Unknown's avatar

About benhan

A rookie in blogging

Membaca Aktivitas Transfer Arsenal #Lacanewsigning

Lacazette

Welcome to Arsenal, Alexandre Lacazette!

Bergabungnya Alexandre Lacazette ke Arsenal dengan nilai transfer yang memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh Mesut Ozil membuat saya tertarik untuk menulis artikel ini, bagaimana aksi transfer Arsenal berikutnya?

Sesuai pemberitaan di media, Arsenal membeli Lacazette dari Lyon senilai 45 juta poundsterling yang bisa berkembang menjadi 52 juta poundsterling tergantung performa klub dan pemain. Dengan harga pasar yang menjulang tinggi akibat bertambahnya daya beli klub Premier League, 45 juta poundsterling (+7 juta add-ons) untuk Lacazette tidaklah mahal. Tidak heran Jean Michel-Aulas terkesan kesal harus berpisah dengan aset termahalnya Lyon dengan harga segitu. Ia berharap menjual Lacazette senilai 57 juta poundsterling (65 juta Euro) mengingat tawaran West Ham senilai 43 juta poundsterling musim lalu saja ditolaknya. Kompromi akhirnya dicapai dengan skema add-ons di mana bila Arsenal berprestasi maksimum karena kontribusi Lacazette, Lyon akan mendapatkan 52 juta, hanya kurang 5 juta dari ekspektasi Aulas. Tapi untuk saat ini, perbedaan 12 juta dari ekspektasinya tentunya cukup mengesalkan Aulas. Good bargain for Arsenal terutama mengingat harga yang beredar di pasaran saat ini: 65 juta untuk Moratta, 100 juta untuk Lukaku?

Masuknya Lacazette dan Kolasinac (free transfer) di awal jendela transfer sangat membantu aktivitas transfer Arsenal musim ini. Kebutuhan urgent di lini depan dan belakang sudah terpenuhi. Arsenal bisa lebih relax dalam memantau harga pasaran dan pemain yang tersedia untuk pembelian berikutnya. Namun sebelum bisa memutuskan untuk membeli lagi, Arsenal perlu menjual pemainnya dahulu. Mengapa? Karena saat ini Arsenal memiliki 34 pemain first team (silakan cek website Arsenal.com) dengan kembalinya pemain-pemain pinjaman sedangkan peraturan liga adalah mendaftarkan 25 pemain dengan minimum 8 home grown dan 17 non home grown. Kita perlu menjual/meminjamkan sekitar 9 pemain.

Menuju keseimbangan tim utama

Mari kita lihat daftar tim utama Arsenal sebagaimana yang tertulis di websitenya:

GK (4): Cech, Ospina, Martinez, Szczesny

DF (12): Mertesacker, Koscielny, Mustafi, Gabriel, Holding, Chambers, Monreal, Bellerin, Gibbs, Debuchy, Jenkinson, Kolasinac

MF (9): Ramsey, Wilshere, Ozil, Chamberlain, Cazorla, Xhaka, Coquelin, Elneny, Jeff

FW (9): Sanchez, Perez, Giroud, Walcott, Iwobi, Welbeck, Campbell, Akpom, Lacazette

Dari daftar di atas, terlihat kita punya lebih banyak DF daripada MF dan FW. Aneh bukan? Namun bila Wenger memilih formasi 3-4-3 musim depan, maka 6 pemain (Bellerin, Debuchy, Gibbs, Jenkinson, Kolasinac, Monreal) bisa masuk ke kategori MF daripada DF. Jadi kita akan punya komposisi 4 GK, 6 DF, 15 MF dan 9 FW. Lebih dari cukup untuk membuat 2 tim inti, dan kelebihan banyak pemain di posisi MF dan FW. Idealnya dalam komposisi 25 pemain dan formasi 3-4-3 kita punya 3 GK, 7 DF, 9 MF dan 6 FW. Maka mari kita menyusun pemain sesuai komposisi tersebut. Versi saya sebagai berikut:

3 GK: Cech, Szczesny, Martinez

7 DF: Mertesacker, Koscielny, Mustafi, Gabriel, Holding, Chambers, Monreal

9 MF: Ramsey, Xhaka, Coquelin, Elneny, Chamberlain, Wilshere, Bellerin, Kolasinac, Iwobi

6 FW: Sanchez, Ozil, Lacazette, Giroud, Welbeck, Walcott

Iwobi bisa bertukar antar lini MF dan FW dengan mudahnya. Monreal juga bisa jadi LWB ataupun LCB karena ia bisa tampil sama baiknya di kedua posisi tersebut. Dari daftar di atas maka 9 pemain yang tersisih adalah sbb:

Ospina, Gibbs, Debuchy, Jenkinson, Cazorla, Jeff, Perez, Campbell, Akpom.

Jeff dan Akpom akan dipinjamkan mengingat usianya yang masih muda walaupun Akpom ada kemungkinan untuk dijual. Cazorla cedera hingga tahun depan jadi tidak akan masuk daftar 25 pemain. Sisanya sangat mungkin dijual selama ada yang naksir. Maka kita akan menjual 6 pemain, dan pinjamkan 2 pemain untuk mencapai keseimbangan tim utama dengan 25 pemain yang siap berkompetisi.

