Unknown's avatar

About benhan

A rookie in blogging

Winning FA Cup The Arsenal Way

Menang FA Cup dengan Jalan Arsenal

Arsenal 3-2 Hull City

Cazorla (17), Koscielny (72), Ramsey (109) – Chester (3), Davies (9)

Arsenal, The 2014 FA Cup Winner

Arsenal, The 2014 FA Cup Winner

Begini rupanya cara mengakhiri puasa gelar hampir 9 musim. Trofi terakhir yang diraih Arsenal di Highbury adalah FA Cup (tahun 2005) dan sudah sepantasnya pula trofi pertama Arsenal di Emirates Stadium adalah FA Cup. FA Cup sebagai pembuka dan penutup sebuah babak, babak kering gelar di mana Arsenal mesti mengencangkan ikat pinggang, mesti membangun dan membayar stadion baru sambil berkompetisi dengan klub-klub sugar daddy dengan budget tak terbatas yang masuk ke liga Inggris 9 tahun belakangan ini (silakan baca artikel Model Finansial Arsenal).

Siapapun yang menulis “skenario” final FA Cup malam itu mesti diacungi jempol. Tidak ada cara yang lebih dramatis untuk mengakhiri puasa gelar ini daripada apa yang terjadi malam itu. Tertinggal 2 gol di 10 menit pertama, comeback Arsenal yang mencetak 3 gol di 110 menit sisanya membuat pertandingan tersebut menjadi pertandingan final FA Cup yang paling menarik dalam satu dekade ini. Wenger telah mendapatkan lima trofi FA Cup, namun trofi kelima ini saya yakin akan menjadi trofi yang paling dikenang fans Arsenal. Nilai historis dan dramatisnya pertandingan itu mungkin setara dengan kemenangan 14 kali beruntun Arsenal di musim 97/98 yang menyalip Manchester United dalam perburuan gelar juara liga. Atau 2 gol Michael Thomas di tahun 1989 di Anfield yang mengakhiri puasa gelar juara liga Arsenal selama 18 tahun! Bayangkan bila Arsenal menang mudah 3-0 atas Hull City di final kemarin. Fans Arsenal akan gembira karena mengakhiri puasa gelar namun rasanya mereka juga akan cepat melupakan pertandingan final ini. Yang diingat mungkin hanya momen saat para pemain dan manajer akhirnya mengangkat trofi FA Cup.

Winning FA Cup The Arsenal Way

The Arsenal Way di sini artinya jalan berliku untuk sukses, tanpa jalan pintas dan dilalui langkah demi langkah, dengan sumber daya sendiri. We earned the trophy, not buying it. Walaupun Hull City juga pantas meraih FA Cup ini, Arsenal berjuang keras untuk comeback dari ketertinggalan 0-2 dan memetik buah perjuangan keras itu. Arsenal memang melakukan transfer besar dengan membeli Ozil musim ini, namun itu adalah hasil “tabungan” dan kesabaran selama 8 tahun. Selain Ozil, skuad Arsenal terdiri dari pemain-pemain yang direkrut sejak muda atau murah (kisaran 10 juta pounds). Arsenal mencetak bintang, bukan membeli bintang layaknya klub-klub sugar daddy. Sanogo dan Ramsey yang direkrut sejak muda (dan cukup murah) menjadi kunci kemenangan malam ini. Dilengkapi dengan Santi Cazorla, Koscielny dan Giroud yang dibeli dengan harga hanya belasan juta pounds, mereka tampil lebih baik daripada Ozil, sang bintang mahal yang tampil kurang prima malam itu. Harga transfer pemain tidak serta merta menjadi ukuran kualitas pemain, apalagi di klub yang terkenal dengan filosofi mencetak bintangnya ini.

Skenario final FA Cup ini makin sempurna ketika pemain terbaik Arsenal musim ini, Aaron Ramsey, menjadi pencetak gol terakhir penentu kemenangan. Filosofi Arsenal yang dibangun Wenger terwujud dalam diri Ramsey. Direkrut saat berusia 17 tahun, dididik dengan Wengerball, mengalami cedera panjang, rehabilitasi dan kembali bermain, diragukan banyak orang termasuk fans Arsenal sendiri namun tidak oleh Sang Manager, dan akhirnya membayar kepercayaan managernya dengan performa konsisten yang mengejutkan semua orang. Kisah Aaron Ramsey seakan seperti kisah Gospel tentang create, fall, redemption and restoration. Dalam rentang waktu yang lebih lama, analogi serupa dapat kita temui dalam sosok Arsene Wenger selama membangun “kerajaan”-nya di Arsenal: mengangkat level harapan semua fans Arsenal (create), menjadi korban kesuksesannya sendiri, dikritik karena 8 musim tanpa gelar, ditinggal pemain-pemain terbaiknya (fall), terpaksa membongkar dan membangun ulang tim karena budget terbatas, dan akhirnya menjawab kritik malam itu dengan trofi FA Cup kelimanya (45% dari 11 trofi FA Cup sepanjang sejarah Arsenal) (redemption). Hanya Ferguson yang menyamai rekor jumlah trofi FA Cup tersebut dan Wenger berkesempatan memecahkan rekor tersebut dalam tiga tahun kontrak barunya yang akan ditandatangani dalam beberapa hari ke depan.

Kisah Aaron Ramsey seakan seperti kisah Gospel tentang create, fall, redemption and restoration

Kemenangan ini tidaklah mudah. Namun tidak ada final FA Cup yang mudah dalam satu dekade belakangan ini. Berikut adalah hasil 10 final FA Cup terakhir:

2004–05 Arsenal 0–0 dagger Manchester United Millennium Stadium 71,876
2005–06 Liverpool 3–3 dagger West Ham United Millennium Stadium 71,140
2006–07 Chelsea 1–0 * Manchester United Wembley Stadium (new) 89,826
2007–08 Portsmouth 1–0 Cardiff City Wembley Stadium (new) 89,874
2008–09 Chelsea 2–1 Everton Wembley Stadium (new) 89,391
2009–10 Chelsea double-dagger 1–0 Portsmouth Wembley Stadium (new) 88,335
2010–11 Manchester City 1–0 Stoke City Wembley Stadium (new) 88,643
2011–12 Chelsea 2–1 Liverpool Wembley Stadium (new) 89,041
2012–13 Wigan Athletic 1–0 Manchester City Wembley Stadium (new) 86,254
2013–14 Arsenal 3–2 * Hull City Wembley Stadium (new) 89,345

Bila ada yang bertaruh Arsenal akan menang lebih dari dua gol malam itu, pasti ia tidak membaca statistik di atas

Dua final dimenangkan lewat adu penalti dan dua lainnya dengan gol di extra time. Sisanya (6 final) adalah kemenangan dengan selisih hanya satu gol. Bila ada yang bertaruh Arsenal akan menang lebih dari dua gol malam itu, pasti ia tidak membaca statistik di atas.

