Transfer Window 2021/2022 – Saatnya Optimis? Part 1

Sebagai fans Arsenal yang cenderung mengerem diri supaya tidak terbuai dengan hype seputar rumor transfer pemain baru di setiap transfer window (TW), sepertinya akan sulit untuk menahan diri kali ini. Bila pada musim-musim sebelumnya fans Arsenal sering merasa kena PHP isu transfer pemain, musim 2021/2022 ini tidak sedikit Arsenal fans mulai merasa optimis dengan TW Arsenal kali ini. Apakah kita sudah boleh optimis? Yuk kita analisa.

Arsenal dikaitkan dengan beberapa nama besar di TW kali ini. Beberapa media sepakbola mainstream dan jurnalis dengan reputasi reliable seperti David Ornstein sendiri sudah mengatakan Arsenal akan belanja besar musim ini walaupun klub tetap harus melakukan penjualan pemain. Ambisi Arsenal musim ini adalah meningkatkan kualitas skuad, membuat tim menjadi lebih seimbang dan sesuai visi sang manager dengan tujuan utama masuk kembali ke top four (Champions League money, baby). Arsenal sadar saat ini (di tengah pandemi Covid-19) adalah momen terbaik untuk investasi besar-besaran di tim atau terancam terus bercokol di papan tengah, turun derajat dari imej big club. Seorang businessman hendaknya tahu pentingnya melindungi nilai asetnya, tidak membiarkan nilainya terus merosot. Kroenke sebagai pebisnis yang memulai dari bisnisnya dari real estate, tentunya sangat paham hal ini.

Akibat hilangnya pemasukan dari stadion, dan banyaknya hak siar TV yang tidak terbayarkan di luar Premier League, banyak klub terpaksa harus menjual pemainnya sedangkan tidak banyak klub yang memiliki kemampuan finansial untuk membeli pemain baru. Kondisi ini menjadikan TW kali ini buyer market. Pembeli menjadi raja. Kita menyaksikan sendiri bagaimana Arsenal bisa membeli Nuno Tavares senilai 8 juta Euro dan Albert Sambi Lokonga senilai 17,5 juta Euro (sebelum adds-on) yang mana di musim normal akan membutuhkan dana 1,5 sampai 2 kali lipat. Setelah mengamankan kedua pemain ini, Arsenal diberitakan akan membeli Ben White dari Brighton & Hove Albion senilai 50 juta pounds (tampaknya pandemic great sale tidak berlaku untuk pemain dari klub Premier League).

Di sisi lain kita juga kesulitan untuk menjual pemain surplus. Mavropanos dan Guendouzi hanya bisa “dijual” dengan sistem loan dahulu di musim ini dan obligation to buy di akhir musim dengan harga yang relatif murah, di bawah ekspektasi Arsenal. Total deal Mavropanos dan Guendouzi jika semua syaratnya terpenuhi adalah masing-masing 5.5 juta pounds dan 10 juta pounds, hanya separuh dari ekspektasi Arsenal.

William Saliba, pemain terfavorit (untuk kategori belum pernah debut) fans Arsenal akhirnya dipinjamkan ke Marseille selama satu musim penuh dengan harapan ia akan berkembang menjadi pemain yang lebih baik dan siap untuk tampil di Premier League musim depan. Dengan 3 pemain keluar dan 2 pemain masuk, plus sejumlah pemain loan dan pemain habis kontrak dirilis akhir musim lalu, seperti inilah skuad Arsenal sekarang.

Tabel 1 – Skuad Arsenal Sekarang

Aturan Home Grown

Dari tabel di atas, bisa dilihat sekarang Arsenal tidak memiliki masalah Home Grown lagi. Tidak seperti musim sebelumnya yang berakibat Mesut Ozil dan Sokratis tidak bisa didaftarkan ke Premier League.

Demikian bunyi aturan Home Grown Premier League:

Each Premier League club have submitted a squad list for the 2020/21 season.

Each squad contains no more than 17 players who do not fulfil the “Home Grown Player” (HGP) criteria.

The rest of the squad, up to a total of 25 players, must be “Home Grown”.

Each club squad list is below as well as an additional list of each club’s registered Under-21 players who are eligible over and above the squad limit of 25 players. 

What is a Home-Grown Player?
A “Home-Grown Player” means a player who, irrespective of nationality or age, has been registered with any club affiliated to The Football Association or the Football Association of Wales for a period, continuous or not, of three entire seasons, or 36 months, before his 21st birthday (or the end of the season during which he turns 21).
Rules on U21 players
Under-21 players are eligible over and above the limit of 25 players per squad. For the 2021/22 campaign Under-21 players will have been born on or after 1 January 2000.

Singkatnya jumlah pemain tim utama max 25 orang dengan syarat Non HG max 17, dan sisanya HG. Bila HG kurang dari 8, artinya pemain tim utama yang bisa didaftarkan menjadi kurang dari 25 orang, tidak termasuk pemain U-21 yang tidak memiliki batasan jumlah.

Tim utama Arsenal saat ini terdiri dari 29 pemain dengan komposisi 16 Non HG, 7 HG dan 6 U-21. Nuno Tavares bisa dikategorikan U-21 hanya untuk musim ini karena ia lahir di tahun 2000. Musim depan, ia akan masuk kategori Non HG. William Saliba bila kembali ke Arsenal musim depan nanti akan masuk kategori HG, karena Arsenal membelinya dan mendaftarkan izin kerjanya di Inggris sebelum ia berusia 18 tahun. Tahun depan, ia akan genap menyelesaikan 3 musim dengan status legal sebagai pemain Arsenal sebelum ia berusia 21 tahun, sehingga memenuhi syarat untuk menjadi pemain Home Grown.

Kesimpulannya, sampai saat ini skuad Arsenal telah memenuhi persyaratan aturan Home Grown.

Surplus Pemain

Di tabel di atas saya juga mewarnai pemain dengan warna merah, kuning dan hijau berdasarkan penampilan mereka musim lalu. Merah itu untuk pemain surplus, yang menurut saya akan dibuang Arteta, hijau untuk pemain yang kelihatannya akan dipakai di musim ini, dan kuning untuk pemain yang mana statusnya belum jelas, bisa dipertahankan, bisa juga dijual atau pinjamkan tergantung dengan penampilan selama pre-season dan tawaran dari klub lain. Anda boleh bikin tabel versi sendiri tapi saya rasa tidak akan berbeda jauh dengan tabel versi saya ini.

Ada 8 pemain merah yang terdiri dari 5 pemain Non HG dan 3 pemain HG. Menjual atau loan out 8 pemain dalam satu transfer window (TW) tentunya hal yang sangat sulit, belum ditambah dengan membeli penggantinya. Saya tidak yakin seluruh 8 pemain surplus ini dapat dikeluarkan dari klub di TW ini. Arsenal juga tidak mau menjual pemainnya terlalu murah di market yang sedang depresi ini. Opsi lain adalah loan out semusim, dengan obligation to buy sebagaimana yang terjadi dengan Dino dan Guen. Dari 8 pemain tersebut hanya Granit Xhaka yang hampir pasti ke Roma. Bellerin masih dirumorkan ke Inter Milan yang hampir bangkrut, yang hanya dapat menawarkan opsi loan tanpa obligation to buy. Runarsson, Kolasinac, Torreira, dan Willian belum memiliki peminat sejauh ini.