Dari sini kita bisa menyimpulkan untuk membeli 1-2 pemain baru lagi, Arsenal harus mampu “menyingkirkan” 8 pemain di atas, ditambah menjual 1-2 pemain yang masuk dalam daftar 25 pemain sementara. Fokus transfer Arsenal setelah ini jelas pada penjualan pemain.

…untuk membeli 1-2 pemain baru lagi, Arsenal harus mampu “menyingkirkan” 8 pemain di atas, ditambah menjual 1-2 pemain yang masuk dalam daftar 25 pemain sementara.

Menghitung budget transfer Arsenal

Musim lalu Arsenal menghabiskan dana hampir 100 juta poundsterling untuk transfer pemain. Musim ini dengan dana tambahan dari hak siar Premier League namun dikurangi jatah dari Champions League, saya prediksi Arsenal punya budget transfer yang serupa. Menghitung budget transfer secara akurat agak sulit karena dana transfer dicatat sebagai biaya “amortization” dalam laporan keuangan. Jadi misalnya biaya 45 juta pembelian Lacazette dengan kontrak 5 tahun, maka dalam laporan keuangan Arsenal 2017/2018 akan dicatat sebagai biaya amortization 9 juta poundsterling (45 dibagi 5 tahun). Sebuah klub biasanya akan menggabungkan biaya gaji dan amortization dalam budget staf. Kenaikan gaji Ozil dan Sanchez otomatis akan mempengaruhi ketersediaan dana dari “budget staf” ini yang mengurangi dana transfer Arsenal. Anggap gaji Ozil dan Sanchez naik masing-masing 150K per minggu, dikali 52 minggu = 7,8 juta. Untuk keduanya Arsenal harus menyediakan tambahan dana +/-16 juta poundsterling untuk gaji yang hampir sama dengan biaya amortization transfer pemain senilai 80 juta poundsterling untuk kontrak 5 tahun.

Konklusinya, menggandakan gaji Ozil dan Sanchez dari kisaran 150K/minggu ke 300K/minggu sama dengan membeli pemain baru senilai 80 juta poundsterling. Bagaimana, sekarang sudah jelas kan keberatan Arsenal untuk menaikkan gaji pemain secara signifikan?

…menggandakan gaji Ozil dan Sanchez dari kisaran 150K/minggu ke 300K/minggu sama dengan membeli pemain baru senilai 80 juta poundsterling.

Namun ada cara lain untuk justifikasi kenaikan gaji Ozil dan Sanchez tersebut. Melepas 6 pemain yang disebut sebelumnya, anggap saja masing-masing gajinya 50K/minggu, sama dengan membebaskan dana 300K/minggu. Maka melepas 6 pemain tersebut, Arsenal bisa menggunakan dana yang terbebaskan itu untuk menaikkan gaji Ozil dan Sanchez menjadi masing-masing 300K/minggu. Belum lagi tambahan cash yang akan diterima dari penjualan. Anggap saja Ospina 5 juta, Gibbs 8 juta, Debuchy 5 juta, Jenkinson 3 juta, Perez 10 juta, Campbell 4 juta, total terkumpul 35 juta. Itu skenario terbaik. Skenario terburuk anggap saja 30 juta. Tambahan 30-35 juta yang sekaligus menyediakan budget untuk menaikkan gaji Ozil dan Sanchez menjadi validasi kuat mengapa kita perlu menjual ke-6 pemain tersebut. Ke-6 pemain tersebut juga bermain sangat jarang di tim utama Arsenal sehingga penjualannya tidak akan berdampak pada harmonisasi tim.

OK untuk hitung-hitungan sederhana mari kita abaikan budget gaji pemain dan asumsikan saja budget transfer (transfer murni, tidak termasuk gaji) Arsenal 100 juta poundsterling musim ini. Sudah dipakai untuk Lacazette 45 (add-ons tidak dihitung sekarang karena tidak langsung menjadi biaya saat ini) dan Kolasinac 0. Sisa 55 + 35 dari penjualan pemain = 90 juta. Cukup untuk membeli 2 Lemar/Mahrez tapi tidak cukup untuk 1 Mbappe. Bila salah satu dari Giroud/Walcott/Wilshere/Chamberlain dijual, Arsenal akan dapatkan tambahan 25 juta, budgetnya menjadi 115 juta, cukup untuk 1 Mbappe. Untuk jumlah pemain juga ok karena 1 out 1 in. Bila Sanchez yang jadi dijual, Arsenal akan dapatkan tambahan dana 50 juta, budgetnya menjadi 140 juta, cukup untuk beli paket combo Mbappe+Lemar (barangkali tawaran ini akan menggiurkan Monaco). Kehilangan Sanchez tapi kedatangan Lacazette+Mbappe+Lemar, maukah Wenger mengambil resiko ini? Saya rasa ia siap. Secara tim, Arsenal akan lebih seimbang dan komplet. Apalagi Sanchez juga bukan tidak ada kelemahannya (kehilangan bola, cenderung bermain egois, enggan menjadi striker murni, dll).

Kehilangan Sanchez tapi kedatangan Lacazette+Mbappe+Lemar, maukah Wenger mengambil resiko ini?

