Memahami Artetaball Part 2 – Mencapai Gear 2nd dengan Thomas Partey

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan Memahami Artetaball. Di bagian akhir tulisan yang dimuat 14 September tersebut, saya menyimpulkan:

Sekarang kita mengerti mengapa Arteta sangat menyukai Aouar dan saya yakin ia adalah target nomor satu Arsenal, bukan Partey. Aouar dan Dani bisa menjadi pemain kreatif yang dibutuhkan Arsenal untuk membuat Artetaball juga efektif menghadapi low block lawan.

Setelah Arsenal gagal mendapatkan Aouar dan secara mengejutkan berhasil mendapatkan Thomas Partey di hari terakhir transfer window, ditambah dari jalannya pertandingan vs Sheffield United di babak kedua, saya akhirnya mengubah pendapat saya. Teaser dari opini saya yang berubah tersebut saya twit di akun @JalanArsenal:

Apa dampak Thomas Partey dalam Artetaball akan saya kupas lebih lanjut di sini.

Art of War: Art-eta-ball

Dalam tulisan pertama saya mengenai Artetaball, dapat kita simpulkan kalau Artetaball adalah Positional Play ala Arteta yang membangun serangan dari lini belakang (build-up play from the back), memancing lawan untuk pressing tinggi, dan menyerang secepat counter attack. Berawal dari umpan pendek goal kick, bila semua kondisi terpenuhi, Arsenal bisa mencetak gol 20-30 detik kemudian, lewat serentetan kombinasi operan pendek dan panjang yang tidak terinterupsi oleh lawan.

Artetaball ini sangat efektif karena telah di-drill dalam tim semenjak pertengahan musim lalu. Infografis di bawah ini menggambarkan dengan baik Arsenal yang menjadikan Artetaball sebagai senjata utama dalam menyerang.

Arsenal memimpin dalam jumlah operan di defensive third dengan akurasi yang tinggi dan tidak menghasilkan kesalahan yang menyebabkan terjadinya gol lawan

Saya suka menganalogikan Artetaball ini dengan kutipan dari The Art of War karya Sun Tzu:

The Way of War is a Way of Deception. When able, feign inability. When deploying troops, appear not to be. When near, appear far. When far, appear near. Lure with bait; strike with chaos.

Memancing lawan (pressing ke sepertiga daerah sendiri) untuk kemudian menyerang lawan yang sedang kacau (formasinya). Pemain Arsenal menunggu dengan sabar dan ketika beberapa kondisi terpenuhi (jumlah pemain lawan yang masuk di dalam lapangan kita, jarak antar pemain lawan yang semakin lebar, posisi pemain penyerang Arsenal yang siap maju), maka serangan cepat pun diluncurkan. Taktik ini sudah terbukti efektif saat mengalahkan Manchester City, Chelsea dan Liverpool.

Namun bagaimana kalau lawan tidak mau terpancing untuk pressing tinggi sebagaimana Sheffield United di pertandingan terakhir? Melawan low block, Arteta harus mengubah taktiknya.

Low Block Sheffield United

Di babak pertama, Arsenal stagnan dalam menyerang karena low block lawan. Sheffield United juga bermain berhati-hati sehingga pertandingan menjadi monoton dengan tidak banyak peluang yang tercipta. Saat itu saya memikirkan wah Arsenal saat ini butuh pemain kreatif seperti Aouar untuk membuka kunci low block lawan. Ide yang tidak realistis lagi karena saat itu sudah beredar gossip Aouar akan tinggal di Lyon musim ini (setelah bicara dengan PSG dan Real Madrid tentunya).

Dengan penampilan Eddie yang tidak efektif, saya mengira Arteta akan menggantikannya dengan Lacazette di babak kedua, dan mungkin memainkan Xhaka menggantikan Elneny, agar Ceballos bisa lebih maju. Di luar dugaan, Arteta melakukan hal yang berbeda: Eddie ditarik diganti dengan Pepe. Aubameyang geser ke tengah dan Saka jadi murni LW. Willian geser dari RW ke AMC. Arsenal resmi bermain dengan 4-3-3 dengan Willian di posisi free role saat menyerang.

