Tentang Rumor Transfer dan Piala Dunia (1)

Piala Dunia telah dimulai dan tim mana yang engkau dukung?

Kalau saya mudah: Arsenal. Tim nasional mana saja yang sedang bertanding bila ada pemain Arsenalnya maka itu yang didukung. Untuk saat ini masih mudah karena pemain-pemain Arsenal belum saling bertemu. Ada 11 pemain Arsenal yang mengikuti Piala Dunia ini. Sejauh ini hanya Inggris (Wilshere dan Chamberlain) dan Spanyol (Cazorla) yang gagal mendapatkan poin. Jerman (Ozil, Mertesacker, Podolski) menang, Perancis (Koscielny, Giroud) menang, Costa Rica (Campbell) menang mengejutkan, dan bahkan Swiss (Djourou) juga menang. Belgia (Vermaelen) belum bertanding.

Partai selanjutnya di babak penyisihan grup ketika Perancis bertemu Swiss dan Costa Rica ketemu Inggris baru hadirkan sedikit dilema. Tidak sulit juga sebenarnya. Tentunya lebih dukung Perancis mengingat Djourou statusnya belum jelas musim depan dan pegang Inggris mengingat Wilshere dan Chamberlain sosok penting di skuad tersebut dan di Arsenal walaupun saya akan sangat senang bila Campbell bisa mengejutkan kita untuk kedua kalinya. Harapannya semua tim yang beranggotakan pemain Arsenal dapat lolos ke babak knock out agar kita bisa lebih lama melihat mereka bermain.

Selain pemain Arsenal, yang menarik juga dalam mengikuti Piala Dunia ini adalah menyaksikan penampilan calon-calon pemain Arsenal yang mulai beredar rumor transfernya. Pemain-pemain seperti Griezmann, Benzema, Sanchez, Balotelli, Aurier, Khedira masuk dalam radar fans Arsenal karena kuatnya rumor yang beredar dan semuanya tampil sangat meyakinkan sejauh ini. Untungnya Wenger ada di Brasil menjadi komentator televisi. Tugas sampingan scouting final calon pemain baru Arsenal bisa dilakukannya dari jarak dekat. Fans Arsenal pasti bisa menerima bila satu-dua nama dari yang disebutkan tersebut bergabung dengan klubnya musim depan. Mereka memenuhi kriteria World Class dan posisi yang sedang dibutuhkan Arsenal, antara lain: Striker, Winger, DM dan Right Back. Selain empat posisi itu, kita masih butuh goalkeeper namun kualitas back up cukup untuk musim depan, tak perlu world class.

Scouting Seorang Armchair Fan

Hasil pantauan singkat sementara: Benzema, Griezmann dan Balotelli sangat menggiurkan. Terutama Benzema yang notabene berkontribusi di semua tiga gol Perancis ke kandang Honduras. Bila Wenger berhasil menariknya ke Arsenal, Giroud akan mendapatkan rival berat atau pendamping hebat (bila kita switch ke 4-4-2). Benzema terlihat lebih cepat dari Giroud dan tendangannya lebih akurat. Namun Giroud lebih unggul soal hold up play. Bila mereka mampu berkolaborasi dengan apik (dan rasanya akan bermain bersama di partai berikutnya), duet striker ini bisa saling melengkapi dan menakutkan.

Balotelli sedikit berbeda dari Benzema. Ia punya kualitas di udara yang mungkin sebanding dengan Bendtner (ya terpaksa disebut lagi pemain ini) namun juga punya kualitas tendangan sebaik Podolski dan Benzema. Ia juga punya kecepatan yang lebih daripada Benzema. Ia seperti versi sempurna dari Sanogo. Prospek menduetkannya dengan Giroud dan bermain one two di kotak penalti lawan juga tidak kalah menggiurkannya. Wenger mesti mendapatkan satu dari dua target ini setelah Piala Dunia. Klub pemilik tidak akan menjual kedua pemain ini sebelum Piala Dunia usai, untuk mendapatkan tambahan beberapa juta pounds. Fans Arsenal mesti bersabar soal transfer antara kedua striker ini. Untuk harga, Balotelli akan lebih murah daripada Benzema karena reputasinya yang sulit diatur. Namun secara kualitas, Balotelli punya potensi yang dahsyat yang mungkin bisa melebihi Benzema di puncaknya, bila ia mau diatur dan bisa dikendalikan oleh Wenger.

