Shrinking to Grow

Rebuilding Arsenal Part 3

Bila di artikel pertama mengenai Rebuilding Arsenal ini saya menuliskan tentang rangkuman strategi transfer Arsenal yang menjadi bagian pertama dari strategi rebuilding tim dengan merekrut dan mengembangkan pemain muda berusia di bawah 23 tahun dengan target panen jangka menengah dan jangka panjang, dan artikel kedua adalah mengenai kemungkinan besar Arsenal finish di top four musim ini, maka tulisan ini adalah tentang bagian ketiga dari strategi tersebut, mengenai formula rahasia dari progress Rebuilding Arsenal sejauh ini, yaitu Shrinking to Grow. Tulisan ini akan agak panjang, so bear with me...

Sometimes you have to shrink to grow. Just as losing fat while building muscle is the key to attaining peak physical fitness, companies need to shed underperforming brands while focusing on more promising ones.

David Harding and Charles Tillen

Strategi “shrink to grow” telah menjadi mantra yang umum di dunia bisnis. Menutup unit bisnis, anak perusahaan yang tidak menghasilkan pendapatan, menjual aset, mengurangi jumlah karyawan dengan tujuan agar kembali profitable adalah aksi yang beresiko, namun memungkinkan perusahaan untuk fokus ulang dan kemudian akselerasi pertumbuhan pendapatan setelahnya. Pendek kata, buang lemak sehingga yang tersisa hanya otot, dan bangun otot itu maka tubuh yang baru ini akan lebih sehat, bisa lari lebih cepat, angkat beban lebih berat.

Saya sendiri pernah menjadi karyawan yang merasakan strategi ini. Perusahaan kami adalah bagian dari grup holding yang cukup besar di Eropa. Sebelum pandemi, beberapa anak perusahaan yang beroperasi di beberapa negara sudah mengalami kerugian terus-menerus. Akibatnya profit yang dihasilkan dari beberapa anak perusahaan tergerus sehingga sebagai sebuah grup, perusahaan ini malah mengalami kerugian. Pandemi mengakselerasi keputusan perusahaan untuk kemudian melepas beberapa anak perusahaannya yang tidak perform, entah dengan dijual atau ditutup. Tentunya hal ini akan berdampak pada sejumlah karyawan yang harus dilepas juga, dan kompensasinya dibayarkan. Keputusan yang tidak mudah. Namun dalam 2 tahun kemudian grup perusahaan tersebut mulai menunjukkan sinyal “kembali sehat” dan laporan keuangannya mulai menunjukkan trend kembali ke “profitable”.

The Fall and Rise of SONY

Hal serupa juga dialami Sony. Siapa yang tidak kenal dengan pencipta Walkman yang terkenal di tahun 80-90-an sebelum kemudian ditaklukkan oleh iPod dan kemudian oleh smartphone. Di era tersebut kita mengenal Sony sebagai perusahaan elektronik besar dengan produk-produk terbaik. Dari televisi Trinitron, video recorder Betacam, CD player, sampai launching PlayStation di tahun 1994. Kemudian di pertengahan 90-an sampai awal 2000-an itu Sony ekspansi ke digital camera dengan produk Cybershot-nya, personal computer dengan VAIO, telekomunikasi dengan Sony Ericsson (handphone pertama saya), bahkan anime dengan Aniplex-nya. Ini melanjuti ekspansi mereka di awal 90-an ke dunia film dengan membeli Columbia Pictures dan di dunia musik dengan Sony Music-nya. Dengan ekspansi bisnis mereka, Sony menjadi grup besar dengan cakupan kelompok unit bisnis Electronics, Game, Pictures, Financial Services, dan Music. Namun unit-unit bisnis ini tidak terkoneksi satu sama lain, memiliki manajemen dan CEO-nya masing-masing.

Tahun 2009, untuk pertama kalinya setelah 14 tahun, Sony mencatatkan kerugian dalam laporan keuangan tahunan perusahaan. Berbagai faktor menjadi penyebab kerugian ini selain resesi ekonomi di tahun 2008: produk elektroniknya yang kehilangan pangsa pasar, TV Sony yang kalah harga dan pemasarannya dengan TV Samsung, demikian juga nasib mobile phone dan music player-nya yang ditaklukkan oleh iPhone dan iPod. PlayStation 3 adalah bisnis yang tidak menghasilkan profit karena harga produksi yang terlalu tinggi, dan untuk pertama kalinya console Sony tidak mendominasi pasar gaming (nomor 3 di bawah Nintendo Wii dan Xbox-360). Penjualan produk elektroniknya mengalami penurunan paling signifikan, dari kamera digital Cybershot, Handycam, sampai pada PC dan laptop VAIO. Sony yang dulunya adalah rajanya elektronik, produknya mulai ditinggalkan konsumer di pasaran, yang mulai mengadopsi produk-produk baru yang lebih murah dan lebih baik dari rivalnya (terdengar seperti Arsenal pasca Invincibles?).

Kerugian Sony tersebut berlangsung selama 4 tahun, lanjut ke 2010, 2011 dan 2012. Kemudian di tahun 2012 Sony mengganti CEO mereka dari Howard Stringer ke Kazuo Hirai (Kaz) yang sebelumnya menjabat sebagai CEO Sony Computer Entertainment Inc., yang mengurus bisnis console gaming Sony, PlayStation. Ia sukses membalikkan kondisi di PlayStation dari unit bisnis yang sangat terpuruk akibat blunder PS3 menjadi kembali profitable. Sebagai CEO Sony, Kaz kemudian bertindak tegas untuk mengembalikan buku Sony dari merah ke hitam dengan menjual aset Sony yang tidak menghasilkan profit, termasuk gedung headquarters mereka di US yang mereka banggakan. Kaz berkesimpulan bahwa untuk transformasi bisnis dan memposisikan Sony untuk pertumbuhan di masa depan, mereka harus bekerja sebagai “One Sony”, yang artinya kolaborasi, sharing aset, teknologi, konten dan pengetahuan di seluruh unit bisnis di dalam grup. Dengan demikian mereka bisa meningkatkan competitive advantage mereka. Hanya dalam setahun, berkat penjualan aset-aset Sony, laporan keuangan mereka yang diterbitkan di tahun 2013 untuk Fiscal Year (FY) 2012 menunjukkan keuntungan, untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.

Sony operating income dari 2011 hingga 2020

Tentunya semua strategi perlu waktu dalam implementasinya sebelum mencapai sukses besar. Di tahun-tahun berikutnya, Sony kembali berkutat dengan masalah profitabilitas, sebagaimana grafik di atas yang menunjukkan profit minim di FY 2013 dan 2014. Kaz terus melakukan divestasi bisnis yang tidak profitable, re-grouping unit bisnis dalam kelompok yang sama dan fokus investasi di bisnis yang menjadi kekuatan Sony saat itu seperti imaging sensor dan PlayStation. VAIO, merk PC dan laptop mereka yang prestisius akhirnya dijual karena terus-menerus “berdarah-darah”. Pabrik pembuatan smartphone mereka dikurangi dan smartphone Xperia difokuskan ke market higher end. Televisi Sony di-rebranding dengan fokus pada merk Bravia, dengan harga yang lebih kompetitif dan segmentasi pasar yang lebih jelas. Di bidang Music dan Pictures, Sony lebih selektif namun juga agresif dalam mengembangkan bisnis mereka. Lalu sesama bisnis unit internal mereka mulai berkolaborasi. Teknologi Bravia dipakai di Xperia salah satu contohnya. Demikian juga eksploitasi teknologi imaging sensor dan sound mereka di Sony Pictures maupun Sony Music.

Sejak FY 2015, Sony kembali menjadi perusahaan yang profitable, dan kali ini tidak lewat penjualan aset lagi. PlayStation 4 sukses besar, menjadi console nomor satu di dunia, bisnis elektronik mereka kembali menguntungkan. Bravia TV mampu bersaing dengan Samsung, LG TV dan kembali menjadi brand nomor satu di televisi LCD maupun OLED. Image Sensor Sony dipakai di iPhone dan hampir semua smartphone Android premium. Kameranya juga menjadi raja di segmen mirrorles camera (Sony pionir untuk produk ini, mendahului Nikon dan Canon). Dan sejak FY 2017, Sony Pictures dan Sony Music juga memberikan kontribusi fantastis. Sekarang Sony Music adalah publisher musik terbesar di dunia dan demikian juga dengan Sony Pictures yang pendapatannya nomor satu di dunia dalam 2 tahun terakhir ini berkat film Spider-Man, Venom, dan lain-lain mengalahkan studio film besar lainnya.

Empat tahun terakhir ini, Sony mengalami masa kejayaan yang luar biasa, dengan pendapatan dan profit terbesar sepanjang sejarah Sony. Penyumbang terbesar profit dan pendapatan tetap adalah dari Gaming (PlayStation), unit bisnis yang dahulu diselamatkan dan dibesarkan oleh CEO-nya. Kaz Hirai kemudian pensiun di tahun 2019 dengan ukiran tinta emas, ia yakin penerusnya mampu mempertahankan dan terus mengembangkan bisnis Sony. Terakhir, Sony sekarang masuk ke bisnis mobil, memanfaatkan teknologi imaging sensor-nya, mereka akan launching mobil listrik Vision-S. Sungguh sebuah turnaround luar biasa yang menjadi inspirasi di dunia bisnis. Di sini kita saksikan pentingnya peranan seorang pemimpin yang visioner. One Sony tetap menjadi slogan mereka hingga saat ini, di samping Kando (the power of emotional connection) yang juga dipopulerkan oleh Kaz. Strategi Shrinking to Grow Sony berhasil membalikkan keadaan finansial mereka, menjadikan mereka pemimpin di market dengan tetap membangun potensi untuk grow.