Perubahan brilliant ini langsung membawakan hasil. Sisi kiri dan kanan Arsenal yang seakan disconnected sekarang terhubung oleh Willian. Pemain Sheffield United pun semakin mundur karena Willian bermain di antara lini pertahanan dan tengah mereka, membuat mereka merapatkan barisan. Saka, Ceballos dan Willian berkombinasi dengan baik di kiri, dan saat Willian ke kanan, ia melakukan kombinasi dengan Pepe dan Bellerin. Gol pertama Arsenal diawali juga dengan operan pendek Leno, tapi lihatlah bagaimana Arsenal menekan low block Sheffield United. Perhatikan pengaruh Willian yang bermain di tengah. Dalam 12 operan menuju gol ini, Willian melakukan dribble, 3x menerima dan memberikan operan, dan menjadi pemain yang terlama menyentuh bola (11 detik) di dalam 35 detik proses terciptanya gol ini.

Gol pertama Arsenal vs Sheffield United oleh Saka

Gol tersebut sangat berbeda dengan Artetaball yang diterapkan terhadap pressing tinggi. Tidak ada operan cepat, tidak ada transisi kilat. Ini lebih soal kombinasi play di daerah pertahanan lawan, namun berhasil membuka low block lawan karena permainan kreatif Arsenal. Mari kita sebut ini Gear Second Artetaball.

Sekarang mari kita lihat gol kedua Arsenal. 19 operan, 55 detik.

Gol kedua Arsenal vs Sheffield United oleh Pepe

Karena tertinggal, Sheffield United terpaksa melakukan pressing tinggi. Melihat prasyarat kondisinya terpenuhi, Arsenal kembali launching Artetaball Gear First, serangan kilat lure with bait, strike with chaos. Overload di kiri dipindahkan ke kanan dengan cepat (oleh Willian) dan kecepatan Pepe serta akurasi operan Bellerin cukup untuk menghasilkan gol kedua ini.

Gear Second

Mari kita kembali mengutip Seni Perang Sun Tzu untuk mengulas Gear Second Artetaball.

Sun Tzu diakui sebagai salah satu ahli perang yang teristimewa dalam sejarah. Yang membuatnya terkenal adalah ia mampu menuliskan strategi perang secara terstruktur yang kemudian menjadi dasar strategi militer yang masih relevan bahkan untuk ribuan tahun setelahnya. Ditulis dalam 13 bab dan dinamakan “Master Sun’s Military Methods” yang kemudian disederhanakan oleh penerjemahnya sebagai The Art of War. Bahkan panglima perang yang terkenal di era Three Kingdom, Cao Cao menggunakan The Art of War dan menulis komentar atas buku tersebut. Saya menemukan beberapa hal menarik di Bab 6 yang berjudul Weak Points and Strong dengan beberapa kutipan berikut:

(2) Therefore the clever combatant imposes his will on the enemy, but does not allow the enemy’s will to be imposed on him.

(5) Appear at points which the enemy must hasten to defend; march swiftly to places where you are not expected.

(7) You can be sure of succeeding in your attacks if you only attack places which are undefended.

(10) You may advance and be absolutely irresistible, if you make for the enemy’s weak points; you may retire and be safe from pursuit if your movements are more rapid than those of the enemy. 

(28) Do not repeat the tactics which have gained you one victory, but let your methods be regulated by the infinite variety of circumstances.

(33) He who can modify his tactics in relation to his opponent and thereby succeed in winning, may be called a heaven-born captain.

Filosofi sepakbola Arteta adalah mendominasi lawan. Baik dengan build-up play dari belakang ataupun dengan dominasi dalam menyerang di lapangan lawan. Binaan dari Barcelona-nya Cruyff, Arsenal-nya Wenger dan kemudian Guardiola, tentunya berambisi memainkan sepakbola menyerang yang dominan. Namun Arteta paham betul skuad yang dimilikinya saat ini belum sanggup mendominasi lawan selama 90 menit penuh. Maka ia melakukan sedikit modifikasi taktik untuk mengoptimalkan kekuatan skuadnya dan juga menutup kelemahannya.

Mengacu pada kutipan Sun Tzu di atas: (5) Hadir (menyerang) di tempat yang tidak diduga, (7) menyerang bagian yang tidak dijaga, (10) serang titik lemah lawan dengan gerakan yang lebih cepat daripada lawan, (28) jangan ulangi taktik yang membuatmu menang, tapi biarkan metodemu ditentukan oleh variasi tak terbatas dari kondisi, (33) modifikasi taktik tergantung dengan lawan dan kemudian berhasil menang, adalah serangkaian taktik yang diterapkan Arsenal di gol pertama tersebut.

