti pelatih, dan hal itu sedikit mengganggu perjalanan mereka di awal musim. Namun mereka tetap masih menyandang status juara bertahan dengan komposisi pemain yang tidak berkurang dari musim lalu, malah diperkuat dengan Fellaini dan Adnan Januzaj. Saat ini penampilan mereka mulai stabil, katanya tidak terkalahkan di 8 pertandingan terakhir (semua kompetisi). Walaupun bila dilihat lawan-lawannya dalam 8 pertandingan tersebut dan banyaknya hasil seri, tidaklah terlalu impresif. Lebih banyak D daripada W nya. Form Arsenal jelas jauh lebih mengesankan untuk saat ini. Sebagai perbandingan Arsenal menang atas Dortmund di tandang sedangkan MU hanya bisa meraih hasil seri bertandang ke Sociedad, walaupun sudah menghalalkan segala cara termasuk divingnya Ashley Young.

Namun dalam performa terbaiknya United bisa lebih berbahaya daripada Liverpool. Dan mereka pun memiliki duet SAS yang lebih berbahaya daripada SAS-nya Liverpool. Shrek and Skunk (nama panggilan untuk Rooney dan Van Persie) jauh lebih berbahaya daripada Suarez dan Sturridge dari segi track record mereka melawan Arsenal. Bila Suarez dan Sturridge punya kecepatan, Rooney dan Van Persie punya intuisi dan hawa pembunuh yang dahsyat bila berada di kotak penalti lawan. Mertesacker dan Koscielny mesti ekstra hati-hati dan tampil penuh konsentrasi untuk mencegah mereka mencetak gol malam ini.

Bila pola serangan Liverpool minggu lalu agak monoton dengan bola-bola ke Suarez dan Sturridge yang sudah bisa ditebak, MU akan lebih menyerang lewat sayap. Fullback mereka akan overlapping dengan pemain sayap dalam formasi 4-4-2. Crossing Evra terutama sangat berbahaya. Januzaj juga telah memberikan beberapa indikasi kalau ia bukan hanya sebatas pemain potensial seperti Macheda beberapa musim lalu, namun juga dapat memberikan hasil nyata di lapangan lewat crossing dan umpan through ball-nya yang cantik. Mereka juga sangat berbahaya saat eksekusi bola mati. Rooney telah mencetak beberapa gol dari tendangan bebas. Musim lalu United praktis menjuarai liga mengandalkan efektivitas setplay mereka. Tendangan sudut, tendangan bebas dan tendangan penalti (untuk yang satu ini mudah-mudahan sedikit berkurang dengan perginya Fergie).

MU hanya bisa meraih hasil seri bertandang ke Sociedad, walaupun sudah menghalalkan segala cara termasuk divingnya Ashley Young

Prediksi formasi United malam ini:

De Gea – Smalling Ferdinand Vidic Evra – Valencia Carrick Fellaini Januzaj – Rooney RVP

Rafael, Evans dikabarkan cedera sedangkan Carrick, Cleverly, Welbeck juga masih akan menjalankan fitness test.

Untuk Arsenal, Flamini dan Wilshere dikabarkan ikut dalam skuad yang berangkat ke Manchester. Prediksi formasinya sebagai berikut:

Szczesny – Sagna Mertesacker Koscielny Gibbs – Flamini Arteta – Ramsey Özil Cazorla – Giroud

Flamini perlu dipasang untuk membantu fullback Arsenal saat MU menyerang lewat sayap. Pada pertandingan melawan Liverpool dan Dortmund terlihat kekurangan kecepatan Arteta beberapa kali memberikan peluang untuk lawan di kotak penalti. Selain itu Özil dan Cazorla yang harus turun membantu pertahanan di sayap mengurangi potensi Arsenal dalam penyerangan. Adanya Flamini memungkinkan Ramsey, Özil dan Cazorla fokus pada penyerangan dan pressing agar transisi dari pertahanan ke penyerangan bisa dilakukan dengan lebih cepat. Secara kemampuan teknik, skuad Arsenal kali ini lebih baik daripada MU. Kecuali penyerang mereka yang relatif lebih baik, Arsenal jauh lebih unggul di lini tengah. One touch football yang agak sulit dimainkan melawan Dortmund akan kembali di pertandingan ini. MU bukan tim yang melakukan pressing dengan intensitas tinggi. Bila Carrick tidak bermain, mereka malah akan mendapatkan masalah baru dalam sirkulasi dan distribusi bola. Dengan pressing tinggi yang dilakukan 4 pemain penyerang Arsenal terhadap lini tengah United, Arsenal akan mendominasi penguasaan bola dan adanya Flamini dan Arteta sebagai double pivot dapat mengatasi serangan balik MU dari sayap.