Griezmann dan Sanchez adalah tipikal winger idaman yang kita butuhkan musim yang lalu. Kita butuh outlet untuk Ozil dan keduanya bisa menjadi outlet tersebut. Keduanya cepat dan punya crossing yang bagus. Tidak heran beredar rumor kembalinya Cazorla ke Spanyol, bila Arsenal memang serius ingin membeli winger baru. Bila tidak, saya tidak melihat kemungkinan Cazorla dilepas karena baru saja tanda tangan kontrak baru. Namun tak bisa dipungkiri, Griezmann atau Sanchez adalah upgrade atas Cazorla yang mulai kesulitan menemukan posisi tetapnya musim lalu di Arsenal.

Serge Aurier, self proclaimed new Arsenal player ini sangat ingin menggantikan Sagna dan dua assist-nya sudah memberikan kesan pertama yang bagus. Namun ia juga terlihat sedikit rentan soal bertahan, kebalikan dari Sagna. Untuk yang satu ini rasanya penilaian mesti disimpan dulu hingga 2 partai berikutnya.

Untuk posisi DM, Khedira memenuhi syarat dan bukan rahasia lagi kalau ia kurang betah di Madrid dan adalah teman akrab Ozil. Selain Khedira, saya juga tertarik dengan penampilan Morgan Schneiderlin yang sayangnya belum tampil untuk Perancis. Ia tampil baik bersama Southampton, tapi bagaimana bila ia bermain dengan rekan-rekan World Class di pentas dunia? Schneiderlin bisa jadi alternatif yang lebih murah bagi Arsenal, lebih muda dan sudah pasti tak perlu lagi beradaptasi dengan kompetisi di Inggris.

The New Born Arsenal Star

Joel Campbell sang pembuat kejutan. Pemain yang dibeli di tahun 2011 namun selama 3 musim bermain di luar Inggris karena permasalahan izin kerja (akhirnya didapatkan tahun lalu) membuktikan kepercayaan Wenger saat membelinya dari Costa Rica. Tampil cemerlang dengan satu gol dan satu assist melawan klub juara ketiga Piala Dunia lalu, Uruguay bukan hal biasa. Ia sudah pasti kembali ke Arsenal musim ini dan masih punya kontrak 2 tahun. Ia akan menjadi bonus bagi Arsenal musim ini, bersaing dengan Yaya Sanogo dan calon striker baru Arsenal. Bila ia bisa tampil cemerlang lagi saat melawan Inggris, tak ragu lagi media di Inggris akan mengangkat bintang baru ini. Ia bisa membuktikan penampilan cemerlangnya melawan tim mediocre di Champions League musim lalu, Manchester United bukan kebetulan.

Selain daftar nama pemain di atas, siapa lagi yang menjadi perhatianmu? Silakan share di kolom komentar.