Sheffield United jelas tidak menduga perubahan taktik Arteta setelah 15 menit babak kedua tersebut. Perubahan posisi Willian dan Aubameyang dan masuknya Pepe (28) membuat mereka harus menghadapi satu tambahan pemain menyerang lawan (dari 3-4-3 ke 4-3-3) dan di area yang sulit pula (33). Efek kejut (5) dari masuknya Elneny ke kotak penalti lawan dengan cepat (10) juga membuat pemain Sheffield gagap. Saka yang berada di sisi kiri tidak dijaga (7) akibat overload dan fokus di kanan, melakukan heading akurat ke gawang lawan.

Gear Second adalah soal pergeseran build-up play dari belakang (lapangan sendiri) ke depan (lapangan lawan), terutama di depan kotak penalti lawan (Zone 14). Untuk bisa mencapai Gear Second ini, Arsenal butuh pemain kreatif seperti Willian yang mampu berkombinasi dengan pemain tengah ataupun depan lainnya. Formasi Auba-Pepe-Saka-Willian ini seimbang karena adanya 2 finisher dan 2 kreator. Dibutuhkan pemain yang bagus dalam ball rentention dan dribble sehingga high resistance terhadap pressure lawan. Willian, Saka dan juga Ceballos termasuk pemain dalam kategori ini.

Bergabungnya Partey akan semakin memudahkan Arsenal mencapai Gear Second sewaktu-waktu. Partey punya semua skill yang dibutuhkan untuk menjaga lini tengah, ia memiliki kemampuan passing pendek dan panjang yang sangat baik, mampu melakukan take-on (dribble) dengan tingkat kesuksesan yang tinggi, dan kebal pressure lawan karena fisik dan kemampuan teknisnya. Partey akan bisa membebaskan Ceballos dan Willian, memungkinkan Arsenal bermain dengan 4-3-3 dengan double pivot (dua No.6 dengan 1 No.10) ataupun dengan ia sebagai holding midfielder sendirian yang dipasang dengan dua No.8.

Daripada Aouar, kehadiran Partey akan membebaskan Saka, Willian, dan Ceballos dalam menyerang. Adaptasi yang dibutuhkan tim tidak akan terlalu lama, dan kombinasi antara ketiga pemain itu akan lebih efektif daripada menghadirkan Aouar yang masih harus “belajar” bermain di tim ini. Video di bawah ini menggambarkan dengan baik kemampuan Thomas Partey.

Evolusi Berikutnya Artetaball

Bila kita memperhatikan gol-gol Arsenal musim ini, tidak satupun gol tercipta lewat counter attack. Ini hal yang sangat menggelitik mengingat Arsenal era Wenger terutama era Invincibles sangat terkenal dengan counter attack yang mematikan. Tulisan lama saya, Delapan Detik, menguraikan bagaimana Wenger melatih Invincibles untuk melakukan counter attack hanya dalam 8 detik.

Counter attack dimungkinkan ketika terjadi transisi dari bertahan ke menyerang dengan cepat. Umumnya diawali dengan: (1) perebutan bola lewat tackling atau pressing yang memaksa lawan melakukan kesalahan dan akhirnya melepaskan bola, atau (2) interception yang menghentikan operan lawan di tengah jalan. Di skuad Arsenal saat ini, tidak ada midfielder yang memiliki kemampuan elit dalam melakukan kedua hal ini. Kita melihat saat melawan Sheffield, pemain Arsenal tidak mampu merebut bola lawan saat mereka menyerang. Dahulu Arsenal punya Patrick Vieira dan belakangan Francis Coquelin yang jago dalam dua hal ini, tackling maupun interception untuk breaking-up play lawan. Namun hanya Vieira yang bisa memulai serangan dengan membawa bola ke depan (baik lewat dribble maupun operan cepat) sama baiknya dengan break-up play-nya.

Nah Thomas Partey dari pengamatan saya yang terbatas ini adalah sosok pemain yang menyerupai Vieira. Ia mampu break up play lawan lewat positioningnya yang cerdik dalam interception ataupun tackling, tanpa harus menjatuhkan badannya ke tanah. Kemudian ia mampu membawa bola, melakukan twist dan dribble melewati satu-dua pemain lawan sebelum kemudian mengoper dengan akurat. Ia juga mampu melakukan tembakan jarak jauh dari luar kotak penalti lawan. Ia mobile dan cukup cepat (daripada Xhaka dan Ceballos), bertubuh atletis dan tidak mudah dijatuhkan lawan lewat body checking (tidak seperti Torreira).