Membedah Laporan Keuangan Arsenal

Nah sama dengan apa yang terjadi dengan Sony di tahun 2008-2012, Arsenal semenjak tidak masuk di kompetisi Champions League (2017 sampai sekarang), terus menderita kerugian akibat pendapatan yang menurun sementara biaya klub malah makin membengkak. Biaya bertambah karena pembelian pemain baru yang kemudian diberikan upah tinggi dan perpanjangan kontrak pemain bintang yang juga meminta upah fenomenal (Ozil dan Auba). Mari kita periksa dulu angka-angka finansial yang ditampilkan dengan cantik oleh @SwissRamble.

Arsenal Revenue 2012 – 2021 (click to zoom in)

Angka Tahun di atas mengacu pada tahun di akhir musim, jadi 2021 artinya musim 2020-2021 (musim kemarin). Kita bisa melihat dari grafik di atas bahwa pendapatan Arsenal menurun semenjak tahun 2018 di mana Arsenal tidak lagi bermain di Champions League. Pendapatan Arsenal selama 4 tahun terakhir ini bahkan tidak menyentuh angka 400 juta pounds lagi (mulai saat ini kita menggunakan mata uang poundsterling). Dan dua tahun terakhir ini faktor pandemi membuat Arsenal tidak mendapatkan pemasukan dari tiket di stadion terutama musim kemarin. Musim ini (2021/2022) pendapatan ini akan kembali karena satu musim penuh ada penonton di lapangan. Kita juga bisa melihat bagaimana Europe TV Revenue turun signifikan sejak tidak bermain di Champions League. Musim ini pendapatan ini bahkan akan menjadi nihil. Broadcasting Revenue di musim 2021 naik dibandingkan 2020 ini karena musim 2020 yang menjadi lebih panjang (sampai akhir Juli) sehingga sebagian pembayaran jatuh ke tahun fiskal 2021. Bagaimana kalau kita bandingkan dengan pendapatan klub-klub lain di Premier League di tahun 2021?

Kalau melihat grafik di atas, Anda mungkin melihat suramnya nasib Arsenal, pendapatan masih kalah dengan tetangga dan hanya berada di urutan keenam tertinggi. Sama-sama kena dampak Covid, namun City, United dan Liverpool masih bisa memiliki pendapatan mendekati atau bahkan di atas 500 juta. Hal ini karena broadcasting revenue yang tinggi karena bermain di Champions League dan hadiah finish urutan di atas di PL (selisih 80-100 juta dengan Arsenal) dan juga karena commercial revenue mereka yang lebih tinggi (juga dampak karena bermain di Champions League, lebih banyak sponsor). Daripada melihat ini sebagai hal yang suram, saya justru melihat ini sebagai kesempatan. Artinya Arsenal punya ruang untuk membesarkan pendapatan hingga di level 500 juta per musim. Luar biasa bila bisa direalisasikan.

Bagaimana dengan Biaya Arsenal? Seperti kita ketahui Laba/Rugi ditentukan dengan rumus sederhana Pendapatan dikurangi Biaya. Problem Arsenal adalah Pendapatan yang turun malah didampingi oleh Biaya yang naik. Demi kembali ke UCL dengan cepat, Arsenal membeli pemain-pemain bintang di musim 2017/2018 yaitu Lacazette dan Aubameyang, memberi kontrak baru kepada Ozil. Arsenal gagal lolos ke UCL, Wenger dilengserkan. Tahun berikutnya masih dengan misi yang sama, namun kali ini dengan head coach baru, Unai Emery, tim rekrutmen Arsenal Sven Mislintat dan Raul Sanllehi belanja 5 pemain baru yang tentunya makin membengkakkan biaya upah. Nyaris lolos ke UCL di minggu-minggu terakhir membuat manajemen Arsenal makin penasaran sehingga musim kedua Emery juga sama, dibeli pemain bahkan dengan transfer fantastis dalam bentuk seorang Pepe yang dibanderol 72 juta pounds. Di musim 2020/2021, Emery sudah berganti Arteta, Arsenal hanya menambah Thomas Partey dan Gabriel, namun karena gagal membuang banyak pemain di musim ini, biaya upah Arsenal membengkak hingga ke level 238 juta. Persentase biaya upah terhadap pendapatan Arsenal pun meningkat dari yang level sehat sekitar 60% ke 73% di musim lalu.

Selain upah, komponen biaya lainnya adalah pengeluaran lain-lain (other expenses) bisa berupa pengeluaran untuk logistik, biaya perawatan gedung, biaya operasional, intinya semua yang di luar biaya upah. Setelah itu ada non cash flow expenses berupa amortisasi pemain dan depresiasi (fisik gedung). Dari grafik di bawah ini kita bisa melihat bahwa Other Expenses menurun karena pertandingan di stadion diselenggarakan tanpa penonton, dan biaya amortisasi pemain yang terus naik. Apa itu biaya amortisasi?

Saya pernah bahas di tulisan sebelumnya bahwa prinsipnya amortisasi adalah depresiasi nilai seorang pemain seiring dengan berjalannya kontrak si pemain. Misal kita membeli Pepe 72 juta dengan kontrak 5 tahun. Maka biaya amortisasinya per tahun adalah sebesar 14.4 juta. Jadi angka 117 juta di grafik kanan atas tersebut mengandung 14.4 juta dari Pepe. Ketika pemain tersebut dijual, maka biaya amortisasinya akan di-balance dengan harga jualnya, selisih yang tersisa dimasukkan dalam Profit on Player Sales. Kita bisa melihat biaya amortisasi pemain semakin meninggi sejak 2018. Ini disebabkan Arsenal semakin banyak membeli pemain dengan harga transfer yang tinggi.

Arsenal Cost 2012 – 2021 (click to zoom in)

Ada satu grafik di sebelah kanan bawah yang mungkin mengundang pertanyaan, kenapa interest payable Arsenal meningkat signifikan menjadi 40 juta dari yang sebelumnya 14 juta? Hal ini adalah karena penalti untuk pembayaran utang stadion lebih cepat. KSE meminjamkan Arsenal uang sebesar 202 juta untuk membayar lunas utang stadion, kemudian utang ke parent company Arsenal ini bisa dilunasi kapan-kapan dan dengan bunga yang kecil. Untuk tahun depan, interest payable ini akan menjadi jauh lebih rendah. Dengan Pendapatan dan Biaya di atas, maka di bawah ini adalah Grafik Laba/Rugi Arsenal.

Arsenal Profit/Loss 2012 – 2021 (click to zoom in)

Mungkin Anda sekarang bingung, banyak sekali grafik Laba/Rugi-nya, pakai yang mana? Mudahnya begini:

  1. EBITDA = Revenue – Expenses (Upah + Other Expenses).
  2. Operating Profit = EBITDA – Exceptional Items – Biaya Amortisasi Pemain – Depresiasi
  3. Profit/Loss before Tax = Operating Profit + Profit on Player Sales – Interest Payable
  4. Profit/Loss after Tax = Profit/Loss before Tax + Tax credit (or minus Tax charge)

Kita melihat di tahun 2018 Arsenal mendapatkan Profit on Player Sales yang sangat tinggi sehingga Operating Loss bisa ditutupi dan menghasilkan Profit di akhirnya. Di musim itu Arsenal menjual Ox, Walcott, Giroud, Szczesny, Coquelin, Paulista, Gibbs dan swap Sanchez dengan Mkhitaryan. Dikarenakan sebagian besar pemain-pemain tersebut dibeli dengan harga murah dan sudah bermain lebih lama dari kontrak pertamanya, sehingga biaya amortisasinya bisa dikatakan nol, maka semua angka penjualannya akan dianggap sebagai profit (ingat Profit Player Sales = Sales dikurangi sisa amortisasi). Namun di tahun yang sama kita bisa melihat Arsenal mengalami Operating Loss (grafik kuning) tanpa memperhitungkan player sales tersebut karena pendapatan yang sudah menurun akibat hanya berpartisipasi di UEL.

Jika kita hanya mengambil angka 2 tahun terakhir, maka laporan Laba/Rugi Arsenal secara lengkapnya adalah sebagai berikut:

Arsenal Profit/Loss Account 2020 & 2021

Room to Grow

Kerugian signifikan selama 3 musim terakhir (total 182 juta) menyisakan cash yang hanya tersisa 18.8 juta dari yang sebelumnya 110 juta (akibat kerugian tahun 2021), Arsenal jelas berada di ambang kebangkrutan. Namun di awal musim ini kita belanja untuk transfer senilai 150 juta. Bagaimana mungkin? Ini karena KSE sebagai pemilik Arsenal menyediakan dana talangan dan Arsenal yakin bahwa dengan kembalinya penonton ke stadion musim ini dan cost saving yang dilakukan di musim ini, angka di laporan Laba/Rugi musim ini bisa kembali hitam atau paling tidak mendekati. Kita akan ulas di bawah ini bagaimana caranya.