Selama Arsenal bisa membatasi jumlah tendangan bebas dan sudut untuk MU, menjaga konsentrasi penuh saat bertahan sebagaimana dua pertandingan terakhir, dan tidak memberikan MU respek yang berlebihan, Arsenal mestinya bisa menang malam ini.

Dalam pertandingan di Old Trafford sebelumnya, Arsenal terlalu memberikan respek kepada tim baru mantan kaptennya. “Hadiah” yang diberikan Vermaelen kepada Van Persie di menit-menit awal pertandingan “membunuh” pertandingan itu. Belum lagi insiden Andre Santos yang mengajak RVP tukaran kaos di saat turun minum. Pada pertemuan berikutnya di kandang Arsenal, Sagna lagi-lagi memberikan hadiah penalti kepada RVP sehingga skor menjadi 1-1. Namun di pertandingan malam ini, saya yakin respek terhadap RVP telah dapat dihilangkan. Itu karena satu nama: Mesut Özil.

Hadirnya Özil di Arsenal bersamaan dengan Fellaini di MU membuat surat terbuka RVP kepada dunia yang meragukan Arah dan Ambisi mantan klubnya itu menjadi lucu

Musim lalu Arsenal kehilangan aura bintang dengan hengkangnya pemain terbaiknya. Musim ini Arsenal kedatangan salah satu pemain terbaik dunia, Mesut Özil. Hadirnya Özil di Arsenal bersamaan dengan Fellaini di MU membuat surat terbuka RVP kepada dunia yang meragukan Arah dan Ambisi mantan klubnya itu menjadi lucu, setahun kemudian. Lebih lucu lagi ketika MU menunjuk Moyes sebagai pengganti Ferguson, yang sempat berjanji kepada Van Persie ia tak akan pensiun. Mungkinkah arah dan ambisi klub yang dimaksud Van Persie dapat diwakilkan oleh Moyes dan Fellaini?

Kita tak punya banyak waktu untuk memeriksa kondisi little boy inside Van Persie sekarang. Ia sendiri yang telah membakar jembatan antara dirinya dengan klub, termasuk dengan rekan setimnya. Di muka umum ia meragukan mereka memiliki kapasitas untuk menjadi juara. Ia juga seakan “menampar” muka manager yang telah demikian mempercayainya, yang mengubahnya dari anak muda bertalenta namun bermasalah dari Belanda menjadi salah satu striker yang paling ditakuti di dunia. Walaupun ia mendapatkan medali gelar yang selama ini ia impikan, potensinya untuk menjadi legenda Arsenal hilang bersamaan dengan ingatan kita akan kontribusinya (termasuk cederanya) selama di Arsenal lewat aksi memalukan untuk memaksakan kepindahan ke rival yang paling dibenci seluruh pendukung klub.

Sekaranglah saatnya mantan rekan setimnya membuktikan kalau ia salah. Bahwa Arsenal adalah tim yang sedang menanjak sedangkan MU adalah tim yang sedang merosot. Tidak ada cara yang lebih baik selain menambah jarak 8 poin saat ini menjadi 11 poin saat pertandingan usai.

Dennis Bergkamp dan Mesut Özil

Setelah membaca biografi Dennis Bergkamp, Stillness and Speed, pikiran saya tidak bisa lepas dari Mesut Özil. Banyak kemiripan Bergkamp dengan Özil. Mereka sama-sama perfectionist, introvert, jenius, dan memiliki first touch yang bagaikan sentuhan dewa sepakbola. Bergkamp melihat dirinya dalam diri Mesut Özil. Ia melihat first touch yang sama. Bergkamp mengakui sendiri dalam biografinya bahwa sejak muda ia bukanlah pemain yang suka dribbling atau pamer skill seperti Zidane misalnya. Ia terobsesi dengan kontrol bola, dengan first touch. Di awal cerita, ia yang masih anak-anak melatih kontrol bolanya lewat memantulkan bola ke tembok. Dari sana ia bereksperimen soal sudut sentuhan kaki dengan bola, bagaimana spin bola, cara trapping bola yang sempurna di udara. Sebuah biografi yang luar biasa yang membawa kita masuk ke alam pikiran seorang jenius sepakbola yang juga legenda Arsenal. Suatu hari saya akan mencoba menulis resensinya di sini.