FA Cup adalah turnamen tertua di dunia dan tidak kehilangan daya magis-nya hingga sekarang. Walaupun Wenger menempatkan FA Cup sebagai prioritas ketiga setiap musimnya (setelah Premier League dan Champions League), tidak berarti hal yang mudah untuk mencapai final dan memenanginya. Arsenal mengalahkan Tottenham, Liverpool, Everton dan Wigan (juara bertahan yang mengalahkan City) dalam perjalanan menuju final FA Cup kali ini. Kemenangan lewat adu penalti di semifinal lawan Wigan seakan menjadi preview final malam ini, dan pertandingan sulit kembali terulang. Tekanan ancaman 9 musim tanpa gelar dan ketertinggalan 2 gol di awal menjadi ujian berat bagi pemain, manager dan fans Arsenal malam itu. Namun akhirnya, hasil manis bisa kita petik, buah kesabaran dan keyakinan pada semboyan: Victoria Concordia Crescit. Keharmonisan antara fans, manager dan pemain akhirnya membuahkan kemenangan. A team of losers bertransformasi menjadi a team of winners.

Hanya Ferguson yang menyamai rekor jumlah trofi FA Cup tersebut dan Wenger berkesempatan memecahkan rekor tersebut dalam tiga tahun kontrak barunya…

Nobar AIS Jabodetabek

Momen historik itu saya saksikan di acara nobar bersama AIS Jabodetabek, acara yang diselenggarakan bersama beberapa klub supporter Arsenal regional wilayah Jabodetabek. Bertempat di Flavor Bliss Alam Sutera, Serpong, yang hanya 15 menitan dari rumah, saya tiba di lokasi sekitar jam 9 malam. Karena sebelumnya sudah membuat janji dengan boss AIS, Rawindraditya, dan dengan Wimar Witoelar, begitu sampai lokasi saya langsung mencari beliau berdua. Ratusan muda-mudi dalam kostum Arsenal sudah memenuhi lokasi. Beberapa layar lebar juga telah dipasang di panggung utama. Singkat kata, saya ketemu Wimar di salah satu resto di Flavor Bliss, dan bersama Liya dan Jason (warga Perancis fans Chelsea yang malam itu berkostum Arsenal) kami menuju lokasi nobar.

Ribuan Gooners di lokasi Nobar

Ribuan Gooners di lokasi Nobar

Windra sudah menyiapkan tempat di dekat panggung dan kami diundang untuk talkshow singkat di depan panggung sebelum pertandingan dimulai, tentang Arsenal tentunya. Bergabung dengan saya dan Wimar kemudian adalah Antony Sutton (Londoner yang juga wartawan sepakbola @JakartaCasual), Vincent Rompies (artis serba bisa fans Arsenal) dan Edwin Setyadinata (presenter bola yang juga mantan ketua AIS). Kami berempat ditanyai hal-hal seputar Arsenal. Semua narasumber optimis dengan kemenangan Arsenal malam itu, tentunya karena kami belum mengintip “skenario”-nya. Beberapa quote menarik yang bisa saya ingat dari para narasumber malam itu:

  • Wimar: “David Moyes sebenarnya cocok menangani MU. Ia bisa membawa MU stabil dan konsisten… di peringkat ketujuh.”
  • Wimar: “Momen paling bahagia musim ini… Nasri tidak terpanggil ke timnas Perancis.”
  • Vincent: “Kalau gue ikut nobar di WBH (Warung Bang Hoody), Arsenal selalu kalah. Karena sekarang bukan di WBH, gue mau ikut.”
  • Antony: “People in Asia usually support clubs like Man United, Liverpool, and lately Chelsea and City because of their success in winning trophies. Arsenal haven’t got any trophies in eight years yet the followers in Indonesia keep growing like this. Amazing.”
  • Benhan: “Delapan tahun tanpa trofi dan AIS malah tumbuh berkembang seperti sekarang. Di sini tidak ada plastic fans, karena plastic fans tidak akan mendukung tim tanpa trofi. Di sini semua real fans. Luar biasa kerja jaringan AIS.”
  • Edwin: “Dulu di tahun 2005 kami mengadakan nobar Arsenal paling hanya 15-20 orang yang ikut. Ini nobar terbesar dengan peserta terbanyak (3000 orang lebih) yang pernah saya ikuti.”
Talkshow AIS

Talkshow AIS

View Penonton dari Panggung

View Penonton dari Panggung

Usai talkshow, AIS merayakan ulang tahun kesebelasnya. Dilanjutkan dengan menyanyikan chant-chant ala Arsenal.

And it’s Arsenal, 
Arsenal FC, 
We’re by far the greatest team, 
The world has ever seen….

She wore, She wore,
She wore a yellow ribbon, 
She wore a yellow ribbon in the merry month of May,
And when, I asked, Oh why she wore that ribbon,
She said its for the Arsenal and we’re going to Wembley, Wembley, Wembley,
We’re the famous Arsenal and we’re going Wembley.

dan masih banyak lagi chant lainnya. Tidak lupa tentunya Windra memimpin chant wajib: “What do you think of Tottenham?” Serentak semua menjawab, “Shit!”

Rollercoaster 120 menit

Pertandingan dimulai dan saya kebetulan duduk bersama Wimar, Vincent dan Edwin. Sepanjang pertandingan kami sempat ngobrol dan “stress” bersama. Awal-awal chant non stop dari Gooners membahana di lokasi nobar. Baru berjalan tiga menit, kami terdiam karena gol dari Hull City datang tak terduga. Enam menit kemudian gol kedua dari Hull City kembali masuk. Bila gol pertama murni lahir dari keterkejutan Arsenal karena tendangan Huddlestone yang dibelokkan Chester, gol kedua mereka memiliki kontribusi kesalahan dari Fabianski yang gagal menepis bola ke luar lapangan. Tak pelak terlintas pemikiran bahwa Wenger salah memilih memasang Fabianski daripada Szczesny. Gol ketiga hampir terjadi bila Gibbs tidak berhasil menghalau bola sundulan yang mengarah ke gawang. Fabianski terlihat ragu menyambut bola-bola crossing Hull City sebaliknya mereka terlihat sudah latihan set pieces dengan sangat baik dan menggunakannya sebagai senjata anti-Arsenal di final ini. Arsenal terlihat seperti klub amatir melawan klub profesional di awal pertandingan ini.

