Southampton, Giroud dan Resep Rahasia Henry

Rekor tim dengan pertahanan terbaik di Premier League itu akhirnya terpecahkan. Hanya kebobolan 5 gol dalam 11 pertandingan dan belum pernah kebobolan lebih dari 1 gol per pertandingan. Tantangan untuk mencetak lebih dari satu gol sebagaimana yang ditulis di artikel preview sebelum pertandingan dijawab dengan sempurna oleh Arsenal dan khususnya oleh Giroud. Mungkin Giroud sedikit kesal karena diragukan kapasitasnya (oleh penulis hehe) sebagai Mesin Gol Arsenal sehingga ia mencoba membuktikan kapasitasnya sebagai striker utama Arsenal. Bila dilihat dari koleksi 7 gol dari 12 pertandingan, maka ia on the track untuk mencetak lebih dari 20 gol liga musim ini, sebuah ukuran untuk striker top di Premier League.

Ilusi Statistik

Southampton sesuai prediksi bermain sangat baik dalam bertahan khususnya dalam melakukan pressing. Arsenal meresponnya dengan menyerahkan ball possession sambil tetap menjaga defensive shape, hal yang tidak berbeda jauh dengan yang dilakukan saat berhadapan dengan Dortmund. Hasilnya ball possesion Southampton lebih tinggi sedikit daripada Arsenal (51-49) namun hanya sedikit menghasilkan peluang bersih. Sebagaimana kata Wenger:

Against Southampton they had a lot of ball possession but in their own half of the field and very little in our final third, so it’s an illusion, these possession statistics.

The right balance in ball possession is progression and you can see it in Tottenham and Manchester City, where Tottenham actually had more ball possession.

Southampton memiliki penguasaan bola yang lebih tinggi namun di paruh lapangan mereka sendiri dan sangat sedikit di sepertiga lapangan lawan sehingga statistik penguasaan bola ini adalah ilusi. Menurut Wenger keseimbangan yang benar dalam penguasaan bola adalah “progression”. Contohnya walaupun Tottenham memiliki lebih banyak penguasaan bola, mereka kebobolan 6 gol dari City karena penguasaan bolanya tidak menghasilkan peluang di area lawan. Possession-nya bukan Progression.

Di saat pertandingan selesai, ada juga seseorang yang twit ke saya kalau Arsenal tidaklah bermain baik karena kalah statistik tembakan di mana Southampton lebih banyak melakukan tembakan ke gawang daripada Arsenal (10 berbanding 9 dengan sama-sama 4 on target). Lagi-lagi ini adalah contoh ilusi statistik jika tidak menonton pertandingan itu sendiri. Grafik di bawah ini menunjukkan betapa statistik hanyalah penyederhanaan peristiwa dan tidak dapat memberikan gambaran utuh pertandingan.

Southampton Shots

Southampton Shots

Arsenal Shots

Arsenal Shots

Dari dua grafik teratas terlihat kalau Southampton lebih banyak melakukan tembakan dari luar kotak penalti (8 dari 10) sehingga tembakannya lebih mudah diselamatkan oleh Szczesny ataupun diblok oleh pemain bertahan Arsenal. Sedangkan Arsenal melakukan mayoritas tembakannya dari dalam kotak penalti (6 dari 9). Dengan demikian kualitas peluang yang dihasilkan Arsenal lebih tinggi daripada Southampton. Dua peluang (dari tembakan Wilshere dan Ramsey) yang “diselamatkan” tiang gawang Southampton di lain hari mungkin saja menjadi gol. Walaupun sudah melihat grafik di atas, tetap saja kita tidak bisa mendapatkan gambaran utuh kualitas tembakan kedua tim tanpa menonton pertandingan. Kecepatan bola, kekerasan tendangan, kurva lintasan bola misalnya tidak dapat digambarkan oleh statistik angka maupun grafik di atas. Statistik dapat membantu kita memahami alur pertandingan, namun jangan mengandalkan penuh pada statistik untuk menilai performa sebuah tim dalam pertandingan.

Southampton tanpa ragu lagi adalah tim terbaik di liga yang dihadapi Arsenal sejauh ini. Walaupun kalah dari United 2 pekan lalu, permainan MU saat itu tidaklah sebaik Southampton. Southampton melakukan pressing dengan penuh percaya diri, memainkan high defensive line, dan juga menciptakan peluang dari open play. Namun sayangnya Arsenal bermain lebih baik daripada saat di Old Trafford terutama barisan pertahanannya. Frustrasi, Southampton terpaksa menembak dari luar kotak penalti karena gagal masuk ke dalam kotak penalti Arsenal. Arsenal membalas dengan beberapa kali serangan cepat dan kemudian kembali bertahan tanpa tergoda untuk melakukan pressing tinggi. Mereka merasa nyaman dengan mempertahankan defensive shape tanpa harus melakukan pressing.