Namun strategi jual-beli ini hanya akan berjalan mulus kalau 6 pemain di atas sudah berhasil dijual. Kedatangan Lacazette sangat berpengaruh positif terhadap eksekusi strategi transfer Arsenal. Terpenuhinya kedua posisi urgent itu berarti Arsenal bisa lebih relax dan tidak buru-buru dalam mengejar target baru. Bahkan untuk menjual 6 pemain lama, Arsenal bisa memasang harga tinggi karena cukup punya waktu (2 bulan) untuk bernegosiasi dan mengundang kompetisi klub pembeli. Pendekatan terhadap pemain baru bisa tetap dilakukan namun final dealnya bisa dilakukan mendekati akhir jendela transfer untuk mendapatkan deal terbaik. Jadi saya prediksi dalam beberapa minggu ke depan akan terjadi aktivitas jual, namun pembelian 1-2 pemain baru akan terjadi di Agustus atau setelah musim dimulai. Jangan heran, kaget ataupun panik.

Prioritas posisi pemain baru

Wenger dan Gazidis mengatakan mereka hanya akan membeli pemain baru yang siap langsung masuk starting eleven bukan untuk squad depth. Hanya top-top player yang akan upgrade kualitas starting eleven Arsenal sekarang. Mari kita uji starting eleven Arsenal dengan 3-4-2-1:

Lacazette

Sanchez – Ozil

Kolasinac – Xhaka – Ramsey – Bellerin

Koscielny – Mertesacker – Mustafi

Cech

Dari formasi di atas, bila Sanchez tidak dijual, saya hanya akan menggantikan Xhaka atau Ramsey dengan pemain baru. Lini tengah tampaknya yang paling perlu di-upgrade. Xhaka dan Ramsey masih sering dilewati lawan dengan mudah saat counter attack. Keduanya tidak memiliki agility dan akselerasi untuk recovery yang mumpuni sehingga mudah ditinggal lawan yang counter atau dribbling dengan cepat. DM/CM menjadi satu posisi yang sangat memerlukan upgrade. Lalu siapa kandidat DM yang top top player? Naby Keita (Leipzig) yang sempat dikontak Wenger musim lalu? Jean Seri (Nice) yang digosipkan di awal jendela transfer?

Namun Sanchez dan Ozil juga tidak memiliki kompetisi yang sebanding. Saat salah satu dari Sanchez atau Ozil cedera, Wenger hanya punya opsi Chamberlain, Iwobi yang gaya permainannya mirip, atau memainkan Welbeck dan Walcott di sana namun mengubah sedikit formasinya menjadi 3-4-3 daripada 3-4-2-1. Lemar atau Mahrez akan merupakan upgrade atas Iwobi dan Chamberlain. Maka jangan heran kedua nama itu ditiupkan media sebagai target berikutnya Arsenal. Sangat masuk akal untuk Arsenal mengejar salah satu dari keduanya walaupun Sanchez bertahan. Kompetisi yang sepadan Sanchez-Ozil dibutuhkan.

Saat salah satu dari Sanchez atau Ozil cedera, Wenger hanya punya opsi Chamberlain, Iwobi yang gaya permainannya mirip…

Apakah Arsenal punya budget 90 juta atau 115 juta atau 140 juta untuk sisa transfer musim ini, sangat tergantung pada bertahan-tidaknya Sanchez, Wilshere dan Chamberlain (asumsi saya Ozil akan perpanjang kontrak), dan ada-tidaknya peminat Giroud dan Walcott. Saya prediksi minggu berikutnya Arsenal akan membuat tawaran kontrak take it or leave it kepada Sanchez. Bila Sanchez menolak gaji 300K/minggu + signing on fee, maka menjualnya senilai 50 juta adalah langkah tepat, kepada siapapun.

Bila Sanchez bertahan, maka salah satu pemain (Giroud/Walcott/Wilshere/Chamberlain) perlu dijual untuk menampung 1-2 pemain baru. Saya akan memilih menjual Walcott, tapi sayangnya tak ada peminat serius. Giroud, hanya akan saya lepas bila kita bisa mendapatkan Mbappe. Mbappe bisa bermain di posisi kiri 3-4-3 dan merupakan investasi jangka panjang. Ia pemain spesial yang hanya lahir 1 dalam 10 tahun. Bila kita melepas Wilshere/Chamberlain, maka Lemar/Mahrez wajib didatangkan, ditambah satu lagi DM. Saat ini Chamberlain lebih berpeluang untuk dijual karena penampilan rata-rata Wilshere di Bournemouth jelas turunkan harganya di pasaran. Namun bisa jadi Wilshere lebih ngotot untuk pindah daripada Chamberlain.

Tidak ada pemain yang tak tergantikan. Dan saat ini dengan didatangkannya Lacazette dan Kolasinac, Wenger punya banyak waktu dan dana untuk memilih. Ia perlu tegas karena pemain-pemain tersebut sudah sering mengecewakannya. Saatnya melepas pemain yang tinggal di PHP zone dan saatnya mencoba harapan baru. Paling tidak itu akan mencambuk pemain-pemain lainnya dengan pesan Arsenal baru ini adalah Arsenal yang berambisi. Arsenal yang tak punya banyak waktu untuk pemain yang memilih bersantai-santai dalam karirnya. Arsenal yang tidak lagi mengandalkan Youth Programme (untuk jelasnya mengapa, baca tulisan saya 2012 tentang Model Finansial Arsenal). Arsenal yang ruthless.