Thomas Partey adalah midfielder yang mampu melakukan segala hal yang dibutuhkan di lapangan tengah. Tidak seperti anggapan banyak orang, ia bukan DM murni, demikian juga Vieira. Mereka adalah complete midfielder breed yang langka di era sekarang. Thomas Partey adalah pemain yang dibutuhkan Arteta untuk launching Gear Third Artetaball, counter attack kilat yang mematikan.

Mari kita tunggu apakah Partey bisa menjadi Vieira Mk II.

Memahami Artetaball

Tulisan singkat ini akan membahas foto yang satu ini dan sedikit soal Artetaball.

Atas: Gol ketiga Arsenal vs Fulham (Premier League 20/21, Bawah: Gol pertama Arsenal vs Liverpool (Community Shield 2020)

Tidak heran bila salah satu kelebihan Arteta sebagai pelatih sepakbola modern yang mengidolakan Marcelo Bielsa dan mendapatkan bimbingan langsung dari Guardiola adalah penguasaan taktik sepakbola yang dikenal dengan Positional Play (Juego de Posición).

Apa itu Positional Play? Mengutip dari Breakingthelines.com:

Positional Play is a style of play where the football pitch is divided into zones and each player is assigned to a zone. Each zone has a different role which means that each player has a different task to execute. If a player moves into another zone, a teammate has to take his place, which is what we call rotations.

The goal of Juego de Posición is that the zones and the tasks within them can be occupied and used by different players. Styles of play in football are like languages, and positional play, more than any other style of play, must be spoken in the same way by every player on the pitch.

Di artikel yang lain lagi, Positional Play bisa digambarkan dengan pola gerakan dan aksi yang dilakukan secara kolektif baik saat menyerang maupun bertahan, dengan tujuan menciptakan superioritas di lapangan dan kemudian mengeksploitasinya. Bagaimana sebuah tim bisa menguasai ruang yang menghasilkan superioritas di lapangan.

Untuk bisa mencapai superioritas di lapangan itu, semua pemain harus bergerak walaupun sedang tidak memegang bola. Off-the-ball movement menjadi sangat penting. Setiap gerakan akan membantu temannya yang sedang membawa bola ataupun yang akan menerima operan bola. Entah itu sebagai decoy untuk menjauhkan marking lawan, stretching formasi lawan untuk memberikan ruang kepada pembawa bola, positional play menciptakan “ruang” dan dengan sendirinya “waktu” bagi pembawa bola ataupun yang akan menerima bola.

Positional Play ini perlu dilatih sehingga para pemain dalam tim bisa mengerti tugas masing-masing ketika bola memasuki zone tertentu dan opsi-opsi operan yang akan dilakukan. Tentunya tidak mudah karena jarak dengan pemain lawan juga berpengaruh. Namun dari dua gol di bawah ini yang tergambarkan dengan baik dalam foto di atas, kita bisa melihat hasil latihan Positional Play Arsenal yang mulai sekarang kita namakan Artetaball.

Arsenal vs Liverpool – Community Shield, 1-0 gol Aubameyang.

Auba’s goal vs Liverpool

Gol tersebut dimulai dari Goal Kick setelah shoot Liverpool yang off target, melayang di atas gawang. Hanya butuh waktu 20 detik untuk bola meninggalkan kaki Emi dan bersarang di gawang Liverpool. Arsenal “menjebak” Liverpool dengan menarik pressing tinggi mereka ke dalam kotak penalti dan dengan cepat mengoper bola ke sayap kanan, dari Bellerin ke Saka yang kemudian mengumpan cross field ke Aubameyang di kiri yang mendapatkan posisi hotspot untuk melakukan tendangan kaki kanan akurat andalannya. Perhatikan juga gerakan lari Maitland-Niles dan Tierney untuk membingungkan lawan.

Fulham vs Arsenal – Premier League, 3-0 gol Aubameyang

Auba’s goal vs Fulham

Gol ini juga dimulai dari goal kick setelah serangan Fulham yang gagal. Kali ini butuh waktu 32 detik karena butuh waktu lebih lama untuk Fulham terpancing melakukan pressing tinggi di kotak penalti Arsenal. Xhaka memancing mereka dengan gerakan tangan yang mengisyaratkan bola akan dioper ke mana. Kemudian dengan cepat Bellerin mengoper ke Elneny yang first time pass-nya berhasil disambut Lacazette dengan two touches flick yang disamber Willian lagi-lagi dengan umpan cross-field ke Aubameyang di sisi kiri jauh. Perhatikan pergerakan Aubameyang, Maitland-Niles dan Tierney di dua gol yang mirip dalam dua pertandingan yang berbeda. Identik!