Chant dari fans Arsenal menurun intensitasnya. Para Gooner di Flavor Bliss memegang kepalanya, terkejut dan tidak menyangka kebobolan 2 gol awal. Prospek trofi di depan mata memudar. Saya sendiri speechless seakan tidak percaya, masak kegagalan Carling Cup 2011 mesti terjadi lagi?! Final yang dirasakan akan berjalan mudah karena Hull City pernah dikalahkan 0-3 di kandang mereka sendiri oleh Arsenal beberapa minggu sebelumnya tiba-tiba menjadi seperti neraka. Beberapa fans Arsenal di lokasi nobar masih setia menyanyikan lagu-lagu penyemangat namun sebagian besar terdiam, terpaku, terpana, tak percaya dengan pemandangan skor di layar.

Arsenal mulai menyerang namun masih gagal melahirkan peluang bersih. Gooners menunggu-nunggu gol balasan yang tak kunjung datang. Saya berkata kepada Wimar bahwa minimal kita butuh satu gol di babak pertama untuk punya peluang menang. Santi Cazorla yang akhirnya menjawabnya. Gol dari tendangan bebas langsung yang langka terjadi musim ini, kali ini dieksekusi dengan indahnya. Serentak semua Gooner berdiri dari tempat duduknya, berteriak sambil melompat-lompat. Skor 2-1 di babak pertama memberikan harapan untuk comeback.

Bersama Wimar

 

Di babak kedua Arsenal lebih mendominasi namun beberapa peluang tidak berhasil diselesaikan Giroud, Podolski dan Ozil. Peluang penalti yang jelas juga diabaikan wasit. Hull City bertahan dengan baik. Kami mulai berpikir ini bukan harinya Arsenal. Saya berujar bahwa menjadi seorang Gooner memang cobaannya berat. Peluang mengakhiri puasa 8 musim tanpa gelar sudah di depan mata, namun tidak diambil-ambil juga. Istilah Vincent, seperti lagi puasa, terus melihat orang lain sudah pada buka puasa duluan, sambil minum es dengan nikmat di depan mata kita, dan kita masih harus menahan diri untuk buka puasa. “Arsenal like to do things the hard way”, kata Antony. Wimar mengatakan tak ada orang di dunia ini yang tahu skor pertandingan ini 30 menit ke depan. Sepakbola sungguh sulit ditebak. Wimar pasti belum membaca “skenario”-nya. 🙂

Wenger bertindak sigap menggantikan Podolski dengan Sanogo di menit ke-60. Tidak seperti biasanya, ia bergerak 10 menit lebih awal. Podolski yang tidak efektif digantikan Sanogo yang menurut saya keputusan tepat. Sanogo akan mengganggu konsentrasi pemain bertahan Hull City karena ia lebih nyaman bergerak di kotak penalti lawan daripada Podolski. Ada beberapa fans Arsenal yang terdengar mencemooh keputusan itu karena Sanogo belum pernah mencetak gol sekalipun dalam karirnya bersama Arsenal. Mereka jelas salah. Begitu Sanogo masuk, permainan Arsenal berubah. Lini tengah seakan menemukan outletnya. Ia membantu pergerakan Giroud karena dengan formasi 4-4-2 Arsenal sekarang memiliki 2 striker yang perlu diawasi. Corner kick yang menghasilkan gol Koscielny juga terjadi karena usaha tembakan Sanogo. Gol kedua Arsenal ini serentak membuat arena nobar meriah dengan flare, seruan, teriakan, pelukan, high-five 3000-an Gooner.

Flare Saat Gol Terjadi

Kemeriahan Saat Gol Terjadi

Babak kedua hampir usai, dan Wenger belum memasukkan Rosicky ataupun Wilshere. Saya saat itu menduga ia menyimpan mereka untuk extra time, menunggu pemain-pemain Hull City kehabisan stamina. Namun sulit untuk sabar menunggu kali ini. “Kalau sampai jadi adu penalti, saya tak yakin jantung ini kuat menontonnya”, ujar saya ke Wimar. Bukan Wenger namanya kalau tidak keras kepala, yakin dan sabar menunggu. Akhirnya ia melepaskan dua senjata terakhirnya di awal babak kedua extra time. Keputusan tepat karena kedua pemain enerjik ini mengoyak-ngoyak pertahanan Hull City. Ramsey mendapatkan beberapa peluang dan langsung menembak namun semuanya off target. Kami mulai mencela Ramsey, wah egois, wah bukan harinya, terlalu ngotot, dan lain-lain. Namun kengototan itu pula yang ternyata berbuah hasil. Einstein berkata, melakukan sesuatu yang tidak berhasil secara berulang-ulang adalah kebodohan. Ternyata pepatah itu tidak selalu benar. Bila gol pertama dan kedua Arsenal berasal dari set pieces, maka gol ketiga ini adalah gol sempurna Wengerball. Berawal dari Arteta ke Wilshere yang kemudian mengoper bola ke kotak penalti ke kaki Sanogo, dengan dua sentuhan Sanogo mengopernya ke Giroud dan kedua pemain ini bergerak ke arah berlawanan yang membuka pertahanan Hull City. Ramsey masuk ke kotak penalti dan Giroud yang mendengar seruannya melakukan back heel pass cantik. Tendangan first time dari Ramsey dan gol pun tercipta. Wengerball diselesaikan dengan manis oleh Wenger’s Man, pemain yang ia rayu secara pribadi dan renggut dari cengkeraman Ferguson, yang ia bina, pupuk, terus dimainkan saat semua orang di dunia berpendapat sebaliknya. Aaron Ramsey, nama yang tahun lalu masih dicemooh sebagian fans Arsenal, hari ini menjadi pahlawan Arsenal, legenda Arsenal karena apapun prestasinya setelah ini, ia akan tercatat dalam sejarah Arsenal sebagaimana Michael Thomas yang melesakkan dua gol di Anfield tahun 1989. Demikian pentingnya gol yang ia ciptakan malam itu dalam sejarah Arsenal. Puasa gelar hampir 9 tahun itu akhirnya berakhir. Aaron Ramsey adalah sosok pembukanya. Sosok pengakhir “kutukan” Emirates Stadium.