Kesimpulan

Prediksi sisa aktivitas transfer Arsenal bila berhasil menjual 6 pemain fringe:

Skenario 1: Sanchez dan semua pemain di luar 6 pemain fringe tersebut bertahan, dana 90 juta pound. Beli Lemar/Mahrez + Keita/Seri. Loan Chambers dan Martinez.

Skenario 2: Sanchez bertahan, Giroud/Chamberlain dijual, dana 115 juta pound. Beli Mbappe kalau Giroud dijual atau beli Lemar/Mahrez + Keita/Seri kalau Chamberlain dijual. Loan Chambers dan Martinez.

Skenario 3: Sanchez dijual, dana 140 juta pound. Beli Mbappe + Lemar. Loan Martinez.

Dari ketiga skenario di atas, maka jangan heran kalau Arsenal masih mengincar Mbappe. Kita siap dan mampu membelinya. Sekarang semua tergantung apakah Mbappe siap untuk menjadi the next Thierry Henry (yang menginspirasi pemain generasi berikutnya seperti Lacazette) atau memilih menjadi the next Anelka (legenda yang tak pernah jadi, habis karirnya saat pindah ke Real Madrid).

When Wengerball is Exciting Again

That Henry’s pressing, that John Terry’s like embarrassment, that speed, and that lob over world class goalkeeper. That clinical finish of a pacey striker. When Wengerball is exciting again.

That passing exchanges, left and right toying with Arsenal former captain who betrayed the team. That quick, overlapping fullback’s penetration to the box. That run behind the defender from his blind side. That fast low cross and that tap-in goal. When Wengerball is exciting again.

2842

That interception at the back, that first touch, that fast break, that striker’s run leading the counter attack, that space opening in 2v2 situation, that overhead lob, that volley destined to kiss the goal post and bouncing to the net. That beautiful goal scored by a perfect ten. When Wengerball is exciting again.

That center halves bromance at the back, that pride of keeping the most dangerous animal-cum-striker in the pocket while bullying him. That success in getting clean sheet in big game.

In The Manager’s words:

I feel, especially in the first half, we wanted to play with high pace, put them under pressure, play at a very high collective connection and speed of passing – it worked quite well. It’s one of those moments in your life as a manager where you think ‘today is a great day’. In the first half, I think it was nearly perfect. In the second half it was a bit in-and-out but in the first half, we have shown great quality. We played with style, with pace, with movement – and that’s the kind of football we want to play.

It’s hard to play slow possession football after this. This is the caviar, the fast, one touch, style and steel football that set alight the Premier League 20 years ago. This is Wengerball. It’s nice to see you again.

Memahami Coquelin, False Six Arsenal

<> at KC Stadium on May 4, 2015 in Hull, England.

Francis Coquelin, Arsenal’s unorthodox DM

Artikel ini adalah soal memahami peran Francis Coquelin, pemain Arsenal yang sedang tidak populer di kalangan Gooners. Bukan salahnya, tapi “salah” Wenger yang membeli Granit Xhaka dengan harga selangit (35 juta poundsterling). Xhaka yang diharapkan fans-fans Arsenal dapat melahirkan kembali peran deep playmaker ala Arteta di musim ini terhalang oleh keras kepalanya Wenger yang terus memainkan Coquelin (dan Cazorla). Coquelin dijadikan kambing hitam oleh Gooners karena sebagian besar Gooners merasa Xhaka jauh lebih baik dan cocok untuk memainkan peran DM sekaligus deep playmaker di skuad Arsenal musim ini. Ia punya tackle keras, long pass dan short pass yang lebih akurat, terakhir punya long shot yang berbuah gol indah, ditambah lebih ganteng dari Coquelin. Kurang apa lagi? Mengapa Wenger demikian keras kepala untuk tidak mengganti Coquelin dengan Xhaka? Apakah Wenger punya misi pribadi untuk tidak menggunakan pemain mahalnya? Apakah transfer Xhaka bukan keputusannya? Berbagai teori konspirasi pun beredar di kalangan fans Arsenal yang menolak untuk memahami peran Coquelin dan isi kepala Wenger.

Tidak heran segala teori konspirasi di atas bisa lahir. Dari sebagian fans Arsenal yang saya follow (di Twitter), kebanyakan yang punya pemikiran anti Coquelin ini juga adalah mereka yang konsisten mengkritik Wenger, terutama soal taktik dan transfer. Mereka yang menolak memahami cara berpikir Wenger tentunya tidak akan paham mengapa Wenger lebih memilih Coquelin daripada Xhaka, untuk saat ini. Buat mereka, Wenger sudah outdated soal taktik, Wenger tidak mengerti bagaimana memainkan Xhaka, Wenger lebih pro ke anak didiknya daripada pemain bintang baru yang mahal. Bias anti-Wenger mereka mempengaruhi pendapat mereka tentang semua hal yang berhubungan dengan Wenger, termasuk tentang peran Coquelin. Jika Anda termasuk yang punya pendapat serupa, saya mohon Anda dapat sabar dan membaca artikel ini sampai selesai dulu sebelum berkomentar. Kolom komentar tersedia di bawah dan saya akan dengan senang hati meladeni keluh kesah Anda tentang Coquelin atau opini yang berseberangan. Artikel ini bertujuan untuk memahami cara pikir Wenger yang saat ini lebih memilih Coquelin daripada Xhaka, terlepas dari itu keputusan yang salah atau benar (yang hanya bisa diketahui di kemudian hari).