Kedua gol ini adalah hasil positional play dengan pola yang sama. Crossfield dari kanan ke kiri dengan target Aubameyang menemukan posisi idealnya untuk mencetak gol tanpa lawan bisa melakukan blok karena terlambat dalam transisi dari pressing tinggi ke bertahan.

Ada satu lagi Positional Play favorit saya yang tidak menghasilkan gol namun layak ditonton berulang kali. Play ini terjadi di menit ke-77. Dalam waktu 22 detik sejak bola meninggalkan Leno, Aubameyang berada di kotak penalti lawan dan mestinya bisa melakukan first time shoot hasil umpan terobosan cantik Bellerin. Sayangnya ia memilih menggiring bola jauh dari kiper tanpa menyadari pemain belakang Fulham telah menjaga di garis gawang. Tembakannya berhasil diblok dengan sundulan lawan.

Auba’s chance vs Fulham

Build-up play kali ini sedikit berbeda. Leno mengoper ke kiri dan setelah beberapa operan di sayap kiri, Lacazette dan Elneny mengubah arah bola ke kanan dan Bellerin yang berlari kencang mampu mengoper bola ke tengah dengan sangat baik ke Auba.

Serangan cepat Arsenal ini bukanlah counter attack karena berawal dari Goal Kick. Namun dengan mengundang pressing tinggi lawan, serangan ini sama efektinya dengan counter attack dan secepat counter attack. Arteta “menemukan” pola serangan ini khusus untuk menghadapi tim-tim di Liga Inggris terutama yang tim besar yang sudah fasih melakukan high pressing. Tim-tim lawan akan menganalisa Artetaball ini dan saya rasa akan merinding dengan ancamannya. Mengapa? Hanya dari goal kick umpan pendek, Arsenal bisa mencetak gol dalam waktu 20-30 detik. Menyeramkan. Siapa yang tidak akan kuatir melawannya?

Bagaimana bila lawan tidak melakukan high pressing dan memilih low block? Nah itu akan menjadi tantangan level berikutnya dari Artetaball.

Datanglah Dani Ceballos. Untuk menghadapi lawan dengan low block, Arsenal gantian yang harus melakukan pressing tinggi dan memiliki pemain kreatif yang nyaman dalam dribbling dan ball retention di final third. Mari kita nikmati cuplikan video dan perhatikan gerakan Dani di rentetan operan di bawah ini.

Dani’s action in final third

Dalam waktu 65 detik semenjak bola di kaki Dani di dekat kotak penalti sendiri, Arsenal menciptakan dua peluang gol. Fulham memilih bertahan (mungkin kapok dengan jebakan Artetaball). Namun pressing tinggi Arsenal dan skill Ceballos yang sama nyamannya dalam mengoper dan men-dribble bola di kotak penalti lawan berhasil menciptakan peluang. Sekarang kita mengerti mengapa Arteta sangat menyukai Aouar dan saya yakin ia adalah target nomor satu Arsenal, bukan Partey. Aouar dan Dani bisa menjadi pemain kreatif yang dibutuhkan Arsenal untuk membuat Artetaball juga efektif menghadapi low block lawan.

Demikian dulu tulisan bagian pertama dari serial memahami Artetaball. Bila ada waktu lagi saya akan menulis bagian kedua dan seterusnya. Untuk sementara ini, silakan berikan komentar Anda, hasil observasi yang mungkin berbeda dari klip-klip di atas?

Arteta Masterclass

FA Cup 2020 Semi Final – Arsenal 2-0 Manchester City – Wembley Stadium, London

Akhirnya setelah 25 pertandingan (14 menang, 6 seri dan 5 kalah) Revolusi Mental Arteta menunjukkan hasilnya. Dalam 4 hari, Arsenalnya Arteta mengalahkan dua tim terbaik di Premier League, Liverpool 2-1 dan Manchester City 2-0. Kedua tim tersebut dikalahkan dengan persiapan taktik yang cemerlang, eksekusi di lapangan yang hampir tanpa cela, dan penampilan tim yang luar biasa. Di atas kertas, kualitas pemain Arsenal jelas masih kalah dari kedua klub tersebut. Karena itu Arteta memilih untuk bermain bertahan sambil mengincar serangan balik yang efektif. Namun, seperti yang telah dirasakan semua tim yang memilih bertahan melawan kedua tim tersebut, kekalahan hampir pasti terjadi tanpa adanya game plan yang jelas untuk menyerang balik.

