You Can’t Undo The Past

“You can’t undo the past but you can certainly not repeat it.”

– Bruce Willis

Terkadang, apa yang terjadi di masa lalu tak dapat dihapus begitu saja. Arsenal memang menciptakan “new beginning” dengan kemenangan 2-0 atas Monaco di kandang mereka semalam tapi hasil agregat 3-3 tidak dapat meloloskan Arsenal ke babak berikutnya karena aturan away goals UEFA. Lagi-lagi Arsenal gagal lolos walaupun menang di leg kedua dan seri dalam agregat. Ini kedua kalinya kita mendapatkan hasil yang persis sama, seakan mengulang hasil di babak 16 besar UCL melawan Bayern Muenchen 2 tahun lalu.

Kita tidak dapat menghapus masa lalu begitu saja. Sebagian dari masa lalu akan selalu menghantui kita, membayangi kita, dan mempengaruhi kehidupan kita di masa kini. Tapi kita tentu bisa untuk tidak mengulanginya. Pelajaran dari masa lampau digunakan untuk tidak mengulangi lagi kesalahan di masa kini dan masa depan. Mereka yang belajar dari pengalaman sendiri mestinya akan lebih berhasil daripada mereka yang belajar dari pengalaman orang lain, apalagi dari mereka yang menolak untuk belajar. Arsenal mengulang kembali kesalahan dua tahun lalu dengan tidak menutup pertandingan saat skor 1-2. Satu gol lawan di menit-menit terakhir pertandingan terbukti demikian mahal harganya. Semestinya tahun depan kesalahan yang sama tidak akan terulang lagi, kalau para pemain dan Wenger mau belajar dari dua pertandingan UCL ini.

Hal positifnya adalah Arsenal kembali menang dan menjaga momentum bagus untuk kembali bertarung di liga dan FA Cup. Semenjak tahun 2015 dimulai, Arsenal memiliki hasil yang sangat bagus. Dari 16 pertandingan, 13 kali menang dan 3 kali kalah (lawan Southampton, Sp*rs dan Monaco). Untuk pertandingan EPL saja, Arsenal mencetak 8 kemenangan dari 10 pertandingan, 24 poin dari 30 poin maksimal. Hanya Liverpool yang tampil lebih baik di tahun 2015 ini dengan 8 kemenangan dan 2 seri, 26 poin dari 30 poin maksimal. Tabel di bawah ini menunjukkan hasil pertandingan Arsenal di tahun 2015.

Hasil Pertandingan Arsenal di Tahun 2015

                                            Hasil Pertandingan Arsenal di Tahun 2015

Yang menarik adalah tidak adanya hasil seri sepanjang 2015. Sepuluh pertandingan (sebelas bila menang di semifinal FA Cup) menunggu Arsenal untuk sisa musim ini. Bila kita bisa memenangkan semua 11 pertandingan tersebut maka gelar juara FA Cup dan peringkat kedua sudah pasti di tangan. Peringkat satu bisa saja diraih jika Chelsea melakukan bunuh diri di 10 pertandingan terakhir mereka. Selisih 7 poin cukup jauh, namun bila kita mengalahkan mereka 26 April nanti, selisih tinggal 4 poin. Satu kali draw dan dua kali kekalahan akan membawa mereka sama poinnya dengan Arsenal yang menang beruntun. Kemungkinannya kecil namun selama kita terus meraih kemenangan, Chelsea jelas akan tertekan sebagaimana apa yang sekarang sedang terjadi pada Manchester City.

Dari 9 pertandingan liga yang tersisa, 5 adalah pertandingan kandang dan 4 pertandingan tandang. Penghambat terbesar adalah Chelsea dan Liverpool di kandang serta Manchester United di tandang. Bila Arsenal bisa mengulangi performa mereka saat dua pertandingan tandang di Manchester, sangat mungkin nilai sempurna bisa diraih dari ketiga pertandingan tersebut. Kekecewaan di Liga Champions ini mestinya bisa diarahkan ke Premier League dan FA Cup. Fokus para pemain mesti diarahkan oleh Wenger ke 11 pertandingan tersisa. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, namun kita bisa tidak mengulanginya. Kesalahan elementer saat melawan Monaco di leg pertama bisa kita hindari. Kesombongan, menganggap remeh lawan, gung-ho dalam menyerang, lupa bertahan, lengah semenit dalam 90 menit, tak boleh dilakukan lagi. Penampilan profesional dalam 5 pertandingan semenjak kekalahan atas Monaco tersebut mesti diduplikasi untuk 11 pertandingan berikutnya. Musim ini belum selesai. Kita masih bisa menciptakan happy ending.

Olivier Giroud dan Aaron Ramsey

Bila awal musim adalah kisah soal Alexis, maka akhir musim tampaknya yang menjadi pemeran utama adalah duo Giroud dan Ramsey. Lagi-lagi mereka mencetak gol dan mencatatkan penampilan tim yang cemerlang. Keduanya mengulang kisah sukses musim lalu sebelum dilanda cedera. Alexis terlihat lelah belakangan ini dan perlu diistirahatkan. Walcott perlu mendapatkan kesempatan lebih untuk mengasah ketajamannya di depan gawang. Ramsey perlu diberikan tempat, walaupun mesti menggeser Cazorla. Mungkin Cazorla bisa bergantian dengan Ozil dalam memerankan playmaker.