Untuk membandingkan peran keduanya maka match melawan Watford (Xhaka main, Arsenal menang 3-1) dan lawan Hull City (Coquelin main, Arsenal menang 4-1) bisa menjadi referensi. Keduanya berpasangan dengan Santi Cazorla dalam dua match itu. Mari kita mulai dengan paparan statistik sebelum saya memasukkan opini pribadi saya. Saya akan menggunakan Stats Zone (FourFourTwo) dan Whoscored yang mudah diakses setiap orang.

Stats Zone Defensive Dashboard

coq-def

Coquelin vs Hull City

xha-def

Xhaka vs Watford

Coquelin membuat 4 tackle, 4 interception dan 1 clearance dalam laga vs Hull City. Xhaka membuat 5 tackle, 2 interception, 3 clearance dalam match vs Watford. Angka yang tidak berbeda banyak. Tapi coba perhatikan posisi di mana aksi defence keduanya terjadi. Coquelin melakukan tackle dan interception lebih banyak di setengah lapangan lawan sementara Xhaka lebih banyak di setengah lapangan sendiri. Coquelin bermain lebih depan daripada Xhaka. Mengapa Coquelin bermain lebih maju? Dalam tiga pertandingan terakhir lawan Soton, PSG dan Hull City, Coquelin beberapa kali bermain lebih maju daripada Cazorla. Apakah ini karena nafsunya menyerang? Ataukah ini karena seringnya ia mengabaikan instruksi pelatih untuk stay di posisi DM?

Satu kali mungkin kebetulan, dua kali artinya kebiasaan buruk, namun kalau sampai tiga kali mengulangi hal yang sama artinya itu sebuah instruksi pelatih. Coquelin awalnya terlihat tidak nyaman dengan instruksi ini. Melawan Soton babak pertama, ia terus maju ke area lawan saat Arsenal menguasai bola. Beberapa kali ia menerima bola di lapangan lawan, namun gagal mengoper ke pemain Arsenal lainnya. Di babak pertama ia bermain buruk. Babak kedua, posisinya tukar dengan Cazorla, dari kiri ke kanan. Ia bermain lebih baik dan Arsenal menguasai bola dengan baik di babak kedua. Saat melawan PSG, Coquelin bermain lebih baik namun penampilan terbaiknya ada pada match lawan Hull City. Ia memainkan peran barunya yang diinstruksikan oleh Wenger dengan amat baik sehingga Arsenal mendominasi total pertandingan tersebut.

False Six 

Anam Hassan (@arsenalcolumn) memiliki teori yang menarik mengenai “instruksi” ini. Dalam tulisannya di arseblog, ia mengupas bahwa Wenger menginstruksikan Coquelin bermain lebih maju dari biasanya dengan dua tujuan (ditambahkan sedikit analisa saya):

  1. Dengan majunya Coquelin ke lapangan lawan, membuat permainan Arsenal tetap di area lawan. Berlawanan dengan Positional Play (Salida Lavolpiana) ala Guardiola yang menggunakan DM sebagai deep playmaker untuk mendistribusi bola ke depan, Wenger memilih menggunakan CB sebagai distributor bola. Coquelin maju ke depan akan menarik marker-nya dan menarik mundur pressing lawan. Bila marker Coquelin ikut mundur, CB Arsenal akan bebas mengoper ke ruang yang terbuka (biasanya diterima Cazorla). Bila lawan memilih maju untuk pressing CB Arsenal yang membawa bola, ruang kosong yang ditinggalkan midfield lawan akan diisi oleh Ozil atau Cazorla untuk menerima bola. Dan karena ruang kosong ini sangat dekat dengan Zone 14 (yang diidentifikasi oleh analis sepakbola sebagai zone paling berbahaya), Arsenal tinggal melakukan satu operan lagi untuk menyerang dari zone yang diidentifikasi sebagai area di mana tingkat keberhasilan serangannya paling tinggi. zone 14 in 18 zones.png
  2.  Apabila Arsenal kehilangan bola di daerah lawan, maka lawan akan melakukan counter attack dengan cepat. Di sini kecepatan fisik Coquelin dan kemampuan hebatnya mengendus bahaya sangat berarti. Coquelin berkali-kali melakukan tackle dan interception di area lawan, saat lawan baru mau melakukan counter attack. Gegenpressing ala Klopp dilakukan oleh Coquelin, sendiri. Bila sukses, counter dari counter attack ini lebih efektif daripada DM yang baru mulai membaca serangan lawan di area sendiri, di Zone 5 dan 8. Dan karena notabene pemain Arsenal masih berada di lapangan lawan saat counter terjadi, probabilitas Arsenal kembali mendapatkan bola sangat tinggi. Permainan dilanjutkan di area lawan.