Pundi uang Arsenal ada pada para pemain muda Inggrisnya yaitu Nketiah dan Nelson. Joe Willock dan Ainsley Maitlaind-Niles pun bisa dimasukkan dalam daftar jual jika tawaran menarik ada yang masuk. Nketiah hanya punya sisa kontrak setahun sedangkan tiga pemain lainnya masih memiliki sisa kontrak 2 tahun. Arsenal (dan pemain) harus memutuskan apakah memperpanjang kontrak mereka atau menjual mereka berempat di TW ini karena pemain dengan sisa satu tahun kontrak notabene berpeluang besar untuk memilih free transfer, dilema yang dialami Arsenal saat ini untuk Lacazette dan Nketiah.

Perubahan Filosofi

Mari kita sedikit flashback untuk memahami mengapa sebagian pemain Arsenal sekarang dianggap surplus dan perlu diganti. Mengutip kalimat bijak dari Machiavelli:

“Whoever wishes to foresee the future must consult the past; for human events ever resemble those of preceding times. This arises from the fact that they are produced by men who ever have been, and ever shall be, animated by the same passions, and thus they necessarily have the same results.”

Machiavelli

Melihat masa lalu untuk memprediksi masa depan. Saya akan mencoba mengurai langkah-langkah yang diambil manager kita, Mikel Arteta di satu setengah musim yang lalu dan mencoba memprediksi visi sepakbola Arsenalnya di musim ini dan masa mendatang, termasuk tipe pemain yang akan didatangkannya.

Di setengah musim pertama Arteta (2019/2020), begitu menggantikan Ljungberg yang saat itu menjabat sebagai head coach sementara setelah pemecatan Emery di bulan November 2019, ia memiliki satu fokus utama yaitu memperbaiki lini pertahanan. Arsenal kebobolan 27 gol hanya dalam 18 pertandingan (1.5 gol per match) sebelum Arteta bergabung, dengan catatan hasil pertandingan W5 D8 L5. Kebobolan 1.5 gol per match ini jika diekstrapolasi untuk satu musim sama dengan kebobolan 57 gol per musim (standar tim papan tengah). Bandingkan dengan musim lalu di mana Arsenal hanya kebobolan 39 gol (1.03 gol per match).

Menarik sekali melihat kembali statistik dan line-ups Arsenal di musim itu karena apa yang ada di ingatan saya ternyata tidak sesuai dengan fakta sejarah. Arteta masih menggunakan formasi 4-2-3-1 saat ia mulai menukangi Arsenal. Pasangan CB Arsenal utama saat itu di bawah Emery adalah David Luiz dan Sokratis. Pasangan ini tidak bertahan lama di bawah Arteta. Dari 20 Premier League match tersisa yang dipimpin Arteta, David Luiz dan Sokratis hanya diduetkan sebanyak 3 kali. Arteta kemudian lebih banyak memasangkan David Luiz bersama Mustafi. Ketika salah satu cedera, maka Holding atau Mari yang masuk, tapi tidak sering. Jika dijumlahkan, dalam 26 pertandingan tersisa musim itu (20 PL + 6 FA Cup, kompetisi yang lain tidak saya anggap karena faktor tim B), Luiz dan Mustafi berduet selama 12 kali. Luiz sebagai LCB dan Mustafi RCB. Ketika Arteta kemudian mengganti formasi ke 3-4-3, Luiz di tengah dan Mustafi sebagai RCB.

Di posisi fullback, Matiland-Niles menjadi andalan RB Arsenal karena cederanya Bellerin dan Cedric. Ia bermain selama 5x di RB di semua match awal Arteta, kemudian 1x sebagai RWB dan 3x sebagai LWB di 26 pertandingan tersebut. Bellerin kemudian mulai dimainkan ketika ia pulih dari cedera, bergantian dengan Sokratis (terpaksa, Chambers dan Cedric juga masih cedera) di RB. Kemudian di akhir musim Cedric dan Bellerin bergantian mengisi posisi RWB (formasi 3-4-3).

Di tengah, Arsenal memainkan dua pivot bergantian antara Xhaka, Torreira, Guendouzi dan Ceballos. Awalnya Arteta memasang Xhaka-Torreira. Kemudian beberapa kali mencoba Xhaka-Guendouzi dan belakangan ia mempertahankan Xhaka-Ceballos. Urutan kombinasi duo pivot yang tersering dipasang saat itu: Xhaka-Ceballos 11x, Xhaka-Torreira 6x, Xhaka-Guendouzi 4x dan kombinasi lainnya hanya 2x dan 1x.

Kemudian Ozil start sebagai nomor 10 di seluruh 10 pertandingan PL di bawah Arteta saat itu, sebelum kemudian break (Maret – Juni) akibat pandemi Covid-19. Terjadi sesuatu selama masa rehat itu (PR ga dikerjakan, masalah pay cut, fokus di training, dll) yang mengakibatkan Arteta tidak pernah lagi memainkan Ozil semenjak Project Restart, ketika PL kembali bergulir di bulan Juni. Match pertama di bulan Juni tersebut, Manchester City membantai Arsenal 3-0. Di pertandingan berikutnya, Arteta mengganti formasi dari 4-2-3-1 menjadi 3-4-3, melawan Brighton yang sayangnya juga diakhiri kekalahan 0-1.

Perubahan formasi menjadi 3-4-3 itu tidak hanya terjadi di Premier League tapi juga di FA Cup. Sejak saat itu hingga akhir musim, Arteta menggunakan formasi 3-4-3 selama 11x (8x di PL dan 3x di FA Cup) dan 4-2-3-1 hanya 1x. Perubahan formasi ini membawakan hasil yang lebih baik bagi Arteta. Dalam 11 pertandingan PL dengan formasi 4-2-3-1 (Ozil main di 10 pertandingan tersebut), hasil pertandingan Arsenal adalah W4 D5 L2 dengan point per game (ppg) 1.54. Ketika ia mengganti formasinya menjadi 3-4-3 sampai akhir musim, hasil yang didapatkan membaik, menjadi W5 D1 L3, ppg 1.78. Alhasil rata-rata ppg di bawah Arteta menjadi 1.65. Sebagai perbandingan peringkat keempat musim tersebut memiliki 66 point, yang artinya ppg-nya 1.74. Pergantian formasi ke 3-4-3 tersebut selain memperbaiki hasil Arsenal di PL, juga menjadi kunci untuk Arsenal mengalahkan Manchester City dan Chelsea yang lebih diunggulkan di semifinal dan final FA Cup. Hasil yang berbuah trofi pertama Arteta yang didapatkan hanya dalam separuh musim sejak ia bergabung.

Ada dua faktor yang membuat Arteta mengubah formasi dari 4-2-3-1 menjadi 3-4-3. Pertama adalah timnya tidak bisa melakukan high pressing sehingga ia menerima fakta tersebut lalu memilih melakukan low block yang dikombinasikan dengan build up play yang cepat dari sayap sehingga ketika lawan stretched akibat terpancing untuk pressing, serangan Arsenal sama efektifnya dengan counter attack yang cepat. Padahal serangan tersebut diawali dari operan kiper ke pemain belakang, bukan dari hasil perebutan bola.