Arteta sendiri mengakui bahwa masih ada kesenjangan antara kualitas timnya dengan kedua tim tersebut. Namun baginya, dalam hal kepercayaan diri, akuntabilitas, dan gairah bermain sepakbola, timnya telah dapat menutup kesenjangan tersebut. Pemain Arsenal bermain untuk sesama, berjuang untuk setiap bola, menutup celah yang ditinggal rekannya dan terlihat sangat solid dalam bertahan maupun menyerang. Saat Arteta bergabung kembali dengan klub ini sebagai manager baru, ia mengatakan ada empat kualitas yang ia inginkan sebagai pondasi dasar timnya.

The priority, as I said before, is what we are going to transmit on the team, is a reflection of the demands we are going to put on them every day in training. That’s commitment, accountability, aggression and passion to play this sport and to represent this football club.

This is the basic I am going to demand from them, and from there we can start to build things and improve all the things, obviously, that have to be done as quickly as possible, but if we don’t have this in the right manner, I think it will be difficult.

Hanya dalam 25 pertandingan, tim yang dilatihnya ini telah berada dalam jalur yang diinginkannya. Pondasi dasar dari timnya terlihat jelas dan telah membuahkan hasil yang luar biasa. Para pemain mengikuti instruksinya karena mereka bisa merasakan hasilnya. Bak pengikut Messiah yang merasakan langsung kebenaran dari kata-katanya berwujud dalam pengalaman nyata, kepercayaan The Gunners terhadap sang manager pun semakin bertumbuh, begitu pula kepercayaan diri mereka pribadi. Sekarang mereka percaya kalau mereka mampu bersaing dengan tim juara di liga ini, karena telah mencicipi indahnya kemenangan atas tim juara. Mental mereka telah mengalami revolusi di tangan Arteta.

Selain revolusi mental, Arsenal juga memperlihatkan penguasaan taktik yang komplit. Arsenal mencetak gol saat melawan Liverpool lewat high pressing terhadap pemain bertahan dan kiper lawan. Tidak peduli yang dihadapinya adalah dua pemain termahal Liverpool, Lacazette dan Nelson berhasil mencetak gol setelah Van Dijk dan Alisson melakukan kesalahan besar akibat high pressing Arsenal. Lawan City, Arsenal mencetak gol lewat cara lain, build up play sempurna dari belakang. Melibatkan 10 pemain dan 18 operan, Aubameyang mencetak gol pertama Arsenal hasil bola yang terus mengalir tanpa bisa dihentikan oleh pressing pemain City. Pep Guardiola terpaksa menelan pil pahitnya sendiri, yang ironisnya diberikan oleh mantan asisten manager-nya.

Gol kedua Arsenal melawan City hadir dari counter attack cepat, operan lob cemerlang dari Tierney setelah menerima back pass dari Pepe disambut dengan timing lari yang pas dari Aubameyang yang sekilas memberikan kita bayangan akan Thierry Henry yang lari dari channel kiri ke tengah sebelum kemudian mencetak gol. Aubameyang tidak mengecewakan harapan kita dan berhasil mencetak gol nutmeg salah satu kiper termahal di Premier League dengan santainya. Tim ini telah membuktikan kalau mereka bisa mencetak gol lewat cara apa saja – pressing tinggi, build up play, counter attack dan set piece. Arsenal-nya (perlengkapan senjata) komplit sudah.

Tentunya perjalanan menuju pencapaian saat ini tidaklah mudah. Ada pengorbanan, kerja keras dan konflik. Saya akan mencoba menuliskan beberapa hal berbeda yang dilakukan Arteta terhadap pemainnya yang kemudian berbuah positif dengan makin solidnya tim yang percaya penuh dengan kepemimpinannya.

Man Management Skill

Dalam salah satu ilmu manajemen untuk menciptakan high performance team, pondasi dasar paling penting adalah membangun Trust, kepercayaan. Pemain mesti percaya kepada manager-nya dan kepada rekannya. Dan Trust ini selalu dimulai dari kepemimpinan yang terbuka. Arteta berulang kali menegaskan bahwa ia selalu terbuka terhadap pemainnya. Ia siap bicara dengan lugas dan tidak akan segan dalam menyampaikan pendapatnya terhadap pemainnya. Dengan demikian ia memperlihatkan sikap yang fair dan tidak pilih kasih. Sebaliknya, pemain yang tidak bisa terbuka dengannya, untuk memenuhi standarnya dalam latihan, tidak akan dimainkan. Namun hal itu tidak berlaku untuk selamanya, begitu pemain tersebut berubah dan kemudian memperlihatkan perbedaan di latihan, maka ia dapat masuk kembali ke tim. Arteta tidak takut dengan konflik namun ia tetap berusaha untuk bersikap adil terhadap semua pemain.