Sekali tepuk dua lalat. Dengan memainkan Coquelin lebih maju, Wenger membuka ruang untuk Arsenal menyerang dari tengah, dari Zone 14 sekaligus mengatasi masalah counter attack lawan yang menjadi momok Arsenal selama ini.

Hal ini merupakan evolusi taktik Wenger pasca Arteta. Guardiola menganalisa taktik Arsenal di tahun 2014 (saat kita masih menggunakan Arteta sebagai pivot):

Pep explains in detail how Mikel Arteta tries to draw in the opposing pivote in order to create a space in the middle of midfield into which Mesut Özil will try to appear. Pep walks through Arteta’s movements whilst emphasising to his players, who are spread out in front of him: “Özil is the dangerous one – he’s the one we really need to keep the closest eye on. Arteta draws you in, Özil pops up in that zone with Santi] Cazorla and Alex Oxlade-Chamberlain around him and that’s the way that they achieve superiority in a key area. We can’t afford that to happen.”

Saat itu Arteta bermain sebagai DM ala La Volpe. Positional Play yang diinspirasikan oleh Ricardo La Volpe (yang terkenal dengan sebutan Salida Lavolpiana, the way out of La Volpe) dan dikembangkan oleh Guardiola di Barca dan Bayern. Perannya sebagai pembawa bola adalah untuk menarik marker lawan agar tercipta ruang kosong di lapangan tengah untuk Ozil. Musim 2012/2013 setelah kepergian Song dan satu tahun setelah Arteta dibeli Arsenal, fans-fans Arsenal dan pundit bola bingung mengapa Arteta yang notabene pemain kreatif (AM Everton) ditaruh di posisi DM. Saat itu sepakbola Positional Play ala Guardiola belum populer diadopsi tim-tim Inggris. Banyak yang meragukan kemampuan Arteta sebagai DM dan menyayangkan kreativitasnya terbuang di posisi itu. Hasilnya Arteta menjelma menjadi DM tangguh, ahli tactical foul, passer bola terbanyak di tim Arsenal dan sesekali memberikan long ball akurat ke Giroud. Ia menjadi pemain terpenting di tim Arsenal sebelum Ozil bergabung. Masih ingat dulu fans Arsenal selalu khawatir setiap kali Arteta cedera? Bahkan kita punya statistik berapa % kemenangan Arsenal dengan Arteta vs tanpa Arteta. Good old days.

Cedera mengakhiri karir Arteta tapi dampak permainannya begitu membekas di hati Gooners yang berharap kita menemukan pengganti Arteta. Tidak heran kita begitu berharap banyak pada Xhaka. Pemain yang lebih mirip Arteta daripada semua pemain tengah yang kita miliki, termasuk Coquelin. Xhaka bisa mengoper bola dengan baik, long ball-nya akurat, dan rasanya interception serta tacklingnya lebih baik. Ia punya development ceiling yang lebih tinggi daripada Arteta. Kita melihat Xhaka sebagai Arteta Mk II.

Sayangnya fans Arsenal bak jalan di tempat (soal taktik) bila tetap berpikiran begitu. Bahkan Arteta di puncak permainannya sebagai DM tidak mampu membawa kita ke puncak. Wenger yang dikatakan outdated soal taktik sudah memilih untuk maju, evolusi taktik Arsenal untuk sekian kalinya. Memahami keterbatasan Positional Play Arsenal sebelumnya, terutama dengan berkembangnya adopsi transisi cepat di tim-tim lawan (paling jelas Leicester City), Wenger merespon dengan evolusi taktik terbarunya: False Six, atau bisa juga disebut Decoy DM. Istilah ini pertama kali ditulis di sini, jadi jangan lupa mengkreditkan blog ini bila istilah ini lalu populer.

Nomor enam adalah nomor sepakbola modern untuk DM. Coquelin menolak memberikan No 34 miliknya ke Xhaka mungkin karena No 6 ini masih dipakai Koscielny. False Six mengikuti trend False Nine adalah sebutan untuk DM palsu. Pemain yang memulai dengan posisi di DM, namun kemudian bergerak bukan di area operasi DM. Coquelin bermain sangat tinggi di 3 pertandingan terakhir, bahkan sering muncul di kotak penalti lawan. Ia semakin nyaman di posisi ini saat menyerang maupun bertahan. Operannya semakin bagus. Bahkan di pertandingan terakhir ia adalah pengoper ketiga terbanyak setelah Ozil dan Cazorla dengan tingkat kesuksesan tertinggi 98%. Dan operannya saat lawan Hull City kebanyakan terjadi di area lawan.

