The Arteta Way

WBMikel_1600x900
Mikel Arteta, Arsenal New Head Coach (20 Dec 2019)

Momen bersejarah baru ini mendorong saya untuk kembali menulis blog setelah sekian lama non-aktif. Blog terakhir saya di bulan Februari 2018 tentang nonton langsung North London Derby yang ternyata juga menjadi musim terakhir Le Boss, orang yang paling saya hormati di muka bumi saat ini. Arsenal tanpa Arsene Wenger berubah. Bukan soal hasil pertandingan, tapi lebih soal bagaimana klub ini dijalankan. Wenger mungkin bisa merasakan itu, maka pesannya “Take care of the values of the club” selain ditujukan kepada fans, juga secara tidak langsung disampaikan kepada board Arsenal.

Berakhirnya Sebuah Era 

Lengsernya Wenger adalah hasil dari pertarungan kekuasaan. Gazidis yang tidak pernah bisa klop dengan Wenger, sudah lama menunggu momen untuk berkuasa. Ia memasang Raul Sanllehi dan Sven Mislintat untuk mengurangi absolute power Wenger di klub. Rekrutmen di musim terakhir itu juga rasanya dilakukan mereka tanpa banyak mendengarkan maunya Wenger.  Dengan performa musim itu yang menjadi musim terburuk Arsenal era Wenger, board Arsenal diyakinkan Gazidis bahwa inilah saatnya untuk perubahan. Karena respek board yang begitu tinggi terhadap Wenger, ia diberikan kesempatan untuk mengucapkan perpisahan sebelum musim berakhir dan mereka dapat memulai proses mencari penggantinya. Buku otobiografi Wenger yang akan terbit pertengahan tahun depan pasti akan mengupas banyak pertarungan kekuasaan di balik layar ini.

Gazidis, Raul dan Sven melakukan pencarian manajer baru sebelum akhir musim sebagaimana audisi bakat reality show. Mikel Arteta yang menjadi unggulan petaruh akhirnya disalip di babak final oleh salesman Unai Emery dengan power pointnya yang spektakuler. Kurang pengalaman, Arteta mungkin tidak menyiapkan diri sebaik itu. Unai datang lengkap dengan timnya yang terdiri dari 6-7 orang. Ia memutar video analisa semua pemain Arsenal dan mengatakan kalau ia tahu bagaimana mengeksploitasi pemain terbaik Arsenal, Aaron Ramsey. Metode homework untuk pemain lewat USB juga dipaparkan. Akhirnya ia berhasil meyakinkan trio kwek kwek bahwa ia manajer yang tepat untuk mengubah nasib Arsenal yang sudah lama tidak masuk Champions League. Saya yakin presentasi Emery dilakukan di siang hari. Kalau tidak, mereka mungkin saat itu akan was-was dengan kemampuan komunikasinya saat ia mengucapkan “Good Ebening”.

Satu setengah musim kemudian, di bawah kepemimpinan Emery, emosi kita diaduk-aduk dengan akhir musim lalu yang anti klimaks, kepergian Ramsey (ironisnya) dan beberapa pemain penting lainnya, sepakbola tanpa identitas, perang dingin manajer dan pemain bintang, manajer yang kehilangan respek pemain, kapten yang ribut dengan fans, dan tentunya yang paling miris 7 pertandingan beruntun tanpa kemenangan, dan itupun kebanyakan melawan klub semenjana.

Krisis Identitas dan Kepercayaan Diri

Saya tidak pernah terinspirasi untuk menulis blog tentang Arsenal di era Emery. Sulit rasanya mengidentifikasikan klub tersayang kita saat melihat timnya bermain di lapangan. Emery adalah tipe pelatih reaktif. Ia menyesuaikan taktik timnya dengan cara bermain lawan. Ia doyan ganti formasi dan ganti starting line-ups. Akibatnya para pemain kebingungan dan tidak terjalin chemistry yang baik antara pemain satu dan yang lain. Kita tidak punya duet striker, duet pemain tengah, ataupun duet pemain belakang yang menetap. Apalagi kombinasi antara pemain tengah dan depan. Bermain dengan Laca dan Auba sangat berbeda. Yang satu memilih lari di channel antara FB dan CB, yang lain memilih drop deep di tengah untuk menerima bola. Para pemain tengah terpaksa mengganti cara passing mereka dari satu pertandingan ke pertandingan lain karena perbedaan gaya ini. Kombinasikan itu dengan 11 varian pemain dan kebingunganlah yang didapatkan. Saat itulah sepakbola Arsenal kehilangan identitas, karena taktik yang terus berganti tergantung lawannya.

Emery juga terlalu tinggi menganggap lawan dan akibatnya merendahkan timnya sendiri. Alih-alih mengeksploitasi kekuatan timnya sendiri, ia memilih mengantisipasi kekuatan tim lawan. Di saat seperti ini, saya jadi ingat kata Wenger:

A football team is like a beautiful woman. When you do not tell her, she forgets she is beautiful.

Krisis kepercayaan diri menjadi tema umum semua pemain Arsenal saat ditanya soal kemerosotan performa di lapangan di musim ini. Ini kegagalan dari empowerment team. Banyak lagi kutipan serupa mengenai kepercayaan diri, fokus kepada kekuatan yang semua ini telah menjadi value Arsenal selama 2 dekade kepemimpinan Wenger.

None of us has all the qualities. But we make our life and our success with one quality that is very strong, and we can diminish our weaker sides a little bit. Once a player has a strong quality, my job is then to give him the confidence.

In my job, the main quality is to be an optimist. You should see what the club is about after big defeats, it’s like a lost war. Everybody is on the floor, so you have to be an optimist and say to people ‘Come on, we are good enough to pick up and win our next game’. Everyone forgets quickly in life how good he is or how good he can be when things go wrong.

Kutipan-kutipan di atas tidak hanya berlaku pada sepakbola, tapi untuk hidup secara umumnya. Inilah nilai-nilai kehidupan, kalau dapat kita hayati dan terapkan.

Atlet cepat melupakan bagaimana bagusnya dirinya ketika ia terus menerus menderita kekalahan. Pemain Arsenal seakan harus diingatkan mereka adalah pemain bagus yang setia menghuni 4 besar, yang berkompetisi untuk trofi. Mungkin Emery terus mengatakan kalau pemain lawan bagus dan lain-lain, jarang memuji pemainnya sendiri, membangku cadangkan pemain terbaiknya hanya untuk membuktikan kuasanya. Mungkin semua hal negatif tersebut diulang-ulang setiap hari di latihan dan akibatnya pemain-pemain Arsenal kehilangan kepercayaan diri.

Hal ini bisa dilihat dari jarak antar pemain yang demikian jauh di lapangan. Kurang compact. CB yang tidak berani pressing dan nempel ke pemain depan lawan karena takut tidak bisa mengejar mereka ketika lolos. Arsenal tidak bermain high pressing, namun tidak juga low block. Saat pemain depannya pressing, pemain tengah tidak ikut, dan pemain belakang jauh di areanya sendiri. Tidak satu komando. Saat lawan lolos pressing, hanya butuh satu dua umpan akurat dan pemain cepat untuk menembus pertahanan Arsenal dan berakhir dengan shot on target. Tidak heran kalau kita memberikan begitu banyak peluang tembakan kepada lawan dengan cara bermain seperti ini. Cara bermain yang kekurangan percaya diri.

Hal pertama yang diucapkan para pemain saat Emery diganti oleh Ljungberg sebagai head coach sementara adalah Ljungberg memahami pemain karena ia adalah mantan pemain. Secara tidak langsung mereka ingin mengatakan kalau Emery tidak memahami mereka. Mungkin Emery memainkan mereka bak main Football Manager. Memasang starting line up sesuai analisa videonya dari tim lawan, mengganti taktik dan formasi dari satu game ke game lain, pencet tombol simulasi dan tunggu hasilnya. Gagal, coba lagi dengan formasi lain. Sisi humanisnya, sisi personal touch dengan berdiskusi dengan pemain tidak ada. Ia jelas tidak mengatakan kepada Mesut Ozil kalau dirinya beautiful… Tidak ada fitur itu di Football Manager (entah kalau versi terbarunya). Emery lupa bahwa saat pertandingan berlangsung, yang menjalankannya adalah para pemain bola, bukan pelatih, sekeras apapun teriakannya di lapangan.

Akhirnya, tidak ada pemain Arsenal yang bersedia bermain untuknya. Bahkan kapten andalannya pun kecewa ketika “dikorbankan” oleh Emery dan akhirnya menjadi sasaran amuk massa. Lebih lagi ketika Emery tidak membelanya. Semua aksi seperti itu diperhatikan semua pemain dan mereka kehilangan respect dan kepercayaan pada pelatihnya. Singkat kata, Emery lost the dressing room and then he lost the job.

Revolusi Arteta

Sejak awal saya menginginkan Arteta sebagai head coach baru Arsenal. Sejak menjadi pemain Arsenal, ia sudah menunjukkan leadershipnya yang sangat kuat. Interview terakhirnya di majalah Arsenal juga menunjukkan keinginan kuatnya untuk menjadi manajer sepakbola. Alih-alih melanjutkan kariernya di klub-klub kaya di China atau MLS di USA, atau menjadi pundit sepakbola sebagaimana Thierry Henry dan beberapa mantan pemain Premier League, Arteta langsung memilih meniti karier sebagai asisten manajer Manchester City di bawah manajer terbaik dunia, Pep Guardiola. Ia tidak mau membuang waktu. Ia punya ambisi, kepercayaan diri, dan belief ia akan menjadi manajer Arsenal di masa depan. Saat itu ia mengatakan kepada staf-staf di Arsenal bahwa ia akan keluar dari klub untuk menuntut ilmu dulu, dan kembali saat ia siap. Karakter yang sangat kuat dan kepercayaan diri yang tinggi. Keyakinannya dan hasil kerja kerasnya akhirnya terbayar sekarang.