Serangan Arsenal memang belum terlalu “click” di pertandingan kali ini. Beberapa kali operan-operan di area Southampton tidak menemukan penyelesaian akhir. Wanyama dan Schneiderlin tampil baik dalam mematahkan serangan Arsenal, termasuk jika perlu melakukan professional foul. Wanyama terutama beberapa kali membenturkan dirinya ke Wilshere untuk menghentikan serangan Arsenal dan Clattenburg tidak memberikan foul. Namun, “karma buruk” tersebut akhirnya berbuah dan Giroud yang akhirnya mengambil alih peran utama kali ini.

Gol pertama berasal dari kesalahan Boruc saat menguasai bola. Tetapi hal itu tak lepas dari peran Giroud dalam pressing saat ia menerima back pass dari Shaw. Giroud tampaknya belajar satu dua hal dari Thierry Henry, yang bergabung dengan latihan tim Arsenal minggu ini. Sangat mungkin ia juga mendapatkan “resep rahasia” Henry dalam mencetak gol.

Giroud dan Henry

Resep Rahasia Henry

Dalam salah satu bagian dari biografi Bergkamp, Henry diwawancara oleh David Winner. Ia menjelaskan resep rahasia striker top dalam mencetak gol, yang ia sebut freezing technique. Apa itu? Henry menjelaskan kalau kebanyakan striker mengontrol bola lalu menembak namun striker top tahu bagaimana caranya untuk pause, untuk berhenti. Control, pause, finish. Ketika ia mengendalikan bola, ia berhenti, melihat kiper lawan dan kemudian menembak, tanpa melihat bola. Ketika ia mengendalikan bola, kiper lawan akan datang padanya, itu saatnya untuk berhenti. Dan ketika berhenti, lihat ke kiper, saat itu ia akan freeze (membeku). Tidak perlu lama, namun kiper itu harus dibekukan. Jangan melihat ke bola karena saat kiper itu datang, ia tak akan terlihat bila mata striker sedang menatap bola. Karena itu striker top harus melihat ke arah kiper. Kontrol bola, berhenti, kepala ke depan, dan bekukan kiper dengan menatapnya. Inilah freezing technique, resep rahasia the great striker King Henry yang mencetak rekor gol terbanyak dalam sejarah Arsenal. Bila Giroud pintar, tentunya ia telah mengetahui dan mempelajari rahasia ini.

Yang dilakukan Giroud terhadap Boruc adalah varian lain dari freezing technique ini. Giroud membuat Boruc grogi sehingga upayanya dalam men-dribble bola dan melakukan trik harus dibayar mahal. Giroud bahkan melakukan hal yang satu level di atas freezing technique Henry. Ia tidak membuat kiper lawan membeku, tapi berdansa! Mungkin tatapan mata sexy-nya memiliki sesuatu yang spesial sehingga pria lain pun tak tahan untuk tidak bergoyang di hadapannya. Apapun rahasia di balik tatapan Giroud ini, rasanya kita tidak akan mengetahuinya sampai saat ia menulis biografinya sendiri.

Mungkin tatapan mata sexy-nya memiliki sesuatu yang spesial sehingga pria lain pun tak tahan untuk tidak bergoyang di hadapannya.

Gol kedua Giroud dari kotak penalti termasuk langka karena saat itu Arteta dan Ozil tidak berada di lapangan. Sebagai penembak penalti ketiga, ia melakukannya dengan cukup baik. Mengecoh Boruc (lagi-lagi dengan tatapan mata!) ke kiri, ia menembak ke kanan. Tidak ke sudut jauh gawang namun cukup untuk mencetak gol. Mungkin perlahan-lahan dia bisa meyakinkan boss Wenger untuk memberikan prioritas pertama padanya untuk tendangan penalti, hal yang sangat dapat membantu dalam usahanya menjadi top scorer liga musim ini.

Sedikit tentang Tottenham

Kemenangan fantastis Arsenal atas Southampton semakin terasa manis setelah Tottenham kalah 6-0 dari Manchester City dan MU ditahan imbang Cardiff City. Bila Southampton adalah tim dengan pertahanan terbaik maka tanpa ragu lagi Manchester City adalah tim dengan penyerangan terbaik. Kemenangan meyakinkan kemarin menjadikan mereka salah satu penantang kuat gelar Premier League walaupun masih terpaut 6 poin dari Arsenal. Duet Negredo dan Aguero ditopang Nasri dan Navas semakin baik minggu ke minggu. Berbeda dengan AVB, Pellegrini tampaknya telah menemukan formasi terbaiknya.

Tottenham yang telah membelanjakan lebih dari 100 juta pounds tampak seperti tim kecil ketika “dipermainkan” oleh Manchester City. Bila AVB masih menyimpan lembar garansi belanjanya, mungkin ia akan minta uang kembali. Kenaifan Levy dan AVB yang merasa pembelanjaan besar dan jumlah yang banyak bisa menggantikan peran seorang Gareth Bale terekspos di pertandingan ini.