Sejak gol ketiga Arsenal itu tercipta, semua Gooner serentak berdiri dan tak ingin lagi duduk. Windra dan rekan-rekan pengurus AIS naik ke panggung dan memimpin chant dengan microphone. Kami terus bernyanyi tak henti-henti. Sepuluh menit tersisa terasa lama namun semua Gooner penuh percaya diri akan memenangkan pertandingan ini. Tak ada lagi keraguan. Skenario ini demikian sempurna. Tertinggal 0-2 dan melakukan comeback 3-2 dengan pemain terbaik Arsenal mencetak gol penentuan, di extra time. Tidak ada skenario yang lebih baik lagi. Arsenal ditakdirkan menjadi juara FA Cup 2014 dengan cara dramatis ini.

Peluit panjang berbunyi dan Gooner berpelukan, high-five dan larut dalam suka cita. Mungkin ada sebagian yang meneteskan air mata. Saya mengantarkan Wimar dan kawan-kawan ke parkiran dahulu dan menyempatkan diri kembali sejenak untuk melihat momen pengangkatan trofi oleh Wenger dan para pemainnya. Sayangnya, tidak semua momen tersebut ditayangkan beinSport.

One Arsene Wenger

Keesokan harinya foto-foto selebrasi Arsenal mulai muncul di media. Rasa haru memenuhi dada ini ketika melihat Wenger tersenyum lebar mengangkat trofi yang telah demikian lama berpisah darinya. Para pemain mengatakan mereka memenangkan trofi ini untuknya, sebuah ungkapan yang tulus dan penuh dengan penghormatan dan rasa terima kasih. Wenger selama ini selalu mempercayai pemainnya, melindungi mereka dari kritik media, dan dalam konteks tersebut wajar bila para pemain ini kemudian merasa berhutang budi kepadanya. Hutang budi ini dibayar tidak lain dengan cara memenangkan trofi untuknya.

The manager and players have been under a lot of pressure over the last couple of years, and this one’s for the manager, for the fans, who’ve always believed in us as well even when things weren’t going as well. ~ Aaron Ramsey

Arsene Wenger Fifth FA Cup

Vermaelen memberikan trofi FA Cup kepada Wenger setelah ia mengangkatnya. Tradisi yang tidak biasa karena umumnya manager akan mengangkatnya belakangan setelah semua pemain. Namun hal itu ia lakukan karena ia tahu persis betapa pentingnya makna trofi ini bagi Wenger. Wenger terlihat sumringah sekaligus lega. Tekanan besar selama 9 tahun seakan terlepaskan hari itu. Semua kekakuan Wenger juga runtuh di hari itu. Ia diangkat dan dilempar ke atas oleh para pemainnya, lalu dikejar Podolski dan disiram dengan champagne. Belum pernah Wenger terlihat sebahagia dan selepas itu selama karirnya di Arsenal. Gif di bawah ini menjadi buktinya.

tumblr_n5qhlxI4As1r5kkj0o4_250

Adegan Langka

The Bump

Secara pribadi, selain senang karena akhirnya klub yang saya dukung mengakhiri musim kering tanpa gelar, saya turut berbahagia untuk The Boss, Arsene Wenger. Obsesinya terhadap sepakbola dan cintanya terhadap Arsenal mungkin tak ada duanya. Bahwa ia telah menghadirkan sukses demi sukses di fase awalnya memegang Arsenal, menghadirkan rekor Invincibles yang tidak pernah bisa diulang oleh manajer lainnya, seakan terlupakan saat ia kemudian menjadi korban kesuksesannya sendiri ketika Arsenal tak mampu lagi bersaing dengan dua klub Sugar Daddy dan Manchester United. Wenger tidak sempurna, namun upayanya untuk mengangkat kembali Arsenal dengan segala keterbatasannya (budget untuk transfer dan gaji pemain karena beban stadion baru) tidak diragukan lagi. Wenger rela berkorban, menjadi martir di baris depan ketika board Arsenal menyembunyikan fakta bahwa Arsenal tak mampu bersaing dengan klub-klub lain soal belanja pemain, paling tidak sampai tahun 2014 (akhirnya dipercepat setahun karena kontrak baru dengan Emirates dan Puma membantu pencairan lebih awal). Penyembunyian fakta oleh board Arsenal itu tak lain agar klub ini tetap dipersepsikan sebagai klub elit, agar pemain bagus mau bertahan dan calon pemain tidak meremehkannya. Apa jadinya bila Arsenal mengakui mereka tidak punya budget transfer sama sekali dan mesti menjual pemain dahulu sebelum membeli pemain baru? Wenger dan board Arsenal sepakat untuk menyembunyikan hal ini meskipun konsekuensinya adalah Wenger seakan punya penyakit “enggan belanja pemain”.

Setiap tahun ia selalu memberikan “trofi” minimal peringkat keempat, dan ia dicela karena menganggapnya sebagai trofi. Padahal dari segi hadiah uang (minimal 30 juta pounds), partisipasi di Liga Champions jauh lebih besar dari hadiah uang juara turnamen domestik apapun. Selain itu berpartisipasi di Liga Champions akan memungkinkan sebuah klub untuk berpeluang menarik pemain-pemain top Eropa atau mempertahankan pemain-pemain terbaiknya. Tanya saja kepada klub seperti Everton dan Spurs, apakah finish di posisi ke-4 akan serasa seperti memenangkan trofi? Fans Liverpool juga merayakan “trofi” peringkat kedua mereka musim ini karena untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, mereka kembali ke Liga Champions (dan berpeluang besar menahan Suarez).

Namun kali ini “trofi sungguhan” berhasil diraih Wenger dengan tim yang menurutnya terbaik soal semangat dan kekuatan mental setelah era Invincibles. Tim Arsenal kali ini adalah tim campuran pengalaman dan semangat muda. Selama delapan tahun sebelumnya, Wenger mesti mengandalkan anak-anak muda dan baru beberapa tahun belakangan ini ia dapat melengkapinya dengan pemain berpengalaman dan satu-dua pemain bintang. Bandingkan lini tengah Arsenal saat itu (Denilson, Diaby) dan sekarang (Arteta, Ramsey). Walcott sendiri yang sempat bermain di dua periode tersebut mengatakan:

[The fans] have waited so long and since I’ve been here, this team has been the best I’ve worked with. It’s a fantastic response [from the fans] and we want more from these guys.