Tidak mudah untuk Arsenal menunjuk Arteta menjadi head coach yang baru tanpa pengalaman menjadi manajer. Namun Arteta memiliki banyak hal yang membuat ia lebih unggul dari kandidat lainnya. Ia menjadi kandidat yang paling cocok untuk Arsenal di saat value Arsenal yang dipertegas di era Wenger semakin terkikis. Arsenal tidak memiliki komunikator yang baik saat ditimpa krisis, sebagai PR dan sekaligus penegak nilai Arsenal. Acuan moral klub. Emery tidak bisa melakukan peran itu dan board juga tidak mau muncul ke depan untuk menahan peluru dari fans dan media. Saat Koscielny menjadi pemberontak, misalnya. Saat Ozil sering bolos dengan izin sakit. Saat Xhaka emosional di-boo supporter. Saat gosip seputar keterlibatan super agent dalam transfer pemain dan kemudian munculnya prospek Nuno Espirito Santo menjadi headh coach baru Arsenal karena pengaruh Jorge Mendes. Saat ada dugaan Raul menggunakan koneksi super agentnya untuk transfer pemain dan membayar di atas harga pasar. Semua rumor yang bertentangan dengan value Arsenal yang berawal dari Victoria Concordia Crescit. Victory grows out of harmony.

Arsenal website punya section The Arsenal Way, yang mendefinisikan nilai-nilai Arsenal dari sisi sejarah maupun korporasi. Bagi saya yang tidak tinggal di Islington, Jalan Arsenal adalah hal-hal yang dilakukan dengan benar, berintegritas, manusiawi dan harmonis. Semua kutipan dari Wenger mengenai sepakbola, indahnya manusia dan kepercayaan diri adalah bagian tak terpisahkan dari Jalan Arsenal.

Arteta mengerti itu.

Pada kesempatan pertamanya bicara pada pers, ia tampil sangat menawan. Komunikasinya lugas dan cerdas. Pertama ia berterima kasih kepada Arsene Wenger yang melihat kualitas dirinya, membawanya ke klub yang sudah lama diidolakannya, menjadikannya kapten, membuatnya jatuh cinta dan dengan demikian memberinya peluang untuk menjadi The Boss baru Arsenal.

Arteta mempelajari pentingnya sentuhan personal dan juga modernitas taktik dari dua manajer hebat. Ia juga belajar bagaimana menyampaikan pesannya dengan sederhana kepada pemain. Ia memulai dari dasar. Pertama, bermainlah dengan agresif, saling mendukung, dan bertanggung jawab. Akuntabilitas adalah isu di mana-mana tidak cuma di sepakbola. Semua manajer yang baik tahu bahwa untuk menciptakan tim yang mampu berperforma baik, perlu adanya komitmen bersama yang kemudian ditindaklanjuti dengan hasil dan akuntabilitas. Manajer perlu menjadi ruthless, pertama memberikan kesempatan, dukungan dan arahan namun kemudian juga menyingkirkan mereka yang tidak berkomitmen dan tidak perform. Arteta memulai hal itu dengan timnya. Siapapun pemain Arsenal yang tidak tampil 100% dan tidak mengikuti instruksinya akan disingkirkan. Harmoni artinya semua bagian dari tim memiliki satu tujuan yang sama dan berkomitmen untuk mencapainya bersama.

Untuk bisa mendapatkan komitmen itu, ia perlu meyakinkan semua pemain dahulu bahwa Jalan yang akan ia tempuh adalah jalan yang akan membawa pada kemenangan, dan kesuksesan.

Ia tidak bicara soal taktik dahulu. Di pertandingan lawan Everton terlihat bagaimana David Luiz dan Granit Xhaka yang biasanya tidak agresif dalam tackle atau interception melakukannya dengan baik. Saya sangat terkesan dengan Luiz yang menempel dekat pemain penyerang lawan dan berhasil dalam duel 1 on 1 dalam banyak kesempatan. Xhaka juga track back, intercept, tackle. Semua pemain bekerja keras untuk tidak memberikan peluang menyerang Everton. Hasilnya clean sheet pertama setelah sekian lama. Yang masih kurang adalah bagaimana menyerang dengan baik dan itu akan hadir seiring dengan waktu Arteta berlatih bersama tim. Kita mesti bersabar karena seperti kata Wenger lagi, kepercayaan diri itu seperti turun lift dan naik tangga. Hilang dengan cepat dan hanya bisa dibangun perlahan.

Banyak sudah beredar artikel mengenai bagaimana Arteta melatih pemain-pemain City untuk menjadi lebih baik lagi. Sterling, Sane adalah contoh apik. Kita menunggu polesan Arteta terhadap pemain-pemain muda Arsenal. Emile Smith Rowe dan Bukayo Saka adalah jebolan akademi Arsenal terbaik yang menunggu golden touch Arteta. Kita masih punya Martinelli, Tierney, Nelson, Willock, Guendouzi dan Saliba yang akan bergabung musim depan. Kemudian Ceballos dan Pepe yang juga belum menunjukkan performa terbaiknya di Premier League. Di tim U23, pemain muda berlimpah bakat juga siap menunggu giliran.

Bagi Arteta, ada 4 hal penting yang ia inginkan sebagai pondasi dasar timnya: komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah untuk memainkan sepakbola dan mewakili klub ini.

The priority, as I said before, is what we are going to transmit on the team, is a reflection of the demands we are going to put on them every day in training. That’s commitment, accountability, aggression and passion to play this sport and to represent this football club.

This is the basic I am going to demand from them, and from there we can start to build things and improve all the things, obviously, that have to be done as quickly as possible, but if we don’t have this in the right manner, I think it will be difficult.

Musim ini, empat besar mungkin bisa kita lupakan karena begitu jauhnya posisi Arsenal di klasemen. Mari hilangkan ekspektasi tinggi agar setiap proses lebih bisa kita nikmati secara natural. Sebagai Gooners, yang bisa kita lakukan adalah memberikan waktu untuk Arteta bekerja dan mendukungnya. Yang pasti minggu per minggu kita akan melihat perbaikan penampilan Arsenal. Saya yakin.

Setelah lebih dari 20 tahun mendukung Arsenal, saya sudah menyaksikan pemain bintang datang dan pergi. Hal ini juga akan terjadi sekarang. Mungkin kita akan kehilangan Ozil, Aubameyang atau bahkan Lacazette. Tidak masalah, karena kita sekarang mendapatkan talenta pelatih emas di Arteta, yang tidak muncul setiap tahun. Pelatih yang akan menghasilkan puluhan pemain bagus di klub ini, yang akan bermain sesuai identitas Arsenal. Saya percaya Arteta akan dapat menghadirkan kembali sepakbola menyerang yang merupakan perwujudan dari The Arsenal Way daripada sepakbola reaktif ala klub semenjana. Sepakbola protagonist yang gagal diwujudkan oleh Unai Emery.

The New Arsenal Way is The Arteta Way.

North London Derby yang tak terlupakan

Happiness is in the content of moment-to-moment experiences…

Kebahagiaan ada pada pengalaman saat ini, bukan pada benda yang dimiliki. Jadi bila Anda memiliki uang lebih (bonus, tabungan), memilih menghabiskannya untuk pengalaman daripada material menurut riset psikolog Matthew Killingsworth, akan lebih mendatangkan kebahagiaan. Artikel “Buy Experiences, Not Things” yang berdasarkan pada riset Killingsworth yang menegaskan kembali hasil riset-riset psikologi selama sepuluh tahun terakhir ini yang menyimpulkan bahwa pengalaman (experiences) lebih memberikan kita kebahagiaan daripada kepemilikan (possession). Silakan dibaca artikel yang sangat menarik tersebut.

Saya sudah membuktikannya sendiri. Menyaksikan langsung pertandingan Arsenal vs tetangga berisik di Emirates Stadium mendatangkan kebahagiaan yang tak akan terlupakan, dibandingkan membeli tas atau pakaian bermerk (jelas isteri saya akan berpendapat berbeda). Hampir 3 bulan telah berlalu sejak pengalaman tersebut, namun setiap saya mencoba mengingatnya, menonton rekaman video dan foto dari hari bersejarah tersebut bagi seorang Gooner, senyum lebar akan selalu hadir, untuk diri sendiri.

20171118_152947858_iOS
Pose Bersama Pemain Terbaik Arsenal Sepanjang Masa. 18 Nov 2017. Arsenal 2-0 Tottenham Hotspur.

Mendeklarasikan diri sebagai Gooner sejak 1998, mengunjungi dan menyaksikan langsung pertandingan Arsenal adalah impian terpendam. Impian itu terwujud sebagian ketika Arsenal melakukan tur ke Indonesia tahun 2013. Saat itu, saya menyempatkan diri bergabung dengan puluhan ribu supporter Arsenal Indonesia menonton langsung pertandingan Arsenal vs Indonesia All Star di Gelora Bung Karno, Jakarta. Pertandingan yang berakhir 7-0 untuk Arsenal itu dengan aksi pemain muda Gedion Zelalem tentunya sangat berkesan. Melihat langsung pemain-pemain Arsenal di lapangan rumput maupun di bus tim untuk pertama kalinya, terasa surreal. Saya tidak menyadari saat itu kalau pengalaman di Emirates Stadium akan berkali lipat lebih luar biasanya.