Pertanyaan jangka panjangnya adalah bagaimana manajemen Arsenal dapat melakukan turn around ala Sony? Untuk Arsenal kembali menjadi klub yang profitable sehingga dapat membayar utang stadion (ke KSE) dan invest lebih banyak di aset fisik maupun skuad. Menumbuhkan pendapatan klub untuk mengejar ketertinggalan dari rival-rivalnya di Inggris. Hal termudah tentunya adalah dengan lolos ke Champions League sesegera mungkin. Pendapatan dari UCL bisa sekitar 80-100 juta semusim, sedangkan UEL sekitar 15-30 juta semusim. Namun seperti kata Per Mertesacker, Arsenal seperti mendapatkan tamparan keras ketika upaya untuk buru-buru kembali ke Champions League itu (dengan merekrut pemain bintang) gagal dalam 4 musim terakhir ini. Strateginya perlu diubah.

Mulai dari pertengahan musim lalu sebenarnya strategi Arsenal yang berbeda sudah dimulai. Seperti yang dilakukan Sony, Arsenal berpikir aset mana yang bisa dilepas? Aset yang membebankan dan tidak memberikan nilai tambah. Arsenal mengadopsi strategi shrinking to grow daripada adding to grow yang diterapkan 3 musim lalu. Perginya Raul (baca: dipecat) di awal musim lalu memudahkan hal itu. Vinai, Edu dan Arteta di bawah supervisi Tim Lewis meracik resep baru. Pertama, mereka mengidentifikasikan pemain (aset) yang bisa dilepas untuk mengurangi beban upah. Muncullah nama-nama seperti Ozil, Kolasinac, Sokratis, Mustafi, Mkhitaryan, Torreira, Guendouzi, Mavropanos. Namun karena masa pandemi dan sulitnya mencari klub yang berminat untuk membayar upah tinggi pemain-pemain tersebut, hanya Mkhitaryan yang berhasil dilepas free, sedangkan Torreira, Guendouzi dan Mavropanos yang ingin dijual hanya dapat loan ke klub lain. Empat pemain lainnya tetap tinggal di klub. Arsenal tidak putus asa, di musim dingin 2020/2021 tersebut, Ozil, Sokratis dan Mustafi dilepas gratis sedangkan Kolasinac dipinjamkan. Sayangnya karena upah Ozil demikian tinggi, Arsenal kabarnya masih harus membayar 90% upahnya hingga habis sisa kontraknya. Total saving upah pemain di musim itu kurang lebih sebesar 27 juta, angka yang cukup signifikan untuk menjaga biaya upah pemain Arsenal mengingat di musim tersebut Arsenal juga mendatangkan pemain baru yaitu Gabriel, Partey dan Willian.

Di awal musim ini, Arsenal lebih agresif lagi dalam strategi lepas asetnya. Willian bersedia dilepas gratis setelah dilobi Edu (puji syukur – alhamdulillah), David Luiz tidak ditawarkan kontrak baru. Willock dijual dan Bellerin, Saliba, Nelson, Torreira, Guendouzi, Runarsson dipinjamkan ke klub lain. Di musim dingin AMN dan Mari dipinjamkan, Chambers, Kolasinac dan Aubameyang dilepas gratis (kasus Auba dengan kompensasi sekitar 5 juta). Aksi agresif ini beserta dengan telah lepasnya Ozil, Sokratis dan Mustafi musim lalu dalam kalkulasi saya berhasil menghemat biaya klub sebesar 51 juta dari biaya upah musim lalu yang sebesar 237.7 juta (sesuai laporan keuangan 2021). Tentunya Arsenal juga mendatangkan 6 pemain baru dengan total upah sekitar 21 juta. Maka biaya net upah yang dapat dikurangi di musim ini dari musim lalu adalah sebesar 30 juta. Kita akan melihat di laporan keuangan 2021/2022 biaya upah Arsenal di kisaran 205-210 juta. Angka yang sangat sehat jika pendapatan Arsenal naik ke kisaran 360-380 juta musim ini (karena tiket stadion). Selain itu, dengan perginya Aubameyang, Kolasinac dan Chambers secara permanen, biaya upah di musim depan akan berkurang otomatis sekitar 18 juta dari musim ini, menyisakan ruang untuk pemain-pemain baru di musim depan.

Tidak hanya dari besaran upah pemain, Arsenal juga mengurangi headcount pemainnya. Dari total 27 pemain first team di awal musim dikurangi menjadi hanya 21 pemain setelah bursa transfer musim dingin. Dengan pemain yang lebih sedikit, Arteta akan lebih mudah menjaga tim agar tetap lebih solid apalagi hanya bermain di Premier League. Pemantauan individual setiap pemain akan lebih mudah dan setiap pemain akan mendapatkan perhatian yang lebih banyak dengan sendirinya. Baik dari sisi biaya maupun jumlah, Arsenal berhasil shrinking the team dalam tiga transfer window. Arsenal yang langsing dan ringan daripada yang gemuk dan berat. Sekarang tinggal masalah build up muscle-nya.

Selain pemain, staff juga dipangkas oleh Edu dan Vinai. Scouting tim yang dipimpin oleh Francis Cagigao yang meneruskan network yang sebelumnya dibangun oleh Steve Rowley dirombak total oleh Edu. Arsenal melepas hampir semua scout lama, kemudian perlahan-lahan membangun networking scout yang baru dengan basis regional, scout generasi baru yang akan dikombinasikan dengan data dan video analisis. Sebelumnya scouting tim Arsenal dan data tim Arsenal (StatDNA) seperti berjalan masing-masing. Hasil sementara perombakan ini sudah terlihat dengan 6 pemain baru musim ini yang semuanya bisa dikatakan sebagai pembelian yang bagus. Kata kuncinya adalah efisiensi dan kolaborasi (mirip dengan kasus Sony kan?). Kembali lagi ke strategi shrinking to grow.

Mari kita kalkulasi sekarang dampak dari strategi shrinking to grow di musim ini. Saya tuliskan angka dalam juta pounds di bawah ini estimasi posisi keuangan Arsenal di tahun 2022.

  • Pendapatan = 380 (328 – 28 (no Europa League) + 80 (tiket stadion))
  • Upah = 205 (hasil saving upah pemain dan scouting team)
  • Other Expenses = 70 (stadion fungsi kembali + biaya lain2)
  • Amortisasi = 117 + 30 (transfer 150 juta musim ini dibagi 5 tahun) – 12 (amortisasi Mustafi, Sokratis habis) = 135
  • Depreciation = 17
  • Profit on Player Sales = 25 (Willock) + 10 (Guendouzi) + 3.5 (Mavropanos)
  • Net Interest = 10 (pinjaman ringan dari KSE + interest loan baru)
  • P/L before tax = 380 – 205 – 70 -135 – 17 + 38.5 – 10 = -18.5 (dengan tax credit ini akan menjadi sekitar -16 juta)
  • Bila Torreira bisa dijual sebelum akhir musim ke Fiorentina sesuai harga option to buy-nya (15 juta euro), maka bisa dikatakan Arsenal break-even musim ini.

Arsenal hampir kembali ke break-even di akhir musim ini dengan kalkulasi di atas. Kita bisa melihat betapa pentingnya penghematan upah pemain dan profit dari penjualan pemain untuk finansial sebuah klub. Dan yang lebih penting lagi, angka-angka di atas tercapai tanpa Arsenal bermain di kompetisi Eropa. Arsenal sekarang menjadi organisasi yang lebih langsing dan ringan, tidak lagi “European League team with a Champions League budget” sebagaimana yang disebutkan Josh Kroenke beberapa tahun lalu.

Tanpa kompetisi Eropa pun di musim mendatang (worst case scenario) Arsenal bisa survive secara finansial sambil menyediakan ruang pertumbuhan yang sangat besar untuk penambahan personil first team, tergantung dari pencapaian Arsenal musim ini (Champions League atau Europa League). Matematika sederhananya, bila Arsenal lolos ke Champions League, tambahan budget sebesar 80 juta pounds bisa untuk membeli 5 pemain top dengan budget transfer 200 juta pounds dengan upah rata-rata 120K/minggu setiap pemainnya dan Arsenal masih tidak mengalami kerugian. Tentunya budget ini tak perlu langsung dihabiskan di satu bursa transfer. Sedangkan kalau lolos ke Europa League, tambahan budget sebesar 25 juta pounds tentunya hanya cukup untuk membeli maksimal 2 pemain baru yang bagus. Jomplang bukan? Tentu budget ini juga ditentukan oleh penjualan aset yang masih dimiliki Arsenal. Nelson, Bellerin, AMN and The Great Cedric Soares bisalah laku masing-masing 50 juta pounds bukan? 😉

bila Arsenal lolos ke Champions League, tambahan budget sebesar 80 juta pounds bisa untuk membeli 5 pemain top dengan budget transfer 200 juta pounds dengan upah rata-rata 120K/minggu setiap pemainnya dan Arsenal masih tidak mengalami kerugian.

@Jalanarsenal

Josh Kroenke’s Formula

Sebelum Super Bowl 2022 dimulai di mana LA Rams, klub American Football-nya Stan Kroenke berlaga untuk kedua kalinya dalam 4 tahun terakhir ini (bukan hal yang mudah), ada sebuah podcast interview menarik yang mendatangkan Josh Kroenke di US. Josh di masa mudanya adalah pemain basket NCAA, kompetisi basketball tingkat universitas di US. Pemain basket NCAA yang bertalenta kemudian akan di-draft untuk kompetisi NBA ketika mereka lulus kuliah. Karena keterlibatannya tersebut dengan basketball, ia memiliki dua sahabat karib yaitu Richard Jefferson dan Channing Frye yang dua-duanya adalah mantan pemain NBA. Mereka berdua juga hadir dalam podcast ini.