Selain first touch yang sempurna, Bergkamp juga melihat visi sepakbola yang mirip pada Özil. Menurutnya Özil mampu melihat permainan sampai beberapa langkah ke depan. Ia mampu memprediksi apa yang akan dilakukan rekannya dan lawan untuk beberapa langkah ke depan sebelum ia melakukan operan. Ia akan memberikan operan yang terbaik kepada rekannya sehingga tidak dibutuhkan banyak sentuhan untuk mencetak gol. Operan yang juga membelah pertahanan lawan. Özil sebagaimana Bergkamp adalah master ruang dan waktu. Mereka menciptakan ruang dan waktu untuk dirinya dan rekan-rekannya. Hal ini dikonfirmasi dari wawancara David Winner (penulis biografi Bergkamp) dengan rekan-rekan Arsenalnya seperti Vieira, Wright dan Henry. Dan Bergkamp yang jarang memuji pemain bola lainnya, melihat hal yang sama pada Özil dan mengatakannya pada media secara terbuka.

Tidak ada panggung lain yang lebih cocok untuk seorang jenius seperti Özil selain rumahnya juara bertahan. Walaupun Özil telah tampil cukup baik dengan beberapa gol dan assist dalam dua bulan ini, ia belum memperlihatkan 100% kemampuannya bersama Arsenal. Sebagai penantang utama Liga Inggris musim ini, Özil bersama rekan-rekan Arsenal-nya berkesempatan menegaskan terjadinya pergeseran kekuatan sepakbola Inggris dari Manchester ke North London. Walaupun hasil maksimal telah diraih dari Liverpool dan Dortmund, rasanya belum sempurna kelulusan Arsenal dari ujian publik sebelum mengalahkan sang juara bertahan, di kandang mereka. Panggung ini memang diciptakan untuk Özil, tinggal ia menjawabnya.

Let’s end United season at their home.

Orkestra Simfoni Arsenal Bungkam Konser Heavy Metal di Dortmund

zp_10_Ramsey-goal-3_1628Dortmund 0 – 1 Arsenal (Ramsey 62′)

Analogi Klopp, manager Dortmund, yang beredar di media Inggris dan Jerman sebelum pertandingan bahwa Dortmund vs Arsenal bagaikan pertandingan antara heavy metal vs orkestra simfoni ternyata menjadi kenyataan di lapangan. Hanya saja mungkin hasilnya tidak sesuai harapan Klopp. “Silent Orchestra” malam itu membungkam konser hingar-bingar heavy metal di Dortmund, setelah 90 menit. Seisi stadion terhentak dan sunyi saat Ramsey menyundul bola ke gawang Dortmund, sebelum disontakkan kembali dengan teriakan dan chant ribuan fans away Arsenal.

Dortmund memulai pertandingan seperti layaknya sebuah konser band musik heavy metal. Tanpa basa-basi langsung menuju nada tertinggi. Pemain Dortmund melakukan pressing dengan intensitas tinggi di area Arsenal tanpa henti. Arsenal berkali-kali kehilangan bola dan kesulitan untuk keluar dari areanya sendiri. Operan dari lini tengah selalu dipotong pemain Dortmund, dan bila pemain Arsenal mencoba melakukan dribbling ia akan ditempel 2-3 pemain Dortmund yang memaksanya melakukan kesalahan. Gegenpressing, demikian nama sistem yang diterapkan Klopp sejak beberapa tahun lalu, yang tidak hanya berhasil memenangkan mereka gelar juara namun juga hati pencinta sepakbola seluruh dunia.

Gegenpressing

Prinsip gegenpressing adalah pressing dengan intensitas tinggi dengan tujuan merusak permainan lawan, merebut kembali bola secepat mungkin di area lawan, dan luncurkan serangan kilat. Para pemain akan menutup ruang gerak dan operan lawan secara terorganisir dengan positioning terkoordinir yang telah dilatih lewat drilling ribuan kali sehingga ketika bola direbut, para pemain sudah berada pada posisi yang siap untuk counter attack. Sistem ini menjadi efektif karena saat bola direbut lawan, baru mau pindah dari gigi mundur ke gigi maju, bola sudah direbut kembali dan dalam hitungan detik bola bisa masuk ke kotak penalti lawan. Kata Jurgen Klopp tentang gegenpressing:

Gegenpressing is the best playmaker in the world. The best moment to win the ball is immediately after your team just lost it. The opponent is still looking for orientation where to pass the ball.