Mesut Ozil

Sedikit bahasan tentang  Ozil. Sekarang telah terungkap alasan Wenger menolak membeli kembali Cesc Fabregas. Dari mulutnya sendiri, Cesc mengatakan Wenger menolaknya karena posisinya telah diisi Ozil. Artinya Wenger tidak bisa mengakomodasi Cesc di tim Arsenal yang sekarang. Sangat masuk akal sesuai artikel sebelumnya. Tidak mungkin Cesc dibeli hanya untuk menjadi pemain skuad yang dirotasikan atau Ozil mesti digeser menjadi pemain sayap. Arsenal hanya butuh satu playmaker murni dan saat ini Wenger yakin posisi itu milik Ozil. Dalam pertandingan melawan Jerman kemarin, walaupun Ozil tidak menghasilkan gol namun gerakannya berkontribusi besar terhadap 2 gol pertama Jerman. Selain itu setiap Jerman melakukan counter attack, Ozil selalu menjadi pemain pertama di lini depan yang berperan utama. Ozil berlari dengan cepat, mendapatkan bola dan mengirim ke depan dengan operan kilat. Bila Arsenal mendapatkan striker atau winger yang cepat, berpotensi menjadi tim counter attack yang mematikan seperti era Invincibles. Ini adalah kualitas Ozil yang sedikit berbeda dengan Cesc karena ia juga punya kecepatan dan nyaman bergerak menyusuri sisi samping lapangan. Ini dapat menjadi gaya sepakbola Arsenal musim ini.

Keraguan fans Arsenal terhadap Ozil mestinya dapat dihapuskan di Piala Dunia ini. Silakan tanya Mourinho apakah ia mau menukar Ozil dengan Cesc? Saya mulai sedikit curiga Mourinho ingin membeli Cesc agar memancing Wenger untuk mengaktifkan buyback clause sehingga budget kita yang terbatas itu habis untuk Cesc daripada pemain depan. Aksi itu sekaligus untuk membuat gusar Ozil karena hadirnya pemain hebat lain di posisinya di Arsenal dan Chelsea menjadi lebih mudah meminangnya. Sayangnya Wenger cerdik dan dapat membaca gerakan licik Mourinho itu dan tidak terjebak. Hehe tentunya ini hanya spekulasi iseng, tapi paling tidak ini teori yang menyenangkan bukan? Agak membingungkan juga mengapa Mourinho membeli Cesc ketika ia menjual Mata paruh musim lalu yang notabene posisinya hampir sama.

Hapuskan Keraguan

Bila masih ragu dengan niat belanja Arsenal, bacalah komentar Draxler yang baru saja mengakui bahwa Arsenal memang mengajukan penawaran untuk membelinya di bulan Januari lalu namun masih ditolaknya. Itu adalah bukti ambisi Arsenal untuk membeli striker baru. Mungkin saja penawaran Arsenal masih di bawah permintaan Schalke, namun paling tidak budget untuk striker baru itu memang ada sejak Januari. Saya yakin Wenger masih punya budget tersebut dan akan ditambah tambahan dana baru dari sponsor Puma dan Emirates yang dimulai musim ini. Wenger tahu persis kekurangan Arsenal dibanding 3 tim top lainnya adalah striker top dan itu mesti menjadi prioritasnya di jendela transfer ini. Untuk itulah ia menolak membelanjakan 30 juta pounds untuk Cesc dan menyimpannya untuk striker di kisaran nilai tersebut. Permasalahannya hanyalah menemukan kesepakatan dengan klub yang mau menjual striker topnya.

Untuk hal itu terjadi, butuh reaksi berantai dari beberapa peristiwa (seperti kasus Ozil) karena sangat-sangat jarang sebuah klub kaya mau menjual striker kelas dunia. Mari kita bersabar menunggu kejutan sambil menyaksikan penampilan calon-calon pemain Arsenal tersebut di Piala Dunia. Sambil berkhayal tentang mereka berkostum merah-putih di musim baru nanti. Bahan untuk ngayal: Balotelli atau Benzema? 😀

Persepsi ≠ Kenyataan

Pikiran adalah Pelopor…

Sebuah kalimat dari Dhammapada yang terkenal itu akan menjadi bahan blog hari ini. Lho kok bukan tema sepakbola? Tenang, kita akan sampai di sana. Karena tulisan juga adalah buah pikir, dan tulisan tentang sepakbola, tentang Arsenal, tentu juga dipelopori oleh pikiran. Anggap saja “perjalanan” kali ini lewat rute yang sedikit berbeda, rute yang sedikit filosofis.