Faktor kedua adalah di-dropnya Mesut Ozil semenjak Project Restart. Tanpa Ozil, 3-4-3 menjadi formasi natural Arsenal karena double pivot akan menyalurkan bola ke sayap dan kedua wing back akan berkombinasi dengan winger serta CF Arsenal. Yang lebih menarik lagi adalah Aubameyang tidak pernah sekalipun dipasang sebagai CF di musim tersebut, ia selalu main sebagai LWF atau terkadang RWF. CF yang dipasang hanya dua, bergantian antara Lacazette dan Nketiah. Kedua striker ini bisa drop deep untuk hold up ball dan link up play dengan pemain tengah dan winger, style yang berbeda dengan Aubameyang yang lebih suka run ins behind.

Timnya tidak bisa melakukan high pressing karena CM yang dimilikinya saat itu termasuk lamban dibandingkan rata-rata tim di PL. Semua CM saat itu baik Xhaka, Ceballos, Torreira, dan Guendouzi bisa dengan mudah dilewati lawan dengan dribbling dan setelah itu kesulitan mengejar lawannya. Karena mobilitas dan akselerasinya yang rendah, otomatis intensitas pressing-nya pun berkurang dan lawan dengan mudah bisa lolos dari pressing CM Arsenal. Ditambah lagi pasangan CB Arsenal saat itu bukanlah CB yang tergolong pemain yang cepat. Mustafi sering salah positioning, terlalu maju sendirian sedangkan David Luiz tidak berani terlalu maju karena ia sadar akan kemampuan larinya kalau di-counter lawan. Akibatnya lahirlah gap yang besar antara lini tengah dan lini belakang, dan juga antara Luiz dan Mustafi ketika Mustafi sedang sok jagoan ke depan (ingat gol lawan gara-gara ini?). Saling menyalahkan dan saling menunjuk ketika Arsenal kebobolan gol (dengan aktor utama Mustafi dan Guendouzi) menjadi pemandangan yang biasa di musim itu.

Untuk membuat tim compact tanpa banyak celah, formasi 3-4-3 dan low block adalah solusi, namun itu juga artinya melupakan agenda high pressing terhadap tim lawan. Di luar kekalahan telak lawan City dan kemudian menyusul kekalahan dari Brighton, formasi 3-4-3 ini berhasil membenahi pertahanan Arsenal sehingga hanya kebobolan 7 gol di 8 pertandingan PL sisa.

Tabel 2 – Hasil Pertandingan di bawah Arteta 2019/2020

Namun formasi 3-4-3 ini juga bukan taktik sempurna. Ada satu kali Arteta mengganti formasi kembali ke 4-2-3-1 musim itu, saat melawan Watford di pertandingan terakhir PL. Di pertandingan sebelumnya 3-4-3 nya Arsenal mengalami kebuntuan melawan low block Aston Villa dan akhirnya harus menderita kekalahan 0-1. Kembali ke formasi 4-2-3-1 dengan Willock bermain sebagai No 10 saat itu akhirnya menghasilkan kemenangan lawan Watford walaupun dengan skor yang tidak begitu meyakinkan (3-2). Arsenal finish di peringkat ke-8 namun tetap lolos ke Europa League berkat trofi FA Cup.

Fakta menarik lainnya adalah apabila di bawah Emery (& Ljungberg) Arsenal kebobolan 27 gol dalam 18 match (1.5 gol pm), Arsenalnya Arteta hanya kebobolan 21 gol dalam 20 match (1.05 gol pm). Angka ini kalau diekstrapolasi ke 38 match akan menjadi 40 gol. Ingat 39 gol kebobolan Arsenal musim lalu? Ternyata itu bukan fluke.

Kesimpulannya, kita semua tahu sebagai mantan muridnya Pep Guardiola dan filosofinya sendiri tentang sepakbola menyerang, formasi favorit Arteta adalah 4-3-3. Namun ia harus pragmatis dengan kualitas skuadnya yang ada saat itu dan target utamanya yaitu membangun kembali kepercayaan diri tim dan lolos ke turnamen Eropa (UEL). Arteta terpaksa mengandalkan formasi 3-4-3, melupakan filosofi sepakbolanya yaitu high pressing dan possession football, namun setidaknya ia masih bisa meminta timnya untuk berani memainkan build up from the back yang bisa dikatakan cukup berhasil di akhir musim tersebut.

Bagaimana dengan musim berikutnya? Ternyata solusi di atas tidak berlangsung lama…

Fun Facts Arsenal 2019/2020

  • Arteta tidak pernah menggunakan Aubameyang sebagai CF, peran tersebut dijalankan Lacazette dan Nketiah bergantian.
  • Emery menggunakan Luiz-Sokratis sebagai duet CB, perlahan duet ini diganti Arteta dengan Luiz-Mustafi dan Sokratis hanya bermain sebagai RB saat Bellerin dan Cedric cedera, bergantian dengan Maitland-Niles .
  • Maitland-Niles mendapat banyak kesempatan sebagai fullback maupun wingback di musim tersebut, total 9x start (PL dan FA). Sementara Nelson start 4x sebelum break pandemi dan hanya 2x setelah break pandemi, di PL dan FA.
  • Arteta say goodbye to Mesut Ozil semenjak PL dimulai kembali setelah break Covid-19. Ia tak pernah dimainkan sama sekali, sementara di 10 pertandingan PL sebelumnya dengan formasi 4-2-3-1, Ozil selalu start.
  • Duo pivot kepercayaan Arteta adalah Xhaka – Ceballos. Torreira mulai di-phase out perlahan seiring dengan berjalannya musim.
  • Poin per game yang diraih Arteta dengan formasi 4-2-3-1 adalah 1.54 sementara dengan formasi 3-4-3 ppg-nya 1.78. Di musim tersebut 1.74 ppg cukup untuk finish top four.
  • Arsenal hanya kebobolan 21 gol selama 20 match PL di bawah Arteta. Kalau diekstrapolasi ke satu musim, ini sama dengan 40 gol. Sounds familiar?

…bersambung ke Part 2

Advertisement

Preview Arsenal 2020-21 Season

LONDON, ENGLAND – AUGUST 29: Arsenal celebrate with the Community Shield Trophy following his team’s victory in during the FA Community Shield final between Arsenal and Liverpool at Wembley Stadium on August 29, 2020 in London, England. (Photo by Justin Tallis/ pool via Getty Images)

Arsenal mengawali musim 2020-21 ini dengan optimisme penuh setelah memenangi Community Shield 2020 dengan mengalahkan sang juara Premier League, Liverpool dengan meyakinkan, walaupun hasil akhir kemenangan didapatkan lewat adu penalti. Sepanjang pertandingan, setelah memimpin dahulu dengan gol Aubameyang, Arsenal tidak pernah terlihat sebagai tim yang inferior melawan tim juara. Saat bertahan, Arsenal terorganisir dengan baik dan setiap menyerang balik, barisan pertahanan Liverpool kelabakan. Serangan balik mungkin tetap akan menjadi senjata utama Arsenal musim ini, yang akan kita bahas sebagai bagian dari preview musim baru ini.