Pilihan cukup banyak di lini depan dan tengah. Wenger harus pintar memainkan rotasi untuk menjaga kesegaran pemainnya. Welbeck, Walcott dan Ramsey sangat segar karena baru pulih dari cedera dan perlu mendapatkan kepercayaan pelatih. Mengistirahatkan pemain bintang seperti Alexis dan Ozil mestinya tidak menjadi hal tabu daripada memforsir mereka dan hasilnya tidak optimal. Dengan istirahat yang cukup, Alexis mestinya punya sedikit waktu untuk merenung dan berpikir bahwa sepakbola bukanlah beban individual semata. Kerjasama apik yang diperlihatkan Giroud dan Ramsey mestinya bisa mengingatkannya bahwa kemenangan itu hasil kerjasama tim yang baik. Ia terkadang terlihat begitu ngotot untuk memasukkan gol sendiri tanpa melihat posisi temannya.

Alexis mungkin masih berjuang dengan pelajaran bahasa Inggrisnya namun ia perlu mempelajari kalimat ini: “Victoria Concordia Crescit”. Bukan kalimat dalam bahasa Inggris, tetapi Alexis mungkin perlu memahami dan meresapinya.

An Everlasting New Beginning

“Football, if I can say, is an everlasting new beginning.”

– Oliver Giroud

Ungkapan di atas sering terbaca di berbagai artikel media Inggris pasca kemenangan 3-0 Arsenal atas West Ham. Penampilan sempurna Giroud yang menyumbangkan 1 gol, 1 assist dan 1 pre-assist, semacam menjadi aksi “redemption”-nya setelah kegagalan mencetak gol saat melawan Monaco di Champions League. Namun, sebenarnya kalimat di atas sudah pernah diucapkan Giroud di bulan Januari 2015 saat ia diwawancarai oleh Sports Illustrated.

Mungkin Giroud menjadi sedikit filosofis karena punya waktu lama untuk merenung selama proses rehabilitasi dari cederanya yang cukup panjang. Pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir dalam kariernya ia mengalami cedera serius. Ia harus mengulang segalanya dari nol kembali setelah pulih dari cedera panjang. Ia mesti bersaing dengan Welbeck dan Sanchez untuk posisi striker utama Arsenal. Filosofinya bahwa sepakbola selamanya adalah permulaan yang baru itu ada benarnya. Dalam kompetisi liga, pertandingan selalu di-reset setelah 90 menit. Walaupun hasil kumulatif dari poin setiap pertandingan dijumlahkan untuk menentukan juara kompetisi, hasil pertandingan yang satu tidaklah secara langsung mempengaruhi hasil pertandingan berikutnya. Sepakbola selalu memberikan peluang untuk lahir baru, untuk memperbaiki yang salah, untuk bertobat. Ungkapan “everlasting new beginning” juga bisa ditemukan dalam kitab suci, tentang kesempatan yang diberikan untuk memulai hidup baru, terlepas dari apa yang telah dilakukan di masa lampau.

Blog ini juga semacam mengalami sebuah “new beginning” dengan tulisan ini. Saya terakhir menulis tentang Arsenal di blog ini kurang lebih enam bulan lalu, September 2014, ketika musim kompetisi baru bergulir. Sekarang kita memasuki 9 pertandingan terakhir Premier League, babak semifinal FA Cup, dan bila mukjizat terjadi, babak perdelapan final Champions League (untuk Arsenal). Saya bukannya sengaja menghilang karena hasil-hasil buruk Arsenal di periode tersebut (walaupun malas juga kalau mesti menulis tentang kekalahan demi kekalahan, hehe), namun kesibukan di pekerjaan demi sesuap nasi dan seonggok berlian akhirnya menghambat isi otak tentang Arsenal untuk disebarkan lewat blog ini. Saya tetap mengikuti berita tentang Arsenal dan menonton pertandingannya (di layar kaca tentunya). Saya tetap mengumpat-umpat ke TV ketika Arsenal kalah dan tersenyum sendiri setiap pagi setelah Arsenal menang. Hanya saja untuk menulisnya, butuh waktu luang selama 1-2 jam tidak terganggu, hal yang sulit terjadi di tengah kesibukan saya tahun lalu dan awal tahun ini. Saya berharap tulisan ini bisa menjadi awal baru dari konsistensi saya dalam menulis tentang Arsenal. Tidak janji, namun akan diupayakan.