Coq Passes.png

Passing Coquelin vs Hull City

Namun walau asyik mengoper bola, Coquelin tidak melupakan perannya sebagai DM. Merebut bola secepat mungkin ketika bola berpindah pihak. Ia melakukannya dengan sangat efektif. Coquelin memimpin statistik defence Arsenal musim ini dengan 3.8 tackles dan 3.5 interception (per 90 mins, angka yang masuk 10 besar terbaik di EPL). Bila terjadi di lapangan lawan, statistik ini menjadi berkali lipat lebih berarti. Ia mematikan counter attack lawan sekaligus menjadi trigger serangan baru Arsenal di area berbahaya. Gol pertama Arsenal lawan Hull City terjadi akibat serangan yang dimulai oleh Coquelin (shoot jarak jauh, memantul dari lawan, rebut kembali bola hasil pantulan, oper ke Cazorla – Walcott shoot – Iwobi rebound shoot – Sanchez goal!). Penalti Arsenal juga diberikan karena tendangan keras Coquelin di dalam kotak penalti lawan. Kedua hal ini dimungkinkan karena posisi Coquelin yang demikian maju saat Arsenal menyerang. Dan hanya Coquelin yang bisa melakukan ini sekarang karena kualitasnya (fisik maupun insting) dalam mengendus dan menghentikan serangan lawan di area lawan belum bisa ditandingi CM Arsenal lainnya.

Mencari Duet Midfield Arsenal Terbaik

Mengetahui keras kepalanya Wenger, maka Coquelin dipastikan tidak akan diganti dalam beberapa pertandingan ke depan karena ia sedang mencoba taktik revolusioner False Six barunya ini. Lalu apakah ia akan tetap bertahan dengan duet Coquelin – Cazorla? Bagaimana nasib Xhaka? Kompleksitas ditambah dengan kembalinya Ramsey yang pasti akan menuntut bermain dan Elneny yang lama di bangku cadangan akan ikut panas. Musim ini adalah musim di mana kita memiliki depth terbaik di midfield. 5 pemain berkompetisi di 2 posisi. Hanya posisi Ozil yang tak tergantikan. Bila Coquelin juga tidak tergantikan maka 4 pemain lainnya akan berkompetisi untuk 1 posisi di midfield. Ini menjelaskan mengapa Jack Wilshere cabut duluan.

Menilik dari awal musim ini, Wenger sejauh ini sudah mencoba duet Coquelin-Cazorla (Liverpool, Soton, PSG, Hull), Coquelin-Xhaka (Leicester), dan Xhaka-Cazorla (Watford). Mana duet yang terbaik? Mari kita lihat heatmap dari Whoscored.

heatmap CoqXha LEI.png

Heatmap Xhaka & Coquelin vs Leicester City

Pertama kalinya Xhaka dan Coquelin bermain bersama karena Cazorla main sebagai AM. Xhaka start di DM dan Coquelin sebagai box to box. Heatmap yang biru itu adalah area jelajah Coquelin yang tersebar sedang Xhaka cenderung diam di Zone 7 dan 8. Coquelin mendapatkan MotM dari Whoscored di pertandingan (rating 8.4) ini karena statistik 5 tackle, 5 interceptionnya yang terbukti vital.

heatmap Xhazorla WAT.png

Heatmap Xhaka & Cazorla vs Watford

Di pertandingan ini, Coquelin cedera dan tidak bisa start. Xhaka diberikan kesempatan mendampingi Cazorla karena Ozil sudah kembali bermain. Terlihat heatmap tidak berbeda jauh dengan vs Leicester. Hanya saja kali ini Xhaka mengambil peranan lebih dalam bertahan dengan jumlah tackle dan interception yang lebih banyak (5, 2). Area jelajahnya masih di Zone 8 kiri sedangkan Cazorla beroperasi di kanan agak ke depan. Sekarang kita bandingkan dengan heatmap Coquelin & Cazorla di tiga pertandingan berikutnya (Soton, PSG, Hull):

heatmap Coqzorla SOT.png

heatmap Coqzorla PSG.png

Terlihat perbedaan jelas ketiga heatmap ini dengan dua heatmap sebelumnya: dua CM Arsenal bermain lebih maju. Bahkan saat melawan PSG sekalipun yang memainkan 4-3-3 dengan 3 CM berkualitas. Dalam pertandingan vs Soton dan Hull yang CM-nya tidak sebaik klub Eropa, dua CM Arsenal bermain mayoritas di lapangan lawan. Agenda Wenger untuk memaksakan permainan terjadi di lapangan lawan terwujud. Berkat taktik false six ini, berkat Coquelin. Heatmap lawan Hull City adalah ideal yang diinginkan Wenger. Dua CM-nya konsisten menjelajahi Zone 14, zone di mana serangan efektif dilancarkan.

Tidak hanya berpengaruh terhadap area jelajah CM. Taktik ini juga mengubah pola permainan Arsenal. Di mana CM Arsenal sebagai pemegang bola terbanyak bergerak, maka pemain-pemain yang lain akan mengikuti. Salah satu statistik model baru yang juga saya sukai adalah Positions & Passing Network milik @11tegen11. Saya akan sajikan 6 grafik @11tegen11 untuk Arsenal dan silakan simpulkan sendiri perubahannya.ARS v LIV.jpg

LEI v ARS.jpgWAT v ARS.jpgARS v SOT.jpgPSG v ARS.jpgHUL v ARS.jpg

Grafik di atas dari awal hingga terakhir menggambarkan evolusi taktik Wenger dan juga peran Coquelin. Match lawan Hull City memperlihatkan dominannya serangan Arsenal lewat tengah dan Zone 14. Arsenal menghasilkan goal attempt terbanyak dalam pertandingan tersebut. Arsenal yang biasa mengalirkan bola ke full back lalu cross ke Giroud mengubah gaya permainan dengan kombinasi pendek di tengah lapangan, lewat Zone 14. Sanchez, Ozil, Cazorla dan Coquelin menjadi tulang punggung taktik ini. Untuk melihat perbedaannya dengan Positional Play ala Guardiola, lihat grafik di bawah ini.Cskynq5WIAAUDkm.jpg