Meroketnya Bintang Arteta

Kejatuhan Raul Sanllehi akibat skandal transfer (walaupun tidak diungkap jelas oleh klub) diimbangi dengan naiknya bintang Vinai Venkatesham dan Mikel Arteta. Vinai sekarang resmi menjadi CEO Arsenal, dan Arteta dipromosikan menjadi 1st team Manager, tak lagi sekedar Head Coach. Hanya dalam 2 tahun lebih semenjak Wenger lengser, Arsenal balik badan untuk kembali memakai struktur yang mirip dengan eranya, daripada warisan Gazidis. Mantan CEO Arsenal ini mencoba mengadopsi struktur klub sepakbola yang lebih modern dengan mengurangi peran manager (Wenger) dengan menghadirkan posisi Technical Director dan Head of Football Relations. Intinya adalah fungsi rekrutmen, transfer dan kontrak pemain tidak lagi melibatkan manager yang hanya difungsikan untuk melatih tim. Manager boleh meminta dicarikan pemain di posisi tertentu namun keputusan final untuk membeli, menjual pemain tak lagi ada di tangan manager. Hal itu dilakukan karena dirasakan Wenger menjadi penghambat transformasi Arsenal menjadi klub sepakbola modern.

Era Raul membawa Arsenal ke kutub ekstrem yang berlawanan. Bila Wenger enggan berurusan dengan super agent, Raul sebaliknya. Pembelian pemain-pemain lewat super agent Kia Joorabchian (David Luiz, Cedric Soares, Willian) dan juga Arturo Canales (Pablo Mari) dipertanyakan prosesnya. Kemudian rumor pemain yang akan dibeli pun tak jauh dari pemainnya Kia (Coutinho, Felipe Anderson, Kurzawa). Kontrak David Luiz diperpanjang, loan Mari dan Soares dipermanenkan, Willian dikontrak selama 3 tahun. Aksi-aksi yang mengundang pertanyaan apakah ini adalah keputusan yang bijak, ditambah dengan harga transfer Pepe yang di atas harga pasar (Raul adalah teman dekat GM Lille, Marc Ingla) akhirnya membuat KSE mengirim pengacara kepercayaan mereka Tim Lewis untuk melakukan review internal. Singkat kata hasilnya adalah Raul terdepak dari puncak kekuasaan eksekutif Arsenal.

Raul jugalah yang membalikkan arah pencarian suksesor Wenger dari Arteta ke Emery, yang diperkenalkan oleh Arturo Canales (yang kemudian menjadi agent-nya Emery sebelum ia dikontrak Arsenal). Satu setengah tahun kemudian, dengan enggannya Raul terpaksa menerima kalau Emery mesti didepak dan Arteta dilobi untuk mengisi posisi head coach. Yang menarik adalah utusan Arsenal untuk lobi Arteta di tengah malam tersebut tidak lain adalah Vinai Venkatesham, sang Managing Director yang berbagi tugas dengan Raul di tingkat eksekutif.

Arteta berhasil menstabilkan kapal yang sedang karam, dan membawa Arsenal ke pantai seberang terbaik yang bisa dicapai saat itu. Juara FA Cup berarti Arsenal bisa berkompetisi di Europa League dan mendapatkan suntikan dana 25-40 juta euro dari broadcast televisi, prize money dan ticket (tergantung Covid) yang amat penting untuk pembangunan skuad musim ini, terutama di tengah keterbatasan mendatangkan fans ke stadion akibat COVID-19. Di luar sisi finansial, prestasi Arteta ini membangkitkan suasana positif yang luar biasa di semua staff Arsenal dan pemain. Memberikan kepercayaan diri bahwa tim ini punya masa depan, terlebih dengan mengalahkan tim-tim besar di akhir musim (City, Chelsea, Liverpool). Ia pun diberikan pengakuan dan promosi menjadi Manager Arsenal, bukan lagi head coach. Arteta menjadi pewaris sejati manager Arsenal yang sebelumnya, Arsene Wenger.

Dengan peran sebagai manager, Arteta akan memiliki suara dalam hal perekrutan pemain, perpanjangan kontrak dan penjualan pemain. Ia akan bekerja sama dengan Edu yang secara teknis akan lebih sibuk dengan detail kontrak dan transfer dan pencarian bakat. Arteta bisa membangun tim yang diinginkannya, tentunya tergantung dengan kemampuan finansial Arsenal. Pendek kata, pengangkatan dirinya menjadi Manager Arsenal ini sebagai bukti dukungan penuh CEO dan board Arsenal, terutama keluarga Kroenke.

Transfer Pemain

Arsenal bergerak cukup cepat di jendela transfer ini. Tentunya tidak ada yang bisa mengimbangi Chelsea. Willian direkrut dengan free transfer, Gabriel bergabung tepat waktu sehingga sempat berlatih 2 minggu, dan Ceballos juga didatangkan kembali dengan status pinjam, juga tepat waktu. Di sisi penjualan pemain, Arsenal sedikit terseret, karena lesunya peminat dan bedanya nilai valuasi antara pembeli dan penjual. Hanya Mkhitaryan yang sudah dilepas secara free sampai sejauh ini. Daftar pemain yang digosipkan akan dilepas sebelum jendela transfer berakhir:

  1. Torreira (£20-25 juta)
  2. Sokratis (£5 juta / free)
  3. Kolasinac (£10 juta / loan)
  4. Elneny (£5 juta / loan)
  5. Chambers (£10 juta / loan)
  6. Holding (£10 juta / loan) atau Mustafi
  7. Emi Martinez (£20 juta)
  8. Bellerin (£30 juta)
  9. Maitland-Niles (£20 juta) bila Bellerin tak jadi dijual
  10. Guendouzi (ga ada peminatnya)

Menjual pemain dengan baik sangat penting untuk bisa membiayai pembelian baru. Di luar uang yang didapatkan dari hasil penjualan, penghematan gaji juga akan signifikan. Dari daftar penjualan di atas saja, Arsenal bisa menghemat gaji pemain sekitar £25-30 juta per tahun. Angka ini setara dengan budget pembelian seorang Aouar / Partey beserta gajinya (pembelian pemain biayanya masuk dalam amortisation yang dibebankan per tahun sampai kontraknya selesai). Ini belum menghitung nilai hasil penjualan pemain itu sendiri. Singkat kata bila Arsenal bisa meraup £60 juta nett saja (+penghematan gajinya) dari penjualan 7-8 pemain di atas, maka budget untuk pembelian Gabriel, Aouar dan Partey telah terpenuhi dengan sendirinya.

Mengingat Saliba dan Gabriel masih perlu adaptasi dengan Premier League dan kemampuan bahasa Inggris mereka yang masih terbatas, saya memprediksi Holding akan dipertahankan oleh Arteta. Bila Arsenal bisa menjual 6 pemain sebelum Bellerin dan Maitlan-Niles dengan total nilai £60-70 juta (best scenario) maka Bellerin ataupun Maitland-Niles tak perlu dijual. Sekarang kita mengerti mengapa Emi Martinez walaupun sangat bagus, perlu dijual untuk membiayai pembelian Aouar / Partey. Ia saat ini menjadi pemain Arsenal yang paling mudah dijual, gajinya pun tidak tinggi sehingga tidak memberatkan klub pembelinya.