A New Beginning

Beberapa pemain Arsenal mengalami a new beginning seperti Giroud. Francis Coquelin adalah pemain yang paling menonjol. Ia hampir hilang dari radar fans pemain Arsenal kalau saja Wenger tidak memanggilnya kembali di paruh musim karena cedera panjang Arteta. Coquelin seakan lahir baru, memainkan peran sempurna di posisi DM, melengkapi puzzle Arsenal yang selama ini tidak pernah komplet. Ia menjadi tak tergantikan di posisi tersebut, bahkan tidak oleh Arteta yang fit sekalipun. Penampilannya sejak melawan Manchester City dan kemudian diulang di setiap pertandingan baik melawan tim kecil maupun besar, membuka mata fans Arsenal tentang pentingnya DM yang intelijen secara taktik, mampu membaca pertandingan dengan baik, dan mampu merebut bola dengan tackle ataupun interception. Coquelin tidak bertubuh tinggi besar, namun ia memiliki otak yang cepat berpikir dan tubuh yang cepat bereaksi, memotong bola lawan dan melakukan tackle dengan timing yang sempurna. Ia bahkan masih dapat berkontribusi dalam penyerangan bila melihat beberapa umpan panjangnya yang akurat. Saya tidak ragu lagi kalau Coquelin akan menjadi DM utama Arsenal hingga awal musim depan.

Hector Bellerin adalah pemain lainnya. Diberkati dengan timing yang pas dengan cedera Debuchy dan Koscielny sehingga Chambers beberapa kali harus bermain sebagai CB, Bellerin memulai karirnya sebagai pemain starter. Ia mampu bertahan dengan baik dan sangat cepat dalam counter attacking. Ia juga bagus dalam interception. Chambers tergeser posisinya sebagai back up CB. Musim depan akan menarik untuk melihat kompetisi antara Bellerin dengan Debuchy di RB namun musim ini Wenger tampaknya akan percaya pada Bellerin untuk menghantarkan Arsenal ke garis finish.

Santi Cazorla, Aaron Ramsey, Theo Walcott bisa juga masuk dalam kategori pemain lama namun memulai awal baru di musim ini. Pemain yang benar-benar baru seperti Alexis, Chambers, Gabriel, Ospina, Debuchy dan Welbeck sudah pasti sedang memulai babak baru dalam karir sepakbola mereka. Namun dalam durasi yang lebih pendek, setiap pemain berkesempatan untuk memperbarui penampilan mereka dalam setiap pertandingan. Dalam sepakbola setiap kali peluit berbunyi, semua pemain selalu memulai dari nol. Berapapun gol yang ia cetak di pertandingan sebelumnya, tidak menjadi jaminan ia akan mencetak gol lagi di pertandingan ini. Sebaliknya, berapapun kesempatan yang gagal berbuah menjadi gol di pertandingan sebelumnya, tidak menjadi jaminan kegagalan mencetak gol di pertandingan ini. Football indeed is an everlasting new beginning.

The Chance to Put It Right

“We got it wrong in the first game. What you want in life is the chance to put it right. We have the opportunity to put it right and after, no matter what, we will be ready to give everything to do it.

We are in a position where today Monaco is favourite. We can go there and create something special. I believe that we will have the desire to do it and give absolutely everything to do it.

I’d prefer to be 3-0 up but we have no choice. We have to put it right. Sometimes in life, you make a big mistake, and there’s no comeback, no way you get the chance to put it right again. In football, you can do it, so let’s just give everything to do it.”

– Wenger on the 2nd leg vs Monaco

Dalam kehidupan ada kalanya kita diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, namun tidak akan sering. Entah oleh guru, oleh keluarga, oleh pasangan, oleh komunitas di sekeliling kita, kesempatan untuk memperbaiki kesalahan akan diberikan, namun tidak akan berulang-ulang. Dalam sistem hukum kita dikenal adanya hukuman percobaan. Dalam agama, ada yang dinamakan kesempatan untuk bertobat. Dalam sepakbola, kesempatan untuk memperbaiki kesalahan lebih sering diberikan. Setiap pertandingan adalah kesempatan baru untuk memperbaiki apa yang salah, meluruskan apa yang tidak benar. The chance to put it right. Dengan catatan, selama pemain itu masih dipercaya sang pelatih.

Giroud masih dipercaya Wenger pasca horror melawan Monaco di Emirates Stadium, maka ia diberi kesempatan. Ia lalu mencetak gol di setiap pertandingan liga setelahnya (lawan Everton, QPR dan West Ham). Mertesacker adalah pemain lain yang tampil buruk di pertandingan itu, ia kembali masuk starting line up saat melawan QPR dan kembali ke performa biasanya. Giroud dan Mertesacker akan menjadi pemain yang paling berambisi mengubur kesalahan di leg pertama dengan penampilan gemilang di leg kedua ini. Tidak heran mereka berdualah yang paling banyak berkomentar sebelum pertandingan malam ini. Mudah-mudahan keduanya bisa membuktikannya di lapangan hijau.

Mencetak tiga gol tanpa kebobolan melawan Monaco bukan hal mudah. Namun Arsenal juga telah beberapa kali hampir membalikkan keadaan di leg kedua UCL. Hasil 2-0 lawan Bayern Muenchen di kandang mereka dan 3-0 lawan AC Milan di kandang sendiri adalah hasil spektakuler tapi masih dikategorikan sebagai kegagalan. Arsenal mungkin bisa menang malam ini, tapi apakah mereka mampu menang 3-0? Sebagai fans, kita pasti akan memberikan kesempatan, the chance to put it right. Inilah indahnya sepakbola. Fans akan cepat melupakan kekalahan ketika kemenangan hadir. Kesedihan bisa dengan cepat berganti menjadi kegembiraan.