Nah maksud dari pepatah di atas adalah pikiran mendahului segalanya. Segalanya di sini termasuk: ucapan, tindakan, dan bahkan formasi mental. Formasi mental seperti perasaan sedih, senang, suka, tidak suka, benci, percaya diri, ragu, dan lain-lain terbentuk oleh pikiran. Lalu pikiran itu sendiri apa? Tidak akan dibahas di sini supaya tetap relevan dengan tema blog ini, tapi singkat kata ada pikiran sadar dan bawah sadar. Kedua bagian dari pikiran ini dibatasi oleh batas tipis yang namanya kesadaran, namun mereka akan saling “menyeberang” batas, berinteraksi dan saling mempengaruhi. Apa yang ada di bawah sadar ini saat kondisi tertentu terpenuhi, akan naik ke atas dan membentuk pikiran yang menjadi awal dari formasi mental. Maka manusia memiliki disposisi mental. Disposisi atau lebih mudahnya disebut bias pikiran ini yang membuat kita misalnya melihat sesuatu secara subjektif dan tidak sama satu sama lain. Misalnya kita yang fans Arsenal memiliki bias terhadap Arsenal. Kita akan merasa klub ini lebih baik dalam satu dan banyak hal dibanding klub lain dan fans lain yang memiliki bias yang berbeda tidak akan sependapat. Bias ini juga dapat menjelaskan mengapa ada AKB dan WOB di antara fans Arsenal.

Label adalah wujud yang lebih konkrit dari bias. Label AKB dan WOB yang menyederhanakan kelompok fans Arsenal yang berbeda pendapat menjadi dua kutub ekstrim: kelompok yang mendukung Wenger dan kelompok yang anti Wenger. Saat klub ini menang terus dan bertengger di puncak klasemen, label AKB-WOB akan lenyap sementara karena kelompok-kelompok fans Arsenal ini sedang menikmati tujuan bersama dan punya musuh bersama: 19 klub lainnya. Mereka akan bersatu. Ketika Arsenal mengalami kekalahan telak seperti saat melawan Liverpool kemarin dan turun ke peringkat kedua, label ini kembali muncul. Ingat yang di atas: kondisi tertentu terpenuhi, bias yang berada di bawah sadar akan naik atas dan membentuk formasi mental ini. Grup WOB akan muncul lagi dan mencela taktik Wenger, mental pemain, dan kebijakan transfer klub. Karena “kondisi tertentu” (baca: kekalahan) tersebut dipenuhi. Walaupun Arsenal sebenarnya masih berada sangat dekat dengan puncak klasemen.

Saat klub ini menang terus dan bertengger di puncak klasemen, label AKB-WOB akan lenyap sementara karena kelompok-kelompok fans Arsenal ini sedang menikmati tujuan bersama dan punya musuh bersama…

Bias pikiran di bawah sadar ini saat muncul di permukaan sadar, menjadi Persepsi. Persepsi yang adalah kumpulan bentuk-bentuk pikiran, dan menjadi sumber kita saat berpendapat, menulis, berucap, bertindak. Problemnya adalah persepsi tidak selalu sama dengan kenyataan. Persepsi bahkan sering menarik kita jauh dari kenyataan. Kenyataan yang kita ciptakan dalam pikiran kita tidak sama dengan kenyataan yang terjadi di dunia. Persepsi ini adalah apa yang ada di pikiran, bukan apa yang ada di kenyataan. Kita gagal melihat kenyataan ketika pikiran kita dipenuhi persepsi. Seperti saat kita memakai kacamata hitam, seluruh dunia akan terlihat bergradasi hitam, sehingga persepsi kita: dunia itu hitam. Kita tidak akan tahu dunia ini begitu berwarna bila kita terlalu terikat dengan persepsi dan lupa melepas “kacamata hitam”.

Bingung? Mari kita berikan contoh yang lebih konkret.

Persepsi: Arsenal in crisis! Kekalahan telak Arsenal dari Liverpool membuyarkan mimpi mereka menjadi juara! Arsenal tidak pantas menjadi juara EPL!

Demikianlah headline media setelah kekalahan telak tersebut.