Karena keakraban ketiganya, interview berjalan dengan lancar dan Josh yang katanya lebih pendiam itu menjadi lebih terbuka dalam bercerita tentang masa lalunya, yang disambung dengan Super Bowl, LA Rams dan SoFi Stadium-nya yang megah, upaya ayahnya Stan dalam melawan kritik saat memindahkan The Rams dari St.Louis ke LA, hingga tentang Nikola Jokic (Denver Nuggets) yang menjadi MVP NBA musim lalu. Perlu diketahui Josh terlibat langsung dengan 3 tim yang di bawah franchise KSE yaitu Denver Nuggets (NBA), Colorado Avalanche (NHL) dan Arsenal sedangkan Stan lebih fokus ke LA Rams karena pembangunan stadion baru yang memakan sebagian besar kekayaannya dan juga karena ia tak boleh terlibat langsung dengan klub olahraga lainnya di US akibat aturan baru. Josh kemudian mulai membahas Arsenal di menit ke-48, bisa disimak di video di bawah ini.

Josh Kroenke’s Journey with Arsenal

Ada beberapa hal yang menarik dari cerita Josh tentang Arsenal. Pertama, ia menyadari betapa dalamnya perasaan memiliki fans sepakbola di UK terhadap klub bolanya yang sangat berbeda dengan bagaimana keterikatan warga US dengan tim olahraga di sana. Way deeper adalah istilah yang dipakainya. Sebagaimana yang kita ketahui, bagi supporter sepakbola di UK, memilih satu tim itu lebih-lebih daripada memilih istri/suami, satu pilihan untuk seumur hidup dan mereka ga akan berubah. Dan lebih-lebih daripada agama, seorang supporter akan juga “memaksakan” anaknya untuk memilih klub yang sama untuk didukungnya seumur hidup. Sepakbola menjadi bagian besar dari identitas diri. Josh merasakan itu selama ia berada di London, terutama tepat sebelum era pandemi dimulai.

Kemudian ia mengangkat nama Mikel Arteta secara khusus.

Mikel knows the culture that we want to have (as our ex player under The Great Arsene Wenger). He was the assistant manager of Pep Guardiola so Mikel has a very good idea of what elite coaching and culture looks like. But trying to implement it on the fly and getting the rug kind of pulled out from under you with Covid has been challenging.

Ketika Arsenal sedang mengalami transisi pasca Wenger, membuat struktur baru untuk menggantikannya yang memegang segala-galanya sudah merupakan tantangan. Ditambah lagi dengan kasus Covid, yang kemudian menciptakan masalah baru, hilangnya hampir sepertiga pendapatan. Bila di Amerika pendapatan dari sebuah kompetisi akan dibagi merata ke semua klub dan ada sistem yang dikenal sebagai pain/gain sharing sehingga ketika pandemi berdampak pada turunnya pendapatan, otomatis gaji pemain juga akan diturunkan. Demikian juga sebaliknya saat ada kenaikan pendapatan. Hal ini tidak ada di sepakbola Eropa. Mendengar Josh bicara soal ini, saya menduga kebijakan pay cut gaji pemain 12.5% di pertengahan musim 2019/2020 adalah ide darinya dan kita tahu Arteta menjadi pionir dalam menjalankan kebijakan itu kepada pemain-pemain Arsenal (yang kemudian memicu konfliknya dengan Ozil).

Klub-klub olahraga di US baik di NBA, NFL ataupun NHL semua menggunakan sistem salary cap, trade quota dan draft pick dalam kebijakan perekrutan pemain. Jadi setiap tim mendapatkan urutan draft pick untuk mengambil talenta baru yang terbaik yang tersedia di setiap awal musim. Nah urutan draft pick itu juga dapat ditukar dengan jatah trade pemain bintang misalnya. Umumnya draft pick digunakan jika sebuah klub butuh pemain muda dengan ceiling yang tinggi yang bisa mereka kembangkan untuk menuai hasil beberapa tahun kemudian. Sementara klub lainnya mungkin sedang membutuhkan pemain bintang saat ini juga dan bersedia melepas draft pick tersebut. Kebiasaan mem-balance antara pemain muda dan pemain bintang inilah yang menjadi formula KSE dalam menjalankan tim-tim olahraganya. Akhir-akhir ini mereka juga menggunakan formula baru di franchise-nya: mempercayakan pada pelatih muda (Sean McVay pelatih LA Rams direkrut saat ia berusia 30 tahun), membangun culture elite team, dan bergerak cerdas dalam strategi pembangunan tim dengan kombinasi draft pick dan trade, tentunya tanpa melebihi budget yang diizinkan. Saat ini franchise KSE rata-rata berprestasi sangat baik, entah memimpin klasemen (Colorado Rapids dan Avalanche) atau masuk ke playoff seperti Nuggets dan Rams.

Tahu kapan harus mendatangkan dan membuang pemain bintang, kapan harus membina pemain muda ini jugalah yang diterapkan di Arsenal secara efisien di musim ini. Formula KSE dipakai tanpa ragu. Sebanyak 6 pemain baru yang didatangkan Arsenal musim ini semua berusia tidak lebih dari 23 tahun (sebuah hal yang jarang terjadi di PL), sebuah strategi yang meletakkan keyakinan pada kemampuan membangun tim dengan pemain muda bertalenta sebagai porosnya. Arsenal juga tidak ragu untuk spend big money ketika mereka berupaya mendapatkan Vlahovic winter kemarin. Arsenal juga tidak ragu ketika harus melepas Ozil dan Auba karena dirasakan waktu keduanya sudah lewat. Keputusan-keputusan besar ini tentunya diambil bersama dan direstui oleh Josh. Tanpa dukungan owner, tidak ada manager yang berani “menyia-nyiakan” pemain bintang bergaji tertinggi di klub. Kalau melihat cara ia bercerita tentang Nikola Jokic, bagaimana perkembangannya dari pemain yang tidak dilirik di draft pick sampai menjadi MVP NBA, Josh tampaknya adalah tipe owner yang terlibat cukup dalam di klubnya sendiri sampai level memahami pemainnya. Saya yakin Auba yang diisolasikan oleh Arteta dengan tegas sejak kasus disiplinnya itu tentunya juga merupakan hasil konsultasinya dengan Josh.

Unity antara pemilik, Board of Directors, manajemen dan pemain adalah tema yang diusung Arteta musim ini. Terakhir adalah koneksi antara pemain dengan supporter di lapangan. Unity dan Trust The Process menjadi slogan Arsenal dan hal itu penting. Ketika arah sebuah organisasi itu off-track karena satu dan lain hal, slogan misi tersebut akan mengingatkan kita untuk kembali ke jalan yang benar. Saat Gabriel membuat blunder misalnya, Unity akan mengingatkan pemain-pemain lainnya untuk tidak menyalahkannya dan sebaliknya berusaha keras bersama untuk membalikkan keadaan. Saat Arsenal terpleset dengan kalah di kompetisi Cup domestik misalnya, Trust The Process mengingatkan fans dan pemain untuk lebih melihat big pictures daripada hasil saat itu yang mengecewakan. Melihat progress tim yang nyata telah terjadi dan tidak terlalu memusingkan tersandung batu satu-dua kali dalam perjalanan ini.

Unity dan Trust The Process menjadi slogan Arsenal dan hal itu penting. Ketika arah sebuah organisasi itu off-track karena satu dan lain hal, slogan misi tersebut akan mengingatkan kita untuk kembali ke jalan yang benar.

@Jalanarsenal

Ahead of Schedule

Dalam artikel pertama serial Rebuilding Arsenal ini, saya menulis tentang bagaimana Arsenal sengaja tidak menyebutkan target musim ini. Belajar dari musim-musim sebelumnya dan karena adopsi strategi shrinking to grow ini, sulit untuk memastikan berapa tahun yang dibutuhkan untuk menuai hasil. Sementara itu tekanan eksternal terhadap tim muda ini karena target yang tinggi tidaklah membantu. Namun dalam hati, saya yakin Arsenal memasang target minimal kembali ke Europa League (peringkat ke-6). Sekarang, tim ini bisa dikatakan ahead of schedule, memimpin persaingan untuk kembali ke Champions League langsung musim depan tanpa lewat jalur Europa League. Keyakinan tim ini dan Arteta semakin jelas bila kita membaca dan menonton wawancara pemain dan Arteta. Target top four sekarang tidak malu-malu lagi diutarakan. Mereka semua bisa merasakan dan melihat target ini sangat nyata saat ini.

Bila Arsenal bisa kembali ke Champions League musim depan, maka potensi grow tim ini sangat besar. Selain garansi pendapatan tambahan senilai 80 juta per musim, Arsenal juga memiliki biaya upah yang jauh lebih kecil daripada tim-tim Champions League sekarang. Lihatlah Grafik di bawah ini.