Berbeda dengan tiki-taka Barcelona yang juga menerapkan pressing tinggi terhadap lawan untuk merebut kembali bola, Dortmund akan langsung menyerang dengan cepat ketika berhasil merebut bola sedangkan Barcelona akan memainkan operan-operan pendek dahulu untuk melanjutkan possession football-nya. Bagi penonton, sepakbola Barcelona terkesan lambat sedangkan sepakbola Dortmund terkesan cepat, elektrik, instan. Sepakbola Barcelona adalah soal rangkaian operan pendek yang harmonis bak orkestra simfoni sedangkan Dortmund adalah antagonisnya, soal destruction, soal chaos, heavy metal. Klopp mungkin menyamakan sepakbola Arsenal dengan Barcelona, tim yang setia pada penguasaan bola dan tiki-taka. Ia mungkin belum tahu kalau Arsenal telah mulai perlahan-lahan meninggalkan sistem (Barcelona) itu sejak musim lalu.

Gegenpressing butuh kecepatan dan stamina yang tinggi maka tak heran Klopp selalu menuntut dan melatih pemainnya agar mampu berlari lebih jauh daripada pemain lawan. Di leg pertama, total pemain Dortmund berlari 10 km lebih banyak daripada keseluruhan pemain Arsenal. Di leg kedua ini, Aaron Ramsey berlari lebih jauh daripada semua pemain Dortmund. Dengan staminanya yang tinggi dan seringnya ia melakukan tackle yang berakibat turnover, Ramsey adalah pemain ideal untuk melakukan gegenpressing ala Klopp. Bila tidak sedang menjadi pelatih lawan, Klopp pasti akan tersenyum saat Ramsey mencetak gol satu-satunya di pertandingan ini.

Di babak pertama, gegenpressing Dortmund nyaris menghasilkan gol. Berulang kali kita menyaksikan pressing intensitas tinggi mereka terhadap pemain Arsenal, dan ketika berhasil merebut bola, pemain Dortmund sudah berlarian menyerbu kotak penalti Arsenal. Dua-tiga pemain Dortmund akan mengurung pemain Arsenal yang menguasai bola. Satu melakukan pressing dari muka, satu menutup jalur operan ke samping dan satu lagi menutup jalur operan ke belakang sambil siap berlari ke area lawan bila bola berhasil direbut. Sisi kiri Arsenal menjadi incaran mereka. Blaszczykowski, Großkreutz dan Lewandowski melakukan hal ini terhadap Cazorla dan Gibbs dan berhasil beberapa kali. Kecepatan kombinasi pemain Dortmund di sisi ini menghasilkan peluang bersih Mkhitaryan yang untungnya tembakannya melebar ke samping gawang Szczesny.

Berawal dari lemparan ke dalam milik Dortmund di paruh lapangannya sendiri, Großkreutz melempar bola ke Lewandowski yang langsung melakukan one-two dengan Blaszczykowski. Menerima bola kembalian, Lewandowski berlari langsung ke gawang Arsenal dan diikuti paralel Blaszczykowski yang tidak tinggal diam. Arteta menjatuhkan Lewandowski namun Blaszczykowski yang berlari tepat di sampingnya langsung mengambil alih bola. Saat itu juga Mkhitaryan telah berlari di tengah lapangan, siap menerima bola dan melakukan shooting. Tiga pemain Dortmund ini berlari bersamaan bak tiga garis lurus sejajar menuju gawang lawan, pemandangan yang sungguh mengerikan bagi pemain bertahan lawan. Namun bagi penonton, gerakan mereka bertiga terlihat seperti chaos yang juga indah, terdengar seperti musik heavy metal di mana setiap instrumen seakan saling berebut untuk mendominasi namun masing-masing juga adalah bagian dari komposisi.

Sistem sepakbola gegenpressing Dortmund ini telah makan banyak korban. Real Madrid dan sang ahli taktik The Special One dibuat tak berkutik oleh Dortmund di stadion ini beberapa bulan silam. Hasil 4-1 untuk gegenpressing yang ternyata lebih dahsyat dan efektif daripada counterattacking football-nya Mourinho. Wenger tentu telah mempelajari sistem Klopp ini sebelum leg pertama. Dan pengalaman dari pertemuan di leg pertama membuat eksekusi taktik anti-gegenpressing Arsenal di leg kedua ini berjalan sempurna.