Kesempatan untuk ke London dan menonton langsung North London Derby itu datang tanpa rencana. Bisa juga dianggap kebetulan. Tahun lalu, 2017, saya mendapatkan undangan dari head office perusahaan tempat saya bekerja untuk ikut leadership training di Belanda selama tiga kali, yakni di bulan Juni, September dan November, masing-masing selama 3-4 hari. Tiket pesawat dan akomodasi ditanggung perusahaan tentunya. Ini merupakan kesempatan pertama kalinya saya ke Eropa. Saat itu yang terbayang di pikiran bukanlah keindahan kincir angin dan bunga tulip di Belanda, tapi North London, kandang Arsenal. Saya langsung merencanakan untuk berkunjung ke London dari Belanda di salah satu dari tiga kesempatan kunjungan itu. Tiket pesawat Amsterdam – London tidaklah mahal, banyak pilihan budget airlines.

Bulan Juni tidak termasuk pilihan karena Premier League sedang libur, tersisalah opsi bulan September atau November. Atas saran seorang rekan peserta training asal London yang juga seorang Gooner, September menjadi pilihan bagus karena cuaca yang bersahabat (musim dingin belum tiba). Tiket pertandingan pun bisa diatur olehnya, pertandingan Arsenal vs Brighton & Hove Albion, tanggal 1 Oktober. Rencananya saya langsung melanjutkan perjalanan ke London setelah selesai training tanggal 30 September.

Sebagai Project Manager, rencana yang tidak berjalan mulus sudah biasa saya temukan dalam pekerjaan. Eh, ternyata rencana kunjungan ini juga begitu. Visa UK yang saya ajukan belum disetujui hingga hari H-3 keberangkatan ke Amsterdam. Khawatir saya tidak dapatkan kembali paspor untuk berangkat ke Amsterdam, saya ajukan fasilitas Passport Passback (peminjaman passport yang visa-nya belum disetujui) ke Embassy UK. Saya lalu membatalkan penerbangan ke London dari Amsterdam, batalkan reservasi hotel dan tentunya juga tiket pertandingan. Rencana ke London diubah ke bulan November. Yang mengejutkan, H-1 keberangkatan saya menerima kembali paspor saya yang sudah distempel Visa UK, disetujui! Sial, semua rencana sudah terlanjur diubah. Apa boleh buat, manusia hanya bisa berusaha, kehendak Tuhan berkata lain!

Scrolling fixtures Home Arsenal, mata melotot pada North London Derby, 18 November 2017. Training di Amsterdam dimulai 20 November. Wah ini takdir, segera saya memesan tiket pesawat, reservasi akomodasi, dan kontak teman Gooner di London tersebut untuk tiket pertandingan. Singkat kata, ia gagal mendapatkan tiket pertandingan karena derby match tersebut masuk kategori A, ludes terjual. Tidak kehilangan akal, saya coba fasilitas ticketing online Stuthub. Harga tiket di sana kurang lebih 2 kali lipat harga general sale ditambah biaya pelayanan. Cari tiket termurah di upper tier, shortside (barisan bangku paling atas, sisi lapangan pendek belakang gawang), dapat tiket dengan harga £140 yang harga normalnya £76. Ditambah dengan biaya administrasi+servis, total biaya sekitar hampir 3 juta rupiah. Lumayan untuk pengalaman sekali seumur hidup (mudah-mudahan bisa berkali-kali, maunya). Pertandingan pertama yang sempurna, first match yang sekaligus first north london derby.

Tiket pesawat antar negara di Eropa tidak mahal, tiket easyJet hanya sekitar €80 pp tanpa bagasi. Namun hotel di London sangat mahal, maka saya memilih menggunakan Airbnb (homestay). Bisa dapat kamar privat di North London dengan harga €60 per malam, sepertiga dari harga hotel di tengah kota. Rencana perjalanan pun dibuat, tiba di London dari Amsterdam hari Kamis untuk menyaksikan pertandingan di hari Sabtu dan kembali ke Amsterdam hari Senin pagi untuk training. Empat malam di London tidak akan pernah cukup, namun karena ini adalah liburan tanpa keluarga, 4 hari ini sudah sangat lumayan, tahu dirilah sebagai seorang suami dan ayah dengan dua anak. Untung punya isteri yang juga seorang Gooner yang sangat pengertian. Lain kali saya berjanji akan datang lagi ke London bersama keluarga dalam wujud liburan beneran (2 minggu mungkin?).

Jurnal Perjalanan

Karena durasi perjalanan yang singkat, maka rencana jalan-jalan saya fokuskan ke Arsenal. Kamis siang menjelang sore tiba di London, naik Tube (London Underground – MRT) langsung menuju ke North London keluar di Arsenal Station. Berjalan melewati Highbury Stadium yang sudah disulap menjadi apartemen, saya sengaja tidak mampir dulu di kandang Arsenal karena cukup capek setelah terbang 14 jam dari Jakarta-Amsterdam direct flight yang dilanjutkan 1 jam penerbangan ke London. Sambil menunggu yang punya kunci rumah, sempatkan diri dinner di The Highbury Barn, pub di Highbury Park, dekat rumah tujuan.

IMG_20171116_151107
Highbury Square, apartement complex yang dulunya adalah Highbury Stadium. Nama Arsenal Stadium dan East Stand masih melekat, peninggalan budaya

Jumat pagi, saya berkunjung ke proyek teman di Kings Cross. Ia adalah rekan training (yang disebut di atas), Project Manager yang juga Londoner dan Gooner. Entah sengaja atau tidak, staf-staf proyek yang dikenalkannya pada saya juga hampir semuanya supporter Arsenal. Berceritalah kita mengenai prospek Arsenal vs Spurs. Walaupun di mulut pada yakin menang, namun saya bisa merasakan kekhawatiran di hati mereka, terlebih karena performa Spurs saat itu yang sedang bagus-bagusnya. Di meja salah seorang staf senior proyek tersebut, ada foto dirinya dengan Ian Wright dengan senyum lebarnya, supporter Arsenal seumur hidup sepertinya.

Saya dikenalkan sebagai seorang teman dari Jakarta, satu grup perusahaan, dan juga sebagai seorang Gooner yang akan nonton NLD. Pengantar perkenalan seperti ini ternyata sangat efektif. Arsenal, lebih daripada agama, menjadi jembatan komunikasi yang efektif. Langsung kita berbicara mengenai performa tim, mengenai Wenger in and out, mengenai Lacazette, Ozil dan pemain-pemain lainnya. Baru kemudian kita bercerita tentang asal dan kehidupan masing-masing. Hal ini juga saya rasakan ketika berkumpul dengan komunitas AIS di Jakarta, Pekalongan, Tuban dan Tangerang. Mudah sekali connect dengan supporter Arsenal di manapun karena selain kita memiliki hobi yang sama, kita juga melakukan perjalanan yang sama dalam mengikuti klub ini. Start-nya mungkin boleh berbeda, saya dari 1998, Anda dari 2000-an, atau ada yang dari 80-an, tapi saat kini yang kita alami sama. Kita seakan berada dalam satu kereta yang sama, berangkat dari stasiun yang berbeda-beda, waktu yang berbeda-beda, tetapi dengan satu tujuan, tujuan yang tak terhingga. Walaupun ada yang akan meninggalkan kereta ini duluan, sebelum sampai tujuan, entah karena kematian, ataupun karena penyakit (depresi, bosan), atau karena berkhianat (pindah kereta), yang tersisa akan terus melakukan perjalanan, bersama, mengalami hal yang sama. Kenangan yang sama dari gerbong kereta Arsenal ini tidak akan pernah dipahami oleh orang lain yang belum pernah masuk ke gerbong ini. Kenangan dan pengalaman saat ini menjadi alat komunikasi yang efektif untuk menghubungkan orang-orang yang tadinya asing satu sama lain.

Kita seakan berada dalam satu kereta yang sama, berangkat dari stasiun yang berbeda-beda, waktu yang berbeda-beda, tetapi dengan satu tujuan, tujuan yang tak terhingga.

Siangnya, saya memutuskan ke Emirates Stadium dengan tujuan melihat bagian luar stadion dan bagian dalam lewat Arsenal Tour. Setelah melewati Ken Friar Bridge, tampaklah pemandangan Emirates Stadium di sebelah kiri dan Arsenal Museum sebelah kanan. Megah sekali stadion Arsenal ini, dengan facade kaca dan cladding poster berbagai pemain legendaris yang berangkulan, simbol Victoria Concordia Crescit. Puas mengambil foto dari luar, segera saya masuk ke Arsenal Museum untuk membeli tiket Arsenal Stadium and Museum Tour. Karena tidak pernah membaca apa saja isi tour-nya selain masuk ke dalam stadion, saya cukup penasaran dengan isi museumnya.

Arsenal Stadium.jpg
Kiri atas (searah jarum jam): Monumen Ken Friar Bridge, Arsenal Museum, Emirates Stadium

The Tour

Setelah membayar £22, saya diberikan semacam walkman dan earphone yang bisa memainkan file audio tertentu ketika kita berada dekat dengan titik tertentu, sebagaimana tour guide yang menjelaskan histori benda tertentu di museum-museum di Eropa. Di kasir, saya berkenalan dengan Alpha, pria asal Sierra Leone yang juga ingin mengikuti tur. Ia fans West Ham United, namun istrinya dan kakak-adiknya adalah fans Arsenal. Karena sedang di London, ia penasaran dengan isi stadion Arsenal. Ia belum memiliki tiket untuk pertandingan besok. Lumayan, dapat teman baru yang bisa dimintakan bantuan motret, daripada foto selfie melulu. Jadilah kami saling memotret selama tour ini, kerjasama simbiosis mutualisme.

Arsenal Museum
Arsenal Museum

Dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang mencerminkan era yang berbeda, museum ini penuh dengan memorabilia dan kata-kata kutipan para legenda. Misalnya dari Herbert Chapman, manager sukses Arsenal yang pertama yang meletakkan batu pondasi kesuksesan untuk manager-manager berikutnya:

I’m going to make this the greatest club in the world.