Dari daftar di atas, saya pribadi tidak ingin melihat Bellerin dan Maitland-Niles pergi. Bellerin adalah role model yang sangat baik untuk klub ini dan ia mulai kembali ke penampilan terbaiknya setelah cedera. Maitland-Niles sendiri adalah atlet super yang menurut saya bisa menjadi the next Vieira bila Arteta bisa mengasah kemampuan passing dan visinya. Ia memiliki fisik dan kecepatan yang mumpuni untuk posisi tersebut.

Untuk pemain baru incaran, saya memilih Aouar daripada Partey. Ulasannya ada dalam taktik berikut ini.

Perkembangan Taktik Arteta

Arsenalnya Arteta masih mengandalkan serangan balik untuk memenangkan pertandingan. Tidak salah mengingat kelemahan dan kekuatan tim ini (lemah di lini tengah dan kuat di lini depan yang juga cepat). Namun variasi menuju serangan balik ini yang berbeda dengan Arsenal di bawah Emery. Arteta melatih tim ini sehingga mereka memiliki build-up play dari belakang yang percaya diri dan cukup efisien untuk mengundang high-pressing tim lawan dan kemudian menggunakan sektor sayap untuk melancarkan serangan balik cepat. Manchester City, Chelsea dan Liverpool menjadi makanan empuk taktik Arteta ini. Namun berhadapan dengan Aston Villa yang enggan melakukan pressing dan memilih bertahan dengan low block, Arsenal kehilangan cara. Untuk itu, datanglah peran Willian.

Dalam beberapa musim terakhir, Arsenal kehilangan pemain yang mampu dribble bola dan ball retention tinggi. Pemain seperti Hleb, Rosicky, Wilshere, Nasri, dan Cazorla menjadi kunci sepakbola menyerang Wenger yang sangat nyaman melakukan operan-operan dan take-on di depan kotak penalti lawan, karena kemampuan ball retention dan dribble-nya yang tinggi. Tanpa pemain seperti ini, Arteta terpaksa memilih jalur sayap untuk menyerang, yang tidak efektif bila kita tidak memiliki penyerang di kotak penalti yang jago menyambut bola atas. Willian akan memainkan peran ini. Bak Point Guard NBA, ia akan membawa bola dengan trick-nya, melewati satu dua pemain dan mengoper ke kotak penalti lawan dengan akurat. Dan kita tahu, kita memiliki tiga striker yang sangat tajam dalam soal finishing.

Willian juga bisa menjadi mentor yang baik untuk Saka dan Emile Smith Rowe. Namun kedua pemain ini masih sangat muda sehingga performanya akan naik turun sepanjang musim. Oleh karena itu, membeli Aouar menurut saya menjadi lebih penting daripada Partey musim ini. Terlebih dengan kesulitan tim ini meraih poin melawan tim-tim papan tengah dan bawah, daya kreativitas serangan Arsenal sangat perlu ditingkatkan musim ini. Kita tidak memiliki kesulitan untuk meraih poin melawan tim papan atas, sehingga jelas penampilan melawan tim yang memilih bertahanlah yang harus kita tingkatkan musim ini. Aouar bisa menjadi jawaban tambahan selain Willian.

Soal pertahanan, bila Gabriel dan Saliba beradaptasi dengan baik, mereka bisa menjadi bek yang agresif melakukan pressing dan marking terhadap penyerang lawan yang lolos dari lini tengah. Di luar itu, untuk duet pivot, Xhaka dan Ceballos sudah melakukannya dengan sangat baik di akhir musim lalu. Pelapis mereka adalah Willock dan sayangnya Guendouzi yang menurut saya belum ada peminatnya untuk musim ini. Bila Thomas Partey bisa direkrut musim ini, tentunya transfer window Arsenal menjadi sempurna. Semuanya tergantung suksesnya penjualan Arsenal dalam 3 minggu mendatang.

Prediksi Final Skuad:

Depan (7): Aubameyang, Lacazette, Pepe, Nketiah, Nelson, Saka, Martinelli

Tengah (9): Willian, Ozil (mudah-mudahan bisa integrasi musim ini), Xhaka, Ceballos, Willock, Guendouzi, Emile-Smith Rowe, Aouar, Partey.

Belakang (10): Luiz, Saliba, Gabriel, Mustafi, Holding, Mari; Bellerin, Tierney, Maitland-Niles, Soares

Kiper (2): Leno, Raya

Total 28 pemain dengan komposisi 17 non-HG, sisanya HG dan U-21. Pas ya?

Next Rising Stars

Musim ini, pemain yang akan menjadi rising stars menurut saya adalah Saka dan Nketiah. Kedua pemain ini sangat dekat menjadi nomor satu di posisinya musim lalu. Keduanya punya karakteristik yang berbeda dan akan menjadi aset termahal Arsenal dalam beberapa musim ke depan. Kesamaan keduanya adalah ketenangannya dalam mengeksekusi operan ataupun tembakan ke gawang di final third lapangan. Saka dalam hal ini mungkin lebih baik daripada Nketiah dari segi jumlah assist dan gol-nya. Namun Eddie berkali-kali mendapatkan kepercayaan Arteta untuk memimpin lini depan daripada Lacazette dan saya yakin dengan perkembangan usianya yang makin matang, ia akan menjadi striker utama Arsenal di 2 musim ke depan, bila ia bisa mengembangkan dirinya dengan baik di musim ini.

Musim ini juga menjadi penentu untuk Reiss Nelson dan Emile Smith Rowe yang berusia 20 tahun. Di usia yang sama Jadon Sancho sudah demikian sukses di Bundesliga dan berpotensi menjadi pemain termahal PL musim ini. Kedua pemain ini tentunya ingin membuktikan dirinya di liga musim ini. Kesempatan terbuka lebar untuk mereka mengingat padatnya kompetisi musim ini, yang lebih ringkas sebulan. Arteta akan merotasi pemain lebih sering dan keduanya harus membuktikan diri setiap diberikan kesempatan.

Di lini belakang, potensi Gabriel dan Saliba tidak diragukan lagi. Pertanyaan yang tersisa hanyalah seberapa cepat mereka bisa beradaptasi dengan PL, tanpa mengalami cedera berat.

Target Akhir Musim

Kebanyakan pundit masih tidak menganggap Arsenal sebagai tim top four musim ini. Tentunya mereka tidak mengikuti Arsenal secara dekat dan hanya melihat dari fakta bahwa kita duduk di peringkat kedelapan musim lalu. Namun kita yang mengikuti Arsenal dengan giat tahu persis kalau tim ini sedang terbang tinggi, satu-satunya jalan ke depan hanyalah naik dan mereka belum merealisasikan potensinya secara penuh.

Bila kita berhasil mendatangkan Aouar dan Partey, saya merasa peringkat ketiga dan bahkan kedua musim ini bukanlah impian. Arteta adalah manajer yang luar biasa dan saat ini ia mendapatkan kepercayaan penuh semua pemainnya. Bila mereka bisa memberikan 100% dalam setiap pertandingan, musim ini Arsenal bisa menjadi luar biasa. Semi-final dan Final FA Cup adalah teaser atas apa yang bisa dilakukan Arsenal musim ini. Ditambah dengan pemain baru yang direkrut musim ini yang jelas adalah perbaikan dari pemain yang sudah ada, Arteta memiliki semua bahan yang dibutuhkannya untuk mengangkat tim ini lebih tinggi lagi. Dan ia memiliki kepercayaan diri yang luar biasa tinggi (tanpa menjadi arogan). Saat meyakinkan Willian, ia berujar: “Saya butuh kamu untuk menempatkan kami di Champions League, dan mengakhiri karirmu dengan menjadi juara Champions League.” Dalam hanya 3 tahun dari sekarang, Arteta berambisi untuk membawa klub ini menjadi juara Champions League. Wow. Tidak ada satupun fans Arsenal saat ini yang berani berandai-andai seperti ini.