Bila AVB masih menyimpan lembar garansi belanjanya, mungkin ia akan minta uang kembali.

Di biografi Bergkamp, Wenger pernah mengatakan padanya bahwa sebuah tim selalu tentang lima atau enam pemain utamanya. Lalu tergantung pada pemain terlemahnya. Bila ia cukup baik untuk dapat mengikuti level lima atau enam pemain utama tersebut, maka tak akan ada masalah. Namun jika seorang pelatih takut satu pemain terlemahnya dapat membuat level permainan turun, maka ada masalah besar. Semakin banyak pemain yang dapat membuat perbedaan, semakin besar peluang pemain lainnya akan naik ke level yang lebih tinggi. Nah bila melihat skuad Tottenham dan Arsenal sekarang, tidak sulit untuk menilai siapa yang memiliki lima-enam pemain utama tersebut. Di Arsenal kita punya Giroud-Arteta-Mertesacker-Koscielny-Sagna yang selalu dapat diandalkan dan membuat perbedaan. Cazorla musim lalu sangat dominan dan Wilshere dua musim sebelumnya menjadi andalan. Ramsey menjadi fenomenal musim ini dan Gibbs juga tampil luar biasa. Szczesny akhirnya menemukan performa terbaiknya. Dan Ozil, kita belum melihat permainan terbaiknya. Arsenal tidak lagi soal lima-enam pemain utama namun seluruh skuad punya kekuatan merata dari lini depan hingga ke belakang tanpa benar-benar memiliki “pemain terlemah”. Hal yang sama tidak dapat dikatakan untuk Tottenham.

Tottenham membeli banyak pemain dan biaya mahal yang harus dibayar adalah adapatsi. Mungkin mereka akan lebih baik seiring dengan berjalannya waktu namun mungkin juga banyak pemain yang tidak mendapatkan waktu bermain yang cukup akhirnya akan memilih pindah musim depan. Apalagi bila mereka kembali gagal mendapatkan tempat di empat besar. Di bulan Agustus Wenger mengatakan hal ini:

There is a technical risk when you buy more than three players because you unbalance a little bit the stability of your squad.

You have to find a way to integrate more. And your squad is always a balance, and there’s a bit more risk. Signing players can work as well. It can click fantastically well, but there is a little risk in the stability of the squad and on the technical consistency.

Hal ini dirasakan Arsenal sendiri di dua musim sebelumnya. Pembelian besar-besaran karena kehilangan dua pemain utama, Fabregas dan Nasri berakibat pada masa adaptasi yang lama dari para pemain baru dan menganggu stabilitas tim. Hasilnya baru dituai musim ini. Arteta dan Mertesacker menjadi tulang punggung skuad Arsenal sekarang.

Marseille

Pertandingan melawan Marseille sayangnya tidak disiarkan langsung di stasiun TV. Tak ada cara lain selain streaming. Saya sendiri akan menonton replay-nya saja. Marseille yang tidak mendapatkan poin sama sekali dari 4 pertandingan selama ini bisa bermain lepas tanpa beban dan hal ini bisa berbahaya. Di pertemuan pertama dengan Arsenal di kandangnya, mereka tampil cukup baik. Ayew dan Valbuena tampak berbahaya. Kabar terakhir menyebutkan kemungkinan Ayew cedera. Arsenal sendiri akan menurunkan tim terbaiknya mengingat hasil tiga poin amat penting untuk mengamankan peluang lolos ke babak berikutnya. Pertandingan berikutnya ke kandang Napoli akan lebih berat.

Arteta cedera ringan di akhir pertandingan lawan Southampton sehingga posisinya kemungkinan digantikan Flamini. Di luar itu, prediksi saya tim inti yang sama akan diturunkan dan Walcott siap turun di babak kedua untuk mendapatkan kesempatan bermain lebih lama. Wilshere bisa jadi digantikan Rosicky untuk memberikannya waktu beristirahat yang cukup.

Prediksi line up Arsenal:
Szczesny –  Sagna, Mertesacker, Koscielny, Gibbs – Flamini, Ramsey, Ozil – Rosicky, Giroud, Cazorla.

Subs:
Fabianski, Vermaelen, Monreal, Wilshere, Walcott, Arteta, Bendtner

Selama Arsenal bermain dengan fokus penuh, rasanya tidak sulit untuk memenangkan pertandingan ini.

Jarak Antara Harapan dan Kenyataan adalah Kekecewaan

Judul di atas adalah pepatah filosofis yang mungkin bisa digunakan untuk panduan kehidupan sehari-hari.

  • Jarak antara harapan dan kenyataan adalah kekecewaan.
  • Semakin tinggi harapan kita, semakin besar kekecewaan kita atas kenyataan yang tidak sesuai harapan.
  • Semakin kita tidak berharap, semakin mudah kita dapat menerima kenyataan. 