Xhaka dan Ceballos menjadi contoh terbaik manajemen personal Arteta. Tidak heran mereka berdua sekarang membentuk partnership yang sangat solid. Setelah mereka berdua, Mustafi yang termarjinalkan juga kembali menunjukkan performa terbaiknya. Demikian juga Pepe yang meningkatkan usahanya dalam latihan dan kembali mendapatkan tempat di starting line up. Lacazette menemukan kembali kepercayaan dirinya. Luiz selalu mendapatkan kepercayaan Arteta walaupun melakukan kesalahan fatal saat restart liga melawan City. Pemain-pemain muda seperti Saka, Nketiah, Willock dan Nelson selalu mendapatkan kesempatan bermain ketika mereka siap. Arteta tidak takut memainkan mereka.

Di sisi lain, Arteta tidak sungkan untuk mengisolasikan pemain jika pemain tersebut tidak 100% dan sikapnya membahayakan kinerja tim. Guendouzi dan Ozil menjadi “korban” dari kebijakan ini. Guendouzi yang keras (dan besar) kepala menolak meminta maaf karena sikapnya setelah game lawan Brighton tidak mendapatkan tempat lagi di tim. Ia lebih mementingkan egonya daripada timnya. Jika situasi ini terus berlanjut, Guendouzi bakal dijual sebelum musim baru dimulai.

Untuk Ozil, semenjak restart liga tampaknya ia belum menampilkan upaya 100% saat latihan. Kata Arteta mengenai Ozil yang absen sejak pertandingan pertama setelah Premier League bergulir kembali:

I have been very open with Mesut from day one.

Since I joined I thought that he was fit and he was willing and he wanted to perform at the level he can do.

The moment I see that he is ready again to do that, I will treat him like anybody else. I think I’ve been more than fair with him and I think he has responded in many games the way I want. That’s it.

Bila Ozil tidak mau berusaha sekeras rekan-rekannya, artinya ia juga lebih mementingkan egonya daripada timnya, dan pasti akan dilepas juga sebelum musim baru dimulai walau tidak mudah karena gaji per minggunya yang telah tinggi. Namun bila Ozil memilih makan gaji buta daripada bermain sepakbola secara konsisten setiap minggu, maka karier sepakbolanya akan berakhir dengan cepat.

Ainsley Maitland-Niles

Sempat diisukan akan hengkang karena tidak nyaman bermain sebagai Right Back, Ainsley Maitland-Niles tidak dimainkan oleh Arteta untuk waktu yang lama. Perlahan, sebagaimana yang terjadi pada pemain lainnya yang ditangani Arteta, ia mulai berubah dalam sesi latihan, dan akhirnya mendapatkan tugas mulia di pertandingan lawan City. Arteta menurunkannya dengan misi menganulir Riyad Mahrez. Karena taktik spesial ini, Tierney terpaksa bermain sebagai LCB dan Maitland-Niles menjadi left wingback. Mahrez mati kutu sepanjang pertandingan ini karena ditempel ketat oleh lawannya. Satu-satunya peluang bersih yang didapatkannya menjadi satu-satunya shot on goal City yang diselamatkan dengan mudah oleh Emi. Mahrez diganti sebelum babak berdua berakhir dan Maitland-Niles bahkan beberapa kali sempat ikut turun menyerang sisi kanan lapangan City. Sayang saja umpan crossingnya tidak seakurat Saka, kalau tidak City bisa menderita kekalahan lebih besar. 2-0 cukup untuk malam itu.

Di akhir pertandingan Maitland-Niles dipeluk erat oleh David Luiz sang motivator. Arteta juga memeluknya dengan erat sambil mengangkatnya, wujud apresiasi ekseskusi misinya yang sukses besar. Maitland-Niles menambah satu lagi dari sekian banyak pemain yang menjadi lebih baik di bawah penanganan Arteta. Entahlah kalau Guendouzi menonton pertandingan ini atau tidak. Kalau ia punya akal sehat, mestinya ia akan terpengaruh untuk mengubah sikapnya, untuk ikut kereta Arteta yang melaju makin cepat.