Untuk menjadi juara liga musim ini, mungkin masih terlalu dini. Namun peringkat dua (diiringi dengan kejatuhan Manchester City) atau tiga jelas bukan hal yang mustahil. Sebagai pembanding, di musim pertama Wenger (1996-97) yang tidak penuh, Arsenal finish di peringkat ketiga (dengan nilai yang sama dengan peringkat kedua, kalah selisih gol). Di musim keduanya yang juga menjadi musim penuh pertamanya, Wenger membawa Arsenal menjuarai Premier League dan FA Cup. Saat itu liga didominasi oleh Manchester United, Newcastle United dan Liverpool. Akan menjadi skrip yang sempurna bila Arteta bisa mengulangi prestasi mentornya ini di musim penuh pertamanya. Semoga.

Untuk sementara ini, mari kita jangan bermimpi dahulu dan kembali kita ikuti perjalanan Arsenal musim ini. Setiap pertandingan pasti akan menjadi sangat menarik karena sentuhan Arteta dan optimisme timnya. Mari kita memulai musim dengan kemenangan pertama melawan Fulham malam ini.

Come On You Gunners. Up The Arsenal!

Habis PHP, Terbitlah PEA

Fans Arsenal pastilah terbiasa mendengar kata PHP. Di sepuluh tahun terakhir era Wenger dan setelah Baku (final Europa League 2019), kita seringkali mendapatkan PHP bahwa inilah saatnya Arsenal kembali jaya. Bermula dengan Project Youth yang lahir pasca The Invincibles, Wenger melakukan regenerasi pemain dan perubahan gaya sepakbola Arsenal dari yang mengandalkan fisik dan kecepatan menjadi lebih teknikal. Pemain-pemain muda di antaranya Fabregas, Rosicky, Hleb, Flamini dan Van Persie tampil cemerlang di musim 2007-2008 dan sempat memberikan harapan kejayaan kembali Arsenal. Sempat memimpin klasemen di bulan Februari, penampilan Arsenal jatuh bebas di bulan Maret 2008 setelah cedera horor patah kaki yang dialami Eduardo.

Di musim 2010-2011 muncullah rising stars dalam sosok Wilshere, Ramsey, Nasri. Bersama Arshavin, Van Persie dan Fabregas, tim ini mengalahkan Barcelona 2-1 di leg pertama Champions League. Sampai akhir tahun 2010, Arsenal masih bercokol di peringkat kedua liga. Sama dengan 3 musim sebelumnya, mental tim muda mungkin lebih rapuh daripada tim yang berpengalaman. Semenjak kalah di final Piala Liga lawan Birmingham City tanggal di akhir February 2011 berkat blunder Koscielny dan Szczesny, posisi Arsenal di liga turun drastis. Hanya 2 kemenangan dalam 11 pertandingan terakhir membuat Arsenal harus puas di peringkat keempat, turun dari peringkat kedua. Wenger tak mampu mengangkat kembali moral tim mudanya saat itu. Kalau saja tim tersebut dapat bangkit dari kekalahan di final Piala Liga dan menang beruntun selama 10 pertandingan terakhir (di musim 97-98 mereka melakukannya), maka gelar juara liga sudah pasti di tangan. Fans kembali kena PHP.

Musim 2013-2014 menandai era PHP baru. Model Finansial Arsenal menjadi lebih kuat semenjak ada tambahan dana komersial dari sponsorship kit dan stadion yang baru. Mesut Ozil dibeli dari Real Madrid dengan rekor transfer 42 juta pounds. Satu musim berikutnya Alexis Sanchez didatangkan dari Barcelona. Kedatangan kedua pemain bintang ini membawa perubahan terhadap mental tim Arsenal. Trofi pertama pun diraih dalam bentuk FA Cup, mengakhiri musim kering selama 9 tahun tanpa trofi (sampai ada lagunya). Musim berikutnya kembali FA Cup diraih, dan setelah absen setahun, FA Cup kembali dimenangkan di tahun 2017. Tiga trofi dalam empat tahun. Namun di liga, Arsenal tak mampu bersaing dengan klub-klub besar lainnya yang lebih bermodal. Berturut-turut poin dan peringkat yang diraih sejak 2013-2014 s/d 2016-2017 adalah sebagai berikut: 79 (4th), 75 (3rd), 71 (2nd), 75 (5th). Arsenal pun harus puas hanya lolos ke Europa League di tahun 2017. Musim 2015-2016 adalah musim di mana Arsenal, jika sedikit lebih konsisten saja bisa menjadi juara liga dikarenakan semua tim besar lainnya saat itu juga sedang merosot penampilannya. Sayangnya, Leicester City-lah yang memanfaatkan peluang itu.

Musim 2017-2018 adalah musim terakhir Wenger. Ketidakpastian masa depannya dan dua pemain bintang (Ozil dan Sanchez) yang sisa kontraknya tinggal setahun bukan pertanda yang baik untuk memulai musim baru. Off the pitch, Ivan the Snake melakukan segala manuver untuk mengurangi kekuasaan Wenger dengan tujuan untuk kemudian mendepaknya. Bukan rahasia umum kalau Wenger menguasai segala hal di klub itu dan Ivan sebagai CEO hanya punya kuasa terbatas. Sven Mislintat bergabung di November 2017, disusul Raul Sanllehi di February 2018. Pergulatan kekuasaan di luar lapangan berdampak ke dalam lapangan. Sanchez dijual di tengah musim, kontrak Ozil diperpanjang. Wenger memutuskan untuk mundur dengan sisa kontrak setahun setelah penampilan timnya makin menurun. Arsenal pun finish di musim tersebut dengan hasil terburuk di era Wenger: 63 point dan peringkat ke-enam. Gazidis, Mislintat dan Sanllehi memilih Emery sebagai pengganti Wenger. Tidak lama kemudian Gazidis meninggalkan Arsenal untuk mengejar fulus yang lebih menggiurkan di AC Milan, sedangkan Mislintat kalah dalam pertarungan kekuasaan melawan Sanllehi dan akhirnya hengkang.

Era Emery, tidak usah dibahaslah ya. Lebih cepat dilupakan lebih baik. Mungkin rekan-rekan Gooners bisa memperhatikan kalau saya tidak menulis satu artikel pun tentang Arsenal di era Emery sedangkan sekarang sudah menulis lima artikel tentang Arsenal-nya Arteta. PHP era Emery sangat luar biasa mengecewakannya. Ditambah dengan sepakbola tanpa identitasnya yang seakan menjadi pengkhianatan terhadap legacy warisan Arsene Wenger. Hasil akhir musim pertamanya adalah dibantainya Arsenal oleh Chelsea 1-4 di Baku, memupus harapan untuk tampil di Champions League setelah dalam beberapa pertandingan terakhir di Premier League Arsenal juga gagal meraih poin yang diperlukan untuk tetap di peringkat ke-empat. Ending yang anti-klimaks.