Bob Wilson, kiper legendaris Arsenal saat ia mengunjungi Highbury pertama kalinya:

It took my breath away. How could I ever have the nerve to play in front of this?

Dan ini, dua kutipan dari Arsene Wenger:

In football there is a shared responsibility. Intelligent players always understand the real star is the team and what they give to the team, the team gives back to them.

It’s not impossible. I know it will be difficult for us to go through the season unbeaten. But if we keep the right attitude it’s possible we can do it.

Kutipan terakhir tersebut dilontarkan Wenger di awal musim 2002/2003 yang mana akhirnya timnya disalip oleh Manchester United dalam perebutan gelar juara Premier League. Wenger menjadi bahan tertawaan supporter United dan media karena dianggap pemimpi. Musim berikutnya ia yang tertawa terakhir karena keyakinannya pada timnya terbayar dengan gelar Premier League yang didapatkan tanpa menderita kekalahan. The Invincible mendapatkan tempat layak di museum tersebut. Rasanya waktu berjam-jam pun tidak cukup untuk menelusuri seluruh bagian dari museum ini. Kalau tidak mengingat matahari akan terbenam dan saya belum melihat isinya Emirates Stadium, enggan rasanya beranjak keluar dari tempat yang penuh sejarah Arsenal ini. Saya dan Alpha pun keluar dari museum, menyeberang ke arah stadion.

IMG_20171118_144301
19 Managers of Arsenal (1894 – present)

Masuk dari basement dan naik ke atas, ke Director’s Box lalu ke kursi penonton di Club Level, pemandangan luar biasa menyambut kami. Jantung saya seakan berhenti berdetak sesaat menyaksikan lapangan hijau yang rapi, atap yang berbentuk kurva tipis bergelombang dan deretan bangku merah yang mengikuti lengkungan indah atap stadion tersebut.

IMG_20171117_155103.jpg  IMG_20171117_155152IMG_20171117_155108.jpg

Dalam kondisi kosong pun stadion ini megah luar biasa. Sunyi sekali karena suara beberapa peserta tour teredam oleh kemampuan akustik bangunan yang sangat baik. Kata-kata,”Oh my God, it’s amazing!” berulang kali terucap dari bibir saya dan Alpha. Ia yang tidak berencana untuk menonton pertandingan esok kemudian berujar, “Benny, I have to see the match tomorrow.” Alpha merasa sayang melewatkan pertandingan di stadion yang sangat bagus ini. Ia sudah pernah menyaksikan pertandingan di kandang Chelsea dan Manchester City, namun baginya stadion kandang Arsenal ini masih jauh lebih keren. Ia pun menelepon saudaranya yang sudah lama tinggal di London untuk mencarikan tiket untuk pertandingan besok. Keesokan harinya saya tidak bertemu dengannya karena keramaian yang luar biasa tapi ia mengabarkan kalau ia mendapatkan tiket di area tandang, menonton bersama pendukung Spurs!

Setelah puas menikmati sensasi dari tiga indera, mata, telinga dan kulit yang menyentuh bangku stadion, serta berfoto-foto ria, kami pindah ke bawah. Dressing room menjadi tujuan pertama. Ada terlihat kolam air untuk pemulihan, tempat massage, gym kecil sebelum kamar ganti pemain. Di dalam, tentunya tempat Ozil menjadi pilihan pertama. Blessing dari saya terhadapnya ternyata tidak sia-sia, Ozil tampil luar biasa keesokan harinya.

IMG_20171117_160713
Blessing untuk Ozil

Dari dressing room, kami melintasi ruang press conference Wenger, lalu ke tunnel menuju lapangan. Sekali lagi, kami terkesima dengan pemandangan depan mata. Lapangan rumput yang begitu rapi dan hijau. Saya melihat apa yang para pemain Arsenal lihat. Sungguh stadion yang luar biasa, walau saat ini dalam keadaan kosong. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya bermain di saat stadion penuh, seluruh pendukung menyanyikan lagumu, tak henti-henti seperti We’ve Got Mesut Ozil!

IMG_20171117_161718
Bersama Alpha di Bangku Cadangan

Keberuntungan di hari itu tiada habisnya. Alpha tiba-tiba menyenggol tanganku. Tebak, siapa yang datang ke stadion hari itu? He’s a very nice man.DSC00606

Pengalaman tur yang manis, dan tak akan terlupakan. Setelah itu saatnya belanja merchandise Arsenal di The Armoury untuk diri sendiri dan keluarga.

The Match Day

Gerimis di siang hari itu menemani perjalanan ke stadion. Keluar dari Arsenal Station, Gooners mulai bernyanyi bersama. Lagu wajib “What do you think of Tottenham?” berulang kali dikumandangkan supporter Arsenal. Gate masuk fans home dan away dipisah untuk menghindari keributan. Kebanyakan fans Spurs menyembunyikan jersey mereka di luar stadion (di balik jaket) agar tidak bentrok dengan fans Arsenal. Kaos putih tersebut baru terlihat ketika mereka berkumpul di gate masuk away fans. Mulailah banter chant diserukan satu sama lain. Masuk ke dalam, chant supporter Arsenal semakin kencang. Bak paduan suara gereja, suasana khidmat mengiringi masuknya fans ke tempat sakral ini.

Banyak pendukung Arsenal memilih ngumpul, ngobrol sambil minum bir atau buang air kecil dahulu sebelum ke bangku penonton. Sebagian mengerubungi layar televisi yang tergantung, menyiarkan hype north london derby dengan komentar-komentar pundit yang meramalkan kemenangan Spurs. Tentu mereka tidak tahu kalau saya sudah mengunjungi dan memberikan jampi-jampi spesial ke stadion ini kemarin. 🙂

IMG_20171118_122814.jpg
Inilah view dari tempat duduk saya, Upper Tier Shortside Clock End

Saya duduk di bangku barisan atas belakang gawang, area yang disebut Clock End yang berseberangan dengan North Bank, yang terkenal dengan chant-chant kencang dari anggota REDaction Gooners. Atmosfer pertandingan yang benar-benar luar biasa. Kalau kemarin saya menyaksikan kemegahan dalam sunyi, di match day yang terlihat adalah lautan manusia yang bergelora, bernyanyi bersama sambil menggerak-gerakkan tangan. Emirates Stadium terasa bergetar oleh resonansi suara yang berirama dari puluhan ribu supporter Arsenal. Hebatnya akustik stadion ini bekerja baik sehingga seruan keras puluhan ribu orang ini tidak memekakkan telinga. Begitu positifnya semangat para pendukung Arsenal, bahkan mereka yang datang dengan skeptisme pun akan tergugah, mulai timbul kepercayaan diri bahwa Arsenal akan menang.

Kepercayaan diri pendukung pun menular ke pemain Arsenal. Mereka bermain luar biasa yang mengakibatkan pemain Spurs bermain sangat buruk. Arsenal terus menyerang tanpa kuatir dengan counter attack Spurs. Ozil, Sanchez dan Lacazette berkombinasi dengan sangat baik. Bellerin terus melakukan overlapping di sayap kanan. Koscielny dan Mustafi terus memotong operan pemain tengah Spurs ke penyerangnya. Pressing tinggi dilakukan para pemain Arsenal dan kejutannya Spurs sama sekali tidak melakukan pressing tinggi. Mereka terlihat seperti kelelahan, atau patah semangat, ketika sundulan Mustafi menyambut umpan lambung Ozil dari free-kick membuahkan gol pertama Arsenal.

Pendukung Arsenal semakin semangat dengan gol pertama itu. Lagu wajib what do you think of Tottenham kembali dikumandangkan, sambil tangan menunjuk-nunjuk ke area penonton tandang. Tidak lama setelah gol pertama itu, Sanchez menjebol gawang Spurs setelah kombinasi Bellerin dan Lacazette. Meledaklah seisi stadion Arsenal. Orang asing saling berangkulan, high-five, dan tertawa bersama.

Ada sebuah hal unik yang saya alami saat menonton pertandingan Arsenal dari sisi shortside, belakang gawang daripada dari sisi longside, samping lapangan. Saya pikir saya tidak akan menikmatinya. Kejutannya, menonton dari sisi ini pergerakan dan jalur operan pemain terlihat dengan jelas. Larinya Bellerin dan Sanchez yang menunggu passing dari Ozil sangat kelihatan. Saat mereka mulai berlari sambil melihat Ozil, saat Ozil melihat lari mereka. View ini juga adalah view pandangan pemain. Pemain secara natural akan menghadap ke arah gawang lawan. Formasi dan gerakan pemain terlihat lebih jelas daripada dari layar televisi. Maklum, saya tidak mengikuti langsung kompetisi sepakbola lokal di stadion. Bagi yang sering menonton liga Indonesia, mungkin memahami apa yang saya maksud.

Selain Sanchez dan Bellerin, pemain yang terus bergerak tanpa bola adalah Aaron Ramsey. Di layar televisi pergerakan Ramsey ini tidak akan terpantau. Ramsey punya stamina yang luar biasa, bergerak tanpa henti, memberikan ruang untuk rekannya dengan memancing pemain lawan dan melakukan penetrasi ke kotak penalti sambil meminta bola. Banyak pemain tampil cemerlang hari itu namun tetap bintang yang paling bersinar adalah Mesut Ozil, pusat permainan Arsenal.

Mustafi mengenai atmosfer hari itu:

The atmosphere at the stadium was really on fire, so from the beginning it was really loud. Coming back from injury and playing in the derby, you’re a bit nervous, but obviously scoring takes all the pressure off your shoulders. It felt really good.

I remember that I made a quick turn to have a look at the linesman. I was not thinking about the celebration, I was just enjoying the moment and let myself go. Scoring in the north London derby, I know that it means a lot to a lot of people. Obviously that gives you that feeling that you give them something back. After the game I was more happy for the people than for my goal.