Apapun hasil malam ini, tersingkir atau lolos, musim Arsenal belum berakhir. Semifinal FA Cup sudah menanti. Selisih 1 poin dengan City di liga menghadirkan kesempatan untuk merebut posisi kedua. Musim ini bagaikan roller coaster yang bertolak belakang dengan musim lalu. Setelah tampil buruk di paruh musim pertama, saat ini terlihat cikal bakal Arsenal baru yang kuat. Arsenal yang bisa menang tandang melawan klub besar lainnya. Dua klub Manchester sudah ditaklukkan di kandang mereka. Delapan kemenangan dari sepuluh pertandingan liga sejak awal tahun 2015 melejitkan Arsenal ke posisi ketiga setelah berbulan-bulan jauh dari posisi empat besar. Arsenal bisa finish lebih baik dengan poin yang lebih banyak daripada musim lalu. Menjadi juara mungkin masih agak jauh, tergantung bunuh dirinya Chelsea. Namun peringkat kedua di Premier League dan trofi FA Cup menjadi target yang sangat realistis saat ini.

Dalam hidup, ketika kita melakukan kesalahan, kita tentunya berharap diberikan kesempatan untuk memperbaikinya. Demikian juga pemain-pemain Arsenal. Sebagai fans, hal terbaik yang kita bisa lakukan adalah mendukung mereka hingga 90 menit berakhir. Percayalah pada mereka. Berikan mereka kesempatan. Sudah pasti mereka akan berjuang habis-habisan untuk membalikkan keadaan. Soal berhasil atau tidak adalah hal kedua, yang pertama akan kita akan nilai adalah perjuangan di lapangan hijau.

Pertandingan malam ini mungkin juga membawa sedikit nostalgia untuk Monsieur Wenger. Monaco adalah klub besar pertama yang dilatihnya. Di sini ia mengalami masa-masa indah dengan gelar liga pertamanya dan juga masa-masa pahit ketika dipecat dan juga harus kalah bersaing dari Marseille yang akhirnya terbukti menyuap pemain-pemain di Ligue 1. Kekecewaannya bersama Monaco bahkan harus membuatnya “bertapa” dahulu, jauh dari sepakbola Eropa di negeri Jepang. Dan kembali ke filosofi Giroud, selalu ada kesempatan baru, permulaan baru dalam sepakbola. Dari Jepang, Wenger malah menemukan tempatnya di Arsenal. Ia mungkin malah menjadi figur sepakbola dunia yang lebih berpengaruh saat ini daripada bila ia tetap di Perancis saat itu. Namun Monaco tidak melupakan Wenger. Presentasi spesial dengan plague dan foto Wenger menyambutnya di Stade Louis II.

Sejarah dan nostalgia masa lalu, statistik dan rekor Champions League (yang sangat mengunggulkan Monaco) bertemu malam ini dengan prospek new beginning-nya Arsenal. Dengan perjuangan keras dan sedikit dibantu oleh dewi fortuna, Arsenal sangat mungkin dapat mengukir sejarah baru malam ini. Victoria Concordia Crescit.

Preview Arsenal 2014/2015: Ambisi ke Puncak

Akhirnya saya sempatkan diri untuk menulis artikel preview ini walau musim 2014/2015 telah berjalan kurang lebih sebulan. Alasan penundaan adalah alasan kesibukan pribadi (klise) dan jendela transfer yang belum ditutup hingga 2 minggu lalu. Bergabungnya Welbeck dan hasil seri melawan City rasanya menjadi timing yang tepat untuk diluncurkannya artikel ini. Tidak terlalu panjang tapi saya akan mencoba membahas kekuatan dan kelemahan Arsenal musim ini dan target klub musim ini.

Skuad Utama

Dengan dibelinya Sanchez, Debuchy, Ospina, Chambers dan Welbeck, skuad Arsenal tidak dipungkiri lagi di atas kertas lebih kuat daripada musim lalu terutama di lini depan. Bersama dengan pemain muda yang makin matang, skuad utama Arsenal terdiri dari 31 pemain seperti terlihat dalam foto di bawah ini.

Arsenal First Team Photocall

Arsenal First Team Photocall

Dari depan ke belakang, kiri ke kanan:

  1. Sanchez, Wilshere, Ozil, Rosicky, Mertesacker, Wenger, Arteta, Koscielny, Podolski, Walcott, Cazorla
  2. Debuchy, Coquelin, Ramsey, Giroud, Sanogo, Diaby, Chambers, Welbeck, Bellerin, Flamini, Gibbs, Chamberlain
  3. Gnabry, Zelalem, Akpom, Martinez, Szczesny, Ospina, Hayden, Monreal, Campbell

Arsenal bisa mendaftarkan 31 pemain karena memiliki banyak pemain U-21. Selain Bellerin, Hayden, Zelalem, Akpom yang baru dipromosikan musim ini, Sanogo, Gnabry dan Chamberlain juga masih masuk kategori U-21. Total ada 7 pemain U-21 sehingga kuota 25 pemain di EPL masih dapat dipenuhi Arsenal, walaupun memiliki total 31 pemain tim utama. Pembagian pemain berdasarkan posisi dan jumlah pemain di tiap posisi bisa dilihat di tabel di bawah ini.