Lalu apakah era PHP ini sudah berakhir? Kita harap demikian setelah melihat kedahsyatan tim Arsenal di bawah asuhan Arteta yang baru bergabung Desember lalu. Ia bergabung saat kondisi moral tim sedang parah-parahnya dan sepakbola Arsenal sedang kehilangan jati diri. Granit Xhaka sang kapten dicopot bannya dan bersitegang dengan fans. Mesut Ozil dipinggirkan oleh Emery. Average point per game di musim ini yang didapatkan Emery bahkan lebih rendah daripada musim terburuk Wenger (1.38 vs 1.65). Arteta memperbaiki penampilan timnya dengan memulai dari dasar, dari komitmen, semangat juang tim dan gairah bermain sepakbola. Perlahan, hasil di lapangan membaik dan identitas sepakbola yang baru pun terlihat.

Grafik di atas ini menggambarkan performa Arsenal di Premier League musim ini di bawah 3 “head coach” yang berbeda. Average point per game di bawah Emery = 1.38, Ljungberg = 1.00 dan Arteta = 1.65. Sebagai perbandingan Liverpool, sang juara memiliki average ppg = 2.61. Masih banyak PR Arteta untuk Arsenal mencapai level penantang serius gelar juara EPL. Namun Arsenal bisa sedikit banyak terinspirasi oleh Liverpool-nya Klopp. Semenjak bergabung dengan Liverpool di Oktober 2015, berikut hasil setiap musimnya: 60 (8th), 76 (4th), 75 (4th), 97 (2nd) dan 99 (1st). Baru pada musim kelima Liverpool bisa meraih gelar juara namun setiap musim terlihat jelas peningkatan performa timnya dan terutama identitas sepakbolanya. Fans Arsenal mesti bersabar.

Habis PHP, Terbitlah PEA

PEA di sini bisa berarti Pierre-Emerick Aubameyang atau Percaya Era Arteta. Kedua figur ini berperan sangat penting musim ini terutama dalam mendapatkan gelar juara FA Cup yang ke-14. Mari kita bahas sedikit mengenai hasil pertandingan yang luar biasa ini.

Di tulisan saya sebelum pertandingan, saya menuliskan soal prediksi line up yang terbukti tepat. Baik Arsenal maupun Chelsea memainkan formasi 3-4-3 walaupun dengan aplikasi yang berbeda. Video di bawah ini menjelaskannya dengan sederhana dan sangat baik:

Arsenal vs Chelsea Final FA Cup 2020 post analysis

Chelsea mendominasi 10 menit babak pertama. Ketiga penyerangnya bermain sangat rapat dan dengan umpan-umpan pendek memanfaatkan kelincahan dan kemampuan dribble Pulisic dan Mount yang ditunjang dengan flick pass dan hold-up play Giroud. Arteta sudah mengantisipasi itu dengan meminta ketiga CB-nya bermain rapat pula. Chelsea hanya bisa menembus pertahanan lewat kontrol bola yang luar biasa dari Pulisic di kotak penalti lawan. 1-0 untuk Chelsea setelah Giroud one touch flick ke Pulisic hasil crossing Mount yang mengenai kaki Holding. Game plan Lampard berjalan dengan baik.

Para pemain Arsenal tidak panik dan sebaliknya menjalankan game plan yang disusun Arteta dengan sangat baik. Arteta sudah memprediksi kalau James, wing back kanan Chelsea akan bermain lebih maju daripada Alonso di sisi kiri Chelsea. Azpilicueta diminta Lampard bermain agak melebar ke kanan untuk mengantisipasi Aubameyang. Bertolak belakang dengan tiga striker Chelsea, Arteta memposisikan ketiga striker Arsenal berjauhan satu sama lain, karena kekuatan mereka memang di kecepatan, lebih direct daripada bermain dengan umpan-umpan pendek. Lacazette memainkan peran false nine untuk menarik Zouma maju ke depan, sementara Rudiger sibuk menjaga Pepe yang sering memposisikan diri di garis pinggir lapangan. Karena jarak antar CB Chelsea yang semakin jauh, selanjutnya tinggal lomba lari Aubameyang dan Azpilicueta. Arsenal memiliki senjata umpan panjang Luiz dan Tierney yang siap melakukan lob jauh setiap Aubameyang memberikan aba-aba. Bergantian dengan Maitland-Niles, sisi kanan pertahanan Chelsea diserang terus-menerus sampai Azpilicueta tertarik hamstringnya baru di menit ke-35 karena diajak lomba lari terus-menerus. 1-1 setelah Azpilicueta yang hopeless terpaksa menjatuhkan Auba di kotak penalti lawan dan Auba tidak menyia-nyiakan tendangan penalti tersebut.

Semenjak drink break di babak pertama, Arsenal mendominasi pertandingan. Pressing tinggi Arsenal lebih efektif daripada Chelsea yang terpaksa membuang bola jauh-jauh, dan Pepe hampir saja mencetak gol indah lainnya hasil pressing tinggi kalau saja Maitland-Niles tidak offside. Xhaka menempel ketat Jorginho, Ceballos selalu ada di mana-mana untuk recovery bola ataupun interception. David Luiz mematikan Giroud sepanjang pertandingan, tanpa ada satupun shot on goal. Giroud bahkan terpaksa berakting ditembak sniper saking putus asanya. Sayang sekali Arsenal tidak menambah jumlah gol di babak pertama.

Di awal babak kedua, Pulisic kembali mengancam. Untungnya pemain terbaik Chelsea ini juga ketarik hamstringnya. Kadang kita membutuhkan dewi fortuna di pertandingan penting seperti ini. Pedro yang menggantikannya tidak mampu memberikan kontribusi yang sama. Ceballos memenangkan duel udara lawan Pedro, Bellerin menjemput bola dan lari sepanjang 40 meter, melewati Rudiger dan ditackle oleh Christensen. Pepe yang membayangi lari Bellerin siap menyambut bola liar dan mengumpan ke Aubameyang dengan tenang. James tidak kelihatan di lapangan lawan meninggalkan Zouma yang bingung antara marking Lacazette atau Aubameyang. Ia melakukan fake untuk shoot dengan kaki kanan yang sudah diantisipasi Zouma, memindahkan bola ke kiri lalu melakukan lob shot ketika kiper Chelsea maju ke depan. 2-1 untuk Arsenal. Dua gol hasil counter attack cepat. Lampard tak punya jawaban.

Sekarang kita mengerti mengapa Arteta tidak memainkan PEA sebagai striker tengah dan sebaliknya Auba sangat mematikan dari sayap kiri. Arteta “mengorbankan” Lacazette yang bermain sebagai false nine sedangkan Auba dan Pepe bermain lebih mirip sebagai dua penyerang utama saat Arsenal melakukan counter attack. Laca bertugas melakukan pressing tinggi saat bertahan, dan menarik maju bek lawan saat Arsenal menyerang, menciptakan ruang yang cukup untuk kecepatan lari Aubameyang. Terutama saat melawan pertahanan 3 CB, Aubameyang akan sangat efektif karena umumnya CB tidak secepat full back, ketika ditarik ke kiri kanan lapangan akan meninggalkan ruang kosong yang amat lebar. 29 gol dicetak Aubameyang musim ini yang hampir tidak pernah dimainkan sebagai penyerang tengah.