Postulat di atas bukan hak paten Jalan Arsenal. Bukan pertama kali dan pasti bukan untuk yang terakhir kalinya postulat di atas mengenai harapan, kenyataan dan kekecawaan akan Anda baca dalam hidup. Selalu ingatlah akan kalimat-kalimat di atas setiap Anda mengalami kekecewaan. Pasti akan berguna.

Pada tulisan terakhir di blog ini, preview pertandingan Manchester United vs Arsenal, Jalan Arsenal meramalkan pertandingan itu akan menjadi panggung untuk Özil. Sayangnya hal itu tidak terjadi. Serangan virus sebelum pertandingan yang memakan 4 korban (Mertesacker, Rosicky, Gnabry dan Arteta) mengakibatkan Mertesacker dan Rosicky harus dipulangkan lebih awal. Arteta dan Gnabry berhasil mengatasi rasa sakitnya dan akhirnya masuk ke skuad hari itu. Serangan virus itu ternyata tidak terbatas pada keempat pemain tersebut. Özil setelah pertandingan dikabarkan juga mengalami hal yang sama. Mungkin itu salah satu sebab mengapa penampilannya tidak optimal sepanjang pertandingan.

Terlepas dari serangan virus tersebut, Wenger tidak mau mencari kambing hitam di luar penampilan timnya sendiri. Menurut Wenger, para pemain Arsenal tampil agak gugup di babak pertama. Di babak kedua mereka tampil lebih baik walaupun mengejar ketertinggalan dari tim juara bertahan tampaknya lebih berat daripada tugas Arsenal di pertandingan-pertandingan sebelumnya. Kegugupan pemain-pemain Arsenal menurut Wenger disebabkan oleh catatan masa lalu hasil pertandingan Arsenal di Old Trafford. Menang hanya 3 kali selama 15 tahun jelas bukan hasil yang dapat dibanggakan. Masalah psikologis ini ternyata lebih berat daripada yang kita bayangkan.

Dalam tulisan yang lalu, saya menyebutkan beberapa faktor yang mesti diatasi Arsenal untuk dapat menang di kandang MU:

“Selama Arsenal bisa membatasi jumlah tendangan bebas dan sudut untuk MU, menjaga konsentrasi penuh saat bertahan sebagaimana dua pertandingan terakhir, dan tidak memberikan MU respek yang berlebihan, Arsenal mestinya bisa menang malam ini.”

Sayangnya ketiga hal ini tidak dapat dilakukan Arsenal malam itu. Arsenal memberikan mereka tendangan sudut berulang kali dan duo SAS (Shrek and Skunk) memanfaatkannya dengan sangat baik. Tendangan sudut Rooney ke area luar zonal marking Arsenal yang berbuah gol (dicetak oleh pemain yang tak boleh disebut namanya) tentunya adalah hasil latihan mereka yang telah mempelajari pertahanan zonal marking Arsenal terhadap bola-bola mati. Demi mengalahkan Arsenal, Moyes melatih MU bak melatih tim seperti Stoke City. Mereka tahu sulit untuk mengalahkan Arsenal dalam permainan terbuka dan kesempatan terbesar adalah dengan memanfaatkan setplay. Rooney sendiri mengakui hal tersebut setelah pertandingan bahwa kelemahan Arsenal ada pada ukuran tinggi pemainnya. Ketidakhadiran Mertesacker memperbesar kelemahan ini. Stoke City 1 – 0 Arsenal.

Demi mengalahkan Arsenal, Moyes melatih MU bak melatih tim seperti Stoke City…

Setelah gol tersebut, di babak kedua praktis MU bermain bertahan dengan sesekali melakukan serangan balik. Dan mereka bertahan dengan sangat baik. Arsenal bermain lebih buruk daripada dua pertandingan sebelumnya. Faktor kelelahan ditambah serangan virus tersebut tampaknya mulai berdampak di babak kedua. Ramsey melakukan banyak sekali kesalahan dalam operan sehingga persentase keakuratan operannya adalah yang terendah sepanjang musim ini, sekitar 60%. Giroud frustrasi sejak babak pertama karena foul-foul kecil pemain MU tidak mendapatkan perhatian wasit. Özil baru tampak “hidup” di babak kedua, namun sayangnya tidak diimbangi dengan penampilan rekan-rekannya. Sementara itu di sisi kanan, Sagna terus memborbardir pertahanan MU dengan crossing-crossing yang sangat bagus tanpa adanya pemain Arsenal di ujung umpan lambung. Bendtner masuk dan tidak memberikan kontribusi apapun. Gnabry masuk dan membuat serangan Arsenal lebih hidup namun agak terlambat. Mungkin salah satu sebab ia tak masuk lebih awal daripada Bendtner adalah serangan virus yang menimpa dirinya. Di saat-saat seperti ini, kita berharap adanya pemain seperti Podolski dan Walcott yang mampu menambah daya gempur lini depan Arsenal. Sayang kedua pemain tersebut demikian lama absen musim ini. Kembalinya kedua pemain tersebut nantinya akan dirayakan seperti pemain baru, like a new signing.