“Wenger Tidak Mengenal Taktik”

Sebagian fans Arsenal yang hobi main Football Manager sering menuding kalau Wenger tidak mengerti taktik sepakbola. Bagaimana mungkin seorang manager yang sudah berkompetisi belasan tahun di Liga Champions, pemegang rekor Invincible dan berkali-kali memecahkan rekor Eropa dengan mengalahkan Real Madrid, AC Milan, Bayern Muenchen dan malam ini Borussia Dortmund di kandang mereka, bisa tidak mengerti taktik sepakbola? Apakah mungkin dengan modal bermain Football Manager, seorang fan sepakbola merangkap armchair manager bisa lebih paham tentang taktik sepakbola daripada real manager kawakan seperti Wenger?

Di tulisan ini, saya mencoba untuk tidak menjadi armchair manager. Tapi dengan benefit of hindsight, kita bisa mencoba menganalisa apa taktik anti-gegenpressing yang diterapkan Wenger terhadap Dortmund di pertandingan ini sehingga bisa pulang mengantongi tiga poin yang berharga sementara Mourinho dan banyak manager Eropa lainnya gagal. Ada beberapa penentu kemenangan Arsenal yang bisa kita lihat dari pertandingan ini.

Anti-gegenpressing

We weren’t able to find a player in space a lot of the time, as Arsenal were quick on their feet and defended well.

Klopp di akhir pertandingan mengakui kalau pemain Arsenal bertahan dengan sangat baik dan dapat cepat membatasi ruang gerak pemainnya. Wenger mengatakan pengalaman dan kedewasaan pemain Arsenal membantu mereka mengatasi serangan bertubi-tubi Dortmund. Wenger mengakui bila timnya lebih muda saja, mungkin mereka akan pulang dengan kekalahan telak, demikian dahsyatnya sepakbola Dortmund. Pembelian Mertesacker, Arteta beberapa musim lalu mulai membuahkan hasil di musim ini. Demikian juga adanya Rosicky, Sagna yang bisa membimbing pemain muda Arsenal seperti Ramsey, Gibbs, Szczesny, agar tidak panik dalam pertandingan seperti ini dan melakukan kesalahan yang tidak perlu. Pemain-pemain yang lebih berpengalaman ini membawakan kedewasaan dan kematangan dalam permainan Arsenal. Kenaifan di leg pertama di mana dua fullback Arsenal maju bersamaan tidak lagi diulangi di pertandingan ini.

I was pleased with our focus tonight. We were under pressure from first minute to last but we didn’t make any mistakes and defended well. We were compact and worked together and although there was a difficult period in the first half we put in a very mature performance.

Our defence was under a lot of pressure but they showed good awareness and tactical ability and that gives us a big lift. Not many teams come here and win.

Wenger melakukan sedikit perubahan soal bagaimana Arsenal bertahan dalam leg kedua ini sebagai bagian utama dari taktik anti-gegenpressing. Kata-kata kuncinya adalah: compact, good awareness, dan tactical ability. Grafik dashboard dari Statszone Four Four Two di bawah ini akan mengilustrasikan perubahan tersebut.

Legends
Legends
Arsenal Defensive Dashboard (leg 1)
Arsenal Defensive Dashboard (leg 1)
FourFourTwo Arsenal defensive
Arsenal Defensive Dashboard (leg 2)

Dua grafik di atas menunjukkan aksi pertahanan Arsenal di dua leg melawan Dortmund. Gawang Arsenal di sebelah kiri. Ada 4 macam aksi yang tergambar dalam grafik ini yaitu “X” untuk tackle, “O” untuk clearance, “Diamond” untuk Interception, dan “Triangle” untuk foul.

Data dari grafik di atas untuk aksi pertahanan Arsenal:

  1. Tackle, leg 1: 23/28 dan leg 2: 8/14
  2. Interception, leg 1: 22 dan leg 2: 22.
  3. Clearance, leg 1: 23 dan di leg 2: 35.
  4. Foul, leg 1: 14 dan leg 2: 13.