Posisi dan Formasi

Posisi dan Formasi

Bila tidak ada pemain yang cedera, maka tim ini cukup seimbang dan “dalam” di semua lini. Lini belakang sedikit riskan karena 3 pemain dari 8 pemain tersebut adalah pemain U-21 yang belum cukup jam terbang padahal posisi pertahanan adalah posisi yang paling mementingkan pengalaman. Posisi penjaga gawang tercover dengan baik dengan tambahan Ospina yang adalah kiper kelas dunia dan Martinez sebagai kiper ketiga terbaik di liga. Lini tengah penuh dengan pemain kreatif dan pertanyaan utama adalah gagalnya Arsenal menggaet DM baru mengingat performa Flamini di posisi tersebut kurang meyakinkan dan pergerakan Arteta yang makin lamban dimakan usia. Lini depan paling menjanjikan dengan ditambahnya pemain sekelas Sanchez dan Welbeck. Tampaknya cedera Giroud bisa menjadi blessing in disguise bila Welbeck mampu mencetak gol rutin di pertengahan pertama musim ini. Prospek tersebut telah terlihat dari penampilannya melawan City dan saat international break bersama Inggris. Kita tinggal menghitung hari saat Welbeck mencetak gol pertamanya karena Sanchez ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk mencetak gol pertamanya. Total sudah 3 gol disarangkan Sanchez hanya dalam sebulan debutnya. Tidak ada pemain yang lebih cepat nyetel dengan Arsenal sejak debutnya daripada Alexis Sanchez.

Review Transfer Arsenal

Saya pribadi cukup puas dengan hasil transfer Arsenal musim ini walaupun kebanyakan fans Arsenal menggerutu soal gagalnya Arsenal merekrut DM dan CB baru. Sedikit perspektif untuk hal ini:

  1. Musim ini adalah pembelanjaan terbesar Arsenal dalam sejarah klub. Arsenal menghabiskan sekitar 80 juta pounds untuk 5 pemain baru, dan setelah penjualan pemain net transfernya menjadi sekitar 60 juta pounds (dikurangi penjualan Vermaelen, Eisfeld dan Djourou). Angka net transfer ini hanya di bawah Manchester United musim ini yang terpaksa belanja besar-besaran demi mimpi empat besar mereka (ironis setelah fansnya gemar mengejek finish top four kita setiap musim). Inilah bukti ambisi Arsenal yang tidak pelit belanja. City dan Chelsea sendiri terpaksa membatasi belanja pemain mereka karena aturan FFP. Chelsea beruntung karena mereka berhasil “menipu” PSG agar membeli David Luiz senilai 50 juta pounds. Lebih mahal dari Mesut Ozil, bayangkan.
  2. Kegagalan merekrut DM baru dari daftar nama seperti: Lars Bender, Morgan Schneiderlin, William Carvalho perlu dipahami dengan perspektif yang pas karena ketiga pemain tersebut nyatanya tidak pindah dari klub asalnya. Artinya klub asal mereka tidak berminat menjual pemain tersebut, dengan harga pasar, pada musim ini. Diperlukan kesepakatan ketiga pihak agar transfer bisa terjadi. Schneiderlin yang memaksa untuk pindah juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika Southampton menolak menjualnya ke Sp*rs. Apalagi tiga pemaini ini masih memiliki kontrak yang cukup panjang. Arsenal menolak membeli DM kualitas tanggung atau DM tidak berpengalaman seperti Adrien Rabiot misalnya. Atau pemain yang bukan DM seperti Sami Khedira (yang langsung cedera di awal musim, sialnya). Arsenal memilih menunggu transfer window berikutnya untuk kembali mencoba pembelian DM baru. Januari ini rasanya akan ramai kembali rumor seputar ketiga pemain tersebut. Saya pribadi akan menambahkan nama Paul Pogba di Januari atau Juni tahun depan. 🙂
  3. Kegagalan merekrut CB ini baru layak disesalkan. Nama pemain seperti Manolas yang sempat mendekat ke Arsenal tidak menjadi kenyataan (ia memilih bergabung dengan Roma). Beberapa nama alternatif beredar di hari terakhir transfer window namun tidak ada satupun yang menjadi kenyataan. Prediksi saya adalah nama pemain-pemain yang beredar tidak cukup memuaskan Wenger. Mereka bisa jadi tidak lebih baik dari Vermaelen dan bila ada yang lebih baik, tidak dijual oleh klubnya (Hummels). Kita bisa melihat contoh MU yang hanya berhasil merekrut satu CB dalam diri Marcus Rojo padahal Van Gaal ingin memainkan formasi 3-5-2 yang artinya mereka butuh paling tidak 5 pemain CB berkualitas. City membeli Mangala seharga Sanchez padahal ia “hanyalah” CB ketiga di timnas Perancis, tidak bermain sama sekali di Piala Dunia. Kelangkaan CB sebagaimana kelangkaan CF dalam transfer musim ini adalah fenomena baru. Eropa sepertinya memupuk dan kaya akan pemain tengah kreatif, namun miskin pemain depan dan belakang sedangkan Amerika Latin sebaliknya. Hal ini bisa diatasi dengan memberikan kesempatan pada pemain belakang dan depan muda untuk bermain di liga elit, berkompetisi dengan pemain-pemain terbaik dunia dan Arsenal akan melakukan itu terhadap Chambers dan Welbeck.