Vermaelen yang menggantikan Mertesacker bermain cukup baik namun absennya ia dari skuad utama Arsenal dalam waktu yang cukup lama ada dampaknya. Pemain Arsenal lainnya rasanya sedikit kurang percaya dengan pertahanan Arsenal tanpa Mertesacker. Ketidakpercayaan ini berakibat di babak pertama, serangan yang dibangun kurang berani karena terlalu berhati-hati. Ini yang dimaksud Wenger dengan kegugupan. Pemain Arsenal bermain dengan rem tangan yang diaktifkan. Mudah-mudahan penampilan Vermaelan yang cukup baik akan menumbuhkan kepercayaan rekan-rekan terhadap dirinya dan menghilangkan kekhawatiran berlebihan ini di pertandingan-pertandingan berikutnya.

Pendek kata, pertandingan ini adalah pertandingan yang sangat mengecewakan karena hasilnya. Mengecewakan lebih-lebih karena harapan fans dan pemain Arsenal yang semakin percaya diri musim ini adalah tiga poin untuk dibawa pulang. Jarak antara harapan dan kenyataan adalah kekecewaan. Karena harapan 3 poin dan hasilnya pulang tanpa poin, kekecewaan itu makin besar. Bila harapannya hanya 1 poin, mungkin kekecewaan yang terjadi tidak akan begitu besar. Jarak ini subyektif, dan kita tentukan sendiri. Pengaturan ekspektasi konon menjadi cara mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan ini.

Karena harapan 3 poin dan hasilnya pulang tanpa poin, kekecewaan itu makin besar. Bila harapannya hanya 1 poin, mungkin kekecewaan yang terjadi tidak akan begitu besar.

Hal positifnya adalah tim ini memberikan harapan yang lebih besar karena memang kita melihat mereka mampu melakukan itu. Sebuah progress dalam hal relasi dan kepercayaan antara tim dan fans Arsenal, yang dalam beberapa musim ini tidak begitu baik. Datang ke MU dan mengambil maksimal poin mungkin tidak berani dimimpikan fans Arsenal musim lalu. Musim ini beda. Kita yakin menang dan akhirnya harus kalah dengan satu gol dari setplay. Kita membuat duo SAS MU yang katanya lebih dahsyat daripada duo SAS Kw Liverpool itu hanya mampu mengancam lewat bola mati ala Stoke City. Kita menyelesaikan pertandingan itu dalam posisi di atas angin walaupun tanpa hasil. Kebobolan hanya satu gol dalam tiga pertandingan besar berturut-turut (dalam satu minggu) dengan hasil 2 kali menang dan 1 kali kalah mungkin akan memberikan perspektif yang lebih baik. Saya memprediksi hasil ronde pertama November Rain ini adalah 2 seri dan 1 menang, total 5 poin. Arsenal berhasil meraih 6 poin dari 2 menang, 1 kalah. Kenyataan ini sudah melebihi harapan saya, maka semestinya saya happy. Bagaimana dengan Anda?

…duo SAS MU yang katanya lebih dahsyat daripada duo SAS Kw Liverpool itu hanya mampu mengancam lewat bola mati ala Stoke City…

Kekecewaan yang tersisa buat saya pribadi adalah gagalnya pertandingan tersebut menjadi panggung untuk Özil. Mungkin prediksi saya terlalu cepat. Seorang pemain yang baru mencicipi Liga Inggris kurang lebih 2 bulan dibebani tugas memimpin timnya menang atas juara bertahan di kandang mereka, mungkin terlalu cepat. Bergkamp melakukannya di Highbury saat melawan Southampton. Pertandingan berikutnya Arsenal secara kebetulan adalah pertandingan di kandang melawan Southampton. Özil punya kesempatan minggu depan untuk membuktikan dirinya sebagai pewaris resmi mahkota Bergkamp. Kalaupun itu tidak terjadi, masih ada minggu-minggu berikutnya. 🙂

Kegagalan mengakhiri musim United secara dini mungkin sedikit kita sesali, tapi sisi positifnya juga ada. Rasanya kurang seru juga bila juara bertahan tumbang di awal kompetisi. Hadirnya kembali United di persaingan puncak liga akan berdampak bagus juga untuk Arsenal. United akan mampu mencuri poin dari tim-tim seperti Chelsea, Manchester City, Liverpool, para pesaing juara musim ini. Toh kita juga tak mungkin menjadi juara musim ini di Old Trafford karena jadwal pertandingannya di bulan November ini. United kita butuhkan untuk “merampok” beberapa poin dari para pesaing juara liga Inggris di musim ini. Untuk itu, kita butuh mereka tetap kompetitif. Selisih lima poin pas rasanya, tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat. Selisih sebelas poin, Ferguson akan bangkit dari kubur untuk menggantikan Moyes.