Semua penyerang Arsenal juga lebih disiplin saat bertahan. Auba dan Pepe melakukan tracking back dengan rajinnya dan berlari dengan cepat ke depan saat counter (bandingkan dengan penyerang Chelsea). Arteta berhasil melatih mereka sebagai satu unit yang disiplin. Teringat dengan kata-katanya mengenai menderita bersama. Sebuah tim harus siap menderita di lapangan, dan kemenangan akan terasa lebih nikmat sesudahnya. Seluruh pemain Arsenal yang bermain saat itu menjiwai filosofi ini dan mereka sangat menikmati hasilnya di akhir pertandingan. Pengorbanan yang pantas untuk diberikan.

Malam itu, semua pemain Arsenal tampil prima dan bisa dianggap men of the match. Mereka menghapus bayangan mimpi baruk di Baku melawan tim yang sama. Aubameyang sedikit di atas performa seluruh tim karena eksekusinya yang luar biasa. Sang nomor 14 mempersembahkan FA Cup ke-14 untuk Arsenal. Tidak ada script yang lebih sempurna.

Sebuah tim harus siap menderita di lapangan, dan kemenangan akan terasa lebih nikmat sesudahnya.

Arteta sendiri sudah memenangkan pertarungan taktik dengan Pep, Klopp dan Lampard, dengan sumber daya yang lebih minim. Visinya sangat jelas, pemain percaya padanya sehingga eksekusi taktiknya di lapangan berjalan dengan baik. Ia menjadikan kelemahan timnya sebagai kekuatan dan mengeksploitasi kelemahan lawan dengan sangat dingin. Tim Arsenal ini lemah di tengah lapangan, kurang kreatif (apalagi dengan tidak dimainkannya Ozil), tapi Arteta memilih hal ini dengan sadar. Semenjak Project Restart, ia mengabaikan Ozil dan memilih mencetak gol lewat pressing tinggi ataupun counter attack yang mematikan. Ia percayakan lini depan kepada trio maut Laca-Auba-Pepe yang makin saling memahami satu sama lain. Ia patenkan duet Xhaka dan Ceballos yang juga semakin kompak dan sama baiknya dalam hal passing dekat dan jauh. Ia gunakan optimal senjata mematikan David Luiz, umpan panjang dan memilih Maitland Niles, pemain serba bisa yang sangat atletis untuk marking ketat pemain spesial lawan. Ia gunakan Soares untuk hadirkan rivalitas dan mengembalikan Bellerin ke posisi terbaiknya. Ia mengintegrasikan Tierney pasca cedera dengan sangat mulus ke dalam tim, baik sebagai LWB maupun LCB. Ia menumbuhkan kembali kepercayaan diri Mustafi, pemain yang dibuang oleh Emery. Dan terakhir, ia memberikan kepercayaan penuh kepada Emi Martinez yang dibayar berlipat ganda. Arsenal sekarang akan pusing memilih kiper utama untuk musim mendatang.

Dimulainya Era Arteta

Era Arteta kini resmi dimulai. The Arteta Way dimulai dengan revolusi mental, pelajaran tentang komitmen untuk menderita bersama, persiapan taktik yang matang, semangat tim dan gairah dalam bermain sepakbola, kalah maupun menang. Menyaksikan timnya Arteta bermain sepakbola membuat kita sadar kembali mengapa kita mencintai klub ini. Sepakbola Arsenal saat ini tidak selalu indah, namun saat kita melihat para pemain bermain demi satu sama lain, saat mereka memenangkan tackle, saat mereka melakukan pressing tinggi, saat mereka melakukan build-up play dengan tenang dari belakang, saat mereka tidak saling menyalahkan ketika kehilangan bola, sebaliknya saling menutupi ruang kosong rekannya, saat mereka melakukan fist bump ataupun high five, saat itulah optimisme terhadap Era baru ini hadir. Arteta adalah pelatih sepakbola modern yang mungkin lebih fasih soal taktik sepakbola modern daripada Wenger, namun ia juga tidak melupakan pentingnya sentuhan personal seorang manager terhadap pemainnya. Pentingnya bersikap bijak dan adil terhadap pemainnya. Para pemainnya mulai mencintainya sebagaimana mereka yang dulu bermain untuk Wenger. Cinta yang hadir dari kejujuran, kedekatan, dan juga rasa berterima kasih dan rasa hormat. Kombinasi hal terbaik dari Guardiola dan Wenger ini bisa berpotensi untuk menjadikan Arteta menjadi manager yang sangat baik, selama ia didukung oleh pemilik klub ini.

We are building something here. People can see we are building something and getting somewhere.

There is no better feeling than winning trophies. It has been a roller-coaster here, but to finish it like this is just brilliant.

The manager has had a big impact on this squad. We are improving. This is a process and we will have some bad results and ups and downs, but we all trust in this process 110 per cent.

Kieran Tierney

Pertarungan Berikutnya: Transfer Window!

Bila board Arsenal juga Percaya Era Arteta, mereka mesti mendukungnya di transfer window ini. Tugas pertama, pertahankan Aubameyang. Tugas kedua, melakukan jual-beli-pinjam yang cerdik. Arsenal tidak bisa tidak melepas pemain, untuk mendanai pemain baru. Menurut saya, paling tidak kita membutuhkan 1 CB utama, 1 CM, 1 AM dan sisanya tergantung siapa pemain yang dilepas.

Bila Ozil, Guendouzi, Torreira, Sokratis, Kolasinac jadi dilepas, maka Arsenal perlu mencari No.10 baru, 2 CM untuk melapis Xhaka dan Ceballos (yang ini harus extend loan atau sign permanen) dan 1 CB ditambah Saliba.

Sisi kreatif lini tengah adalah kelemahan utama Arsenal untuk bisa mendominasi pertandingan selain box to box Midfielder. Bila Thomas Partey jadi didatangkan, ia bisa menjadi box to box midfielder sekaligus complete midfielder yang dibutuhkan Arsenal. Ia bisa menjadi pemain yang mendikte tempo pretandingan seperti Xhaka, membawa bola seperti Ceballos dan mengantisipasi serangan seperti Torreira. Dengan demikian, Arsenal bisa menurunkan kembali No.10. Pertanyaannya siapa yang akan menggantikan Ozil? Nama Willian dan Coutinho disebut-sebut namun bagi saya keduanya bukanlah opsi yang menarik selain juga mahal. Arsenal perlu pemain seperti Kai Havertz yang sayangnya saat ini tidak terjangkau. Kita perlu pemain nyaman bermain di Zone 14. Sangat menarik ditunggu solusi Arteta untuk posisi itu.

Bila opsi di pasar tidak tersedia, dan fans Arsenal bisa bersabar sedikit, solusi internal untuk posisi No.10 itu sebenarnya ada. Bagi saya Emile Smith Rowe dan Bukayo Saka bisa menjadi jawaban musim depan. Mereka hanya butuh waktu untuk berkembang di bawah asuhan Arteta. Sebagaimana Wenger, Arteta juga memiliki kemampuan memoles pemain muda yang bertalenta, menjadi bintang. Ia sudah membuktikannya di City terutama dengan Sterling.

Jadi, Percaya Era Arteta?