Di leg kedua, Arsenal melakukan lebih sedikit tackle namun lebih banyak clearance. Arsenal juga memusatkan pertahanan di dalam dan sekitar kotak penalti dibanding di leg pertama yang lebih menyebar ke tengah dan depan. Dengan kata lain, lini pertahanan Arsenal di leg kedua ini lebih mundur dan Arsenal mengurangi aktivitas pressing mereka di wilayah lawan dan sekitar garis tengah. Arsenal baru melakukan pressing dan tackling ketika lawan masuk ke area berbahaya (area yang memungkinkan tembakan ke gawang dan umpan lambung dari samping). Arsenal membiarkan Dortmund membawa bola sampai ke area yang “diizinkan”.

Gegenpressing selain adalah sistem anti possession football yang sekaligus adalah sistem anti pressing. Kok bisa? Karena selain merebut bola yang dikuasai lawan, ia juga merebut bola yang baru saja direbut lawan. Justru yang kedua ini lebih berbahaya. Karena saat melakukan pressing, para pemain umumnya dalam posisi yang lebih maju daripada biasanya, sehingga sangat rawan untuk terkena serangan balik. Apalagi bila pressing dilakukan di area tengah lapangan, ruang antara pemain yang melakukan pressing (umumnya pemain depan dan tengah) dengan barisan permain di belakangnya akan dieksploitasi Dortmund dengan sangat baik.

Untuk mengatasi gegenpressing, Arsenal melakukan selective ball possession dan maintaining defensive shape.

Arsenal memang menguasai bola lebih banyak di babak pertama, namun bola lebih banyak dioper di area sendiri dan sesekali long ball ke depan. Arsenal menghindari pressing Dortmund di area tengah. Konsekuensi dari taktik ini adalah operan “pinball” satu dua sentuhan di tengah lapangan yang menjadi karakteristik Arsenal tidak terjadi. Operan lebih banyak terjadi di sisi lapangan atau langsung ke depan. Bukan kebetulan kalau kombinasi operan terbanyak di antara pemain Arsenal adalah kombinasi Sagna dan Ozil dengan total 23 operan. Ini yang dikatakan selective ball possession.

Arsenal juga lebih jarang melakukan pressing di area lawan, dan sekitar garis tengah. Dortmund dibiarkan membawa bola, sesuatu yang sebenarnya bukan spesialisasi mereka. Back four Arsenal akan mundur sampai ke kotak penalti, demikian juga pemain tengah, sambil membayangi pemain Dortmund. Tackling hanya akan dilakukan ketika Dortmund masuk ke area di mana shooting dan crossing dimungkinkan. Arsenal nyaman membiarkan Dortmund membawa bola, dengan memprioritaskan defensive shape, menjaga jarak antar lini pemain Arsenal dan jarak pemain dengan bola. Dengan cara demikian ruang untuk counterattack Dortmund dibatasi. Itu yang dimaksud Klopp dengan: “we weren’t able to find a player in space a lot of the time.”

Saat Arsenal menyerang, lini belakang maju serentak untuk pertahankan jarak antara dua lini sembari eksekusi offside trap bila bola direbut dan diserang balik. Beberapa kali pemain Dortmund terkena jebakan offside ini. Yang paling nyata adalah saat tembakan Blaszczykowski ditahan Szczesny. Tiga pemain Dortmund berada di belakang garis pertahanan Arsenal sehingga walaupun bola rebound dari save Szczesny bisa disambar, posisi mereka sudah offside.

Saat Arsenal diserang, lini belakang dan lini tengah mundur. Jarak antar lini ini selalu dpertahankan. Ini yang dimaksud Wenger dengan compact. Good Awareness diperlukan untuk tahu kapan harus mundur dan maju, dan juga menyadari posisi rekan-rekan di sekitarnya saat eksekusi offside trap. Dan yang dimaksud tactical ability adalah kemampuan pemain mengeksekusi taktik ini dengan baik plus kemampuan beradaptasi secara taktis terhadap perubahan di lapangan.

Mertesacker, MotM pertandingan ini adalah kunci dalam memimpin lini pertahanan. Ia mengorganisir offside trap, melakukan interception, tackling, dan duetnya bersama Koscielny praktis meminimalisir peluang bersih Dortmund menjadi hanya tiga: tembakan melenceng Mkhitaryan, sundulan Reus dan tembakan Blaszczykowski. Sisanya adalah tembakan spekulatif atau peluang dari setplay. Bahkan di satu kesempatan, hanya dengan sebuah sapuan ia merebut bola dari kaki Reus yang sedang dribbling ke kotak penalti. Mertesacker memberikan rasa aman terhadap lini pertahanan Arsenal sehingga tidak terjadi kepanikan walaupun terus-menerus di bawah tekanan gegenpressing Dortmund.