Ngobrol dengan pendukung Arsenal di sebelah saya, mengertilah saya bahwa atmosfer derby hari itu memang luar biasa, di atas normal pertandingan home Arsenal. Melawan prediksi pundit bola yang rata-rata meramalkan kemenangan Spurs, supporter Arsenal bersatu padu menyemangati para pemain dari detik pertama hingga terakhir. Inilah esensi dari mendukung sebuah tim sepakbola. Berbeda dengan teriakan di depan layar kaca yang tak akan pernah terdengar oleh pemain, di stadion pengaruh pendukung itu sangat nyata. Supporter menjadi pemain, dan pemain berbalik menjadi supporter. Pada akhirnya seperti kata Mustafi, para pemain Arsenal ini lebih merasa berbahagia untuk supporter Arsenal daripada untuk dirinya sendiri, karena telah memberikan kebahagiaan kepada mereka, kebahagiaan yang berasal dari pengalaman.

Berbeda dengan teriakan di depan layar kaca yang tak akan pernah terdengar oleh pemain, di stadion pengaruh pendukung itu sangat nyata. Supporter menjadi pemain, dan pemain berbalik menjadi supporter.

Pertandingan selesai dan senyum serta tawa menghiasi wajah pendukung Arsenal yang bergerak keluar dari stadion. Saat itu saya merasa iri dengan Londoners, dengan mereka yang bisa menyaksikan pertandingan langsung seperti ini setiap minggu. Terkadang mereka mungkin tidak merasakan privilege yang mereka punya, terlahir dan hidup di dekat klub tercinta ini. Sebagian dari mereka mengecap kita, fans Arsenal dari belahan dunia lain, sebagai plastic fans, atau tourist fans. Mereka tidak sadar betapa inginnya kita bertukar tempat dengan mereka, dalam kemenangan maupun kekalahan. Hanya segelintir dari kita yang bisa merasakan pengalaman seperti ini sekali seumur hidup. Sebagian besar dari jutaan fans Arsenal di seluruh dunia bahkan tidak akan pernah mencicipi pengalaman ini, sayangnya.

Gerimis menyambut Gooners yang beranjak pulang. Karena gerimis, gerombolan pendukung yang masih ingin merayakan kemenangan pun bubar. Saya berjalan dengan sangat pelan, enggan mengakhiri pengalaman ini, enggan meninggalkan stadion klub tercinta. Setelah mengambil beberapa foto selfie bersama Berhala God Bergkamp, kembali saya bertemu seorang fans Arsenal dari Barcelona. Barter jasa fotografi, ia pun mengabadikan foto-foto saya dengan patung Bergkamp dan Henry, duet paling maut dalam sejarah Arsenal. Suatu hari nanti, mungkin anak saya akan melakukan hal yang sama, dengan patung Ozil dan Aubameyang…

Catatan Pinggir (buat mereka yang menanyakan soal biaya):

Estimasi biaya perjalanan ini (tidak termasuk shopping, makan, dll):

  • Tiket penerbangan Jakarta – Amsterdam pp = Rp 12.500.000 (ditanggung perusahaan)
  • Tiket penerbangan Amsterdam – London pp = Rp 1.200.000
  • Penginapan Airbnb, 4 malam x €60 = Rp 3.800.000
  • Tiket nonton Arsenal = Rp 2.900.000 (via calo online)
  • MRT dari airport dan ke stadion pp = Rp 600.000

Total estimasi biaya = Rp 21.000.000 = harga sepeda motor Honda Vario 150 = harga iPhone X 256GB.

Bila fans Arsenal ditanya, mana yang lebih membahagiakan: nonton langsung match day di Emirates Stadium atau beli iPhone X 256GB?

Tentu kita semua tahu jawabannya…

 

Membaca Aktivitas Transfer Arsenal – Part 2

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya mengenai aktivitas transfer Arsenal, saya ingin membahas update penjualan Szczesny dan aturan home-grown serta U21 Premier League yang abai saya perhitungkan dalam tulisan tersebut. Berdasarkan masukan dari pembaca yang mana strategi transfer klub di EPL juga memperhitungkan kuota home-grown (sangat masuk akal), maka mari kita memasukkan kedua aturan tersebut agar perkiraan skuad Arsenal untuk musim 2017/2018 lebih akurat.

Aturannya adalah sebagai berikut (saya persingkat):

  1. Setiap tim Premier League wajib mendaftarkan maksimum 25 pemain.
  2. Dari 25 pemain tersebut, minimum 8 home-grown yang artinya maksimum 17 non home-grown.
  3. Home-grown adalah pemain yang sudah didaftarkan di FA atau Welsh FA selama minimal 36 bulan atau 3 musim sebelum ia berusia 21 tahun. Arsenal punya 15 pemain HG sebelum menjual Szczesny. Saat ini kita punya 14 HG, artinya lebih dari cukup. Pemain HG Arsenal antara lain: Martinez, Jenkinson, Bellerin, Holding, Gibbs, Chambers, Coquelin, Ramsey, Wilshere, Chamberlain, Iwobi, Walcott, Welbeck, Akpom.
  4. Di luar daftar 25 pemain tersebut, klub boleh menggunakan pemain U21 tak terbatas. Pemain U21 adalah pemain yang usianya di bawah 21 tahun di tahun musim tersebut dimulai, dalam hal ini pemain yang usianya masih di bawah 21 tahun di tanggal 1 January 2017. Iwobi dan Jeff masuk dalam kategori pemain U21 Arsenal. Akpom dan Holding tidak masuk dalam daftar ini karena mereka kelahiran tahun 1995.
  5. Daftar 25 pemain tersebut hanya boleh diganti saat transfer window (summer ini dan winter nanti).
  6. Pemain yang tidak terdaftar dalam 25 pemain tersebut masih boleh bermain di FA Cup, League Cup, Champions League maupun Europa League.

Dengan konfirmasi dijualnya Szczesny ke Juventus, maka daftar pemain 1st team Arsenal saat ini menjadi 33 pemain termasuk 2 pemain U21 (Iwobi dan Jeff). Untuk memangkas dari 31 ke 25, Arsenal masih perlu menjual 6 pemain. Bila Arsenal tidak memasukkan Cazorla dalam daftar 25 pemain tersebut karena cedera panjangnya, maka Arsenal perlu menjual 5 pemain. Ini belum memperhitungkan pembelian baru Arsenal sebelum bursa transfer ditutup. Berikut adalah daftar pemain yang akan dijual (transfer list) Arsenal:

Debuchy, Gibbs, Jenkinson, Perez, Campbell, Akpom

Cedera Campbell yang baru saja terjadi jelas mempersulit strategi transfer Arsenal, kandidat pemain yang dijual turun jadi 5 pemain. Untuk menambah 1 atau 2 pemain baru, kita perlu menjual 6 atau 7 pemain, yang artinya tambah 1 atau 2 dari daftar di atas. Di sisi lain dari enam nama tersebut, 3 masuk kategori HG (Jenkinson, Gibbs, Akpom) yang artinya Arsenal akan mengurangi jumlah HG dari 14 ke 11. Dan karena Iwobi kita keluarkan dari list 25 pemain, jumlah HG kita akan menjadi 10 (sangat dekat dengan kuota 8 pemain). Maka bisa dimengerti Arsenal tidak mau kehilangan lagi pemain HG seperti Walcott, Chamberlain, Chambers dan Wilshere. Pendek kata, lebih baik menjual pemain non HG (isu diterimanya bid dari Leicester ke Elneny) daripada pemain HG (isu transfer Chambers ke Crystal Palace?) dengan komposisi skuad Arsenal saat ini. Problemnya, saat ini pemain HG lebih laku (dan mahal – re: Kyle Walker?) daripada pemain non HG karena masalah kuota HG yang dihadapi klub-klub EPL lainnya.

Daftar pemain Home Grown Arsenal jika target penjualan di atas tercapai: Martinez, Bellerin, Holding, Chambers, Coquelin, Ramsey, Wilshere, Chamberlain, Walcott, Welbeck.

Kembali ke tema tulisan saya sebelumnya, Arsenal perlu menjual pemain sebelum membeli lagi. Debuchy ditawarkan gratis ke Nice, gagal. Gibbs ditawar WBA 10 juta pounds tapi masih ditolak Arsenal (mungkin targetnya 15-20 juta) karena terdongkraknya harga pasaran belakangan ini. Jenkinson belum ada yang lirik dan Perez kabarnya akan kembali ke Deportivo dengan harga 10 juta pounds. Akpom mungkin akan dijual ke klub yang baru promosi mungkin sekitar 5 juta pounds? Bila Arsenal sukses mengeksekusi rencana jualan ini, maka ditambah dengan penjualan Szczesny, Arsenal bisa mendapatkan 35 – 40 juta pounds. Ditambahkan ke budget belanja Arsenal musim ini, mendapatkan Lemar + 1 pemain top lagi bukan hal yang tidak mungkin. Masalahnya bukan di dana, tapi di kuota pemain. Tanpa menjual kelima pemain transfer listed tersebut, sangat sulit bagi Arsenal untuk menambah pemain baru.

Ada satu solusi untuk hal ini. Arsenal bisa memilih tidak memasukkan nama Campbell dan Cazorla (serta pemain manapun dari 5 pemain transfer list tersebut yang tidak laku terjual) dalam daftar 25 pemain. Maka kita bisa menambahkan Lemar ke dalam skuad tanpa perlu menjual pemain lagi. Skuad Arsenal akan menjadi seperti ini (3-4-3):

3 GK: Cech, Ospina, Martinez

7 DF: Mertesacker, Koscielny, Mustafi, Gabriel, Holding, Chambers, Monreal

10 MF: Ramsey, Xhaka, Coquelin, Elneny, Chamberlain, Wilshere, Jeff, Kolasinac, Bellerin, Lemar?

7 FW: Sanchez, Ozil, Lacazette, Giroud, Welbeck, Walcott, Iwobi

Komposisi skuad yang seimbang untuk 3 lini depan-tengah-belakang yang juga memenuhi persyaratan HG: 10 pemain HG, 2 pemain U21, dan 15 pemain non HG.