Selisih sebelas poin, Ferguson akan bangkit dari kubur untuk menggantikan Moyes.

Untuk menghibur fans Arsenal selama satu minggu ini, Jalan Arsenal akan menampilkan cuplikan-cuplikan dari biografi Dennis Bergkamp, Stillness and Speed, tentunya dalam Bahasa Indonesia. Diawali dengan resensi, beberapa chapter dari biografi tersebut akan ditampilkan di sini. Bagi yang tidak mau kena spoiler, disarankan jangan baca. Namun saya akan sebisa mungkin menulis artikel soal Bergkamp sebagaimana membuat sebuah teaser, trailer fillm. Harapannya dengan adanya artikel-artikel soal Bergkamp yang disadur dari biografinya akan semakin menarik fans Arsenal untuk membeli buku itu sendiri. Toh biografinya bukan seperti cerita fiksi, rasanya tidak ada spoiler yang perlu dikhawatirkan mengingat sebagian besar fans Arsenal pasti mengetahui jalan hidup Bergkamp. Tidak jauh dari Jalan Arsenal.

Saat ini biografi Dennis Bergkamp tersebut hanya tersedia dalam bahasa Inggris. Mudah-mudahan nanti ada penerbit Indonesia yang tertarik. Siapa yang punya link penerbit? Saya sih siap membantu menerjemahkan bila perlu. Permata yang berharga ini sangat sayang bila “disimpan” oleh kalangan terbatas. Apa yang ada di pikiran Bergkamp wajib diketahui seluruh fans Arsenal, tanpa perlu menguasai bahasa Inggris. Semoga ada penerbit buku Indonesia yang juga menjadi fans Arsenal. Kita boleh berharap, namun ingat jangan kecewa ya. Karena jarak antara harapan dan kenyataan adalah kekecewaan. Be Happy!

Musuh Terbesar Arsenal

Tulisan ini bukan preview pertandingan Manchester United vs Arsenal besok. Rasanya agak capek juga untuk menulis ulasan taktik yang panjang sehari setelah review panjang Dortmund vs Arsenal kemarin. Pembaca juga mungkin bosan bila lagi-lagi harus beurusan dengan statistik dan grafik. Jadi tulisan ini lebih soal opini ringan tentang Arsenal saja. Anggap saja prolog dari preview besok. Mudah-mudahan besok masih ada energi untuk menulis artikel preview yang lebih mendalam.

Perkembangan menarik di bulan November ini adalah, Arsenal mematahkan dua prediksi saya yang cukup realistis dengan hasil kemenangan lawan Liverpool dan Dortmund (predikat saya seri untuk kedua pertandingan tersebut). Dengan bekal dua kemenangan besar ini, Arsenal on track untuk mematahkan kutukan bulan November. Seperti yang ditulis dalam artikel November Rain Arsenal, perolehan poin rata-rata Arsenal selama 5 musim terakhir di bulan November hanya 1,56 per pertandingan. Saat ini nilai rata-rata perolehan Arsenal sudah jauh melebihi standar tersebut dengan 3 poin per pertandingan. Bila Arsenal bisa memenangkan pertandingan besok sekaligus menutup ronde pertama bulan November ini, maka ronde kedua setelah international break dapat dihadapi dengan tanpa beban tambahan.

Kepercayaan diri sedang memenuhi camp Arsenal saat ini. Bahkan saking pede-nya menghadapi pertandingan besok, Arsenal.com mengakhiri tulisan previewnya dengan kutipan berikut:

But victory would turn last week’s question by 180 degrees.

Not can Arsenal beat the ‘big teams’.

But can the ‘big teams’ beat Arsenal?

Bila Arsenal menang dari MU besok, pertanyaan di atas menjadi valid. Bukan lagi soal dapatkah Arsenal mengalahkan tim besar, tapi soal dapatkah tim besar mengalahkan Arsenal? Mungkin terdengar agak arogan, namun rasanya kita berhak untuk sedikit arogan, BILA kita menang besok.

Satu dekade silam, pertandingan antara MU vs Arsenal selalu dipenuhi drama, tensi tinggi baik di lapangan maupun di luar lapangan. Psy war akan dilakukan masing-masing manager sebelum pertandingan dan berlanjut hingga akhir pertandingan. Wartawan akan menemukan kutipan-kutipan menggigit untuk headline. Namun semenjak Arsenal pindah ke Emirates Stadium yang hampir bersamaan dengan invasi Sugar Daddies ke Premier League, rivalitas antara Arsenal dan MU meredup. Klub kaya baru seperti Chelsea dan Manchester City tampil di panggung utama dan Arsenal perlahan-lahan mundur ke balik layar. Chelsea dan Manchester City datang dengan budget belanja tak terbatas pemilik barunya, yang mencuci uang dengan membeli pemain-pemain top dunia, termasuk dari Arsenal. Tim Arsenal yang dibangun susah payah oleh Wenger perlahan-lahan dipreteli oleh rivalnya. Gaji double dari klub pesaing menyilaukan para pemain yang dibina sejak muda. Ashley Cole, Adebayor, Nasri contohnya. Terakhir yang paling memilukan adalah ketika sang kapten, pemain terbaiknya, dibajak oleh rival sejatinya, Ferguson.