Buat saya, nilai transfer Arsenal musim ini adalah 8. Puas tapi tidak sempurna. Bagi yang masih kecewa, mungkin disebabkan oleh momentum di deadline day transfer window. Coba dibalik misalnya Arsenal membeli Welbeck di awal transfer window dan membeli Sanchez di akhir transfer window. Rasanya fans Arsenal akan tenggelam dalam euforia sebagaimana saat Arsenal membeli Ozil musim lalu. Lagi-lagi ini soal perspektif, yang dipengaruhi situasi dan momentum. Silakan direnungkan.

Prediksi saya, munculnya peluang membeli Welbeck dan cedera panjang Giroud membuat Arsenal memilih menghabiskan sisa pundi transfer untuk seorang striker daripada untuk seorang CB cadangan kualitas rata-rata. Langkah ini tidak dapat dibantah adalah cermin ambisi Arsenal ke puncak daripada bertahan untuk peringkat keempat. Akan saya jelaskan mengapa di bagian berikutnya.

Formasi 4-1-4-1

Formasi yang mulai dicoba Wenger sejak pre-season ini adalah varian terbaru dari 4-3-3 yang menjadi cetak biru Arsenal pasca Invincibles. Wenger mencoba formasi ini karena ingin memainkan Wilshere dan Ramsey bersamaan sebagai duo box-to-box yang di-cover satu DM. Posisi AM dengan sendirinya hilang dan digantikan dengan dua pemain tengah-luar yang bisa menjadi pemain sayap atau playmaker yang beroperasi dari sayap ke tengah (ingat Pires?). Keuntungan formasi ini adalah Wenger tidak perlu memilih antara Ramsey dan Wilshere dan bukan kebetulan pula Wilshere menjadi pemain terbaik Arsenal saat melawan City karena formasi ini. Kerugiannya adalah Ozil menjadi pemain yang dikorbankan dari posisi favoritnya sebagai No.10 tulen. Ia terpaksa bermain di sayap, dan dapat masuk ke tengah hanya bila dua pemain B2B Arsenal tidak mengisi posisi tersebut. Apakah Wenger memilih mengorbankan Ozil demi Wilshere? Bila kita menganalisa lebih dalam, bukan itu maksud perubahan formasi ini.

Kelebihan formasi 4-1-4-1 ini adalah fleksibilitas. Hanya dengan satu pergantian pemain, formasi ini bisa dengan cepat berubah menjadi 4-2-3-1, 4-1-2-3 (4-3-3), atau bahkan 4-4-2 (lihat tabel di atas). Artikel ini mengupas bagaimana Guardiola dengan Bayern Muenchen-nya mengadopsi 4-1-4-1 menjadi formasi utama mereka yang fleksibel. Rasanya bukan untuk mencontoh Guardiola, Wenger menerapkan formasi ini sejak awal musim. Namun ada sebab khusus karena pengalaman musim lalu dan eksperimen untuk memperbaiki kekurangan musim lalu, terutama saat menghadapi tim besar.

Untuk memahami lebih dalam formasi 4-1-4-1, artikel ini bisa menjadi pembuka. Artikel di blog yang menganalisa taktik sepakbola Jerman ini mengulas bagaimana formasi 4-1-4-1 bisa menghasilkan pressing yang efektif, dan juga “jebakan pressing”. Dengan menguasai 2 lini dari 4 yang tersedia dan kemudahan untuk pindah lini dari empat pemain di lini tengah, formasi ini sangat fleksibel dan efektif dalam menerapkan pressing. Artikel taktik tersebut menjelaskan bagaimana 4-1-4-1 bisa menjebak lawan dalam ruang yang dikurung pemain tengah dan depan yang lalu memaksanya melakukan operan yang tidak akurat sehingga terjadi transisi. Jack Wilshere mengatakan hal ini setelah pertandingan lawan Man City:

That first five seconds is important – we want to win the ball back in a dangerous position. You saw it with the first goal, we won it high up the pitch. Once we get behind the midfield with runners, teams can’t live with us.

Taktik Arsenal melawan Man City adalah melakukan pressing tinggi di area lawan, memaksa mereka kehilangan bola, dan transisi terjadi dengan cepat karena jarak (terjadi di area lawan) dan waktu yang pendek (kecepatan pemain Arsenal). Lawan yang baru saja kehilangan bola tidak punya cukup waktu untuk menyusun kembali formasi bertahan. Gol pertama Wilshere adalah contoh keberhasilan taktik tersebut.

Gol kedua terjadi ketika clearance yang tidak mulus berhasil disundul kembali oleh Wilshere yang bergerak dari lini kedua. Sanchez yang berada di lini depan menyamber bola dengan teknik yang tinggi. Gol ini hanya bisa terjadi karena banyaknya pemain Arsenal yang memenuhi lapangan lawan. Ini tidak lain karena formasi 4-1-4-1.