Kenyataan: Arsenal bertengger di peringkat kedua klasemen, hanya selisih satu poin dari Chelsea dan masih di atas Manchester City. Dua klub ini dipercaya mutlak hampir semua media sebagai calon kuat juara, sementara Arsenal berada di antaranya tapi tidak dianggap sama sekali. Dan dengan hasil seri Chelsea kemarin melawan WBA, Arsenal bisa dengan mudah naik lagi ke peringkat pertama jika mengalahkan MU malam ini.

Persepsi akan membesar-besarkan sesuatu sesuai bias kita. Bila memang mereka tidak percaya Arsenal tidak punya kans menjadi juara sejak awal musim ini, mereka cenderung akan memiliki bias tersebut sampai akhir musim, sampai kenyataan Arsenal memegang trofi juara terjadi. Maka ketika kekalahan telak tersebut terjadi, persepsinya bahwa Arsenal bukan tim kandidat juara tiba-tiba menemukan sebuah pendukung yang kuat. Nah apa gue bilang, Arsenal mana mungkin bisa jadi juara, dibantai Liverpool gitu. Dalam sekejap mereka mengabaikan hasil di 24 pertandingan sebelumnya yang mengantarkan Arsenal di posisi nomor satu tersebut. Satu kenyataan yang mendukung persepsinya akan dibesar-besarkan dan 24 kenyataan yang tidak sesuai persepsinya akan dikecil-kecilkan. Demikianlah cara kerja pikiran.

Kenyataan bahwa Wenger memberikan 3 gelar juara liga di masa lampau, dan kenyataan bahwa tim yang juara EPL setelah itu adalah tim yang memiliki budget belanja terbesar di liga (satu klub super kaya dan dua klub sugar daddy) diabaikan begitu saja.

Tentunya kita tidak bisa menyalahkan mereka, hal seperti ini terjadi bukan tanpa dasar. Delapan tahun tanpa trofi dan sembilan tahun tanpa gelar juara liga menjadi jejak rekam yang akan ikut membentuk persepsi ini. Apalagi untuk WOB yang anti Wenger. Pengalaman masa lalu di mana tim-tim Wenger pasca Highbury yang selalu nyaris juara tapi tak pernah juara membentuk persepsi mereka yang kuat bahwa tim di bawah Wenger tak mungkin lagi juara. Kenyataan bahwa Wenger memberikan 3 gelar juara liga di masa lampau, dan kenyataan bahwa tim yang juara EPL setelah itu adalah tim yang memiliki budget belanja terbesar di liga (satu klub super kaya dan dua klub sugar daddy) diabaikan begitu saja. Dalam hal ini persepsi mengalahkan kenyataan.

Nah mari kita coba membahas seobjektif mungkin apa itu kenyataan dalam kekalahan 5-1 dari Liverpool akhir pekan lalu.

1. Dua set pieces yang mengubah arah pertandingan

Konsentrasi tidak penuh pemain Arsenal di awal pertandingan berbuah fatal. Ketinggalan 2-0 demikian cepat membuat mereka harus keluar menyerang dan menjadi sasaran empuk kecepatan striker Liverpool. Bila kita cermati pertandingan Arsenal musim ini, tim ini cenderung bermain tenang tapi disiplin di babak pertama dan baru mencetak gol di babak kedua. Modalnya adalah pertahanan kokoh. Dalam sekejap duet CB terbaik musim ini diporak-porandakan oleh Liverpool karena konsentrasi lemah di awal pertandingan dan strategi Arsenal harus berubah. Mereka harus menyerang di babak pertama untuk mengejar ketertinggalan dan malah tertinggal lebih jauh.