Baru musim ini pula Wenger bisa membeli pemain idaman khas Arsenal: Mesut Ozil. Ia berani membayar mahal karena budgetnya memang ada. Musim depan, ia bisa kembali membeli pemain idamannya karena budgetnya telah tersedia di tahun 2014 ini. Trofi FA Cup ini akan membungkam kritik tanpa gelar dari media dan dari Specialist in Failure yang sudah 2 musim tanpa trofi (baca: Jose Mourinho). Trofi ini juga akan sementara menyatukan dua kubu fans Arsenal: AKB (Arsene Knows Best) dan AMG (Arsene Must Go). Wenger bisa bebas menyusun ulang strategi transfer dan formasi untuk musim depan. AMG mesti rela menerima kontrak barunya karena trofi yang diiinginkan mereka telah didapatkan musim ini.

Bagi saya pribadi, Wenger adalah manusia terhormat dengan nilai-nilai pribadi yang tinggi. A man with honour. A great human being. Beberapa ungkapannya dalam video wawancara berikut ini bisa membuat kita terkagum-kagum dengan obsesi dan dedikasinya pada sepakbola.

“You have to sacrifice your life for this job.”

“Every defeat is a scar on your heart that remains for life.”

“The core of the build-up to training is done by me – I wouldn’t be in this job if it was just to sit behind a desk.”

“You have to prepare to week seven days a week for the whole year. I think I’ve worked hard in the last nine years than in the first five or six.”

Tidak diragukan lagi bahwa ia inginkan hal terbaik untuk Arsenal. Tuduhan bahwa ia “sengaja” tidak mengejar trofi untuk Arsenal karena pelit belanja pemain sungguh konyol dan tidak masuk akal. Berikan ia kesempatan kembali untuk menghadirkan masa kejayaan Arsenal yang pernah ia ciptakan. Biarkan imajinasinya terealisasi dalam tiga tahun ke depan. Kita pernah punya Invincibles, Doubles, Thierry Henry, Patrick Vieira, Robert Pires, Cesc Fabregas yang lahir dari kedua tangannya. Seorang Dennis Bergkamp (God) sekalipun baru menjadi juara dan legenda di Arsenal setelah Wenger bergabung dengan Arsenal.

Ia telah mengencangkan ikat pinggang selama delapan tahun belakangan ini dan saat ini baru mulai memanen hasilnya. Sebagaimana kisah Gospel seputar create, fall, redemption and restoration, saat ini adalah saat Restorasi Arsene Wenger, Restorasi Arsenal. Saya pribadi akan dengan sabar menyaksikan hasil karya terakhir dari One Arsene Wenger untuk klub tercinta kita ini, The Mighty Arsenal.

Semoga sukses ini menjadi yang pertama dari yang banyak, yang akan datang. COYG.

The Rosicky

‘The Rosicky’ adalah sebutan pemain-pemain Arsenal untuk passing unik Rosicky yang mengandalkan sisi luar dari kakinya. Silakan cek golnya ke gawang Sunderland minggu lalu. Rosicky melakukan ‘The Rosicky’ dua kali saat ia mengoper bola pertama ke Cazorla, lalu menerima bola dari Wilshere, ia melakukannya lagi ke Giroud. Dan hebatnya lagi Rosicky melakukannya sambil ‘slalom’ (skiing) dari sisi kanan lapangan, ke tengah lalu ke depan. Ia adalah wujud sempurna dari permainan Give-and-Go, tipikal permainan tim yang sulit diantisipasi lawan.

Dengan mengoper menggunakan sisi luar kaki, Rosicky bisa melakukan operan-operan pendek dengan ringan namun memiliki ‘weight’ yang sempurna. Akibatnya, pemain yang menerima bolanya tinggal mengarahkan arah bola untuk mengembalikan bola yang sama sempurnanya dalam hal kecepatan dan akurasinya. Rosicky menjadi partner sempurna untuk Giroud di kala absennya Ramsey dan Walcott. Giroud yang lebih suka bermain dengan posisi membelakangi gawang akan menjadi ‘bumper’ sempurna untuk ‘slalom’-nya Rosicky dan reboundnya ‘The Rosicky’. Giroud menjadi poros pergerakan Rosicky ke dalam kotak penalti lawan. Berbekal link up play dan hold up ball yang memadai, mereka bisa menjadi pasangan sempurna bila terus melatih permainan Give-and-Go seperti gol lawan Sunderland tersebut.

Kabar baiknya untuk fans Arsenal adalah Rosicky yang dulu dikenal sebagai Little Mozart telah setuju untuk perpanjangan kontrak setahun sampai akhir musim depan. Wenger pun memuji pemain yang beberapa tahun lalu menyihir dunia persepakbolaan Eropa dengan kemampuan tekniknya.

When he arrived, he was less a tactical player and more the Mozart from Prague. He was purely a creative, offensive player. But today, he is a real organiser as well. He gives a real structure to the team.

He is one of the players who plays the game of give-and-move and he is a great accelerator of the game. He always makes things happen, not with individual dribbling but with individual acceleration of his passing and his runs.

His goal was one of the top goals we have scored.

Saya masih ingat saat Rosicky bergabung dengan Arsenal di awal musim 2006/2007 dari Dortmund. Kegembiraan yang dirasakan mungkin sama dengan fans-fans Arsenal saat ini ketika Ozil memilih bergabung dengan Arsenal. Saat itu Rosicky berumur 25 tahun (sama dengan Ozil saat ini) dan ia mengenakan kostum nomor 7 milik Robert Pires yang legendaris itu. Berbekal nickname Little Mozart, sang playmaker dari Dortmund tersebut diharapkan fans Arsenal dapat menggantikan peran Robert Pires, yang sangat fenomenal kontribusinya saat Arsenal meraih juara liga musim 2001/2002 dan 2003/2004. Ia terkenal dengan tendangan jarak jauhnya yang akurat dari luar kotak penalti lawan (mungkin sekarang seperti tendangan Kroos), dan dribbling serta operannya sebagai playmaker utama. Sebagai referensi betapa melegendanya Rosicky di Dortmund, The Little Mozart adalah pemain idola Reus, pemain muda Dortmund yang sekarang sudah berkelas dunia, incaran klub-klub elit Eropa.