Dortmund Defensive Dashboard (leg 1)
Dortmund Defensive Dashboard (leg 1)
Dortmund Defensive Dashboard (leg 2)
Dortmund Defensive Dashboard (leg 2)

Dari grafik di atas, bisa dilihat kalau di leg kedua Dortmund lebih sedikit melakukan tackling dan interception di area Arsenal dan area tengah, dampak dari penerapan taktik Arsenal. Selective ball possession Arsenal yang seringkali bypass area tengah dan pressing yang tidak dilakukan Arsenal di tengah lapangan mengurangi aksi gegenpressing Dortmund di area berbahaya tersebut.

Taktik anti-gegenpressing Wenger berhasil dilakukan pemain-pemain Arsenal dengan baik sehingga Dortmund gagal mencetak gol untuk pertama kalinya di kandangnya sendiri musim ini.

Orkestra Simfoni

Sebuah orkestra adalah permainan musik dengan banyak musisi yang memainkan instrumen yang berbeda. Orkestra yang dimainkan 50 musisi atau kurang disebut orkestra chamber, dan bila dimainkan dalam kapasitas penuh oleh kurang lebih 100 musisi disebut orkestra simfoni. Sebuah orkestra simfoni terdiri dari 4 kelompok dengan alat musik yang mirip: woodwinds, brass, percussion dan strings. Penjelasan lebih lengkap silakan cek wikipedia.

Apa yang ada di kepala Klopp saat menganalogikan sepakbola Arsenal dengan sebuah orkestra? Sepakbola Arsenal jelas hanya dimainkan oleh 11 orang, terlalu sedikit untuk sebuah orkestra namun juga sedikit lebih banyak daripada grup band heavy metal. Rasanya bukan jumlah orang yang dianalogikan Klopp tapi lebih pada upayanya kontraskan gaya sepakbola Arsenal dengan Dortmund.

Bila gaya sepakbola Dortmund adalah soal chaos, destruction football, merusak permainan lawan untuk kemudian menyerang secara mematikan, sepakbola Arsenal disamakan dengan harmonisasi musik dari instrumen-instrumen yang berbeda. Tentunya ini adalah pujian tulus dari Klopp. Arsenal dalam persepsinya memainkan sepakbola bak orkestra, komposisi musik yang harmonis dan “membangun”, kontras dengan musik heavy metal yang intens, acak dan “merusak”.

Klopp mungkin belum tahu semboyan Arsenal Victoria Concordia Crescit juga adalah soal meraih kemenangan lewat harmonisasi di antara pemainnya. Malam itu semboyan tersebut diaplikasikan dengan baik. Seluruh pemain Arsenal dari Giroud sampai Szczesny tampil harmonis dalam membendung serangan Dortmund. Mereka menikmati peran bertahan dari hingar-bingar aksi di lapangan maupun di sekeliling lapangan. Chant pendukung Dortmund yang tiada henti disertai teriakan dari megafon tidak menganggu performa pemain-pemain Arsenal. Mereka seakan bermain dengan earphone di telinga, sambil mendengarkan Symphony No. 9, tidak mempedulikan konser heavy metal yang sedang terjadi di sekelilingnya. The silent orchestra melayani serangan Dortmund dengan komunikasi telepatis antara pemainnya.

Di babak kedua, setelah serangan bertubi-tubi Dortmund selama 15 menit pertama yang gagal menemukan jalan ke gawang Arsenal, momen kemenangan orkestra simfoni tiba. Szczesny menendang bola jauh ke Giroud, disundul pemain Dortmund, Bender. Bola muntahan di udara disundul oleh Subotic lalu disundul kembali oleh Arteta dan hanya dengan satu sentuhan Rosicky membelokkan bola yang jatuh tersebut ke Ramsey yang langsung mengembalikan lagi ke Rosicky lewat one-two. Kembali dilakukan one-two dari Rosicky ke Ramsey, kembali ke Rosicky, lalu Rosicky melakukan one-two dengan pemain Dortmund (Sokratis), dan bola kembaliannya distop lalu dioper ke Ozil di sayap kanan. Ozil menghentikan bola lalu memberikan umpan lambung ke Giroud, disambut dengan sundulan ke tengah yang disamber Ramsey dengan kepalanya, tanpa mempedulikan kaki Subotic yang juga terangkat.