Dari segi upah, Arsenal masih 100 juta lebih rendah dari klub-klub besar lainnya yang merupakan langganan UCL. Selain itu upah pemain Arsenal tidak akan meningkat drastis dalam tahun-tahun ke depan karena pemainnya masih muda-muda dan dikontrak 5 tahun. Kenaikan gaji untuk pemain baru hanya akan terjadi setelah 3 tahun, saat sisa kontraknya 2 tahun. Menambah 5 pemain baru dengan rata-rata gaji 120K/tahun hanya akan menambah biaya upah Arsenal sebesar 31 juta saja. Dan 5 pemain baru itu bukan jumlah yang sedikit, hampir separuh dari starting line-ups. Bila pendapatan Arsenal bisa mendekati Liverpool dan Chelsea (500-an juta) lewat partisipasi di Champions League dan peningkatan pendapatan komersial, sedangkan biaya upah jauh lebih rendah, maka ruang yang tersisa antara pendapatan dan biaya itu dapat digunakan untuk amortisasi pemain alias transfer pemain baru. Ingat, rumusnya adalah budget transfer = nilai amortisasi per tahun dikali 5 (tahun). Jadi kalau ada ruang amortisasi sebesar 40 juta, sama dengan budget transfer 200 juta.

Namun Arsenal harus disiplin dalam penerapan strategi shrinking to grow ini. Serta merta melupakan prinsip dari strategi ini dan kemudian mengejar Haaland misalnya yang meminta gaji 30 juta per musim dan komisi agent yang gila-gilaan adalah strategi bunuh diri. Demikian juga misalnya Mbappe yang dapat dihadirkan dengan free transfer namun minta gaji 50 juta per musim. Kekuatan shrinking to grow ini ada pada efisiensi budgeting dan kolaborasi yang saling melengkapi, bukan pada fokus ke satu bintang. Pemain bintang bila sampai cedera panjang saja atau turun performanya (seperti Auba) maka uang puluhan juta going down the drain di musim itu juga. Value for money-nya tidak seimbang selain untuk gengsi-gengsian ala Real Madrid dan PSG.

Lebih menarik adalah membangun value dari pemain muda yang dimiliki Arsenal. Bukayo Saka misalnya. Ia sangat berpotensial untuk menjadi pemain pertama Arsenal yang menembus market value 100 juta pounds walaupun tidak untuk dijual. Martinelli adalah pemain lainnya. Emile Smith Rowe, Odegaard, Lokonga, Tomiyasu dan bahkan Tavares adalah pemain-pemain yang berpotensi memiliki market value di atas 50 juta dalam beberapa tahun mendatang. Ben White sudah terlihat jauh lebih berharga daripada Varane dan Ramsdale sudah berharga dua kali lipat dari harga belinya, apalagi saat ia menjadi kiper timnas nomor satu Inggris di Piala Dunia nanti.

Arteta baru saja berujar di wawancara terbarunya, “Every window has to be a way and form for us to take the club to the next level.” Setelah shrinking, kini saatnya Arsenal untuk grow, namun dengan konsistensi strategi yang sama yaitu efisiensi dan kolaborasi.

Up The Arsenal!

Race to Top Four

Rebuilding Arsenal Part 2

Musim ini adalah soal meletakkan pondasi. Bagaimana tim ini bisa bermain dengan komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah mencerminkan tim Arsenal yang sesuai dengan reputasinya, by far the greatest team the world has ever seen. Memainkan sepakbola menyerang dengan pressing dan possession yang berkepanjangan. Tentunya Arsenal berharap bisa lolos minimal top six di akhir musim agar bisa kembali bermain di kompetisi Eropa namun saya yakin dalam hati Arteta dan pemain-pemain Arsenal, top four selalu menjadi incaran mereka (no pressure, team). Di akhir Desember nanti, kita bisa lihat sejauh apa posisi Arsenal dari top four, dibanding secara relatif dengan penampilan klub-klub lainnya.

Rebuilding Arsenal

Saya menulis kutipan di atas di bulan September 2021, tentang strategi rebuilding Arsenal yang termasuk di dalamnya adalah strategi transfer pemain. Lima bulan kemudian, kita sekarang menjadi kandidat top four yang paling kuat di Premier League, bersaing dengan Manchester United dan Tottenham Hotspur yang memiliki head coach baru, dan West Ham United yang cukup stabil di musim lalu dan konsisten bertengger di posisi top four di awal musim ini.

Premier League Table GW 27

Sebagaimana ditunjukkan tabel di atas, Arsenal berada di peringkat keenam. Namun jumlah pertandingan yang dimainkan tidaklah sama di antara keempat tim ini (24 – 27) sehingga perbandingan yang lebih akurat mengenai peringkat tim adalah dengan menggunakan konsep PPG (point per game) di mana jumlah poin yang terkumpul dibagi dengan jumlah pertandingan yang telah dimainkan sebuah tim. Dengan demikian akan didapatkan urutan peringkat klasemen sebagai berikut:

  1. Arsenal: 1.88
  2. Manchester United: 1.74
  3. Tottenham Hotspur: 1.68
  4. West Ham United: 1.67

Bagaimana bila ada fans yang berujar, “OK, Arsenal PPG-nya paling tinggi, namun 3 game in hand-nya adalah melawan Liverpool, Chelsea dan Tottenham. Bukankah itu berarti PPG-nya pasti akan turun setelah memainkan game in hand mengingat kuatnya lawan-lawan tersebut?”

Jawabannya ada pada jadwal keempat tim ini. Semua tim ini masih harus berhadapan dengan tim top three, entah satu, dua atau bahkan tiga kali. Ironisnya justru MU dan West Ham yang sudah bertanding lebih banyak saat ini, masih harus berhadapan dengan Man City, Liverpool dan Chelsea di sisa pertandingan mereka musim ini. Arsenal masih harus berhadapan dengan Liverpool dan Chelsea sementara Tottenham tinggal berhadapan dengan Liverpool. Artinya Arsenal tidak dirugikan dengan game in hand melawan tim kuat, toh semuanya juga masih harus berhadapan dengan tim-tim kuat tersebut.

Form Arsenal

Hal lain yang bisa kita pakai untuk prediksi siapa yang akan memenangkan top four race ini adalah dengan melihat trend. Dalam sepakbola, trend ini ditemukan dalam bentuk form (penampilan terakhir) sebuah tim. Saya membuat dua grafik di bawah ini untuk menggambarkan form keempat tim. Grafik pertama menunjukkan jumlah perolehan poin seiring dengan jumlah pertandingan yang dimainkan secara berurutan, terlepas dari pertandingan yang ditunda di gameweek tertentu. Sedangkan grafik kedua adalah tentang jumlah PPG-nya.

Di grafik pertama ini (silakan di-zoom in) kita bisa melihat bagaimana MU memimpin terlebih dahulu top four race ini selama 4 minggu dari GW 4 sampai dengan GW 7. Kemudian diganti dengan West Ham United yang memimpin selama 5 minggu. Conte kemudian masuk ke Spurs menggantikan Nuno dan form Spurs membaik hingga mereka sempat memimpin top four race selama 5 minggu, sementara MU semakin jelek form-nya sampai saat Rangnick bergabung dan menstabilkan form mereka. Namun Arsenal adalah tim yang paling membaik form-nya dalam 9 minggu terakhir (7W 1D 1L), tepatnya semenjak Auba dikeluarkan dari tim (lawan Southampton). Saat ini Arsenal telah memimpin selama 3 minggu dan dengan selisih poin tertinggi dari rival terdekatnya selama kompetisi ini, yaitu 5 poin untuk 24 pertandingan yang dimainkan. Artinya Arsenal harus minimal kalah sekali dan draw sekali sementara rivalnya menang terus untuk kehilangan posisi pole position dalam race to top four ini.

Sementara itu Grafik kedua menunjukkan jumlah PPG seiring dengan jumlah pertandingan yang dimainkan secara berurutan. Dengan grafik ini kita bisa melihat lebih jelas lagi bagaimana trend Arsenal menanjak sejak 3 kekalahan berturut-turut di awal musim, sementara rival-rivalnya malah menurun dan sekarang berkonsolidasi di area PPG 1.60 – 1.70. Di grafik ini, saya juga menggambarkan Zona Top Four Finish yang adalah zona dengan PPG minimal sebesar 1.75 (sama dengan 66-67 poin untuk full satu musim) yang mana merupakan perolehan poin Chelsea di dua musim terakhir untuk finish di peringkat keempat. Kita bisa melihat hanya Arsenal sekarang yang berada di dalam zona top four ini. Dari dua grafik tersebut, kita bisa simpulkan bahwa Arsenal adalah the team in form, pengumpul poin terbanyak per-pertandingan, sedang uptrend, yang menjadikannya kandidat terkuat untuk meraih peringkat keempat musim ini. Premier League Current Form Table di bawah ini juga menyimpulkan demikian, Arsenal hanya di bawah Man City dan Liverpool dalam hal perolehan poin di 10 pertandingan terakhir.

updated on 28 Feb 2022

Arsenal adalah the team in form, pengumpul poin terbanyak per-pertandingan, sedang uptrend, yang menjadikannya kandidat terkuat untuk meraih peringkat keempat musim ini.

Prediksi Jumlah Poin Final

Lalu bagaimana dengan sisa pertandingan sampai akhir musim? Apakah jadwal Arsenal lebih mudah ataupun lebih berat dibanding pesaingnya? Saya membuat tabel fixtures keempat tim ini dan membuat simulasi hasil pertandingan. Dalam menebak hasil pertandingan, hendaknya kita menggunakan rules dan data masa lalu. Rules yang saya gunakan dalam simulasi ini adalah:

  1. Bila melawan tim top three, asumsikan semua tim pesaing top four ini akan kalah, home maupun away.
  2. Melihat hasil pertandingan sebelumnya lawan tim yang sama. Bila pertandingan sebelumnya away dan berikutnya home, maka hasil pertandingan sebelumnya di-upgrade. Contoh: kalau kalah telak -> tetap kalah, kalah tipis (selisih 1 gol) -> seri, kalau seri -> menang.
  3. Sebaliknya bila pertandingan sebelumnya home, dan sekarang away, maka hasil pertandingan berikutnya di-downgrade. Contoh: kalau menang telak -> menang, menang tipis (selisih 1 gol) -> seri, seri -> kalah.
  4. Penyesuaian subjektif berdasarkan form kedua tim akhir-akhir ini.