Musim berikutnya setelah ia bergabung, Rosicky bersama Hleb, Fabregas dan Flamini lalu membentuk kuartet midfield Arsenal yang mendominasi lini tengah Arsenal dan liga Inggris hingga bulan Februari 2008 saat kejadian horror patah kakinya Eduardo. Saat itu lini tengah Arsenal demikian baiknya memainkan give-and-go. Dari Rosicky ke Fabregas, ke Hleb lalu berakhir dengan salah satu dari mereka masuk ke kotak penalti lawan dan mencetak gol. Fabregas yang paling menikmati partnership keempat pemain tersebut dan mencetak gol terbanyak saat itu. Namun peran Rosicky, Hleb dan Flamini serta pertemanan keempat pemain tersebut di luar lapangan sangat berpengaruh terhadap prestasi Arsenal musim itu, sebelum dihantam oleh cedera Eduardo. Rosicky yang berkesempatan menjadi pemain terbaik di Liga Inggris, bila Arsenal juara saat itu, gagal mewujudkannya. Ia hanya diingat oleh fans Arsenal yang masih menyimpan memori akan kenangan pahit musim tersebut. Harapan yang sangat tinggi yang tidak terwujud.

The Little Mozart adalah pemain idola Reus, pemain muda Dortmund yang sekarang menjadi incaran klub-klub elit Eropa

The Midfield Quartet

Hleb pergi, Flamini pergi dan akhirnya Fabregas pergi, Rosicky tinggal sendiri. Cedera panjang membuatnya tak bisa pindah ke klub lain dan juga tak bisa berbuat banyak untuk menolong Arsenal di masa kelam tanpa trofi tersebut. Saat ini Rosicky mendapatkan partner lini tengah baru yang tak kalah hebatnya dengan musim 2007/2008 tersebut. Flamini kembali, masuk Ozil, dan Cazorla menjalani musim keduanya. Ditambah lagi Ramsey dan Wilshere yang makin matang. Banyaknya pemain tengah Arsenal yang bertipe sama tidak memungkinkan kelima pemain tersebut dimainkan bersamaan. Rosicky tergeser ke barisan pelapis oleh pemain yang lebih muda. Ia mesti merelakan posisi playmaker utama kepada Ozil. Di posisi CM di samping Flamini/Arteta ia mesti bersaing dengan Wilshere dan Ramsey (yang sekarang cedera). Untungnya Rosicky bisa bermain di berbagai posisi. Di sayap ia bersaing dengan Chamberlain, Podolski dan Cazorla. Rosicky mesti menerima perannya yang berubah dari playmaker menjadi pemain back up serba bisa, utility player. Perubahan ini mesti ia terima karena umurnya yang tidak muda lagi, 33 tahun. Penambahan umur ini juga membuat ia lebih taktikal, seperti kata Wenger. Ia lebih memperhatikan posisinya saat menyerang maupun bertahan. Mengatur nafas dan tempo permainan. Ia menjadi pemain yang lebih taktis, seperti Arteta. Mereka mampu beradaptasi dengan cerdik terhadap intensitas liga Inggris walaupun usia sudah tidak muda lagi.

Walaupun bergeser sebagai pemain pelapis, Rosicky memiliki keunikan yang tidak dimiliki Ozil, Cazorla, Ramsey dan Wilshere. The Rosicky dan keistimewaannya dalam melakukan Give-and-go. Tidak ada pemain Arsenal yang lebih baik dan berani lagi saat melakukan one-two di area lawan. Rosicky selalu mencari lubang di pertahanan lawan, menekan lawan untuk melakukan kesalahan (terbaik dalam memimpin pressure dari depan), dan menerobos lini belakang lawan dengan ‘slalom’-nya. Yang membedakannya dengan Robert Pires hanyalah trofi juara liga. Di luar itu, The Little Mozart tidak perlu merasa inferior terhadap legenda-legenda playmaker Arsenal sebelumnya.

Di musim ini Rosicky akan berlari dan terus berlari (dengan taktis tentunya) tanpa mempedulikan usianya. Ia berlari mengejar mimpinya yang tertunda di usia puncaknya. Memegang trofi juara liga di akhir musim.

Jarak antara Harapan dan Kenyataan = Penderitaan

Mari kita mulai blog preview Arsenal vs Bayern Muenchen ini dengan satu pepatah filosofis lagi:

Jarak antara Harapan dan Kenyataan adalah Penderitaan.

Ini adalah kebenaran mutlak yang seringkali kita tolak untuk terima padahal nyata. Bila kita berharap atas sesuatu dan kenyataan yang terjadi tidak sesuai harapan tersebut, maka terjadilah penderitaan. Seberapa besar penderitaan itu tergantung dari seberapa besar jarak antara harapan dan kenyataan. Misal kita berharap dibelikan mobil Ferrari pada saat ulang tahun kita (anggap saja anak gedongan), eh taunya sama bokap dibelikan sepeda ontel. Penderitaan yang terjadi saat itu mungkin tak terbayangkan. Speechless. Harapnya Ferrari dapatnya Ontel. Hal yang sama berlaku untuk ranking di kelas, pacar, popularitas, gaji, promosi jabatan, dan banyak hal lain lagi. Semakin tinggi kita berharap, semakin sulit harapan itu terwujud, sehingga semakin tinggi kemungkinan kita menderita. Sebaliknya semakin rendah kita berharap, semakin mudah harapan itu terwujud, semakin mudah kita berpuas diri, dan tidak menderita. Namun hidup tanpa berharap adalah hidup tanpa ambisi, hidupnya orang malas. Maka sangat penting mendapatkan keseimbangan antara penentuan harapan dengan kenyataan yang mungkin diwujudkan.

Lalu kembali ke Arsenal, bagaimana sepantasnya kita meletakkan harapan akan hasil pertandingan melawan tim terkuat di Eropa musim lalu dan mungkin juga musim ini: Bayern Muenchen?

Semua orang pasti punya standar harapan masing-masing akan pertandingan ini yang berbeda-beda, bahkan untuk fans Arsenal sekalipun. Tentunya setiap fans Arsenal sejati pasti berharap menang di pertandingan hari ini, namun dalam harapan untuk menang tersebut juga tersirat keragu-raguan. Keragu-raguan ini menyebabkan terciptanya harapan yang formalitas supporter sebuah klub, harapan yang tidak sungguhan. Berharap menang tapi tidak yakin menang. Karena di bawah sadar, kita mungkin telah sadar akan dampak dari harapan yang terlalu tinggi dan tidak terwujud: penderitaan. Apalagi melawan tim sekelas Muenchen.

Saya sendiri akan sharing harapan saya atas hasil pertandingan ini, yang realistis, yang tidak bombastis. Untuk setting harapan, tentunya kita mesti tahu medan. Seberapa kuat Bayern Muenchen dan seberapa kuat Arsenal, seberapa besar pengaruh kandang Arsenal, sejarah pertemuan kedua klub dan kondisi para pemain dan manager. Mari kita coba bahas satu-satu sebelum kemudian menyimpulkan harapan realistis seperti apa yang wajar kita letakkan di pertandingan ini.