Wenger terkenal dengan ucapannya yang mengatakan memperbaiki pertahanan jauh lebih mudah daripada memperbaiki serangan dan hal itu benar adanya. Melirik jumlah gol Arsenal musim lalu yang berselisih jauh dari Man City dan Liverpool, jelas area ini yang ingin dibenahinya musim ini. Selain dengan merekrut Sanchez dan Welbeck, perpindahan formasi dari 4-2-3-1 yang menitik beratkan ball possession ke formasi 4-1-4-1 yang menitik beratkan pada high pressing bertujuan untuk memperbaiki serangan Arsenal. Meningkatkan jumlah peluang dan gol yang tercipta dengan menambah daya dobrak lini depan dan memperbanyak jumlah transisi berbahaya di lapangan lawan. Berdasarkan pertandingan melawan Man City ini, hasilnya cukup menjanjikan. Inilah senjata Arsenal melawan momok tim besar musim lalu. Arsenal akan menyerang daripada bertahan. Tekanan lebih pada mencetak gol daripada menjaga clean sheet. Dan kecepatan Welbeck, Sanchez serta Walcott yang akan bergabung bulan depan akan menjadi faktor penting dalam peningkatan daya serang Arsenal ini.

Latihan Set Pieces

Bila perubahan ke formasi 4-1-4-1 untuk sementara meningkatkan daya serangan Arsenal, kelemahan masa lalu berupa kebobolan gol set pieces kembali terjadi. Hal ini bisa disebabkan oleh belum mantapnya Zonal Marking Arsenal, atau karena absennya Giroud yang biasanya menambah tinggi rata-rata pemain Arsenal. Musim lalu hal ini telah diperbaiki Arsenal dan Arsenal harus segera memperbaikinya di awal musim ini. Szczesny telah memastikan hal ini tidak luput dari perhatian pemain.

We do realise that set pieces have been a weakness for us recently. We’ve conceded [a couple] of goals already and it’s very early in the season.

We did very well last season on set pieces and we’re a bit disappointed. We’ve been working on it in training so hopefully we’ll put that right on Tuesday.

Saya tidak terlalu kuatir dengan hal ini. Set pieces bisa dilatih. Pemain-pemain baru hanya perlu beradaptasi dengan Zonal Marking Arsenal saat set pieces. Selain defensive set pieces, yang perlu dilatih Arsenal juga adalah offensive set pieces. Adanya Sanchez dan Wilshere yang gemar dribbling sudah pasti akan mengundang banyak foul di area berbahaya lawan. Sayang sekali bila set pieces hasil foul ini tidak dimanfaatkan optimal oleh Arsenal. Saat melawan City, banyak peluang set pieces terbuang percuma karena delivery yang tidak bagus.

Mesut Ozil

Seperti Wilshere yang dikritik sebelum pertandingan kemarin, kali ini giliran Ozil yang mendapatkan kritikan keras pundit bola maupun fans Arsenal sendiri. Kritikan ini seputar perbandingan penampilan dirinya dengan Sanchez. Ozil berjuang untuk mempengaruhi pertandingan dari posisi kiri luar Arsenal namun masih kurang sukses sementara Sanchez sudah menyumbang gol. Sebagian kritik juga dilemparkan kepada Wenger yang memainkan Ozil di sayap kiri (sesungguhnya bukan sayap kiri dalam 4-1-4-1). Namun sebagian besar kritik ini dilemparkan tanpa mengerti keinginan Wenger untuk melatih timnya dalam formasi baru ini.

Ozil bukan Fabregas yang tidak akan bisa bermain di posisi kiri atau kanan luar dari formasi ini. Ozil punya kecepatan, punya teknik dribbling yang lumayan dan ia mampu memberikan umpan-umpan berbahaya dari sisi luar. Ia juga sesekali bergerak ke tengah saat area tersebut kosong. Dengan fleksibilitas yang ditawarkan formasi ini dan Sanchez yang juga nyaman bermain di kiri dan kanan, Ozil berkali-kali berganti posisi sepanjang pertandingan dari kiri luar ke kanan luar, ke tengah, atau bahkan ke depan menemani Welbeck saat counter attack. Apresiasi Ozil akan ruang dan kecerdasan taktiknya membuat ia akan mampu beradaptasi dengan formasi ini sebagaimana yang ia lakukan dengan formasi timnas Jerman di Piala Dunia baru. Fabregas tidak akan mampu melakukannya (dan mungkin ini yang menjadi pikiran Wenger saat menolak kembalinya eks kapten Arsenal itu). Ozil menjadi kunci kesuksesan formasi 4-1-4-1 ini dan ia bahkan bisa lebih berbahaya dengan berkurangnya marking lawan terhadapnya di posisi luar dari lini kedua Arsenal tersebut.

Bersama Ramsey dan Wilshere yang sudah makin kompak (duo ini menghasilkan kombinasi operan tertinggi antara dua pemain), Ozil akan membentuk segitiga kreativitas maut dengan Welbeck dan Sanchez sebagai outlet-nya. Dan karena Sanchez dan Welbeck sendiri juga memiliki operan akurat, peran tersebut bisa berbalik sebagaimana ditunjukkan dalam gol Wilshere. Ramsey berlari ke kotak penalti menerima operan dari Sanchez, yang lalu dioper ke Wilshere yang kemudian mencetak gol. Serangan Arsenal akan bergantung pada lima pemain ini. Semakin lama, mereka akan semakin mengerti satu sama lain (mulai ditunjukkan oleh Ramsey-Wilshere), kombinasinya makin dahsyat. Kita tinggal menunggu beberapa pertandingan ke depan untuk melihat ledakan bom serangan Arsenal baru ini.