2. Kelambanan yang dieksploitasi oleh kecepatan

Duet CB Arsenal walau terkokoh bukan yang tercepat di liga. Dan dua fullback yang dipasang malam itu juga bukan pemain yang larinya cepat. Gibbs dan Jenkinson umumnya lebih cepat daripada Monreal dan Sagna. Hal ini dieksploitasi oleh Liverpool yang memasang tiga striker cepat: Suarez, Sturridge dan Sterling. Kalau masih kurang yakin, bahkan inisial nama ketiganya adalah Trio S, Speed. Bila Arsenal hanya punya satu Walcott dan itu sudah ditakuti Barcelona, Liverpool punya 3 Walcott, bahkan dalam bentuk versi yang lebih mutakhir. Gol ketiga dan keempat Liverpool berawal dari Ozil yang kehilangan bola dan salah mengoper, namun tidak kurang kontribusinya juga adalah dua fullback yang sedang di posisi maju, dan kelambanan Arteta, Mertesacker dan Koscielny dibanding pemain penyerang Liverpool.

Kecepatan Liverpool sebenarnya bisa di-counter dengan memperlambat tempo permainan. Namun ketinggalan dahulu membuat pemain Arsenal tidak sabar dan meninggalkan rencana itu.

3. Pressing dan semangat memulai pertandingan yang berbeda

Arsenal bisa kehilangan bola di tengah lapangan karena pressing pemain Liverpool yang intens, yang mirip dengan gegenpressing Dortmund. Arsenal mungkin memulai pertandingan ini bukan dalam kondisi mental yang sebaik saat melawan Dortmund. Mungkin karena pernah mengalahkan Liverpool di kandang dengan cukup nyaman, pemain-pemain Arsenal di pertandingan ini sedikit nyantai. Tidak ada pressing tinggi di awal pertandingan, Giroud yang biasanya mengejar lawan terlihat santai, demikian juga pemain lainnya. Setelah tertinggal, Arsenal bermain terburu-buru untuk mencetak gol. Tidak ada passing-passing santai sambil mencari celah. Keterburu-buruan itu dikombinasikan dengan pressing tinggi dan intens Liverpool berbuah dua counter attack yang menghabisi peluang Arsenal untuk kembali di pertandingan ini.

Singkat kata, Arsenal bertemu bogey team-nya malam itu dalam bentuk Liverpool. Seperti api yang ketemu air, taktik dan formasi Arsenal diredam dengan cerdik oleh Liverpool. Ditambah dengan turunnya performa dan semangat beberapa pemain Arsenal, telaklah kekalahan yang didapatkan.

Arsenal bisa memenangkan pertandingan ini bila mereka tidak tertinggal lebih dahulu, perlahan membangun dominasi dan bermain lebih dalam. Menunggu Liverpool lelah dan frustrasi di babak kedua dan kemudian menyerang pertahanan mereka yang tidak terkenal kokoh. Namun dua set pieces tersebut mengubah segalanya.

Kenyataannya adalah Arsenal kalah telak lawan Liverpool. Kalah taktik dan kalah semangat. Tiga poin gagal didapatkan. Selain itu tidak perlu ada bumbu lainnya. Arsenal tetap di peringkat kedua, bisa kembali di peringkat pertama malam ini, dan masih berpeluang di perebutan juara liga musim ini. Walau kalah dari Liverpool, peringkat Arsenal masih di atas Liverpool dengan beda perolehan poin yang cukup signifikan. Arsenal tim yang lebih baik sepanjang musim tapi lebih buruk malam itu. Selain itu adalah persepsi belaka, ciptaan bias pikiran masing-masing.

Manchester United

Persepsinya adalah ini tim juara bertahan, punya mental juara. Kenyataannya adalah tim ini masih bertengger di peringkat ketujuh dan masih kesulitan menemukan form musim lalu. Tim ini sesungguhnya adalah team in crisis. Karena bila United tidak lolos ke UCL musim ini, maka semakin sulit bagi mereka merekrut pemain-pemain top Eropa. Kecuali jika mereka mau membayar gaji pemain barunya dua kali lipat ala City beberapa musim lalu. Namun kondisi keuangan MU yang dililit utang akibat pembebanan pribadi dari Glazers tidak memungkinkan itu. Moyes mesti berjuang untuk bisa finish di peringkat keempat, namun hal itu semakin hari semakin sulit. Apalagi melihat performa klub-klub top four saat ini, yang lebih kuat daripada musim sebelumnya.