Klub Terbaik Eropa

Jujur saya tidak mengikuti Bundesliga, maka analisa teknik sebaiknya diberikan kepada ahlinya. Namun tidak sulit menyimpulkan bahwa Bayern Muenchen adalah klub terbaik di Eropa saat ini, berdasarkan prestasinya musim lalu, dan prestasinya di liga dan UCL sejauh ini, di musim ini. Bila Muenchen sudah dominan musim lalu di Bundesliga, musim ini lebih gila lagi. Pep mengubah Muenchen menjadi tim yang sangat sulit dikalahkan musim ini (tak terkalahkan di liga dan hanya sekali kalah di UCL, oleh City). Ia mengubah Lahm dari fullback menjadi DM, dan memainkan formasi yang sangat menyerang dengan pemain-pemain bagus seperti Gotze, Muller, Kroos, Alcantara, Ribery (untungnya absen), Robben dan Mandzukic. Selain itu ia masih punya pemain tengah seperti Schweinsteiger dan Javi Martinez yang tidak diragukan lagi kualitasnya. Di belakang ia punya Rafinha dan Alaba sebagai fullback, Boateng dan Dante sebagai CB, serta Neuer kiper timnas Jerman.

Di atas kertas, kualitas pemain Arsenal masih kalah dari Muenchen. Mungkin hanya Ozil, Mertesacker dan Koscielny yang bisa bersaing dengan nama-nama pemain Muenchen tersebut. Coba bandingkan Arteta, Flamini dengan Schweinsteiger dan Martinez. Gotze, Muller, Robben dengan Chambo, Cazorla, Podolski. Mandzukic dengan Giroud. Bila kita main CM atau FM, sudah hampir pasti rating pemain-pemain Muenchen di atas pemain Arsenal. Untungnya sepakbola bukanlah soal gabungan statistik personal pemainnya. The whole might be greater than the sum of its parts. Sebuah tim bisa lebih besar daripada jumlah dari setiap personilnya. Maka Arsenal bisa mengalahkan Muenchen di kandangnya musim lalu.

Tapi sebelum menyimpulkan Arsenal bisa kalahkan Muenchen, untuk bagian ini kita sebut saja secara kekuatan tim di atas kertas, Muenchen > Arsenal.

Sejarah Pertemuan

Musim lalu, Arsenal mengejutkan Muenchen dan dunia sepakbola dengan kemenangan 2-0 di kandang mereka, satu-satunya kekalahan telak Muenchen di kandang musim lalu. Mencetak gol cepat lewat sayap dari Walcott ke Giroud, Arsenal kemudian menambah satu gol hasil sundulan Koscielny dari tendangan sudut. Praktis sisanya Arsenal bertahan dari gempuran Muenchen. Sayang sekali satu kesempatan Gervinho gagal menjadi gol. Setelah gol Koscielny, Muenchen praktis membuang waktu di 10 menit terakhir untuk menjamin lolosnya mereka ke babak selanjutnya atas keuntungan aggregate. Muenchen dibatasi Arsenal untuk hanya melakukan tendangan-tendangan jarak jauh. Pertahanan Arsenal demikian solid malam itu, sehingga the whole is greater than the sum of its parts terjadi.

Pertemuan pertama di Emirates Stadium yang berakhir 3-1 ingin dilupakan hampir semua fans Arsenal. Namun dalam pertandingan tersebut, bukan berarti Arsenal menyerah begitu saja. Saat kedudukan 2-1 (setelah Arsenal mencetak gol), Arsenal sedang di atas angin untuk menyamakan kedudukan sebelum gol Mandzukic hasil serangan balik membuat mereka putus asa. Fakta ini diabaikan. Andai saja serangan balik tersebut tidak berhasil, bisa jadi sampai menit terakhir Muenchen akan digempur Arsenal. Bagi saya pribadi, dalam dua leg tersebut, walaupun Muenchen lebih kuat soal ball possession dan lebih banyak menciptakan kesempatan, Arsenal cukup dapat mengimbangi permainan klub terkuat Eropa tersebut. Dan kunci itu ada pada pertahanan yang super kuat di leg kedua.

Benteng Arsenal

Musim ini Emirates Stadium bisa dikatakan mulai menjelma menjadi benteng Arsenal. Selain kekalahan awal atas Aston Villa yang dapat diabaikan, dan kekalahan tipis atas Dortmund (pertandingan Capital One Cup lawan Chelsea sengaja diabaikan di sini), Arsenal tidak terkalahkan di kandang dan sangat sedikit kebobolan gol. Kuncinya ada pada duet Mertesacker dan Koscielny serta penampilan Szczesny. Selain itu pemain-pemain Arsenal seperti terobsesi dengan clean sheet di kandang. Mungkin perubahan sikap para fans Arsenal yang mulai lebih percaya pada tim ini sejak memuncaki klasemen menambah kepercayaan diri para pemain. Fokus dan konsentrasi di setiap pertandingan kandang terlihat berbeda musim ini. Hasil fluke seperti kekalahan 6-3 di Etihad, 5-1 di Anfield atau bahkan 1-0 di Old Trafford tidak akan terjadi di kandang. Menarik untuk menunggu apakah rekor pertahanan ini masih bisa bertahan saat kita menjamu Muenchen.

Pertarungan Taktik Dua Manager

Guardiola pernah kalah dari Wenger di Emirates (2-1 lawan Barca) dan Wenger selalu kalah dari Guardiola di Nou Camp. Namun yang perlu diingat adalah materi pemain kedua klub saat itu berbeda jauh. Wenger memiliki tim yang lebih lemah. Saat ini juga demikian walaupun penambahan Ozil dan makin matangnya beberapa pemain Arsenal membuat perbedaan kualitas tiap pemain semakin dekat daripada pertemuan-pertemuan berikutnya. Taktik Guardiola tidak sulit ditebak, demikian juga Wenger. Kedua pelatih ini adalah pelatih yang memprioritaskan strategi daripada taktik. Gaya permainan dominan daripada antisipasi gaya dan taktik lawan. Pep melatih pemainnya dengan obsesi terhadap positioning yang ketat, dan menekankan pada ball possession. Wenger melatih pemainnya untuk bermain sepakbola cepat satu dua sentuhan dan memberikan keleluasaan mereka untuk berimprovisasi di lapangan, terutama kepada para pemain tengahnya (lihat pergerakan Ozil, Cazorla). Di situ sedikit perbedaan kedua pelatih. Bila Pep lebih pada disiplin, Wenger lebih pada freedom. Demikian saya melihatnya.