semenjak Arsenal pindah ke Emirates Stadium yang hampir bersamaan dengan invasi Sugar Daddies ke Premier League, rivalitas antara Arsenal dan MU meredup

Bagi Gooners di North London, rival sejati Arsenal mungkin adalah sebuah klub kecil yang kebetulan exist di distrik yang sama, Tottenham Hotspur. Namun bagi Gooners seluruh dunia, yang kebanyakan mungkin mulai mendukung Arsenal sejak era Premier League, Manchester United-lah rival sejati Arsenal. Pertarungan yang dimulai sejak Wenger memenangkan double di musim penuh pertamanya yang mengancam dominasi MU yang baru ditancapkan Ferguson, berlanjut hingga era Invincibles tahun 2004, telah mengukir rivalitas sejati dua klub yang mungkin tak akan lagi terulang hingga sekarang. Dalam 7 musim tersebut (1997-2004), total Wenger memenangkan 3 gelar juara liga dan Ferguson 4 gelar juara liga. Musim 2004-2005 Mourinho masuk ke Chelsea dan dengan budget tak terbatas dari Abramovich mengganggu dominasi dua klub Premier League tersebut. MU sempat mengalami masa 3 musim tanpa gelar sebelum bangkit lagi ke atas sedangkan Arsenal lebih sulit untuk bangkit ke puncak karena budget yang dimiliki Wenger tak pernah mendekati budgetnya Ferguson, dampak dari pembangunan stadion baru.

dalam 7 musim tersebut (1997-2004), total Wenger memenangkan 3 gelar juara liga dan Ferguson 4 gelar juara liga

Walaupun setelah musim 2004-2005 itu Wenger praktis tak punya budget untuk transfer pemain (net transfer spending-nya positif dari musim tersebut hingga musim 2012/2013 yang artinya lebih banyak menjual pemain daripada membeli), Arsenal tetap mencoba berkompetisi dengan dua klub Sugar Daddy dan satu klub status quo tersebut. Di musim 2007/2008 Arsenal pernah demikian dekat dengan gelar juara EPL, unggul 5 poin di atas MU di bulan Februari, sebelum kemudian terjun bebas semenjak kaki Eduardo patah di Birmingham City. Pemain-pemain yang usianya masih muda ditambah kepemimpinan kapten yang payah (Gallas) tidak dapat mengatasi shock mental akibat kejadian tersebut. Semenjak kejadian itu, Arsenal hanya berhasil meraih 8 poin dari 24 poin yang tersisa, dan akhirnya finish di posisi ketiga. Mental collapse yang monumental.

Satu kesempatan lainnya di mana Arsenal agak dekat dengan posisi puncak EPL adalah musim 2010/2011. Sempat memimpin klasemen di Tahun Baru dan akhirnya terpaut hanya satu poin dari MU sebagai pemimpin klasemen di akhir Februari, lagi-lagi Arsenal jatuh bebas di bulan Maret dan April dengan hanya meraih satu kemenangan di liga. Kali ini sebabnya bukan patah kaki pemain, tapi kekalahan tragis dari Birmingham City di League Cup (apa kebetulan? Lagi-lagi Birmingham City) dan cedera pemain yang terjadi silih berganti. Dua pemain andalan saat itu, Van Persie hanya bermain sebagai starter 19 kali dan Fabregas 22 kali, ditambah mereka jarang bermain bersama karena jangka waktu cedera yang berbeda. Musim itu pun berakhir tragis dengan pindahnya Fabregas dan Nasri di awal musim berikutnya. Fabregas kembali ke rumahnya karena beban yang terlalu berat sebagai kapten dan ia tidak melihat masa depan Arsenal yang mampu bersaing dengan tiga klub kaya lainnya sedangkan Nasri jelas karena nilai uang yang ditawarkan oleh klub sugar daddy baru, Manchester City.

Berdasarkan dua kejadian di atas, maka tak heranlah kalau baru-baru ini Rooney berkomentar kalau Arsenal biasanya akan jatuh bebas di bulan Februari-Maret. Ia tidak salah memang, namun mungkin perawatan penumbuhan rambutnya membuat ia mengingat tentang tim Arsenal yang salah. Sebagaimana tanggapan Ramsey dan Wenger atas komentar tersebut, tim Arsenal dua musim terakhir ini justru ngebut dalam pengumpulan poin di paruh musim kedua (sejak Natal). Bahkan jika hanya berdasarkan perolehan poin di kalender tahun 2013, Arsenal akan memimpin klasemen di akhir musim yang lalu.