Lacazette dan Pepe

Aubameyang mencetak dua gol dengan sangat efisien namun penampilan Lacazette tidak bisa dilupakan. Ia bermain sangat baik sebagai hold up player saat serangan balik dan meneruskan bola dengan progresif, atau mengundang foul lawan. Lacazette melakukan high pressing sepanjang pertandingan. Rivalitasi yang dihadirkan Arteta terhadapnya dengan seringnya memainkan Nketiah yang sangat energik berpengaruh positif terhadap Laca. Golnya saat melawan Spurs menunjukkan sinyal ia kembali ke penampilan terbaiknya.

Di sisi kanan, Pepe juga berkontribusi positif. Ia berperan dalam dua gol Aubameyang, sebagai assister dan pre-assister. Dribblingnya lebih bertujuan, gerakannya lebih fokus, dan kombinasinya dengan Bellerin terlihat semakin baik. Ia juga ikut dalam pressing dan tracking back, berubah total dibandingkan gaya permainannya yang lebih individualis saat pertama kali bergabung di awal musim. Sayang sekali hanya tertinggal tiga pertandingan tersisa di musim ini, di saat trio Laca-Auba-Pepe sedang menuju level yang diharapkan fans sejak awal musim.

Lencioni Model

Kembali ke ilmu manajemen soal high performance team. Saya mempelajari hal ini dalam salah satu training project management. Lencioni membuat model piramid berisi 5 unsur / tahapan perubahan perilaku sebuah tim untuk menghasilkan tim dengan kinerja yang lebih baik. Tim yang mana kinerjanya lebih baik dari gabungan kualitas masing-masing individu anggotanya. The whole is greater than the sum of its parts.

Building a high performance team

Setelah membangun Trust, maka yang berikutnya adalah tim harus tidak takut menghadapi konflik. Perdebatan perlu terjadi karena setelah itu, tim harus mencapai kesepakatan dan semua yang berbeda pandangan awalnya akhirnya harus berkomitmen terhadap keputusan yang satu, metode dan tujuan yang sama. Mereka yang tetap tidak sejalan, dengan terpaksa disisihkan (Guendouzi, Ozil). Dengan komitmen tersebutlah, maka akuntabilitas bisa diterapkan. Pemain yang melakukan kesalahan, mengaku salah dan mendapatkan konsekuensinya. Lebih baik lagi, setiap rekannya akan mencoba cover sehingga kesalahan itu tidak berdampak buruk, sebagaimana Xhaka yang meng-cover kesalah Mustafi malam itu. Karena tim yang berfungsi dengan baik percaya bahwa hasil itu sifatnya kolektif.

Trust -> Conflict -> Commitment -> Accountability -> Results.

Mirip bukan dengan 4 fondasi dasarnya Arteta Way? Saya tidak akan kaget kalau Arteta terinspirasi oleh model manajemen Lencioni ini.

Masterclass

Seperti yang diutarakan di awal, sangat sayang musim ini tersisa 3 pertandingan lagi, ketika Arteta mulai menunjukkan Masterclassnya, berkat tim yang sudah sejalan, yang bernafas dengan detak jantung yang sama. Tidak tanggung-tanggung dua pelatih kawakan, Klopp dan Pep dengan tim yang jauh lebih mahal sudah merasakannya. Di final FA Cup dalam 2 minggu mendatang, Arteta akan berhadapan dengan salah satu dari dua pelatih muda mantan pemain sukses lainnya di dalam Lampard dan Solksjaer, pertarungan yang tidak akan kalah serunya. Final FA Cup ini akan sangat berarti bagi Arteta dan Arsenal: mendapatkan tambahan budget untuk belanja musim depan (karena bisa berpartisipasi di Europa League) dan mempertahankan pemain terbaiknya agar tidak hengkang (Aubameyang).

Masterclass yang ditunjukkan Arteta begitu berbeda dengan sepakbola tanpa jati diri di era Emery. Semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Berbagai pundit bola yang biasanya menganggap remeh Arsenal bisa merasakan perubahan tim ini di bawah asuhan Arteta. Bila ini baru tahapan basic, sesuai penjelasannya, kita boleh merasa optimis dengan masa depan Arsenal di tangan Arteta. Kita berharap KSE sama optimisnya dalam mendukung Arteta dengan dana yang sepadan, agar kita bisa menyaksikan visi Arteta Way terealisasikan.