Bila kita menyimak komentar Arteta (yang tidak akan bermain malam ini karena suspensi kartu) tentang Muenchen:

They are very creative, they can use the full backs to have people running behind, they have people who can hold the ball, running midfielders, they can shoot from outside the box.

They’ve got a complete team but again I think they face some issues at the back which I’m sure we can exploit.

maka jelaslah bahwa Wenger dan para pemainnya telah melakukan analisa terhadap calon lawannya ini. Mereka menyerang lewat fullback, tendangan jarak jauh, namun juga memiliki kelemahan di belakang yang dapat dieksploitasi. Sekali lagi karena saya tidak mengikuti Muenchen maka saya tidak tahu secara persis kelemahan apa yang dimaksud Arteta tersebut. Pertandingan Muenchen melawan City bahkan tidak dapat dijadikan sebagai referensi mengingat tidak pentingnya nilai pertandingan itu saat itu bagi Muenchen yang hampir pasti menjadi juara grup. Daripada berspekulasi tentang kelemahan Muenchen, lebih baik kita mencoba melihat apa kekuatan Arsenal yang dapat digunakan di pertandingan ini.

Kekuatan Pondasi Arsenal

Kekuatan Arsenal musim ini bukan pada kualitas penyerangannya. Serangan yang dibangun Arsenal tidak segencar dan sesering City atau Liverpool misalnya. Arsenal bisa bertengger di puncak klasemen EPL demikian lama musim ini dan hanya terpaut satu point saat ini dari puncak karena pondasi yang dibangun pada pertahanan, sejak awal Maret tahun lalu (tepatnya setelah kekalahan dari Spurs di liga, dan saat pertandingan leg kedua melawan Muenchen). Pondasi tersebut bertahan hingga hampir setahun, dan masih kokoh. Masuknya Ozil dan Flamini memberikan keseimbangan baru pada pondasi tersebut. Tidak hanya bertahan dan menang 1-0, Arsenal juga cukup kuat dalam melakukan serangan cepat karena pengaruh Ozil. Sayangnya Walcott dan Ramsey yang menjadi mesin gol Arsenal musim ini masih cedera. Bila mereka berdua fit, Muenchen akan menghadapi lawan yang jauh berbeda. Walaupun demikian, pondasi pertahanan Arsenal tetap dapat diandalkan di pertandingan ini.

Maka tidak sulit untuk mengira bahwa Wenger akan memainkan taktik sebagaimana saat melawan Liverpool. Solid di belakang dengan fullback yang sedikit ditahan untuk maju, dan mengandalkan serangan cepat yang dibangun oleh Ozil dan pemain sayap. Giroud perlu sedekat mungkin ke kotak penalti lawan sebagaimana Sanogo kemarin, dan kecepatan Chamberlain serta Podolski perlu dieksploitasi oleh kecepatan pikiran Ozil. Arsenal mesti nyaman dengan menyerahkan ball possession kepada Muenchen, dan mereka telah nyaman melakukannya musim ini. Arsenal bisa restart serangan di periode-periode kritis pertandingan seperti 10 menit awal dan akhir babak pertama dan kedua, dan sisanya bertahan dengan tidak memberikan ruang pergerakan untuk pemain Muenchen, sesuatu yang sangat kita kuasai musim ini. Tentunya memilih untuk tidak menguasai bola memerlukan tingkat konsentrasi yang lebih tinggi daripada menguasainya. Namun tingkat konsentrasi yang tinggi ini sangat membantu untuk tidak melakukan kesalahan, dan sangat berpengaruh dalam melakukan serangan balik yang efisien.

Demi terciptanya gol lewat serangan balik, maka saya prediksi Wenger tetap akan memainkan Chamberlain di pertandingan ini dan mungkin Podolski bila ia yakin dengan kemampuan tracking back Podolski. Bila ia tidak terlalu yakin, maka ia akan memilih Rosicky. Namun dengan demikian artinya kehilangan satu ruang untuk Cazorla. Keputusan sulit untuk Wenger. Flamini akan menggantikan posisi Arteta dan Wilshere kemungkinan akan menemaninya di tengah. Kalau saya pribadi, mungkin akan memilih memasang Chamberlain dan Podolski di sayap, serta Rosicky, Ozil dan Flamini di tengah. Pressure yang bisa diberikan Rosicky lebih baik daripada Wilshere ataupun Cazorla dan ia lebih jarang kehilangan bola daripada keduanya, hal yang sangat penting untuk pemain poros tengah. Kedua pemain ini bisa disimpan untuk babak kedua, ketika Arsenal ingin pindah gigi lebih tinggi dan menyerang penuh.

Namun sepertinya Wenger akan berpikir terlalu riskan memainkan dua pemain penyerang di pertandingan ini. Maka ia besar kemungkinan akan memilih menyimpan Podolski dan memainkan Cazorla.

Prediksi line ups: Szczesny – Sagna, Mertesacker, Koscielny, Gibbs – Flamini, Rosicky, Ozil – Cazorla, Giroud, Chamberlain.

Sub: Fabianski, Monreal, Jenkinson, Podolski, Sanogo, Gnabry, Wilshere.

Tidak banyak pilihan pemain penyerang untuk Wenger karena cedera Ramsey dan Walcott. Untungnya pemain bertahannya yang bisa dipasang adalah pilihan-pilihan utama.

Setelah analisa amatiran di atas, seberapa tinggi harapanmu atas pertandingan ini? Bila sebelum pertandingan lawan Liverpool di FA Cup saya sangat yakin Arsenal menang, maka di pertandingan ini harapan saya terletak pada kemenangan 1-0 atau seri. Terus terang sulit berharap kita menang telak dari klub terkuat Eropa yang sedang di atas angin dan kondisi kita sendiri yang belum stabil dengan cederanya beberapa pemain inti. Tapi tetap tersisa harapan untuk mencuri kemenangan bila game plan Wenger bisa diterapkan dengan apik oleh pemain-pemainnya dan dibantu oleh kharisma benteng pertahanan Arsenal yang baru: Emirates Stadium.

Pesan terakhir, ingat pepatah di atas. Jika kita kalah dalam pertandingan ini, jangan terlalu sedih. Karena harapan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Peace out and just enjoy the game! 🙂