Melihat komposisi pemain Arsenal di atas, dugaan saya Chambers (HG) akan dijual (nambah budget transfer 20 juta pounds), Wilshere dan Chamberlain dipertahankan, Ainsley Maitland-Niles dan Krystian Bielik (keduanya U21) akan dipromosikan, dan Arsenal akan membeli satu lagi pemain tengah (DM/CM) non HG. Siapakah pemain tersebut? Mari kita tunggu kejutan di bursa transfer.

Alexis Sanchez

Wenger mempertegas posisi Arsenal dalam hal transfer Alexis Sanchez: ia tidak akan dijual, bahkan tidak ke PSG sekalipun. Rumor PSG bid 70 juta pounds untuk Sanchez tampaknya hanya rumor belaka. Angka realistisnya lebih mendekati 35 – 40 juta pounds. Wenger dengan nada sinis mengatakan PSG beralih ke Neymar karena mereka tidak bisa mendapatkan Alexis Sanchez. Namun rasanya bila mereka gagal mendapatkan Neymar, mereka akan kembali ke Sanchez, dengan tawaran yang lebih tinggi tentunya. Apakah Arsenal akan tergoda menjual pemain dengan sisa kontrak setahun dan kemungkinan besar tidak berminat memperpanjangnya dengan harga transfer 70-80 juta pounds? Di atas kertas tawaran tersebut sangat menggiurkan. Namun kita perlu bertanya jujur kepada diri sendiri, di mana kita bisa mendapatkan pemain sekaliber Sanchez, yang akan langsung nyetel di PL dan memberikan 30 gol dan 13 assist per musim dengan harga 70-80 juta pounds saat ini? Jawabannya: tidak ada. Dua kandidat yang mendekati statistik tersebut musim lalu: Harry Kane dan Sergio Aguero. Apakah Spurs dan City akan menjual kedua pemain kunci tersebut ke Arsenal? Jelas tidak.

…di mana kita bisa mendapatkan pemain sekaliber Sanchez, yang akan langsung nyetel di PL dan memberikan 30 gol dan 13 assist per musim dengan harga 70-80 juta pounds saat ini?

Wenger berspekulasi dalam hal ini. Ia merasa ia tidak akan mendapatkan pemain sekaliber Sanchez di bursa transfer ini. Kedua pemain di bawah level Sanchez seperti Morata dan Lukaku terjual dengan harga mahal (70 dan 75 juta pounds). Ia berspekulasi dengan mendapatkan Lacazette untuk bermain sebagai CF, Sanchez dan Ozil dapat lebih menikmati sepakbola mereka karena adanya target yang mobile, cepat, dan clinical (ketiga hal yang tidak dimiliki seutuhnya oleh Giroud, Welbeck dan Walcott). Ia berspekulasi mempertahankan Sanchez akan memberikan peluang nyata untuk Arsenal dalam perebutan gelar EPL, meneruskan momentum 10 pertandingan terakhir Arsenal musim lalu dan kemenangan di final FA Cup. Melepas Sanchez akan mengubur peluang tersebut dan memulai semuanya kembali dari nol. Ia merasa Sanchez jujur soal keinginannya bermain di Champions League, dan bukan bermain semata-mata demi uang. Ia merasa Sanchez akan bermain mati-matian di musim terakhirnya demi kontrak barunya di klub manapun musim depan, dan demi Piala Dunia di akhir musim ini. Pendek kata, ia merasa Sanchez bukan Van Persie. Mudah-mudahan pertaruhannya kali ini benar.

Arsenal-v-Chelsea-Emirates-FA-Cup-Final-Wembley-Stadium
Wenger embraces Sanchez warmly, picture speaks a thousand words!

Saya sendiri sepakat dengan keputusan tersebut. Walaupun Arsenal kemudian melepas Sanchez dengan free transfer akhir musim ini, pengorbanan tersebut pantas jika Arsenal menjadi juara Premier League. Akan jauh lebih mudah bagi Arsenal menarik pemain top seperti Mbappe atau Griezmann musim depan dengan status sebagai juara Liga Inggris. Lacazette akan punya waktu satu tahun untuk adaptasi untuk mencapai permainan terbaiknya. Pemain seperti Iwobi dan Chamberlain juga akan punya waktu tambahan yang sama. Ozil dan Sanchez akan tetap menjadi dua pemain kunci Arsenal, dan pemain lainnya akan mengikuti standar tinggi mereka. Lemar, jika jadi bergabung, tidak akan mendapatkan beban sebesar bila Sanchez hengkang. Alih-alih mencari pengganti 30 gol dan 13 assist, pemain-pemain baru tersebut bertugas untuk menambah pundi-pundi gol Arsenal, menaikkannya dari sekitar 77 gol musim lalu menjadi 85-90 musim ini (benchmark juara liga).

Akan jauh lebih mudah bagi Arsenal menarik pemain top seperti Mbappe atau Griezmann musim depan dengan status sebagai juara liga Inggris.

Dalam hal ini Wenger juga sedikit egois karena ia tak punya lagi banyak waktu (2 tahun masa percobaan). Ia yang selama ini selalu memikirkan masa depan klub, sekarang harus memikirkan masa depannya sendiri. Ia harus menghadirkan prestasi sekarang, berapapun biayanya. Kehilangan 70-80 juta pounds yang ditukar dengan peluang nyata menjadi juara liga, sangat pantas bagi Le Boss. Dan kita, fans Arsenal yang selalu mempertanyakan mengapa Arsenal menjual pemain terbaiknya, tidak pantas mempertanyakan keputusan mempertahankan Sanchez ini. Mengutip alter-ego Bergkamp:

Do you really like Arsenal with money, or do you like Arsenal with trophies?

🙂

Membaca Aktivitas Transfer Arsenal #Lacanewsigning

Lacazette
Welcome to Arsenal, Alexandre Lacazette!

Bergabungnya Alexandre Lacazette ke Arsenal dengan nilai transfer yang memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh Mesut Ozil membuat saya tertarik untuk menulis artikel ini, bagaimana aksi transfer Arsenal berikutnya?

Sesuai pemberitaan di media, Arsenal membeli Lacazette dari Lyon senilai 45 juta poundsterling yang bisa berkembang menjadi 52 juta poundsterling tergantung performa klub dan pemain. Dengan harga pasar yang menjulang tinggi akibat bertambahnya daya beli klub Premier League, 45 juta poundsterling (+7 juta add-ons) untuk Lacazette tidaklah mahal. Tidak heran Jean Michel-Aulas terkesan kesal harus berpisah dengan aset termahalnya Lyon dengan harga segitu. Ia berharap menjual Lacazette senilai 57 juta poundsterling (65 juta Euro) mengingat tawaran West Ham senilai 43 juta poundsterling musim lalu saja ditolaknya. Kompromi akhirnya dicapai dengan skema add-ons di mana bila Arsenal berprestasi maksimum karena kontribusi Lacazette, Lyon akan mendapatkan 52 juta, hanya kurang 5 juta dari ekspektasi Aulas. Tapi untuk saat ini, perbedaan 12 juta dari ekspektasinya tentunya cukup mengesalkan Aulas. Good bargain for Arsenal terutama mengingat harga yang beredar di pasaran saat ini: 65 juta untuk Moratta, 100 juta untuk Lukaku?

Masuknya Lacazette dan Kolasinac (free transfer) di awal jendela transfer sangat membantu aktivitas transfer Arsenal musim ini. Kebutuhan urgent di lini depan dan belakang sudah terpenuhi. Arsenal bisa lebih relax dalam memantau harga pasaran dan pemain yang tersedia untuk pembelian berikutnya. Namun sebelum bisa memutuskan untuk membeli lagi, Arsenal perlu menjual pemainnya dahulu. Mengapa? Karena saat ini Arsenal memiliki 34 pemain first team (silakan cek website Arsenal.com) dengan kembalinya pemain-pemain pinjaman sedangkan peraturan liga adalah mendaftarkan 25 pemain dengan minimum 8 home grown dan 17 non home grown. Kita perlu menjual/meminjamkan sekitar 9 pemain.

Menuju keseimbangan tim utama

Mari kita lihat daftar tim utama Arsenal sebagaimana yang tertulis di websitenya:

GK (4): Cech, Ospina, Martinez, Szczesny

DF (12): Mertesacker, Koscielny, Mustafi, Gabriel, Holding, Chambers, Monreal, Bellerin, Gibbs, Debuchy, Jenkinson, Kolasinac

MF (9): Ramsey, Wilshere, Ozil, Chamberlain, Cazorla, Xhaka, Coquelin, Elneny, Jeff

FW (9): Sanchez, Perez, Giroud, Walcott, Iwobi, Welbeck, Campbell, Akpom, Lacazette

Dari daftar di atas, terlihat kita punya lebih banyak DF daripada MF dan FW. Aneh bukan? Namun bila Wenger memilih formasi 3-4-3 musim depan, maka 6 pemain (Bellerin, Debuchy, Gibbs, Jenkinson, Kolasinac, Monreal) bisa masuk ke kategori MF daripada DF. Jadi kita akan punya komposisi 4 GK, 6 DF, 15 MF dan 9 FW. Lebih dari cukup untuk membuat 2 tim inti, dan kelebihan banyak pemain di posisi MF dan FW. Idealnya dalam komposisi 25 pemain dan formasi 3-4-3 kita punya 3 GK, 7 DF, 9 MF dan 6 FW. Maka mari kita menyusun pemain sesuai komposisi tersebut. Versi saya sebagai berikut:

3 GK: Cech, Szczesny, Martinez

7 DF: Mertesacker, Koscielny, Mustafi, Gabriel, Holding, Chambers, Monreal

9 MF: Ramsey, Xhaka, Coquelin, Elneny, Chamberlain, Wilshere, Bellerin, Kolasinac, Iwobi

6 FW: Sanchez, Ozil, Lacazette, Giroud, Welbeck, Walcott

Iwobi bisa bertukar antar lini MF dan FW dengan mudahnya. Monreal juga bisa jadi LWB ataupun LCB karena ia bisa tampil sama baiknya di kedua posisi tersebut. Dari daftar di atas maka 9 pemain yang tersisih adalah sbb:

Ospina, Gibbs, Debuchy, Jenkinson, Cazorla, Jeff, Perez, Campbell, Akpom.