Gol ini melibatkan 3 one-two, 2 umpan lambung, 5 sundulan dan 16 sentuhan dalam waktu 20 detik

Kompleksitas gol yang terjadi dari rangkaian operan one touch ini tidak kalah dari gol Wilshere saat melawan Norwich. Gol ini melibatkan 3 one-two (2 antara Rosicky-Ramsey dan 1 antara Rosicky-Sokratis), 2 umpan lambung (Szczesny dan Ozil) dan 5 sundulan (2x Bender, Subotic dan 3x oleh Arteta, Giroud, Ramsey). Total terjadi 16 sentuhan (dengan urutan Szczesny-Bender-Subotic-Arteta-Rosicky-Ramsey-Rosicky-Ramsey-Rosicky-Sokratis-Rosicky 2x-Ozil 2x-Giroud-Ramsey) dalam waktu 20 detik sejak bola ditendang Szczesny sampai masuk ke gawang Dortmund. Sebuah gol yang indah, hasil harmonisasi peran kiper hingga striker. Sebuah gol orkestra. Arsenal kembali melakukan pinball football. Dan tentunya gegenpressing tidak bisa menjawab itu. Bagaimana mungkin melakukan pressing terhadap bola yang nyaris tidak berhenti?

Kemampuan Teknis yang Unggul

Setelah gol pertama itu, Arsenal makin menyerang dan Dortmund terlihat kelelahan. Total 5 peluang terjadi setelah itu. Tembakan Ramsey yang nyaris masuk bila tidak terkena kaki Weidenfeller, tembakan Giroud yang diselamatkan di garis gawang, dua kali sundulan Mertesacker menyambut corner kick dan terakhir dari Koscielny yang bertabrakan dengan Weidenfeller ketika menyambut bola di udara.

I was concerned that there was a long way to go at 1-0 but we could have made it two. We had some good chances. We knew at half-time it was about keeping our focus and letting our technical ability win the game, which is what happened.

Wenger merasa kemampuan teknis pemain-pemain Arsenal masih di atas Dortmund. Itu benar. Dortmund tidak memiliki pemain seperti Ozil, yang punya visi hingga beberapa langkah ke depan. Rosicky dan Cazorla adalah pemain dengan teknik yang lebih tinggi daripada rata-rata pemain Dortmund. Mereka juga tidak memiliki Ramsey, mesin gol dari tengah. Seberapapun hebatnya sebuah taktik dilatih, sepakbola adalah soal relasi manusia dengan bola. Momen-momen ajaib akan lahir dari aksi individual yang berteknik tinggi. Klopp sendiri pernah berkata demikian soal Messi:

Messi is the most unbelievable player because there’s no weapon against him when he is fit – no tactic will work

Pada akhirnya harmonisasi aksi individual pemain Arsenal, dari one-two yang dilakukan Rosicky dan Ramsey, crossing akurat Ozil, kegigihan Giroud dalam bertarung di udara dan sentuhan Midas Ramsey, dirangkai dalam sebuah rencana manager kawakan, mengalahkan taktik gegenpressing yang telah menjadi jiwa permainan kolektif Dortmund.

Klopp adalah pelatih super (sedikit insight bisa dibaca di artikel cemerlang ini) dan Dortmund adalah tim yang sangat bagus. Tim terkuat yang dihadapi Arsenal musim ini. Bahwa Arsenal bisa mengalahkan Dortmund di kandang mereka (yang sedang membutuhkan poin untuk lolos grup) setelah hampir imbang di kandang sendiri adalah indikasi kekuatan Arsenal saat ini. Tidak heran Arsenal bisa mengatasi Liverpool dengan relatif nyaman minggu lalu. Arsenal sudah menjadi salah satu tim terkuat di Eropa. Klopp pun menegaskan itu usai pertandingan.

Yes (Arsenal can win the Champions League). They are young, healthy and good technicians. They won a clever game tonight and could go to the final and win it – as long as they don’t play against Bayern Munich.

Hari Minggu ini, kita akan berhadapan dengan tim yang gagal menang di Real Sociedad walaupun sudah mencoba berbagai cara termasuk diving Ashley Young. Arsenal akan ke Old Trafford dengan kepercayaan diri penuh, tidak seperti beberapa musim sebelumnya. Artikel preview pertandingan tersebut akan ditulis terpisah besok atau lusa. Sementara itu, silakan berbagi kebahagiaan atas kemenangan monumental ini di kolom komentar di bawah. 🙂