Nah melawan United malam ini, Arsenal mesti melupakan kekalahan melawan Liverpool secara mental tapi mengingat jelas kesalahan-kesalahan yang dilakukan saat itu. Kenaifan taktik di lapangan tentu telah diulas Wenger sebelum pertandingan ini. Mereka tidak boleh kecolongan dari set pieces lagi. Konsentrasi mesti 110% saat bertahan dari set pieces. Gol semata wayang United paruh musim ini juga dari set pieces. Selain itu Arsenal mesti mengantisipasi crossing United karena sepertinya itulah satu-satunya taktik permainan tim Moyes. Mereka bermain lewat sayap yang memberikan umpan lambung ke dalam kotak penalti.

Kembali ke basic, bermain tenang seperti saat melawan klub-klub papan tengah, tidak terpengaruh dengan persepsi tim juara bertahan. Selama Arsenal bisa menempatkan calon lawannya ini di tempatnya yang pas (tim papan tengah saat ini), tidak terlalu takut dengan mantan kapten Judas-nya, maka Arsenal bisa meraih tiga poin malam ini. Bukannya meremehkan, tapi kenyataannya tim ini kalah oleh Stoke City di awal Februari dan sudah kalah delapan kali di liga musim ini. Kapan lagi saat yang tepat untuk membuktikan kepada si pembelot bahwa “arah dan ambisi” klub ini sudah benar, tidak seperti yang ia duga. Siapa yang menyangka kalau “arah dan ambisi” klub barunya itu ternyata malah tidak sesuai “persepsi”-nya setelah bergabung satu musim.

Selama Arsenal bisa menempatkan calon lawannya ini di tempatnya yang pas (tim papan tengah saat ini), tidak terlalu takut dengan mantan kapten Judas-nya, maka Arsenal bisa meraih tiga poin malam ini

Soal Ozil, malam di Anfield tersebut tentunya adalah malam terburuk baginya musim ini. Namun itu tidak serta merta membuatnya menjadi pemain buruk. Untuk seorang pemain baru, penampilannya musim ini termasuk relatif mulus kecuali malam itu. Setiap pemain pasti akan mengalami masa seperti itu. Yang perlu dilakukan fans dan sudah pasti dilakukan manager dan rekan-rekannya adalah memberikannya kepercayaan penuh dan terus mendukungnya. Mudah-mudahan kita berharap ia akan memberikan penampilan terbaiknya malam ini. Dan mulai mencetak gol, seperti harapan Wenger.

Untuk formasi lainnya, sebagaimana kata Wenger sendiri, saya prediksi tidak akan perubahan berarti.

After a big disappointment like that you always sit there, thinking, ‘Do I make five or six changes or do I give them a chance to show it was just an accident?’ And most of the time you give the players a chance, especially if they have done well before.

If there is a continuity of a bad patch you have to change things, but if it is just one game, most of the time you give the players a chance to [put things right].

Back four yang sama mungkin akan dipertahankan dan mungkin Gibbs masuk menggantikan Monreal. Arteta tetap dipasang karena Flamini masih dilarang bermain. Wilshere akan menemaninya di tengah dan satu-satunya kemungkinan penggantian pemain adalah posisi Chamberlain. Wenger bisa memilih Rosicky, Gnabry ataupun Podolski. Bila Wenger memilih Rosicky, kemungkinan Cazorla akan diganti Podolski di kiri. Namun rasanya Wenger akan memilih stabilitas dan performa Cazorla yang semakin membaik sebelum pertandingan melawan Liverpool tersebut.

Prediksi line up: 

Szczesny – Sagna, Mertesacker, Koscielny, Gibbs – Arteta, Wilshere, Ozil – Chamberlain, Giroud, Cazorla

Subs: Fabianski, Jenkinson, Monreal, Rosicky, Bendtner, Podolski, Sanogo