Untuk saat ini saya tidak melihat Wenger akan mengganti Coquelin dengan Xhaka. Xhaka tidak memiliki mobilitas ala Coquelin dan lebih condong bermain agak ke belakang. Dalam salah satu interviewnya Wenger mengatakan ia melihat Xhaka lebih cocok sebagai box to box midfielder daripada deep playmaker dan ia ditertawakan seantero jagat Twitter (fans Arsenal). Xhaka kan pengganti Arteta, kok malah mau disulap jadi Box to Box? Wenger buta ya? Sayangnya kebanyakan fans Arsenal merasa sudah paham taktik sepakbola hanya karena membaca artikel Positional Play ala Guardiola. Mereka lupa bahwa Wenger mengalahkan Barca dan Bayern-nya Guardiola, dengan tim yang jauh lebih murah meriah.

“He can of course [impose himself], he has the stature, the power, he has the strength. What we want is for him to use that in a very efficient way.

I personally prefer him as a box-to-box player,” added Wenger, “because he has the engine, the power and he has the long pass. He likes to come deep and distribute the game. I think as well he has the engine to have an impact with his runs.”

Wenger ingin Xhaka lebih banyak berlari seperti Coquelin. Hingga Xhaka siap berubah atau saat Wenger harus mengubah taktiknya untuk menghadapi tim tertentu yang tidak bisa dihadapi dengan False Six, Xhaka tampaknya masih harus duduk di bangku cadangan. Bagaimana dengan Ramsey dan Elneny?

Kelima pemain tengah Arsenal yang berkompetisi untuk 2 spot di CM ini memiliki kekuatan dan kelemahan yang berbeda:

  1. Coquelin: sudah dibahas kekuatannya, kelemahannya ada pada akurasi passingnya yang sekarang sedang diasah.
  2. Cazorla: +dribbling, passing, retensi bola dan mobilitas; -fisik, tackling, pertahanan
  3. Elneny: +pass and move, interception, shooting; -sering kurang fokus saat bertahan (vs LIV), tracking back
  4. Xhaka: +long pass, tackling; -mobilitas, interception, off the ball run
  5. Ramsey: +penetrasi ke box, shooting, passing; -defense, slow

Tidak ada midfielder yang sempurna namun pasangan yang balanced bisa saling menguatkan dan kombinasi yang tepat akan menjadi lebih kuat daripada jumlah kekuatan+kelemahan keduanya. Dengan mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan para pemain tengah Arsenal di atas dan taktik yang sedang menjadi fokus Wenger, duet pemain tengah terbaik Arsenal saat ini adalah Coquelin & Cazorla, COQZORLA.

Saya melihat lebih besar kemungkinan Xhaka dipasang dengan Elneny atau Ramsey daripada dengan Cazorla ataupun Coquelin. Maka Wenger bisa punya 2 pasang CM yang bisa ia gonta-ganti tergantung dengan lawan yang dihadapinya. Kalau ia ingin bermain agresif di lapangan lawan maka Coqzorla-lah yang dipasang. Kalau lebih ingin bermain counter attack maka Xhaka-Ramsey/Elneny bisa dipasang. Kita tidak perlu lagi was-was seperti jaman Arteta dulu, di mana tidak ada pengganti yang sepadan.

Menerima Coquelin Apa Adanya

Jadi setelah penjelasan panjang lebar di atas ditambah dengan paparan statistik yang komplet, masihkah Anda berpikir Coquelin adalah pemain yang jelek? Masihkah Anda berpikir Wenger kuno soal taktik? Masihkah Anda sibuk kampanye Xhaka vs Coquelin?

Semua data statistik di atas bisa didapat dengan gratis di internet. Jangan lupa Arsenal punya StatDNA, the world’s most advanced soccer data and analytics (klaim di akun Twitter-nya sebelum dibeli Arsenal). Perusahaan yang diakuisisi oleh Kroenke ini memberikan data statistik per hari ke Wenger. Apabila hanya dengan bekal statistik dari Stats Zone dan Whoscored saya bisa mengambil demikian banyak materi untuk tulisan ini, untuk menjustifikasi pandangan saya, bayangkan banyaknya informasi yang dimiliki Wenger soal pemainnya, soal perkembangan taktik sepakbola untuk kemudian menentukan permainan yang terbaik untuk timnya saat ini.

Bila belum percaya dengan ulasan artikel ini, silakan tonton ulang penampilan Coquelin di tiga pertandingan terakhir Arsenal. Tontonlah tanpa bias anti Coquelin di kepala. Anda akan melihat betapa efektinya peran Coquelin sebagai False Six, sebagai new Decoy DM Arsenal. Saatnya Anda menerima Coquelin apa adanya dan mendukungnya. Ia bisa jadi kunci sukses Arsenal musim ini.