Jeff dan Akpom akan dipinjamkan mengingat usianya yang masih muda walaupun Akpom ada kemungkinan untuk dijual. Cazorla cedera hingga tahun depan jadi tidak akan masuk daftar 25 pemain. Sisanya sangat mungkin dijual selama ada yang naksir. Maka kita akan menjual 6 pemain, dan pinjamkan 2 pemain untuk mencapai keseimbangan tim utama dengan 25 pemain yang siap berkompetisi.

Dari sini kita bisa menyimpulkan untuk membeli 1-2 pemain baru lagi, Arsenal harus mampu “menyingkirkan” 8 pemain di atas, ditambah menjual 1-2 pemain yang masuk dalam daftar 25 pemain sementara. Fokus transfer Arsenal setelah ini jelas pada penjualan pemain.

…untuk membeli 1-2 pemain baru lagi, Arsenal harus mampu “menyingkirkan” 8 pemain di atas, ditambah menjual 1-2 pemain yang masuk dalam daftar 25 pemain sementara.

Menghitung budget transfer Arsenal

Musim lalu Arsenal menghabiskan dana hampir 100 juta poundsterling untuk transfer pemain. Musim ini dengan dana tambahan dari hak siar Premier League namun dikurangi jatah dari Champions League, saya prediksi Arsenal punya budget transfer yang serupa. Menghitung budget transfer secara akurat agak sulit karena dana transfer dicatat sebagai biaya “amortization” dalam laporan keuangan. Jadi misalnya biaya 45 juta pembelian Lacazette dengan kontrak 5 tahun, maka dalam laporan keuangan Arsenal 2017/2018 akan dicatat sebagai biaya amortization 9 juta poundsterling (45 dibagi 5 tahun). Sebuah klub biasanya akan menggabungkan biaya gaji dan amortization dalam budget staf. Kenaikan gaji Ozil dan Sanchez otomatis akan mempengaruhi ketersediaan dana dari “budget staf” ini yang mengurangi dana transfer Arsenal. Anggap gaji Ozil dan Sanchez naik masing-masing 150K per minggu, dikali 52 minggu = 7,8 juta. Untuk keduanya Arsenal harus menyediakan tambahan dana +/-16 juta poundsterling untuk gaji yang hampir sama dengan biaya amortization transfer pemain senilai 80 juta poundsterling untuk kontrak 5 tahun.

Konklusinya, menggandakan gaji Ozil dan Sanchez dari kisaran 150K/minggu ke 300K/minggu sama dengan membeli pemain baru senilai 80 juta poundsterling. Bagaimana, sekarang sudah jelas kan keberatan Arsenal untuk menaikkan gaji pemain secara signifikan?

…menggandakan gaji Ozil dan Sanchez dari kisaran 150K/minggu ke 300K/minggu sama dengan membeli pemain baru senilai 80 juta poundsterling.

Namun ada cara lain untuk justifikasi kenaikan gaji Ozil dan Sanchez tersebut. Melepas 6 pemain yang disebut sebelumnya, anggap saja masing-masing gajinya 50K/minggu, sama dengan membebaskan dana 300K/minggu. Maka melepas 6 pemain tersebut, Arsenal bisa menggunakan dana yang terbebaskan itu untuk menaikkan gaji Ozil dan Sanchez menjadi masing-masing 300K/minggu. Belum lagi tambahan cash yang akan diterima dari penjualan. Anggap saja Ospina 5 juta, Gibbs 8 juta, Debuchy 5 juta, Jenkinson 3 juta, Perez 10 juta, Campbell 4 juta, total terkumpul 35 juta. Itu skenario terbaik. Skenario terburuk anggap saja 30 juta. Tambahan 30-35 juta yang sekaligus menyediakan budget untuk menaikkan gaji Ozil dan Sanchez menjadi validasi kuat mengapa kita perlu menjual ke-6 pemain tersebut. Ke-6 pemain tersebut juga bermain sangat jarang di tim utama Arsenal sehingga penjualannya tidak akan berdampak pada harmonisasi tim.

OK untuk hitung-hitungan sederhana mari kita abaikan budget gaji pemain dan asumsikan saja budget transfer (transfer murni, tidak termasuk gaji) Arsenal 100 juta poundsterling musim ini. Sudah dipakai untuk Lacazette 45 (add-ons tidak dihitung sekarang karena tidak langsung menjadi biaya saat ini) dan Kolasinac 0. Sisa 55 + 35 dari penjualan pemain = 90 juta. Cukup untuk membeli 2 Lemar/Mahrez tapi tidak cukup untuk 1 Mbappe. Bila salah satu dari Giroud/Walcott/Wilshere/Chamberlain dijual, Arsenal akan dapatkan tambahan 25 juta, budgetnya menjadi 115 juta, cukup untuk 1 Mbappe. Untuk jumlah pemain juga ok karena 1 out 1 in. Bila Sanchez yang jadi dijual, Arsenal akan dapatkan tambahan dana 50 juta, budgetnya menjadi 140 juta, cukup untuk beli paket combo Mbappe+Lemar (barangkali tawaran ini akan menggiurkan Monaco). Kehilangan Sanchez tapi kedatangan Lacazette+Mbappe+Lemar, maukah Wenger mengambil resiko ini? Saya rasa ia siap. Secara tim, Arsenal akan lebih seimbang dan komplet. Apalagi Sanchez juga bukan tidak ada kelemahannya (kehilangan bola, cenderung bermain egois, enggan menjadi striker murni, dll).

Kehilangan Sanchez tapi kedatangan Lacazette+Mbappe+Lemar, maukah Wenger mengambil resiko ini?

Namun strategi jual-beli ini hanya akan berjalan mulus kalau 6 pemain di atas sudah berhasil dijual. Kedatangan Lacazette sangat berpengaruh positif terhadap eksekusi strategi transfer Arsenal. Terpenuhinya kedua posisi urgent itu berarti Arsenal bisa lebih relax dan tidak buru-buru dalam mengejar target baru. Bahkan untuk menjual 6 pemain lama, Arsenal bisa memasang harga tinggi karena cukup punya waktu (2 bulan) untuk bernegosiasi dan mengundang kompetisi klub pembeli. Pendekatan terhadap pemain baru bisa tetap dilakukan namun final dealnya bisa dilakukan mendekati akhir jendela transfer untuk mendapatkan deal terbaik. Jadi saya prediksi dalam beberapa minggu ke depan akan terjadi aktivitas jual, namun pembelian 1-2 pemain baru akan terjadi di Agustus atau setelah musim dimulai. Jangan heran, kaget ataupun panik.

Prioritas posisi pemain baru

Wenger dan Gazidis mengatakan mereka hanya akan membeli pemain baru yang siap langsung masuk starting eleven bukan untuk squad depth. Hanya top-top player yang akan upgrade kualitas starting eleven Arsenal sekarang. Mari kita uji starting eleven Arsenal dengan 3-4-2-1:

Lacazette

Sanchez – Ozil

Kolasinac – Xhaka – Ramsey – Bellerin

Koscielny – Mertesacker – Mustafi

Cech

Dari formasi di atas, bila Sanchez tidak dijual, saya hanya akan menggantikan Xhaka atau Ramsey dengan pemain baru. Lini tengah tampaknya yang paling perlu di-upgrade. Xhaka dan Ramsey masih sering dilewati lawan dengan mudah saat counter attack. Keduanya tidak memiliki agility dan akselerasi untuk recovery yang mumpuni sehingga mudah ditinggal lawan yang counter atau dribbling dengan cepat. DM/CM menjadi satu posisi yang sangat memerlukan upgrade. Lalu siapa kandidat DM yang top top player? Naby Keita (Leipzig) yang sempat dikontak Wenger musim lalu? Jean Seri (Nice) yang digosipkan di awal jendela transfer?

Namun Sanchez dan Ozil juga tidak memiliki kompetisi yang sebanding. Saat salah satu dari Sanchez atau Ozil cedera, Wenger hanya punya opsi Chamberlain, Iwobi yang gaya permainannya mirip, atau memainkan Welbeck dan Walcott di sana namun mengubah sedikit formasinya menjadi 3-4-3 daripada 3-4-2-1. Lemar atau Mahrez akan merupakan upgrade atas Iwobi dan Chamberlain. Maka jangan heran kedua nama itu ditiupkan media sebagai target berikutnya Arsenal. Sangat masuk akal untuk Arsenal mengejar salah satu dari keduanya walaupun Sanchez bertahan. Kompetisi yang sepadan Sanchez-Ozil dibutuhkan.