Dengan prinsip di atas, maka berikut adalah hasil prediksi saya hasil setiap pertandingan keempat tim rival top four ini:

Tabel Prediksi Hasil Pertandingan Top Four Race

Warna merah untuk kalah, orange untuk seri dan hijau untuk menang. Prediksi realistis saya Arsenal akan mendapatkan 8W, 4D dan 2L dari 14 laga sisa dengan perolehan poin 73 yang sudah sangat cukup untuk finish di peringkat keempat musim ini. Ini artinya dalam 14 laga sisa, Arsenal akan meraih PPG yang lebih tinggi di 14 pertandingan terakhir daripada yang dikumpulkan di 24 pertandingan sebelumnya (2.00 vs 1.88) namun lebih rendah dari 9 pertandingan terakhir di mana PPG Arsenal adalah 2.44 yang notabene adalah formnya tim kandidat juara liga, persis sama dengan PPG Man City saat ini (untuk 27 laga). Kalau mau optimis, saya rasa Arsenal bisa mengalahkan MU di kandang dan Southampton di tandang dan mengumpulkan 77 poin di akhir musim.

Di bawah Arsenal, Tottenham Hotspur akan finish di peringkat kelima. Tidak adanya partisipasi di kejuaraan Eropa dan hanya fokus di FA Cup serta liga domestik menguntungkan mereka dibandingkan MU dan West Ham. Selain itu Spurs tinggal melawan Liverpool sedangkan yang lainnya masih harus melawan Chelsea dan/atau Man City. Spurs juga memiliki jumlah pertandingan home yang lebih banyak daripada away, sedangkan yang lain sebaliknya. Namun Spurs juga tidak bisa diandalkan. Kekalahan berturut-turut lawan Southampton dan Wolves di kandang mereka memberi kesempatan untuk tim seperti Brighton dan Leicester untuk mencuri poin di kandang mereka.

MU dan West Ham memiliki fixture yang paling sulit sehingga PPG mereka saya prediksi akan drop drastis di 11 pertandingan terakhir. Masih harus melawan 3 tim top three, lalu 2 tim saingan top four, mereka akan kehilangan lebih banyak poin daripada kedua rivalnya. Lihat saja tabel prediksi saya di atas, rasanya itu sudah hasil paling optimal untuk kedua tim ini. MU bisa saja terpleset pas lawan Spurs, Leicester dan Arsenal, sedangkan West Ham bisa saja kalah lawan Spurs dan Arsenal yang akan membuat perolehan poin mereka di akhir musim di kisaran 60-an awal daripada akhir. MU finish keenam dan West Ham ketujuh.

Top Four Here We Go!

Ada beberapa fakta lain lagi yang menunjang prediksi Arsenal akan finish di peringkat keempat musim ini. Jumlah kebobolan gol misalnya. Arsenal hanya kebobolan 27 gol musim ini, hanya di atas City, Chelsea, Liverpool dan Wolves. Wolves tidak dapat bersaing di top four karena jumlah gol yang dicetaknya yang sedikit (terbukti dengan kekalahannya melawan West Ham kemarin). Sedangkan MU, Spurs dan West Ham semua kebobolan 30 gol lebih musim ini. Pertahanan Arsenal cukup solid musim ini untuk dapat bergabung dengan tim top three lainnya di posisi puncak klasemen liga musim ini dan pertahanan ini akan menjadi pondasi yang kuat untuk perkembangan tim ini di masa depan.

 Attack wins you games, defence wins you titles

Sir ALEX FERGUSON

Fakta lainnya adalah penampilan cemerlang Arsenal untuk menang di dua pertandingan lawan Wolves, tim kuat yang berhasil mencuri poin (bahkan menang) dari ketiga rival Arsenal tersebut. Bandingkan pertandingan West Ham semalam melawan Wolves yang tidak full team dengan pertandingan Arsenal melawan Wolves maka Anda dapat berkesimpulan bahwa Arsenal adalah tim yang lebih baik. Arsenal mendominasi lawannya akhir-akhir ini dengan possession, shots, chances, xG berkat pressing yang terus-menerus sehingga possession bisa selalu didominasi. Bahkan saat melawan City pun, Arsenal bisa mengimbangi mereka saat bermain dengan 11 pemain. Pemahaman pemain-pemain Arsenal dengan taktik Arteta semakin matang, namun yang membuat Arsenal bisa comeback dalam beberapa pertandingan terakhir ini adalah Unity and Belief.

Pemain cadangan saat dipanggil ke lapangan pun akan berkontribusi seperti Pepe dan Nketiah. Tidak ada yang merasa ditinggalkan. Tomiyasu cedera, Cedric hadir dengan penampilannya yang jauh lebih baik dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Auba pergi, Lacazette menjadi kapten yang lebih baik lagi, memberikan contoh di lapangan dengan semangat pantang menyerahnya dan duel-duelnya di lapangan hijau untuk merebut bola. Tim ini semakin ramping setelah bursa transfer Januari namun juga menjadi semakin solid apalagi semenjak training camp di Dubai. Blunder Gabriel tidak dibahas sama sekali oleh rekan-rekannya yang berfokus untuk memenangkan pertandingan. Koneksi dengan supporter semakin kuat. Banyak supporter yang nonton di stadion saat lawan Wolves mengatakan Emirates Stadium berguncang saat Laca mencetak gol seperti saat gol Welbeck lawan Leicester City di musim di mana Arsenal bersaing dengan mereka untuk perebutan juara liga. Tanpa perlu embel-embel United, klub ini sekarang sedang dalam keadaan Persatuan yang luar biasa, dari manajemen, tim pelatih, pemain sehingga supporter semua sangat solid dan bergerak maju bersama.

I am especially happy when a player individually makes an error that costs a goal, that then the team can put that aside and win the match, and never even talk about it.

MIKEL ARTETA after wolves match

Di artikel Rebuilding Arsenal pertama, saya menulis bahwa Trust itu sangat dibutuhkan dalam project rebuilding ini karena rencana ini memang akan butuh waktu, terutama karena kita membangun kembali skuad ini dengan poros pemain-pemain muda. Namun, problem dan konflik di klub rival seperti yang sekarang terjadi di MU dengan dressing room yang terbelah, ataupun di Spurs di mana Conte terang-terangan menyatakan ia lebih baik daripada klub yang sekarang mempekerjakannya, mempercepat project rebuilding Arsenal ini. Top four tentunya sekarang menjadi target Mikel Arteta dan semua pemainnya dan supporter Arsenal akan mati-matian mendukungnya saat bermain home maupun away. Ini bukan lagi soal ekspektasi atau target, ini soal Golden Opportunity, kesempatan emas yang hadir dan kita berada di posisi terdekat untuk mengambilnya. Untuk mengambil kesempatan emas ini, kita harus membuktikan diri kalau kita itu layak. Di sini pentingnya Belief. Untuk hal ini juga, tim ini tidak kurang. Bisa kita lihat di pertandingan lawan Wolves kemarin bagaimana Arsenal bisa comeback dari ketertinggalan menjadi menang melawan tim yang tidak pernah kalah ketika telah memimpin di paruh waktu musim ini.

Lacazette celebrated in front of envious Neves

Penutup artikel ini adalah seruan Champions League, Here We Go! Mari menjadi tim termuda di Premier League dengan manager termuda yang bisa finish di peringkat keempat, kembali ke Champions League setelah 5 musim absen, milestone pertama yang sangat penting dalam project Rebuilding Arsenal ini. Semua hal ini bisa terjadi bukan tanpa sebab. Konsistensi dan prestasi bukanlah hasil keberuntungan belaka. Di artikel berikutnya, bagian ketiga dari series Rebuilding Arsenal ini, saya akan mencoba mengupas lebih detail formula yang dipakai di balik strategi rebuilding Arsenal ini. Judul artikelnya: Shrinking to Grow.

Rebuilding Arsenal Part 3: Shrinking to Grow

Rebuilding Arsenal

Skuad Arsenal 2021/2022

Saya menulis series Transfer Window 2021/2022 dalam tiga artikel panjang yang mencoba memahami strategi transfer Arsenal musim ini. Artikel pertama saya tulis tanggal 25 Juli ketika Arsenal baru menyelesaikan transfer Tavares dan Lokonga, dan artikel terakhir dirilis tanggal 1 Agustus 2021, sehari setelah Arsenal mengumumkan Ben White. Silakan membaca kembali artikel-artikel tersebut untuk refreshing, jika berkenan.

Link Part 1 tentang aturan Home Grown dan kilas balik musim Arsenal 2019/2020

Link Part 2 tentang kilas balik musim Arsenal 2020/2021 dan kandidat marquee signing Arsenal

Link Part 3 tentang menghitung budget belanja Arsenal dan skenario prediksi akhir transfer window ini.

Mari kita lihat kembali skenario prediksi saya. Ada 2 versi, yang optimis dan realistis.