DM

Agar kelima pemain Arsenal bisa konsentrasi dalam menyerang dan pressing, perlu satu DM yang intelijen secara taktik, mampu membaca pertandingan dengan baik, dan mampu merebut bola dengan tackle ataupun interception. Hal itu ada pada sosok Arteta tapi tidak pada Flamini. Sayangnya pergerakan Arteta semakin lambat karena faktor usia. Schneiderlin ataupun Carvalho akan cocok di posisi ini. Sayangnya lagi kedua pemain ini tidak dijual (baca: tidak pada harga yang wajar). Wenger telah berkali-kali berupaya membeli Lars Bender dan gagal. Saya rasa ia akan kembali mencoba di Januari ini untuk ketiga pemain ini. Ini satu-satunya keping puzzle Arsenal yang hilang.

Untuk sementara ini kita hanya bisa berharap Arteta tetap fit dan mampu mengemban tugas mengawal lini belakang Arsenal dengan bantuan pressing tinggi empat pemain di depannya. Perubahan formasi ini akan membantunya karena lawan mesti berhadapan dengan empat pemain di depannya terlebih dahulu. Arteta akan berfungsi sebagai sweeper yang menyambut bola muntahan atau bola operan jauh lawan daripada sebagai destroyer tunggal di tengah lapangan. Flamini kurang berhasil melakukan hal tersebut saat lawan City, mari kita lihat Arteta saat melawan Dortmund.

Sekilas Seputar Rival

Rival Arsenal untuk gelar juara liga musim ini ada 4: Man City, Chelsea, Liverpool, Man United. Dari lima tim yang bersaing untuk trofi puncak ini, 4 akan gagal dan hanya 1 yang akan berhasil. Sejauh ini hanya Chelsea dan Arsenal yang belum terkalahkan. Lawan Chelsea terlalu mudah di 4 pertandingan awal ini dan Liverpool telah kalah dua kali. Man United sedang berjuang mengatasi masa adaptasi dengan pelatih barunya. Prediksi saya bila Arsenal tidak didera cedera baru sampai pertengahan musim, puncak klasemen musim dingin akan diperebutkan antara 3 tim: Chelsea, Man City dan Arsenal. Setelah itu, aktivitas di transfer window Januari nanti akan mempengaruhi sisa kompetisi.

Di antara ketiga klub tersebut, Chelsea seakan-akan terlihat paling siap untuk gelar juara liga. Namun jangan tertipu dengan skor tinggi, duet Fabregas-Costa dan hasil kemenangan empat kali beruntun. Saya justru melihat ada kelemahan besar Chelsea di lini belakang. Kelemahan ini akan terekspos saat mereka dijamu Man City minggu depan. Sementara Arsenal memperbaiki lini belakangnya, Chelsea baru akan menyadari hal yang sama di pekan-pekan berikutnya. Pertemuan kedua tim ini di Matchday 7 akan menentukan posisi relatif keduanya di klasemen. Saya prediksi puji-pujian terhadap Chelsea akan berhenti di hari itu.

Ambisi Juara

Setelah masa paceklik selama hampir sepuluh tahun, Arsenal mulai memanen hasil pengencangan ikat pinggangnya dengan gelar juara Piala FA musim lalu. Target Arsenal musim ini jelas adalah gelar juara liga. Namun seperti yang telah dibahas di atas, dari 5 tim yang sangat ngotot ingin juara hanya 1 tim yang akan berhasil dan 4 lainnya sudah pasti akan kecewa. Hal realistis ini mesti disadari oleh fans Arsenal. Yang mesti menjadi target Arsenal adalah berada sedekat mungkin dengan puncak klasemen. Musim lalu jarak itu berhasil kita potong menjadi 7 poin. Musim ini barangkali kita bisa memotongnya menjadi 3 poin, atau bahkan 0 poin?

Manajemen Arsenal telah mendukung ambisi juara ini dengan pembelanjaan yang memecahkan rekor. Sekarang tinggal Wenger dan timnya meracik resep kemenangan dan kemudian para pemain untuk mengeksekusinya. Kita sangat berpeluang untuk menjadi juara musim ini, dan yang kita nantikan adalah penampilan hingga titik darah penghabisan semua pemain Arsenal. Menurut banyak pemain Arsenal saat ini, atmosfer di ruang ganti dan latihan sekarang adalah yang terbaik dalam belasan tahun belakangan ini. Mari kita terus pertahankan harmonisnya atmosfer ini dengan dukungan tanpa henti kepada klub tercinta. Ingat dengan semboyan Victoria Concordia Crescit. Tidak ada kemenangan yang bisa lahir dari suasana yang tidak harmonis. Hentikan ejekan kepada akun twitter pemain Arsenal, berikan support tanpa henti, dan nikmati semua pertandingan demi pertandingan Arsenal musim ini.

Up The Arsenal!