Saat salah satu dari Sanchez atau Ozil cedera, Wenger hanya punya opsi Chamberlain, Iwobi yang gaya permainannya mirip…

Apakah Arsenal punya budget 90 juta atau 115 juta atau 140 juta untuk sisa transfer musim ini, sangat tergantung pada bertahan-tidaknya Sanchez, Wilshere dan Chamberlain (asumsi saya Ozil akan perpanjang kontrak), dan ada-tidaknya peminat Giroud dan Walcott. Saya prediksi minggu berikutnya Arsenal akan membuat tawaran kontrak take it or leave it kepada Sanchez. Bila Sanchez menolak gaji 300K/minggu + signing on fee, maka menjualnya senilai 50 juta adalah langkah tepat, kepada siapapun.

Bila Sanchez bertahan, maka salah satu pemain (Giroud/Walcott/Wilshere/Chamberlain) perlu dijual untuk menampung 1-2 pemain baru. Saya akan memilih menjual Walcott, tapi sayangnya tak ada peminat serius. Giroud, hanya akan saya lepas bila kita bisa mendapatkan Mbappe. Mbappe bisa bermain di posisi kiri 3-4-3 dan merupakan investasi jangka panjang. Ia pemain spesial yang hanya lahir 1 dalam 10 tahun. Bila kita melepas Wilshere/Chamberlain, maka Lemar/Mahrez wajib didatangkan, ditambah satu lagi DM. Saat ini Chamberlain lebih berpeluang untuk dijual karena penampilan rata-rata Wilshere di Bournemouth jelas turunkan harganya di pasaran. Namun bisa jadi Wilshere lebih ngotot untuk pindah daripada Chamberlain.

Tidak ada pemain yang tak tergantikan. Dan saat ini dengan didatangkannya Lacazette dan Kolasinac, Wenger punya banyak waktu dan dana untuk memilih. Ia perlu tegas karena pemain-pemain tersebut sudah sering mengecewakannya. Saatnya melepas pemain yang tinggal di PHP zone dan saatnya mencoba harapan baru. Paling tidak itu akan mencambuk pemain-pemain lainnya dengan pesan Arsenal baru ini adalah Arsenal yang berambisi. Arsenal yang tak punya banyak waktu untuk pemain yang memilih bersantai-santai dalam karirnya. Arsenal yang tidak lagi mengandalkan Youth Programme (untuk jelasnya mengapa, baca tulisan saya 2012 tentang Model Finansial Arsenal). Arsenal yang ruthless.

Kesimpulan

Prediksi sisa aktivitas transfer Arsenal bila berhasil menjual 6 pemain fringe:

Skenario 1: Sanchez dan semua pemain di luar 6 pemain fringe tersebut bertahan, dana 90 juta pound. Beli Lemar/Mahrez + Keita/Seri. Loan Chambers dan Martinez.

Skenario 2: Sanchez bertahan, Giroud/Chamberlain dijual, dana 115 juta pound. Beli Mbappe kalau Giroud dijual atau beli Lemar/Mahrez + Keita/Seri kalau Chamberlain dijual. Loan Chambers dan Martinez.

Skenario 3: Sanchez dijual, dana 140 juta pound. Beli Mbappe + Lemar. Loan Martinez.

Dari ketiga skenario di atas, maka jangan heran kalau Arsenal masih mengincar Mbappe. Kita siap dan mampu membelinya. Sekarang semua tergantung apakah Mbappe siap untuk menjadi the next Thierry Henry (yang menginspirasi pemain generasi berikutnya seperti Lacazette) atau memilih menjadi the next Anelka (legenda yang tak pernah jadi, habis karirnya saat pindah ke Real Madrid).

You Can’t Undo The Past

“You can’t undo the past but you can certainly not repeat it.”

– Bruce Willis

Terkadang, apa yang terjadi di masa lalu tak dapat dihapus begitu saja. Arsenal memang menciptakan “new beginning” dengan kemenangan 2-0 atas Monaco di kandang mereka semalam tapi hasil agregat 3-3 tidak dapat meloloskan Arsenal ke babak berikutnya karena aturan away goals UEFA. Lagi-lagi Arsenal gagal lolos walaupun menang di leg kedua dan seri dalam agregat. Ini kedua kalinya kita mendapatkan hasil yang persis sama, seakan mengulang hasil di babak 16 besar UCL melawan Bayern Muenchen 2 tahun lalu.

Kita tidak dapat menghapus masa lalu begitu saja. Sebagian dari masa lalu akan selalu menghantui kita, membayangi kita, dan mempengaruhi kehidupan kita di masa kini. Tapi kita tentu bisa untuk tidak mengulanginya. Pelajaran dari masa lampau digunakan untuk tidak mengulangi lagi kesalahan di masa kini dan masa depan. Mereka yang belajar dari pengalaman sendiri mestinya akan lebih berhasil daripada mereka yang belajar dari pengalaman orang lain, apalagi dari mereka yang menolak untuk belajar. Arsenal mengulang kembali kesalahan dua tahun lalu dengan tidak menutup pertandingan saat skor 1-2. Satu gol lawan di menit-menit terakhir pertandingan terbukti demikian mahal harganya. Semestinya tahun depan kesalahan yang sama tidak akan terulang lagi, kalau para pemain dan Wenger mau belajar dari dua pertandingan UCL ini.

Hal positifnya adalah Arsenal kembali menang dan menjaga momentum bagus untuk kembali bertarung di liga dan FA Cup. Semenjak tahun 2015 dimulai, Arsenal memiliki hasil yang sangat bagus. Dari 16 pertandingan, 13 kali menang dan 3 kali kalah (lawan Southampton, Sp*rs dan Monaco). Untuk pertandingan EPL saja, Arsenal mencetak 8 kemenangan dari 10 pertandingan, 24 poin dari 30 poin maksimal. Hanya Liverpool yang tampil lebih baik di tahun 2015 ini dengan 8 kemenangan dan 2 seri, 26 poin dari 30 poin maksimal. Tabel di bawah ini menunjukkan hasil pertandingan Arsenal di tahun 2015.

Hasil Pertandingan Arsenal di Tahun 2015
                                            Hasil Pertandingan Arsenal di Tahun 2015

Yang menarik adalah tidak adanya hasil seri sepanjang 2015. Sepuluh pertandingan (sebelas bila menang di semifinal FA Cup) menunggu Arsenal untuk sisa musim ini. Bila kita bisa memenangkan semua 11 pertandingan tersebut maka gelar juara FA Cup dan peringkat kedua sudah pasti di tangan. Peringkat satu bisa saja diraih jika Chelsea melakukan bunuh diri di 10 pertandingan terakhir mereka. Selisih 7 poin cukup jauh, namun bila kita mengalahkan mereka 26 April nanti, selisih tinggal 4 poin. Satu kali draw dan dua kali kekalahan akan membawa mereka sama poinnya dengan Arsenal yang menang beruntun. Kemungkinannya kecil namun selama kita terus meraih kemenangan, Chelsea jelas akan tertekan sebagaimana apa yang sekarang sedang terjadi pada Manchester City.

Dari 9 pertandingan liga yang tersisa, 5 adalah pertandingan kandang dan 4 pertandingan tandang. Penghambat terbesar adalah Chelsea dan Liverpool di kandang serta Manchester United di tandang. Bila Arsenal bisa mengulangi performa mereka saat dua pertandingan tandang di Manchester, sangat mungkin nilai sempurna bisa diraih dari ketiga pertandingan tersebut. Kekecewaan di Liga Champions ini mestinya bisa diarahkan ke Premier League dan FA Cup. Fokus para pemain mesti diarahkan oleh Wenger ke 11 pertandingan tersisa. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, namun kita bisa tidak mengulanginya. Kesalahan elementer saat melawan Monaco di leg pertama bisa kita hindari. Kesombongan, menganggap remeh lawan, gung-ho dalam menyerang, lupa bertahan, lengah semenit dalam 90 menit, tak boleh dilakukan lagi. Penampilan profesional dalam 5 pertandingan semenjak kekalahan atas Monaco tersebut mesti diduplikasi untuk 11 pertandingan berikutnya. Musim ini belum selesai. Kita masih bisa menciptakan happy ending.

Olivier Giroud dan Aaron Ramsey

Bila awal musim adalah kisah soal Alexis, maka akhir musim tampaknya yang menjadi pemeran utama adalah duo Giroud dan Ramsey. Lagi-lagi mereka mencetak gol dan mencatatkan penampilan tim yang cemerlang. Keduanya mengulang kisah sukses musim lalu sebelum dilanda cedera. Alexis terlihat lelah belakangan ini dan perlu diistirahatkan. Walcott perlu mendapatkan kesempatan lebih untuk mengasah ketajamannya di depan gawang. Ramsey perlu diberikan tempat, walaupun mesti menggeser Cazorla. Mungkin Cazorla bisa bergantian dengan Ozil dalam memerankan playmaker.

Pilihan cukup banyak di lini depan dan tengah. Wenger harus pintar memainkan rotasi untuk menjaga kesegaran pemainnya. Welbeck, Walcott dan Ramsey sangat segar karena baru pulih dari cedera dan perlu mendapatkan kepercayaan pelatih. Mengistirahatkan pemain bintang seperti Alexis dan Ozil mestinya tidak menjadi hal tabu daripada memforsir mereka dan hasilnya tidak optimal. Dengan istirahat yang cukup, Alexis mestinya punya sedikit waktu untuk merenung dan berpikir bahwa sepakbola bukanlah beban individual semata. Kerjasama apik yang diperlihatkan Giroud dan Ramsey mestinya bisa mengingatkannya bahwa kemenangan itu hasil kerjasama tim yang baik. Ia terkadang terlihat begitu ngotot untuk memasukkan gol sendiri tanpa melihat posisi temannya.

Alexis mungkin masih berjuang dengan pelajaran bahasa Inggrisnya namun ia perlu mempelajari kalimat ini: “Victoria Concordia Crescit”. Bukan kalimat dalam bahasa Inggris, tetapi Alexis mungkin perlu memahami dan meresapinya.