Skenario 1 – Optimis

Tabel 1 – Prediksi versi Optimis

Skenario 2 – Realistis

Tabel 2 – Prediksi versi Realistis

Dan yang akhirnya terjadi di akhir Transfer Window summer 2021 ini adalah sebagai berikut:

Tabel 3 – Skuad Arsenal setelah Deadline Day TW Summer 2021

Prediksi yang tidak jauh meleset

Jika kita bandingkan, yang terjadi di akhir TW ini adalah sesuatu di antara skenario optimis dan realistis.

  • Jumlah pemain yang masuk sama dengan skenario realistis, yaitu 6 pemain baru. Bahkan posisi pemain barunya pun sesuai dengan prediksi.
  • Net spending Arsenal hampir sama dengan skenario optimis, yaitu sekitar 90 juta pounds, kalkulasi saya mengenai budget belanja pemain Arsenal ternyata tidak malu-maluin.
  • Penjualan yang terjadi di bawah perkiraan saya. Arsenal tidak mampu menjual beberapa pemain yang terpaksa hanya berakhir dengan loan tanpa obligation to buy (Nelson dan Bellerin) dan 2 pemain yang mestinya dijual gagal sepakat dengan klub pembeli akhirnya akan berstatus free transfer di akhir musim ini (Nketiah dan Kolasinac).
  • Jumlah pemain tim utama Arsenal sekarang menjadi 27, prediksi saya 26. Arsenal gagal melepas Kolasinac free transfer di akhir TW ini. 15 pemain non-HG (max 17) artinya Arsenal belajar dari musim lalu, kali ini semua pemain dapat didaftarkan untuk PL.
  • Willian di luar dugaan saya, akhirnya memilih memutuskan kontraknya dengan terhormat, tanpa kompensasi pesangon karena ia masih punya harga diri dan ingin bermain bola. Respect kepadanya yang lebih mementingkan pride daripada uang. Hal ini tentunya menguntungkan Arsenal yang dapat melakukan penghematan biaya gaji pemain sekitar 20 juta pounds untuk 2 musim!

Strategi Transfer Arsenal

Strategi ini sudah pernah saya tulis di Part 3 series Transfer Window Arsenal dengan kutipan sebagai berikut:

Saya pertebal pernyataan Edu dan Arteta bahwa usia Ben White sesuai dengan profil pemain tim yang sedang Arsenal bangun. Saat Arsenal terancam dan kemudian beneran tersepak dari Champions League, Arsenal memilih jalur pintas, shortcut untuk segera kembali ke Champions League lagi dengan membeli pemain yang lebih senior dan berpengalaman. Ini yang biasa disebut stopgap solution (solusi yang bersifat sementara). Pemain senior (di atas 26 tahun) yang dibeli antara lain mulai dari Aubameyang dan Mkhitaryan (di paruh musim terakhir Wenger), kemudian Leno, Sokratis, Lichtsteiner, David Luiz, Cedric Soares, Willian, dan Thomas Partey. Langkah ini terbukti tidak berhasil membawa kembali Arsenal ke level Champions League. Arsenal sudah tidak bermain di Champions League selama 4 musim. Alih-alih mengangkat moral tim dan mengubah mentalitas tim menjadi tim juara, sebagian besar pemain senior ini justru mengecewakan penampilannya dan bahkan Arsenal di musim lalu harus diselamatkan oleh pemain-pemain muda jebolan Hale End, seperti Bukayo Saka dan Emile Smith Rowe. Belajar dari pengalaman tersebut, Arsenal lalu mengubah strategi transfer untuk musim ini.

Transfer Window 2021/2022 – Saatnya Optimis? Part 3

Edu pun akhirnya memberikan wawancara kepada Skysports dan di Arsenal.com yang kurang lebih mengkonfirmasi soal strategi rebuilding tim dengan pemain muda di bawah 23 tahun dengan target panen jangka menengah (2-3 tahun) dan panjang (5 tahun ke atas). Edu menjelaskan saat ini Arsenal tertinggal jauh dari tim elit lainnya yang hanya cukup membeli 1-2 pemain di transfer window kali ini karena kualitas timnya sudah sangat baik (Chelsea, City, Liverpool) sementara Arsenal masih perlu memperbaiki kualitas tim di banyak posisi. Arteta mengatakan hal yang sama seminggu kemudian.

On top of that, we needed to recruit in a lot of positions. In order to do that, we had to spread the money and how it was spent wisely. Then we had to be very specific with the qualities, the targets we want that can reach the potential that is required at that level with the competition we have with other teams, to reach that [aim]. 

The whole strategy was around that, making those decisions as quickly as possible that could give us big margins of improvement in a short period of time.

Mikel Arteta – The thinking behind our transfer strategy

Karena KSE bukan bank yang cetak uang, 145 juta pounds miliknya dibelanjakan oleh Arsenal untuk 6 pemain muda yang akan meningkatkan kualitas tim, walau mungkin mereka butuh waktu lebih lama untuk memberikan dampak langsung. Bandingkan dengan City dan Chelsea yang belanjakan uang 100 juta pounds untuk seorang pemain elit. Edu berkata tujuan transfer kali ini adalah membangun pondasi. Di masa mendatang Arsenal mungkin hanya akan melakukan pembelian 1-2 pemain elit untuk melengkapi kualitas tim yang sudah cukup bagus. Tapi saat ini kita masih belum sampai ke sana. Seperti kata Arteta, kita perlu merekrut pemain di banyak posisi dari GK, RB, LB, CB, CM, AM, ST. Dari ketujuh posisi ini, enam terpenuhi dari transfer window ini dan yang lebih penting, keenam pemain ini memiliki kualitas (atau potensi) yang lebih tinggi daripada pemain yang akan digeser/ digantikan mereka di tim Arsenal.

  • Ramsdale -> Runarsson
  • Ben White -> Holding / Chambers
  • Tomiyasu -> Bellerin
  • Tavares -> Kolasinac
  • Lokonga -> Elneny
  • Odegaard -> meneruskan perannya sendiri di musim lalu

Keenam pemain muda ini tidak butuh waktu lama untuk integrasi ke timnya Arteta. Lima dari enam pemain ini langsung start melawan Norwich (Ramsdale, Ben White, Tomiyasu, Lokonga, Odegaard). Kemudian minus Lokonga, keempat pemain yang sama start lagi melawan Burnley. Hanya Nuno Tavares yang duduk di bangku cadangan sebagai pelapis Tierney. Kedua pertandingan berakhir dengan kemenangan 1-0 dan juga clean sheet. Untuk sementara ini, strategi rebuilding dengan target mid term dan long term ini juga memberikan dampak segera. Dari debut semua pemain baru ini, yang cukup mengejutkan adalah Ramsdale dan Tomiyasu. Kebanyakan fans Arsenal tidak mengira dampak positif instan dari penampilan mereka. Apalagi mengingat keduanya berasal dari klub yang lebih inferior daripada Arsenal (halo, spesialis degradasi…). Ini sebuah pelajaran buat kita bahwa pemain bagus ada di mana-mana, yang mungkin tidak terlalu terdengar di media dikarenakan keterbatasan dari pencapaian klub asalnya. Scouting Arsenal baik yang langsung di lapangan dan yang dari tim analisis statistik dan video patut diacungkan jempol karena keberhasilan mereka menemukan bakat-bakat terpendam ini.

Tomiyasu The Shield – source: @kazu_designs

Attiude and Character

Selain profil usia dan bakat pemain yang menjadi dasar pembelian pemain baru, hal lain yang dinilai dari tim perekrutan Arsenal adalah attitude dan character pemain. Di awal bergabungnya Arteta, saya menulis artikel The Arteta Way. Bagi Arteta, ada 4 hal penting yang ia inginkan sebagai pondasi dasar timnya: komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah untuk memainkan sepakbola dan mewakili klub ini.

The priority, as I said before, is what we are going to transmit on the team, is a reflection of the demands we are going to put on them every day in training. That’s commitment, accountability, aggression and passion to play this sport and to represent this football club.

This is the basic I am going to demand from them, and from there we can start to build things and improve all the things, obviously, that have to be done as quickly as possible, but if we don’t have this in the right manner, I think it will be difficult.