Tim Arsenal yang sekarang berbeda dengan tim 2008 dan 2011. Belajar dari kesalahan memasang pemain-pemain muda di semua lini, Wenger mengubah strategi transfernya dengan membeli lebih banyak pemain-pemain berpengalaman. Mertesacker, Arteta, Podolski, Giroud, Cazorla, Monreal dibeli pada usia di atas 25 tahun, usia matang pemain bola. Musim ini ia menambah dengan Viviano, Flamini dan Ozil. Pemain muda masih dibeli, tapi tidak menjadi andalan utama. Pemain muda seperti Chamberlain, Ryo, Gnabry, Zelalem dan Sanogo akan diintegrasikan perlahan-lahan ke tim inti, tanpa beban yang di luar kapasitasnya. Maka usia rata-rata pemain Arsenal naik jauh dari yang biasanya 22-23 beberapa tahun lalu menjadi 27-28, usia matang sebuah tim.

tim Arsenal dua musim terakhir ini justru ngebut dalam pengumpulan poin di paruh musim kedua

Kematangan dan pengalaman pemain yang lebih dewasa sangat membantu dalam mencegah terjadinya mental shock akibat tragedi. Membantu tim menemukan respon yang tepat terhadap tekanan. Wenger mengatakan bila timnya berusia lebih muda saja saat bertandang ke Dortmund kemarin, mereka akan pulang dengan kekalahan telak. Ini bukti nyata pengaruh dari kedewasaan pemain Arsenal di tim sekarang ini.

Tidak hanya pemain baru yang dewasa, pemain Arsenal peninggalan era sebelumnya pun semakin dewasa. Rosicky, Sagna, Koscielny, Vermaelen masuk kategori ini. Sedangkan Walcott, Wilshere, Ramsey, Gibbs dan Szczesny masuk kategori pemain muda yang akan terbantu dengan adanya pemain-pemain senior di sekitarnya. Faktor mental tak lagi menjadi kelemahan Arsenal. Terbukti dalam dua musim terakhir ini, perjuangan mereka untuk tetap finish di posisi empat besar walaupun tertinggal jauh di awal musim bisa dianggap sebagai bukti kelulusan dari ujian mental terberat.

Dua musim terakhir ini problem Arsenal bukanlah pada faktor mental pemainnya. Problem ada pada kepergian pemain-pemain terbaiknya di awal musim. Nasri dan Fabregas dua musim sebelumnya dan disusul Van Persie serta Song musim lalu. Kepergian pemain andalan mengganggu stabilitas tim sedangkan pemain baru butuh waktu untuk beradaptasi. Maka dua musim lalu, Arsenal langsung kehilangan poin di paruh musim pertama. Musim ini hal itu tak terjadi, pemain terbaik berhasil diikat dan dead wood dijual. Pemain baru yang masuk tidak terlalu dibebankan untuk berkontribusi. Stabilitas yang ada dari musim sebelumnya sangat membantu mereka berintegrasi dengan tim. Lima poin unggul di puncak keasaman saat ini menjadi pembeda pendekatan baru Arsenal ini.

Maka Rooney mestinya lebih berhati-hati dengan komentarnya jika ia punya ingatan yang baik. Tim Arsenal yang akan bertandang ke Old Trafford besok adalah tim yang tidak memiliki masalah mental, tim yang berpengalaman dan tahu persis bagaimana merespon kekalahan atau kemerosotan form. Tim ini mungkin akan mengalami kekalahan di masa depan, namun mereka tahu persis caranya untuk bangkit. Sudah terbukti waktu mengalami kekalahan atas Villa, Dortmund dan Chelsea di kandang.

Sejarah mengatakan bila sedang dalam level teknik terbaiknya (musim 2007/2008 dan 2010/2011), musuh terbesar Arsenal bukanlah Tottenham ataupun United, tapi adalah diri sendiri. Tekanan mental, shock akibat kekalahan tragis atau cedera horor rekannya, menjadi hambatan untuk kedua tim itu. Tim Arsenal musim ini bisa dikatakan selain memiliki level teknik yang tinggi juga memiliki kematangan mental. Maka musuh terbesarnya kali ini bukanlah kemampuan mengatasi tekanan mental, tapi complacency.

Yang dimaksud complaceny adalah arogansi, rasa berpuas diri yang terlalu dini. Sudah terbang tinggi ke langit lupa kembali ke bumi. Ini ujian baru untuk Arsenal karena tim ini belum pernah memimpin klasemen dengan selisih 5 poin di bulan November. Bila Ramsey yang sudah mencetak 11 gol dan juga pernah mengalami cedera patah kaki, bisa tetap rendah hati dan menganggap perjalanan ini masih panjang, maka hasil apapun yang diraih besok tidak akan berpengaruh banyak terhadap jalan Arsenal untuk meraih gelar di akhir musim.

Your own self is your worst enemy.