Mikel Arteta when he joined Arsenal as head coach, December 2019

Selama 1,5 tahun ini, Arteta melakukan perubahan tim dengan mengeluarkan pemain-pemain yang tidak memenuhi 4 kriteria di atas. Pemain yang tidak memiliki komitmen yang sama, tidak memberikan 100% di sesi latihan, dan tidak memiliki gairah untuk mewakili klub ini, silakan out!. Pemain yang melanggar nilai-nilai yang tidak dapat ditawar (non-negotiables) yang sudah ditentukan untuk tim juga out!. Revolusi mental memakan korban mereka yang tidak bisa ataupun yang menolak berpartisipasi. Mari kita lihat siapa saja para pemain tim utama warisan Wenger dan Emery yang sudah “dibuang” oleh Arteta:

  • Mkhitaryan
  • Emi Martinez (dijual untuk profit)
  • Sokratis
  • Mustafi
  • Ozil
  • Mavropanos
  • Guendouzi
  • Willock (dijual untuk profit)
  • Torreira

Bersih-bersih skuad ini tentunya juga bukan tanpa harga yang harus dibayar. Selain Emi Martinez dan Joe Willock, pemain lainnya dilepas murah dengan loan dan option to buy atau diputus kontrak. Arsenal jelas rugi dari segi potensi penjualan. Selain itu selama separuh musim 2020/2021 penampilan Arsenal sangat buruk yang notabene juga dipengaruhi faktor ketidakharmonisan di dalam skuad. Setelah bersih-bersih itu terjadi di bulan Januari 2021, praktis penampilan Arsenal jauh membaik (silakan baca Part 2 untuk lebih jelasnya)

Kemudian dari tim utama Arsenal saat ini, tersisa 10 pemain yang bukan hasil pembelian di masa Arteta, ataupun tidak/belum diberikan kontrak baru di masa Arteta, antara lain:

  • Kolasinac (sisa setahun)
  • Chambers (sisa setahun)
  • Elneny (sisa setahun)
  • Nketiah (sisa setahun)
  • Lacazette (sisa setahun)
  • Leno (sisa 2 tahun)
  • Pepe (sisa 3 tahun)
  • Maitland-Niles (sisa 2 tahun)
  • Bellerin (sisa 2 tahun)
  • Saliba (sisa 3 tahun)

Dari daftar di atas, kita kurang lebih bisa menebak jika di musim ini Arteta tidak memperpanjang kontrak pemain-pemain di atas, mereka adalah target berikutnya yang akan dijual/dilepas oleh Arsenal di TW mendatang. Hanya dalam waktu 2,5 tahun (di akhir musim ini) Arteta akan berhasil melakukan bersih-bersih skuad dan kemudian memiliki tim yang berisi pemain-pemain pilihannya sendiri, hasil seleksi alam 4 kriteria tersebut. Luar biasa dukungan board dan manajemen Arsenal untuk revolusi yang dipimpin Arteta ini. Praktis ia mengganti total tim warisan Wenger dan Emery dalam waktu yang relatif singkat.

Target Musim Ini

Satu hal menarik yang bisa kita perhatikan di wawancara Edu maupun Arteta adalah absennya penyebutan target Arsenal di musim ini. Masih kita ingat pernyataan kontroversial Willian yang menyebutkan bahwa Arteta membelinya untuk membawa Arsenal ke Champions League di musim pertama, dan keluar sebagai juara Champions League di musim ketiganya. Wow! Sayangnya pernyataan tersebut jauh dari kenyataan… Arteta dan Arsenal akhirnya menerima kenyataan bahwa kualitas timnya tidak bisa ditutup dengan satu dua pemain senior, dan sekarang Arsenal memilih jalur yang lebih terencana baik, dengan membangun pondasinya terlebih dahulu. Seperti yang sudah saya tulis di artikel sebelumnya:

Arsenal sepertinya sudah siap menempuh jalan yang lebih panjang agar peningkatan kualitas tim ini memiliki pondasi yang lebih kuat, beralih dari pembangunan tim instan dengan pondasi rapuh yang hasilnya terbukti mengecewakan. Arsenal memutuskan untuk membangun ulang tim. Pengalaman mengajarkan lebih sulit untuk “membentuk” pemain-pemain senior yang sudah “jadi” di klubnya masing-masing, apalagi untuk menyesuaikan diri mereka dengan style sepakbola yang berbeda yang diinginkan Arteta, seperti Positional Play yang menghasilkan sustainable pressure and possession

Transfer Window 2021/2022 – Saatnya Optimis? Part 3

Edu setelah berkonsultasi dengan manajemen Arsenal (Tim Lewis, Vinai) menginformasikan ke Arteta sekitar awal tahun ini rencana pembelian pemain dibawah 23 tahun sebagai bagian dari planning rebuilding Arsenal. Tentunya Arteta terkejut, karena ia tahu rencana ini butuh waktu lebih lama untuk berhasil sementara fans akan menuntut hasil jangka pendek pada dirinya. Namun manajemen meyakinkannya kalau ia akan diberi waktu untuk menggarap project ini. Mengembangkan tim muda ini menjadi tim yang bisa memainkan Positional Play tanpa target kembali ke Champions League segera. Dengan rencana baru ini baik Arteta dan Edu tidak lagi menyebut top four sebagai target finish musim ini. Mereka berusaha menurunkan ekspektasi fans. Di podcast yang menghadirkan Per Mertesacker sebagai pembicara (wajib ditonton), Per juga mengaku targetnya adalah dalam 2-3 tahun Arsenal bisa kembali ke Champions League dan bersaing serius untuk title Premier League.

Musim ini adalah soal meletakkan pondasi. Bagaimana tim ini bisa bermain dengan komitmen, akuntabilitas, agresi dan gairah mencerminkan tim Arsenal yang sesuai dengan reputasinya, by far the greatest team the world has ever seen. Memainkan sepakbola menyerang dengan pressing dan possession yang berkepanjangan. Tentunya Arsenal berharap bisa lolos minimal top six di akhir musim agar bisa kembali bermain di kompetisi Eropa namun saya yakin dalam hati Arteta dan pemain-pemain Arsenal, top four selalu menjadi incaran mereka (no pressure, team). Di akhir Desember nanti, kita bisa lihat sejauh apa posisi Arsenal dari top four, dibanding secara relatif dengan penampilan klub-klub lainnya.

Trust The Team

Terlepas dari keyakinan Anda terhadap kemampuan Arteta memimpin tim muda ini, Per Mertesacker mengatakan Trust itu sangat dibutuhkan dalam project rebuilding ini. Supporter mesti lebih sabar karena rencana ini memang akan butuh waktu, namun kita akan melihat indikasi adanya perbaikan sedikit demi sedikit seiring dengan waktu. Paling tidak gairah pemain-pemain muda berkarakter ini seperti Ramsdale dan Tomiyasu dalam membela tim ini akan sangat membanggakan. Tim ini akan mengalami masa-masa sulit juga seyogyanya tim yang berisi mayoritas pemain muda, dan di masa-masa sulit seperti itulah dukungan supporter sangat diperlukan. Trust the club and trust the team.

You always want the shortcut, you know, ‘bang’ straight back into the Champions League, straight back into being successful,

I think even myself, realising and working now with the academy, going more long term and developmental, I think we see kind of similar-ish traits in the first team, and I hope that Mikel gets the time that he needs.

I want to be successful tomorrow, I want to go back in the Champions League tomorrow, I want to speak to people and say, ‘listen, we have got the best club in the world who challenges for titles every single year’. That’s not the reality. I think the earlier we get on the train of ‘we are in a big, big transition still’ [the better].

To have sustainable success there needs to be some trust. I’m all for trusting people. Mikel Arteta, and I perceive him to be the right person, lets give him the trust and the development squad that he can take to the next level that will achieve Champions League football, maybe in two to three years.

From a club person, that’s my take basically at the moment, because I’ve worked with Mikel very very closely.

I know how much he wants it, I know his work ethic, I know how intense the squad works at the moment to get to a better level. I think we all have to swallow disappointment at the moment, which I’m keen to change, but the environments that we are going to deliver in the next years will be key for our success.

The stakes are very very high, and I understand that there is a lot of criticism, but some people need to swallow that and try and grow with it, and Mikel is someone that does that.

Per Mertesacker on The Beautiful Game Podcast

Kalaupun misalnya Mikel Arteta tidak berhasil membawa tim ini ke level yang diharapkan, pelatih berikutnya akan mewarisi tim dengan profil pemain yang lebih baik daripada Arteta. Lebih muda, berkarakter positif, berbakat, dan mampu memainkan sepakbola modern ala Positional Play. Arsenal tinggal mencari pelatih modern yang bisa menerapkannya lebih baik (tentunya tidak mudah mencarinya). Inilah hasil planning rebuilding Arsenal yang matang, bukan hasil tambal sulam dengan membeli pemain-pemain tua sebagai stopgap solution. Pada akhirnya klub tetap akan memetik hasilnya, siapapun manager-nya.

Untuk saat ini, mari kita menikmati mendukung Arsenal tanpa beban.

Menikmati aksi Ramsdale, Tomiyasu, Gabriel yang berjibaku dalam duel bola-bola atas…

Menikmati umpan terobosan jarak jauh dari Ben White, Partey dan Odegaard…

Menikmati crossing akurat dari Tierney yang sayangnya hanya satu dari lima yang berhasil dimanfaatkan striker-striker kita…

Menikmati one touch football The Smith dan Saka sambil diiringi chant baru Smith and Saka yang fantastis itu…

Menikmati twist and shout Sambi di lini tengah sambil melupakan sideway dan back pass Elneny…

Menikmati gocekan Pepe yang ketika berhasil biasanya dilanjutkan dengan assist ataupun gol-gol fantastis… Ketika tidak, suara ahhh akan terdengar bersamaan di stadion…

Menikmati momen pertama kalinya Balogun membobol gawang lawan sebagai striker utama… dan berakhir sebagai striker utama tim ini di akhir musim.

Menikmati larinya Martinelli yang meninggalkan Cristiano Ronaldo, idolanya, yang terjatuh ala Kante di lapangan hijau…

Sambil di dalam hati kita meyakini bahwa tim ini akan menjadi lebih baik lagi. Tim ini akan sampai ke sana… Pantai seberang yang sudah lama kita tinggalkan semenjak lengsernya The Professor. Mudah-mudahan kali ini anak-anak didiknya (Edu, Mikel dan Per) yang akan berhasil menggantikan perannya sebagai nahkoda kapal tercinta ini.

Rebuilding Arsenal Part 2

Rebuilding Arsenal Part 3